Lompat ke konten
Beranda » Blog » CONTOH CERITA INSPIRATIF DIRI SENDIRI YANG BISA KAMU TULIS DENGAN MUDAH

CONTOH CERITA INSPIRATIF DIRI SENDIRI YANG BISA KAMU TULIS DENGAN MUDAH

Hampir sepuluh tahun yang lalu, saya pernah menulis beberapa contoh cerita inspiratif diri sendiri tanpa mempelajari metode dan caranya terlebih dulu. Ketika sebuah kejadian yang saya alami memberi kesan yang dalam, saya kemudian menuliskannya. Hanya seperti itu saja.

Hari ini, saya menjadi seorang penulis aktif di Indonesia. Saya membagikan tulisan saya melalui blog, artikel, buku, ebook, quotes, kelas menulis dan lain sebagainya. Nah, cerita inspiratif yang pernah saya tulis, ternyata banyak gunanya.

Cerita-cerita ini menjadi semacam tenaga bagi saya untuk menulis sesuatu yang bermanfaat bagi orang lain, menyampaikan pesan moral, menyuntikkan semangat dan lainnya. Intinya cerita ini memiliki banyak manfaat bagi para pembacanya.

Nah disamping membacanya, kamu juga bisa melihat bahwa contoh cerita inspiratif diri sendiri beserta strukturnya berikut ini, sudah cukup menarik meskipun saya menulisnya ketika saya belum mempelajari teknisnya.

Tentunya kamu pasti bisa membuat yang lebih baik dari, kan? Bukankah kamu sudah mempelajari caranya dalam artikel yang saya tulis sebelumnya disini?

KAMU PUNYA KISAH HIDUP MENARIK UNTUK DIJADIKAN BUKU NAMUN BINGUNG CARA MENULISKANNYA?

3 Contoh Cerita Inspiratif Diri Sendiri

Ada lebih dari 10 cerita inspiratif yang pernah saya tulis ketika masih berdomisili di kota Sangatta, Kalimantan Timur, sepuluh tahun yang lalu.

Cerita-cerita ini saya muat dalam blog www.arcopodojournal.com dan dibaca oleh banyak orang. Disamping menulis cerita seperti itu, saya juga menulis hal-hal lain seputar pendakian gunung, event, opini publik dan lain sebagainya.

Berbagai cerita inspiratif yang saya tulis ini dapat dibaca oleh semua kalangan. Dari pelajar hingga pengusaha, dari petani hingga pejabat negara. Kisah yang dituliskan ini juga relevan dan bisa diadaptasikan. Meksipun ini bukan secara khusus kisah inspiratif untuk siswa, namun pelajar yang peka juga dapat mengambil intisarinya.

Lalu, apa saja kisah inspiratif tersebut?

Sebenarnya saya telah memilih 10 judul cerita inspiratif yang ingin saya bagikan. Namun, ini akan membuat artikel kali ini terlalu panjang. Jadi, saya hanya mencantumkan tiga saja untuk dibagikan di www.penulisgunung.id.

Semoga saja ada manfaatnya.

Berguru di Mahameru

Kisah inspiratif diri sendiri tentang pendakian di gunung Semeru ini terjadi pada tahun 2010.

Di samping dimuat dalam beberapa tulisan terpotong-potong pada blog www.arcopodojournal.com, secara khusus cerita inspiratif singkat beserta pesan moralnya ini terdapat pula dalam buku saya yang berjudul; Mimpi Di Mahameru.

Photo by Iqx Azmi on Pexels.com

Saya menarik nafas yang serasa mau lepas itu dengan terengah, dan menoleh ke belakang mendapati puluhan kerlap-kerlip sinar dari headlamp yang terpasang di kepala para pendaki. Dari tempat saya berdiri sekarang, cahaya lampu kepala itu terlihat seperti garis putus-putus di sepanjang punggungan jalur menuju puncak gunung Semeru.

Malam itu, tidak kurang dari 50 orang pendaki yang tergabung dari berbagai tim yang bergerak berbarengan dari basecamp Kalimati menuju puncak Semeru. Hujan yang cukup lebat mengguyur areal puncak, Arcopodo, dan Kalimati beberapa jam sebelumnya, membuat pasir yang dilalui terasa lebih basah dan dingin, namun hal itu juga sekaligus membuatnya terasa lebih padat sehingga lebih kokoh dan tidak melorot saat diinjak.

Saya mendaki paling depan, berjarak hampir 20 meter di atas mas Haris yang mendaki di belakang saya, dan hampir 50 meter di atas barisan pendaki yang hanya terlihat dari headlampnya tadi.

Jika ada yang menyebut jalur sebenarnya gunung Semeru adalah lintasan Arcopodo menuju puncak Mahameru sebagai sebuah ujian dari tekad dan kegigihan, maka saya pikir itu juga tidak berlebihan. Apalagi jika anda melakukannya enam tahun lalu, saat komersialisasi pendakian gunung belum menyulut sebuah wabah narsisme dan selfisme yang tampak membuat setiap proses pendakian gunung sebagai sebuah perjalananan yang mudah layaknya tamasya, alih-alih sebagai proses perjuangan yang berat dan melelahkan.

Menjadi orang pertama yang berhasil menjejakkan kakinya di puncak tertinggi pulau Jawa pada malam itu, bukanlah prestasi yang memiliki nilai prestisius tinggi dan punya tempat untuk dibanggakan. Namun mengingat apa yang saya alami sebelum sampai pada kondisi itu, semestinya lah membuat saya banyak bersyukur. Dua hari sebelumnya, saat pertama kali tiba di desa Ranupane, saya sudah terserang diare yang membuat saya tertekan. Perjalanan pendakian dari Ranupane menuju danau Ranukumbolo yang seharusnya berisi banyak keceriaan, berjalan dengan muka berkerut karena menahan sakit.

Hal yang lebih mengganggu dari pada rasa sakit itu adalah dampaknya terhadap mental dan tekad saya. Saya sempat menjadi ragu-ragu untuk melanjutkan perjalanan hingga ke puncak. Sudah terlintas dengan jelas di benak saya untuk menyerah dan mengakhiri pendakian hanya sampai di basecamp Kalimati saja.

Meskipun terdengar berlebihan, namun saya mendapatkan banyak pelajaran dari pencapaian yang saya bisa lakukan sewaktu mendaki gunung Semeru enam tahun yang lalu.

Di antara indahnya sunrise puncak Mahameru di pagi hari, terjalnya jalur pasir di atas Cemoro Tunggal, atau kuatnya magnet pendakian ke puncak pulau Jawa ini, saya menemukan bahwa kesulitan dan kendala, yang kemudian bermuara pada rasa takut dan keraguan, tidak akan menjatuhkan kita selama kita masih memilih untuk tetap berjuang dan berusaha, untuk terus bangkit dan mencoba lagi.

Saya menghitung langkah saya saat mendaki tanjakan pasir menuju puncak, membuatnya semacam ritme yang saya ulangi terus menerus, yang kemudian tanpa saya rencanakan sebelumnya, berhasil membuat saya terus melangkah, bahkan mendahului tim yang lain yang kadang lebih banyak berhenti untuk istirahat.

Mendaki Mahameru telah mengajarkan saya tentang perjuangan dan tekad pada jalur terjalnya. saya pikir akan mendakinya lagi di kemudian hari, karena mungkin saja, Semeru akan mengajarkan hal lain lagi untuk saya.

Ibu Penjual Jamu dan Gelar S3 + 1 Miliknya

Foto (ilustrasi): Info Publik

Kisah inspiratif diri sendiri yang satu ini mungkin termasuk dalam kategori contoh cerita inspiratif panjang karena ia lebih dari 5 paragraf, ukuran yang biasa digunakan untuk memutuskan bahwa satu cerita inspirasi masuk kategori singkat.

Kisah ini juga terjadi pada diri saya sendiri sewaktu masih di kota Sangatta. Sebelum menjadi penulis seperti sekarang, saya dulu pernah menjadi pramuniaga di toko milik sendiri di kota Sangatta, Kalimantan Timur.

Dan ini salah satu kisah nyata yang pernah saya temui di sana.

Ketika kehamilan anak kami yang pertama, isteri saya berlangganan jamu untuk membantu menambah kebugaran dan kesehatan. Mungkin karena kami berasal dari Jawa yang sangat akrab dengan tradisi minum jamu setiap harinya, maka berlangganan itu pun berterusan hingga beberapa bulan setelah anak pertama kamu dilahirkan.

Penjual jamu tempat isteri saya berlangganan itu adalah seorang Ibu paruh baya, usianya sekitar 45 50 tahun, penampilannya sederhana, mengunakan sepeda onthel lengkap dengan caping di kepalanya. Ibu ini berkeliling sekitar kawasan tempat tinggal saya mulai jam 06:30 pagi hingga biasanya ia pulang jam 10 atau jam 11 siang. Ia tinggal di sebuah rumah kontrakan tidak jauh dari pasar tradisional kota Sangatta, tempat di mana kami menetap saat itu.

Lantaran setiap hari bertemu, ibu penjual jamu ini kadang-kadang sempat juga mengobrol dengan isteri saya, atau jika saya sedang di depan ruko, sempat pula saya ikut mengobrol dengan saya. Kami tidak tahu siapa nama beliau, namun budaya warga kota  sangatta yang berasal dari berbagai macam suku bangsa, telah terbiasa memanggil perempuan penjual apa saja, utamanya yang berasal dari jawa dengan sebutan ‘Bu Lek’, Baik ia penjual jamu, penjual gorengan, penjual nasi uduk, penjual pecel, penjual sayur, semuanya di panggil Bu lek, tidak terkecuali Ibu penjual jamu yang satu ini, tetangga sekitar lebih familiar dengan sebutan ‘Bulek Jamu’ untuknya.

Berbanding lurus pula dengan sebutan Bu lek untuk semua pedagang perempuan yang umumnya berasal dari Jawa, maka sebutan ‘Pak Lek’ pun hampir tersemat untuk semua laki laki yang berjualan di seantero kota itu. Entah itu ia dari Sunda, Jawa, atau Sumatera, entah ia berdagang siomay, berdagang bakso, mie ayam, barang pecah-belah, tukang sol sepatu, semuanya akan mendapat panggilan yang sama, Pak lek. Nama belakangnya saja yang membedakan profesi mereka masing-masing. Jadi ada yang dipanggil Pak Lek Bakso, Pak Lek Penthol, Pak Lek Siomay, dan lain-lain.

Saya dan isteri adalah yang tidak termasuk mengikuti tradisi tersebut, kami merasa lebih nyaman untuk memanggil mereka dengan sebutan Bapak, Ibu, atau pun Mas dan Mbak untuk usianya yang masih terlihat belum begitu berumur.

Suatu ketika saya ikut duduk di depan ruko, menemani isteri saya yang menunggu kedatangan Ibu penjual jamu.

Tidak lama kemudian si Ibu penjual jamu ini pun datang. Dan seperti biasanya beberapa orang tetangga kiri-kanan rumah mengelilingi sepedanya untuk antri membeli jamu. Karena kami hanya di depan ruko sendiri, jadi saat itu isteri saya adalah orang yang terakhir yang dilayaninya.

Sambil menyodorkan gelas berisi jamu yang sudah diaduk kepada isteri saya, si Ibu ini pun duduk melepas lelah di sebuah bangku panjang yang memang disediakan di depan ruko. Kemudian mulailah kami ngobrol beramah-tamah dengannya. mulai dari saling menanyakan kabar, rencana mudik ke Jawa, bagaimana kabar keluarga, dan hal-hal ringan lainnya.

Hingga kemudian obrolan malah menjadi lebih panjang juga, ketika saya ikut menimpali guna menambah keakraban.

“Ealah kerja kayak gini nih apa tho, Mas. Sudah lebih dari dua puluh tahun saya jualan jamu belum bisa bikin rumah sendiri juga. Tapi ya disyukuri saja, yang penting Insya Allah bisa bantu-bantu suami untuk mencari nafkah, dan bisa buat anak-anak sekolah” Ibu penjual jamu itu bercerita sambil tersenyum.

“Oya putera puterinya berapa, Bu?” tanya isteri saya menimpali.

“Anak saya itu tiga, satu di sini masih SMA, dan sebentar lagi kuliah. Dua kakaknya di jawa, sudah sarjana semua, dan Allhamdulillah juga sudah bekerja semua, ya hasil jualan jamu ini, Mbak” jawabnya masih dengan tersenyum menoleh kearah isteri saya yang duduk persis di sampingnya.

“Wah hebat, Bu. tidak banyak orang tua yang bisa melakukan itu, bahkan untuk mereka yang mungkin memiliki pekerjaan lebih hebat dari kita-kita ini” ujar isteri saya pula.

“Sebenarnya yang saya kuliahin itu 3, Mbak, tapi yang satu itu bukan anak kandung, ia keponakan saya, pas waktu tamat SMA kemarin mau kerja karena nggak bisa kuliah, orang tuanya nggak punya biaya”

Saya dan isteri saya serius memperhatikan Ibu ini, sambil menunggu kalimatnya selanjutnya.

“Tapi saya kasihan, anak e pinter dan nggak nakal, sama orang tua penurut, saya sayang banget sama dia. Akhirnya tak bilangin, sudah kamu kuliah saja yang bener, biayanya biar Bude yang cariin. Ya Allhamdulillah sekarang juga sudah selesai kuliah dan sarjana, sekarang kerja di jakarta, wes kaya gitu, Mbak” Ibu itu mengakhiri cerita singkatnya, sambil tertawa ringan, menutupi perasaan yang haru dengan mata yang mulai berkaca.

“Wah Ibu hebat sekali” isteri saya ikut terharu.

Jika kita mau menyelam lebih dalam atau berkhidmat lebih jauh, kita akan menemukan bahwa lebih banyak orang orang hebat tersamarkan dalam penampilan mereka yang bersahaja, yang sederhana, yang bahkan sama sekali tidak terpikirkan oleh kita.

Ironisnya kadang, kita yang tidak memiliki prestasi apa-apa ini, cenderung memandang remeh orang-orang hebat tersebut lantaran pekerjaan, status sosial, pendapatan, yang menurut persangkaan kita, kita lebih baik dari mereka.

Sehingga tidak jarang kita jumpai, bagaimana anak-anak muda, bahkan juga ada orang yang telah dewasa, memperlakukan para pedagang seperti Ibu penjual jamu tadi dengan kurang hormat. Padahal setelah mendengar cerita singkatnya waktu itu, saya tidak melihat orang-orang super gaya di sekitar lingkungan saya itu ada yang bisa mengunggulinya. Atau bahkan hanya untuk menyamainya.

Kita bisa bayangkan; menyekolahkan tiga orang anak hingga selesai dan memperoleh gelar sarjana. Dan satu lagi yang ke empat, yang saat ini masih SMA dan sebentar lagi juga kuliah, yang saya yakin Insya Allah juga akan mampu meraih gelar sarjana pula. Dan semuanya itu dibiayai hanya dengan hasil berjualan jamu menggunakan sepeda onthel setiap hari, yang setiap gelasnya hanya seharga seribu atau dua ribu rupiah.

Memang suaminya juga bekerja, pekerjaannya adalah berjualan sayur di pasar tradisional, yang bagi setiap individu ponggah, dipandang sebagai profesi yang rendah.

Bagaimana kita bisa mengatakan, bahwa kita lebih hebat dari Ibu penjual jamu ini?

Bahkan seseorang anak keponakannya yang terancam terhenti pendidikannya sebatas SMA karena kekurangan biaya, ia ambil tanggung jawabnya, ia sekolahkan hingga selesai, hingga meraih gelar sarjana, yang biayanya bersumber dari setiap tetesan keringatnya mengayuh sepeda onthel tua mengelilingi jalanan panas dan berdebu. Bahkan lebih luar biasanya lagi, ia kesampingkan keinginannya untuk membangun rumah demi membiayai pendidikan anak dan keponakannya.

Saya katakan, Ia bukanlah seorang penjual jamu sembarangan, yang seenaknya orang panggil “Bulek Jamu!!!” tanpa rasa hormat dan tata krama.

Ibu itu orang hebat, ia bukan penjual jamu biasa.

Jika ada toga yang disematkan di kepala anak-anak dan keponakannya saat wisuda, maka yang lebih pantas menerimanya, adalah dirinya, adalah suaminya.

Kepala mereka yang kepanasan dan kehujanan dalam berjualan mencari biaya pendidikan itulah yang lebih pantas diberi toga dan diberi penghormatan.

Merekalah petarung tangguh dengan pangkat kehormatan yang sebenarnya.

Jam Tangan Murahan untuk Pemuda Berpenghasilan Ratusan Juta

Photo source: Trip Savvy

Cerita inspiratif yang ketiga ini terjadi ketika saya sudah pindah di kota Samarinda, ibu kota propinsi Kalimantan Timur.

Kisah inspiratif tentang diri sendiri ini saya dapatkan sekitar satu tahun menjelang saya memutuskan untuk pindah secara permanen ke pulau Jawa. Saya ingat itu baru sekitar satu atau dua pekan saya menjadi penduduk kota Samarinda.

Ada pun anak kecil dalam cerita ini adalah Islamedina; Si Wajah Cahaya, yang kisah hidupnya telah saya bukukan menjadi biografi setebal 750 halaman.

Agak ragu saya menawarkan arloji yang lebih mahal melihat style pria 30 tahunan pengunjung toko malam itu.

Ia menggunakan celana jeans biru, sandal karet sudah agak lusuh, dan kaos berkerah dengan model yang biasa saja. Di pergelangan tangannya melingkar sebuah jam tangan biasa, dan juga seutas gelang dari tyrap berwarna hitam yang biasa digunakan untuk mengikat kabel.

Sebagai pemilik toko tenntu saja saya berusaha sebaik mungkin untuk memberikan pelayanan kepada pemuda itu. Dengan tidak membiarkan suasana mebisu tanpa suara, saya menawarkan produk ini dan itu, menjelaskan beberapa hal tentang produk yang saya jual dan berharap mungkin saja ia tertarik pada salah satunya.

Namun seiring waktu, obrolan kami kian serius. Dari yang mulanya hanya berbicara tentang produk, kini merambah ke pekerjaan, keluarga, dan prinsip hidup. 

Awalnya ia agak tertutup mengenai profesi. Namun mendengarkan dengan tulus dan penuh perhatian, adalah sebuah cara yang sangat ampuh untuk membuat seseorang tetap bertutur cerita. Hingga tanpa terasa ceritanya mengalir dengan lancar hingga larut malam. Sesekali saya berusaha memberi respon dengan kalimat yang tepat untuk membuatnya tetap merasa nyaman bercerita. 

Dan akhirnya obrolan itu usai hampir tengah malam, ketika semua toko lain sudah tutup.

Ia adalah seorang pemuda berdarah Bali. Ia seorang muslim, belum menikah, kalimatnya lebih banyak bercampur dengan bahasa Inggris. Bahasanya tegas dan blak-blakan, mungkin karena pengaruh profesinya yang lebih banyak berinteraksi dengan orang-orang bule, sehingga kalimat-kalimat yang kadang keluar terdengar seperti yang biasa kita saksikan di film-film Holywood.

Menurut ceritanya; ia adalah satu dari delapan orang yang merupakan sebuah tim yang spesial, yang aktifitas dan pekerjaan mereka adalah sebagai frontman pengeboran minyak lepas pantai. Mereka adalah tim yang pertama kali diterjunkan oleh sebuah perusahaan minyak bumi ke lapangan yang bertujuan untuk mendeteksi, menganalisa, serta memperhitungkan dengan rinci kandungan, teknis, dan hal-hal lain, yang erat hubungannya dengan aktifitas pengeboran lepas pantai.

Risikonya pekerjaan yang mereka lakukan ini sangat tinggi, karena langsung berurusan dengan keselamatan. Dan menurutnya, skill yang harus dimiliki oleh orang-orang seperti ia dan teamnya adalah language, analisis, dan juga kemampuan fisik teknik scuba diving. Ia biasa berada di bawah kedalaman 30 meter air laut hingga 3 jam setiap harinya.

Ia dan timnya dibayar dalam mata uang dollar. Ia tak menyebutkan dengan rinci jumlahnya, namun prakiraannya membuat saya sempat tersentak. Satu bulan gaji yang ia terima, saya memperkirakan akan mampu membangun 2 buah toko sekaligus seukuran toko kecil yang saya miliki ini. Jadi tidak heran, di usianya yang masih 30 dan lajang, ia sudah memiliki 3 properti rumah pribadi, beberapa kendaraan. dan indikator-indikator kemapanan ekonomi lainnya.

Nah ini juga menjadi salah satu sifat buruk manusia, rasanya memang rumput halaman tetangga selalu lebih hijau dari rumput dihalaman sendiri. Begitupun saya untuk beberapa kejap, terlintas dan terketik juga didalam hati;

“Alangkah mantapnya hidup orang ini, masih muda, sangat mapan. Coba saya yang penghasilannya demikian, pasti lunas semua hutang, investasi kenceng, banyak bisnis saya garap, dan sudah berapa luas manfaat mampu saya tebarkan”

Obrolan terus berlanjut.

Sekarang berfokus kepada betapa tingginya pressure untuk profesi seperti dirinya. saat bekerja ia seperti dikarantina, tidak boleh ada kontak dengan dunia luar. Hanya ada dia dan timnya saja di tengah gelombang lautan, sama sekali tidak boleh ada kontak dengan keluarga, saudara, dan teman lainnya.

Proses karantina dalam job ini berlangsung selama 3 bulan lamanya, jika target selesai maka mereka pun akan diberi libur atau cuti, juga selama 3 bulan. Namun akan berbeda halnya jika target yang dituju belum tercapai, maka proses karantina dalam pekerjaan ini bisa berlangsung lebih lama lagi.

Meskipun semua kebutuhan mereka dipenuhi, dari yang lahir sampai yang batin. Dari yang sekedar hal-hal biasa seperti kebutuhan alat, makanan, pakaian, video games dan lainnya, hingga ke kebutuhan yang sudah tidak biasa lagi, seperti contohnya; ada di antara anggota mereka yang sangat kangen dengan anak atau isterinya, lalu meminta pada perusahaan untuk mengirim pakaian anaknya sebagai pengobat rindu. Maka hal itu akan langsung dipenuhi. Ada juga yang sangat rindu naik sepeda, dan sepeda pun dikirim kepada mereka, dan itu dipakai untuk berputar-putar di atas geladak berkerja mereka saja, benar-benar sebagai pelepas rindu. Dan suply aneka macam kebutuhan mereka itu selalu dilakukan melalui jalur udara, dikirim melalui helikopter. 

Walau semua kebutuhan mereka telah dipenuhi, tetap saja rasa stres dan depresi kerap menghinggapi mereka. Hingga bukan suatu hal yang mengherankan jika saat libur tiba, mereka hanya sibuk memikirkan; How to spend this money. Hingga jadilah ketika masa cuti mereka tiba akan ada penghamburan penghasilan itu dengan travelling keliling dunia, tinggal di hotel mewah, mengunjungi klub malam ternama, membayar wanita cantik untuk melayani mereka, dan hal-hal lainnya lagi.

Di akhir obrolan, ia mengatakan ingin segera pensiun dari pekerjaannya sekarang dan menjalani hidup seperti orang normal, seperti yang lainnya, seperti saya.

Ya, saya tidak salah dengar, seperti saya katanya. Yang bisa hangat mengobrol sambil memangku gadis kecil sang buah hati, yang memiliki keluarga kecil yang Insya Allah sakinah, yang bangun di pagi hari di antara orang orang terkasih.

Ia menambahkan lagi, mengatakan jika kehidupannya yang begitu dekat dengan dunia malam, kadang membuat ia pesimis akan memperoleh seorang calon isteri dari orang yang memiliki latar belakang baik-baik. Ia telah melihat beberapa temannya yang sudah berkeluarga. Dan isteri-isteri mereka, semuanya tidak begitu jauh dari dunia yang selama ini sering mereka jamah.

BACA JUGA:

Nah, itu adalah 3 contoh cerita inspiratif diri sendiri yang pernah saya alami beberapa tahun yang lalu. Kamu pastinya bisa membuat hal serupa atau yang lebih baik lagi, bukan?

Cerita inspiratif akan selalu memberi percikan semangat dan inspirasi bagi orang lain. Entah saat sekarang atau berapa puluh tahun lagi cerita seperti ini akan selalu menarik dan relevan menjadi pelajaran manusia.

Jadi, pastikan kamu menuliskan cerita inspiratif versi diri kamu sendiri juga, ya.

Jadi penulis

Dapatkan latihan dan bimbingan personal yang dirancang khusus untuk membuat Anda produktif dalam berkarya

Anton Sujarwo

Saya adalah seorang penulis buku, content writer, ghost writer, copywriters dan juga email marketer. Saya telah menulis 17 judul buku, fiksi dan non fiksi, dan ribuan artikel sejak pertengahan tahun 2018 hingga sekarang.

Dengan pengalaman yang saya miliki, Anda bisa mengajak saya untuk bekerjasama dan menghasilkan karya. Jangan ragu untuk menghubungi saya melalui email, form kontak atau  mendapatkan update tulisan saya dengan bergabung mengikuti blog ini bersama ribuan teman yang lainnya.

Tulisan saya yang lain dapat dibaca pula pada website;

Saya juga dapat dihubungi melalui whatsapp di tautan ini.

Fortopolio beberapa penulisan saya dapat dilihat disini:

1 tanggapan pada “CONTOH CERITA INSPIRATIF DIRI SENDIRI YANG BISA KAMU TULIS DENGAN MUDAH”

  1. Pingback: CERITA INSPIRATIF KEHIDUPAN NYATA PALING POPULER DI INDONESIA – Penulis Gunung

Terimakasih atas waktu anda membaca artikel ini. Senang sekali jika Anda berkenan meninggalkan komentar atau pendapat Anda sendiri mengenai subyek dalam artikel ini. Terimakasih.

%d blogger menyukai ini: