Lompat ke konten
Beranda » Blog » Cara Membuat Kematian Tokoh Dalam Cerita Lebih Tragis

Cara Membuat Kematian Tokoh Dalam Cerita Lebih Tragis

Untuk menambah efek dramatis, beberapa penulis memilih membunuh tokoh dalam cerita mereka. Sayangnya, cara membunuh tokoh itu ternyata tidak tepat sehingga efek dramatisnya yang diharapkan justru tidak muncul. Seperti angin, kematian tokoh cerita itu hanya berlalu saja, tidak memberikan kesan yang dalam bagi pembaca.

Nah, bagaimana cara membunuh tokoh dalam cerita untuk memaksimalkan efek sedihnya bagi pembaca?

Saya akan mengajak kamu untuk membahasnya dalam artikel Penulis Gunung kali ini.

Kamu punya kisah hidup menarik untuk dijadikan buku namun bingung cara menuliskannya?

Daftar Isi Artikel

Tips Membuat Kematian Tokoh dalam Cerita Menjadi Lebih Menyedihkan

kematian tokoh dalam cerita
Sumber foto: Kompasiana

Kamu pasti pernah membaca novel-novel legendaris karya Buya Hamka, bukan?

Perhatikan bagaimana sang penulis mematikan (membunuh) beberapa karakter tokoh dalam ceritanya. Sangat menyedihkan, bukan? Pembaca seakan ikut merasakan kepedihan dan kehilangan karena matinya sang tokoh.

Dalam Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk, Zainuddin dan Hayati sama-sama mati ketika cinta mereka belum menyatu. Sementara dalam novel Di Bawah Lingdungan Ka’bah, tokoh Hamid dan Zaenab juga mati dalam kondisi yang mengharu biru, menyayat hati siapa pun yang membaca kisah mereka.

Pertanyaan pentingnya bagi kamu sebagai seorang penulis adalah; Bagaimana Hamka, sang maestro sastra Indonesia itu, bisa membuat kematian tokoh dengan kesan sedalam itu?

Nah, setidaknya adalah 10 tips dan cara yang bisa kamu gunakan untuk mematikan salah satu tokoh utama dalam karakter cerita supaya mendapatkan kesan yang dalam bagi pembaca.

Bagi kita mulai dari yang pertama.

1. Biarkan Tokoh Cerita Mati Meninggalkan Satu Tujuan Besar dalam Hidup Mereka yang Belum Terselesaikan.

Semakin antusias tokoh cerita mengejar tujuan ini semasa hidupnya, akan semakin tragis kematiannya.

Lihat lagi bagaimana kematian Hayati dan Zainuddin dalam roman Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk, atau kematian Hamid dan Zaenab dalam roman Di Bawah Lindungan Ka’bah. Semua tokoh protagonis yang dimatikan oleh penulis dalam cerita itu sama-sama mati ketika tujuan besar dalam hidup mereka belum tercapai.

Zainuddin memperjuangkan seluruh hidunya untuk cintanya kepada Hayati. Hamid pun demikian, cintanya kepada Zaenab yang membuatnya pergi merantau hingga tanah suci dan meninggal dunia di sana.

Kematian keduanya di saat tujuan besar dalam hidup mereka belum tercapai, benar-benar seakan merobek-robek hati para pembaca.

2. Jangan Biarkan Tokoh Cerita Mati karena Usia Tua Setelah Menjalani Hidup yang Berbahagia

kematian tokoh dalam cerita
Photo by Life Of Pix on Pexels.com

Dengan kematian yang normal karena usia tua, hampir tidak ada yang mengatakan bahwa hal itu akan terasa meyedihkan. Terlebih jika kematian itu sendiri kamu gambarkan setelah tokoh protagonis atau tokoh utama cerita menjalani hidup panjang yang penuh arti.

Tidak, tidak ada yang akan merasakan hal itu sebagai sebuah kesedihan.

Jadi, ketika kamu ingin menyampaikan pesan kesedihan yang dalam melalui kematian tokoh cerita, pastikan itu bukan satu kematian lantaran usianya yang tua, ya.

3. Buat Tokoh Cerita Mati saat Berjuang

Cara selanjutnya yang bisa kamu lakukan untuk memaksimalkan kesan kesedihan yang dalam bagi pembaca saat tokoh dalam cerita mati adalah dengan membunuhnya di tengah cerita. Atau lebih tepatnya adalah dengan mematikan tokoh cerita tepat di saat ia masih berjuang.

Coba saya ajak kamu kembali ke novel Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk karya Hamka lagi, kematian tokoh-tokoh ceritanya selalu di tengah mereka sedang berjuang untuk mencapai tujuan.

Lebih spesifiknya pada banyak novel-novel yang ditulis oleh Hamka, kematian tokoh utama cerita tepat pada saat ia menyadari bahwa ia masih memiliki harapan untuk berjuang. Setelahnya sebelumnya hampir putus asa.

Tapi ketika harapan itu mulai terbit dan asa untuk berjuang mulai berdenyut, ketika itulah sang menulis mematikan karakter cerita.

4. Buat Kematian Tokoh dalam Cerita sebagai Pengorbanan Supaya Orang yang Ia Cintai Tetap Hidup

kematian tokoh dalam cerita
Photo by Alain Frechette on Pexels.com

Kesan kematian yang pilu juga bisa kamu sempurnakan dengan membuat tokoh cerita mati dalam upaya menyelamatkan orang lain yang ia cintai.

Bukankah pengorbanan selalu berhasil menarik simpati manusia?

Jadi, kamu dapat mendesain bagaimana tokoh utama dalam novel yang kamu tulis mati dalam usaha menyelamatkan nyawa tokoh cerita yang lainnya.

Tidak ada jalan bagi tokoh cerita saat itu kecuali memberikan nyawanya sendiri sebagai satu-satunya cara untuk menyelamatkan orang yang ia cintai.

Penulisgunung

5. Buat Orang-orang Menyangka Bahwa Tokoh Cerita yang Mati Melakukan Pengkhianatan

Setelah kematian yang dipersembahkan oleh tokoh cerita adalah sebuah pengorbanan, sekarang apa pendapatmu jika orang yang ia selamatkan justru menganggapnya telah berkhianat?

Sudah pasti akan sangat menyedihkan, bukan?

Nah, kamu dapat bermain dengan skenario semacam itu dalam penulisan novelmu.

Buat orang-orang dekatnya, teman seperjuangan tokoh utama cerita, atau bahkan kekasih hatinya sendiri, menyangka bahwa tokoh utama yang mati itu telah mengkhianati mereka.

Shopee Merdeka

Padahal, justru kematiannya itu untuk menyelamatkan teman-teman dan orang yang ia sayangi.

6. Buat Tokoh Cerita yang Mati Memiliki Hubungan yang Erat dengan Tokoh Cerita Lainnya

Photo by Andrew Neel on Pexels.com

Nah dengan cara yang ini kamu bisa membangun satu karakter yang menarik untuk ditangisi kematiannya berdasarkan narasi tokoh cerita yang lain.

Tokoh cerita lain yang memberikan narasi kematian tersebut, haruslah memiliki hubungan yang sangat erat dengan tokoh cerita yang kamu matikan. Melalui dirinya, deskripsikan bagaimana kebaikan, kemalangan, dan kepiluan tokoh cerita yang sudah menemui ajalnya tersebut.

Menariknya pada tips yang satu ini, kamu tidak harus menggunakan karakter manusia sebagai tokoh yang dekat dengan tokoh utama. Atau sebaliknya, tokoh cerita yang mati itu pun tidak harus manusia karakternya.

Kamu masih ingat cerita legendaris tentang Hachiko? Seekor anjing setia yang menunggu kepulangan tuannya selama lebih dari sepuluh tahun?

Setiap hari di tempat yang sama dan di waktu yang sama, sang anjing akan menunggu kepulangan tuannya.

Sementara di tempat yang berbeda tanpa diketahui oleh si anjing, tuannya sendiri telah mati meninggalkan dirinya.

7. Bunuh Tokoh Cerita di Tengah Alur Cerita sedang Berlangsung

Bagian ini mungkin sedikit berbeda dengan membunuh tokoh cerita yang dalam kondisi sedang berjuang.

Kali ini tips yang bisa kamu aplikasikan adalah dengan menbunuh tokoh cerita tepat di saat alur masih berlangsung. Masih banyak bab yang perlu ditulis, masih ada plot twist untuk diungkapkan, dan masih banyak hal yang harus dilakukan oleh tokoh-tokoh dalam cerita.

Kira-kira mengapa kematian di tengah cerita bisa menimbulkan kesedihan yang dalam bagi pembaca?

Itu karena kamu bisa menggunakan kacamata tokoh cerita yang lainnya untuk mengingat tokoh cerita yang mati tersebut.

Dengan menggunakan kacamata dari tokoh protagonis, tritagonis atau bahkan antagonis sekali pun, kamu dapat mendramatisir kematian tokoh cerita menjadi jauh lebih berkesan serta lebih menguras air mata.

8. Buat Tokoh Cerita Mati dalam Kesepian

kematian tokoh dalam cerita
Photo by Jeswin Thomas on Pexels.com

Siapa pun yang mati dalam keadaan kesepian, sendirian, terasing dan tidak dipedulikan, layak untuk mendapatkan air mata. Setidaknya itu adalah persepsi emosi para pembaca umumnya.

Tentu saja kamu bisa menggunakan persepsi ini untuk menampilkan kematian dengan kesedihan yang maksimal bagi tokoh dalam ceritamu. Jadi, buat tokoh utama cerita yang mati itu dalam keadaan yang benar-benar kesepian, sendiri dan jauh dari perhatian.

Sekarang saya ajak kamu untuk bereksperimen melalui, misalnya satu contoh di bawah ini;

Tak ada lagi terompah kayu dekil di teras surau setelah pagi itu, tak ada lagi gemericik air dari pancuran depan rumah yang sekarang sudah benar-benar kosong. Mak Rosidah, janda yang sudah tinggal sendiri lebih dari 10 tahun di rumahnya yang kecil, di sudut kampung, tak begitu jauh dari surau tempat anak-anaknya dulu bersenda gurau itu, kemarin pagi telah meninggal dunia.

Mak Rosidah sudah meninggal, tanpa ada yang merawat, tanpa ditunggui oleh anak-anaknya. Mak Rosidah meninggal dalam pelukan sepi, seperti hari-hari terakhir dalam hidupnya yang seolah tak dipedulikan lagi.

Kamu dapat membuat cerita yang lebih baik daripada itu. Namun yang pasti, kematian dalam kesepian adalah salah satu kematian yang sangat memilukan.

Pembaca sudah pasti menyepakati itu.

9. Buat Tokoh Cerita Mati dalam Keadaan Memendam Rahasia, Rindu atau Keinginan

Sekarang bagaimana jika kamu tahu bahwa salah satu keinginan terbesar Mak Rosidah sebelum ia meninggal adalah bertemu dengan anak perempuannya dan makan sate ayam di tepi danau? Seperti yang pernah mereka lakukan 30 tahun lalu, ketika Mak Rosidah masih kuat dan suaminya masih ada.

Dan kamu juga tahu kemudian, Mak Rosidah mati sebelum keinginan sederhananya itu terwujud.

Kematian tokoh cerita yang memendam keinginan, rahasia, hajat dan kerinduan akan selalu menarik emosi pembaca dan air mata mereka. Sebagai penulis kamu dapat bereksplorasi dengan segala perasaan seperti ini ketika menulis cerita.

10. Tepat Sebelum Ia Mati, Buat Tokoh Cerita Baru Menyadari Bahwa Selama Ini Ia Telah Dibohongi

Photo by cottonbro on Pexels.com

Tips terakhir untuk memaksimalkan unsur kesedihan terhadap kematian salah satu tokoh dalam cerita, kamu dapat membuatnya menjadi sesuatu lebih yang ironis lagi.

Cara yang bisa kamu lakukan misalnya adalah tokoh utama yang mati itu baru menyadari menjelang ajalnya bahwa selama ini ia telah dibohongi. Dan kebohongan itu terbongkar disaat-saat terakhir hidup tokoh cerita.

Misalnya begini;

Mak Rosidah itu baru tahu kalau anak perempuan yang ia rindukan itu sudah mati lebih dulu, sudah lebih dari lima bulan yang lalu. Hanya saja tidak ada yang mau untuk memberitakannya kepada Mak Rosidah lantaran takut ia akan putus asa dan berhenti berharap lagi.

Menjelang akhir napasnya, barulah Pak Sukat sebagai ketua RT memberitahukan kepada Mak Rosidah mengenai kematian anak perempuannya itu.

BACA JUGA:


Tingkatkan skill menulismu

Yuk, gabung di Kelas Menulis Online Penulis Gunung dan keterampilan menulismu akan naik satu level


Anton Sujarwo

Saya adalah seorang penulis buku, content writer, ghost writer, copywriters dan juga email marketer. Saya telah menulis 17 judul buku, fiksi dan non fiksi, dan ribuan artikel sejak pertengahan tahun 2018 hingga sekarang.

Dengan pengalaman yang saya miliki, Anda bisa mengajak saya untuk bekerjasama dan menghasilkan karya. Jangan ragu untuk menghubungi saya melalui email, form kontak atau mendapatkan update tulisan saya dengan bergabung mengikuti blog ini bersama ribuan teman yang lainnya.

Tulisan saya yang lain dapat dibaca pula pada website;

Saya juga dapat dihubungi melalui whatsapp di tautan ini.

Fortopolio beberapa penulisan saya dapat dilihat disini:

%d blogger menyukai ini: