Lompat ke konten
Beranda » Blog » 5 ALASAN MEMBUNUH KARAKTER TOKOH DALAM NOVEL YANG DIBENARKAN

5 ALASAN MEMBUNUH KARAKTER TOKOH DALAM NOVEL YANG DIBENARKAN

Membunuh Karakter Dalam Novel

Membunuh karakter tokoh dalam novel tidak bisa dilakukan secara sembarangan. Sebagai penulis, ada berbagai hal penting yang harus kamu pertimbangkan sebelum memutuskan untuk membunuh salah satu karakter tokoh. Tanpa alasan yang tepat, mematikan karakter dalam cerita justru akan membuat keseluruhan ceritamu menjadi cacat.

Lalu, apa sebenarnya yang harus dipertimbangkan seorang penulis sebelum membunuh tokoh atau karakter dalam cerita yang ia tulis?

Mari, simak pembahasan lengkapnya berikut ini.

Kamu punya kisah hidup menarik untuk dijadikan buku namun bingung cara menuliskannya?

Alasan Membunuh Karakter Tokoh dalam Novel yang Boleh Dilakukan

karakter tokoh dalam novel
Photo by RODNAE Productions on Pexels.com

Sebagai seorang penulis, kamu tentu sudah tahu bagaimana cara membuat karakter tokoh dalam novel dan menghidupkannya dalam cerita.

Namun yang menarik adalah, ternyata tidak semua penulis faham dengan baik bagaimana mematikan tokoh yang telah ia ciptakan tersebut. Oleh karena itu, seringkali ditemukan bahwa hilang atau matinya satu tokoh dalam cerita ternyata ikut mematikan ceritanya pula.

Ada berbagai pertimbangan yang harus kamu pahami terlebih dahulu sebelum memutuskan untuk membunuh salah satu tokoh cerita.

Pertimbangan untuk membunuh kadang jauh lebih sulit daripada cara memperkenalkan karakter dalam novel itu sendiri. Fatalnya, keraguan untuk mematikan atau membiarkan karakter dalam cerita juga berujung pada writer’s block yang akan mengganggu produktivitasmu sendiri.

Berikut akan disampaikan beberapa alasan membunuh karakter dalam cerita dan penjelasan mengapa alasan tersebut dapat dibenarkan. Pada saat yang bersamaan, kamu juga dapat mempelajari bahwa untuk alasan yang tidak kuat, membunuh tokoh dalam cerita justru akan berbahaya.

Nah, apa sajakah alasan tersebut?

Mari dibaca sampai selesai, ya.

BACA JUGA:

1. Untuk Mengembangkan Plot Cerita

karakter tokoh dalam novel
Photo by Ena Marinkovic on Pexels.com

Alasan pertama yang dibenarkan untuk membunuh salah satu tokoh dalam cerita adalah karena hal itu dapat mengembangkan alur cerita. Dalam hal ini, mati atau hilangnya karakter tersebut akan membuat jalan cerita menjadi lebih terbangun dan berkembang.

Fokus kamu pada alasan yang pertama ini adalah dengan mengajukan beberapa pertanyaan sebagai berikut;

  • Apakah dengan matinya tokoh atau karakter tersebut alur cerita menjadi lebih menarik?
  • Bagaimana cara terbaik menghilangkan tokoh tersebut dari cerita?
  • Kematian seperti apa yang tepat untuk membunuhnya?
  • Seberapa besar dampaknya pada keseluruhan cerita dengan matinya salah satu karakter dalam cerita tersebut?

Jika kemudian kamu mendapatkan jawaban bahwa dengan terbunuhnya salah satu karakter justru membuat cerita menjadi lebih menarik. Maka, sekarang kamu tinggal merencanakan pembunuhan tokoh tersebut.

2. Untuk Memberikan Motivasi pada Karakter Lain

Alasan kedua yang diperbolehkan untuk membunuh tokoh atau karakter dalam cerita novel adalah jika hal tersebut memberi dampak motivasi untuk karakter lainnya. Dalam cerita film dan novel yang terkenal, kematian karakter seperti ini cukup sering dijumpai.

Kamu mungkin sudah bisa mengimajinasikannya, kan?

Ketika matinya satu karakter dalam cerita yang kamu tulis akan membangkitkan motivasi karakter lain yang lebih utama, maka kamu dapat membunuhnya.

Pastikan kembali bahwa alur cerita dan hubungan antar karakter itu jelas dan relevan sehingga munculnya motivasi tersebut tidak terkesan dipaksakan.

3. Untuk Memenuhi Kesempurnaan Karakter Antagonis

Nah alasan ini paling sering dilakukan untuk membangun cerita dalam penulisan novel atau pun film. Kamu pasti bisa menemukan contohnya dengan mudah.

Karakter antagonis atau tokoh antagonis adalah tokoh yang kamu ceritakan untuk menggambarkan lawan dari karakter baik.

Banyak penulis pemula lebih nyaman mengartikan karakter antagonis sebagai tokoh jahat semata. Itu tentu saja bisa digunakan, namun kamu juga bisa memperluas spektrum pengertiannya menjadi lebih luas lagi bahwa; tokoh antagonis adalah karakter yang berusaha menghalangi tercapainya tujuan karakter protagonis secara umum.

Untuk membuat sifat jahat karakter antagonis menjadi lebih terekam dalam benak pembaca, beberapa penulis membunuh karakter lain dalam cerita mereka.

Tentu saja yang harus kamu pahami dalam konteks ini adalah, kematian karakter yang terbunuh haruslah disebabkan baik secara langsung atau tidak langsung oleh karakter antagonis.

4. Untuk Menghilangkan Karakter yang Merusak Alur

Apakah ada karakter atau tokoh dalam cerita yang dapat merusak alur?

Tentu saja ada, dan itu cukup banyak terjadi.

Penulisgunung

Karakter seperti ini adalah tokoh dalam cerita yang jika kamu tidak ceritakan maka akan menjadi pertanyaan pembaca. Sementara jika terus kamu ceritakan, karakternya sendiri tidak dominan dan tidak memiliki banyak pengaruh terhadap plot.

Untuk karakter tokoh dengan tipikal yang seperti ini, kamu dapat memikirkan untuk membunuhnya.

Namun membunuh karakter tokoh dalam cerita semacam ini juga tidak dapat dilakukan sembarangan. Kamu juga harus mempertimbangkan kembali apakah eksistensi karakter tersebut memberi efek yang baik terhadap plot ataukah tidak.

Jika memang kehadirannya hanya akan memberatkan alur penulisan yang kamu lakukan, maka jangan ragu, bunuh saja karakternya.

Shopee Merdeka

BACA JUGA:

5. Menantang Kemampuan Penulis untuk Keluar dari Zona Nyaman

Source: Freepik

Nah, alasan terakhir terkait dengan keputusan untuk mematikan karakter tokoh dalam novel sangat menarik.

Alasannya secara prinsip lebih difokuskan kepada penulisnya sendiri yakni sebagai sebuah chalengge sang penulis untuk keluar dari zona nyaman dan kebiasaannya selama ini.

Sebagai penulis yang out of the box dan berani, kamu tentu saja dapat menantang diri kamu untuk melakukan hal ini. Membunuh karakter dalam cerita yang kamu tulis bisa saja akan membuat penulisanmu menjadi lebih kuat, lebih padat dan juga berisi.

Atau dengan kata lain; keputusan membunuh karakter tokoh dalam novel yang kamu tulis akan memaksamu untuk lebih kreatif mengatur alurnya.

Hal ini tentu saja tidak mudah. Selain dibutuhkan banyak latihan, kamu juga membutuhkan keberanian untuk keluar dari zona kenyamanan. Namun sekali saja jika kamu berhasil melakukannya, kamu akan menemukan bagaimana tulisanmu berkembang menjadi lebih luar biasa.

Dua Alasan yang Tidak Tepat untuk Membunuh Karakter dalam Cerita Novel

Setelah melihat 5 alasan yang benar untuk membunuh karakter dalam novel di atas, rasanya kamu juga perlu tahu dua alasan yang berkebalikan dengan hal tersebut.

Untuk alasan ini, sangat disayangkan karena masih cukup sering ditemukan para penulis pemula yang membunuh karakter tokoh dalam novel mereka hanya karena dua alasan berikut ini.

1. Hanya untuk Membuat Pembaca Merasa Sedih

Jika kamu membunuh karakter tokoh dalam novelmu hanya sebagai cara untuk membuat pembacamu menjadi sedih, maka kamu telah melakukan kesalahan besar.  

Kamu tidak dapat menenggelamkan pembacamu dalam air mata kesedihan dengan membunuh tokoh secara sembarangan. Sebaliknya, keputusan ini harus selaras dengan pengembangan cerita.

Kesedihan pembaca karena kehilangan karakter tokoh yang mereka suka atas alasan yang tidak mampu dipertahankan oleh alur cerita, justru akan membuat kualitas novel yang kamu tulis menjadi rendah.

2. Hanya untuk Membuat Pembaca Menjadi Kaget

Jalan cerita yang tidak dapat ditebak dalam penulisan adalah sebuah kelebihan, tapi kamu tidak dapat melakukannya secara asal-asalan. Membunuh karakter tokoh yang mungkin sudah dekat dengan pembaca hanya agar mereka kaget dan tidak dapat menerka, adalah sangat tidak bijaksana untuk kamu lakukan.

Sekali lagi, sebelum kamu memutuskan untuk membunuh karakter tokoh dalam novel yang kamu tuliskan, pikirkan kembali berbagai imbasnya pada dampak cerita secara keseluruhan.

Jangan terlalu terobsesi untuk ‘mengerjai’ pembaca dengan alur yang dipaksakan. Akan tetapi yang harus kamu lakukan adalah, berfokuslan pada jalan cerita yang kuat dan berkualitas. Itu yang utama.

Nah, itu adalah beberapa hal penting yang dapat kamu pertimbangkan ketika dihadapkan pada pilihan untuk membunuh karakter dalam novel atau cerita yang kamu tulis.

Inti dari semua ini adalah, perhalus perasaan dan kepekaanmu untuk menemukan alasan yang paling tepat untuk mempertahankan satu karakter tokoh atau membunuhnya di dalam cerita. Itu saja.

Jadi, selamat mencobanya, ya!

BACA JUGA:


Tingkatkan skill menulismu

Yuk, gabung di Kelas Menulis Online Penulis Gunung dan keterampilan menulismu akan naik satu level


Penulis terbaik

Anton Sujarwo

Saya adalah seorang penulis buku, content writer, ghost writer, copywriters dan juga email marketer. Saya telah menulis 19 judul buku, fiksi dan non fiksi, dan ribuan artikel sejak pertengahan tahun 2018 hingga sekarang.

Dengan pengalaman yang saya miliki, Anda bisa mengajak saya untuk bekerjasama dan menghasilkan karya. Jangan ragu untuk menghubungi saya melalui email, form kontak atau mendapatkan update tulisan saya dengan bergabung mengikuti blog ini bersama ribuan teman yang lainnya.

Tulisan saya yang lain dapat dibaca pula pada website;

Saya juga dapat dihubungi melalui whatsapp di tautan ini.

Fortopolio beberapa penulisan saya dapat dilihat disini:

%d blogger menyukai ini: