Lompat ke konten
Beranda » Blog » Sudut Pandang Orang Ketiga Dalam Menulis Novel

Sudut Pandang Orang Ketiga Dalam Menulis Novel

Sudut pandang orang ketiga adalah jenis sudut pandang yang paling banyak digunakan dalam penulisan karya sastra. Meskipun demikian, memutuskan menggunakan third person point of view juga tidak boleh sembarangan, ada serangkaian panduan yang ketat dalam melakukannya.

Selain sudut pandang orang ketiga, ada pula sudut pandang orang pertama dan sudut pandang orang kedua dalam penulisan novel, cerpen atau jenis karya sastra lainnya. Mengenai definis dan perbedaan jenis sudut pandang ini, dapat kamu baca dalam artikel saya berikut; Mengenal sudut pandang paling populer dalam penulisan novel.

Lantas, bagaimana sebenarnya cara menggunakan third person point of view ? Apakah ada tips-tips yang bisa diterapkan dengan mudah?

Nah, dalam artikel ini saya akan mengajak kamu untuk membahasnya.

Kamu punya kisah hidup menarik untuk dijadikan buku namun bingung cara menuliskannya?

Daftar Isi Artikel

Tips Penting Menggunakan Sudut Pandang Orang Ketiga Dalam Menulis Novel

Sudut Pandang Orang Ketiga
Photo by picjumbo.com on Pexels.com

Sebelum membahas tips yang penting untuk mengunakan point of view orang ketiga, sebaiknya saya mengajak kamu untuk mengingat kembali jenis-jenis yang ada dalam sudut pandang satu ini.

Ketiga kamu memilih sudut pandang orang ketika sebagai cara bercerita dalam novelmu, maka kamu juga berhadapan dalam dua pilihan yaitu; sudut pandang orang ketiga tunggal dan sudut pandang orang ketiga jamak.

Pada banyak contoh sudut pandang orang ketiga, jenis tunggal inilah yang paling banyak para penulis pilih. Menariknya, jenis point of view orang ketiga tunggal pun terbagi dalam tiga bagian, yaitu;

  1. Sudut Pandang Orang Ketiga Serba Tahu
  2. Sudut Pandang Orang Ketiga Terbatas, dan
  3. Sudut Pandang Orang Ketiga Obyektif.

Nah, jika kamu sedang menulis novel dan menggunakan salah satu jenis dari third person point of view diatas, maka beberapa tips berikut sangat penting untuk kamu perhatikan.

1. Pilih Jenis Sudut Pandang Orang Ketiga yang Paling Tepat

Photo by Darcy Lawrey on Pexels.com

Misalkan novel yang kamu tulis tersebut adalah sebuah fiksi fantasi epik dengan banyak tokoh imajiner dan dunia khayal yang kompleks, kamu sebaiknya menggunakan third person point of view serba tahu. Dengan sudut pandang ini, pembaca akan memiliki akses yang cukup untuk mengetahui detail-detail cerita yang dibutuhkan.

Kebalikannya, jika misalnya novel yang kamu tulis adalah novel misteri yang penuh ketegangan. Atau kamu ingin pembaca tahu seperti apa yang hanya tokoh protagonis ketahui, maka sudut pandang orang ketiga terbatas lebih ideal untuk kamu gunakan.

Intinya adalah, sesuaikan irama novelmu dan pilih point of view yang paling tepat.

Masing-masing sudut pandang memiliki keunggulan dan kelemahan. Kamu dapat mempertimbangkan beberapa kelemahan dan keunggulan tersebut sebelum mengaplikasikannya pada novelmu.

Beberapa pertanyaan yang bisa kamu ajukan ketiga memilih third person point of view ini misalnya adalah;

  • Seberapa banyak kamu ingin pembaca mengetahui dunia ceritamu?
  • Apakah kamu sedang membangun ketegangan yang membutuhkan keterbatasan akses informasi?
  • Apakah dunia novel yang kamu tulis akan terbangun sempurna dengan sudut pandang yang kamu pilih,
  • Dan lain-lain.

2. Gunakan Kata Ganti yang Konsisten

Photo by Pixabay on Pexels.com

Kata ganti yang paling umum digunakan dalam penulisan cerita menggunakan sudut pandang orang ketiga adalah “Dia”, “Ia”, “Mereka” dan nama tokoh cerita itu sendiri.

Jika kamu sedang tidak menggunakan nama karakter saat bercerita, pastikan kamu menggunakan gata kanti orang yang tepat. Apakah kamu menggunakan kata “Dia”, “Ia” atau “mereka” itu tidak jadi soal, namun yang paling penting kamu harus konsisten menggunakannya.

Jangan sampai misalnya, kamu malah menggantikan kata ganti narator itu mejadi “Saya”, “Aku”,  “Kami” atau yang lainnya.

Dalam penulisan cerita menggunakan third person point of view, sangat mudah tergelincir untuk beralih ke sudut pandang orang pertama. Ini karena kamu secara tidak sadar telah berpindah dari perspektif tokoh cerita menjadi perspektif kamu sendiri sebagai penulis.

Jadi, pastikan itu tidak terjadi dalam novelmu, ya.

3. Pastikan Kamu Beralih Antar Sudut Pandang Tokoh dengan Elegan

Sudut Pandang Orang Ketiga
Photo by Francis Seura on Pexels.com

Tidak seperti saat menggunakan sudut pandang orang kedua atau orang pertama yang terbatas hanya pada satu atau dua kepala tokoh cerita saja, dalam third person point of view kamu lebih bebas. Kamu seperti burung yang dapat terbang kian kemari dengan bebas. Atau kamu seperti belalang, dapat meloncat dari satu karakter ke karakter lainnya sesuka hatimu.

Akan tetapi, justru disini jugalah letak tantangannya.

Beberapa penulis kadang beralih dari sudut pandang karakter satu ke sudut pandang karakter yang lain dengan cara yang kurang tepat. Kesannya pada banyak kasus menjadi terasa dipaksakan. Dan tentu saja ini membuat plot menjadi tidak lembut untuk dinikmati.

Ketika kamu ingin beralih dari satu sudut pandang karakter cerita ke sudut pandang karakter cerita yang lainnya, pertimbangkan saat yang tepat. Jika ada sebuah fluktuasi yang benar-benar tajam dari peralihan tersebut seperti antara karakter protagonis dan antagonis, pertimbangkan untuk melakukannya dalam pergantian bab atau chapter.

Hal yang menjadi pokok adalah, pastikan peralihan tersebut terasa smooth bagi pembaca dan memberikan keuntungan pada alur cerita.

4. Pilih Sudut Pandang Karakter yang Paling Ideal dalam Bercerita

Source: INK Blog

Dalam menggunakan sudut pandang orang ketiga pengamat atau sudut pandang orang ketiga serba tahu, ada perbedaan dalam menerapkannya. Sekali lagi, third person point of view serba tahu memang lebih bebas, namun kebebasan ini kadang menciptakan peluang penulis untuk melakukan kesalahan yang membuat novelnya menjadi tidak optimal.

Apa contohnya?

Lantaran bebas memilih untuk melihat dari sudut pandang tokoh mana saja yang kamu suka, itu tidak berarti dalam tiap bab kamu bisa melakukannya secara sembarangan.

Bab pertama misalnya kamu menggunakan sudut pandang tokoh tritagonis untuk bercerita. Kemudian pada bab kedua kamu menggunakan sudut pandang tokoh protagonis dan, bab ketiga kamu beralih lagi dengan menggunakan sudut pandang tokoh antagonis.

Nah kondisi ini tidak hanya menuntut momentum peralihan yang tepat tapi juga pilihan sudut pandang tokoh ceritanya.

Tugas pokoknya adalah untuk menemukan jawaban dari satu pertanyaan inti;

  • Melalui karakter manakah bagian dari cerita tersebut paling menarik untuk disampaikan kepada pembaca?
  • Apakah melalui kacamata tokoh protagonis, tritagonis ataukah antagonis?

Tips mudahnya adalah; gunakan sudut pandang karakter yang paling banyak belajar atau paling banyak merasa kehilangan dalam bagian tersebut. Dua jenis karakter itu adalah yang akan memberikan ketegangan paling besar pada cerita.

Jadi, kamu bisa memilih menggunakan kacamata mereka untuk bercerita.

5. Ketahui Batasan dalam Bercerita

Photo by Pits Riccardo on Pexels.com

Jika kamu menggunakan sudut pandang orang ketiga terbatas, pastikan kamu tidak melampaui wilayahmu ketika bercerita.

Sudut pandang orang ketiga pelaku utama dan third person point of view terbatas memiliki kesamaan mengenai keterbatasan bercerita. Dari sudut pandang ini, pengetahuan narator hanya terbatas pada diri karakter saja atau tokoh protagonis saja. Jadi, waspadai keterbatasan ini dan jangan sampai kamu melakukan sesuatu yang berlebihan.

Misalnya begini;

Sebagai narator yang bercerita dari kacamata tokoh utama seperti protagonis dan antagonis saja, kamu tentu dapat mengetahui dengan baik apa yang dikakukan tokoh protagonis, apa yang direncanakannya, apa yang dipikirkannya, bahkan apa yang terbersit di dalam hatinya.

Tapi kamu tidak bisa melakukan hal yang sama pada tokoh cerita yang lain secara bebas karena wilayah kekuasaanmu bercerita terbatas.

Khusus untuk tokoh cerita selain tokoh utama dalam penggunaan third person point of view terbatas, kacamata yang bisa kamu lakukan hanya sebatas aksi nyata mereka saja, dan bukan apa yang ada di dalam hati dan pikiran mereka.

6. Hindari Menterjemahkan Isi Kepala Tokoh Cerita jika Menggunakan Sudut Pandang Orang Ketiga Obyektif

Sudut pandang orang ketiga sebagai pengamat memiliki batasan yang lebih ketat dalam praktiknya. Akan tetapi rumus utama dalam menggunakan jenis third person point of view yang satu ini adalah; kamu tidak memiliki kemampuan menterjemahkan apa yang tokoh cerita pikirkan dan rasakan. Jadi, hindari menggambarkannya.

Narator atau penulis disini adalah sebagai pengamat (observer), yang bisa ia lihat hanyalah setting dan aksi tokoh cerita, bukan isi kepala mereka.

Jika memang kamu harus menggambarkan apa yang dirasakan dan dipikirkan oleh orang lain, maka gambarkan itu dalam tuliskan yang deskriptif melalui pergerakan atau aksi yang mereka lakukan.

Artinya begini;

Jika tokoh cerita yang sedang kamu cerita sedang bersedih, maka jangan gambarkan itu dengan memberitahu pembaca bahwa dalam benaknya ia memikirkan sesuatu yang memilukan hati. Akan tetapi cukup tunjukkan aksi apa yang dilakukan oleh cerita dalam kondisi semacam itu. Misalkan menangis, melamun, tatapan matanya kosong, dadanya sesak dan lain sebagainya.

7. Bangun Narator Penulisan yang Berwibawa dan Dapat Dipercaya

Sudut Pandang Orang Ketiga
Photo by Karolina Grabowska on Pexels.com

Sebagai pencerita dari kacamata orang ketiga, kamu tidak memiliki apa pun dalam cerita untuk dipertaruhkan. Saat tokoh protagonis berhadapan dengan bahaya dan kematian, itu bukan nyawa narator atau pencerita yang terancam. Sebaliknya, jika tokoh antagonis atau tokoh tritagonis melakukan tindakan, itu juga bukan narator yang melakukannya.

Narator dalam sudut pandang orang ketiga adalah orang yang melihat semua cerita berlangsung. Ruang lingkup kemampuan melihat itu adalah pembedanya.

Narator yang memilih sudut pandang orang ketiga serbatahu ‘memiliki kekuasaan laksana Tuhan’ dalam artian ia juga mampu mengetahui apa yang ada dalam pikiran karakter cerita. Kekuasaan ini kemudian mengalami pembatas dalam sudut pandang orang ketiga pelaku sampingan, atau third person point of view sebagai pengamat.

Meskipun demikian, pemilihan third person point of view selalu memberi ruang kepada penulis untuk menjadi pencerita atau narator yang dapat dipercaya dan berwibawa.

Jadi, karena kamu memiliki hal tersebut, maka bangunlah pondasi cerita yang dapat dipercaya oleh pembaca sekaligus juga memiliki kewibawaan.

BACA JUGA:

Kesimpulan

Nah itu adalah beberapa hal yang penting untuk kamu perhatikan ketika memilih menggunakan sudut pandang orang ketiga dalam menulis novelmu.

Penggunaan sudut pandang yang tepat dan dilakukan secara tepat pula, mungkin tidak akan mengantarkan novelmu sebagai karya sastra terhebat abad ini, tapi itu sudah pasti mampu membangun dunia yang nyata dalam imajinasi pembaca.

Dan sebagai penulis, rasanya itu adalah pencapaian yang berharga.


Tingkatkan skill menulismu

Yuk, gabung di Kelas Menulis Online Penulis Gunung dan keterampilan menulismu akan naik satu level

Ikut kelas


Anton Sujarwo

Saya adalah seorang penulis buku, content writer, ghost writer, copywriters dan juga email marketer. Saya telah menulis 17 judul buku, fiksi dan non fiksi, dan ribuan artikel sejak pertengahan tahun 2018 hingga sekarang.

Dengan pengalaman yang saya miliki, Anda bisa mengajak saya untuk bekerjasama dan menghasilkan karya. Jangan ragu untuk menghubungi saya melalui email, form kontak atau mendapatkan update tulisan saya dengan bergabung mengikuti blog ini bersama ribuan teman yang lainnya.

Tulisan saya yang lain dapat dibaca pula pada website;

Saya juga dapat dihubungi melalui whatsapp di tautan ini.

Fortopolio beberapa penulisan saya dapat dilihat disini:

2 tanggapan pada “Sudut Pandang Orang Ketiga Dalam Menulis Novel”

  1. Pingback: 29 QUOTES MENULIS PILIHAN UNTUK PARA PENULIS NOVEL – Penulis Gunung

  2. Pingback: CARA MEMBUAT SINOPSIS NOVEL - Penulis Gunung

Komentar ditutup.