Lompat ke konten
Beranda » Blog » Cara Mengekspresikan Perasaan Dalam Menulis Cerita Fiksi

Cara Mengekspresikan Perasaan Dalam Menulis Cerita Fiksi

Cara Mengekspresikan Perasaan

Seorang penulis fiksi yang tahu cara mengekspresikan perasaan karakter cerita, memiliki peluang lebih besar mempengaruhi pembaca daripada penulis yang tidak bisa melakukannya. Kemampuan mengekspresikan perasaan tokoh cerita adalah satu keterampilan yang membedakan antara seorang penulis hebat dan penulis amatiran.

Tapi bagaimana cara mengekspresikan emosi atau perasaan dalam menulis?

Artikel Penulis Gunung kali akan mengajak kamu untuk membahasnya.

Kamu punya kisah hidup menarik untuk dijadikan buku namun bingung cara menuliskannya?

Cara Mengekspresikan Perasaan dan Emosi dalam Menulis Fiksi

macro photography of woman
Photo by George Shervashidze on Pexels.com

Ketika seorang penulis fiksi paham cara mengeluarkan perasaan karakter ceritanya, pembaca akan lebih mudah untuk terjatuh dalam emosi yang sama ketika membaca novelnya. Keterampilan seorang penulis membawa pembaca mereka dari alam bacaan ke alam emosi (perasaan) adalah keterampilan yang sangat mahal.

Penulis yang hebat mampu mengaduk perasaan pembacanya dengan kesedihan ketika ia menunjukkan bahwa satu adegan dalam cerita yang mampu menyeret pembaca dalam dunia kesedihan pula.

Sebaliknya, seorang penulis yang hebat juga mampu memberikan rasa jatuh cinta dan euforia indah kepada pembacanya melalui emosi yang ia bangkitkan dalam cerita.

Namun pertanyaannya tetap sama; bagaimana melakukan ini?

Nah apakah kamu seorang penulis novel, cerpenis, seorang blogger atau pun seorang guru di kelas sekalipun, beberapa tips berikut bisa kamu lakukan untuk mengekspresikan perasaan ketika bercerita.

1. Gunakan Kata-kata yang Spesifik dan Hindari Klise

Ketika menulis novel untuk pertamakalinya, sangat mudah bagimu untuk terjatuh dalam cara yang klise ketika menggambarkan perasaan atau emosi.

Namun sebenarnya, hal ini tidak hanya terjadi pada seorang penulis pemula saja. Bahkan penulis berpengalaman dengan portofolio beberapa buku juga bisa terjebak dalam klise ketika melukiskan perasaan mereka.

Klise dalam pengertian ini adalah ketika kamu menggunakan kata-kata yang terlampau umum. Untuk lebih mudahnya coba kamu perhatikan beberapa contoh berikut ini;

  • Tanpa terasa air mata jatuh berderai di pipinya.
  • Jantungnya berdetak dengan sangat kencang.
  • Bulu kuduknya merinding.
  • Hatinya berbunga-bunga.

Itu adalah kata-kata yang sangat umum sehingga tidak ada lagi emosi tercermin baik ketika menulis atau pun membacanya. Nah, untuk mampu mengekspresikan satu perasaan yang kuat dalam penulisan, kamu tidak dapat lagi mempertahankan cara seperti itu.

Jadi, gunakan kata-kata yang spesifik, unik dan tidak klise untuk tujuan ini.

Cari kata-kata yang menarik ketika kamu mencari cara mengekspresikan marah, kesedihan, ketakutan, kegelisahan, jatuh cinta, nervous dan emosi lainnya. Semakin unik dan spesifik kata-kata tersebut, maka semakin ia mampu menggambarkan emosi penulisnya.

2. Bangun Tokoh Protagonis yang Dekat dengan Pembaca

red rose flowers bouquet on white surface beside spring book with click pen and cup of cofffee
Photo by Lum3n on Pexels.com

Membangun tokoh cerita yang dekat dengan pembaca mungkin tidak mudah, terutama jika ini adalah pertamakalinya kamu menulis novel. Tapi ini juga bukan hal yang sangat sulit untuk kamu lakukan. Karakter cerita yang kuat dapat kamu bangun dengan memahami  esensi penting pembangunan karakter cerita  serta melatihnya secara konsisten.

Karakter cerita yang dapat pembaca identifikasi akan memiliki peluang lebih besar untuk dekat dengan mereka, termasuk secara emosional. Sebaliknya, tokoh cerita protagonis yang terlalu jauh dari jangkauan imajinasi pembaca akan sulit pula untuk terintegrasi dengan perasaan mereka.

Lantas bagaimana cara membangun karakter protagonis yang kuat bagi pembaca?

Ada beberapa langkah yang bisa kamu adaptasikan, termasuk dengan mengikuti ceklist yang sudah Penulis Gunung siapkan dalam artikel ini. Akan tetapi tips paling sederhananya adalah dengan menjadikan tokoh cerita utama memiliki nilai-nilai manusiawi yang dekat dengan pembaca.

Jadi, pastikan kamu menginvestasikan waktumu untuk membangun karakter dengan detail, membangun setting cerita yang mendukung, serta  merencanakan plot yang menarik emosi karakter protagonis.

Karena pembaca akan menjelajahi setiap bagian cerita melalui sudut pandangan karakter, maka pastikan kamu membuat mereka mendapatkan sudut pandang yang benar-benar menarik.

3. Tunjukkan Efek Situasi Emosional Karakter Cerita

Memberitahu pembaca suasana emosional apa yang karakter cerita sedang alami itu belum cukup. Untuk memaksimalkan hasilnya, kamu harus menunjukkan pula apa akibat dari situasi emosional tersebut berdasarkan reaksi tubuh tokoh cerita.

Contohnya begini;

  • Daripada memberitahu pembaca bahwa karakter cerita sedang mengalami rasa sedih, kamu sebaiknya menunjukkan kepada pembaca efek kesedihan tersebut secara langsung. Misalnya mata tokoh cerita yang berkaca-kaca, nafasnya yang sesengukan menahan tangis, atau pun bibirnya yang bergetar menahan luapan rasa sedih.
  • Daripada mengatakan bahwa karakter protagonis sedang ketakutan, kamu justru dapat menunjukkannya dengan degub jantungnya yang meningkat, pori-pori tubuhnya yang membesar dan kondisi badannya yang gemetar.

Intinya adalah, biarkan pembaca mengimajinasikan sendiri kondisi yang terjadi dengan karakter cerita melalui efek emosional yang sedang mereka alami.

Semakin baik penulis mampu menunjukkan situasi emosi yang terjadi dalam cerita, maka semakin mudah bagi pembaca untuk ikut terpicu emosinya. Dengan cara ini, pembaca seakan-akan juga mengalami apa yang sedang tokoh dalam cerita rasakan.

4. Bangun Emosi yang Kuat untuk Dampak yang Lebih Besar

woman in green v neck sweater leaning on table
Photo by Engin Akyurt on Pexels.com

Semakin besar intensitas kondisi emosional yang tokoh cerita alami, akan semakin besar pula dampaknya bagi pembaca.

Bagaimana pun juga, kebahagiaan sesaat tidak akan bisa mengalahkan kegembiraan yang tak terkendali. Atau pada kondisi yang lain, kesedihan yang menyakitkan akan jauh lebih berdampak daripada sekedar kekecewaan yang sepele.

Penulis fiksi harus mampu memahami bahwa kondisi emosi yang intens akan jauh lebih berpengaruh bagi pembaca. Pembaca cenderung akan lebih mudah membagikan sesuatu dalam cerita ketika luapan emosinya mereka rasakan pula.

Jadi ketika kamu membangun sebuah perasaan emosional dalam cerita, maka lakukan dengan sepenuh hati.

Buat kondisi emosi itu memiliki pengaruh yang besar bagi karakter cerita. Apakah itu cara mengekspresikan emosi negatif atau positif, tapi pastikan dampaknya besar untuk tokoh cerita.

5. Latih dengan Menggunakan Emosi Kamu Sendiri

Cara paling efektif untuk melatih kemampuanmu membangun emosi dalam penulisan cerita fiksi adalah dengan menggunakan emosi kamu sendiri. Akan lebih efektif lagi jika dalam proses ini kamu juga membuat jurnaling atau buku harian untuk mendeskripsikan emosi yang kamu temui sehari-hari.

Melalui emosimu sendiri, atau melalui kondisi emosi yang kamu temui dalam kehidupan sehari-hari, kamu dapat membangun kondisi yang sama dalam dunia fiksimu. Ketika karakter cerita atau plot dalam novelmu membutuhkan gambaran yang kuat mengenai satu emosi, kamu tinggal membuka diary dan mencari kondisi emosi mana yang paling ideal sebagai gambarannya.

Jadi saran pentingnya adalah, ketika kamu menulis satu kondisi dalam dunia nyata yang kamu temui, maka tuliskan itu sedetail mungkin.

Semakin spesifik dan mendetail kondisi emosional yang kamu gambarkan dalam jurnal berdasarkan pengamatanmu di dunia nyata, maka akan semakin mudah pula kamu melakukannya dalam cerita fiksi.

Kesimpulan

woman sitting while holding pen
Photo by Andrea Piacquadio on Pexels.com

Dalam menulis novel fiksi, cara mengekspresikan perasaan sebagai wujud situasi emosional akan sangat berpengaruh pada pembaca. Semakin baik seorang penulis menunjukkan emosi yang karakter cerita alami, maka semakin kuat pula dampaknya bagi pembaca.

Untuk membangun keterampilan seperti ini, kamu tidak dapat melakukannya dalam satu malam. Hingga mencapai kemampuan master dalam show don’t tell yang baik dalam penulisan fiksi, kamu akan membutuhkan banyak latihan dan percobaan.

Shopee Mantul

Jadi, tetap berlatih dan gunakan 5 tips di atas untuk mengasah keterampilan yang kamu miliki.

BACA JUGA:


Tingkatkan skill menulismu

Yuk, gabung di Kelas Menulis Online Penulis Gunung dan keterampilan menulismu akan naik satu level


Penulis terbaik

Anton Sujarwo

Saya adalah seorang penulis buku, content writer, ghost writer, copywriters dan juga email marketer. Saya telah menulis 19 judul buku, fiksi dan non fiksi, dan ribuan artikel sejak pertengahan tahun 2018 hingga sekarang.

Dengan pengalaman yang saya miliki, Anda bisa mengajak saya untuk bekerjasama dan menghasilkan karya. Jangan ragu untuk menghubungi saya melalui email, form kontak atau mendapatkan update tulisan saya dengan bergabung mengikuti blog ini bersama ribuan teman yang lainnya.

Tulisan saya yang lain dapat dibaca pula pada website;

Saya juga dapat dihubungi melalui whatsapp di tautan ini.

Fortopolio beberapa penulisan saya dapat dilihat disini:

%d blogger menyukai ini: