Cara Membuat Bab Pertama yang Menarik (Fiksi/Nonfiksi)

Membuat Bab Pertama

Bab pertama pada buku apa pun, seringkali adalah penentu kesuksesan sebuah penulisan buku. Ketika kamu memahami cara membuat bab pertama yang menarik, kamu sudah memiliki modal untuk menghipnotis pembacamu dan membawa mereka ke arah mana yang kamu inginkan.

Lantas bagaimana sebenarnya cara menulis bab pertama dalam novel fiksi atau pun non fiksi untuk hasil yang menakjubkan?

Saya akan mengajak kamu untuk membahasnya dalam artikel www.penulisgunung.id berikut ini.

Kamu punya kisah hidup menarik untuk dijadikan buku namun bingung cara menuliskannya?

Cara Membuat Bab Pertama yang Menarik untuk Buku Fiksi dan Nonfiksi

Bab pertama dalam penulisan novel fiksi atau pun non fiksi adalah seperti pondasi untuk gedung pencakar langit, jika pondasi ini tidak kuat, semua bagian gedung akan mudah runtuh dan ambruk. Sementara jika pondasi ini kuat, semua bagian gedung yang lain dapat berdiri dengan tegak dan pembacamu bisa memanjatnya hingga bagian yang paling tinggi.

Arti harfiahnya untuk perumpamaan ini ialah, bab pertama dalam penulisan buku yang kuat akan membuat pembaca bersedia membaca sampai habis tulisanmu. Jadi, mereka tidak hanya membeli buku yang kamu tulis kemudian menghempaskannya karena kecewa setelah mendapatkan pembukaan yang hambar pada bab pertama.

Dengan esensialnya fungsi bab pertama dalam buku apa pun, sebagai penulis kamu harus mengupayakan bagian dengan ini sempurna. Termasuk juga dengan mempelajari unsur apa saja yang harus ada di bab pertama dan bagaimana pula menuliskannya, 

Unsur-unsur yang Harus ada dalam Bab Pertama

Cara Membuat bab pertama

Ada beberapa elemen yang harus ada dalam pertama buku apa pun. Menariknya, antara buku fiksi dan non fiksi, elemen-elemen yang harus ada ini sangat berbeda. Dengan memasukkan unsur-unsur ini dalam buku yang kamu tuliskan, bab pertama buku yang kamu tuliskan akan menjadi sangat istimewa.

Jadi, apa saja unsur penting yang harus ada dalam buku fiksi atau non fiksi?

Elemen Penting dalam Bab Pertama Buku Fiksi

Ketika kamu menulis buku fiksi genre apa pun, cara menulis bab pertama yang menarik mengharuskan kamu untuk memasukkan elemen-elemen berikut di dalamnya.

1. Paragraf Pertama yang Memikat

Menulis paragraf pertama yang mampu menghipnotis pembaca untuk terus membaca adalah pekerjaan yang sulit. Untuk alasan ini pula ada banyak penulis yang kemudian memilih untuk menyelesaikan seluruh cerita mereka baru menuliskan paragraf pembuka yang ia rasa paling ideal.

Tujuan penting dari menulis paragraf pertama yang benar-benar menarik dalam sebuah penulisan buku fiksi seperti novel, cerpen, atau apa saja adalah untuk menarik pembaca. Paragraf pertama harus mampu mendorong rasa ingin tahu pembaca untuk terus membaca dan menemukan sesuatu yang ingin ia ketahui setelah membaca pembukaan awal sebuah novel.

Jadi, unsur penting pertama yang harus ada ketika kamu membuat bab pertama yang menarik untuk novel fiksimu adalah paragraf pertamanya yang harus kuat. Paragraf pertama ini harus mampu membangun rasa ingin tahu pembaca.

2. Memperkenalkan Karakter Utama Cerita

Ini memang bukan sebuah keharusan, namun pada banyak novel yang paling bagus, tokoh utama penulis perkenalkan langsung pada bab pertama novel mereka.

Dengan lebih cepat bagi pembaca untuk mengidentifikasi tokoh protagonis cerita, akan lebih mudah bagi mereka untuk terlibat pada bagian-bagian seterusnya. Dengan cara ini, pada akhir bab pertama novel yang kamu tuliskan, pembaca sudah memiliki pemahaman dasar tentang siapa tokoh utama cerita dan apa yang ingin mereka lakukan dalam cerita.

Tentu saja ini tidak harus spesifik dan komplit kamu tuangkan dalam bab pertama.

Akan tetapi pengaruhnya adalah, ketika pembaca sudah mampu memahami tokoh utama dan apa yang mereka inginkan dalam cerita, akan terbangun ketertarikan untuk mengikuti perjalanan sang karakter sepanjang sisa bukunya kemudian.

3. Memperkenalkan Setting Cerita

Cara Membuat Setting Cerita

Elemen penting ketiga untuk membuat bab pertama yang menarik dari sebuah novel atau cerita fiksi adalah setting cerita atau latar tempat berlangsungnya cerita.

Ketika kamu memperkenalkan setting cerita dalam bab pertama novelmu, ini tidaklah harus sangat ekplisit dan komprehensif. Tujuan penting dari elemen ini adalah pembaca pada akhir bab pertama sudah mampu mengidentifikasi dimana sebenarnya sebuah cerita terjadi. Apakah ini dalam setting yang nyata seperti fiksi realistis, ataukah justru sesuatu yang imajiner seperti dalam fiksi fantasi.

Pertimbangan penting ketika memperkenalkan setting pada bab pertama ada dua hal;

  • Pertama, bahwa setting sangat besar pengaruhnya bagi bangunan konflik cerita. Apa pun jenis konflik cerita yang akan kamu bangun dalam keseluruhan novel nantinya, hal itu tidak boleh lepas dari settingnya. Konflik cerita yang kuat harus memiliki relevansi yang kuat pula pada setting cerita.
  • Kedua, setting harus terasa hidup dan seolah nyata bagi pembaca. Nah, untuk tujuan ini kamu dapat mempraktikkan teknik show don’t tell dalam penulisan karya sastra yang salah satu teknisnya adalah dengan mempergunakan panca indera karakter cerita sendiri.

Selengkapnya tentang bagaimana membangun setting cerita yang menarik dan mampu mendukung konflik sepanjang cerita, dapat kamu baca dalam artikel ini.

4. Memberikan Pengantar Antagonis

Setelah pembaca memiliki gambaran awal tentang siapa tokoh utama dalam cerita dan apa tujuan mereka, kamu juga perlu memberikan semacam percikan informasi tentang siapa yang akan protagonis hadapi untuk mencapai tujuan tersebut. Artinya adalah, pada bab pertama pembaca sudah harus mampu setidaknya untuk memprediksi siapa sebenarnya yang menjadi antagonis cerita.

Karakter antagonis adalah bagian yang penting dalam cerita. Tokoh protagonis tidak akan bisa berkembang dan tidak akan mampu menampilkan performance terbaiknya jika tidak ada karakter antagonis dalam cerita.

Namun yang perlu kamu catat adalah bahwa karakter antagonis dalam sebuah novel tidaklah harus tokoh cerita. Antagonis dalam cerita ini bisa jadi adalah pemerintah, kekuatan supranatural, kekuatan alam, masyarakat secara keseluruhan, atau bahkan sesuatu yang datang dari dalam diri karakter protagonis sendiri.

Kemampuan pembaca untuk sedikit meramalkan siapa yang akan tokoh utama hadapi dalam keseluruhan cerita akan memberikan mereka daya magnet untuk terus mengikuti perkembangannya pada bab-bab berikutnya.

5. Memperkenalkan Tema Cerita

Cara membuat bab pertama yang menarik dalam menulis novel selanjutnya adalah dengan memastikan kamu juga memperkenalkan tema cerita sejak awal. Apakah ini adalah cerita horor, petualangan, romantisme, misteri atau fantasi?

Tema cerita yang kamu sampaikan sejak awal juga akan berkontribusi untuk ikut merangsang rasa ketertarikan pembaca. Selain itu, tema yang serasi dengan pengaturan setting cerita juga dapat menjadi formulasi yang efektif untuk membenamkan pembaca sejak awal bab pertama.

Tema dalam penulisan cerita fiksi seringkali tumpang tindih dengan genre, namun secara terperinci setidaknya ada 15 tema yang dapat kamu pilih. Beberapa tema yang populer misalnya adalah; Cinta dan Kematian, Tumbuh Dewasa dan Masa Muda, Keberanian, Peperangan, Kriminalitas, dan masih banyak lagi.

6. Memperkenalkan Konflik Cerita

Idealnya setelah membaca bab pertama bukumu, pembaca sudah mampu meraba apa sebenarnya yang akan menjadi konflik utama cerita tersebut.

Ini sedikit berkorelasi dengan perkenalan tokoh antagonis dalam cerita pada keterangan elemen sebelumnya, namun konflik pada bagian ini adalah kombinasi antara menunjukkan kepada pembaca apa yang tokoh protagonis inginkan dan rintangan apa yang akan ia hadapi untuk mencapainya.

Pada beberapa gaya penulisan yang menarik, kamu tidak harus memperkenalkan konflik utama ketika membuat bab pertama. Namun akan semakin menarik jika kamu setidaknya mampu menunjukkan kepada pembaca salah satu keinginan tokoh protagonis (walaupun itu bukan konflik utama) dan apa yang akan mereka hadapi untuk mencapai keinginan tersebut.

7. Sebuah Titik Plot yang Menghasut

Nah, kamu mungkin penasaran; apa sebenarnya maksud dari titik plot yang menghasut?

Salah satu mesin yang mampu menggerakkan cerita maju ke depan sekaligus juga menarik perhatian pembaca bersama mereka adalah titik plot hasutan. Arti mudahnya adalah kamu membuat dalam bab pertama novelmu satu insiden kecil yang akan memberikan satu titik awal perjalanan protagonis untuk memulai perkembangan busur cerita.

Titik plot yang menghasut memiliki dua kepentingan sekaligus, yaitu; Pertama, memberikan titik awal perkembangan cerita dan perkembangan karakter. Kedua, menarik pembaca untuk terus membaca dan menemukan jawaban dari titik plot awal tersebut pada bab-bab setelahnya.

Untuk tujuan ini pula kadang-kadang, penulis yang hebat akan langsung menyajikan aksi pada bab pertama novel mereka. Selain mampu menghidupkan cerita secara aktif, cara ini juga berguna sebagai titik plot hasutan yang efektif.

Elemen Penting dalam Bab Pertama Buku Nonfiksi

Tidak berbeda seperti dalam penulisan buku fiksi, buku non fiksi baik berupa penulisan memoar, autobiografi, biografi atau bahkan buku-buku umum sekalipun, juga harus mengandung elemen-elemen esensial dalam bab pertamanya.

Elemen-elemen tersebut adalah sebagai berikut:

1. Memperkenalkan Topik

Dalam penulisan buku nonfiksi ketika kamu membuat bab pertama, bagian penting yang tidak boleh kamu lupakan adalah topik buku itu sendiri. Jadi, ketika masuk dalam bab awal buku non fiksimu, perkenalkan kepada pembaca tentang apa sebenarnya buku yang kamu tulis tersebut.

Memperkenalkan topik dalam bab pertama berlaku untuk semua buku non fiksi. Apakah kamu menulis autobiografi, memoar, jurnal, essay, buku masak, buku tutorial, panduan, motivasi atau apa saja, memberikan gambaran topik pada bab pertama adalah sebuah keharusan.

Intinya adalah; ketika masuk dalam bab pertama, pembaca sudah memiliki gambaran yang cukup tentang apa sebenarnya buku yang mereka baca.

Lantas, bagaimana cara yang menarik untuk memperkenalkan topik pada bab pertama buku non fiksi?

Pertama yang harus kamu ingat adalah dengan memberikan informasi yang cukup tentang apa buku yang sedang pembaca pegang. Jika ini adalah buku biografi, perlihatkan pula apa saja yang akan pembaca dapatkan sepanjang buku. Atau jika ini adalah buku panduan, maka pastikan pula pembaca dapat menangkap panduan seperti apa yang akan mereka peroleh.

Bagian kedua adalah dengan tidak memberikan informasi teknis dan mendetail pada awal cerita. Buku non fiksi mungkin sarat dengan penjelasan teknis, strategis atau sesuatu yang mendetail, dan itu tidak bisa kamu jabarkan secara langsung pada bab pertama. Beri informasi yang cukup tentang topik pembahasan, tapi jangan tumpahkan seluruhnya pada awal bab pertama.

Pengecualian ini mungkin terjadi jika buku nonfiksi yang kamu tulis ditujukan untuk pembaca akademis yang spesifik. Namun jika pembacamu adalah masyarakat umum, pastikan kamu tidak menumpahkan hal-hal teknis terkait topik di bab pertama.

2. Membangun Kredibilitas

Bagian kedua dalam penulisan non fiksi yang harus kamu masukkan dalam bab pertama adalah memastikan terbangun kredibilitas untukmu sendiri sebagai penulisnya. Ini adalah seperti mengatakan kepada pembaca bahwa kamu mengerti apa yang kamu bicarakan. Atau jika memang memungkinkan, kamu dapat menunjukkan bahwa kamu adalah seorang profesional, expert, atau pakar dalam bidang yang kamu tulis tersebut.

Ini semakin mudah jika misalnya kamu menulis buku tentang kejiwaan, hubungan dan masalah sosial ketika kamu sendiri adalah seorang psikolog. Atau jika kamu adalah seorang dokter, menulis buku tentang kesehatan, reproduksi, gizi dan gaya hidup sehat adalah sesuatu yang gampang pembaca untuk percayai.

Intinya adalah; kamu menunjukkan kepada pembaca bahwa tulisanmu layak untuk mereka baca karena kamu adalah sumber yang memiliki kapasitas dalam bidang tersebut.

Hal ini mungkin gampang jika kamu adalah seorang expert atau pakar dalam bidang keilmuan tertentu sesuai dengan buku non fiksi yang kamu tuliskan. Tapi bagaimana jika kamu bukanlah seorang pakar? Atau kamu bukanlah seorang profesional tertentu yang secara otomatis dapat pembaca kaitkan dengan topik buku?

Jangan khawatir karena kamu tetap dapat membangun kredibilitasmu meskipun demikian.

Caranya adalah dengan menunjukkan kepada pembaca sampel basis pengetahuanmu tentang topik penulisan pada bab pertama tersebut. Artinya kamu memberitahu pembaca sejak awal bahwa kamu memang memiliki pengetahuan tentang apa yang kamu bicarakan dalam buku.

Jika kamu menulis biografi sesesorang, tunjukkan kepada pembaca pada awal cerita mengapa kamu yang terpilih untuk menuliskannya. Jika kamu menulis memoar, buku panduan, motivasi atau apa saja, tunjukkan kepada pembaca nilai istimewamu sehingga buku yang kamu tulis sangat bernilai untuk mereka baca.

3. Menghubungkan dengan Pembaca

Hal ketiga yang harus ada sebagai elemen penting dalam membuat bab pertama dalam buku nonfiksi adalah dengan memastikan bagian ini terhubung dengan pembaca. Arti penting dari poin ini adalah dengan memastikan bahwa bab pertama dalam buku non fiksimu mampu menarik pembaca untuk berinvestasi meluangkan waktu mereka untuk membacanya.

Nah, bagaimana cara menghubungkan dengan pembaca pada bab pertama buku non fiksi?

Setidaknya ada tiga hal yang paling umum dapat kamu lakukan untuk tujuan ini. Ketiga hal tersebut adalah sebagai berikut:

  1. Mulailah bab pertama dalam buku nonfiksimu dengan anekdot yang menarik bagi pembaca. Anekdot atau perumpamaan ini kamu gunakan untuk memperkenalkan topik penulisanmu secara keseluruhan.
  2. Kamu juga dapat memulai bab pertama dalam buku non fiksimu dengan menggunakan statistik, data, survey, atau apa pun yang langsung menarik perhatian pembaca. Cara ini juga mampu memberikan intro yang bagus untuk sebuah pengantar buku non fiksi.
  3. Atau kamu juga dapat menggunakan bab pertama dengan menyodorkan permasalahan yang relevan dengan topik penulisanmu dan kamu janjikan akan memberikan solusinya dalam buku tersebut.

Cara Membuat Bab Pertama yang Menarik

Cara Membuat bab pertama

Baik kamu menulis buku fiksi atau pun non fiksi, beberapa langkah berikut dapat kamu gunakan secara general untuk membuat bab pertamanya sempurna bagi pembaca.

4 langkah yang pertama ini nanti dapat kamu aplikasikan baik untuk membuat bab pertama yang menarik bagi fiksi mau pun nonfiksi. Namun untuk 3 langkah setelahnya secara khusus adalah untuk penulisan bab pertama buku fiksi.

1. Pastikan Bukumu Memiliki Outline yang Solid

Outline atau kerangka penulisan adalah peta buku yang sangat berguna dalam proses menulis buku fiksi atau pun non fiksi. Outline cerita akan menjagamu untuk tetap ada dalam jalur yang sudah kamu rencanakan sepanjang prosesnya. Pada kesempatan yang lain, outline atau kerangka juga bisa membantumu untuk tetap produktif meskipun sedang dalam perangkap writer’s block.

Memiliki outline cerita yang solid dan jelas akan memberikan kamu arah dari keseluruhan proses penulisan. Darimana kamu harus memulai, sejauh mana topik penulisan boleh melebar dan apa saja yang harus kamu tulis setelah satu bagian usai, semuanya tercantum dalam outline.

Dengan cara ini, membuat bab pertama juga menjadi lebih mudah karena kamu sudah mengetahui dengan pasti apa saja yang akan kamu sampaikan kepada pembaca di bab awal buku.

Baik kamu sedang menulis buku fiksi atau pun nonfiksi, melengkapinya dengan outline adalah satu langkah fundamental. Bahkan jika kamu adalah seorang penulis pemula sekalipun, kehadiran outline atau kerangka yang solid akan mempermudah perjalanan kamu nantinya.

2. Tulis Kalimat Pembuka yang Membuat Pembaca Terpedaya

Ini mungkin agak sulit pada awalnya tapi memang demikianlah adanya, bahwa; opening novel yang terletak pada kalimat pertama di bab awal akan sangat berpengaruh bagi pembaca. Dengan sedikit penggunaan istilah yang dramatis, kalimat pertama adalah mesin magnet yang harus mampu memikat pembaca sejak mereka mulai membaca bukumu dari kalimat pertama.

Nah, bagaimana melakukan hal tersebut?

Saya menulis artikel secara lengkap bagaimana kamu dapat membuat sebuah opening yang menarik dalam penulisan novel atau pun cerpen. Namun, beberapa hal yang dapat saya sampaikan terkait isi artikel tersebut adalah dengan memastikan bahwa kalimat pembuka di bab pertama novelmu benar-benar menyentak, mengagetkan, dan membuat mata pembaca menjadi terbelalak.

Dalam penulisan fiksi kamu dapat menggunakan konflik untuk menarik tokoh protagonis masuk dalam perjalanan cerita, kamu juga bisa menggunakan aksi untuk menunjukkan tema, atau bahkan kamu juga bisa menggunakan deskripsi yang kuat sebagai kalimat opening ceritanya.

Sementara dalam penulisan buku non fiksi, kamu dapat memulai kalimat pertama dengan statistik, hasil survey, studi kasus, atau sesuatu yang menarik terkait topik penulisan.

3. Akhiri Bab Pertama dengan Pertanyaan yang Akan Terjawab  dalam Sisa Buku

Idealnya ketika pembaca selesai membaca bab pertama buku yang kamu tulis, benak mereka akan diliputi oleh berbagai pertanyaan yang garis besarnya adalah: “Apa yang akan terjadi selanjutnya?” Untuk mendapatkan jawaban dari pertanyaan tersebut, tidak ada yang bisa pembaca lakukan kecuali meneruskan membaca bab-bab selanjutnya.

Pikirkan bahwa bab pertama bukumu adalah sebuah janji kepada pembaca yang akan kamu tepati pada bab-bab setelahnya.

Kamu mungkin telah membangun konflik, setting, karakter, dan lain sebagainya. Nah, pada akhir bab pertama sudahi bagian tersebut dengan pertanyaan yang pembaca ingin mendapatkan jawabannya lebih lanjut.

4. Beri Perhatian Lebih untuk Halaman Pertama

Cara Membuat bab pertama

Baris pertama memang sangat penting, tetapi itu bukanlah segalanya. Seorang pembaca mungkin tidak akan langsung meletakkan bukumu jika baris pertama tidak terlalu mengejutkan mereka.

Namun tidak demikian dengan halaman pertama, halaman pertama dalam sebuah buku adalah sesuatu yang sangat penting. Jika pembaca memutuskan untuk membalikkan halaman pertama, kemungkinan besar mereka akan terus membaca. Membalik halaman pertama berarti mereka tertarik, dan itu adalah tugasmu untuk membuat mereka tertarik.

Ketika naskah buku kamu selesai, poles kembali halaman pertamamu dan upayakan benar-benar bersinar semaksimal mungkin. Pastikan kamu memiliki prosa yang kuat, opening yang menarik dan sama sekali terbebas dari kesalahan.

Dalam penulisan novel fiksi secara khusus, selain dengan mengikuti 4 langkah di atas, kamu juga dapat menyempurnakannya dengan menerapkan pula 3 tips tambahan berikut ini:

5. Tetapkan  Tema Cerita

Halaman pertama novel fiksimu harus memberi pembaca gambaran tentang tema ceritamu. Jika kamu menulis genre thriller atau horor, kamu mungkin menginginkan tema gelap dan membawa pembaca pada ketegangan.  Atau jika kamu menulis novel komedi romantis, kemungkinan kamu butuh memberikan tema yang ringan dan lucu pada bab pertama.

Intinya adalah, paragraf pembuka adalah kesempatanmu untuk menetapkan nada atau gaya yang pembaca harapkan dari keseluruhan buku nantinya.

6. Tentukan Sudut Pandang Cerita

Membuat bab pertama yang menarik dalam novel fiksi artinya kamu juga menetapkan sudut pandang penceritaan sejak awal. Pilih apakah kamu akan bercerita dengan menggunakan sudut pandang orang pertama, sudut pandang orang kedua, sudut pandang orang ketiga serba tahu atau apa?

Sudut pandang yang tepat memastikan pembaca untuk mendapatkan akses yang ideal untuk menerima cerita yang kamu tuliskan. Penggunaan sudut pandang orang pertama misalnya memberikan pembaca untuk mengakses pikiran protagonis dan memasuki dunia cerita melalui karakter tokoh utama.

Sedangkan jika kamu memilih menggunakan sudut pandang orang ketiga serba tahu, kamu mungkin memberikan akses yang lebih luas kepada pembaca untuk menjelajahi dunia cerita secara sempurna. Biasanya jika kamu menulis cerita fantasi epik yang sangat complicated, ini adalah sudut pandang yang tepat untuk kamu gunakan.

7. Pastikan Protagonis Memiliki Tujuan yang Jelas

Tips terakhir yang bisa kamu gunakan untuk membuat bab pertama yang menarik dalam sebuah novel fiksi adalah dengan memastikan pembaca mendapatkan informasi tentang tujuan protagonis. Segera keluarkan tokoh protagonis dari status quonya dan beri ia tujuan untuk ia capai dalam cerita.

Tentu saja kamu tidak harus menjelaskan semua tujuan ini secara eksplisit pada bab pertama, akan tetapi benih-benih tujuan tersebut harus kamu semai lebih awal. Ada sebuah gambaran yang melukiskan dan mengarahkan tujuan tersebut sejak bab pertama cerita kamu mulai.

Jadi, berikan satu tujuan dari tokoh protagonis dan biarkan pembaca  menemukan jawaban akan keberhasilannya pada bagian cerita selanjutnya.

Kesimpulan

Inti penting dalam membuat bab pertama yang menarik baik dalam penulisan fiksi dan non fiksi adalah ia harus membangun rasa ingin tahu bagi pembaca. Segala elemen dan tips penulisan yang ada dalam bab pertama harus berorientasi pada tujuan tersebut.

Nah, dengan mengikuti tips dan penjelasan membuat bab pertama dalam artikel ini, kamu akan mendapatkan hasil yang lebih baik. Latihan yang simultan dan pembiasaan yang disiplin akan membuat kamu lebih mudah untuk mempratikkannya.

Jadi, selamat mencoba!

Kamu butuh ghost writer profesional untuk menyelesaikan pekerjaanmu?

Penulis terbaik

Anton Sujarwo

Saya adalah seorang penulis buku, content writer, ghost writer, copywriters dan juga email marketer. Saya telah menulis 19 judul buku, fiksi dan non fiksi, dan ribuan artikel sejak pertengahan tahun 2018 hingga sekarang.

Dengan pengalaman yang saya miliki, Anda bisa mengajak saya untuk bekerjasama dan menghasilkan karya. Jangan ragu untuk menghubungi saya melalui email, form kontak atau mendapatkan update tulisan saya dengan bergabung mengikuti blog ini bersama ribuan teman yang lainnya.

Tulisan saya yang lain dapat dibaca pula pada website;

Saya juga dapat dihubungi melalui whatsapp di tautan ini.

Fortopolio beberapa penulisan saya dapat dilihat disini:

Related Posts

%d blogger menyukai ini: