7 KEBIASAAN PENULIS SUKSES YANG BISA KAMU TIRU DENGAN MUDAH

Aktivitas menulis membutuhkan latihan dan pembiasaan yang terus menerus. Ada serangkaian kebiasaan penulis yang bisa kamu amati dan tiru untuk mendapatkan semangatnya. Kebiasaan-kebiasaan ini merupakan buah dari konsistensi, tekad dan komitmen yang keras dalam menulis. Pada akhirnya kebiasaan ini membentuk suatu habit yang membedakan kualitas seorang penulis.

Lantas, apa saja kebiasaan seorang penulis yang bisa kamu tiru sebagai modal jadi penulis yang sukses dengan karya-karya terbaiknya?

Yuk, simak penjelasan lengkapnya berikut ini.

7 Kebiasaan Penulis yang Paling Menentukan Kesuksesan Mereka Dalam Menghasilkan Karya Terbaik

Source: Freepik

Penulis hebat tidak pernah tercipta begitu saja. Ada serangkaian proses panjang lagi konsisten yang menjadi habit atau kebiasaan mereka yang dibangun dalam waktu lama. Kebiasaan yang tepat dalam menulis akan memberikan dampak yang besar bagi perkembangan, semangat, dan juga karya penulisan itu sendiri. Untuk itu, sangat penting bagi kamu yang memiliki keinginan untuk menjadi penulis menerapkan kebiasaan positif tersebut sebagai syarat jadi penulis.

Nah, apa sajakah kira-kira kebiasaan positif yang hampir selalu dilakukan oleh setiap penulis berbakat dan kuat?

Berikut ini saya akan mengajak kamu untuk membahasnya satu demi satu. Jadi, pastikan kamu membaca artikel ini hingga selesai, ya.

BACA JUGA:

Menulis dan Membaca Setiap Hari

Source: Rachel Claire on Pexels.com

Kebiasaan pertama yang harus menjadi habit untuk kamu lakukan sebagai seorang penulis adalah membaca dan menulis setiap hari. Membaca dan menulis adalah sesuatu yang sangat penting dilakukan oleh seorang penulis secara konsisten dan sesering mungkin.

Inspirasi seorang penulis dapat dilatih dengan membaca karya orang lain. Sementara bagaimana menuangkan inspirasi itu dalam sebuah karya tulis yang ideal, harus dilatih dengan cara menuliskannya. Di samping membaca dapat memperkaya wawasanmu tentang berbagai hal, kebiasaan ini akan  pula secara signifikan mampu memperkaya pula sudut pandang dalam penulisan yang kamu lakukan.

Jadi, jika kamu ingin menjadi seorang penulis yang sukses dan menghasilkan karya yang berkualitas, kebiasaan penulis pertama yang harus kamu lakukan adalah dengan membaca dan menulis setiap hari. Membacalah secara rutin dan menulislah secara disiplin setiap harinya. Jangan biarkan harimu berlalu tanpa melakukan dua hal utama yang menjadi fondasi setiap dunia kepenulisan ini.

Membuat Jurnal Menulis

Source: Anete Lusina on Pexels.com

Tugas penulis kedua yang harus dijadikan kebiasaan jika kamu sungguh-sungguh ingin menjadi seorang penulis adalah dengan membuat jurnal menulis. Jurnal dalam hal ini dapat kamu artikan sebagai agenda kepenulisan untuk kamu sendiri. Jadi, buatlah agenda menulis yang dapat kamu lakukan secara kontinyu dan konsisten.

Jurnal menulis sebenarnya adalah sebuah plan atau rencana kepenulisan yang dapat kamu susun sendiri sebagai guide line bagimu dalam menulis. Ini semacam rencana-rencana kepenulisan yang memungkinkan kamu untuk mencapai sebuah tujuan secara terstruktur dan sistematis.

Ibarat kerangka atau outline dalam dunia kepenulisan, jurnal menulis juga memberikan kamu sebuah anak tangga yang struktural untuk mencapai suatu tujuan secara lebih terencana dan disiplin.

Mencatat Ide-Ide untuk Proyek Kepenulisan

Source: Meruyert Gonullu on Pexels.com

Kebiasaan penulis profesional dan berkarakter kuat yang ketiga adalah mereka umumnya memiliki catatan mengenai berbagai ide proyek penulisan yang akan mereka laksanakan. Ingat, ini adalah tulisan mengenai ide atau gagasan kepenulisan. Tidak menjadi masalah jika kemudian ide itu hanya muncul di atas kertas dan tidak menjadi kenyataan.

Manusia memiliki keterbatasan dalam mengingat, begitu pula seorang penulis. Dan atas alasan itu pula mereka menggunakan pena mereka untuk melestarikan ingatan mereka. Sebagai penulis kamu tentu memiliki demikian ide-ide kepenulisan yang ingin kamu lakukan. Kamu ingin menulis novel tentang ini, tentang itu, opini tentang sesuatu, puisi atau hanya mungkin status sosial media sekali pun.

Apa pun ide proyek kepenulisan yang kamu miliki, sebaiknya kamu menuliskannya dalam sebuah catatan yang rapi.

Apa yang dilakukan penulis kuat pada umumnya adalah mereka selalu menuliskan ide-ide mengenai proyek menulis yang akan mereka lakukan. Terlepas dari apakah ide itu dapat dilaksanakan atau tidak di kemudian hari, menulis ide pokoknya sendiri ketika hal itu muncul di kepalamu, sangat penting untuk kamu lakukan.

BACA JUGA:

Berani Mengambil Risiko

Source: Cade Prior on Pexels.com

Kebiasaan penulis selanjutnya yang dapat kamu teladani adalah mereka berani mengambil risiko. Hal ini tentu saja dalam konteks penulisan yang dilakukan. Keberanian untuk mengambil risiko ini hadir dalam bentuk yang berbagai macam, mulai dari berani mengambil risiko menulis ide-ide penulisan yang tidak biasa, sampai mungkin saja gaya menulis yang lebih berani.

Apakah semua orang bisa jadi penulis hebat ketika mereka berani mengambil risiko dalam penulisan yang dilakukan?

Tentu saja hal itu tidak menjadi jaminan. Akan tetapi seorang penulis yang memiliki keberanian yang lebih besar untuk memgambil risiko dalam penulisan, memiliki peluang lebih besar untuk menghasilkan karya yang istimewa dan out of the box.

Tetap dalam Rules Outline Saat Menulis

Source: Ann Nekr on Pexels.com

Meskipun berani mengambil risiko dan mungkin saja dapat melakukan sesuatu yang tidak dapat dilakukan oleh orang lain, namun pada saat yang sama penulis juga harus memiliki rules yang jelas. Rules atau aturan ini pada umumnya untuk sesuatu yang bersifat task semata yang artinya, semacam kerangka penulisan yang jelas dan terarah.

Nah, apakah kamu biasa menulis menggunakan kerangka?

Ketika menulis artikel biasa, saya umumnya jarang menggunakan kerangka. Akan tetapi ketika tulisan itu misalnya lebih panjang dan bersifat pillar (dalam konten SEO) saya tetap mengaplikasikan kerangka supaya hasilnya efektif.

Namun, dalam penulisan novel, cerita fiksi, buku-buku dan tulisan panjang lainnya, outline atau kerangka adalah hal yang wajib dilakukan. Dan itu pula yang juga saya lakukan.

Menulis dan Membaca Berbagai Genre

Source: cottonbro on Pexels.com

Kebiasaan selanjutnya yang dapat kamu adaptasikan untuk menjadi seorang penulis yang kuat adalah dengan membiasakan menulis dan membaca banyak genre penulisan. Semakin banyak genre yang kamu ketahui, semakin hebat pula point of view yang bisa kamu kembangkan dalam tulisanmu nantinya.

Ada beberapa penulis yang menolak untuk membaca atau menulis genre yang diluar kebiasaan mereka. Sebenarnya ini kurang tepat dan dapat membatasi diri dari peluang untuk mengetahui sesuatu yang justru bisa memperkaya penulisan yang dilakukan.

Kamu tentu setuju kan, jika seorang penulis  harus berpikiran terbuka atau open minded, terlepas dari genre itu adalah pilihannya atau tidak?

Kritis dalam Mengevaluasi Diri Sendiri

Source: Freepik

Nah, kebiasaan terakhir yang dapat kamu terapkan untuk menjadi seorang penulis yang kuat dan berkarakter adalah dengan kritis kepada diri sendiri. Kamu boleh bergembira dengan pencapaian, kamu boleh senang jika bukumu sudah terbit, tapi tolong jangan berhenti sampai disana. Evaluasi lagi karya tulismu dan kritislah ketika mengevalusinya.

Jika kamu memiliki seorang editor yang detail dan teliti, maka itu adalah sebuah anugrah. Akan tetapi jika kamu adalah seorang penulis soliter seperti saya, jika kamu adalah seorang penulis yang berdiri dalam pena kesendirian ketika menghasilkan karya, maka kamu harus kritis dalam me-review karyamu sendiri.

Pujian bukanlah sebuah masalah. Namun ketika kamu larut dalam pujian dengan memandang karyamu telalu tinggi, maka kamu berpotensi kehilangan sensitivitas untuk membuatnya menjadi lebih kuat dan berkarakter di kemudian hari.

BACA JUGA:

Source: Freepik

Nah, itu adalah 7 kebiasaan penulis yang memiliki karakter kuat yang dapat kamu ikuti. Kebiasaan-kebiasaan ini mungkin saja terasa tidak mudah untuk dipraktikkan pada awalnya. Akan tetapi seiring waktu dan dengan konsistensi yang baik, kebiasaan ini akan membentuk dirimu sendiri menjadi seorang penulis yang kuat pula di kemudian hari, baik dari sisi karakter mau pun karya yang dihasilkan.

Jadi, selamat menulis selalu, ya!

5 ELEMEN CERITA FIKSI PALING PENTING DALAM PENULISAN CERPEN ATAU NOVEL

Paling tidak adalah 5 elemen cerita fiksi yang paling penting dalam setiap penulisan novel atau pun cerpen. Kelima elemen ini adalah struktur dasar yang menjadikan sebuah cerita fiksi menjadi sempurna. Tanpa kelima elemen ini, cerita fiksi tidak mungkin dapat dibangun. Walaupun kamu memiliki ide cerita yang demikian luar biasa.

Nah, apa saja sebenarnya elemen paling penting dalam penulisan cerita fiksi yang berbentuk cerpen atau pun novel?

Yuk, simak ulasan lengkapnya berikut ini.

5 Elemen Cerita Fiksi yang Paling Penting dalam Setiap Penulisan Novel atau pun Cerpen

Photo by Dids on Pexels.com

Menulis fiksi menjadi sesuatu yang digandrungi oleh banyak orang pada saat ini. Profesi penulis mulai dilirik sebagai salah satu profesi yang menjanjikan untuk digeluti. Penghasilan yang lumayan dengan karya-karya yang bikin bangga, telah menjadikan magnet bagi lebih banyak orang untuk menulis. Dan sebagian besar dari mereka, hampir selalu memilih fiksi untuk mengawalinya.

Menulis fiksi memang terlihat jauh lebih mudah dibandingkan menulis non-fiksi. Meskipun demikian, pemahaman elemen elemen struktur fiksi yang menjadi pokok penting pembangun cerita juga tidak dapat diabaikan. Sayangnya bagi banyak penulis pemula, bagian ini seringkali tidak terlalu mereka perhatikan.

Pada dasarnya elemen cerita pendek atau cerpen dengan elemen pembentuk novel yang lebih panjang disusun oleh pondasi yang sama. Hanya saja ada perbedaan kuantitas dan kompleksitas yang kemudian mendefiniskan kedua jenis cerita fiksi tersebut. Novel secara umum memiliki kuantitas dan kompleksitas elemen yang lebih besar.

Akan tetapi pada dasarnya, baik cerpen atau novel, memiliki elemen prosa cerita yang sama. Untuk menulis cerita dalam bentuk cerpen mau pun novel dengan baik, kamu perlu memahami apa saja yang menjadi elemen pentingnya.

Lantas, apakah 5 elemen cerita fiksi yang paling penting untuk membangun sebuah cerita yang bagus?

Berikut rinciannya.

BACA JUGA:

Alur Cerita atau Plot

Source: Freepik

Elemen penting pertama dalam penulisan cerita fiksi adalah plot atau alur cerita. Plot adalah alur cerita yang menjadi arah penulisan yang kamu lakukan. Plot akan selalu melekat dimana pun karakter berada dan apa pun yang dilakukannya. Plot akan selalu ada dalam kejadian apa pun yang terjadi sepanjang penulisan cerita yang kamu lakukan.

Kumpulan kejadian-kejadian yang direkayasa sepanjang cerita akan menjadi pembangun bagi ternbentuknya alur cerita keseluruhan yang kemudian dapat kamu sampaikan dalam sinopsis umum. Sementara kejadian tunggal yag berlangsung sepanjang jalan cerita adalah bangunan yang saling terkait sebagai pembentuk alur utuh.

Kemampuan kamu membangun elemen cerpen atau novel yang terdiri dari kepingan-kepingan kejadian dalam bentuk alur atau plot, adalah bagian penting dari elemen penulisan cerita fiksi pertama yang dapat kamu ketahui sebagai unsur penulisan fiksi.

Latar atau Setting

Photo by Burkay Canatar on Pexels.com

Elemen kedua dalam penulisan cerita fiksi baik dalam bentuk cerpen atau novel adalah setting atau latar. Setting merupakan tempat dimana sebuah plot berlangsung dan karakter melakukan aksinya. Setting penting dalam cerita fiksi dan kedudukannya sama dengan plot atau karakter itu sendiri.

Setting tidak harus sesuatu yang realistis. Pada penulisan fiksi ilmiah atau jenis cerita tertentu, setting dapat berlaku secara imajiner. Namun sebagai elemen dari fiksi yang kuat, setting atau latar imajiner akan sangat dipengaruhi dari seberapa baik kamu mendeskripsikan detail latar cerita yang kamu tulis.

Penting juga untuk kamu fahami bahwa latar atau setting tidak hanya dapat diartikan sebagai tempat saja. Kondisi pemikiran, keyakinan agama, pilihan politik, kekangan adat istiadat, atau prinsip dogma-dogma, juga dapat menjadi setting sebuah cerita.

Karakter atau Tokoh

Source: Freepik

Elemen ketiga dalam penulisan cerita fiksi adalah karakter atau tokoh. Karakter sendiri merupakan sosok objek yang diceritakan dalam plot dan juga setting. Secara prinsip, semakin spesifik kamu melukiskan satu karakter dalam cerita fiksi, mak semakin kuat pula kemudian karakter tersebut akan terbentuk.

Umumnya masyarakat mengenal dua karakter paling menonjol saja dalam penulisan fiksi yaitu karakter baik atau protagonis, dan karakter jahat atau antagonis. Namun hakikatnya, elemen cerita fiksi dalam bentuk karakter tidak sesederhana itu saja. Selain tokoh protagonis dan antagonis, ada juga yang dikenal dengan istilah karakter mentor, karakter support, dan lain sebagainya.

Cerita fiksi adalah cerita yang dibuat berdasarkan rekaan imajinasi penulis sendiri. Nah, pada umumnya untuk membuat cerita fiksi menjadi lebih hidup dan menyentuh lebih banyak sudut-sudut pembaca, seorang penulis membuat pula beberapa karakter pembantu yang akan membuat elemen ceritanya menjadi lebih kompleks.

Konflik atau Masalah

Source: Freepik

Elemen keempat dalam penulisan cerita fiksi adalah konflik. Konflik atau permasalahan harus ada dalam setiap cerita fiksi. Semakin dramatis konflik yang bisa tuliskan, maka akan semakin besar pula dampaknya bagi keseluruhan cerita.

Konflik memegang peranan penting dalam setiap penulisan cerita jenis apa pun. Bahkan jika itu bukan fiksi. Namun dalam fiksi, kamu tentu saja dapat mendesain sebuah konflik sesuai dengan kemauanmu sendiri. Dan yang perlu diingat pula dalam penulisan cerita fiksi, konfliknya haruslah kuat dan menyeret sisi emosional berbagai karakter di dalamnya.

Beberapa penulis pemula menghindari tokoh-tokohnya dari berbagai masalah sebagai cara mereka untuk memuja kesempurnaan karakter cerita. Akan tetapi para penulis berpengalaman dengan jam terbang yang tinggi sudah pasti tahu bahwa hanya dengan konflik dan permasalahan yanhg rumit akan menguji ketangguhan karakter yang diceritakan.

Tema dan Gaya

Source: Freepik

Hal terakhir yang menjadi elemen penting dalam penulisan fiksi adalah tema atau topik cerita. Ini semacam garis besar cerita yang kamu tuliskan itu tentang apa. Atau dapat pula dengan membuat sebuah pertanyaan mengenai; pesan apa yang ingin kamu sampaikan dalam cerita yang kamu tulis tersebut?

Ada banyak tema penulisan yang bisa kamu pilih. Dan ketika kamu sudah punya garis besar cerita untuk ditulis, maka memilih tema bukan sesuatu yang sulit. Kamu bisa memilih tema percintaan, peperangan, kepahlawanan, persahabatan, pengkhianatan, dan berbagai topik penulisan fiksi lainnya.

Selain tema, gaya juga adalah elemen cerita yang seharusnya kamu miliki dalam setiap penulisan fiksi. Gaya atau style adalah pilihan cara kamu menceritakan sesuatu dengan kata, kalimat dan teknis story telling yang khas dari kamu. Style berkorelasi erat dengan branding image seorang penulis.

Pembaca kadang tidak begitu jatuh cinta dengan cerita yang disampaikan. Atau tidak begitu tertarik dengan tema penulisannya sendiri. Namun, jika ia sudah jatuh cinta dengan style menulis sang penulis, maka ia kemungkinan besar akan membaca semua tulisan yang ditulis oleh penulis tersebut.

BACA JUGA:

Source: Freepik

Nah, itu adalah 5 elemen cerita fiksi yang paling penting dan setiap penulisan. Umumnya para penulis pemula sekali pun sudah menggunakan 5 elemen ini dalam tulisan mereka. Hanya saja agar cerita fiksi yang kamu tulis dapat berkembang jadi lebih sempurna, maka kamu harus disiplin melatih dan mempraktikkannya.

Selamat mencoba!

5 ALASAN MEMBUNUH KARAKTER TOKOH DALAM NOVEL YANG DIBENARKAN

Membunuh karakter tokoh dalam novel tidak bisa dilakukan secara sembarangan atau semaunya saja. Sebagai penulis, ada berbagai hal penting yang harus kamu pertimbangkan sebelum memutuskan untuk membunuh atau mematikan salah satu karakter tokoh. Tanpa alasan yang tepat, mematikan karakter dalam cerita justru akan membuat keseluruhan ceritamu menjadi cacat.

Lalu, apa sebenarnya yang harus dipertimbangkan seorang penulis sebelum membunuh tokoh atau karakter dalam cerita yang ia tulis?

Mari, simak pembahasan lengkapnya berikut ini.

Alasan Membunuh Karakter Tokoh dalam Novel yang Benar dan Boleh Dilakukan

Photo by RODNAE Productions on Pexels.com

Sebagai seorang penulis, kamu tentu sudah tahu bagaimana cara membuat karakter tokoh dalam novel dan menghidupkannya dalam cerita. Namun yang menarik adalah, ternyata tidak semua penulis faham dengan baik bagaimana mematikan tokoh yang telah ia ciptakan tersebut. Oleh karena itu, kadang seringkali ditemukan bahwa hilang atau matinya satu tokoh dalam cerita ternyata ikut mematikan ceritanya pula.

Ada berbagai pertimbangan yang harus kamu pahami terlebih dahulu sebelum memutuskan untuk membunuh salah satu tokoh cerita. Pertimbangan untuk membunuh kadang jauh lebih sulit daripada cara memperkenalkan karakter dalam novel itu sendiri. Fatalnya, keraguan untuk mematikan atau membiarkan karakter dalam cerita juga berujung pada writer block yang akan mengganggu produktivitasmu sendiri.

Berikut akan disampaikan beberapa alasan membunuh karakter dalam cerita dan penjelasan mengapa alasan tersebut dapat dibenarkan. Pada saat yang bersamaan, kamu juga dapat mempelajari bahwa untuk alasan yang tidak kuat, membunuh tokoh dalam cerita justru akan berbahaya.

Nah, apa sajakah alasan tersebut?

Mari dibaca sampai selesai, ya.

BACA JUGA:

Mengembangkan Plot Cerita

Photo by Ena Marinkovic on Pexels.com

Alasan pertama yang dibenarkan untuk membunuh salah satu tokoh dalam cerita yang kamu tulis adalah karena hal itu dapat mengembangkan plot atau alur cerita. Dalam hal ini, matinya atau hilangnya karakter tersebut akan membuat jalan cerita menjadi lebih terbangun dan berkembang.

Fokus kamu pada alasan yang pertama ini adalah dengan mengajukan beberapa pertanyaan sebagai berikut;

  • Apakah dengan matinya tokoh atau karakter tersebut alur cerita menjadi lebih menarik?
  • Bagaimana cara terbaik menghilangkan tokoh tersebut dari cerita?
  • Kematian seperti apa yang tepat untuk membunuhnya?
  • Seberapa besar dampaknya pada keseluruhan cerita dengan matinya salah satu karakter dalam cerita tersebut?

Jika kemudian kamu mendapatkan jawaban bahwa dengan terbunuhnya salah satu karakter ternyata membuat cerita yang kamu tulis menjadi lebih menarik. Maka, sekarang kamu tinggal merencanakan pembunuhan untuk tokoh tersebut.

Memberikan Motivasi pada Karakter Lain

Photo by cottonbro on Pexels.com

Selanjutnya alasan kedua yang diperbolehkan untuk membunuh tokoh atau karakter dalam cerita novel adalah jika hal tersebut memberi dampak motivasi untuk karakter lainnya. Dalam cerita film dan novel yang terkenal, kematian karakter seperti ini cukup sering dijumpai.

Kamu mungkin sudah bisa mengimajinasikannya, kan?

Ketika matinya satu karakter dalam cerita yang kamu tulis akan membangkitkan motivasi karakter lain yang lebih utama, maka kamu dapat membunuhnya. Pastikan kembali bahwa alur cerita dan hubungan antar karakter itu jelas dan relevan sehingga munculnya motivasi tersebut tidak terkesan dipaksakan.

Memenuhi Kesempurnaan Karakter Antagonis

Photo by cottonbro on Pexels.com

Nah alasan ini paling sering dilakukan untuk membangun cerita dalam penulisan novel atau pun film, dan kamu pasti bisa menemukan contohnya dengan mudah.

Karakter antagonis atau tokoh antagonis adalah tokoh yang kamu ceritakan untuk menggambarkan lawan dari karakter baik.

Banyak penulis pemula lebih nyaman mengartikan karakter antagonis sebagai tokoh jahat semata. Itu tentu saja bisa digunakan, namun kamu juga bisa memperluas spektrum pengertiannya menjadi lebih luas lagi bahwa; tokoh antagonis adalah karakter yang berusaha menghalangi tercapainya tujuan karakter protagonis secara umum.

Untuk membuat sifat jahat karakter antagonis menjadi lebih terekam dalam benak pembaca, beberapa penulis membunuh karakter lain dalam cerita yang mereka tulis. Tentu saja yang harus kamu pahami dalam konteks ini adalah, kematian karakter yang terbunuh haruslaha disebabkan baik secara langsung atau tidak langsung oleh karakter antagonis.

Menghilangkan Karakter yang Merusak Alur

Photo by Alex Andrews on Pexels.com

Apakah ada karakter atau tokoh dalam cerita yang dapat merusak alur?

Tentu saja ada, dan itu cukup banyak terjadi.

Karakter seperti ini adalah tokoh dalam cerita yang jika kamu tidak ceritakan maka akan menjadi pertanyaan pembaca. Sementara jika terus kamu ceritakan, karakternya sendiri tidak dominan dan tidak memiliki banyak pengaruh terhadap plot. Untuk karakter tokoh dengan tipikal yang seperti ini, kamu dapat memikirkan untuk membunuhnya.

Namun membunuh karakter tokoh dalam cerita semacam ini juga tidak dapat dilakukan sembarangan. Kamu juga harus mempertimbangkan kembali apakah eksistensi karakter tersebut memberi efek yang baik terhada plot ataukah tidak. Jika memang kehadirannya hanya akan memberatkan alur penulisan yang kamu lakukan, maka jangan ragu, bunuh saja karakternya.

BACA JUGA:

Menantang Kemampuan Penulis untuk Keluar dari Zona Nyaman

Source: Freepik

Nah, alasan terakhir terkait dengan keputusan untuk mematikan karakter tokoh dalam novel sangat menarik. Alasannya secara prinsip lebih difokuskan kepada penulisnya sendiri yakni sebagai sebuah chalengge sang penulis untuk keluar dari zona nyaman dan kebiasaannya selama ini.

Sebagai penulis yang out of the box dan berani, kamu tentu saja dapat menantang diri kamu untuk melakukan hal ini. Membunuh karakter dalam cerita yang kamu tulis bisa saja akan membuat penulisanmu menjadi lebih kuat, lebih padat dan juga berisi. Atau dengan kata lain; keputusan membunuh karakter tokoh dalam novel yang kamu tulis akan memaksamu untuk lebih kreatif mengatur alurnya.

Hal ini tentu saja tidak mudah. Selain dibutuhkan banyak latihan, kamu juga membutuhkan keberanian untuk keluar dari zona kenyamanan. Namun sekali saja kamu berhasil melakukannya, kamu akan menemukan bagaimana tulisanmu berkembang menjadi lebih luar biasa.

Dua Alasan yang Tidak Tepat untuk Membunuh Karakter dalam Cerita Novel

Source: Freepik

Setelah melihat 5 alasan yang benar untuk membunuh karakter dalam novel di atas, rasanya kamu juga perlu tahu dua alasan yang berkebalikan dengan hal tersebut. Sayangnya, masih cukup sering ditemukan para penulis pemula yang membunuh karakter tokoh dalam novel mereka hanya karena dua alasan berikut ini.

Hanya untuk Membuat Pembaca Merasa Sedih

Photo by Du01b0u01a1ng Nhu00e2n on Pexels.com

Jika kamu membunuh karakter tokoh dalam novel yang kamu tuliskan hanya sebagai cara untuk membuat pembacamu menjadi sedih, maka kamu telah melakukan kesalahan besar.  

Kamu tidak dapat menenggelamkan pembacamu dalam air mata kesedihan dengan membunuh tokoh secara sembarangan, namun juga harus selaras dengan pengembangan cerita.

Kesedihan pembaca karena kehilangan karakter tokoh yang mereka suka atas alasan yang tidak mampu dipertahankan oleh alur cerita, justru akan membuat kualitas novel yang kamu tulis menjadi rendah.

Hanya untuk Membuat Pembaca Menjadi Kaget

Photo by KoolShooters on Pexels.com

Jalan cerita yang tidak dapat ditebak dalam penulisan adalah sebuah kelebihan, tapi kamu tidak dapat melakukannya secara asal-asalan. Membunuh karakter tokoh yang mungkin sudah dekat dengan pembaca hanya agar mereka kaget dan tidak dapat menerka, adalah sangat tidak bijaksana untuk kamu lakukan.

Sekali lagi, sebelum kamu memutuskan untuk membunuh karakter tokoh dalam novel yang kamu tuliskan, pikirkan kembali berbagai imbasnya pada dampak cerita secara keseluruhan.

Jangan terlalu terobsesi untuk ‘mengerjai’ pembaca dengan alur yang dipaksakan. Akan tetapi yang harus kamu lakukan adalah, berfokuslan pada jalan cerita yang kuat dan berkualitas.

BACA JUGA:

Photo by Ketut Subiyanto on Pexels.com

Nah, itu adalah beberapa hal penting yang dapat kamu pertimbangkan ketika dihadapkan pada pilihan untuk membunuh karakter dalam novel atau cerita yang kamu tulis. Inti dari semua ini adalah, perhalus perasaan dan kepekaanmu untuk menemukan alasan yang paling tepat untuk mempertahankan satu karakter tokoh atau membunuhnya di dalam cerita.

Itu saja.

Jadi, selamat mencoba.

PANDUAN CARA MENULIS SKENARIO DENGAN MUDAH MURAH LENGKAP DAN GRATIS

Sebenarnya cara menulis skenario film pendek, film serial atau bahkan film dengan budget miliaran sekali pun, memiliki dasar dan teori yang sama. Struktur penulisan skenario yang diaplikasikan memiliki bagian-bagian yang sama persis. Ketika kamu memahami dasar penulisan skenario, maka kamu dapat mengembangkannya dalam penulisan jenis film apa pun.

Lantas, bagaimana sebenarnya cara menulis naskah dengan benar untuk kemudian diadaptasikan dalam film sebagai script  atau skenarionya?

Yuk, simak penjelasan lengkapnya berikut ini.

Panduan Lengkap Cara Menulis Skenario dan Berbagai Hal Penting yang Harus Diketahui dalam Melakukannya

Photo by Martin Lopez on Pexels.com

Sebelum mempelajari bagaimana menulis skenario dan tahapan-tahapan yang perlu dilakukan, sebaiknya kamu juga mempelajari pengertian dan dasar-dasar pengetahuan mengenai skenario. Semakin baik pemahaman yang kamu miliki tentang skenario, maka semakin baik pula eksekusi yang dapat kamu lakukan dalam proses penulisannya.

Untuk itu, berikut akan dibahas secara lengkap segala sesuatu mengenai penulisan script film sampai tutorial penulisan skenario itu sendiri yang InsyaAllah, dapat kamu praktikkan dengan mudah.

Panduan penulisan yang disampaikan dalam postingan ini tidak membutuhkan aplikasi membuat naskah film yang mungkin saja akan mengharuskan kamu untuk membayar biaya lisensinya. Dalam turioal penulisan script  film berikut, kamu hanya perlu menggunakan aplikasi microsoft word yang tentunya sudah terpasang di laptop yang kamu miliki.

Nah, apa saja hal yang harus kamu ketahui mengenai cara penulisan skenario?

Berikut uraiannya.

BACA JUGA:

Pengertian skenario

Photo by cottonbro on Pexels.com

Secara eksplisit Skenario adalah blue print atau cetak biru kerangka tulisan yang terdiri dari ide dan gagasan, ruang dan waktu, tokoh, aksi, dialog, alur cerita, yang disusun sedemikian rupa hingga menarik dan dapat diterjemahkan ke dalam bahasa visual.

Oya, apakah kamu sudah faham apa yang disebut dengan bahasa visual?

Bahasa visual jika diartikan dengan sederhana adalah sebuah metode penyampaian pesan kepada khalayak atau masyarakat luas melalui berbagai hal yang dapat dilihat secara kasat mata seperti, warna, gambar, bentuk, penataan, gerakan dan lain sebagainya.

Hal-Hal Pokok dalam Penulisan Skenario

Source: Freepik

Sebelum masuk ke struktur penulisan skenario, kamu sebaiknya juga memahami bagian-bagian penting dalam penulisan skenario. Berbagai bagian berikut adalah unsur-unsur yang kemudian setelah melalui berbagai tahap, ditransformasikan menjadi sebuah script  film yang sempurna atau skenario jadi.

Nah, apa saja bagian-bagian penting dari cara menulis skenario film?

Ide Pokok  atau Premis

Photo by Jou00e3o Vu00edtor Heinrichs on Pexels.com

Dapat dikatakan bahwa ide pokok atau premis adalah embrio paling awal dalam penulisan skenario. Secara sederhana ide pokok sendiri dapat diartikan sebagai satu kalimat perenungan atau kesimpulan filosofis, atau pesan pembuat film kepada penonton (premis).

Jadi, jika dipermudah maknanya adalah; Kamu ingin menyampaikan apa kepada penonton melalui film yang diadaptasikan dari sebuah skenario yang kamu tuliskan?

Logline atau Inti Sebuah Cerita

Photo by Andrea Piacquadio on Pexels.com

Selanjutnya bagian penting kedua dari cara penulisan sebuah skenario adalah dengan membuat logline atau inti cerita.

Logline merupakan pengembangan dari premis. Jika premis hanya berfokus pada pesan yang ingin disampaikan secara singkat, maka logline diperluas kembali dengan menambahkan unsur-unsur pokok dari cerita yang diangkat.

Dalam proses pembelajaran cara menulis naskah skenario, logline dapat dibagi dalam tiga pertanyaan paling utama sebagai unsur membangun cerita, yaitu;

  • Rumusan kalimat tentang siapa karakter yang diceritakan?
  • Apa keinginan atau tujuan karakter?
  • Dan apa hambatan karakter untuk mencapai tujuan atau keinginannya?

Latar

Photo by Taryn Elliott on Pexels.com

Bagian ketiga dalam penulisan skenario yang baik adalahnya adanya latar atau tempat dan waktu berlangsungnya cerita. Latar menjadi sesuatu yang sama pentingnya dengan karakter dalam menulis skenario. Deskripsi yang jelas dan mampu divisualisasikan adalah hal paling penting dalam menentukan latar.

Hal yang perlu kamu ingat juga adalah; bahwa latar tidak hanya terbatas pada tempat secara lahiriah saja. Latar cerita dalam menulis skenario atau script  film dapat pula dimaknai secara sosiologis seperti latar belakang agama atau keyakinan, adat istiadat, ideologi politik, teknologi dan lain sebagainya.

Di samping itu, jika penulisan skenario dalam jenis film fiksi ilmiah misalnya, latar juga tidak harus sesuatu yang realistis. Latar yang bersifat imajiner atau imajinasi juga dapat dimunculkan pada proses ini. Namun yang terpenting adalah, latar tersebut tetap dapat diadaptasikan dalam bahasa visual yang bisa dilihat oleh penonton.

BACA JUGA:

Penokohan

Photo by Erik Mclean on Pexels.com

Selanjutnya unsur penting dalam tutorial bagaimana cara menulis naskah yang benar adalah penokohan. Penokohan merupakan pengembangan dari karakter yang penjabarannya lebih luas lagi. Tujuan dari penulisan penokohan adalah sebagai upaya untuk menampilkan gambaran dan watak para tokoh dalam sebuah cerita.

Beberapa penokohan yang paling primer dalam penulisan skenario adalah sebagai berikut;

  • Tokoh protagonis
  • Tokoh antagonis
  • Tokoh pendukung

Dalam menggambarkan penokohan cerita, penting juga bagi kamu untuk menuliskan dengan jelas kedudukan para tokoh. Hubungan, kedudukan, dan sifat-sifat umum adalah penting untuk mendukung struktur penulisan skenario yang menarik dan lengkap.

Basic Story atau Garis Besar Cerita

Photo by Gabby K on Pexels.com

Basic story pada dasarnya merupakan pengembangan dari logline. Jadi, sebelum dieksekusi menjadi sebuah skenario yang dapat diubah ke dalam bentuk visual, logline kemudian dapat dikembangkan menjadi basic story terlebih dahulu.

Dalam basic story, terdapat beberapa unsur penyusun yang dapat digambarkan secara ringkas terlebih dahulu.

Unsur-unsur tersebut misalnya adalah;

  • Latar
  • Pengenalan tokoh atau karakter.
  • Permasalahan yang dihadapi si tokoh.
  • Bagaimana karakter atau tokoh mengatasi permasalahannya.
  • Gambaran hambatan yang dihadapi oleh si tokoh.
  • Berhasil tidaknya tokoh menyelesaikan permasalahan.

Plot atau Alur Cerita

Photo by Lu00ea Minh on Pexels.com

Oya, kamu tentu sudah tahu kan, apa yang dimaksud plot?

Secara mudah plot atau alur cerita dalam tata cara menulis skenario adalah peristiwa-peristiwa yang disusun dan ditata sedemikian rupa untuk mencapai efek tertentu bagi penonton. Prinsipnya adalah; semakin dramatis sebuah plot diatur, maka semakin baik.

Plot sendiri dapat dibagi dua macam secara umum, yaitu;

Plot Linear;

Adalah alur cerita yang yang disusun berurutan berdasarkan waktu. Jadi, peristiwa-peristiwa dalam plot linear dibuat sebagai seuatu yang berjalan sesuai dengan waktu normal. Misalnya cerita mulai dari pagi, siang, malam dan seterusnya.

Plot Non-Linier

Plot non-linier merupakan alur cerita yang disusun tidak terikat dengan kaharusan urutan waktu. Jadi, kamu misalnya dapat saja menceritakan sebuah kejadian pada sore hari terlebih dahulu, kemudian mundur ke kejadian pagi hari pada bagian yang kedua (flashback)

Sinopsis

Source: Masterclass

Sinopsis tidak hanya terdapat pada sampul belakang buku saja, ya. Dalam teknik menulis naskah skenario yang benar, istilah sinopsis juga digunakan.

Dalam struktur penulisan skenario, sinopis merupakan pengembangan dari basic story yang berisi rangkuman rangkaian peristiwa atau adegan. Penyusunan dapat berbentuk paragraf umum, namun urutan kejadian dari awal cerita hingga usai, sudah harus dapat digambarkan secara jelas.

BACA JUGA:

Treatment

Photo by cottonbro on Pexels.com

Nah, selanjutnya kamu akan masuk pada treatment yang merupakan kerangka skenario yang dikembangkan dari sinopsis dengan penjelasan yang lebih detail. Dalam treatment sudah terdapat deskripsi tempat dan waktu berlangsungnya adegan, karakter, aksi, garis besar dialog dan kadang juga type shot.

Apakah kamu tahu apa itu yang dimaksud dengan type shot?

Ya, type shot adalah sudut pandang pengambilan gambar dalam proses syuting. Hal ini tentu saja berkaitan erat dengan profesi sutradara dan camera man. Sebagai penulis skenario, kamu bebas untuk menambahkan type shot atau tidak. Sutradara secara umum sudah mampu merasakan kapan sebuah type shot atau sudut pandang kamera harus diubah.

Pada saat penulisan treatment, sketsa penuturan alur dramatik harus dikuasai. Struktur dramatik adalah susunan aksi-aksi yang membangun keseluruhan film. Dalam perkembangannya, struktur dramatik sendiri dikenal memiliki tiga bagian klasik yang disebut juga sebagai struktur dramatik tiga babak.

Struktur dramatik tiga babak terdiri dari tiga bagian berikut ini;

Babak Satu atau Babak Awal

Source: Studiobinder

Babak awal atau babak perkenalan dimana elemen cerita dan tokoh-tokohnya diperkenalkan. Prinsipnya adalah; semakin cepat babak awal selesai, semakin baik struktur dramatiknya. Hal ini penting dalam struktur penulisan skenario untuk mencegah kebosanan penonton dalam pemaparan awal yang terlalu lama.

Oya, dalam menulis skenario film yang benar kamu juga harus memperhatikan turning point, ya. Turning point sendiri adalah titik dimana pergantian babak terjadi.

Dalam penulisan skenario yang umum, turning point pertama adalah peralihan babak awal ke babak tengah yang merupakan satu titik yang membawa tokoh pada awal permasalahan yang muncul.

Babak Dua atau Babak Tengah

Source: Freepik

Isi yang terkandung dalam babak tengah secara struktur dalam diisi dengan beberapa hal sebagai berikut;

  • Tokoh berusaha menyelesaikan aksi untuk menyelesaikan masalah yang timbul.
  • Akan lebih menarik jika ada permainan emosi penonton misalnya; menarik ulur penyelesaian masalah akibat dari kompleksnya permasalahan, muncul konflik, muncul krisis adanya sub alur cerita, dan lain sebagainya.
  • Menjelang babak akhir atau babak 3, diciptakan situasi seolah-olah tokoh akan berhasil menyelesaikan masalahnya, namun ternyata ini hanya sementara. Karena setelahnya muncul situasi baru dimana sang tokoh harus berjuang lebih keras lagi. Pada titik ini muncul turning point kedua atau menjelang peralihan dari babak tengah menuju babak akhir.

Babak Tiga atau Babak Akhir

Photo by Rachel Claire on Pexels.com

Babak akhir merupakan babak penyelesaian dari sebuah penulisan skenario. Durasinya bahkan bisa lebih pendek dibandingkan babak satu. Secara umum babak tiga atau babak akhir terjadi setelah klimaks yang merupakan poin dimana semua pertanyaan penonton terjawab.

Dalam menulis script  film babak ketiga atau babak akhir, hal yang mungkin perlu menjadi catatan adalah;

  • Babak tiga terjadi setelah klimaks.
  • Klimaks sendiri adalah titik tertinggi dimana terjawab sudah keraguan penonton mengenai bagaimana karakter atau tokoh menyelesaikan masalahnya.
  • Setelah klimaks terjadi, alur cerita kemudian diikuti dengan penurunan nilai dramatik yang disebut dengan anti-klimaks.
  • Klimaks diletakkan sesaat sebelum film berakhir, karena itu anti-klimaks singkat saja, karena pada dasarnya cerita berakhir setelah klimaks tercapai.

BACA JUGA:

Tutorial Bagaimana Cara Menulis Skenario Film dengan Mudah Menggunakan Microsoft Word

Source: Freepik

Setelah kamu mengenal berbagai unsur-unsur penting dalam penulisan skenario, sekarang kamu dapat mempraktikkannya berdasarkan totorial berikut ini.

Hal pertama yang harus kamu lakukan adalah dengan membuka laptop atau komputer milikmu, kemudian membuka aplikasi microsoft word yang pastinya sudah kamu miliki. Jika kamu menggunakan aplikasi membuat naskah film, aturan dalam penulisan di bawah tetap harus dilakukan. Hanya saja kamu tinggal mengikuti template yang sudah disediakan.

Selanjutnya, kamu tinggal mengikuti cara-cara dibawah ini;

Cara Pengaturan Kertas dalam Menulis Skenario

Source: Freepik
  • Pilih kertas kwarto A4
  • Margin 1 inch kiri, kanan, atas,  dan juga bawah
  • Font size 12, pilih huruf dengan tipikal yang sederhana.
  • Jarak 1 spasi, format rata kiri.
  • 1 halaman skenario menggambarkan satu menit film.

Nah, ini penting untuk kamu ketahui bahwa pada umumnya 1 halaman skenario menggambarkan satu menit dalam film. Jadi, jika kamu menulis 90 halaman skenario, secara prinsip itu menggambarkan 90 menit dalam film.

Cara Menulis Sampul Skenario Film

  • Judul ditulis menggunakan huruf kapital dengan tanda petik atau garis bawah.
  • 4 spasi di bawahnya tulis ‘Skenario Oleh’
  • 2 baris di bawahnya tulis nama penulisnya, bawah tulis Draff 1 untuk skenario draff pertama
  • Jika ada revisi ditulis Draff 2, Draff 3 hingga Final Draff.
  • Umumnya nomor halaman pada sisi kanan atas.

Cara Menulis Scene dan Pergantian Scene

Source: Freepik

Scene adalah suatu adegan yang terjadi dalam suatu lokasi yang sama  dan berlangsung pada saat yang sama. Scene bisa terjadi dalam satu shot atau lebih dengan angle yang berbeda.

Secara prinsip jika berubah tempat, waktu atau berubah keduanya, maka berubah pula scene-nya, sehingga diawali dengan penomoran baru seperti; Shot 1, Shot 2, Shot 3, dan seterusnya.

Format penulisan scene alam menulis skenario dapat dilakukan sebagai berikut;

Nomor Scene – Judul Scene Keterangan Interior (INT) atau Exterior (EXT) – Lokasi Scene Keterangan Waktu

Misal:

1. INT. Ruang Tamu – Malam Hari

  • Dua spasi di bawah judul scene ada deksripsi visual yang menggambarkan beberapa hal berikut ini;
    • Deskripsi tempat.
    • Tokoh.
    • Aksi.

Catatan: Deskripsi penting saat ada tempat,  tokoh atau aksi yang baru pertama dimunculkan. Khusus untuk tokoh baru pertama muncul atau terdapat deskripsi suara, dapat ditulis dengan huruf kapital.

Cara Membuat Dialog dalam Menulis Skenario

Photo by Alex Green on Pexels.com

Dialog dibuat 2 spaci dari deskripsi visual. Untuk penulisannya sendiri dapat mengikuti aturan berikut;

  • Diawali dengan nama tokoh yang ditulis dengan huruf kapital. Jaraknya 4 inchi dari tepi kiri kertas.
  • Jarak isi dialog dari tepi kiri 3 inch.
  • Batas kanan dialog diatur 2 inch.
  • Jika ada dialog yang diucapkan namun tokoh tidak terlihat di layar, ditulis OS (Off Screen) atau VO (Voice Over) di belakang nama tokoh yang mengucapkannya.
  • Jika tokoh melakukan sesuatu dan diperlukan petunjuk cara  pengucapan dialog, diberi petunjuk pengucapan atau petunjuk aksi dengan huruf dalam tanda kurung, formatnya sendiri adalah 3.5 inch dari kiri dan 2,5 inch dari kanan.

Cara Menulis Flashback, Timelapse dan Menutup Naskah Skenario Film

Photo by Michael Dupuis on Pexels.com

Teknik pergantian scene ditulis saat ada pergantian scene khusus misalnya flashback atau timelapse. Penulisannya sendiri dapat dilakukan dengan mengikuti kaidah cara menulis skenario yang standar sebagai berikut;

  • Menggunakan huruf kapital dengan jarak 6 inchi dari tepi kiri, dan 2 spasi dari sisi kanan.
  • Apabila skenario selesai dapat ditulis kata SELESAI, dengan huruf kapital di tengah baris.

BACA JUGA:

Photo by cottonbro on Pexels.com

Nah, itu adalah pembahasan lengkap mengenai cara menulis skenario film yang tentu saja dapat kamu praktikkan dengan mudah. Untuk membuat kamu semakin mahir dalam menulis naskah film atau skenario seperti ini, lakukan sebanyak mungkin latihan dan disiplinlah dalam melakukannya.

Oya, jika kamu membutuhkan bantuan dalam menulis skenario film atau apa pun itu yang terkait dengan dunia penulisan, kamu juga bisa meminta bantuan pada www.penulisgunung.id untuk membantumu. Caranya mudah sekali, kamu hanya perlu menghubungi kontak yang dapat kamu klik dibawah ini.

MENULIS BUKU KENAIKAN PANGKAT GURU DALAM 5 LANGKAH PALING MUDAH

Menyusun dan menulis buku kenaikan pangkat guru sebenarnya dapat dilakukan dengan mudah selama Anda memahami caranya. Buku seperti ini selain dipergunakan untuk syarat kenaikan grade atau pangkat, kadang juga dijadikan sebagai bagian dari buku penilaian kinerja guru. Dengan kepentingan seperti itu, tentu saja dibutuhkan kemampuan untuk menulisnya sebaik mungkin.

Sayangnya tidak semua guru atau pendidik mampu melakukan hal ini. faktor ketidakbiasaan adalah kendala utama mengapa menyusun dan menulis buku bisa menjadi sesuatu yang sangat menyulitkan. Padahal jika Anda mengerti caranya, prosesnya bahkan bisa saja lebih mudah daripada yang pernah Anda bayangkan.

Lantas, bagaimana cara yang paling mudah menulis buku untuk kenaikan pangkat bagi seorang guru?

Mari, simak ulasan lengkapnya berikut ini.

5 Langkah Paling Sederhana dalam Menulis Buku Kenaikan Panngkat Guru

Photo by William Fortunato on Pexels.com

Istilah buku 4 penilaian angka kredit guru atau buku 5 kenaikan pangkat guru menjadi populer sejak ada kebijakan dari pemerintah bahwa, literasi adalah salah satu faktor penting sebagai prasyarat kenaikan pangkat seorang pendidik. Literasi ilmiah atau fiksi menjadi tolak ukur yang sekarang dianggap penting untuk dimiliki oleh setiap pendidik dalam jenjang apa pun.

Pada tingkat Sekolah Dasar atau SD misalnya, seorang guru yang mengajukan kenaikan pangkat diwajibkan untuk menulis buku untuk mendapatkan skor atau nilai yang dibutuhkan. Buku tersebut bisa dalam bentuk kumpulan puisi, kumpulan cerpen, atau pun semacam opini ilmiah mengenai proses pendidikan di sekolah guru yang bersangkutan.

Selain bisa mendapat nilai dari angka kredit buku antologi yang penulisannya secara kolektif, penulisan mandiri sebenarnya jauh lebih diprioritaskan. Dengan pemahaman yang lebih baik, menulis buku seperti ini sebenarnya tidak jauh berbeda dengan menulis makalah biasa. Atau menulis artikel ilmiah sederhana yang berfokus pada dunia pendidikan.

Nah, untuk Anda yang berprofesi sebagai seorang pendidik dan sedang mengajukan kenaikan pangkat kemudian harus menulis buku sebagai syaratnya, 5 langkah sederhana berikut ini mungkin bisa membuatnya menjadi lebih mudah.

BACA JUGA:

Tetapkan Tema Penulisan; Fiksi atau Non Fiksi

Photo by Liza Summer on Pexels.com

Langkah pertama yang bisa Anda lakukan ketika menulis buku 3 penilaian angka kredit guru adalah dengan memilih temanya terlebih dahulu; apakah Anda akan menulis buku fiksi atau kan non fiksi.

Jika pilihan Anda adalah menulis buku fiksi sesuai dengan ketentuan yang disyaratkan, maka Anda juga dapat membuat pilihan antara menulis kumpulan puisi atau kumpulan cerpen. Jumlah minimal yang disyaratkan jika Anda menulis kumpulan puisi pada umumnya adalah 40 judul. Akan tetapi, jika Anda memilih menulis buku fiksi dalam bentuk kumpulan cerpen, maka Anda dapat menentukan jumlah secara mandiri.

Sementara jika Anda kemudian memilih untuk menulis buku non fiksi, maka jenis buku untuk kenaikan pangkat yang dapat Anda tulis sebenarnya jauh lebih banyak. Anda misalnya dapat memilih materi yang bersifat opini Anda sendiri, hipotesa dan analisis mendalam tentang sebuah objek pendidikan, atau juga bisa memilih mengenai kritik sebuah sistem yang Anda anggap kurang relevan dalam struktur pendidikan modern.

Lakukan Riset yang Cukup

Photo by Pixabay on Pexels.com

Jika Anda kemudian memilih buku penilaian angka kredit guru dengan tema fiksi, riset tidak serta merta dapat Anda kesampingkan. Untuk menghasilkan sebuah karya fiksi yang tidak asal jadi, Anda juga membutuhkan riset yang cukup supaya hasilnya memuaskan. Paling tidak bagi diri Anda sendiri.

Dibandingkan menulis secara bersama-sama yang menghasilkan angka kredit buku antologi yang terbilang kecil, Anda bisa mengambil komitmen untuk menulis buku Anda sendiri. Untuk memperdalam riset misalnya, Anda dapat membaca berbagai kumpulan puisi dan cerpen dari penulis lain kemudian menulis objek yang sama dalam sudut pandang Anda sendiri.

Namun jika Anda memilih buku non fiksi sebagai syarat kenaikan pangkat yang Anda ajukan, Anda tentunya harus membuat riset yang lebih komprehensif. Mengulas metode pendidikan, mengkritik dan mengevaluasi sistem yang sudah ada, atau pun memberikan proyeksi model pendidikan yang lebih ideal, menuntut Anda untuk melakukan banyak kajian dan analisa dari setidaknya 5 sumber yang kredibel.

BACA JUGA:

Prioritaskan untuk Menulis yang Sejalan dengan Realitas

Photo by Max Fischer on Pexels.com

Akan sangat baik bagi penilaian yang akan Anda peroleh jika kemudian Anda memilih untuk menulis sebuah buku atau artikel non fiksi tentang objek pendidikan yang sesuai dengan realitas yang ada. Relevansi tulisan yang Anda hasilkan dengan realitas yang terjadi akan menghasilkan penilaian yang sempurna bagi para penguji yang objektif.

Pada tingkatan guru Sekolah Dasar misalnya, ketika Anda memilih tema penulisan mengenai mungkin metode paling efektif untuk mencapai tujuan pembelajaran, maka sebaiknya metode yang Anda tulis tersebut dapat Anda pahami dengan baik. Penguasaan Anda tentang materi penulisan akan memberikan keleluasaan untuk menulisnya dalam perspektif yang lebih luas dan menarik.

Pada contoh buku 2 pkg revisi 2019 pdf misalnya, penulisan ini mensyaratkan Anda memiliki pengalaman lapangan pula dalam mempraktikkannya. Misalnya begini; ketika Anda menulis mengenai efektivitas metode belajar outdoor learning, maka setidaknya Anda juga harus memiliki pengalaman mengenai cara belajar di luar ruang seperti itu.

Buat Outline yang Struktural

Photo by William Fortunato on Pexels.com

Dalam menulis buku penilaian kinerja guru sebagai syarat kenaikan pangkat, outline atau kerangka juga tidak dapat Anda abaikan. Bahkan sebenarnya pada buku jenis apa pun, baik fiksi mau pun non fiksi, outline akan membuat proses penulisan dan eksekusi idenya menjadi lebih mudah.

Outline atau kerangka akan memberikan batasan-batasan yang tepat dalam penulisan sehingga akan menghindarkan Anda dari penulisan yang tidak relevan. Outline pada sisi yang sama juga dapat menjadi oriented mapping dimana Anda dapat menentukan arah penulisan secara lebih terstruktur dan tepat sasaran.

Bahkan pada penulisan buku kumpulan puisi sekali pun yang Anda pilih sebagai buku pra-syarat kenaikan pangkat, outline juga sebaiknya diaplikasikan. Pembagian tema yang sesuai, sudut pandang yang ideal dan gaya menulis yang cocok, semuanya dapat Anda atur pada pembuatan outline.

Lakukan Editing Hingga Setidaknya 3 Kali

Photo by Gabby K on Pexels.com

Dalam menulis buku untuk kenaikan pangkat guru, editing adalah bagian krusial yang seharusnya dapat menjadi fokus Anda pula. Sebagai saran, berikan kesempatan pada diri Anda sendiri untuk melakukan editing penulisan paling tidak 3 kali sebelum dipublikasikan.

Editing selain akan memberi Anda kesempatan untuk memperbaiki kesalahan sederhana seperti typho atau salah ketik, juga dapat Anda pergunakan untuk melihat sejauh mana tulisan yang Anda hasilkan mampu menggambarkan maksud yang sejatinya ingin Anda sampaikan.

Untuk membuat proses editing menjadi lebih optimal, sebaiknya Anda melakukannya secara bertahap. Baca dengan suara yang agak keras dan rasakan apakah kalimat yang sudah Anda bangun sesuai dengan makna yang Anda inginkan atau belum. Lakukan editing dan ulangi kembali untuk menghasilkan kalimat yang paling ideal menurut Anda.

BACA JUGA:

Bagaimana Jika Semua Langkah di Atas Sudah Anda Lakukan Namun Anda Tetap Merasa Kesulitan?

Photo by Alexander Dummer on Pexels.com

Namun jika semua tahapan di atas sudah Anda coba lakukan dan Anda tetap merasa kesulitan, maka sebaiknya Anda memang menggunakan jasa penulisan profesional yang dapat membantu Anda melakukannya dengan hasil yang maksimal.

Nah, untuk Anda yang membutuhkan jasa penulisan profesional semacam ini, maka www.penulisgunung.id adalah pilihan yang paling ideal. Pengalaman dalam dunia penulisan yang baik serta tulisan yang original akan memberi Anda kesempatan untuk menghasilkan buku sebagai syarat kenaikan pangkat guru yang berkualitas dan sesuai harapan.

Anda hanya perlu menjelaskan artikel atau buku seperti apa yang Anda inginkan, kelas berapa siswa yang Anda ajarkan,  dan rentang berapa usia murid-murid yang Anda miliki. Kemudian www.penulisgunung.id akan mengaplikasikannya menjadi sebuah tulisan berupa buku atau artikel yang paling relevan berdasarkan gambaran yang Anda berikan tersebut.

Jadi tunggu apa lagi?

Segera hubungi www.penulisgunung.id untuk menghasilkan karya tulis yang akan membantu Anda memenuhi syarat kenaikan pangkat sebagai seorang pendidik yang profesional.

Buat situs web atau blog di WordPress.com

Atas ↑