KAMU LAYAK MENULIS BUKU JIKA 10 HAL INI TERJADI DALAM HIDUPMU

Menulis buku adalah salah satu keinginan dan mimpi banyak orang. Memiliki karya tulis atas nama sendiri kemudian dibaca oleh masyarakat luas tentu saja memunculkan sebuah kebanggan tersendiri di dalam hati. Namun masalahnya, tidak semua orang memahami bagaimana cara menulis buku yang menarik. Aau bahkan yang lebih ironis lagi, tidak semua orang merasa yakin mereka bisa menulis sebuah buku.

Untuk itu, pada artikel kali ini akan dibahas 10 alasan yang paling sederhana mengapa seseorang atau kamu memang seharusnya menulis sebuah buku.

12 Alasan Menulis Buku dan Mengapa Kamu Cukup Layak untuk Melakukannya

Photo by Suzy Hazelwood

Inti dan langkah awal dari menulis bukanlah kamu mengerti dengan baik format menulis buku serta mengerti PUEBI dan lain sebagainya. Akan tetapi, unsur paling penting untuk memulai penulisan sebuah buku adalah kamu memiliki alasan untuk melakukannya. Alasan adalah bagian paling fundamental untuk mendorong kamu tetap menulis buku hingga selesai.

Beberapa orang tidak merasa yakin pada diri mereka sendiri mengenai penulisan buku. Ketika sebagian merasa dibatasi oleh ketidaktahuan cara menulis buku tentang kisah hidupnya sendiri, yang lainnya justru merasa tidak ada alasan penting baginya untuk menulis sebuah buku.

Pada dasarnya setiap manusia pasti memiliki sesuatu untuk mereka ceritakan yang mungkin dapat saja menginspirasi orang lain. Nah, cerita ini akan semakin menarik jika kemudian diubah menjadi sebuah buku. Namun, orang-orang yang menganggap mereka tidak memiliki sesuatu untuk dituliskan seharusnya menyadari beberapa hal sederhana yang hakikatnya adalah alasan yang tepat bagi mereka untuk menulis.

Selanjutnya, 10 hal berikut ini akan membuktikan kepada kamu bahwa sebenarnya kamu sangat layak menulis sebuah buku jika 10 hal tersebut juga terjadi pada dirimu.

Lantas, apa sajakah 10 hal yang menjadi alasan untuk menulis buku tersebut?

Berikut daftarnya.

BACA JUGA:

Jika Kamu Pernah Mengalami Rasa Sakit, Maka Kamu Layak Menulis Buku

Photo by Kat Jayne

Apakah kamu pernah merasakan sakit dalam hidupmu? Pernah mengalami perasaanmu terluka dan jiwamu seakan begitu kecewa oleh suatu peristiwa?

Jika kamu pernah megalami perasaan sakit semacam itu, maka kamu sudah sepantasnya untuk memiliki buku.

Rasa sakit hati adalah bagian tak terpisahkan dari kehidupan manusia. Sakit hati bisa disebabkan oleh perlakuan orang lain, bisa disebabkan oleh perkataan dan perbuatan mereka, atau bahkan oleh sesuatu yang lebih kompleks lagi daripada itu.

Ketika rasa sakit hati datang dalam dirimu, kamu tentu memiliki banyak sekali hal yang ingin disampaikan terkait dengan rasa sakit tersebut. Nah, menulis adalah salah satu cara yang dapat kamu lakukan.

Rasa sakit karena suatu peristiwa akan memunculkan sebuah perenungan yang mendalam di benak manusia. Perenungan ini pada umumnya akan memberi mereka kesempatan untuk melihat, mendengar, dan memahami lebih banyak daripada sebelumnya. Untuk alasan tersebut, rasa sakit tentu layak untuk menjadi inspirasi menulis cerita dalam sebuah buku.

Jika Kamu Merasa Memiliki Sebuah Mimpi, Maka Kamu Layak Menulis Buku

Photo by Veerendra

Mimpi adalah seuatu yang ingin diraih dan dicapai dan karena itu, mimpi menginspirasi banyak orang untuk berjuang. Nah di samping itu, mimpi juga mampu menjadi sumber energi untuk menulis jika kamu bisa menempatkannya sesuai dengan kapasitasnya yang tepat.

Ada banyak buku yang membahas tentang impian dan kamu bisa membacanya sebagai visualisasi penulisan yang akan kamu lakukan. Akan tetapi, cara menulis buku novel atau buku yang didasarkan pada impian akan memberikan kamu keleluasaan untuk membuat impianmu setidaknya jauh lebih mengkristal dalam realitas pemikiranmu sendiri.

Apakah mimpimu telah tercapai? Belum tercapai? Bagaimana cara kamu meraihnya? Apa saja tantangan yang kamu hadapi? Siapa yang membantumu untuk meraih mimpi itu?

Semuanya akan menjadi bahan yang sempurna sebagai penulisan cerita yang kamu lakukan.

Jika Kamu Pernah Membaca Sebuah Buku dan Merasa Bisa Membuatnya Lebih Baik, Maka Kamu Layak Menulis Buku

Photo by Thought Catalog

Pernahkah kamu membaca sebuah buku kemudian berpikir; “Saya bisa melakukan yang lebih baik daripada ini?”

Jika kamu pernah merasakan seperti itu, kamu tentu sangat layak untuk menulis buku.

Buku yang kamu baca tersebut dapat menjadi titik tolakmu untuk membuat sesuatu yang lebih baik. Sementara pengalamanmu, pengetahuanmu, pemikiranmu dan segala sesuatu yang kamu miliki dapat menjadi modal lain untuk membuat buku versimu menjadi lebih baik daripada buku yang kamu baca tersebut.

Jika Kamu Pernah Melakukan Sesuatu yang Membuat Orang Lain Merasa Kagum, Maka Kamu Layak Menulis Buku

Photo by Samuel Silitonga

Selanjutnya hal yang dapat kamu jadikan pertimbangan menulis buku adalah misalnya ketika ada seseorang yang bertanya kepadamu;

“Hei, bagaimana kamu bisa malakukannya?”

Atau,

“Wow, bagaimana kamu bisa melewati semua itu dengan hasil yang sangat mengesankan seperti sekarang?”

Intinya adalah; ketika yang kamu lakukan menimbulkan kekaguman, keheranan atau rasa tidak percaya pada orang lain, maka hal itu dapat kamu jadikan sebagai dorongan untuk menulis buku.

Kamu hanya perlu membuat yang kamu lakukan itu menjadi sebuah kerangka menulis buku yang kemudian dapat kamu uraikan dan ceritakan kepada pembaca secara lebih tertata.

BACA JUGA:

Jika Kamu Pernah Mengalami Tragedi kemudian Kamu Berhasil Keluar Sebagai Seseorang yang Lebih kuat, Maka Kamu Layak Menulis Buku

Photo by Thu1ec

Pernahkah kamu melihat seseorang mengalami kondisi yang buruk dalam hidupnya kemudian ia berhasil keluar dari kondisi tersebut dengan mental dan jiwa yang lebih kuat?

Kamu dapat dengan mudah menemukan contoh-contoh seperti ini. Bagaimana seseorang yang mengalami masa-masa yang sulit, masuk dalam tragedi yang penuh dengan darah dan perjuangan, kemudian ia berhasil selamat dan menjadi sosok yang lebih kuat setelahnya.

Nah, jika kamu juga pernah mengalami hal seperti itu, maka kamu sangat layak untuk menulis sebuah buku. Lupakan saja aturan menulis buku saat melakukannya, kamu hanya perlu bercerita dan menyampaikan pengalaman yang kamu rasakan hingga bisa keluar dan menjadi kuat setelah mengalami tragedi dan kondisi yang buruk serta menyedihkan tersebut.

Jika Kamu Bisa Memegang Pena dengan Tanganmu, Kakimu, atau Bahkan Hanya dengan Mulutmu, Maka Kamu Layak Menulis Buku

Photo by Oladimeji Ajegbile

Hal ini sebenarnya lebih kepada semangat dan tekad bahwa siapa pun bisa menulis buku.

Tekad, semangat, keinginan dan kemauan, adalah bagian paling penting dalam menulis buku, terserah bagaimana pun kamu melakukannya.

Semangat yang kemudian secara konsisten diimbangi dengan kedisiplinan akan mengantarkan kamu pada keberhasilan. Dan dalam menulis pun demikian, meskipun tulisan kamu tidak sebagus orang lain, atau bahkan kamu hanya bisa memegang pena dengan mulutmu saja, kamu sangat layak untuk menulis dan memiliki sebuah buku atas namamu sendiri.

Jika Kamu Pikir Pesan yang Kamu Sampaikan Bisa Menyentuh Seseorang, Maka Kamu Layak Menulis Buku

Photo by Gabby K

Pengalamanmu dalam menghadapi berbagai persoalan dalam hidup mungkin saja mengajarkan kamu sebuah pesan yang dapat kamu sampaikan pula pada orang lain. Nah, jika kamu merasa bahwa pesan itu mungkin saja akan menyentuh orang lain selain dirimu, maka sudah selayaknya kamu menuliskannya dalam sebuah buku.

Hal semacam ini tentu dapat terwujud dalam banyak bentuk. Jika kamu memiliki pengalaman dan pesan tentang pernikahan, kamu dapat menulisnya dalam buku. Jika kamu memiliki pesan mengenai cinta kasih, perhatian, kecemburuan, kemandirian, dan apa pun saja, itu juga dapat menjadi alasan bagimu untuk menulis sebuah buku.

Setiap buku pasti akan memiliki pembaca. Dan di antara para pembaca itu, percayalah, akan ada yang merasa tersentuh dengan pesan yang kamu tuliskan.

BACA JUGA:

Jika Seseorang Pernah Mengatakan Kepadamu Bahwa Seharusnya Kamu Menulis Buku, Maka Kamu Memang Layak Menulis Buku

Photo by Vlada Karpovich

Pernahkan kamu misalnya mendapatkan komentar di akun media sosialmu yang mengatakan bahwa kamu sebaiknya menulis buku?

Jika iya, pecayai itu!

Seseorang yang mengatakan bahwa kamu seharusnya menulis buku, tentu karena ia melihat bahwa tulisanmu pantas untuk itu. Kamu mungkin saja tidak terlalu pandai merangkai kata-kata yang indah, namun bisa saja apa yang kamu sampaikan dinilai sebagai sesuatu yang layak untuk dibaca orang lain.

Jika Kamu Berharap Dapat Menginspirasi Orang Lain Seperti Sebuah Buku yang Telah Menginspirasi Dirimu, Maka Kamu Layak Menulis Buku

Photo by fotografierende

Apakah kamu memiliki sebuah buku yang kamu terinspirasi karenanya?

Saat membaca buku itu atau setelahnya, kamu kemudian terinspirasi untuk melakukan sesuatu, bertindak atau bahkan berpikir setidaknya seperti yang disampaikan oleh buku tersebut. Jika kamu mengalami hal ini, maka itu juga dapat menjadi sinyal yang harus kamu tangkap bahwa kamu pun sebenarnya, sangat layak untuk menulis buku.

Kamu tidak perlu khawatir tentang siapa yang akan membaca buku kamu nantinya. Dan kamu juga tidak perlu khawatir apakah mereka akan terkesan atau tidak. Pada langkah ini yang perlu kamu lakukan hanyalah menulis dan membiarkan tulisanmu mengalir. Di luar sana nantinya, akan selalu ada orang-orang yang akan terinspirasi oleh tulisanmu seperti kamu yang terinpirasi oleh buku tertentu.

Jika Kamu Mencintai Sesuatu, Peduli dengan Keluargamu, Kekasihmu, Alam di Sekitarmu, atau Bahkan Binatang Peliharaanmu, Maka Kamu Layak untuk Menulis Buku

Photo by Taryn Elliott

Cinta adalah materi dominan untuk menjadi bahan penulisan. Perhatian, kasih sayang, kepedulian, romantisme, dan belas kasih, adalah sesuatu yang berasal dan memancar dari relung hati manusia. Siapa pun yang memiliki perasaan semacam ini, memiliki bakat untuk menuliskannya dalam rangkaian kata dan ungkapan.

Jika kamu memiliki banyak hal untuk diperdulikan, memiliki banyak objek untuk dimandikan dengan kasih dan sayang, maka kamu juga pada saat yang sama, memiliki alasan untuk menuliskannya dalam sebuah buku.

BACA JUGA:

Photo by fotografierende on Pexels.com

Nah, dengan melihat 10 alasan menulis buku di atas, kamu akan semakin paham bahwa menulis buku itu sebenarnya dapat dilakukan oleh siapa pun dengan latar belakang bagaimana pun.

Menjadi penulis bukanlah sebuah profesi eksklusif yang hanya bisa diraih oleh orang-orang yang memiliki keistimewaan saja. Bahkan seseorang dengan hal yang paling sederhana dalam hidupnya pun dapat menjadi penulis.

Terakhir, jika kamu merasa bahwa alasan-alasan di atas telah kamu miliki namun kamu merasa belum bisa menjadikannya sebagai dorongan untuk menulis buku, maka kamu dapat meminta bantuan penulis blog ini untuk membantumu.

InsyaAllah dengan pengalaman dan kemampuannya, saya akan senang hati untuk membantumu.

Selamat menulis!


anton sujarwo

Anton Sujarwo

Saya adalah seorang penulis buku, content writer, ghost writer, copywriters dan juga email marketer. Saya telah menulis 14 judul buku, fiksi dan non fiksi, dan ribuan artikel sejak pertengahan tahun 2018 hingga sekarang.

Dengan pengalaman yang saya miliki, Anda bisa mengajak saya untuk bekerjasama dan menghasilkan karya. Jangan ragu untuk menghubungi saya melalui email, form kontak atau  mendapatkan update tulisan saya dengan bergabung mengikuti blog ini bersama ribuan teman yang lainnya.

Tulisan saya yang lain dapat dibaca pula pada website;

Saya juga dapat dihubungi melalui whatsapp di tautan ini.

Fortopolio beberapa penulisan saya dapat dilihat disini:


BEGINI CARA MENULIS BUKU TENTANG KISAH HIDUP DALAM 10 LANGKAH MUDAH

Pada dasarnya setiap orang pasti memiliki sesuatu untuk diceritakan dalam sebuah buku. Akan tetapi, tidak semua orang mengerti bagaimana cara menulis buku tentang kisah hidup dirinya supaya lebih mudah untuk diceritakan dalam rangkaian kata dan tulisan. Tanpa panduan yang jelas, beberapa kisah hidup kadang hanya terangkai dalam coretan-coretan yang mungkin tidak dapat dibagikan kepada orang lain sebagai sebuah buku.

Nah, bagaimanakah sebenarnya cara menulis buku kisah hidup diri sendiri dengan langkah yang paling mudah untuk diterapkan?

Berikut ulasan lengkapnya.

10 Langkah Mudah Cara Menulis Buku Tentang Kisah Hidup yang Gampang Dipraktikkan

Photo by Pixabay on Pexels.com

“Tidak ada keberuntungan dalam hidup, segala sesuatu terjadi karena suatu alasan. Setiap hal kecil yang Anda lakukan mengarah ke hal yang lebih besar. Dan itulah kisah hidup saya.”

George St. Pierre

Apakah kamu memiliki kisah hidup yang menarik untuk diceritakan kepada orang lain?

Cara yang paling elegan untuk mengisahkan hidupmu kepada orang lain tentu saja adalah melalui buku. Buku sejauh ini, telah menjadi media yang paling populer, paling menyentuh, dan paling ideal untuk bercerita kepada manusia.

Akan tetapi ada perbedaan yang cukup signifikan antara menulis umum dengan menulis kisah tentang diri sendiri. Dalam cara membuat novel sejarah pribadi, kamu tentu saja akan lebih mengenal karakter apa saja yang perlu kamu ceritakan. Namun disini pula yang menjadi tantangannya, karena tidak semua orang memiliki keleluasaan menyampaikan kisah hidup mereka dalam tulisan yang panjang dan detail seperti buku.

Nah, untuk kamu yang merasa memiliki kisah hidup yang menarik dan ingin menuliskannya dalam sebuah buku namun masih bingung bagaimana cara melakukannya, 10 langkah cara membuat novel kisah sendiri berikut ini akan membantumu melakukannya.

Lalu, apa sajakah langkah-langkah tersebut?

Berikut urutannya.

Fokus Pada Satu Kenangan yang Paling Penting

Hal pertama yang paling penting untuk kamu lakukan adalah memfokuskan pikiran dan penulisanmu pada kenangan dalam hidupmu yang kamu anggap paling penting untuk diceritakan. Kenangan inilah yang akan menjadi ruh dalam penulisanmu nantinya. Oleh karena itu, kamu harus bisa menggambarkan kenangan itu menjadi sesuatu yang seakan-akan nyata di mata para pembaca.

Selain berfokus pada satu kenangan utama yang akan menjadi inti cerita yang akan kamu sampaikan, cara membuat novel tentang diri sendiri pada langkah yang pertama ini menuntut kamu untuk menulisnya secara bebas juga.

Maksudnya begini; Kamu menulis apa pun yang kamu mau, apa pun yang kamu pikirkan dan apa pun yang ingin kamu lakukan ketika kamu mengingat kenangan tersebut. Pada tahap ini, lupakan pengeditan, lupakan ejaan yang benar, lupakan sesuatu yang tabu dan lain sebagainya.

Intinya adalah; kamu berfokus pada satu kenangan paling penting yang akan kamu ceritakan kemudian tulis bebas tentang hal tersebut.

BACA JUGA:

Buatlah Outline atau Kerangka Buku

Langkah kedua yang kamu juga perlu lakukan dalam penulisan novel yang bercerita tentang kisah hidupmu sendiri adalah dengan membuat outline-nya.

Kamu tentu tahu apa itu outline, kan?

Ya, outline adalah garis besar atau kerangka cerita yang akan kamu tulis secara keseluruhan. Jadi setelah kamu berfokus pada kenangan paling penting dalam hidupmu yang akan kamu bagikan, sekarang kamu dapat menuangkan pemikiranmu tentang buku seperti apa yang kamu inginkan. Atau pada penjelasan yang lebih mudah; bagaimana jalan cerita yang kamu inginkan dalam menyampaikan kisah hidupmu tersebut?

Membuat kerangka penulisan akan membantu kamu dalam menyusun cerita menjadi lebih tepat sasaran. Atau pada kesempatan lain juga membantumu untuk tetap konsisten pada konsep yang tepat selama menulis. Selain itu dengan menggunakan kerangka, cara menulis cerita pengalaman pribadi yang kamu lakukan juga akan lebih mudah untuk diselesaikan.

Tentukan Genre Buku yang Ditulis

Source: Pexels.com

Pada banyak contoh menulis kisah hidup, genre kadang ditempatkan pada bagian yang pertama dalam proses penulisan. Itu tentu saja tidak menjadi masalah. Akan tetapi setelah kamu memiliki fokus pada satu kenangan yang akan menjadi inti ceritamu, kamu mungkin akan lebih mudah dalam memilih genrenya.

Dua jenis genre yang paling umum dalam penulisan kisah hidup seseorang adalah memoar dan otobiografi. Nah, kamu bisa memilih dua genre ini kemudian memfokuskan penulisanmu pada salah satu genre yang dipilih.

Oya, apakah sudah tahu perbedaan paling penting antara genre memoar dan otobiografi?

Memoar pada umumnya hanya berfokus pada satu kejadian dalam hidup saja untuk diceritakan. Sementara otobiografi akan menjadi buku yang menceritakan keseluruhan perjalanan hidupmu, dari lahir hingga kamu menuliskannya. Jadi, dua genre ini bisa kamu jadikan rekomendasi, tergantung sejauh mana kamu akan menuliskan kisah hidupmu di dalam buku.

Lakukan Sedikit Riset

Source: Pexels.com

Jika kamu menulis sebuah kenangan dalam hidupmu yang telah terjadi bertahun-tahun yang lalu, maka ada banyak hal yang mungkin saja sudah terlupakan olehmu. Nah, untuk membuat ceritamu menjadi lebih lengkap, kamu juga perlu melakukan riset.

Pada contoh novel kisah nyata tentang hidupmu yang kamu tulis, riset yang dapat kamu lakukan misalnya adalah dengan menanyakan kenangan tersebut kepada orang-orang terdekatmu, atau kepada orang yang memiliki hubungan pula dengan kisah yang akan kamu tulis tersebut. Semakin banyak riset yang kamu lakukan, semakin luas juga spektrum dan sudah pandang penceritaan yang dapat kamu kembangkan.

BACA JUGA:

Tentukan Karakter dalam Cerita

Source: Pexels.com

Pada banyak kesempatan, kenangan tidak dapat terjadi tanpa kehadiran orang lain. Perjalanan hidupmu yang penuh cerita memungkinkan kamu untuk bertemu dengan banyak orang, dan setiap mereka akan mengguratkan kenangan. Namun, tentu saja tidak semua orang yang ada dalam hidupmu bisa kamu masukkan dalam cerita, kan?

Nah, pada langkah yang kelima cara membuat novel kisah sendiri ini kamu dapat mengidentifikasi, memilih dan menentukan, karakter mana saja yang akan ada dalam ceritamu. Jadi pada konteks yang lenbih gamblang adalah; kamu menentukan siapa saja orang-orang dalam kenangan yang kamu miliki, akan dimasukkan dalam novel yang kamu tuliskan.

Ada beberapa tips terkait dengan dengan mengidentifikasi karakter yang dapat kamu lakukan. Berikut tipsnya;

  • Buat list atau daftar orang orang yang akan kamu masukkan menjadi karakter novelmu.
  • Tuliskan gambaran masing-masing karakter tersebut yang meliputi ciri-ciri, usia, latar belakang dan lain sebagainya.
  • Jelaskan pula hubungannya dengan kamu, apakah ia adalah teman, saudara, atau yang lainnya.
  • Jika kamu tidak nyaman dengan mencantumkan nama asli karakter tersebut, maka sebaiknya kamu menggunakan nama samaran yang bisa kamu tentukan sendiri.

Tambahkan Spekulasi pada Bagian yang Kamu Tidak Yakin dengan Pasti

Source: Pexels.com

Langkah selanjutnya dalam penulisan buku kisah sendiri adalah dengan memberikan spekulasi pada bagian-bagian yang kamu tidak tahu, kamu tidak yakin dengan pasti, atau kamu tidak memiliki pengetahuan yang banyak tentangnya.

Misalnya begini;

Terus terang, aku tidak tahu pasti mengapa sahabatku itu memutuskan untuk pergi dari rumah orang tuanya. Ia tak bercerita banyak padaku tentang hal itu. Setiap kali aku bertanya mengapa ia pegi begitu saja dari rumah, ia selalu menghindar dan justru menunjukkan rasa tidak sukanya akan hal itu. Mungkin saja hal ini dipicu ketidakpedulian orang tuanya pada kehidupan sahabatku yang telah membuat ia terluka dan merasa dendam.

Nah kamu bisa lihat dalam contoh novel kisah sendiri di atas yang digunakan untuk memberikan spekulasi. Kata ‘mungkin’ dan sejenisnya dapat kamu gunakan untuk menggambarkan bahwa kamu tidak begitu yakin dengan apa yang kamu coba untuk sampaikan.

Tentukan Setting Cerita

Source: Pexels.com

Bagian paling penting dalam penulisan kisah fiksi atau pun non fiksi kadang adalah setting atau tempat dimana cerita tersebut terjadi. Jika kamu menulis cerita tentang dirimu sendiri, maka kamu pun harus melakukan hal ini. Menjelaskan secara detail setting tempat kejadian yang kamu ceritakan akan memberikan imajinasi yang lebih baik kepada pembaca bukumu.

Pada dasarnya semakin lengkap kamu menuliskan deskripsi setting dalam ceritamu itu semakin baik. Misalkan kisah yang kamu tulis ini terjadi di kota Jogja, maka kamu dapat menambahkan gambarannya dengan banyak hal semisal makanan khas, kondisi kota yang penuh budaya, tata krama Jawa yang kental, hingga bangunan-bangunan yang mencerminkan khasnya kota Jogja.

Namun pada contoh novel kisah hidup yang populer kadang setting juga dapat kamu samarkan untuk menghindari hal-hal tertentu. Intinya adalah; gambaran setting yang jelas akan lebih menghidupkan cerita yang kamu sampaikan. Dan pada realitasnya, hal ini akan lebih banyak memberi kesan nyata kepada para pembaca.

Hidupkan Ceritamu dengan Dialog

Source: Pexels.com

Meskipun cara menulis cerita pengalaman pribadi pada umumnya adalah narasi yang dibangun dari kisah nyata, tapi kamu juga tidak boleh meninggalkan dialog. Tanpa dialog, tulisanmu meskipun bagus bisa jadi akan membosankan. Apalagi penceritaan dalam buku yang jumlah halamannya banyak, sebuah cerita tanpa dialog benar-benar membuat pembaca terkadang merasa jenuh.

Nah untuk itulah kemudian, kamu juga harus memunculkan dialog dalam kisah yang kamu tulis. Untuk percakapan yang sudah terjadi bertahun-tahun, kamu mungkin saja tidak akan mampu mengingatnya secara mendetail lagi. Pada kasus ini kamu dapat mengingat inti dari dialog tersebut dan berusaha menghadirkannya dalam bukumu sebaik yang kamu bisa.

Persiapkan Dirimu Menghadapi Reaksi dan Penolakan

Source: Pexels.com

“Perangkap terbesar dalam hidup kita bukanlah kesuksesan, popularitas atau kekuasaan, tetapi penolakan terhadap diri sendiri.”

Henri Nouwen

Menulis buku tentang kisah hidup diri sendiri tidak selamanya tentang hal yang indah dan menyenangkan. Ada kalanya beberapa orang justru terdorong untuk menulis karena pengalaman buruk dan aib yang ia derita. Misalkan pengalaman yang buruk di masa muda, di masa kecil, atau pun sebuah kesalahan yang pernah dilakukan di masa lalu.

Untuk cerita dengan jenis seperti ini, kamu harus bersiap menghadapi reaksi negatif atau bahkan penolakan atas tulisanmu. Karena bisa jadi karakter yang kamu ceritakan di dalam buku, tidak dapat menerima  jika kisah kelam yang kamu ceritakan diungkit kembali dalam sebuah cerita.

Jika kemudian kamu menerima penolakan semacam ini, maka jangan menyerah. Buatlah tekad dan keinginanmu kuat dalam menghadapi berbagai reaksi negatif yang mungkin saja akan kamu terima.

Bertekad dan Berkomitmenlah untuk Menyelesaikan Buku yang Kamu Tulis

Source: Pexels.com

Langkah terakhir dan yang paling penting dalam menulis kisah hidup diri sendiri menjadi sebuah buku adalah dengan bertekad penuh untuk menyelesaikannya. Tekad ini harus pula diiringi dengan komitmen dan disiplin. Tanpa hal ini, kisahmu hanya akan menjadi kertas-kertas penuh coretan yang tidak akan terlalu banyak bermakna.

Jadi setelah semua langkah di atas sudah kamu lakukan, sekarang kamu masuk pada bagian inti dari menjadi seorang penulis. Komitmen tidak hanya ketika kamu berhasil menyelesaikan paragraf pertama atau halaman pertama, namun juga sampai kamu berhasil menyelesaikan buku kisah hidupmu dan menerbitkannya, baik secara mandiri atau pun melalui penerbitan agensi.

BACA JUGA:

Source: Pexels.com

Nah, sekarang kamu sudah mengerti bagaimana cara menulis buku tentang kisah hidup yang dapat segera kamu praktikkan. Dengan tekad yang kuat, komitmen dan juga konsistensi, kamu pasti mampu melakukannya.

Akan tetapi jika kamu masih merasa kesulitan dalam menulis kisah hidupmu dan membutuhkan bantuan, maka kamu juga bisa mengirimkan pesan melalui kontak di www.penulisgunung.id. Dengan arahan dan bimbingan yang tepat, InsyaAllah penulisan kisah hidupmu akan dapat dilakukan secara lebih efektif dan efisien.

Atau, kamu juga bisa langsung berkonsultasi mengenai penulisan melalui whatsapp melalui tautan di bawah ini.


Anton Sujarwo

Saya adalah seorang penulis buku, content writer, ghost writer, copywriters dan juga email marketer. Saya telah menulis 14 judul buku, fiksi dan non fiksi, dan ribuan artikel sejak pertengahan tahun 2018 hingga sekarang.

Dengan pengalaman yang saya miliki, Anda bisa mengajak saya untuk bekerjasama dan menghasilkan karya. Jangan ragu untuk menghubungi saya melalui email, form kontak atau  mendapatkan update tulisan saya dengan bergabung mengikuti blog ini bersama ribuan teman yang lainnya.

Tulisan saya yang lain dapat dibaca pula pada website;

Saya juga dapat dihubungi melalui whatsapp di tautan ini:

Fortopolio beberapa penulisan saya dapat dilihat disini:

Buat situs web atau blog di WordPress.com

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: