Cara Membuat Setting Cerita pada Novel (Panduan Lengkap)

Cara Membuat Setting Cerita

Setting yang tepat akan mampu menyempurnakan karakter dan pesan cerita dengan sempurna. Dengan signifikannya fungsi setting dalam cerita maka setiap penulis harus mampu memahami cara membuat setting pada novel, baik ia fiksi maupun non fiksi.

Nah, bagaimana sebenarnya cara merancang sebuah setting dalam cerita?

Saya akan mengajak kamu untuk membahasnya dalam artikel Penulis Gunung id kali ini.

Kamu punya kisah hidup menarik untuk dijadikan buku namun bingung cara menuliskannya?

Definisi Setting dalam Cerita

Membuat Setting Cerita
Source: Fantasy

Secara sederhana setting cerita adalah konteks dalam sebuah adegan atau cerita yang menggambarkan unsur-unsur di mana sebuah cerita terjadi yang hal ini mencakup waktu, tempat, dan lingkungan. Setiap komponen dalam setting cerita membantu membangun suasana narasi, plot, dan pengembangan karakter.

Ada sebuah persangkaan keliru yang berkembang terkait setting cerita yang mengartikannya hanya sebagai tempat berlangsungnya cerita saja. Padahal setting dalam cerita juga menyangkut periode waktu, kondisi lingkungan, situasi sosial bahkah kondisi internal karakter.

Jadi, setting dalam sebuah cerita baik ia fiksi mau pun non fiksi tidak terbatas hanya dalam sudut pandang tempat.

Tujuan Setting dalam Cerita

Mudahnya, tujuan dari setting cerita adalah memberikan informasi kepada pembaca tentang kapan dan dimana sebuah cerita berlangsung.

Beberapa pertanyaan umum terkait setting cerita misalnya adalah;

  • Dimana tempat kejadiannya?
  • Bagaimana kondisi sosialnya?
  • Kapan periode waktunya?
  • Peristiwa penting apa yang terjadi pada saat cerita terjadi?
  • Bagaimana kondisi dan norma sosial pada saat itu?
  • Seperti apa kondisi cuacanya?
  • Dan lain-lain.

Contoh Setting dalam Cerita

Berikut adalah salah satu contoh setting cerita dalam novel fiksi Merapi Barat Daya yang saya tulis tahun 2019 silam.

Pemuda berjaket warna hijau terang itu menunduk sejenak, memperhatikan garis rute pendakian yang baru saja ia lewati. Sementara sinar matahari yang menyala dengan warna jingganya memenuhi angkasa raya sepanjang garis cakrawala pandangan matanya. Sesaat pemuda itu mendongak, melihat punggungan Merapi yang dipenuhi oleh bebatuan dan pasir yang berdiri dengan perkasa di hadapannya. Senja yang hampir menyelimuti cakrawala membuat tempat itu kian terasa diliputi oleh hawa magis yang kental. Bayangan Gunung Merapi yang sebelumnya nampak memanjang melingkupi hamparan hutan hingga ke jarak yang jauh, kini mulai tak terlihat lagi, tergantikan oleh kemilau cahaya senja yang perlahan seolah memancar dari setiap permukaan bumi.

Intinya adalah; setting berguna untuk menunjukkan kepada pembaca mengenai tempat dan waktu berlangsungnya sebuah cerita.

Kamu dapat menggunakan panca indra karakter cerita untuk tujuan ini. Semakin jelas imajinasi pembaca ketika mengilustrasikan setting sebuah adegan dalam cerita berlangsung, maka akan semakin efektif peran setting dalam sebuah cerita tersebut.

Mengapa Setting dalam Cerita itu Penting?

Membuat Setting Cerita
Source: Story Setting

Latar sebuah cerita penting karena ia memberi pembaca konteks tentang waktu, tempat, dan lingkungan di mana cerita tersebut berlangsung. Hal ini juga penting karena meningkatkan pengalaman pembaca dan menambah perkembangan cerita terkait alur, suasana hati, dan karakter.

Setting tidak hanya penting dalam penulisan cerita fiksi, dalam penulisan non fiksi setting cerita juga sama pentingnya. Setting memberi penulis kesempatan untuk mengembangkan cerita, memperkaya pengalaman pembaca dan lain sebagainya.

Selain itu, beberapa alasan mengapa setting dalam sebuah cerita adalah sesuatu yang penting misalnya adalah sebagai berikut:

  1. Menghubungkan unsur-unsur dalam cerita. Setting cerita  yang efektif menghubungkan karakter dengan plot, dan menyatukan tema dan peristiwa dalam cerita.
  2. Membangun makna narasi. Tanpa latar sebuah cerita, mungkin tidak banyak makna yang bisa pembaca peroleh karena setting menyediakan konteks.
  3. Menimbulkan respon emosional bagi pembaca. Saat pembaca terlibat dalam latar ceritamu, mereka akan secara aktif untuk membaca dan berinvestasi dalam mengalami narasi dan bagaimana cerita akan terus bergulir.
  4. Membantu pembaca memvisualisasikan cerita. Penulis atau pengarang menggunakan setting cerita untuk mendeskripsikan lingkungan, waktu, dan tempat bagi pembaca, yang memberikan lebih banyak konteks untuk melibatkan pembaca.
  5. Memperbaiki alur cerita. Dengan setting yang efektif dan tersusun dengan baik maka plot akan mengalir bersama dengan baik pula yang imbasnya adalah peristiwa akan terasa lebih nyata bagi pembaca.

3 Hal Penting Menentukan Setting dalam Cerita

Dalam panduan cara menulis novel atau cerita apa pun saja, setidaknya ada 3 hal penting dalam menentukan setting sebuah cerita.

Tiga hal penting tersebut adalah sebagai berikut:

1. Sesuaikan Setting dengan Tujuan Plot Cerita

grayscale photo of house on grass field
Photo by Suzy Hazelwood on Pexels.com

Hal penting pertama dari cara membuat setting cerita pada novel adalah ia harus selaras dengan plot cerita. Esensi penting dari hal ini adalah untuk memastikan bahwa antara setting dan plot ada kesesuaian sehingga ia terasa masuk akal dan realistis bagi pembaca.

Jika misalnya kamu menulis sebuah cerita tentang kriminalitas dengan setting para pencandu alkohol dan seks bebas yang berkeliaran, maka jangan menjadikan kota Qatar sebagai latarnya karena itu tidak realistis.

Qatar terkenal dengan budaya islam yang tinggi sehingga seks bebas dan alkohol tidak mungkin menjadi ciri khasnya.  

2. Sesuaikan Setting dengan Ceritanya Sendiri

Setting sebuah cerita harus sesuai dengan cerita yang sebenarnya. Benda, peristiwa, atau objek dalam latar cerita tidak boleh terasa aneh bagi pembaca berdasarkan pengetahuan yang ada tentang suatu tempat atau periode waktunya.

Misalkan kamu menulis cerita tentang cerita perang kemerdekaan Indonesia tahun 1945 dan sekitarnya, maka jangan jadikan handphone sebagai alat komunikasinya karena akan terasa aneh.

3. Sesuaikan Setting dengan Tokoh Cerita

Hal terakhir yang tidak kalah penting dalam menetapkan setting adalah dengan memastikan jika setting tersebut selaras dengan karakteristik tokoh ceritanya sendiri.

Jadi, jika misalnya kamu membuat satu tokoh cerita dengan karakteristik yang pendiam dan pemalu, maka akan lebih mudah bagi pembaca untuk percaya jika sang tokoh duduk sendirian di sudut ruangan dengan latar matahari yang hampir terbenam

Sebaliknya jika kamu menggambarkan tokoh cerita yang pemalu dan pendiam tersebut justru menikmati hentakan musik diskotik atau kerlap-kerlip lampunya, maka akan lebih sulit bagi pembaca untuk melihat sinkronisasinya.

Cara Melakukan Riset untuk Menentukan Setting Cerita

restaurant with served banquet tables in patio
Photo by Maria Orlova on Pexels.com

Ketika kamu melakukan riset untuk sebuah setting cerita, setidaknya ada beberapa hal yang harus kamu pertimbangkan. Hal pertama dari semuanya adalah dengan selalu mengingat bahwa setting cerita bukan hanya tentang tempat dan kondisi geografis saja.

Selebihnya kamu bisa mempergunakan beberapa detail pertanyaan berikut untuk mempermudah proses risetnya.

  • Kebangsaan apa yang setting cerita wakili?
  • Seberapa padat penduduknya?
  • Apa saja keyakinan (agama) yang ada di daerah tersebut? Keyakinan apa yang membentuk culture masyarakatnya?
  • Dongeng dan mitos apa yang mungkin membentuk plot dan reaksi tokoh utama dan penduduk terhadap pengaruh luar?
  • Apa medan dan fitur geografis lainnya?
  • Bagaimana kondisi iklim, cuaca dan musimnya?
  • Bagaimana dengan pemerintahannya?
  • Bagaimana sejarah daerah tersebut?
  • Dan lain-lain.

Selain dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan di atas, kamu juga dapat memperoleh informasi tentang setting cerita melalui beberapa cara berikut ini:

  • Mengunjungi tempat yang menjadi setting cerita secara pribadi. Namun jika kamu memiliki budget yang terbatas atau setting cerita adalah sesuatu yang imajiner maka ini tidak dapat kamu lakukan.
  • Gunakan pencarian Youtube untuk melihat setting cerita melalui video.
  • Manfaatkan Google Earth.
  • Temukan informasi tentang setting di Ensiklopedia.
  • Manfaatkan National Geographic. Jika kamu mencari sumber setting dengan gambar berkualitas tinggi, ini adalah tempatnya.
  • Gunakan pencarian melalui koran.
  • Pencarian melalui Google Image.
  • Dan sumber lain sebagainya.

8 Tips Penting Cara Merancang Setting Cerita pada Novel atau Cerpen

Membuat setting yang menarik untuk pembaca bisa jadi adalah sesuatu yang sulit. Jika kamu umpamakan seperti puzzle, membuat setting dalam cerita novel itu tersusun dari beberapa potongan-potongan yang kemudian harus kamu gabungkan menjadi setting yang utuh.

Nah, untuk memudahkan kamu merancang setting yang sempurna bagi ceritamu, 8 tips berikut ini dapat kamu praktikkan.

1. Putuskan Suasana Hati Apa yang Ingin Kamu Bangun

Membuat Setting Cerita
Photo by Gabriela Palai on Pexels.com

Jadi, ketika kamu merancang sebuah setting cerita, pastikan terlebih dahulu suasana perasaan seperti apa yang kamu ingin pembaca rasakan ketika mereka membacanya. Apakah itu rasa sedih? Kegemberiaan? Rasa haru? Kehilangan? Ketegangan? Ketakutan, atau apa?

Intinya adalah, tanyakan kepada diri kamu sendiri: Suasana hati dan perasaan apa yang kamu inginkan dari setting tersebut?

Misalnya kamu ingin menciptakan suasana hati yang tegang dan takut, maka kamu mungkin akan menulis setting di sebuah rumah yang terkenal angker dan telah lama tidak dihuni manusia, waktunya pada malam hari dengan suara burung hantu dan lolongan serigala.

Bandingkan jika kamu ingin pembaca merasakan ketakutan namun memilih setting pada tempat yang indah dengan pelangi dan bunga-bunga mekar. Tentu saja perasaan yang kamu ingin timbulkan tidak dapat terwujud dengan maksimal, bukan?

2. Putuskan Periode Mana yang Paling Sesuai dengan Konteks Ceritamu

Periode waktu memainkan peran besar dalam mengembangkan setting cerita.

Nah, untuk mendapatkan setting yang tepat mengenai periode waktu, kamu dapat bertanya pada diri kamu sendiri. Apa jenis plot yang kamu miliki? Apakah itu paling cocok dengan masa-masa penjahahan sebelum tahun 1945? Atau apakah itu masa kolosal ketika kerajaan-kerajaan masih berjaya di Nusantara?

Ketika kamu sudah menetapkan periode tersebut, sekarang perhatikan idiom, kutipan dan ekspresi apa yang terjadi pada saat itu kemudian aplikasikan dalam bahasa ceritamu.

Jika misalnya kamu menulis sebuah cerita satu abad lalu dengan latar budaya Minangkabau, maka kamu mungkin dapat menemukan ekspresinya dalam novel seperti Tenggelamnya Kapal Van Der Wick karya Hamka.

Ini tentu berbeda ketika umpamanya kamu menulis setting cerita yang terjadi pada masa depan. Perbedaan budaya, sikap spiritualitas, situasi sosial dan lain sebagainya akan sangat kental mewarnai cerita. Dan itu harus terbaca dalam setting yang kamu bangun.

3. Identifikasi Suasana Apa yang Perlu Kamu Bangun

Saat kamu menulis setting sebuah cerita, kamu juga perlu memikirkan suasana yang perlu kamu gambarkan untuk pembaca.

Artinya jika kamu menulis satu adegan dengan tingkat ketegangan yang tinggi, maka settingnya pun harus mendukung untuk kepentingan tersebut. Hakikatnya, ini merupakan langkah untuk mengembangkan tips yang pertama sebelumnya.

Misalnya kamu sudah membangun satu latar cerita di rumah angker malam hari yang bertujuan memberikan perasaan ketakutan dan suasana seram bagi pembaca.

Nah, setting ini akan menjadi cacat jika misalnya kamu membuat tokoh cerita justru terbahak-bahak setelah menemukan televisi dalam rumah itu menyala dan menampilkan acara komedi yang mengocok perut. Atau kamu menampilkan juga bagaimana rumah angker itu justru sangat bersih, terawat, mendapat cahaya yang cukup dan dipenuhi dengan aura yang nyaman.

Pada akhirnya, pembaca akan melihat setting ini dengan perasaan yang gembira dan bukan lagi ketegangan atau seram seperti yang kamu butuhkan.

4. Gabungkan Semua Elemen Cerita

Ingatlah selalu bahwa setting sebuah cerita mencakup lebih dari sekedar medan, cuaca, dan iklim tempat tersebut.

Sebelumnya, kita sudah membahas beberapa elemen lain yang terlibat dalam latar sebuah cerita. Beberapa elemen tersebut misalnya adalah pemerintah, agama, takhayul, dan populasi.

Tapi pertanyaannya adalah; bagaimana memasukkan elemen-elemen tersebut ke dalam cerita?

Sebagai penulis, kamu harus mengetahui beberapa detail kecil ini secara mendalam, tetapi itu tidak berarti kamu akan menggunakan semuanya secara langsung dalam latar cerita.

Hanya gunakan apa yang kamu perlukan untuk mendeskripsikan setting secara memadai. Tidak berlebihan dan tidak juga kurang. Tuliskan beberapa bagian elemen tersebut dengan sebaik mungkin dan jangan lupa untuk membaginya di sepanjang cerita.

5. Gunakan Panca Indera Karakter Saat Mendeskripsikan Setting

photo of girl smelling white petaled flowers
Photo by destiawan nur agustra on Pexels.com

Tips selanjutnya ketika kamu menulis setting cerita adalah dengan mendayagunakan pancaindera karakter dalam cerita untuk menunjukkannya kepada pembaca. Jadi, aroma yang tercium oleh hidung, rasa yang terkecap oleh lidah, bunyi yang terdengar oleh telinga serta hawa dan permukaan yang terasa oleh kulit, kamu tunjukkan kepada pembaca.

Untuk membuatnya lebih sempurna, kamu dapat memulainya dengan menjelaskan apa yang kamu ingin pembaca lihat. Gambarkan setting ceritamu berdasarkan apa yang matamu akan lihat dalam kehidupan nyata.

Selanjutnya, kamu dapat menggunakan karakter utama ceritamu untuk mendeskripsikan apa yang ia dengar. Tentu saja kamu tidak perlu mendeskripsikan semua yang tokoh cerita dengar, tapi hanya suara yang relevan dan yang paling jelas saja.

Dari suara sekarang kamu bisa berpindah ke indera penciuman. Apa yang dia cium? Apakah udaranya berdebu? Apakah seseorang memasak sarapan dengan aroma yang membuat perut keroncongan?

Kemudian biarkan tokoh ceritamu menyentuh sesuatu. Dia dapat menggerakkan tangannya di atas meja yang halus, merasakan papan yang kasar, dan memegang batang logam yang dingin.

Dalam menuliskan setting menggunakan panca indera ini, kamu harus menaburkannya sepanjang cerita dan jangan membanjiri imajinasi pembaca dengan setting yang berlebihan.

Jika kamu sudah mengungkap setting melalui panca indera yang satu, maka ambil momen yang tepat untuk mendeskripsikan setting dengan indera yang lainnya.

6. Hindari Mendeskripsikan Setting Sekaligus di Awal Cerita

Karena setting cerita sangat penting untuk plot dan karakter, sangat penting bagimu sebagai penulisnya untuk mengembangkannya agar dapat pembaca nikmati dengan baik. Nah, cara yang paling penting untuk tujuan ini adalah dengan tidak menumpahkan deskripsi setting sekaligus di awal cerita.

Pada umumnya, setting yang penulis letakkan di awal cerita sekaligus akan membangun rasa enggan bagi pembaca untuk membacanya. Alasan terbesar mengapa hal ini terjadi adalah karena setting yang terlampau mendetail di awal cerita adalah sesuatu membosankan.

Jadi, sebagai langkahnya kamu bisa mendeskrispsikan setting secara perlahan dan pada tempat-tempat yang memang membutuhkan keterangan setting.

6. Hindari Menggambarkan Setting Secara Berlebihan

Lebih dari sekedar tips sebelumnya, ada beberapa alasan mengapa kamu tidak boleh mendeskripsikan latar sebuah cerita secara berlebihan:

  • Berpotensi untuk melumpuhkan imajinasi pembaca. Kamu harus menyerahkan beberapa detail pada imajinasi pembaca jika kamu ingin mereka terlibat lebih dalam pada cerita.
  • Mengusir pembaca dari cerita. Cara tercepat untuk membuat pembaca meninggalkan ceritamu adalah dengan membuat terlalu banyak deskripsi.
  • Meremehkan pengetahuan pembaca. Kamu sama sekali tidak perlu mendeskripsikan dengan detail bagaimana suara mesin, karena pembaca sudah mampu mengimajinasikannya. Cukup kamu sampaikan misalnya; suara mesin itu seperti gerombolan tawon yang berdengung tanpa henti.

8. Ingatlah Selalu bahwa Setting Memiliki Pengaruh Langsung pada Plot dan Karakter

Lingkungan kita memengaruhi suasana hati kita, ini berlaku untuk hampir setiap manusia!

Dalam novel atau cerpen juga seperti itu. Jadi, tidak ada bedanya dengan karakter dalam ceritamu, karena mereka adalah karakter yang juga harus hidup dalam imajinasi setiap pembaca.

Mari lihat beberapa contoh berikut:

  • Jika seorang tokoh cerita hidup dalam rumah yang sempit dan pengap sepanjang waktu, ia sangat mungkin akan mengalami tekanan.
  • Bila seorang tokoh cerita hidup dalam rumah yang pengab dan sempit, kekurangan makanan dan listrik yang baru saja terputus, pembaca mungkin akan menaruh simpati padanya.
  • Sekarang jika tokoh cerita tinggal di sebuah rumah kecil yang sempit, pengab dan tanpa listrik, sementara ia memiliki bayi yang baru saja ia lahirkan dengan pacar yang menolak bertangungg jawab, maka apa yang terjadi? Dalam kondisi ini kita mungkin saja sudah memiliki awal plot yang menarik.

Cara Merancang Setting Fiksi Ilmiah atau Fiksi Fantasi

Membuat Setting Cerita

Sekarang setelah melihat beberapa tips menarik bagaimana merancang setting untuk sebuah cerita umum, lantas bagaimana membangun setting yang benar-benar imajiner?

Nah, jika kamu ingin menulis cerita fiksi fantasi atau fiksi ilmiah, berikut adalah beberapa hal penting yang dapat kamu perhatikan ketika merancang settingnya.

1. Bangun Setting yang Lengkap Sebelum Menulis

Sebelum kamu mengambil pena untuk menulis, pastikan bahwa settingnya sudah  kamu kembangkan sepenuhnya!

Jadi, dalam proses ini kamu seperti melakukan brainstorming dan membangun dunia imajinermu secara lengkap sebelum kamu menyinggung tentang plot, karakter atau pun konfliknya.

Cerita fantasi atau fiksi ilmiah pada beberapa sub genre memiliki dunia dan hukumnya sendiri, dan ini tidak bisa kamu lakukan sambil jalan. Menulis setting cerita fantasi atau fiksi ilmiah tanpa perencanaan yang matang akan membuat kamu nantinya bolak-balik untuk merevisi dan memperbaikinya kembali.

Jadi, lakukan brainstorming, bangun settingmu dengan lengkap sebelum kamu masuk dalam penulisan cerita yang sesungguhnya.

2. Ciptakan Dunia Cerita Terlebih Dulu

Sebelum kamu memasukkan karakter atau tokoh cerita, dunia tempat mereka akan mengukir cerita harus lebih dulu selesai kamu formulasikan. Ini tentu bukan pekerjaan mudah, membangun dunia imajiner yang lengkap dalam cerita fantasi atau pun fiksi ilmiah adalah satu hal yang complicated.

Jadi ketika kamu ingin menciptakan setting yang sempurna dalam sebuah dunia fantasi yang sepenuhnya imajiner, pastikan lebih dulu bahwa konsep besar dunianya sudah usai kamu rencanakan.

Konsep besar dunia ini mungkin sangat mendetail; mulai dari bagaimana bentuk tanahnya hingga bagaimana burung, kelinci dan apa pun yang akan menjadi obyek untuk kamu ceritakan sebagai pelengkap setting setelahnya.

3. Bangun Setting Kedua

Membuat Setting Cerita

Setelah dunia fiktif terbangun, setting sebuah cerita yang sebenarnya sudah dapat kamu buat. Dalam fiksi fantasi sekali lagi rumusnya adalah; kamu perlu membuat setiap aspek latar cerita sebelum mulai menulis buku.

Misalnya, berapa banyak matahari yang akan terlihat oleh karakter utamamu?

Bagaimana dengan kehidupan tumbuhan tempat tinggal karakter? Apakah tanamannya hidup atau mati? Apakah hewan peliharaan bentuknya sama atau bentuknya berbeda dengan dunia normal? Dan lain sebagainya.

Hal yang penting ketika kamu menulis setting untuk cerita fantasi adalah berpikir out of the box. Jadi, imajinasikan sesuatu yang benar-benar menarik atau bahkan tidak pernah pembaca bayangkan sebelumnya.

4. Tambahkan Detail untuk Membangun Kepercayaan Pembaca

Kamu memerlukan lebih banyak detail dalam setting imajiner cerita fantasi daripada jika kamu melakukannya dalam setting dunia yang nyata. Alasannya adalah karena pembacamu tidak memiliki kerangka acuan untuk mendeskripsikan setting fiktif tersebut.

Misalnya: kamu dapat menggambarkan angin bertiup di tepi pantai Gunung Kidul yang eksotis. Tapi bagaimana dengan tiupan angin dalam dunia imajinermu? Pembaca tidak memiliki panduan untuk membayangkannya.

Seorang penulis memang memiliki tugas untuk menghidupkan imajinasi pembaca, dan untuk sukses melakukan tugas tersebut, pembaca harus mendapatkan bimbingan yang cukup. Dan bimbingan itu salah satunya adalah detail dalam settingnya.

5. Buatlah Peta Dunia Baru

Tips terakhir untuk mampu merancang dengan baik setting dalam  dunia imajiner adalah dengan menggambar peta dunia barumu. Jadi, gambarkan dalam sketsa atau dengan apa pun seperti apa medan di seluruh negeri cerita.

Bangun dan tandai tempat-tempat penting dalam ceritamu. Dimana letak ibu kota? Kemana saja sang protagonis bertualang? Apa saja tempat yang ia singgahi? Seberapa jauh lokasi musuhnya? Dan lain sebagainya.

Menggambar peta dunia cerita fantasimu tidak hanya akan membantu kamu membuat setting cerita, tetapi juga akan membantu kamu dan pembaca untuk membayangkan sedikit nuansa yang lebih realistis.

BACA JUGA:

Tingkatkan skill menulismu

Yuk, gabung di Kelas Menulis Online Penulis Gunung dan keterampilan menulismu akan naik satu level

ghost writer terbaik

Anton Sujarwo

Saya adalah seorang penulis buku, content writer, ghost writer, copywriters dan juga email marketer. Saya telah menulis 19 judul buku, fiksi dan non fiksi, dan ribuan artikel sejak pertengahan tahun 2018 hingga sekarang.

Dengan pengalaman yang saya miliki, Anda bisa mengajak saya untuk bekerjasama dan menghasilkan karya. Jangan ragu untuk menghubungi saya melalui email, form kontak atau mendapatkan update tulisan saya dengan bergabung mengikuti blog ini bersama ribuan teman yang lainnya.

Tulisan saya yang lain dapat dibaca pula pada website;

Saya juga dapat dihubungi melalui whatsapp di tautan ini.

Fortopolio beberapa penulisan saya dapat dilihat disini:

Related Posts

%d blogger menyukai ini: