Lompat ke konten
Beranda » Blog » Teknik Menulis Show Don’t Tell dan Contohnya (Lengkap)

Teknik Menulis Show Don’t Tell dan Contohnya (Lengkap)

Teknik Menulis Show Dont Tell

Sulit bagi pembacamu untuk meletakkan buku yang kamu tulis jika kamu menggunakan teknik menulis Show don’t tell. Penulisan dengan cara seperti ini, seolah menarik tangan para pembaca untuk masuk dalam cerita, merasakan setiap lekuk petualangan bersama karakter yang kamu ceritakan.

Prinsip teknik menulis show don’t tell tentu saja sangat gampang secara teori. Kamu dan hampir semua orang sudah pasti paham maksudnya, bukan?

Tapi bagaimana dengan mengaplikasikannya dalam penulisan fiksi?

Tentu saja tidak sesederhana artinya. Bahkan penulis berpengalaman dengan jam terbang tinggi sekali pun, banyak yang masih gagal mempraktikkan show and tell dalam penulisan mereka.

Kamu punya kisah hidup menarik untuk dijadikan buku namun bingung cara menuliskannya?

Apa Itu Teknik Menulis Show don’t Tell?

Teknik Menulis Show Don't Tell
Photo by Monica Silvestre on Pexels.com

Lebih dari sebuah teknik, teknik menulisshow don’t tell memliki peran yang lebih luas. Seorang penulis yang mampu mengaplikasikan apa itu show and tell dalam tulisan mereka, bukan hanya mampu membius pembaca untuk terus membaca, namun mereka juga mampu membuat pembaca hadir dalam cerita itu sendiri secara emosional.

Tentu saja mempraktikkan teknik showing and telling dalam penulisan tidak semudah mengucapkannya. Kamu akan membutuhkan waktu untuk berlatih keterampilan yang satu ini hingga mampu mempraktikkannya secara mahir.

Akan tetapi berita baiknya adalah; teknik menulis show don’t tell itu sama seperti kemampuan membaca, bahwa sekali kamu mampu melakukannya, kamu tidak akan pernah lupa.

Show and tell dalam menulis juga adalah sebuah keterampilan, yang artinya semakin sering kamu mengasahnya, maka semakin hebat pula kamu dalam mempraktikkannya.

Lantas apa sebenarnya keterampilan ini dan adakah contoh teks show and tell yang lebih mudah untuk kamu pelajari?

Perbedaan Antara Show and Tell

Sebagai seorang penulis kamu harus mampu memprovokasi pembacamu untuk merasakan pula bagaimana emosi yang kamu bangun dalam cerita.

Ketika kamu menulis tentang kesedihan, kamu tentu ingin pembacamu merasakan hal yang sama, bahkan menangis dan berurai air mata. Sebaliknya, ketika kata-katamu adalah tentang tawa, bahagia dan canda, kamu juga ingin pembacamu untuk tersenyum, menarik napas lega serta berbinar-binar matanya.

Tapi pertanyaannya adalah; Bagaimana melakukan itu semua? Apa yang harus kamu lakukan?

Beberapa orang beranggapan bahwa teknik showing adalah rumus melakukan ini, persisnya keterampilan show don’t tell.

Nah, supaya lebih mudah untuk dipahami, pembahasan dua suku kata ini sendiri harus diterjemahkan secara terpisah. Jadi, mari mulai dengan perbedaan show and telling terlebih dulu.

Show : Menunjukkan, Mempertontonkan dan Memperagakan

Teknik Menulis Show Don't Tell
Photo by Felicity Tai on Pexels.com

Show adalah sebuah ‘alat’ yang penulis gunakan untuk menarik pembaca masuk dalam cerita. Dengan menggunakan teknik show, penulis berusaha membangun hubungan yang kuat antara pembaca, setting dan karakter dalam cerita. Tidak ada tempat untuk penulis dalam konteks ini, penulis hanyalah orang yang menunjukkannya saja.

Kemampuan seorang penulis menunjukkan atau mempertontonkan adegan per adegan cerita kepada pembaca akan membawa pembaca untuk mandi dalam imajinasi mereka sendiri. Pembaca akan mengambil kesimpulan, menafsirkan, menduga bahkan memutuskan berdasarkan imajinasi dan interpretasi mereka sendiri.

Teknik showing ini laksana seorang operator layar tancap yang membentangkan kain kemudian menyorotinya dengan film.

Kamu mungkin tidak tahu siapa yang mengoperasikan film layar tancap, bagaimana ia memasang pitanya dan menghidupkan volume suara. Namun kamu pasti ingat film apa yang ia putar karena kamu sendiri melihat dengan jelas adegan dalam film tersebut secara nyata di depan matamu.

Tell : Memberitahu, Mengatakan dan Menjelaskan

Tahukah kamu ketika kamu menggunakan gaya menulis dengan tell, maka kamu telah melakukan sebuah pencurian!

Hah, Pencurian? Apa maksudnya?

Ya, saat seorang penulis hanya memberitahu pembacanya tentang sesuatu (tell not show), ia seumpama telah mencuri kesempatan para pembacanya untuk bertualang dan menemukan sesuatu dalam dunia yang ia ceritakan.

Pembaca kehilangan kesempatan mereka untuk menambahkan imajinasi mereka sendiri dalam bukumu. Interpretasi mereka tentang sesuatu objek, kondisi, pemikiran atau apa pun itu, menguap hilang seiring keputusanmu untuk memberitahu mereka apa yang terjadi.

Dalam pengertian yang lebih menarik, penulis yang hanya memberitahu saja, seakan telah mengusir para pembaca mereka untuk keluar dari cerita. Ada sebuah batasan yang terbangun antara pembaca dengan cerita yang kamu tulis.

Dapatkah Penulis Menyeimbangkan Show and Tell dalam Cerita Mereka?

balance rock
Photo by Nandhu Kumar on Pexels.com

Beberapa penulis pemula tertarik bertanya bagaimana cara agar showing dan telling seimbang dalam sebuah cerita?

Sulit untuk mengatakannya, namun kamu bagaimana pun juga, harus mengutamakan show daripada tell. Kamu mungkin tidak bisa menakar keseimbangan ini secara spesifik, tapi yakinlah bahwa show akan jauh lebih baik untuk jenis kisah apa pun yang kamu ceritakan.

Ketika pembaca melihat cerita yang kamu tuliskan dari sudut pandang karakter, berat bagi mereka untuk meninggalkan bukumu hingga mereka menyelesaikannya. Pembaca seakan menyatu bersama karakter cerita, mereka melangkah dalam irama yang sama, mencium aroma yang sama, dan merasakan hal yang sama seperti yang karakter cerita rasakan.

Dalam pengertian ini, pembaca akan melihat, meraba, merasakan, mendengarkan dan juga memikirkan persis seperti karakter yang kamu ceritakan. Pembaca dalam hal ini adalah bagian dari cerita itu sendiri.

Untuk mampu mempraktikkan teknik pembelajaran show not tell secara sempurna dalam penulisan cerita, seorang penulis harus menyibak penutup emosi pembaca.

Hal ini tentu saja tidak mudah, namun coba perhatikan contoh teks show and tell berikut ini;

“Hujan telah turun, pakaian Usman dan Hania basah kuyup, mereka terus berjalan karena lupa membawa payung”

Atau,

“Tidak ada payung, tidak ada tempat berteduh, dan tidak ada pula pilihan bagi Usman dan Hania selain terus melangkah. Butir-butir air yang semula seperti gemericik embun itu, sekarang menjelma laksana butiran jagung besarnya, memandikan rambut, wajah dan pakaian mereka”

Dua kalimat di atas mungkin bukan contoh paling sempurna showing dan telling tentang hujan. Namun coba saja kamu baca sekali lagi, mana dari kedua kalimat itu yang akan melayangkan imajinasi kamu tentang hujan?

6 Tips Mudah Mempraktikkan Teknik Menulis Show Don’t Tell

Setelah memahami bagaimana show don’t tell begitu signifikan dalam penulisan cerita, pertanyaan paling pentingnya kemudian adalah; Bagaimana mengimplementasikannya dalam cerita yang kamu tulis?

Ini akan membutuhkan banyak perjuangan dan latihan, namun 6 tips berikut ini akan membantu kamu untuk bisa melakukannya dengan lebih mudah.

1. Gunakan Panca Indera Karakter Cerita

Teknik Menulis Show Don't Tell
Photo by Michael Morse on Pexels.com

Untuk mendapatkan sentuhan teknik menulis show don’t tell yang pertama, kamu bisa menggunakan panca indera yang karakter cerita miliki. Artinya adalah, kamu ajak pembacamu untuk berinteraksi dengan alur cerita melalu indera karakter cerita.

Untuk membuatnya lebih mudah, tips show and tell bisa kamu praktikkan dengan membuat daftar apa saja yang karakter kamu terima melalui panca inderanya.

  • Mata, apa yang karakter cerita lihat melalui matanya?
  • Telinga, apa yang tokoh dalam cerita dengar dengan telinganya?
  • Lidah dan mulut, apa yang karakter kecap dan rasakan melalui lidahnya?
  • Kulit dan tangan, apa yang mungkin karakter cerita rasakan melalui kulit mereka atau indera peraba mereka?
  • Benak, pikiran dan perasaan, apa yang mungkin tokoh cerita pikirkan dan rasakan?

Setelah kamu membuat daftar apa yang karakter cerita indera dalam salah satu adegan. Selanjutnya adalah membuat kalimat yang kuat dan aktif melalui penginderaan karakter tersebut.

Misalnya;

Jamal memuntahkan lagi air kopi itu, ternyata bukan manis yang ia rasakan, tetapi asin.

Coba ubah menjadi;

Ketika tegukan air kopi itu masuk ke dalam mulut Jamal, ia merasakan sesuatu yang aneh. Tak ada rasa manis sama sekali, hanya ada seperti semangkuk air laut dengan serbuk kopi untuk mengubah warnanya saja. Jamal tak tahan, ia pun memuntahkan kembali air kopi yang rasanya demikian asin itu

Dan kamu bisa membuat contoh show don’t tel lainnya dengan lebih sempurna.

2. Jadilah Lebih Spesifik

Tips kedua untuk mengimplementasikan show don’t tell dalam penulisan cerita adalah dengan membuatnya lebih rinci, detail dan spesifik.

Rumusnya adalah; semakin spesifik cerita yang kamu sampaikan, semakin mudah efek show-nya kamu peroleh, dan semakin kuat ia tergambar dalam benak pembaca.

Hindari menggunakan istilah yang umum dan terlalu biasa untuk menggambarkan sesuatu. Jika kamu menceritakan karakter ceritamu memiliki kucing di rumahnya, maka tunjukkan itu dengan tingkah si kucing yang tertidur di ranjangnya, menunggu karakter cerita sedang makan atau malah tertidur di atas pangkuannya.

Meskipun demikian, tidak semua bagian menarik bisa kamu ceritakan spesifik, terlebih lagi jika itu berulang-ulang untuk menjelaskan hal yang sama. Khusus untuk hal ini, kamu dapat menemukan keseimbangan antara show dan tell mengenai bagaimana menempatkannya dalam cerita secara proporsional.

3. Gunakan Dialog Antar Karakter

monkey talk
Photo by Pixabay on Pexels.com

Jika kamu bertanya bagaimana mengaplikasikan teknik showing yang paling mudah dalam cerita? Maka inilah jawabannya; gunakan dialog.

Dialog atau percakapan yang terjadi antar karakter adalah cara termudah untuk show.

Ini juga merupakan cara yang mudah untuk menunjukkan aksi real time yang karaktermu lakukan. Dengan dialog, apa yang karakter cerita lakukan dapat dengan mudah kamu tunjukkan melalui sudut pandang karakter.

Berlatihlah untuk menggunakan dialog yang kuat dan menarik, karena dialog selalu menjadi alat show yang mudah dalam menulis cerita.

4. Gunakan Kosakata yang Kuat atau Aktif

Untuk menggambarkan sebuah adegan yang penting dalam cerita, kamu harus dapat memilih kosakata atau kata kerja yang kuat dan berpengaruh. Salah satu cara mengenalinya adalah dengan melihat bahwa kosakata ini dinamis dan seringkali memiliki konotasi gerakan.

Kosakata seperti; cinta, benci, rindu, percaya, pasrah dan sejenisnya, adalah kosakata yang statis dan nampak tidak memberikan energi pada imajinasi pembaca.

Namun ketika kamu memilih kosakata; berjalan, tersenyum, melangkah, berlari, terbang, berkata, berpikir dan memukul misalnya, pembacamu akan melihat gerakan dalam imajinasi mereka.

Dan itu cukup efektif untuk menunjukkan adegan dengan lebih jelas. Alih-alih hanya memberitahunya saja kepada pembaca.

5. Hindari Kata Keterangan

Kata keterangan yang tidak perlu kadang-kadang membuat pembaca justru terhalang untuk ikut menggunakan imajinasi mereka dalam cerita.

Dengan kata keterangan yang penempatannya ada pada lokasi dan situasi yang tidak tepat, kamu seolah-olah telah membangun sebuah pagar yang samar antara pembaca dan cerita yang kamu tulis.

Untuk membuatnya lebih mudah, kamu bisa kembali pada contoh teks show don’t tell Usman dan Hania yang basah kuyup oleh hujan tadi.

Atau kamu juga bisa melihat contoh ini;

Jalan buntu dan mati langkah! Pencopet itu terpojok sekarang, semua mata penumpang bus seolah panah-panah yang ditembakkan ke arahnya. Ia gemetar, mukanya pucat laksana kain kapan, tamat ia sekarang!

Bandingkan dengan ini;

Pencopet itu terpojok sekarang, tak bisa kemana-mana, kebingungan dan ketakutan melanda dirinya.

6. Perbanyak Fokusmu pada Aksi dan Reaski

Teknik Menulis Show Don't Tell
Photo by Yuri Manei on Pexels.com

Daripada mengatakan bahwa tokoh antagonismu misalnya ‘bejat dan tak bermoral’, bagaimana jika kamu menunjukkan kepada pembaca bahwa tokoh itu tega merampas uang dari ibunya sendiri yang baru saja pulang menjual kayu bakar setelah ia sendiri kalah bermain judi?

Atau daripada mengatakan karaktermu ‘seorang yang dermawan’ mengapa tidak menunjukkannya dengan ia sengaja meluangkan waktu pada setiap sore hari Jum’at untuk mengantarkan uang santunan ke panti asuhan?

Intinya adalah, kamu harus berfokus pada reaksi dan aski yang karakter ceritamu lakukan.

Aksi dan reaksi akan membuat gambaran yang lebih kuat dalam imajinasi pembaca daripada kamu mengatakannya secara langsung dalam kata-kata yang umum. Bahkan reaksi dan aksi juga bisa kamu gunakan untuk membuat opening yang menarik sekaligus show don’t tell pada pembacamu.

Dorr!!!

Percikan api menyembur dari ujung pistol di tangan Joane. Jemari lentik itu tak tahan lagi nampaknya, pelatuk senjata itu diremasnya dengan sekuat tenaga!

Atau,

Tatang melompat, hampir terjengkang ke petak sawah di belakangnya, matanya memandang nanar melihat ular sawah yang baru saja lewat hanya satu setengah meter dari kakinya.

Itu mungkin bukan contoh awalan novel yang menarik, namun yang pasti kalimat seperti itu aktif secara aksi dan reaksi. Dalam implementasi show don’t tell, itu cukup layak untuk kamu coba.

Kesimpulannya Sekarang

Ada latihan yang panjang dan disiplin hingga kamu terbiasa dan mudah mengaplikasikan kemampuan show don’t tell dalam ceritamu. Namun sekali kamu bisa melakukannya, hal ini akan semakin mudah untuk kamu praktikkan dalam kondisi bagaimana pun.

Show don’t tell artinya tidak hanya memberitahu apa yang ada dalam duni cerita, tetapi juga memberikan pembaca kesempatan untuk merasakan sendiri dunia itu hadir seakan nyata dalam imajinasi mereka.

Shopee Mantul

Jadi, selamat mencoba!

BACA JUGA:


Tingkatkan skill menulismu

Yuk, gabung di Kelas Menulis Online Penulis Gunung dan keterampilan menulismu akan naik satu level


Penulis terbaik

Anton Sujarwo

Saya adalah seorang penulis buku, content writer, ghost writer, copywriters dan juga email marketer. Saya telah menulis 19 judul buku, fiksi dan non fiksi, dan ribuan artikel sejak pertengahan tahun 2018 hingga sekarang.

Dengan pengalaman yang saya miliki, Anda bisa mengajak saya untuk bekerjasama dan menghasilkan karya. Jangan ragu untuk menghubungi saya melalui email, form kontak atau mendapatkan update tulisan saya dengan bergabung mengikuti blog ini bersama ribuan teman yang lainnya.

Tulisan saya yang lain dapat dibaca pula pada website;

Saya juga dapat dihubungi melalui whatsapp di tautan ini.

Fortopolio beberapa penulisan saya dapat dilihat disini:

%d blogger menyukai ini: