TERNYATA INI 10 FAKTA MENULIS BUKU YANG PALING MENYAKITKAN

Mimpi menjadi penulis sukses mungkin memang indah sebelum kamu tahu ada banyak fakta menulis yang menyakitkan. Beberapa penulis mungkin memilih diam dan tak ingin menyampaikan hal ini. Namun jika kamu tidak mengetahuinya sejak awal, kamu bisa saja akan jauh lebih kecewa setelah mengetahuinya kemudian.

Lalu, apa saja fakta mengenai menulis yang katanya menyakitkan itu?

Mari simak ulasan selengkapnya berikut.

Ketahui 10 Fakta Menulis yang Paling Menyakitkan Berikut Sebelum Kamu Memutuskan untuk Menjadi Seorang Penulis

Photo by John-Mark Smith on Pexels.com

Dunia menulis kadang melambungkan angan banyak pemula yang menganggap dunia yang baru dimasukinya ini sebagai sebuah romansa yang indah.

Saya juga mungkin demikian sebelumnya. Saat menyelesaikan buku pertama, angan saya mengatakan bahwa saya akan disibukkan dengan launching, roadshow ke berbagai kota, menjadi bintang tamu acara TV, dan menghitung royalti tentu saja.

Namun, bagaimana dengan kenyataannya?

Harus saya akui itu tidak seindah yang dibayangkan.

Bahkan setelah menulis lebih dari 14 judul buku, beberapa angan itu tidak pernah terwujud.

Roadshow dan royalti tidak pernah menjadi kenyataan. Namun saya justru banyak belajar dan menemukan hal-hal baru mengenai fakta tentang menulis yang harus dihadapi secara realistis. PR-nya kemudian adalah, bagaimana saya beradaptasi dan berhasil melewatinya.

Nah sekarang, untuk kamu yang memiliki keinginan menjadi seorang penulis, saya akan membagikan 10 hal yang sudah seharusnya kamu ketahui sejak awal ini. Bahkan jika saya mengetahui hal ini lebih awal, saya pun tidak akan terjebak pada hal-hal yang seharusnya tidak saya lakukan.

Apa saja fakta yang menyakitkan tentang menulis?

Ini dia daftarnya.

BACA JUGA:

Banyak Orang Berbicara Tentang Menulis, Hanya Sebagian Kecil yang Benar-Benar Melakukannya

Photo by RODNAE Productions on Pexels.com

Apakah kamu pernah mendengar seseorang yang mengatakan;

 “Aku akan menulis sebuah buku tentang ini. Konsep ceritanya bagus banget”

Kemudian ia tidak pernah melakukannya.

Pernahkah kamu menemui hal seperti itu?

Hal yang sama juga pernah terjadi dengan saya. Saya ingin menulis buku tentang silat, tentang kumpulan kisah teladan, atau seorang pendaki gunung yang tewas saat menyelamatkan kekasihnya. Tetapi buku itu tidak pernah hadir, hanya muncul sebagai ide yang kemudian terurai menjadi impian kosong kembali.

Menjadi penulis adalah mimpi banyak orang, tetapi hanya sedikit yang mewujudkan mimpi itu.

Memiliki buku dengan nama kamu sendiri, mungkin juga menjadi sesuatu yang kamu impikan. Akan tetapi fakta yang menyakitkannya adalah; hal itu tidak akan terwujud jika kamu tidak memperjuangkannya.

Bangun!

Jangan jadi orang-orang yang hanya bermimpi menjadi penulis tapi tidak pernah berjuang untuk mewujudkan mimpi itu.

Dalam Menulis, Meskipun Normal, Keraguan Akan Membunuhmu

Photo by Liza Summer on Pexels.com

Fakta kedua mengenai menulis seperti ini terjadi pula kepada saya saat sedang menulis novel pertama saja. Atau buku ke-4 yang sudah saya selesaikan secara keseluruhan.

Saya telah memiliki sebuah konsep cerita yang saya pikir bagus dan saya ingin konsep itu menjelma menjadi sebuah buku. Tapi ketika itu telah berubah menjadi beberapa bab, saya mulai menemukan keraguan dalam prosesnya. Dan hal itu kemudian menghentikan saya.

Konsep cerita itu kemudian diketahui oleh isteri saya dan ia meyakinkan saya bahwa itu cerita yang hebat. Keyakinan saya bersemi kembali saat mendengarnya. Dan saya pun berhasil menyelesaikan penulisan buku itu hingga selesai.

Tahukan kamu buku apa itu?

Itu adalah buku Merapi Barat Daya, yang telah terjual lebih 1.000 copy dan mendapatkan rating yang hampir sempurna dari banyak kritikus novel petualangan di Indonesia.

Oh ya, jumlah 1.000 copy  mungkin terdengar sedikit, ya?

Tapi tidak juga sebenarnya. Terutama jika kamu tahu bahwa buku itu diterbitkan secara indie dengan metode self publishing. Penulisan naskah, editing, desain cover,  dan pemasaran, semuanya saya lakukan secara mandiri.

Bayangkan jika saya tidak berhasil melawan keraguan sewaktu cerita itu ditulis. Ceritanya tentu akan berbeda.

BACA JUGA:

Writer’s Block Tidak Cukup Sebagai Alasan

Source: Freepik

Seorang guru tidak dapat berhenti mengajar hanya karena ia merasa kurang terinsipirasi saat masuk kelas. Seorang dokter tidak dapat berhenti melakukan operasi atas penyakit seorang pasien, hanya karena beralasan ia tidak terinspirasi untuk meneruskannya.

Penulis juga begitu.

Dan kamu, kamu juga harus begitu. Tidak terinspirasi, merasa kehabisan ide, atau writer’s block, tidak boleh kamu biarkan menghentikan dirimu. Terlalu kecil mimpimu sebagai seorang penulis jika writer’s block saja membuat kamu berhenti melakukannya.

Fakta menjadi seorang penulis yang sesungguhnya adalah ini, kamu harus memaksa diri kamu sendiri untuk tetap menulis. Inspirasi tidak datang setiap hari dan mood bisa berubah-ubah, namun, itu sama sekali bukan alasan kamu untuk berhenti.

Buku yang hebat tidak terlahir dalam semalam. Karya yang luar biasa tidak muncul hanya dengan mengatakan sim salabim. Kamu harus berjuang untuk terus menulis, setiap hari, entah kamu terinspirasi atau pun tidak.

Dan hal ini bagi sebagian orang dengan kemauan menulis yang lemah, adalah sebuah fakta menulis yang menyakitkan.

BACA INI JUGA, YUK:

Menulis Hanya di Waktu Senggang itu Tidak Cukup

Photo by Olya Kobruseva on Pexels.com

Mungkin kamu mengira dapat menyelesaikan bukumu dengan menulis di waktu senggangmu, ya?

Di saat kamu tidak sedang  bekerja, sedang tidak bermain dengan anak-anak, sedang tidak ada acara kantoran atau keluarga. Dan mungkin sedang tidak bermain sosial media.

Jika kamu berpikiran demikian, kamu sebaiknya mulai merubah pandanganmu itu.

Untuk dapat menyelesaikan sebuah buku, kamu tidak bisa mengandalkan untuk menulisnya hanya di waktu senggang. Jika kamu melakukan ini, percayalah, kamu tidak akan menyelesaikan bukumu pada akhirnya.

Bagaimana jika di waktu senggang kamu tidak terinspirasi?

Bagaimana jika di waktu senggang kamu justru malas untuk menulis?

Hal yang penting dari menjadi seorang penulis adalah kamu memprioritaskan aktivitas menulis sebagai kegiatan utama yang kamu lakukan. Menulilah setiap hari, di waktu-waktu paling produktif yang kamu miliki.

BACA PULA:

Menulis adalah Rutinitas yang Kamu Tidak Boleh Bosan

Photo by Cup of Couple on Pexels.com

Setiap rutinitas adalah sesuatu yang membosankan.

Iya, kan?

Tapi dalam menulis, rutinitas adalah hal yang yang kamu tidak boleh bosan melakukannya. Jika pun kamu bosan, maka kamu tidak boleh berhenti.

Dalam menulis, rutin dan konsisten adalah bagian yang paling penting. Kedisiplinan kamu dalam menulis-lah yang akan mengantarkan kamu pada kesuksesan menyelesaikan bukumu. Dan untuk melakukannya, kamu tidak bisa menulis hanya di waktu luang, atau hanya di akhir pekan saja.

Jadi, setiap hari kamu harus menulis.

Dan itu adalah fakta dalam menulis yang bagi sebagian orang adalah sesuatu yang menyakitkan.

BACA JUGA:

Membaca dan Riset adalah Bagian dari Pekerjaan

Photo by cottonbro on Pexels.com

Fakta tentang menulis selanjutnya yang mungkin tidak begitu kamu suka adalah bahwa pekerjaan ini juga berhubungan erat dengan hal lainnya. Dan membaca adalah bagian tidak terpisahkan dari seorang penulis.

Kamu tidak bisa menjadi penulis jika kamu tidak suka membaca.

Ada banyak bacaan yang bisa kamu ambil. Kamu bisa membaca karya penulis lain yang kamu kagumi cara berceritanya. Atau kamu juga bisa membaca buku dengan genre cerita yang sama dengan genre yang kamu tulis. Jangan khawatir, ini tidak ada hubungannya dengan plagiat. Justru proses ini akan membuat penulisanmu menjadi lebih tajam dan kuat.

Membaca banyak literatur dan riset adalah bagian dari dunia menulis yang tidak akan terpisahkan. Kamu tidak bisa mengabaikan hal ini jika kamu ingin memilki kualitas penulisan yang kuat.

baca juga:

Naskah Pertama itu Lebih Sering Mengecewakan

Photo by Karolina Grabowska on Pexels.com

Tugas utama selama kamu menulis bukumu yang pertama adalah sampai naskahnya selesai. Kesalahan penulisan, typo, PUEBI, makna yang ambigu, dan lain sebagainya, adalah bagian kedua dari proses ini.

Jadi, tidak perlu memusingkannya lebih dulu.

Tidak perlu merasa gusar jika setelah kamu menyelesaikan beberapa bab, kamu menemukan ada begitu banyak kesalahan yang harus diperbaiki. Itulah proses menulis yang sebenarnya, akan ada banyak hal yang harus diperbaiki setiap hari. Tapi tugas utama yang harus selesaikan adalah membuat naskahmu selesai.

Saya telah menulis lebih dari selusin buku, dan saya selalu menemukan banyak hal yang payah ketika naskahnya selesai.

Dan itu tidak masalah.

Karena waktu-waktu selanjutnya akan saya habiskan untuk memperbaikinya melalui editing, proofreading dan juga revisi.

Editing adalah Kerja Keras yang Melelahkan

Photo by Karolina Grabowska on Pexels.com

Jika kamu adalah seorang penulis pemula yang memilih jalur yang sepenuhnya mandiri seperti yang saya lakukan, kamu akan tahu betapa melelahkannnya proses sebuah buku hingga ia bisa terbit.

Di antara semua proses tersebut, editing adalah bagian yang paling menguras tenaga.

Sampai buku-buku populer seperti Dunia Batas Langit, MMA Trail, Merapi Barat Daya, atau Dewi Gunung yang tebalnya hingga 600 halaman itu sampai ke tangan pembaca. Saya menghabiskan siang dan malam, ditengah kantuk dan lelah, untuk menyelesaikan proses editing-nya yang sangat melelahkan.

Cara paling ideal dan profesional tentu saja dengan merekrut editor profesional untuk membantu menyempurnakan naskah yang sudah kamu tuliskan. Self editing seperti yang saya lakukan selalu menyisakan ruang-ruang dimana kesalahan akan tetap tersisa,

Saya membaca naskah buku yang saya tulis hingga paling tidak 3 x sebelum masuk proses final layouting.

Dan saya harus mengatakan hal ini secara jujur kepada kamu; proses ini sangat melelahkan, membosankan dan kadang mengecewakan.

baca pula:

Kritik Kadang Sangat Menyakitkan

Source: Freepik

Apakah kritik membuat kamu sakit hati?

Jika iya, mungkin kamu tidak cocok jadi penulis.

Apakah kritik membuat kamu kecewa dan memutuskan untuk berhenti berkarya?

Jika iya, nampaknya menulis bukan dunia kamu.

Dalam menulis kritik adalah bagian penting yang justru menjadi sebuah evaluasi gratis yang seharusnya disyukuri. Pujian memang enak didengar, dan itu kadang-kadang membuat seorang penulis merasa terbang. Namun kritik-lah yang akan membuat ia kembali menjejak tanah dan membangun sayap yang sebenarnya.

Ketika buku kamu sudah selesai dan orang-orang sudah membacanya, maka feedback pun berdatangan dan beberapa di antaranya adalah kritik. Dan itu adalah hal yang harus kamu syukuri.

Kritik memang keras, dan kadang membuat kamu mungkin sakit hati. Tapi jangan berhenti karena kritik.

Justru gunakan kritik yang kamu terima tersebut sebagai referensi utama saat mengevaluasi, atau membuat karya hebatmu yang seterusnya.

Jangan Berharap Langsung Kaya Raya dengan Menulis

Photo by Dziana Hasanbekava on Pexels.com

Apakah tidak ada penulis yang kaya raya dan mendapatkan uang dengan mudah melalui tulisan mereka?

Banyak! Banyak sekali.

J.K. Rowling yang terkenal itu menghasilkan miliaran dolar sebagai penulis terkaya di dunia. Di Indonesia kamu akan mendapati nama-nama tenar lainnya seperti Asma Nadia, Habiburahman El Shirazy, Andrea Hirata dan Tere Leye yang juga akrab dengan kesuksesan besar dan materi melimpah dari hasil menulis.

Tapi seujurnya itu tidak mudah. Hanya sedikit sekali penulis yang mampu mencapai posisi itu dengan keberuntungan dan kerja keras mereka.

Selebihnya?

Ada lebih banyak yang tidak terkenal dan mendapatkan penghasilan yang cukup dari menulis buku.

Source: Freepik

Ketika kamu sudah memutuskan untuk masuk ke dunia menulis secara profesional, kamu harus realistis. Uang yang kamu hasilkan mungkin tidak akan banyak selama beberapa tahun. Atau kamu mungkin tidak akan terkenal dan dielu-elukan dimana-mana.

Tapi apakah hal itu harus menjadi masalah?

Ketika kamu berhasil menyelesaikan bukumu yang pertama, ingat, itu hanyalah permulaan saja. Masih ada perjalanan panjang dan penuh perjuangan yang akan menunggu kamu selanjutnya.

Seperti saya yang telah menulis 14 judul buku dan menjual ribuan eksemplar di antaranya, sampai sekarang saya juga belum kaya raya dan terkenal. Bahkan mungkin kamu yang membaca tulisan ini belum mengenal siapa saya.

Tetapi semua itu tidak akan menghentikan saya.

Bisa jadi kesuksesan saya bukan pada buku pertama hingga 14, tapi buku ke-15, atau buku-20, atau buku-100 barangkali. Dan itu tidak jadi masalah, saya InsyaAllah akan konsisten menjalani prosesnya.

Saya akan terus menulis, menghasilkan buku, karena itulah cara yang bisa saya lakukan untuk bersyukur dengan segala karunia yang Allah berikan. Saya akan terus menulis sampai Allah mencukupkan waktu-Nya untuk saya.

baca juga:

Jika Kamu adalah Penulis Pemula yang Ingin Menghasilkan Buku Pertama, Inilah yang Harus Kamu Lakukan

Source: Freepik

Nah sekarang, dengan semua fakta menulis yang menyakitkan itu, kamu tidak boleh ragu dan menjadi pesimis. Justru kamu harus lebih bersemangat untuk masuk ke dunia penulisan dan menghasilkan karya terbaikmu.

Kamu bisa terus belajar menulis dari banyak cara. Kamu bisa mengikuti pelatihan, membaca buku panduan, mengikuti tutorial video dan lain sebagainya.

Akan tetapi jika kamu masih merasa kesulitan menyelesaikan buku pertamamu dengan cara-cara itu, maka kamu bisa meminta saya membantu kamu.

Jangan ragu untuk menghubungi kontak saya, dan saya akan memandu kamu menulis sampai kamu berhasil menyelesaikan buku kamu yang pertama.

Nah, apakah kamu mau menyelesaikan buku kamu yang pertama sekarang?


Anton Sujarwo

Saya adalah seorang penulis buku, content writer, copywriters dan juga email marketer. Saya telah menulis 14 judul buku, fiksi dan non fiksi, dan ribuan artikel sejak pertengahan tahun 2018 hingga sekarang.

Dengan pengalaman yang saya miliki, Anda bisa mengajak saya untuk bekerjasama dan menghasilkan karya. Jangan ragu untuk menghubungi saya melalui email, form kontak atau  mendapatkan update tulisan saya dengan bergabung mengikuti blog ini bersama ribuan teman yang lainnya.

Tulisan saya yang lain dapat dibaca pula pada website;

9 respons untuk ‘TERNYATA INI 10 FAKTA MENULIS BUKU YANG PALING MENYAKITKAN

Add yours

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog di WordPress.com

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: