Konflik Dalam Cerita Fiksi Tokoh Melawan Masyarakat

Konflik Dalam Cerita Fiksi

Salah satu jenis konflik dalam cerita fiksi yang menarik adalah konflik manusia melawan masyarakat atau Man versus Society. Dalam banyak kesempatan, penulis yang menggunakan konflik ini juga menawarkan kritik sosial terhadap kondisi dunia saat ini. Dalam konflik jenis ini, tokoh protagonis berhadapan langsung dengan masyarakat sebagai antagonisnya.

Nah, apa sih sebenarnya konflik dalam cerita tokoh melawan masyarakat ini? Apa pula contoh konflik ini dalam karya sastra populer atau pun film-film yang mungkin sudah kamu saksikan. Dan yang terpenting; apa saja tips untuk menciptakan konflik dalam novel yang mengangkat manusia melawan masyarakat?

Artikel Penulis Gunung akan membahasnya untuk kamu kali ini.

Apa itu Konflik dalam Cerita Fiksi Manusia Melawan Masyarakat

Jika lawannya adalah masyarakat, maka kamu sebagai protagonisnya tidak dapat melawannya hanya dengan pedang dan senjata api saja. Konflik dalam novel yang mempertemukan seorang tokoh dengan masyarakat sebagai dua pihak yang saling berlawanan akan membutuhkan lebih dari sekedar senjata tajam untuk berperang.

Konflik manusia melawan masyarakat atau konflik karakter versus masyarakat memiliki ciri bahwa aspek masyarakat secara keseluruhan adalah akar dari semua konflik lain dalam cerita. Bisa jadi ada konflik manusia melawan nasib, manusia melawan dirinya sendiri atau manusia melawan karakter lain dalam cerita tersebut. Namun semua konflik turunan itu harus berasal dari masyarakat sebagai penyebab utamanya.

Jenis cerita umum yang sering menampilkan konflik manusia melawan masyarakat adalah sastra distopia. Dalam cerita distopia, protagonis melakukan upaya melawan masyarakat dalam berbagai cara.

Bisa jadi tokoh cerita dalam novel itu memberontak atau menginisiasi pemberontakan. Atau pada kesempatan lain, tokoh cerita berusaha menyelamatkan diri dari masyarakat distopia. Namun biasanya, konflik manusia melawan masyarakat dalam cerita novel tidak jauh dari tema otoriter, kekuasaan, penindasan dan kontrol yang berlebihan.

Meskipun demikian, aplikasi cerita yang mengetengahkan perlawanan tokoh melawan masyarakat tidak terbatas pada tema distopia saja. Dalam banyak rentang waktu sastra, konflik ini juga eksis dalam sastra klasik hingga kontemporer.

Tema Umum dalam Konflik Cerita Fiksi Manusia Melawan Masyarakat?

Konflik Dalam Cerita Fiksi
Photo by Amine M’siouri on Pexels.com

Sebuah cerita atau novel dengan konflik manusia melawan masyarakat umumnya tidak jauh dari beberapa tema  yang berat. Genre distopia dan genre fiksi sejarah sering berurusan dengan pemerintah yang menindas, legalitas melawan moralitas, serta kritik terhadap sistem ekonomi atau politik tertentu.

Kritik terhadap dogma agama juga sering diangkat sebagai tema dalam cerita-cerita yang berhubungan dengan konflik semacam ini. Faktanya, kisah-kisah ini bisa menjadi sangat filosofis.

Berikut adalah beberapa tema umum lainnya yang dapat kamu eksplorasi ketika menulis cerita novel yang menggunakan konflik karakter melawan masyarakat sebagai konflik sentralnya.

1. Rasisme

Kamu pastinya pernah menonton film Djanggo Unchained yang bintangnya Jamie Fox itu, kan?

Konflik sentral dalam Djanggo Unchainned adalah tokoh protagonis melawan masyarakat yang rasis. Contoh konflik cerita dalam film ini menuturkan bagaimana rasisme warna kulit mengharuskan tokoh cerita itu bangkit dan melawannya.

Rasisme tentu saja tidak hanya sekedar apartheid warna kulit. Rasisme karena status sosial, pribumi non pribumi, bangsawan non bangsawan, priyayi non priyayi juga dapat menjadi obyek rasisme untuk membangun konflik manusia melawan masyarakat.

2. Penindasan Terhadap Perempuan

Masyarakat yang anti-emansipasi juga dapat menjadi latar yang menarik untuk membangun konflik cerita fiksi manusia melawan masyarakat. Perlakuan dan pandangan masyarakat yang tidak adil pada kaum perempuan adalah canvas sempurna untuk membangun cerita yang mengangkat untuk tema ini.

Secara pribadi saya bahkan menulis sebuah buku non fiksi yang membahas isu kesetaraan gender seperti konflik ini dalam sebuah buku yang berjudul Dewi Gunung.

3. Perbedaan Kasta

Pengkastaan dalam masyarakat dengan latar belakang agama, kedudukan, keturunan dan lain sejenisnya, juga menjadi setting yang sempurna untuk novel dengan konflik manusia melawan masyarakat.

Bayangkan India dan kasta-kasta mereka, bayangkan gelar bangsawan untuk beberapa orang dan hak istimewa yang menjadi konsekuensinya. Ini semua adalah contoh konflik cerita yang menarik untuk kamu ekplorasi dalam framing manusia melawan masyarakat.

4. Anti Perubahan

Bayangkan bagaimana Marthin Luther King dimusuhi karena ia mengkritik otoritas gereja terkait penyelewengan surat pengampunan dosa yang kemudian melahirkan ide Kristen Protestan. Atau bayangkan pula bagaiamana Galileo Galilei yang dikucilkan dan dihukum karena idenya tentang sistem tata surya yang dinilai menyalahi doktrin gereja.

Ini adalah contoh nyata dalam sejarah bagaimana kondisi masyarakat yang fundamentalis gelap menyikapi perubahan. Dalam waktu dan tempat yang berbeda namun memiliki orientasi yang sama, tentu kamu bisa menjadikannya sebagai tema novel manusia melawan masyarakat.

5. Penyalahgunaan Kekuasaan

Contoh konflik cerita fiksi selanjutnya yang bisa kamu eksplorasi untuk mempertontonkan pertarungan antara tokoh melawan masyarakat adalah penyalahgunaan kekuasaan. Kamu bahkan bisa menemukan konflik ini dari scope yang paling kecil hingga dalam skala yang lebih besar.

Bayangkan misalnya tokoh cerita yang menjadi oposisi masyarakat yang sudah terbiasa dengan korupsi, nepotisme atau kecurangan. Ini juga dapat menjadi latar yang sempurna untuk mengeksplorasi konflik karakter melawan masyarakat.

Selain 5 contoh tersebut, masih ada banyak tema lain yang dapat kamu gunakan untuk mengembangkan cerita yang mengetengahkan konflik manusia melawan masyarakat. Tema tersebut misalnya tentang anti-keanehan, penerimaan, perubahan sosial dan evolusi, kekuatan pengetahuan atau pendidikan, lingkungan hidup hingga tradisionalisme versus modernisme.

Manusia dan kita semua memiliki nilai-nilai yang kuat, dan banyak dari keyakinan kita berbeda dari apa yang sebagian masyarakat dapat terima. Keyakinan inilah yang membuat konflik karakter melawan masyarakat selalu menarik dalam cerita.

Dalam kondisi tertentu, cerita karakter versus masyarakat bahkan memiliki eksistensi pengaruh sangat kuat. Bahkan konflik ini memiliki kemampuan untuk mengubah pikiran seseorang dan menginspirasinya untuk mengambil tindakan.

Apakah Orang melawan Masyarakat adalah Konflik Eksternal atau Konflik Internal?

Konflik Dalam Cerita Fiksi
Photo by Danilo Ugaddan on Pexels.com

Mungkin sulit untuk menentukan dengan pasti apakah konflik karakter versus masyarakat merupakan konflik eksternal atau internal. Seringkali, tokoh utama novel berjuang melawan konflik melawan diri sendiri untuk menantang masyarakat. Selain itu, masyarakat juga bukanlah konsep yang nyata.

Namun, karena masyarakat adalah sesuatu yang lebih besar dari satu orang dan ada di luar individu, maka konflik manusia melawan masyarakat termasuk jenis konflik eksternal.

Selain manusia melawan masyarakat, jenis konflik eksternal lainnya dalam cerita adalah manusia melawan manusia, manusia melawan kekuatan alam, manusia melawan teknologi, dan manusia melawan supranatural. Sementara untuk konflik internal hanya terbatas pada manusia melawan dirinya sendiri.

Bagaimana Membuat Konflik Cerita Manusia Melawan Masyarakat

Menulis novel atau cerita dengan konflik karakter melawan masyarakat mungkin terlihat sulit. Dan sejujurnya tidak ada cara yang benar atau yang salah untuk membangun konflik tokoh melawan masyarakat yang ideal.

Namun beberapa tips berikut ini bisa membantu kamu untuk melakukannya.

1. Tentukan Tema Ceritamu

Langkah pertama yang bisa kamu lakukan ketika menulis cerita novel dengan konflik manusia melawan masyarakat adalah memulai dari temanya. Jadi, aspek masyarakat yang mana yang ingin kamu kritik?

Apakah pemerintah yang totaliter? Kontrol yang memangkas semua kebebasan individual? Kultur fundamentalis yang memusuhi perubahan? Atau apa?

Bisa jadi ada banyak hal yang ingin kamu aduk dalam novelmu sebagai bagian dari kritik tokoh melawan masyarakat. Namun kesemuanya ini harus mampu menjadi benang merah yang menarik ketika ia masuk dalam konflik yang nyata dan dramatis dalam novel.

2. Pilih Genre yang Sesuai

Sebenarnya genre apa pun bisa cocok dengan jenis konflik cerita fiksi satu ini. Tetapi masalahnya, tidak semua genre akan sesuai dengan pesan yang ingin kamu sampaikan kepada pembaca.

Misalnya kamu ingin menyampaikan cerita kekuasaan yang sewenang-wenang dan otoritas yang tirani atas masyarakat distopia, maka ini tidak cocok jika menyampaikannya dalam genre romantis. Mungkin untuk pesan semacam itu, akan lebih tepat jika kamu memasukkannya dalam genre cerita thriller, misteri atau bahkan petualangan.

Jadi dalam penulisan cerita yang konfliknya adalah manusia melawan masyarakat, kamu harus menyampaikan pesan cerita dalam genre yang tepat.

3. Gunakan Sudut Pandang Penceritaan yang Konsisten

photo of man wearing hooded jacket in front of body of water
Photo by Oleksandr Pidvalnyi on Pexels.com

Hal pertama yang perlu kamu tahu adalah; cerita manusia melawan masyarakat dapat kamu tulis dari sudut pandang manapun yang kamu suka.

Jadi kamu dapat memilih untuk menggunakan sudut pandang orang pertama untuk membantu pembaca masuk ke dalam pikiran karakter utama cerita. Atau, kamu juga bisa menggunakan sudut pandang orang ketiga untuk menunjukkan pengaruh yang lebih luas dari konflik manusia melawan masyarakat. Jadi, pembaca tidak hanya melihat efek konflik tersebut dalam dunia karakter, namun juga di luar dunia karakter.

Akan tetapi yang paling penting adalah; sudut pandang apa yang kamu pilih untuk bercerita, lakukan dengan konsisten.

4. Gunakan Perencanaan yang Matang

Perencanaan dalam penulisan ini termasuk konflik turunan apa saja yang akan kamu hadirkan dalam cerita untuk membuatnya lebih kaya. Apakah kamu akan menambahkan konflik tokoh cerita melawan tokoh antagonis, atau menambahkan konflik manusia melawan supranatural dan lain sebagainya.

Selain konflik turunan untuk memperkaya cerita, kamu juga dapat membuat perencanaan struktur cerita, gaya penulisan hingga pengembangan karakternya.

Nah, jika kamu adalah seorang penulis pemula atau seorang penulis yang baru pertamakali mengangkat konflik manusia melawan masyarakat sebagai konflik utama, maka membuat outline atau kerangka cerita bisa memberikan kamu lebih banyak peluang untuk berhasil.

Contoh Konflik Manusia melawan Masyarakat dalam Sastra dan Film

Sepanjang sejarah ada sangat banyak contoh untuk menggambarkan konflik manusia melawan masyarakat. Konflik seperti ini hampir terjadi sepanjang sejarah dan dapat terjadi dalam setiap latar belakang budaya.

Namun dalam tingkat yang lebih mudah untuk dikenali, berikut beberapa contoh konflik manusia melawan masyarakat dalam karya sastra dan film.

BukuThe Scralet Letter karya Nathaniel Hawthorne

Konflik Dalam Cerita Fiksi
Source: IMDb

Dalam novel ini seorang tokoh cerita bernama Hester Prynne adalah seorang wanita yang melakukan perzinahan yang mengakibatkan dia melahirkan seorang anak.

Atas kesalahan tersebut, tokoh protagonis dipaksa untuk memakai tanda merah pada dirinya sehingga semua orang tahu bahwa dia berdosa dan melanggar hukum. Dalam perkembangan cerita, Hester menjadi orang buangan yang harus bertobat, namun sekaligus berjuang untuk menjalani kehidupan yang lebih sesuai dengan harapan masyarakat.

The Scarlett Letter ini mengeksplorasi ide-ide tentang kontrol agama, seks sebagai dosa, dan rasa bersalah. Selain itu, karya ini juga menyoroti bagaimana masyarakat menggunakan rasa malu dan stigmatisasi sebagai sarana kontrol sosial.

Buku Fahrenheit 451 karya Ray Bradbury

Konflik Dalam Cerita Fiksi
source: Amazon.com

Ada banyak karya sastra klasik distopia yang bagus, tapi novel Fahrenheit 451 karya Ray Bradbury adalah salah satu yang paling populer.

Dalam novel tersebut, setting cerita terjadi di masa depan ketika  keberadaan buku dilarang. Tokoh protagonis adalah orang yang memiliki buku, dan karena tersebut ia menjadi musuh negara. Rumahnya dibakar oleh petugas pemadam kebakaran.

Seorang petugas pemadam kebakaran bernama Montag mencuri sebuah buku dalam rumah tersebut dan mulai membacanya. Setelah membacanya, ia mulai mempertanyakan apa yang pemerintah katakan kepadanya. Pada akhirnya Montag berhasil selamat dalam perang nuklir bersama beberapa pembaca buku yang lainnya.

Konflik dalam cerita ini mengeksplorasi kontrol media oleh pemerintah yang sangat berlebihan. Selain itu Fahrenheit 451 juga melukiskan bahaya dari pengekangan yang menghalangi kebebasan berpikir.

Film Edward Scissorhands karya Sutradara Tim Burton

Konflik Dalam Cerita Fiksi
Source: Amazon.com

Edward adalah anak laki-laki karya cipta seorang ilmuwan, tetapi sayangnya sang ilmuwan meninggal sebelum dia bisa menyelesaikan tangannya. Edward kemudian ditemukan hidup dalam isolasi oleh seorang wanita baik hati yang membawanya ke rumahnya.

Pada awalnya, orang-orang di kota terpesona oleh Edward, dan mereka memanfaatkan kepolosan, kebaikan, dan keterampilannya yang tidak biasa. Tapi ketika Edward tidak lagi mau melayani keinginan mereka, penduduk kota dengan cepat berubah. Puncaknya mereka menjadikan Edward sebagai penjahat dan mengusirnya.

Ini adalah konflik yang mengeksplorasi bagaimana orang-orang hanya akan mengingat penyimpangan, pengkhianatan dan kejahatan seseorang yang tidak bisa melayani mereka kembali.

Remember the Titan karya Sutradara Boaz Yakin

Konflik Dalam Cerita Fiksi
Source: Dyatmika

Remember the Titan merupakan cerita yang berasal dari kisah nyata. Kisah ini diangkat dari kehidupan Herman Boone, seorang pelatih sepak bola sekolah menengah berkulit hitam yang membantu mengintegrasikan tim sepak bola pada tahun 1971 Virginia.

Penduduk kulit putih di kota itu sangat menentang integrasi. Tapi Boone menginspirasi para pemain sepak bola remajanya untuk bersatu dan mendobrak batasan rasial. Hal ini menyebabkan lebih banyak penerimaan di kota. Boone menghadapi ancaman terhadap keluarganya, kekerasan, dan skandal.

Dalam film ini konflik manusia melawan masyarakat mengekplorasi tentang pemikiran rasis dan perasaan supremasi masyaraket kulit putih sebelum apartheid sepenuhnya dihapuskan.

Kesimpulan

Konflik dalam cerita fiksi manusia melawan masyarakat hakikatnya membantu penulis dan pembaca untuk lebih peka terhadap permasalahan sosial yang ada. Pada banyak kesempatan, konflik ini hampir terjadi di setiap tempat. Pembedanya hanya substansi konfliknya saja yang berlainan.

Nah, jika kamu tertarik menulis novel dan mengangkat konflik ini sebagai sentral cerita. Beberapa tips dan penjelasan di atas dapat membantu kamu melakukannya.

Jadi, selamat mencoba!

BACA JUGA:

Tingkatkan skill menulismu

Yuk, gabung di Kelas Menulis Online Penulis Gunung dan keterampilan menulismu akan naik satu level

Penulis terbaik

Anton Sujarwo

Saya adalah seorang penulis buku, content writer, ghost writer, copywriters dan juga email marketer. Saya telah menulis 19 judul buku, fiksi dan non fiksi, dan ribuan artikel sejak pertengahan tahun 2018 hingga sekarang.

Dengan pengalaman yang saya miliki, Anda bisa mengajak saya untuk bekerjasama dan menghasilkan karya. Jangan ragu untuk menghubungi saya melalui email, form kontak atau mendapatkan update tulisan saya dengan bergabung mengikuti blog ini bersama ribuan teman yang lainnya.

Tulisan saya yang lain dapat dibaca pula pada website;

Saya juga dapat dihubungi melalui whatsapp di tautan ini.

Fortopolio beberapa penulisan saya dapat dilihat disini:

Related Posts

%d blogger menyukai ini: