Cara Menulis Dialog Dalam Novel yang Menarik

Cara Menulis Dialog dalam Novel

Dialog yang hebat akan memberikan nyawa pada cerita untuk bisa lebih hidup dalam imajinasi pembaca. Sebaliknya, dialog yang buruk akan menjadi bacaan yang membosankan dan terasa buang-buang waktu. Untuk itulah sebagai penulis kamu perlu mempelajari cara menulis dialog dalam novel untuk menghasilkan cerita yang menyenangkan.

Dalam artikel ini saya mengajak kamu untuk membahas bagaimana membuat dialog dalam novel yang baik dalam 7 tips mudah.

Jadi, pastikan kamu membacanya sampai habis, ya.

Kamu punya kisah hidup menarik untuk dijadikan buku namun bingung cara menuliskannya?

7 Langkah Mudah Cara Menulis Dialog dalam Novel

Berbicara secara langsung maupun dalam tulisan adalah sebuah seni, dan karena itu ia harus indah. Ini mungkin terdengar berat, untungnya ada beberapa aturan yang bisa kamu ikuti untuk membuatnya lebih mudah. Dari dialog yang terasa berat, kaku, dan tidak lepas, menjadi nyaman dan menyenangkan dalam cerita.

Namun yang lebih penting lagi adalah; sebuah dialog dalam novel juga harus menyenangkan untuk kamu tulis. Jadi ketika artikel ini berbicara tentang aturan, saya pastikan itu tidak akan menyulitkanmu. Justru aturan tersebut akan membuatnya menjadi lebih mudah dan segar dalam cerita.

Jadi, apa saja tips mudah membuat dialog dalam novel atau cerpen?

Mari mulai dari yang pertama.

1. Jaga Dialog Tetap Ketat

Cara Menulis Dialog Dalam Novel
Source: Healthline

Salah satu aturan paling penting dalam menulis dialog adalah; tidak ada kata yang tidak perlu dan tidak ada kata-kata yang berlebihan.

Sebenarnya hampir semua penulisan memegang prinsip yang sama, tidak hanya dalam penulisan dialog. Apakah kamu menulis artikel, jurnal, cerpen, essay atau apa saja, menyisipkan kata-kata yang tidak perlu itu harus kamu hindari. Dan dalam penulisan dialog, hal ini semakin harus kamu perhatikan.

Semua yang tokoh cerita katakan harus memiliki makna.

Hal itu harus membantu melukiskan gambaran yang lebih jelas tentang orang yang berbicara, atau lawan bicaranya. Atau memberi tahu karakter lain dan pembaca tentang sesuatu yang penting. Selain itu dialog juga harus berkontribusi dalam memajukan plot.

Jika dialog yang kamu tulis tidak mampu mencapai salah satu dari tujuan tersebut, maka jangan lakukan.

Perhatikan contoh berikut;

“Selamat malam, Tejo!”

“Selamat malam juga, Din”

“Bagaimana kabarmu?” Samsudin bertanya lagi.

“Baik, kabarmu sendiri bagaimana?”  balas Tejo

Allhamdulillah juga baik-baik saja” Samsudin mendongak ke langit “langit malam cerah, ya?”

Ini bukan pembicaraan yang menarik dalam cerita, karena tentu saja kamu bisa membuatnya lebih singkat, sederhana bahkan tanpa dialog sekalipun. Contoh dialog di atas sama sekali tidak memberikan tujuan satu pun dari kehadiran sebuah dialog dalam cerita.

Untuk menjelaskan situasi semacam itu, kamu hanya perlu mengatakan bahwa Tejo dan Samsudin bertemu di jalan dan mereka berbasa-basi saling menyapa.

2. Pastikan Dialog Berperan dalam Menggerakan Plot Cerita

Tips yang kedua dalam menulis dialog dalam novel adalah dengan memastikan bahwa percakapan yang kamu tulis berperan dalam memajukan plot cerita. Jadi, jangan hanya meletakkan sebuah percakapan antar karakter jika percakapan itu sendiri tidak memiliki peran untuk ikut menggerakkan alur cerita.

Lalu apa yang maksudnya sebuah percakapan yang ikut menggerakan plot cerita?

Plot yang terus bergerak bisa penulis bangun dengan berbagai macam cara, termasuk menggunakan dialog. Dalam dialog seperti ini penulis menunjukkan perubahan kondisi cerita baik itu secara emosional atau gerakan terhadap jalannya cerita. Jadi, cerita tidak mati langkah ketika masuk dalam ranah dialog. Justru alur cerita terus berlanjut sesuai dengan yang seharusnya.

Coba lihat contoh dari novel Merapi Barat Daya berikut ini;

“Pak Darso, tunggu sebentar!”

Suara Pak Ndaru tiba-tiba memecah kesunyian, membuat langkah Pak Darso yang baru saja mau masuk ke kantor TNGM Dukun terhenti. Ia menoleh ke arah Pak Ndaru yang berusaha menyusulnya setengah berlari.

“Ada apa Pak?” Pak Sudarso bertanya penasaran

“Mukjizat terjadi Pak Darso” jawab Pak Ndaru dengan napas terengah namun disertai senyum lebar yang membuat Pak Darso semakin penasaran.

“Mukjizat?”

“Iya, keajaiban telah terjadi”

“Apa maksudnya?”

“Korban sudah ditemukan Pak Darso, Elya sudah ditemukan, dan selamat!”

Dalam dialog di atas, percakapan antara tokoh cerita tidak hanya sesuatu yang kosong belaka namun berisi informasi yang menggerakkan plot cerita. Dengan Pak Ndaru memberitahu bahwa korban sudah berhasil ditemukan melalui percakapan, plot cerita tetap bergerak.

3. Gunakan Dialog untuk Mengungkapkan Dinamika Cerita

Source: Kotobee Blog

Sekali lagi intinya, sebuah dialog tidak dapat terjadi begitu saja tanpa tujuan dan arah yang jelas. Menulis sebuah dialog dalam novel harus memiliki kepentingan dalam cerita, termasuk untuk mengungkapkan berbagai dinamika intrinsik cerita.

Jadi, kamu bisa menggunakan percakapan untuk menjelaskan karakteristik tokoh cerita, menjelaskan setting, menjelaskan situasi emosional dan lain sebagainya.

Dalam hal ini, dialog harus memiliki peran untuk memberikan informasi yang berguna bagi pembaca entah itu tentang karakter, setting, kondisi emosional, konflik atau apa pun yang memiliki makna penting bagi cerita.

Coba lihat lagi contoh dalam novel Merapi Barat Daya berikut ini;

“Teman saya mengatakan bahwa sangat sulit untuk membawa korban turun dari lokasi mereka sekarang. Dibutuhkan perlengkapan vertical rescue atau jika memungkinkan dijemput dengan helikopter. Dan teman saya memberi titik koordinat ini tadi lewat sms” Batian merogoh saku jaket jeansnya dan mengeluarkan smarfphonenya. kemudian benda itu diserahkan kepada Pak Rashid. Pak Rashid kemudian menyerahkan benda itu kepada Pak Heriyadi yang merupakan kepala Basarnas Magelang.

“Sementara hanya itu kabar yang bisa sampaikan, terimakasih, dan wassalamu’alaikum warohmatullah wabarokatuh” Batian menutup kalimatnya sambil mau beranjak dari tempat duduknya,tapi kemudian ditahan oleh Pak Ndaru.

“Sebentar Mas Batian, teman Mas Batian yang menemukan survivor itu, bisa dijelaskan siapa dia?”

“Dia memang pendaki gunung, Pak. Yang terbaik yang saya kenal. Dan dia memang sering mendaki Gunung Merapi lewat jalur Babadan ini” jawab Batian sambil tersenyum.

“Lho dia mendaki dan menemukan survivor itu bersama tim atau seorang diri, Mas?” kali ini Pak Rashid yang berbicara. Suara bariton dan kumis melintangnya yang ‘killer’ membuat Batian dengan cepat mengetahui kalau Pak Rashid pasti adalah sorang polisi.

“Seorang diri, Pak. Dia memang hampir selalu mendaki secara solo”

“Sendiri?” Pak Rashid hampir melotot.

Iya Pak, sendiri”

Pada contoh tersebut alur percakapan yang terjadi tidak hanya memajukan alur cerita yang ada namun juga ikut memberikan deskripsi dari karakter utama protagonis cerita.

Jadi, meskipun pembaca belum berinteraksi secara langsung dengan tokoh utama dalam novel ini, mereka sudah dapat menangkap karakteristiknya melalui dialog yang terbangun dalam salah satu bagian ini.

4. Buat Tag Dialog Lebih Sederhana

Tag dialog adalah bagian yang membantu pembaca untuk mengetahui siapa mengatakan apa. Biasanya penulis menempatkan pada imbuhan belakang dialog atau pun pada permulaannya kadang-kadang.

Beberapa penulis pemula mencoba memberi warna pada tulisan mereka dengan menghujaninya dengan banyak tag dialog yang kuat.

Contohnya seperti ini

“Tidak begitu,” serunya

“Aku sudah bilang dari dulu,” pekiknya

“Saya sudah mengatakan bahwa saya tidak bisa melakukan hal seperti itu lagi”  Ia membela diri

“Oh. Jadi kamu sekarang mengatakan kalau kamu tidak bisa melakukan tugas ini” serangnya lagi dengan sinis.

Contoh tersebut memperlihatkan bahwa penulis menggunakan banyak tag dalam percakapan yang terjadi. Penambahan tag ini bertujuan untuk memberikan gambaran yang kuat kepada pembaca mengenai siapa yang berbicara dan apa yang ia bicarakan. Tapi sayangnya, penambahan tag yang terlalu padat justru menghilangkan minat pembaca pada isi percakapan itu sendiri.

Buat lebih sederhana dan jadilah kreatif! Itu adalah kuncinya.

Daripada menambahkan kata-kata tag (seperti katanya, teriaknya, serunya, dia memekik, gerutunya dan lain sebagainya), mengapa tidak menggunakan bahasa tubuh dan emosi apa yang di baliknya? Ini adalah cara yang mudah dan kreatif dalam membuat dialog yang lebih menarik.

Coba perhatikan contohnya berikut ini;

Hamid mengatupkan rahangnya. “Kamu bohong!”

“Omong kosong apa maksudmu mengatakan aku berbohong?”

Suaranya terus meninggi dengan setiap kata yang dia teriakkan, tetapi Hamid sama sekal tidak bergeming.

“Jika memang surat itu dari Diana, mengapa kau menyembunyikan untukku?”

Hamdan melempar tumbukan kertas itu ke lantai, matanya melotot seperti kelereng sekarang

“Kau memang keterlaluan! Sama sekali tidak tahu cara berterimakasih!”

Tidak ada satu pun tag dalam dialog tersebut, tapi pembaca masih dapat mengidentifikasi dengan jelas siapa yang berbicara dan apa yang ia katakan. Itu jauh lebih sederhana daripada kamu harus menempatkan tag untuk setiap akhir kalimat.

Bahkan jika kamu benar-benar pandai mengembangkan cara karakter ceritamu berbicara (intonasi, kecepatan, kata, sintaksis, dan pola bicara), pembaca dapat mengetahui siapa yang berbicara hanya dengan membaca cara mereka menyusun kalimat.

Jadi aturan sederhananya adalah: gunakan tag dialog senyaman mungkin, tetap sederhana dan kreatif!

5. Gunakan Tanda Baca yang Tepat

Cara Menulis Dialog Dalam Novel
Source: Script Magazine

Tanda baca dialog sangat sederhana dan penting, dan bisa menjadi masalah yang buruk jika kamu  salah menempatkannya. Bahkan penempatan tanda baca yang keliru dapat memberikan persepsi yang berbeda bagi pembaca.

Berikut adalah beberapa aturan sederhana yang perlu kamu ketahui sebelum tokoh dalam cerita novelmu mulai berbicara:

  1. Setiap baris dialog baru (yaitu: setiap pembicara baru) membutuhkan paragraf baru – meskipun dialognya sangat singkat.
  2. Kalimat tindakan dalam dialog juga mendapatkan paragrafnya sendiri. Paragraf pertama dari suatu bab atau bagian dimulai dari paling kiri, dan paragraf berikutnya diindentasi baik ia dialog atau bukan.
  3. Satu-satunya pengecualian untuk aturan ini adalah jika kalimat tersebut menyela bagian dialog yang berkesinambungan. misalnya: “Ya,” katanya. Dia menepis lalat yang hinggap di pipinya. “Menurutku Diana adalah gadis yang paling cantik.”
  4. Saat Anda mengakhiri baris dialog dengan katanya, kalimat sebelumnya harus kamu akhiri dengan koma bukan titik, seperti ini misalnya: “Ya,” katanya.
  5. Jika baris dialog kamu akhiri dengan tanda tanya atau tanda seru, kamu masih belum memiliki huruf kapital untuk katanya. Misalnya: “Kamu suka Diana?” dia berkata.
  6. Jika dia berkata ada di tengah satu kalimat dialog yang berkelanjutan, maka kamu perlu menggunakan koma tersebut untuk melanjutkan kalimatnya. Seperti ini misalnya: “Kalau kamu suka Diana,” katanya, “maka kamu harus bersaing dengan banyak lelaki lain yang juga menyukainya.”
  7. Gunakan tanda kutip untuk setiap sebuah kalimat yang tokoh cerita ucapkan, baik ia kalimat pendek, panjang, terputus atau apa pun. Contohnya seperti ini: “Kamu suka Diana?” atau, “Diana?” atau, “Ada banyak orang yang suka pada Diana, jika kamu juga menyukainya artinya kamu harus bersaing dengan mereka.”
  8. Gunakan tanda seru secukupnya, jangan berlebihan. Misalnya seperti ini: Jika tidak! Milikmu! Buku! Adalah! Pergi! Ke! Suara! Sangat! Histeris!

6. Gunakan Percakapan yang Acak

Tips selanjutnya yang bisa kamu gunakan dalam penulisan percakapan dalam novel adalah dengan mengaplikasikan percakapan yang acak. Artinya; sebuah pertanyaan tidak harus dijawab dengan jawaban yang seharusnya.

Coba lihat lagi contoh ini:

“Apa kabarmu, Hamid?”

“Kabarku baik. Kamu sendiri bagaimana kabarnya?”

“Aku juga baik. Kudengar kau barusan jatuh dari motor, ya?”

“Iya, tapi tidak apa-apa. Aku hanya lecet”

“Syukurlah kalau begitu”

Contoh tersebut adalah kalimat langsung. Artinya pertanyaan mendapatkan jawaban yang seharusnya. Jadi dialog langsung adalah saat sesorang (misalnya A) mengatakan sesuatu atau mengajukan pertanyaan, dan seseorang yang lain (misalnya B) menjawab dengan cara yang paling logis dan langsung.

Ini salah satu jawaban terus terang, tapi sayangnya dalam percakapan novel, cara menulis seperti ini juga tidak menarik.

Nah, jalan keluarnya adalah dengan membuatnya acak. Jadi buat bahwa satu pertanyaan tidak pernah mendapat jawaban secara to the point atau langsung. Dengan cara ini, kamu tidak hanya menggerakkan cerita ke depan tetapi juga bisa mengungkapkan banyak hal tentang karakter yang sedang berbicara tersebut.

7. Tambahkan Aksen Khusus untuk Identifikasi

Cara Menulis Dialog Dalam Novel
Source: Kristen Stieftel

Tips terakhir untuk menulis dialog yang baik dalam novel adalah dengan memperhatikan aksen karakter cerita dan memberikan hal tersebut dalam percakapannya.

Dialog yang realistis adalah sesuatu yang menyenangkan, terutama jika ia dalam kehidupan nyata. Tapi menghadirkan dialog yang realistis dalam sebuah tulisan berbentuk novel atau cerpen memiliki cerita yang berbeda. Percakapan yang kamu paksakan untuk terdengar realistis dalam novel akan segera menjadi bahasa yang kaku dan membosankan.

Pembaca tidak akan dapat mengidentifikasi dengan mudah kecepatan berbicara, aksen atau penggunaan kosakata yang berulang sebagai sebuah ciri khas dialog.  Nah, untuk tetap menghadirkan aksen yang tepat dalam dialog, kamu perlu mencari tahu karakteristik percakapan umum yang biasa terbangun.

Misalnya begini;

“Bah! Masa aku pula yang kau suruh beli? Macam mana pula kau ini?”

“Ya siapa lagi mi, kita berdua kan lapar?”

“Yo kamu yang mesti beli nasi gorengnya to, yo. Makan mau, belinya nggak mau. Piye tho?”

Dari setiap kalimat di atas, pembaca dapat memprediksi bahwa kalimat pertama adalah milik karakter dengan latar belakang Sumatera Utara (Medan). Kalimat dialog kedua adalah khas dari Sulawesi Selatan atau Makassar, sementara dialog ketiga menunjukkan aksen Jawa yang kental.

Dari penggunaan imbuhan tertentu, kosakata tertentu, pembaca dapat mengindetifikasi akses yang mereka gunakan. Nah, kamu juga dapat menggunakan nama, kata ejekan yang khas dan lain sebagainya untuk menjelaskan hal ini.

Beberapa Tips Lain Tentang Menulis Dialog dalam Cerita

Selain dengan mengaplikasikan 7 tips tersebut, beberapa tips lain yang juga perlu kamu perhatikan saat menulis dalam novel adalah sebagai berikut:

1. Pertahankan Dialog Tetap Singkat

Jika dialog lebih dari tiga kalimat, biasanya ini akan lebih berisiko. Pastikan kamu menggunakan dialog panjang untuk sebuah percakapan yang benar-benar kuat.

2. Pastikan Karakter Berbicara dengan Suaranya Sendiri

Upayakan semaksimal mungkin bahwa tokoh cerita berbicara dengan gayanya masing-masing dan tidak tertukar antara tokoh yang satu dengan tokoh yang lain.

3. Tambahkan Intrik

Tambahkan bahasa gaul, ejekan, selorohan, atau apa pun juga untuk menambahkan intrik obrolan yang lebih natural.

4. Sudahi Lebih Cepat

Jangan repot-repot dengan obrolan ringan dan tidak memiliki poin penting. Putuskan poin dari setiap interaksi yang terjadi, mulailah dengan itu selambat mungkin, akhiri segera setelah poin tercapai.

Format dalam Penulisan Dialog pada Novel atau Cerpen

Dalam menulis dialog di novel atau cerpen, ada beberapa aturan untuk memastikan maksud percakapannya tidak pembaca salah artikan. Beberapa ketentuan terpenting dalam menulis format dialog adalah sebagai berikut:

  1. Hanya kata-kata yang diucapkan yang masuk dalam tanda kutip.
  2. Gunakan kalimat terpisah untuk setiap hal baru yang dikatakan atau dilakukan seseorang.
  3. Tanda baca tetap berada di dalam tanda kutip dan jangan lupa tentang tanda kutip penutup di akhir kalimat.
  4. Kamu dapat menggunakan tanda kutip tunggal atau tanda kutip ganda, tetapi harus konsisten! Artinya jika kamu menggunakan tanda kutip ganda, maka gunakan tanda kutip ganda secara konsisten. Begitu juga sebaliknya.
  5. Huruf kapital selalu di awal kalimat dan setelah tanda titik.

BACA JUGA:

Tingkatkan skill menulismu

Yuk, gabung di Kelas Menulis Online Penulis Gunung dan keterampilan menulismu akan naik satu level

Penulis terbaik

Anton Sujarwo

Saya adalah seorang penulis buku, content writer, ghost writer, copywriters dan juga email marketer. Saya telah menulis 19 judul buku, fiksi dan non fiksi, dan ribuan artikel sejak pertengahan tahun 2018 hingga sekarang.

Dengan pengalaman yang saya miliki, Anda bisa mengajak saya untuk bekerjasama dan menghasilkan karya. Jangan ragu untuk menghubungi saya melalui email, form kontak atau mendapatkan update tulisan saya dengan bergabung mengikuti blog ini bersama ribuan teman yang lainnya.

Tulisan saya yang lain dapat dibaca pula pada website;

Saya juga dapat dihubungi melalui whatsapp di tautan ini.

Fortopolio beberapa penulisan saya dapat dilihat disini:

Related Posts

%d blogger menyukai ini: