BAGAIMANA MENULIS DAN MENERBITKAN BUKU NON FIKSI DALAM 30 HARI ATAU KURANG

Menulis dan menerbitkan buku non fiksi bisa dilakukan dengan mudah dan dalam waktu yang singkat, asalkan kamu mengerti caranya. Dengan metode sistematis yang tepat, kamu akan merasakan produktivitas yang signifikan dalam menulis dan menghasilkan karya non fiksi.

Lantas, bagaimanakah cara menulis dan menerbitkan buku non fiksi dengan mudah dan sistematis dalam waktu cepat?

Yuk, simak ulasan lengkapnya berikut ini.

BACA JUGA:

5 Langkah Mudah Menulis dan Menerbitkan Buku Non Fiksi yang Bahkan Bisa Rilis dalam Satu Bulan atau Kurang

Photo by Sunsetoned on Pexels.com

Secara sederhana pengertian buku non fiksi adalah sebuah buku yang disusun berdasarkan sumber-sumber yang jelas dan non-imajinatif. Dengan adanya sumber-sumber yang jelas ini, tentu saja penyusunan dan penulisan buku dapat ditentukan secara lebih spesifik.

Namun demikian, meskipun sumber penulisan buku non fiksi sudah jelas, tidak semua penulis mampu menulis buku jenis ini secara efektif, efisien dan juga produktif. Bahkan beberapa penulis atau calon penulis merasa lebih kesulitan menulis buku non fiksi daripada buku fiksi.

Sumber penulisan buku fiksi yang paling dominan tentu saja imajinasi penulis itu sendiri. Artinya, semakin luas dan baik kamu menggunakan imajinasimu, maka semakin baik dan luas pula penulisanmu dalam fiksi.

Nah, bagamaina dengan menulis buku non fiksi?

Berikut ini adalah 5 langkah yang mudah dilakukan untuk menulis buku non fiksi. Bahkan tidak hanya menulisnya, kamu juga sekalian dipandu untuk sekaligus menerbitkannya. Menariknya, semua ini dapat kamu lakukan dalam waktu satu bulan saja bahkan kurang.

Atur Jadwal Menulis yang Konsisten dan Disiplin

Source: System Pro

Apa pun jenis buku nonfiksi yang ingin kamu tulis dan tak peduli seberapa baik kamu menguasai topiknya, semua itu tidak akan lebih penting daripada kedisiplinan saat kamu menuliskannya.

Kedisiplinan dalam menulis dan konsistensi dalam menjalaninya adalah rahasia semua penulis. Kamu harus memiliki hal itu jika ingin menyelesaikan buku non fiksimu dan menerbitkannya dalam waktu yang singkat. Tanpa kesediaan untuk disiplin dalam menulis, sulit rasanya untuk menyelesaikan jenis buku apa pun, baik fiksi mau pun non fiksi.

Tipsnya disini adalah dengan membuat sebuah jadwal menulis yang disiplin dan bisa kamu patuhi sendiri. Tetapkan berapa lama waktu yang akan kamu gunakan untuk menulis dalam satu hari, atau berapa kata yang harus kamu selesaikan dalam periode tersebut.

Namun inti dari langkah yang pertama ini adalah kamu harus bisa mematuhi dan konsisten menjalankannya.

Buat Kerangka Penulisan yang Rinci

Source: Marc Johnson

Dalam penulisan non fiksi, outline atau kerangka penulisan adalah bagian yang krusial dan harus ada. Pilihannya adalah, ada yang menggunakan kerangka sebagai garis besar penulisan, namun ada pula yang memanfaatkan outline lebih dari sekedar itu.

Untuk membuat susunan buku non fiksi yang sistematis, mudah dipahami dan juga lebih gampang dieksekusi dalam proses penulisannya, outline adalah hal yang harus kamu perhatikan dengan seksama. Luangkan waktumu lebih banyak untuk membuat kerangka yang detail dan terperinci.

Lho, mengapa harus terperinci dan detail? Bukankah ini hanya outline saja?

Waktu 30 hari untuk menulis dan menerbitkan sebuah buku adalah waktu yang terbatas. Supaya tujuan ini bisa dilakukan dengan baik, kamu membutuhkan strategi yang akan memudahkan kamu dalam segala hal, termasuk pula dalam hal pembuatan outline.

Semakin detail dan rinci kamu membuat kerangka, maka semakin mudah kamu menulisnya kemudian. Dan tentu saja, itu akan membuat proses penulisan kamu menjadi lebih cepat.

BACA PULA:

Perkirakan Jumlah Kata Penargetan

Source: Blogsays

Dalam 10 contoh buku non fiksi yang seringkali disampaikan, jumlah kata rata-rata yang dipergunakan adalah 30.000 – 75.000 kata.

Namun dengan waktu satu bulan atau 30 hari, kamu mungkin harus mempertimbangkan sebuah buku non fiksi singkat dan tidak begitu tebal untuk ditulis. Jumlah kata buku non fiksi untuk jenis ini biasanya berkisar antara 20.000 – 50.000 kata.

Jadi sederhananya begini;

Jika kamu menargetkan jumlah kata dalam buku non fiksimu adalah 30.000 kata, maka tentu saja setiap hari kamu setidaknya harus menulis 1.000 kata. Dalam waktu satu bulan kamu akan memiliki buku dengan tebal kurang lebih 30.000 kata. Asalkan kamu konsisten melakukannya.

Nah, selebihnya kamu hanya butuh waktu untuk melakukan editing, layouting, membuat cover dan juga publishing tentu saja.

Buat Rencana Pemasaran

Photo by Andrea Piacquadio on Pexels.com

Dengan waktu hanya 30 hari untuk menulis dan menerbitkannya sekaligus, kamu tentu saja tidak punya waktu banyak untuk memasarkan buku yang kamu tulis. Nah, supaya buku ini setidaknya memiliki pembeli, kamu harus memikirkan teknis pemasaran yang sederhana dan efektif.

Tips yang bisa kamu lakukan untuk menyiasati hal ini adalah dengan memasarkannya melalui sosial media, jaringan teman-teman, whatsapp group dan lain sebagainya.

Jadi selama proses menulis dan bukumu misalnya sudah selesai 75%, kamu sudah mulai dapat mempromosikannya di berbagai platform yang kamu pilih. Kamu bisa menerapkan sistem pre- order untuk meminimalisir risiko tidak terjual.

Cara lain yang juga bisa kamu lakukan misalnya mengadakan kontes membuat cover, memposting kutipan-kutipan terbaik dari buku yang kamu tulis secara teratur, dan lain sebagainya. Namun tetap harus diingat bahwa yang menjadi prioritasmu adalah menyelesaikan bukumu sesuai tenggat waktu yang telah kamu tetapkan.

Pilih Platform Penerbitan

Photo by Christina Morillo on Pexels.com

Jika kamu memilih untuk menerbitkan buku yang kamu tulis secara digital, maka kamu dapat menghindari kerepotan dalam proses cetak dan semacamnya. Namun, memilih cover yang baik dan membuat layouting yang menarik, tetap harus kamu lakukan.

Dalam platform digital, kamu bisa memilih menerbitkannya di Google Play Book, Online Store dan lain sebagainya. Kamu hanya perlu menyiapkan buku non fiksi PDF dan semuanya sudah siap untuk dipasarkan.

Namun jika kemudian kamu memilih untuk memasarkan bukumu dalam versi cetak dan juga digital, maka kamu juga harus memikirkan percetakan dan penerbitannya. Kamu bisa memilih untuk menggunakan ISBN atau melewatkannya sementara waktu.

Bagaimana jika Masih Kesulitan Melakukan 5 Langkah di Atas?

Photo by Olya Kobruseva on Pexels.com

Jika kamu masih merasa kesulitan untuk membuat bukumu meskipun sudah membaca langkah-langkah di atas hingga tuntas, maka kamu bisa meminta bantuan pada penulis blog ini dan menggunakan jasanya. Kamu akan dibimbing untuk bisa menyelesaikan buku sampai terbit.

Caranya mudah, kamu hanya perlu mengklik form kontak dan menuliskan pesanmu.

Jadi, jangan ragu untuk menghubungi www.penulisgung.id,  ya

BACA JUGA:


Anton Sujarwo

Saya adalah seorang penulis buku, content writer, copywriters dan juga email marketer. Saya telah menulis 14 judul buku, fiksi dan non fiksi, dan ribuan artikel sejak pertengahan tahun 2018 hingga sekarang.

Dengan pengalaman yang saya miliki, Anda bisa mengajak saya untuk bekerjasama dan menghasilkan karya. Jangan ragu untuk menghubungi saya melalui email, form kontak atau  mendapatkan update tulisan saya dengan bergabung mengikuti blog ini bersama ribuan teman yang lainnya.

Tulisan saya yang lain dapat dibaca pula pada website;

TERNYATA INI 10 FAKTA MENULIS BUKU YANG PALING MENYAKITKAN

Mimpi menjadi penulis sukses mungkin memang indah sebelum kamu tahu ada banyak fakta menulis yang menyakitkan. Beberapa penulis mungkin memilih diam dan tak ingin menyampaikan hal ini. Namun jika kamu tidak mengetahuinya sejak awal, kamu bisa saja akan jauh lebih kecewa setelah mengetahuinya kemudian.

Lalu, apa saja fakta mengenai menulis yang katanya menyakitkan itu?

Mari simak ulasan selengkapnya berikut.

Ketahui 10 Fakta Menulis yang Paling Menyakitkan Berikut Sebelum Kamu Memutuskan untuk Menjadi Seorang Penulis

Photo by John-Mark Smith on Pexels.com

Dunia menulis kadang melambungkan angan banyak pemula yang menganggap dunia yang baru dimasukinya ini sebagai sebuah romansa yang indah.

Saya juga mungkin demikian sebelumnya. Saat menyelesaikan buku pertama, angan saya mengatakan bahwa saya akan disibukkan dengan launching, roadshow ke berbagai kota, menjadi bintang tamu acara TV, dan menghitung royalti tentu saja.

Namun, bagaimana dengan kenyataannya?

Harus saya akui itu tidak seindah yang dibayangkan.

Bahkan setelah menulis lebih dari 14 judul buku, beberapa angan itu tidak pernah terwujud.

Roadshow dan royalti tidak pernah menjadi kenyataan. Namun saya justru banyak belajar dan menemukan hal-hal baru mengenai fakta tentang menulis yang harus dihadapi secara realistis. PR-nya kemudian adalah, bagaimana saya beradaptasi dan berhasil melewatinya.

Nah sekarang, untuk kamu yang memiliki keinginan menjadi seorang penulis, saya akan membagikan 10 hal yang sudah seharusnya kamu ketahui sejak awal ini. Bahkan jika saya mengetahui hal ini lebih awal, saya pun tidak akan terjebak pada hal-hal yang seharusnya tidak saya lakukan.

Apa saja fakta yang menyakitkan tentang menulis?

Ini dia daftarnya.

BACA JUGA:

Banyak Orang Berbicara Tentang Menulis, Hanya Sebagian Kecil yang Benar-Benar Melakukannya

Photo by RODNAE Productions on Pexels.com

Apakah kamu pernah mendengar seseorang yang mengatakan;

 “Aku akan menulis sebuah buku tentang ini. Konsep ceritanya bagus banget”

Kemudian ia tidak pernah melakukannya.

Pernahkah kamu menemui hal seperti itu?

Hal yang sama juga pernah terjadi dengan saya. Saya ingin menulis buku tentang silat, tentang kumpulan kisah teladan, atau seorang pendaki gunung yang tewas saat menyelamatkan kekasihnya. Tetapi buku itu tidak pernah hadir, hanya muncul sebagai ide yang kemudian terurai menjadi impian kosong kembali.

Menjadi penulis adalah mimpi banyak orang, tetapi hanya sedikit yang mewujudkan mimpi itu.

Memiliki buku dengan nama kamu sendiri, mungkin juga menjadi sesuatu yang kamu impikan. Akan tetapi fakta yang menyakitkannya adalah; hal itu tidak akan terwujud jika kamu tidak memperjuangkannya.

Bangun!

Jangan jadi orang-orang yang hanya bermimpi menjadi penulis tapi tidak pernah berjuang untuk mewujudkan mimpi itu.

Dalam Menulis, Meskipun Normal, Keraguan Akan Membunuhmu

Photo by Liza Summer on Pexels.com

Fakta kedua mengenai menulis seperti ini terjadi pula kepada saya saat sedang menulis novel pertama saja. Atau buku ke-4 yang sudah saya selesaikan secara keseluruhan.

Saya telah memiliki sebuah konsep cerita yang saya pikir bagus dan saya ingin konsep itu menjelma menjadi sebuah buku. Tapi ketika itu telah berubah menjadi beberapa bab, saya mulai menemukan keraguan dalam prosesnya. Dan hal itu kemudian menghentikan saya.

Konsep cerita itu kemudian diketahui oleh isteri saya dan ia meyakinkan saya bahwa itu cerita yang hebat. Keyakinan saya bersemi kembali saat mendengarnya. Dan saya pun berhasil menyelesaikan penulisan buku itu hingga selesai.

Tahukan kamu buku apa itu?

Itu adalah buku Merapi Barat Daya, yang telah terjual lebih 1.000 copy dan mendapatkan rating yang hampir sempurna dari banyak kritikus novel petualangan di Indonesia.

Oh ya, jumlah 1.000 copy  mungkin terdengar sedikit, ya?

Tapi tidak juga sebenarnya. Terutama jika kamu tahu bahwa buku itu diterbitkan secara indie dengan metode self publishing. Penulisan naskah, editing, desain cover,  dan pemasaran, semuanya saya lakukan secara mandiri.

Bayangkan jika saya tidak berhasil melawan keraguan sewaktu cerita itu ditulis. Ceritanya tentu akan berbeda.

BACA JUGA:

Writer’s Block Tidak Cukup Sebagai Alasan

Source: Freepik

Seorang guru tidak dapat berhenti mengajar hanya karena ia merasa kurang terinsipirasi saat masuk kelas. Seorang dokter tidak dapat berhenti melakukan operasi atas penyakit seorang pasien, hanya karena beralasan ia tidak terinspirasi untuk meneruskannya.

Penulis juga begitu.

Dan kamu, kamu juga harus begitu. Tidak terinspirasi, merasa kehabisan ide, atau writer’s block, tidak boleh kamu biarkan menghentikan dirimu. Terlalu kecil mimpimu sebagai seorang penulis jika writer’s block saja membuat kamu berhenti melakukannya.

Fakta menjadi seorang penulis yang sesungguhnya adalah ini, kamu harus memaksa diri kamu sendiri untuk tetap menulis. Inspirasi tidak datang setiap hari dan mood bisa berubah-ubah, namun, itu sama sekali bukan alasan kamu untuk berhenti.

Buku yang hebat tidak terlahir dalam semalam. Karya yang luar biasa tidak muncul hanya dengan mengatakan sim salabim. Kamu harus berjuang untuk terus menulis, setiap hari, entah kamu terinspirasi atau pun tidak.

Dan hal ini bagi sebagian orang dengan kemauan menulis yang lemah, adalah sebuah fakta menulis yang menyakitkan.

BACA INI JUGA, YUK:

Menulis Hanya di Waktu Senggang itu Tidak Cukup

Photo by Olya Kobruseva on Pexels.com

Mungkin kamu mengira dapat menyelesaikan bukumu dengan menulis di waktu senggangmu, ya?

Di saat kamu tidak sedang  bekerja, sedang tidak bermain dengan anak-anak, sedang tidak ada acara kantoran atau keluarga. Dan mungkin sedang tidak bermain sosial media.

Jika kamu berpikiran demikian, kamu sebaiknya mulai merubah pandanganmu itu.

Untuk dapat menyelesaikan sebuah buku, kamu tidak bisa mengandalkan untuk menulisnya hanya di waktu senggang. Jika kamu melakukan ini, percayalah, kamu tidak akan menyelesaikan bukumu pada akhirnya.

Bagaimana jika di waktu senggang kamu tidak terinspirasi?

Bagaimana jika di waktu senggang kamu justru malas untuk menulis?

Hal yang penting dari menjadi seorang penulis adalah kamu memprioritaskan aktivitas menulis sebagai kegiatan utama yang kamu lakukan. Menulilah setiap hari, di waktu-waktu paling produktif yang kamu miliki.

BACA PULA:

Menulis adalah Rutinitas yang Kamu Tidak Boleh Bosan

Photo by Cup of Couple on Pexels.com

Setiap rutinitas adalah sesuatu yang membosankan.

Iya, kan?

Tapi dalam menulis, rutinitas adalah hal yang yang kamu tidak boleh bosan melakukannya. Jika pun kamu bosan, maka kamu tidak boleh berhenti.

Dalam menulis, rutin dan konsisten adalah bagian yang paling penting. Kedisiplinan kamu dalam menulis-lah yang akan mengantarkan kamu pada kesuksesan menyelesaikan bukumu. Dan untuk melakukannya, kamu tidak bisa menulis hanya di waktu luang, atau hanya di akhir pekan saja.

Jadi, setiap hari kamu harus menulis.

Dan itu adalah fakta dalam menulis yang bagi sebagian orang adalah sesuatu yang menyakitkan.

BACA JUGA:

Membaca dan Riset adalah Bagian dari Pekerjaan

Photo by cottonbro on Pexels.com

Fakta tentang menulis selanjutnya yang mungkin tidak begitu kamu suka adalah bahwa pekerjaan ini juga berhubungan erat dengan hal lainnya. Dan membaca adalah bagian tidak terpisahkan dari seorang penulis.

Kamu tidak bisa menjadi penulis jika kamu tidak suka membaca.

Ada banyak bacaan yang bisa kamu ambil. Kamu bisa membaca karya penulis lain yang kamu kagumi cara berceritanya. Atau kamu juga bisa membaca buku dengan genre cerita yang sama dengan genre yang kamu tulis. Jangan khawatir, ini tidak ada hubungannya dengan plagiat. Justru proses ini akan membuat penulisanmu menjadi lebih tajam dan kuat.

Membaca banyak literatur dan riset adalah bagian dari dunia menulis yang tidak akan terpisahkan. Kamu tidak bisa mengabaikan hal ini jika kamu ingin memilki kualitas penulisan yang kuat.

baca juga:

Naskah Pertama itu Lebih Sering Mengecewakan

Photo by Karolina Grabowska on Pexels.com

Tugas utama selama kamu menulis bukumu yang pertama adalah sampai naskahnya selesai. Kesalahan penulisan, typo, PUEBI, makna yang ambigu, dan lain sebagainya, adalah bagian kedua dari proses ini.

Jadi, tidak perlu memusingkannya lebih dulu.

Tidak perlu merasa gusar jika setelah kamu menyelesaikan beberapa bab, kamu menemukan ada begitu banyak kesalahan yang harus diperbaiki. Itulah proses menulis yang sebenarnya, akan ada banyak hal yang harus diperbaiki setiap hari. Tapi tugas utama yang harus selesaikan adalah membuat naskahmu selesai.

Saya telah menulis lebih dari selusin buku, dan saya selalu menemukan banyak hal yang payah ketika naskahnya selesai.

Dan itu tidak masalah.

Karena waktu-waktu selanjutnya akan saya habiskan untuk memperbaikinya melalui editing, proofreading dan juga revisi.

Editing adalah Kerja Keras yang Melelahkan

Photo by Karolina Grabowska on Pexels.com

Jika kamu adalah seorang penulis pemula yang memilih jalur yang sepenuhnya mandiri seperti yang saya lakukan, kamu akan tahu betapa melelahkannnya proses sebuah buku hingga ia bisa terbit.

Di antara semua proses tersebut, editing adalah bagian yang paling menguras tenaga.

Sampai buku-buku populer seperti Dunia Batas Langit, MMA Trail, Merapi Barat Daya, atau Dewi Gunung yang tebalnya hingga 600 halaman itu sampai ke tangan pembaca. Saya menghabiskan siang dan malam, ditengah kantuk dan lelah, untuk menyelesaikan proses editing-nya yang sangat melelahkan.

Cara paling ideal dan profesional tentu saja dengan merekrut editor profesional untuk membantu menyempurnakan naskah yang sudah kamu tuliskan. Self editing seperti yang saya lakukan selalu menyisakan ruang-ruang dimana kesalahan akan tetap tersisa,

Saya membaca naskah buku yang saya tulis hingga paling tidak 3 x sebelum masuk proses final layouting.

Dan saya harus mengatakan hal ini secara jujur kepada kamu; proses ini sangat melelahkan, membosankan dan kadang mengecewakan.

baca pula:

Kritik Kadang Sangat Menyakitkan

Source: Freepik

Apakah kritik membuat kamu sakit hati?

Jika iya, mungkin kamu tidak cocok jadi penulis.

Apakah kritik membuat kamu kecewa dan memutuskan untuk berhenti berkarya?

Jika iya, nampaknya menulis bukan dunia kamu.

Dalam menulis kritik adalah bagian penting yang justru menjadi sebuah evaluasi gratis yang seharusnya disyukuri. Pujian memang enak didengar, dan itu kadang-kadang membuat seorang penulis merasa terbang. Namun kritik-lah yang akan membuat ia kembali menjejak tanah dan membangun sayap yang sebenarnya.

Ketika buku kamu sudah selesai dan orang-orang sudah membacanya, maka feedback pun berdatangan dan beberapa di antaranya adalah kritik. Dan itu adalah hal yang harus kamu syukuri.

Kritik memang keras, dan kadang membuat kamu mungkin sakit hati. Tapi jangan berhenti karena kritik.

Justru gunakan kritik yang kamu terima tersebut sebagai referensi utama saat mengevaluasi, atau membuat karya hebatmu yang seterusnya.

Jangan Berharap Langsung Kaya Raya dengan Menulis

Photo by Dziana Hasanbekava on Pexels.com

Apakah tidak ada penulis yang kaya raya dan mendapatkan uang dengan mudah melalui tulisan mereka?

Banyak! Banyak sekali.

J.K. Rowling yang terkenal itu menghasilkan miliaran dolar sebagai penulis terkaya di dunia. Di Indonesia kamu akan mendapati nama-nama tenar lainnya seperti Asma Nadia, Habiburahman El Shirazy, Andrea Hirata dan Tere Leye yang juga akrab dengan kesuksesan besar dan materi melimpah dari hasil menulis.

Tapi seujurnya itu tidak mudah. Hanya sedikit sekali penulis yang mampu mencapai posisi itu dengan keberuntungan dan kerja keras mereka.

Selebihnya?

Ada lebih banyak yang tidak terkenal dan mendapatkan penghasilan yang cukup dari menulis buku.

Source: Freepik

Ketika kamu sudah memutuskan untuk masuk ke dunia menulis secara profesional, kamu harus realistis. Uang yang kamu hasilkan mungkin tidak akan banyak selama beberapa tahun. Atau kamu mungkin tidak akan terkenal dan dielu-elukan dimana-mana.

Tapi apakah hal itu harus menjadi masalah?

Ketika kamu berhasil menyelesaikan bukumu yang pertama, ingat, itu hanyalah permulaan saja. Masih ada perjalanan panjang dan penuh perjuangan yang akan menunggu kamu selanjutnya.

Seperti saya yang telah menulis 14 judul buku dan menjual ribuan eksemplar di antaranya, sampai sekarang saya juga belum kaya raya dan terkenal. Bahkan mungkin kamu yang membaca tulisan ini belum mengenal siapa saya.

Tetapi semua itu tidak akan menghentikan saya.

Bisa jadi kesuksesan saya bukan pada buku pertama hingga 14, tapi buku ke-15, atau buku-20, atau buku-100 barangkali. Dan itu tidak jadi masalah, saya InsyaAllah akan konsisten menjalani prosesnya.

Saya akan terus menulis, menghasilkan buku, karena itulah cara yang bisa saya lakukan untuk bersyukur dengan segala karunia yang Allah berikan. Saya akan terus menulis sampai Allah mencukupkan waktu-Nya untuk saya.

baca juga:

Jika Kamu adalah Penulis Pemula yang Ingin Menghasilkan Buku Pertama, Inilah yang Harus Kamu Lakukan

Source: Freepik

Nah sekarang, dengan semua fakta menulis yang menyakitkan itu, kamu tidak boleh ragu dan menjadi pesimis. Justru kamu harus lebih bersemangat untuk masuk ke dunia penulisan dan menghasilkan karya terbaikmu.

Kamu bisa terus belajar menulis dari banyak cara. Kamu bisa mengikuti pelatihan, membaca buku panduan, mengikuti tutorial video dan lain sebagainya.

Akan tetapi jika kamu masih merasa kesulitan menyelesaikan buku pertamamu dengan cara-cara itu, maka kamu bisa meminta saya membantu kamu.

Jangan ragu untuk menghubungi kontak saya, dan saya akan memandu kamu menulis sampai kamu berhasil menyelesaikan buku kamu yang pertama.

Nah, apakah kamu mau menyelesaikan buku kamu yang pertama sekarang?


Anton Sujarwo

Saya adalah seorang penulis buku, content writer, copywriters dan juga email marketer. Saya telah menulis 14 judul buku, fiksi dan non fiksi, dan ribuan artikel sejak pertengahan tahun 2018 hingga sekarang.

Dengan pengalaman yang saya miliki, Anda bisa mengajak saya untuk bekerjasama dan menghasilkan karya. Jangan ragu untuk menghubungi saya melalui email, form kontak atau  mendapatkan update tulisan saya dengan bergabung mengikuti blog ini bersama ribuan teman yang lainnya.

Tulisan saya yang lain dapat dibaca pula pada website;

INI KUTIPAN NOVEL ISLAMEDINA YANG PALING BANYAK MENGURAS AIR MATA

Kutipan novel yang menginspirasi kadang dipenuhi oleh air mata ketika kamu membacanya. Seperti pada kutipan novel Islamedina yang saya tulis ini. Feedback banyak pembaca yang telah menyelesaikan novel setebal 750 halaman yang dibagi dalam dua jilid itu mengatakan bahwa bagian inilah yang paling membekas dalam ingatan mereka.

Dengan jumlah lebih dari 3.000 kata, bagian ini sebenarnya tidak dapat lagi disebut kutipan. Namun tidak mengapa, walaupun bukan kutipan novel best seller yang telah terjual jutaan eksemplar, bagian ini tetap memiliki nilai yang sangat tinggi untuk dihayati.

Kutipan Novel Islamedina Jilid 2 yang Paling Menyentuh Hati Banyak Pembaca

Oh ya, apakah kamu sudah pernah mendengar novel berjudul Islamedina ini?

Jika belum, maka selamat. Sekarang adalah saat yang tepat untuk membaca salah satu cuplikan terbaiknya.

Novel Islamedina adalah buku yang saya tulis dalam durasi yang paling lama. Saya menyelesaikan penulisan naskah buku ini pada tahun 2020, memakan masa empat tahun semenjak saya memulainya pada tahun 2016. Allhamdulillah, novel ini juga sudah beredar secara luas di Indonesia dan mendapat sambutan yang baik, meskipun penerbitannya dilakukan secara indie dan mandiri.

Nah, pada kesempatan ini, saya akan membagikan salah satu bagian paling menarik dalam buku ini kepada pembaca blog www.penulisgunung.id. Bagian ini mungkin termasuk kutipan novel baper yang saya sendiri pun sebagai penulisnya, mengalami kesulitan yang paling tidak mudah untuk dilawan ketika menuliskannya.

Lantas, bagaimana sih, kutipan dari novel Islamedina yang telah dibaca ribuan orang ini?

Yuk, dibaca dengan penuh penghayatan, ya.

Oh ya, saya menambahkan beberapa gambar pada artikel ini sebagai penjeda tulisan, supaya mata kamu tidak terlalu kelelahan saat membacanya.

AIR MATA SAKSI MATA

Bagian terakhir dari bab Hari Kembali ini akan sedikit berbeda dari keseluruhan tulisan dalam buku ini. Jika bagian lain dalam keseluruhan buku ini berkisah dari sudut pandang seorang ayah, maka kali ini saya akan berusaha untuk menuturkannya dari sudut pandang seorang ibu. Karena pada hari kejadian, pada detik-detik Medina menghadapi kematiannya, yang ada bersamanya adalah ibunya, Dek Nafi’. Jadi sudut pandang yang dimiliki sang ibu dalam momentum Hari Kembali Islamedina, jauh lebih dalam daripada dari sudut pandang saya sendiri sebagai ayahnya.

Saya tak menyaksikan Medina terjatuh, saya tak menyaksikan ia dibawa ke RSU Muntilan, saya tidak menyaksikan tim dokter yang putus asa karena tak bisa menyelamatkannya, dan saya juga bukan orang yang menggendong jasad Medina dari rumah sakit ke rumah Mbah Uti dalam ambulance mobil jenazah. Semua bagian itu telah ditakdirkan untuk dijalani oleh ibunya sendiri. Dek Nafi’-lah yang menjalani bagian-bagian paling berat tersebut.

Untuk itu sebagai pengingat yang lebih dalam, sebagai detail yang lebih mampu melukiskan kejadiannya, maka pada bagian ini hingga beberapa halaman ke depan, saya akan berupaya untuk menulis dari sudut pandang Ibu Medina. Untuk itulah dalam bagian ini, huruf dan gaya bertuturnya saya ganti. Supaya barangkali, pesan yang disampaikan oleh isteri saya saat menceritakan kembali bagian ini kepada saya, dapat tersampaikan kepada sahabat pembaca dengan sempurna pula.

Ini tentu saja tidak mudah untuk dituliskan, tapi, Bismillah, Dengan nama Allah Yang Maha Memudahkan, saya akan berusaha menuliskannya…

Randukuning, 14 Maret 2016

Mas Anton sudah sejak pagi berangkat ke Jogja untuk mengambil dompetnya yang tertinggal di mobil Mbak Halim. Aqsho yang baru berumur tiga bulanan juga baru saja tertidur setelah menangis minta dikelonin. Ibu baru saja menyelesaikan doanya setelah sholat dhuha, dan beliau berniat melanjutkan kegiatannya dengan mencuci sajadah di kolam belakang rumah. Ibu memang terkenal dengan sifatnya yang perfectionis masalah reresik dan mencuci baju. Meskipun hanya dikucek dan dibilas seperti pada umumnya, namun dalam urusan mencuci pakaian, tidak ada yang dapat mengalahkan kehebatan Ibu.

                Melalui aplikasi whatsapp Mas Anton mengabarkan jika dompetnya sudah ada dan barusan dianter sama Mbak Halim dan Mas Aries di Terminal Jombor. Berdasarkan pesan Mas Anton, dan juga sudah kami diskusikan sebelumnya, setelah mendapatkan dompetnya yang tertinggal itu ia akan melanjutkan perjalanan ke sekitar Malioboro untuk mencari beberapa barang yang ia butuhkan.

                Sambil membalas pesan-pesan Mas Anton, aku melihat langkah ibu yang keluar pintu belakang sambil menenteng sajadah yang akan dicucinya. Di halaman rumah sendiri sedang sepi saat itu, siswa MTs sedang belajar di ruang kelas mereka masing-masing, begitu juga dengan Mas Burhan dan Mas Aziz yang juga sedang memberi pelajaran.

                Baru saja beberapa langkah ibu keluar dari pintu dapur, tiba-tiba teriakan histerisnya mengagetkanku.

                “Ya Allaaaah, Astagfirullahaladzim!”

                Pekikan ibu secara refleks itu langsung saja membuatku menghambur ke kolam belakang untuk melihat apa yang terjadi.

                “Nunopo Buk?”

Teriakku keras dalam rasa penasaran. Aku belum dapat melihat apa yang terjadi, pandanganku tertutup untaian pakaian-pakaian jemuran.

                “Medina gejegur blumbaaang!!!”

Jawab ibu dengan panik.

                Darahku seakan disentak dengan keras mendengar hal itu. Namun kemudian itu semakin membuatku seakan tiba-tiba menjadi orang gila setelah melihat apa yang ada  di tempat itu!

                Ibu sudah basah kuyup, wanita tua yang melahirkanku itu sedang memangku sosok Medina yang sekarang diam tak bergerak!

                Tatapanku nanar, hatiku seakan diguncang gempa, tubuhku seolah rontok tiada bertulang! Panik, bingung, takut, khawatir, kaget, bercampur menjadi satu, membuatku sekarang menjerit dengan histeris!

                “Tolooooong!!!!”

                “Tolooooong!!!”

                Dalam kepanikan dan kegemparan seperti itu, aku sempat melihat kondisi Medina yang ada dalam pangkuan Ibu, gadis kecilku itu sudah tak bergerak, kepalanya terkulai dengan lemas!

                Melihat kondisi Medina yang sudah demikian dalam pangkuan Ibu. Tubuhku seakan luruh, kehilangan kekuatan untuk berdiri! Dan sesaat kemudian aku sudah ambruk di pinggir kolam!

                Tapi aku tidak pingsan!

                Waktu saat itu seperti diguncang-guncang, kepanikan membuatku seakan hilang kesadaran. Di depanku ibu memeluk Medina dalam tangisnya yang sudah pecah. Dan karena masih baru beberapa detik, teriakan histeris minta tolongku belum ada yang merespon. Aku tak tahu apakah ada yang mendengar atau tidak, tapi sedetik kemudian aku sudah menghambur panik menuju kantor guru MTs. Instingku langsung memerintahkan kakiku untuk berlari mencari bantuan!

                “Tolooong! Tolooong! Tolooong!”

                Suara teriakanku yang panik langsung membuat Pak Hernanto, salah satu guru MTs, bangkit merespon dengan tergesa.

                “Nopo, Mbak? Nopo?”

                “Medina gejegur blumbang!”

Jawabku cepat di antara tangis kepanikan.

                Mata Pak Hernanto terbelalak, namun sesaat kemudian ia sudah berlari menuju ke belakang, di mana ibu memangku Medina yang sudah tak bergerak. Di tempat itu, Mas Kusni, salah satu tetangga, sudah ada bersama ibu.

                Karena dilanda kepanikan, detail selanjutnya tak begitu aku ingat mengenai apa yang dilakukan Mas Kusni dan Pak Hernanto. Akan tetapi aku hanya tahu satu atau dua menit kemudian mereka sudah menderu di atas sepeda motor menuju Rumah Sakit Umum Muntilan. Tubuh Medina yang terkulai tak bergerak dipangku oleh Mas Kusni di bagian belakang, sementara Pak Hernanto menarik gas dengan cepat. Mereka segera menghilang di ujung gang!

                Dalam kepanikan dan ketakutan yang merasuk, aku masih berteriak-teriak minta tolong di depan halaman kantor MTs. Kemana Mas Burhan dan Mas Aziz, pikirku. Mengapa mereka tak juga muncul di saat kondisi seperti ini?

                Namun tidak lama kemudian, sosok Mas Burhan tiba-tiba terlihat di lorong masuk menuju halaman kantor. Aku segera berlari menyongsongnya!

                “Mas tolooong! Tolong!”

                Aku berteriak dengan panik, tetap dalam isak tangis yang tidak karuan.

                “Nopo?”

Mas Burhan menjawab tergesa. Entah apakah ia telah mendengar teriakanku sebelumnya atau tidak.

“Medina gejegur blumbang, Mas. Tulung terke aku ke rumah sakit sekarang!”

Suaraku pecah dalam tangis, wajahku sudah membanjir dengan air mata. Kepanikan masih melanda diriku.

Mas Burhan nampak kaget sesaat. Namun kemudian ia menjawab dengan cepat, berusaha menenangkan diriku.

“Yo, kita berangkat ke rumah sakit. Sa’iki kamu sing tenang. InsyaAllah Medina nggak apa-apa!”

Sambil menjawab, Mas Burhan bergegas melangkah menuju halaman depan MTs, di mana sepeda motor para guru biasa diparkirkan. Aku menyusul langkahnya dengan cepat, sambil tetap menangis dalam kondisi yang terasa entah dengan kalimat apa harus aku jelaskan.

“Kamu yang tenang, InsyaAllah Medina nggak apa-apa”

Mas Burhan mengulang kalimatnya lagi. Berusaha untuk menahan laju kepanikan dan kekhawatiranku yang telah jatuh sangat dalam. Aku tak menjawab, hanya terus bergumul dengan tangis ketakutan sambil naik ke atas sadel boncengan motor Mas Burhan. Sesaat kami sudah menderu pula menyusul Medina yang telah lebih dulu dibawa oleh Pak Hernanto dan Mas Kusni.

Aku ingin menjadi tenang seperti yang Mas Burhan katakan, aku ingin berprasangka yang baik dan positif saja, dan aku juga hanya ingin berpikiran bahwa Medina tidak akan apa-apa. Namun tidak dengan hatiku, tidak dengan sudut terkecil dalam kalbuku, dan tidak pula dengan jiwa terdalamku sebagai ibu Medina. Entah mengapa, bisikan lembut dalam hatiku itu mengatakan bahwa Medina tidak baik-baik saja. Medina, gadis cantik yang terlahir dari rahimku 29 bulan yang lalu itu tidak bisa dikatakan untuk tidak akan terjadi apa-apa!

Motor yang dikendarai Mas Burhan melaju dengan cepat seperti detak jantungku yang memburu dalam kekhawatiran. Namun, bagaimana pun juga Mas Burhan tetap mengendarai motornya dengan cukup pelan dalam hitunganku. Hingga untuk sampai di RSUD Muntilan, kami setidaknya membutuhkan waktu sekitar sepuluh menit.

Sebelum masuk ke areal RSUD Muntilan, Mas Burhan berbelok dari arah SMA Pangudi Luhur yang di belakangnya terdapat sebuah lapangan Van Lith atau yang lebih akrab dengan sebutan Lapangan Pasturan. Di tempat itu, di atas sadel sepeda motor Mas Burhan, berjarak sekitar 200 meter lagi dari gedung Rumah Sakit, entah mengapa rasanya dadaku seolah penuh dengan sesak. Aku mungkin saja menjadi sulit bernapas karena itu, tapi aku tidak jatuh atau pingsan. Aku hanya merasa bahwa rongga dadaku telah penuh dan demikian menyesakkan. Medina, bagaimana kondisi gadis kecilku itu sekarang?

Motor Mas Burhan masuk ke halaman RSUD Muntilan dengan cepat. Karena lokasi UGD RSUD Muntilan tepat berada di depan pintu masuk, maka dengan cepat pula aku sampai di tempat itu.

Sebelum diperbaharui seperti sekarang, pintu UGD berbentuk otomatis yang dengan seketika terbuka jika ada orang yang berdiri di depannya. Dengan tergesa dalam kekhawatiran aku melangkah cepat ke ruang UGD. Sebelum langkahku memasuki tempat yang akan membuat jiwaku serasa lenyap sebentar lagi, di depan pintu UGD aku sempat berpapasan dengan seorang bapak-bapak yang sedang menangis.

Bapak-bapak itu tidak menangis dengan terisak pelan, atau tersedu dengan sesengukan. Tapi ia menangis dengan kuat, hampir seperti tangisan seorang anak kecil berusia lima tahunan. Sambil menangis ia menyempatkan untuk menoleh masuk ke dalam UGD. Tangisnya menggeru lagi setelah itu.

Aku tak ingin tahu apa yang bapak itu tangisi sekarang. Aku hanya ingin berjumpa dengan Medina dan mengetahui kondisinya. Jadi, tanpa peduli lagi pada si bapak-bapak yang terpaku dalam tangisannya, aku pun melangkah masuk. Dan saat itulah kemudian, pemandangan dalam UGD itu membuatku seakan kehilangan tulang-tulangku lagi.

Di atas sebuah ranjang di tengah ruangan UGD, aku melihat tubuh Medina yang terbaring dengan dikelilingi oleh para petugas medis. Kondisi Medina sepenuhnya sudah polos, baju yang sebelumnya ia kenakan, semuanya sudah dilepas. Para petugas medis yang nampaknya terdiri dari 2 orang dokter dan sekitar 4 orang perawat itu baru saja selesai memberikan upaya penyelamatan pada Medina menggunakan pompa-pompa yang dimasukkan ke mulut Medina. Aku tidak tahu apa nama alat itu, tapi itu mungkin digunakan untuk memompa oksigen ke jantung puteri kecilku.

Apa yang membuat aku terhenyak kemudian adalah karena baru satu atau dua langkah aku masuk ke ruang UGD dan menyaksikan pemandangan itu, salah satu dokter wanita yang menangani Medina nampak mundur sambil berucap;

“Sudah terlambat, kita tidak bisa menyelamatkannya lagi, anak ini sudah meninggal”

Aku mematung menemukan suara itu menerabas gendang telingaku. Serasa gelegar petir yang menghantam kepalaku seketika. Dunia yang terang benderang seolah berubah demikian gelap dan pekat. Tulang-tulang yang meyangga tubuhku ini, seakan luruh seperti rontoknya daun kering ditiup angin. Atau jika itu sukar dipahami perumpamaannya,  maka tubuhku seakan segenggam kapas yang disiram oleh air, langsung hilang tiada berbentuk. Pandanganku seketika gelap dan pekat, cahaya matahari yang membias dari jendela dan pintu UGD, sekarang seolah hilang. Semuanya kelam seperti  aku sedang terperangkap dalam sebuah goa yang sangat dalam.

Benarkah apa yang ku dengar?

Benarkah dokter itu barusan saja mengatakan jika Medina tidak dapat lagi diselamatkan?

Di telingaku yang lain aku juga mendengar bisik-bisik antar para perawat yang memastikan bahwa aku adalah ibunya Medina. Sementara yang lain ada yang meragukannya karena menilai tubuhnya yang tergolong kecil untuk bisa memiliki anak gadis cantik seusia Medina. Namun entah beberapa kejap kemudian para petugas di UGD itu sudah dapat memastikan bahwa memang akulah ibunya Medina. Bahwa memang akulah ibu dari anak yang barusan tidak dapat diselamatkan nyawanya itu!

Ketika ragaku seolah melompong mendengar perkataan dokter wanita tadi, tangisku kembali pecah mengembalikan kesadaranku yang entah tinggal berapa banyak. Bagaimana mungkin Medina tidak bisa diselamatkan lagi? Bagaimana mungkin gadis kecil yang aku dandani dan aku beri bedak wangi tadi pagi ini sudah hilang di depan mataku sendiri?

                Beberapa perawat di UGD mulai menenangkanku yang mulai kembali pecah dalam tangis. Di depan sana, pompa-pompa oksigen untuk Medina mulai dijauhkan dari tubuhnya. Benda-benda itu mungkin sudah tidak berguna lagi bagi Medina. Tapi, Ya Allah, benarkah gadis kecilku tidak bisa diselamatkan lagi?

                “Dokter, tolong Dok, tolong selamatkan anak saya”

                Aku memelas dengan wajah banjir air mata kepada seseorang yang entah darimana sudah menghampiriku dan berusaha menenangkan diriku. Diriku yang seakan hilang bentuk ini dirangkulnya, diajaknya berjalan menuju bagian belakang UGD. Prosedur meminta mereka memisahkan orang yang sedang terjatuh dalam histeris kesedihan dan pasien yang mereka tangani.

                “Iya, iya, Mbak yang sabar. Walaupun ibu seorang Dokter, Ibu juga hanya manusia biasa. Ibu sudah berusaha, tapi ini semua sudah menjadi ketentuan Allah”

                Dokter wanita yang merangkulku itu berusaha menenangkan aku kembali. Usianya lebih tua dari dokter yang tadi berusaha menyelamatkan Medina. Dari penampilan dan usianya, ia terkesan lebih bijaksana dibanding yang lainnya.

                “Tolong selamatkan anak saya Bu Dokter!”

                Aku menghiba lagi, memohon dengan seluruh pengharapan yang masih aku miliki.

                “Tolong selamatkan Medina, Bu Dokter”

                Entah apa lagi yang dikatakan oleh Dokter berjilbab itu untuk menenangkanku, akan tetapi yang masih aku ingat adalah ia kembali mengatakan bahwa semuanya telah menjadi ketentuan dan takdir Allah. Dan aku hanya bisa bersabar menghadapinya.

                Sekeras apa pun aku memohon, sudut terkecil hatiku juga membisikkan kesadaran bahwa itu tidak mungkin lagi. Upaya menyelamatkan nyawa Medina yang dilakukan oleh manusia sudah menjadi tepinya, telah menyentuh garis batasnya. Secara medis, Medina sudah dinyatakan meninggal dunia dan tidak mungkin lagi untuk diselamatkan.

                Namun jika kalian adalah seorang ibu, atau jika kalian adalah ibunya Medina, bagaimana kalian akan dengan mudah menerima itu? Bagaimana mungkin aku akan menerima dengan mudahnya anak yang sekitar setengah jam yang lalu baru saja meminta aku mengeloninya kini sudah tidak ada ruh lagi dalam jasadnya? Aku berusaha menolak kenyataan itu, melawan kenyataan takdir dengan harapan yang dibangun dari angin. Tapi sungguh Allah Yang Maha Menguasai segala sesuatu, tetap saja partikel dalam darahku membangunkan kesadaran bahwa apa yang dikatakan oleh Dokter itu memang adalah sebuah kebenaran.

                “Biarkan saya bersama Medina, Bu Dokter. Izinkan saya menemaninya”

                Aku memohon lagi kepada dokter itu yang tetap berusaha menenangkan diriku yang sedang guncang. Tapi lihatlah, aku mengubah permohonanku. Jika sebelumnya aku meminta kepada dokter itu untuk menyelamatkan nyawa Medina, namun sekarang aku meminta diizinkan untuk membersamai Medina, menemani dirinya. Jika demikian, apakah aku telah menerima bahwa Medina memang sudah meninggal dunia?

                “Nanti Mbak tidak kuat, Mbak bisa pingsan” jawab si Dokter itu lagi, berusaha mencegahku kembali.

                Secara protokoler, apa yang terjadi dengan Medina dan aku pada Senin pagi yang kelabu ini memang harus mendapat perlakukan khusus. Mereka mencegahku, mungkin saja karena ingin melindungi diriku. Tapi, akankah aku membiarkan Medina seorang diri di sana sementara aku ibunya hanya berdiri di kejauhan dalam tangis dan kehilangan harapan?

                “Saya kuat Bu Dokter, saya kuat”

                Aku membalas ucapan bu Dokter itu sambil menunjukkan mimik bahwa apa yang ku katakan adalah benar. Bahwa aku memang kuat bersama Medina dengan keadaannya yang sekarang.

Aku mengulang lagi permohonanku berkali-kali, sampai nampaknya Dokter itu yakin bahwa aku memang kuat menghadapi kenyataan yang barusan saja digulirkan Tuhan kepadaku hari ini.

                Aku tidak tahu si Dokter itu mengatakan apa, namun kemudian ia mengantarkan aku ke tempat di mana Medina sudah terbaring sendiri di ruang UGD. Medina sekarang dibaringkan di atas sebuah ranjang tersendiri, sekelilingnya ditutupi tirai berwarna biru sehingga seakan ada di dalam sebuah kamar. Tubuhnya yang polos ditutupi oleh selembar kain tipis berwarna merah muda, sementara wajahnya yang jelita dibiarkan terbuka. Medina terbaring dengan damai, seperti tidurnya tadi malam. Namun pagi ini di antara wajahnya yang cantik, bibirnya telah berubah agak membiru.

                “Mbak Medina, bangun. Ini ibuk sayang”

                Aku mengawali kepiluan itu dengan mencium dan membelai wajah Medina. Ia hanya diam saja tak bergeming

“Mbak Medina, bangun sayang. Ditunggu Ibuk, ditunggu Adek Aqsho, ditunggu Ayah”

Aku membisikkan kalimat seperti itu berkali-kali di telinga permata hatiku. Aku berharap Medina akan terbangun dan kembali memelukku, tapi Demi Allah, ada bagian dari sudut hatiku yang seakan-akan menolak harapan seperti itu.

“Bangun Mbak Medina, sebentar lagi ayah pulang dari Jogja. Ditunggu adek Aqsho di rumah Uti, ada Ibuk di sini”

Beberapa saat setelah saya bersama Medina dalam kondisi seperti itu, Mas Burhan tiba-tiba masuk dalam ruangan pula dengan wajah yang entah mengekspresikan apa.

“Piye kondisi Medina?”

Aku berbalik membenturkan pandangan pada wajah Mas Burhan yang nampak tidak lagi dapat menyembunyikan perasaan takut dan rasa sedihnya. Ketegaran yang ia tadi tunjukkan sebelum mengantar aku ke RSUD, tidak nampak lagi bekasnya.

“Medina wes ra ono, Mas”

Jawabanku yang datar nampaknya tidak memuaskan Mas Burhan. Dan ia sepertinya tidak dapat menerima hal itu.

“Medina masih bisa diselamatkan ,kok. Ini badannya masih hangat”

Entah, apakah Mas Burhan tak dapat menerima keponakannya sudah meninggal dunia atau bagaimana. Namun kemudian ia berusaha membuka mulut Medina dan berusaha melakukan tindakan seperti prosedur CPR.

Mas Burhan memberikan napas buatan, menekan perut Medina. Usaha Mas Burhan itu kemudian membuahkan hasil dengan keluarnya sedikit air dari mulut Medina. Bersamaan dengan keluarnya air itu, keluar pula beberapa sisa-sisa makanan yang sempat masuk ke perut Medina. Ya Allah, itu adalah cilok yang Medina sempat jajan tadi pagi. Aku yang memberikan uangnya dan ia jajan sendiri. Dan sekarang makanan itu keluar lagi dalam kondisi Medina yang sudah seperti ini.

Setelah beberapa saat, Mas Burhan menghentikan usahanya. Ia bagaimana pun tetap juga harus menerima kenyataan, bahwa keponakan yang biasa ia ajak naik motor bersama isterinya itu, sudah tidak lagi bernyawa. Aku tidak tahu apa yang dikatakan Mas Burhan setelah itu, namun ia kemudian keluar ruangan, meninggalkan aku dan Medina dalam UGD yang terasa demikian sepi ini.

Entah mengapa pula, ruang UGD RSUD Muntilan saat itu demikian sepi rasanya. Kemana suara para perawat dan dokter itu? Kemana pasien yang lain? Apakah hanya Medina saat ini yang ada di ruang UGD? Aku tak tahu, namun keheningan terasa demikian menggigit, menyempurnakan kesepianku yang masih duduk di samping Medina sembari terus membelai rambut dan kadang mencium wajahnya.

Sudah menjadi kebiasaan Medina untuk tertidur dalam gendongan ayahnya sambil dibacakan shalawat. Dan sudah menjadi kesukaanya pula tertidur sambil mendengar ibunya membacakan rangkaian kalimat asmaul husna. Ia sendiri sangat menyukai apa yang aku ajari itu, bahkan Medina sendiri sudah hampir hapal 99 nama mulia Allah itu yang sering ia lantunkan dengan nadanya sendiri.

Ya Allah Ya Rahman,

Ya Rahiim Ya Malik,

Ya Quddus Ya Salam,

Ya Mu’min Ya Muhaimin,

Ya Aziz Ya Jabbar,

Ya Mutakabbir Ya Khaliq,

Ya Bari’ Ya Musawwir,

Ya Ghaffar Ya Qohhar

…..

…..

Biasanya Medina jika mendengar aku melantunkan itu, maka ia akan mengikutinya. Atau ia akan diam saja sambil seolah-olah tidak memperhatikan. Padahal sebenarnya aku tahu, Medina sangat menyukainya. Karena kadang-kadang aku sering dibuatnya terpengarah dengan kemampuannya meniru apa yang sempat aku ajarkan namun seolah tidak pernah ia perhatikan.

Hampir beberapa menit lamanya aku melantunkan kalimat-kalimat asmaul husna di telinga Medina. Aku masih berharap bahwa ia akan terbangun mendengarkan pujian kesukaannya itu. Sementara ruang UGD masih sunyi dan hening, suaraku yang pelan dan serak dalam isak tangis mengalir dengan jelas tanpa terganggu. Aku tak tahu siapa yang mendengarnya, dan aku juga tidak perduli. Aku hanya berharap Medina masih bisa terbangun dengan apa yang aku lakukan itu.

Tapi seperti sebelumnya, sudut hatiku yang lain tetap mengingatkanku kenyataan yang sesungguhnya, bahwa Medina telah tertidur selamanya. Upayaku dengan membaca asmaul husna itu tidak akan bisa membangunkan Medina lagi. Ia bahkan mungkin saja akan tertidur lebih jauh dalam dekapan kalimat-kalimat yang Maha Indah itu.

“Bangun Mbak Medina, sebentar lagi ayah pulang. Ada adek Aqsho, ada Ibuk, ada Mbah Uti…”

Saya mengulang lagi kalimat-kalimat yang seperti angin itu di telinga Medina, membiarkannya menjadi penjeda bait-bait asmaul husna yang terus saya baca.

Entah berapa menit keheningan itu membiarkan aku terhanyut di samping tubuh Medina yang tetap saja tak bergeming sejak tadi. Hingga mungkin saja sepuluh atau lima belas menit kemudian, sosok Mas Aziz muncul pula di tempat itu.

Seperti Mas Burhan, Mas Aziz juga sempat bertanya tentang Medina kepadaku. Dan jawaban yang aku berikan mungkin juga sama seperti yang aku berikan pada Mas Burhan. Dan layaknya Mas Burhan, Mas Aziz juga sekonyong-konyong tidak percaya jika Medina sudah meninggal dunia, karena sesaat kemudian ia juga berusaha membangunkan Medina.

“Medin, bangun Medin”

Suara Mas Aziz agak tertahan juga menahan gemuruh di dadanya. Namun tidak seperti Mas Burhan yang berusaha lebih jauh membangunkan Medina dengan memberikan CPR dan lainnya, Mas Aziz lebih cepat menerima kenyataan yang ada di hadapannya sekarang.

Setelah satu dua kali panggilan kepada Medina tak lagi mendapat sahutan, Mas Aziz segera mempersiapkan apa yang memang seharusnya ia lakukan. Ia keluar ruangan UGD, mungkin mengurus berbagai prosedur dan adminisrasi untuk membawa Medina pulang menggunakan ambulance. Di luar ruangan, selain Mas Aziz ada juga Pak Bayan yang juga ikut menemani. Sementara Mas Burhan, Pak Hernanto, dan juga Mas Kusni yang datang sebelumnya, aku tak tahu mereka ada dimana.

Selang beberapa lama kemudian, sebuah mobil ambulan sudah ada di depan ruang UGD. Aku dengan langkah gontai seolah tak lagi memiliki tulang, beringsut pelan dalam isakan yang tak berhenti, kemudian berjalan menuju mobil ambulance itu sambil membopong tubuh gadis kecilku yang ruhnya sudah tidak bersamaku lagi.

Dari depan rumah sakit sampai sebuah kampung bernama Sewan, sirene mobil ambulance itu meraung-raung sebagai tanda bahwa ia sedang dalam kondisi emergency. Namun selepas melewati jembatan Sewan dan masuk ke kampung Bandongan, Mas Aziz yang duduk di depanku mengetuk kaca ambulance dan memberi isyarat supaya sirenenya dimatikan saja.

Mobil ambulance yang membawa aku, Medina dan Mas Aziz terus bergerak menuju kampung Randukuning. Karena tak mungkin mengantarkan kami hingga ke depan rumah, mobil itu kemudian berhenti di samping makam kampung di mana Pakdhe Khalimi dimakamkan.

Dari sana, Medina aku bopong masih dengan iringan isak tangisku yang juga ku selingi dengan bacaan istighfar terus menerus sampai ke rumah. Sementara di dalam rumah, di ruang tamu, Mas Anton dan lainnya sudah menunggu, ia kemudian menyambut tubuh Medina dari pelukanku. Tubuh Medina tidak ia lepaskan sampai dimandikan. Dan ia sendiri pula yang kemudian membopong puterinya itu hingga ke pemakaman.


Catatan:

Bapak-bapak yang menangis di depan UGD saat itu ternyata sedang menangisi Medina. Ia tak kuasa menahan sesak dadanya melihat gadis kecil yang cantik meninggal dunia dengan cara yang menurutnya terlalu membuat iba. Bapak itu adalah warga desa Gunungpring, beberapa hari kemudian salah satu tetangganya melayat ke rumah. Dan ia bercerita mengenai bapak itu kepadaku.


Anton Sujarwo

Saya adalah seorang penulis buku, content writer, copywriters dan juga email marketer. Saya telah menulis 14 judul buku, fiksi dan non fiksi, dan ribuan artikel sejak pertengahan tahun 2018 hingga sekarang.

Dengan pengalaman yang saya miliki, Anda bisa mengajak saya untuk bekerjasama dan menghasilkan karya. Jangan ragu untuk menghubungi saya melalui email, form kontak atau  mendapatkan update tulisan saya dengan bergabung mengikuti blog ini bersama ribuan teman yang lainnya.

Tulisan saya yang lain dapat dibaca pula pada website;

5 CARA RISET UNTUK NOVEL YANG MUDAH MESKIPUN KAMU BELUM BERPENGALAMAN

Dalam penulisan novel, riset adalah salah satu bagian penting yang tidak bisa kamu tinggalkan. Para penulis memiliki cara riset untuk novel yang berbeda-beda sesuai gaya mereka. Namun, ada beberapa cara melakukan riset dalam penulisan novel yang bisa kamu lakukan meskipun kamu sendiri belum berpengalaman.

Nah, bagaimanakah cara melakukan riset untuk menulis novel yang mudah dilakukan dan memiliki hasil yang efektif meskipun kamu sendiri belum berpengalaman?

Yuk, simak penjelasan selengkapnya berikut ini.

MENDATANGKAN TRAFFIC KE WEBSITE MELALUI KONTEN ARTIKEL YANG BERKUALITAS ITU TIDAK SULIT

TIDAK PERCAYA? COBA LIHAT DISINI

5 Cara Riset Untuk Novel yang Mudah Dilakukan Walau Kamu Sendiri Belum Memiliki Pengalaman Melakukannya

Photo by Pixabay on Pexels.com

Riset adalah hal penting dalam penulisan fiksi dan non fiksi. Apa pun jenis tulisan yang kamu hasilkan, riset yang tepat akan membuatnya menjadi lebih sempurna. Tak terkecuali pula dalam penulisan novel atau bahkan cerpen sekali pun, riset yang dilakukan akan membuat pendalaman cerita menjadi lebih kuat dan realistis.

Akan tetapi riset dalam penulisan novel juga bukan sesuatu yang gampang dilakukan, terutama jika kamu belum pernah melakukan hal ini sebelumnya. Para penulis novel pemula bisa saja mengalami kesulitan dalam proses ini yang bisa membuat tulisan mereka mandeg bahkan sebelum penulisan novelnya sendiri dimulai.

Lantas, bagaimana cara melakukan riset menulis novel yang mudah dilakukan?

Nah, lima cara dihimpun oleh Penulisgunung.id berikut ini InsyaAllah bisa membantu kamu dalam melakukannya.

BACA JUGA:

Melakukan Riset untuk Penulisan Novel Berdasarkan Pengalaman

Photo by Anthony Shkraba on Pexels.com

Cara pertama yang paling umum untuk melakukan penelitian kebutuhan penulisan novel adalah dengan pengalaman kamu sendiri. Pengalaman yang dimaksud disini bukan pengalaman menulis novel atau melakukan riset sebelumnya. Akan tetapi pengalaman hidup yang tentunya kamu jumpai sehari-hari.

Pada banyak artikel tentang penulis novel, pengalaman kadang menjadi sebuah penghalang dimana sang penulis sendiri belum merasa memiliki ‘modal’ untuk memulai penulisannya.

Namun, semestinya hal ini tidak menjadi kendala. Terutama jika kamu tahu cara melakukannya.

Setidaknya ada beberapa saran yang dapat kamu lakukan sebagai langkah sederhana dalam melakukan riset penulisan novel berdasarkan pengalaman. Beberapa langkah tersebut misalnya adalah sebagai berikut;

Tuliskan Apa pun yang Kamu Ketahui

Photo by Daria Shevtsova on Pexels.com

Tulis novelmu murni berdasarkan pengalaman kamu sendiri. Benar-benar pure, berdasarkan pengalaman hidup yang pernah kamu alami. Dalam hal ini termasuk juga dengan membangun karakter dalam novel Kamu berdasarkan pengalaman yang pernah temui, rasakan, dengarkan dan juga imajinasikan.

INI JUGA MENARIK:

Kunjungi Suatu Tempat

Photo by cottonbro on Pexels.com

Mini riset novel selanjutnya berdasarkan pengalaman yang dapat kamu lakukan misalnya adalah dengan mengunjungi suatu tempat. Anggaplah restoran, warung makan, kampung, dimana lokasi karakter novel yang kamu tulis berada.

Coba pula untuk memesan serta merasakan makanan yang ia makan. Atau jika kamu mengunjungi hotel di mana karaktermu pernah menginap, coba pula untuk mendapatkan kamar yang pernah digunakan oleh karaktermu tersebut

Jika Memiliki Biaya, Perluas Kunjunganmu

Photo by Gantas Vaiu010diulu0117nas on Pexels.com

Kunjungi tempat-tempat dimana karakter novel yang kamu ceritakan hidup, menghabiskan masa kecilnya atau pun melakukan berbagai hal penting dalam hidupnya.

Jika misalnya karakter novel yang kamu tulis adalah pendaki gunung di Himalaya yang hidup di Nepal atau Pakistan, maka tidak ada salahnya kamu mencoba melakukan hal yang sama dan merasakan pengalamannya.

Namun ingat, cara yang ketiga untuk mendapatkan pengalaman mungkin akan membutuhkan biaya yang bisa saja tidak sedikit.

Jadi, pastikan melakukannya dengan bijaksana, ya.

BACA JUGA:

Melakukan Riset untuk Penulisan Novel Berdasarkan Sumber Bacaan

Photo by Thought Catalog on Pexels.com

Cara kedua yang dapat Kamu lakukan untuk melakukan riset dalam menulis novel adalah dengan mencari sumber bacaan yang relevan. Buku, koran, majalah, tabloid, buletin, atau apa saja yang dapat kamu jadikan sebagai sumber penulisan yang tepat, maka gunakan.

Dalam penulisan novel kamu mungkin membutuhkan riset yang jauh lebih mendalam dibandingkan dengan penulisan cerpen yang tentunya lebih ringkas. Meskipun ada perbedaan novel dan cerpen dari sisi kuantitas risetnya, namun kedua jenis karya sastra ini membutuhkan riset untuk menghasilkan karya yang terbaik.

Nah, untuk riset novel berdasarkan sumber bacaan, beberapa hal ini dapat kamu lakukan.

Baca Novel yang Genrenya Sama dengan Novel yang Kamu Tulis, Terutama yang Bestsellers

Photo by cottonbro on Pexels.com

Langkah pertama ini seringkali tidak banyak digunakan oleh para penulis novel, terutama penulis pemula. Ketakutan akan melakukan plagiat kadang-kadang membuat mereka membentengi diri untuk sedikit melirik karya orang lain yang jenisnya sama dengan apa yang ia tulis.

Padahal jika saja kamu mau membuka sedikit pikiran dengan membaca novel serupa yang sudah bestseller, maka kamu akan memiliki lebih banyak referensi. Kamu bahkan mungkin dapat menemukan beberapa hal yang dapat membuat penulisanmu lebih berkelas dengan hal ini.

INI JUGA ASYIK:

Temukan Sumber Bacaan Relevan yang Beragam

Photo by olia danilevich on Pexels.com

Kunjungi perpustakaan, toko buku bekas, atau pinjam buku yang dapat menjadi referensi menarik penulisan novel yang sedang kamu kerjakan.

Baca juga berbagai sumber lain yang dapat kamu jadikan referensi yang tepat untuk penulisan semacam majalah atau bahkan jurnal-jurnal ilmiah sekali pun.

Semakin banyak kamu membaca sumber referensi, semakin baik pula kamu mampu mengembangkan unsur instrinsik novel yang kamu tuliskan nantinya.

Melakukan Riset untuk Penulisan Novel dengan Berinteraksi pada Orang Lain

Photo by Rachel Claire on Pexels.com

Cara ketiga yang juga dapat kamu gunakan sebagai teknik melakukan riset penulisan novel adalah dengan melakukan interview atau wawancara, atau interaksi dengan orang-orang yang secara langsung memiliki kaitan dengan novel yang kamu tuliskan.

Beberapa contok aplikatif dari teknik riset yang ketiga ini misalnya adalah;

Interview

Wawancarai seseorang yang memiliki kaitan atau memiliki pengalaman yang sama atau menyerupai karakter tokoh yang kamu tuliskan.

BACA PULA:

Random Call

Photo by Anthony Shkraba on Pexels.com

Telepon seseorang yang tinggal di wilayah dimana setting cerita kamu tuliskan. Kamu bisa menelpon secara acak, dan ajukan beberapa pertanyaan yang menarik kepada mereka.

Cara ini bisa saja menantang, karena tidak semua orang yang kamu telpon akan menerima permintaan kamu dengan tangan terbuka.

Temui Expert

Apa yang dimaksud novel sejarah dan strategi penulisannya adalah selalu melibatkan seseorang berpengalaman sebagai sumber yang berimbang. Dalam penulisan novel umum pun hal ini dapat kamu aplikasikan sebagai cara efektif membangun kekuatan yang dalam pada unsur cerita.

Melakukan Riset untuk Penulisan Novel dengan Memanfaatkan Internet

Photo by Pixabay on Pexels.com

Menggunakan sumber penulisan dari internet untuk riset dalam penulisan novel memungkinkan kamu bereskplorasi dan mengeluarkan semua kreativitas yang kamu miliki.

Kamu dapat menggunakan sumber riset berupa video seperti Youtube, media sosial,  aplikasi foto seperti Instagram dan lain sebagainya. Semakin kreatif kamu menemukan sumber riset yang relevan untuk penulisan dari internet, maka semakin mudah pula kamu untuk mengeksekusinya.

Sebagai contoh, berikut ada beberapa hal yang dapat kamu lakukan dalam proses riset penulisan novel yang bersumber dari internet.

  • Lihat hasil pencarian apa saja yang dapat kamu temui di internet berdasarkan subjek penulisan novel yang dilakukan.
  • Cari video di Youtube, Facebook, atau bahkan TikTok sekali pun, referensi apa yang bisa kamu gunakan sebagai sumber riset yang kredibel.

BACA INI JUGA:

Melakukan Riset untuk Penulisan Novel dengan Cara yang Lainnya

Photo by Karolina Grabowska on Pexels.com

Selain dengan memanfaatkan internet, bacaan, interaksi dengan orang lain dan juga pengalaman, kamu tentu saja dapat menggunakan cara yang lebih bebas untuk melakukan riset dalam penulisan novel. Cara ini akan terkesan lebih abstrak, lebih bebas, namun juga tentu memiliki dampak yang signifikan sebagai sumber penulisan.

Kamu misalnya dapat mengambil keputusan menulis dan mencatat semua yang kamu temui selama proses riset. Jadi, apakah proses riset yang kamu lakukan adalah dengan majalah, buku, internet, pengalaman atau hasil obrolan ringan dengan seseorang, kamu harus mencatatnya sebagai salah satu referensi dalam penulisan.

Kamu tidak harus memasukkan semua yang menjadi sumber tersebut dalam tulisan kamu, kok. Kamu bahkan bisa benar-benar memilih untuk tidak menggunakannya sama sekali jika memang tidak layak dalam penilaianmu.

Namun bagaimana pun juga, memiliki sumber yang lebih banyak dan tidak terpakai jauh lebih baik daripada kekurangan sumber penulisan yang akibatnya, akan membuat spektrum penulisanmu terasa demikian sempit dan terbatas.

Beberapa Tips Penting Terkait Cara Riset untuk Novel

Photo by Ann H on Pexels.com

Dengan riset, seorang penulis novel dapat memastikan bahwa karakter yang ia tulis menggunakan istilah yang tepat, bereaksi secara tepat, menggunakan aksen dan juga atribut yang tepat.

Namun demikian, ada beberapa hal yang juga harus kamu perhatikan supaya riset itu sendiri tidak justru menyulitkan penulisan novel yang kamu lakukan.

Beberapa tips yang penting terkait hal ini misalnya adalah;

BACA JUGA:

Gunakan XXXX

Photo by Olya Kobruseva on Pexels.com

Setelah kamu selesai melakukan riset dan memulai proses penulisan novel, kemudian dalam proses itu misalnya kamu menemukan sesuatu yang perlu kamu ketahui dan menjadi pendukung unsur intrinsik novel, maka kamu dapat menandainya dengan kode terlebih dahulu.

Kode yang umum digunakan untuk kepentingan ini adalah XXXX atau kode lain yang dapat kamu rumuskan sendiri.

Akan tetapi hal terpenting dari tips ini adalah jangan sampai bagian tersebut mengganggu proses penulisanmu. Untuk riset yang lebih komprehensif mengenai nama XXXX dan lain sebagainya, dapat kamu lakukan nanti di waktu yang lebih tepat.

Selektif

Photo by Monstera on Pexels.com

Tidak perlu menuliskan semua hasil risetmu dalam novel.

Tentu saja ada rasa yang demikian bergelora dalam hati seorang penulis novel untuk menuliskan semua yang ia ketahui semasa melakukan riset. Akan tetapi jika tidak relevan, menginterupsi cerita, atau sama sekali tidak memiliki kaitan dengan jalan cerita, maka jangan ragu untuk meninggalkannya.

BACA JUGA:

Jangan Berlebihan

Photo by Alexander Dummer on Pexels.com

Riset adalah sesuatu yang penting dalam penulisan novel, namun tentu saja kamu juga tidak boleh melakukannya secara berlebihan. Riset yang terlalu mendalam dan berlebihan pada umumnya akan membuat penulisannya sendiri menjadi tertunda.

Hal ini disebabkan oleh kamu yang merasa masih ada data, sumber, referensi, dan lain sebagainya, yang belum mencukupi untuk diterjemahkan dalam novelmu langsung.

Struktural

Photo by Jess Bailey Designs on Pexels.com

Lakukan pencatatan riset dengan rapi dan mudah dipahami, setidaknya oleh kamu sendiri. Hindari membuar alur catatan riset novel yang terlalu ruwet dan membingungkan.

Nah, itu adalah 5 tips yang dapat kamu lakukan sebagai cara riset untuk novel yang mudah. Meskipun kamu belum berpengalaman sama sekali dalam menulis novel dan melakukan riset, tips-tips di atas tentunya dapat kamu lakukan dengan mudah.

Oh ya, jika kamu memiliki metode riset yang lain dalam menulis novel, cerpen atau tulisan lainnya, saya akan dengan senang hati jika kamu membaginya di komentar.

Semoga kamu sukses selalu dengan karya-karyamu, ya!


Anton Sujarwo

Saya adalah seorang penulis buku, content writer, copywriters dan juga email marketer. Saya telah menulis 14 judul buku, fiksi dan non fiksi, dan ribuan artikel sejak pertengahan tahun 2018 hingga sekarang.

Dengan pengalaman yang saya miliki, Anda bisa mengajak saya untuk bekerjasama dan menghasilkan karya. Jangan ragu untuk menghubungi saya melalui email, form kontak atau  mendapatkan update tulisan saya dengan bergabung mengikuti blog ini bersama ribuan teman yang lainnya.

Tulisan saya yang lain dapat dibaca pula pada website;

MENGENAL SUDUT PANDANG NOVEL YANG PALING UMUM DALAM PENULISAN KARYA SASTRA

Dalam penulisan cerita fiksi dan non fiksi, sudut pandang adalah elemen yang tidak dapat ditinggalkan. Semakin baik kamu memahami sudut pandang novel atau cerpen sebagai seorang penulis, semakin besar pula peluang kamu untuk merekayasa cerita yang lebih kuat dan menyentuh emosi pembaca. Dan menariknya, hal ini dapat kamu pelajari dengan mudah.

Nah, sebelum membahas sudut pandang apa saja yang paling umum digunakan dalam penulisan novel dan karya sastra lainnya, yuk, kita ingat kembali pengertian sudut pandang dalam sebuah penulisan.

Pengertian Sudut Pandang Novel, Jenis, Penjelasan dan Contoh yang Mudah untuk Memahaminya

Source: Freepik

Kamu mungkin saja pernah mendengar istilah sudut pandang orang pertama kedua dan ketiga dalam sebuah penulisan. Lantas, apa sih, yang disebut dengan sudut pandang itu?

BACA JUGA:

Pengertian Sudut Pandang

Source: Freepik

Istilah lain yang paling populer dari sudut pandang adalah Point of View. Secara sederhana point of view  atau sudut pandang adalah tentang bagaimana seorang penulis menempatkan dirinya dalam cerita. Sudut pandang berkaitan erat dengan teknik bercerita karena ia menjadi sentral bagaimana sang penulis menghadirkan visi-visi pengarang dari cara pandang karakter yang ia ceritakan.

Dilihat dari fungsinya, sudut pandang adalah unsur penceritaan fiksi yang sangat penting dan memiliki peran besar bagi kesuksesan dalam penulisan novel atau cerpen. Seorang penulis hebat sudah seharusnya dapat memilih sudut pandang terbaik yang seperti apa, yang dapat ia gunakan dalam sebuah penulisan topik cerita.

Jenis-Jenis Sudut Pandang

Setidaknya ada beberapa jenis jenis sudut pandang yang paling umum dipergunakan dalam penulisan fiksi.

Nah, berikut penjelasan dan juga contohnya. Yuk, disimak sampai selesai, ya.

Sudut Pandang Orang Pertama Tunggal

Source: Freepik

Dalam sudut pandang yang satu ini, penulis atau pengarang menempatkan dirinya sebagai pelaku dalam cerita. Jadi, penulis disini adalah sekaligus pelaku dalam cerita yang ia tulis. Umumnya dalam jenis yang pertama ini penulis akan menggunakan narator sebagai “Aku” atau “Saya” sebagai caranya untuk bercerita.

Sudut pandang orang pertama tunggal sendiri terbagi dalam dua bagian yakni; Penulis sebagai “Aku” tokoh utama, dan penulis sebagai “Aku” bukan tokoh utama.

Lalu, bagaimana penjelasan dari masing-masing sudut pandang “Aku” ini?

Berikut uraiannya.

Penulis Sebagai “Aku” Tokoh Utama

Dalam “Aku” sebagai tokoh utama, penulis akan membagikan cerita mengenai dirinya sendiri, aksinya dan juga kejadian di sekitarnya kepada para pembaca. Para pembaca novel yang menggunakan sudut pandang orang pertama “Aku” sebagai pelaku cerita, akan menerima uraian cerita berdasarkan apa yang dilihat, didengar, dicium, dirasakan, dan diasumsikan oleh penulis yang bertindak sebagai karakter utama  dan pusat cerita.

Perlu kamu ingat bahwa sudut pandang “Aku” sebagai tokoh utama memiliki batasan-batasan yang sebaiknya kamu mengerti. Point of view  “Aku” sebagai pelaku utama tidak bisa mengungkapkan pikiran dan perasaan karakter lain dalam cerita kecuali hanya dugaan dan perkiraannya semata.

Penulisan novel atau cerpen menggunakan sudut pandang orang pertama “Aku” sebagai tokoh utama, harus memahami dengan baik karakteristik “Aku” yang disampaikan. Hal ini berkorelasi pula dengan usianya, jenis kelaminnya, bahasa yang digunakannya, dan lingkungan yang mempengaruhinya.

Contoh Sudut Pandang “Aku” Sebagai Tokoh Utama

Photo by emre keshavarz

Seorang lelaki tua memanggilku sepuluh menit lalu di ruang pribadinya di lantai paling atas pada gedung megah biru dunker, inti kampusku. Dia duduk pongah di kursi busa berukir khas jepara di balik meja. Senyumnya mahal, semahal kursi itu. Kucoba duduk santai dihadapnya, sambil melirik buku yang tadi dibantingnya. Gagasan, itu tulisan di sudut kanan atas sampul depan. Mendesah sebelum kualirkan mata ke tanda pengenal meja di sebelah buku itu, tulisan cerlang bereja Rektor pongah menatapku. Kulengoskan kepala keluar jendela, sementara mulutnya terus mengumpat. Soal buku itu, tentu juga soal aku.

Rektor Itu Ayahmu, Sayang? – Ardyan Amroellah

Contoh lain dari sudut pandang “Aku” sebagai tokoh utama ini dapat pula misalnya dilihat pada sudut pandang novel Ronggeng Dukuh Paruk atau sudut pandang novel Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer.

BACA JUGA:

Penulis Sebagai “Aku” Bukan Tokoh Utama

Photo by ROMAN ODINTSOV

Dalam sudut pandang novel yang seperti ini, “Aku” akan berperan sebagai saksi, sebagai kekasih, sebagai kawan, atau sebagai seseorang yang memiliki kedekatan dengan tokoh utama yang diceritakan. Jadi, pusat cerita dari karakter utama akan disampaikan kepada pembaca berdasarkan apa yang dirasakan oleh “Aku” yang dapat saja bertindak sebagai temannya, sahabatnya, anaknya, dan lain sebagainya.

Gaya penceritaan semacam ini hampir mirip dengan sudut pandang ketiga dalam novel atau cerpen, hanya saja “Aku”  disini juga ikut dalam cerita. Sudut pandang ini juga memiliki keterbatasan dalam mengungkapan pikiran dan isi hati tokoh utama. Segala tindakan dan aksi tokoh utama cerita ditafsirkan berdasarkan pengamatan “Aku” sebagai sudut pandang tersebut.

Contoh Sudut Pandang “Aku” Bukan Tokoh Utama

Aku sudah mengetahui wajahnya sejak lama, sejak sekitar dua tahun lalu. Seminggu sekali dia datang ke salon itu, selalu. Aku kerap tertawa saat ingat kali pertama aku melihatnya. Lusuh, kusam, dekil, sama sekali tak berwarna. Tapi aku tahu, dia bak mutiara jatuh dalam kotoran dan ketakberuntungan. Tinggal membasuhnya saja sebelum moncernya kembali. Dan rupanya dia tahu bagaimana cara memelihara diri. Terbukti, tak ada tanda kekusaman yang muncul. Aih, aku jadi iri.

Mimpimu Apa? – Ardyan Amroellah

Contoh lain yang bisa pula diambil untuk menjelaskan jenis penulisan dengan point of view  seperti ini adalah misalnya; sudut pandang novel Dilan 1990 yang berkisah dari sudut pandang Milea. Atau sebaliknya pada novel Milea, Suara Dari Dilan yang berkisah dari sudut pandang Dilan sendiri.

Sudut Pandang Orang Pertama Jamak

Source: Freepik

Jenis sudut pandang kedua yang juga umum digunakan dalam penulisan novel atau cerpen adalah sudut pandang orang pertama jamak. Disini, penulis mewakili beberapa orang sebagai pelaku utama dalam cerita. Kata ganti yang umum digunakan dalam penulisan dengan sudut pandang seperti ini adalah “Kami”.

Nah, “Kami” yang dipergunakan dalam sudut pandang ini dapat mewakili entitas banyak karakter cerita atau kelompok. Kamu bisa menggunakan “Kami” sebagai perwakilan untuk mengungkapkan kelompok belajar, tim kampus, entitas agama, keyakinan, politik dan lain sebagainya.

Contoh Sudut Pandang Orang Pertama Jamak

Siang itu kami berkerumun di teras masjid, membahas isu hangat yang merebak di pondok. Secara beruntun, barang-barang kami hilang. Mi instan, uang, buku, hingga celana dalam. Hal terakhir itu sangat keterlaluan. Ajaibnya, kami berempat sama. Celana dalam kami habis. Percayalah, hanya sarung yang kami pakai saat ini.

Ronaldo Dari Brazil – Anin Mashud

BACA JUGA:

Sudut Pandang Orang Kedua

Photo by cottonbro

Hal yang unik dari seorang penulis yang mengadaptasikan sudut pandang seperti ini adalah ia bisa memperlakukan pembaca seolah-olah sebagai karakter utama dalam cerita. Dipandang dari segi upaya untuk membangun kedekatan dengan pembaca, sudut pandang orang kedua dapat dikatakan adalah yang paling efektif.

Kata ganti yang paling umum dipergunakan dalam melukiskan sudut pandang orang kedua adalah “Kamu, Kau, Anda”. Sudut pandang seperti ini selain juga umum dipergunakan dalam penulisan novel dan cerpen, juga populer dalam penulisan artikel untuk blog dan content writing. Menempatkan pembaca menjadi sesuatu yang penting dan istimewa sebagai unsur utama dalam penulisan adalah alasan utamanya.

Contoh Sudut Pandang Orang Kedua

Ini hari pertamamu masuk kerja. Harus sempurna! Maka jadi sejak tiga sejam lalu, kau sibuk bolak-balik di depan cermin. Mengecek baju, rambut, sampai riasan di wajahmu. Lalu setelah kau memulaskan lipgloss sebagai sentuhan final yang kau rasa akan memesona teman-teman barumu di kantor nanti, kau mengambil parfum. Menyemprotkannya di belakang telinga, pergelangan tangan, selangkangan, dan ke udara. Sedetik berikutnya, kau melewati udara beraroma lili dan lavender itu, berharap supaya wanginya menempel di rambut dan blazer barumu.

Novel The Girls’ Guide to Hunting and Fishing – Melissa Bank

Sudut Pandang Orang Ketiga

Photo by Kilian M

Seperti halnya sudut pandang orang pertama yang terbagi dalam sudut pandang tunggal dan jamak, maka sudut pandang ketiga pun demikian. Novel atau cerpen yang menggunakan sudut pandang orang ketiga juga dapat dibagi kembali menjadi sudut pandang orang ketiga tunggal dan sudut pandang orang ketiga jamak.

Berikut penjelasannya masing-masing.

Sudut Pandang Orang Ketiga Tunggal

Dalam sudut pandang ini, penulis ada di luar cerita dan tidak terlibat dalam alur yang diceritakan. Kata ganti yang paling umum dan digunakan oleh penulis untuk menyebut tokoh-tokohnya adalah dengan “Dia, Ia, atau nama tokoh itu sendiri”.

Sudut pandang orang ketiga tunggal pun terbagi dalam beberapa bagian lagi misalnya; sudut pandang orang ketiga serba tahu, sudut pandang orang ketiga terbatas, dan sudut pandang orang ketiga objektif. Dalam penulisan kamu dapat menemukan dengan mudah contoh cerpen sudut pandang orang ketiga karena jenis point of view  inilah yang memang paling umum dipergunakan dalam penulisan di Indonesia.

BACA JUGA:

Sudut Pandang Orang Ketiga Serba Tahu

Photo by Suliman Sallehi

Dalam sudut pandang ini, penulis memiliki pengetahuan yang tak terbatas untuk melukiskan ceritanya. Peran penulis laksana Tuhan yang mengetahui semua hal yang dilakukan dan dipikirkan oleh para tokoh cerita. Pada banyak bagian kadang-kadang, penulis juga dapat melukiskan apa yang ada dalam hati dan benak tokoh-tokoh cerita yang sedang ia tuliskan.

Fragmen penceritaan pun dapat berubah dan melompat-lompat sesuai dengan keinginan penulis dalam sudut pandang ini. Misalnya penulis dapat bercerita tentang tokoh A dalam paragraf awal, kemudian melompat pada tokoh B pada baris-baris selanjutnya.

Contoh Sudut Pandang Orang Ketiga Serba Tahu

Angin kencang serta lolongan badai mengajarkan kekuatan, tebing terjal mengajarkan perjuangan, jalan panjang dan berliku, dipenuhi halang rintang dan onak duri mengajarkan kegigihan, keteguhan sekaligus pula kekuatan dalam bahasa yang  bertahan. Jika semua unsur-unsur itu adalah guru bagi pemuda sederhana seperti Tatras, maka sungguh dalam batin pak Iskandar, Tatras tidak membutuhkan seorang profesor atau doktor untuk mengajarkannya hal yang lebih baik daripada yang ia telah dapatkan dari alam dan gunung-gunung.

Merapi Barat Daya – Anton Sujarwo

Contoh lain dari sudut pandang orang ketiga serba tahu ini dapat pula dilihat misanya pada sudut pandang novel Perahu Kertas, sudut pandang novel Sang Pemimpi, dan lain sebagainya.

Sudut Pandang Orang Ketiga Terbatas

Source: Freepik

Pada sudut pandang ini, penulis terbatas untuk mengungkapkan jalan cerita hanya dari sudut pandang beberapa orang saja. Atau pada konteks yang lain, juga tidak bisa dengan sangat bebas untuk berpindah dari karakter tokoh yang satu pada karakter tokoh yang lain.

Contoh Sudut Pandang Orang Ketiga Terbatas

Setiap ayah mungkin saja memiliki fisik yang berbeda-beda, memiliki profesi dan rutinitas yang tidak sama, memiliki gaya hidup dan model pakaian berlainan, memiliki tingkat penghasilan, kecerdasan, warna kulit, serta intelektualitas yang tidak serupa. Namun untuk sebuah perasaan yang menyangkut anak-anak mereka, menyangkut puteri kecil mereka, maka segumpal daging dalam dada mereka yang bernama hati adalah sama, adalah serupa, dan tak memiliki perbedaan yang signifikan. Semua merasakan kedukaan yang demikian dalam, tak mampu hanya digambarkan dengan beberapa kalimat ataupun berbagai ungkapan.

Omar mungkin berwajah keras dengan jenggot dan kumisnya yang membuat ia terlihat sangar. Namun jauh dalam hati dan perasaannya tentang Sabiya, Bharal Omar juga tak berbeda dengan para ayah lainnya akan puteri mereka. Ia sangat mencintai Sabiya, Sabiya adalah separuh nafas Omar, setengah dari jantung hatinya, tempat bergantungnya cinta kasihnya, tempat bermuaranya sayang dan kebanggaannya sebagai seorang ayah.

MMA Trail – Anton Sujarwo

BACA JUGA:

Sudut Pandang Orang Ketiga Objektif

Photo by Marek

Dalam sudut pandang ini, penulis dapat mengungkapkan semua tindakan fisik dan aksi tokoh dalam cerita. Hanya saja, narator atau penulis tidak memiliki kebebasan untuk mengungkapkan apa yang ada dalam pikiran tokoh cerita, motivasinya, isi hatinya, dan lain semacamnya. 

Objektivitas dalam penulisan dengan metode sudut pandang seperti ini lebih dititikberatkan bahwa penulis hanya bisa menggambarkan aksi dan tindakan tokoh, bukan pikiran dan motivasi mereka. Jika pun penulis ingin menyampaikan gagasan mengenai motivasi atau pikiran salah satu tokoh, maka itu haruslah dikemas dalam persangkaan atau dugaan semata.

Contoh Sudut Pandang Orang Ketiga Objektif

Si lelaki tua bangkit dari kursinya, perlahan mengeluarkan pundi kulit dari kantung, membayar minuman dan meninggalkan persenan setengah peseta. Si pelayan mengikutinya dengan mata ketika si lelaki tua keluar. Seorang lelaki yang sangat tua yang berjalan terhuyung tetapi tetap dengan penuh harga diri.

“Kenapa tak kau biarkan saja dia minum sampai puas?” tanya si pelayan lain. Mereka berdua menurunkan semua tirai. “Belum jam setengah dua.” lanjutnya.

“Aku ingin cepat pulang dan tidur.”

Tempat yang Bersih Terang – Ernst  Hemingway

Sudut Pandang Orang Ketiga Jamak

Photo by Davi Pimentel

Dalam point of view  ini, penulis atau narator bercerita dari persepsi orang banyak atau mewakili kelompok tertentu dalam cerita. Kacamata kolektif yang dipergunakan dapat mewakili entitas kelompok berdasarkan apa pun yang ingin disampaikan penulis. Kata ganti yang paling umum digunakan dalam penceritaan dengan sudut pandang orang ketiga jamak adalah “Mereka”.

Contoh Sudut Pandang Orang Ketiga Jamak

Pada suatu hari, ketika mereka berjalan-jalan dengan Don Vigiliani dan  beberapa anak lelaki dari kelompok pemuda. Dalam perjalanan pulang, mereka melihat ibu mereka di sebuah kafe di pinggir kota. Dia sedang duduk di dalam kafe itu; mereka melihatnya melalui sebuah jendela dan seorang pria duduk bersamanya. Ibu mereka meletakkan syal tartarnya di atas meja.

Ibu – Natalia Ginzburg

Sudut Pandang Campuran atau Mixed Point of View

Photo by Dids

Sudut pandang terakhir yang juga bisa digunakan dalam penulisan novel atau cerpen adalah mixed point of view  atau sudut pandang campuran. Sudut pandang satu ini memberikan kebebasan kepada penulisnya untuk menggunakan kata “Aku, Dia, Mereka, Kami, Kamu” secara bergantian. Secara umum sudut pandang campuran seperti ini digunakan dalam penulisan cerita dengan jumlah halaman yang banyak.

Hal yang perlu menjadi catatan adalah dibutuhkan kejelian penulis untuk tetap mampu menggambarkan cerita secara tepat saat ada perubahan sudut pandang yang dilakukan dalam ceritanya.

BACA JUGA:

Source: Freepik

Nah, itu adalah beberapa sudut pandang yang paling umum dipergunakan dalam penulisan cerita baik itu novel mau pun cerpen. Di Indonesia sendiri, pada umumnya lebih banyak ditemui penulis yang mengadaptasikan sudut pandang novel orang pertama dan orang ketiga dalam karya mereka.

Sekarang, untuk menambah pemahamanmu tentang point of view  dalam penulisan novel atau karya sastra apa pun, kamu dapat melatihnya secara konsisten. Semakin sering kamu berlatih maka akan semakin mahir dan mengalir kamu dapat menaplikasikannya dalam karyamu nantinya.

Jadi, selamat berlatih, ya!

Referensi dan contoh: www.gurupendidikan.co,id


NB:

Tulisan-tulisan saya lainnya dapat pula dibaca di:

10 BUKU TERBAIK MENURUT ELON MUSK YANG SEHARUSNYA KAMU BACA

Kamu tentunya sudah tahu siapa itu Elon Musk, kan?

Julukan populer dari seorang Elon Musk adalah Tony Stark in real life, atau Tony Stark dalam kehidupan nyata. Julukan ini disematkan karena sepak terjang Elon Musk yang sungguh luar biasa. Ia adalah triliuner, penemu, tokoh teknologi, pemilik perusahaan raksasa, dan masih banyak lagi. Bahkan saat ini dapat dikatakan bahwa Elon Musk adalah salah satu tokoh paling berpengaruh di dunia.

Menariknya, meskipun tingkat intelektual dan kemampuan teknologi Elon Musk sangat hebat, ternyata ia bukanlah seorang yang memiliki gelar akademis  luar biasa. Ia seperti banyak tokoh terkemuka yang nyentrik lainnya, menganggap gelar bukanlah hal yang penting. Bagi Elon Musk, gelar sepanjang apa pun itu, tak akan pernah mampu mengalahkan keterampilan atau skill.

Nah, skill dan keterampilan uniknya tidak diperoleh dengan gelar. Elon Musk bilang bahwa dengan membaca buku terbaik pun, seseorang dapat mengasah keterampilannya mengalahkan para sarjana dan gelar akademik mereka. Buku yang tepat, kata Elon Musk, adalah senjata yang paling ampuh untuk membuat kamu menjadi juara dalam persaingan dunia.

BACA JUGA: 50 PERTANYAAN UNTUK REMAJA YANG BISA MEMBUAT MEREKA BERPIKIR LEBIH JAUH

Pendapat Elon Musk Tentang Gelar Akademik dan 10 Buku Terbaik yang Paling Direkomendasikannya untuk Kamu Baca

Source: Tumblr

Selain memiliki kekayaan yang luar biasa, Elon Musk terkenal dengan banyak hal. Cuitan asal-asalan Elon Muks twitter bahkan mampu mengubah arah pergerakan harga mata uang crypto seperti Bitcoin dan Dogecoin. Baru-baru ini ia kembali membuat publik crypro currency menjadi ramai lantaran cuitannya juga membuat imbas yang besar dengan anjloknya bitcoin.

Sebagai seorang pemimpin besar perusahaan teknologi raksasa semacam Tesla dan SpaceX, Elon Musk tentu saja menjadi bos besar bagi banyak orang. Ia memimpin ribuan karyawan, ia membuat teknologi pertama mobil tanpa sopir atau autopilot. Bahkan perusahaan SpaceX miliknya, adalah salah satu perusahaan swasta pertama yang menargetkan pemukiman manusia di luar angkasa.

Melihat begitu luar biasanya sepak terjang seorang Elon Musk ini, mungkin kamu sempat bertanya; Bagaimana sih, sekolahnya? Dimana ia kuliah, dan berapa banyak gelar yang ia miliki sehingga demikian pintar dan cerdas?

Elon seperti kamu juga, memiliki gelar yang biasa-biasa saja. Ia adalah pemilik gelar sarjana fisika dan ekonomi dari Universitas Pensylvania. Namun yang paling mengagumkan dari seorang Elon Musk adalah pernyataannya yang mengatakan bahwa gelar sebenarnya sangat tidak menentukan kesuksesan seseorang.

Keterampilan dan Pengalaman Selalu Mampu Mengalahkan Gelar

Source: Freepik

Dalam merekrut karyawan di berbagai perusahaan yang ia pimpin, gelar sama sekali tidak begitu diperhitungkan oleh Elon Musk. Menurutnya, skill adalah sesuatu yang mengungguli gelar. Dan sekarang, dengan teknologi yang semakin merajalela di semua lini kehidupan, dengan pandemi virus corona covid-19 yang memaksa orang-orang untuk work from home, skill menjadi lebih diunggulkan lagi.

Nah kabar baiknya adalah, masih menurut Elon Musk sendiri, setidaknya ada 10 buku yang bisa kamu baca yang akan mampu secara signifikan menambah kecerdasan dan skill kamu. Selain menambah pengetahuan dan kecerdasan, buku-buku ini menurut Elon Musk juga akan membuat kamu lebih siap dalam menghadapi tantangan zaman seperti sekarang ini.

Lantas  buku apa saja yang masuk dalam 10 buku terbaik untuk dibaca menurut Elon Musk?

Berikut daftarnya;

INI JUGA MENARIK, KAMU BISA MEMBACANYA: 13 HAL YANG HARUS KAMU HINDARI UNTUK BISA MENGHARGAI DIRI SENDIRI

Corporate Finance

Source: OpenTrolley

Ini adalah sebuah serial yang lebih banyak mengupas tentang financial modelling sebuah perusahaan. Dengan buku ini seorang pemimpin perusahaan tidak hanya hebat dalam inovasi, namun juga akan melek dengan model paling ideal bagi finansial perusahaannya.

Buku Corporate Finance telah ditulis hingga 11 jilid. Para penulis buku ini adalah; Jeffrey F. Jaffe, Stephen A. Ross,  dan Randolph Westerfield.

Asking The Right Question: A Guide to Critical Thinking

Source: Amazon

Buku ini ditulis oleh M. Neil Browne dan menjadi banyak rujukan dalam pelatihan leadership. Buku ini berdasarkan deskripsi Amazon; mampu menjembatani kesenjangan antara hanya sekedar menghapal sesuatu atau menerima informasi secara membabi buta. Buku ini juga menurut Amazon; akan membantu kamu untuk memiliki analisis yang lebih kritis terhadap suatu objek.

Business Intelligence and Analytics: System for Decision Support

Source: Amazon.in

Penulis buku ini adalah Efraim Turban dan menjadi salah satu buku yang dijagokan di Amazon. Buku karya Turban ini merupakan panduan yang aktual dan komprehensif mengenai revolusi manajemen support dari sebuah industri teknologi. Setidaknya itu yang digambarkan Amazon.

Definiting Moment: When Managers Must Choose Between Right and Right

Source: Amazon.com

Buku ini ditulis oleh Joseph Badaracco dan mengetengahkan tema yang membahas mengenai pertimbangan-pertimbangan yang harus dipikirkan oleh seorang pengambil keputusan ketika bisnis dan nilai-nilai dalam perusahaannya sedang dalam konflik dan dipertaruhkan.

Organizational Culture and Leadership

Source: Raptis Rare Books

Kamu tentu sudah dapat menebak isi buku dengan mudah, kan?

Yap, benar. Buku yang ditulis oleh Edgar H. Schein ini adalah sebuah buku teks klasik yang membicarakan tentang organisasi dan kepemimpinan. Menurut Elon Musk, ini adalah salah satu buku tentang leadership yang seharusnya kamu juga baca.

BACA PULA: TIPS SUPER MUDAH DALAM MENGATASI WRITER BLOCK ATAU KEBUNTUAN IDE DALAM MENULIS

Essentials of Organizational Behavior

Source: Amazon.in

Sama seperti buku Corporate Finance, buku yang ditulis oleh Stephens P. Robbins ini juga terdiri dari beberapa serial. Hingga saat ini buku yang sangat layak baca ini sudah tersedia dalam 14 jilid. Jadi, akan sangat bagus untuk membantu mengasah skill-mu, kan?

The Management of Innovation

Source: Amazon.uk

Buku ini bukan bukan buku baru atau ditulis oleh zaman dimana komputer sudah merajai semuanya. Karya monumental dari penulis G. M. Stalker dan Tom Burns sudah diterbitkan sejak tahun 1961, yang artinya ini adalah sebuah buku klasik membahas tentang inovasi pemikiran dan juga aksi.

Akan tetapi menurut deskripsi Amazon, buku The Management of Innovation ini adalah salah satu buku tentang organisasi bisnis paling berpengaruh yang pernah ditulis manusia.

Business Finance: Theory and Practice

Source: FliptHTML5

Buku yang satu ini ditulis oleh Eddie McLaney dan merupakan salah satu buku yang banyak direkomendasikan untuk para pemilik korporasi bisnis. Secara sederhana, buku yang juga dianggap sangat bagus oleh Elon Musk ini membahas panjang lebar mengenai keuangan dalam bisnis, baik secara praktik, teori, atau pun filosofinya.

Critical Analysis of Organizations: Theory, Practice, Revitalization

Source: Amazon.ca

Ini adalah buku ke-9 yang disarankan oleh Elon Musk untuk kamu baca jika ingin mempelajari mengenai analisa yang lebih kritis dan mendalam. Buku ini ditulis oleh seorang penulis perempuan yang cukup populer bernama Catherine Casey.

Tidak seperti buku-buku sejenis yang mungkin bersifat lebih umum, dalam buku ini Casey mampu menjabarkan pemikirannya secara lebih baru, menarik dan sangat kritis.

A Theory of Human Motivation

Source: Rakuten.kobo

Nama sekaliber A. H. Maslow tentu sudah menjadi jaminan bahwa buku terakhir yang direkomendasikan oleh Elon Musk ini benar-benar layak untuk kamu baca. Dalam buku ini Abraham Maslow menjelaskan bagaimana hierarki kebutuhan manusia ikut membentuk motivasi mereka.

Dan pada dasarnya, ide sederhana seperti itulah yang mendasari Maslow untuk menulis karya hebatnya ini.

INI JUGA KEREN, BACA JUGA, YUK: MENULIS BUKU TENTANG KISAH HIDUP SENDIRI DALAM 10 LANGKAH SANGAT MUDAH

Source: Freepik

Nah, itu adalah 10 buku terbaik yang seharusnya kamu baca juga untuk menambah wawasan serta pengembangan diri kamu. Mengutip maksud dari pernyataan Elon Musk sebelumnya, skill akan mengalahkan gelar, dan di masa depan, gelar tidak akan banyak manfaatnya lagi kecuali untuk pamer kepada tetangga dan orang-orang di sekeliling rumah.

Dan asyiknya, skill, keterampilan dan pengalaman itu dapat dilatih dan diperjuangkan. Membaca buku seperti 10 buku paling bagus yang direkomendasikan oleh Elon Musk, adalah salah satu cara yang dapat kamu lakukan.

Jadi, tetap membaca, ya.

NB:

Tulisan saya lainnya dapat dilihat juga di beberapa tautan berikut ini:

SINERGI FOUNDATION SEBAGAI SOLUSI ZAKAT ONLINE YANG SISTEMATIS DAN TEPAT SASARAN

Mungkinkah zakat dapat menjadi kunci kemakmuran suatu negeri?

Jika pertanyaan seperti ini diajukan pada masa pemerintahan Khalifah Umar bin Abdul Aziz puluhan abad silam, maka jawabannya adalah; iya, zakat dapat menjadi kunci kemakmuran negeri dan ummat. Akan tetapi jika pertanyaan yang sama diajukan pada masa yang kontras dengan model pemerintahan khalifah besar dari dinasti Umayyah itu, maka jawabannya akan berlainan.

Nah, sebenarnya bisakah zakat menjadi solusi menuju kemakmuran sebuah negeri? Bagaimanakah cara mengaplikasikannya di tengah tantangan dunia modernitas saat ini?

Mari, simak ulasannya berikut ini.

Mengenal Sinergi Foundation dan Kiprahnya Sebagai Operator Zakat Online yang Amanah, Sistematis dan Tepat Sasaran

Source: Freepik

Pengertian Zakat

Secara sederhana, istilah zakat dapat diterjemahkan sebagai harta tertentu yang wajib dikeluarkan oleh seorang muslim kepada orang yang berhak menerimanya. Sementara menurut bahasa, zakat dapat didefinisikan sebagai sesuatu yang bersih, suci, tumbuh dan juga berkembang. Namun pemaknaan yang lebih sering digunakan bagi zakat adalah sesuatu yang telah menjadi hak Allah Yang Maha Kaya untuk dikeluarkan atau diberikan kepada fakir miskin.

Fungsi Zakat

Source: Freepik

Zakat memiliki fungsi yang sangat komprehensif dalam kehidupan sosial dan masyarakat. Zakat tidak hanya dapat dimaknai sebagai kewajiban seseorang dalam mengeluarkan sebagian hartanya lantaran perintah Allah semata. Akan tetapi, zakat juga memiliki fungsi yang secara ajaib telah dipersiapkan Allah untuk memberikan ketenangan dan kedamaian bagi setiap orang, baik bagi yang menerima zakat mau pun yang membayar zakat.

Bagi orang yang memberikan zakat, ritual ini memiliki fungsi sosial sebaga cara untuk mensucikan hati dari sifat kikir, tamak dan juga serakah. Sementara bagi penerima zakat, hal ini juga dapat mensucikan hati mereka dari perasaan iri, dengki, hasad, dan juga amarah.

Fungsi membersihkan dari zakat adalah dengannya harta yang dimiliki dapat dibersihkan. Artinya, jika dalam proses mengumpulkan harta terdapat cara-cara yang syubhat, maka zakat dapat membersihkannya. Zakat juga befungsi sebagai penumbuh atau pengembang karena dengan zakat harta seorang pemberi zakat justru akan bertumbuh dan berkembang.

Masih ada banyak fungsi dan manfaat lain dari zakat. Zakat pada tatanan negara yang lebih luas mampu menjadi cara efektif untuk mengentaskan kemiskinan. Zakat yang dikelola secara baik juga akan memberikan peran yang sangat besar bagi pemberantasan kejahatan yang berakar dari persoalan sosial. Pendek kata, fungsi dan manfaat zakat hampir mencakup semua bentuk kemaslahatan umat manusia.

Jenis-Jenis Zakat   

Source: Freepik

Umat islam hanya mengenal dua jenis zakat yang telah menjadi kewajiban untuk ditunaikan. Zakat yang pertama adalah zakal mal atau zakat harta. Zakat mal sendiri memiliki banyak jenis sebagai turunannya seperti zakat penghasilan, zakat perniagaan, zakat pertambangan, zakat pertanian, hasil laut, hasil temuan, zakat emas, bahkan hingga zakat obligasi dan semacamnya.

Sementara jenis zakat yang kedua adalah zakat nafs atau zakat jiwa, yang lebih populer pula dikenal sebagai zakat fitrah. Waktu menunaikan zakat fitrah sudah ditentukan yakni pada akhir bulan Ramadhan atau menjelang hari raya Idul Fitri.

Problematika Zakat pada Zaman Modern

Source: Freepik

Dari zaman dahulu hingga sekarang, zakat sebagai salah satu prospek penting perekonomian umat tak lepas pula dari permasalahan yang mengiringinya. Permasalahan utama misalnya adalah mengenai pengelolaan zakat, kemudian kurangnya kesadaran masyarakat untuk membayar zakat. Atau bahkan yang paling teknis dan terlihat sederhana adalah tentang kemudahan dalam membayar zakat.

Menumbuhkan kesadaran masyarakat dalam membayar zakat tentu membutuhkan banyak kerjasama dan kerja keras. Sementara membangun sistem pengelolaan zakat yang amanah, tepat sasaran dan sesuai dengan syar’i, tentu juga membutuhkan lebih banyak dedikasi, sikap istiqomah, dan keikhlasan dalam melakukannya.

Allhamdulillah di Indonesia, bertumbuh pula berbagai lembaga yang ikut andil membantu suksesnya proses ibadah zakat sebagai bagian dari perekonomian umat. Kemudahan masyarakat untuk melaksanakan kebajiban bayar zakat telah dipermudah dengan lahirnya sistem zakat online yang tentu saja lebih sederhana, simple, efisien dan terorganisir.

Nah, salah satu lembaga yang kemudian mendedikasikan diri mereka untuk membantu problema zakat di masa modern ini adalah Sinergi Foundation. Dalam beberapa waktu terakhir, lembaga ini telah menjadi salah satu lembaga pengelola zakat yang terpercaya, sistematis, dan juga tepat sasaran.

Sekarang, apa sajakah kira-kira manfaat yang bisa Anda peroleh dengan berkontribusi sebagai mitra zakat pada Sinergi Foundation?

5 Manfaat Paling Signifikan Berzakat Melalui Sinergi Foundation                     

Source: Freepik

Sebagai lembaga pengelola zakat di zaman modern, Sinergi Foundation tentu memiliki juga beragam manfaat yang dapat Anda peroleh ketika menggunakan jasa mereka.

Beberapa keuntungan atau manfaat yang paling signifikan misalnya adalah;

Memudahkan

Source: Freepik

Keuntungan paling utama dari lembaga pengelola zakat modern adalah mereka seharusnya memberi kemudahan kepada orang-orang yang membayar zakat untuk menunaikan tanggung jawab mereka. Kemudahan harus mencakup banayak hal semisal proses pengumpulan zakat, penyaluran, laporan dan lain sebagainya.

Di zaman sekarang, ketika era digital dan internet menjadi portal semua sisi, maka lembaga zakat modern harus pula mampu menjangkaunya. Sinergi Foundation dalam hal ini mampu menjadi jembatan yang memberi banyak kemudahan dalam hal sinergitas zakat di Indonesia.

Memiliki Jangkauan Luas

Source: Freepik

Pada sudut pandang yang tepat, ruang dan waktu dalam dimensi modern kadang hanya sebatas ilusi. Lembaga zakat yang profesional semacam Sinergi Foundation memahami dan mengaplikasikan konsep tersebut tersebut dalam layanan mereka.

Dimana pun Anda berada, seberapa banyak pun waktu yang Anda miliki, Anda tetap dapat menggunakan layanan Sinergi Foundation selama Anda bisa mengaksesnya melalui layar ponsel. Hal ini tentu saja akan memudahkan lebih banyak orang untuk menunaikan kewajiban zakat mereka melalui Sinergi Foundation.

Tepat Sasaran

Source: Freepik

Di tengah kondisi perekonomian dunia yang terpuruk karena wabah Covid 19 ini, mungkin ada banyak bagian dari umat islam yang menjadi berhak sebagai penerima zakat lantaran kondisi ekonomi yang semakin merosot. Akan tetapi dalam menetapkan siapa saja orang yang berhak menerima zakat dan mengapa mereka menjadi prioritas, tentu saja membutuhkan analisa yang matang.

Nah, Anda yang melaksanakan kewajiban membayar zakat dan mengharapkan apa yang Anda lakukan dapat bermanfaat sesuai ketentuan, tentu menginginkan zakat Anda tepat sasaran. Untuk alasan satu ini, Sinergi Foundation sangat layak untuk Anda pertimbangkan.

Akuntabel

Photo by Pixabay

Tidak ada kewajiban bagi lembaga zakat untuk mengumumkan siapa saja orang yang menunaikan kewajiban zakatnya melalui mereka. Namun, bagaimana pun juga, sebuah lembaga yang diserahi tanggung jawab pengelolaan harta baik berupa uang mau pun benda-benda berharga, tetaplah harus akuntabel dan memiliki perhitungan yang rapi.

Akuntable dalam konteks ini bukan bermakna mengenai hitung-hitungan laba rugi lembaga pengelola zakat, akan tetapi lebih kepada akuntabilitas pengelelolaan zakat yang terdiri dari pemberi zakat, penerima zakat, bentuk zakat, prioritas, dan juga perhitungan mashlahat yang lebih banyak berdampak pada umat, dan lain sebagainya.

Insya Allah Amanah

Source: Freepik

Bagian paling pokok dari sebuah lembaga pengelolaan harta umat adalah mereka harus teruji amanah. Kemampuan dan keikhlasan untuk menyampaikan amanah pemberi zakat kepada penerima zakat harus benar-benar dapat diterjemahkan secara berkesinambungan. Dan amanah menjadi bagian paling dasar dari fungsi ini.

Kemampuan untuk melaksanakan amanah sebaik mungkin ini adalah top priority bagi lembaga pengelola zakat seperti Sinergi Foundation. Amanah ini pula dalam implementasinya, akan memberikan rasa tentram dan damai dalam hati pemberi zakat karena tahu bahwa zakat yang mereka keluarkan, sungguh-sungguh telah diberikan kepada orang yang paling tepat dan dengan cara yang paling tepat pula.


Nah, itu adalah sekelumit mengenai Sinergi Foundation dan kiprah mereka dalam pengelolaan zakat online. Dalam sudut pandang yang utuh, dapat dilihat bahwa zakat dengan realisasi yang paling tepat, ternyata memang memberi dampak yang signifikan bagi kejahteraan ummat.

Dan bisa saja ini adalah ikhtiar kecil yang dapat kita lakukan untuk menjawab pertanyaan pada awal tulisan ini tadi mengenai; mungkinkah zakat dapat menjadi kunci kemakmuran suatu negeri?

Wallahu’alambisshawab

Dan, selamat berzakat!

TIPS MEMBUAT OPENING CERPEN YANG MENARIK DALAM 9 LANGKAH MUDAH

Salah satu bagian paling krusial dalam penulisan cerpen atau novel adalah bagaimana membuat opening atau pembuka cerita yang memikat. Ketika kamu berhasil membuat opening cerpen yang menarik, maka kamu dalam langkah yang pertama telah berhasil menarik perhatian pembaca. Dan pada banyak kasus, ini adalah hal paling penting untuk membuat cerpen atau novel yang kamu tuliskan, memiliki keistimewaan dibandingkan yang lainnya.

Lantas, bagaimakah sebenarnya cara membuat kalimat pembuka cerpen atau novel yang menarik? Adakah tips-tips khusus yang dapat dilakukan untuk memudahkan prosesnya?

Yuk, simak penjelasan lengkapnya berikut ini.

9 Tips Mudah Membuat Opening Cerpen yang Menarik

Photo by Sam Lion

Hal pertama yang perlu diperhatikan oleh seorang penulis dalam membuat halaman pertama novel atau cerpen yang ditulisnya, adalah bahwa hal itu haruslah bisa membuat pembaca ingin terus pembaca. Jadi, secara mudah dapat dipahami bahwa ketika pembaca membaca awal dari tulisan kamu, mereka sudah tertarik untuk menyelesaikannya karena dikemas dengan awalan menarik.

Tentu saja ada banyak metode yang dapat dipergunakan untuk membuat kalimat pembuka sebuah novel atau pun cerpen. Di antara banyak metode tersebut, berikut adalah 9 metode yang paling mudah untuk diaplikasikan. Jika kamu menerapkan metode ini dengan baik, InsyaAllah kamu akan mampu membuat opening yang menarik untuk cerpen atau novel yang sedang kamu tuliskan.

Nah, apa sajakah ke 9 metode atau tips tersebut?

Berikut uraiannya.

BACA JUGA

Membuat Opening Cerita dengan Dialog

Photo by Charlotte May

Metode pertama yang dapat dengan mudah kamu terapkan sebagai pembukaan novel atau cerpen adalah dengan dialog atau percakapan. Disini kamu dapat memulainya dengan membuat percakapan antara dua atau lebih karakter yang akan kamu ceritakan. Contoh opening novel yang menarik menggunakan dialog ini cukup banyak digunakan, baik oleh penulis profesional atau pun oleh penulis pemula sekali pun.

Hal yang perlu juga untuk kamu perhatikan dalam penulisan dialog atau percakapan sebagai pembuka cerpen atau novel adalah ia harus memiliki magnet bagi pembaca. Artinya, dialog pembuka tersebut haruslah menarik perhatian bagi pembacanya.

Berikut adalah beberapa contoh opening cerpen atau novel menggunakan metode dialog yang bisa kamu terapkan.

“Aku memiliki semua bukti yang diperlukan untuk menyeret si Brengsek itu ke penjara?”

“Bunuh saja! Itu adalah cara yang paling aman untuk dilakukan”

“Gila kamu! tindakan kamu ini akan membawa kita ke rumah sakit, bodoh!”

Membuat Opening Cerita dengan Menggambarkan Karakter atau Setting Cerita

Photo by Asad Photo Maldives

Hampir setiap penulis pemula menggunakan metode ini dalam mengawali cerita mereka. 9 dari 10 murid dalam kelas literasi yang saya bimbing juga menggunakan metode seperti ini ketika pertamakali saya meminta mereka untuk menulis. Memang, berkisah tentang setting jauh lebih mudah untuk diaplikasikan dalam setiap awalan sebuah cerita.

Contoh kalimat pembuka yang menarik dalam penulisan cerpen atau novel yang menggunakan metode kedua ini sangat mudah untuk kamu aplikasikan. Kamu secara umum hanya perlu mendeskripsikan setting atau karakter cerita yang kamu tulis pada bagian awalnya.

Contohnya sebagai berikut;

Langit masih menggantung jingga ketika Nala menjumpaiku sore kemarin. Ia datang bertelanjang kaki, tak berkerudung dan sambil berurai air mata. Entah apa yang ingin aku katakan untuk menyambutnya dengan kondisi semacam itu. Aku sudah tahu penyebabnya dan aku benci itu. Namun seperti magrib yang menjadi takdir penghujung setiap hari, teror itu juga menjadi tardir bagi tangisan Nala. Ia datang kepadaku, berkali-kali, menjumpai takdirnya di antara temaram langit jingga yang entah kapan akan diakhirinya.

BACA JUGA

Membuat Opening Cerita dengan Quote

Photo by Thought Catalog

Ini mungkin tidak begitu sering dilakukan oleh para penulis pemula, namun ini juga populer dalam dunia penulisan. Membuat quotes atau kata-kata mutiara sebagai pembukan novel atau cerpen adalah sesuatu yang menarik untuk dilakukan. Kamu tentu saja dapat mempraktikkannya dengan mudah.

Akan tetapi, sebelum kamu memutuskan untuk memilih sebuat quotes dari orang terkenal sebagai pembuka ceritamu, pastikan dulu bahwa quotes tersebut relevan. Artinya, ada keterkaitan atau korelasi antara isi cerita dengan quotes yang kamu kutip itu sendiri. Mengutip quotes yang sesuai bukan hanya akan membuat ceritamu terasa lebih berkelas, namun juga memberikan sedikit gambaran pada pembaca mengenai referensi yang kamu miliki.

Berikut contoh opening cerpen atau novel menggunakan quotes atau kutipan;

Setiap orang memiliki Everest mereka sendiri-sendiri

Anton Sujarwo

– kutipan pembuka salah satu bab dalam buku Merapi Barat Daya karya Anton Sujarwo

Pantang pisang berbuah dua kali, pantang pemuda memakan sisa

Anton Wan Bong

– Kutipan pembukaan novel Hilang di Bukit Hitam karya Anton Wan Bong

Membuat Opening Cerita dengan Pertanyaan

Photo by Jonathan Andrew

Selain menggunakan quotes atau ungkapan, kamu tentu saja dapat pula membuat contoh opening wattpad dalam penulisan cerpen atau novel yang kamu lakukan dengan menggunakan pertanyaan. Kamu hanya perlu membuat sebuah pertanyaan yang relevan, memancing rasa ingin tahu pembaca, dan sesuai pula dengan konsep cerita yang akan kamu sampaikan selanjutnya.

Penting untuk kamu ingat dalam mengawali penulisan dengan metode pertanyaan ini bahwa pertanyaan yang kamu miliki adalah untuk pembaca, bukan untuk karakter cerita. Jadi, seakan-akan kamu sedang bertanya kepada pembaca mengenai kejadian dalam cerita yang akan kamu sampaikan kemudian.

Berikut adalah contoh pembukaan cerpen tentang keindahan yang menggunakan metode pertanyaan;

Mengapa tempat seindah ini dilarang untuk dimasuki? Ada apa sebenarnya di dalamnuya? Apakah keindahan ini menyembunyikan sebuah keangkeran yang tidak terendus sebelumnya?

Entahlah, aku tak tahu. Namun yang pasti aku akan mencari jawabannya sekarang.

Atau,

Kemana dia pergi? Kemana lelaki muda pemberani itu menghilang? Bukankah ia baru saja menyelamatkan nyawa seorang gadis jelita bernama Elya yang hampir tewas dihantam gempa gunung Merapi? (Novel Merapi Barat Daya)

Membuat Opening Cerita dengan Suara atau Bunyi

Photo by Pixabay

Seperti halnya membuat pembukaan novel atau cerpen dengan metode deskripsi setting, teknik membuat awalan cerita dengan bunyi juga umum diterapkan oleh para penulis pemula. Dan memang, opening ini cukup menarik dilakukan. Tentu saja selama kamu pandai menyesuaikannya dengan kelanjutan dan penjelasan dari bunyi tersebut.

Opening cerita wattpad banyak yang menggunakan teknik ini dalam mengawali cerita mereka. Meskipun para penulis profesional jarang mengaplikasikannya, namun ini tentu saja tetap menarik untuk dilakukan.

Berikut adalah beberapa contohnya;

Dor!!!

Pistol di tangan Harry meletus, melesatkan peluru tepat ke kepala lelaki bertopeng itu yang langsung membuatnya tersungkur.

Atau,

Beep…beep…beep…!!!

Handphone di saku jaketku bergetar lagi. Terus terang aku malas membukanya, karena aku sudah tahu kalau itu adalah notifikasi dari si Kambing Tua tak tahu diri itu.

BACA JUGA

Membuat Opening Cerita dengan Humor

Photo by Keira Burton

Jika kamu adalah seorang yang humoris dan memiliki banyak perbendaharaan hal yang lucu untuk dibagikan, maka kamu harus mengawali tulisanmu dengan ini. Jangan salah lho, tidak banyak penulis yang memiliki kemampuan menulis lucu. Jadi, jika kamu memilikinya, eksploitasi hal itu dan buat ia bertumbuh.

Beberapa pembaca menyukai sesuatu yang lucu sebagai pembuka cerita yang mereka baca. Sementara yang lain, ada pula yang tidak menyukainya. Akan tetapi dalam pilihan konsep dalam mengawali sebuah cerita, menulis sesuatu tentang humor, jokes, komedi atau sesuatu yang lucu, tentu saja dapat kamu lakukan.

Contoh kalimat pembuka yang menarik menggunakan jokes atau humor misalnya adalah sebagai berikut;

Dalam keluarga kami sebenarnya tidak ada perbedaan yang benar-benar berarti antara prioritas menyelesaikan pendidikan, dengan kemampuan untuk membuat pempek kapal selam terbaik untuk nenek.

“Kamu jelek, Jon. Jadi kamu tidak perlu khawatir tentang orang yang akan jadi pacarmu. Yang seharusnya khawatir itu mereka, Jon, karena memiliki pacar sejelek kamu”

Membuat Opening Cerita dengan Fakta atau Pernyataan yang Mengejutkan

Photo by Andrea Piacquadio

Selanjutnya metode membuat opening novel atau cerpen yang menarik dan bisa kamu aplikasikan dengan mudah adalah dengan menyodorkan fakta atau pernyataan yang mengejutkan. Sebenarnya untuk metode membuat pembukaan cerita semacam ini tidak hanya dapat diterapkan pada novel atau cerpen saja, namun juga pada penulisan artikel umum lainnya.

Fakta yang kamu sampaikan dalam penulisan motode haruslah yang juga memiliki efek magnet bagi pembaca. Artinya, fakta tersebut menarik dan membuat pembaca penasaran untuk melanjutkan bacaan mereka.

Nah, kira-kira bagaimana cara membuat contoh pembukaan cerita pengalaman atau apa saja dengan metode ini?

Ini beberapa di antaranya;

Setiap 1 dari 20 orang yang hidup di di dunia ini adalah keturunan Jengis Khan.

Jika kamu selama 3 hari dalam kegelapan total dan tanpa cahaya sedikit pun, kamu akan  benar-benar buta secara permanen setelahnya.

Tahukah kamu bahwa air mata yang keluar lantaran kesedihan, keharuan dan karena perih bawang memiliki bentuk yang berbeda di bawah lensa mikroskop?

Membuat Opening Cerita dengan Pengalaman Pribadi

Photo by Anthony Shkraba

Nah, kamu mungkin akan tertarik dengan cara menulis awalan cerita yang satu ini, yakni dengan memulainya berdasarkan pengalaman pribadi yang kamu miliki.

Hal yang juga perlu diingat dalam penulisan opening cerpen atau novel berdasarkan personal experience adalah pengalaman tersebut haruslah memiliki korelasi erat dengan tema penulisan yang kamu lakukan. Jangan memaksakan diri menulis pengalaman pribadi yang kamu anggap hebat namun tidak memiliki nilai korelasi dengan tema cerita.

Setiap orang tentu memiliki banyak pengalaman pribadi untuk diceritakan. Dan kamu sebagai seorang penulis dapat pula membuat pembuka cerita yang kamu tulis dengan cara ini. Kutip salah satu pengalamanmu dan buat pembaca menjadi lebih merasakan kesannya melalui uraian ceritamu selanjutnya.

Contoh pembukaan cerita pengalaman secara sederhana dapat dilakukan seperti berikut;

Aku pernah tersesat di gunung itu sebelumnya, jadi aku tahu persis apa yang dirasakan para pendaki yang hilang itu sekarang. Berdasarkan pengalamanku, tempat yang akan mereka tuju sekarang adalah Lembah Macan karena lebih landai dan memiliki sumber air. Akan tetapi tempat itu juga sangat mengerikan jika mereka menyadarinya.

Membuat Opening Cerita dengan Perasaan atau Apa yang Kamu Rasakan

Photo by Khoa Vu00f5

Nah, cara yang terakhir dalam membuat opening cerita adalah dengan melukiskan perasaanmu sendiri terhadap tema yang kamu angkat. Ini benar-benar lebih kepada sisi emosional dan perasaan semata. Dan sebaiknya, kamu tidak menambahkan banyak analisa yang mendalam saat mempraktikkannya.

Contoh pembukaan novel atau cerpen dengan metode perasaan atau ungkapan perasaan adalah sebagai berikut;

Apa yang dilakukan oleh Fitri benar-benar membuatku tersinggung. Ia sama sekali tidak menganggapku ada. Suratku tak dibalasnya, salamku tak dijawabnya. Aku sudah menghubunginya melalui facebook dan whatsapp, tapi juga tidak dihiraukannya. Aku sangat terluka dengan perlakuan gadis itu dan akan kubalas dia dengan caraku sendiri. Lihat saja nanti apa yang akan terjadi.

Baca juga:

Nah, itu adalah beberapa metode sekaligus tips dalam membuat opening cerpen yang menarik. Tentu saja kamu dapat pula menerapkan berbagai tips tersebut dalam penulisan cerpen, artikel, atau novel sekali pun.

Hal yang paling kamu butuhkan supaya mahir dalam melakukannya adalah dengan berlatih terus menerus. Semakin banyak kamu berlatih maka kamu akan semakin pandai. Dan pada akhirnya kamu akan mampu pula menghasilkan sebuah tulisan atau cerita yang langsung bisa menarik perhatian pembaca hanya dari kalimat pembukanya saja.

Jadi, selamat mencoba, ya!

CONTOH CERPEN ANAK; DOMPET MERAH MUDA DARI KAK HANUM

Menulis cerpen anak yang baik tentu saja memiliki keunikannya tersendiri. Dalam menulis cerpen untuk anak, ada beberapa hal penting yang tidak dapat dilupakan. Beberapa hal penting tersebut misalnya adalah bahwa cerpen haruslah berfokus pada dunia anak, dapat dimengerti dengan mudah oleh anak, dan memiliki pesan moral yang dapat diambil oleh anak setelah mereka membacanya.

Nah, berikut adalah salah satu contoh cerpen anak yang memiliki kriteria tersebut. Kamu bebas menggunakan cerpen ini untuk Napa pun yang kamu inginkan. Namun, tentu saja kamu juga harus mencantumkan nama penulis asli dan sumbernya, ya.

Semoga bermanfaat.

Note: Tulisan dan buku karya dari penulis blog ini bisa juga Anda baca atau download dengan mudah melalui tautan berikut ini.

CONTOH CERPEN ANAK: DOMPET MERAH MUDA DARI KAK HANUM

Source: Freepik

DOMPET MERAH MUDA DARI KAK HANUM

Oleh: Wan Bong

Riyas duduk di serambi rumahnya dengan gundah, matanya menangkap setiap sosok orang yang berlalu-lalu di balik pagar dengan tatapan kosong. Di tangannya, Riyas menggenggam sebuah dompet kecil berwarna merah muda. Dompet itu pemberian Kak Hanum sekitar satu tahun yang lalu. Kak Hanum bilang kalau dompet itu bisa digunakan oleh Riyas untuk menabung atau untuk apa pun yang disukai oleh Riyas.

“Hey!”

Lamunan Riyas buyar seketika saat suara Kak Doni yang baru keluar dari pintu depan mengagetkannya

“Apa sih, Kak Doni ngagetin aja” sungut Riyas kesal

“Ngapain ngelamun? Nanti kamu ketempelan, lho”

Kak Doni berdiri sebentar di depan Riyas yang masih jengkel. Ia memang senang kadang-kadang mengusili adik bungsunya itu. Entah mengapa, kayaknya Kak Doni menemukan sebuah kegembiraan yang besar saat melihat Riyas kesal, jengkel atau pun marah. Walah tentu saja setelah itu, Kak Doni akan segera meminta maaf sambil kadang-kadang menyempurnakan permintaan maafnya itu dengan cubitan sayang di pipi Riyas.

“Ngomongnya ngawur nih, Kak Doni. Mana ada ketempelan kalau bulan puasa. Semua setan-setannya kan, lagi dikurung sama Allah”

Kak Doni nyaris terbahak mendengar argumentasi adikknya itu. Ketempelan adalah sebuah istilah yang digunakan oleh masyarakat di kampung Riyas yang maknanya sama dengan istilah kerasukan dan semacamnya.

“Atau kamu laper, sudah nggak kuat puasanya?” ganggu Kak Doni lagi.

“Ihh…, Kak Doni kok nyebelin banget, sih?”

Riyas tambah merajuk. Ia ingin bangkit dan memukul-mukul Kak Doni, seperti yang biasa ia lakukan jika diusili kakaknya itu. Tapi sore ini entahlah, Riyas malas melakukan itu. Ini bukan karena puasa atau karena badannya merasa lemah dan perutnya kosong, sebuah kemelut dalam benaknya membuatnya hanya beranjak dari duduk dan meninggalkan Kak Doni yang masih tertawa-tawa.

Melihat adiknya yang tak seperti biasanya, Kak Doni megerenyitkan dahi. Tak biasanya Riyas berlaku seperti ini, pikirnya.

“Iya deh, Kak Doni minta maaf”

Seperti biasa, tangan Kak Doni menjulur ingin mencubit pipi Riyas, tapi Riyas menghindar dengan cepat. Ini tak seperti biasanya, hal yang membuat Kak Doni semakin merasa heran.

“Mau ikut Kak Doni, nggak? Nyari bukaan sambil keliling naik motor?” bujuk Kak Doni kembali.

Riyas bahkan tidak menyahut, ia hanya sedikit menggeleng untuk kemudian masuk ke dalam rumah menuju kamarnya. Tak berapa lama di dalam kamar, ia mendengar suara mesin motor Kak Doni yang berderum pergi.

*

Source: Freepik

Di dalam kamar, Riyas duduk di tepi tempat tidurnya. Dompet merah muda pemberian Kak Hanum itu ia perhatikan lagi, ada sebuah rasa nelangsa di dalam hatinya ketika membuka dompet itu kemudian. Biasanya ketika resleting dompet cantik bergambar tokoh Elsa dalam animasi Frozen itu ditariknya, mata Riyas akan berbinar melihat lembar-lembar uang yang telah lama ditabungnya. Namun sekarang ketika dompet itu terbuka, tak ada lagi isinya kecuali ruang hampa yang kosong.

Lamunan Riyas kembali menerawang, mengingat peristiwa dua pekan lalu ketika ia memutuskan untuk mengosongkan seluruh isi dompet merah muda itu dalam sebuah keputusan berani.

“Bukankah ini uang tabunganmu, Riyas?”

Ibu Hanifah berkata sambil menatap Riyas penuh rasa ingin tahu. Di tangannya, Ibu Hanifah menggenggam lembaran uang cukup banyak yang barusan saja diserahkan Riyas padanya.

“Benar, Bu”

“Mengapa kamu memberikan semuanya? Ibu dengar kamu ingin membeli laptop dengan tabunganmu ini”

“Benar, Bu. Saya ingin membeli laptop untuk menulis cerpen-cerpen saya. Tapi….”

Riyas menghentikan kalimatnya, tiba-tibanya saja ia menjadi terisak.

“Iya, Riyas. Tapi bagaimana, Sayang?”

Ibu Hanifah menggeser duduknya ke dekat Riyas, tanggannya merangkul murid yang ia anggap paling istimewa di kelas itu. Riyas memang bukan peringkat pertama dalam rangking, namun Ibu Hanifah selalu kagum dengan sifatnya yang sangat pemurah dan memiliki empati yang tinggi.

“Tapi, saya tidak tega kalau Andin harus berhenti atau pindah sekolahnya, Bu. Andin sahabat saya dan ia sudah dua minggu tidak memberi saya kabar setelah kejadian itu” ucapan Riyas terbata ditengah isakannya.

Ibu Hanifah menarik napas panjang, sekali lagi ia dibuat kagum dengan pribadi Riyas.

“Kamu memiliki hati yang mulia, Riyas. Insya Allah apa yang kau lakukan ini akan diberi balasan yang paling baik dari Allah. Nanti, uang yang kau titipkan ini akan ibu sampaikan pada Andin dan keluarganya. Semoga apa yang kita lakukan bisa meringankan beban keluarga mereka saat ini”

Riyas tak menjawab ucapan Ibu Hanifah lagi. Ia hanya mengangguk sembari menyeka butir-butir air mata dari pipinya.

Andin adalah murid baru di sekolah Riyas. Dan baik Riyas mau pun Andin, dengan cepat menemukan kecocokan sebagai sahabat sejak hari pertama di sekolah. Mereka sama-sama suka menulis, sama-sama suka membuat puisi, sama-sama suka menghabiskan waktu di sebuah pondok di sawah milik Riyas dan menatap gagahnya gunung Merapi dari sana. Dengan cepat keduanya akrab menjadi sahabat sampai kemudian sebuah berita datang membuat Riyas merasa ia mungkin saja akan kehilangan sahabatnya itu.

“Anak-anak, hari ini kita mendapatkan sebuah berita yang menyedihkan dari salah satu teman kita di sini”

Ibu Hanifah memulai pembicaraan setelah membuka maskernya terlebih dahulu. Proses belajar menagajar sebenarnya masih daring sesuai dengan ketentuan pemerintah. Akan tetapi sekolah diberikan kelonggaran untuk setidaknya melaksanakan proses belajar luring dua kali dalam sepekan dengan tetap menerapkan prosedur kesehatan yang ketat seperti menjaga jarak dan menggunakan masker.

Anak-anak duduk mendengarkan perkataan Ibu Hanifah dengan rasa penasaran. Beberapa di antara mereka ada yang sudah berbisik-bisik, menduga apa yang barangkali akan disampaikan oleh wali kelas mereka.

“Teman kalian, Andin Larasati, baru saja mendapatkan musibah. Rumahnya mengalami kebakaran. Dan yang paling menyedihkan dari musibah tersebut adalah ayah Andin meninggal dunia

Ibu Hanifah menghentikan kalimatnya sebentar, menarik napas panjang kemudian melanjutkan

Kita sangat berbelasungkawa dengan apa yang terjadi kepada Andin ini. Mari kita doakan semoga Andin diberikan kesabaran dalam menghadapi musibah ini”

Anak-anak SD kelas V ini menundukkan kepala mereka, beberapa di antara mereka masih berbisik-bisik satu sama lain. Namun, ketika Ibu Hanifah memulai bacaan surat Al-Fatihah, semuanya terdiam dan khusyu’ mengikuti. Nampak sekali di antara anak-anak itu, Riyas yang sekarang duduk sendirian karena Andin yang tentunya tidak bisa ikut hadir, merasa demikian terpukul. Ia hanya menunduk dan terisak dalam tangis.

“Sebagai teman satu sekolah Andin, Ibu mengajak kalian untuk membantu Andin dengan cara apa saja yang kita bisa. Namun, secara khusus dalam kesempatan ini, ibu mengajak anak-anak sekalian sebagai teman Andin untuk mengumpulkan bantuan yang bisa kita serahkan kepada keluarga Andin”

*

Source: Freepik

Ajakan membantu Andin dari Ibu Hanifah itu sudah berlalu dua pekan. Mereka secara perwakilan juga sudah berangkat menemui keluarga Andin untuk menyerahkan bantuan tersebut. Riyas juga ikut serta saat itu. Akan tetapi saat tiba di lokasi, mereka hanya disambut oleh paman Andin.

“Terimakasih yang sangat dalam atas kepedulian adik-adik dan ibu guru atas musibah yang menimpa Andin. Andin saat ini sudah ke kota Kediri untuk ikut memakamkan ayahnya di sana. Selain itu dengan melihat keadaannya saat ini, ada kemungkinan bahwa Andin akan pindah pula ke kota Kediri”

Mungkin paman Andin tak pandai berbasa-basi, jadi ia langsung saja menyampaikan hal tersebut secara langsung, membuat ibu guru Hanifah dan dua murid yang menemaninya menjadi kaget.

Sejak saat itulah Riyas menjadi murung. Ia takut kehilangan Andin dan Andin pun tidak pernah menghubunginya baik melaui whastapp atau pun facebook. Merasa tidak cukup dengan bantuan yang ia serahkan bersama temannya kemarin, esoknya Riyas mengambil dompet merah muda pemberian Kak Hanum itu dari lemari pakaiannya. Dompet itu adalah dompet kesayangan Riyas, ia mengumpukan uang dan menabung dalam dompet itu. Keinginannya adalah untuk membeli laptop supaya ia bisa juga belajar menulis dengan baik seperti Kak Hanum. Menjelang lebaran rencananya ia akan membeli laptop idamannya karena uangnya sudah mencukupi untuk itu.

Tapi sekarang, setelah dua minggu berlalu, hati Riyas justru menjadi semakin sedih. Ia tak mungkin memiliki laptop karena uangnya sudah habis dan dompet merah mudanya sudah kosong. Lalu yang paling menyedihkan adalah, belum ada juga kabar dari Andin. Sahabatnya itu tetap tak menghubunginya, dan nomornya sendiri sudah tidak dapat dihubungi sejak hari musibah itu terjadi.

“Riyas!”

Suara ibu tiba-tiba menerobos dinding kamar Riyas, membuat lamunan Riyas buyar seketika.

“Dalem, Bu”

Riyas segera bangkit dan bergegas keluar kamar.

“itu Kak Doni sudah pulang, bawa paket buat kamu. Sekalian ayo ke meja makan, sebentar lagi berbuka”

Langkah Riyas tergesa menuju ruang dapur di mana meja makan berada. Di sana, Kak Doni sudah duduk sambil senyum-senyum menunggu kedatangan Riyas.

“Laptopnya buat Kak Doni, ya!”

Riyas mengerutkan dahi mendengar kalimat Kak Doni. Laptop? Maksudnya apaan, sih?

Belum sempat Riyas menjawab, suara ibu kemudian sudah terdengar menjelaskan.

“Kak Hanum kirim laptop buat kamu, katanya supaya kamu semakin rajin menulis dan belajar”

Riyas menganga di antara rasa kaget bercampur senang, ia belum bisa berkata apa-apa mengatasi rasa kagetnya. Tapi, darimana Kak Hanum tahu kalau ia ingin membeli laptop?

“Ibu, Ayah, Kak Hanum dan Kak Doni sangat bangga dengan kamu. Kamu rela melepaskan keinginan kamu untuk membantu orang lain. Ibu Hanifah menceritakan apa yang kamu lakukan kepada Kak Hanum melalui telepon. Dan seminggu lalu, Kak Hanum menelpon Ibu dan mengatakan akan membelikan laptop untuk kamu. Dan sekarang, itu laptopnya sudah datang”

“Dan satu lagi..” tiba-tiba Kak Doni menyambung ucapan ibu.

“Tadi Kak Doni ketemu Ibu Hanifah dan beliau menyampaikan salam untuk kamu. Dan….?” Kak Doni menghentikan kalimatnya, seperti pembawa acara Indonesian Idol menghentikan kalimat mereka saat mengumumkan nama para pemenang.

“Dan apa, Kak?” kejar Riyas tak sabar.

“Dan Ibu Hanifah juga meminta Kak Doni menyampaikan ke kamu kalau Andin tidak jadi pindah ke Kediri. Andin sekarang sudah kembali ke kota ini, dan hari Senin besok kalian bisa bertemu”

Hah!

Riyas melongo semakin kaget, senang dan haru bercampur menjadi satu dalam pikirannya.

“Yang bener, Kak Doni? Beneran Ibu Hanifah bilang begitu?”

Kak Doni tak menjawab, ia hanya mengangkat bahunya sambil tersenyum. Sementara Ibu yang masih berdiri di samping Riyas sekarang merangkul pundaknya dan mendaratkan sebuah kecupan di kening putri bungsunya tersebut.

Entahlah, Riyas harus mengatakan apa sekarang selain bersyukur dan merasa riang. Dan kegembiraan Riyas semakin membuncah kemudian, ketika dari luar suara lantunan azan magrib terdengar berkumandang yang menandakan bahwa waktu berbuka puasa sudah tiba. Dompet merah mudanya memang tetap kosong, isinya memang sudah hilang. Tapi lihatlah apa yang sudah Allah berikan untuk Riyas sebagai gantinya.

***

NB

Tulisan lain dari penulis cerpen ini dapat juga kamu baca disini

7 KEBIASAAN PENULIS SUKSES YANG BISA KAMU TIRU DENGAN MUDAH

Aktivitas menulis membutuhkan latihan dan pembiasaan yang terus menerus. Ada serangkaian kebiasaan penulis yang bisa kamu amati dan tiru untuk mendapatkan semangatnya. Kebiasaan-kebiasaan ini merupakan buah dari konsistensi, tekad dan komitmen yang keras dalam menulis. Pada akhirnya kebiasaan ini membentuk suatu habit yang membedakan kualitas seorang penulis.

Lantas, apa saja kebiasaan seorang penulis yang bisa kamu tiru sebagai modal jadi penulis yang sukses dengan karya-karya terbaiknya?

Yuk, simak penjelasan lengkapnya berikut ini.

7 Kebiasaan Penulis yang Paling Menentukan Kesuksesan Mereka Dalam Menghasilkan Karya Terbaik

Source: Freepik

Penulis hebat tidak pernah tercipta begitu saja. Ada serangkaian proses panjang lagi konsisten yang menjadi habit atau kebiasaan mereka yang dibangun dalam waktu lama. Kebiasaan yang tepat dalam menulis akan memberikan dampak yang besar bagi perkembangan, semangat, dan juga karya penulisan itu sendiri. Untuk itu, sangat penting bagi kamu yang memiliki keinginan untuk menjadi penulis menerapkan kebiasaan positif tersebut sebagai syarat jadi penulis.

Nah, apa sajakah kira-kira kebiasaan positif yang hampir selalu dilakukan oleh setiap penulis berbakat dan kuat?

Berikut ini saya akan mengajak kamu untuk membahasnya satu demi satu. Jadi, pastikan kamu membaca artikel ini hingga selesai, ya.

BACA JUGA:

Menulis dan Membaca Setiap Hari

Source: Rachel Claire on Pexels.com

Kebiasaan pertama yang harus menjadi habit untuk kamu lakukan sebagai seorang penulis adalah membaca dan menulis setiap hari. Membaca dan menulis adalah sesuatu yang sangat penting dilakukan oleh seorang penulis secara konsisten dan sesering mungkin.

Inspirasi seorang penulis dapat dilatih dengan membaca karya orang lain. Sementara bagaimana menuangkan inspirasi itu dalam sebuah karya tulis yang ideal, harus dilatih dengan cara menuliskannya. Di samping membaca dapat memperkaya wawasanmu tentang berbagai hal, kebiasaan ini akan  pula secara signifikan mampu memperkaya pula sudut pandang dalam penulisan yang kamu lakukan.

Jadi, jika kamu ingin menjadi seorang penulis yang sukses dan menghasilkan karya yang berkualitas, kebiasaan penulis pertama yang harus kamu lakukan adalah dengan membaca dan menulis setiap hari. Membacalah secara rutin dan menulislah secara disiplin setiap harinya. Jangan biarkan harimu berlalu tanpa melakukan dua hal utama yang menjadi fondasi setiap dunia kepenulisan ini.

Membuat Jurnal Menulis

Source: Anete Lusina on Pexels.com

Tugas penulis kedua yang harus dijadikan kebiasaan jika kamu sungguh-sungguh ingin menjadi seorang penulis adalah dengan membuat jurnal menulis. Jurnal dalam hal ini dapat kamu artikan sebagai agenda kepenulisan untuk kamu sendiri. Jadi, buatlah agenda menulis yang dapat kamu lakukan secara kontinyu dan konsisten.

Jurnal menulis sebenarnya adalah sebuah plan atau rencana kepenulisan yang dapat kamu susun sendiri sebagai guide line bagimu dalam menulis. Ini semacam rencana-rencana kepenulisan yang memungkinkan kamu untuk mencapai sebuah tujuan secara terstruktur dan sistematis.

Ibarat kerangka atau outline dalam dunia kepenulisan, jurnal menulis juga memberikan kamu sebuah anak tangga yang struktural untuk mencapai suatu tujuan secara lebih terencana dan disiplin.

Mencatat Ide-Ide untuk Proyek Kepenulisan

Source: Meruyert Gonullu on Pexels.com

Kebiasaan penulis profesional dan berkarakter kuat yang ketiga adalah mereka umumnya memiliki catatan mengenai berbagai ide proyek penulisan yang akan mereka laksanakan. Ingat, ini adalah tulisan mengenai ide atau gagasan kepenulisan. Tidak menjadi masalah jika kemudian ide itu hanya muncul di atas kertas dan tidak menjadi kenyataan.

Manusia memiliki keterbatasan dalam mengingat, begitu pula seorang penulis. Dan atas alasan itu pula mereka menggunakan pena mereka untuk melestarikan ingatan mereka. Sebagai penulis kamu tentu memiliki demikian ide-ide kepenulisan yang ingin kamu lakukan. Kamu ingin menulis novel tentang ini, tentang itu, opini tentang sesuatu, puisi atau hanya mungkin status sosial media sekali pun.

Apa pun ide proyek kepenulisan yang kamu miliki, sebaiknya kamu menuliskannya dalam sebuah catatan yang rapi.

Apa yang dilakukan penulis kuat pada umumnya adalah mereka selalu menuliskan ide-ide mengenai proyek menulis yang akan mereka lakukan. Terlepas dari apakah ide itu dapat dilaksanakan atau tidak di kemudian hari, menulis ide pokoknya sendiri ketika hal itu muncul di kepalamu, sangat penting untuk kamu lakukan.

BACA JUGA:

Berani Mengambil Risiko

Source: Cade Prior on Pexels.com

Kebiasaan penulis selanjutnya yang dapat kamu teladani adalah mereka berani mengambil risiko. Hal ini tentu saja dalam konteks penulisan yang dilakukan. Keberanian untuk mengambil risiko ini hadir dalam bentuk yang berbagai macam, mulai dari berani mengambil risiko menulis ide-ide penulisan yang tidak biasa, sampai mungkin saja gaya menulis yang lebih berani.

Apakah semua orang bisa jadi penulis hebat ketika mereka berani mengambil risiko dalam penulisan yang dilakukan?

Tentu saja hal itu tidak menjadi jaminan. Akan tetapi seorang penulis yang memiliki keberanian yang lebih besar untuk memgambil risiko dalam penulisan, memiliki peluang lebih besar untuk menghasilkan karya yang istimewa dan out of the box.

Tetap dalam Rules Outline Saat Menulis

Source: Ann Nekr on Pexels.com

Meskipun berani mengambil risiko dan mungkin saja dapat melakukan sesuatu yang tidak dapat dilakukan oleh orang lain, namun pada saat yang sama penulis juga harus memiliki rules yang jelas. Rules atau aturan ini pada umumnya untuk sesuatu yang bersifat task semata yang artinya, semacam kerangka penulisan yang jelas dan terarah.

Nah, apakah kamu biasa menulis menggunakan kerangka?

Ketika menulis artikel biasa, saya umumnya jarang menggunakan kerangka. Akan tetapi ketika tulisan itu misalnya lebih panjang dan bersifat pillar (dalam konten SEO) saya tetap mengaplikasikan kerangka supaya hasilnya efektif.

Namun, dalam penulisan novel, cerita fiksi, buku-buku dan tulisan panjang lainnya, outline atau kerangka adalah hal yang wajib dilakukan. Dan itu pula yang juga saya lakukan.

Menulis dan Membaca Berbagai Genre

Source: cottonbro on Pexels.com

Kebiasaan selanjutnya yang dapat kamu adaptasikan untuk menjadi seorang penulis yang kuat adalah dengan membiasakan menulis dan membaca banyak genre penulisan. Semakin banyak genre yang kamu ketahui, semakin hebat pula point of view yang bisa kamu kembangkan dalam tulisanmu nantinya.

Ada beberapa penulis yang menolak untuk membaca atau menulis genre yang diluar kebiasaan mereka. Sebenarnya ini kurang tepat dan dapat membatasi diri dari peluang untuk mengetahui sesuatu yang justru bisa memperkaya penulisan yang dilakukan.

Kamu tentu setuju kan, jika seorang penulis  harus berpikiran terbuka atau open minded, terlepas dari genre itu adalah pilihannya atau tidak?

Kritis dalam Mengevaluasi Diri Sendiri

Source: Freepik

Nah, kebiasaan terakhir yang dapat kamu terapkan untuk menjadi seorang penulis yang kuat dan berkarakter adalah dengan kritis kepada diri sendiri. Kamu boleh bergembira dengan pencapaian, kamu boleh senang jika bukumu sudah terbit, tapi tolong jangan berhenti sampai disana. Evaluasi lagi karya tulismu dan kritislah ketika mengevalusinya.

Jika kamu memiliki seorang editor yang detail dan teliti, maka itu adalah sebuah anugrah. Akan tetapi jika kamu adalah seorang penulis soliter seperti saya, jika kamu adalah seorang penulis yang berdiri dalam pena kesendirian ketika menghasilkan karya, maka kamu harus kritis dalam me-review karyamu sendiri.

Pujian bukanlah sebuah masalah. Namun ketika kamu larut dalam pujian dengan memandang karyamu telalu tinggi, maka kamu berpotensi kehilangan sensitivitas untuk membuatnya menjadi lebih kuat dan berkarakter di kemudian hari.

BACA JUGA:

Source: Freepik

Nah, itu adalah 7 kebiasaan penulis yang memiliki karakter kuat yang dapat kamu ikuti. Kebiasaan-kebiasaan ini mungkin saja terasa tidak mudah untuk dipraktikkan pada awalnya. Akan tetapi seiring waktu dan dengan konsistensi yang baik, kebiasaan ini akan membentuk dirimu sendiri menjadi seorang penulis yang kuat pula di kemudian hari, baik dari sisi karakter mau pun karya yang dihasilkan.

Jadi, selamat menulis selalu, ya!

Buat situs web atau blog di WordPress.com

Atas ↑