INI 8 JENIS CERITA FANTASI PALING UMUM DALAM MENULIS NOVEL

Genre fantasi mungkin adalah salah satu jenis fiksi yang paling banyak turunannya. Setidaknya dikenal 8 jenis cerita fantasi yang paling umum dalam penulisan fiksi. Beberapa di antara jenis ini sangat umum dikenal di Indonesia, namun beberapa jenis yang lain mungkin agak sedikit asing untuk didengar.

Nah dalam artikel ini, saya akan mengajak kamu mengenal keseluruhannya.

Jadi, apa saja jenis cerita fantasi tersebut?

Yuk, berikut penjelasan lengkapnya.

8 Jenis Cerita Fantasi yang Paling Umum Dipilih Dalam Menulis Novel

Photo by nordsu00f8en on Pexels.com

Sebenarnya fiksi fantasi sendiri adalah sebuah genre yang mandiri. Fiksi ini lebih sering diartikan sebagai sebuah karya sastra yang terkait erat dengan dunia khayal murni dan tidak mungkin terjadi di dunia nyata. Termasuk dalam contoh cerita fantasi misalnya adalah tentang supranatural seperti peri, penyihir, kurcaci, naga dan lain sebagainya.

Meskipun fiksi cerita fantasi adalah jenis karya sastra yang berdiri sendiri dengan keunikannya, namun jenis ini memiliki cukup banyak sub-genre. Dalam pengertian yang lebih sederhana, sub-genre adalah turunan dari cerita fiksi fantasi itu sendiri.

Nah, kali ini saja akan mengajak kamu untuk mengenal sub-genre tersebut.

Perbedaan jenis cerita fantasi berdasarkan alur cerita mungkin ada beberapa, namun yang paling umum dikenal adalah; Fantasi epik, fantasi rendah, realistis magic, pedang dan sihir, dark fantasy, fabel, dongeng dan fantasi superhero.

Sekarang, mari kita bahas satu persatu.

BACA JUGA:

Cerita Fantasi Tinggi atau Fantasi Epik

Photo by Kjetil Hope on Pexels.com

Fantasi tinggi atau fantasi epik adalah jenis fantasi skala besar yang memiliki plot, aturan, dan hukumnya sendiri. Ciri-ciri cerita fantasi jenis ini adalah keseluruhan elemen cerita seolah memiliki dunianya sendiri dan sama sekali berbeda dengan dunia nyata.

Alur cerita fantasi epik biasanya berpusat pada satu pahlawan yang berkembang sepanjang cerita. Di samping satu pahlwan, cerita fantasi epik kadang juga memfokuskan alur cerita pada sekelompok pahlawan yang juga berkembang dengan baik sepanjang cerita.

Contoh cerita fantasi yang masuk dalam kategori fantasi epik adalah karya dari J.R.R. Tolkien seperti The Lord of the Ring, The Hobbit, atau pun Narnia.

Kamu tentunya dapat memperhatikan bagaiman tokoh utama cerita seperti Frodo dan teman-temannya (The Lord of the Ring) atau Bilbo Baggins dan teman-temannya (The Hobbit) yang karakter mereka berkembang dengan sangat baik dari awal hingga akhir cerita.

Cerita Fantasi Rendah atau Low Fantasy

Photo by Skully MBa on Pexels.com

Jenis cerita fantasi satu ini adalah kebalikan dari jenis fantasi epik atau fantasi tinggi. Dalam Low Fantasy semua setting dan latar belakang cerita terjadi di dunia nyata atau dalam kehidupan realistis pada umumnya.

Namun dalam cerita kemudian ada sebuah ada unsur magic atau supranatural yang membuat karakter cerita sendiri menjadi kaget.

Contoh cerita fantasi jenis ini dapat kamu temukan misalnya adalam film Night in the Museum dimana beberapa patung lilin dalam museum menjadi hidup dan mampu berkomunikasi.

Cerita Fantasi Realistis magic

Photo by Zeke Nesher on Pexels.com

Jenis cerita fantasi berdasarkan kesesuaiannya dalam kehidupan nyata ada dua kategori yaitu Low Fantasy dan realistic magis. Perbedaannya adalah; jika dalam Low Fantasy, magis akan membuat karakter atau tokoh cerita menjadi terkejut, maka dalam fantasi realistis, magis justru sebaliknya dimana beberapa bagian dunia supranatural dianggap sebagai sesuatu yang normal dan umum.

Jadi secera sederhana, unsur-unsur cerita fantasi yang termasuk dalam lingkup fiksi fantasi realistic magic adalah keberadaan unsur-unsur supranatural dalam kehidupan karakter yang sudah dianggap sebagai sesuatu yang biasa.

Contoh yang bisa kamu lihat misalnya sebuah cerita dimana kemampuan untuk telekinesis, terbang, atau apa pun itu yang dianggap sebagai bagian dari kehidupan normal cerita.

Cerita Fantasi Pedang dan Sihir

Photo by Bakr Magrabi on Pexels.com

Apakah kamu pernah mendengar sebuah cerita fantasi yang sangat menarik tentang seorang ksatria barbar dengan pedang besarnya bernama Conan dari Cimmeria?

Pada dasarnya, fiksi fantasi pedang dan sihir adalah bagian dari fiksi epik atau fiksi tinggi. Disebut sebagai fiksi epik karena pada umumnya cerita fantasi dengan pedang dan sihir juga memiliki dunia mereka sendiri dengan setting masa lalu. Namun demikian, kehidupan tokoh cerita dan setting mungkin saja dapat terjadi dalam kehidupan nyata.

Jenis cerita fantasi berdasarkan latar cerita pada pedang dan sihir tentu saja identik dengan kekuatan pedang. Pahlawan yang hadir dalam cerita ini menggunakan senjata utama seperti pedang, tombak, panah, atau semacam itu.

Contoh cerita fantasi jenis ini selain Conan Saga dari Cimmeria, juga dapat kamu temukan misalnya dalam kisah epik Hercules, Xena atau pun Red Sonja.

Cerita Fantasi Gelap atau Dark fantasy

Photo by cottonbro on Pexels.com

Jenis cerita fantasi selanjutnya adalah salah satu jenis cerita fantasi yang mungkin paling banyak penggemarnya. Dark fantasy atau fantasi gelap adalan jenis cerita fantasi yang menggabungkan antara unsur fantasi dan juga horor. Tujuan dari jenis cerita fantasi gelap adalah memberikan efek takut kepada pembaca.

Beberapa jenis tema makhluk yang cukup populer dalam penulisan cerita fantasi gelap misalnya adalah tentang raksasa, tentang monster dari alam lain, dan lain sebagainya.

Contoh yang paling populer mengenai cerita fantasi jenis ini misalnya adalah Drakula, Vampir, Zombie, Alien dan sejenisnya.

Cerita Fantasi Jenis Fabel

Photo by Ellie Burgin on Pexels.com

Fabel adalah salah satu cerita fantasi yang populer karena ditulis sebagai cara untuk memberikan pelajaran yang universal. Tujuan utama dari penulisan fabel adalah untuk memberikan pelajaran moral kepada pembacanya mengenai suatu objek atau nilai.

Ciri lain dari fabel adalah cerita ini menggunakan perumpamaan dalam membangun karakternya. Pada banyak fabel, tokoh cerita biasanya adalah binatang, hewan, bintang, pepohonan, dan lain sebagainya.

Jika kamu pernah mendengar dongeng tentang Kancil dan Buaya, Batu Badaong dan sejenisnya, maka itu adalah beberapa contoh fabel yang paling umum.

Cerita Fantasi Jenis Dongeng

Nah ini menarik, bagaimana antara cerita fantasi jenis dongeng dan fabel memiliki kemiripan yang cukup identik. Cerita ini sama-sama bertujuan untuk memberikan pesan moral kepada pembacanya.

Lalu apa yang membedakan jenis cerita fiksi fantasi dongeng dengan fabel?

Pembeda yang paling mudah adalah bahwa dongeng pada umumnya dibuat khusus untuk anak-anak sementara fabel lebih universal. Dalam dongeng kamu mungkin akan sering menemukan permulaan cerita yang menggunakan keterangan awal waktu yang klasik seperti; Pada zaman dahulu, dahlu kala, suatu hari, dan lain semacamnya.

Dalam hal urusan penyampaian pesan moral, jenis cerita fantasi ada dua yaitu fabel dan dongeng. Ini adalah jenis yang paling umum.

Karakter yang banyak muncul dalam cerita dongeng ini misalnya tentang naga, penyihir, puteri duyung, dan lain sebagainya.

Cerita Fantasi Pahlawan Super

Photo by RODNAE Productions on Pexels.com

Jenis cerita fantasi yang terakhir adalah superhero fantasy atau fiksi fantasi pahlawan super. Namun, jangan kamu bayangkan bahwa yang dimaksud fiksi fantasi satu ini seperti halnya Batman, Spiderman, Supeman atau sejenisnya. Fiksi fantasi pahlawan super berbeda dengan cerita semacam itu.

Jika tokoh superhero seperti Batman dan Captain Amerika mendapatkan kekuatan mereka melalui proses ilmiah, maka dalam fantasi superhero ini kekuatannya datang dari dunia supranatural.

BACA JUGA:

Tertarik Menjadi Penulis?

Kamu dapat mengikuti kelas menulis online Penulis Gunung Id untuk melatih kemampuan menulismu. Pilih jenis penulisan yang paling kamu minati dan bergabunglah dalam kelas menulis yang akan mendorongmu untuk berkarya.


anton sujarwo

Anton Sujarwo

Saya adalah seorang penulis buku, content writer, ghost writer, copywriters dan juga email marketer. Saya telah menulis 15 judul buku, fiksi dan non fiksi, dan ribuan artikel sejak pertengahan tahun 2018 hingga sekarang.

Dengan pengalaman yang saya miliki, Anda bisa mengajak saya untuk bekerjasama dan menghasilkan karya. Jangan ragu untuk menghubungi saya melalui email, form kontak atau  mendapatkan update tulisan saya dengan bergabung mengikuti blog ini bersama ribuan teman yang lainnya.

Tulisan saya yang lain dapat dibaca pula pada website;

Saya juga dapat dihubungi melalui whatsapp di tautan ini.

Fortopolio beberapa penulisan saya dapat dilihat disini:


10 TIPS JITU CARA MENULIS CERITA FANTASI LENGKAP DENGAN CONTOHNYA

Sebelumnya, saya telah menulis 15 contoh cerita fantasi yang bisa kamu gunakan sebagai template ide untuk menulis cerita serupa. Kali ini saya akan melengkapi artikel tersebut dengan mengajak kamu mengenal 10 tips paling jitu cara menulis cerita fantasi.

Jenis cerita fantasi adalah jenis cerita fiksi yang banyak digemari sepanjang masa. Khayalan murni yang menjadi ciri khas cerita fantasi memberi banyak cakrawala bagi pembaca untuk berimajinasi. Cerita fantasi yang bagus, bahkan memiliki ikatan lebih kuat daripada cerita nyata pada pembacanya.

Nah, apa sebenarnya yang dimaksud dengan cerita fantasi dan bagaimana cara menuliskannya?

Saya akan mencoba mengajak kamu untuk menjelajahinya lebih jauh dalam artikel kali ini.

Jadi, pastikan kamu membacanya sampai habis, ya.

Pengertian Cerita Fantasi

Photo by Antonio Friedemann on Pexels.com

“Tidak peduli seberapa aneh dan menentang hukum ilmiah cerita fantasi yang kamu tuliskan, bagi pembaca ini harus terlihat seperti sebuah kenyataan”

A Wan Bong

Lalu, apa sebenarnya yang dimaksud dengan cerita fantasi itu?

Cerita fantasi adalah satu genre sastra yang menampilkan unsur magis, supranatural dan keajaiban yang sama sekali berbeda dengan dunia nyata. Beberapa definisi cerita fantasi juga tertarik untuk memberikan pengertian dari genre ini sebagai satu jenis karya fiksi khayalan murni yang artinya tidak akan pernah terjadi dalam dunia nyata.

Walaupun khayalan murni, beberapa penulis ada pula yang mengkombinasikan antara setting dunia nyata dengan unsur-unsur fantastis dan imajiner murni. Namun secara umum, pada banyak contoh cerita fantasi ditemukan logika fisik, hukum dan aturan mereka sendiri. Ini bisa saja sepenuhnya imajiner.

Akan tetapi, tidak perduli seberapa aneh dan khayal cerita yang kamu tulis, bagi pembaca ini harus terlihat sebagai sesuatu nyata.

Walaupun Cerita fantasi dongeng atau apa pun sebutannya yang melampaui logika ilmiah dan tidak terikat dengan fakta-fakta yang ada. Namun, motivasi dan dorongan yang ada dalam cerita fantasi tersebut umumnya sangat manusiawi.

Pada masa abad ke-20, beberapa tema yang paling banyak diangkat dalam genre cerita fiksi fantasi misalnya adalah peri, penyihir, centaur, goblin, troll, kurcaci dan lain sebagainya. Kamu bisa melihat perwujudan contoh cerita fantasi tentang alam khayal yang menarik misalnya dalam film The Lord Of the Ring, Narnia, atau pun The Hobbit.

BACA JUGA:

Beberapa Contoh Cerita Fantasi yang Populer

Ada banyak sekali karya cerita fantasi yang sudah sangat populer di dunia. Baik ia yang ditulis hanya dalam bentuk buku saja atau pun yang sudah diadaptasikan dalam film dan serial televisi.

Beberapa contoh cerita fantasi yang sudah sangat terkenal dan telah dibuat pula versi film misalnya adalah sebagai berikut;

  • The Hobbit karya J.R.R. Tolkien yang dirilis tahun 1937.
  • The Lord of the Ring karya J.R.R. Tolkien, rilis antara 1954 – 1955
  • The Golden Compass karya Philip Pullman tahun 1995
  • Harry Potter karya J.K. Rowling tahun 1997
  • Alice in Wonderland karya Lewis Carroll tahun 1865
  • A Game of Thrones karya George R. R. Martin tahun 1996.

Dapat kamu lihat pada contoh-contoh di atas bahwa karya fiksi fantasi adalah juga novel-novel yang mungkin paling laris di dunia, kan?

Artinya apa?

Arti optimisnya adalah jika kamu bisa membuat sebuah cerita fantasi dengan kualitas seperti Harry Potter, The Lord of the Ring atau Game of Thrones, kamu mungkin akan menciptakan sebuah legenda kehidupan baru yang sangat luar biasa.

Jadi, mari saya ajak kamu untuk mempelajari caranya.

10 Tips Ampuh Membuat Cerita Fantasi

Apakah kamu berniat membuat cerita fiksi yang pendek seperti cerpen atau bahkan novel dengan tebal 500 halaman sekali pun, tips-tips berikut ini akan membantu kamu melakukannya dengan lebih mudah, lebih efektif dan lebih efisien.

Nah, apa saja tipsnya?

Yuk, kita lihat satu persatu.

Membaca dan Membaca

Source: Unsplash

Ingatlah sebuah ungkapan yang mengatakan bahwa kamu hanya bisa menulis sebaik kamu membaca. Semakin banyak yang kamu baca, semakin jauh kamu memahami bacaannya, maka akan semakin bagus pula tulisan yang kamu hasilkan kemudian.

Hal ini juga berlaku dalam penulisan cerita fantasi fiksi.

Sebelum kamu terjun dan mulai menulis struktur cerita fantasi milikmu sendiri, pikirkan untuk membaca karya fiksi fantasi yang orang lain tulis lebih dulu. Ini tidak hanya akan menambah pengetahuan dan wawasanmu mengenau sebuah cerita fantasi. Akan tetapi lebih jauh, membaca karya cerita fantasi milik orang lain juga akan membantu kamu untuk mampu menghasilkan karya yang lebih baik.

Kamu dapat melihat bagaimana penulis fantasi menghadirkan tokoh-tokohnya, memperkenalkan latar belakang mereka, atau mungkin menjelaskan latar cerita yang sangat imajiner bahkan untuk dibayangkan sekali pun.

Perhatikan semua detail semacam itu sebagai referensi penulisan cerita fantasi yang kamu lakukan.

Intinya pada langkah yang pertama ini adalah kamu belajar navigasi penulisan cerita fantasi berdasarkan bacaan fantasi yang dapat kamu baca sebanyak mungkin.

Pastikan Siapa Pembaca Targetmu

Photo by Monstera on Pexels.com

Antara fiksi fantasi untuk anak kecil, remaja dan dewasa, tentu saja memiliki banyak detail yang berbeda. Nah, pastikan dalam langkah kedua ini kamu mengenal dan menetapkan siapa pembaca yang akan kamu jadikan terget cerita fantasi yang kamu tulis.

Jika misalnya kamu melihat contoh cerita fantasi 4 paragraf atau yang sejenis itu, maka tentu saja itu adalah targetnya anak-anak. Cerita fantasi anak menuntut penjabaran alam imajiner yang lebih sederhana, lebih mudah dinalar, topik yang menarik untuk dunia anak-anak, dan tentu saja tidak terlampau panjang.

Kemudian jika kamu memilih target pembacamu adalah remaja, maka contoh cerita fiksi singkat 3 paragraf dan sejenisnya sudah tidak cocok. Remaja membutuhkan tingkat rangsangan imajiner yang lebih tinggi daripada pembaca anak-anak. Sementara itu, mereka juga belum bisa mencapai alam fantasi yang lebih berat seperti orang dewasa.

Lantas, bagaimana dengan pembaca dewasa?

Nah, jika ceritamu adalah fantasi berat dan epik dengan konflik yang hanya dapat dibayangkan oleh dewasa, maka target pembacamu adalah orang dewasa.

Kamu lebih bebas bereksplorasi di bagian ini. Orang dewasa memang jauh lebih kritis, dan mereka tentu jauh lebih mudah memahami esensi imajiner dari sebuah fiksi fantasi. Meskipun harus diakui kadang-kadang, imajinasi dan fantasi anak kecil kadang jauh lebih bekerja daripada orang dewasa.

Mulai dari yang Kecil

Source: Unsplash

Tahukah kamu sebelum J.R.R. Tolkien menulis cerita fantasi The Hobbit yang hebat itu, ia terlebih dahulu menulis beberapa kisah pendek tentang Middle Earth atau Dunia Tengah yang menjadi latar The Hobbit?

Mengapa ia melakukannya?

Tentu saja untuk melatih dirinya dan membiasakan cerita itu dalam penulisan yang ia lakukan.

Membangun dunia fantasi tidak semudah ketika kamu bercerita pengalaman liburan. Fantasi membutuhkan cara bercerita, penyesuaian, dan adaptasi yang jauh lebih kompleks. Cerita fantasi beserta strukturnya bahkan kadang sulit dipahami oleh penulisnya sendiri jika tidak dibiasakan.

Oleh karena itu ambillah contoh dari J.R.R. Tolkien ini dalam menulis kisah fantasimu dalam bentuk novel yang panjang dan berat. Mulailah dari kecil dahulu dan biasakan dirimu akan hal tersebut.

BACA JUGA:

Masuk ke Dunia Besar

Photo by Ferdinand Studio on Pexels.com

Setelah kamu terbiasa dengan beberapa kisah kecil yang merupakan bagian-bagian dalam karya fantasimu yang lebih utuh, sekarang adalah saatnya untuk membuat skenario fantasi yang lebih besar.

Alam cerita fantasi adalah alam yang lebih luas, kompleks, rumit dan membutuhkan usaha keras untuk dapat dipahami. Kamu tidak hanya akan ‘dipaksa’ untuk membayangkan tentang tokoh atau karakter cerita. setting dan konfliknya semata.

Namun dalam cerita fantasi yang lebih sempurna, kamu juga harus mampu menyusun dunia baru baik itu geografi, adat-istiadat, sejarah atau pun budayanya sendiri. Menyusun kotak-kotak fantasi seperti ini akan lebih mudah jika kamu mempraktikkan menulis cerita fantasi pendek tentang alam khayal tersebut pada langkah sebelumnya.

Jadi, bayangkan bagaimana sebuah iklim fantasi, geografi, gunung-gunungnya, musim-musimnya, dan segala sesuatu yang membangun sebuah cerita fantasi yang akan menjadi dunia baru dalam novel fantasimu nantinya.

Kemudian susunlah kepingan-kepingan itu menjadi dunia fantasi yang lebih besar dan lengkap.

Tentukan Sudut Pandang yang Tepat

Photo by Unsplash

Langkah selanjutnya dalam menulis cerita fantasi adalah dengan memilih sudut pandang yang paling tepat. Efektifitas ciri orientasi pada cerita fantasi adalah satu hal yang berkaitan erat dengan sudut pandang. Apakah kamu akan menggunakan sudut pandang orang ketiga serbatahu, ataukah kamu ingin menggunakan sudut pandang orang pertama yang banyak tahu. Itu adalah pertimbangan yang harus kamu pikirkan.

Jika kamu memilih sudut pandang orang ketiga serba tahu, kamu akan berubah menjadi narator yang menggambarkan keseluruhan fantasi imajiner untuk dibayangkan oleh pembaca. Akan tetapi jika kamu memilih sudut pandang orang pertama, maka kamu juga memiliki kesempatan untuk mengundang pembaca bertualang dalam dunia fantasi melalui sudut pandang yang kamu hadirkan.

Mana yang terbaik di antara dua sudut pandang tersebut?

Tidak ada anjuran khusus mengenai sudut pandang paling sempurna dalam cerita fantasi seperti ini. Hal yang bisa menjadi pertimbangan kamu adalah sejauh mana kamu bisa mengeksplorasi alam imajinasi atau fantasi melalui sudut pandang tersebut.

Baik ia sudut pandang orang pertama atau orang ketiga tidak akan menjadi masalah selama kamu dapat menghadirkan cerita fantasi total yang terasa nyata dalam imajinasi para pembaca.

Ciptakan Karakter Fantasimu

Photo by Anna Kester on Pexels.com

“Dalam cerita fantasi, kehebatan penulis dibatasi oleh kemampuan imajinasinya sendiri”

A Wan Bong

Mantra pertama yang akan membuatmu lebih bebas dalam menciptakan karakter dalam dunia fantasi adalah karena ini bukan dunia nyata. Oleh karena itu lupakan batasan karakter cerita yang rumit, kompleks dan penuh dengan kekurangan. Dalam cerita fantasi bersifat khayal murni, kamu bisa ‘menabrak’ segalanya.

Dibandingkan membuat daftar tokoh protagonis, antagonis dan tritagonis yang rumit, mengapa tidak membuat sketsa yang lebih bebas?

Apakah kamu ingin membuat karakter utama cerita fantasimu adalah seekor peri dengan sayap selebar elang, mahkota berkilauan, bersenjatakan harpa mutiara atau pedang dari batuan bintang, semua terserah padamu. Sekali lagi, ini adalah fantasi. Hanya batasan imajinasimu sendiri yang mampu membatasi kemampuan karakter fantasimu.

Sebagai cara untuk mempermudah gambaran karaktermu, coba bayangkan karakter Gollum dalam The Lord of the Rings, karakter Narnia, karakter Harry Potter dan lain sebagainya.

Pacu imajinasimu untuk menciptakan karakter-karakter super kreatif dan melampai hukum ilmiah semacam itu.

BACA JUGA:

Buatlah Outline

Photo by Oleg Magni on Pexels.com

Dalam menulis novel, dikenal dua istilah untuk penulis yang paling umum. Istilah pertama adalah plotter dan istilah kedua adalah pantser. Kedua istilah ini digunakan sama-sama untuk menjelaskan sikap seorang penulis terkait penggunaan outline novel atau kerangka cerita.

Untuk para penulis yang menggunakan outline atau kerangka cerita dalam penulisan mereka, mereka disebut dengan plotter. Sementara untuk para penulis yang tidak menggunakan kerangka dalam menulis, mereka disebut sebagai pantser. Penulis seperti ini benar-benar seperti sebuah ungkapan yang mengatakan bahwa mereka menulis seperti air yang mengalir.

Pada dasarnya baik genre jenis apa pun yang dipilih, plotter dan pantser sama-sama menarik dan semuanya memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing.

Namun untuk kamu yang baru pertamakali menulis novel, sebaiknya kamu memilih menggunakan kerangka terlebih dahulu. Cara kerja plotter akan lebih mudah untuk kamu ikuti dibandingkan pantser. Lebih-lebih karena novel yang kamu tulis adalah fantasi, sebuah rangkaian cerita khayalan yang harus terasa realistis.

Dengan outline, kamu dapat memastikan bahwa tidak akan ada plot yang terlewat. Di sisi lain dalam penulisan cerita fantasi irisan, outline juga akan membantu kamu ketika misalnya merasa kehilangan ide selama proses penulisan berlangsung.

Hadirkan Aroma yang Nyata

Photo by Unsplash

Tugas paling besar dari penulis cerita fiksi fantasi adalah membuat dunia khayal mereka terasa nyata bagi pembaca. Nah, hal ini tentu saja tidak semudah membalikkan telapak tangan, bukan?

Lantas bagaimana caranya supaya kamu dapat mengupayakan bahwa imajinasi yang kamu tuangkan dalam cerita fantasi dapat terasa nyata bagi pembaca?

Salah satu cara yang terbukti efektif untuk menghadirkan aroma realistis dalam cerita fantasi yang murni khayal adalah dengan menelusuri beberapa detail dalam kehidupan nyata. Setelah kamu mendapatkan detailnya, kamu dapat menaplikasikannya sebagai bagian dari eksposisi setting, karakter, dialog atau plot dalam cerita fantasi.

Contohnya begini;

ketika kamu memutuskan untuk memasukkan dunia politik dan ekonomi dalam fantasimu, maka pikirkan pula akar masalahnya. Jika kamu mengajukan pertanyaan; mengapa orang-orang saling membunuh untuk kekuasaan? Mengapa kekuasaan dan kekayaan dapat menjadi motivasi orang melakukan kejahatan? Dan lain sebagainya.

Jadi meskipun tokoh fantasimu adalah total fiksi khayalan, pastikan masalahnya dan dorongan yang menggerakan mereka adalah sesuatu yang nyata dan realistis. Dengan cara itu pembaca akan lebih mudah merasakan unsur kenyataannya.

Tulis Dialog yang Otentik

Photo by Unsplash

Tips selanjutnya dalam menulis cerita fantasi yang menarik adalah dengan memasukkan dialog yang otentik. Ingatlah pula bahwa karakter yang kamu gunakan adalah khayalan dan tidak eksis  di dunia nyata. Jadi pastikan kamu menggunakan dialog yang tepat untuk mereka.

Pertimbangkan pula bahwah tokoh cerita fantasimu berdialog dengan pengaruh latar belakang mereka, setting dan budaya mereka, jadi ini bisa saja sangat berbeda dengan dialog manusia.

Meskipun demikian, jangan pula membiarkan terlalu banyak kalimat eksposisi dalam dialog hanya sebagai cara untuk menyampaikan ide imajinermu kepada pembaca. Biarkan semuanya otentik, mengalir dengan alami dan tanpa perlu dipaksakan.

Kamu dapat menambahkan kalimat eksposisi dalam dialog jika memang hal itu dibutuhkan. Namun jika tidak perlu, jangan memaksakannya. Tetap lakukan saja dialognya dengan otentik.

BACA PULA:

Biarkan Cerita Fantasimu Mengalir

Photo by Mathias P.R. Reding on Pexels.com

Tips terakhir untuk kamu yang menulis cerita fantasi adalah dengan memastikan ceritamu mengalir secara natural. Ini memang adalah alam fantasi atau khayalan semata, namun dalam menuliskannya, kamu tetap harus mempertahankan gaya bercerita yang alami.

Alam dunia fantasi yang sudah kamu buat tentu membuat kamu ingin menceritakan segalanya kepada pembaca secepat mungkin. Kamu mungkin saja tergoda untuk memperkenalkan semua karaktermu kepada pembaca pada awal cerita.

Tapi tipsnya tidak demikian.

Pastikan alur cerita mengalir dengan natural. Jangan memaksakan untuk memperkenalkan semua setting, tokoh dan konflik pada awal cerita. Biarkan saja ceritanya mengalir apa adanya secara natural atau alami.

Artinya adalah jika salah satu karaktermu memang harus tampil terakhir dan perlu diketahui pembaca menjelang cerita selesai, maka lakukan seperti itu. Jangan memaksakan tokoh cerita fantasi tersebut tampil lebih cepat hanya karena kamu tidak sabar memperkenalkannya pada pembaca.

Jadi, lakukan dengan senatural mungkin, ya.

Tertarik Menjadi Seorang Penulis Profesional?

Kamu dapat mengikuti kelas menulis online di Penulis Gunung ID dan melangkah menuju cita-citamu untuk menjadi seorang penulis profesional. Pilih kelas apa pun yang kamu minati, dari menulis cerpen, artikel, novel hingga mengubah pengalaman pribadi buku.

Bersama A Wan Bong, mentor penulisan yang disiplin dan berpengalaman, kamu akan dipandu untuk menghasilkan mahakarya terbaikmu.


anton sujarwo

Anton Sujarwo

Saya adalah seorang penulis buku, content writer, ghost writer, copywriters dan juga email marketer. Saya telah menulis 15 judul buku, fiksi dan non fiksi, dan ribuan artikel sejak pertengahan tahun 2018 hingga sekarang.

Dengan pengalaman yang saya miliki, Anda bisa mengajak saya untuk bekerjasama dan menghasilkan karya. Jangan ragu untuk menghubungi saya melalui email, form kontak atau  mendapatkan update tulisan saya dengan bergabung mengikuti blog ini bersama ribuan teman yang lainnya.

Tulisan saya yang lain dapat dibaca pula pada website;

Saya juga dapat dihubungi melalui whatsapp di tautan ini.

Fortopolio beberapa penulisan saya dapat dilihat disini:


7 TIPS MEMBUAT TOKOH ANTAGONIS YANG TAK TERLUPAKAN DALAM NOVEL

“Tanpa tokoh antagonis, tokoh protagonis tidak akan bisa bisa menjadi pahlawan dalam sebuah cerita. Jadi, pastikan Anda membuatnya dengan sempurna”

A Wan Bong

Dalam setiap cerita, tokoh antagonis adalah tokoh yang membuat tokoh protagonis menjadi pahlawan, karena itu ia harus ditetapkan lebih dulu. Tokoh protagonis memang menjadi karakter yang mewakili gambaran ideal para pembaca, namun gambaran itu sendiri tidak akan terwujud tanpa adanya tokoh antagonis.

Sayangnya bagi beberapa penulis pemula, tokoh antagonis adalah tokoh yang memiliki sifat jahat dan buruk, hampir selalu seperti itu.

Ini tidak sepenuhnya salah, namun jika gambarannya hanya sedangkal itu, tokoh antagonis tidak lebih dari penghias sebuah cerita dan akan sangat mudah untuk dilupakan setelahnya.

Nah, kali ini saya akan mengajak kamu untuk melihat bagaimana membuat tokoh antagonis yang kuat dan menarik. Tokoh antagonis yang tidak hanya menjadi musuh bagi tokoh protagonis, namun juga mampu membangun dunia cerita menjadi lebih sempurna.

Bagaimana caranya?

Yuk, simak ulasan lengkapnya berikut ini.

7 Tips Membuat Tokoh Antagonis Menjadi Super Keren Dalam Cerita

Source: Unsplash

Jika tokoh protagonis adalah tokoh cerita yang selau identik dengan segala sifat terpuji dan mulia, maka tokoh antagonis adalah sebaliknya. Setidaknya itu adalah gambaran sederhana yang awam mengenai karakter tokoh dalam cerita.

Tetapi, benarkah demikian?

Sebenarnya tidak juga, terutama jika kamu adalah seorang penulis atau pembaca yang ingin karakter dalam ceritamu yang tidak itu-itu saja.

Dalam praktik yang lebih mendasar, tokoh antagonis adalah tokoh yang berperan sebagai tokoh yang menghalangi dan merintangi protagonis dalam mencapai tujuan cerita. Esensinya  adalah; apa yang menjadi latar belakang deksripsi tokoh antagonis tersebut supaya perannya dalam cerita menjadi sempurna?

Nah, untuk kamu yang sedang menulis cerita novel atau pun hanya sekedar cerpen dan berniat menghadirkan satu karakter antagonis yang tidak biasa, tips berikut sangat layak untuk kamu lakukan.

BACA JUGA:

Beri Tokoh Antagonis Motivasi yang Kuat

Source: Unsplash

Hal pertama yang harus kamu pikirkan ketika menetapkan watak tokoh adalah motivasi mereka haruslah kuat. Baik ia adalah tokoh protagonis mau pun antagonis, motivasi mereka harus sangat kuat.

Motivasi adalah apa yang mendorong tokoh antagonis dalam melakukan aksinya. Jika kamu membuat tokoh antagonis ingin membunuh tokoh protagonis dalam cerita, maka berikan ia alasan yang kuat mengapa ia melakukannya.

Dan ingat, kebencian semata yang tidak beralasan tidak menarik untuk menjadi motivasi seorang antagonis.

Ada sebuah dorongan besar yang memaksa tokoh antagonis untuk melakukan aksinya merintangi tokoh protagonis mencapai tujuan. Hal ini bisa saja karena dendam kesumat lama, rasa iri hati yang parah, atau karena tokoh protagonis sendiri menghalangi jalan tokoh antagonis untuk mencapai tujuannya.

Hal yang harus kamu ingat dalam tips yang pertama ini adalah berikan motivasi yang kuat pada tokoh antagonis dalam peran mereka.

Beberapa motivasi antagonis yang menarik dan dapat kamu adopsi misalnya adalah;

  • Motivasi cinta dan hasrat seksual.
  • Motivasi tugas dan kehormatan.
  • Motivasi keluarga.
  • Motivasi status dan ketenaran.
  • Motivasi karena ketakutan
  • Motivasi karena keinginan untuk balas dendam dan lain sebagainya.

Tunjukkan Bahwa Tokoh Antagonis Memiliki Luka Masa Lalu

Photo by Engin Akyurt on Pexels.com

Contoh watak tokoh antagonis yang cukup populer misalnya adalah Joker, karakter antagonis yang kemudian menjadi mastermind kejahatan dalam film Batman. Dapatkah kamu menyebutkan alasan mengapa karakter Joker itu menarik?

Ya, salah satu adalah karena masa lalunya yang sulit.

Ketika menggambarkan tokoh antagonis adalah tokoh yang bersifat jahat dan kejam, kamu tidak dapat membuat hal itu terjadi dengan sekonyong-konyong. Dibutuhkan sebuah proses yang membentuk karakter antagonis menjadi jahat dan mengerikan.

Memberikan gambaran masa lalu tokoh antagonis yang sulit akan membantu pembaca untuk memahami mereka. Pada perkembangannya adalah, pembaca dapat mengerti mengapa karakter antagonis dapat berubah menjadi jahat.

Kondisi trauma masa kecil, terlahir dari keluarga broken home, dibully, pernah mengalami pelecehan seksual, dipaksa untuk melalukan kejahatan dan lain sebagainya, adalah beberapa jenis masa lalu sulit yang bisa kamu adaptasikan dalam latar belakang tokoh antagonis.

Bangun Emosional Tokoh Antagonis yang Masuk Akal

Photo by Evelyn Chong on Pexels.com

Sekali lagi, jangan menciptakan tokoh antagonis yang bertindak jahat tanpa alasan yang jelas. Jangan biarkan ia membunuh orang-orang hanya karena ia suka melakukannya.

Ada sebuah alasan yang jelas dan perasaan emosional yang kuat mengapa orang jahat dapat berubah menjadi jahat. Berikan pandangan tokoh antagonis kepada pembaca bahwa apa yang ia lakukan adalah sesuatu yang benar menurut pandangannya.

Ingat juga ungkapan yang mengatakan bahwa tokoh antagonis adalah tokoh yang baik dalam prinsipnya. Tokoh antagonis adalah tokoh protagonis dalam dunianya.

Penting bagi kamu untuk menyusun sebuah cerita yang masuk akal mengapa tokoh antagonis memiliki emosional yang jelas atas prilakunya. Ini memiliki korelasi pula dengan memberinya masa lalu dan motivasi yang sulit sebagai dorongan untuk bertindak. Hanya saja dalam tips yang ketiga ini adalah pastikan emosi itu adalah sesuatu yang jelas dan logis.

Buat Tokoh Anatagonis Seolah Tidak Terkalahkan

Photo by Ronu00ea Ferreira on Pexels.com

Tips selanjutnya untuk menciptakan tokoh antagonis yang tak terlupakan bagi pembaca adalah dengan membuat mereka hampir tidak terkalahkan.

Perhatikan bagaimana gambaran karakter Thanos dalam film superhero Avengers. Atau lihat bagaimana Lord Voldemort dalam serial Harry Potter. Bangun sebuah kompleksitas kekuatan, keunggulan dan kelebihan dalam karakter antagonis yang tidak dimiliki oleh tokoh protagonis. Dengan cara ini akan muncul persepsi dalam benak pembaca bahwa ia mungkin saja tidak dapat dikalahkan.

Kamu mungkin bertanya; bagaimana memberikan keunggulan tak terkalahkan pada tokoh antagonis untuk tema cerita yang bukan superhero seperti itu?

Bahkan untuk cerita romantis pun kamu bisa menciptakan karakter antagonis yang memukau.

Caranya klasik dan sangat umum dilakukan dalam lintas cerita masa lalu.

Berikan tokoh antagonismu banyak keunggulan seperti penampilan fisik yang sempurna, limpahan materi, kepintaran, kedudukan yang tinggi, latar belakang yang kuat dan lain sebagainya.

Kamu tentunya dapat dengan mudah menemukan contoh antagonis dengan gambaran seperti ini, bukan?

Memiliki Hubungan yang Kuat dengan Tokoh Protagonis

Source: Unsplash

Ada sebuah koneksi yang kuat terjalin antara tokoh protagonis dan tokoh antagonis dalam cerita. Kamu dapat membuat koneksi yang mengikat seperti itu dan menemukan celah untuk menempatkannya dengan baik.

Kamu tentu masih ingat dengan karakter Lord Voldemort yang membunuh orang tua Harry Potter dan memberikan luka di kening Harry, kan?

Pada perkembangan cerita, apa yang dilakukan oleh Lord Voldemort dan luka di kening Harry terus membuat keduanya terhubung. Ini adalah salah satu contoh hubungan yang menarik antara antagonis dan protagonis.

Ingat kembali bahwa tokoh antagonis adalah orang yang memerankan karakter untuk merintangi jalan tokoh protagonis. Namun di sisi lain, tokoh antagonis juga adalah tokoh kunci yang membuat tokoh protagonis tampil menjadi pahlawan.

Dengan istilah yang agak dramatis harus dikatakan bahwa tanpa tokoh antagonis, tokoh protagonis bukanlah siapa-siapa.

Buat Tokoh Antagonis Memiliki Beberapa Sifat yang Hebat

Photo by Dinielle De Veyra on Pexels.com

Kemudian yang harus kamu lakukan untuk membuat tokoh antagonis menjadi hebat dan tidak terlupakan dalam novelmu adalah dengan memberikan ia beberapa sifat hebat yang layak untuk dipuji.

Bagaimana maksudnya?

Sederhana saja, jangan melulu secara dangkal memaknai bahwa karakter antagonis adalah tokoh yang penuh sifat kejahatan semata. Akan tetapi, berikan pula mereka salah satu sifat yang layak untuk dihormati dan dikagumi oleh pembaca.

Sifat yang seringkali menjadi ciri-ciri tokoh antagonis adalah jahat, licik, iri hati, dendam, curang, dan lain sebagainya. Ketahuilah, ini adalah sifat-sifat rendah yang terlalu umum. Sebagai antagonis, sifat-sifat semacam tidak akan membuat tokoh antagonis dalam novelmu berbeda dengan yang tokoh antagonis lainnya.

Nah, supaya lebih menarik berikan pula sifat hebat untuk tokoh antagonismu seperti keberanian, kecerdasan, rela berkorban, pantang menyerah, teguh dan lain sebagainya.

Dapatkan Role Model Tokoh Antagonis dari Kehidupan Nyata

Photo by August de Richelieu on Pexels.com

Tips terakhir yang bisa kamu aplikasikan untuk menciptakan karakter antagonis yang kuat dalam cerita adalah dengan mengambil role model dalam kehidupan nyata.

Kamu pastinya mengetahui antagonis dalam kehidupan nyata yang bisa kamu lihat di koran, televisi atau internet, kan? Mereka bisa saja adalah seorang pengacara yang jahat, politisi tamak yang korup dan pemakan uang rakyat, predator seksual yang menyamar menjadi tokoh agama, atau apa pun saja.

Dapatkan gambaran penuh orang-orang seperti ini secara spesifik mulai dari sepak terjangnya, detail karakternya, ciri-ciri fisiknya dan lain sebagainya.

Akan tetapi pastikan kamu membuatnya fiksi dengan menyamarkan nama atau identitas asli mereka. Kamu tentunya tidak ingin dituntut karena antagonis yang kamu tulis dalam novelmu terlihat sangat identik dengan seseorang dalam kehidupan nyata, bukan?

BACA JUGA:

Wujudkan Impianmu Menjadi Penulis Bersama Kelas Menulis Online Penulis Gunung ID

Jika kamu adalah salah satu orang yang tertarik menjadi penulis, menumpahkan pengalamanmu dalam lembar buku dan kata-kata, maka saatnya kamu bergabung bersama kelas menulis online Penulis Gunung ID.

Pilih kelas yang paling cocok dan pastikan karyamu terbit hingga menjadi buku.

Berani?

Kisah hidup Anda yang berharga ditulis dalam bentuk buku?

Anda seorang pembelajar mandiri?

Gunakan saja ebook panduan untuk menulis kisah Anda dengan sangat menarik


anton sujarwo

Anton Sujarwo

Saya adalah seorang penulis buku, content writer, ghost writer, copywriters dan juga email marketer. Saya telah menulis 15 judul buku, fiksi dan non fiksi, dan ribuan artikel sejak pertengahan tahun 2018 hingga sekarang.

Dengan pengalaman yang saya miliki, Anda bisa mengajak saya untuk bekerjasama dan menghasilkan karya. Jangan ragu untuk menghubungi saya melalui email, form kontak atau  mendapatkan update tulisan saya dengan bergabung mengikuti blog ini bersama ribuan teman yang lainnya.

Tulisan saya yang lain dapat dibaca pula pada website;

Saya juga dapat dihubungi melalui whatsapp di tautan ini.

Fortopolio beberapa penulisan saya dapat dilihat disini:


6 TIPS MENULIS NOVEL SEJARAH SEPERTI HAMKA DAN PRAMOEDYA

Terus terang, saya jatuh cinta pada banyak novel sejarah.

Para penulis novel sejarah tidak hanya mampu memberikan gambaran yang berbeda mengenai satu peristiwa sejarah yang monumental. Namun, dengan kemampuan menulis yang baik, mereka juga mampu menyampaikan sebuah pesan yang tidak dapat diberikan oleh buku sejarah yang biasa. Untuk alasan itu, saya rasa bukan hanya yang jatuh cinta pada novel sejarah.

Sebuah novel sejarah yang ditulis dengan sempurna tidak hanya enak untuk dibaca tapi juga memiliki kekuatan super untuk ‘melakukan’ sesuatu. Ambil contoh Max Haveelar yang ditulis oleh Multatuli, novel kritikan itu bukan hanya berhasil menarik perhatian masyarakat dunia, namun juga menjadi cikal bakal berakhirnya rezim tanam paksa.

Atau ambil contoh novel Tetralogi Buru karya Pramoedya Ananta Toer, atau Tenggelamnya Kapal Van der Wick karya Hamka. Semuanya memiliki kekuatan yang sangat menarik untuk ditelusuri, kata demi kata. Bahkan hingga saat ini, dua karya monumental itu masih sulit dicari tandingannya.

Nah, kali ini saya akan mengajak kamu untuk menulis novel sejarah beserta strukturnya dengan cara yang paling menarik. Tentu kamu memang bukan Hamka atau Pramoedya Ananta Toer, namun dengan tips ini nanti kamu setidaknya juga bisa menulis novel sejarah dengan kualitas yang menarik dan layak untuk dibaca.

6 Tips Menulis Novel Sejarah Seperti Hamka dan Pramoedya Ananta Toer

Photo by Skylar Kang on Pexels.com

Sebagai sebuah karya sastra, penulisan sejarah harus memenuhi empat unsur yang paling penting yaitu; emosi, gaya bahasa, empati dan intuisi. Dengan meleburnya empat hal ini secara simultan dalam penulisan fiksi sejarah, ia akan mampu menciptakan sebuah teks novel sejarah yang memukau.

Nah, sebelum saya mengajak kamu untuk lebih jauh melihat apa saja tips dalam menulis novel fiksi sejarah, mari menyegarkan ingatan kembali mengenai pengertian dari novel sejarah itu sendiri.

Jadi, apa sih,  yang dimaksud dengan novel sejarah itu?

BACA JUGA:

Pengertian Novel Sejarah

Photo by JJ Jordan on Pexels.com

Novel sejarah dapat diartikan secara sederhana sebagai sebuah karya sastra yang ceritanya terjadi di masa lalu atau masa lampau. Dalam istilah yang lebih populer, novel sejarah lebih sering disebut sebagai historical fiction atau fiksi sejarah.

Novel sejarah adalah satu jenis karya sastra yang merupakan kombinasi dari tiga hal penting yaitu; peristiwa sejarah sebagai realitas, fiksi sebagai interpretasi dan, sudut pandang penulis sendiri. Meleburnya tiga unsur ini membuat novel sejarah singkat sekali pun menarik untuk dibaca dan diperhatikan.

Novel sejarah ditulis untuk menangkap detail suatu periode sejarah seakurat mungkin. Hal ini bisa saja termasuk dalam karakter sejarah yang ditampilkan, setting-nya, atau pun even sejarahnya itu sendiri.

Beberapa hal yang paling sering dikombinasikan dalam penulisan novel sejarah atau fiksi sejarah adalah sebagai berikut;

  • Peristiwa sejarahnya asli namun dipadukan dengan tokohnya yang fiksi.
  • Tokoh sejarahnya asli namun satu detail peristiwa yang merupakan fiksi
  • Peristiwa dan tokoh sejarahnya adalah asli, namun jalan cerita, konflik, setting dan berbagai unsur pembangun ceritanya adalah rekayasa.

Beberapa Contoh Novel Sejarah di Indonesia

Di Indonesia kamu pastinya sudah tahu ada banyak contoh novel sejarah yang dituliskan. Beberapa yang cukup terkenal misalnya adalah;

  • Tenggelamnya Kapal Van Der Wick – Hamka
  • Tetralogi Buru – Pramoedya Ananta Toer
  • Max Havelaar – Multatuli
  • Ronggeng Dukuh Paruk – Ahmad Tohari
  • Gadis Kretek – Ratih Kumala
  • Dan lain sebagainya.

6 Tips Menulis Novel Sejarah

Dengan panjang dan banyak peristiwa sejarah di Indonesia, kamu tentu saja dapat memilih salah satu peristiwa sejarah dan menjadikannya sebagai inspirasi menulis novel. Novel sejarah fiksi Indonesia seperti pada beberapa judul contoh di atas, telah menjadi karya sastra yang monumental untuk dikisahkan.

Nah, jika kamu juga ingin menulis novel dengan memasukkan unsur sejarah di dalamnya, 6 tips berikut ini sangat layak untuk kamu pertimbangkan.

BACA PULA:

Pilih Peristiwa Sejarah yang Kamu Minati dan Lakukan Brainstorming

Photo by Pixabay on Pexels.com

Langkah pertama yang bisa kamu lakukan ketika ingin menulis sebuah novel sejarah apa pun adalah dengan memilih momen sejarahnya sendiri. Setelah kamu menemukan momen sejarah yang menarik untuk kamu tuliskan, kamu dapat melanjutkan pada tahap berikutnya.

Anggaplah misalnya kamu tertarik dengan peristiwa G30 S PKI dan berbagai kemelut yang terjadi pada masa itu. Maka pada langkah yang pertama ini kamu dapat memilih peristiwa pemberontakan berdarah dalam sejarah Indonesia itu sebagai fokus tulisanmu.

Atau misalnya kamu lebih tertarik dengan peristiwa sejarah tentang Perang Diponegoro. Atau peristiwa anjir dimana para pengikut Pangeran Diponegoro menggantikan patok tanah yang dipasang oleh Belanda dan para pendukungnya dengan tombak.

Jika ini adalah momen sejarah yang menarik hatimu, maka kamu dapat memfokuskan ceritamu pada kisah itu.

Selanjutnya bagaiamana?

Kemudian yang harus kamu lakukan adalah dengan brainstorming atau mengambil waktu untuk mendapatkan percikan ide.

Teknisnya adalah dengan mengambil waktu secukupnya untuk kamu memikirkan apa saja yang terlintas di benakmu terkait peristiwa sejarah yang sudah kamu pilih sebelumnya. Persenjatai dirimu untuk melakukan proses ini dengan sebuah pulpen dan selembar kertas lalu tuliskan apa saja yang terlintas dalam benakmu.

Brainstorming dalam penulisan novel sejarah ini sama seperti proses free writing dimana kamu menulis bebas apa pun yang terlintas dalam benakmu. Jika dalam benakmu terbersit adegan film, video di internet, tulisan dalam buku atau apa pun saja yang terkait dengan peristiwa sejarah yang sudah kamu pilih, maka tuliskan semua itu secara bebas dalam brainstorming.

Tetapkan Periode Waktu Penulisan Sejarah dan Bagian Fiksinya

Source: National Geographic Indonesia

Nah, selanjutnya kamu masuk pada langkah kedua untuk mulai memetakan novel sejarah yang akan kamu tuliskan nantinya.

Informasi teknisnya pada langkah yang kedua atau tips yang kedua ini adalah, dengan menetapkan periode waktu penulisan sejarah dan bagian mana yang akan mendapatkan sentuhan fiksi dari imajinasimu sendiri.

Ketika kamu memilih menulis novel sejarah dunia atau Indonesia, ini sudah pasti harus ada unsur fiksinya. Sebagai penulis fiksi, bagian inilah yang akan memberikan kamu kemerdekaan dalam bercerita karena kamu bukan menulis teks sejarah, melainkan karya fiksi sejarah.

Jika sebelumnya kamu memilih peristiwa perang Diponegoro sebagai momen sejarah pilihanmu, maka kamu mulai dapat memetakan bagian yang akan mendapatkan sentuhan fiksinya.

Apakah kamu akan menciptakan satu karakter fiksi yang menyaksikan perang tersebut dan ikut mengiringi langkah sang pangeran pulau Jawa dalam berperang melawan Belanda?

Atau kamu ingin seluruh karakter adalah asli, namun setting-nya adalah rekayasa, jalan ceritanya rekayasa dan berbagai konfliknya yang ada di dalamnya juga fiksi.

Intinya adalah; pilih bagian mana dari momen sejarah itu yang akan kamu berikan sentuhan fiksinya. 

BACA JUGA:

Lakukan Riset

Photo by Andrea Piacquadio on Pexels.com

Riset dan penelitian adalah bagian dari kaidah penulisan novel sejarah.

Kamu tidak dapat meninggalkan bagian ini bukan hanya karena berusaha menghindari kritik sejarah. Namun esensi novel sejarah yang paling baik adalah memang yang paling banyak menghadirkan sesuatu yang nyata dan sesuai dengan sejarah.

Riset penulisan novel sejarah dapat dilakukan dengan berbagai cara. Kamu misalnya bisa membaca buku, mengujungi web novel sejarah, menonton film, mencari dokumen di perpustakaan atau apa saja yang intinya; kamu mengumpulkan sebanyak mungkin informasi mengenai peristiwa sejarah yang akan kamu tuliskan nantinya.

Penulisan fiksi sejarah adalah tentang kemampuan detektif dan kreativitas, pastikan kamu mengupayakan keduanya.

Akan tetapi yang lebih penting adalah; penulisan historical fiction atau fiksi sejarah ini sama seperti penulisan lainnya, hal ini selalu terkait dengan kerja keras, disiplin dan ketekunan.

Melakukan riset atau penelitian adalah bagian dari kerja keras tersebut.

Kunjungi Beberapa Tempat dalam Setting Jika Memungkinkan

Photo by Clem Onojeghuo on Pexels.com

Jika memungkinkan, kamu dapat menambahkan riset yang kamu lakukan ini dengan mengunjungi secara langsung lokasi dimana momen sejarah itu berlangsung.

Artinya, jika kamu menulis tentang perang Diponegoro dan peristiwa anjir tombaknya, maka luangkan waktumu untuk datang ke Tegalreja di Magelang dan melihat lokasi insiden itu secara langsung.

Mendatangi langsung lokasi dimana sebuah momen sejarah terjadi akan membuat penulisan yang kamu lakukan menjadi lebih kuat. Detail-detail peristiwa sejarah yang kamu gambarkan dalam novelmu nantinya akan memiliki gambaran yang lebih hidup karena imajinasimu sendiri sudah dilatih melihatnya langsung dalam pengalaman.

Tips yang perlu kamu catat terkait riset dan mengunjungi lokasi tempat terjadinya momen sejarah secara langsung ini adalah dengan memasukkan detail-detail yang mungkin tidak akan terlalu dipikirkan oleh kritikus sejarah.

Jadi, kamu misalnya dapat berfokus pada berapa panjang anjir atau lanjaran bambu yang digunakan pada peristiwa anjir tersebut? Atau apa warna radio ketika rakyat pertamakali mendengar berita tentang meletusnya pemberontakan G30 S PKI?

Dan lain sebagainya.

Perhatikan Dialog

Photo by Lisa on Pexels.com

Jika kamu menulis novel sejarah yang terjadi pada tahun 1800-an atau bahkan tahun 1950-an sekali pun, kamu tentu saja tidak dapat menggambarkan dialog yang terjadi seperti dialog hari ini. Ada sebuah perbedaan dialog dalam setiap periode yang harus kamu perhatikan.

Beberapa penulis kadang tidak memperhatikan hal ini.

Untuk dapat menampilkan gambaran nyata sebuah peristiwa yang terjadi di masa lalu secara sempurna, kamu tidak hanya perlu mengatakannya dan melukiskan setting-nya. Namun lebih daripada itu, kamu juga perlu membangun situasinya menjadi semakin realistis dalam dialog dan percakapan.

Jadi, jika kamu menulis adegan novel sejarah kerajaan Indonesia yang terjadi pada beberapa abad yang lalu, pertimbangkan pula untuk memberikan dialog yang paling mendekati masa-masa tersebut.

BACA PULA:

Tambahkan Tokoh Fiksi

Photo by Alex Andrews on Pexels.com

Apa yang paling menarik dan merdeka dari menulis sebuah novel sejarah?

Ya, tentu saja jika kamu menambahkan karakter fiksinya.

Tokoh fiksi yang kamu ciptakan dalam novel sejarah akan memberikan kamu kebebasan dalam bercerita, menggunakan sudut pandang dirinya untuk melihat peristiwa sejarah yang nyata. Dengan cara ini, kamu memiliki kebebasan untuk menyampaikan pandangan-pandanganmu sendiri mengenai peristiwa tersebut secara aman dan bebas.

Kamu bisa menjadikan karakter fiksi ini sebagai tokoh utama cerita, protagonis, tritagonis atau peran apa pun yang kamu mau.

Hal yang pasti adalah, tokoh fiksi dalam penulisan novel sejarah dapat menjadi cara yang paling merdeka bagi penulis untuk menyampaikan gagasan dan imajinasinya mengenai peristiwa sejarah itu sendiri.

Apakah Kamu Siap Menulis Novel Sejarah?

Jika kamu memiliki ide cerita yang menarik untuk dituliskan sebagai novel sejarah, ini adalah waktu yang tepat untuk mewujudkannya menjadi buku yang nyata.

Saya akan membantu kamu menuliskan kisah hidupmu, menetaskan ide dan gagasanmu menjadi sebuah buku. Melalui kelas menulis online www.penulisgunung.id, kamu akan memasuki dunia penulisan profesional dengan cara yang jauh lebih mudah.

Mari bergabung bersama saya di kelas menulis online Penulis Gunung.


anton sujarwo

Anton Sujarwo

Saya adalah seorang penulis buku, content writer, ghost writer, copywriters dan juga email marketer. Saya telah menulis 15 judul buku, fiksi dan non fiksi, dan ribuan artikel sejak pertengahan tahun 2018 hingga sekarang.

Dengan pengalaman yang saya miliki, Anda bisa mengajak saya untuk bekerjasama dan menghasilkan karya. Jangan ragu untuk menghubungi saya melalui email, form kontak atau  mendapatkan update tulisan saya dengan bergabung mengikuti blog ini bersama ribuan teman yang lainnya.

Tulisan saya yang lain dapat dibaca pula pada website;

Saya juga dapat dihubungi melalui whatsapp di tautan ini.

Fortopolio beberapa penulisan saya dapat dilihat disini:


https://api.whatsapp.com/send?phone=6281254355648

7 UNSUR INTRINSIK NOVEL YANG SETIAP PENULIS HARUS TAHU

Novel dibangun oleh beberapa elemen yang biasa disebut sebagai unsur intrinsik novel. Unsur-unsur ini merupakan konstruksi yang memungkinkan sebuah karya sastra prosa berbentuk novel dapat berdiri dengan sempurna. Sebagai seorang penulis, memahami unsur intrinsik dalam penulisan novel adalah bagian dari pengetahuan dasar yang harus diketahui.

Nah, apa sebenarnya yang dimaksud  dengan unsur intrinsik novel? Apa saja pula yang termasuk bagian dari unsur intrinsik tersebut? Serta bagaimana menuliskannya dalam cerita?

Penulis Gunung ID akan mengajak kamu mengenalnya dalam artikel ini.

Unsur Intrinsik Novel; Pengertian, Penjelasan dan Contohnya

Photo by Min An on Pexels.com

Ada banyak para ahli yang memberikan definisi mereka sendiri tentang unsur intrinsik dalam novel. Namun, secara sederhana unsur intrinsik novel adalah unsur-unsur yang membangun karya sastra novel itu sendiri.

Lebih jauh, unsur intrinsik novel dapat diartikan sebagai segala elemen pembangun cerita novel yang menjadikan segala fungsi perceritaan dalam novel dapat berjalan dengan sempurna. Baik dalam karya fiksi atau pun non fiksi, unsur intrinsik novel adalah sama.

Di samping unsur intrinsik, penulisan karya sastra seperti novel juga mengenal unsur ekstrinsik.

Berbeda dengan unsur intrinsik yang merupakan unsur pembangun intern dalam karya sastra, maka unsur ekstrinsik adalah unsur luar yang ikut memberikan kontribusi rupa karya sastra. Hal ini bisa saja adalah latar belakang penulis, pandangan politiknya, keyakinan religius atau latar belakang budayanya sendiri.

Namun sekarang kita akan melihat apa saja yang menjadi bagian-bagian dalam unsur intrinsik sebuah novel.

BACA JUGA:

Tema

Source: Unsplash

Unsur intrinsik yang pertama dari sebuah novel adalah tema.

Tema adalah gagasan besar sebuah cerita atau merupakan topik utama cerita sebuah karya sastra. Dalam aplikasinya, tema cerita dapat disampaikan secara langsung atau pun tidak langsung oleh penulis.

Tema adalah unsur dalam penulisan karya sastra berbentuk novel, roman atau apa pun yang memiliki kemampuan untuk menyampaikan makna cerita. Tema ini juga kemudian yang dapat memberikan warna tersendiri bagi sebuah novel atau karya sastra.

Beberapa penulis mungkin akan memaparkan tema novel mereka secara lugas kepada pembaca sehingga pembaca dapat menangkapnya dengan mudah. Akan tetapi ada pula penulis yang memilih untuk menyampaikan tema novel mereka secar samar-samar yang kemudian ‘memaksa’ pembaca untuk menafsirkannya sendiri.

Tema dalam novel pun dapat dibagi kembali berdasarkan dominansinya dalam penyajian pada novel, yaitu;

  • Tema Mayor – adalah tema dalam novel yang penyampaiannya diulangi terus menerus sehingga memberi warna paling banyak dalam cerita. Kamu misalnya dapat melihat tema mayor dalam unsur intrinsik novel Laskar Pelangi adalah tentang persahabatan, perjuangan, dan pendidikan. Maka sepanjang penceritaan tema ini adalah yang paling banyak disampaikan oleh penulis kepada pembacanya.
  • Tema Minor – Sebagai oposisi dari tema mayor, tema minor dalam novel adalah tema-tema kecil yang diselipkan pula dalam badan atau alur cerita. Tema minor pada umumnya muncul pada bagian-bagian yang singkat yang kemudian membawa pembaca pada tema-tema minor lainnya.

Contoh Unsur Intrinsik Tema

Photo by Alexander Krivitskiy on Pexels.com

Sebagai gagasan utama sebuah cerita, tema dapat ditentukan dengan mudah oleh penulis. Praktiknya dapat kamu lihat dalam beberapa contoh berikut ini;

  • Jam dinding kuno dengan bandul besar di ruang tamu berdentang dua kali menandakan bahwa malam semakin larut dan jauh memasuki jantungnya. Hanan tercekat, nyaris ia berteriak ketika suara bandul jam itu juga diikuti oleh padamnya semua aliran listrik di rumahnya. Sepi dan gelap sepenuhnya sekarang, benar-benar bukan saat yang menarik untuk tinggal di rumah sendirian. – Tema Ketakutan.
  • Debur ombak menghantam saja, mengelus betis Sabrina dengan kecipak bercampur pasir. Gadis cantik itu diam saja, membiarkan dirinya terbenam dalam pikirannya sendiri. Tidak ada siapa-siapa di pantai, hanya kekosongan sepanjang mata memandang. Sepi dan tak berpenghuni – Tema Kesepian.

Tokoh dan Karakter

Source: Unsplash

Unsur intrinsik kedua dalam karya sastra berbentuk novel atau cerpen adalah tokoh atau karakter cerita.

Karakter cerita atau tokoh adalah salah satu elemen paling penting dalam penulisan cerita. Pembaca tidak dapat masuk ke dalam cerita tanpa adanya tokoh atau karakter. Dari sudut pandang tokoh inilah kemudian cerita dapat disampaikan kepada pembaca.

Tokoh dalam novel sangat bervariasi, tergantung dari jenis novelnya sendiri.

Di samping menggunakan manusia sebagai karakter cerita, kamu juga dapat menemukan karakter binatang, tumbuh-tumbuhan, angka dan benda tak hidup lainnya sebagai tokoh dalam cerita.

Tokoh dalam cerita juga terdiri dari berbagai macam.

Kamu pastinya sudah pernah mendengar istilah tokoh protagonis, tokoh antagonis dan tokoh tritagonis dalam sebuah cerita, bukan?

  • Tokoh Protagonis – Merupakan tokoh utama cerita yang mewakili sifat-sifat ideal dalam cerita. Tokoh protagonis adalah tokoh yang menjadi tempat berpusatnya alur cerita. Tujuan utama alur cerita pada umumnya adalah tujuan utama pula bagi karakter protagonis.
  • Tokoh Antagonis – Ini adalah tokoh kontra dari protagonis. Tugas utama tokoh antagonis adalah menghalangi, merintangi, dan mengganjal perjalanan tokoh protagonis untuk mencapai tujuan utama cerita.
  • Tokoh Tritagonis – Ini adalah istilah yang menarik karena sebutan tokoh cerita di luar antagonis dan protagonis sebenarnya beragam, bukan tritagonis saja. Namun untuk lebih mudahnya, peran tritagonis adalah berfungsi membuat perkembangan cerita menjadi lebih sempurna, berkembang dan menarik.

Contoh Unsur Intrinsik Novel Tokoh atau Karakter

Source: Unsplash

Saya akan mengambil sebuah contoh tentang unsur intrinsik tokoh atau karakter dalam novel dari salah satu novel paling terkenal sepanjang masa, Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk.

  • Zainuddin – adalah tokoh utama cerita sekaligus juga tokoh protagonis. Zainuddin diceritakan sebagai seorang pemuda yang dilahirkan di Ujung Pandang, dengan ayahnya berasal dari Padang dan ibunya dari Makassar. Ia jatuh cinta dengan seorang gadis Minang bernama Hayati.
  • Hayati – Merupakan gadis Minang yang cantik jelita. Dalam cerita ini ia digambarkan sebagai kuntum bunga di kampungnya karena kecantikan wajah dan prilakunya. Hayati hidup dalam kekangan adat istiadat Minang masa lalu, membuat ia tidak dapat membuat pilihannya dengan merdeka.
  • Muluk – Merupakan sahabat sejati Zainuddin, orang yang menemani perjuangan Zainuddin sembuh dari lukanya karena Hayati. Muluk adalah sosok penuh pengalaman, mantan penjahat yang sudah bertobat.

BACA JUGA:

Setting atau Latar

Photo by Pixabay on Pexels.com

Selanjutnyan unsur intrinsik ketiga dalam sebuah novel adalah setting atau latar. Setting dapat diartikan sebagai waktu, tempat, ruang, iklim dan juga cuaca.

Latar dalam novel dapat diartikan setting dimana sebuah cerita berlangsung. Setting dapat berbicara tentang lokasi fisik, waktu terjadinya, periode masanya, kondisi sosialnya, kondisi alamnya dan lain sebagainya.

Seorang penulis biasanya memilih setting tidak secara sembarangan. Ada sebuah maksud dan pesan yang ingin disampaikan terkait pemilihan latar dalam sebuah cerita. Pemilihan latar dalam cerita juga terkait erat dengan tema novel serta amanat yang ingin disampaikan setelahnya.

Ketika Hamka memilih setting cerita Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk di wilayah Sumatera Barat dengan kondisi adat yang kuat, itu juga memiliki sebuah pesan. Kritik sosial terhadap pandangan jamak masyarakat Minang saat itu menjadi salah satu tujuan Hamka dengan memilih setting cerita semacam itu.

Jadi, pemilihan setting cerita juga dapat dikombinasikan oleh seorang penulis sebagai caranya mengoptimalkan amanat cerita yang ingin disampaikan.

Contoh Unsur Intrinsik Novel Berupa Latara atau Setting

Photo by Oliver Sju00f6stru00f6m on Pexels.com
  • Latar Novel Laskar Pelangi – Suasana kampung yang sederhana dengan pantai yang indah, batu-batu besar dan pohon kelapa, sebuah sekolah dengan kondisi yang memprihatinkan. Sebuah balok kayu disandarkan pada dinding sekolah untuk menahannya supaya tidak roboh.
  • Latar Novel Merapi Barat Daya – Gunung Merapi yang menjulang, bebatuan berhamburan sehabis gempa yang membuat salah satu sisi puncak Merapi menjadi runtuh. Kondisi malam hari, seorang pemuda meringkuk di balik tendanya di dinding terjal gunung Merapi.

Sudut Pandang atau Point of View

Photo by Angelica Reyn on Pexels.com

Unsur intrinsik selanjutnya dalam sebuah novel adalah sudut pandang. Dalam istilah yang lebih umum, sudut pandang disebut juga sebagai poin of view. Ini adalah tentang dari sisi mana sebuah cerita dikisahkan.

Sudut pandang dalam sebuah cerita adalah tentang siapa yang menceritakan kisah dalam novel tersebut kepada pembaca. Atau dengan bahasa yang lebih detail, melalui mata, telinga, perasaan siapa para pembaca dapat masuk dan meyusuri rangkaian cerita.

Dalam novel, cerpen atau apa pun jenis karya sastra prosa lainnya, dikenal beberapa sudut pandang yang paling umum dipergunakan, misalnya;

  • Sudut pandang orang pertama.
  • Sudut pandang orang kedua.
  • Sudut pandang orang ketiga. Sudut orang ketiga juga terbagi dalam sudut pandang orang ketiga serba tahu, sudut pandang orang ketiga terbatas, dan lain sebagainya.

Contoh Unsur Intrinsik Novel Sudut Pandang atau Poin of view

Photo by Thuanny Gantuss on Pexels.com
  • Cukup! Aku menghempaskan diriku di atas kasur. Ingin aku hilangkan semua ingatan tentang hari yang baru saja aku jalani tadi siang. Aku tahu bahwa Asma tidak benar-benar menyukai kehadiranku bersamanya tadi, sudut matanya dan kerut keningnya mengatakan itu. Pasti ini semua karena statusku yang masih pengangguran yang membuat Asma melihatku dengan pandangan begitu sinis – Sudut pandang orang pertama serba tahu.
  • Aku tidak tahu apa yang ada dalam benak Asma sampai-sampai ia menerima aku sebagai pacarnya. Bukankah aku masih pengangguran? Profesiku sebagai tukang parkir di rumah sakit Bakti Negeri juga banyak dicibir orang-orang. Tapi Asma, gadis cantik yang sebentar lagi menjadi dokter umum di rumah sakit itu justru menerima aku. Atau jangan-jangan, Asma sedang berusaha mempermainkan aku? – Sudut pandang orang pertama terbatas.
  • Badrun merasa Asma selama ini hanya mempermainkan dirinya saja. Sejak ia menjalin asmara dengan Asma, ia mengalami imsonia parah, wajah dokter cantik itu tak pernah mau pergi dari benaknya. Mau ia minta resep obat tidur pada Asma, tapi Badrun juga sadar, obat yang sebenarnya ia butuhkan adalah sosok dokter Asma itu sendiri – Sudut pandang orang ketiga serba tahu.

BACA JUGA:

Alur Cerita atau Plot

Photo by cottonbro on Pexels.com

Unsur intrinsik novel selanjutnya adalah alur cerita atau yang biasa disebut dengan plot. Secara sederhana, plot dapat diibaratkan sebagai aliran cerita (flow) yang mengalir dari awal, tengah, hingga bagian akhir.

Dalam bahasa novel, beberapa elemen yang ada dalam plot atau alur cerita sendiri adalah sebagai berikut;

  • Eksposisi atau Pendahuluan – Ini adalah bagian pendahuluan dalam sebuah novel dimana karakter, latar dan mungkin sedikit konflik cerita diperkenalkan.
  • Tahap Meningkat – Ini adalah bagian dimana konfrontasi terjadi dan karakter utama ditarik dari zona nyamannya untuk menyelesaikan konflik utama cerita. Masalah semakin berkembang, unsur keterpaksaan juga ditambahkan untuk menambah efek dramatis dalam novel.
  • Klimaks – Dalam cerita novel atau cerpen, klimaks adalah bagian puncak dimana semua masalah menemukan jawabannya. Kondisi memanas, efek keterpaksaan waktu menemukan momentumnya disini.
  • Anti Klimaks – Kondisi ini ketika masalah utama cerita sudah berhasil dilewati dan konflik besar cerita sudah berhasil  diatasi. Tensi cerita menurun pada bagian ini.
  • Kesimpulan – Plot biasanya diakhiri dengan kesimpulan ketika klimaks sudah tercapai dan semua problem sudah terjawab. Pada bagian ini pula biasanya penulis menyampaikan pesan cerita atau amanat novel baik secara langsung atau pun tidak langsung.

Contoh Unsur Intrinsik Novel untuk Plot atau Alur Cerita

Photo by Pixabay on Pexels.com

Saya akan mengajak kamu untuk melihat unsur intrinsik dalam novel Merapi Barat Daya yang secara khusus membahas plotnya.

  • Tatras adalah pemuda yang memiliki ambisi untuk mendaki puncak Selatan gunung Merapi yang belum tertaklukkan. Suatu ketika tanpa disengaja ia dipertemukan dengan sosok Elya dalam sebuah musibah di Merapi. Elya dan Tatras saling tertarik tapi begitu mengetahui latar belakang Elya, Tatras tiba-tiba menghilang.
  • Klimaks cerita ini terjadi ketika mantan pacar Elya terbunuh dalam sebuah pendakian di Merapi dan Tatras dituduh sebagai otak di balik kematiannya. Namun sebuah skenario lain membuktikan kalau Tatras adalah sosok yang tidak bersalah. Ketika Elya bermaksud meminta maaf karena sudah termakan suasana kematian mantan pacarnya dan sempat ikut menghakimi Tatras dengan sikapnya, ternyata ia sudah terlambat.
  • Elya kemudian mendapat informasi jika Tatras berhasil memanjat puncak selatan Merapi, namun ternyata sebuah kejadian tak terduga lagi menunggunya di sana.

Penokohan

Photo by Pixabay on Pexels.com

Unsur intrinsik selanjutnya dari sebuah novel adalah penokohan yang merupakan bagian dari upaya penulis untuk menggambarkan karakter cerita.

Penokohan terjadi setiap kali penulis berusaha melukiskan tokoh cerita atau karakter tokoh sepanjang jalannya alur cerita. Cara melukiskan penokohan ini pun dapat dilakukan secara langsung atau melalui sudut pandang karakter yang lainnya.

Nah, supaya lebih mudah, kamu dapat melihat contoh penokohan berikut ini.

Contoh Unsur Intrinsik Penokohan dalam Novel

  • “Dia adalah sosok yang pemberani, aku tidak pernah menemukan ada pemuda dengan kepribadian jujur dan menarik seperti dia” gumam Pak Iskandar sambil menarik napas panjang. Tatapannya terbang ke langit, mengawang mengingat anak gadisnya yang ditolong oleh seorang pemuda misterius satu minggu sebelumnya – Merapi Barat Daya.
  • Dalam sepenggal cerita di atas, penokohan karakter utama diceritakan oleh karakter lainnya. Tatras sebagai tokoh protagonis digambarkan oleh penulis sebagai seorang pemberani, jujur dan memiliki kepribadian menarik melalui kacamata karakter lain bernama Pak Iskandar. Nah, ini adalah salah contoh penokohan dalam novel.

BACA PULA:

Amanat atau Pesan Novel

Photo by Lisa on Pexels.com

Bagian terakhir atau yang ketujuh dari unsur intrinsik novel adalah amanat atau pesan.

Amanat dapat juga diartikan sebagai pesan cerita, adalah apa yang sebenarnya ingin disampaikan oleh sang penulis novel kepada pembacanya.

Amanat sebagai unsur intrinsik novel memiliki kaitan erat dengan tema novel itu sendiri. Biasanya antara amanat dan tema memiliki kesesuaian. Jika tema novel adalah tentang persahabatan, maka amanat bisa saja adalah tentang persahabatan pula.

Namun demikian, amanat dapat dibuat lebih spesifik lagi berdasarkan kondisi cerita.

Kamu dapat menulis tema novel persahabatan namun misalnya menekankan amanat bahwa persahabatan tidak dapat ditukar dengan apa pun juga; ketika kamu memiliki satu sahabat yang tulus kepadamu, kamu telah menemukan satu permata yang sangat tinggi nilainya.

Dan lain sebagainya.

Unsur Ekstrinsik Dalam Novel

Photo by John Diez on Pexels.com

Sebagai pelengkap pengetahuan mengenai unsur-unsur dalam novel, saya akan mengulas pula tentang unsur ekstrinsik dalam penulisan novel.

Jadi, apa yang dimaksud unsur ekstrinsik novel itu?

Secara gampang unsur ekstrinsik novel adalah segala sesuatu yang ada di luar struktur karya sastra namun memiliki pengaruh besar terhadap karya sastra itu sendiri.

Praktiknya dikenal tiga jenis unsur ekstrinsik pada novel yakni; biografi, unsur sosial dan unsur nilai.

Unsur Ekstrinsik Biografi

Hal ini berhubungan erat dengan latar belakang dan kondisi psikologi penulisnya sendiri.

Jadi, kondisi kehidupan pengarang, pemikirannya, kondisi kejiwaannya juga dapat mempengaruhi satu karya sastra yang ia tulis secara signifikan.

Unsur Ekstrinsik Sosial

Nilai sosial sebagai unsur ekstrinsik dapat berasal dari kondisi masyarakat, ada istiadat, kebudayaan, kondisi ekonomi, latar belakang pendidikan dan juga pandangan politik.

Jadi meskipun tidak menjadi unsur penyusun karya sastra, namun ektrinsik nilai sosial juga akan mempengaruhi sebuah karya sastra.

Unsur Ekstrinsik Nilai

Bagian ini memiliki korelasi erat dengan ideologi yang berkembang atau dianut oleh penulis, ilmu pengetahuan, hasil pemikiran manusia, filosofi, dan lain sebagainya.

Ini adalah nilai-nilai yang mampu mempengaruhi satu karya sastra meskipun ia bukan bagian dari penyusun karya sastra itu sendiri.

BACA PULA:


anton sujarwo

Anton Sujarwo

Saya adalah seorang penulis buku, content writer, ghost writer, copywriters dan juga email marketer. Saya telah menulis 15 judul buku, fiksi dan non fiksi, dan ribuan artikel sejak pertengahan tahun 2018 hingga sekarang.

Dengan pengalaman yang saya miliki, Anda bisa mengajak saya untuk bekerjasama dan menghasilkan karya. Jangan ragu untuk menghubungi saya melalui email, form kontak atau  mendapatkan update tulisan saya dengan bergabung mengikuti blog ini bersama ribuan teman yang lainnya.

Tulisan saya yang lain dapat dibaca pula pada website;

Saya juga dapat dihubungi melalui whatsapp di tautan ini.

Fortopolio beberapa penulisan saya dapat dilihat disini:


BEGINI CARA MUDAH MEMBUAT NOVEL SEJARAH PRIBADI (E-BOOK PANDUAN)


“Pengalaman terbaik dan paling menginspirasi sekali pun, akan menghilang jika tidak dituliskan”

— A Wan Bong, Penulis

Hal pertama yang harus kamu lakukan ketika membuat novel sejarah pribadi adalah dengan menetapkan tujuan penulisannya sendiri. Jadi, apa sebenarnya yang kamu inginkan dengan membuat kisah pribadi hidupmu ini menjadi sebuah novel?

Setelah kamu menemukan tujuannya dan berpegang erat pada tujuan tersebut, barulah saya dapat mengajak kamu ke langkah-langkah berikutnya. Langkah-langkah ini sangat sederhana dan mudah diikuti, puluhan orang sudah membuktikan efektivitasnya untuk menulis cerita novel sejarah pribadi mereka.

Lantas, bagaimana caranya?

Cara Membuat Novel Sejarah Pribadi Dalam E-book Panduan Menulis Kisah Hidup

Saya baru saja menyelesaikan e-book panduan menulis novel sejarah pribadi yang merupakan formulasi yang saya gunakan untuk menulis dan mengajar tentang menulis kisah hidup menjadi sebuah buku.

Isi e-book ini bukan hanya teori yang mudah untuk dibaca, namun benar-benar langkah praktis yang mudah pula untuk kamu praktikkan. Dalam e-book ini saya menjelaskan bagaimana cara menulis novel sejarah pribadi melalui beberapa tahapan langkah yang mudah untuk diikuti dan juga sangat efektif hasilnya.

Berikut beberapa poin terpenting dari e-book tersebut.

Menentukan Tujuan Penulisan Kisah Pribadi

Photo by Kilian M on Pexels.com

Di antara beberapa poin pembuka yang lainnya, saya meyoroti tujuan penulisan sebagai salah satu hal yang penting untuk dirumuskan di awal proses menulis kisah hidup menjadi sebuah buku berbentuk novel.

Jadi, pada langkah awal dalam e-book ini saya akan mengajak kamu untuk merenung sesaat dan menemukan jawaban dari pertanyaan paling mendasar, yaitu; Apa tujuan sebenarnya kamu menulis pengalaman pribadimu ini?

  • Apakah karena kamu ingin terkenal?
  • Apakah karena kamu ingin mengubah pengalaman pribadimu itu menjadi buku kemudian menjualnya dan membuat kamu mungkin punya banyak uang?
  • Apakah karena kamu merasa pengalamanmu itu berharga dan bisa menjadi pelajaran bagi orang lain yang membacanya?
  • Atau, apakah pengalaman yang kamu tuliskan itu menjadi semacam terapi supaya kamu bisa segera ‘bangkit’ dari pengaruh pengalaman itu sendiri?
  • Atau apa?

Apa pun yang menjadi alasan dan tujuan kamu nantinya, membuat novel sejarah pribadi singkat atau panjang membutuhkannya sebagai energi utama untuk kamu menulis.

Tujuan ini menjadi bagian awal yang penting dalam e-book yang saya susun tersebut.

Menentukan Jenis Novel Pengalaman Pribadi yang Ditulis; Memoar atau Autobiografi

Photo by asap jpeg on Pexels.com

Kamu pastinya sudah tahu kalau jenis penulisan kisah pribadi itu terbagi dalam dua macam, bukan? Terutama jika kamu ingin mengubahnya menjadi lembar-lembar prosa dalam bentuk novel.

Jenis novel kisah pribadi yang pertama adalah autobiografi  dan jenis yang kedua adalah memoar. Dua jenis novel pengalaman pribadi ini memiliki banyak kesamaan dari sisi pengertian dan teori, namun memiliki perbedaan yang jelas dalam hal runtutan penulisannya sendiri.

Note: Pengertian memoar, perbedaannya dengan autobiografi dan cara menulisnya dapat pula kamu baca di artikel saya sebelumnya pada tautan ini.

Memfokuskan Diri pada Pengalaman Terpenting

Photo by Kat Smith on Pexels.com

Baik kamu menulis novel sejarah pribadi tentang diri sendiri berbentuk memoar atau pun autobiografi, langkah selanjutnya akan membawa kamu pada hal ini; memilih pengalaman yang paling penting.

Kamu tentunya memiliki banyak sekali pengalaman yang layak untuk kamu ceritakan dalam novel, tapi pilihlah yang paling penting.

Nah, bagaimana cara mengetahui sebuah pengalaman dalam hidupmu adalah yang paling penting?

Mudah, kamu hanya perlu menemukan bagian mana dari sejarah hidupmu yang memberi dampak emosional paling besar.

Apakah itu adalah pengalaman yang menyenangkan, menyedihkan, menyakitkan atau apa saja efek emosional yang dihasilkan, selama itu benar-benar mempengaruhi dirimu secara emosional, itu adalah fokus pengalaman pribadi yang layak kamu pilih sebagai tema utama kisah novel pribadimu.

Menentukan Karakter dan Setting

Photo by Oliver Sju00f6stru00f6m on Pexels.com

Tidak semua orang yang kamu jumpai dalam hidupmu dapat kamu masukkan dalam cerita novel yang kamu tulis, bukan?

Nah, pada bagian ini saya akan mengajak kamu untuk memilihnya dengan bijak, siapa saja karakter cerita yang harus kamu masukkan dan siapa pula yang tidak perlu.

Di samping itu, melalui video online course yang saya buat, saya juga akan menjelaskan apa saja pertimbangan yang dapat kamu gunakan dalam menentukan karakter cerita.

Di samping menyeleksi karakter cerita, kerangka novel sejarah pribadi dalam e-book yang dituliskan ini juga mengajak kamu untuk menentukan setting cerita novelnya sendiri.

Sebagai tokoh protagonis dan tokoh utama novel, kamu pastinya sudah pasti tahu dengan baik dimana dan kapan saja pengalaman pribadi yang kamu alami itu terjadi. Itu adalah pengertian  setting dari sisi waktu dan tempat.

Namun, tahukah kamu kalau setting dalam cerita novel bukan hanya tentang tempat dan waktu?

Kamu juga dapat memasukkan pandangan pemikiran, keyakinan dan cara pandang religius, adat budaya, dan kultur umum lainnya sebagai sebuah setting cerita.

Menggunakan Spekulasi pada Bagian Tertentu

Photo by Pixabay on Pexels.com

Dalam penulisan novel fiksi bagian ini tidak dibutuhkan. Namun ketika kamu menulis novel sejarah pribadi panjang yang bertutur kisah hidupmu dari TK hingga SMA misalnya, spekulasi adalah cara penting menuliskannya.

Ingatan manusia bagaimana pun baiknya selalu memiliki keterbatasan. Begitu juga dengan kamu yang tidak mungkin mengingat semua detail pengalaman hidup yang sudah kamu lewati. Pasti ada beberapa bagian dalam perjalanan hidupmu yang tidak dapat kamu ingat secara spesifik lagi.

Nah, bagaimana menuliskannya untuk bagian yang seperti ini?

Cara paling aman dan profesional adalah dengan mengakui bahwa kamu memang tidak bisa mengingat semuanya.

Kamu dapat menuliskannya dengan mudah melalui contoh yang disertakan dalam E-book Panduan Menulis Kisah Hidup yang bisa di-download di bawah ini nanti.

Membuat Target Harian Penulisan

Photo by RODNAE Productions on Pexels.com

Target penulisan terkait dengan beberapa hal yang paling penting dalam penulisan jenis apa pun, termasuk juga dalam menulis novel sejarah pribadi 10 halaman sekali pun.

Target menulis berkaitan erat dengan jadwal menulis, kerangka menulis, deadline yang dibutuhkan, pembagian waktu dan lain sebagainya.

Bagian paling penting lain dari menentukan target harian dalam menulis adalah karena ini berhubungan erat dengan konsistensi dan disiplin. Dan seperti yang mungkin kamu ketahui, rahasia terbesar menulis adalah kedisiplinan.

Bagaimana membuat target harian penulisan? Bagaimana membaginya berdasarkan jangka waktu atau deadline?

Semuanya akan temukan E-book Panduan Menulis Kisah Hidup.

Source: Unsplash

“Menulislah dengan perasaan bebas merdeka seperti elang yang terbang tanpa khawatir sedikit pun akan terjatuh”

A Wan Bong

Poin penting terakhir yang saya sampaikan dalam E-book Panduan Menulis Kisah Hidup adalah tentang kemerdekaan dalam menulis itu sendiri. Saya ingin kamu menulis novel sejarah pribadi tentang persahabatan, tentang cinta, tentang kematian, tentang dendam atau tentang apa pun saja dengan rasa yang bebas dan merdeka.

Bebas dan merdeka seperti elang yang terbang tanpa sedikit pun khawatir akan terjatuh.

Banyak sekali para penulis pemula yang saya temui mengalami hal ini; bahwa mereka takut untuk memlampiaskan perasaan mereka sendiri dengan menulis. Padahal, cara paling kuat untuk menulis adalah dengan membuat dirimu merdeka dari rasa takut atau khawatir.

Dalam E-book Panduan Menulis Kisah Hidup menjadi buku memoar atau autobiografi, saya akan membocorkan rahasia begaimana supaya kamu bisa menulis tanpa harus merasa khawatir.

Berbagai Keunggulan E-book Kelas Menulis Pengalaman Pribadi

E-book ini tidak ditulis hanya sebagai kumpulan teori semata, saya telah menulis tiga buku memoar dan autobiografi untuk membuktikan efektivitasnya.

Saya menulis buku Islamedina; Si Wajah Cahaya setebal 750 halaman, kemudian buku Mimpi Di Mahameru setebal 200 halaman, dan buku memoar dalam bentuk kumpulan puisi dan cerpen Luka Gila Mati Lari setebal 125 halaman.

Kunci keberhasilan menulis buku-buku memoar dan autobiografi ini saya tuangkan dalam e-book panduan menulis kisah pribadi. Beberapa keunggulan yang bisa kamu peroleh dengan e-book ini antara lain adalah;

  • Ditulis oleh penulis profesional yang telah merilis 19 judul buku, fiksi dan non fiksi.
  • Bahasa e-book yang sederhana dan mudah dipahami.
  • Panduan tidak hanya berisi teori yang mengambang, namun juga langkah praktis yang mudah diaplikasikan.
  • Panduan terintegrasi dalam kelas menulis online Penulis Gunung ID  dalam bentuk video mau pun coaching personal.
  • Dilengkapi template penulisan novel yang membuat menulis layaknya seorang penulis profesional.
  • Dilengkapi panduan proses editing, proof-reading, re-write.
  • Dilengkapi panduan untuk menerbitkan karyamu sendiri dengan cara self publishing ber-ISBN.
  • Dilengkapi 10 tips rahasia sukses menulis autobiografi, memoar atau menulis buku apa saja.
  • Mendapat akses untuk konsultasi penulisan kisah pribadi langsung ke penulis e-booknya langsung melalui group face-book.
  • Dan lain-lain.

Bagaimana Cara Mendapatkan E-book Panduan Menulis Kisah Pribadi Ini?

Untuk mendapatkan e-book ini caranya gampang sekali, kamu hanya perlu men-downloadnya melalui link google drive. Dengan nilai pengalaman dan formulasi menuliskannya, harga yang diberikan hampir tidak ada nilainya.

Setelah menyelesaikan pembayaran melalui transfer, kamu dapat mengkonfirmasinya melalui whatsapp untuk kemudian link panduan download e-book diaktifkan untuk emailmu dan kamu tinggal mendownloadnya saja.

Jadi, jika pengalamanmu memang berharga dan sangat berarti untuk kamu tuliskan, biarkan e-book ini membantu kamu mewujudkannya.

Ebook Menulis Novel Kisah Pribadi by A Wan Bong

Rp, 84.000

Sekarang hanya Rp, 28.000

DOWNLOAD E-BOOKNYA SEKARANG

Note: E-book hanya bisa didownload jika kamu sudah melakukan pembayaran, mengirim alamat email dan melakukan konfirmasi melalui whatsapp ke kontak di bawah ini;

Pembayaran dilakukan melalui Bank Central Asia (BCA) dengan nomor rekening 1040363307 atas nama Anton Sujarwo



anton sujarwo

Anton Sujarwo

Saya adalah seorang penulis buku, content writer, ghost writer, copywriters dan juga email marketer. Saya telah menulis 15 judul buku, fiksi dan non fiksi, dan ribuan artikel sejak pertengahan tahun 2018 hingga sekarang.

Dengan pengalaman yang saya miliki, Anda bisa mengajak saya untuk bekerjasama dan menghasilkan karya. Jangan ragu untuk menghubungi saya melalui email, form kontak atau  mendapatkan update tulisan saya dengan bergabung mengikuti blog ini bersama ribuan teman yang lainnya.

Tulisan saya yang lain dapat dibaca pula pada website;

Saya juga dapat dihubungi melalui whatsapp di tautan ini.

Fortopolio beberapa penulisan saya dapat dilihat disini:


PENGERTIAN DAN JENIS STRUKTUR CERPEN  + 5 TIPS MUDAH MENULISKANNYA

Ketika berbicara mengenai struktur cerpen, hal pertama yang harus kamu pahami bahwa ini bukanlah sesuatu yang kaku. Tidak aturan yang mengikat bahwa struktur cerpen harus berapa jumlahnya dan apa istilahnya. Ketika ini terjun dalam praktik penulisan, istilah apa pun yang digunakan tidak pernah lebih penting daripada cara menguraikannya.

Nah, dalam artikel kali ini saya akan mengajak kamu untuk mengenal lebih jauh apa itu struktur cerpen, apa saja istilahnya, dan yang paling penting; bagaimana menuliskannya?

Jadi, baca artikel ini sampai habis, ya.

Jenis Struktur Cerpen dan 5 Tips Mudah Menuliskannya

Photo by Negative Space on Pexels.com

Dalam kesusastraan Indonesia, dikenal 6 struktur cerpen yang paling jamak yaitu; abstrak, orientasi, komplikasi, evaluasi, resolusi dan koda. Kamu dengan mudah dapat menemui struktur cerpen dan contohnya berdasarkan istilah seperti ini.

Namun jika lebih luas membahas tentang ini, ada beberapa istilah yang dapat digunakan dalam mengambarkan susunan sebuah cerita pendek atau struktur cerpen.

Dalam bahasa yang lebih sederhana, struktur sebuah cerpen bahkan hanya ada tiga yakni; intoduksi, konfrontasi dan resolusi. Sementara istilah yang lebih detail memakai urutan kata; aksi, latar belakang. pengembangan, klimak dan ending.

Lantas apa saja pengertian dari istilah-istilah ini? Dan yang paling penting ialah; sebagai seorang penulis bagaimana kamu mempraktikkan semua istilah ini dalam penulisan cerpen yang sesungguhnya?

Mari kita mulai dari struktur cerpen yang paling umum dikenal di Indonesia.

BACA JUGA:

Abstrak

Photo by Bruno Thethe on Pexels.com

Abstrak adalah struktur cerpen yang pertama dimana bagian ini adalah opsional yang bisa digunakan atau pun dilewatkan oleh penulis. Inti dari abstrak adalah ini merupakan bagian pemaparan gambaran awal sebuah cerita pendek.

Dalam abstrak kamu mungkin dapat langsung memperkenalkan tokoh utama cerpen.

Meskipun bukan menjadi bagian awal yang harus ada, abstrak umum digunakan sebagai cara membuka cerpen dan memperkenalkan ide dasar cerita.

Orientasi

Bagian kedua dari struktur cerpen yang umum dikenal di Indonesia adalah orientasi. Sesuai dengan pengertian cerpen yang mungkin sudah pernah kamu ketahui, orientasi pada cerpen merupakan bagian dari cara penulis menggambarkan setting cerita secara umum.

Nah, setting juga adalah bagian yang tidak terbatas kamu artikan hanya sebagai waktu dan tempat semata. Kondisi budaya, keyakinan, pandangan politik, adat istiadat dan pemikiran umum masyarakat juga termasuk setting dalam sebuah cerita.

Komplikasi

Struktur cerpen selanjutnya adalah komplikasi yang tentu saja dapat kamu maknai dengan mudah hanya dengan melihat pemilihan istilahnya saja.

Komplikasi adalah tentang kausalitas atau sebab akibat dimana konflik cerpen mulai naik dan tokoh utama cerpen mulai ditarik keluar dari zona nyamannya.

Pada bagian komplikasi, permasalahan utama cerpen mulai mengalami penguatan dan menuntut penyelesaian segera. Kamu dapat mempergunakan unsur waktu, risiko, keselamatan dan lain sebagainya untuk membuat komplikasi pada struktur cerpen tensinya menjadi lebih tinggi.

Evaluasi

Photo by Tim Grundtner on Pexels.com

Istilah selanjutnya dalam struktur cerpen yang paling umum dikenal di Indonesia adalah evaluasi. Ini adalah bagian dimana semua konflik yang diuraikan dalam cerpen akan mencapai klimaks.

Jika kamu melihat pengertian struktur cerpen brainly yang dikutip dalam buku pembelajaran di sekolah-sekolah, bagian evaluasi juga adalah bagian dimana jalan keluar konflik sudah terlihat.

Solusi konflik cerita ini mungkin sudah dapat ‘dirasakan’ oleh pembaca pada bagian evaluasi meskipun bagian itu sendiri belum diuraikan sepenuhnya.

Resolusi

Sesuai dengan namanya, resolusi adalah solusi atau jalan keluar dari konflik sebuah cerpen.

Setelah kamu menceritakan bagaimana sebab akibat dalam struktur cerpen komplikasi, ini adalah bagian kamu memecahkan kebuntuannya dengan memberikan solusi.

Solusi cerpen biasanya selalu singkat. Akan tetapi yang paling penting adalah kamu bisa memberi jawaban penuh ke pembaca pada bagian ini.

Orientasi, komplikasi, evaluasi dan resolusi adalah 4 struktur cerpen yang paling pokok. Tanpa adanya salah satunya bagian ini, bangunan cerita pendek atau cerpen menjadi tidak utuh atau cacat.

Koda

Bagian terakhir dari struktur cerpen yang paling umum dikenal di Indonesia adalah koda. Dalam istilah yang lebih general, kamu dapat megartikan koda ini sebagai amanat, pesan atau wasiat.

Koda atau amanat cerpen berhubungan erat dengan tema cerpen itu sendiri.

Jika kamu menulis cerpen persahabatan, maka nilai-nilai persahabatan itu pula yang akan disampaikan dalam koda. Begitu juga dengan tema cerpen cinta, maka nilai-nilai tentang cinta itu juga yang dikristalkan dalam koda.

Walaupun ciri-ciri cerpen tidak pernah mencantumkan koda atau amanat sebagai penutupnya, dalam praktiknya bagian ini sebenarnya bisa kamu tinggalkan dengan catatan; amanat itu sudah tersampaikan tanpa harus dituliskan lagi.

Kamu pasti pernah membaca sebuah cerpen yang tidak mencantumkan amanat, tetapi kamu sendiri sudah bisa mendapatkan pesan pentingnya, bukan?

BACA JUGA:

3 Struktur Cerpen Berdasarkan Pembagian Paling Sederhana

Photo by Ann H on Pexels.com

Di samping 6 istilah struktur cerpen di atas, ada juga struktur cerita pendek yang lebih mudah untuk kamu pahami. Struktur ini hanya terdiri dari tiga bagian saja yaitu; introduction atau introduksi (pengenalan), confrotation atau konfronrasi dan, resolution atau resolusi.

Berikut penjelasannya masing-masing.

Pengenalan atau Intoduksi (Introduction)

Selain pengenalan, bagian paling awal struktur dalam cerpen yang satu ini dapat disebut juga sebagai pendahuluan.

Pada bagian ini kamu akan memperkenalkan siapa tokoh utama cerita yang juga tokoh protagonis, apa permasalahan yang ia hadapi dan bagaimana pula setting atau latar belakang cerita yang terjadi.

Pada bagian introduksi, tokoh utama cerita akan dipanggil keluar dari zona nyamannya untuk menyelesaikan sebuah persoalan yang menjadi konflik utama cerpen.

Secara lengkap, pengertian struktur cerpen ini juga mengharuskan kamu sebagai penulisnya untuk memberikan ‘janji’ ke pembaca mengenai kemana cerpen tersebut akan membawa mereka.

Konfrontasi

Sejujurnya ini adalah bagian yang paling sulit dalam penulisan cerpen. Sulit dalam artian bagaimana kamu menjaga pembaca tetap antusias mengikuti berbagai perkembangan cerita sebelum klimaks dan resolusi dimunculkan.

Pada bagian tengah  cerpen atau yang disebut dengan konfrontasi ini, kamu akan memberikan beberapa permasalahan tambahan pada karakter protagonis dan sekutunya. Tujuan kompilasi problem pada bagian ini adalah untuk meningkatkan tensi cerita.

Resolusi atau Jalan Keluar

Resolusi adalah urutan struktur cerpen yang paling akhir dalam pembagian yang sederhana ini.

Dalam resolusi, tokoh utama cerita atau tokoh protagonis melakukan aksi yang tujuannya adalah untuk melewati rintangan, memecahkan masalah dan menyeimbangkan suasana.

Apa pun yang dilakukan karakter protagonis cerpen disini, ingatlah bahwa ia harus memenuhi janji yang sudah kamu gambarkan di awal cerita.

BACA JUGA:

Pembagian Struktur Teks Cerpen Menurut Penulis Anne Lamott

Photo by Angela Roma on Pexels.com

Sebagai tambahan wawasan pengetahuan mengenai struktur dalam cerpen, saya akan menyampaikan pula apa yang menjadi bagian-bagian pada struktur cerpen menurut salah satu penulis yang cukup populer yakni, Anne Lamot.

Anne Lamott membagi struktur teks cerpen menjadi 5 bagain berikut ini;

  1. Action – Cerpen dimulai dengan sebuah tindakan menarik yang dilakukan oleh karakter dalam cerpen yang membuat pembaca menjadi penasaran dan ingin tahu lebih banyak.
  2. Background – Bagian ini menjelaskan latar belakang karakter protagonis, dimana ceritanya terjadi, siapa dia sebenarnya, apa yang membuatnya terhubung dengan karakter lain dalam cerpen.
  3. Develop – Ini adalah tempat dimana penulis mengembangkan cerita dan karakter cerpen. Di sini penulis menjelaskan apa yang dilakukan oleh tokoh utama cerpen, apa yang ia pedulikan, apa prioritasnya dalam cerita, dan lain sebagainya. Develop adalah bagian dalam struktur cerpen dimana plot cerita, alur, efek dramatis dikembangkan oleh penulis.
  4. Climax – Ini adalah bagian dalam struktur penulisan cerpen dimana karakter protagonis melalukan sesuatu yang membuat ia mencapai tujuan konflik cerita. Bagian ini juga menjadi wilayah dimana penulis dapat menambahkan perkembangan karakter protagonis yang pesat untuk menyelesaikan konflik cerita.
  5. EndingEnding cerpen harusnya selalu memunculkan perenungan, muhasabah dan nilai-nilai untuk dipikirkan oleh pembaca. Pada bagian ini pembaca akan mengetahui siapa karakter cerita setelah klimaks terjadi, bagaimana pembaca melihatnya di akhir cerita dan yang paling penting; apa artinya semua kejadian sepanjang cerpen itu dituturkan.

5 Tips Menulis Struktur Teks Cerpen yang Mudah Diterapkan

Photo by lilartsy on Pexels.com

Sebagai penutup pembahasan mengenai struktur cerpen ini, sekarang mari saya ajak kamu melihat beberapa tips atau kiat menulis cerpen yang sangat mudah dipraktikkan.

Dengan informasi dasar mengenai struktur cerpen sebelumnya, baik itu struktur cerpen yang biasa ditemukan dalam istilah di Indonesia atau pun istilah lain di atas, tips berikut ini nanti lebih mudah untuk kamu praktikkan.

  • Berikan informasi sebanyak mungkin kepada pembaca sesegera mungkin yang kamu bisa. Ini berkorelasi dengan definisi cerpen yang merupakan cerita pendek, kamu sebaiknya tidak bertele-tele menyampaikan informasi kepada pembaca supaya mereka tetap antusias dalam menyusuri cerita.
  • Berikan kepada pembaca setidaknya satu orang karakter yang bisa mereka dukung dan ini biasanya adalah tokoh protagonis. Keberadaan karakter yang bisa mereka dukung yang membuat pembaca menjadi berpihak akan membuat cerpen lebih menarik untuk mereka baca hingga akhir.
  • Buat setiap karakter dalam cerita harus menginginkan sesuatu sebagai tujuan yang akan mereka raih dalam cerpen. Bahkan jika tujuan ini hanya segelas air atau selembar tissue, tetap berikan setiap karakter cerpenmu satu misi untuk mereka capai.
  • Setiap pilihan kalimat yang digunakan dalam cerpen harus berisi di antara dua hal ini; menjelaskan karakter cerita, pertumbuhan pribadinya atau mengembangkan jalannya cerita. Dikarenakan cerpen memiliki kalimat yang jumlahnya terbatas, pastikan kamu menggunakannya dengan bijaksana.
  • Pastikan kamu memulai cerita dalam cerpenmu yang sedekat mungkin dengan hasil akhirnya. Artinya adalah konflik yang diangkat dalam cerpen harus singkat, jelas, dan dekat dengan ending cerita. Kembali lagi, ini adalah tentang mempergunakan setiap kata dalam cerpen seefisien mungkin.

BACA PULA:

Nah, itu adalah beberapa tips menulis cerpen yang tentunya dapat dengan mudah kamu praktikkan. Kuncinya adalah semakin sering kamu melatih dirimu dalam menulis cerpen atau menulis cerita apa pun, maka semakin mahir pula kamu melakukannya.

Selamat mencoba.

Berani?

Satu bulan punya buku atas nama kamu sendiri


anton sujarwo

Anton Sujarwo

Saya adalah seorang penulis buku, content writer, ghost writer, copywriters dan juga email marketer. Saya telah menulis 15 judul buku, fiksi dan non fiksi, dan ribuan artikel sejak pertengahan tahun 2018 hingga sekarang.

Dengan pengalaman yang saya miliki, Anda bisa mengajak saya untuk bekerjasama dan menghasilkan karya. Jangan ragu untuk menghubungi saya melalui email, form kontak atau  mendapatkan update tulisan saya dengan bergabung mengikuti blog ini bersama ribuan teman yang lainnya.

Tulisan saya yang lain dapat dibaca pula pada website;

Saya juga dapat dihubungi melalui whatsapp di tautan ini.

Fortopolio beberapa penulisan saya dapat dilihat disini:


PENGERTIAN FLASHBACK DAN 7 CARA PALING TEPAT MENULISKANNYA

Dalam penulisan cerita berbentuk novel atau cerpen, flashback sering salah digunakan. Meskipun flashback artinya sendiri adalah cara menyampaikan kisah masa lampau dalam busur waktu saat ini, nyatanya penulisan flashback kadang menciderai alur cerita yang sedang berjalan.

Penulis berpengalaman umumnya tidak menggunakan metode flashback secara sembarangan. Sebelum memutuskan untuk menggunakan flashback atau tidak, mereka mempertimbangkan beberapa hal yang krusial supaya adanya flashback benar-benar bisa menyempurnakan cerita.

Jadi, apa sebenarnya yang dimaksud dengan flashback dan apa saja pertimbangan sebelumnya mengaplikasikannya?

Yuk, simak ulasannya berikut ini.

Pengertian Flashback dan Panduan Menuliskannya Dalam Cerita

Flashback moment artinya adalah pengulangan kembali sebuah peristiwa guna melengkapi kesempurnaan dalam alur cerita. Flashback umum diaplikasikan dalam penulisan novel, memoar, cerpen atau pun penulisan prosa yang lainnya.

Hal penting juga ketika mengartikan flashback dalam penulisan adalah ini bukan semata-mata peristiwa yang sepele.

Flashback harus selalu memiliki kekuatan emosional pada karakter cerita, baik ia karakter utama atau bukan. Pengertian lengkap flashback mengungkapkan bahwa peristiwa ini juga haruslah krusial dan menghantui pemikiran karakter cerita walau itu misalnya bukanlah sesuatu yang menyedihkan.

Contoh kalimat flashback-nya bisa seperti ini;

  • Sambil terisak, Clara menceritakan kembali bagaimana suaminya terseret ombak dan menghilang ketika kayak yang ia gunakan terbalik sekitar 15 tahun yang lalu.
  • Sudah genap 35 tahun berlalu, namun Brian masih mengingat dengan jelas bagaimana ia dan Hania menghabiskan senja di pantai kala itu.

Ini adalah contoh flashback yang singkat dan mudah untuk dimengerti arahnya. Namun, flashback juga bisa lebih kompleks dan panjang. Beberapa penulis hebat kadang mampu membuat adegan flashback dalam satu bagian penuh tanpa mengganggu jalannya alur cerita.

Nah, untuk membuat flashback yang baik, kamu bisa mempraktikkan beberapa tips berikut ini;

BACA JUGA:

Ketahui dan Pastikan Apakah Ceritamu Memang Membutuhkan Flashback atau Tidak

Photo by Janko Ferlic on Pexels.com

Sebelum kamu memutuskan untuk menggunakan flashback dalam novel atau cerpen yang kamu tulis, pastikan terlebih dahulu apakah ceritamu memang membutuhkan flashback atau tidak.

Dengan sifatnya yang menginterupsi alur cerita dalam sudut pandang waktu, menyisipkan flashback memang harus dilakukan dengan sangat hati-hati. Penempatan flashback yang tidak tepat dan tidak perlu, justru akan membuat kesempurnaan cerita menjadi terganggu.

Flashback dalam cerita mungkin tidak persis sama dengan apa arti flashback dalam cinta anak remaja. Namun keduanya memiliki impact yang sama terkait alur, yakni akan menggangu konsentrasi untuk beberapa lama.

Jika demikian, apa yang bisa kamu lakukan dalam mempertimbangkan apakah akan menggunakan flashback atau tidak?

Untuk menjawabnya, kamu bisa mengajukan beberapa pertanyaan berikut ini;

  • Apakah peristiwa yang ingin kamu ceritakan sebagai flashback ini benar-benar penting bagi alur cerita atau perkembangan karakter utama?
  • Apa manfaat kamu menggunakan flashback tersebut?
  • Apa yang akan terlewatkan oleh pembaca jika flashback itu tidak kamu berikan?
  • Apakah flashback ini tidak akan mengganggu alur cerita atau justru membuat pembaca menjadi bingung?

Intinya adalah, jika peristiwa yang ingin kamu ceritakan dalam flashback itu adalah bagian krusial yang menjadi kunci perkembangan alur, kamu dapat mengeksekusinya sebagai sebuah flashback.

Sebaliknya, jika peristiwa tersebut tidak memiliki pengaruh signifikan apa-apa bagi kesempurnaan alur yang sedang berjalan, maka lupakan flashback.

Amati Penulisan Flashback Penulis Lain untuk Mendapatkan Referensi

Photo by cottonbro on Pexels.com

Menulis flashback adalah memutuskan untuk mendongeng kepada pembaca dengan melompati waktu ke masa lalu. Proses ini bisa sangat menantang untuk mendapatkan hasil maksimal.

Beberapa penulis pemula yang ‘tidak sabaran’ biasanya sering menggunakan flashback hanya karena mereka menyukainya.

Ini memang tidak salah secara prinsip. Namun, ketika penggunaan flashback-nya kemudian dilakukan dengan cara yang tidak tepat, maka kesalahan serius yang menciderai alur cerita akan bermula.

Nah, untuk meminimalisir hal ini, kamu sebaiknya menyempatkan diri untuk mengamati penulisan flashback yang dilakukan oleh penulis lain terlebih dahulu. Perhatikan dan rasakan apakah flashback tersebut nyaman kamu baca dan membuatmu lebih mudah untuk memahami cerita atau sebaliknya.

Dalam novel Merapi Barat Daya, saya menulis contoh kalimat flashback sederhana begini;

Elya terdiam menyimak bait demi bait lantuan shalawat yang merdu itu. Teringat lagi dalam benaknya bagaimana ibu dan guru mengajinya mengajarkan shalawat itu padanya ketika usianya masih anak-anak dulu. Sholawat tahrim adalah sanjungan kepada Rasulullah SAW, manusia paling mulia dimuka bumi. Sebagai bentuk pujian, kecintaan, kerinduan, rasa takzim dan hormat, rasa haru dan juga rasa malu dari umat Rasullullah yang sungguh ingin meneladani nabi mereka. Itu adalah shalawat yang menyentuh jauh ke dalam relung kalbu, membangkitkan perasaan dan kerinduan akan kebaikan dan kemuliaan.

Kamu tentunya dapat menemukan referensi yang lebih banyak mengenai cara penulisan peristiwa flashback. Semakin banyak referensi yang kamu miliki, semakin menarik pula kamu akan mengeksekusinya dalam cerita yang kamu tuliskan.

BACA PULA:

Pastikan Jangka Waktu Peristiwa Flashback Tetap Singkat     

Photo by RODNAE Productions on Pexels.com

Tips ketiga sebelum kamu menulis sebuah peristiwa flashback adalah dengan menentukan time frame peristiwa tersebut tetap singkat. Misalkan kamu akan membuat flashback untuk sebuah peristiwa yang terjadi dalam satu hari pada beberapa tahun yang lalu.

Sudah jelas bahwa flashback adalah masa yang diangkat kembali setelah berlalu beberapa lama. Dikarenakan sifatnya adalah flash atau kilat, maka ini harus diartikan sebagai pengingat kembali untuk sesuatu yang singkat pula.

Maksudnya begini;

Kamu dapat membuat sebuah flashback cerita hanya untuk kurun waktu yang singkat saja, bisa satu hari, satu minggu atau satu bulan.

Rangkaian pesan emosional dalam satu periode waktu itulah yang bisa kamu jadikan flashback. Hindari membuat flashback untuk periode waktu yang sangat lama seperti tahun atau yang lebih lama dari itu.

Dalam contoh Clara yang menangis karena mengingat suaminya terseret ombak, maka peristiwa singkat terseret ombak itulah periode waktu flashback-nya. Sementara dalam Brian yang mengingat senja ketika bersama Hania, maka senja itulah yang menjadi time frame periode waktunya.

Kamu dapat memperhatikan kalau senja yang dialami Brian dan momen terseret ombak yang diingat Clara adalah peristiwa yang singkat, bukan?

Tapi sekali lagi, peristiwa itu memiliki dampak emosional yang besar bagi mereka.

Tambahkan Detail Setting sebagai Ciri Telah Terjadi Perjalanan Waktu

Photo by Andrea Piacquadio on Pexels.com

Nama lain flashback adalah kilas balik yang artinya ini memaksa pembaca untuk mengingat kembali secara sekilas peristiwa yang telah terjadi beberapa waktu sebelumnya. Nah, untuk membuat tujuan kilas balik ini sempurna, kamu perlu menambahkan detailnya.

Contohnya begini;

Jika Brian dan Hania menghabiskan senja itu adalah tahun 1980 dan ia mengingatnya 35 tahun kemudian dalam momen flashback yang artinya adalah tahun 2015, maka kamu harus memberikan tambahan detail tahun 1980 dalam flashback-nya.

Tahun 1980 dunia tidak mengenal smartphone, internet belum menjadi kebutuhan pokok, celana model cut bray masih eksis dan rambut kribo adalah trend.

Nah, hal-hal detail seperti ini dapat kamu tambahkan pada flashback cerita supaya imajinasi pembaca semakin kuat untuk memahami bahwa alur cerita dimana kamu membawa mereka sedang ada di tahun 1980-an.

Detail seperti ini mungkin tidak begitu telihat pada saat kamu menulis flashback untuk periode waktu yang terjadi beberapa hari atau beberapa bulan sebelum adegan menghadirkan momen flashback.

Sebagai gantinya, kamu dapat menunjukkan detail setting yang terjadi pada peristiwa flashback tersebut secara lebih terperinci. Hal ini bisa saja misalnya adalah warna baju, barang yang dibawa, perasaan yang dialami atau hal lainnya.

BACA JUGA:

Gunakan Gaya Penulisan yang Konsisten Selama Penulisan Flashback

Photo by furkanfdemir on Pexels.com

Untuk flashback yang diambil dalam kurun waktu yang sudah lama berlalu, beberapa penulis memilih menggunakan gaya penulisan yang berbeda, dan ini tidak menjadi soal selama kamu konsisten menuliskannya.

Memilih gaya penulisan selama flashback mungkin adalah detail yang kecil, namun ini juga membutuhkan perhatian dan konsistensi. Ketika misalnya kamu menggunakan bahasa penulisan modern dalam gaya penulisan utama cerita, maka kamu bisa menggunakan gaya penulisan agak klasik untuk sebuah peristiwa flashback.

Misalnya begini;

Brian membenamkan pandangannya di antara selaput senja yang kian jingga. Melody saxophone Lenny Kravits dari wireless speaker di sudut ruang belakang rumahnya mengalun lembut, smooth seperti raut wajah Hania yang membayang di antara larik-larik senja.

Bandingkan dengan ini;

Susah betul lidah Brian untuk berbicara di senja nan bahagia itu. Kelu sudah rasanya, tak dapat ia berkata-kata apa saking senangnya. Tatapan bola mata indah Hania sudah cukup baginya, mengisi relung kalbunya dalam nyawa-nyawa senja yang temaram dalam kasih.

Dua contoh flashback di atas menggambarkan sebuah peristiwa yang sama namun dengan gaya penulisan yang berbeda. Apa pun jenis gaya penulisan yang kamu pilih, gunakan itu secara konsisten hingga momen flashback berakhir.

Temukan Adegan yang Kuat Ketika Flashback akan Dilakukan

Photo by jasmin chew on Pexels.com

Salah satu kunci menulis flashback yang sukses adalah dengan memilih tempat paling tepat untuk melakukannya. Untuk alasan ini pula, arti flashback dan throwback dalam penulisan cerita tidak dapat dilakukan di sembarang tempat.

Beberapa penulis pemula tergoda untuk membuat adegan flashback dengan sangat jelas dimana mereka membukanya dengan intro terlebih dahulu. Sebenarnya tidak ada masalah dengan ini, namun prosesnya akan kurang lembut karena benar-benar akan membuat pembaca mengalihkan perhatiannya untuk sementara.

Solusinya adalah dengan memasukkan awalan adegan flashback secara samar.

Caranya bagaimana?

Kamu bisa memasukkan adegan flashback di tengah-tengah narasi sehingga pembaca tidak terlau terasa ‘dipaksa’ untuk keluar dari alur cerita.

Elya terdiam menyimak bait demi bait lantuan shalawat yang merdu itu. Teringat lagi dalam benaknya bagaimana ibu dan guru mengajinya mengajarkan shalawat itu padanya ketika usianya masih anak-anak dulu.

Coba lihat lagi contoh di atas, perhatikan bagaimana adegan flashback diawali langsung dari sebuah narasi yang sedang terjadi.

Tips lain yang juga bisa kamu gunakan adalah dengan memasukkan flashback pada adegan-adegan cerita yang paling kuat sehingga ketika momen flashback berakhir, pembaca akan dengan mudah kembali kepada adegan dimana mereka diajak keluar untuk mengunjungi kilas balik peristiwa di masa lalu.

BACA PULA:

Evaluasi dan Pastikan Kinerja Positif Flashback yang Ditulis terhadap Alur Cerita

Photo by Jeswin Thomas on Pexels.com

Langkah terakhir yang harus kamu lakukan dalam menulis flashback adalah dengan memastikannya memang memiliki peran penting dalam perkembangan cerita.

Jadi, setelah adegan flashback berhasil kamu tuliskan, evaluasi kembali apakah hal itu sudah memenuhi fungsinya atau tidak.

Sebagai sebuah peristiwa penting yang diingat kembali pada masa cerita berjalan, flashback atau throwback harus seperti sebuah puzzle yang menggenapi cerita. Dalam tema kriminalitas, flashback seringkali menjadi bagian dari kunci yang disodorkan penulis untuk memberitahu pembaca tentang bukti-bukti.

Intinya adalah, pastikan adegan flashback atau kilas balik yang kamu tuliskan benar-benar membantu bangunan cerita menjadi lebih sempurna.

Selamat mencoba!

Berani?

Satu bulan menulis kisah hidupmu menjadi sebuah buku?

Ikut Kelas Menulisnya Sekarang


anton sujarwo

Anton Sujarwo

Saya adalah seorang penulis buku, content writer, ghost writer, copywriters dan juga email marketer. Saya telah menulis 15 judul buku, fiksi dan non fiksi, dan ribuan artikel sejak pertengahan tahun 2018 hingga sekarang.

Dengan pengalaman yang saya miliki, Anda bisa mengajak saya untuk bekerjasama dan menghasilkan karya. Jangan ragu untuk menghubungi saya melalui email, form kontak atau  mendapatkan update tulisan saya dengan bergabung mengikuti blog ini bersama ribuan teman yang lainnya.

Tulisan saya yang lain dapat dibaca pula pada website;

Saya juga dapat dihubungi melalui whatsapp di tautan ini.

Fortopolio beberapa penulisan saya dapat dilihat disini:


MENGENAL TOKOH ANTAGONIS, PROTAGONIS & TRITAGONIS DALAM PENULISAN CERITA

Karakter protagonis dan antagonis adalah peran yang setara dalam penulisan sebuah cerita. Di antara dua jenis karakter ini, terselip tokoh tritagonis yang juga menjadi peran penting cerita. Baik protagonis, antagonis mau pun tritagonis, harus mampu saling topang untuk membentuk bangunan cerita yang epik dan menarik.

Nah, untuk kamu yang memiliki pertanyaan mengenai; apa sebenarnya yang dimaksud dengan tokoh antagonis, protagonis atau pun tritagonis?

Artikel Penulis Gunung ID kali ini akan mengulasnya untuk kamu.

Pengertian Tokoh Antagonis, Protagonis dan Tritagonis

Photo by cottonbro on Pexels.com

Apa pun jenis cerita yang kamu tulis, karakter adalah pusat ceritanya. Bukan setting, bukan alur, dan bukan pula  tema, tetapi karakterlah yang akan menentukan keseluruhan denyut nadi sebuah cerita.

Bahkan ada sebuah ungkapan yang mengatakan bahwa yang menentukan alur sebuah cerita bukanlah penulisnya, melainkan karakter cerita itu sendiri.

Ungkapan ini mungkin membingungkan bagi beberapa orang. Namun kebingungan ini bisa dipecah dengan menguraikan apa saja karakter dalam sebuah cerita, apa fungsi mereka dan mengapa peran mereka demikian besar dalam membentuk bangunan sebuah cerita?

Nah, sekarang mari saya ajak kamu berkenalan dengan jenis-jenis karakter tersebut.

BACA JUGA:

Karakter Protagonis

Photo by Engin Akyurt on Pexels.com

Dalam cerita, karakter protagonis adalah tokoh central dimana cerita dipusatkan. Tokoh protagonis merupakan simbol dari kebaikan, gambaran ideal manusia dan menjadi tokoh dimana cerita berkembang. Pada pengertian yang sempit, kadang tokoh protagonis dianggap juga sebagai tokoh utama sebuah cerita.

Penceritaan fiksi memusatkan alur tempat berkembangnya cerita pada tokoh protagonis, bukan pada setting atau latar.

Tokoh protagonis adalah karakter cerita yang menjalani perjalanan untuk mencapai tujuan cerita. Segala hal yang terjadi di sepanjang upaya tokoh protagonis untuk mencapai tujuan tersebut adalah yang kemudian menjadi perkembangan cerita.

Dalam upayanya untuk mencapai tujuan, tokoh protagonis akan mendapatkan rintangan, halangan dan kendala dari karakter cerita yang lain. Nah, karakter lawan protagonis inilah yang kemudian menjadi karakter antagonis.

Tokoh Antagonis

Photo by Hamid Tajik on Pexels.com

Mengartikan peran antagonis adalah peran jahat yang identik dengan sifat-sifat buruk saja, sebenarnya kurang tepat. Watak antagonis dalam pengertian yang komprehensif tidak dapat dimaknai sedangkal itu?

Jadi, apa yang dimaksud dengan antagonis?

Karakter antagonis adalah tokoh yang menjadi penghalang utama karakter protagonis dalam mencapai tujuannya yang menjadi alur utama cerita. Bagaimana pun karakter protagonis menghadapi rintangan dalam upaya mewujudkan misinya dalam cerita, sumber rintangan terbesar itu haruslah datang dari karakter antagonis.

Nah, dari pemaknaan ini maka pengertian antagonis adalah watak yang diciptakan oleh penulis fiksi sebagai kontra, lawan atau musuh tokoh protagonis dalam meraih tujuannya dalam cerita. Barulah kemudian gambaran tokoh antagonis banyak dideskripsikan sebagai tokoh yang jahat, licik dan culas.

Setidaknya itu yang tergambar jika kita mendeskripsikannya secara sederhana.

Tokoh Tritagonis

Photo by Pixabay on Pexels.com

Istilah tritagonis sebenarnya tidak begitu populer dalam karakter cerita. Namun, di Indonesia istilah tritagonis lebih banyak digunakan untuk mewadahi karakter apa pun di antara protagonis dan antagonis. Padahal untuk tiap peran cerita, istilah yang digunakannya pun biasanya berbeda.

Jika mengartikan tokoh tritagonis adalah karakter yang berada di antara antagonis dan protagonis saja, maka akan ada beberapa gradasi penokohan yang misalnya berpihak ke salah satu pihak sepanjang cerita.

Nah, dalam penulisan cerita fiksi yang lebih kompleks selain dikenal protagonis dan antagonis, juga dikenal karakter lain yang lebih spesifik seperti sidekick, mentor dan love interest. Istilah ini mungkin terdengar lebih rumit, namun ia bisa lebih detail menjelaskan posisi karakter di antara tokoh protagonis ataukah antagonis.

Nah, untuk memudahkan kamu memahami siapa karakter tritagonis ini, berikut penjelasannya;

BACA JUGA:

Tokoh Sidekick

Photo by Andrea Piacquadio on Pexels.com

Karakter sidekick dalam cerita dapat diterjemahkan secara sederhana sebagai karakter pembantu bagi tokoh protagonis.

Karakter sidekick dalam konteks ini bisa berupa sahabat sejati, teman seperjuangan, atau karakter lainnya yang sifatnya menjadi support bagi tokoh protagonis.

Untuk lebih mudah memahami karakter sidekick pada sebuah cerita, kamu dapat mengamati ciri-cirinya berikut ini;

  • Bersikap setia dan membantu tokoh protagonis untuk mencapai tujuan utama cerita.
  • Memiliki posisi sejajar dengan tujuan tokoh protagonis dalam cerita.
  • Memiliki perbedaan dengan tokoh protagonis dalam beberapa hal yang penting. Kamu dapat melihat contoh ini misalnya pada tokoh sidekick seperti Harmione dan Ron Weasley dalam kisah Harry Potter.

Tokoh Mentor

Photo by cottonbro on Pexels.com

Karakter selanjutnya yang juga merupakan bagian dari tokoh tritagonis adalah mentor. Karakter ini dapat dengan mudah dipahami sebagai karakter yang menjadi coach, pelatih, atau guru tokoh protagonis.

Dalam cerita silat kolosal di Indonesia kamu dapat dengan mudah mengenal tokoh mentor seperti ini. Namun, untuk membuatnya lebih mudah dikenali berikut adalah beberapa ciri-ciri utama tokoh mentor.

  • Merupakan guru atau watak yang membantu protagonis untuk mencapai tujuannya.
  • Menjadi pelindung bagi tokoh protagonis selama proses pencarian dirinya sendiri. Contoh ini dapat kamu lihat dalam novel silat Wiro Sableng; Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212 dimana tokoh Sinto Gendeng menjadi mentornya. Sebelum Wiro Sableng menjadi pendekar sakti mandraguna, Sinto Gendeng-lah yang menjadi pelindungnya.
  • Membantu tokoh protagonis untuk menemukan jalan yang benar dalam pencarian jati dirinya.
  • Merupakan tokoh panutan bagi sang protagonis dimana ia menemukan keteladanan untuk ia tiru.
  • Membantu atau melawan tokoh protagonis, tergantung dari sisi apa pencarian moral tokoh protagonis dibutuhkan.

Tokoh Love interest

Photo by Misha Voguel on Pexels.com

Baik tokoh sidekick, mentor atau pun love interest, dapat saja menjadi tokoh utama cerita dimana mereka memainkan peran yang penting dan menentukan perkembangan cerita. Love interest dapat menjadi menarik karena kadang-kadang ia memunculkan interpretasi yang keliru mengenai peran yang ia mainkan.

Namun, ada beberapa hal penting yang bisa dilakukan untuk mengenal tokoh love interest, yaitu:

  • Merupakan karakter dimana tokoh protagonis jatuh cinta, pernah jatuh cinta atau pun jatuh cinta kembali.
  • Seringkali tokoh love interest menjadi katalisator atau tokoh yang membantu tokoh protagonis secara luar dan dalam pada perjalanan kisahnya.
  • Merupakan orang yang mendukung dan melawan protagonis, tergantung dari mana kebutuhan cerita untuk membuat tokoh protagonis maju dalam perkembangan pribadinya.

Sebenarnya, ada beberapa karakter lain lagi dalam sebuah cerita di samping beberapa karakter di atas. Meskipun demikian, umumnya karakter ini adalah karakter yang selalu menjadi bagian dari circle baik itu protagonis mau pun antagonis.

Beberapa istilah yang digunakan untuk karakter ini misalnya adalah; skeptis, guardian, contagonis, reason, emotion dan lain sebagainya. Mudahnya di Indonesia kita dapat menyebut karakter-karateri ini sebagai figuran saja.

Tokoh figuran adalah tokoh lain yang membantu menyempurnakan jalan cerita. Peran tokoh figuran memang tidak krusial dalam sebuah cerita. Namun tanpa kehadiran mereka, beberapa cerita justru terasa begitu kering dan gersang.

BACA PULA:

Bagaimana Membangun Karakter Antagonis, Protagonis dan Tritagonis yang Bagus dalam Cerita

Photo by Bess Hamiti on Pexels.com

Jika kamu adalah seorang penulis yang sedang berusaha membangun karakter yang kuat dalam cerita fiksi, Penulis Gunung ID memiliki beberapa tips yang dapat kamu lakukan untuk membangun karakter tokoh cerita yang menarik.

Di beberapa artikel sebelumnya, saya sudah mengajak kamu misalnya untuk mengenal dan membangun karakter protagonis yang hebat.

Nah, dalam artikel kali ini saya hanya akan membagikan beberapa tips singkat saja yang tentunya dapat kamu gunakan pula untuk mengembangkan karakter cerita yang bagus.

Tips Membuat Karakter Protagonis yang Menarik

Photo by Ahmad Qime on Pexels.com

Untuk membangun tokoh protagonis yang menarik, berkesan dan kuat tertanam dalam ingatan para pembaca, kamu setidaknya dapat mempraktikkan beberapa tips berikut ini;

  • Buat tokoh protagonis ceritamu lebih manusiawi.
  • Bangun latar belakang yang spesifik tokoh protagonis.
  • Buat daftar lengkap profil sang karakter protagonis.
  • Berikan tokoh protagonis motivasi yang kuat untuk mencapai tujuan cerita.
  • Buat tokoh protagonis pernah mengalami kegagalan, kekalahan atau kehilangan sesuatu.
  • Jangan manjakan tokoh protagonis dalam ceritamu, biarkan ia berkembang, memecahkan masalah, melalui risiko dan juga rintangan.

Tips Membuat Tokoh Antagonis yang Hebat

Photo by KoolShooters on Pexels.com

Penulis umum hampir selalu menggambarkan bahwa karakter antagonis adalah tokoh yang berwatak jahat dan lambang keburukan. Namun penulis yang hebat akan membuat karakter antagonis mereka jauh lebih mengesankan. Bahkan selain mampu memberi warna yang kuat pada cerita, antagonis yang hebat juga mampu menarik cinta dari para pembaca.

Nah, bagaimana membangun karakternya?

Berikut beberapa hal yang bisa kamu lakukan;

  • Beri tokoh antagonis motivasi yang kuat atas sesuatu yang ia lakukan.
  • Buat tokoh antagonis memiliki keyakinan dalam dirinya sendiri bahwa ia bukanlah orang jahat, melainkan seorang pahlawan.
  • Beri kesempatan pada tokoh antagonis untuk melakukan beberapa hal yang membuat pembaca jatuh hati.
  • Buat tokoh antagonis dalam ceritamu adalah seseorang yang cerdas sehingga ia layak untuk dihormati.
  • Buat tokoh antagonis adalah seorang yang peramah, mudah diajak berkomunikasi, memiliki visi yang besar.
  • Beri kesempatan pada tokoh antagonis dalam cerita untuk menunjukkan sesuatu yang kejam, tidak berbelas kasih dan juga sangat mengerikan untuk menegaskan karakter sejatinya.

BACA PULA:

Tips Membuat Tokoh Tritagonis atau Karakter Pembantu yang Bagus

Photo by Alexandr Podvalny on Pexels.com

Walaupun hanya karakter pembantu atau figuran dalam sebuah cerita, kamu juga tidak boleh membuat mereka seadanya atau ala kadarnya saja.

Karakter tritagonis yang kuat bukan hanya akan membantu jalan cerita menjadi semakin menarik, namun juga akan membuat dukungan mereka terhadap karakter protagonis atau antagonis semakin sempurna.

Nah, untuk menciptakan karakter tritagonis yang bagus, kamu dapat melakukan beberapa tips berikut ini;

  • Beri tokoh tritagonis karakteristik yang unik dan menarik.
  • Beri tokoh tritagonis latar belakang. Kamu tidak perlu membuatnya panjang dan detail, tapi tetap berikan mereka latar belakang untuk diketahui pembaca.
  • Tidak ada salahnya dengan memberikan karakter tritagonis cara berbicara atau berkomunikasi yang khas.
  • Hindari membuat tokoh protagonis sebagai gambaran yang sempurna, meskipun ia adalah master atau mentor dari tokoh protagonis sekali pun.
  • Berikan tokoh pembantu dalam cerita tempat mereka sendiri, jangan membuat mereka bisa tampil dengan acak di semua setting cerita.
  • Jangan melupakan bahwa kehadiran tritagonis atau tokoh pembantu dalam cerita adalah support bagi karakter protagonis atau antagonis. Perbesar sudut pandang menulisnya dari sana.
  • Tidak semua karakter pembantu cerita akan tertanam di benak pembaca, jadi biarkan beberapa di antaranya tenggelam dan terlupakan.

Nah, itu adalah beberapa hal yang bisa kamu lakukan untuk membangun karakter yang kuat dalam cerita.

Karakter yang menarik dan menancap di benak pembaca, akan selalu mendukung ceritamu menjadi luar biasa. Apakah ia protagonis, antagonis atau tritagonis sekali pun, buat mereka menjadi benar-benar nyata dalam imajinasi para pembaca.

Selamat mencoba!

Berani?

Satu bulan punya buku atas nama kamu sendiri


anton sujarwo

Anton Sujarwo

Saya adalah seorang penulis buku, content writer, ghost writer, copywriters dan juga email marketer. Saya telah menulis 15 judul buku, fiksi dan non fiksi, dan ribuan artikel sejak pertengahan tahun 2018 hingga sekarang.

Dengan pengalaman yang saya miliki, Anda bisa mengajak saya untuk bekerjasama dan menghasilkan karya. Jangan ragu untuk menghubungi saya melalui email, form kontak atau  mendapatkan update tulisan saya dengan bergabung mengikuti blog ini bersama ribuan teman yang lainnya.

Tulisan saya yang lain dapat dibaca pula pada website;

Saya juga dapat dihubungi melalui whatsapp di tautan ini.

Fortopolio beberapa penulisan saya dapat dilihat disini:


Buat situs web atau blog di WordPress.com

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: