Manusia Melawan Teknologi Dalam Konflik Novel

Manusia Melawan Teknologi

Secara sederhana konflik manusia melawan teknologi memiliki pengertian yang sejalan dengan manusia melawan hasil ciptaan manusia itu sendiri. Teknologi dalam konteks ini digambarkan sebagai sesuatu yang berhadap-hadapan dengan tujuan manusia sehingga mempertemukan mereka dalam konflik.

Kamu bisa menginterpretasikan invasi robot jahat yang ingin menguasai manusia atau robot baik yang ingin memiliki emosi layaknya manusia, semuanya akan bermuara pada teknologi melawan manusia.

Nah, apa sebenarnya pengertian konflik manusia melawan teknologi dalam sastra? Bagaimana tips yang kamu lakukan jika ingin mengadopsi konflik satu ini dalam novelmu?

Saya akan mengajak kamu untuk membahasnya dalam artikel www.penulisgunung.id berikut ini.

Kamu punya kisah hidup menarik untuk dijadikan buku namun bingung cara menuliskannya?

Pengertian Konflik Manusia Melawan Teknologi dalam Sastra

Manusia Melawan Teknologi
Photo by Kindel Media on Pexels.com

Ketika teknologi menyakiti manusia, atau kita sebagai entitas yang menciptakan teknologi tersebut, maka manusia hanya bisa menyalahkan diri mereka sendiri. Ini adalah salah satu sisi menarik dari konflik manusia versus teknologi dalam sastra.

Lalu, apa sebenarnya definisi spesifik dari konflik manusia melawan teknologi dan literatur?

Mudahnya, konflik manusia melawan teknologi adalah jenis konflik dalam sastra yang mengetengahkan tokoh cerita yang harus berlawanan dengan teknologi ciptaan manusia. Teknologi dalam hal ini mungkin saja adalah robot, mesin, kecerdasan buatan, kerusakan mekanis, dan lain sebagainya. Dalam konflik ini, ada tuntutan besar bahwa manusia harus keluar sebagai pemenang.

Jenis konflik ini sangat cocok untuk konflik eksistensi karena implikasinya yang mampu menimbulkan pertanyaan tentang keangkuhan manusia. Selain itu konflik ini juga memberikan perspektif menarik tentang bagaimana manusia dapat dikalahkan oleh penemuan yang mereka buat sendiri.

Menariknya karena semua teknologi berasal dari daya cipta manusia, maka konflik manusia melawan teknologi biasanya akan beriringan dengan konflik lain yang relevan. Konflik itu misalnya adalah manusia melawan dirinya sendiri, manusia melawan masyarakat dan manusia melawan pemerintah.

Beberapa Contoh Konflik Manusia Melawan Teknologi dalam Sastra dan Film

Dalam literatur baik dalam bentuk novel, cerpen, film, cerita bersambung atau pun hanya komik, konflik manusia melawan teknologi mendapat tempat yang populer. Ada banyak penulis dan sineas lintas generasi yang menggunakan konflik ini untuk mengeksplorasi ide-ide mereka.

Beberapa contoh yang cukup terkenal misalnya adalah:

Novel 2001: A Space Odyssey karya Stanley Kubrick

Novel ini bercerita tentang konflik yang terjadi antara manusia dengan super komputer atau artificial intelligence. Sekelompok ilmuwan yang memiliki misi untuk mencapai jupiter menaiki pesawat luar angkasa yang pengendaliannya melalui kontrol super komputer.

Di tengah perjalanan, super komputer mulai mendeteksi tindakan kru pesawat yang dapat membahayakan misi utama. Atas pertimbangan mekanisnya, super komputer mulai membunuh satu persatu kru manusia hanya agar misi tetap berjalan sesuai dengan rencana.

Akhirnya, kru manusia harus berhadapan dengan super komputer itu sendiri. Manusia dalam konteks ini berhadapan dengan mesin ciptaannya sendiri dan menggunakan mekanisme ciptaan tersebut untuk mengalahkannya.

Namun pertanyaan akhir yang menarik sebagai konklusi jalan cerita dalam novel ini misalnya adalah; Siapa yang pantas mati dalam cerita ini; Manusia ataukah super komputer?

Frankenstein karya Mary Shelley

Jika kamu mencari contoh literatur paling awal yang memperkenalkan konflik antara manusia dengan teknologi, bisa jadi novel inilah jawabannya. Frankenstein adalah novel fiksi ilmiah generasi paling awal dan paling inovatif di masanya yang menampilkan konflik manusia melawan teknologi.

Tokoh utama dalam novel ini adalah Doktor Frankenstein yang menciptakan makhluk hidup dengan menjahit tubuh manusia yang sudah mati. Mulanya makhluk hidup ini diprogram untuk menjadi karya terbaik bagi banyak orang. Sayang dalam perkembangannya, mesin ciptaan ini justru memiliki pemikirannya sendiri.

Dr. Frankenstein akhirnya berhadapan dengan ciptaanya sendiri dalam upaya untuk menghentikan makluk ciptaannya tersebut menyakiti lebih banyak orang.

Her karya Spike Jonze

Manusia Melawan Teknologi

Contoh ketiga yang bisa kamu lihat bagaimana konflik manusia melawan teknologi adalah film berjudul Her. Ini adalah sebuah cerita drama romantis yengan mengetengahkan kisah pria kesepian bernama Theodore yang jatuh cinta dengan Samantha. Menariknya, Samantha sendiri tidak memiliki wujud, ia adalah satu sistem operasi kecerdasan buatan.

Interpretasi yang menarik dari konflik manusia versus teknologi dalam film ini adalah dengan membuat tokoh protagonis yang terlalu berfokus pada pacar artificial intelligence-nya daripada manusia yang sesungguhnya.

Sebagai antitesis dari interpretasi yang pertama, muncul pula sebuah penafsiran yang mengangkat tema mengenai teknologi yang sangat besar potensinya untuk menerima kesalahpahaman manusia. Hubungan cinta antara manusia dan teknologi (mesin, AI, Robot dan sebagainya) masih mendapatkan penolakan sebagai sebuah hubungan cinta yang sah.

Cara Membuat Konflik Manusia Melawan Teknologi dalam Sastra

Membangun konflik yang mempertemukan antara teknologi dan manusia adalah pilihan yang menarik. Pada banyak kasus, ini seringkali menjadi pintu bagi masuknya konflik-konflik lain sebagai turunannya. Dengan cara yang tepat, pilihan konflik ini juga bisa menjadi cara untuk mengeksplorasi ketegangan cerita yang lebih kuat.

Tetapi, bagaimana caranya membuat konflik cerita manusia melawan teknologi?

Untuk kamu yang tertarik mengadaptasikan konflik ini dalam novel yang kamu tulis, beberapa tips berikut dapat membantu kamu melakukannya.

1. Jelajahi Pertanyaan-pertanyaan tentang Eksistensi

Tips pertama yang bisa kamu lakukan untuk mengembangkan konflik cerita manusia versus teknologi adalah dengan menjelajahi berbagai pertanyaan tentang eksistensial.

Pertanyaan-pertanyaan ini sendiri tidak harus menjadi fokus cerita, tetapi dengan menggunakan pertanyaan ini sebagai bagian dari konflik cerita, kamu memiliki ruang lebih luas untuk memberikan resonansi berpikir bagi pembaca.

Beberapa contoh yang umum tentang pertanyaan eksistensial misalnya adalah:

  • Apakah mesin dengan kecerdasan buatan yang menyamai manusia dapat disebut manusia?
  • Apa artinya perasaan mencintai dan dicintai bagi sebuah mesin, robot atau kecerdasan buatan?
  • Apa yang akan terjadi ketika ilmu pengetahuan manusia melebihi kebijaksanaan manusia?
  • Bagaimana jika semua manusia dapat membuat kloning mereka sendiri?
  • Apa yang akan terjadi jika sebuah negara menetapkan bahwa hubungan romantisme antara manusia dan mesin adalah sah?
  • Dan lain sebagainya.

Ketika mengajukan pertanyaan-pertanyaan eksistensial seperti ini, kamu sama sekali tidak harus menemukan jawabannya. Tujuannya adalah membuat pembaca berpikir dan memperkirakan jawaban untuk mereka sendiri.

Supaya lebih menarik, kamu dapat menggunakan pertanyaan eksistensial seperti ini dengan mengkombinasikannya dengan plot, karakter, dan setting yang lebih inovatif. Semakin baik kamu memberikan kombinasi unsur ceritanya, maka akan semakin dalam ia masuk ke benak pembaca.

2. Tampilkan Perspektif Non-Manusia

Manusia Melawan Teknologi
Photo by ThisIsEngineering on Pexels.com

Jangan takut untuk mencoba melakukan hal-hal baru yang lebih revolusioner dalam penulisannmu ketika mengangkat konflik manusia melawan teknologi. Salah satunya adalah dengan menjadikan tokoh protagonis cerita sebagai sesuatu yang non manusiawi.

Jadi, alih-alih menggunakan karakter manusia sebagai tokoh protagonis cerita, mengapa kamu tidak menggunakan mesin, robot, AI dan teknologi sebagai protagonisnya.

Dengan cerita yang menampilkan konflik manusia berhadapan dengan teknologi yang antagonisnya adalah manusia, pembaca akan berhadapan dengan beberapa pertanyaan yang menarik. Manusia dan pembaca dalam cerita seperti ini akan mempertanyakan kemanusiaan mereka sendiri sebagai satu entitas makhluk yang penuh prasangka dan kekurangan.

Jadi, tips mudahnya dalam poin yang kedua ini adalah dengan menjadikan manusia sebagai antagonis dan teknologi ciptaan mereka sebagai protagonisnya.

3. Integrasikan Konflik Eksternal dan Konflik Internal

Ketika konflik eksternal terjadi di dunia nyata, maka konflik internal terjadi di dalam pikiran, benak dan hati tokoh cerita. Manusia melawan teknologi seperti mesin, robot, kecerdasan buatan dan super komputer adalah konflik eksternal yang artinya konflik ini lebih banyak mengandalkan tindakan daripada pemikiran internal karakter.

Nah, untuk membuatnya menjadi lebih menarik, kamu dapat memadukan antara konflik internal dan konflik eksternal dalam novelmu. Manusia melawan teknologi adalah konflik utama yang artinya eksternal. Kemudian kamu dapat menambahkan konflik lain yang bersifat internal sebagai penyeimbangnya.

Misalnya ketika kamu menulis cerita manusia yang menjalin hubungan dengan robot dan kecerdasan buatan, ini adalah konflik eksternal pada saat hubungan itu mendapat banyak pertentangan. Namun, ketika pertentangan hubungan tersebut muncul dari dalam pikiran tokoh cerita sendiri, maka ia masuk dalam ranah konflik internal.

Jika pikiran tokoh protagonis mempertanyakan tindakan yang ia lakukan terhadap robot sebagai sesuatu yang sah atau tidak, maka itu adalah konflik internal. Artinya ia terjadi dalam pikiran tokoh cerita dan itu membuat cerita menjadi lebih menarik.

4. Ikuti Roda Zaman

Teknologi berkembang dengan cepat seiring waktu, mesin yang membuat manusia takut sekaligus terpesona telah berubah dengan cepat dalam beberapa dekade belakangan. Teknologi yang hebat di masa lalu sekarang sudah menjadi sesuatu yang kuno dan ini linear dengan teknologi yang akan muncul di masa depan.

Kamu dapat menulis tentang teknologi apa yang paling mutakhir untuk menjelajahi problem apa yang paling relevan. Tangkap ketakutan, harapan, impian, kekuatan dan kelemahan dari berbagai teknologi yang muncul tersebut, kemudian imajinasikan dramatisasinya dalam novelmu.

Misalnya hari ini kemunculan media sosial yang memberikan kontribusi besar dalam mengubah prilaku manusia. Pada sekitar lima puluh tahun sebelumnya, bahkan beberapa penulis fiksi ilmiah telah memberikan gambaran imajiner tentang apa yang terjadi pada hari ini.

Ini adalah salah satu contoh implementasi orientasi konflik manusia versus teknologi yang mengikuti roda zaman.

5. Aplikasikan dalam Cerpen Terlebih Dulu

Menulis cerita fiksi ilmiah memang tidak seluas cerita fantasi epik yang menuntut kamu untuk memgembangkan aturan dalam duniamu sendiri. Namun, fiksi ilmiah yang mempertemukan manusia dan teknologi sebagai rivalitas juga membutuhkan riset, pembiasaan dan kesungguhan untuk membuat novelnya menjadi sempurna.

Untuk kepentingan ini, kamu dapat melatihnya dengan cerpen. Artinya ide ceritamu yang mengangkat konflik teknologi versus manusia dapat kamu biasakan penulisannya dalam cerpen telebih dulu.

Setelah cerpennya selesai kamu dapat mengevaluasi efektivitas konflik tersebut. Apakah pesannya sampai kepada pembaca? Bagaimana konflik ini relevan? Apakah teknologi ini masuk akal dan lain sebagainya.

Arti pentingnya adalah, pembiasaan membangun konflik dalam cerpen akan memberikan kamu kesiapan untuk membangun konflik manusia versus teknologi dalam ukuran yang lebih besar seperti dalam novel.

Kesimpulan

Menulis sebuah novel yang mengangkat konflik manusia melawan teknologi akan sangat berdekatan dengan tema populer seperti fiksi ilmiah, distopia, dan lain sebagainya. Novel dengan tema ini selalu menangkap gesekan yang terjadi antara manusia dengan ciptaan mereka sendiri.

Memperdalam wawasan ilmu pengetahuan dan teknologi dapat memberikan kamu pandangan untuk menulis novel seperti ini. Memadukan konflik internal dan eksternal serta mencoba melihat sesuatu dari bukan perspektif manusia juga dapat membuat penulisannya menjadi lebih kaya.

Terakhir adalah konsistensi kamu dalam melatih penulisan tema ini sendiri. Semakin sering kamu berlatih maka akan semakin baik kamu melakukannya.

Selamat mencoba!

Kamu butuh ghost writer profesional untuk menyelesaikan pekerjaanmu?

Penulis terbaik

Anton Sujarwo

Saya adalah seorang penulis buku, content writer, ghost writer, copywriters dan juga email marketer. Saya telah menulis 19 judul buku, fiksi dan non fiksi, dan ribuan artikel sejak pertengahan tahun 2018 hingga sekarang.

Dengan pengalaman yang saya miliki, Anda bisa mengajak saya untuk bekerjasama dan menghasilkan karya. Jangan ragu untuk menghubungi saya melalui email, form kontak atau mendapatkan update tulisan saya dengan bergabung mengikuti blog ini bersama ribuan teman yang lainnya.

Tulisan saya yang lain dapat dibaca pula pada website;

Saya juga dapat dihubungi melalui whatsapp di tautan ini.

Fortopolio beberapa penulisan saya dapat dilihat disini:

Related Posts

%d blogger menyukai ini: