FAJAR DARI LANGIT DAN PENGABDIAN MANUSIA UNTUK MANUSIA

“Bersama datangnya ilmu dan pemahaman, datang pula tanggung jawab untuk menyampaikan dan mengajarkan”

A Wan Bong

Ilmu dalam rentang sejarah dan kebudayaan mana pun, selalu menjadi pemantik bara kekuatan, kemajuan, kemakmuran dan nilai-nilai kemanusiaan. Ilmu dan akal karunia dari Tuhanlah yang mengubah peradaban manusia dari masa ke masa. Penerimaan yang komprehensif akan ilmu tidak akan membawa manusia kemana-mana kecuali kepada kesempurnaan manusia itu pula.

Tetapi ilmu tidak berguna ketika hanya bermuara hanya pada satu akal dan jiwa. Ilmu menjadi berguna ketika ia disebarkan dan disakralkan dalam praktik-praktik pengabdian yang nyata. Tanpa aplikasi yang jelas dalam berbagai bidang kehidupan manusia, ilmu tak lebih dari sekedar logika kaya yang hanya digunakan untuk senjata berperang kata-kata.

Lantas, apa sebenarnya makna ilmu pengetahuan dalam kehidupan manusia? Apa pula korelasinya antara ilmu pengetahuan dan pengabdian kepada Tuhan Yang Maha Esa? Kemudian bagaimana pengejawantahan terhadap semangat berbagi dan budi luhur manusia?

Mari kita simak pembahasan selengkapnya.

Ilmu Pengetahuan dan Maknanya dalam  Kehidupan Manusia

Photo by Kaushal Moradiya on Pexels.com

Sepanjang sejarah kehidupan manusia yang sudah dituliskan dan yang sedang berjalan sekarang, ilmu adalah kunci kemajuan sebuah peradaban. Manusia yang mendayagunakan akal mereka akan jauh lebih baik kondisinya, dibandingkan manusia yang hanya mengandalkan otot semata.

Catatan perjalanan hidup manusia telah menulis bahwa berkembangnya fase-fase kehidupan manusia selalu diawali dengan bertumbuhnya ilmu pengetahuan terlebih dulu. Kehadiran manusia-manusia yang penasaran dan penuh rasa ingin tahu, adalah trigger menuju eksplanasi banyak pertanyaan selanjutnya.

Ketika revolusi industri merebak di Eropa, itu sebenarnya bukan disebabkan oleh munculnya mesin uap karya cipta James Watt semata. Sebelum James merancang mesinnya sekali pun, kaum terpelajar telah mempersiapkan perubahan besar bagi cara pandang manusia terhadap peradaban dan perekonomian melalui ilmu dan rasa penasaran.

Ilmu pengetahuan dan pemahaman yang lebih baik dari para pemikir masa itu, digelontorkan pada masyarakat untuk direspon. Pada perkembangannya, respon inilah yang akan menentukan kemajuan tatanan kehidupan manusia.

Jadi, makna ilmu pengetahuan bagi manusia bukanlah sebatas memahami berbagai hal-hal secara logis semata. Namun  juga menyandarkan semua pengetahuan dan pemahaman itu sebagai sebuah awal untuk memperbaiki kehidupan masyarakat dan manusia juga sebagai orientasinya.

Pengabdian Kepada Tuhan dalam Aplikasi Ilmu Pengetahuan

Photo by Pixabay on Pexels.com

Manusia terpelajar sudah selayaknya mendayagunakan akal pikiran mereka untuk belajar dan mencari tahu banyak hal. Akal adalah perbedaan terbesar manusia dengan binatang. Guna  mensyukuri nikmat yang besar, menjadi wajib bagi manusia untuk mempergunakan akalnya sebaik mungkin sebagai perwujudan abdi kepada Tuhan.

Ketika manusia dianugrahi kemampuan untuk berpikir lebih baik dibandingkan manusia yang lainnya, itu tidak terjadi dengan sendirinya. Bersama datangnya kekuataan manusia dalam bentuk pikiran dan akal yang sempurna, datang pula tanggung jawab besar yang mesti ditunaikan didalamnya.

Mungkin itu pula yang diselenggarakan oleh sesanti Universitas Katolik Parahyangan yang termaktub dalam kalimat Bakuning Hyang Mrih Guna Santyaya Bhakti. Kalimat ini merupakan penjelmaan konkret dari upaya pengabdian kepada tuhan melalui ilmu atau berdasarkan ketuhanan, menuntut ilmu guna dibaktikan kepada masyarakat.

Akan tetapi prinsip ini terlalu luas jika harus dimaknai sebagai milik satu golongan semata. Pengabdian kepada Tuhan dalam bentuk menyebarluaskan ilmu dan pengetahuan, ada dalam ajaran yang universal, eksis dalam berbagai lintas keyakinan dan kebudayaan. Manusia ketika mereka mampu berpikir, menjadi wajib bagi mereka untuk mengolah pikiran itu bagi maslahat dan manfaat manusia.

Ketika kaum pertapa memahami pengabdian mereka pada Tuhan dalam bentuk penyendirian yang luhur. Kaum ksatria mengaplikasikannya dalam bentuk pengabdikan kekuatan tenaga. Kaum kaya mengejawantahkannya dengan praktik berbagi kepada sesama. Maka kaum intelektual, kaum pemikir yang berjibaku dengan analisa dan logika, mengabdikan diri mereka melalui berpikir, beranalisa, kemudian memberi manfaat untuk kebaikan peradaban manusia.

Praktik Nyata Semangat Berbagi Pengetahuan dan Budi Luhur Manusia

Photo by Ihsan Adityawarman on Pexels.com

Kekuatan dan kelebihan tidak datang dengan cuma-cuma, akan selalu ada maksud mulia yang terbentang di belakangnya. Ilmu menjadi tidak sempurna nilainya jika hanya dimiliki hanya untuk diri sendiri dan individual semata.

Ilmu menjadi kosong tanpa nilai jika kehadirannya hanya dalam satu logika individu, hanya ia gunakan untuk kebaikannya dirinya sendiri. Masyarakat dari mana pun cara memandangnya, adalah bagian tak terpisahkan dari sebuah objek untuk menyelaraskan ilmu dan pengetahuan.

Sebagai akademisi, mengabdi kepada masyarakat adalah bagian dari Tri Dharma yang tidak dapat dileraikan. Intelektualitas sejati tidak dapat lahir tanpa pengabdian dan bakti bagi orang banyak. Ketika kepintaran manusia hanya bermanfaat untuk dirinya sendiri, atau segolongan kecil dari bagiannya saja, ia tidak dapat disebut sebagai akademisi yang sejati. Antara anugrah menuntut ilmu dan mengabdikannya kepada masyarakat, adalah Tuhan yang menjadi titik sentralnya.

Budi luhur manusia terbentuk dalam pondasi pengertian bahwa apa yang ia lakukan senantiasa haruslah membawa kebaikan pada masyarakat luas. Tanggung jawab ini tidak dibebankan untuk orang-orang lemah yang hanya memikirkan diri mereka sendiri. Berbagi dan berbakti pada masyarakat dalam konteks ilmu, pemahaman, pengertian dan pemikiran adalah bagian kunci dari sifat manusia. Sifat ini adalah perwujudan dari sebuah bentuk keyakinan tinggi kepada Tuhan dan karunia-Nya untuk mayapada.

Pertanyaannya kemudian adalah; Apa saja yang bisa dilakukan seorang akademisi, intelektual atau kaum pemikir dan terpelajar untuk menjadi representasi pengabdian kepada Tuhan dalam praktik bakti kepada masyarakat?

Photo by Taryn Elliott on Pexels.com

Di masa pandemi, wujud bakti pengabdian masyarakat senantiasa harus mematuhi protokol kesehatan. Namun, ini sama sekali bukan sebuah halangan bagi orang yang dianugrahi pendidikan lebih baik untuk tetap mengadu bhakti. Peran internet dapat dioptimalkan dengan menyelenggaran pengembangan pendidikan dan pengajaran yang dapat dibuat formatnya dalam bentuk visual mau pun audio visual.

Pada masa yang normal, konteks pengabdian ini tentu memiliki spektrum untuk bisa dikembangkan lebih banyak lagi. Mereka yang dianugrahi pikiran dan penelaahan oleh Tuhan dapat mengimplementasikan ilmu itu di masyarakat dalam berbagai bentuk dan bidang.

Bakti dalam bidang ekonomi dapat menumbuhkan kesejahteraan dan kemakmuran rakyat. Bakti dalam bidang pendidikan dapat menumbuhkan kesejahteraan dan kebijaksanaan dalam berpikir. Bakti dalam bidang kebudayaan dapat menumbuhkan rasa cinta tanah air, patriotisme dan juga nasionalisme. Bakti dalam bidang sosial dapat menumbuhkan kepedulian akan sesama dan rasa cinta yang besar sebagai sesama bangsa Indonesia.

Prinsipnya adalah; ketika Bakuning Hyang Mrih Guna Santyaya Bhakti telah menjadi bagian penting dalam tujuan belajar dan menuntut ilmu, manusia akan mencapai derajat kemanusiaan tertingginya. Terlepas dari keyakinan apa pun yang mendorong mereka untuk berbakti dan mengabdi tersebut.

Fajar Dari Langit

Photo by Pixabay on Pexels.com

Ilmu adalah sang fajar tunggal dari langit, membias di antara imajinasi dan intuisi para pemikir, memandikan kepada harap dan cinta dalam tulus pengabdian kepada Tuhan

A Wan Bong

Menuntut ilmu dan mendayagunakan akal pikiran adalah fitrah tertinggi bagi manusia. Manusia akan mencapai derajat yang sama seperti binatang jika ia tidak menggunakan akalnya. Puncak dari ekssitensi kemanusiaan ini, dicapai tidak ketika manusia mampu mencapai apa yang lebih baik untuk dirinya sendiri. Namun, ketika ia bisa mencapai apa pula yang terbaik bagi orang lain.

Puncak kemanusiaan tercapai ketika manusia mampu memberi manfaat kepada manusia lainnya. Puncak pengabdian kepada Tuhan menjadi paripurna ketika manusia telah mampu pula mendedikasikan pikiran dan ilmu yang dianugrahkan kepadanya oleh Sang Pencipta.

Bakuning Hyang Mrih Guna Santyaya Bhakti adalah motto manusia, adalah sang fajar tunggal yang bersinar dari langit, ditangkap oleh jendela-jendela bermacam warna dari akal para pembelajar, untuk diteruskan kepada kebaikan dan manfaat bagi manusia.

Menuntut ilmu, mempelajarinya dengan sungguh-sungguh, kemudian menyebarkan manfaatnya bagi umat manusia merupakan esensi tugas manusia pemikir yang sebenarnya. Dari warna kaca jendela mana pun ia berasal, untuk masyarakat mana pun ia berbakti, Bakuning Hyang Mrih Guna Santyaya Bhakti adalah nilai-nilai mulia para pemikir yang sejati.

Ia pada cara pandang yang lebih menarik, adalah seberkas fajar tunggal dari langit.

Manusia boleh menerimanya dengan cara yang berbeda, tapi ia hakikatnya adalah sama, ia adalah pengabdian insan kepada Tuhan, dalam lingkup kemuliaan dari manusia untuk manusia.

***


#blogUnparPengabdian


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog di WordPress.com

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: