TERNYATA INI 10 FAKTA MENULIS BUKU YANG PALING MENYAKITKAN

Mimpi menjadi penulis sukses mungkin memang indah sebelum kamu tahu ada banyak fakta menulis yang menyakitkan. Beberapa penulis mungkin memilih diam dan tak ingin menyampaikan hal ini. Namun jika kamu tidak mengetahuinya sejak awal, kamu bisa saja akan jauh lebih kecewa setelah mengetahuinya kemudian.

Lalu, apa saja fakta mengenai menulis yang katanya menyakitkan itu?

Mari simak ulasan selengkapnya berikut.

Ketahui 10 Fakta Menulis yang Paling Menyakitkan Berikut Sebelum Kamu Memutuskan untuk Menjadi Seorang Penulis

Photo by John-Mark Smith on Pexels.com

Dunia menulis kadang melambungkan angan banyak pemula yang menganggap dunia yang baru dimasukinya ini sebagai sebuah romansa yang indah.

Saya juga mungkin demikian sebelumnya. Saat menyelesaikan buku pertama, angan saya mengatakan bahwa saya akan disibukkan dengan launching, roadshow ke berbagai kota, menjadi bintang tamu acara TV, dan menghitung royalti tentu saja.

Namun, bagaimana dengan kenyataannya?

Harus saya akui itu tidak seindah yang dibayangkan.

Bahkan setelah menulis lebih dari 14 judul buku, beberapa angan itu tidak pernah terwujud.

Roadshow dan royalti tidak pernah menjadi kenyataan. Namun saya justru banyak belajar dan menemukan hal-hal baru mengenai fakta tentang menulis yang harus dihadapi secara realistis. PR-nya kemudian adalah, bagaimana saya beradaptasi dan berhasil melewatinya.

Nah sekarang, untuk kamu yang memiliki keinginan menjadi seorang penulis, saya akan membagikan 10 hal yang sudah seharusnya kamu ketahui sejak awal ini. Bahkan jika saya mengetahui hal ini lebih awal, saya pun tidak akan terjebak pada hal-hal yang seharusnya tidak saya lakukan.

Apa saja fakta yang menyakitkan tentang menulis?

Ini dia daftarnya.

BACA JUGA:

Banyak Orang Berbicara Tentang Menulis, Hanya Sebagian Kecil yang Benar-Benar Melakukannya

Photo by RODNAE Productions on Pexels.com

Apakah kamu pernah mendengar seseorang yang mengatakan;

 “Aku akan menulis sebuah buku tentang ini. Konsep ceritanya bagus banget”

Kemudian ia tidak pernah melakukannya.

Pernahkah kamu menemui hal seperti itu?

Hal yang sama juga pernah terjadi dengan saya. Saya ingin menulis buku tentang silat, tentang kumpulan kisah teladan, atau seorang pendaki gunung yang tewas saat menyelamatkan kekasihnya. Tetapi buku itu tidak pernah hadir, hanya muncul sebagai ide yang kemudian terurai menjadi impian kosong kembali.

Menjadi penulis adalah mimpi banyak orang, tetapi hanya sedikit yang mewujudkan mimpi itu.

Memiliki buku dengan nama kamu sendiri, mungkin juga menjadi sesuatu yang kamu impikan. Akan tetapi fakta yang menyakitkannya adalah; hal itu tidak akan terwujud jika kamu tidak memperjuangkannya.

Bangun!

Jangan jadi orang-orang yang hanya bermimpi menjadi penulis tapi tidak pernah berjuang untuk mewujudkan mimpi itu.

Dalam Menulis, Meskipun Normal, Keraguan Akan Membunuhmu

Photo by Liza Summer on Pexels.com

Fakta kedua mengenai menulis seperti ini terjadi pula kepada saya saat sedang menulis novel pertama saja. Atau buku ke-4 yang sudah saya selesaikan secara keseluruhan.

Saya telah memiliki sebuah konsep cerita yang saya pikir bagus dan saya ingin konsep itu menjelma menjadi sebuah buku. Tapi ketika itu telah berubah menjadi beberapa bab, saya mulai menemukan keraguan dalam prosesnya. Dan hal itu kemudian menghentikan saya.

Konsep cerita itu kemudian diketahui oleh isteri saya dan ia meyakinkan saya bahwa itu cerita yang hebat. Keyakinan saya bersemi kembali saat mendengarnya. Dan saya pun berhasil menyelesaikan penulisan buku itu hingga selesai.

Tahukan kamu buku apa itu?

Itu adalah buku Merapi Barat Daya, yang telah terjual lebih 1.000 copy dan mendapatkan rating yang hampir sempurna dari banyak kritikus novel petualangan di Indonesia.

Oh ya, jumlah 1.000 copy  mungkin terdengar sedikit, ya?

Tapi tidak juga sebenarnya. Terutama jika kamu tahu bahwa buku itu diterbitkan secara indie dengan metode self publishing. Penulisan naskah, editing, desain cover,  dan pemasaran, semuanya saya lakukan secara mandiri.

Bayangkan jika saya tidak berhasil melawan keraguan sewaktu cerita itu ditulis. Ceritanya tentu akan berbeda.

BACA JUGA:

Writer’s Block Tidak Cukup Sebagai Alasan

Source: Freepik

Seorang guru tidak dapat berhenti mengajar hanya karena ia merasa kurang terinsipirasi saat masuk kelas. Seorang dokter tidak dapat berhenti melakukan operasi atas penyakit seorang pasien, hanya karena beralasan ia tidak terinspirasi untuk meneruskannya.

Penulis juga begitu.

Dan kamu, kamu juga harus begitu. Tidak terinspirasi, merasa kehabisan ide, atau writer’s block, tidak boleh kamu biarkan menghentikan dirimu. Terlalu kecil mimpimu sebagai seorang penulis jika writer’s block saja membuat kamu berhenti melakukannya.

Fakta menjadi seorang penulis yang sesungguhnya adalah ini, kamu harus memaksa diri kamu sendiri untuk tetap menulis. Inspirasi tidak datang setiap hari dan mood bisa berubah-ubah, namun, itu sama sekali bukan alasan kamu untuk berhenti.

Buku yang hebat tidak terlahir dalam semalam. Karya yang luar biasa tidak muncul hanya dengan mengatakan sim salabim. Kamu harus berjuang untuk terus menulis, setiap hari, entah kamu terinspirasi atau pun tidak.

Dan hal ini bagi sebagian orang dengan kemauan menulis yang lemah, adalah sebuah fakta menulis yang menyakitkan.

BACA INI JUGA, YUK:

Menulis Hanya di Waktu Senggang itu Tidak Cukup

Photo by Olya Kobruseva on Pexels.com

Mungkin kamu mengira dapat menyelesaikan bukumu dengan menulis di waktu senggangmu, ya?

Di saat kamu tidak sedang  bekerja, sedang tidak bermain dengan anak-anak, sedang tidak ada acara kantoran atau keluarga. Dan mungkin sedang tidak bermain sosial media.

Jika kamu berpikiran demikian, kamu sebaiknya mulai merubah pandanganmu itu.

Untuk dapat menyelesaikan sebuah buku, kamu tidak bisa mengandalkan untuk menulisnya hanya di waktu senggang. Jika kamu melakukan ini, percayalah, kamu tidak akan menyelesaikan bukumu pada akhirnya.

Bagaimana jika di waktu senggang kamu tidak terinspirasi?

Bagaimana jika di waktu senggang kamu justru malas untuk menulis?

Hal yang penting dari menjadi seorang penulis adalah kamu memprioritaskan aktivitas menulis sebagai kegiatan utama yang kamu lakukan. Menulilah setiap hari, di waktu-waktu paling produktif yang kamu miliki.

BACA PULA:

Menulis adalah Rutinitas yang Kamu Tidak Boleh Bosan

Photo by Cup of Couple on Pexels.com

Setiap rutinitas adalah sesuatu yang membosankan.

Iya, kan?

Tapi dalam menulis, rutinitas adalah hal yang yang kamu tidak boleh bosan melakukannya. Jika pun kamu bosan, maka kamu tidak boleh berhenti.

Dalam menulis, rutin dan konsisten adalah bagian yang paling penting. Kedisiplinan kamu dalam menulis-lah yang akan mengantarkan kamu pada kesuksesan menyelesaikan bukumu. Dan untuk melakukannya, kamu tidak bisa menulis hanya di waktu luang, atau hanya di akhir pekan saja.

Jadi, setiap hari kamu harus menulis.

Dan itu adalah fakta dalam menulis yang bagi sebagian orang adalah sesuatu yang menyakitkan.

BACA JUGA:

Membaca dan Riset adalah Bagian dari Pekerjaan

Photo by cottonbro on Pexels.com

Fakta tentang menulis selanjutnya yang mungkin tidak begitu kamu suka adalah bahwa pekerjaan ini juga berhubungan erat dengan hal lainnya. Dan membaca adalah bagian tidak terpisahkan dari seorang penulis.

Kamu tidak bisa menjadi penulis jika kamu tidak suka membaca.

Ada banyak bacaan yang bisa kamu ambil. Kamu bisa membaca karya penulis lain yang kamu kagumi cara berceritanya. Atau kamu juga bisa membaca buku dengan genre cerita yang sama dengan genre yang kamu tulis. Jangan khawatir, ini tidak ada hubungannya dengan plagiat. Justru proses ini akan membuat penulisanmu menjadi lebih tajam dan kuat.

Membaca banyak literatur dan riset adalah bagian dari dunia menulis yang tidak akan terpisahkan. Kamu tidak bisa mengabaikan hal ini jika kamu ingin memilki kualitas penulisan yang kuat.

baca juga:

Naskah Pertama itu Lebih Sering Mengecewakan

Photo by Karolina Grabowska on Pexels.com

Tugas utama selama kamu menulis bukumu yang pertama adalah sampai naskahnya selesai. Kesalahan penulisan, typo, PUEBI, makna yang ambigu, dan lain sebagainya, adalah bagian kedua dari proses ini.

Jadi, tidak perlu memusingkannya lebih dulu.

Tidak perlu merasa gusar jika setelah kamu menyelesaikan beberapa bab, kamu menemukan ada begitu banyak kesalahan yang harus diperbaiki. Itulah proses menulis yang sebenarnya, akan ada banyak hal yang harus diperbaiki setiap hari. Tapi tugas utama yang harus selesaikan adalah membuat naskahmu selesai.

Saya telah menulis lebih dari selusin buku, dan saya selalu menemukan banyak hal yang payah ketika naskahnya selesai.

Dan itu tidak masalah.

Karena waktu-waktu selanjutnya akan saya habiskan untuk memperbaikinya melalui editing, proofreading dan juga revisi.

Editing adalah Kerja Keras yang Melelahkan

Photo by Karolina Grabowska on Pexels.com

Jika kamu adalah seorang penulis pemula yang memilih jalur yang sepenuhnya mandiri seperti yang saya lakukan, kamu akan tahu betapa melelahkannnya proses sebuah buku hingga ia bisa terbit.

Di antara semua proses tersebut, editing adalah bagian yang paling menguras tenaga.

Sampai buku-buku populer seperti Dunia Batas Langit, MMA Trail, Merapi Barat Daya, atau Dewi Gunung yang tebalnya hingga 600 halaman itu sampai ke tangan pembaca. Saya menghabiskan siang dan malam, ditengah kantuk dan lelah, untuk menyelesaikan proses editing-nya yang sangat melelahkan.

Cara paling ideal dan profesional tentu saja dengan merekrut editor profesional untuk membantu menyempurnakan naskah yang sudah kamu tuliskan. Self editing seperti yang saya lakukan selalu menyisakan ruang-ruang dimana kesalahan akan tetap tersisa,

Saya membaca naskah buku yang saya tulis hingga paling tidak 3 x sebelum masuk proses final layouting.

Dan saya harus mengatakan hal ini secara jujur kepada kamu; proses ini sangat melelahkan, membosankan dan kadang mengecewakan.

baca pula:

Kritik Kadang Sangat Menyakitkan

Source: Freepik

Apakah kritik membuat kamu sakit hati?

Jika iya, mungkin kamu tidak cocok jadi penulis.

Apakah kritik membuat kamu kecewa dan memutuskan untuk berhenti berkarya?

Jika iya, nampaknya menulis bukan dunia kamu.

Dalam menulis kritik adalah bagian penting yang justru menjadi sebuah evaluasi gratis yang seharusnya disyukuri. Pujian memang enak didengar, dan itu kadang-kadang membuat seorang penulis merasa terbang. Namun kritik-lah yang akan membuat ia kembali menjejak tanah dan membangun sayap yang sebenarnya.

Ketika buku kamu sudah selesai dan orang-orang sudah membacanya, maka feedback pun berdatangan dan beberapa di antaranya adalah kritik. Dan itu adalah hal yang harus kamu syukuri.

Kritik memang keras, dan kadang membuat kamu mungkin sakit hati. Tapi jangan berhenti karena kritik.

Justru gunakan kritik yang kamu terima tersebut sebagai referensi utama saat mengevaluasi, atau membuat karya hebatmu yang seterusnya.

Jangan Berharap Langsung Kaya Raya dengan Menulis

Photo by Dziana Hasanbekava on Pexels.com

Apakah tidak ada penulis yang kaya raya dan mendapatkan uang dengan mudah melalui tulisan mereka?

Banyak! Banyak sekali.

J.K. Rowling yang terkenal itu menghasilkan miliaran dolar sebagai penulis terkaya di dunia. Di Indonesia kamu akan mendapati nama-nama tenar lainnya seperti Asma Nadia, Habiburahman El Shirazy, Andrea Hirata dan Tere Leye yang juga akrab dengan kesuksesan besar dan materi melimpah dari hasil menulis.

Tapi seujurnya itu tidak mudah. Hanya sedikit sekali penulis yang mampu mencapai posisi itu dengan keberuntungan dan kerja keras mereka.

Selebihnya?

Ada lebih banyak yang tidak terkenal dan mendapatkan penghasilan yang cukup dari menulis buku.

Source: Freepik

Ketika kamu sudah memutuskan untuk masuk ke dunia menulis secara profesional, kamu harus realistis. Uang yang kamu hasilkan mungkin tidak akan banyak selama beberapa tahun. Atau kamu mungkin tidak akan terkenal dan dielu-elukan dimana-mana.

Tapi apakah hal itu harus menjadi masalah?

Ketika kamu berhasil menyelesaikan bukumu yang pertama, ingat, itu hanyalah permulaan saja. Masih ada perjalanan panjang dan penuh perjuangan yang akan menunggu kamu selanjutnya.

Seperti saya yang telah menulis 14 judul buku dan menjual ribuan eksemplar di antaranya, sampai sekarang saya juga belum kaya raya dan terkenal. Bahkan mungkin kamu yang membaca tulisan ini belum mengenal siapa saya.

Tetapi semua itu tidak akan menghentikan saya.

Bisa jadi kesuksesan saya bukan pada buku pertama hingga 14, tapi buku ke-15, atau buku-20, atau buku-100 barangkali. Dan itu tidak jadi masalah, saya InsyaAllah akan konsisten menjalani prosesnya.

Saya akan terus menulis, menghasilkan buku, karena itulah cara yang bisa saya lakukan untuk bersyukur dengan segala karunia yang Allah berikan. Saya akan terus menulis sampai Allah mencukupkan waktu-Nya untuk saya.

baca juga:

Jika Kamu adalah Penulis Pemula yang Ingin Menghasilkan Buku Pertama, Inilah yang Harus Kamu Lakukan

Source: Freepik

Nah sekarang, dengan semua fakta menulis yang menyakitkan itu, kamu tidak boleh ragu dan menjadi pesimis. Justru kamu harus lebih bersemangat untuk masuk ke dunia penulisan dan menghasilkan karya terbaikmu.

Kamu bisa terus belajar menulis dari banyak cara. Kamu bisa mengikuti pelatihan, membaca buku panduan, mengikuti tutorial video dan lain sebagainya.

Akan tetapi jika kamu masih merasa kesulitan menyelesaikan buku pertamamu dengan cara-cara itu, maka kamu bisa meminta saya membantu kamu.

Jangan ragu untuk menghubungi kontak saya, dan saya akan memandu kamu menulis sampai kamu berhasil menyelesaikan buku kamu yang pertama.

Nah, apakah kamu mau menyelesaikan buku kamu yang pertama sekarang?


Anton Sujarwo

Saya adalah seorang penulis buku, content writer, copywriters dan juga email marketer. Saya telah menulis 14 judul buku, fiksi dan non fiksi, dan ribuan artikel sejak pertengahan tahun 2018 hingga sekarang.

Dengan pengalaman yang saya miliki, Anda bisa mengajak saya untuk bekerjasama dan menghasilkan karya. Jangan ragu untuk menghubungi saya melalui email, form kontak atau  mendapatkan update tulisan saya dengan bergabung mengikuti blog ini bersama ribuan teman yang lainnya.

Tulisan saya yang lain dapat dibaca pula pada website;

10 ALASAN MENGAPA JASA PENULIS ARTIKEL PILIHAN TEPAT PEBISNIS ONLINE

Tahukah Anda bahwa 80% dari calon pembeli saat ini menggunakan internet dan sumber bacaan sebagai referensi utama mereka. Berdasarkan data ini, sangat wajar jika jasa penulis artikel merupakan solusi yang paling tepat untuk Anda yang memiliki bisnis online dan berniat untuk mempromosikannya.

Dengan keterampilan dan kemampuan yang mereka miliki, jasa penulis online mampu menghasilkan tulisan yang informatif, edukatif, dan juga menjual kepada masyarakat. Dalam waktu yang konsisten, berbagai manfaat lain pun akan berdatangan dan membuat bisnis online yang Anda miliki semakin mendapatkan reputasi di internet.

Lantas, apa sajakah manfaat menggunakan jasa content writer bagi seorang pebisnis online?

Yuk, simak penjelasan selengkapnya berikut ini.

10 Alasan Jasa Penulis Artikel adalah Pilihan Paling Tepat Bagi Pebisnis Online untuk Mempromosikan Usaha Mereka

Photo by Ann Nekr on Pexels.com

Jasa penulisan artikel ilmiah atau pun untuk kepentingan komersial, adalah industri baru di era genarasi Z sekarang. Kemampuan menulis di internet, apa pun itu bentuknya, telah melahirkan berbagai peluang besar bagi generasi Z untuk mampu memberikan kontribusi signifikan dalam berbagai bidang kehidupan.

Nah, di antara berbagai bidang itu, perekonomian digital adalah yang mungkin paling menarik. Era internet secara sporadis telah memindahkan aktivitas perekonomian dari dunia riil ke digital. Jenis usaha dan produk apa pun, barang atau pun jasa, harus hadir dalam dunia internet supaya dapat terus bertahan di era sekarang.

Tumbuh dan berkembang pesatnya perekonomian digital membutuhkan jenis pemasaran yang tidak sama dengan teknis pemasaran biasa. Calon pembeli dan pengguna jasa saat ini, menghabiskan mayoritas besar waktu mereka di depan gadget. Siapa pelaku usaha yang mampu menarik perhatian mereka, adalah mungkin yang memiliki peluang untuk diterima.

Lalu, bagaimana caranya?

Disinilah kemudian para content writer dan content creator menemukan dunia mereka. Merekalah kemudian yang bertugas untuk membuat segala sesuatu baik berupa tulisan atau pun media lain, yang mampu menarik hadirnya calon pembeli pada suatu bidang usaha di internet.

BACA JUGA:

Seberapa Penting Jasa Penulis Artikel Bagi Bisnis Online?

Source: Freepik

Anggaplah Anda membuka sebuah toko baru yang lokasinya cukup tersembunyi dari keramaian, lalu bagaimana cara Anda menarik calon pembeli?

Anda mungkin akan memasang poster, pamflet, spanduk, selebaran, menggunakan pengeras suara dan berbagai cara lainnya untuk menarik perhatian.

Nah, hal yang sama juga dilakukan oleh seorang penulis artikel yang spektrum kerjanya tentu saja secara digital.

Jasa penulisan artikel bahasa inggris, bahasa Indonesia, atau bahasa apa saja, memfokuskan diri mereka untuk menghasilkan tulisan yang bernilai. Dalam kasus bisnis online, tulisan itu haruslah yang memiliki dampak pada bisnis yang dituju.

Melihat hal ini dapat ditarik kesimpulan bahwa peran jasa penulisan artikel dalam bisnis online sangat besar. Hanya saja yang menjadi masalah kadang adalah; banyak pemilik bisnis online yang belum menyadari sepenuhnya mengapa jasa penulis artikel sangat signifikan pengaruhnya pada bisnis mereka.

Jika Anda sebagai pemilik bisnis online masih ragu dengan pernyataan ini, 10 hal berikut adalah alasan yang akan menjelaskannya.

80% Prospek dan Calon Pembeli Anda, Ada di Internet dan Mereka Lebih Tertarik untuk Membaca

Source: Freepik

Siapa calon customer sebuah bisnis online?

Ya, tentu saja orang-orang yang juga online dan menggunakan internet, kan?

Nah, yang menarik dari hal ini kemudian adalah; bahwa calon pelanggan Anda itu akan lebih memprioritaskan membaca informasi tentang bisnis yang Anda tawarkan. Anda bisa menunjukkan video, memproduksi gambar, namun pondasi utamanya tetap harus dalam bentuk tulisan.

Dengan fakta seperti ini, para pebisnis online yang sudah mengerti betapa besar peran penulisan dalam bisnis mereka, tidak akan mempermasalahkan lagi harga jasa penulisan artikel yang paling tepat untuk meng-endorse produk yang mereka tawarkan.

BACA PULA:

Artikel yang Berkualitas Akan Meningkatkan Engagement

Source: Freepik

Jika Anda merekrut penulis artikel yang berkualitas, atau menyewa jasa content writer yang profesional, maka ia tentu saja akan menghasilkan artikel yang berkualitas untuk bisnis Anda.

Korelasinya kemudian adalah, jika artikel high quality yang mereka hasilkan itu secara konsisten bisa terbit di bisnis Anda, maka engagement bisnis Anda pun akan meningkat dengan pesat.

Artinya, keterkaitan bidang bisnis yang Anda geluti akan mendapatkan posisi yang semakin baik dalam dunia digital. Atau posisi bisnis online yang Anda miliki akan semakin bagus posisinya.

Artikel yang Berkualitas Ikut Membangun Merk        

Source: Freepik

Dalam dunia bisnis online dan digital marketing, brand building adalah sesuatu yang penting. Merk yang diakui dan dipercaya lebih baik, akan menghasilkan imbas pasar yang juga lebih baik di internet.

Nah, selain dengan membangun kualitas produk dan layanan jasa, membayar jasa penulis artikel profesional adalah langkah yang bisa Anda lakukan untuk branding.

Jasa penulisan artikel profesional akan membantu menghasilkan artikel yang berkualitas bagi bisnis Anda yang tentu saja memberi kontribusi besar untuk membangun brand atau merk bisnis Anda di internet.

Mampu Menggambarkan Produk atau Jasa yang Anda Tawarkan Secara Lebih Komprehensif

Source: Freepik

Dengan membayar seorang penulis artikel yang berpengalaman, Anda akan mampu memberi gambaran yang sempurna untuk calon customer Anda.

Calon pengguna jasa yang Anda tawarkan, atau calon pembeli produk yang Anda miliki, akan memperoleh informasi bisnis secara lebih baik dengan artikel yang berkualitas. Artikel seperti ini mampu menggambarkan dengan baik keunggulan bisnis Anda dan mendorong calon pembeli menemukan alasan paling tepat untuk menggunakan produk dan jasa yang Anda tawarkan.

Nah, untuk mencapai tujuan ini, tentu saja kamu membutuhkan jasa penulis artikel yang terbaik.

BACA INI JUGA:

Artikel yang Berkualitas Adalah Cara Terbaik Membangun Trafik Organik

Source: Freepik

Siapa pun calon penulis yang mencari lowongan jasa penulis artikel, mereka akan disuguhi syarat untuk memahami kaidah penulisan SEO.

Tahukah kamu apa itu artikel dan penulisan SEO?

Penulisan artikel SEO atau Search Engine Optimazation adalah metode penulisan artikel di internet yang disesuaikan dengan cara kerja mesin pencari seperti Google atau Bing. Dengan menggunakan kaidah penulisan SEO, artikel yang ditulis akan lebih mudah untuk ditemukan oleh calon customers. Tujuannya adalah supaya bisnis online Anda mendapatkan traffic atau kunjungan dari hasil pencarian tersebut.

Dan organic traffic atau kunjungan yang alami sejauh ini paling efektif dilakukan melalui penulisan artikel yang berkualitas.

Artikel yang Berkualitas Mampu Menaikkan Rangking Website

Source: Freepik

Penulisan artikel yang konsisten dan berkualitas secara signifikan mampu meningkatkan rangking website. Semakin baik rangking website yang Anda miliki, maka semakin besar pula peluang untuk tampil di halaman pertama kolom  mesin pencarian.

Indeks rangking website dengan artikel memang membutuhkan waktu untuk dapat kamu lihat hasilnya. Namun, rangking website yang didapatkan dengan proses indexing artikel yang berkualitas akan membuat performance website kamu juga bertahan dalam waktu yang lama.

Nah, kabar baiknya lagi adalah rangking website dapat meningkat hingga 90% dengan arrtikel yang berkualitas dan dilakukan secara konsisten.

Artikel yang Diupdate Secara Konsisten Bagus untuk Mesin Pencari dan Juga Penggunanya

Source: Freepik

Salah satu cara menjadi jasa penulis artikel yang profesional adalah mampu menghasilkan artikel yang berkualitas dan konsisten dalam jangka waktu yang lama. Aplikasi yang baik dari hal ini akan mampu memberik kontribusi yang maksimal bagi website dalam dua fungsi sekaligus.

Fungsi pertama dari up date artikel yang konsisten akan membuat bisnis online yang Anda miliki semakin ramah bagi mesin pencari. Sementara fungsi kedua yang juga dapat menjadi lebih optimal dengan up date artikel yang disiplin adalah memudahkan bagi users untuk mendapatkan informasi terbaru dari bisnis yang Anda miliki.

Dan Anda bisa mendapatkan dua fungsi tersebut hanya dengan mempekerjakan seorang freelance penulis artikel atau pun merekrut content writer secara permanen.

KAMU MUNGKIN INGIN MEMBACA INI:

Konten Artikel yang Berkualitas Memudahkan Konversi

Source: Freepik

Bisnis online apa pun bentuknya, pada umumnya bertujuan untuk mendapatkan konversi setinggi mungkin. Konversi inilah yang menjadi muara dari segala jenis strategi digital yang dijalankan oleh seorang pemilik bisnis online.

Informasi yang disampaikan dalam penulisan artikel memberikan edukasi, keuntungan, solusi dan apa pun yang menjadi harapan dari user yang kemudian dapat diperoleh melalui produk atau jasa yang Anda tawarkan.

Konten yang berkualitas, baik berupa gambar, video, lebih-lebih tulisan, akan mampu memudahkan konversi yang menjadi tujuan bisnis Anda.

Berpromosi Melalui Jasa Penulis Artikel Lebih Hemat Biaya

Source: Freepik

Jika Anda menggunakan media promosi seperti facebook ads, google ads, atau jenis platform promosi lain di internet, Anda akan membutuh biaya besar untuk mendapatkan hasil yang signifikan.

Hal ini akan berbeda ceritanya jika Anda menggunakan jasa penulisan online profesional.

Melalui jasa penulisan artikel, Anda dapat menekan biaya promosi hingga lebih dari 70% namun tetap mendapatkan feedback yang bagus, bahkan dalam jangka panjang.

Penulisan Artikel yang Berkualitas adalah Investasi Jangka Panjang

Photo by Karolina Grabowska on Pexels.com

Alasan terakhir mengapa content writing adalah pilihan tepat para pebisnis online adalah karena hasilnya dapat bertahan dalam waktu yang lama. Arti lain dari alasan ini adalah; artikel yang berkualitas merupakan investasi jangka panjang sebuah bisnis online.

Jika Anda bisa mempekerjakan seorang penulis profesional yang mampu menghasilkan artikel berkualitas, Anda sangat beruntung. Hasil dari artikel yang berkualitas akan memberikan dampak jangka panjang yang hampir permanen untuk bisnis online yang Anda miliki.

Bandingkan hal ini dengan metode adsense yang membutuhkan biaya lebih mahal namun memiliki result yang singkat.

Jasa penulis artikel profesional tentu jauh lebih direkomendasikan untuk kebutuhan jangka panjang, kan?

BACA JUGA:

Menemukan Jasa Penulis Artikel Terbaik untuk Bisnis Online Anda

Photo by Andrea Piacquadio on Pexels.com

Setelah mengetahui demikian banyak manfaat yang bisa Anda peroleh untuk bisnis online Anda dengan mempekerjakan jasa penulis artikel yang prpofesional, Anda sekarang mungkin sedang berpikir untuk mencari jasa penulis artikel online untuk bisnis Anda, kan?

Ada banyak sekali saat ini daftar jasa penulis artikel yang bisa Anda pilih. Anda dapat menjatuhkan pilihan pada salah satu jasa penulisan yang Anda anggap terbaik. Sebagai saran, pertimbangkan kualitas artikel yang memenuhi standar SEO sebagai pilihan prioritas untuk Anda gunakan.

Namun jika Anda masih bingung mencari jasa penulis artikel yang paling kredibel untuk Anda gunakan jasanya, Anda bisa menghubungi www.penulisgunung.id.

Dengan pengalaman menulis artikel SEO lebih dari dua tahun dan telah menghasilkan ribuan artikel berkualitas, www.penulisgunung.www akan membantu Anda mencapai kesuksesan sebagai pebisnis online melalui artikel yang berkualitas, komunikatif, dan SEO friendly.


Anton Sujarwo

Saya adalah seorang penulis buku, content writer, copywriters dan juga email marketer. Saya telah menulis 14 judul buku, fiksi dan non fiksi, dan ribuan artikel sejak pertengahan tahun 2018 hingga sekarang.

Dengan pengalaman yang saya miliki, Anda bisa mengajak saya untuk bekerjasama dan menghasilkan karya. Jangan ragu untuk menghubungi saya melalui email, form kontak atau  mendapatkan update tulisan saya dengan bergabung mengikuti blog ini bersama ribuan teman yang lainnya.

Tulisan saya yang lain dapat dibaca pula pada website;

INI KUTIPAN NOVEL ISLAMEDINA YANG PALING BANYAK MENGURAS AIR MATA

Kutipan novel yang menginspirasi kadang dipenuhi oleh air mata ketika kamu membacanya. Seperti pada kutipan novel Islamedina yang saya tulis ini. Feedback banyak pembaca yang telah menyelesaikan novel setebal 750 halaman yang dibagi dalam dua jilid itu mengatakan bahwa bagian inilah yang paling membekas dalam ingatan mereka.

Dengan jumlah lebih dari 3.000 kata, bagian ini sebenarnya tidak dapat lagi disebut kutipan. Namun tidak mengapa, walaupun bukan kutipan novel best seller yang telah terjual jutaan eksemplar, bagian ini tetap memiliki nilai yang sangat tinggi untuk dihayati.

Kutipan Novel Islamedina Jilid 2 yang Paling Menyentuh Hati Banyak Pembaca

Oh ya, apakah kamu sudah pernah mendengar novel berjudul Islamedina ini?

Jika belum, maka selamat. Sekarang adalah saat yang tepat untuk membaca salah satu cuplikan terbaiknya.

Novel Islamedina adalah buku yang saya tulis dalam durasi yang paling lama. Saya menyelesaikan penulisan naskah buku ini pada tahun 2020, memakan masa empat tahun semenjak saya memulainya pada tahun 2016. Allhamdulillah, novel ini juga sudah beredar secara luas di Indonesia dan mendapat sambutan yang baik, meskipun penerbitannya dilakukan secara indie dan mandiri.

Nah, pada kesempatan ini, saya akan membagikan salah satu bagian paling menarik dalam buku ini kepada pembaca blog www.penulisgunung.id. Bagian ini mungkin termasuk kutipan novel baper yang saya sendiri pun sebagai penulisnya, mengalami kesulitan yang paling tidak mudah untuk dilawan ketika menuliskannya.

Lantas, bagaimana sih, kutipan dari novel Islamedina yang telah dibaca ribuan orang ini?

Yuk, dibaca dengan penuh penghayatan, ya.

Oh ya, saya menambahkan beberapa gambar pada artikel ini sebagai penjeda tulisan, supaya mata kamu tidak terlalu kelelahan saat membacanya.

AIR MATA SAKSI MATA

Bagian terakhir dari bab Hari Kembali ini akan sedikit berbeda dari keseluruhan tulisan dalam buku ini. Jika bagian lain dalam keseluruhan buku ini berkisah dari sudut pandang seorang ayah, maka kali ini saya akan berusaha untuk menuturkannya dari sudut pandang seorang ibu. Karena pada hari kejadian, pada detik-detik Medina menghadapi kematiannya, yang ada bersamanya adalah ibunya, Dek Nafi’. Jadi sudut pandang yang dimiliki sang ibu dalam momentum Hari Kembali Islamedina, jauh lebih dalam daripada dari sudut pandang saya sendiri sebagai ayahnya.

Saya tak menyaksikan Medina terjatuh, saya tak menyaksikan ia dibawa ke RSU Muntilan, saya tidak menyaksikan tim dokter yang putus asa karena tak bisa menyelamatkannya, dan saya juga bukan orang yang menggendong jasad Medina dari rumah sakit ke rumah Mbah Uti dalam ambulance mobil jenazah. Semua bagian itu telah ditakdirkan untuk dijalani oleh ibunya sendiri. Dek Nafi’-lah yang menjalani bagian-bagian paling berat tersebut.

Untuk itu sebagai pengingat yang lebih dalam, sebagai detail yang lebih mampu melukiskan kejadiannya, maka pada bagian ini hingga beberapa halaman ke depan, saya akan berupaya untuk menulis dari sudut pandang Ibu Medina. Untuk itulah dalam bagian ini, huruf dan gaya bertuturnya saya ganti. Supaya barangkali, pesan yang disampaikan oleh isteri saya saat menceritakan kembali bagian ini kepada saya, dapat tersampaikan kepada sahabat pembaca dengan sempurna pula.

Ini tentu saja tidak mudah untuk dituliskan, tapi, Bismillah, Dengan nama Allah Yang Maha Memudahkan, saya akan berusaha menuliskannya…

Randukuning, 14 Maret 2016

Mas Anton sudah sejak pagi berangkat ke Jogja untuk mengambil dompetnya yang tertinggal di mobil Mbak Halim. Aqsho yang baru berumur tiga bulanan juga baru saja tertidur setelah menangis minta dikelonin. Ibu baru saja menyelesaikan doanya setelah sholat dhuha, dan beliau berniat melanjutkan kegiatannya dengan mencuci sajadah di kolam belakang rumah. Ibu memang terkenal dengan sifatnya yang perfectionis masalah reresik dan mencuci baju. Meskipun hanya dikucek dan dibilas seperti pada umumnya, namun dalam urusan mencuci pakaian, tidak ada yang dapat mengalahkan kehebatan Ibu.

                Melalui aplikasi whatsapp Mas Anton mengabarkan jika dompetnya sudah ada dan barusan dianter sama Mbak Halim dan Mas Aries di Terminal Jombor. Berdasarkan pesan Mas Anton, dan juga sudah kami diskusikan sebelumnya, setelah mendapatkan dompetnya yang tertinggal itu ia akan melanjutkan perjalanan ke sekitar Malioboro untuk mencari beberapa barang yang ia butuhkan.

                Sambil membalas pesan-pesan Mas Anton, aku melihat langkah ibu yang keluar pintu belakang sambil menenteng sajadah yang akan dicucinya. Di halaman rumah sendiri sedang sepi saat itu, siswa MTs sedang belajar di ruang kelas mereka masing-masing, begitu juga dengan Mas Burhan dan Mas Aziz yang juga sedang memberi pelajaran.

                Baru saja beberapa langkah ibu keluar dari pintu dapur, tiba-tiba teriakan histerisnya mengagetkanku.

                “Ya Allaaaah, Astagfirullahaladzim!”

                Pekikan ibu secara refleks itu langsung saja membuatku menghambur ke kolam belakang untuk melihat apa yang terjadi.

                “Nunopo Buk?”

Teriakku keras dalam rasa penasaran. Aku belum dapat melihat apa yang terjadi, pandanganku tertutup untaian pakaian-pakaian jemuran.

                “Medina gejegur blumbaaang!!!”

Jawab ibu dengan panik.

                Darahku seakan disentak dengan keras mendengar hal itu. Namun kemudian itu semakin membuatku seakan tiba-tiba menjadi orang gila setelah melihat apa yang ada  di tempat itu!

                Ibu sudah basah kuyup, wanita tua yang melahirkanku itu sedang memangku sosok Medina yang sekarang diam tak bergerak!

                Tatapanku nanar, hatiku seakan diguncang gempa, tubuhku seolah rontok tiada bertulang! Panik, bingung, takut, khawatir, kaget, bercampur menjadi satu, membuatku sekarang menjerit dengan histeris!

                “Tolooooong!!!!”

                “Tolooooong!!!”

                Dalam kepanikan dan kegemparan seperti itu, aku sempat melihat kondisi Medina yang ada dalam pangkuan Ibu, gadis kecilku itu sudah tak bergerak, kepalanya terkulai dengan lemas!

                Melihat kondisi Medina yang sudah demikian dalam pangkuan Ibu. Tubuhku seakan luruh, kehilangan kekuatan untuk berdiri! Dan sesaat kemudian aku sudah ambruk di pinggir kolam!

                Tapi aku tidak pingsan!

                Waktu saat itu seperti diguncang-guncang, kepanikan membuatku seakan hilang kesadaran. Di depanku ibu memeluk Medina dalam tangisnya yang sudah pecah. Dan karena masih baru beberapa detik, teriakan histeris minta tolongku belum ada yang merespon. Aku tak tahu apakah ada yang mendengar atau tidak, tapi sedetik kemudian aku sudah menghambur panik menuju kantor guru MTs. Instingku langsung memerintahkan kakiku untuk berlari mencari bantuan!

                “Tolooong! Tolooong! Tolooong!”

                Suara teriakanku yang panik langsung membuat Pak Hernanto, salah satu guru MTs, bangkit merespon dengan tergesa.

                “Nopo, Mbak? Nopo?”

                “Medina gejegur blumbang!”

Jawabku cepat di antara tangis kepanikan.

                Mata Pak Hernanto terbelalak, namun sesaat kemudian ia sudah berlari menuju ke belakang, di mana ibu memangku Medina yang sudah tak bergerak. Di tempat itu, Mas Kusni, salah satu tetangga, sudah ada bersama ibu.

                Karena dilanda kepanikan, detail selanjutnya tak begitu aku ingat mengenai apa yang dilakukan Mas Kusni dan Pak Hernanto. Akan tetapi aku hanya tahu satu atau dua menit kemudian mereka sudah menderu di atas sepeda motor menuju Rumah Sakit Umum Muntilan. Tubuh Medina yang terkulai tak bergerak dipangku oleh Mas Kusni di bagian belakang, sementara Pak Hernanto menarik gas dengan cepat. Mereka segera menghilang di ujung gang!

                Dalam kepanikan dan ketakutan yang merasuk, aku masih berteriak-teriak minta tolong di depan halaman kantor MTs. Kemana Mas Burhan dan Mas Aziz, pikirku. Mengapa mereka tak juga muncul di saat kondisi seperti ini?

                Namun tidak lama kemudian, sosok Mas Burhan tiba-tiba terlihat di lorong masuk menuju halaman kantor. Aku segera berlari menyongsongnya!

                “Mas tolooong! Tolong!”

                Aku berteriak dengan panik, tetap dalam isak tangis yang tidak karuan.

                “Nopo?”

Mas Burhan menjawab tergesa. Entah apakah ia telah mendengar teriakanku sebelumnya atau tidak.

“Medina gejegur blumbang, Mas. Tulung terke aku ke rumah sakit sekarang!”

Suaraku pecah dalam tangis, wajahku sudah membanjir dengan air mata. Kepanikan masih melanda diriku.

Mas Burhan nampak kaget sesaat. Namun kemudian ia menjawab dengan cepat, berusaha menenangkan diriku.

“Yo, kita berangkat ke rumah sakit. Sa’iki kamu sing tenang. InsyaAllah Medina nggak apa-apa!”

Sambil menjawab, Mas Burhan bergegas melangkah menuju halaman depan MTs, di mana sepeda motor para guru biasa diparkirkan. Aku menyusul langkahnya dengan cepat, sambil tetap menangis dalam kondisi yang terasa entah dengan kalimat apa harus aku jelaskan.

“Kamu yang tenang, InsyaAllah Medina nggak apa-apa”

Mas Burhan mengulang kalimatnya lagi. Berusaha untuk menahan laju kepanikan dan kekhawatiranku yang telah jatuh sangat dalam. Aku tak menjawab, hanya terus bergumul dengan tangis ketakutan sambil naik ke atas sadel boncengan motor Mas Burhan. Sesaat kami sudah menderu pula menyusul Medina yang telah lebih dulu dibawa oleh Pak Hernanto dan Mas Kusni.

Aku ingin menjadi tenang seperti yang Mas Burhan katakan, aku ingin berprasangka yang baik dan positif saja, dan aku juga hanya ingin berpikiran bahwa Medina tidak akan apa-apa. Namun tidak dengan hatiku, tidak dengan sudut terkecil dalam kalbuku, dan tidak pula dengan jiwa terdalamku sebagai ibu Medina. Entah mengapa, bisikan lembut dalam hatiku itu mengatakan bahwa Medina tidak baik-baik saja. Medina, gadis cantik yang terlahir dari rahimku 29 bulan yang lalu itu tidak bisa dikatakan untuk tidak akan terjadi apa-apa!

Motor yang dikendarai Mas Burhan melaju dengan cepat seperti detak jantungku yang memburu dalam kekhawatiran. Namun, bagaimana pun juga Mas Burhan tetap mengendarai motornya dengan cukup pelan dalam hitunganku. Hingga untuk sampai di RSUD Muntilan, kami setidaknya membutuhkan waktu sekitar sepuluh menit.

Sebelum masuk ke areal RSUD Muntilan, Mas Burhan berbelok dari arah SMA Pangudi Luhur yang di belakangnya terdapat sebuah lapangan Van Lith atau yang lebih akrab dengan sebutan Lapangan Pasturan. Di tempat itu, di atas sadel sepeda motor Mas Burhan, berjarak sekitar 200 meter lagi dari gedung Rumah Sakit, entah mengapa rasanya dadaku seolah penuh dengan sesak. Aku mungkin saja menjadi sulit bernapas karena itu, tapi aku tidak jatuh atau pingsan. Aku hanya merasa bahwa rongga dadaku telah penuh dan demikian menyesakkan. Medina, bagaimana kondisi gadis kecilku itu sekarang?

Motor Mas Burhan masuk ke halaman RSUD Muntilan dengan cepat. Karena lokasi UGD RSUD Muntilan tepat berada di depan pintu masuk, maka dengan cepat pula aku sampai di tempat itu.

Sebelum diperbaharui seperti sekarang, pintu UGD berbentuk otomatis yang dengan seketika terbuka jika ada orang yang berdiri di depannya. Dengan tergesa dalam kekhawatiran aku melangkah cepat ke ruang UGD. Sebelum langkahku memasuki tempat yang akan membuat jiwaku serasa lenyap sebentar lagi, di depan pintu UGD aku sempat berpapasan dengan seorang bapak-bapak yang sedang menangis.

Bapak-bapak itu tidak menangis dengan terisak pelan, atau tersedu dengan sesengukan. Tapi ia menangis dengan kuat, hampir seperti tangisan seorang anak kecil berusia lima tahunan. Sambil menangis ia menyempatkan untuk menoleh masuk ke dalam UGD. Tangisnya menggeru lagi setelah itu.

Aku tak ingin tahu apa yang bapak itu tangisi sekarang. Aku hanya ingin berjumpa dengan Medina dan mengetahui kondisinya. Jadi, tanpa peduli lagi pada si bapak-bapak yang terpaku dalam tangisannya, aku pun melangkah masuk. Dan saat itulah kemudian, pemandangan dalam UGD itu membuatku seakan kehilangan tulang-tulangku lagi.

Di atas sebuah ranjang di tengah ruangan UGD, aku melihat tubuh Medina yang terbaring dengan dikelilingi oleh para petugas medis. Kondisi Medina sepenuhnya sudah polos, baju yang sebelumnya ia kenakan, semuanya sudah dilepas. Para petugas medis yang nampaknya terdiri dari 2 orang dokter dan sekitar 4 orang perawat itu baru saja selesai memberikan upaya penyelamatan pada Medina menggunakan pompa-pompa yang dimasukkan ke mulut Medina. Aku tidak tahu apa nama alat itu, tapi itu mungkin digunakan untuk memompa oksigen ke jantung puteri kecilku.

Apa yang membuat aku terhenyak kemudian adalah karena baru satu atau dua langkah aku masuk ke ruang UGD dan menyaksikan pemandangan itu, salah satu dokter wanita yang menangani Medina nampak mundur sambil berucap;

“Sudah terlambat, kita tidak bisa menyelamatkannya lagi, anak ini sudah meninggal”

Aku mematung menemukan suara itu menerabas gendang telingaku. Serasa gelegar petir yang menghantam kepalaku seketika. Dunia yang terang benderang seolah berubah demikian gelap dan pekat. Tulang-tulang yang meyangga tubuhku ini, seakan luruh seperti rontoknya daun kering ditiup angin. Atau jika itu sukar dipahami perumpamaannya,  maka tubuhku seakan segenggam kapas yang disiram oleh air, langsung hilang tiada berbentuk. Pandanganku seketika gelap dan pekat, cahaya matahari yang membias dari jendela dan pintu UGD, sekarang seolah hilang. Semuanya kelam seperti  aku sedang terperangkap dalam sebuah goa yang sangat dalam.

Benarkah apa yang ku dengar?

Benarkah dokter itu barusan saja mengatakan jika Medina tidak dapat lagi diselamatkan?

Di telingaku yang lain aku juga mendengar bisik-bisik antar para perawat yang memastikan bahwa aku adalah ibunya Medina. Sementara yang lain ada yang meragukannya karena menilai tubuhnya yang tergolong kecil untuk bisa memiliki anak gadis cantik seusia Medina. Namun entah beberapa kejap kemudian para petugas di UGD itu sudah dapat memastikan bahwa memang akulah ibunya Medina. Bahwa memang akulah ibu dari anak yang barusan tidak dapat diselamatkan nyawanya itu!

Ketika ragaku seolah melompong mendengar perkataan dokter wanita tadi, tangisku kembali pecah mengembalikan kesadaranku yang entah tinggal berapa banyak. Bagaimana mungkin Medina tidak bisa diselamatkan lagi? Bagaimana mungkin gadis kecil yang aku dandani dan aku beri bedak wangi tadi pagi ini sudah hilang di depan mataku sendiri?

                Beberapa perawat di UGD mulai menenangkanku yang mulai kembali pecah dalam tangis. Di depan sana, pompa-pompa oksigen untuk Medina mulai dijauhkan dari tubuhnya. Benda-benda itu mungkin sudah tidak berguna lagi bagi Medina. Tapi, Ya Allah, benarkah gadis kecilku tidak bisa diselamatkan lagi?

                “Dokter, tolong Dok, tolong selamatkan anak saya”

                Aku memelas dengan wajah banjir air mata kepada seseorang yang entah darimana sudah menghampiriku dan berusaha menenangkan diriku. Diriku yang seakan hilang bentuk ini dirangkulnya, diajaknya berjalan menuju bagian belakang UGD. Prosedur meminta mereka memisahkan orang yang sedang terjatuh dalam histeris kesedihan dan pasien yang mereka tangani.

                “Iya, iya, Mbak yang sabar. Walaupun ibu seorang Dokter, Ibu juga hanya manusia biasa. Ibu sudah berusaha, tapi ini semua sudah menjadi ketentuan Allah”

                Dokter wanita yang merangkulku itu berusaha menenangkan aku kembali. Usianya lebih tua dari dokter yang tadi berusaha menyelamatkan Medina. Dari penampilan dan usianya, ia terkesan lebih bijaksana dibanding yang lainnya.

                “Tolong selamatkan anak saya Bu Dokter!”

                Aku menghiba lagi, memohon dengan seluruh pengharapan yang masih aku miliki.

                “Tolong selamatkan Medina, Bu Dokter”

                Entah apa lagi yang dikatakan oleh Dokter berjilbab itu untuk menenangkanku, akan tetapi yang masih aku ingat adalah ia kembali mengatakan bahwa semuanya telah menjadi ketentuan dan takdir Allah. Dan aku hanya bisa bersabar menghadapinya.

                Sekeras apa pun aku memohon, sudut terkecil hatiku juga membisikkan kesadaran bahwa itu tidak mungkin lagi. Upaya menyelamatkan nyawa Medina yang dilakukan oleh manusia sudah menjadi tepinya, telah menyentuh garis batasnya. Secara medis, Medina sudah dinyatakan meninggal dunia dan tidak mungkin lagi untuk diselamatkan.

                Namun jika kalian adalah seorang ibu, atau jika kalian adalah ibunya Medina, bagaimana kalian akan dengan mudah menerima itu? Bagaimana mungkin aku akan menerima dengan mudahnya anak yang sekitar setengah jam yang lalu baru saja meminta aku mengeloninya kini sudah tidak ada ruh lagi dalam jasadnya? Aku berusaha menolak kenyataan itu, melawan kenyataan takdir dengan harapan yang dibangun dari angin. Tapi sungguh Allah Yang Maha Menguasai segala sesuatu, tetap saja partikel dalam darahku membangunkan kesadaran bahwa apa yang dikatakan oleh Dokter itu memang adalah sebuah kebenaran.

                “Biarkan saya bersama Medina, Bu Dokter. Izinkan saya menemaninya”

                Aku memohon lagi kepada dokter itu yang tetap berusaha menenangkan diriku yang sedang guncang. Tapi lihatlah, aku mengubah permohonanku. Jika sebelumnya aku meminta kepada dokter itu untuk menyelamatkan nyawa Medina, namun sekarang aku meminta diizinkan untuk membersamai Medina, menemani dirinya. Jika demikian, apakah aku telah menerima bahwa Medina memang sudah meninggal dunia?

                “Nanti Mbak tidak kuat, Mbak bisa pingsan” jawab si Dokter itu lagi, berusaha mencegahku kembali.

                Secara protokoler, apa yang terjadi dengan Medina dan aku pada Senin pagi yang kelabu ini memang harus mendapat perlakukan khusus. Mereka mencegahku, mungkin saja karena ingin melindungi diriku. Tapi, akankah aku membiarkan Medina seorang diri di sana sementara aku ibunya hanya berdiri di kejauhan dalam tangis dan kehilangan harapan?

                “Saya kuat Bu Dokter, saya kuat”

                Aku membalas ucapan bu Dokter itu sambil menunjukkan mimik bahwa apa yang ku katakan adalah benar. Bahwa aku memang kuat bersama Medina dengan keadaannya yang sekarang.

Aku mengulang lagi permohonanku berkali-kali, sampai nampaknya Dokter itu yakin bahwa aku memang kuat menghadapi kenyataan yang barusan saja digulirkan Tuhan kepadaku hari ini.

                Aku tidak tahu si Dokter itu mengatakan apa, namun kemudian ia mengantarkan aku ke tempat di mana Medina sudah terbaring sendiri di ruang UGD. Medina sekarang dibaringkan di atas sebuah ranjang tersendiri, sekelilingnya ditutupi tirai berwarna biru sehingga seakan ada di dalam sebuah kamar. Tubuhnya yang polos ditutupi oleh selembar kain tipis berwarna merah muda, sementara wajahnya yang jelita dibiarkan terbuka. Medina terbaring dengan damai, seperti tidurnya tadi malam. Namun pagi ini di antara wajahnya yang cantik, bibirnya telah berubah agak membiru.

                “Mbak Medina, bangun. Ini ibuk sayang”

                Aku mengawali kepiluan itu dengan mencium dan membelai wajah Medina. Ia hanya diam saja tak bergeming

“Mbak Medina, bangun sayang. Ditunggu Ibuk, ditunggu Adek Aqsho, ditunggu Ayah”

Aku membisikkan kalimat seperti itu berkali-kali di telinga permata hatiku. Aku berharap Medina akan terbangun dan kembali memelukku, tapi Demi Allah, ada bagian dari sudut hatiku yang seakan-akan menolak harapan seperti itu.

“Bangun Mbak Medina, sebentar lagi ayah pulang dari Jogja. Ditunggu adek Aqsho di rumah Uti, ada Ibuk di sini”

Beberapa saat setelah saya bersama Medina dalam kondisi seperti itu, Mas Burhan tiba-tiba masuk dalam ruangan pula dengan wajah yang entah mengekspresikan apa.

“Piye kondisi Medina?”

Aku berbalik membenturkan pandangan pada wajah Mas Burhan yang nampak tidak lagi dapat menyembunyikan perasaan takut dan rasa sedihnya. Ketegaran yang ia tadi tunjukkan sebelum mengantar aku ke RSUD, tidak nampak lagi bekasnya.

“Medina wes ra ono, Mas”

Jawabanku yang datar nampaknya tidak memuaskan Mas Burhan. Dan ia sepertinya tidak dapat menerima hal itu.

“Medina masih bisa diselamatkan ,kok. Ini badannya masih hangat”

Entah, apakah Mas Burhan tak dapat menerima keponakannya sudah meninggal dunia atau bagaimana. Namun kemudian ia berusaha membuka mulut Medina dan berusaha melakukan tindakan seperti prosedur CPR.

Mas Burhan memberikan napas buatan, menekan perut Medina. Usaha Mas Burhan itu kemudian membuahkan hasil dengan keluarnya sedikit air dari mulut Medina. Bersamaan dengan keluarnya air itu, keluar pula beberapa sisa-sisa makanan yang sempat masuk ke perut Medina. Ya Allah, itu adalah cilok yang Medina sempat jajan tadi pagi. Aku yang memberikan uangnya dan ia jajan sendiri. Dan sekarang makanan itu keluar lagi dalam kondisi Medina yang sudah seperti ini.

Setelah beberapa saat, Mas Burhan menghentikan usahanya. Ia bagaimana pun tetap juga harus menerima kenyataan, bahwa keponakan yang biasa ia ajak naik motor bersama isterinya itu, sudah tidak lagi bernyawa. Aku tidak tahu apa yang dikatakan Mas Burhan setelah itu, namun ia kemudian keluar ruangan, meninggalkan aku dan Medina dalam UGD yang terasa demikian sepi ini.

Entah mengapa pula, ruang UGD RSUD Muntilan saat itu demikian sepi rasanya. Kemana suara para perawat dan dokter itu? Kemana pasien yang lain? Apakah hanya Medina saat ini yang ada di ruang UGD? Aku tak tahu, namun keheningan terasa demikian menggigit, menyempurnakan kesepianku yang masih duduk di samping Medina sembari terus membelai rambut dan kadang mencium wajahnya.

Sudah menjadi kebiasaan Medina untuk tertidur dalam gendongan ayahnya sambil dibacakan shalawat. Dan sudah menjadi kesukaanya pula tertidur sambil mendengar ibunya membacakan rangkaian kalimat asmaul husna. Ia sendiri sangat menyukai apa yang aku ajari itu, bahkan Medina sendiri sudah hampir hapal 99 nama mulia Allah itu yang sering ia lantunkan dengan nadanya sendiri.

Ya Allah Ya Rahman,

Ya Rahiim Ya Malik,

Ya Quddus Ya Salam,

Ya Mu’min Ya Muhaimin,

Ya Aziz Ya Jabbar,

Ya Mutakabbir Ya Khaliq,

Ya Bari’ Ya Musawwir,

Ya Ghaffar Ya Qohhar

…..

…..

Biasanya Medina jika mendengar aku melantunkan itu, maka ia akan mengikutinya. Atau ia akan diam saja sambil seolah-olah tidak memperhatikan. Padahal sebenarnya aku tahu, Medina sangat menyukainya. Karena kadang-kadang aku sering dibuatnya terpengarah dengan kemampuannya meniru apa yang sempat aku ajarkan namun seolah tidak pernah ia perhatikan.

Hampir beberapa menit lamanya aku melantunkan kalimat-kalimat asmaul husna di telinga Medina. Aku masih berharap bahwa ia akan terbangun mendengarkan pujian kesukaannya itu. Sementara ruang UGD masih sunyi dan hening, suaraku yang pelan dan serak dalam isak tangis mengalir dengan jelas tanpa terganggu. Aku tak tahu siapa yang mendengarnya, dan aku juga tidak perduli. Aku hanya berharap Medina masih bisa terbangun dengan apa yang aku lakukan itu.

Tapi seperti sebelumnya, sudut hatiku yang lain tetap mengingatkanku kenyataan yang sesungguhnya, bahwa Medina telah tertidur selamanya. Upayaku dengan membaca asmaul husna itu tidak akan bisa membangunkan Medina lagi. Ia bahkan mungkin saja akan tertidur lebih jauh dalam dekapan kalimat-kalimat yang Maha Indah itu.

“Bangun Mbak Medina, sebentar lagi ayah pulang. Ada adek Aqsho, ada Ibuk, ada Mbah Uti…”

Saya mengulang lagi kalimat-kalimat yang seperti angin itu di telinga Medina, membiarkannya menjadi penjeda bait-bait asmaul husna yang terus saya baca.

Entah berapa menit keheningan itu membiarkan aku terhanyut di samping tubuh Medina yang tetap saja tak bergeming sejak tadi. Hingga mungkin saja sepuluh atau lima belas menit kemudian, sosok Mas Aziz muncul pula di tempat itu.

Seperti Mas Burhan, Mas Aziz juga sempat bertanya tentang Medina kepadaku. Dan jawaban yang aku berikan mungkin juga sama seperti yang aku berikan pada Mas Burhan. Dan layaknya Mas Burhan, Mas Aziz juga sekonyong-konyong tidak percaya jika Medina sudah meninggal dunia, karena sesaat kemudian ia juga berusaha membangunkan Medina.

“Medin, bangun Medin”

Suara Mas Aziz agak tertahan juga menahan gemuruh di dadanya. Namun tidak seperti Mas Burhan yang berusaha lebih jauh membangunkan Medina dengan memberikan CPR dan lainnya, Mas Aziz lebih cepat menerima kenyataan yang ada di hadapannya sekarang.

Setelah satu dua kali panggilan kepada Medina tak lagi mendapat sahutan, Mas Aziz segera mempersiapkan apa yang memang seharusnya ia lakukan. Ia keluar ruangan UGD, mungkin mengurus berbagai prosedur dan adminisrasi untuk membawa Medina pulang menggunakan ambulance. Di luar ruangan, selain Mas Aziz ada juga Pak Bayan yang juga ikut menemani. Sementara Mas Burhan, Pak Hernanto, dan juga Mas Kusni yang datang sebelumnya, aku tak tahu mereka ada dimana.

Selang beberapa lama kemudian, sebuah mobil ambulan sudah ada di depan ruang UGD. Aku dengan langkah gontai seolah tak lagi memiliki tulang, beringsut pelan dalam isakan yang tak berhenti, kemudian berjalan menuju mobil ambulance itu sambil membopong tubuh gadis kecilku yang ruhnya sudah tidak bersamaku lagi.

Dari depan rumah sakit sampai sebuah kampung bernama Sewan, sirene mobil ambulance itu meraung-raung sebagai tanda bahwa ia sedang dalam kondisi emergency. Namun selepas melewati jembatan Sewan dan masuk ke kampung Bandongan, Mas Aziz yang duduk di depanku mengetuk kaca ambulance dan memberi isyarat supaya sirenenya dimatikan saja.

Mobil ambulance yang membawa aku, Medina dan Mas Aziz terus bergerak menuju kampung Randukuning. Karena tak mungkin mengantarkan kami hingga ke depan rumah, mobil itu kemudian berhenti di samping makam kampung di mana Pakdhe Khalimi dimakamkan.

Dari sana, Medina aku bopong masih dengan iringan isak tangisku yang juga ku selingi dengan bacaan istighfar terus menerus sampai ke rumah. Sementara di dalam rumah, di ruang tamu, Mas Anton dan lainnya sudah menunggu, ia kemudian menyambut tubuh Medina dari pelukanku. Tubuh Medina tidak ia lepaskan sampai dimandikan. Dan ia sendiri pula yang kemudian membopong puterinya itu hingga ke pemakaman.


Catatan:

Bapak-bapak yang menangis di depan UGD saat itu ternyata sedang menangisi Medina. Ia tak kuasa menahan sesak dadanya melihat gadis kecil yang cantik meninggal dunia dengan cara yang menurutnya terlalu membuat iba. Bapak itu adalah warga desa Gunungpring, beberapa hari kemudian salah satu tetangganya melayat ke rumah. Dan ia bercerita mengenai bapak itu kepadaku.


Anton Sujarwo

Saya adalah seorang penulis buku, content writer, copywriters dan juga email marketer. Saya telah menulis 14 judul buku, fiksi dan non fiksi, dan ribuan artikel sejak pertengahan tahun 2018 hingga sekarang.

Dengan pengalaman yang saya miliki, Anda bisa mengajak saya untuk bekerjasama dan menghasilkan karya. Jangan ragu untuk menghubungi saya melalui email, form kontak atau  mendapatkan update tulisan saya dengan bergabung mengikuti blog ini bersama ribuan teman yang lainnya.

Tulisan saya yang lain dapat dibaca pula pada website;

5 CARA RISET UNTUK NOVEL YANG MUDAH MESKIPUN KAMU BELUM BERPENGALAMAN

Dalam penulisan novel, riset adalah salah satu bagian penting yang tidak bisa kamu tinggalkan. Para penulis memiliki cara riset untuk novel yang berbeda-beda sesuai gaya mereka. Namun, ada beberapa cara melakukan riset dalam penulisan novel yang bisa kamu lakukan meskipun kamu sendiri belum berpengalaman.

Nah, bagaimanakah cara melakukan riset untuk menulis novel yang mudah dilakukan dan memiliki hasil yang efektif meskipun kamu sendiri belum berpengalaman?

Yuk, simak penjelasan selengkapnya berikut ini.

MENDATANGKAN TRAFFIC KE WEBSITE MELALUI KONTEN ARTIKEL YANG BERKUALITAS ITU TIDAK SULIT

TIDAK PERCAYA? COBA LIHAT DISINI

5 Cara Riset Untuk Novel yang Mudah Dilakukan Walau Kamu Sendiri Belum Memiliki Pengalaman Melakukannya

Photo by Pixabay on Pexels.com

Riset adalah hal penting dalam penulisan fiksi dan non fiksi. Apa pun jenis tulisan yang kamu hasilkan, riset yang tepat akan membuatnya menjadi lebih sempurna. Tak terkecuali pula dalam penulisan novel atau bahkan cerpen sekali pun, riset yang dilakukan akan membuat pendalaman cerita menjadi lebih kuat dan realistis.

Akan tetapi riset dalam penulisan novel juga bukan sesuatu yang gampang dilakukan, terutama jika kamu belum pernah melakukan hal ini sebelumnya. Para penulis novel pemula bisa saja mengalami kesulitan dalam proses ini yang bisa membuat tulisan mereka mandeg bahkan sebelum penulisan novelnya sendiri dimulai.

Lantas, bagaimana cara melakukan riset menulis novel yang mudah dilakukan?

Nah, lima cara dihimpun oleh Penulisgunung.id berikut ini InsyaAllah bisa membantu kamu dalam melakukannya.

BACA JUGA:

Melakukan Riset untuk Penulisan Novel Berdasarkan Pengalaman

Photo by Anthony Shkraba on Pexels.com

Cara pertama yang paling umum untuk melakukan penelitian kebutuhan penulisan novel adalah dengan pengalaman kamu sendiri. Pengalaman yang dimaksud disini bukan pengalaman menulis novel atau melakukan riset sebelumnya. Akan tetapi pengalaman hidup yang tentunya kamu jumpai sehari-hari.

Pada banyak artikel tentang penulis novel, pengalaman kadang menjadi sebuah penghalang dimana sang penulis sendiri belum merasa memiliki ‘modal’ untuk memulai penulisannya.

Namun, semestinya hal ini tidak menjadi kendala. Terutama jika kamu tahu cara melakukannya.

Setidaknya ada beberapa saran yang dapat kamu lakukan sebagai langkah sederhana dalam melakukan riset penulisan novel berdasarkan pengalaman. Beberapa langkah tersebut misalnya adalah sebagai berikut;

Tuliskan Apa pun yang Kamu Ketahui

Photo by Daria Shevtsova on Pexels.com

Tulis novelmu murni berdasarkan pengalaman kamu sendiri. Benar-benar pure, berdasarkan pengalaman hidup yang pernah kamu alami. Dalam hal ini termasuk juga dengan membangun karakter dalam novel Kamu berdasarkan pengalaman yang pernah temui, rasakan, dengarkan dan juga imajinasikan.

INI JUGA MENARIK:

Kunjungi Suatu Tempat

Photo by cottonbro on Pexels.com

Mini riset novel selanjutnya berdasarkan pengalaman yang dapat kamu lakukan misalnya adalah dengan mengunjungi suatu tempat. Anggaplah restoran, warung makan, kampung, dimana lokasi karakter novel yang kamu tulis berada.

Coba pula untuk memesan serta merasakan makanan yang ia makan. Atau jika kamu mengunjungi hotel di mana karaktermu pernah menginap, coba pula untuk mendapatkan kamar yang pernah digunakan oleh karaktermu tersebut

Jika Memiliki Biaya, Perluas Kunjunganmu

Photo by Gantas Vaiu010diulu0117nas on Pexels.com

Kunjungi tempat-tempat dimana karakter novel yang kamu ceritakan hidup, menghabiskan masa kecilnya atau pun melakukan berbagai hal penting dalam hidupnya.

Jika misalnya karakter novel yang kamu tulis adalah pendaki gunung di Himalaya yang hidup di Nepal atau Pakistan, maka tidak ada salahnya kamu mencoba melakukan hal yang sama dan merasakan pengalamannya.

Namun ingat, cara yang ketiga untuk mendapatkan pengalaman mungkin akan membutuhkan biaya yang bisa saja tidak sedikit.

Jadi, pastikan melakukannya dengan bijaksana, ya.

BACA JUGA:

Melakukan Riset untuk Penulisan Novel Berdasarkan Sumber Bacaan

Photo by Thought Catalog on Pexels.com

Cara kedua yang dapat Kamu lakukan untuk melakukan riset dalam menulis novel adalah dengan mencari sumber bacaan yang relevan. Buku, koran, majalah, tabloid, buletin, atau apa saja yang dapat kamu jadikan sebagai sumber penulisan yang tepat, maka gunakan.

Dalam penulisan novel kamu mungkin membutuhkan riset yang jauh lebih mendalam dibandingkan dengan penulisan cerpen yang tentunya lebih ringkas. Meskipun ada perbedaan novel dan cerpen dari sisi kuantitas risetnya, namun kedua jenis karya sastra ini membutuhkan riset untuk menghasilkan karya yang terbaik.

Nah, untuk riset novel berdasarkan sumber bacaan, beberapa hal ini dapat kamu lakukan.

Baca Novel yang Genrenya Sama dengan Novel yang Kamu Tulis, Terutama yang Bestsellers

Photo by cottonbro on Pexels.com

Langkah pertama ini seringkali tidak banyak digunakan oleh para penulis novel, terutama penulis pemula. Ketakutan akan melakukan plagiat kadang-kadang membuat mereka membentengi diri untuk sedikit melirik karya orang lain yang jenisnya sama dengan apa yang ia tulis.

Padahal jika saja kamu mau membuka sedikit pikiran dengan membaca novel serupa yang sudah bestseller, maka kamu akan memiliki lebih banyak referensi. Kamu bahkan mungkin dapat menemukan beberapa hal yang dapat membuat penulisanmu lebih berkelas dengan hal ini.

INI JUGA ASYIK:

Temukan Sumber Bacaan Relevan yang Beragam

Photo by olia danilevich on Pexels.com

Kunjungi perpustakaan, toko buku bekas, atau pinjam buku yang dapat menjadi referensi menarik penulisan novel yang sedang kamu kerjakan.

Baca juga berbagai sumber lain yang dapat kamu jadikan referensi yang tepat untuk penulisan semacam majalah atau bahkan jurnal-jurnal ilmiah sekali pun.

Semakin banyak kamu membaca sumber referensi, semakin baik pula kamu mampu mengembangkan unsur instrinsik novel yang kamu tuliskan nantinya.

Melakukan Riset untuk Penulisan Novel dengan Berinteraksi pada Orang Lain

Photo by Rachel Claire on Pexels.com

Cara ketiga yang juga dapat kamu gunakan sebagai teknik melakukan riset penulisan novel adalah dengan melakukan interview atau wawancara, atau interaksi dengan orang-orang yang secara langsung memiliki kaitan dengan novel yang kamu tuliskan.

Beberapa contok aplikatif dari teknik riset yang ketiga ini misalnya adalah;

Interview

Wawancarai seseorang yang memiliki kaitan atau memiliki pengalaman yang sama atau menyerupai karakter tokoh yang kamu tuliskan.

BACA PULA:

Random Call

Photo by Anthony Shkraba on Pexels.com

Telepon seseorang yang tinggal di wilayah dimana setting cerita kamu tuliskan. Kamu bisa menelpon secara acak, dan ajukan beberapa pertanyaan yang menarik kepada mereka.

Cara ini bisa saja menantang, karena tidak semua orang yang kamu telpon akan menerima permintaan kamu dengan tangan terbuka.

Temui Expert

Apa yang dimaksud novel sejarah dan strategi penulisannya adalah selalu melibatkan seseorang berpengalaman sebagai sumber yang berimbang. Dalam penulisan novel umum pun hal ini dapat kamu aplikasikan sebagai cara efektif membangun kekuatan yang dalam pada unsur cerita.

Melakukan Riset untuk Penulisan Novel dengan Memanfaatkan Internet

Photo by Pixabay on Pexels.com

Menggunakan sumber penulisan dari internet untuk riset dalam penulisan novel memungkinkan kamu bereskplorasi dan mengeluarkan semua kreativitas yang kamu miliki.

Kamu dapat menggunakan sumber riset berupa video seperti Youtube, media sosial,  aplikasi foto seperti Instagram dan lain sebagainya. Semakin kreatif kamu menemukan sumber riset yang relevan untuk penulisan dari internet, maka semakin mudah pula kamu untuk mengeksekusinya.

Sebagai contoh, berikut ada beberapa hal yang dapat kamu lakukan dalam proses riset penulisan novel yang bersumber dari internet.

  • Lihat hasil pencarian apa saja yang dapat kamu temui di internet berdasarkan subjek penulisan novel yang dilakukan.
  • Cari video di Youtube, Facebook, atau bahkan TikTok sekali pun, referensi apa yang bisa kamu gunakan sebagai sumber riset yang kredibel.

BACA INI JUGA:

Melakukan Riset untuk Penulisan Novel dengan Cara yang Lainnya

Photo by Karolina Grabowska on Pexels.com

Selain dengan memanfaatkan internet, bacaan, interaksi dengan orang lain dan juga pengalaman, kamu tentu saja dapat menggunakan cara yang lebih bebas untuk melakukan riset dalam penulisan novel. Cara ini akan terkesan lebih abstrak, lebih bebas, namun juga tentu memiliki dampak yang signifikan sebagai sumber penulisan.

Kamu misalnya dapat mengambil keputusan menulis dan mencatat semua yang kamu temui selama proses riset. Jadi, apakah proses riset yang kamu lakukan adalah dengan majalah, buku, internet, pengalaman atau hasil obrolan ringan dengan seseorang, kamu harus mencatatnya sebagai salah satu referensi dalam penulisan.

Kamu tidak harus memasukkan semua yang menjadi sumber tersebut dalam tulisan kamu, kok. Kamu bahkan bisa benar-benar memilih untuk tidak menggunakannya sama sekali jika memang tidak layak dalam penilaianmu.

Namun bagaimana pun juga, memiliki sumber yang lebih banyak dan tidak terpakai jauh lebih baik daripada kekurangan sumber penulisan yang akibatnya, akan membuat spektrum penulisanmu terasa demikian sempit dan terbatas.

Beberapa Tips Penting Terkait Cara Riset untuk Novel

Photo by Ann H on Pexels.com

Dengan riset, seorang penulis novel dapat memastikan bahwa karakter yang ia tulis menggunakan istilah yang tepat, bereaksi secara tepat, menggunakan aksen dan juga atribut yang tepat.

Namun demikian, ada beberapa hal yang juga harus kamu perhatikan supaya riset itu sendiri tidak justru menyulitkan penulisan novel yang kamu lakukan.

Beberapa tips yang penting terkait hal ini misalnya adalah;

BACA JUGA:

Gunakan XXXX

Photo by Olya Kobruseva on Pexels.com

Setelah kamu selesai melakukan riset dan memulai proses penulisan novel, kemudian dalam proses itu misalnya kamu menemukan sesuatu yang perlu kamu ketahui dan menjadi pendukung unsur intrinsik novel, maka kamu dapat menandainya dengan kode terlebih dahulu.

Kode yang umum digunakan untuk kepentingan ini adalah XXXX atau kode lain yang dapat kamu rumuskan sendiri.

Akan tetapi hal terpenting dari tips ini adalah jangan sampai bagian tersebut mengganggu proses penulisanmu. Untuk riset yang lebih komprehensif mengenai nama XXXX dan lain sebagainya, dapat kamu lakukan nanti di waktu yang lebih tepat.

Selektif

Photo by Monstera on Pexels.com

Tidak perlu menuliskan semua hasil risetmu dalam novel.

Tentu saja ada rasa yang demikian bergelora dalam hati seorang penulis novel untuk menuliskan semua yang ia ketahui semasa melakukan riset. Akan tetapi jika tidak relevan, menginterupsi cerita, atau sama sekali tidak memiliki kaitan dengan jalan cerita, maka jangan ragu untuk meninggalkannya.

BACA JUGA:

Jangan Berlebihan

Photo by Alexander Dummer on Pexels.com

Riset adalah sesuatu yang penting dalam penulisan novel, namun tentu saja kamu juga tidak boleh melakukannya secara berlebihan. Riset yang terlalu mendalam dan berlebihan pada umumnya akan membuat penulisannya sendiri menjadi tertunda.

Hal ini disebabkan oleh kamu yang merasa masih ada data, sumber, referensi, dan lain sebagainya, yang belum mencukupi untuk diterjemahkan dalam novelmu langsung.

Struktural

Photo by Jess Bailey Designs on Pexels.com

Lakukan pencatatan riset dengan rapi dan mudah dipahami, setidaknya oleh kamu sendiri. Hindari membuar alur catatan riset novel yang terlalu ruwet dan membingungkan.

Nah, itu adalah 5 tips yang dapat kamu lakukan sebagai cara riset untuk novel yang mudah. Meskipun kamu belum berpengalaman sama sekali dalam menulis novel dan melakukan riset, tips-tips di atas tentunya dapat kamu lakukan dengan mudah.

Oh ya, jika kamu memiliki metode riset yang lain dalam menulis novel, cerpen atau tulisan lainnya, saya akan dengan senang hati jika kamu membaginya di komentar.

Semoga kamu sukses selalu dengan karya-karyamu, ya!


Anton Sujarwo

Saya adalah seorang penulis buku, content writer, copywriters dan juga email marketer. Saya telah menulis 14 judul buku, fiksi dan non fiksi, dan ribuan artikel sejak pertengahan tahun 2018 hingga sekarang.

Dengan pengalaman yang saya miliki, Anda bisa mengajak saya untuk bekerjasama dan menghasilkan karya. Jangan ragu untuk menghubungi saya melalui email, form kontak atau  mendapatkan update tulisan saya dengan bergabung mengikuti blog ini bersama ribuan teman yang lainnya.

Tulisan saya yang lain dapat dibaca pula pada website;

Buat situs web atau blog di WordPress.com

Atas ↑