BUKU PUISI LUKA GILA MATI LARI; SELAMAT DATANG DALAM KOLEKSI

Akhir bulan September ini, saya akan merilis sebuah buku baru yang istimewa.

Ini sama sekali buku yang berbeda dalam barisan karya-karya saya, ini adalah buku puisi atau buku kumpulan sajak. Saya menulis buku ini dalam beberapa bulan terakhir dan memutuskan untuk merilisnya pada akhir bulan September tahun 2021 ini.

Saya memberi judul buku ini dengan empat kosakata terpisah yakni; Luka, Gila, Mati, Lari.

Ini adalah kata yang unik, seunik sejarah yang tersimpan dalam empat kata yang juga memiliki korelasi dengan kehidupan saya di pulau Sumatera.

Lantas, apa saja isi buku puisi ini dan apa hal menarik yang bisa saya bagikan?

Selayang Pandang Isi Buku Puisi Luka Gila Mati Lari

Photo by cottonbro on Pexels.com

Menulis puisi bukan keahlian terbaik saya. Itu adalah hal yang pertama yang perlu saya sampaikan.

Kemudian saya juga perlu mengatakan bahwa menulis buku puisi untuk pemula seperti yang saya lakukan ini, sebenarnya adalah langkah yang nekad. Saya pernah mengikuti penulisan puisi secara antologi, tapi itu tentu saja bukan modal yang cukup untuk dapat menulis buku puisi atas nama sendiri.

Tapi saya suka langkah yang berani.

Dan tidak ada salahnya pula dengan menulis sebuah buku puisi, kan?

Alasan lain adalah saya suka pada puisi, pada sajak, pada syair, atau pada susunan kata-kata indah yang dibuat oleh orang-orang dengan imajinasi tinggi. Tentu saja saya bukan bagian dari ‘komplotan penyair romantis Indonesia’, namun rasanya keinginan untuk menulis sebuah buku puisi bukan sesuatu yang berlebihan.

Mengapa Judulnya Luka Gila Mati Lari?

Photo by Lydia on Pexels.com

Judul buku puisi ini terinspirasi dari kejadian puluhan tahun lalu, bahkan ketika saya sendiri belum dilahirkan. Empat kosakata ini terlahir dari sebuah peristiwa sejarah dalam keluarga dimana saya terlahir dan dibesarkan.

Sebagian besar isi buku puisi ini berkisah tentang keberanian, tentang semangat, tekad, tentang renungan akan kematian, dan tentu saja juga tentang cinta. Hal menarik lain adalah, saya menyelipkan beberapa tulisan bebas saya dalam buku ini.

Oh ya, buku puisi ini juga menjadi buku kedua dimana saya menggunakan nama dari masa kecil saya. Buku sebelumnya yang berjudul Mimpi Di Mahameru, saya juga cantumkan nama ini di atas sampulnya.

Nah, sebagai intermezzo untuk para pembaca www.penulisgunung.id, berikut saya publish salah satu puisi yang juga menjadi judul dari buku ini.


Luka Gila Mati Lari

Ia yang terluka, membanjir darah
Ia yang gila, hilang tak tentu arah
Ia yang mati, terkapar tak peduli
Ia yang lari, pergi menyelamatkan diri.

Hancur sudah!
Binasa dalam pertarungan
Pertempuran rasa hormat kesombongan
Perkelahian dan persaingan.
Sengit!
Sengit!
Mempertahankan pendirian kemuliaan pandangan adat manusia.

Ia yang terluka, terkoyak, tercabik
Ia yang gila, meraung, tertawa, menangis
Ia yang mati, sendiri, sepi, gentayangan
Ia yang lari, terseok, jauh, kehilangan harga diri.

Sudah terlanjur!
Nasi sudah menjadi bubur.

Pisau dan badik telah ditusuk, membuat terluka
Derita dan ambisi telah dibaca, membuat gila
Penyakit dan tekanan telah tiba, membuat mati
Kabar yang hilang, tak ada gairah berjuang, membuat lari.

Luka, dalam, robek!
Gila, hilang akal, meracau dan memaki, menangis dan memelas
Mati, binasa, tak bersisa
Lari, tunggang langgang, tiada bertulang.

Aduhai semangat si anak Bujang
Lahir dari rahim sang Pejuang
Itu dengar seruan zirahmu
Bergemuruh dari pusaka ayah ibumu.

Dengarkan itu!

Luka! Luka! Luka!
Gila! Gila! Gila!
Mati! Mati! Mati!
Lari! Lari! Lari!

Dengarkan itu!
Tengadahkan wajahmu, pompa keberanian dalam jantungmu
Basuh lukamu dengan air penyembuh
Rawat akalmu dengan kasih teduh
Bangunkan kematianmu dengan peluh tanpa riuh.

Jangan lari, jangan lari!
Berlutut!
Bukan kepada-dia, kepada-ia  atau kepada-nya
Atau kepada adat, kepada riak, kepada hukum manusia.

Tapi berlutut!
Sesenguklah kamu!
Kepada Dia, Dia, Dia.

Dia yang membasuh lukamu
Dia yang mewaraskan akalmu
Dia yang menghidupkan matimu
Dan Dia, 
yang menghentikan langkah pengecutmu
Mengembalikan kamu lagi ke medan laga.

Luka akan sembuh
Gila akan pulih
Mati akan suci
Lari akan kembali

Engkau si anak Bujang.
Hanya perlu berlutut dalam munajat panjang.

Banjengan 05 Desember 2020

anton sujarwo

Anton Sujarwo

Saya adalah seorang penulis buku, content writer, ghost writer, copywriters dan juga email marketer. Saya telah menulis 14 judul buku, fiksi dan non fiksi, dan ribuan artikel sejak pertengahan tahun 2018 hingga sekarang.

Dengan pengalaman yang saya miliki, Anda bisa mengajak saya untuk bekerjasama dan menghasilkan karya. Jangan ragu untuk menghubungi saya melalui email, form kontak atau  mendapatkan update tulisan saya dengan bergabung mengikuti blog ini bersama ribuan teman yang lainnya.

Tulisan saya yang lain dapat dibaca pula pada website;

Saya juga dapat dihubungi melalui whatsapp di tautan ini.

Fortopolio beberapa penulisan saya dapat dilihat disini:


Satu respons untuk “BUKU PUISI LUKA GILA MATI LARI; SELAMAT DATANG DALAM KOLEKSI

Add yours

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog di WordPress.com

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: