BEGINI CARA MENULIS AUTOBIOGRAFI DIRI SENDIRI YANG MENARIK

Tidak diragukan lagi bahwa ada banyak orang yang memiliki kisah hidup menarik untuk diceritakan. Bagaimana menceritakan kisah itulah inti dari cara menulis autobografi diri sendiri. Pada praktiknya, bagaimana pun kamu mengemas ceritanya, pembaca harus menemukannya sebagai sesuatu yang berharga untuk ditelusuri.

Sebagai sebuah catatan langsung dari penulis, autobiografi menawarkan tingkat interaksi yang tak tertandingi bagi para pembaca genre biografi. Untuk orang-orang yang suka mempelajari sesuatu dari sosok-sosok yang menonjol dan terkemuka, autobiografi adalah referensi utama yang menjamin orisinilitas pemikiran murni.

Nah, untuk kamu yang memiliki kisah pribadi yang unik dan terpikir untuk menuliskannya dalam bentuk autobiografi, artikel kali ini saya persembahkan untuk membantu kamu mewujudkannya.

Kamu punya kisah hidup menarik untuk dijadikan buku namun bingung cara menuliskannya?

COBA KONSULTASIKAN DISINI

Cara Menulis Autobiografi Diri Sendiri yang Mudah dan Bisa Dilakukan Siapa Saja

Cara Menulis Autobiografi Dalam 8 Langkah Mudah

http://www.penulisgunung.id

Ketika menyebutkan penulisan kisah pribadi untuk diri sendiri, kita akan selalu dihadapkan pada tiga jenis karya sastra untuk dipilih yakni; autobiografi, biografi, dan memoar.

Tentu saja artikel ini akan menguraikan contoh autobiografi dan signifikansi perbedaannya dengan memoar dan biografi. Namun sekarang, untuk membuat perjalanan mempelajari penulisan kisah hidup manusia ini menjadi lebih mudah, mari kita mulai dengan pengertian autobiografi terlebih dahulu.

Jadi, apa yang dimaksud dengan autobiografi itu?

BACA JUGA:

Pengertian Autobiografi

Source: Pexel

Secara lengkap autobiografi dapat diartikan sebagai sebuah penulisan non fiksi tentang kisah hidup seseorang, yang ditulis langsung oleh orang yang bersangkutan melalui sudut pandang dirinya sendiri.

Sederhananya adalah, jika kamu menulis kisah hidup kamu sendiri dalam sudut pandang kamu sendiri, maka itu sudah cukup untuk disebut autobiografi. Namun tentu saja dalam pelaksanaanya, akan ada beberapa hal yang perlu untuk disesuaikan.

Autobiografi sendiri merupakan sub-genre dari biografi yang merupakan kisah hidup seseorang yang dituliskan oleh orang lain. Lebih lengkapnya mengenai apa itu biografi dan bagaimana cara menuliskanya, dapat kamu baca pada tautan ini.

Di kalangan pembaca secara umum, autobiografi adalag sub genre yang sangat populer.

Buku autobiografi yang baru dirilis oleh tokoh terkenal, dapat dengan mudah menjadi best seller dalam waktu yang singkat. Buku Habibie & Ainun yang ditulis oleh Bacharuddin Jusuf Habibie adalah salah satu contoh autobiografi panjang dan populer di Indonesia.

Contoh lainnya yang juga bisa kamu jadikan referensi adalah buku Chairul Tanjung si Anak Singkong yang ditulis oleh Chairul Tanjung sendiri dan disusun oleh Tjahja Gunawan Diredja.

Perbedaan Autobiografi dan Biografi

pertanyaan untuk penulis
Source: Pexel

Perbedaan paling penting antara autobiografi dan biografi adalah penulisnya. Jika autobiografi ditulis secara langsung oleh orang yang bersangkutan atau subyek penulisan, maka biografi ditulis oleh orang lain yang biasanya adalah seorang sejarawan.

Penulis biografi dikenal karena kepiawaian mereka membangun narasi non fiksi yang kuat tentang kisah hidup tokoh yang menjadi subyek penulisan mereka.

Di Indonesia, kamu dapat menemukan banyak contoh untuk penulisan semacam ini seperti;

  • Muhammad; Sang Nabi, karya Karen Amstrong
  • Muhammad; Kisah Hidup Nabi Berdasarkan Sumber Klasik, karya Martin Lings
  • Ayah: Kisah Buya Hamka, yang ditulis oleh anaknya sendiri, Irfan Hamka
  • 100 Tokoh Paling Berpengaruh Di Dunia, yang ditulis oleh Michael Hart (ini adalah contoh biografi singkat)
  • Islamedina; Si Wajah Cahaya, karya Anton Sujarwo (saya sendiri) yang bukunya bisa kamu dapatkan disini.

Di lain sisi, penulis autobiografi dituntut untuk memiliki keahlian penuh dalam mengeksplorasi kisah hidup dirinya sendiri. Ini seharusnya tidak begitu sulit, namun justru tidak banyak buku autobiografi yang popularitasnya bisa menyamai buku biografi secara umum seperti contoh di atas.

Dan salah satu penyebabnya adalah; ada lebih banyak orang yang tidak tahu cara menulis buku autiobiografi untuk diri mereka sendiri.

Perbedaan Autiobiografi dan Memoar

Photo by Daria Shevtsova

Meskipun tidak identik, autobiografi lebih erat kaitannya dengan penulisan non fiksi lain yang disebut dengan memoar. Namun, meskipun autobiografi dan memoar memiliki banyak persamaan, kedua jenis penulisan ini tidaklah identik.

Ada beberapa perbedaan signifikan antara memoar dan autobiografi yang didasarkan pada strukturnya, cakupannya dan juga gaya bahasanya.

Jika autobiografi ditulis langsung oleh subyek, maka memoar pun demikian. Hanya saja dari sisi cakupan penulisan, memoar memfokuskan bagian kehidupan penulis pada periode tertentu saja. Hal ini berbeda dengan autobiografi yang membahas kehidupan subyek secara lebih komprehensif.

Selain cakupan pembahasan, memoar dan autobiografi juga memiliki perbedaan dalam hal gaya bahasa. Ketika autobiografi memfokuskan penulisan kisah hidup subyek pada peristiwanya, memoar akan lebih berfokus pada pengalaman dan perasaan yang dihadirkan dari peristiwa tersebut.

Dapat diambil contoh perbedaan antara penulisan struktur autobiografi dan memoar sebagai berikut;

Seorang tokoh politik dapat menceritakan keseluruhan kisah hidupnya dalam sebuah autobiografi yang dimulai dari kelahirannya, tumbuh dewasanya, dan waktu-waktu ia kemudian dikenal luas oleh masyarakat. Penulisan ini mencakup peristiwa yang menyeluruh dan diceritakan secara kronologis.

Sementara dalam memoar, tokoh politik tersebut mungkin akan menulis secara khusus mengenai pengalamannya dalam pemilihan umum atau masa karir politiknya yang paling cemerlang. Penulisan ini dapat melibatkan emosionalnya secara khusus dimana ia mungkin merasa was-was dengan hasil electroral, dan lain sebagainya.

BACA JUGA:

6 Hal yang Harus ada Dalam Penulisan Autobiografi

Source: Pexel

Autobiografi sudah seharusnya memuat segala hal yang penting dalam hidup penulisnya.

Akan tetapi, hal ini tidak berarti bahwa segala bentuk kenangan kecil harus kamu tuliskan pula. Beberapa kenangan mungkin terasa spesial untuk diri kamu sendiri, namun ketika kamu memilih menceritakannya kepada pembaca atau orang asing melalui autobiografi, kamu harus lebih selektif.

Pada beberapa contoh autobigrafi diri sendiri yang menarik, penulis sekaligus subyek harus mampu mempertimbangkan mana kenangan yang layak ia bagikan kepada pembaca. Jika tidak ada pelajaran dalam kenangan tersebut, atau tidak ada pula korelasinya dengan pencapaian di momen selanjutnya, sebaiknya tidak perlu kamu ikutkan.

Guna mempermudah kamu memilih mana saja bagian dari perjalanan hidup kamu yang dapat dimasukkan dalam autobiografi dan mana pula yang tidak, berikut adalah beberapa hal esensial yang harus ada dalam seriap penulisan autobiografi.

Gambaran Jelas Asal Usul Pribadi Penulis

Photo by cottonbro

Gambaran asal usul subyek atau diri sendiri penulisan autobiografi meliputi kelahiran, kota asal, sejarah keluarga, profil beberapa anggota keluarga inti, juga orang-orang yang kamu anggap paling penting di masa kecil.

Dapat pula kamu tambahkan dalam gambaran asal usul pribadi ini, mengenai saat-saat penting dalam pendidikan yang kamu jalani.

Intinya adalah; bagian ini mendeskripsikan kehidupan dan asal usul pribadi kamu sebagai subyek supaya dapat dikenal pembaca lebih dekat.

Pengalaman-Pengalaman Penting

Penting pula untuk kamu tambahkan sebagai cara menulis karangan autobiografi mengenai pengalaman signifikan yang kamu alami.

Bagian ini dapat menjadi media bagi kamu untuk menjelaskan kepada pembaca tentang pengalaman apa saja yang memberikan kontribusi padamu yang berpengaruh pula pada karakteristikmu di masa sekarang.

Detail Terperinci dari Bagian-Bagian Kehidupan Profesional

Photo by Daniel McDonald

Ini adalah bagian penting dalam penulisan autobiografi dan pada banyak kasus; merupakan titik balik dimana kamu sebagai subyek pribadi dikenal oleh masyarakat.

Bagian ini adalah bagian yang tidak boleh terlewatkan dalam penulisan biografi atau autobiografi.

Dalam cara menulis autobiografi singkat, bagian ini juga merupakan bagian yang paling banyak diceritakan. Sederhananya adalah, ini adalah bagian yang menjadi alasan mengapa orang-orang tertarik membaca kisah hidup yang kamu tuliskan.

Jadi, pastikan kamu menuliskannya dengan sempurna dan penuh perhatian.

Kisah Kegagalan dan Reaksi yang Diberikan

Orang-orang hebat yang menulis autobiografi mereka, sudah pasti orang yang akrab dengan kegagalan. Akan tetapi, bagaimana mereka menyikapi kegagalan adalah alasan mengapa perjalanan hidup mereka kemudian layak untuk dibagikan.

Jika kamu memiliki pengalaman akan kegagalan terhadap sesuatu, bagikan pula tentang hal tersebut.

Namun yang terpenting selain mengisahkan kegagalan tersebut, kamu juga harus memastikan bahwa reaksi kamu terhadap kegagalan tersebut menjadi pelajaran yang bisa diambil manfaatnya oleh pembaca.

Judul yang Menarik

Photo by Polina Zimmerman

Cara menulis autobiografi yang benar selanjutnya adalah dengan memastikan kamu memberikan judul yang menarik dan menggelitik. Kemampuan memilih judul akan sangat menentukan, meskipun kamu adalah tokoh sudah cukup dikenal.

Hindari untuk menggunakan judul-judul yang terlalu datar seperti “Autobiografiku, Kisah Hidupku, Perjalanan Hidupku”, dan yang semacam itu.

Sebagai gantinya, carilah sesuatu yang mengusik rasa ingin tahu pembaca untuk mengambil buku autobiografimu dan membacanya hingga selesai.

Narasi Orang Pertama

Hal terakhir yang harus ada dalam sebuah penulisan autobiografi adalah sudut pandang orang pertama. Jadi, kamu harus bercerita menggunakan kata ganti aku sebagai pelaku karena memang kamulah yang memiliki semua pengalaman tersebut.

Kata ganti orang ketiga memang cocok untuk penulisan biografi tradisional dimana penulisnya adalah orang lain seperti sejarawan atau sastrawan.

Akan tetapi dalam penulisan autobiografi sekali lagi; gunakan sudut pandang narasi orang pertama.

BACA PULA:

Menulis Autobiografi dalam 8 Langkah Sederhana

Photo by Angela Roma

Memulai penulisan buku secara serius seperti autobiografi dan memoar sudah pasti tidak mudah. Jadi, tidak begitu mengejutkan jika banyak orang termasuk kamu misalnya, mengalami kesulitan.

Nah, untuk membuatnya lebih sederhana dan dapat dipraktikkan dengan mudah, kamu hanya perlu mengikuti delapan langkah berikut ini;

Awali dengan Brainstorming

Tidak ada cara paling mudah dan menarik untuk memulai penulisan autobiografi selain dengan melakukan brainstorming atau pengumpulan ide secara spontan terlebih dahulu.

Dalam langkah yang pertama ini, kamu dapat mengingat-ingat semua kisah hidup yang kamu miliki dan menuliskannya secara garis besar. Apa pun kenangan dalam perjalanan kehidupan kamu yang kamu anggap penting dan kamu rasa menarik pula bagi pembaca, tuliskan saja.

Pastikan untuk mengumpulkan semua ide yang lengkap dari awal hingga hari dimana kamu berada saat ini. Masa kecil, pendidikan, keluarga, momen-momen berharga semasa kanak-kanak, semuanya dapat kamu masukkan dalam proses brainstorming.

Walau tidak semua kenangan itu dapat dimasukkan dalam naskah buku autobiografimu nantinya, namun dalam langkah pertama ini kumpulkan saja semuanya.

Buat Kerangka Autobiografi

Source: Pexel

Setelah kamu mengumpulkan berbagai ide dalam perjalanan hidupmu pada tahap brainstorming, kini saatnya untuk memilah-milah mana saja dari ide tersebut yang dapat kamu masukkan dalam autobiografi.

Nah, cara yang mudah dan menyenangkan untuk memilah mana saja ide dan kenangan yang layak masuk dalam autobiografi adalah dengan membuat garis besar cerita atau outline. Kamu dapat menyusun berbagai peristiwa dalam hidupmu secara kronologis berdasarkan tahapan-tahapan yang membentuk dirimu saat ini.

Berbagai episode paling menarik dalam hidupmu, dapat kamu susun pada tahapan outlining ini.

Jika kamu mampu menyusun dan membagikan berbagai peristiwa menarik yang kamu alami sepanjang buku, akan sulit pembacamu untuk tidak menyelesaikan membaca biografimu hingga selesai.

Lakukan Riset

Tidak ada manusia yang dapat mengingat secara mendetail perjalanan hidup mereka secara keseluruhan, terutama pada masa kecil. Jadi untuk menyempurnakannya autobiografimu, kamu tentu saja juga membutuhkan riset atau penelitian.

Untuk mengingat kembali informasi dan detail-detail peristiwa dalam tiap episode hidupmu, kamu bisa melakukan riset dengan mewawancari keluarga, teman dekat atau orang-orang yang memiliki keterkaitan erat dengan episode tersebut.

Tulis Naskah

Source: Pexel

Setelah melewati berbagai tahapan dari brainstorming, outlining dan riset, sekarang kamu siap untuk menggarap naskah pertama dari autobiografimu.

Mantranya dalam tahapan ini adalah; Tuliskan saja atau just write!

Naskah pertama ini mungkin saja sangat panjang lebar, kurang fokus, bertele-tele dan tidak detail membahas peristiwa yang penting dalam autobiografimu. Namun naskah pertama selalu begitu, bahkan untuk penulis profesional dengan pengalaman dan jam terbang tinggi sekali pun.

Jadi, kembali saja ke mantranya; tuliskan saja tanpa harus merasa khawatir.

BACA JUGA:

Ambil Jeda

Photo by Liza Summer

Jika penulisan naskah autobiografimu sudah selesai ditulis, yang harus kamu lakukan selanjutnya adalah melupakannnya untuk beberapa saat.

Maksudnya adalah; istirahatlah dulu dan ambil jeda untuk beberapa waktu.

Kamu membutuhkan pikiran yang segar dan situasi yang fresh saat membaca naskah ulang autobiografimu nantinya. Dan ini tidak bisa dilakukan jika kamu tak mengambil jeda setelah menulis naskah pertamanya selama berbulan-bulan.

Jadi, biarkan benak dan pikiranmu segar terlebih dahulu dengan mengambil jeda.

Koreksi dan Proofreading

Setelah kamu merasa cukup segar kembali dengan mengambil jeda beberapa minggu, saatnya kembali ke naskahmu dan melakukan koreksi.

Dalam penulisan autobiografi seperti ini, fokus yang harus kamu berikan bukanlah kesalahan typo semata. Akan tetapi yang paling penting adalah mengidentifikasi kenangan-kenangan lemah yang tidak seharusnya ada dalam autobiografimu.

Cara menulis struktur autobiografi terbaik dalam tahapan ini adalah dengan memposisikan dirimu sebagai pembaca autobiografi orang lain. Tanyakan pada dirimu sendiri; apa yang kamu inginkan saat membacanya?

Nah, jawaban itu juga yang harus kamu terapkan dalam autobiografimu.

Lakukan Revisi

Photo by Ketut Subiyanto

Setelah berbagai catatan tentang momen-momen lemah yang telah kamu hilangkan dari narasi, sekarang adalah waktunya melakukan revisi.

Ubah semaksimal mungkin yang bisa kamu lakukan. Jika satu bagian membutuhkan tulis ulang, jangan ragu untuk melakukannya lagi. Ini akan menjadi proses yang panjang dan melelahkan.

Namun, bukankah tidak ada pencapaian hebat yang bisa didapatkan dengan mudah? Termasuk pula dalam menulis buku autobiografimu ini.

Untuk menyempurnakan bagian ini, tidak ada salahnya untuk menunjukkan naskah yang kamu tuliskan kepada orang-orang yang kamu percayai pendapatnya. Syukur-syukur jika kamu memiliki kenalan editor profesional, pendapatnya akan sangat berharga untuk kamu pertimbangkan.

Sempurnakan dan Publikasikan

Kamu mungkin akan mengulang proses koreksi, proofreading, editing dan revisi berkali-kali. Tidak ada angka magic untuk membuatnya sempurna, namun meminta pendapat orang lain selalu dapat dijadikan alat bantu yang memadai.

Pastikan kamu meminta penilaian orang baru setelah merevisi naskahmu.

Ini mungkin akan memakan waktu lama dan butuh penyesuaian disana-sini. Namun, tujuan terpentingnya adalah kamu dapat menyampaikan kebenaran kisah hidupmu yang menginspirasi itu tanpa melakukan rekayasa dalam buku autobiografi.

Butuh Bantuan untuk Menulis Autobiografimu?

Photo by Arina Krasnikova

Semestinya dengan semua penjelasan cara menulis autobiografi diri sendiri di atas, kamu sudah langsung dapat mempraktikkannya dengan mudah.

Kamu hanya perlu mengikuti langkah-langkahnya dengan disiplin, untuk kemudian kedisiplinan itulah yang akan membawamu kepada keberhasilan hingga naskah final.

Namun jika kamu masih menemukan kesulitan melakukannya, kamu tentu saja dapat menghubungi www.penulisgunung.id dan meminta bantuan secara profesional untuk menyelesaikan autobiografimu.

Jadi, jangan ragu untuk menghubungi saya, ya.

BACA PULA:



Anton Sujarwo

Saya adalah seorang penulis buku, content writer, ghost writer, copywriters dan juga email marketer. Saya telah menulis 15 judul buku, fiksi dan non fiksi, dan ribuan artikel sejak pertengahan tahun 2018 hingga sekarang.

Dengan pengalaman yang saya miliki, Anda bisa mengajak saya untuk bekerjasama dan menghasilkan karya. Jangan ragu untuk menghubungi saya melalui email, form kontak atau  mendapatkan update tulisan saya dengan bergabung mengikuti blog ini bersama ribuan teman yang lainnya.

Tulisan saya yang lain dapat dibaca pula pada website;

Saya juga dapat dihubungi melalui whatsapp di tautan ini.

Fortopolio beberapa penulisan saya dapat dilihat disini:


APA ITU MEMOAR DAN BAGAIMANA MENULISKANNYA DENGAN MUDAH?

Ketika seseorang merasa salah satu kenangan dalam hidupnya berarti dan penting, ia mungkin akan tertarik untuk menuliskannya menjadi cerpen atau novel. Menulis kisah hidup menjadi sebuah karya sastra adalah definisi sederhana apa itu memoar. Namun memoar tentu saja, jauh lebih menarik daripada sekedar penulisan semacam itu.

Menulis memoar secara teori seharusnya lebih mudah dibandingkan misalnya dengan menulis fiksi. Kamu tidak perlu repot-repot mengarang cerita, membangun konflik, menentukan karakter dan lain sebagainya. Sebagai kisah nyata yang terjadi dalam kehidupan kamu sendiri, memoar tidak memiliki tokoh protagonis selain dirimu sendiri.

Namun ternyata menulis memoar tidak sesederhana kelihatannya. Ini adalah sebuah keterampilan menulis yang bahkan sangat membingungkan bagi beberapa orang.

Nah, artikel kali ini akan membahas penulisan memoar secara spesifik yang dimulai dengan pertanyaan paling awal berupa: Apakah itu memoar?

Kamu punya kisah menarik untuk ditulis menjadi buku tapi bingung cara menuliskannya?

Coba konsultasikan disini

Apa Itu Memoar?: Pengertian dan Penjelasannya

Photo by Suzy Hazelwood

“Tidak ada penderitaan yang lebih besar daripada menanggung cerita yang tak terungkapkan di dalam dirimu”

Maya Angelou

Jika kita membahas apa itu memoar dalam bahasa Indonesia? Maka kita mungkin akan menemukan pengertian yang panjang dan komprehensif. Akan tetapi pengertian memoar sendiri dapat disederhanakan sebagai sebuah kisah nyata yang diceritakan dengan baik dan menarik, seperti pada penulisan fiksi.

Berdasarkan asal katanya, memoar atau memoir disarikan dari kosakata bahasa Perancis yang artinya sendiri adalah; Sesuatu yang ditulis untuk diingat atau dibuat menjadi memorable.

Supaya sebuah tulisan dapat disebut sebagai memoar atau memoir, syarat pertamanya adalah ia harus non fiksi. Selanjutnya memoar juga haruslah berdasarkan ingatan penulisnya yang menjadi karakter utama memoar. Dan yang terakhir, point of view memoar adalah harus dari sudut pandang penulisnya sendiri.

Jadi, memoar adalah sebuah bagian penting dalam kehidupan seseorang yang dituliskan dari sudut pandang pelaku kejadian itu sendiri. Sudut pandang memoar adalah sudut pandang kamu sendiri sebagai orang yang mengalami kejadian tersebut.

Apakah Memoar Sama Dengan Autobiografi?

Photo by Adil

Pada satu titik dan pengertian, memoar terdengar seperti autobiografi. Namun sesungguhnya ini adalah dua karya sastra yang berbeda. Ada beberapa hal penting dalam penyusunan memoar yang  membuatnya tidak sama dengan sebuah autobiografi.

Untuk memperdalam pemahaman tentang memoar itu artinya apa dan apa saja cakupannya? Tidak bisa tidak, kita harus membandingkannya dengan autobiografi.

Seperti yang sudah kamu tahu, autobiografi adalah sebuah penulisan karya sastra paling populer untuk menceritakan kisah diri sendiri. Meskipun demikian, memoar yang juga membahas hal yang sama dalam aplikasinya, setidaknya memiliki lima perbedaan paling mendasar jika dibandingkan dengan autobiografi.

Lantas, apa saja yang membedakannya?

Contoh Memoar serta 5 Perbedaan Penting Antara Memoar dan Autobiografi

Source: Penulis Gunung

Apa itu makna memoar secara sejati mungkin dapat saya ambil contohnya secara langsung melaui 3 judul buku karya saya sendiri.

Buku memoar pertama saya tentu saja adalah Islamedina Si Wajah Cahaya yang terdiri dari dua jilid dengan tebal lebih 750 halaman. Sementara memoar saya yang kedua adalah Mimpi Di Mahameru yang lebih kurang isinya terdiri dari 200 halaman.

Baik novel Islamedina Si Wajah Cahaya atau Mimpi Di Mahameru ditulis berdasarkan kisah pribadi saya sebagai pelakunya dan diceritakan pula dari sudut pandang saya sendiri. Dalam konteks ini, novel Islamedina Si Wajah Cahaya dan Mimpi Di Mahameru adalah bentuk aplikatif sempurna dari pengertian memoar dan contohnya.

Ketika syarat non fiksinya terpenuhi, kemudian ia ditulis pula dengan bahan baku dari kisah yang terjadi pada diri kamu sendiri dan melalui sudut pandang kamu sendiri, maka ia bisa disebut memoar sekaligus autobiografi. Namun khusus untuk buku Islamedina Si Wajah Cahaya dan Mimpi Di Mahameru yang sudah saya terbitkan, maka tentu saja ia adalah memoar.

Mengapa bisa demikian?

Lalu apa yang membuat memoar berbeda dengan autobiografi?

Nah, 5 hal berikut inilah yang menjadi pembedanya.

Struktur Penulisan

Photo by Pixabay

Dalam penulisan autobiografi, kisah yang diceritakan pada umumnya adalah lengkap dan komprehensif. Untuk mendapatkan kesan yang sempurna bagi pembaca, penulisan autobiografi hampir selalu bersifat kronologis.

Penulisan autobiografi bagaimana pun caranya, akan diawali dengan rentetan kejadian dari lahir, tumbuh, dewasa kemudian mencapai titik dimana saat ini sang penulis autobiografi berada. Dengan struktur penceritaan yang lengkap semacam ini, kronologis atau berurutan adalah yang paling tepat untuk penulisan autobiografi.

Nah, itu tidak terjadi dengan penulisan buku memoar.

Meskipun tidak se-komprehensif autobiografi, namun menulis memoar membutuhkan ide yang jauh lebih besar. Dalam penulisan ini kamu harus dapat menangkap dan menyajikan ide cerita yang jauh lebih besar dan dikemas dalam tema tertentu seperti kesedihan, kedewasaan, kehilangan, penemuan jati diri dan lain sebagainya.

Dengan pesan yang jauh lebih tematis seperti ini, maka penulisan memoar harus dilakukan dengan kreativitas supaya pesan ceritanya dapat sampai kepada pembaca. Untuk tujuan ini, struktur kronologis bukan hal yang mutlak dalam penulisan memoar.

Cakupan Pembahasan

Photo by Svetozar Milashevich

Perbedaan kedua antara memoar dan autobiografi adalah ruang lingkup pembahasan.

Dalam penulisan memoar, cakupan pembahasan sangat lengkap dan komprehensif. Penulis akan bercerita bagaimana ia dilahirkan, bagaimana ia menghabiskan masa kecilnya, bagaimana ia menempuh pendidikan dan bagaimana pula ia kemudian sampai pada posisinya sekarang yang mungkin penuh gambaran pencapaian.

Nah, hal ini berbeda dengan memoar.

Memoar hanya akan berfokus pada periode tertentu dalam kehidupan penulis.

Memoar tidak akan akan menceritakan kronologis kehidupan penulisan dari A hingga Z. Seperti pengertian awalnya, bagian tertentu dari kehidupan yang dianggap memiliki nilai untuk diceritakan adalah yang akan ditulis dalam memoar.

Buku Islamedina Si Wajah Cahaya adalah contoh memoar pribadi yang sangat tepat menggambarkan. Dalam buku yang terbagi dalam dua jilid tersebut, saya fokus bercerita fase kehidupan saya antara tahun 2014 hingga 2016. Periode itulah yang saya ceritakan sewaktu Islamedina masih dalam pelukan saya.

Gaya Penulisan

Photo by Ena Marinkovic

Perbedaan memoar dan autobiografi selanjutnya dalam hal gaya penulisan. Autobiografi atau otobiografi akan memprioritaskan pada peristiwa yang terjadi sepanjang kehidupan penulis. Sementara memoar akan menempatkan prioritasnya pada pengalaman apa yang dimiliki penulis terkait dengan peristiwa tersebut.

Ketika menfokuskan pada pengalaman, maka cakupannya akan jauh melampaui peristiwa semata. Dalam pengalaman, kamu juga diharuskan mendayagunakan perasaan, pikiran, refleksi, feeling, imajinasi, intuisi dan lain sebagainya.

Kebutuhan penulisan memoar yang priotitasnya ada pada pengalaman memaksa penulisnya untuk melangkah lebih jauh dari sekedar penulisan formal. Artinya, penulis memoar pun dapat menggunakan teknik penulisan fiksi untuk menggambarkan dialog, adegan atau pun bagian cerita yang lainnya.

Filosofi

Photo by Charlotte May

Penulisan autobiografi bagaimana pun akan berpijak pada fakta dan data-data yang dimiliki. Sebaliknya dalam penulisan memoar, landasan utama penulisan adalah ingatan atau memori yang dimiliki oleh penulis itu sendiri.

Ingatan manusia tentu saja tidak dapat diandalkan akurasinya untuk penyajian fakta-fakta yang komprehensif. Untuk itulah kemudian, memoar akan meminta pembaca untuk tidak terlalu fokus kepada faktanya melainkan kepada kebenaran emosionalnya.

Bahkan pada kesempatan tertentu kadang-kadang, penulis memoar akan secara sengaja meragukan ingatan mereka dan menyampaikan kepada pembaca. Namun pada kesempatan yang sama, penulis memoar juga akan menekanan kebenaran emosionalnya.

Pembaca

Photo by cottonbro

Ketika pembaca memilih autobiografi, mereka mungkin sedang berusaha untuk mempelajari hal tertentu dan sosok-sosok yang populer, menonjol dan terkemuka. Namun ketika pembaca memilih memoar, maka sudah pasti mereka ingin mengalami secara emosional kisah yang diceritakan dalam memoar yang dikemas dalam tema-tema tertentu.

Berdasarkan orientasi pembaca ini, maka memoar cenderung lebih intim, lebih pribadi dan lebih kuat menjalin konektivitas pada perasaan pembaca.

Nah, itu pula alasannya mengapa setiap orang pada hakikatnya dapat menulis memoar.

7 Langkah Menulis Memoir Dengan Mudah

Photo by Ann H

Setelah perbandingan dan perbedaan antara memoar dan autobiografi di atas, sekarang mungkin saatnya bagi kamu untuk menulis memoar.

Namun pertanyaan paling pentingnya adalah; Bagaimana melakukannya?

Nah, untuk membuatnya lebih mudah dan sederhana, kamu cukup melakukan 7 langkah berikut ini saja.

Gunakan Formula ‘Saya Ingat’ untuk Menghasilkan Ide Memoar

Photo by Lisa

Bagaimana pun juga pada banyak bidang, memulai adalah bagian yang paling sulit. Termasuk juga mungkin dalam penulisan memoar.

Kamu mungkin memiliki banyak kenangan istimewa namun justru bingung memilih yang mana yang paling layak untuk dijadikan sebagai memoar. Jika itu yang terjadi, kamu bisa gunakan formula ‘Saya Ingat’ yang bisa membantu kamu untuk memilih mana kenangan yang paling banyak bermain dalam pikiranmu.

Jadi, kamu hanya perlu membuat daftar yang kalimat pertamanya adalah menggunakan kata “Saya Ingat”.

Contohnya begini;

  • “Saya ingat ketika pacar pertama saya memberi saya kado ulang tahun. Itu adalah kado ulang yang pertama dan satu-satunya sepanjang hidup saya”
  • “Saya ingat bagaimana pelukan terakhir yang diberikan oleh ibu saya sebelum saya merantau ke luar kota dan tidak pernah berjumpa lagi dengan beliau untuk selamanya”
  • “Saya ingat tidak ada satu haripun selama perjalanan itu kecuali saya dan dia bertengkar. Benar-benar menyebalkan”

Kamu dapat membuat daftar seperti itu lebih panjang kemudian memilih mana di antara daftar kenangan tersebut yang paling membekas dalam benakmu. Pilih kenangan yang paling kuat memberikan pengaruh emosional dalam dirimu. Dan itu adalah memoar yang paling tepat untuk kamu tuliskan.

Sesederhana itu saja formulanya.

Lupakan Kronologis, Mulailah dari yang Paling Kuat

Photo by Sofia Alejandra

Seperti yang sudah disampaikan dalam strukrur penulisan antara autobiografi dan memoar, maka kamu harus mempraktikkannya disini.

Dibandingkan memulai penulisan memoarmu dengan awalan “pada mulanya, pada suatu hari, atau awalnya”, maka pilihlan untuk langsung menulis bagian yang paling kuat mempengaruhi emosionalmu. Bagian mana dari kenangan yang kamu tidak bisa berhenti memilikirkannya, maka mulailah dari sana.

Dengan memulai dari yang paling kuat, kamu akan dapat memanfaatkan momentum penulisan yang akan lebih mudah untuk diawali. Pada banyak kasus, ini akan membuat para penulis memoar yang baru mencoba menulis untuk pertamakalinya, menjadi lebih mudah menuangkan ide mereka.

Naskah Pertama Selalu Payah

Photo by Brett Jordan

Penulis profesional sekali pun, hampir selalu menghasilkan naskah pertama yang ‘payah’ dalam pekerjaan mereka.

Jadi masksudnya disini adalah, jika naskah awal yang kamu tulis itu terasa sangat aneh, tidak rapi, penuh kesalahan ketik atau typo, tidak teratur dan terdengar kacau, maka itu bagus! Kamu sudah melangkah di jalan yang benar.

Pesan konkritnya adalah jangan mengkhawatirkan naskah pertamamu.

Naskah pertama dalam penulisan apa pun akan selalu demikian, oleh karena itulah ia membutuhkan editing dan revisi. Hal yang paling penting dalam tahap penulisan naskah adalah keep writing. Terus menulis hingga naskahnya sendiri selesai.

Ada pun segala bentuk ‘kekacauan’ yang terjadi didalamnya, nanti kamu akan memiliki waktu yang banyak untuk memperbaikinya.

Beri Waktu Jeda

Photo by Artem Beliaikin

Jika naskah awal buku memoarmu sudah selesai di tulis, maka masukkan ia ke dalam lemari dan kunci setidaknya dalam waktu satu atau dua minggu. Bahkan jika kamu tahan, jangan membacanya sampai setidaknya satu bulan.

Lho, kok begitu?

Setelah hari-hari yang melelahkan untuk menulis naskah, biarkan pikiranmu istirahat sejenak. Biarkan pikiran dan benakmu segar kembali dengan tidak terbayang-bayang oleh kata-kata yang mungkin sudah kamu tetaskan di atas memoarmu. Semakin segar pikiran kamu, maka semakin baik untuk memoarmu nantinya.

Jarak ini disebut sebagai waktu jeda kritis antara menulis dan melakukan revisi.

Dengan mengambil masa jeda yang cukup, pikiran kamu akan lebih terbuka, lebih detail dan lebih mudah untuk melalukan editing dan revisi selanjutnya.

Baca Kembali Naskah Memoarmu

Photo by Thought Catalog

Setelah masa jeda berakhir, kamu boleh kembali membuka file dimana kamu menulis naskah memoarmu. Sekarang kamu dapat membaca ulang tulisan kamu tersebut, dan memberi catatan beberapa hal penting yang mungkin kamu temukan.

  • Apakah pesan perasaan yang ingin kamu sampaikan dalam buku memoar tersebut sudah sampai?
  • Apakah ada kalimat yang ambigu dan terasa membingungkan?
  • Apakah ada bagian-bagian yang tidak tersampaikan dengan baik? Atau sebaliknya; adakah bagian yang mungkin terdengar berlebihan?
  • Apakah struktur penulisan yang kamu gunakan cukup bagus dan mudah dipahami?
  • Dan lain-lain.

Dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan semacam itu, kamu akan lebih mudah membuat catatan revisi untuk memoarmu.

Perbaiki Naskah Buku Memoarmu dan Ulangi Hingga Kamu Merasa Cukup

Photo by Michael Burrows

Banyak penulis, termasuk saya juga, sepakat bahwa tidak ada naskah yang sungguh-sungguh selesai.

Setiap kali membaca ulang naskah yang sudah direvisi berkali-kali itu, akan selalu saya temukan sesuatu yang ingin saya ubah, ingin saya tambahi, ingin saya kurangi, atau bahkan ingin saya hilangkan.

Jika hal itu diperturutkan terus menerus, maka memoar tidak akan pernah terbit.

Jadi, ada kalanya ketika sebuah naskah terasa cukup. Entah apakah didalamnya masih ada yang ingin diubah dan direvisi, namun intuisi sebagai menulis mengatakan dalam hati bahwa itu sudah cukup dan selesai.

Selesai dan saya tidak ingin merevisinya lagi.

Tidak ada angka ajaib dalam melakukan jumlah revisi dan editing naskah. Pelajari intuisimu dan dengarkan instingmu untuk memutuskan apakah naskah sudah selesai atau kamu memang harus melakukan revisi kembali.

Publikasikan!

Photo by Skylar Kang

Langkah terakhir setelah kamu melakukan perjalanan yang panjang untuk melakukan penulisan, baca ulang, revisi, editing dan lain sebagainya, sekarang setelah semuanya selesai, terbitkan memoarmu.

Kamu bisa menggunakan jasa penerbit mayor atau penerbit konvensional untuk menerbitkan memoarmu. Atau jika kamu ingin merasakan kemerdekaan yang lebih fleksibel dalam menulis dan menerbitkan kenangan berhargamu itu, pilihlah self publishing atau penerbitan mendiri.

Mengenai bagaimana melakukan penerbitan mandiri dengan metode self publishing, kamu bisa membaca panduannya disini.

Yuk, Tulis Memoirmu Bersama Kelas Menulis Online di Penulis Gunung ID

Source: Penulis Gunung

Menulis memoar atau kisah hidup pribadi bisa jadi sesuatu yang menantang dan sangat sulit untuk dilakukan. Apalagi jika ini adalah pertamakalinya kamu berkenalan dengan dunia menulis. Namun, bangunlah keyakinanmu bahwa semua orang bisa jika mereka serius ingin melakukannya.

Lihatlah kembali bagaimana kenangan dan memorimu mengajarkan pengalaman yang sekarang dapat kamu ceritakan dan, mungkin bisa menjadi pelajaran buat orang lain. Ini bukan hanya tentang cerita apa yang kamu sampaikan namun, bagaimana kamu menceritakannya.

Namun yang paling penting dari semua itu adalah; jangan pernah menyerah sampai kamu berhasil!

Jika kamu ingin menuliskan memoarmu dengan dipandu langsung oleh penulis berpengalaman, kamu tentu saja dapat menghubungi saya di nomor whatsapp dan kontak yang sudah disediakan.

Saya dengan senang hati akan membantumu.

Berani Coba?

Satu bulan bisa punya buku atas nama kamu sendiri

IKUTI KELAS ONLINENYA DISINI


anton sujarwo

Anton Sujarwo

Saya adalah seorang penulis buku, content writer, ghost writer, copywriters dan juga email marketer. Saya telah menulis 15 judul buku, fiksi dan non fiksi, dan ribuan artikel sejak pertengahan tahun 2018 hingga sekarang.

Dengan pengalaman yang saya miliki, Anda bisa mengajak saya untuk bekerjasama dan menghasilkan karya. Jangan ragu untuk menghubungi saya melalui email, form kontak atau  mendapatkan update tulisan saya dengan bergabung mengikuti blog ini bersama ribuan teman yang lainnya.

Tulisan saya yang lain dapat dibaca pula pada website;

Saya juga dapat dihubungi melalui whatsapp di tautan ini.

https://api.whatsapp.com/send?phone=6281254355648

Fortopolio beberapa penulisan saya dapat dilihat disini:


CARA MEMBUAT KERANGKA NOVEL ATAU OUTLINE NOVEL DALAM 5 LANGKAH SEDERHANA

Baru-baru ini dalam kelas menulis online yang saya bimbing, seorang peserta bertanya tentang bagaimana cara membuat kerangka novel yang baik. Saya kemudian menjelaskan teknis membuat outline novel seperti biasanya. Menariknya, beberapa hari kemudian si peserta ini kembali menghubungi saya melalui nomor whatsapp.

Ternyata ia masih mengajukan pertanyaan yang sama yakni, mengenai cara membuat outline atau kerangka novel. Hal ini membuat saya memutuskan untuk secara khusus menulis artikel tentang menyusun kerangka atau outline novel berikut ini.

Nah, apa saja yang harus kamu ketahui tentang cara membuat kerangka novel atau outline novel?

Yuk, simak ulasannya berikut ini.

Panduan Cara Membuat Kerangka Novel atau Outline Novel yang Mudah dan Sederhana

“Pada akhirnya, karakter atau tokoh-lah yang akan menentukan alur cerita, bukan kerangka atau outline. Jadi, bebaskan sayap imajinasimu selama menulis walau pun kamu sudah memiliki kerangka”

A Wan Bong
Photo by Startup Stock Photos

Tidak semua penulis menggunakan outline dalam gaya menulis mereka. Penulis horor paling populer di dunia seperti Stephen King adalah salah satu orang tidak terbiasa dengan plotting. Namun orang seperti Dan Brown dan J.K. Rowling, justru menganggap outline sebagai sesuatu yang sangat penting dalam menulis cerita.

Kerangka novel adalah seperti denah arsitektur bagunan cerita yang utuh. Outline menjadi gambaran besar mengenai plot, karakter, scene, opening dan ending cerita. Layaknya sebuah peta yang lengkap dengan koordinat, outline akan memandu penulis untuk menulis always on the track.

Meskipun saat ini sudah berkembang banyak aplikasi membuat outline novel yang bisa kamu download dengan mudah, kamu juga harus tahu cara menyusunya secara alami. Dan tidak ada cara terbaik mengetahuinya selain memulainya secara komprehensif. Termasuk dengan memahami pengertian sebenarnya dari kerangka atau outline cerita itu sendiri.

Pengertian Kerangka Novel atau Outline Novel

Photo by pedro

Outline atu kerangka novel adalah sebuah dokumen yang didalamnya terdapat berbagai informasi penting tentang perencanaan penulisan novel. Informasi ini termasuk juga tentang struktur cerita, plot, alur, setting, karakter, dan lain sebagainya.

Outline novel ringkasnya, adalah seperti blueprint atau kerangka (seperti halnya tulang manusia) dari novel yang kamu tuliskan.

Contoh kerangka outline novel dapat memiliki bentuk yang bermacam-macam. Kamu bisa membuatnya dalam bentuk struktur umum, diagram, tabel atau apa pun saja. Outline novel lebih kepada peta pikiran visual mengenai poin-poin penceritaan yang kamu anggap penting.

Dalam membuat kerangka novel, setiap bagian atau poin, cukup kamu tulis dalam bentuk kalimat pendek saja. Poin-poin ini adalah bagian penting dalam momen ceritamu yang kemudian saling berhubungan satu sama lain dalam membentuk alur cerita.

Membingungkan?

Nanti kita akan lihat contohnya, ya.

Keunggulan Menggunakan Outline dalam Penulisan Novel

Photo by Oleg Magni

Dalam dunia kepenulisan, penulis yang menggunakan kerangka atau outline dalam menulis seringkali disebut sebagai plotters. Kata ini tentu saja berasal dari kata ‘plot’. Saya sendiri bahkan memberikan istilah ‘plotting’ dalam kelas menulis yang saya bimbing untuk pekerjaan membuat kerangka seperti ini.

Dari sisi keunggulannya sebagai metode menulis, penggunaan plotting cerita dengan membuat kerangka atau outline setidaknya memiliki 7 manfaat yang paling signifikan.

  • Menjaga cerita yang kamu tulis tetap di jalur yang sudah direncanakan.
  • Membantu penulis untuk memvisualisasikan gambaran cerita secara lebih mudah.
  • Memudahkan kamu untuk melihat arah dalam menyusun adegan cerita.
  • Mampu menyajikan karakter dengan cukup spesifik, termasuk tindakan mereka yang krusial misalnya.
  • Dapat berlaku seperti ‘senter’ ketika penulis mengalami kebutaan dan kebuntuan dalam proses menulis.
  • Memperjelas bagian tengah cerita yang jika tidak disusun, kadang-kadang seolah memunculkan kekacauan.
  • Untuk para penulis pemula, kerangka novel adalah peta yang membantu mereka mengenal jalan apa yang mereka harus mereka tempuh selanjutnya.

Kelemahan Menggunakan Kerangka Novel atau Outline

Photo by Monstera

Meskipun memiliki serangkaian keunggulan, membuat kerangka novel atau outline dalam cerita juga memiliki kelemahan yang oleh beberapa penulis, dianggap fatal.

Stephen King dan Margaret Atwood, dua orang yang disebut-sebut sebagai penulis yang ‘anti-outline’, mengatakan bahwa outline bisa saja bukan ide bagus dengan alasan sebagai berikut;

  • Jika diikuti terlalu dekat, outline bisa terlihat seperti formulasi atau desain yang menjadi jiplakan cerita.
  • Dapat membuat narasi cerita yang kaku karena sudah berfokus pada cetakan outline.
  • Dapat lebih banyak kepada pertunjukan semata dan miskin narasi cerita yang mampu membangkitkan imajinasi dan emosional pembaca.
  • Karakter dalam cerita bisa nampak tidak bertindak secara orisinil atau otentik melainkan hanya berdasarkan panduan plot semata.

Mana yang Terbaik; Menggunakan Outline atau Tanpa Menggunakan Outline?

Photo by Negative Space

Saya pernah membuat contoh kerangka novel pribadi pada buku ke-10 saya yang berjudul Islamedina Si Wajah Cahaya. Uniknya, saya menemukan apa yang disampaikan dalam dua hal di atas adalah benar sekaligus.

Keunggulan-keunggulan outline yang bisa menjadi road map, mampu menjadi pagar supaya cerita tidak keluar dari track, membantu penulis tetap bisa menulis meskipun sedang mengalami kebuntuan. Semuanya sempat saya alami sendiri ketika menulis novel Islamedina, baik untuk jilid pertama mau pun untuk jilid yang kedua.

Pada saat yang sama, saya juga menemukan bukti bahwa apa yang dikatakan oleh Stephen King dan Margaret Atwood juga benar.

Risiko narasi yang miskin, kaku dan nampak kurang otentik tetap membayangi sepanjang penulisan. Namun, karena ini bukan contoh kerangka novel fiksi yang saya sebagai penulis bisa mengembangkannya semau sendiri, saya tentu saja harus mengikuti kisah cerita yang orisinil.

Mengambil kesimpulan dari proses ini, sebagai penulis saya sepakat dengan pernyataan bahwa; Tidak ada cara yang mutlak benar dalam menulis novel.

Artinya, kamu boleh memilih untuk menggunakan kerangka atau memilih untuk tidak mengimplementasikannya. Pada akhirnya, hal ini hanya akan bergantung pada jenis penulis seperti apakah kamu dan, bagaimana gaya penulisan yang paling ideal untuk kamu lakukan.

Bagaimana Cara Membuat Kerangka Novel atau Outline Novel dalam 5 Langkah

Setelah kamu mengetahui berbagai hal mendasar tentang penggunaan outline novel atau kerangka cerita fiksi, sekarang adalah saat untuk mempraktikkannya.

Ini sebenarnya tidak akan begitu sulit, terutama jika  kamu dapat menerapkan 5 langkah paling mendasar berikut ini.

Tangkap dan Tetapkan Ide Besar Cerita (Premis)

Photo by Thilo Lehnert

Sesuai dengan namanya, ini adalah ide besar cerita. Namun dari ide ini juga nantinya, kamu dapat membuat contoh kerangka karangan novel dengan lebih mudah.

Daripada memikirkan formulasi yang membingungkan, cara yang sederhana dalam menangkap premis cerita atau ide besar cerita adalah dengan mengajukan pertanyaan berikut:

  • “Apa yang akan terjadi jika…”
  • “Selanjutnya apa yang mungkin akan berlaku kalau…”
  • Dan semacamnya.

Contoh mudahnya seperti ini;

  • “Apa yang akan terjadi jika seorang mantan penjahat memutuskan untuk bertobat namun ia dililit kemiskinan kemudian ada yang menawarinya pekerjaan sebagai pembunuh bayaran, dan dalam pekerjaan itu sahabat terdekat disiksa sampai mati?” (Jawabannya kamu bisa temukan dalam film Unforgiven yang dibintangi oleh Clint Eastwood)
  • “Selanjutnya apa yang akan berlaku kalau seorang gadis cantik diculik sementara ayahnya adalah seorang mantan marinir yang terbiasa bergaul dengan dunia hitam, sedangkan ia sendiri sudah bercerai dengan ibunya si gadis dan tinggal sendiri di apartemennnya (Taken yang dibintangi oleh Liam Neeson)

Kamu tentu dapat membuat lagi contoh yang seperti itu, bukan?

Photo by cottonbro

Intinya adalah, kamu menemukan dan menangkap ide besar cerita yang akan kamu tuliskan dalam satu kalimat seperti contoh di atas.

Untuk membantumu lebih mudah dalam menangkap premis dan mengubahnya menjadi contoh outline cerita, berikut beberapa pertanyaan yang bisa kamu ajukan;

  • Bagaimana situasi yang terjadi?
  • Siapa sebenarnya yang menjadi tokoh utama cerita?
  • Bagaimana tokoh utama cerita mengalami perubahan dari awal hingga ending novel?
  • Apa yang tokoh utama cerita itu inginkan sebenarnya?
  • Bagaimana tokoh utama cerita mencapai keinginannya? Apa yang ia lakukan?
  • Apakah ada yang menghalangi tokoh utama cerita dalam mencapai tujuannya?
  • Apa sebenarnya yang ingin kamu katakan pada pembaca? Apa pesan ceritamu sebenarnya?
  • Apa konflik terbesar dalam novel?

Tentukan Setting atau Latar Cerita

Photo by Taryn Elliott

Setelah kamu mendapatkan premis, hal selanjutnya yang bisa kamu lakukan sebelum membuat outline adalah dengan menetapkan setting atau latar cerita. Seperti yang kamu tahu, setting dapat berupa tempat, waktu, keadaaan sosial, adat istiadat, keyakinan atau agama, dan lain sebagainya.

Cara membuat outline novel fantasi mungkin tidak akan sama dengan novel fiksi sejarah dimana kamu menggunakan tempat yang nyata. Setting dalam penulisan cerita juga sangat bergantung pada jenis cerita separti apa yang kamu sedang tuliskan.

Jika kamu menulis novel historical fiction dengan setting nyata, kamu harus mampu melukiskannya dengan detail, rinci dan spesifik. Untuk kepentingan ini, kamu dapat melakukan riset sedalam mungkin, termasuk dengan misalnya menemukan foto, dokumen, atau pun yang menjadi gambaran komprehensif setting tersebut.

Cara membuat kerangka novel sejarah dengan setting nyata di dalamnya akan memberikan kamu tugas untuk mampu melukiskan settingnya secara lengkap. Apa yang terjadi pada masa itu, bagaimana karakter cerita menghadapinya, apa yang ia rasakan, apa yang dia lihat dan apa pula yang ia dengar.

Keseluruhan elemen itu akan mampu menggambarkan setting cerita yang lengkap.

Ketahui Karakter atau Tokoh Ceritamu

Photo by cottonbro

Langkah selanjutnya yang harus kamu lakukan lagi setelah setting adalah memvisualisasikan karakter atau tokoh ceritamu.

Jika tema novelmu adalah tentang persahabatan dan tujuan kamu sekarang adalah membuat contoh kerangka novel persahabatan, maka pada langkah ketiga ini kamu harus menjelaskan siapa saja karakter yang akan menjadi bintang dalam novel persahabatanmu.

Hal ini mungkin membutuhkan cukup banyak energi dan antusiasme untuk bisa diwujudkan. Namun sebagai tips-tips untuk membantumu, kamu bisa mengajukan beberapa pertanyaan berikut dalam pengerjaannya.

  • Siapa atau karakter yang mana yang akan menjadi pusat plot novel, yang semua jalan cerita dalam novel itu terkait dengan dirinya?
  • Siapa saja karakter atau tokoh pembantu yang kehadirannya hanya untuk mengisi setting dan melengkapi jalan cerita?
  • Perjalanan seperti apa yang akan dilakukan oleh setiap karakter dalam novel?
  • Pada bagian mana karakter tersebut akan kamu perkenalkan, dan pada bagian mana pula ia akan ditampilkan terakhir kali?
  • Detail apa dari karakter yang akan kamu tampilkan dalam novel dan mengapa kamu ingin menampilkannya?
  • Dan lain-lain.

Dengan mempertanyakan hal-hal tersebut, proses membuat contoh kerangka novel apa pun saja pada langkah visualisasi karakter atau tokoh akan menjadi lebih mudah.

Bangun Plot Novel

Photo by cottonbro

Saya biasanya berhenti pada bagian ini ketika membuat kerangka novel. Timeline berbagai kejadian yang akan diceritakan dalam novel, saya buat dalam poin-poin yang sederhana seperti struktur kelas, kemudian struktur tersebutlah yang saya ubah menjadi novel yang utuh.

Namun untuk membuat penjelasan tentang cara membuat kerangka cerita wattpadd, novel online, offline atau novel jenis apa pun ini lebih lengkap, maka saya ingin kamu juga menerapkan pembagian tiga hal berikut dalam langkah membangun plotnya.

Bagian Awal

Photo by Breakingpic

Bagian ini adalah bagian krusial yang penting untuk kamu dapat menarik perhatian pembaca.

Pada bagian ini kamu harus dapat memperkenalkan siapa saja tokoh cerita, siapa karakter protagonis yang akan menjadi pahlawan, siapa karakter antagonis yang akan menjadi penjahat, dan lain sebagainya. Di bagian awal cerita juga kamu harus mampu mengemukakan pertanyaan dramatis dalam cerita.

Intinya, bagian awal adalah bagian dimana semua yang akan terjadi dalam novel kamu perkenalkan kepada pembaca. Bagian ini sekali lagi, harus membuat pembaca menjadi tertarik.

Bagian Tengah

Photo by Gantas Vaiu

Terus terang, bagian tengah dalam mayoritas novel adalah bagian dimana ketegangan menguap, antusiasme menghilang dan potensi kekacauan seringkali terjadi.

Tapi jangan khawatir, ini terjadi pada hampir semua novel.

Bagian tengah memang seringkali menjadi pelandaian cerita yang justru terasa membosankan. Bahkan saya paling banyak menghadapi gejala writer’s block dalam menulis novel adalah ketika menulis bagian tengah novel.

Namun kabar bagusnya adalah ada satu tips yang bisa kamu lakukan untuk membuat bagian tengah ini tetap merangkak di ‘jalan yang benar’.

Tipsnya adalah dengan mengetahui klimaks atau bagian akhir cerita. Ini mungkin terdengar prematur, tapi dengan mengetahui bagaimana cerita dan novel yang kamu tulis akan berakhir, kamu akan tetap bisa mengatur bagian tengah untuk tetap berjalan pada rute yang jelas.

Bagian Akhir

Photo by Maria Orlova

Kamu tidak perlu membuat ending novelnya terlalu spesifik lebih dulu. Cukup dengan membuat pertanyaan saja misalnya;

  • “Bisakah Tatras mencapai Puncak Tebing Selatan gunung Merapi?” (Merapi Barat Daya – Anton Sujarwo)
  • “Apakah Zainuddin dan Hayati akan bersatu?” (Tenggelamnya Kapal Van Der Wick – Hamka)
  • “Apa yang Bharal akan peroleh setelah melakukan perjalanan hiking terpanjang di pulau Jawa ini?” (MMA Trail – Anton Sujarwo)

Membuat ending novel dan memilih mana jenis ending yang paling tepat untuk kamu gunakan, dapat kamu baca dalam artikel ini: 10 Jenis Ending Novel dalam Penulisan Novel.

Mulailah untuk  Menulis Adegan Novel

Photo by Jonathan Cooper

Bagian terakhir dari langkah dan cara membuat kerangka novel adalah dengan membuat scene atau adegannya.

Pada langkah ini kamu dapat menentukan adegan apa saja yang akan berlangsung pada satu bagian atau bab novel? Siapa saja karakter yang terlibat dalam adegan tersebut? Apakah ada interaksi dan reaksi yang kuat ataukah hanya dialog saja? Dimanakah latar yang digunakan? Apakah latarnya adalah waktu, tempat, budaya, agama, situasi politik, atau apa?

Jika dalam adegan tersebut ada dialog, kamu pun harus memastikan bahwa dialog itu tetap memiliki unsur penting dalam cerita dan tidak hanya menjadi ‘pelengkap kekacauan’ saja. Jika kemudian ada flashback, kamu harus memastikan bahwa flashback yang terjadi juga memiliki peran besar dalam menyempurnakan cerita novel.

Mengenai penulisan flashback dan pertimbangan apa saja yang perlu dilakukan sebelum memulainya, dapat kamu baca dalam artikel ini: Haruskah sebuah novel menggunakan flashback?

Bagaimana Selanjutnya?

Photo by Matthew DeVries

Setelah kamu mempelajari teknis dan panduan menulis kerangka novel atau outline novel dalam artikel ini, perlu juga untuk kamu tahu bahwa pada akhirnya karakter atau tokoh cerita-lah yang akan menentukan plot yang sebenarnya.

Sebagai penulis yang kaya akan intuisi, imajinasi dan insting, kamu juga tidak bijaksana jika sepenuhnya bergantung pada outline atau kerangka novel. Di tengah cerita dan penulisan sambil berpedoman pada garis besar cerita, kamu dapat mengikuti instingmu untuk menulis secara lebih bebas dan nyaman.

Mempelajari cara membuat kerangka novel adalah penting untuk memahami garis besar cerita. Akan tetapi bagaimana pun juga sekali lagi; karakter cerita-lah yang akan menentukan plot novelmu pada akhirnya.


anton sujarwo

Anton Sujarwo

Saya adalah seorang penulis buku, content writer, ghost writer, copywriters dan juga email marketer. Saya telah menulis 15 judul buku, fiksi dan non fiksi, dan ribuan artikel sejak pertengahan tahun 2018 hingga sekarang.

Dengan pengalaman yang saya miliki, Anda bisa mengajak saya untuk bekerjasama dan menghasilkan karya. Jangan ragu untuk menghubungi saya melalui email, form kontak atau  mendapatkan update tulisan saya dengan bergabung mengikuti blog ini bersama ribuan teman yang lainnya.

Tulisan saya yang lain dapat dibaca pula pada website;

Saya juga dapat dihubungi melalui whatsapp di tautan ini.

Fortopolio beberapa penulisan saya dapat dilihat disini:


PROFIL KELAS MENULIS ONLINE DI PENULIS GUNUNG ID DAN TATA CARA BERGABUNG

Saya memutuskan untuk membuka kelas menulis online di Penulis Gunung Id setelah mendapatkan begitu banyak permintaan bimbingan penulisan. Pertanyaan mengenai bagaimana cara menulis, apa yang harus dilakukan, bagaimana tips yang ampuh dan lain sebagainya, hampir setiap hari masuk melalui nomor whatsapp dan email saya.

Nah, dalam artikel kali ini pula, saya akan menjelaskan profil kelas menulis ini dan bagaimana jika kamu tertarik untuk bergabung didalamnya dan belajar bersama.

Ada segudang manfaat dan keunggulan yang bisa kamu dapatkan jika memutuskan belajar di kelas menulis online Penulis Gunung Id ini. Namun, sebelumnya saya akan mengajak kamu berkenalan lebih dulu dengan program yang satu ini.

Apa Itu Kelas Menulis Online Penulis Gunung Id?

Photo by Artem Podrez

Seperti halnya kelas menulis online untuk pemula lainnya, Kelas menulis online di Penulis Gunung Id pun secara khusus diperuntukkan bagi pemula. Untuk kamu yang baru akan memasuki dunia penulisan, ingin menulis buku, ingin menulis artikel, novel, memoar dan lain sebagainya sementara kamu belum memiliki pengalaman sama sekali, kelas ini untuk kamu.

Jadi, kelas menulis online Penulis Gunung Id adalah sebuah bimbingan online untuk para penulis pemula yang ingin serius dalam menulis.

Apakah tujuan kamu ingin menjadi penulis profesional dan fulltime writer seperti yang saya lakukan saat ini, ataukah kamu hanya ingin mengabadikan kisah hidupmu dalam sebuah buku yang menarik dibaca, kelas menulis online Penulis Gunung id adalah tempat yang asyik untuk memulainya.

Apa Saja yang Dipelajari dalam Kelas Menulis Ini?

Photo by Mark Neal

Hal yang kamu pelajari jika bergabung dalam kelas menulis di Penulis Gunung id adalah ilmu kepenulisan dasar. Jika kamu misalnya mengambil spesifikasi kelas menulis buku, maka bagaimana memulainya, menemukan ide, menuliskannya, melakukan editing, proofreading hingga publishing akan kamu dipelajari.

Jika kamu mengambil kelas menulis untuk penulisan cerita kisah pribadi misalnya, maka pelajaran akan difokuskan bagaimana mengubah kisah kamu tersebut menjadi sebuah cerita yang bisa dibaca dalam bentuk buku.

Intinya adalah; dalam kelas menulis online Penulis Gunung id, kamu akan mempelajari materi penulisan dasar tergantung dari jenis tulisan apa yang kamu inginkan.

Apakah Ada Topik Khusus dalam Kelas Penulisan di Penulis Gunung id?

Tentu saja ada.

Untuk permulaan, saya akan membuka dua kelas saja terlebih dahulu yakni; kelas penulisan umum dan kelas penulisan untuk kisah pribadi atau kisah hidup.

Berikut masing-masing penjelasannya.

Kelas Penulisan Umum

Photo by Lisa

Kelas ini ideal untuk kamu yang ingin mengenal dunia penulisan secara umum. Dalam kelas ini kamu akan diperkenalkan bagaimana menemukan ide penulisan, bagaimana mengubahnya menjadi draff, bagimana membuat outline cerita dan lain sebagainya.

Atas persetujuanmu, dalam kelas ini kamu juga bisa meminta untuk mempelajari cara menulis artikel populer, artikel SEO, copywriting dan lain sebagainya.

Kelas ini terdiri dari 3 x pertemuan online dengan durasi masing-masing selama 30 menit.

Biayanya Rp, 125.000

Kelas Penulisan Kisah Pribadi (Private Online Coaching)

Photo by Clem Onojeghuo

Nah, untuk kamu yang memiliki target jelas, arah yang terarah dan tujuan yang sudah bulat, kelas ini adalah untuk kamu.

Dalam kelas penulisan kisah pribadi di Penulis Gunung id, kamu yang bergabung akan diminta untuk memilih kisah hidup paling menarik yang kamu miliki untuk dijadikan buku. Target dari kelas ini adalah kamu mampu mengubah cerita kamu tersebut menjadi lembar-lembar buku yang bisa kamu baca dan bisa kamu hadiahkan kepada orang lain.

Kamu akan diajak menceritakan kisahmu, mencari sudut pandang yang paling tepat, menentukan karakter dan lain sebagainya.

Kelas ini terdiri dari 4 x pertemuan online dengan durasi masing-masing pertemuan selama 30 menit.

Biaya Rp, 275.000

Rp, 525.000 untuk peserta dari luar negeri.

Meskipun kelas online melalui google meet sudah selesai, kamu akan tetap dibimbing hingga naskahmu siap untuk diterbitkan. Bimbingan akan dilakukan melalui aplikasi telegram.

Apa Keunggulan Bergabung di Kelas Menulis Online Penulis Gunung id?

Photo by Sam Lion

Semua kelas menulis memiliki keunggulannya masing-masing. Meskipun baru dan belum menjadi kelas menulis online terbaik, kelas menulis online di Penulis Gunung id memiliki beberapa keunggulan yang menarik, antara lain:

  • Dibimbing langsung oleh penulis berpengalaman dan sudah menulis puluhan buku.
  • Jadwal kelas online fleksibel dan bisa kamu pilih sendiri.
  • Gratis berkonsultasi via telegram hingga buku kamu menjadi naskah dan siap untuk diterbitkan.
  • Dilengkapi sertifikat jika kamu sudah menyelesaikan proses pembelajaran.

Bagaimana Metode Belajar di Kelas Menulis Online ini?

Photo by Andrea Piacquadio

Proses kelas menulis akan berlangsung secara online malalui aplikasi google meet. Setiap akhir sesi kelas, kamu akan selalu mendapat tugas menulis yang akan dievaluasi bersama pada sesi selanjutnya.

Untuk lebih jelasnya berikut beberapa ketentuannya;

  • Kelas berlangsung secara daring atau online melalui aplikasi google meet.
  • Durasi kelas mulai dari 30 menit, 45 menit paling lama.
  • Setiap kelas akan berfokus untuk membahas satu pokok pelajaran yang spesifik.

Bagaimana Cara Bergabung di Kelas Menulis Online Penulis Gunung id?

Photo by cottonbro

Untuk bergabung dalam kelas ini caranya sangat sederhana. Kamu hanya perlu mendaftarkan diri saja melalui beberapa tautan di bawah ini.

Daftar dalam kelas penulis umum

Daftar dalam kelas penulisan kisah pribadi

Atau konsultasi terlebih dahulu mengenai kelas penulisan online melalui whatsapp


anton sujarwo

Anton Sujarwo

Saya adalah seorang penulis buku, content writer, ghost writer, copywriters dan juga email marketer. Saya telah menulis 14 judul buku, fiksi dan non fiksi, dan ribuan artikel sejak pertengahan tahun 2018 hingga sekarang.

Dengan pengalaman yang saya miliki, Anda bisa mengajak saya untuk bekerjasama dan menghasilkan karya. Jangan ragu untuk menghubungi saya melalui email, form kontak atau  mendapatkan update tulisan saya dengan bergabung mengikuti blog ini bersama ribuan teman yang lainnya.

Tulisan saya yang lain dapat dibaca pula pada website;


Buat situs web atau blog di WordPress.com

Atas ↑