INI 15 TANDA JIKA KAMU ADALAH CALON SEORANG PENULIS HEBAT

Menjadi seorang penulis memang membutuhkan disiplin dan konsistensi untuk bisa berhasil. Akan tetapi, ada beberapa orang yang nampaknya dianugrahi ‘mukjizat’ untuk menjadi seorang penulis hebat berdasarkan ciri-cirinya. Pertanyaannya adalah; apakah kamu memiliki salah satu ciri ‘mukjizat’ sebagai seorang penulis hebat tersebut?

Nah, artikel kali ini akan membahas hal itu.

Yuk, dibaca sampai tuntas, ya.

Kamu adalah Penulis Hebat jika Kamu Memiliki 15 Tanda Berikut

Photo by Dziana Hasanbekava on Pexels.com

Pekerjaan penulis saat ini menjadi impian banyak orang. Kehidupan sebagai seorang penulis dianggap sebagai gambaran kehidupan yang ideal untuk dijalani. Kamu hanya menulis sambil ditemani secangkir kopi panas, merangkai kata dan kalimat indah, kemudian memiliki karya yang membuat kamu terkenal.

Hal lain yang menarik dari profesi ini adalah gaji penulis yang bagi beberapa orang dianggap fantastis. Figur raksasa dunia menulis seperti J.K. Rowling dan Stephen King telah menjadi model yang membuktikan bahwa penghasilan menulis memang sangat menggiurkan.

Kamu pun pastinya sepakat dengan hal ini jika melihat penulis tanah air yang mahsyur seperti Andrea Hirata, Habiburahman El Shirazy, Asma Nadia dan sebagainya, kan?

Menariknya, orang-orang yang kemudian terjun sebagai penulis buku, fiksi dan non fiksi, tidak serta merta menghasilkan karya yang sukses. Bahkan jika berkata jujur, ada lebih banyak penulis yang tidak begitu berhasil dari sisi penjualan dan materi yang ia peroleh. Sementara penulis lain, bisa saja sebaliknya.

BACA JUGA:

Photo by Dziana Hasanbekava on Pexels.com

Lantas, apa yang membuat mereka berbeda?

Ada banyak asumsi yang berusaha menjelaskan hal ini. Namun yang paling menarik adalah sebuah pendapat yang mengatakan bahwa setidaknya ada 15 tanda yang menunjukkan bahwa seseorang itu akan menjadi penulis hebat. Entah ia terkenal atau belum, entah ia menghasilkan banyak uang atau belum, yang pasti ia memiliki seperangkat ‘mukjizat’ sebagai seorang penulis yang hebat.

Nah, ini adalah 15 tanda-tanda yang dimaksud;

Kamu Memiliki Pikiran Seorang Petualang

Photo by Michael Block

Siapa pun tidak bisa menjadi penulis novel yang hebat jika ia tidak memiliki pikiran seorang petualang. Pikiran yang melanglang buana menembus ruang, waktu, dan batas-batas rasional manusia adalah tanda pertama jika kamu memiliki bakat menjadi seorang penulis hebat.

Dengan hanya duduk di depan laptopmu, pikiran kamu bisa saja terbang ke puncak gunung yang paling tinggi, atau masuk ke goa terdalam di perut bumi, atau terjebak dalam serangkaian konflik abad pertengahan. Atau malah menjadi seorang pemimpin pemberontak yang jatuh cinta dengan tawanan yang dipenjara.

Apa pun yang ada dalam pikiranmu, selama ia membawamu terbang dalam lintasan imajinasi yang luar biasa dan tidak membiarkan kamu terpaku di satu tempat saja, maka kamu adalah calon seorang penulis hebat.

BACA INI JUGA, YUK:

Kamu Suka Membaca Sampai Kapan pun

Photo by Dayan Rodio on Pexels.com

Jika kamu ingin jadi penulis yang hebat, kamu tidak dapat meninggalkan salah satu kebiasaan wajib mereka yaitu; membaca.

Membaca adalah bagian penting dari kehidupan seorang penulis. Kamu akan lebih memilih menghabiskan hari dengan buku dan secangkir kopi di depan rumah daripada hang out bersama teman-teman di café atau tempat hiburan.

Jika membaca adalah hal penting dalam hidupmu dan kamu tidak pernah berpikir untuk menghentikannya, maka kamu memiliki salah satu tanda dan potensi untuk menjadi seorang penulis yang hebat.

Kamu Lebih Suka Menulis daripada Mengatakannya Secara Lisan

Photo by Ketut Subiyanto on Pexels.com

Penulis yang hebat adalah pencerita yang hebat.

Penulis adalah storyteller yang sebenarnya. Namun alih-alih menyampaikan cerita mereka dengan lisan secara langsung, penulis hebat justru akan memilih untuk mengisahkannya dengan untaian kata di atas lembaran kertas.

Nah, jika kamu adalah seseorang yang lebih mengutamakan berbagi kisahmu secara tulisan dibandingkan lisan, kamu mungkin adalah seorang calon penulis besar di kemudian hari.

Kamu Bisa Mengidentifikasi Tulisan yang Bagus

Photo by Oziel Gu00f3mez on Pexels.com

Ada banyak judul penulis yang terlihat sangat bagus dari karya-karya mereka. Tetapi itu bukan ukuran paling penting yang menentukan kualitas buku yang akan menjadi pilihan kamu.

Kemampuan satu ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan telepati atau energi magis lainnya. Hanya saja kamu memiliki semacam keistimewaan dapat mengidentifikasi sebuah tulisan yang bagus hanya dengan sekilas. Kamu mungkin tidak membaca keseluruhan isi buku, namun satu paragraf dalam buku itu sudah cukup untuk memberikan kamu gambaran kualitasnya.

Jika kemampuan seperti ini ada pada kamu, kamu sebaiknya segera memulai perjalanan penulisan kamu sendiri, ya, karena kamu memiliki salah satu tanda sebagai calon penulis besar.

INI JUGA MENARIK:

Kamu Mengamati Banyak Hal dan Menuliskannya

Photo by Andrea Piacquadio on Pexels.com

Tempat kerja seorang penulis bisa dimana saja. Dimana pun kamu merasa nyaman untuk menulis dan mengetik di atas keywboard laptopmu, kamu dapat menjadikannya ruang kerja.

Begitu juga dengan cara memandang seorang penulis yang hebat, mereka dapat melihat apa pun dan mengubahnya menjadi sebuah cerita. Kamu mungkin mengamati seorang nelayan yang sedang menebar jala di tepi danau, memancing di atas sampan, atau bahkan hanya melihat kepakan sayap elang yang melayang di angkasa.

Apa pun yang kamu amati, akan memberikan kamu inspirasi untuk menuliskannya.

Kamu Memahami Bahwa Menulis adalah Bagian dari Terapi

Photo by cottonbro on Pexels.com

Penulis yang hebat sama sekali tidak menganggap menulis sebagai sebuah pekerjaan yang melelahkan. Penulis bukan hanya sekedar profesi bagi mereka, ini mungkin saja adalah gaya hidup atau the way of life yang mereka pilih secara merdeka.

Jika kamu bertanya profesi apa yang dilakukan seorang penulis selain menulis? Jawabannya mungkin akan beragam.

Mereka bisa saja memiliki profesi sebagai pendaki gunung, dokter, pengusaha, atau petani sekali pun. Namun, menulis bagi seorang penulis hebat tidak hanya sekedar rutinitas. Menulis juga adalah terapi, adalah obat, adalah semedi dan penyembuhan yang efektif.

Kamu Memiliki Rasa Penasaran yang Tinggi

Photo by Monstera on Pexels.com

Siapa pun yang ingin jadi penulis sudah pasti harus memiliki rasa ingin tahu yang besar. Ini bukan tentang menjadi seorang detektif, tapi memang demikianlah seorang penulis hebat yang seharusnya.

Rasa ingin tahu yang besar akan membawa seseorang kepada rasa penasaran, dan rasa penasaran yang diikuti akan membawa kamu pada upaya untuk menemukan jawabannya.

Rangkaian proses sederhana ini adalah bagian dari journal atau rutinitas seorang penulis yang hebat.

BACA PULA:

Kamu Percaya Bahwa Kamu Bisa Menulis Lebih Baik Lagi

Photo by Yan Krukov on Pexels.com

Seorang penulis yang hebat adalah pembelajar sejati. Kamu mungkin sudah menulis sangat baik pada saat ini, namun kamu akan tetap berkomitmen untuk dapat menulis lebih baik lagi dari waktu ke waktu.

Keputusan untuk menjadi penulis novel atau penulis apa pun, adalah keputusan atas kesediaan belajar terus menerus. Kamu mengasah kemampuan, memperbanyak kosakata, membaca referensi dan melatih diri sesering mungkin.

Jika kamu memiliki sifat seperti ini, tidak diragukan lagi bahwa kamu memiliki tanda-tanda calon seorang penulis yang hebat di kemudian hari.

Kamu Tidak Takut Tidak Terkenal dan Tidak Kaya dengan Menulis

Photo by Tima Miroshnichenko on Pexels.com

Pengacara, dokter, bahkan tukang parkir sekali pun, mereka semua mencetak uang. Penulis? Bagaimana dengan penulis? Penulis itu menderita, kadang-kadang mereka bunuh diri, kadang-kadang mereka juga menjadi gila.

Charles Bukowski

Apakah dengan menulis kamu akan menjadi terkenal, menjadi kaya dan berlimpahan materi, atau malah jatuh dalam aktivitas yang justru membuatmu  kehilangan kesempatan mendapatkan kekayaan dan popularitas. Apa pun konsekuensi dari menulis, sama sekali tidak akan membuat kamu merasa takut untuk terus menulis.

Bagi penulis terkenal dengan buku best seller yang terjual hingga jutaan copy, gaji penulis tentu sangat cukup untuk hidup secara berlebihan. Namun jangan salah, ada lebih banyak penulis yang hidup dalam kekurangan dikarenakan penghasilan mereka yang tidak besar dari menulis.

Seorang penulis hebat tidak memperdulikan hal seperti ini. Mereka hanya akan berkarya, menulis dan menulis lagi.

Kamu Berani Melakukan Terobosan

Photo by Mary Taylor on Pexels.com

Jika kamu menulis artikel ilmiah atau jurnal akademis, kamu harus patuh pada PUEBI atau EYD. Tetapi jika kamu menulis novel, kamu seharusnya berani menabrak semua aturan yang justru mengekang kreativitas menulismu.

Terobosan dalam menulis bukan hanya berani bereksperimen pada penulisan yang tidak biasa. Namun juga memikirkan tema-tema penulisan yang belum banyak didapatkan. Hal ini seperti yang digambarkan oleh quotes berikut ini;

Jika kamu tidak menemukan buku yang ingin kamu baca di rak-rak toko buku atau perpustakaan, maka itu adalah tanda bahwa kamu harus menuliskannya.

Anonim

YUK, BACA YANG INI JUGA:

Kamu Tidak Ragu Saat Menuangkan Pikiranmu dan Terbuka dengan Kritik

Photo by Markus Winkler on Pexels.com

Saat menghasilkan tulisan dan rangkaian kata, kamu tidak pernah berpikir bahwa hal itu akan diedit dan dihilangkan. Kamu selalu mempersembahkan yang terbaik, dan kamu memiliki kepercayaan diri bahwa tulisanmu sudah sangat tepat, baik dari penempatan kata, pilihan dan juga susunannya.

Meskipun demikian, penulis buku yang hebat juga tidak anti kritik.

Ketika persembahan terbaik mereka diedit oleh editor, mereka mungkin saja akan menanyakannya. Namun ketika penjelasan sang editor dapat diterima, penulis yang hebat akan dengan sangat lapang dada menerimanya.

Kamu Tidak Menunggu Terinspirasi Untuk Menulis

Photo by MART PRODUCTION on Pexels.com

Salah satu yang membedakan antara penulis hebat dengan pemula adalah tentang cara menyikapi mood. Ketika para penulis pemula menunggu mood untuk bisa menulis, para penulis hebat tidak membutuhkan hal itu.

Untuk menjadi penulis novel yang hebat kamu sama sekali tida bisa bergantung pada mood. Kamu bisa saja sedang tidak terinspirasi untuk menulis pada suatu ketika. Namun penulis yang hebat dan profesional menghadapi itu semua dengan disiplin dan konsistensi tingkat tinggi.

Jadi, entah mereka sedang mood atau tidak, entah mereka sedang terinspirasi atau tidak, para penulis yang hebat akan tetap menulis.

Kamu Mempertontonkan Kejadian (Show not Tell)

Photo by Teona Swift on Pexels.com

Penulis yang hebat tidak pernah memberitahu sebuah cerita kepada pembaca. Sebaliknya, mereka menunjukkannya.

Nah, kamu pun demikian. Jika kamu lebih tertarik untuk menunjukkan tentang sesuatu dibanding memberitahunya secara biasa, kamu mungkin adalah calon penulis yang hebat di kemudian hari.

Daripada menulis; pria itu menggunakan baju berwarna merah.

Penulis yang hebat mungkin akan memilih narasi seperti: Entah apa yang pria itu pikirkan dengan menggunakan kemeja seperti nyala api di tengah terik matahari seperti ini?

Atau mungkin dengan kalimat lain yang lebih pada kesan menunjukkan.

BACA PULA:

Kamu Terbiasa Dengan Rutinitas Seorang Penulis

Photo by Ivan Samkov on Pexels.com

Pekerjaan penulis juga adalah sebuah rutinitas, meskipun para penulis hebat tidak pernah menganggap pekerjaan ini sebagai sebuah aktivitas yang membosankan.

Penulis terbiasa membaca, dan kamu juga membiasakannya. Penulis hebat menulis setiap hari, kamu juga mempraktikkannya. Penulis terbaik memiliki waktu dan tempat khusus untuk menulis, dan kamu pun mengatur aktivitasmu untuk melakukan hal yang sama.

Jika hal ini kamu lakukan, dengan terbiasa dalam rutinitas seorang penulis setiap harinya, maka kamu adalah calon penulis hebat.

Kamu Tidak Pernah Berpikir untuk Berhenti Menulis

Photo by cottonbro on Pexels.com

Nah ini yang terakhir dan mungkin paling penting, bahwa kamu tidak pernah terpikir untuk berhenti menulis sampai kapan pun.

Penulis yang hebat tidak pernah pensiun, tidak pernah cuti, dan tidak pernah memiliki hari libur. Ketika mereka sedang tidak menulis mereka akan membaca. Ketika sedang tidak membaca maka para penulis yang luar biasa itu akan mengisi pikiran dan imajinasi mereka dengan berbagai hal yang akan mereka tuliskan nantinya.

Jika kamu tidak pernah berpikir untuk berhenti menulis dengan alasan apa pun, percayalah, kamu sebenarnya dilahirkan untuk menjadi seorang penulis hebat.

Jadi, ikuti saja kata hatimu.


Anton Sujarwo

Saya adalah seorang penulis buku, content writer, copywriters dan juga email marketer. Saya telah menulis 14 judul buku, fiksi dan non fiksi, dan ribuan artikel sejak pertengahan tahun 2018 hingga sekarang.

Dengan pengalaman yang saya miliki, Anda bisa mengajak saya untuk bekerjasama dan menghasilkan karya. Jangan ragu untuk menghubungi saya melalui email, form kontak atau  mendapatkan update tulisan saya dengan bergabung mengikuti blog ini bersama ribuan teman yang lainnya.

Tulisan saya yang lain dapat dibaca pula pada website;

5 CARA MEMBANGUN RASA PERCAYA DIRI SEBAGAI PENULIS PEMULA

Menjadi seorang penulis pemula yang sukses tentu membutuhkan lebih dari sekedar kemampuan untuk bisa menulis. Penulis pemula dituntut pula untuk mampu beradaptasi dengan dunia kepenulisan, membangun kepercayaan diri, dan kosisten untuk tetap menulis secara disiplin. Dengan pengalaman yang masih minim, justru membangun rasa percaya diri adalah problem yang serius bagi banyak penulis pemula.

Lantas, bagaimana cara membangun rasa percaya diri sebagai seorang penulis pemula?

Yuk, simak ulasan lengkapnya berikut ini.

Sebagai Penulis Pemula, Ini 5 Cara yang Bisa Dilakukan untuk Membangun Rasa Percaya Diri

Photo by Anete Lusina on Pexels.com

Geliat dunia menulis yang semakin banyak peminatnya seperti sekarang ini, memberi banyak ruang bagi para penulis pemula untuk ikut serta mempersembahkan karya mereka dengan berbagai motivasi. Ada yang tergiur karena melihat gaji penulis novel yang fantastis, ada yang ingin terkenal dan populer, namun ada pula yang hanya ingin menulis dan memiliki karya.

Namun sayangnya, tidak semua motivasi menemukan muaranya. Mendapat bayaran mahal dan tenar dari menulis, tidak semua orang bisa mendapatkannya. Bahkan, tujuan itu memang kurang tepat dijadikan motivasi sejak awal. Menulis buku untuk penulis pemula yang hanya didasarkan pada pencapaian materi belaka, seringkali berujung pada kekecewaan.

Akan tetapi yang terpenting, apa pun motivasi yang kamu miliki sebagai penulis pemula, percaya diri menjalaninya adalah setengah dari keberhasilan. Sayangnya, bagi sebagian orang ini bukanlah sesuatu yang mudah untuk dilakukan.

Nah, berikut adalah 5 cara membangun rasa percaya diri sebagai seorang penulis pemula yang tentu bisa kamu praktikkan.

BACA JUGA:

Tanyakan pada Diri: Mengapa Kamu Menulis?

Photo by Edwin Jaulani on Pexels.com

Sebagai fondasi paling dasar untuk membangun rasa percaya diri sebagai penulis pemula, tanyakan kepada dirimu sendiri terlebih dahulu; Mengapa kamu menulis?

Lupakan dulu pertanyaan; materi untuk penulis pemula yang terbaik apa, atau tema apa yang paling ideal untuk dituliskan? Sebelum kamu menulis dan melakukannya dengan segenap usaha terbaikmu, berilah kesempatan terbaik bagi hatimu untuk menemukan alasan mengapa kamu ingin menulis?

Menemukan alasan mengapa kamu menulis adalah ruh dari penulisan itu sendiri. Temukan apa tujuan mendasarmu menggerakan pena dan kertas, menyusun kata dan kalimat, setiap hari, setiap saat?

Apakah kamu mempelajari cara jadi penulis novel pemula  lantaran terpikat oleh uang dan pendapatan penulis yang katanya fantastis? Apakah kamu menulis untuk mengejar popularitas seperti selebritis? Ataukah kamu ingin menghasilkan sebuah karya yang bisa dibaca dan bermanfaat bagi manusia yang lain?

Apa pun yang menjadi alasan mendasar kamu menulis, berpegang teguhlah pada hal itu.

Sebagai saran, kamu membutuhkan alasan yang sangat kuat untuk bisa konsisten menulis secara kontinyu dan disiplin. Nah, tanyakan pada dirimu; Apakah alasan uang, ketenaran, ingin bermanfaat bagi orang lain dan sebagainya, akan mampu menjadi motor penggerak dirimu untuk terus konsisten menulis?

Bangun Ritme dan Kebiasaan Sebagai Seorang Penulis

Photo by Lisa on Pexels.com

Dalam setiap komunitas penulis pemula, semestinya ada satu dua orang penulis profesional yang dapat membantu mengarahkan pola dan ritme kebiasaan seorang penulis. Ritme dan kebiasaan ini sangat penting karena dengan proses inilah kemudian, kamu akan ditempa oleh waktu untuk menjadi penulis yang sebenarnya.

Pertanyaannya kemudian adalah; apa saja kebiasaan penulis pemula dan bagaimana ritme mereka melakukannya?

Penulis suka membaca, maka kamu pun sebagai seorang penulis pemula harus suka membaca. Penulis menulis setiap hari, maka kamu pun harus berkomitmen untuk bisa menulis setiap hari. Penulis tidak menunggu mood untuk menulis, artinya kamu pun tidak bisa menunggu ilham dan mukjizat untuk menyelesaikan tulisanmu.

Ada banyak tips penulis pemula yang bisa kamu temukan dalam blog ini yang didasarkan pada berbagai riset dan kebiasaan para penulis sukses. Aplikasikan dan biasakan dirimu dengan semua ritme tersebut.

Jika kamu melakukannya dengan konsisten, tidak akan butuh waktu lama  bagi kamu untuk menemukan rasa percaya diri sebagai penulis yang akan muncul secara alami dalam dirimu.

BACA PULA:

Masa Bodoh dengan Anggapan Orang Lain

Source: Genetic Literacy Project

Apakah menjadi penulis buku pemula tidak akan menuai komentar orang lain di sekelilingmu?

Ketahuilah; apa pun yang kamu lakukan dalam hidup ini, entah itu menjadi penulis buku, penulis novel, pejabat, direkrur, pegawai negeri atau bahkan prediden sekali pun, semua aktivitas mu akan tetap menarik orang lain untuk berkomentar.

Kamu mungkin dapat mencatat beberapa orang yang men-support proses menulis yang kamu lakukan.

Menulis itu tidak mudah, terutama jika kamu ingin menjadi penulis yang tidak hanya senang dengan berbangga lantaran bisa menulis buku antologi saja. Jika kamu ingin menghasilkan karya terbaik, kamu akan dituntut untuk lebih keras berjuang menggapainya.

Saat buku pertama kamu diterbitkan dan mungkin tidak begitu laku di pasaran, kamu akan dikomentari. Saat kamu berhasil menulis hingga sepuluh judul buku, namun belum menunjukkan keberhasilan secara materi, maka itu juga bisa memancing omongan orang lain.

Kadang motivasi untuk penulis pemula tidak harus kata-kata indah dan muluk saja. Bahkan saya secara pribadi mengatakan pada banyak penulis pemula yang belajar menulis di kelas saya; Siapkan dirimu dengan apa pun yang orang lain katakan. Menulis dan berhasil didalamnya membutuhkan proses yang tidak gampang.

Dan untuk itu kamu kadang harus masa bodoh untuk tetap melaju sesuai rencana.

Jangan Mudah Menyerah dan Patah Semangat

Photo by Thirdman on Pexels.com

Banyak para penulis pemula yang mengira ketika mereka berhasil menerbitkan satu judul buku, maka kehidupan mereka akan sangat ideal; menulis, road show kemana-mana, mempromosikan buku, jumpa fans, dan lain sebagainya.

Tetapi, apakah memang benar demikian?

Sejujurnya tidak.

Bahkan 95% buku yang ditulis dan diterbitkan di negara dengan minat baca tinggi seperti Finlandia dan Amerika Serikat, hanya laku 250 eksemplar sepanjang waktu. Buku yang agak beruntung hanya laku paling banyak 3.000 eksemplar. Dan kurang dari 1% buku yang ditulis dan diterbitkan, menjadi best seller dan menghasilkan uang banyak untuk penulisnya.

Apa artinya ini?

Jika kamu menulis untuk uang dan popularitas, maka 95% usaha kamu akan gagal di buku yang pertama. Bahkan jika kamu menerbitkannya di negara dengan minat baca paling tinggi sekali pun.

Hal ini tentu akan membuat patah semangat bagi beberapa orang, bukan?

Terus terang, kamu tidak perlu mengubah tujuan dan alasan kamu menulis, hanya saja jangan cepat menyerah untuk mencapainya. Bisa saja kamu akan berhasil pada bukumu yang ke-10, ke- 20, atau bahkan yang ke-100.

Pastinya, jangan mudah menyerah dan patah semangat.

BACA JUGA:

Sadari Bahwa Menjadi Penulis itu Seperti Hidup atau Seperti Elang

Photo by Roman Kirienko on Pexels.com

Hal terakhir yang bisa kamu lakukan untuk menambah rasa percaya diri sebagai seorang penulis pemula adalah dengan menyadari bahwa menulis itu seperti hidup. Menjadi seorang penulis, sama seperti menjadi profesional umum dalam bidang yang lain.

Umpamakan penulis adalah seperti atlit olahraga yang terus melatih kemampuan mereka untuk menjadi juara. Atlit lari terus melatih kemampuannya berlari untuk menjadi juara dalam lomba lari. Atlit tinju terus berlatih bertinju untuk menjadi juara dalam pertandingan tinju. Atau atlit renang terus berlatih berenang setiap hari dalam rangka mempersiapkan diri mereka untuk menang dalam lomba renang.

Apakah mereka nantinya akan menjadi juara atau tidak, namun merela melatih diri setiap hari untuk menjadi yang terbaik di bidangnya.

Dan menulis pun begitu.

Kamu menulis setiap hari untuk menjadi yang terbaik. Walau mungkin kamu tidak akan kaya dan terkenal dengan menulis.

Photo by Frank Cone on Pexels.com

Atau kamu juga bisa mengambil motivasi untuk penulis pemula dari hidup seekor elang yang bangun di pagi hari untuk berburu. Entah apa yang ia dapatkan sebagai hasil buruan nantinya, namun elang bangun di pagi hari dan berburu karena ia adalah pemburu.

Dan sebagai penulis, kamu pun begitu, yang terbangun di setiap pagi untuk menulis. Bukan apa yang akan kamu dapatkan dari menulis, namun karena kamu memang adalah seorang penulis.

YUK, BACA INI JUGA:


Anton Sujarwo

Saya adalah seorang penulis buku, content writer, copywriters dan juga email marketer. Saya telah menulis 14 judul buku, fiksi dan non fiksi, dan ribuan artikel sejak pertengahan tahun 2018 hingga sekarang.

Dengan pengalaman yang saya miliki, Anda bisa mengajak saya untuk bekerjasama dan menghasilkan karya. Jangan ragu untuk menghubungi saya melalui email, form kontak atau  mendapatkan update tulisan saya dengan bergabung mengikuti blog ini bersama ribuan teman yang lainnya.

Tulisan saya yang lain dapat dibaca pula pada website;

INI CARA MENULIS CERITA PENGALAMAN PRIBADI YANG PALING MUDAH DAN BAGUS

Pertanyaan pertama yang paling sering ditanyakan kepada seseorang yang ingin tahu cara menulis cerita pengalaman pribadi adalah; seberapa menarik kisah yang mereka miliki sehingga layak untuk ditulis?

Mendengar pertanyaan semacam ini, banyak orang yang baru mau belajar menulis itu menjadi minder. Pada akhirnya keinginan mereka untuk menulis pengalaman hidup yang mereka miliki menjadi gagal. Sebagian besar bukan karena cerita mereka tidak menarik, tetapi karena mereka kehilangan rasa tertarik karena mendengar pertanyaan di atas.

Lantas, bagaimana contoh pengalaman pribadi yang bisa ditulis ke dalam sebuah rangkaian cerita, dan bagaimana pula cara melakukannya untuk mendapatkan hasil yang bagus?

Yuk, simak ulasannya berikut ini.

5 Cara Menulis Cerita Pengalaman Pribadi yang Mudah dan Bagus

Photo by Pixabay on Pexels.com

Di Sekolah Dasar, praktik membuat contoh pengalaman pribadi yang unik banyak dilakukan dengan meminta siswa-siswa untuk bercerita mengenai bagaimana mereka melewatkan masa liburan. Oleh karena itu kamu mungkin masih akrab dengan berbagai cerpen di modul pelajaran SD yang temanya adalah; berlibur ke rumah nenek, dan lain sebagainya.

Hal ini memberi bukti bahwa untuk membuat cerita pengalaman pribadi, kisah yang dituliskan tidaklah selalu harus luar biasa.

Hal yang menjadi kunci kemudian adalah bagaimana kamu mengolah kenangan, pengalaman, dan juga hikmah pengalaman yang kamu miliki menjadi sebuah rentetan cerita yang enak dibaca. Contoh cerita pengalaman liburan sederhana pun akan menjadi sangat berkesan, jika kamu tahu cara menuliskannya.

Hakikatnya semua orang tentu memiliki pengalaman dan cerita mereka masing-masing. Cerita setiap orang pasti unik dan menarik. Kemampuan untuk menggali bagian mana yang harus difokuskan dan dituliskan sebagai kisah, adalah kunci untuk mengubahnya menjadi sebuah lembaran cerita yang membekas di kepala pembaca.

Nah, berikut ini adalah lima langkah yang bisa kamu lakukan untuk membuat cerita pengalaman pribadi supaya mudah prosesnya dan bagus pula hasilnya.

Selami Emosimu Kembali

Photo by Jack Gittoes on Pexels.com

Tantangan yang paling banyak menjegal para penulis pemula untuk mulai menuliskan cerita hidup mereka adalah ketakutan akan penolakan atau bahkan ditertawakan. Hal ini pada perkembangannya membuat cerita pengalaman yang seharusnya bisa dibagi dan membawa pelajaran bagi orang lain, akhirnya hanya mengendap menjadi kenangan tak bernilai.

Nah, poin pertama yang harus kamu lakukan untuk melawan rintangan ini adalah dengan berusaha kembali menyelami emosi dan perasaan ketika pengalaman cerita yang akan kamu tuliskan itu terjadi. Artinya adalah; kamu berfokus untuk kembali kepada sebuah kenangan paling kuat yang kamu miliki dan berusaha merasakan emosinya kembali.

Ketika saya menulis buku Islamedina; Si Wajah Cahaya, saya juga harus melakukan hal yang sama. Dengan segala keterbatasan saya harus berfokus untuk merasakan kembali emosi yang membuncah saat bersama Medina semasa hidupnya.

Dan itu sungguh tidak mudah untuk dilakukan.

Menulis cerita pengalaman pribadi dengan kisah menyenangkan, tentu jauh lebih mudah dibandingkan sebaliknya. Oleh karena itulah sebabnya kamu akan dengan mudah menjumpai 5 contoh cerita pengalaman menyenangkan, dibandingkan menemukan 1 contoh cerita pengalaman menyedihkan yang benar-benar menyentuh.

Namun, justru cerita pengalaman dengan konteks sedih, haru, pilu, penuh perjuangan, dan sejenisnya, yang akan jauh lebih powerfull mengeluarkan emosimu saat menulisnya.

Buat Daftar Titik-Titik Krusial atau Turning Points

Photo by JACK REDGATE on Pexels.com

Ketika kamu berdiri di persimpangan jalan untuk mengambil keputusan yang tepat, kamu biasanya akan membuat sebuah keputusan yang paling penting dalam hidup.

Dan itu adalah bagian krusial dari cerita kamu yang harus lebih kamu fokuskan.

Sebagai salah satu teknis menulis cerita yang menarik tentang pengalaman cerita pribadi, dibandingkan membuat menulisnya seperti kronologi, kamu dapat membidik turning point seperti ini sebagai plot cerita.

Titik-titik krusial dalam hidup dimana kamu membuat keputusan yang memberi dampak secara emosional, material dan juga psikologis, akan dipastikan jauh lebih menarik bagi pembaca.

Buat Outline Tanpa Harus Berbentuk Kronologi

Photo by Blue Bird on Pexels.com

Setelah kamu membuat list beberapa turning point paling penting dalam hidupmu, kamu sekarang dapat memetakan plot cerita yang akan kamu sampaikan. Ingat, jangan terikat untuk membuat sebuah cerita kronologi seperti buku sejarah, ya.

Kamu bisa memilih misalnya untuk menulis bergaya flashback, atau memilih gaya cerita mixed dimana pencampuran yang serasi antara flashback dan juga kronologi. Penceritaan yang penuh kejutan dan diletakkan pada tempat yang tepat, adalah kunci untuk membuat plot cerita pengalaman pribadi kamu semakin sempurna.

Nah, untuk memudahkan proses ini, kamu tentu saja dapat membuat outline atau kerangka terlebih dahulu. Tandai beberapa titik dimana turning point dalam hidupmu terjadi, kemudian kembangkan detailnya secara terarah.

Berfokus pada Satu Cerita sebagai Klimaks

Photo by Daria Shevtsova on Pexels.com

Kamu mungkin memiliki perjalanan hidup dan pengalaman yang luar biasa untuk dikisahkan. Namun, cara menulis cerita pengalaman pribadi yang efektif mengharuskan kamu untuk memilih satu kenangan yang paling kuat dan paling besar dampaknya. Aturan seperti ini biasanya juga dimuat pada banyak contoh artikel pengalaman pribadi yang diceritakan.

Kamu tentu saja boleh untuk menulis semua hal dalam hidupmu yang kamu anggap menarik. Kamu bisa menceritakan mengenai masa kecilmu yang indah, sekolah yang penuh nostalgia, pacar pertama yang tidak terlupakan dan lain sebagainya.

Akan tetapi ada sebuah kenangan poros atau kenangan central yang harus kamu pilih menjadi fokus cerita.

Nah, kenangan central inilah kemudian yang menjadi klimaks ceritamu. Bangun semua plot untuk memberi dampak yang lebih signifikan terhadap seberapa besar efek klimaks itu terhadap kehidupanmu.

Menulislah untuk Diri Sendiri

Photo by Lukas Rychvalsky on Pexels.com

Nah, ini adalah bagian yang terpenting jika kamu menulis pengalaman sendiri, kamu harus menentukan lebih lebih dulu; untuk siapa sebenarnya kamu menuliskan pengalaman kamu itu?

Jika kamu menulis untuk orang lain atau untuk pembaca, maka kamu harus mempersiapkan diri dengan baik apa pun penerimaan mereka nantinya. Ingat lho, tidak semua orang dapat menyambut dengan baik sebuah kisah kenangan orang lain yang disodorkan untuk mereka baca. Bahkan beberapa orang cenderung untuk lebih mudah menghakimi dibandingkan mengapresiasi.

Jika kamu menulis untuk pembaca, kamu mungkin akan kecewa ketika penerimaan mereka ternyata tidak sesuai dengan harapan yang kamu miliki. Kekecewaan seperti ini bukan hanya tidak baik bagi diri, namun juga kadang membuat keberanian untuk menulis kembali menjadi hilang.

Untuk itulah saya menyarankan jika kamu menulis cerita pengalaman pribadi, maka tulislah itu untuk diri sendiri.

Lho kok begitu, sih?

Iya, benar.

Photo by cottonbro on Pexels.com

Ketika kamu menulis untuk diri sendiri, kamu akan menggali kenangan pengalaman dari cerita kamu sedalam mungkin. Kamu ingin membaca kisah yang kamu tulis itu dengan penuh penghayatan tanpa melewatkan satu titik kecil pun dampaknya bagi perasaan dan hidupmu. Secara tidak langsung, perasaan seperti ini akan membuat kamu menulis tidak lagi dengan pikiran yang berfokus kepada pembaca, namun kepada hati yang berfokus pada rasa dan kalbu.

Apa pun reaksi pembaca ketika menelusuri jejak kisah dalam tulisanmu, tidak akan lebih penting dari perasaan kamu sendiri saat menyelesaikan penulisannya. Dengan selesainya cerita pengalaman pribadi yang sudah kamu tulis, kamu akan menjadi orang yang bebas dan merdeka. Setidaknya merdeka dari kekangan pengalaman yang mungkin tidak akan keluar dari rongga dada.

Terus terang saya menyukai alasan seperti ini, karena itu pula yang menjadi alasan saya saat menyelesaikan buku Islamedina; Si Wajah Cahaya, yang tebalnya lebih dari 750 halaman.

Sudah Siap Menulis Cerita Pengalaman Pribadimu?

Photo by Meruyert Gonullu on Pexels.com

Nah, setelah membaca cara menulis cerita pengalaman pribadi di atas, bagaimana sekarang? Apakah kamu sudah siap untuk mempraktikkannya?

Dengan latihan yang tekun dan konsistensi untuk terus menulis, hanya masalah waktu yang membatasimu untuk menjadi seorang yang expert. Oleh karena itu, tetaplah menulis dengan penuh disiplin, ya.

Oh ya, jika kamu tetap merasa kesulitan untuk melakukan berbagai langkah untuk menulis cerita pengalaman pribadimu menjadi sebuah buku, kamu bisa meminta bimbingan dari www.penulisgunung.id, kok.

Caranya gampang, kamu tinggal menghubungi saya melalui form kontak yang sudah disediakan di bawah ini.

Jangan ragu, ya.


Anton Sujarwo

Saya adalah seorang penulis buku, content writer, copywriters dan juga email marketer. Saya telah menulis 14 judul buku, fiksi dan non fiksi, dan ribuan artikel sejak pertengahan tahun 2018 hingga sekarang.

Dengan pengalaman yang saya miliki, Anda bisa mengajak saya untuk bekerjasama dan menghasilkan karya. Jangan ragu untuk menghubungi saya melalui email, form kontak atau  mendapatkan update tulisan saya dengan bergabung mengikuti blog ini bersama ribuan teman yang lainnya.

Tulisan saya yang lain dapat dibaca pula pada website;

BAGAIMANA CARA MENULIS BUKU: SEBUAH PANDUAN SERIUS UNTUK PENULIS PEMULA

Bagaimana sebenarnya cara menulis buku yang paling efektif dan mudah dipraktikkan oleh para penulis pemula?

Jika kamu adalah salah satu orang yang memiliki keinginan untuk menjadi seorang penulis di kemudian hari, dan baru mulai mencobanya sekarang, panduan ini ditulis untuk kamu. Dengan panduan yang lengkap namun sederhana ini, kamu akan lebih cepat menyelesaikan penulisan buku dan meraih mimpimu menjadi seorang penulis.

Nah, bagaimanakah panduannya serta apa yang harus kamu lakukan?

Yuk, simak ulasan lengkapnya berikut ini.

Panduan Mudah dan Lengkap Cara Menulis Buku untuk Para Pemula

Photo by Suzy Hazelwood on Pexels.com

Bagi para penulis pemula, cara menulis buku dan menerbitkannya bisa saja adalah sebuah tantangan yang sulit. Namun dengan kesediaan kamu untuk belajar, semua proses ini sebenarnya adalah sesuatu yang sederhana dan gampang untuk dilakukan.

Apakah kamu sedang mempersiapkan diri untuk menulis kisah menarik, atau jenis tulisan apa pun yang ingin kamu tuliskan, panduan ini bisa kamu terapkan. Cara menulis buku tentang kisah hidup atau tentang apa saja, akan semakin mudah untuk dilakukan dengan menerapkan panduan-panduan ini nantinya.

Lantas, bagaimanakah panduannya?

Ini dia langkah-langkahnya

BACA JUGA:

Berlatih dan Kembangkan Keterampilan Menulismu Setiap Hari

Photo by fotografierende on Pexels.com

Menulis buku atau menulis apa pun yang sifatnya panjang dan kontinyu, tidak ubahnya seperti keterampilan dalam olahraga. Untuk bisa menjadi pemain bulu tangkis yang hebat, kamu tidak bisa meraihnya dengan membaca buku tentang bulu tangkis atau hanya menonton pertandingan badminton di TV saja.

Ada latihan yang konsisten dan terus menerus untuk mencapai sebuah keterampilan yang mumpuni.

Oh ya, apakah kamu tahu nama Khabib Nurmagomedov, petarung mixed martial art di UFC yang tidak pernah sekali pun kalah itu?

Untuk mendapatkan kemampuan bertarung yang sangat baik dan mental yang sangat siap, Khabib berlatih setiap hari. Ia tidak pernah babak belur dalam setiap pertandingan. Dan yang pasti rekor 29 kali menang dan tidak pernah kalah sekali pun telah membuktikan pada dunia bahwa ia adalah legenda dalam ajang olahraga tarung bebas tersebut.

Nah, demikian pula dengan cara menulis buku novel, cerpen, artikel, biografi dan lain sebagainya. Kamu harus melatih dan mengembangkan keterampilan kamu setiap hari dengan menulis, membaca, mengetahui sesuatu yang baru, dan lain sebagainya.

Kamu mungkin tidak akan sekaya J.K. Rowling, atau seterkenal Leo Tolstoy, tapi yang jelas kamu akan semakin bertumbuh menjadi seorang penulis setiap harinya.

Ciptakan Ruangan atau Tempat Khusus Menulis

Photo by Anthony Shkraba on Pexels.com

Cara menulis buku pemula yang juga jarang disadari oleh banyak penulis kadang adalah mengenai pentingnya sebuah tempat yang tepat untuk menulis. Kamu tidak bisa menciptakan karya tulis yang menarik jika kamu terganggu dengan apa yang ada di sekelilingmu.

Buatlah sebuah tempat khusus yang dapat kamu gunakan sebagai studio untuk menulis. Ketika kamu memasuki tempat tersebut dan berada di dalamnya, aura yang muncul adalah menulis dan berkarya. Lupakan sejenak tentang gangguan semacam televisi, video game atau pun handphone dan sosial media.

Tentu saja kamu dapat membuat tempat seperti itu di rumah kamu, di kamar tidur atau dimana pun kamu merasa nyaman.

Studio menulis tidak harus mewah dan lengkap. Namun studio menulismu haruslah mampu memberi suasana yang nyaman untuk menulis tanpa gangguan.

Menyediakan ruangan khusus untuk menulis adalah jawaban dari bagaimana cara menulis buku yang kedua.

BACA PULA:

Temukan Alasan yang Tepat Mengapa Kamu Ingin Menulis

Photo by Eva Elijas on Pexels.com

Banyak para penulis pemula yang memiliki impian besar untuk menjadi penulis, tidak menyadari betapa kesepiannya pekerjaan menjadi seorang penulis.

Kamu akan menghabiskan banyak waktu dengan duduk sendirian di depan monitor laptop atau komputer. Kamu akan disibukkan dengan riset, menulis, mengedit, layout, menentukan cover dan lain sebagainya. Dan sedihnya, semua itu akan lebih banyak kamu lewati dengan sendirian.

Jika sudah begini, beberapa orang akan menyerah dengan kebosanan. Dan impian mereka menjadi penulis pun kandas.

Dalam panduan cara menulis buku pemula PDF, seringkali ditekankan bahwa kamu harus menemukan alasan mengapa kamu menulis sebelum proses menulis itu sendiri. Kumpulkan setidaknya beberapa alasan sebagai pendorong, motivator, kobaran semangat, untuk kamu jadikan percikan tekad menulismu supaya tidak pernah padam.

BerkomitmenTinggi

Photo by Andrea Piacquadio on Pexels.com

Menulis buku bisa memakan waktu yang lama. Bisa berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun. Tanpa komitmen yang kuat untuk menyelesaikannya, kamu akan menemui kesulitan untuk melihat apa yang kamu tulis ada di tangan para pembaca.

Apa pun jenis buku yang kamu tulis, fiksi atau pun non fiksi, semuanya akan membutuhkan komitmen tingkat tinggi untuk dijalani. Sayangnya, tidak setiap hari penulis merasa dalam kondisi terbaik untuk menulis. Writer block, kebosanan, jenuh, bad mood, kesibukan, pekerjaan dan lain sebagainya, adalah beberapa rintangan yang siap menjegal impianmu.

Jika sudah begini, komitmenmu pada hasil akhir, dalam arti komitmenmu untuk menyelesaikan buku, adalah kunci untuk bisa melewatinya.

BACA JUGA:

Riset dan Cari Tahu Siapa Pembacamu

Photo by Zichuan Han on Pexels.com

Langkah menulis buku selanjutnya yang juga tidak boleh kamu lupakan adalah dengan mencari tahu tentang siapa sebenarnya yang akan menjadi pembaca ideal kamu nantinya?

Orang-orang membeli buku karena mereka membutuhkan informasi, mencari hiburan atau supaya mereka merasa terinspirasi. Ketika kamu mengetahui apa yang calon pembaca bukumu inginkan, yang harus kamu lakukan kemudian adalah dengan menyesuaikan apa yang bisa kamu tulis untuk mereka.

Titik terbaik sebagai jalan keluar dari hal ini adalah dengan mengenal seperti apa target pembacamu dan apa yang mereka inginkan. Langkah selanjutnya adalah dengan mencari titik tertentu dalam tulisan kamu yang selaras dengan keinginan mereka untuk dikembangkan.

Misalkan kamu menulis buku untuk diterbitkan berupa novel yang calon pembacanya adalah remaja, maka kamu harus pula mengenal remaja targetmu itu seperti apa, apa yang mereka sukai, topik seperti apa yang akan membuat mereka senang.

Kemudian temukan apakah topik tulisanmu sesuai dengan yang mereka inginkan, dan berfokuslah disana.

Pelajari Buku Lain

Photo by Leah Kelley on Pexels.com

Jika kamu adalah penulis buku misteri, maka tidak ada salahnya untuk membaca buku dengan genre yang sama. Ini bukan untuk menjiplak, meniru atau plagiat, tapi ini adalah semacam studi banding untuk menggali keunggulan tulisan kamu.

Kamu bisa melakukan ini dengan tidak harus menamatkan semua buku yang memiliki genre sama dengan yang kamu tulis. Kamu mungkin bisa memilih 10 buku yang terbaik di antaranya, kemudian mulai mempelajari mengenai judulnya, kategorinya, dan juga beberapa ide yang tersimpan di dalamnya.

Untuk memudahkan prosesnya, kamu mungkin juga bisa melihat review dari para pembaca buku tersebut. Catat dan identifikasi apa yang mereka suka, apa yang mereka tidak suka dan, apa pula yang mereka harapkan.

BACA PULA:

Kumpulkan Ide Buku

Photo by Dom J on Pexels.com

Jika kamu menulis buku fiksi namun mengambil lokasi yang nyata, maka detail adalah sesuatu yang sangat penting. Kamu harus mampu menggambarkan setting lokasi cerita fiksimu itu serinci mungkin.

Namun jika kamu menulis buku non fiksi, maka sumber dan riset adalah yang paling mendasar. Sebuah karya ilmiah tentunya membutuhkan sumber yang jelas, referensi yang cukup, dan juga penelaahan yang memadai dari penulisnya.

Oleh karena itu sebelum kamu mantap menulis sebuah buku, baik fiksi atau pun non fiksi, kumpulkan sebanyak mungkin ide mengenai bukumu. Secara sederhana kamu bisa melakukan ini seperti cara menulis buku pelajaran dimana kerangka dan listicle memudahkan prosesnya.

Tetapkan Buku yang Kamu Tulis

Photo by Ketut Subiyanto on Pexels.com

Jika kamu menulis buku non fiksi, ini adalah bagian yang tidak bisa kamu langkahi. Kamu harus mengenal bukumu sebaik mungkin bahkan sebelum kamu menulisnya sekali pun.

Tuliskan beberapa pertanyaan berikut ini dalam sebuah kertas kosong, kemudian jawablah sendiri dengan sangat jujur. Tidak perlu khawatir dengan penilaian, tidak ada yang akan melihat jawaban yang kamu tuliskan.

  1. Untuk siapa sebenarnya buku yang ditulis ini?
  2. Apa ide besar yang ada dibalik buku ini?
  3. Apa sebenarnya yang menjadi kekuatan dan kelemahan saya dalam menuliskannya?
  4. Apa yang membuat buku ini berbeda dengan buku lain yang sejenis?
  5. Apa yang ditawarkan buku ini sehingga ia layak dibaca?

Sebenarnya bagian cara menulis buku ini seperti menulis rencana internet marketing. Jadi kamu memulainya dengan menganggap bahwa bukumu adalah sebuah produk yang harus memiliki nilai jual yang dapat menjawab kebutuhan pembaca.

BACA JUGA:

Tentukan Tipe Gaya Menulismu

Photo by Dziana Hasanbekava on Pexels.com

Jika kamu menuliskan bukumu menggunakan pemetaan terlebih dahulu seperti plot cerita, penyusunan karakter, penetapan setting, menggunakan kerangka yang lengkap dan lain sebagainya, maka kamu adalah jenis penulis dengan gaya Plotters.

Namun, jika kamu menulis benar-benar mengalir saja, kamu hanya membiarkan dirimu hanyut bersama alur cerita dalam pikiranmu ketika menulis, atau kamu seakan dibimbing Tuhan dalam menulis setiap kata tanpa rencana, maka kamu adalah penulis dengan gaya Pantsers.

Apa pun gaya yang membuat kamu nyaman dalam menulis, lakukan.

Setiap orang akan memiliki gaya menulisnya masing-masing. Dan itu akan membutuhkan proses serta tidak menjadi masalah.

Saat menulis novel Merapi Barat Daya yang mendapat rating sempurna dari pembacanya itu, saya menulisnya dengan gaya Pantsers. Sementara saat menulis buku non fiksi seperti Dewi Gunung, Mahkota Himalaya dan yang lainnya, maka saya menulisnya dengan gaya plotters.

Kamu bebas memilih salah satu sebagai gayamu, atau bahkan kedua-duanya sekaligus.

Wawancarai Orang yang Berpengalaman

Photo by Sora Shimazaki on Pexels.com

Wawancara adalah cara menulis buku yang bisa kamu lakukan jika kamu menulis non fiksi. Atau bahkan juga untuk buku fiksi.

Jika kamu menulis misalnya tentang dunia pendidikan, maka melakukan beberapa wawancara dengan pendidik, dengan guru, dengan penulis buku pelajaran dan pengambil keputusan, tentu saja akan lebih menarik.

Hasil wawancara akan memberi kamu perspektif baru yang akan membuat buku yang kamu tulis menjadi lebih kaya.

BACA PULA:

Buat Kerangka Buku

Photo by Michael Burrows on Pexels.com

Outline atau kerangka adalah bagian sangat penting dalam cara menulis buku kisah hidup atau buku apa pun juga. Jadi, jangan diabaikan.

Membuat kerangka akan membuat kamu menulis lebih cepat, lebih tepat sasaran dan tidak melebar terlalu jauh. Kerangka yang mendetail juga mampu menambah produktivitas dalam menghasilkan buku dalam waktu yang lebih singkat.

Pada penulisan buku fiksi, kerangka juga bisa diterapkan dengan membuat plotting terlebih dahulu. Seperti disampaikan sebelumnya, jika kamu mengambil setting sesuatu yang nyata, membuatnya menjadi lebih mendetail adalah sesuatu yang lebih menarik.

Bertahap Seperti Marathon

Photo by Pixabay on Pexels.com

Ketika marathon, sangat berbahaya bagimu untuk langsung melibas 50 kilometer dalam satu kali putaran, Kamu akan lebih aman dan nyaman jika melakukannya secara bertahanp namun kontinyu hingga garis finish.

Cara menulis buku pun demikian.

Susunan kata, kalimat, paragraf, halaman dan bab, tidak bisa kamu sikat sekaligus dalam sekali duduk. Kami bisa membaginya dalam beberapa bagian yang lebih kecil dalam mengerjakannya. Hari ini kamu bisa menulis tentang A misalnya beberapa paragraf, besok kamu bisa melakukan hal yang sama untuk topik tengan B, C, D dan seterusnya.

BACA JUGA:

Menulislah Setiap Hari

Photo by Karolina Grabowska on Pexels.com

Seorang penulis profesional bisa menulis hingga 4.000 kata setiap hari atau bahkan lebih.

Ini terdengar berat bagi beberapa orang, bukan?

Menulis setiap hari secara konsisten itu membutuhkan tekad dan komitmen yang serius dan tidak setiap orang mampu melakukannya. Untuk menyiasatinya, kamu juga bisa melakukan hal ini secara bertahap. Misalnya dengan menetapkan target penulisanmu setiap hari dalam jumlah tertentu.

Untuk penulis pemula, jumlah 300 hingga 500 kata itu sudah cukup mengesankan jika konsisten dilakukan setiap hari. Dengan pengalaman dan jam terbang, satu hari 4.000 atau 5.000 kata tidak akan menjadi masalah lagi untukmu.

Selesaikan Naskah Pertamamu tanpa Rasa Khawatir

Photo by Andrea Piacquadio on Pexels.com

Lupakan typho, salah ketik, ejaan yang salah, pemenggalan yang keliru, atau berbagai kesalahan teknik umum lainnya saat kamu menulis naskah pertamamu. Pokoknya, hilangkan kekhawatiran dalam hatimu saat menyelesaikan draf pertama buku yang kamu tulis.

Tujuan paling penting dari penulisan draf pertama adalah harus selesai, bagaimana pun hasilnya.

Nah, setelah draf pertama selesai, panduan cara menulis buku baru meminta kamu untuk memperbaikinya melalui editing, membaca ulang, dan perbaikan-perbaikan yang diperlukan untuk menyempurnakan naskahnya.

BACA PULA:

Terima saja jika Kamu Membuat Kesalahan

Photo by Ketut Subiyanto on Pexels.com

Membuat kesalahan dalam proses menulis itu adalah sesuatu yang biasa. Apalagi jika itu adalah draf pertama.

Kamu mungkin akan salah dalam menuliskan nama tempat, istilah, menuangkan dialog, atau bahkan membuat urutan plot bab yang sesuai. Jika kamu menemukan hal ini saat kamu membaca ulang draf pertama yang kamu tulis, artinya kamu sudah sukses melangkah ke tahap penulisan yang lebih baik.

Ada beberapa penulis pemula yang merasa begitu frustasi ketika menemukan naskah pertama terlihat demikian kacau.

Sejujurnya, itu bukanlah masalah. Bahkan hampir setiap penulis besar yang kamu kenal, melewati hal yang sama dalam proses tumbuh kembang mereka menjadi penulis.

Terima saja kenyataan jika kamu membuat kesalahan dalam naskah pertamamu. Jika kamu mampu menjaga semangat dan konsistensimu untuk tetap stabil, kamu akan melihat betapa cepat kamu nantinya berkembang dalam penulisan selanjutnya.

Atur Waktu Menulismu dengan Baik

Photo by JESHOOTS.com on Pexels.com

Ini mungkin lebih kepada tips menulis buku yang baik. Saya juga sudah menuliskan hal ini dalam beberapa postingan saya untuk topik yang relevan.

Kemampuan mengatur waktu untuk menulis dan konsisten menjalaninya adalah bagian besar dari kesuksesan menulis itu sendiri, paling tidak dalam hal produktivitas dan efektivitas.

Saya biasa mulai menulis buku sejak jam 03:00 pagi hingga jam jam 06:00, atau setelah anak-anak saya terbangun. Siang harinya saya juga menulis artikel untuk pekerjaan saya sebagai content writer atau ghost writer, kemudian sore dan malam harinya saya lanjutkan dengan menulis untuk blog yang saya kelola.

Sebagai penulis pemula, kamu mungkin tidak bisa menulis seharian dan setiap hari. Untuk itu aturlah waktumu sebaik mungkin dan temukan saat paling ideal bagi kamu untuk menulis.

Dan yang paling penting, disiplinlah dalam menjalaninya

BACA INI JUGA, YUK:

Tetapkan Deadline

Photo by Black ice on Pexels.com

Penulis profesional menulis menggunakan deadline.

Ini bukan seperti mempersiapkan sebuah hukuman pancung jika kamu terlambat menyelesaikan tulisan, namun lebih sebagai dorongan supaya kamu bisa menulis secara disiplin dan menyelesaikan buku kamu tepat waktu.

Deadline akan membantu kamu untuk mengatur strategi dalam menulis, baik dalam soal waktu mau pun dalam soal target harian.

Seumpama kamu mulai menulis pada bulan Januari dan menargetkan buku kamu berjumlah 60.000 kata. Kemudian kamu memasang deadline pada akhir bulan April. Maka kamu setidaknya memiliki waktu selama 4 bulan atau 120 hari dalam menuliskannya.

Secara sederhana kamu harus menulis setidaknya 500 kata dalam satu hari untuk membuat targetmu tercapai dan buku kamu selesai tepat waktu, bukan?

Lawan Writer Blocks

Photo by Andrea Piacquadio on Pexels.com

Sebagai penulis, tidak setiap hari kamu terinspirasi untuk menulis. Ada kalanya kamu akan merasa jenuh, bosan, tidak tahu harus menulis apa, atau merasa menghadapi dinding tebal kebuntuan yang tidak dapat kamu tembus.

Dan kamu sudah tahu kan, itu adalah writer block?

Lantas, apa saran terbaiknya saat menghadapi writer block seperti ini?

Tidak ada saran yang paling baik dalam menghadapi writer block selain dengan melawannya. Cari tips menghadapi writer block untuk kemudian menulislah lagi. Jangan berlama-lama memanjakan kemandulan para penulis ini sehingga membuat kamu terbiasa berdamai dengannya.

Lawan writer block, dan jangan menyerah dengannya.

BACA PULA:

Lihat Kembali Proses yang sudah Kamu Lakukan

Photo by Markus Winkler on Pexels.com

Ketika writer block melanda, lihat kembali seberapa jauh kamu telah melangkah. Dengan melihat, membaca dan me-review kembali apa saja yang sudah kamu lakukan, kamu akan menyadari bahwa kamu semakin dekat pada tujuan.

Bisa saja kamu telah menulis 10.000 kata, 30.000 kata atau bahkan 50.000, dan jika kamu memilih menyerah pada writer block ketika pencapaianmu sudah sedemikian signifikan, itu adalah satu hal yang sangat disayangkan.                                                                                                     

Melihat kembali proses yang sudah dilalui akan memberi kamu kekuatan untuk terus menulis.

Karyamu hampir saja selesai dituliskan, jangan menyerah oleh rintangan dan writer block yang datang menghadang.

Beri Jeda Sebelum Melakukan Editing

Photo by Pixabay on Pexels.com

Bagaimana cara menulis buku selanjutnya adalah dengan memberikan jeda sebelum kamu melakukan proses editing. Jeda ini bisa satu minggu atau dua minggu, atau tergantung kamu dalam menetapkan waktunya. Hal yang paling penting adalah, jeda ini mampu memberi kamu kesegaran dan relaksasi sejenak setelah menulis sepanjang waktu.

Di samping itu, dengan memberikan jeda antara penulisan draf pertama dan editing yang harus kamu lakukan selanjutnya, kamu memiliki kesempatan untuk sedikit merayakan keberhasilanmu.

Bagaimana pun juga, keberhasilan menyelesaikan naskah pertama bagaimana pun hasilnya, adalah kesuksesan pertama yang sudah selayaknya dirayakan oleh seorang penulis pemula. Selain itu, jeda ini juga akan membuat pikiranmu lebih fresh, lebih tenang dan lebih nyaman ketika melakukan editing nantinya.

BACA JUGA:

Tetapkan Budget Penerbitan Mandiri

Source: Business Khow-How

Hal yang paling saya sukai dalam menerbitkan buku saat ini adalah kamu tidak harus melakukannya melalui penerbit besar untuk mempublikasikan bukumu. Dengan berbagai pertimbangan, menerbitkan buku secara mandiri jauh lebih menyenangkan untuk dilakukan.

Nah, dalam penerbitan mandiri ini, kamu tentu saja harus memikirkan biayanya.

Beberapa penerbit indie mengharuskan penerbitan dalam jumlah tertentu, bisa 20 atau bahkan 50 eksemplar. Paket ini juga sebagian besar sudah dilengkapi dengan layanan ISBN, desain cover, dan layouting.

Setelah naskahmu selesai dan kamu anggap sudah siap terbit, maka kamu dapat memperhitungkan berapa biaya yang akan kamu siapkan untuk mempublikasikannya.

Cari Editor Profesional dan Proofreader Berpengalaman atau Lakukan Sendiri

Source: Fiverr

Secara pribadi, saya tidak pernah menggunakan editor profesional atau pun proofreader berpengalaman untuk semua buku-buku saya. Dengan segala keterbatasan, saya harus melakukan semua pekerjaan itu sendiri.

Namun seiring pengalaman dan jam terbang, semua proses menjadi semakin baik dan menyenangkan. Editing memang memerlukan upaya yang ekstra untuk bisa dilakukan, proofreading juga demikian.

Akan tetapi jika kamu memiliki cukup banyak bujet dan  ingin menghasilkan buku yang lebih bonafit, kamu bisa menggunakan jasa editor dan proofreader. Namun yang paling penting adalah, bagian ini tidak boleh menghalangi kamu untuk terus mem-publish bukumu meskipun bujet kamu sendiri terbatas.

YUK, BACA INI JUGA:

Terbitkan Bukumu

Source: Babyblog

Nah, ini adalah bagian yang paling mengasyikkan sekaligus juga menegangkan dalam proses menjadi seorang penulis. Menerbitkan buku hasil karya pertama kamu akan memberikan perasaan yang luar biasa. Kamu akan mendapatkan pengalaman dan sensasi tersendiri ketika melakukannya nanti.

Apa pun cara penerbitan yang kamu pilih, indie atau pun mayor, rasa deg-degan menunggu hasil cetakan bukumu adalah sesuatu luar biasa.

Kamu bisa saja masih akan menemui berbagai kesalahan setelah membaca buku kamu secara langsung nantinya. Kamu mungkin akan berkata; seharusnya covernya begini, penulisannya begini, atau kalimatnya begini. Namun, lupakan sejenak mengenai hal itu. Rayakan saja kesuksesanmu yang telah berhasil menerbitkan sebuah buku.

Dapatkan Feedback dan Review

Photo by fotografierende on Pexels.com

Selanjutnya setelah buku kamu jadi dan mulai didistribusikan kepada pembeli, mintalah kepada mereka untuk memberi kamu feedback atau sedikit review ringan.

Apa pun review yang mereka berikan, buka hati kamu selebar mungkin untuk menerimanya.

Pujian, saran, kritik, referensi dan semacamnya, adalah hal berharga utuk menyempurnakan tulisan-tulisan kamu selanjutnya.

Selanjutnya Bagaimana?

Source: Balloon One

Nah, itu adalah serangkaian langkah cara menulis buku yang sebenarnya dapat kamu pahami dengan mudah dan praktikkan. Dengan latihan dan konsistensi terus-menerus, kamu akan semakin mahir dan berpengalaman melakukannya.

Oh ya, jika kamu masih merasa mempraktikkannya, kamu bisa meminta bimbingan penulisan buku pada www.penulisgunung.id juga, lho. Caranya gampang, kamu hanya perlu menghubungi melalui form kontak yang telah disediakan.

Selamat mencoba!


Anton Sujarwo

Saya adalah seorang penulis buku, content writer, copywriters dan juga email marketer. Saya telah menulis 14 judul buku, fiksi dan non fiksi, dan ribuan artikel sejak pertengahan tahun 2018 hingga sekarang.

Dengan pengalaman yang saya miliki, Anda bisa mengajak saya untuk bekerjasama dan menghasilkan karya. Jangan ragu untuk menghubungi saya melalui email, form kontak atau  mendapatkan update tulisan saya dengan bergabung mengikuti blog ini bersama ribuan teman yang lainnya.

Tulisan saya yang lain dapat dibaca pula pada website;

Buat situs web atau blog di WordPress.com

Atas ↑