PENGERTIAN FLASHBACK DAN 7 CARA PALING TEPAT MENULISKANNYA

Dalam penulisan cerita berbentuk novel atau cerpen, flashback sering salah digunakan. Meskipun flashback artinya sendiri adalah cara menyampaikan kisah masa lampau dalam busur waktu saat ini, nyatanya penulisan flashback kadang menciderai alur cerita yang sedang berjalan.

Penulis berpengalaman umumnya tidak menggunakan metode flashback secara sembarangan. Sebelum memutuskan untuk menggunakan flashback atau tidak, mereka mempertimbangkan beberapa hal yang krusial supaya adanya flashback benar-benar bisa menyempurnakan cerita.

Jadi, apa sebenarnya yang dimaksud dengan flashback dan apa saja pertimbangan sebelumnya mengaplikasikannya?

Yuk, simak ulasannya berikut ini.

Pengertian Flashback dan Panduan Menuliskannya Dalam Cerita

Flashback moment artinya adalah pengulangan kembali sebuah peristiwa guna melengkapi kesempurnaan dalam alur cerita. Flashback umum diaplikasikan dalam penulisan novel, memoar, cerpen atau pun penulisan prosa yang lainnya.

Hal penting juga ketika mengartikan flashback dalam penulisan adalah ini bukan semata-mata peristiwa yang sepele.

Flashback harus selalu memiliki kekuatan emosional pada karakter cerita, baik ia karakter utama atau bukan. Pengertian lengkap flashback mengungkapkan bahwa peristiwa ini juga haruslah krusial dan menghantui pemikiran karakter cerita walau itu misalnya bukanlah sesuatu yang menyedihkan.

Contoh kalimat flashback-nya bisa seperti ini;

  • Sambil terisak, Clara menceritakan kembali bagaimana suaminya terseret ombak dan menghilang ketika kayak yang ia gunakan terbalik sekitar 15 tahun yang lalu.
  • Sudah genap 35 tahun berlalu, namun Brian masih mengingat dengan jelas bagaimana ia dan Hania menghabiskan senja di pantai kala itu.

Ini adalah contoh flashback yang singkat dan mudah untuk dimengerti arahnya. Namun, flashback juga bisa lebih kompleks dan panjang. Beberapa penulis hebat kadang mampu membuat adegan flashback dalam satu bagian penuh tanpa mengganggu jalannya alur cerita.

Nah, untuk membuat flashback yang baik, kamu bisa mempraktikkan beberapa tips berikut ini;

BACA JUGA:

Ketahui dan Pastikan Apakah Ceritamu Memang Membutuhkan Flashback atau Tidak

Photo by Janko Ferlic on Pexels.com

Sebelum kamu memutuskan untuk menggunakan flashback dalam novel atau cerpen yang kamu tulis, pastikan terlebih dahulu apakah ceritamu memang membutuhkan flashback atau tidak.

Dengan sifatnya yang menginterupsi alur cerita dalam sudut pandang waktu, menyisipkan flashback memang harus dilakukan dengan sangat hati-hati. Penempatan flashback yang tidak tepat dan tidak perlu, justru akan membuat kesempurnaan cerita menjadi terganggu.

Flashback dalam cerita mungkin tidak persis sama dengan apa arti flashback dalam cinta anak remaja. Namun keduanya memiliki impact yang sama terkait alur, yakni akan menggangu konsentrasi untuk beberapa lama.

Jika demikian, apa yang bisa kamu lakukan dalam mempertimbangkan apakah akan menggunakan flashback atau tidak?

Untuk menjawabnya, kamu bisa mengajukan beberapa pertanyaan berikut ini;

  • Apakah peristiwa yang ingin kamu ceritakan sebagai flashback ini benar-benar penting bagi alur cerita atau perkembangan karakter utama?
  • Apa manfaat kamu menggunakan flashback tersebut?
  • Apa yang akan terlewatkan oleh pembaca jika flashback itu tidak kamu berikan?
  • Apakah flashback ini tidak akan mengganggu alur cerita atau justru membuat pembaca menjadi bingung?

Intinya adalah, jika peristiwa yang ingin kamu ceritakan dalam flashback itu adalah bagian krusial yang menjadi kunci perkembangan alur, kamu dapat mengeksekusinya sebagai sebuah flashback.

Sebaliknya, jika peristiwa tersebut tidak memiliki pengaruh signifikan apa-apa bagi kesempurnaan alur yang sedang berjalan, maka lupakan flashback.

Amati Penulisan Flashback Penulis Lain untuk Mendapatkan Referensi

Photo by cottonbro on Pexels.com

Menulis flashback adalah memutuskan untuk mendongeng kepada pembaca dengan melompati waktu ke masa lalu. Proses ini bisa sangat menantang untuk mendapatkan hasil maksimal.

Beberapa penulis pemula yang ‘tidak sabaran’ biasanya sering menggunakan flashback hanya karena mereka menyukainya.

Ini memang tidak salah secara prinsip. Namun, ketika penggunaan flashback-nya kemudian dilakukan dengan cara yang tidak tepat, maka kesalahan serius yang menciderai alur cerita akan bermula.

Nah, untuk meminimalisir hal ini, kamu sebaiknya menyempatkan diri untuk mengamati penulisan flashback yang dilakukan oleh penulis lain terlebih dahulu. Perhatikan dan rasakan apakah flashback tersebut nyaman kamu baca dan membuatmu lebih mudah untuk memahami cerita atau sebaliknya.

Dalam novel Merapi Barat Daya, saya menulis contoh kalimat flashback sederhana begini;

Elya terdiam menyimak bait demi bait lantuan shalawat yang merdu itu. Teringat lagi dalam benaknya bagaimana ibu dan guru mengajinya mengajarkan shalawat itu padanya ketika usianya masih anak-anak dulu. Sholawat tahrim adalah sanjungan kepada Rasulullah SAW, manusia paling mulia dimuka bumi. Sebagai bentuk pujian, kecintaan, kerinduan, rasa takzim dan hormat, rasa haru dan juga rasa malu dari umat Rasullullah yang sungguh ingin meneladani nabi mereka. Itu adalah shalawat yang menyentuh jauh ke dalam relung kalbu, membangkitkan perasaan dan kerinduan akan kebaikan dan kemuliaan.

Kamu tentunya dapat menemukan referensi yang lebih banyak mengenai cara penulisan peristiwa flashback. Semakin banyak referensi yang kamu miliki, semakin menarik pula kamu akan mengeksekusinya dalam cerita yang kamu tuliskan.

BACA PULA:

Pastikan Jangka Waktu Peristiwa Flashback Tetap Singkat     

Photo by RODNAE Productions on Pexels.com

Tips ketiga sebelum kamu menulis sebuah peristiwa flashback adalah dengan menentukan time frame peristiwa tersebut tetap singkat. Misalkan kamu akan membuat flashback untuk sebuah peristiwa yang terjadi dalam satu hari pada beberapa tahun yang lalu.

Sudah jelas bahwa flashback adalah masa yang diangkat kembali setelah berlalu beberapa lama. Dikarenakan sifatnya adalah flash atau kilat, maka ini harus diartikan sebagai pengingat kembali untuk sesuatu yang singkat pula.

Maksudnya begini;

Kamu dapat membuat sebuah flashback cerita hanya untuk kurun waktu yang singkat saja, bisa satu hari, satu minggu atau satu bulan.

Rangkaian pesan emosional dalam satu periode waktu itulah yang bisa kamu jadikan flashback. Hindari membuat flashback untuk periode waktu yang sangat lama seperti tahun atau yang lebih lama dari itu.

Dalam contoh Clara yang menangis karena mengingat suaminya terseret ombak, maka peristiwa singkat terseret ombak itulah periode waktu flashback-nya. Sementara dalam Brian yang mengingat senja ketika bersama Hania, maka senja itulah yang menjadi time frame periode waktunya.

Kamu dapat memperhatikan kalau senja yang dialami Brian dan momen terseret ombak yang diingat Clara adalah peristiwa yang singkat, bukan?

Tapi sekali lagi, peristiwa itu memiliki dampak emosional yang besar bagi mereka.

Tambahkan Detail Setting sebagai Ciri Telah Terjadi Perjalanan Waktu

Photo by Andrea Piacquadio on Pexels.com

Nama lain flashback adalah kilas balik yang artinya ini memaksa pembaca untuk mengingat kembali secara sekilas peristiwa yang telah terjadi beberapa waktu sebelumnya. Nah, untuk membuat tujuan kilas balik ini sempurna, kamu perlu menambahkan detailnya.

Contohnya begini;

Jika Brian dan Hania menghabiskan senja itu adalah tahun 1980 dan ia mengingatnya 35 tahun kemudian dalam momen flashback yang artinya adalah tahun 2015, maka kamu harus memberikan tambahan detail tahun 1980 dalam flashback-nya.

Tahun 1980 dunia tidak mengenal smartphone, internet belum menjadi kebutuhan pokok, celana model cut bray masih eksis dan rambut kribo adalah trend.

Nah, hal-hal detail seperti ini dapat kamu tambahkan pada flashback cerita supaya imajinasi pembaca semakin kuat untuk memahami bahwa alur cerita dimana kamu membawa mereka sedang ada di tahun 1980-an.

Detail seperti ini mungkin tidak begitu telihat pada saat kamu menulis flashback untuk periode waktu yang terjadi beberapa hari atau beberapa bulan sebelum adegan menghadirkan momen flashback.

Sebagai gantinya, kamu dapat menunjukkan detail setting yang terjadi pada peristiwa flashback tersebut secara lebih terperinci. Hal ini bisa saja misalnya adalah warna baju, barang yang dibawa, perasaan yang dialami atau hal lainnya.

BACA JUGA:

Gunakan Gaya Penulisan yang Konsisten Selama Penulisan Flashback

Photo by furkanfdemir on Pexels.com

Untuk flashback yang diambil dalam kurun waktu yang sudah lama berlalu, beberapa penulis memilih menggunakan gaya penulisan yang berbeda, dan ini tidak menjadi soal selama kamu konsisten menuliskannya.

Memilih gaya penulisan selama flashback mungkin adalah detail yang kecil, namun ini juga membutuhkan perhatian dan konsistensi. Ketika misalnya kamu menggunakan bahasa penulisan modern dalam gaya penulisan utama cerita, maka kamu bisa menggunakan gaya penulisan agak klasik untuk sebuah peristiwa flashback.

Misalnya begini;

Brian membenamkan pandangannya di antara selaput senja yang kian jingga. Melody saxophone Lenny Kravits dari wireless speaker di sudut ruang belakang rumahnya mengalun lembut, smooth seperti raut wajah Hania yang membayang di antara larik-larik senja.

Bandingkan dengan ini;

Susah betul lidah Brian untuk berbicara di senja nan bahagia itu. Kelu sudah rasanya, tak dapat ia berkata-kata apa saking senangnya. Tatapan bola mata indah Hania sudah cukup baginya, mengisi relung kalbunya dalam nyawa-nyawa senja yang temaram dalam kasih.

Dua contoh flashback di atas menggambarkan sebuah peristiwa yang sama namun dengan gaya penulisan yang berbeda. Apa pun jenis gaya penulisan yang kamu pilih, gunakan itu secara konsisten hingga momen flashback berakhir.

Temukan Adegan yang Kuat Ketika Flashback akan Dilakukan

Photo by jasmin chew on Pexels.com

Salah satu kunci menulis flashback yang sukses adalah dengan memilih tempat paling tepat untuk melakukannya. Untuk alasan ini pula, arti flashback dan throwback dalam penulisan cerita tidak dapat dilakukan di sembarang tempat.

Beberapa penulis pemula tergoda untuk membuat adegan flashback dengan sangat jelas dimana mereka membukanya dengan intro terlebih dahulu. Sebenarnya tidak ada masalah dengan ini, namun prosesnya akan kurang lembut karena benar-benar akan membuat pembaca mengalihkan perhatiannya untuk sementara.

Solusinya adalah dengan memasukkan awalan adegan flashback secara samar.

Caranya bagaimana?

Kamu bisa memasukkan adegan flashback di tengah-tengah narasi sehingga pembaca tidak terlau terasa ‘dipaksa’ untuk keluar dari alur cerita.

Elya terdiam menyimak bait demi bait lantuan shalawat yang merdu itu. Teringat lagi dalam benaknya bagaimana ibu dan guru mengajinya mengajarkan shalawat itu padanya ketika usianya masih anak-anak dulu.

Coba lihat lagi contoh di atas, perhatikan bagaimana adegan flashback diawali langsung dari sebuah narasi yang sedang terjadi.

Tips lain yang juga bisa kamu gunakan adalah dengan memasukkan flashback pada adegan-adegan cerita yang paling kuat sehingga ketika momen flashback berakhir, pembaca akan dengan mudah kembali kepada adegan dimana mereka diajak keluar untuk mengunjungi kilas balik peristiwa di masa lalu.

BACA PULA:

Evaluasi dan Pastikan Kinerja Positif Flashback yang Ditulis terhadap Alur Cerita

Photo by Jeswin Thomas on Pexels.com

Langkah terakhir yang harus kamu lakukan dalam menulis flashback adalah dengan memastikannya memang memiliki peran penting dalam perkembangan cerita.

Jadi, setelah adegan flashback berhasil kamu tuliskan, evaluasi kembali apakah hal itu sudah memenuhi fungsinya atau tidak.

Sebagai sebuah peristiwa penting yang diingat kembali pada masa cerita berjalan, flashback atau throwback harus seperti sebuah puzzle yang menggenapi cerita. Dalam tema kriminalitas, flashback seringkali menjadi bagian dari kunci yang disodorkan penulis untuk memberitahu pembaca tentang bukti-bukti.

Intinya adalah, pastikan adegan flashback atau kilas balik yang kamu tuliskan benar-benar membantu bangunan cerita menjadi lebih sempurna.

Selamat mencoba!

Berani?

Satu bulan menulis kisah hidupmu menjadi sebuah buku?

Ikut Kelas Menulisnya Sekarang


anton sujarwo

Anton Sujarwo

Saya adalah seorang penulis buku, content writer, ghost writer, copywriters dan juga email marketer. Saya telah menulis 15 judul buku, fiksi dan non fiksi, dan ribuan artikel sejak pertengahan tahun 2018 hingga sekarang.

Dengan pengalaman yang saya miliki, Anda bisa mengajak saya untuk bekerjasama dan menghasilkan karya. Jangan ragu untuk menghubungi saya melalui email, form kontak atau  mendapatkan update tulisan saya dengan bergabung mengikuti blog ini bersama ribuan teman yang lainnya.

Tulisan saya yang lain dapat dibaca pula pada website;

Saya juga dapat dihubungi melalui whatsapp di tautan ini.

Fortopolio beberapa penulisan saya dapat dilihat disini:


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog di WordPress.com

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: