15 CONTOH IDE CERITA YANG MENARIK UNTUK GENRE FIKSI ROMANTIS

Jadi, kamu tertarik untuk menulis novel romantis dan sedang mencari ide cerita yang menarik?

Kamu beruntung karena Penulis Gunung baru saja mengumpulkan 15 contoh ide cerita yang menarik khusus untuk genre romantis. Ide ini adalah garis besar cerita yang tinggal kamu kembangkan saja. Dengan sentuhan penulisan yang khas, semua ide cerita romantis ini bisa menjadi mahakarya.

COBA KONSULTASIKAN DISINI

Jika kamu punya kisah hidup menarik untuk dijadikan buku namun bingung cara menuliskannya

15 Contoh Ide Cerita yang Menarik Kategori Fiksi Romantis

Photo by Emrah AYVALI

Menemukan ide cerita dalam menulis fiksi kadang terlihat demikian sulit bagi beberapa penulis pemula, bahkan untuk yang sudah berpengalaman sekali pun. Adanya contoh ide cerita fiksi  akan sangat membantu dalam hal ini. Kamu hanya perlu mengkombinasikannya dengan imajinasimu untuk membangun cerita yang sempurna.

Nah, sebelum Penulis Gunung memberikan 15 contoh ide cerita novel atau cerpen yang bisa kamu gunakan dengan gampang. Yuk, refresh kembali proses dan teknis menulis cerita fiksi romantis.

BACA JUGA:

Apa Itu Novel Fiksi Romantis?

Dari Wikipedia, pengertian fiksi roman digambarkan sebagai rekaan yang menggambarkan kronik karakter secara detail, rinci, dan mendalam. Roman fiksi juga digambarkan sebuah gaya bercerita yang tidak hanya memfokuskan pada bentang waktu karakter utamanya, namun juga secara keseluruhan.

Namun demikian, fiksi selalu dinamis dan tidak ada aturan yang kaku mengekang.

Kamu dapat menulis fiksi sebebas elang  terbang untuk merentangkan imajinasimu. Ide cerita dan bagaimana kemudian kamu menuliskannya, adalah yang akan menentukan kualitas cerita.

Bagaimana Menulis Buku Fiksi Romantis?

Photo by Alejandro Avila

Genre fiksi romantis memang tergolong genre popular dalam penulisan novek fiksi. Namun, itu bukan berarti kamu dapat mengeksekusinya sambil bermalas-malasan. Bahkan pada langkah yang pertama untuk menemukan ide cerita saja beberapa penulis terkadang sudah menemui kendala.

Penulisan cerita romantis fiksi juga tidak dapat diterjemahkan dengan cara-cara yang terlalu klise dan biasa. Tidak ada salahnya dengan mengangkat ide cerita cinta segitiga, hubungan terlarang, cinta ditentang orang tua dan lain sebagainya. Namun, untuk membuatnya lebih dari sekedar menulis kamu harus benar-benar membuatnya menjadi roman yang utuh.

Dan ingat, menulis romantis beda dengan menulis adegan seks atau porno, ya.

Penulis hebat dapat menciptakan romantisme yang sejati tanpa sedikit pun menyinggung aktivitas seksual.

Romantisme yang kuat lahir dan mengikat emosi pembaca, menarik pembaca untuk ikut hanyut dalam cerita, merasakan gelombang imajinasi dan gejolak untuk marah, untuk rindu, untuk dendam dan untuk merelakan dalam waktu sama.

Tentu saja ini tidak mudah, namun dengan contoh ide cerita dan tema yang tepat, kamu akan lebih mudah untuk mencobanya.

15 Contoh Ide Cerita untuk Fiksi Romantis

Photo by Maksim Goncharenok

Setelah kamu bertekad untuk menulis sebuah cerita fiksi romantis secara serius, berikut adalah beberapa contoh ide cerita pendek yang tentu saja harus kamu kembangkan lagi sesuai dengan imajinasimu sendiri.

Kamu bisa memilih salah satu atau mengkombinasikan beberapa di antaranya.

BACA PULA:

Contoh Ide Cerita Fiksi Romantis 1

Tulis sebuah cerita yang menempatkan karakter utama kamu sebagai seseorang yang beranggapan bahwa pernikahan adalah hal sakral, terhormat dan terikat selamanya. Buat prinsip ini dipegang sangat erat oleh karakter utama.

Akan tetapi beberapa waktu kemudian, tiba-tiba muncul seseorang dari masa lalunya tepat di saat sang karakter utama sudah bertunangan dan akan segera menikah dalam beberapa bulan ke depan. 

Bagaimana pun setelah itu, situasinya menjadi sangat jauh berubah.

Contoh Ide Cerita Fiksi Romantis 2

Photo by picjumbo

Tulis sebuah cerita dimana tokoh utama sedang berlibur ke sebuah wilayah terpencil sebagai reward baginya yang telah lulus kuliah dan bersiap untuk mencari pekerjaan atau meneruskan perusahaan keluarga.

Gambarkan bahwa kota kecil itu dalam perkiraan tokoh sebagai tempat yang benar-benar terpencil dan tidak tersentuh. Namun, ia menemukan hal yang mengejutkan setelah tiba di sana. Termasuk berjumpa dengan seseorang yang akan mengubah rencana dan prinsip hidup si tokoh utama selamanya.

Contoh Ide Cerita Fiksi Romantis 3

Tulis sebuah cerita romantis dimana tokoh utama dibesarkan dalam sebuah istana yang ia sendiri akan meneruskan kekuasaan dan pemerintahan. Lingkungan itu menanamkan pandangan hidup bahwa jatuh cinta bagi si tokoh utama adalah sesuatu yang berbahaya dan tidak boleh dilakukan, karena dapat mempengaruhi rencana pemerintahannya.

Hal ini kemudian berubah dengan drastis ketika seorang tamu mereka dari negeri yang jauh datang menghadiri pesta istana sambil memboyong puteri cantiknya.

Contoh Ide Cerita Fiksi Romantis 4

Photo by Valentin Antonucci

Tulis sebuah cerita bagaimana sulitnya untuk melangsungkan pernikahan dalam lingkungan dimana karakter atau tokoh utama cerita tumbuh. Pengantin pria diwajibkan untuk mengumpulkan 500 gram emas dan uang ratusan juta rupiah.

Beruntungnya tokoh utama ceritamu mendapatkan bantuan dari pamannya untuk melangsungkan pernikahan.

Namun ketika hari pernikahan akan berlangsung, paman tokoh utama ditangkap polisi karena kasus perampokan dan pencurian beberapa tahun sebelumnya.

Contoh Ide Cerita Fiksi Romantis 5

Tulis tentang tokoh utama cerita kamu yang menemukan sepasang sepeda tua di tengah hutan. Sepeda itu sudah benar-benar tua sehingga di antara rangkanya yang dirantai telah tumbuh dua batang pohon cemara. Di dalam salam satu keranjang sepeda, tokoh utama cerita menemukan sebuah surat yang dimasukkan ke dalam botol kaca.

Tokoh utama memutuskan untuk mengembalikan surat tersebut kepada pemiliknya, namun ternyata ia menemukan bahwa ternyata surat ini menyimpan cerita yang luar biasa.

BACA JUGA:

Contoh Ide Cerita Fiksi Romantis 6

Photo by jasmin chew

Tulis sebuah cerita dimana tokoh utama cerita adalah seseorang yang mempunyai karir cemerlang di perusahaan. Ia sebentar lagi akan naik pangkat dan dipromosikan. Untuk mencapai hal ini, tokoh utama harus mengorbankan segala sesuatunya, termasuk niatnya untuk meminang kekasih hatinya.

Akan tetapi tanpa diduga-duga, bos perusahaan tempat tokoh utama bekerja datang dan meminta orang baru untuk mengisi posisi yang sebelumnya akan diberikan pada tokoh utama. Tokoh utama pun sangat kecewa dan berusaha keras menjatuhkan si pendatang baru. Namun lama-kelamaan, justru ia jatuh cinta padanya.

Contoh Ide Cerita Fiksi Romantis 7

Tulis sebuah buku dimana tokoh utama dan pasangannya telah hidup bersama semenjak kecil. Namun karena musibah besar, keduanya kemudian terpisah hingga mereka sama-sama dewasa. Dalam sebuah acara tanpa direncanakan, keduanya bertemu bersama calon pasangan mereka masing-masing.

Namun ternyata tokoh utama dan pasangannya masih merasakan kobaran cinta mereka masa kecil. Mereka kemudian berjuang, bertarung untuk bisa hidup bersama kembali.

Contoh Ide Cerita Fiksi Romantis 8

Photo by mali maeder

Tulis sebuah cerita dimana tokoh utama cerita menerima sebuah paket yang salah alamat. Isi paketan tesebut adalah seuntai kalung, selembar sajadah dan setumpuk surat.

Surat-surat tersebut ternyata diperuntukkan kepada satu orang. Isinya penuh dengan kata-kata cinta, harapan, kerinduan, dan cita-cita untuk hidup bersama.

Tokoh itu kemudian memutuskan untuk melakukan perjalanan untuk memberikan surat itu kepada alamat sebenarnya sekaligus juga mencari tahu kehidupan cinta mereka.

Contoh Ide Cerita Fiksi Romantis 9

Tulis sebuah cerita dimana tokoh utama cerita hidup pada zaman perbudakan dan perdagangan manusia. Siapa pun yang terlahir bukan dari golongan kaya dan terpandang, sudah biasa diperjualbelikan sejak usianya 10 atau 15 tahun. Tokoh utama cerita pada usianya yang ke 26 tahun, sudah menjalani kehidupan perbudakan sebanyak 6 kali. Ia menjadi budak dan bekerja keras di berbagai tempat.

Pada perdagangan yang ke-7, ia kemudian dibeli oleh seseorang bangsawan kaya raya dan diajak tinggal di istana mereka. Si bangsawan memiliki puteri yang cantik jelita yang dengan segera jatuh cinta kepada tokoh utama.

Namun status tokoh utama sebagai budak dan puteri itu sendiri sudah akan dipinang oleh saudagar muda yang lain, membuat semuanya menjadi sangat berbahaya.

Contoh Ide Cerita Fiksi Romantis 10

Photo by Tobias Bju00f8rkli

Tulis sebuah cerita yang belatar belakang abad pertengahan dimana kerajaan dan kuda-kuda masih berkeliaran. Tokoh utama hidup dalam lingkungan yang sangat ketat dan tegas memegang peraturan. Siapa pun yang mencuri dan merampok, akan dipenjara seumur hidup atau bahkan dihukum mati.

Suatu ketika seorang pencuri masuk ke rumah  tokoh utama dan menguras barang berharga mereka. Malangnya ia dipergoki oleh tokoh utama.

Bukannya menangkap pencuri tersebut, tokoh utama justru jatuh cinta dengan sang perampok karena mengetahui alasan ia melakukan perampokan dan pencurian.

BACA JUGA:

Contoh Ide Cerita Fiksi Romantis 11

Photo by Johannes Plenio

Tulis sebuah cerita yang menggambarkan bahwa tokoh utama adalah orang yang buta semenjak lahir namun ia memiliki ingatan dan penciuman yang kuat. Pada usia 20 tahun, ia kemudian menjalani operasi donor mata dan bisa melihat.

Di luar dugaan, ia ternyata mendapatkan donor mata dari seseorang yang tidak dikenalnya.

Merasa penasaran, tokoh utama pun melakukan perjalanan untuk mencari tahu siapa yang telah merelakan matanya untuk didonorkan padanya. Tanpa ia sangka, sosok yang mendonorkan mata itu adalah orang yang ia kenal sewaktu kecil dan ketika ia masih dalam kondisi buta.

Contoh Ide Cerita Fiksi Romantis 12

Tulis sebuah cerita dimana tokoh utama lahir dan besar di sebuah kampung kaki gunung yang terpencil. Semasa sekolah dan masa kecilnya, ia membenci seorang anak kecil lain yang selalu membuatnya jengkel dan sakit hati.

Belasan tahun kemudian, tokoh utama merantau di sebuah kota di negara lain untuk bekerja. Namun karena suatu alasan, negara tempat ia bekerja itu kemudian terlibat perang dengan negara asalnya sendiri, yang membuat posisi tokoh utama menjadi tidak aman lagi untuk tinggal di sana.

Dalam pelariannya dari negara tersebut, tokoh utama berjumpa dengan pasangannya yang ternyata adalah orang yang sering membuat ia jengkel pada masa kecil.

Contoh Ide Cerita Fiksi Romantis 13

Photo by Efdal YILDIZ

Tulis sebuah cerpen atau novel dengan tokoh utama yang memiliki kemampuan membaca pikiran orang lain hanya dengan melihat mata mereka. Kemampuan ini membuat ia menjadi sangat populer di perusahaan dan dapat memenangkan banyak perundingan bisnis yang rumit.

Namun kelebihan membaca pikiran ini justru seakan menjadi bencana ketika ia jatuh cinta. Beberapa gadis yang ia sukai ternyata hanya pura-pura menyayanginya padanya. Ia kemudian menjadi sulit mencari orang yang mencintai dirinya dengan tulus.

Akan tetapi semua nampak berubah ketika ia mendapati seorang gadis yang sederhana dan tidak begitu cantik memiliki pikiran yang sangat baik tentangnya. Tokoh utama kemudian harus memilih untuk jatuh cinta dan hidup bersama dengan si gadis sederhana, atau kehilangan kemampuan telepatinya.

Contoh Ide Cerita Fiksi Romantis 14

Tulis sebuah buku tentang cinta sejati yang sangat langka terjadi pada usia anak-anak. Namun bagaimana pun juga, tokoh utama cerita menemukannya. Ia menikah dengan kekasih yang ia cintai sejak kecil dan mereka memiliki anak yang lucu berusia 1 tahun.

Di luar dugaan, takdir ternyata memisahkan rumah tangga tokoh utama cerita.

Dalam sebuah kecelakaan, pasangan tokoh utama meninggal dunia dan meninggalkan tokoh utama hidup sendiri bersama anak mereka. Kehidupan semakin kompleks karena kecelakaan itu ternyata disebabkan oleh seseorang yang ternyata memendam cinta sejati pada tokoh utama semenjak kecil pula.

Contoh Ide Cerita Fiksi Romantis 15

Photo by Lukas Rodriguez

Tulis sebuah cerita dengan tokoh utama yang mendapatkan telepon dari seseorang yang ia sukai di dunia maya. Mereka kemudian berjanji untuk bertemu pada satu waktu yang spesial dimana tokoh utama sedang berulang tahun.

Sayangnya satu hari menjelang momen ulang tahun, tokoh utama kembali mendapat telepon dari seseorang yang mengaku sebagai saudara kembar pasangan dunia mayanya. Telepon itu semakin mengejutkan karena ia mengabarkan bahwa saudara kembarnya telah meninggal dunia.

Tokoh utama mendatangi rumah sudara kembar itu dan menemukan bahwa hampir lima tahun ternyata ia sudah diikuti oleh sang pasangan mayanya.

Bagaimana Selanjutnya?

Nah, itu adalah 15 ide cerita singkat kategori fiksi romantis yang dapat kamu jadikan premis dalam membangun cerita. Dengan penambahan imajinasi yang kaya, kamu dapat membuat ceritanya semakin menarik dan luar biasa.

Akan tetapi jika kamu masih mengalami kesulitan untuk menulis dan mengembangkan ceritanya, kamu tentu saja dapat menghubungi Penulis Gunung dan meminta bantuan di kelas menulis online. Di kelas ini, kamu akan dipandu sampai berhasil menulis naskah buku novelmu untuk diterbitkan.

Jadi, jangan ragu untuk menghubungi Penulis Gunung, ya.

BACA PULA:

Kamu siap satu bulan punya buku atas nama sendiri?

Ikuti kelas onlinenya disini


anton sujarwo

Anton Sujarwo

Saya adalah seorang penulis buku, content writer, ghost writer, copywriters dan juga email marketer. Saya telah menulis 15 judul buku, fiksi dan non fiksi, dan ribuan artikel sejak pertengahan tahun 2018 hingga sekarang.

Dengan pengalaman yang saya miliki, Anda bisa mengajak saya untuk bekerjasama dan menghasilkan karya. Jangan ragu untuk menghubungi saya melalui email, form kontak atau  mendapatkan update tulisan saya dengan bergabung mengikuti blog ini bersama ribuan teman yang lainnya.

Tulisan saya yang lain dapat dibaca pula pada website;

Saya juga dapat dihubungi melalui whatsapp di tautan ini.

Fortopolio beberapa penulisan saya dapat dilihat disini:


BEGINI CARA MENULIS BUKU CERITA ANAK DALAM 9 LANGKAH MUDAH

Jadi, kamu tertarik untuk menulis buku cerita untuk anak-anak?

Bagus, artikel kali ini akan mengajak kamu untuk mengenal cara menulis buku cerita anak dalam 9 langkah paling gampang diterapkan. Dengan langkah-langkah ini, kamu pasti akan lebih mudah menyelesaikan buku cerita anak yang ingin kamu tuliskan.

Namun, sebelum membahas langkah-langkah teknis cara menulis buku anak, kamu juga perlu tahu bahwa segmentasi usia anak sama sekali tidak sesederhana kelihatannya. Beberapa penulis bahkan mengatakan bahwa menulis buku untuk anak-anak, sebenarnya jauh lebih menantang dibandingkan menulis buku untuk orang dewasa.

Benarkah demikian?

Yuk, simak ulasan lengkapnya berikut ini.

Kamu punya kisah hidup menarik untuk dijadikan buku namun bingung cara menuliskannya?

COBA KONSULTASIKAN DISINI

Panduan Cara Menulis Buku Cerita Anak dalam 7 Langkah Super Mudah

Photo by Lina Kivaka

Menulis buku anak memiliki banyak tantangan yang menarik. Ketika kamu tertarik menulis cerita untuk anak-anak, kamu harus mempertimbangkan usia mereka, cara berkomunikasi mereka, dan mungkin juga imajinasi dan psikologi mereka.

Dalam praktiknya, cara membuat buku cerita anak hampir selalu bersandingan dengan ilustrasi berupa gambar yang menarik. Jadi, selain memiliki kekuatan cerita yang mampu diterima oleh anak-anak, buku itu juga harus menarik karena gambarnya. Hal ini juga tentu saja menjadi tantangan jika ternyata kamu tidak begitu mahir dalam menggambar.

Beruntung, semuanya memiliki jalan keluar. Termasuk juga dalam mempersiapkan gambar atau ilustrasinya. Kamu misalnya bisa mengajak seorang pelukis untuk menambahkan gambar pada ceritamu. Kesepakatannya dapat kamu sepakati sendiri, apakah kamu membeli gambar atau pun berbagai hasil penjualan.

Nah, sambil kamu mempelajari cara membuat buku cerita bergambar untuk anak-anak, sembilan langkah berikut akan memudahkan kamu dalam menjalani prosesnya.

BACA PULA:

1. Temukan Ide yang Relevan untuk Anak-Anak

Photo by cottonbro

Ketika kamu menulis buku cerita untuk anak-anak, maka kamu harus memperhitungkan dua kelompok yang akan menilai ceritamu di pasaran.

Kelompok pertama adalah anak-anak itu sendiri, dan yang kedua adalah orang tua mereka. Jika kamu menulis buku untuk anak di usia dibawah 15 tahun, sebelum buku masuk ke kamar anak-anak, orang tua mereka akan menilainya lebih dulu.

Meskipun demikian, prioritas utama kamu menulis tetaplah harus anak-anak, bukan orang tua mereka. Anak-anaklah yang akan tumbuh bersama buku dan cerita yang kamu tuliskan. Anak-anak pula yang akan tahu, seberapa hebat kisah yang kamu ceritakan mampu menginspirasi mereka.

Dikarenakan buku ini ditulis untuk anak-anak, maka langkah pertama yang harus kamu lakukan adalah pastikan bahwa ide ceritanya relevan untuk kehidupan mereka. Namun pertanyaannya kemudian adalah; bagaimana menemukan ide yang relevan untuk anak-anak?

Sebenarnya tidak sulit. Kamu dapat memvalidasi ide tersebut ideal atau tidak untuk anak-anak dengan dua hal yakni; Ajukan beberapa pertanyaan yang relevan untuk memverifikasinya dan pastikan idenya universal.

Beberapa Pertanyaan untuk Ide Buku Cerita Anak

Photo by Jessica Lynn Lewis

Untuk memastikan bahwa ide penulisan kamu memang layak untuk anak-anak, kamu dapat mengajukan beberapa pertanyaan berikut;

  • Tentang apa cerita yang dituliskan?
  • Mengapa kamu merasa perlu menceritakan kisah tersebut?
  • Apakah ide dan tema cerita ini ada hubungannya dengan anak-anak?
  • Apakah ide cerita ini laku di pasaran?
  • Apa pesan moral cerita ini untuk usia anak-anak? Dapatkah mereka menangkapnya?

Pastikan Ide Ceritamu Umum (Universal)

Kemasan cerita anak-anak bagaimana pun bentuknya, selalu memiliki tema inti secara universal. Kamu bisa memilih beberapa tema yang kamu rasa paling tepat untuk kemudian dituturkan dalam bahasa yang dapat dimengerti oleh anak-anak.

Beberapa tema yang biasa diangkat misalnya adalah persahabatan, setia kawan, kerja keras, ketekunan, kepatuhan kepada orang tua dan lain sebagainya.

2. Pilih Usia Pembacamu

Photo by Janko Ferlic

Langkah kedua cara menulis buku cerita untuk anak adalah dengan memilih usia yang spesifik target pembacamu.

Seperti yang mungkin kamu tahu, usia antara 0 hingga 18 tahun, pada umumnya masih dikategorikan sebagai anak. Nah, segmentasi usia ini pula yang harus kamu pahami supaya ceritamu tepat sasaran.

Dengan bentang usia yang demikian lebar ini, uniknya buku anak membutuhkan struktur, jumlah kata dan model penulisan yang berbeda-beda pula. Ketika balita masih lebih tertarik pada gambar, maka remaja mungkin akan lebih tertarik pada novel yang ringan tentang cinta pertama.

Intinya adalah; sesuaikan ceritamu dengan usia pembaca spesifik yang kamu targetkan.

BACA PULA:

Buku Gambar untuk Usia 0 – 6 Tahun

Photo by Andy Kuzma

Ada dua unsur paling penting dalam penulisan cerita untuk pembaca anak usia ini yaitu; gambar dan cerita. Dua-duanya sama kuat dan harus sama-sama ada dalam naskah buku yang kamu tuliskan.

Pembaca dengan usia ini adalah anak yang baru mengenal buku.

Mereka mungkin hanya akan tertarik pada gambarnya dan orang tua mereka yang akan membacakan ceritanya. Untuk jumlah kata, biasanya buku untuk pembaca usia paling dini ini tidak lebih dari 500 kata saja.

Usia Pembaca Awal untuk 6-7 Tahun

Usia kedua yang bisa kamu tentukan secara khusus untuk menulis buku anak-anak adalah 6-7 tahun.

Usia ini merupakan usia dimana anak menjadi pembaca awal yang mulai mampu mengenal huruf dan menyusun kata-kata. Namun, tetap saja mereka membutuhkan gambar supaya dapat menyusun cerita lebih sempurna.

Jumlah kata yang ideal untuk pembaca anak-anak pada usia ini berkisar dari 2.000 hingga 5.000 kata. Saran lain yang bisa kamu lakukan mungkin adalah dengan menulis bukumu dalam serial sebagai bagian melatih keterampilan membaca anak-anak di usia awal mereka.

Usia Pembaca 7-9 Tahun

Photo by Victoria Borodinova

Selanjutnya setelah melewati usia pembaca awal, anak-anak sudah siap untuk masuk ke era dimana jumlah katanya berkisar dari 5.000 hingga 10.000 kata.

Usia ini kadang disebut juga sebagai usia pembaca buku bab awal. Artinya adalah; anak-anak sudah lebih siap membaca buku dalam bentuk bab namun dengan pengemasan yang lebih ringan tentu saja.

Gambar masih tetap dibutuhkan, namun jumlah dan variasi warnanya mungkin tidak akan sama seperti pada pembaca usia dibawahnya.

Usia Pembaca Menengah 9-12 Tahun

Contoh buku cerita anak yang cocok untuk usia ini adalah karangannya penulis fiksi klasik terkaya di dunia; JK. Rowling.

Harry Potters dan serialnya cukup menarik untuk dibaca pada anak usia ini. Jumlah kata yang ideal adalah 30.000 hingga 50.000 kata.

Meskipun pembaca pada usia ini menginginkan cerita yang lebih maju baik dari sisi prosa mau pun jalan cerita, kamu masih perlu menambahkan gambar untuk membuatnya lebih menarik. Hanya saja jumlah gambar sudah lebih sedikit dan letaknya hanya pada bagian tertentu saja.

Pembaca Remaja 12 – 18 Tahun

Photo by CARLOS ESPINOZA

Nah, ini adalah batu loncatan terakhir antara sastra anak-anak dan dewasa. Jumlah kata untuk usia ini tidak beda dengan jumlah buku sastra untuk dewasa yakni sekitar 50.000 hingga 100.000 kata.

Metode penulisan untuk buku remaja juga tidak jauh berbeda dengan buku umum pada kelas dewasa. Gambar tidak begitu diperlukan lagi, namun tetap dapat diberikan sebagai penguat ilustrasi.

Meskipun sangat identik dengan susunan buku sastra untuk pembaca dewasa, buku remaja harus memiliki ciri khas dalam hal jalan cerita. Pada umumnya jalan cerita dan tema buku remaja akan lebih bertutur mengenai bagaimana menyelesaikan persoalan yang bisa mengubah cara pandang mereka dan juga tentang menemukan jati diri.

BACA PULA:

3. Gunakan Kalimat yang Tidak ‘Merendahkan’ Anak-Anak

Photo by Jessica Lynn Lewis

Langkah selanjutnya setelah kamu memilih usia yang paling ideal untuk pembacamu adalah memperhatikan kalimat yang gunakan. Sedapat mungkin jangan menggunakan kata-kata yang ‘merendahkan’ anak-anak, walaupun tentu saja kamu tidak bermaksud melakukannya.

Lantas, apa sih, yang dimaksud dengan bahasa yang ‘merendahkan’ anak-anak itu?

Bahasa yang ‘merendahkan’ pembaca sebenarnya tidak hanya jangan diaplikasikan pada buku anak-anak, namun kepada setiap buku dengan segmentasi pembaca mana saja. Kalimat seperti ini kadang tersamar dalam susunan kalimat fiksi yang tidak begitu kentara.

Contohnya adalah sebagai berikut;

  • “Kamu memang tidak sepintar Einstein, tapi itu bukan masalah”.
  • “Kamu memang tidak bisa terbang seperti burung Rajawali, namun tidak ada yang salah dengan berjalan kaki”.
  • “Kamu memang bukan seorang puteri raja dari kerajaan kayangan, tapi kamu harus berusaha”.

Kalimat semacam itu umum pada buku novel untuk dewasa. Namun untuk pembaca anak-anak dengan usia mereka yang masih gemerlapan, hal itu akan sangat berpengaruh. Ketika cerita itu dibaca keras (pada umumnya buku anak-anak memang dibaca secara keras) kalimat itu mungkin akan menciderai imajinasi mereka.

Jadi, sebaiknya memang tidak perlu dipergunakan.

Nah, untuk menambah keterampilan dalam hal ini, kamu dapat mempraktikkan tiga hal berikut ini;

Gunakan Kosakata Sesuai Usia

Photo by Eva Elijas

Kamu memang dapat menunjukkan kemampuan dan pengetahuan berbahasamu yang luar biasa pada banyak tempat, tapi ingat, buku anak-anak bukan salah satu di antaranya.

Jangan menggunakan pilihan bahasa yang rumit dan sulit dimengerti. Atau hindari menggunakan istilah yang tidak biasa digunakan oleh anak-anak.

Gunakan Kekuatan Pengulangan

Pengulangan kata dan situasi dapat lebih efektif pada usia anak-anak. Pengulangan semacam ini memberi anak-anak kesempatan untuk mengikutinya dengan mudah.

Di Indonesia, kita mengenal beberapa cerita anak yang cukup familiar dengan konsep pengulangan seperti ini. Majalah anak Bobo atau Bo-Bo, tokoh Rong-Rong dalam cerita Bona dan Rong-Rong, atau malah cerita yang lebih luas cakupannya seperti Chika Chika Boom Boom.

Gunakan Pantun jika Memang Perlu

Menulis cerita anak dengan irama seperti pantun sama sekali tidak ada salahnya, selama kamu bisa melakukannya dengan sempurna. Namun, jika kamu tidak terbiasa menulis cerita dalam bentuk pantun, maka jangan paksakan diri untuk mengaplikasikannya.

Pantun kadang-kadang efektif untuk anak sebagai cara mereka untuk mudah mengingat, namun sayangnya tidak selalu bekerja seperti itu. Jadi pesannya adalah sebelum kamu menggunakan pantun; pastikan itu menarik untuk diingat dan dimengerti oleh anak-anak.

BACA INI JUGA, YUK

4. Ciptakan Karakter yang Mudah Diingat Anak-Anak

Photo by Pixabay

Langkah selanjutnya atau yang keempat sebagai cara membuat buku cerita sendiri untuk anak-anak adalah dengan memastikan karakter cerita atau tokoh yang kamu ciptakan mudah diingat oleh anak-anak.

Bagaimana contohnya?

Sekarang coba kamu ingat-ingat lagi karakter-karakter berikut ini;

  • Upin dan Ipin
  • Kancil dan Buaya
  • Bobo
  • Harry Potter
  • Rapunzel
  • Puteri Salju, dll

Muncul pertanyaan; bagaimana penulis mampu menciptakan karakter yang demikian kuat diingat oleh anak-anak seperti itu?

Menariknya adalah, kamu bisa mempelajari caranya dengan menerapkan tiga tips berikut ini;

Buat Karakter Protagonis Lebih Tua dari Usia Pembacamu

Mantra pertama yang bisa kamu terapkan untuk membuat karakter yang memorable untuk anak-anak adalah dengan menciptakan karakter yang usianya lebih tua dari target pembaca. Jadi, jika usia target pembacamu adalah anak-anak usia 6 hingga 7 tahun, maka kamu bisa membuat karakter protagonisnya ada pada usia 9 atau 10 tahun.

Hal ini menjadi menarik bagi anak-anak karena mereka berusaha menjadikan karakter tersebut sebagai sesuatu yang bisa diikuti dan dijadikan panutan.

Untuk lebih mudahnya, kamu bisa melihat contoh berikut ini;

  1. Karakter Harry Potter yang berusia 11 tahun menjadi ideal untuk pembaca anak-anak pada usia 6-9 tahun.
  2. Karakter Ramona Quimby yang berusia 8 tahun, dan ia cocok untuk pembaca anak-anak yang berusia 5 hingga 7 tahun.

Buat Karakternya Manusiawi

Photo by RODNAE

Dalam penulisan untuk pembaca segmentasi usia berapa pun, karakter yang diciptakan haruslah manusiawi. Manusiawi artinya karakter tersebut tetap memiliki batasan-batasan, kelebihan, kekurangan, motivasi, konflik dan lain sebagainya.

Memahami cara bikin buku cerita anak dengan menciptakan karakter yang manusiawi juga akan membantu anak-anak untuk memahami keterbatasan. Dan pada perkembangannya, mengajari mereka pula untuk belajar menerima dan mengatasi keterbatasan tersebut.

Sempurna Sama Dengan Hambar

Catatan terakhir untuk kamu yang akan menciptakan satu karakter fiksi cerita anak-anak adalah dengan menghindari menciptakan karakter yang sempurna.

Maksudnya adalah jangan membuat karakter sempurna di segala hal dan tidak memiliki kekurangan dan keterbatasan. Karakter seperti ini sangat tidak efektif, tidak bisa menciptakan konflik, dan cenderung membosankan atau hambar.

5. Tuliskan Naskah Pertamanya

Photo by cottonbro

Langkah selanjutnya sebagai cara menulis buku cerita untuk anak-anak adalah dengan mulai menuliskannya.

Setelah mendapatkan temanya, menetapkan target usia pembacanya, menciptakan karakternya, langkah kelima akan membawa kamu pada proses yang serius yakni menuliskannya.

Jangan terlalu berharap banyak pada naskah awal, karena ini hampir selalu berantakan.

Namun itu adalah situasi yang normal.

Naskah awal yang berantakan adalah hal umum, bahkan untuk penulis profesional dengan pengalaman dan jam terbang tinggi sekali pun. Jadi mantranya adalah, jika hal ini terjadi pada kamu juga, just keep moving, kamu sudah ada jalan yang benar.

BACA JUGA:

6. Beri Jeda Sejenak dan Tulis Ulang

Photo by Pixabay

Walaupun kamu menulis buku cerita untuk anak-anak yang notabene konfliknya ceritanya sederhana, kamu tetap butuh jeda untuk bisa melakukannya dengan sempurna. Jadi ketika naskahmu sudah selesai, ambilah napas sejenak dengan sama sekali tidak menyentuh naskahmu selama satu dua hari.

Setelah kamu merasa cukup segar untuk kembali menulis, sekarang kamu dapat membaca ulang naskahmu dan mulai melakukan revisi.

Tulis ulang beberapa bagian yang kamu anggap kurang tepat, atau kurang mencapai target yang sudah kamu tetapkan. Pada tahap ini kamu dapat menyusun ulang, menulis revisi atau bahkan membuang beberapa bagian yang tidak relevan.

Tentu ini adalah pekerjaan yang tidak mudah dan melelahkan. Namun, kamu dapat berfokus pada beberapa hal berikut untuk membuat prosesnya jauh lebih mudah.

  • Tulis Apa pun yang Kamu Inginkan, Namun Pastikan Relevan dengan Pembacamu. Misalnya begini; kamu ingin menulis cerita tentang pengkhianatan dan ketidaksetiaan. Jadi, untuk anak-anak kamu bisa membuat pengkhianatan ini datang dari sepasang sahabat dan teman baik, bukannya sepasang kekasih.
  • Tetapkan Satu Pesan Utama Cerita. Untuk pembaca anak-anak, pesan cerita yang sederhana adalah keharusan. Apalagi jika target pembaca bukumu adalah anak-anak dengan usia di bawah 15 tahun. Jika pesannya cukup kompleks, sebaiknya kamu mengemasnya dalam serial.
  • Beri Bonus Hiburan Pada Orang Dewasa. Fokus terahir yang bisa kamu lakukan untuk menulis buku cerita anak yang menarik adalah dengan menyisipkan hiburan untuk orang tua mereka sendiri. Tentu ini bukan hal yang prioritas. Akan tetapi jika kamu mampu melakukannya, ini akan menjadi nilai tambah yang menarik.

7. Editing!

Photo by Caio

Setelah menulis ulang dan memperbaiki disana-sini, kamu masuk pada tahap yang semakin tidak mudah dalam proses menulis buku cerita anak yakni, mengedit.

Editing adalah bagian yang cukup serius dan membutuhkan energi ekstra. Proses ini akan memaksa kamu untuk membaca ulang, mengedit dan mengulanginya lagi sampai kamu merasa benar-benar lega.

Nah, supaya hal ini tidak terlalu kelihatan menakutkan, berikut beberapa langkah yang bisa kamu terapkan.

Tidak Ada Masalah dengan “Kejam” Saat Mengedit

Semakin pendek dan sederhana sebuah cerita, semakin bagus itu untuk anak-anak.

Anak-anak tidak membutuhkan cerita yang terlalu rinci dan mendetail. Jika satu kalimat yang kamu hapus tidak mempengaruhi cerita dan tetap mampu menyampaikan pesan cerita dengan baik, maka hapus saja.

Dan lakukan hal itu pada bagian-bagian lainnya pula.

Bagikan dengan Komunitas dan Pembaca Beta

Photo by Anastasia Shuraeva

Tips kedua yang sangat berguna dalam mengedit supaya kamu dapat menciptakan buku cerita anak yang bagus adalah dengan membagikan kepada satu komunitas dimana terdapat pula target pembacamu disana.

Komunitas ini tentu saja misalnya dapat kamu temukan di group facebook, instagram, whatsapp, atau bahkan lingkungan rumahmu sendiri.

Pembaca beta atau pembaca uji coba akan memberikan feedback yang paling kamu butuhkan. Dan karena target pembacamu adalan anak-anak, maka tentu pembaca betamu juga adalah anak-anak. Menariknya lagi, anak-anak adalah pembaca paling jujur yang akan memberikan feedback ceritamu secara polos dan jujur pula.

Jadi, pastikan kamu mendengar pendapat mereka.

BACA JUGA:

8. Temukan Ilustrator dan Editor yang Profesional (Jika Kamu Memang Membutuhkannya)

Photo by Michael Burrows

Setelah naskahmu sudah jadi dan kamu sudah menempuh semua langkah di atas tapi malangnya kamu masih merasa ada yang kurang, maka sekarang kamu harus meminta bantuan pada ahlinya; seorang editor buku anak profesional.

Jika kamu memiliki kenalan, maka ini akan lebih mudah untuk dilakukan. Namun jika tidak, kamu mungkin harus mengeluarkan sedikit biaya untuk investasi cerita yang sempurna. Tidak ada salahnya dengan hal itu, bukan?

Kemudian pastikan pula dalam langkah ini apakah kamu memerlukan jasa seorang ilustrator atau tidak?

Untuk buku-buku remaja dengan pembaca yang sudah hampir memasuki usia dewasa, kamu mungkin tidak begitu membutuhkan ilustrator. Namun untuk buku anak-anak dengan usia di bawah 10 tahun, ilustrasi adalah setengah dari cerita.

Nah, jika kamu memang membutuhkan ilustrator, kamu bisa mendapatkannya melalui berbagai platform situs freelance. Ada banyak ilustrator hebat disana yang bisa kamu ajak bekerjasama.

Atau jika kamu suka tantangan, kamu tentu saja juga boleh mencobanya sendiri dengan belajar cara membuat ilustrasi buku cerita anak yang bagus dan efektif.

9. Terbitkan Buku Cerita Anak Karyamu!

Photo by Yan Krukov

Ini adalah langkah final dalam membuat buku cerita anak yaitu dengan menerbitkannya.

Dalam menerbitkan buku cerita anak, kamu bisa memilih mengirim naskahmu ke penerbit mayor dan menunggu untuk diterbitkan.

Namun jika kamu merasa tidak begitu sabar dalam menunggu yang hasilnya belum tentu diterima atau tidak, maka kamu harus menerbitkannya dengan metode self publishing. Informasi lebih lengkap mengenai proses penerbitan mandiri atau self publishing dapat kamu baca disini.

BACA JUGA:

WUJUDKAN IMPIANMU MENJADI PENULIS MELALUI KELAS MENULIS ONLINE DISINI.

DAFTAR VIA WHATSAPP SEKARANG


anton sujarwo

Anton Sujarwo

Saya adalah seorang penulis buku, content writer, ghost writer, copywriters dan juga email marketer. Saya telah menulis 15 judul buku, fiksi dan non fiksi, dan ribuan artikel sejak pertengahan tahun 2018 hingga sekarang.

Dengan pengalaman yang saya miliki, Anda bisa mengajak saya untuk bekerjasama dan menghasilkan karya. Jangan ragu untuk menghubungi saya melalui email, form kontak atau  mendapatkan update tulisan saya dengan bergabung mengikuti blog ini bersama ribuan teman yang lainnya.

Tulisan saya yang lain dapat dibaca pula pada website;

Saya juga dapat dihubungi melalui whatsapp di tautan ini.

Fortopolio beberapa penulisan saya dapat dilihat disini:


7 TIPS RAHASIA CARA MENULIS BIOGRAFI YANG SUPER MUDAH DILAKUKAN

Biografi jika ditulis dengan tepat, adalah media yang sangat efektif untuk mengambil pelajaran dari kisah hidup orang-orang terkemuka. Penulis yang mengerti cara menulis biografi tidak hanya mampu menampilkan siapa tokoh biografi yang ia tuliskan. Namun juga mampu menyampaikan keteladanan dan pelajaran yang penting dari tokoh yang ia ceritakan.

Nah, jika kamu saat ini tertarik untuk menulis biografi tentang seseorang yang kamu anggap penting, kamu perlu mengetahui cara menulisnya dengan teknik yang paling baik.

Menariknya adalah, cara menulis biografi seorang tokoh tidak sesulit kelihatannya. Dengan panduan yang sederhana berikut ini, kamu dapat menulis biografi siapa pun yang kamu suka. Penulisan biografi untuk tokoh terkenal, publik figur, orang tua atau siapa saja, dapat dengan mudah kamu eksekusi dengan 7 tips rahasia berikut ini.

Bagaimana Cara Menulis Biografi dan 7 Tips Rahasia yang Akan Membuatnya Sangat Mudah

Photo by energepic.com

“Saya tidak menemukan cara belajar terbaik dari keteladanan masa silam kecuali melalui buku sejarah dan biografi”

– A Wan Bong –

Pentingnya pengetahuan tata cara menulis biografi yang menarik tidak hanya dibutuhkan oleh penulis, namun juga oleh pembaca. Sebagai media mengenal dan belajar dari perjalanan hidup seseorang, buku biografi haruslah menarik untuk ditulis dan dibaca sekaligus.

Tapi bagaimana caranya?

Jika kamu pernah membaca biografi Rasullulah Muhammad SAW yang ditulis oleh Martin Lings atau Abu Bakar Siraj ad-Din, atau pun yang ditulis oleh Karen Amstrong, kamu akan menemukan fakta yang menarik. Dengan keunikannya masing-masing, dua biografi yang menceritakan orang yang sama ini sama-sama dianggap sebagai yang terbaik di dunia.

Untuk pembaca muslim, tulisan Martin Lings dapat dibilang nyaris sempurna untuk menggambarkan sejarah hidup Rasulullah. Sementara untuk pembaca yang universal, terutama non muslim, tulisan Karen Amstrong adalah pilihan yang bijaksana untuk mengenal nabi akhir zaman ini.

Dua buku ini sangat sempurna untuk menjadi contoh bagaimana cara menulis biografi seorang tokoh yang efektif. Narasi yang dibangun oleh Martin Lings mau pun Karen Amstrong, sangat efektif masuk ke pemikiran pembaca tanpa kehilangan keabsahan historisnya.

Nah, sebelum saya mengajak kamu untuk mempelajari lebih jauh tentang cara penulisan biografi dalam 7 tips rahasia, sebaiknya kita memulainya dengan pengertian biografi itu sendiri.

Jadi, apa yang dimaksud dengan biografi?

Pengertian Biografi

Photo by Oladimeji Ajegbile

Sederhananya biografi adalah kisah hidup orang ketiga yang ditulis secara terperinci oleh orang lain.

Syarat pertama sebuah kisah hidup seseorang baru dapat disebut biografi jika ia ditulis secara lengkap, komprehensif, rinci dan mendetail.

Syarat yang kedua adalah penulis biografi tersebut haruslah orang lain atau bukan orang yang diceritakan dalam kisah tersebut. Syarat yang ketiga namun tidak begitu mutlak adalah struktur penulisannya yang harusnya bersifat kronologis.

Contoh menulis biografi tokoh yang sempurna dan memenuhi ketiga syarat ini adalah apa yang dilakukan Martin Lings tersebut. Penulisannya dilakukan oleh orang lain secara lengkap, komprehensif dan berstruktur kronologis.

BACA JUGA:

Tujuan Penulisan Biografi

Photo by Tima Miroshnichenko

Tujuan penulisan biografi dapat bermacam-macam. Beberapa tujuan penulisan biografi yang paling umum misalnya adalah;

  • Sebagai cara untuk membagikan kehidupan orang lain yang menjadi subyek kepada masyarakat.
  • Sebagai cara penulis untuk melakukan klarifikasi tentang informasi yang keliru tentang sosok subyek yang mungkin sudah lebih dulu beredar di masyarakat. Alasan ini adalah salah satu yang mendasari penulisan buku Muhammad Sang Nabi yang ditulis oleh Karen Amstrong.
  • Sebagai cara untuk melengkapi fakta-fakta yang mungkin terlewatkan dalam penulisan biografi oleh penulis sebelumnya.
  • Sebagai cara untuk membagikan inspirasi kepada masyarakat tentang bagaimana pencapaian subyek, kegigihannya mengatasi rintangan dan hambatan, yang kemudian diharapkan menjadi dorongan bagi masyarakat untuk mengambil semangat yang serupa.
  • Sebagai cara untuk memberi peringatan kepada masyarakat untuk tidak mengikuti subyek yang diceritakan. Kamu mungkin akan menemukan tujuan ini pada penulisan biografi orang-orang yang mungkin terkenal karena kejahatan mereka.

Jenis-Jenis Biografi

Photo by Sharon McCutcheon

Biografi memiliki banyak sekali jenisnya, tergantung dari sudut pandang apa ia dituliskan.

Kamu mungkin pernah mendengar istilah biografi jurnalistik, biografi intelektual dan lain sebagainya.

Akan tetapi jika dilihat dari struktur penulisan dan kelengkapannya, penulisan biografi dapat dibagi menjadi dua saja yakni biografi singkat dan biografi rinci.

Biografi Mini atau Singkat

Biografi singkat tetap menampilkan kisah hidup subyek secara komplit dari lahir, masa kecil, pendidikan, tumbuh dewasa hingga mencapai posisi dimana ia  dikenal luas oleh masyarakat. Hanya saja pada cara menulis biografi singkat mengizinkan penulis hanya membahas bagian-bagian tersebut secara ringkas.

Kamu dengan mudah dapat menemukan contoh biografi singkat ini misalnya pada buku tema-tema kolektif seperti: Biografi 10 Diktator Paling Haus Darah Sepanjang Masa, 25 Tokoh Bisnis Terkemuka di Abad 20, dan lain sebagainya.

Pada penulisan biografi semacam ini, garis besar kehidupan tokoh biasanya diulas secara lengkap namun dalam porsi yang singkat.

Biografi Reguler yang Terperinci

Photo by cottonbro

Di samping biografi singkat, kamu juga dapat menulis biografi yang lebih lengkap, panjang dan terperinci. Pada penulisan ini, penulis akan menggambarkan masa kecil, pendidikan, tumbuh dewasa dan pencapaian-pencapaian tokoh secara lebih mendetail.

Bahkan, akan menjadi sebuah nilai tambah jika penulis biografi mampu pula menggambarkan sebuah peristiwa yang dialami tokoh tersebut secara lebih spesifik mulai dari dialog, perasaan, dan sudut pandangnya.

BACA PULA:

Perbedaan Biografi, Autobiografi dan Memoar

Photo by Jose Vargas

Menulis untuk menceritakan kehidupan seorang tokoh, publik figur atau anggota keluarga yang menonjol biasanya terdiri dalam tiga cara penceritaan yakni; biografi, autobiografi dan memoar.

Autobiografi dan memoar mungkin lebih dekat dari sisi penulisannya karena dilakukan oleh subyek langsung. Sementara biografi sendiri penulisannya dilakukan oleh orang lain.

Jadi, jika kamu bertanya mengenai cara menulis biografi diri sendiri, maka jawabannya adalah pada penulisan memoar dan autobiografi, bukan biografi.

Untuk lebih jelasnya, berikut adalah perbedaan antara biografi, autobiografi dan memoar.

SubyekMemoarAutobiografiBiografi
PenulisDilakukan langsung oleh subyek yang diceritakan.Dilakukan langsung oleh subyek yang diceritakan.Dilakukan oleh orang lain.
Cakupan PembahasanHanya berfokus pada satu periode tertentu dalam kehidupan subyekKomprehensif dan lengkap.Komprehensif dan lengkap.
Gaya PenulisanBerfokus pada pengalamanBerfokus pada peristiwaBerfokus pada peristiwa
StrukturLebih bebas sesuai keterampilan penulis.Biasanya kronologis.Biasanya ditulis secara kronologis.
PembacaUntuk merasakan sisi emosional pengalaman penulisUntuk mempelajari dan mengambil teladan dari sosok yang diceritakan.Untuk mempelajari dan mengambil teladan dari sosok yang diceritakan.
FilosofiLebih mengutamakan kebenaran emosional dibandingkan fakta peristiwa karena didasarkan pada ingatan penulis.Lebih mengutamakan akurasi peristiwa berdasarkan sumber-sumber dan riset.Lebih mengutamakan akurasi peristiwa berdasarkan sumber-sumber dan riset.

Apa yang Harus Ada dalam Penulisan Biografi?

Photo by Dmitriy Ganin

Sebagai sebuah manuskrip perjalanan hidup seseorang, biografi haruslah sangat lengkap dan komprehensif. Cara membuat biografi pahlawan, tokoh terkenal atau bahkan salah satu anggota keluarga yang dianggap menonjol, harus memuat fakta-fakta dalam kehidupan subyek secara lengkap.

Lantas, apa saja yang harus adalah penulisan biografi?

Kelahiran dan Masa Kanak-kanak Subyek

Memberikan detail bagaimana seseorang dibesarkan akan memberikan konteks historis yang lebih utuh kepada para pembaca. Pada bagian ini kamu dapat menuliskan dimana subyek biografi dilahirkan, kapan waktunya, adakah peristiwa menarik untuk diulas pada saat ia dilahirkan dan sebagainya.

Contohnya adalah; jika kamu menulis biografi seorang tokoh militer di Indonesia yang lahir pada kisaran tahun 1950-an, kamu dapat menambahkan kondisi politik dan militer di Indonesia pada saat ia dilahirkan.

Ini akan memperkuat karakter dan latar belakang subyek penulisan biografi.

Kehidupan Dewasa Subyek

Photo by Artem Beliaikin

Hampir 75% biografi akan bercerita tentang kehidupan dewasa subyek ketika ia mulai menemukan berbagai peristiwa penting yang membawa dirinya untuk dikenal masyarakat.

Kamu dapat berfokus pada berbagai peristiwa penting ini semacam titik balik besar dalam kehidupan subyek, perubahan hidup yang dramatis, awal hubungan dan lain sebagainya.

Kematian Subyek

Jika subyek penulisan biografi sudah meninggal dunia, pertimbangkan untuk menggambarkan peristiwa kematiannya dengan lengkap. Apa yang terjadi dengan orang-orang di sekelilingnya? Apa warisan terbesar yang ia berikan?

Cara menulis biografi orang tua yang sudah meninggal pun dapat kamu lakukan seperti ini. Kamu dapat menggambarkan secara nyata penyebab kematiannya, hari-hari terakhir dalam hidup subyek dan juga warisan apa saja yang ia tinggalkan bagi keluarga dan masyarakat.

Foto Subyek

Photo by Suzy Hazelwood

Dalam bentuk apa pun biografi akan didistribusikan, penting bagi kamu untuk menyertakan foto subyek. Semakin banyak koleksi foto yang kamu miliki maka semakin bagus. Namun, pilihlah beberapa foto yang mewakili peristiwa-peristiwa penting yang dialami oleh subyek.

Fakta atau Anekdot Tentang Subyek

Kamu dapat pula menemukan beberapa fakta menarik tentang subyek yang poinnya adalah supaya menarik perhatian bagi pembaca. Jika subyek memiliki cerita lucu masa kecil, tak ada salahnya kamu memasukkannya dalam biografi.

Kutipan Subyek

Jika subyek biografi adalah orang yang telah menjadi subyek pada banyak hal seperti penulisan buku, artikel, berita dan lain sebagainya, maka pertimbangkan untuk menuliskan pula beberapa kutipan yang menggambarkan pandangan subyek tersebut.

BACA JUGA:

7 Contoh Biografi yang Menarik dan Populer

Source: Wardah Books

Dalam dunia penulisan biografi, mungkin sudah ada jutaan buku yang telah ditulis manusia. Namun di antara biografi yang demikian banyak itu, 7 contoh menulis biografi berikut ini adalah yang dianggap paling populer;

  1. Muhammad; His Life Based on the Earliest Source karya Martin Lings atau Abu Bakar Siraj ad-Din.
  2. Muhammad; A Prophet for Our Time karya Karen Amstrong
  3. The 100; A Rangking of the Most Influental Person in History karya Michael Hart (ini adalah salah satu contoh dan cara menulis biografi singkat yang menarik)
  4. Into the Wild karya John Krakauer berkisah tentang seorang pemuda yang mencari jati diri dengan bertualang dan tewas di Alaska.
  5. A Beautiful Mind karya Sylvia Nazar yang mengangkat perjalanan hidup seorang ahli matematika bernama John Nash.
  6. Alan Turing; The Enigma karya Andrew Hodges yang berkisah tentang Alan Turing yang memecahkan kode dalam pesan rahasia selama perang dunia II.
  7. Churchill; A Life yang ditulis oleh Martin Gilbert

Cara Menulis Biografi dalam 7 Tips Sederhana

Setelah kamu memahami apa saja yang diperlukan dalam menulis biografi, apa contohnya dan apa pula perbedaannya dengan memoar, sekarang adalah waktu untuk mengeksekusinya.

Nah, ini adalah 7 tips yang dapat kamu terapkan.

Mintalah Izin

Photo by Allysa Putri Oktaviani

Hal pertama yang harus kamu lakukan sebelum mulai menulis biografi adalah dengan meminta izin kepada subyek untuk ditulis biografinya. Permintaan izin ini mungkin bisa diabaikan jika subyek penulisanmu sudah meninggal atau ia adalah tokoh masyarakat yang sudah terkenal.

Dengan meminta izin, proses penggalian informasi dan riset penulisan akan jauh lebih mudah untuk dilakukan. Bahkan jika subyek yang masih hidup bersedia dituliskan biografinya, kamu juga akan mendapatkan detail yang lebih menarik langsung dari sumber utama.

Dah itu sudah pasti akan membuat penulisan biografimu menjadi lebih kaya.

Lakukan Riset Menyeluruh

Photo by Ron Lach

Ini adalah bagian yang tidak mudah dalam menulis biografi.

Namun, kamu tidak bisa menulis biografi siapa saja tanpa melakukan ini. Riset atau penelitian sumber-sumber penulisan adalah hal wajib yang harus dilakukan, terlepas dari seberapa pun banyaknya hal yang kamu ketahui tentang subyek.

Sumber utama adalah subyek biografi itu sendiri, dan ia adalah yang paling layak diandalkan sebagai sumber riset. Sumber utama yang berasal dari subyek dapat saja berupa email, wawancara, jurnal pribadi, dan lain sebagainya.

Sumber utama lain yang bisa digunakan sebagai cara menulis biografi seorang tokoh adalah situs web pribadi, akun media sosial, biografi profesional dan lain semacamnya. Intinya adalah; segala sesuatu yang bersumber dari subyek langsung, dapat kamu jadikan sebagai sumber utama dalam penulisan biografinya.

Untuk sumber sekunder sendiri kamu misalnya dapat menggunakan informasi dari majalah, surat kabar, berita, interview dengan orang-orang yang mengenal subyek dan lain sebagainya. Selama informasinya akurat dan benar, sumber itu dapat kamu gunakan.

Bab Pertama Istimewa

Photo by Karolina Grabowska

Pada bagian awal atau bab pertama, kamu sebaiknya memberitahu pembaca apa yang akan mereka pelajari dalam biografi yang kamu tulis tersebut. Pada bagian ini kamu dapat membuat simpulan-simpulan ringkasan mengenai suatu peristiwa yang dialami subyek yang juga akan memiliki pengaruh kepada pembaca.

Ini bukan hal wajib dalam biografi, terutama dalam tata cara menulis biografi singkat. Akan tetapi dalam penulisan biografi yang panjang dan terperinci, kamu sebaiknya melakukan ini,

Jadi pada bab pertama, gambarkan secara jelas kepada pembaca apa saja yang mereka dapatkan dalam biografi subyek yang kamu tulis tersebut.

BACA JUGA:

Susun Kronologi dalam Timeline

Source: Speeli

Penulisan biografi dan autobiografi hampir selalu menggunakan struktur kronologis yang teratur. Nah, untuk membuatnya lebih mudah dituangkan dalam penulisan, kamu dapat membuat timeline subyek berdasarkan peristiwa-peristiwa menarik yang dialaminya.

Mengetahui berbagai urutan peristiwa yang dialami subyek akan menghindarkan kamu dari kerumitan mengatur ulang semua cerita.

Jadi, buatlah timeline-nya terlebih dahulu.

Perkaya dengan Flashback

Photo by RODNAE Productions

Flashback dalam penulisan apa pun, termasuk juga biografi, sudah pasti akan menginterupsi jalannya cerita. Jadi, memang harus dilakukan dengan hati-hati.

Tanpa pertimbangan yang matang, flashback yang tidak tepat justru akan menghadirkan bagian eksposisi yang seolah membuat alur menjadi terhenti. Flashback seperti ini dalam penulisan apa pun yang kamu lakukan, sudah sepatutnya untuk dihindari.

Namun flashback dalam menulis biografi tidak dilarang, bahkan itu akan membuat penulisan menjadi lebih kaya. Tipsnya adalah; kamu harus mampu menemukan relevansi yang kuat antara momentum peristiwa dewasa subyek dengan materi flashback yang akan ditampilkan.

Dengan cara ini, flashback akan membuat karakter subyek lebih mengena di benak pembaca. Sementara di saat yang sama, juga tidak akan mengganggu alur cerita.

Sertakan Pemikiran Kamu Sendiri

Photo by Dmitriy Ganin

Menulis biografi bukanlah transaksional fakta yang kaku. Sebagai penulis, kamu juga dapat berbagi pendapat, perasaan, pandangan dan sikapmu sendiri terkait dengan momentum dalam kehidupan subyek yang diceritakan.

Jika subyek melakukan seuatu yang penting, jelaskan pandangan kamu mengapa itu dinilai penting? Mengapa peristiwa tersebut dapat demikian berpengaruh dalam sudut pandangmu? Lantas, apa pula implikasinya bagi kehidupan masyarakat secara keseluruhan?

Menuangkan pemikiran sendiri dalam penulisan biografi tidak dilarang. Bahkan pada konteks yang lebih masuk akal, bagian inilah yang menjadi kunci dimana kamu mampu menjelaskan mengapa subyek layak untuk ditulis biografinya dan membawa orang-orang untuk mempelajari kehidupan mereka sampai bab yang terakhir.

Buka dengan Quote

Photo by Polina Kovaleva

Quotes atau kutipan adalah hal yang menarik. Ini bukan hanya sekedar susunan kata-kata indah yang tampak memiliki makna mendalam. Namun, dalam sudut pandang pembaca yang lebih bijak, quote adalah ruh yang melingkupi bagian-bagian penting terkait pandangan general subyek biografi.

Saya menyukai quote dan dalam hampir semua buku yang saya tulis, saya sering menyertakannya.

Kamu Tertarik Menulis Biografi?

Source: Penulis Gunung

Menulis biografi bukan hanya menceritakan kehidupan orang lain untuk dipelajari oleh pembaca. Namun, proses ini juga menjadi upaya transfer keteladanan dan nilai-nilai luhur dari sosok unggul kepada generasi setelahnya.

Saya juga menulis biografi, dan salah satu karya biografi saya yang cukup populer adalah tiga jilid buku yang berjudul; Maut di Gunung Terakhir, Gunung Kuburan Para Pemberani dan Hari Terakhir di Atas Gunung.

Ketiga buku itu merupakan paket dari buku One Last Climb yang bercerita tentang kematian para pendaki terbaik dunia di atas gunung. Buku-bukunya sendiri bisa kamu dapatkan disini.

Nah, jika kamu sendiri tertarik untuk menulis biografi, kamu bisa melakukannya bersama saya. Insya Allah saya akan membantu kamu dalam kelas menulis yang saya bimbing. Kamu dapat memilih untuk kelas reguler, kelas khusus, atau pun kelas writing coaching yang lebih terarah.

Saya akan membantu kamu sampai naskahmu siap untuk diterbitkan!

Jadi, jangan ragu untuk menghubungi saya sekarang, ya.

BACA PULA:



anton sujarwo

Anton Sujarwo

Saya adalah seorang penulis buku, content writer, ghost writer, copywriters dan juga email marketer. Saya telah menulis 15 judul buku, fiksi dan non fiksi, dan ribuan artikel sejak pertengahan tahun 2018 hingga sekarang.

Dengan pengalaman yang saya miliki, Anda bisa mengajak saya untuk bekerjasama dan menghasilkan karya. Jangan ragu untuk menghubungi saya melalui email, form kontak atau  mendapatkan update tulisan saya dengan bergabung mengikuti blog ini bersama ribuan teman yang lainnya.

Tulisan saya yang lain dapat dibaca pula pada website;

Saya juga dapat dihubungi melalui whatsapp di tautan ini.

Fortopolio beberapa penulisan saya dapat dilihat disini:


APA ITU MEMOAR DAN BAGAIMANA MENULISKANNYA DENGAN MUDAH?

Ketika seseorang merasa salah satu kenangan dalam hidupnya berarti dan penting, ia mungkin akan tertarik untuk menuliskannya menjadi cerpen atau novel. Menulis kisah hidup menjadi sebuah karya sastra adalah definisi sederhana apa itu memoar. Namun memoar tentu saja, jauh lebih menarik daripada sekedar penulisan semacam itu.

Menulis memoar secara teori seharusnya lebih mudah dibandingkan misalnya dengan menulis fiksi. Kamu tidak perlu repot-repot mengarang cerita, membangun konflik, menentukan karakter dan lain sebagainya. Sebagai kisah nyata yang terjadi dalam kehidupan kamu sendiri, memoar tidak memiliki tokoh protagonis selain dirimu sendiri.

Namun ternyata menulis memoar tidak sesederhana kelihatannya. Ini adalah sebuah keterampilan menulis yang bahkan sangat membingungkan bagi beberapa orang.

Nah, artikel kali ini akan membahas penulisan memoar secara spesifik yang dimulai dengan pertanyaan paling awal berupa: Apakah itu memoar?

Kamu punya kisah menarik untuk ditulis menjadi buku tapi bingung cara menuliskannya?

Coba konsultasikan disini

Apa Itu Memoar?: Pengertian dan Penjelasannya

Photo by Suzy Hazelwood

“Tidak ada penderitaan yang lebih besar daripada menanggung cerita yang tak terungkapkan di dalam dirimu”

Maya Angelou

Jika kita membahas apa itu memoar dalam bahasa Indonesia? Maka kita mungkin akan menemukan pengertian yang panjang dan komprehensif. Akan tetapi pengertian memoar sendiri dapat disederhanakan sebagai sebuah kisah nyata yang diceritakan dengan baik dan menarik, seperti pada penulisan fiksi.

Berdasarkan asal katanya, memoar atau memoir disarikan dari kosakata bahasa Perancis yang artinya sendiri adalah; Sesuatu yang ditulis untuk diingat atau dibuat menjadi memorable.

Supaya sebuah tulisan dapat disebut sebagai memoar atau memoir, syarat pertamanya adalah ia harus non fiksi. Selanjutnya memoar juga haruslah berdasarkan ingatan penulisnya yang menjadi karakter utama memoar. Dan yang terakhir, point of view memoar adalah harus dari sudut pandang penulisnya sendiri.

Jadi, memoar adalah sebuah bagian penting dalam kehidupan seseorang yang dituliskan dari sudut pandang pelaku kejadian itu sendiri. Sudut pandang memoar adalah sudut pandang kamu sendiri sebagai orang yang mengalami kejadian tersebut.

Apakah Memoar Sama Dengan Autobiografi?

Photo by Adil

Pada satu titik dan pengertian, memoar terdengar seperti autobiografi. Namun sesungguhnya ini adalah dua karya sastra yang berbeda. Ada beberapa hal penting dalam penyusunan memoar yang  membuatnya tidak sama dengan sebuah autobiografi.

Untuk memperdalam pemahaman tentang memoar itu artinya apa dan apa saja cakupannya? Tidak bisa tidak, kita harus membandingkannya dengan autobiografi.

Seperti yang sudah kamu tahu, autobiografi adalah sebuah penulisan karya sastra paling populer untuk menceritakan kisah diri sendiri. Meskipun demikian, memoar yang juga membahas hal yang sama dalam aplikasinya, setidaknya memiliki lima perbedaan paling mendasar jika dibandingkan dengan autobiografi.

Lantas, apa saja yang membedakannya?

Contoh Memoar serta 5 Perbedaan Penting Antara Memoar dan Autobiografi

Source: Penulis Gunung

Apa itu makna memoar secara sejati mungkin dapat saya ambil contohnya secara langsung melaui 3 judul buku karya saya sendiri.

Buku memoar pertama saya tentu saja adalah Islamedina Si Wajah Cahaya yang terdiri dari dua jilid dengan tebal lebih 750 halaman. Sementara memoar saya yang kedua adalah Mimpi Di Mahameru yang lebih kurang isinya terdiri dari 200 halaman.

Baik novel Islamedina Si Wajah Cahaya atau Mimpi Di Mahameru ditulis berdasarkan kisah pribadi saya sebagai pelakunya dan diceritakan pula dari sudut pandang saya sendiri. Dalam konteks ini, novel Islamedina Si Wajah Cahaya dan Mimpi Di Mahameru adalah bentuk aplikatif sempurna dari pengertian memoar dan contohnya.

Ketika syarat non fiksinya terpenuhi, kemudian ia ditulis pula dengan bahan baku dari kisah yang terjadi pada diri kamu sendiri dan melalui sudut pandang kamu sendiri, maka ia bisa disebut memoar sekaligus autobiografi. Namun khusus untuk buku Islamedina Si Wajah Cahaya dan Mimpi Di Mahameru yang sudah saya terbitkan, maka tentu saja ia adalah memoar.

Mengapa bisa demikian?

Lalu apa yang membuat memoar berbeda dengan autobiografi?

Nah, 5 hal berikut inilah yang menjadi pembedanya.

Struktur Penulisan

Photo by Pixabay

Dalam penulisan autobiografi, kisah yang diceritakan pada umumnya adalah lengkap dan komprehensif. Untuk mendapatkan kesan yang sempurna bagi pembaca, penulisan autobiografi hampir selalu bersifat kronologis.

Penulisan autobiografi bagaimana pun caranya, akan diawali dengan rentetan kejadian dari lahir, tumbuh, dewasa kemudian mencapai titik dimana saat ini sang penulis autobiografi berada. Dengan struktur penceritaan yang lengkap semacam ini, kronologis atau berurutan adalah yang paling tepat untuk penulisan autobiografi.

Nah, itu tidak terjadi dengan penulisan buku memoar.

Meskipun tidak se-komprehensif autobiografi, namun menulis memoar membutuhkan ide yang jauh lebih besar. Dalam penulisan ini kamu harus dapat menangkap dan menyajikan ide cerita yang jauh lebih besar dan dikemas dalam tema tertentu seperti kesedihan, kedewasaan, kehilangan, penemuan jati diri dan lain sebagainya.

Dengan pesan yang jauh lebih tematis seperti ini, maka penulisan memoar harus dilakukan dengan kreativitas supaya pesan ceritanya dapat sampai kepada pembaca. Untuk tujuan ini, struktur kronologis bukan hal yang mutlak dalam penulisan memoar.

Cakupan Pembahasan

Photo by Svetozar Milashevich

Perbedaan kedua antara memoar dan autobiografi adalah ruang lingkup pembahasan.

Dalam penulisan memoar, cakupan pembahasan sangat lengkap dan komprehensif. Penulis akan bercerita bagaimana ia dilahirkan, bagaimana ia menghabiskan masa kecilnya, bagaimana ia menempuh pendidikan dan bagaimana pula ia kemudian sampai pada posisinya sekarang yang mungkin penuh gambaran pencapaian.

Nah, hal ini berbeda dengan memoar.

Memoar hanya akan berfokus pada periode tertentu dalam kehidupan penulis.

Memoar tidak akan akan menceritakan kronologis kehidupan penulisan dari A hingga Z. Seperti pengertian awalnya, bagian tertentu dari kehidupan yang dianggap memiliki nilai untuk diceritakan adalah yang akan ditulis dalam memoar.

Buku Islamedina Si Wajah Cahaya adalah contoh memoar pribadi yang sangat tepat menggambarkan. Dalam buku yang terbagi dalam dua jilid tersebut, saya fokus bercerita fase kehidupan saya antara tahun 2014 hingga 2016. Periode itulah yang saya ceritakan sewaktu Islamedina masih dalam pelukan saya.

Gaya Penulisan

Photo by Ena Marinkovic

Perbedaan memoar dan autobiografi selanjutnya dalam hal gaya penulisan. Autobiografi atau otobiografi akan memprioritaskan pada peristiwa yang terjadi sepanjang kehidupan penulis. Sementara memoar akan menempatkan prioritasnya pada pengalaman apa yang dimiliki penulis terkait dengan peristiwa tersebut.

Ketika menfokuskan pada pengalaman, maka cakupannya akan jauh melampaui peristiwa semata. Dalam pengalaman, kamu juga diharuskan mendayagunakan perasaan, pikiran, refleksi, feeling, imajinasi, intuisi dan lain sebagainya.

Kebutuhan penulisan memoar yang priotitasnya ada pada pengalaman memaksa penulisnya untuk melangkah lebih jauh dari sekedar penulisan formal. Artinya, penulis memoar pun dapat menggunakan teknik penulisan fiksi untuk menggambarkan dialog, adegan atau pun bagian cerita yang lainnya.

Filosofi

Photo by Charlotte May

Penulisan autobiografi bagaimana pun akan berpijak pada fakta dan data-data yang dimiliki. Sebaliknya dalam penulisan memoar, landasan utama penulisan adalah ingatan atau memori yang dimiliki oleh penulis itu sendiri.

Ingatan manusia tentu saja tidak dapat diandalkan akurasinya untuk penyajian fakta-fakta yang komprehensif. Untuk itulah kemudian, memoar akan meminta pembaca untuk tidak terlalu fokus kepada faktanya melainkan kepada kebenaran emosionalnya.

Bahkan pada kesempatan tertentu kadang-kadang, penulis memoar akan secara sengaja meragukan ingatan mereka dan menyampaikan kepada pembaca. Namun pada kesempatan yang sama, penulis memoar juga akan menekanan kebenaran emosionalnya.

Pembaca

Photo by cottonbro

Ketika pembaca memilih autobiografi, mereka mungkin sedang berusaha untuk mempelajari hal tertentu dan sosok-sosok yang populer, menonjol dan terkemuka. Namun ketika pembaca memilih memoar, maka sudah pasti mereka ingin mengalami secara emosional kisah yang diceritakan dalam memoar yang dikemas dalam tema-tema tertentu.

Berdasarkan orientasi pembaca ini, maka memoar cenderung lebih intim, lebih pribadi dan lebih kuat menjalin konektivitas pada perasaan pembaca.

Nah, itu pula alasannya mengapa setiap orang pada hakikatnya dapat menulis memoar.

7 Langkah Menulis Memoir Dengan Mudah

Photo by Ann H

Setelah perbandingan dan perbedaan antara memoar dan autobiografi di atas, sekarang mungkin saatnya bagi kamu untuk menulis memoar.

Namun pertanyaan paling pentingnya adalah; Bagaimana melakukannya?

Nah, untuk membuatnya lebih mudah dan sederhana, kamu cukup melakukan 7 langkah berikut ini saja.

Gunakan Formula ‘Saya Ingat’ untuk Menghasilkan Ide Memoar

Photo by Lisa

Bagaimana pun juga pada banyak bidang, memulai adalah bagian yang paling sulit. Termasuk juga mungkin dalam penulisan memoar.

Kamu mungkin memiliki banyak kenangan istimewa namun justru bingung memilih yang mana yang paling layak untuk dijadikan sebagai memoar. Jika itu yang terjadi, kamu bisa gunakan formula ‘Saya Ingat’ yang bisa membantu kamu untuk memilih mana kenangan yang paling banyak bermain dalam pikiranmu.

Jadi, kamu hanya perlu membuat daftar yang kalimat pertamanya adalah menggunakan kata “Saya Ingat”.

Contohnya begini;

  • “Saya ingat ketika pacar pertama saya memberi saya kado ulang tahun. Itu adalah kado ulang yang pertama dan satu-satunya sepanjang hidup saya”
  • “Saya ingat bagaimana pelukan terakhir yang diberikan oleh ibu saya sebelum saya merantau ke luar kota dan tidak pernah berjumpa lagi dengan beliau untuk selamanya”
  • “Saya ingat tidak ada satu haripun selama perjalanan itu kecuali saya dan dia bertengkar. Benar-benar menyebalkan”

Kamu dapat membuat daftar seperti itu lebih panjang kemudian memilih mana di antara daftar kenangan tersebut yang paling membekas dalam benakmu. Pilih kenangan yang paling kuat memberikan pengaruh emosional dalam dirimu. Dan itu adalah memoar yang paling tepat untuk kamu tuliskan.

Sesederhana itu saja formulanya.

Lupakan Kronologis, Mulailah dari yang Paling Kuat

Photo by Sofia Alejandra

Seperti yang sudah disampaikan dalam strukrur penulisan antara autobiografi dan memoar, maka kamu harus mempraktikkannya disini.

Dibandingkan memulai penulisan memoarmu dengan awalan “pada mulanya, pada suatu hari, atau awalnya”, maka pilihlan untuk langsung menulis bagian yang paling kuat mempengaruhi emosionalmu. Bagian mana dari kenangan yang kamu tidak bisa berhenti memilikirkannya, maka mulailah dari sana.

Dengan memulai dari yang paling kuat, kamu akan dapat memanfaatkan momentum penulisan yang akan lebih mudah untuk diawali. Pada banyak kasus, ini akan membuat para penulis memoar yang baru mencoba menulis untuk pertamakalinya, menjadi lebih mudah menuangkan ide mereka.

Naskah Pertama Selalu Payah

Photo by Brett Jordan

Penulis profesional sekali pun, hampir selalu menghasilkan naskah pertama yang ‘payah’ dalam pekerjaan mereka.

Jadi masksudnya disini adalah, jika naskah awal yang kamu tulis itu terasa sangat aneh, tidak rapi, penuh kesalahan ketik atau typo, tidak teratur dan terdengar kacau, maka itu bagus! Kamu sudah melangkah di jalan yang benar.

Pesan konkritnya adalah jangan mengkhawatirkan naskah pertamamu.

Naskah pertama dalam penulisan apa pun akan selalu demikian, oleh karena itulah ia membutuhkan editing dan revisi. Hal yang paling penting dalam tahap penulisan naskah adalah keep writing. Terus menulis hingga naskahnya sendiri selesai.

Ada pun segala bentuk ‘kekacauan’ yang terjadi didalamnya, nanti kamu akan memiliki waktu yang banyak untuk memperbaikinya.

Beri Waktu Jeda

Photo by Artem Beliaikin

Jika naskah awal buku memoarmu sudah selesai di tulis, maka masukkan ia ke dalam lemari dan kunci setidaknya dalam waktu satu atau dua minggu. Bahkan jika kamu tahan, jangan membacanya sampai setidaknya satu bulan.

Lho, kok begitu?

Setelah hari-hari yang melelahkan untuk menulis naskah, biarkan pikiranmu istirahat sejenak. Biarkan pikiran dan benakmu segar kembali dengan tidak terbayang-bayang oleh kata-kata yang mungkin sudah kamu tetaskan di atas memoarmu. Semakin segar pikiran kamu, maka semakin baik untuk memoarmu nantinya.

Jarak ini disebut sebagai waktu jeda kritis antara menulis dan melakukan revisi.

Dengan mengambil masa jeda yang cukup, pikiran kamu akan lebih terbuka, lebih detail dan lebih mudah untuk melalukan editing dan revisi selanjutnya.

Baca Kembali Naskah Memoarmu

Photo by Thought Catalog

Setelah masa jeda berakhir, kamu boleh kembali membuka file dimana kamu menulis naskah memoarmu. Sekarang kamu dapat membaca ulang tulisan kamu tersebut, dan memberi catatan beberapa hal penting yang mungkin kamu temukan.

  • Apakah pesan perasaan yang ingin kamu sampaikan dalam buku memoar tersebut sudah sampai?
  • Apakah ada kalimat yang ambigu dan terasa membingungkan?
  • Apakah ada bagian-bagian yang tidak tersampaikan dengan baik? Atau sebaliknya; adakah bagian yang mungkin terdengar berlebihan?
  • Apakah struktur penulisan yang kamu gunakan cukup bagus dan mudah dipahami?
  • Dan lain-lain.

Dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan semacam itu, kamu akan lebih mudah membuat catatan revisi untuk memoarmu.

Perbaiki Naskah Buku Memoarmu dan Ulangi Hingga Kamu Merasa Cukup

Photo by Michael Burrows

Banyak penulis, termasuk saya juga, sepakat bahwa tidak ada naskah yang sungguh-sungguh selesai.

Setiap kali membaca ulang naskah yang sudah direvisi berkali-kali itu, akan selalu saya temukan sesuatu yang ingin saya ubah, ingin saya tambahi, ingin saya kurangi, atau bahkan ingin saya hilangkan.

Jika hal itu diperturutkan terus menerus, maka memoar tidak akan pernah terbit.

Jadi, ada kalanya ketika sebuah naskah terasa cukup. Entah apakah didalamnya masih ada yang ingin diubah dan direvisi, namun intuisi sebagai menulis mengatakan dalam hati bahwa itu sudah cukup dan selesai.

Selesai dan saya tidak ingin merevisinya lagi.

Tidak ada angka ajaib dalam melakukan jumlah revisi dan editing naskah. Pelajari intuisimu dan dengarkan instingmu untuk memutuskan apakah naskah sudah selesai atau kamu memang harus melakukan revisi kembali.

Publikasikan!

Photo by Skylar Kang

Langkah terakhir setelah kamu melakukan perjalanan yang panjang untuk melakukan penulisan, baca ulang, revisi, editing dan lain sebagainya, sekarang setelah semuanya selesai, terbitkan memoarmu.

Kamu bisa menggunakan jasa penerbit mayor atau penerbit konvensional untuk menerbitkan memoarmu. Atau jika kamu ingin merasakan kemerdekaan yang lebih fleksibel dalam menulis dan menerbitkan kenangan berhargamu itu, pilihlah self publishing atau penerbitan mendiri.

Mengenai bagaimana melakukan penerbitan mandiri dengan metode self publishing, kamu bisa membaca panduannya disini.

Yuk, Tulis Memoirmu Bersama Kelas Menulis Online di Penulis Gunung ID

Source: Penulis Gunung

Menulis memoar atau kisah hidup pribadi bisa jadi sesuatu yang menantang dan sangat sulit untuk dilakukan. Apalagi jika ini adalah pertamakalinya kamu berkenalan dengan dunia menulis. Namun, bangunlah keyakinanmu bahwa semua orang bisa jika mereka serius ingin melakukannya.

Lihatlah kembali bagaimana kenangan dan memorimu mengajarkan pengalaman yang sekarang dapat kamu ceritakan dan, mungkin bisa menjadi pelajaran buat orang lain. Ini bukan hanya tentang cerita apa yang kamu sampaikan namun, bagaimana kamu menceritakannya.

Namun yang paling penting dari semua itu adalah; jangan pernah menyerah sampai kamu berhasil!

Jika kamu ingin menuliskan memoarmu dengan dipandu langsung oleh penulis berpengalaman, kamu tentu saja dapat menghubungi saya di nomor whatsapp dan kontak yang sudah disediakan.

Saya dengan senang hati akan membantumu.

Berani Coba?

Satu bulan bisa punya buku atas nama kamu sendiri

IKUTI KELAS ONLINENYA DISINI


anton sujarwo

Anton Sujarwo

Saya adalah seorang penulis buku, content writer, ghost writer, copywriters dan juga email marketer. Saya telah menulis 15 judul buku, fiksi dan non fiksi, dan ribuan artikel sejak pertengahan tahun 2018 hingga sekarang.

Dengan pengalaman yang saya miliki, Anda bisa mengajak saya untuk bekerjasama dan menghasilkan karya. Jangan ragu untuk menghubungi saya melalui email, form kontak atau  mendapatkan update tulisan saya dengan bergabung mengikuti blog ini bersama ribuan teman yang lainnya.

Tulisan saya yang lain dapat dibaca pula pada website;

Saya juga dapat dihubungi melalui whatsapp di tautan ini.

https://api.whatsapp.com/send?phone=6281254355648

Fortopolio beberapa penulisan saya dapat dilihat disini:


7 CARA MENULIS CERITA HANTU ATAU CERITA HOROR YANG MENARIK DAN EFEKTIF

Kamu pasti tahu jika salah satu genre cerita yang paling besar jumlah penggemarnya adalah horor. Hal ini memancing banyak penulis pemula yang bertanya; bagaimana cara menulis cerita hantu atau cerita horor dengan memanfaatkan jumlah pembaca yang besar ini? Nah, artikel yang ditulis kali ini akan menjawab pertanyaan tersebut.

Jadi sebenarnya, bagaimana cara menulis cerita horor yang bagus dan mampu merasuk pikiran pembaca?

Untuk genre cerita seperti ini, tentu saja semakin menakutkan semakin baik. Semakin tidak bisa tidur pembacamu karena terbayang-bayang sosok horor atau hantu yang kamu ceritakan, itu semakin bagus. Meskipun genre semacam ini terkesan ‘pasaran’, nyatanya tidak semua penulis horor mampu mengeksekusinya dengnan baik.

Tips dan Langkah Cara Menulis Cerita Hantu atau Cerita Horor

Photo by cottonbro

Salah satu hal menarik di Indonesia adalah ketertarikan masyarakatnya yang luar biasa tinggi terhadap kisah horor, hantu, supranatural dan metafisik. Di satu sisi, ini mungkin menumbuhkan budaya pemikiran irasional yang kurang efektif. Namun pada sisi yang lain, ini juga menumbuhkan minat literasi penulisan bertema horor yang besar.

Unsur cerita horor yang ditampilkan pada umumnya tidak banyak bergeser dari makluk-makluk gaib populer di Indonesia. Beberapa penulis yang lebih kreatif, kadang memadukan konsep cerita yang lebih kaya lagi, baik dari sisi plot, setting, karakter, hingga tema cerita.

Kamu mungkin masih banget bagaimana kisah KKN di Desa Penari yang sempat viral beberapa waktu lalu, bukan?

Kisah itu demikian menarik perhatian penggemar kisah horor di Indonesia. Perdebatan bahwa itu kisah nyata seperti pengakuan penulis, ataukah hanya kreativitas penulis saja yang terinspirasi dari sebuah cerita, menjalar di sosial media. Namun intinya adalah, kisah misteri tentang hantu di Desa Penari di Jawa Timur itu, sempat booming di kalangan pembaca digital di Indonesia.

Menariknya kemudian, cerita itu menginspirasi film horor dan penulisan bukunya sekaligus. Walaupun kamu pasti juga tahu bahwa kisah dengan memanfaatkan momen viral seperti ini umumnya tidak bertahan lama. Namun tidak dapat ditepis pula bahwa contoh cerita horor seperti KKN di Desa Penari adalah contoh betapa efektifnya pengaruh kisah horor pada masyarakat Indonesia.

Nah, kamu yang berminat untuk menulis novel horor, panduan berikut bisa kamu jadikan referensi.

BACA JUGA:

Pengertian Cerita Horor

Photo by Pixabay

Jika disebutkan cerita hantu, kamu tentu sudah dapat langsung menterjemahkannya sebagai cerita menyeramkan tentang makluk gaib yang tidak kasat mata. Secara eksplisit lagi cerita hantu dapat diterjemahkan sebagai cerita arwah seseorang yang sudah meninggal kemudian mengganggu orang yang masih hidup.

Namun ketika dikatakan sebagai cerita horor, maka definisinya bisa luas lagi terutama jika dilihat dari sisi siapa subjek yang menjadi tokoh horornya. Horor bisa terjadi karena ada gangguan makluk gaib, bisa karena perlakuan psikopat, phobia, dan lain sebagainya.

Akan tetapi baik cerita horor atau cerita hantu, secara sederhana dapat disimpulkan sebagai cerita yang mengetengahkan keseraman, ketakutan dan kengerian sebagai pesan utama cerita. Subjek dari keseraman dan ketakutan itu sendiri dapat bervariasi tergantung dari imajinasi dan kreativitas sang penulis sendiri.

Jenis-Jenis Cerita Horor

Mengelompokkan cerita horor memiliki kerumitannya tersendiri. Bahkan para penulis sendiri berbeda pendapat mengenai jenis-jenis yang ada.

Namun, berikut adalah jenis-jenis cerita horor yang paling umum dikenal dalam dunia kepenulisan dan novel.

Paranormal

Photo by Spencer Selover

Berdasarkan pengertian yang umum, paranormal seringkali didefinisikan sebagai ‘sesuatu yang melampaui hukum alam atau hukum kebiasaan’.

Beberapa contoh novel horor yang dapat dikategorikan dalam jenis paranormal misalnya adalah tentang hantu, setan, iblis, siluman dan lain sebagainya.

 Di Indonesia, kamu tentu saja dapat memasukkan cerita tentang kuntilanak, pocong, gondoruwo, tuyul dan sebagainya dalam jenis cerita horor yang pertama ini.

Supranatural

Photo by Steve

Nah, agak membingungkan juga sebenarnya karena pengertian supranatural dan paranormal seringkali diterjemahkan serupa, yakni sesuatu yang melawan hukum alam.

Namun supaya memudahkan kamu membedakannya, kamu bisa mengikuti definisi Brandon Cornett (penulis novel horor Purgatory) yang memasukkan kisah seperti vampir, manusia serigala, monster, puteri duyung dan  sejenisnya sebagai contoh cerita horor pendek (cerpen) atau pun panjang (novel) dalam lingkup genre horor supranatural.

Psikopat, Pembunuh Berantai dan Pembantai

Photo by NEOSiAM

Jenis horor satu ini tidak diperuntukkan untuk pembaca dengan hati dan perasaan yang ‘lemah’. Kamu sudah pasti tahu kan, jika tema novel horor semacam ini mempertontonkan kekejaman dan kebiadaban manusia dengan motivasi kegelapan yang sulit dipahami.

Contoh novel horor untuk kategori ini misalnya adalah; Psycho karya Robert Bloch dan Perawan Terakhir karya Riley Sager.

Psikologi

Photo by Vijay Putra

Ini adalah genre horor yang membingungkan dimana ketakutan dan kengerian yang terjadi diciptakan oleh pikiran karakternya sendiri. Sekali lagi, ini mungkin terasa samar dengan genre psikopat dan pembunuh berantai, seperti genre horor paranormal dan supranatural yang seolah berhimpitan.

Tidak ada monster atau hantu berkepala empat dalam genre ini. Akan tetapi sebagai gantinya, kamu akan menampilkan keseraman akan goa yang gelap, mata yang mengintai dari sudut kamar, rumah angker dengan suara menakutkan.

Intinya adalah semua keseraman ini bersumber dari permainan pikiran karaternya sendiri.

Pasca ‘Kiamat”

Photo by cottonbro

Secara sederhana, genre pasca kiamat ini disebut sebagai post-apocalyptic yang menampilkan kehancuran peradaban dunia oleh kekuatan atau entitas mengerikan. Kamu bisa menyebutkan zombie, vampir, wabah, atau yang sejenis dengan itu sebagai penyebabnya.

Ketegangan yang dimunculkan mungkin tidak seperti genre dimana hantu dan iblis menjadi fokus kengeriannya. Namun genre cerita horor pasca kiamat semacam ini kadang memberikan argumentasi kehancuran total yang lebih masuk akal dan lebih mengerikan.

Bukankah efek pandemi Covid-19 seperti sekarang jauh lebih menyeramkan dan massif daripada hantu?

Ini adalah salah satu bukti mengapa genre pasca-kiamat adalah salah satu genre horor yang sangat realistis.

Gotik

Photo by Oleg Magni

Jenis novel horor selanjutnya adalah gothic atau gotik. Genre satu ini umumnya berasal dari cerita di Eropa pada akhir abad 1700-an atau awal 1800-an. Gotik menampilkan perpaduan romansa dan horor, dan pada banyak tema, ini juga mencampurkan kondisi sosial masyarakat yang cukup rumit.

Banyak kejadian mengerikan dan menakutkan yang terjadi pada sekolah biarawati, atau ritual pengusiran roh masa sebelum renaisans.

The Woman in Black kaya Susan Hill adalah salah satu contoh prolog novel horor dari genre gotik yang cukup menarik untuk kamu baca.

BACA PULA:

Horor Kosmik

Photo by Dimitry Anikin

Jenis horor satu ini nampak aneh namun tidak kalah menakutkan. Kosmik horor lebih menekankan ketakutan manusia pada sesuatu yang tidak diketahui, tidak dipahami dan tidak ada unsur kemanusiaannya.

Ini pengertian horor yang aneh dan rumit, namun contoh cerita horor dengan kategori ini misalnya adalah The Ballad of Black Tom karya Victor LaValle.

Komedi Horor

Photo by Sam Pineda

Ini adalah jenis horor yang paling banyak diaplikasikan dalam berbagai cerita horor di Indonesia. Entah apakah itu campuran antara paranormal horor, suprantural horor atau bahkan psyco horor, unsur komedi hampir selalu ditampilkan.

Komedi horor adalah campuran antara komedi yang kadang ditampilkan dalam bentuk ‘kebodohan dan kevulgaran yang tidak sopan’ kemudian dipadukan dengan unsur menyeramkan.

Meskipun dianggap sebagai jenis horor dengan selera yang paling ‘rendah’, uniknya di Indonesia jenis ini adalah yang paling banyak peminatnya.

Dark Fantasy

Photo by Pixabay

Seperti halnya horor komedi yang merupakan kombinasi antara humor dan ketakutan, maka dark fantasy juga sama. Dalam dark fantasy, hal yang dipadukan adalah kegelapan yang seram dengan fantasy atau impian.

Makhluk-makhluk mitologi semacam naga yang memakan manusia, raksasa yang datang di tengah malam dan menguyah mimpi dan keceriaan anak-anak, kadang dimasukkan pula dalam genre yang satu ini.

Sci Fi Horor

Photo by Miriam Espacio

Ketakutan dan keseraman dalam genre horor satu ini adalah alien, makluk luar angkasa yang ganas dan tak terkalahkan, dan semacamnya. Beberapa orang tertarik untuk menyebut horor jenis ini sebagai fiksi ilmiah yang memasukkan unsur seram di dalamnya.

Khusus untuk sci fi horor, ini adalah ladang kosong yang masih sangat sedikit penulis menggelutinya.

Jadi, jika kamu adalah seorang penulis horor dan tidak tertarik ‘nyemplung’ dalam keramaian yang sudah terlalu umum, sci fi horor bisa jadi opsi yang menarik.

7 Tips Cara Menulis Cerita Hantu

Photo by Felipe Hueb

Setelah mengenal berbagai hal mengenai genre cerita horor di atas, sekarang adalah saatnya kamu mengambil pulpen dan kertas kemudian mulai menulis kisah horormu sendiri.

Menulis kisah horor kadang diartikan hanya sebatas kisah hantu dan mahluk gaib semata yang datang secara tiba-tiba di tengah malam dan udara dingin. Ini dilakukan sangat banyak penulis di Indonesia, menggambarkan cerita horor dengan gaya yang sama.

Nah, supaya lebih menarik, beberapa tips berikut ini mungkin akan membuatnya sedikit berbeda.

Gunakan Ketakutan Kamu Sendiri

Photo by Longxiang Qian

Langkah pertama cara membuat cerita horor di wattpad atau dimana pun kamu ingin menulis, adalah dengan menggunakan ketakutan kamu sendiri sebagai idenya.

Bagaimana maksudnya?

Apa yang kamu takutkan dari sesuatu yang bertemakan horor semacam ini? Apakah kegelapan? Ketinggian? Ruangan yang gelap dan tertutup? Kesepian dan kesendirian yang mencekam? Perairan terbuka yang dalam? Atau apa?

Apa pun itu, kamu bisa menggunakannya untuk mengangkat ketakutan cerita yang kamu tulis menjadi lebih kuat dan menggigit.

Jika ketakutanmu adalah tentang ketinggian, maka tulislah cerita horormu itu yang kengeriannya seperti halnya ketinggian yang menggentarkan hatimu. Kamu misalnya dapat melukiskan bagaimana napasmu yang hampir putus ketika dipaksa berjalan di atas jalan dengan lebar hanya 50 centimeter dengan  sisi salah satunya adalah jurang yang dalam dan gelap.

Atau jika ketakutanmu adalah tentang ruangan gelap dan tertutup, kamu mungkin bisa membayangkan setting cerita seperti goa, bekas galian tambang, atau bahkan terowongan panjang tak berujung.

Lukiskan semua ketakutanmu dengan lengkap. Bagaimana udaranya yang pengab seolah membekap mulutmu, hawanya yang dingin seakan membuat kamu menggigil , atau kekhawatiranmu jika sesosok makhluk menerkammu dari kegelapan dimana cahaya sama sekali tak bisa menyentuh matamu.

Gambarkan semua ketakutanmu itu dengan sempurna.

Pilih Hantu Sebagai Apa

Photo by cottonbro

Kesan apa yang kamu ingin pembacamu rasakan mengenai sosok hantu dan subyek ketakutan dalam novel horor yang kamu tulis?

Apakah kamu ingin pembacamu membencinya? Mencintainya? Atau hanya sekedar merasa takut dengan wujudnya yang seram dan kehadirannya di tengah malam?

Kamu tentu saja dapat memilih hantu sebagai sosok protagonis yang membalas dendam karena disakiti, seperti mayoritas ide cerita klise hantu di Indonesia yang datang bergentayangan karena ia dulunya adalah gadis baik hati yang diperkosa.

Atau kamu ingin membuat sesuatu yang lebih kaya lagi, dimana sosok hantu yang menjadi pusat horor adalah sesuatu yang ditakuti sekaligus jahat dan biadab?

Apakah hantu dalam ceritamu sebagai antagonis? Protagonis? Atau apa?

Tetapkan hal itu sebelum kamu menuliskannya.

Berikan Hantu Kisah Hidup yang Menarik

Photo by Alexandro David

Cerita horor dengan hantu yang datang secara tiba-tiba dan tanpa alasan, bukanlah jenis cerita horor yang menarik. Bagaimana pun juga misteriusnya sosok hantu, kamu harus memberi mereka masa lalu untuk menguatkan karakternya.

Kamu dapat memutuskan darimana sosok hantu dalam ceritamu berasal? Apakah ia pernah hidup sebagai manusia sebelumnya atau, ia adalah makluk jahat yang terlahir dari rahim iblis?

Jika ia adalah manusia, kamu dapat menambahkan lagi apa identitasnya; apakah ia laki-laki atau perempuan? Apakah ia tewas terbunuh ataukah bunuh diri? Berapa usianya? Mengapa ia menjadi sosok hantu yang menebarkan teror dalam ceritamu? Apa motivasi sosok horor itu sebenarnya.

BACA JUGA:

Gunakan Setting yang Tepat

Photo by Mike

Ini menarik dan kamu pastinya sudah sangat sering beradaptasi dengan hal ini.

Untuk pembaca Indonesia, kisah tentang vampir penghisap darah atau manusia serigala yang berubah di bulan purnama, mungkin tidak akan semenakutkan sosok pocong yang melompat-lompat di bawah serumpun batang pisang.

Lingkungan atau setting adalah sesuatu yang sangat krusial dalam penulisan cerita, termasuk cerita horor jenis apa pun. Setting, sperti yang mungkin sudah pernah kamu baca dalam artikel saya lainnya bahwa, tidak hanya tempat dan lokasi.

Kamu dapat menjadikan kepercayaan, kondisi politik, adat istiadat dan sosial budaya sebagai setting atau latar. Sesuaikan setting dengan jenis sosok horor yang kamu pilih yang harus pula dikorelasikan dengan target pembaca yang kamu sasar.

Indonesia, Malaysia, Brunei Darussalam mungkin akan familiar dengan gambaran sosok hantu seperti kuntilanak dan pocong. Namun di negara seperti Rusia atau Maroko, sosok ini tidak begitu menakutkan untuk dijadikan sentral horor.

Berikan Subjek Horor Beberapa Aturan

Photo by Phil

Bahkan hantu dan makhluk gaib pun membutuhkan aturan.

Ketika kamu menulis sebuah ceruta dimana satu karakter memiliki kekuatan yang tak terbatas dan tak memiliki aturan, maka dengan segera cerita itu akan menjadi membosankan. Begitu pula dengan unsur cerita horor, kamu pun harus memberi mereka batasan untuk membuatnya tetap menarik.

Aturan ini misalnya adalah bahwa sosok horor yang kamu ceritakan hanya muncul pada waktu-waktu tertentu, atau ia tidak bisa menyakiti manusia secara langsung melainkan menginsinspirasi manusia untuk mencelakakan diri mereka sendiri, dan lain sebagainya.

Sekali lagi, beri beberapa sosok horor itu aturan dan batasan.

Dasarkan pada Riset

Photo by OVAN

Beberapa penulis cerita horor mengakui bahwa mereka menulis berdasarkan riset yang cukup di lapangan atau pun melalui media lainnya. Bahkan penulis KKN di Desa Penari yang sempat viral itu mengklaim bahwa tulisannya adalah jenis cerita non fiksi horor yang terilhami dari kejadian nyata.

Memang sulit mempercayai hal ini tanpa mengajukan banyak pertanyaan. Akan tetapi yang pasti, sebuah kisah horor yang didasarkan pada riset dan bersumber pada sesuatu yang riil di dunia nyata (terlepas apakah ia fiksi murni atau tercampur dengan realitas) akan selalu lebih menarik untuk dibaaca.

Menariknya lagi, meskipun bukan termasuk novel yang utuh, cerita horor panjang seram seperti KKN di Desa Penari adalah cerita dimana penulisnya mampu menyampaikan berbagai narasi cerita yang unik dan diklaim diperolehnya dari berbagai sudut pandang.

Hindari Sesuatu yang Klise dan Terlalu Mudah Ditebak

Photo by Rene Asmussen

Nah, tips terakhir untuk kamu yang memiliki keinginan untuk menulis kisah horor adalah; hindarilah untuk membuat sebuah jalinan cerita yang klise, terlampau umum dan sangat mudah ditebak.

Kuntilanak yang menjadi hantu karena bunuh diri atau dibunuh setelah terlebih dulu diperkosa adalah contoh cerita horor yang klise. Pembaca akan mudah menebak jalan cerita semacam itu karena sudah terlalu sering mereka temukan.

Dalam penulisan cerita apa pun, kreativitas dan imjinasi memainkan peranan yang sangat vital, bahkan untuk sosok hantu sekali pun.

Carilah plot yang tidak terpikirkan sama sekali oleh pembaca atau mereka sama sekali tidak membayangkan jalan cerita ke arah itu.

Ini mungkin tidak mudah untuk dilakukan, namun itu jauh lebih baik daripada menulis cerita fiksi yang cerita itu sudah diceritakan oleh ratusan penulis horor lainnya dengan nama karakter dan setting yang berbeda-beda.

BACA JUGA:

Bagaimana Selanjutnya?

Photo by Lennart Wittstock

Pada dasarnya cara menulis cerita hantu atau novel horor tidak memiliki banyak perbedaan dengan menulis novel genre tertentu lainnya.

Namun, karena kamu memiliki ketakutan, keseraman dan kengerian sebagai unsur utama cerita, maka kamu harus memfokuskan diri untuk dapat menampilkannya unsur tersebut semaksimal mungkin.

Kunci kesuksesan kamu selanjutnya adalah kedisiplinan, berlatih dan terus-menerus menulis. Pada hakikatnya, penulis apa itu genrenya, tidak bisa mencapai kesuksesan dalam berkarya tanpa disiplin dan kerja keras.

Jadi, semangatlah untuk terus menulis!



anton sujarwo

Anton Sujarwo

Saya adalah seorang penulis buku, content writer, ghost writer, copywriters dan juga email marketer. Saya telah menulis 15 judul buku, fiksi dan non fiksi, dan ribuan artikel sejak pertengahan tahun 2018 hingga sekarang.

Dengan pengalaman yang saya miliki, Anda bisa mengajak saya untuk bekerjasama dan menghasilkan karya. Jangan ragu untuk menghubungi saya melalui email, form kontak atau  mendapatkan update tulisan saya dengan bergabung mengikuti blog ini bersama ribuan teman yang lainnya.

Tulisan saya yang lain dapat dibaca pula pada website;

Saya juga dapat dihubungi melalui whatsapp di tautan ini.

Fortopolio beberapa penulisan saya dapat dilihat disini:


CARA MEMBUAT KERANGKA NOVEL ATAU OUTLINE NOVEL DALAM 5 LANGKAH SEDERHANA

Baru-baru ini dalam kelas menulis online yang saya bimbing, seorang peserta bertanya tentang bagaimana cara membuat kerangka novel yang baik. Saya kemudian menjelaskan teknis membuat outline novel seperti biasanya. Menariknya, beberapa hari kemudian si peserta ini kembali menghubungi saya melalui nomor whatsapp.

Ternyata ia masih mengajukan pertanyaan yang sama yakni, mengenai cara membuat outline atau kerangka novel. Hal ini membuat saya memutuskan untuk secara khusus menulis artikel tentang menyusun kerangka atau outline novel berikut ini.

Nah, apa saja yang harus kamu ketahui tentang cara membuat kerangka novel atau outline novel?

Yuk, simak ulasannya berikut ini.

Panduan Cara Membuat Kerangka Novel atau Outline Novel yang Mudah dan Sederhana

“Pada akhirnya, karakter atau tokoh-lah yang akan menentukan alur cerita, bukan kerangka atau outline. Jadi, bebaskan sayap imajinasimu selama menulis walau pun kamu sudah memiliki kerangka”

A Wan Bong
Photo by Startup Stock Photos

Tidak semua penulis menggunakan outline dalam gaya menulis mereka. Penulis horor paling populer di dunia seperti Stephen King adalah salah satu orang tidak terbiasa dengan plotting. Namun orang seperti Dan Brown dan J.K. Rowling, justru menganggap outline sebagai sesuatu yang sangat penting dalam menulis cerita.

Kerangka novel adalah seperti denah arsitektur bagunan cerita yang utuh. Outline menjadi gambaran besar mengenai plot, karakter, scene, opening dan ending cerita. Layaknya sebuah peta yang lengkap dengan koordinat, outline akan memandu penulis untuk menulis always on the track.

Meskipun saat ini sudah berkembang banyak aplikasi membuat outline novel yang bisa kamu download dengan mudah, kamu juga harus tahu cara menyusunya secara alami. Dan tidak ada cara terbaik mengetahuinya selain memulainya secara komprehensif. Termasuk dengan memahami pengertian sebenarnya dari kerangka atau outline cerita itu sendiri.

Pengertian Kerangka Novel atau Outline Novel

Photo by pedro

Outline atu kerangka novel adalah sebuah dokumen yang didalamnya terdapat berbagai informasi penting tentang perencanaan penulisan novel. Informasi ini termasuk juga tentang struktur cerita, plot, alur, setting, karakter, dan lain sebagainya.

Outline novel ringkasnya, adalah seperti blueprint atau kerangka (seperti halnya tulang manusia) dari novel yang kamu tuliskan.

Contoh kerangka outline novel dapat memiliki bentuk yang bermacam-macam. Kamu bisa membuatnya dalam bentuk struktur umum, diagram, tabel atau apa pun saja. Outline novel lebih kepada peta pikiran visual mengenai poin-poin penceritaan yang kamu anggap penting.

Dalam membuat kerangka novel, setiap bagian atau poin, cukup kamu tulis dalam bentuk kalimat pendek saja. Poin-poin ini adalah bagian penting dalam momen ceritamu yang kemudian saling berhubungan satu sama lain dalam membentuk alur cerita.

Membingungkan?

Nanti kita akan lihat contohnya, ya.

Keunggulan Menggunakan Outline dalam Penulisan Novel

Photo by Oleg Magni

Dalam dunia kepenulisan, penulis yang menggunakan kerangka atau outline dalam menulis seringkali disebut sebagai plotters. Kata ini tentu saja berasal dari kata ‘plot’. Saya sendiri bahkan memberikan istilah ‘plotting’ dalam kelas menulis yang saya bimbing untuk pekerjaan membuat kerangka seperti ini.

Dari sisi keunggulannya sebagai metode menulis, penggunaan plotting cerita dengan membuat kerangka atau outline setidaknya memiliki 7 manfaat yang paling signifikan.

  • Menjaga cerita yang kamu tulis tetap di jalur yang sudah direncanakan.
  • Membantu penulis untuk memvisualisasikan gambaran cerita secara lebih mudah.
  • Memudahkan kamu untuk melihat arah dalam menyusun adegan cerita.
  • Mampu menyajikan karakter dengan cukup spesifik, termasuk tindakan mereka yang krusial misalnya.
  • Dapat berlaku seperti ‘senter’ ketika penulis mengalami kebutaan dan kebuntuan dalam proses menulis.
  • Memperjelas bagian tengah cerita yang jika tidak disusun, kadang-kadang seolah memunculkan kekacauan.
  • Untuk para penulis pemula, kerangka novel adalah peta yang membantu mereka mengenal jalan apa yang mereka harus mereka tempuh selanjutnya.

Kelemahan Menggunakan Kerangka Novel atau Outline

Photo by Monstera

Meskipun memiliki serangkaian keunggulan, membuat kerangka novel atau outline dalam cerita juga memiliki kelemahan yang oleh beberapa penulis, dianggap fatal.

Stephen King dan Margaret Atwood, dua orang yang disebut-sebut sebagai penulis yang ‘anti-outline’, mengatakan bahwa outline bisa saja bukan ide bagus dengan alasan sebagai berikut;

  • Jika diikuti terlalu dekat, outline bisa terlihat seperti formulasi atau desain yang menjadi jiplakan cerita.
  • Dapat membuat narasi cerita yang kaku karena sudah berfokus pada cetakan outline.
  • Dapat lebih banyak kepada pertunjukan semata dan miskin narasi cerita yang mampu membangkitkan imajinasi dan emosional pembaca.
  • Karakter dalam cerita bisa nampak tidak bertindak secara orisinil atau otentik melainkan hanya berdasarkan panduan plot semata.

Mana yang Terbaik; Menggunakan Outline atau Tanpa Menggunakan Outline?

Photo by Negative Space

Saya pernah membuat contoh kerangka novel pribadi pada buku ke-10 saya yang berjudul Islamedina Si Wajah Cahaya. Uniknya, saya menemukan apa yang disampaikan dalam dua hal di atas adalah benar sekaligus.

Keunggulan-keunggulan outline yang bisa menjadi road map, mampu menjadi pagar supaya cerita tidak keluar dari track, membantu penulis tetap bisa menulis meskipun sedang mengalami kebuntuan. Semuanya sempat saya alami sendiri ketika menulis novel Islamedina, baik untuk jilid pertama mau pun untuk jilid yang kedua.

Pada saat yang sama, saya juga menemukan bukti bahwa apa yang dikatakan oleh Stephen King dan Margaret Atwood juga benar.

Risiko narasi yang miskin, kaku dan nampak kurang otentik tetap membayangi sepanjang penulisan. Namun, karena ini bukan contoh kerangka novel fiksi yang saya sebagai penulis bisa mengembangkannya semau sendiri, saya tentu saja harus mengikuti kisah cerita yang orisinil.

Mengambil kesimpulan dari proses ini, sebagai penulis saya sepakat dengan pernyataan bahwa; Tidak ada cara yang mutlak benar dalam menulis novel.

Artinya, kamu boleh memilih untuk menggunakan kerangka atau memilih untuk tidak mengimplementasikannya. Pada akhirnya, hal ini hanya akan bergantung pada jenis penulis seperti apakah kamu dan, bagaimana gaya penulisan yang paling ideal untuk kamu lakukan.

Bagaimana Cara Membuat Kerangka Novel atau Outline Novel dalam 5 Langkah

Setelah kamu mengetahui berbagai hal mendasar tentang penggunaan outline novel atau kerangka cerita fiksi, sekarang adalah saat untuk mempraktikkannya.

Ini sebenarnya tidak akan begitu sulit, terutama jika  kamu dapat menerapkan 5 langkah paling mendasar berikut ini.

Tangkap dan Tetapkan Ide Besar Cerita (Premis)

Photo by Thilo Lehnert

Sesuai dengan namanya, ini adalah ide besar cerita. Namun dari ide ini juga nantinya, kamu dapat membuat contoh kerangka karangan novel dengan lebih mudah.

Daripada memikirkan formulasi yang membingungkan, cara yang sederhana dalam menangkap premis cerita atau ide besar cerita adalah dengan mengajukan pertanyaan berikut:

  • “Apa yang akan terjadi jika…”
  • “Selanjutnya apa yang mungkin akan berlaku kalau…”
  • Dan semacamnya.

Contoh mudahnya seperti ini;

  • “Apa yang akan terjadi jika seorang mantan penjahat memutuskan untuk bertobat namun ia dililit kemiskinan kemudian ada yang menawarinya pekerjaan sebagai pembunuh bayaran, dan dalam pekerjaan itu sahabat terdekat disiksa sampai mati?” (Jawabannya kamu bisa temukan dalam film Unforgiven yang dibintangi oleh Clint Eastwood)
  • “Selanjutnya apa yang akan berlaku kalau seorang gadis cantik diculik sementara ayahnya adalah seorang mantan marinir yang terbiasa bergaul dengan dunia hitam, sedangkan ia sendiri sudah bercerai dengan ibunya si gadis dan tinggal sendiri di apartemennnya (Taken yang dibintangi oleh Liam Neeson)

Kamu tentu dapat membuat lagi contoh yang seperti itu, bukan?

Photo by cottonbro

Intinya adalah, kamu menemukan dan menangkap ide besar cerita yang akan kamu tuliskan dalam satu kalimat seperti contoh di atas.

Untuk membantumu lebih mudah dalam menangkap premis dan mengubahnya menjadi contoh outline cerita, berikut beberapa pertanyaan yang bisa kamu ajukan;

  • Bagaimana situasi yang terjadi?
  • Siapa sebenarnya yang menjadi tokoh utama cerita?
  • Bagaimana tokoh utama cerita mengalami perubahan dari awal hingga ending novel?
  • Apa yang tokoh utama cerita itu inginkan sebenarnya?
  • Bagaimana tokoh utama cerita mencapai keinginannya? Apa yang ia lakukan?
  • Apakah ada yang menghalangi tokoh utama cerita dalam mencapai tujuannya?
  • Apa sebenarnya yang ingin kamu katakan pada pembaca? Apa pesan ceritamu sebenarnya?
  • Apa konflik terbesar dalam novel?

Tentukan Setting atau Latar Cerita

Photo by Taryn Elliott

Setelah kamu mendapatkan premis, hal selanjutnya yang bisa kamu lakukan sebelum membuat outline adalah dengan menetapkan setting atau latar cerita. Seperti yang kamu tahu, setting dapat berupa tempat, waktu, keadaaan sosial, adat istiadat, keyakinan atau agama, dan lain sebagainya.

Cara membuat outline novel fantasi mungkin tidak akan sama dengan novel fiksi sejarah dimana kamu menggunakan tempat yang nyata. Setting dalam penulisan cerita juga sangat bergantung pada jenis cerita separti apa yang kamu sedang tuliskan.

Jika kamu menulis novel historical fiction dengan setting nyata, kamu harus mampu melukiskannya dengan detail, rinci dan spesifik. Untuk kepentingan ini, kamu dapat melakukan riset sedalam mungkin, termasuk dengan misalnya menemukan foto, dokumen, atau pun yang menjadi gambaran komprehensif setting tersebut.

Cara membuat kerangka novel sejarah dengan setting nyata di dalamnya akan memberikan kamu tugas untuk mampu melukiskan settingnya secara lengkap. Apa yang terjadi pada masa itu, bagaimana karakter cerita menghadapinya, apa yang ia rasakan, apa yang dia lihat dan apa pula yang ia dengar.

Keseluruhan elemen itu akan mampu menggambarkan setting cerita yang lengkap.

Ketahui Karakter atau Tokoh Ceritamu

Photo by cottonbro

Langkah selanjutnya yang harus kamu lakukan lagi setelah setting adalah memvisualisasikan karakter atau tokoh ceritamu.

Jika tema novelmu adalah tentang persahabatan dan tujuan kamu sekarang adalah membuat contoh kerangka novel persahabatan, maka pada langkah ketiga ini kamu harus menjelaskan siapa saja karakter yang akan menjadi bintang dalam novel persahabatanmu.

Hal ini mungkin membutuhkan cukup banyak energi dan antusiasme untuk bisa diwujudkan. Namun sebagai tips-tips untuk membantumu, kamu bisa mengajukan beberapa pertanyaan berikut dalam pengerjaannya.

  • Siapa atau karakter yang mana yang akan menjadi pusat plot novel, yang semua jalan cerita dalam novel itu terkait dengan dirinya?
  • Siapa saja karakter atau tokoh pembantu yang kehadirannya hanya untuk mengisi setting dan melengkapi jalan cerita?
  • Perjalanan seperti apa yang akan dilakukan oleh setiap karakter dalam novel?
  • Pada bagian mana karakter tersebut akan kamu perkenalkan, dan pada bagian mana pula ia akan ditampilkan terakhir kali?
  • Detail apa dari karakter yang akan kamu tampilkan dalam novel dan mengapa kamu ingin menampilkannya?
  • Dan lain-lain.

Dengan mempertanyakan hal-hal tersebut, proses membuat contoh kerangka novel apa pun saja pada langkah visualisasi karakter atau tokoh akan menjadi lebih mudah.

Bangun Plot Novel

Photo by cottonbro

Saya biasanya berhenti pada bagian ini ketika membuat kerangka novel. Timeline berbagai kejadian yang akan diceritakan dalam novel, saya buat dalam poin-poin yang sederhana seperti struktur kelas, kemudian struktur tersebutlah yang saya ubah menjadi novel yang utuh.

Namun untuk membuat penjelasan tentang cara membuat kerangka cerita wattpadd, novel online, offline atau novel jenis apa pun ini lebih lengkap, maka saya ingin kamu juga menerapkan pembagian tiga hal berikut dalam langkah membangun plotnya.

Bagian Awal

Photo by Breakingpic

Bagian ini adalah bagian krusial yang penting untuk kamu dapat menarik perhatian pembaca.

Pada bagian ini kamu harus dapat memperkenalkan siapa saja tokoh cerita, siapa karakter protagonis yang akan menjadi pahlawan, siapa karakter antagonis yang akan menjadi penjahat, dan lain sebagainya. Di bagian awal cerita juga kamu harus mampu mengemukakan pertanyaan dramatis dalam cerita.

Intinya, bagian awal adalah bagian dimana semua yang akan terjadi dalam novel kamu perkenalkan kepada pembaca. Bagian ini sekali lagi, harus membuat pembaca menjadi tertarik.

Bagian Tengah

Photo by Gantas Vaiu

Terus terang, bagian tengah dalam mayoritas novel adalah bagian dimana ketegangan menguap, antusiasme menghilang dan potensi kekacauan seringkali terjadi.

Tapi jangan khawatir, ini terjadi pada hampir semua novel.

Bagian tengah memang seringkali menjadi pelandaian cerita yang justru terasa membosankan. Bahkan saya paling banyak menghadapi gejala writer’s block dalam menulis novel adalah ketika menulis bagian tengah novel.

Namun kabar bagusnya adalah ada satu tips yang bisa kamu lakukan untuk membuat bagian tengah ini tetap merangkak di ‘jalan yang benar’.

Tipsnya adalah dengan mengetahui klimaks atau bagian akhir cerita. Ini mungkin terdengar prematur, tapi dengan mengetahui bagaimana cerita dan novel yang kamu tulis akan berakhir, kamu akan tetap bisa mengatur bagian tengah untuk tetap berjalan pada rute yang jelas.

Bagian Akhir

Photo by Maria Orlova

Kamu tidak perlu membuat ending novelnya terlalu spesifik lebih dulu. Cukup dengan membuat pertanyaan saja misalnya;

  • “Bisakah Tatras mencapai Puncak Tebing Selatan gunung Merapi?” (Merapi Barat Daya – Anton Sujarwo)
  • “Apakah Zainuddin dan Hayati akan bersatu?” (Tenggelamnya Kapal Van Der Wick – Hamka)
  • “Apa yang Bharal akan peroleh setelah melakukan perjalanan hiking terpanjang di pulau Jawa ini?” (MMA Trail – Anton Sujarwo)

Membuat ending novel dan memilih mana jenis ending yang paling tepat untuk kamu gunakan, dapat kamu baca dalam artikel ini: 10 Jenis Ending Novel dalam Penulisan Novel.

Mulailah untuk  Menulis Adegan Novel

Photo by Jonathan Cooper

Bagian terakhir dari langkah dan cara membuat kerangka novel adalah dengan membuat scene atau adegannya.

Pada langkah ini kamu dapat menentukan adegan apa saja yang akan berlangsung pada satu bagian atau bab novel? Siapa saja karakter yang terlibat dalam adegan tersebut? Apakah ada interaksi dan reaksi yang kuat ataukah hanya dialog saja? Dimanakah latar yang digunakan? Apakah latarnya adalah waktu, tempat, budaya, agama, situasi politik, atau apa?

Jika dalam adegan tersebut ada dialog, kamu pun harus memastikan bahwa dialog itu tetap memiliki unsur penting dalam cerita dan tidak hanya menjadi ‘pelengkap kekacauan’ saja. Jika kemudian ada flashback, kamu harus memastikan bahwa flashback yang terjadi juga memiliki peran besar dalam menyempurnakan cerita novel.

Mengenai penulisan flashback dan pertimbangan apa saja yang perlu dilakukan sebelum memulainya, dapat kamu baca dalam artikel ini: Haruskah sebuah novel menggunakan flashback?

Bagaimana Selanjutnya?

Photo by Matthew DeVries

Setelah kamu mempelajari teknis dan panduan menulis kerangka novel atau outline novel dalam artikel ini, perlu juga untuk kamu tahu bahwa pada akhirnya karakter atau tokoh cerita-lah yang akan menentukan plot yang sebenarnya.

Sebagai penulis yang kaya akan intuisi, imajinasi dan insting, kamu juga tidak bijaksana jika sepenuhnya bergantung pada outline atau kerangka novel. Di tengah cerita dan penulisan sambil berpedoman pada garis besar cerita, kamu dapat mengikuti instingmu untuk menulis secara lebih bebas dan nyaman.

Mempelajari cara membuat kerangka novel adalah penting untuk memahami garis besar cerita. Akan tetapi bagaimana pun juga sekali lagi; karakter cerita-lah yang akan menentukan plot novelmu pada akhirnya.


anton sujarwo

Anton Sujarwo

Saya adalah seorang penulis buku, content writer, ghost writer, copywriters dan juga email marketer. Saya telah menulis 15 judul buku, fiksi dan non fiksi, dan ribuan artikel sejak pertengahan tahun 2018 hingga sekarang.

Dengan pengalaman yang saya miliki, Anda bisa mengajak saya untuk bekerjasama dan menghasilkan karya. Jangan ragu untuk menghubungi saya melalui email, form kontak atau  mendapatkan update tulisan saya dengan bergabung mengikuti blog ini bersama ribuan teman yang lainnya.

Tulisan saya yang lain dapat dibaca pula pada website;

Saya juga dapat dihubungi melalui whatsapp di tautan ini.

Fortopolio beberapa penulisan saya dapat dilihat disini:


APA ITU SHOW DON’T TELL DALAM PENULISAN FIKSI DAN CARA MUDAH MEMPRAKTIKKANNYA

Sulit bagi pembacamu untuk meletakkan buku yang kamu tulis jika kamu menggunakan teknik Show don’t tell. Penulisan dengan cara seperti ini, seolah menarik tangan para pembaca untuk masuk dalam cerita, merasakan setiap lekuk petualangan yang dilakukan oleh karakter yang kamu ceritakan.

Show don’t tell tentu saja sangat gampang secara teori. Kamu dan hampir semua orang sudah pasti paham maksudnya, bukan?

Tapi bagaimana dengan mengaplikasikannya dalam penulisan fiksi?

Tentu saja tidak sesederhana artinya. Bahkan penulis berpengalaman dengan jam terbang tinggi sekali pun, banyak yang masih gagal mempraktikkan show and tell dalam penulisan mereka.

Memahami Apa Itu Show Don’t Tell dalam Penulisan Fiksi dan Penulisan Umum

Photo by Amina Filkins

“Kita adalah penulis, Sayangku. Kita tidak menangis dengan air mata berurai, tapi kita bersimpah darah dengan kata-kata di atas kertas”

Anonim

Untuk dikatakan sebagai sebuah teknik, show don’t tell rasanya lebih jauh lagi perannya. Seorang penulis yang mampu mengaplikasikan apa itu show and tell dalam tulisan mereka, bukan hanya mampu membius pembaca untuk terus membaca, namun mereka juga mampu membuat pembaca hadir dalam cerita itu sendiri secara emosional.

Tentu saja mempraktikkan show don’t tell dalam penulisan tidak semudah mengucapkannya. Kamu akan membutuhkan waktu untuk berlatih keterampilan yang satu ini hingga mampu mempraktikkannya secara mahir.

Akan tetapi berita baiknya adalah; show don’t tell dalam penulisan itu seperti kemampuan membaca, bahwa sekali kamu mampu melakukannya, kamu tidak akan pernah lupa. Show and tell dalam menulis juga adalah sebuah keterampilan, yang artinya semakin sering kamu mengasahnya, maka semakin hebat pula kamu didalamnya.

Lantas apa sebenarnya keterampilan ini dan adakah contoh show don’t tell yang lebih mudah untuk dipahami?

Saya mengajak kamu untuk mempelajarinya lebih lanjut.

Perbedaan Antara Show and Tell

Photo by Karolina Grabowska

Sebagai seorang penulis kamu harus mampu memprovokasi pembacamu untuk merasakan pula bagaimana emosi yang kamu bangun dalam cerita.

Ketika kamu menulis tentang kesedihan dan kepedihan, kamu tentu ingin pembacamu merasakan hal yang sama, bahkan menangis dan berurai air mata. Sebaliknya, ketika kata-katamu adalah tentang tawa, bahagia dan canda, kamu juga ingin pembacamu untuk tersenyum, menarik napas lega serta berbinar-binar matanya.

Tapi pertanyaannya adalah; Bagaimana melakukan itu semua? Apa yang harus kamu lakukan?

Beberapa orang beranggapan bahwa teknik showing adalah rumus melakukan ini, persisnya keterampilan show don’t tell.

Nah, supaya lebih mudah untuk dipahami, pembahasan dua suku kata ini sendiri harus diterjemahkan secara terpisah.

Show atau Menunjukkan, Mempertontonkan dan Memperagakan

Photo by Amina Filkins

Show adalah sebuah ‘alat’ yang dipergunakan oleh penulis untuk menarik pembaca masuk dalam cerita yang mereka tulis. Dengan menggunakan show ini, penulis berusaha membangun hubungan yang kuat antara pembaca, setting dan karakter dalam cerita. Tidak ada tempat untuk penulis disini, penulis hanyalah orang yang menunjukkannya saja.

Kemampuan seorang penulis menunjukkan atau mempertontonkan adegan per adegan ceritanya kepada pembaca akan membawa pembaca untuk mandi dalam imajinasi mereka sendiri. Pembaca akan mengambil kesimpulan, menafsirkan, menduga bahkan memutuskan berdasarkan imajinasi dan interpretasi mereka sendiri.

Teknik showing ini laksana seorang operator layar tancap yang ia membentangkan kain kemudian menyorotinya dengan film.

Kamu mungkin tidak tahu siapa yang mengoperasikan film layar tancap, bagaimana ia memasang pitanya dan menghidupkan volume suara. Namun kamu pasti ingat film apa yang diputar karena kamu sendiri melihat dengan jelas adegan dalam film tersebut secara nyata di depan matamu.

Tell atau Memberitahu, Mengatakan dan Menjelaskan

Photo by cottonbro

Ketika kamu menggunakan gaya menulis dengan tell, maka kamu telah melakukan sebuah pencurian!

Hah, Pencurian?

Apa maksudnya?

Ya, saat seorang penulis hanya memberitahu pembacanya tentang sesuatu (tell not show), ia seumpama telah mencuri kesempatan para pembacanya untuk bertualang dan menemukan sesuatu dalam dunia yang ia ceritakan.

Pembaca kehilangan kesempatan mereka untuk menambahkan imajinasi mereka sendiri dalam bukumu. Interpretasi mereka tentang sesuatu objek, kondisi, pemikiran atau apa pun itu, menguap hilang seiring keputusanmu untuk memberitahu mereka apa yang terjadi.

Dalam pengertian yang lebih menarik, penulis yang hanya tell saja, seakan telah mengusir para pembaca mereka untuk keluar dari cerita. Ada sebuah batasan yang terbangun antara pembaca dengan cerita yang kamu tuliskan.

Dapatkah Penulis Menyeimbangkan Show and Tell dalam Cerita Mereka?

Source: slideplayer

Beberapa penulis pemula tertarik bertanya bagaimana cara agar showing dan telling seimbang dalam sebuah cerita?

Sulit untuk mengatakannya, namun kamu bagaimana pun juga, harus mengutamakan show dibandingkan tell. Kamu tidak bisa menakar keseimbangan ini secara spesifik, tapi yakinlah bahwa show akan jauh lebih baik untuk jenis kisah apa pun yang kamu ceritakan.

Ketika pembaca melihat cerita yang kamu tuliskan dari sudut pandang karakter atau tokoh, berat bagi mereka untuk meninggalkan bukumu hingga mereka menyelesaikannya. Pembaca seakan menyatu bersama karakter cerita, mereka melangkah dalam irama yang sama, mencium aroma yang sama, dan merasakan hal yang sama seperti yang dirasakan oleh karakter cerita.

Dalam pengertian ini, pembaca akan melihat, meraba, merasakan, mendengarkan dan juga memikirkan persis seperti berdasarkan karakter yang kamu ceritakan. Pembaca dalam hal ini adalah bagian dari cerita itu sendiri.

Untuk mampu mempraktikkan show secara sempurna dalam penulisan cerita, seorang penulis harus menyibak penutup emosi pembaca.

Hal ini tentu saja tidak mudah, namun coba perhatikan contoh teks show and tell berikut ini;

Photo by Aline Nadai

“Hujan telah turun, pakaian Usman dan Hania basah kuyup, mereka terus berjalan karena  lupa membawa payung”

Atau,

“Tidak ada payung, tidak ada tempat berteduh, dan tidak ada pula pilihan bagi Usman dan Hania selain terus melangkah. Butir-butir air yang semula seperti gemericik embun itu, sekarang menjelma laksana butiran jagung besarnya, memandikan rambut, wajah dan pakaian mereka”

Dua kalimat di atas mungkin bukan contoh paling sempurna showing dan telling tentang hujan. Namun coba saja kamu baca sekali lagi, mana di antara kedua kalimat itu yang akan melayangkan imajinasi kamu tentang hujan?

6 Tips Mudah Mempraktikkan Show Don’t Tell dalam Penulisan Cerita

Photo by Pixabay

Setelah memahami bagaimana show don’t tell begitu signifikan dalam penulisan cerita, pertanyaan paling pentingnya kemudian adalah; Bagaimana mengimplementasikannya dalam cerita yang ditulis?

Ini akan membutuhkan banyak perjuangan dan latihan, namun 6 tips berikut ini akan membantu kamu untuk bisa melakukannya dengan lebih mudah.

Jadi, ini adalah 6 hal yang bisa kamu lakukan.

Gunakan Panca Indera Karakter yang Kamu Ceritakan

Photo by diva Trajbariu

Untuk mendapatkan sentuhan show don’t tell yang pertama, kamu bisa menggunakan panca indera yang dimiliki oleh karakter ceritamu sendiri. Artinya adalah, kamu ajak pembacamu untuk berinteraksi dengan alur cerita melalu indera yang dimiliki oleh karakter cerita.

Untuk membuatnya lebih mudah, tips show and tell bisa kamu praktikkan dengan membuat daftar apa saja yang karakter kamu terima melalui panca inderanya.

  • Mata, apa yang karakter ceritamu lihat melalui matanya.
  • Telinga, apa yang tokoh dalam ceritamu dengar dengan telinganya.
  • Lidah dan mulut, apa yang karaktermu kecap dan rasakan melalui lidahnya.
  • Kulit dan tangan, apa yang mungkin karakter ceritamu rasakan melalui kulit mereka atau indera peraba mereka.
  • Benak, pikiran dan perasaan, apa yang mungkin tokoh ceritamu pikirkan dan rasakan.

Setelah kamu membuat daftar apa yang diindera oleh karakter cerita yang kamu tulis dalam salah satu adegan. Selanjutnya adalah membuat kalimat yang kuat dan aktif melalui penginderaan karaktermu sendiri.

Misalnya;

  • Sebuah adegan karakter bernama Jamal memuntahkan air kopinya yang ternyata tidak diberi gula, melainkan garam.

Coba buat begini;

  • Ketika tegukan air kopi itu masuk ke dalam mulut Jamal, ia merasakan sesuatu yang aneh. Tak ada rasa manis disana, hanya ada seperti semangkuk air laut yang diberi serbuk kopi untuk mengubah warnanya saja. Jamal tak tahan, ia pun memuntahkan kembali air kopi yang rasanya demikian pahit itu

Dan kamu bisa membuat contoh show don’t tel lainnya dengan lebih sempurna.

Jadilah Lebih Spesifik

Photo by Erik Karits

Tips kedua untuk mengimplementasikan show don’t tell dalam penulisan cerita adalah dengan membuatnya rinci, detail dan spesifik.

Rumusnya adalah; semakin spesifik cerita yang kamu sampaikan, semakin mudah efek show-nya diperoleh, dan semakin kuat ia tergambar dalam benak pembaca.

Hindari menggunakan istilah yang umum dan terlalu biasa untuk menggambarkan sesuatu. Jika kamu menceritakan karakter ceritamu memiliki kucing di rumahnya, maka tunjukkan itu dengan tingkah si kucing yang tertidur di ranjangnya, menunggu karakter sedang makan atau malah tertidur di atas pangkuannya.

Meskipun demikian, tidak semua bagian menarik dikisahkan spesifik, terlebih lagi jika itu berulang-ulang untuk menjelaskan hal yang sama. Khusus untuk hal ini, kamu dapat menemukan keseimbangan antara show dan tell mengenai bagaimana menempatkannya dalam cerita.

Gunakan Dialog

Photo by SHVETS production

Jika kamu bertanya bagaimana mengaplikasikan teknik showing yang paling mudah dalam cerita? Maka inilah jawabannya; gunakan dialog.

Dialog atau percakapan yang terjadi antar karakter adalah cara termudah untuk show. Ini juga merupakan cara yang mudah untuk menunjukkan aksi real time yang karaktermu lakukan. Dengan dialog, apa yang karakter cerita kamu lakukan dapat dengan mudah digambarkan dan ditunjukkan melalui sudut pandang karakter.

Berlatihlah untuk menggunakan dialog yang kuat dan menarik, karena dialog selalu menjadi alat show yang mudah dalam menulis cerita.

Gunakan Kosakata yang Kuat atau Aktif

Photo by Brett Jordan

Untuk menggambarkan sebuah adegan yang penting dalam cerita, kamu harus dapat memilih kosakata atau kata kerja yang kuat dan berpengaruh. Salah satu cara mengenalinya adalah dengan melihat bahwa kosakata ini dinamis dan seringkali memiliki konotasi gerakan.

Kosakata seperti; cinta, benci, rindu, percaya, pasrah dan sejenisnya, adalah kosakata yang statis dan nampak tidak memberikan energi pada imajinasi pembaca.

Namun ketika kamu memilih kosakata; berjalan, tersenyum, melangkah, berlari, terbang, berkata, berpikir dan memukul misalnya, pembacamu akan melihat gerakan dalam imajinasi mereka.

Dan itu cukup efektif untuk menunjukkan adegan dengan lebih jelas. Alih-alih hanya memberitahunya saja kepada pembaca.

Hindari Kata Keterangan

Photo by Zachary DeBottis

Kata keterangan yang tidak perlu kadang-kadang membuat pembaca justru terhalang untuk ikut menggunakan imajinasi mereka dalam cerita. Dengan kata keterangan yang ditempatkan pada lokasi dan situasi yang tidak tepat, kamu seolah-olah telah membangun sebuah pagar yang samar di antara pembaca dan cerita yang kamu tulis.

Untuk membuatnya lebih mudah, kamu bisa kembali pada contoh teks show don’t tell Usman dan Hania yang basah kuyup oleh hujan tadi.

Atau kamu juga bisa melihat contoh ini;

  • Jalan buntu dan mati langkah! Pencopet itu terpojok sekarang, semua mata penumpang bus seolah panah-panah yang ditembakkan ke arahnya. Ia gemetar, mukanya pucat laksana kain kapan, tamat ia sekarang!

Bandingkan dengan ini;

  • Pencopet itu terpojok sekarang, tak bisa kemana-mana, kebingungan dan ketakutan melanda dirinya.

Perbanyak Fokusmu pada Aksi dan Reaski

Photo by NEOSiAM 2021

Daripada mengatakan bahwa tokoh antagonismu misalnya ‘bejat dan tak bermoral’, bagaimana jika kamu menunjukkan kepada pembaca bahwa tokoh itu tega merampas uang dari ibunya sendiri yang baru saja pulang menjual kayu bakar setelah ia sendiri kalah bermain judi?

Atau daripada mengatakan karaktermu ‘seorang yang dermawan’ mengapa tidak menunjukkannya dengan ia sengaja meluangkan waktu pada setiap sore hari Jum’at untuk mengantarkan uang santunan ke panti asuhan?

Intinya adalah, kamu harus berfokus pada reaksi dan aski yang dilakukan oleh karaktermu.

Aksi dan reaksi akan membuat gambaran yang lebih kuat dalam imajinasi pembaca daripada kamu mengatakannya secara langsung dalam kata-kata yang umum. Bahkan reaksi dan aksi juga bisa kamu gunakan untuk membuat opening yang menarik sekaligus show don’t tell pada pembacamu.

  • Dorr!!! Percikan api menyembur dari ujung pistol di tangan Joane. Jemari lentik itu tak tahan lagi nampaknya, pelatuk senjata itu diremasnya dengan sekuat  tenaga!

Atau,

  • Tatang melompat, hampir terjengkang ke petak sawah di belakangnya, matanya memandang nanar melihat ular sawah yang baru saja lewat hanya satu setengah meter dari kakinya.

Itu mungkin bukan contoh awalan novel yang menarik, namun yang pasti kalimat seperti itu aktif secara aksi dan reaksi. Dalam implementasi show don’t tell, itu cukup layak untuk kamu coba.

Kesimpulannya Sekarang

Photo by Anete Lusina

“Mustahil bagi seseorang untuk dapat mempelajari sesuatu yang ia sendiri pikir, ia sudah sangat pandai di dalamnya”

– Epictetus –

Ada latihan yang panjang dan disiplin hingga kamu terbiasa dan mudah mengaplikasikan kemampuan show don’t tell dalam ceritamu. Namun sekali kamu bisa melakukannya, hal ini akan semakin mudah untuk dipraktikkan dalam kondisi bagaimana pun.

Jadi, selamat mencoba!


anton sujarwo

Anton Sujarwo

Saya adalah seorang penulis buku, content writer, ghost writer, copywriters dan juga email marketer. Saya telah menulis 15 judul buku, fiksi dan non fiksi, dan ribuan artikel sejak pertengahan tahun 2018 hingga sekarang.

Dengan pengalaman yang saya miliki, Anda bisa mengajak saya untuk bekerjasama dan menghasilkan karya. Jangan ragu untuk menghubungi saya melalui email, form kontak atau  mendapatkan update tulisan saya dengan bergabung mengikuti blog ini bersama ribuan teman yang lainnya.

Tulisan saya yang lain dapat dibaca pula pada website;

Saya juga dapat dihubungi melalui whatsapp di tautan ini.

Fortopolio beberapa penulisan saya dapat dilihat disini:


PROFIL KELAS MENULIS ONLINE DI PENULIS GUNUNG ID DAN TATA CARA BERGABUNG

Saya memutuskan untuk membuka kelas menulis online di Penulis Gunung Id setelah mendapatkan begitu banyak permintaan bimbingan penulisan. Pertanyaan mengenai bagaimana cara menulis, apa yang harus dilakukan, bagaimana tips yang ampuh dan lain sebagainya, hampir setiap hari masuk melalui nomor whatsapp dan email saya.

Nah, dalam artikel kali ini pula, saya akan menjelaskan profil kelas menulis ini dan bagaimana jika kamu tertarik untuk bergabung didalamnya dan belajar bersama.

Ada segudang manfaat dan keunggulan yang bisa kamu dapatkan jika memutuskan belajar di kelas menulis online Penulis Gunung Id ini. Namun, sebelumnya saya akan mengajak kamu berkenalan lebih dulu dengan program yang satu ini.

Apa Itu Kelas Menulis Online Penulis Gunung Id?

Photo by Artem Podrez

Seperti halnya kelas menulis online untuk pemula lainnya, Kelas menulis online di Penulis Gunung Id pun secara khusus diperuntukkan bagi pemula. Untuk kamu yang baru akan memasuki dunia penulisan, ingin menulis buku, ingin menulis artikel, novel, memoar dan lain sebagainya sementara kamu belum memiliki pengalaman sama sekali, kelas ini untuk kamu.

Jadi, kelas menulis online Penulis Gunung Id adalah sebuah bimbingan online untuk para penulis pemula yang ingin serius dalam menulis.

Apakah tujuan kamu ingin menjadi penulis profesional dan fulltime writer seperti yang saya lakukan saat ini, ataukah kamu hanya ingin mengabadikan kisah hidupmu dalam sebuah buku yang menarik dibaca, kelas menulis online Penulis Gunung id adalah tempat yang asyik untuk memulainya.

Apa Saja yang Dipelajari dalam Kelas Menulis Ini?

Photo by Mark Neal

Hal yang kamu pelajari jika bergabung dalam kelas menulis di Penulis Gunung id adalah ilmu kepenulisan dasar. Jika kamu misalnya mengambil spesifikasi kelas menulis buku, maka bagaimana memulainya, menemukan ide, menuliskannya, melakukan editing, proofreading hingga publishing akan kamu dipelajari.

Jika kamu mengambil kelas menulis untuk penulisan cerita kisah pribadi misalnya, maka pelajaran akan difokuskan bagaimana mengubah kisah kamu tersebut menjadi sebuah cerita yang bisa dibaca dalam bentuk buku.

Intinya adalah; dalam kelas menulis online Penulis Gunung id, kamu akan mempelajari materi penulisan dasar tergantung dari jenis tulisan apa yang kamu inginkan.

Apakah Ada Topik Khusus dalam Kelas Penulisan di Penulis Gunung id?

Tentu saja ada.

Untuk permulaan, saya akan membuka dua kelas saja terlebih dahulu yakni; kelas penulisan umum dan kelas penulisan untuk kisah pribadi atau kisah hidup.

Berikut masing-masing penjelasannya.

Kelas Penulisan Umum

Photo by Lisa

Kelas ini ideal untuk kamu yang ingin mengenal dunia penulisan secara umum. Dalam kelas ini kamu akan diperkenalkan bagaimana menemukan ide penulisan, bagaimana mengubahnya menjadi draff, bagimana membuat outline cerita dan lain sebagainya.

Atas persetujuanmu, dalam kelas ini kamu juga bisa meminta untuk mempelajari cara menulis artikel populer, artikel SEO, copywriting dan lain sebagainya.

Kelas ini terdiri dari 3 x pertemuan online dengan durasi masing-masing selama 30 menit.

Biayanya Rp, 125.000

Kelas Penulisan Kisah Pribadi (Private Online Coaching)

Photo by Clem Onojeghuo

Nah, untuk kamu yang memiliki target jelas, arah yang terarah dan tujuan yang sudah bulat, kelas ini adalah untuk kamu.

Dalam kelas penulisan kisah pribadi di Penulis Gunung id, kamu yang bergabung akan diminta untuk memilih kisah hidup paling menarik yang kamu miliki untuk dijadikan buku. Target dari kelas ini adalah kamu mampu mengubah cerita kamu tersebut menjadi lembar-lembar buku yang bisa kamu baca dan bisa kamu hadiahkan kepada orang lain.

Kamu akan diajak menceritakan kisahmu, mencari sudut pandang yang paling tepat, menentukan karakter dan lain sebagainya.

Kelas ini terdiri dari 4 x pertemuan online dengan durasi masing-masing pertemuan selama 30 menit.

Biaya Rp, 275.000

Rp, 525.000 untuk peserta dari luar negeri.

Meskipun kelas online melalui google meet sudah selesai, kamu akan tetap dibimbing hingga naskahmu siap untuk diterbitkan. Bimbingan akan dilakukan melalui aplikasi telegram.

Apa Keunggulan Bergabung di Kelas Menulis Online Penulis Gunung id?

Photo by Sam Lion

Semua kelas menulis memiliki keunggulannya masing-masing. Meskipun baru dan belum menjadi kelas menulis online terbaik, kelas menulis online di Penulis Gunung id memiliki beberapa keunggulan yang menarik, antara lain:

  • Dibimbing langsung oleh penulis berpengalaman dan sudah menulis puluhan buku.
  • Jadwal kelas online fleksibel dan bisa kamu pilih sendiri.
  • Gratis berkonsultasi via telegram hingga buku kamu menjadi naskah dan siap untuk diterbitkan.
  • Dilengkapi sertifikat jika kamu sudah menyelesaikan proses pembelajaran.

Bagaimana Metode Belajar di Kelas Menulis Online ini?

Photo by Andrea Piacquadio

Proses kelas menulis akan berlangsung secara online malalui aplikasi google meet. Setiap akhir sesi kelas, kamu akan selalu mendapat tugas menulis yang akan dievaluasi bersama pada sesi selanjutnya.

Untuk lebih jelasnya berikut beberapa ketentuannya;

  • Kelas berlangsung secara daring atau online melalui aplikasi google meet.
  • Durasi kelas mulai dari 30 menit, 45 menit paling lama.
  • Setiap kelas akan berfokus untuk membahas satu pokok pelajaran yang spesifik.

Bagaimana Cara Bergabung di Kelas Menulis Online Penulis Gunung id?

Photo by cottonbro

Untuk bergabung dalam kelas ini caranya sangat sederhana. Kamu hanya perlu mendaftarkan diri saja melalui beberapa tautan di bawah ini.

Daftar dalam kelas penulis umum

Daftar dalam kelas penulisan kisah pribadi

Atau konsultasi terlebih dahulu mengenai kelas penulisan online melalui whatsapp


anton sujarwo

Anton Sujarwo

Saya adalah seorang penulis buku, content writer, ghost writer, copywriters dan juga email marketer. Saya telah menulis 14 judul buku, fiksi dan non fiksi, dan ribuan artikel sejak pertengahan tahun 2018 hingga sekarang.

Dengan pengalaman yang saya miliki, Anda bisa mengajak saya untuk bekerjasama dan menghasilkan karya. Jangan ragu untuk menghubungi saya melalui email, form kontak atau  mendapatkan update tulisan saya dengan bergabung mengikuti blog ini bersama ribuan teman yang lainnya.

Tulisan saya yang lain dapat dibaca pula pada website;


7 HAL PENTING TENTANG STORYTELLING YANG HARUS DIKETAHUI TIAP PENULIS DAN PENDONGENG

Storytelling sama sekali bukan tentang teknik, metode, atau tips-tips yang memukau. Storytelling lebih daripada itu, ini adalah tentang seni dan mahakarya dalam bercerita. Sebagai seni, tentu saja storytelling akrab pula dengan imajinasi, instuisi, inovasi, kreatifitas, keterampilan dan latihan.

Kamu tidak bisa menjadi seorang storyteller hebat hanya dengan sekali duduk atau setelah mengikuti satu kali kursus storytelling. Untuk menjadi seorang yang hebat dalam bercerita, kamu harus melalui proses yang panjang dan mungkin melelahkan.

Terdengar menakutkan, ya?

Tidak juga sebenarnya, terutama jika kamu tahu bahwa storytelling telah menjadi kunci pada kesuksesan banyak hal.

Para pemasar atau sales menggunakan storytelling untuk mengeksekusi prospek. Para pembicara, penceramah, politikus, pengacara, guru, penulis dan profesi apa pun yang mengharuskan kamu berinteraksi dengan orang lain secara intens, storytelling telah menjadi bagian paling menarik yang menentukan kesuksesannya.

Nah, jika kamu adalah salah satu dari orang yang membutuhkan story telling atau storytelling dalam mencapai tujuanmu, artikel dari www.penulisgunung.id kali ini ditulis untuk kamu.

Jadi, apa sebenarnya storytelling itu?

Pengertian Storytelling

Photo by Artem Podrez on Pexels.com

Hal pertama yang harus kamu ketahui adalah apa sebenarnya yang dimaksud dengan storytelling?

Berdasarkan definisi Wikipedia, storytelling diartikan sebagai sebuah cara yang dilakukan untuk menyampaikan suatu cerita kepada para penyimak, baik dalam bentuk kata-kata, gambar, video, tulisan, foto atau pun suara.

Akan tetapi pengertian storytelling yang lebih menarik mungkin adalah suatu proses yang mendayagunakan fakta atau narasi sebagai cara mengkomunikasikan sesuatu kepada orang lain yang menjadi penyimak ceritamu. Beberapa cerita dalam  storytelling adalah nyata, sementara yang lainnya bisa saja adalah improvisasi pencerita supaya pesan cerita yang ingin disampaikan bisa diterima dengan lebih baik

Storytelling adalah salah satu bahasa yang paling universal dan dapat diterima oleh semua kalangan. Cerita akrab untuk orang-orang kaya, cerita biasa diperdengarkan pada para bangsawan di masa lalu, dan cerita juga adalah sesuatu yang sangat lazim dituturkan di tengah rakyat jelata. Pendek kata, storytelling adalah jenis komunikasi yang paling efektif di berbagai lapisan sosial masyarakat.

Meskipun storytelling adalah bahasa yang menyentuh semua kalangan dan semua bisa bercerita, uniknya, hanya sedikit orang yang benar-benar hebat melakukannya. Kamu mungkin mengenal salah satu di antara mereka sebagai penceramah, mubaligh, pelatih, penulis konten, guru atau apa pun sebutannya. Dalam bertutur, orang-orang ini seakan memiliki pesona yang tak terkalahkan.

Orang-orang dengan kemampuan seperti ini telah menganggap bahwa bercerita itu seperti halnya melukis. Perbedaannya adalah, pelukis melukis dengan media kuas dan cat, storyteller atau pendongeng menulis dengan kata-kata. Persamaannya; mereka sama-sama mampu memberikan imajinasi yang sempurna di benak orang lain yang menjadi pemirsa karya mereka.

Nah, sebelum mempelajari struktur storytelling seperti apa yang paling efektif, sekarang mari me-refresh kembali mengapa mendongeng atau storytelling adalah sesuatu yang sangat menarik untuk dipelajari.

Mengapa Harus Storytelling?

Source: Kompas

Ada demikian banyak alasan yang menjadi motivasi mengapa orang-orang memilih storytelling.

Sales atau tim marketing mempelajari hal ini untuk meningkatkan penjualan, guru mempelajarinya untuk mencapai tujuan pendidikan, terapist mengaplikasikannya untuk kesembuhan pasien, dan lain sebagainya.

Akan tetapi sebelum lebih jauh berbicara tentang tema yang lebih luas seperti itu, kali ini saya akan mengajak kamu untuk berfokus pada mengapa harus storytelling yang dipilih? Mengapa bukan data-data, angka-angka, presentasi, atau pun analisis informasi formal lainnya.

Nah, berikut adalah alasannya.

Karena Cerita Mampu Menginspirasi dan Memotivasi

Source: Freepik

Manfaat storytelling yang pertama adalah karena pilihan ini memiliki dampak yang jauh lebih baik dalam menginspirasi dan memotivasi orang lain.

Berapa banyak orang yang tertarik untuk bergabung dalam misalnya; multilevel marketing, karena mendengar cerita bahwa orang-orang yang lebih dulu bergabung telah sukses dan kaya raya.

Cerita tentang bagaimana mereka mendapat reward mobil, uang, perhiasan, rumah bahkan pesawat terbang, telah bermain dalam benak dan mempengaruhi orang lain untuk melakukan hal serupa.

Terlepas dari apakah multilevel marketing tersebut menyampaikan fakta atau mengada-ada, yang jelas metode storytelling jelas menguntungkan buat perusahaan mereka.

Cerita bagimana pun juga, jauh lebih menarik dari sederet angka dan data. Cerita akan masuk ke otak, ke hati dan mengemudikan emosi seseorang untuk tertawa, menangis, haru, benci, marah atau yang paling umum dari tujuan para sales, adalah membeli sesuatu.

Karena Cerita Mampu Membangun Rasa Kebersamaan

Photo by cottonbro on Pexels.com

Alasan kedua yang juga menjadi manfaat storytelling adalah kemampuannya membangun kebersamaan manusia.

Cerita tentang Malin Kundang yang dikisahkan oleh pendongeng terbaik bagaimana pun juga akan mengingatkan pendengarnya tentang anak yang durhaka.

Perasaan marah akan terbangun ketika mendengar cerita itu. Tidak perduli apakah kamu seorang remaja, mahasiswa, orang tua, anggota partai, pejabat, pedagang atau pedagang keliling, kemarahanmu akan terusik jika kisah itu diceritakan oleh orang yang tepat.

Apa pun latar belakang seseorang, storytelling singkat yang mampu dibawakan dengan efektif akan memberikan imbas yang kuat. Storytelling memiliki kemampuan membangun kebersamaan di antara para pendengar atau pemirsanya untuk mencapai satu tujuan yang sama.

Karena Cerita Mampu Menyederhanakan Sesuatu yang Rumit

Photo by Andrea Piacquadio on Pexels.com

Seorang guru matematika mengumpamakan sesuatu yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari untuk menjelaskan rumus matimatika yang rumit. Seorang ustadz atau da’i, juga memberikan contoh yang lebih konkret untuk memberikan contoh penerapan dalam konsep ibadah seperti sedekah, hak waris, dan semacamnya.

Kamu pernah menjumpai hal semacam itu, bukan?

Itu adalah manifestasi dari manfaat storytelling sebagai cara membuat yang abstrak dan rumit, menjadi sesuatu yang jauh lebih jelas dan sederhana.

Dengan mengambil perumpamaan yang dinarasikan dalam cerita, kamu bahkan bisa menyampaikan sebuah pesan yang berat, njlimet, dan mungkin tidak masuk akal sekali pun, menjadi sesuatu yang mudah untuk dipahami orang lain.

Apa yang Membuat Storytelling Menjadi Menarik?

Photo by Andrea Piacquadio on Pexels.com

 Ada beberapa elemen yang dianggap sebagai unsur yang tidak bisa tidak, harus ada dalam sebuah cerita dan storytelling.

Kamu mungkin menganggap bahwa kata-kata dalam cerita bisa bermakna baik atau buruk, tergantung siapa yang menceritakannya. Namun memang, secara spesifik struktur storytelling yang baik haruslah memenuhi beberapa kriteria berikut ini;

  • Mudah Diingat. Hal pertama dari storytelling yang wajib ada adalah bahwa ceritanya mudah diingat atau memorable. Kamu bisa memilih humor, skandal, inspirasi, atau apa saja, namun pastikan itu mudah untuk diingat oleh pemirsamu.
  • Universal. Cerita yang baik adalah cerita yang dapat diterima oleh semua orang dan dari semua latar belakang. Pastikan kamu mempelajari lebih dulu siapa yang menjadi pemirsamu, baru kemudian menentukan cerita yang dapat mereka terima dengan lebih baik.
  • Mendidik. Hal yang harus ada pula dalam sebuah storytelling adalah muatan pendidikannya. Sebaiknya kamu memilih cerita yang merangsang rasa ingin tahu para pemirsamu.
  • Menghibur. Nah, ini adalah salah satu unsur dari storytelling yang harus kamu perhatikan dengan seksama. Cerita haruslah memiliki muatan hiburan atau memberikan rasa penasaran kepada pemirsa untuk mengetahui kelanjutannya.
  • Terstruktur. Kamu tidak diharuskan untuk memulai ceritamu secara krnologis, namun cara berceritanya tetaplah harus tersusun dengan baik. Kamu tidak bisa mencapai tujuan dasar storytelling jika struktur storytelling-mu sendiri berantakan.

Apa Komponen Dasar Storytelling?

Photo by cottonbro on Pexels.com

Supaya memudahkan kamu dalam membangun storytelling yang menarik, kamu juga perlu mengetahui komponen apa saja yang menjadi unsur pembangunnya.

Layaknya menulis cerpen atau novel, menyampaikan storytelling dalam bentuk apa pun perlu mempertimbangkan komponen pembangunnya. Semakin baik kamu memahami dan mengeksekusi komponen-komponen ini, maka semakin mudah pula pesan yang ingin kamu sampaikan diterima oleh pemirsa.

Jadi, apa saja yang menjadi komponen dasar penyusun storytelling yang baik?

Karakter atau Tokoh

Photo by Pixabay on Pexels.com

Setidaknya sebuah cerita harus memiliki satu tokoh atau karakter yang menjadi subjek perceritaan. Karakter atau tokoh ini adalah layaknya jembatan yang menghubungkan antara storyteller dengan pemirsanya.

Lantas, bagaimana menciptakan tokoh atau karakter yang kuat dalam storytelling?

Kamu bisa mempelajari cara membangun karakter atau tokoh dalam penulisan cerita disini, namun poin utama yang harus pula kamu ketahui adalah; karakter yang kuat haruslah mampu menyatu dalam imajinasi pemirsamu.

Artinya jika kamu mampu membuat pemirsa merasa bahwa karakter yang diceritakan dalam storytelling adalah mereka, atau seperti diri mereka, maka tujuan dan pesan ceritakan akan sangat mudah untuk diterima.

Konflik

Photo by Pixabay on Pexels.com

Tidak ada cerita tanpa konflik, dan tidak ada pula storytelling tanpa masalah.

Masalah adalah hal yang membuat karaktermu hidup dan menari dalam benak pemirsa. Konflik atau masalah adalah medan perang dimana tokoh yang kamu ceritakan menunjukkan kemampuannya menyelesaikan masalah.

Masalah atau konflik juga mampu memberikan gambaran yang jelas mengenai bagaimana karaktermu berjuang, bertarung, menghadapi tantangan, dan semacamnya, yang juga pada banyak jenis storytelling menjadi bagian dari pesan itu sendiri.

Kamu bisa mempelajari cara membangun konflik dalam cerita disini.

Solusi

Photo by Pavel Danilyuk on Pexels.com

Secara teknis, solusi adalah ending dari sebuah cerita. Dan menariknya, tidak semua ending cerita harus bahagia.

Meskipun demikian, solusi adalah apa yang akan menjadi motor penggerak pemirsamu untuk memberi respon pesan yang kamu sampaikan. Jadi, kamu juga harus memberikan perhatian pada bagian ini, bagian dimana karaktermu menyelesaikan masalah mereka.

Pada dunia marketing, resolusi dari storytelling adalah call to action dimana para storyteller meninggalkan pemirsa dalam kondisi siap melakukan aksi yang seperti diminta oleh pencerita.

Oh ya, mengenai bagaimana memilih ending yang baik dalam cerita, kamu bisa mempelajarinya dalam artikel ini; 10 cara membuat ending dalam penulisan cerita fiksi.

Apa Saja Jenis-Jenis Storytelling?

Photo by Mark Neal on Pexels.com

Hal berikutnya yang juga sangat penting untuk kamu ketahui adalah mengenai jenis jenis storytelling itu sendiri.

Dengan mengetahui jenis storytelling yang tepat, kamu dapat memilih jenis mana yang paling ideal untuk disampaikan pada pemirsamu. Hal ini nanti akan mengkombinasikan beberapa unsur misalnya tujuan storytelling, pesan yang ingin disampaikan, dan siapa pemirsa yang menjadi tujuan bercerita.

Nah, apa sajakah jenis-jenis storytelling?

Storytelling Provokasi

Photo by Chinmay Singh on Pexels.com

Storytelling dalam jenis ini dimaksudkan untuk memprovokasi pemirsanya supaya melakukan sesuatu yang diinginkan oleh sroryteller.

Kamu dapat melihat konsep storytelling semacam ini pada banyak kasus dimana seorang pendongeng atau storyteller bercerita tentang tindakan-tindakan seseorang dalam mencapai satu tujuan. Lagi-lagi banyak praktisi multilevel marketing yang bisa diambil contohnya untuk menjelaskan jenis storytelling satu ini.

Tujuan utama dari storytelling ini adalah mengajak dan memprovokasi pemirsa untuk melakukan tindakan seperti tindakan karakter yang diceritakan. Mengenai apakah mereka mampu mencapai tujuan seperti dalam cerita atau tidak, itu sudah diuar tujuan storytelling.

Storytelling Narsisme

Photo by Dziana Hasanbekava on Pexels.com

Sama sekali tidak ada konotasi buruk dalam pemaknaan narsis dalam jenis storytelling satu ini. Kamu hanya berusaha menginspirasi pemirsa dengan menceritakan dirimu sendiri.

Menceritakan diri sendiri dapat memadukan banyak hal seperti orisinilitas, perjuangan, kemanusiaan, kegagalan dan juga pencapaian.

Ada banyak storytelling contoh yang seperti ini. Guru, pendidik, penceramah, politikus, cukup sering menggunakan metode ini dalam aktivitas mereka.

Storytelling Nilai-Nilai

Photo by Lisa on Pexels.com

Jenis storytelling yang satu ini bertujuan untuk mendiskusikan nilai-nilai yang mungkin tidak dipahami oleh beberapa orang yang menjadi pemirsamu.

Poin penting dari storytelling nilai-nilai adalah pemirsa dapat menangkap pesan emosi, karakter dan situasi berdasarkan cerita yang disampaikan. Tujuan spesifiknya supaya mereka dapat merasakan bahwa apa yang dialami karakter dalam cerita yang disampaikan, juga memiliki kesamaan dengan hidup mereka sendiri.

Kamu dapat menjumpai contoh storytelling satu ini dalam banyak kasus, seperti pelatihan pengembangan diri dan semacamnya.

Storytelling Spread

Photo by Laker on Pexels.com

Ada sedikit kemiripan storytelling ini dengan jenis provokasi. Namun secara khusus, storytelling spread bertujuan untuk menggerakan pemirsamu untuk mendiskusikan atau membagikan ceritamu pada yang lain.

Jadi, ketika para pemirsa menyimak cerita yang kamu sampaikan, mereka akan membagikan cerita kamu dengan sukarela.

Untuk mencapai efektivitas cerita, kamu harus menjaga karakter ceritamu seplural mungkin dalam berbagai sudut pandang sepaya dapat diterima secara luas.

Storytelling Edukasi dan Pengetahuan

Photo by Pixabay on Pexels.com

Jenis storytelling yang terakhir adalah untuk menyampaikan suatu pengetahuan, pengalaman kegagalan dan perjuangan, serta tentu saja mengenai keberhasilan.

Dengan cerita jenis ini, sebagai storyteller kamu bisa berharap bahwa para pembaca dapat mempelajari masalah yang kamu ceritakan dan solusi apa yang kamu dapatkan untuk mereka dipraktikkan.

Sekali lagi, para pemirsa akan mengukur cerita ini dengan mencerminkan pada diri mereka sendiri. Jika itu terjadi, artinya pesan yang kamu sampaikan telah sampai pada sasaran.

Bagaimana Proses Menyusun Storytelling yang Menarik?

Photo by Karolina Grabowska on Pexels.com

Sebagai sebuah seni layaknya lukisan, ukiran, dan lain sebagainya, storytelling juga membutuhkan latihan dan praktik terus-menerus supaya mencapai kesempurnaan. Mengasah imajinasi, keterampilan dan inovasi dalam bercerita juga membutuhkan proses yang panjang untuk dapat dilakukan dengan baik.

Proses panduan storytelling kali ini adalah langkah demi langkah yang bisa kamu ambil untuk membuat sebuah cerita yang menarik.

Ini tentu bukan jenis pekerjaan yang bisa kamu selesaikan dalam satu malam. Akan ada trial and error yang mewarnai perjalananmu mempraktikkannya. Akan tetapi semakin sering kamu melatih kamampuan kamu bercerita, semakin memukau pula penampilan kamu nantinya.

Dan yang terpenting; pesan apa yang ingin kamu tanamkan dalam benak pemirsa melalui storytelling, dapar diterima dengan sempurna.

Jadi, apa saja langkah-langkah yang bisa kamu lakukan dalam menyusun sebuah storytelling yang menarik?

Kenali Siapa Pemirsamu

Photo by ICSA on Pexels.com

Apakah kamu akan bercerita di depan remaja, mahasiswa, ibu-ibu PKK, Remaja Islam Masjid, atau siapa?

Langkah pertama yang harus kamu lakukan adalah, pastikan kamu mempelajari siapa yang akan menjadi pemirsa storytelling-mu.

Dengan mengenal pemirsamu, kamu akan memiliki peluang untuk mampu menjangkau mereka secara lebih totalitas.

Kamu dapat menyesuaikan cerita dengan latar belakang mereka. Atau jika cerita yang kamu sampaikan adalah fiksi, kamu juga bisa berimprovisasi bagaimana supaya ada bagian cerita yang terasa sangat dekat dengan kehidupan mereka.

Gambarkan dengan Jelas; Pesan Apa yang Ingin Kamu Sampaikan

Photo by Pixabay on Pexels.com

Langkah kedua yang harus kamu tetapkan sebelum kamu memulai proses storytelling itu sendiri adalah menentukan sebenarnya pesan apa yang ingin kamu sampaikan.

Apakah ceritamu membutuhkan waktu lima menit, setengah jam atau bahkan satu jam, selembar kertas, 2 gigabyte video dan lain sebagainya, pesan utama adalah dasarnya. Layaknya pondasi pada bangunan, pesan ini adalah apa yang akan menjadi ruh utama dalam ceritamu.

Apakah storytelling yang kamu bawakan untuk menjual produk, mengumpulkan dana, menjelaskan layanan perusahaan, atau mengingatkan orang akan sesuatu problem yang harus mereka waspadai, yang pasti, tentukan pesan ceritamu sejelas mungkin.

Tentukan Jenis Storytelling yang Akan Kamu Gunakan

Photo by Anastasiya Vragova on Pexels.com

Ini kembali kepada beberapa paragraf di atas, jenis storytelling apa yang ingin kamu gunakan.

Apakah jenis provokasi supaya orang melakukan tindakan yang kamu inginkan? Ataukah jenis spread supaya orang menyebarluaskan ceritamu dan menemukan kesamaan visi dalam kehidupan mereka sendiri.

Tentukan Apa yang Kamu Ingin Pemirsamu Lakukan Setelah Mendengar Cerita (CTA)

Photo by Aleksandr Nadyojin on Pexels.com

Bagian ini mungkin terasa sama seperti langkah kedua, tapi sebenarnya tidak. Langkah keempat ini adalah sesuatu yang lebih spesifik lagi. Dalam blogging kamu bisa menyebutkan dengan Call to Action atau CTA.

Jadi, apa yang kamu ingin pemirsa kamu lakukan setelah mendengar, melihat, menbaca ceritamu?

Pada bagian ini kamu tidak hanya berfokus pada pesan apa yang harus didapatkan pembaca. Akan tetapi lebih jauh lagi, kamu juga dapat menjelaskan dengan baik apa yang kamu ingin pemirsamu lakukan sebagai aksi mereka.

Apakah kamu ingin mereka membeli produkmu?

Apakah kamu ingin mereka bergabung dalam kelas yang kamu ajarkan, menyumbangkan uang untuk program sosial, bergabung menjadi follower atau subscriber, atau apa?

Pilih Media Bercerita

Photo by George Milton on Pexels.com

Cerita dapat tampil dalam berbagai bentuk dan cara. Cerita dapat dibaca melalui rangkaian kata-kata dan tulisan, cerita juga bisa didengar melalui radio atau rekaman, atau cerita juga bisa ditonton melalui video seperti di youtube dan tiktok.

Pilih media apa yang ingin kamu gunakan untuk bercerita kepada pemirsamu. Semua media cerita memiliki keunikan dan keunggulannya sendiri-sendiri, kamu dapat memilih berdasarkan performance terbaikmu dalam masing-masing media tersebut.

Secara umum kamu dapat memilih 4 media berikut untuk menyampaikan ceritamu;

  • Storytelling Tulisan; bentuknya dapat berupa artikel, blog post seperti yang kamu baca sekarang, buku , ebook atau yang lainnya. Kamu juga bisa menambahkan gambar, grafik, angka-angka untuk membuat ceritamu lebih hidup dalam media ini.
  • Storytelling Orasi; ini adalah yang paling sering kamu lihat dan paling populer, yakni bercerita secara langsung dari mulut ke telinga. Kamu bisa melihatnya dalam presentasi, rapat, dalam ceramah, dalam khutbah dan lain sebagainya. Media jenis storytelling satu ini membutuhkan lebih banyak latihan public speaking supaya kamu mahir melakukannya.
  • Storytelling Audio; Ini sama seperti suara langsung, hanya saja dalam bentuk rekaman. Kamu bisa melihat contohnya pada teknologi podcast.
  • Storytelling Digital: Kamu bisa bercerita melalui video, animasi, games atau video interaktif. Sejauh ini, ini adalah jenis storytelling yang paling kuat menyentuh emosi pemirsa sekaligus juga yang paling mahal dari sisi biaya.

Tuliskan Konsepnya atau Outlinenya

Photo by Alena Darmel on Pexels.com

Nah, langkah keenam untuk menyusun makalah storytelling ini mengharuskan kamu untuk menulis lagi.

Dengan latar belakang pemirsa yang sudah kamu ketahui, pesan yang ingin disampaikan sudah jelas dan, apa yang kamu ingin pemirsa lakukan setelah mendengar ceritamu juga sudah dipetakan dengan baik, maka membuat bagian ini akan jauh lebih mudah.

Kamu bisa membuat semacam outline dan garis besar cerita supaya proses eksekusinya menjadi lebih spesifik dan efektif.

Bagikan Ceritamu

Photo by Ivan Samkov on Pexels.com

Ini adalah langkah terakhir untuk membuat ceritamu semakin efektif dan menjangkau lebih banyak pemirsa.

Jadi sekarang, bagikan ceritamu!

Setelah pertarungan dan perjuangan membuatnya, sekarang waktunya untuk menyempurnakan perjuanganmu dengan membaginya pada orang lain. Tidak ada mantra khusus dalam langkah ini, namun semakin banyak tempat kamu membagikan ceritamu, semakin banyak pula feedback yang bisa kamu harapkan.

Kamu bisa membagikan ceritamu di media sosial seperti facebook, twitter, instagram, pinterest dan lain sebagainya. Jika bentuknya adalah digital, kamu juga bisa melakukannya di youtube, tiktok dan semacamnya.

Sekarang Terserah Padamu

Photo by Andres Ayrton on Pexels.com

Sebagai sebuah seni, storytelling adalah sesuatu yang menarik dipelajari dan dikuasai. Apalagi melihat dampaknya yang signifikan dalam banyak bidang, keterampilan ini akan membantumu untuk melaju lebih kencang menuju tujuan yang kamu inginkan.

Terserah padamu sekarang, apakah kamu akan mempelajari storytelling melalui media yang mana. Tulisan, orasi penyampaian langsung, rekaman atau digital, semua dapat kamu pilih untuk memaksimalkan potensi yang kamu miliki.

Khusus untuk tulisan dalam bentuk apa pun; apakah kamu menyukai media buku, artikel, quotes, kisah pribadi dan lain sebagainya, www.penulisgunung.id adalah tempat yang menarik untuk mempelajarinya.

Misalnya jika memiliki buku yang menjadi tujuanmu. Maka, selama kamu mengikuti metode yang disampaikan, dijamin dalam satu bulan kamu akan memiliki buku atas nama kamu sendiri.

Jadi, tunggu apa lagi? Mari bergabung dalam kelas menulis dibawah ini.


anton sujarwo

Anton Sujarwo

Saya adalah seorang penulis buku, content writer, ghost writer, copywriters dan juga email marketer. Saya telah menulis 14 judul buku, fiksi dan non fiksi, dan ribuan artikel sejak pertengahan tahun 2018 hingga sekarang.

Dengan pengalaman yang saya miliki, Anda bisa mengajak saya untuk bekerjasama dan menghasilkan karya. Jangan ragu untuk menghubungi saya melalui email, form kontak atau  mendapatkan update tulisan saya dengan bergabung mengikuti blog ini bersama ribuan teman yang lainnya.

Tulisan saya yang lain dapat dibaca pula pada website;

Saya juga dapat dihubungi melalui whatsapp di tautan ini.

Fortopolio beberapa penulisan saya dapat dilihat disini:


BUKU PUISI LUKA GILA MATI LARI; SELAMAT DATANG DALAM KOLEKSI

Akhir bulan September ini, saya akan merilis sebuah buku baru yang istimewa.

Ini sama sekali buku yang berbeda dalam barisan karya-karya saya, ini adalah buku puisi atau buku kumpulan sajak. Saya menulis buku ini dalam beberapa bulan terakhir dan memutuskan untuk merilisnya pada akhir bulan September tahun 2021 ini.

Saya memberi judul buku ini dengan empat kosakata terpisah yakni; Luka, Gila, Mati, Lari.

Ini adalah kata yang unik, seunik sejarah yang tersimpan dalam empat kata yang juga memiliki korelasi dengan kehidupan saya di pulau Sumatera.

Lantas, apa saja isi buku puisi ini dan apa hal menarik yang bisa saya bagikan?

Selayang Pandang Isi Buku Puisi Luka Gila Mati Lari

Photo by cottonbro on Pexels.com

Menulis puisi bukan keahlian terbaik saya. Itu adalah hal yang pertama yang perlu saya sampaikan.

Kemudian saya juga perlu mengatakan bahwa menulis buku puisi untuk pemula seperti yang saya lakukan ini, sebenarnya adalah langkah yang nekad. Saya pernah mengikuti penulisan puisi secara antologi, tapi itu tentu saja bukan modal yang cukup untuk dapat menulis buku puisi atas nama sendiri.

Tapi saya suka langkah yang berani.

Dan tidak ada salahnya pula dengan menulis sebuah buku puisi, kan?

Alasan lain adalah saya suka pada puisi, pada sajak, pada syair, atau pada susunan kata-kata indah yang dibuat oleh orang-orang dengan imajinasi tinggi. Tentu saja saya bukan bagian dari ‘komplotan penyair romantis Indonesia’, namun rasanya keinginan untuk menulis sebuah buku puisi bukan sesuatu yang berlebihan.

Mengapa Judulnya Luka Gila Mati Lari?

Photo by Lydia on Pexels.com

Judul buku puisi ini terinspirasi dari kejadian puluhan tahun lalu, bahkan ketika saya sendiri belum dilahirkan. Empat kosakata ini terlahir dari sebuah peristiwa sejarah dalam keluarga dimana saya terlahir dan dibesarkan.

Sebagian besar isi buku puisi ini berkisah tentang keberanian, tentang semangat, tekad, tentang renungan akan kematian, dan tentu saja juga tentang cinta. Hal menarik lain adalah, saya menyelipkan beberapa tulisan bebas saya dalam buku ini.

Oh ya, buku puisi ini juga menjadi buku kedua dimana saya menggunakan nama dari masa kecil saya. Buku sebelumnya yang berjudul Mimpi Di Mahameru, saya juga cantumkan nama ini di atas sampulnya.

Nah, sebagai intermezzo untuk para pembaca www.penulisgunung.id, berikut saya publish salah satu puisi yang juga menjadi judul dari buku ini.


Luka Gila Mati Lari

Ia yang terluka, membanjir darah
Ia yang gila, hilang tak tentu arah
Ia yang mati, terkapar tak peduli
Ia yang lari, pergi menyelamatkan diri.

Hancur sudah!
Binasa dalam pertarungan
Pertempuran rasa hormat kesombongan
Perkelahian dan persaingan.
Sengit!
Sengit!
Mempertahankan pendirian kemuliaan pandangan adat manusia.

Ia yang terluka, terkoyak, tercabik
Ia yang gila, meraung, tertawa, menangis
Ia yang mati, sendiri, sepi, gentayangan
Ia yang lari, terseok, jauh, kehilangan harga diri.

Sudah terlanjur!
Nasi sudah menjadi bubur.

Pisau dan badik telah ditusuk, membuat terluka
Derita dan ambisi telah dibaca, membuat gila
Penyakit dan tekanan telah tiba, membuat mati
Kabar yang hilang, tak ada gairah berjuang, membuat lari.

Luka, dalam, robek!
Gila, hilang akal, meracau dan memaki, menangis dan memelas
Mati, binasa, tak bersisa
Lari, tunggang langgang, tiada bertulang.

Aduhai semangat si anak Bujang
Lahir dari rahim sang Pejuang
Itu dengar seruan zirahmu
Bergemuruh dari pusaka ayah ibumu.

Dengarkan itu!

Luka! Luka! Luka!
Gila! Gila! Gila!
Mati! Mati! Mati!
Lari! Lari! Lari!

Dengarkan itu!
Tengadahkan wajahmu, pompa keberanian dalam jantungmu
Basuh lukamu dengan air penyembuh
Rawat akalmu dengan kasih teduh
Bangunkan kematianmu dengan peluh tanpa riuh.

Jangan lari, jangan lari!
Berlutut!
Bukan kepada-dia, kepada-ia  atau kepada-nya
Atau kepada adat, kepada riak, kepada hukum manusia.

Tapi berlutut!
Sesenguklah kamu!
Kepada Dia, Dia, Dia.

Dia yang membasuh lukamu
Dia yang mewaraskan akalmu
Dia yang menghidupkan matimu
Dan Dia, 
yang menghentikan langkah pengecutmu
Mengembalikan kamu lagi ke medan laga.

Luka akan sembuh
Gila akan pulih
Mati akan suci
Lari akan kembali

Engkau si anak Bujang.
Hanya perlu berlutut dalam munajat panjang.

Banjengan 05 Desember 2020

anton sujarwo

Anton Sujarwo

Saya adalah seorang penulis buku, content writer, ghost writer, copywriters dan juga email marketer. Saya telah menulis 14 judul buku, fiksi dan non fiksi, dan ribuan artikel sejak pertengahan tahun 2018 hingga sekarang.

Dengan pengalaman yang saya miliki, Anda bisa mengajak saya untuk bekerjasama dan menghasilkan karya. Jangan ragu untuk menghubungi saya melalui email, form kontak atau  mendapatkan update tulisan saya dengan bergabung mengikuti blog ini bersama ribuan teman yang lainnya.

Tulisan saya yang lain dapat dibaca pula pada website;

Saya juga dapat dihubungi melalui whatsapp di tautan ini.

Fortopolio beberapa penulisan saya dapat dilihat disini:


Buat situs web atau blog di WordPress.com

Atas ↑