10 TIPS MELAKUKAN RISET DALAM MENULIS ARTIKEL ATAU BUKU NON FIKSI

Jika kamu menulis buku non fiksi atau artikel ilmiah, riset adalah hal pertama yang harus kamu lakukan. Riset dalam menulis non fiksi adalah faktor fundamental yang menentukan kekuatan hasil tulisan yang menjual, menarik bagi pembaca, kredibel dan dapat dipertanggungjawabkan.

Namun bagaimana sebenarnya melakukan riset untuk penulisan non fiksi? Bagaimana supaya artikel atau buku yang kamu tulis tidak terlihat seperti hanya salinan wikipedia atau ensiklopedia semata?

Saya akan membantu kamu melakukannya dalam artikel kali ini.

Berani Coba?

WUJUDKAN IMPIANMU MENJADI PENULIS MELALUI KELAS MENULIS ONLINE DI PENULIS GUNUNG ID

10 Formula Melakukan Riset dalam Menulis Non Fiksi untuk Buku atau Artikel

Photo by Dziana Hasanbekava

Riset adalah sebuah penelitian yang dilakukan untuk mengambil sebuah kesimpulan terhadap sebuah objek tertentu. Dalam penulisan, riset adalah suatu kegiatan mengumpulkan berbagai sumber informasi obyek penulisan baik yang dilakukan secara kepustakaan, observasi lapangan, interview atau metode lainnya.

Dalam ruang lingkup penulisan fiski, riset pun tidak dapat ditiadakan begitu saja. Jika kamu menulis novel sejarah atau historical fiction, riset justru menjadi bagian yang sangat krusial. Dapat dikatakan bahwa hampir semua jenis-jenis novel sejarah memberikan porsi yang besar dalam tahap risetnya.

Novel sejarah yang memadukan unsur imajinasi dan catatan sejarah, tidak dapat dilakukan tanpa penelitian. Apa yang dimaksud novel sejarah adalah perpaduan antara nilai peristiwa sejarah dengan imajinasi penulis yang disusun dalam larik cerita yang memikat pembaca. Jika salah satu dari dua unsur ini dihilangkan, penulisan historical fiction dalam sudut pandang novel tidak dapat dilakukan.

Jika dalam penulisan novel yang bercampur unsur fiski saja riset demikian memegang peranan signifikan, lantas bagaimana dengan penulisan artikel atau buku ilmiah?

Sudah pasti harus lebih prioritas, bukan?

Nah, untuk itulah tips-tips dalam melakukan riset penulisan non fiksi berikut ini penting untuk kamu pertimbangkan.

Tentukan Jenis Informasi Seperti Apa yang Dibutuhkan Buku atau Artikel yang Kamu Tulis

Photo by Pixabay

Ketika saya pertamakali menulis buku tentang pendakian gunung atau mountaineering, saya mengumpulkan banyak sekali sumber penelitian dari kegiatan riset yang dilakukan.

Penulisan ini menjadi sangat luas bahkan mencapai lebih dari 1200 halaman. Saya menulis tentang sejarah pendakian gunung dunia, darimana aktivitas ini berasal, bagaiman timeline dari masa ke masa, daerah mana saja yang menjadi fokus perkembangan, siapa saja tokohnya, dan lain sebagainya.

Intinya; saya mengumpulkam informasi apa pun yang saya temukan tentang mountaineering.

Sewaktu akan diajukan ke penerbit, naskah ini menjadi sangat tidak efektif.

Ini seperti eksiklopedia dunia pendakian gunung yang harus diterbitkan dalam setidaknya dua atau tiga jilid. Penerbit saya menolak naskah itu dan meminta saya untuk merevisinya terlebih dahulu.

Saya kemudian memutuskan untuk ‘memecah’ naskah panjang tersebut menjadi tiga buah buku dengan fokus pembahasan yang terpisah namun tetap terintegrasi.

Pada akhirnya setelah melalui penulisan ulang yang tentu saja harus menambah referensi riset disana sini kembali, jadilah kemudian tiga naskah buku saya yang pertama; Wajah Maut Mountaineering Indonesia (310 halaman), Dunia Batas Langit (650 halaman) dan Mahkota Himalaya (550 halaman).

Source: Koleksi Pribadi

Proses riset ini meskipun dapat menghasilkan tiga naskah buku sekaligus, tentu saja tidak efektif.

Nah, supaya hal serupa tidak terjadi dengan riset penulisan yang kamu lakukan, kamu bisa melakukannya secara lebih terarah. Cari apa yang sebenarnya yang ingin kamu temukan dalam riset tersebut.

Tips tambahan untuk hal ini adalah dengan membuat daftar informasi apa saja yang kamu butuhkan. Membuat daftar seperti ini jauh lebih baik daripada seharian membolak-balikkan halaman buku atau mengunjungi puluhan situs di internet tanpa arah yang jelas.

Jika kamu membuat kerangka dalam penulisan non fiksi dengan baik, riset dengan daftar seperti ini akan jauh lebih mudah dilakukan. Panduan outline sebagai garis besar cerita akan memberikan kamu arah informasi apa saja yang kamu butuhkan untuk melengkapi tulisan kamu nantinya.

Baca Juga:

Tentukan Berapa Banyak Informasi yang Dibutuhkan Artikel atau Buku yang Kamu Tulis

Photo by brotin biswas

Tips kedua dalam melakukan riset non fiksi adalah dengan menentukan seberapa banyak informasi yang kamu perlukan?

Hal ini akan bergantung pula dengan beberapa hal seperti;

  • Seberapa banyak pengetahuan yang kamu miliki terhadap obyek yang kamu tulis. Semakin banyak pengetahuan yang sudah kamu ketahui, maka semakin sedikit riset yang kamu butuhkan. Namun kamu juga mungkin perlu memverifikasi informasi yang kamu ragu-ragu tentangnya.
  • Pengalaman yang kamu miliki juga akan menentukan kuantitas riset. Pengalaman yang lebih banyak bukan hanya akan membuat riset kamu menjadi lebih ringan, namun juga akan membuat tulisan kamu terasa lebih alami untuk dibaca.
  • Panjang tulisan. Semakin panjang artikel yang kamu tulis, maka semakin banyak kamu memerlukam riset. Itu adalah suatu logika yang lumrah, bukan?

Jika kamu hanya menulis artikel sepanjang 500 kata, kamu mungkin hanya perlu riset dari 2 atau 3 sumber saja. Namun jika kamu menulis buku dengan panjang 500 halaman, riset yang kamu lakukan bisa berdasarkan ratusan sumber pula.

Tentukan Seberapa Detail Tulisan yang Dibutuhkan Pembacamu

Photo by lilartsy

Ini memang bukan tips menulis novel yang populer, namun pesannya adalah sama bahwa kamu harus mengetahui siapa pembaca tulisanmu.

Jika kamu menulis suatu topik untuk kalangan umum, atau untuk usia anak-anak, atau untuk kalangan yang memiliki pemahaman terhadap obyek yang kamu tulis pada tahap yang biasa, maka kamu harus membuatnya sederhana.

Hindari menggunakan kata-kata yang rumit, pembahasan yang njelimet dan membingungkan. Penulisan yang terlampau spesifik untuk sebuah subyek penulisan dimana pembacanya adalah masyarakat umum cenderung jadi membosankan. Dan itu tidak disukai oleh para pembaca.

Sebaliknya, jika kamu menulis tentang subyek yang pembacanya memiliki cukup baik pengetahuan, maka kamu membutuhkan riset yang lebih detail.

Orang-orang dengan segmentasi seperti ini menginginkan suatu informasi yang belum mereka ketahui. Atau pun jika mereka sudah mengetahuinya, kamu harus mampu menyampaikannya dari sudut pandang yang berbeda.

Bayangkan saja misalnya jika kamu menulis informasi kesehatan mata untuk kalangan pembaca yang mayoritas adalah praktisi gizi, latar belakang medis dan kesehatan umum. Kamu tentu saja tidak bisa hanya mencantumkan bahwa wortel itu bagus untuk mata, karena mereka semua sudah mengetahui informasi dasar tersebut.

Jadi prinsipnya adalah; kenali siapa pembaca tulisanmu dan itu akan menentukan seberapa detail riset yang kamu butuhkan.

Tentukan Dimana Bisa Mendapatkan Informasi yang Kamu Butuhkan

Photo by Pixabay

Sewaktu saya melakukan launching buku saya yang berjudul Gunung Kuburan Para Pemberani, seorang peserta mengajukan ‘tembakan sebelah mata’ pada saya dengan mengatakan;

“Pada masa kami, jika kami ingin melukis harimau dari Siberia, maka kami harus datang ke Siberia dan menggambarnya secara langsung”

Ini sebenarnya adalah ungkapan sindiran bahwa saya menulis sejarah aktivitas pendakian gunung di dunia tetapi saya sendiri belum pernah mendaki puncak Everest atau terjebak badai salju di Alaska. Peserta itu menyindir saya yang menulis hanya berdasarkan riset melalui buku, majalah dan internet saja.

Saya tidak menyanggah hal itu, namun pertanyaan  saya selanjutnya adalah:

  • Jika seseorang harus mencapai puncak Everest dulu atau terbenam di badai Alaska dulu untuk menulis buku tentang mendaki gunung, maka buku dengan tema ini bisa saja tidak akan pernah ditulis. Bukankan beberapa orang yang menjadi pendaki gunung sungguhan justru tidak pernah menulis buku? Jika demikian, bagaimana masyarakat awam namun haus pengetahuan tentang mountaineering akan mendapatkan informasi tentang hal ini?
  • Apakah internet dengan sumber validitasnya yang bisa langsung dikomparasi tidak cukup dijadikan sebagai sumber penulisan? Apakah itu menyalahi aturan?
  • Jika demikian, kapan Indonesia akan memiliki buku-buku yang secara khusus menulis dunia pendakian gunung?

Internet adalah berkah dalam kehidupan modern. Manusia bisa mencari informasi apa pun saja di internet dan memvalidasinya dalam waktu yang sama melalui sumber yang berbeda. Internet bagaimana pun kamu menolaknya, adalah wadah raksasa yang telah mengubah dinamika riset kepenulisan menjadi lebih mudah.

Akan tetapi memang, sumber ini juga memiliki titik lemahnya jika si penulis menjadi malas untuk memburu sumber lainnya sementara ia sendiri bisa melakukannya.

Jika riset melalui internet membuat kamu malas datang ke perpustakaan dimana kamu sendiri dapat menghirup aroma kertas kuno yang menjadi sumber penulisan klasikmu, maka itu yang mungkin patut dikhawatirkan.

Periksa Sumber Riset yang Kamu Lakukan dengan Cermat

Photo by Markus Spiske

Untuk penulisan yang bersumber dari internet, setidaknya kumpulkan tiga sumber berbeda untuk memvalidasi satu subyek yang dituliskan.

Ini adalah cara yang umum dilakukan guna mengantisipasi sumber di internet yang bisa saja tidak benar. Kamu mungkin terpesona dengan uraian yang disampaikan dalam sebuah situs terkenal dan tertarik menjadikannya sebagai sumber penulisan. Namun tetap saja kamu harus mengkonfirmasinya dengan setidaknya dua situs lain untuk melihat akurasi isi yang disampaikan.

Tetapi bagaimana jika semua situs tersebut mengambil sumber dari situs lain yang tidak benar dari awal?

Nah, untuk itulah kamu tetap membutuhkan kecermatan yang tinggi dalam memilihnya. Saya bahkan biasanya menggunakan lebih dari 10 sumber penulisan untuk sebuah obyek yang diceritakan. Buku-buku pendakian gunung yang saya tuliskan bahkan memiliki sumber penulisan dari berbagai macam bahasa dunia seperti Inggris, Italia, Polandia, Jepang dan juga Rusia.

Motivasi menulis novel sejarah seperti pendakian gunung baik ia fiksi atau non fiksi, harus menempatkan riset dengan cermat. Proses ini tidak bisa dilakukan dalam waktu satu malam. Kamu harus menyaring mana sumber penulisan yang layak kamu gunakan dan yang tidak seharusnya kamu gunakan.

Pastikan Riset yang Kamu Lakukan Menarik bagi Pembaca

Photo by Andrea Piacquadio

Setelah memilih sumber penulisan secara cermat dan hati-hati, kamu juga harus dapat memilih sumber yang memiliki nilai bagi pembacamu. Tidak ada pembaca yang tertarik dengan sesuatu yang mereka sudah ketahui atau dapat mereka cari dengan mudah informasinya.

Meskipun demikian, kamu juga tetap harus sangat hati-hati dalam menuliskannya. Dan yang paling tidak boleh kamu lakukan adalah mengakui sumber risetmu sebagai sesuatu yang menjadi milik kamu sendiri. Ini adalah plagiat, dan plagiat adalah dosa penulis yang paling berat.

Hal menarik lain untuk kamu perhatikan terkait plagiarisme jika kamu mempublikasikan tulisanmu di internet pula adalah; beberapa kebijakan publishing yang menyatakan bahwa 3 kata berurutan adalah termasuk plagiat.

Walau pada umumnya tidak ada penulis yang berencana secara sadar untuk melakukan plagiat. Namun, plagiarisme secara tidak sengaja cukup sering terjadi.

Kamu harus berhati-hati untuk menghindarinya.

Baca pula:

Jika Memungkinkan, Seimbangkan Dengan Interview

Photo by RODNAE Productions

Metode riset penulisan yang masih sangat efektif hingga kapan pun nampaknya adalah wawancara.

Interview atau wawancara dengan seseorang yang memiliki background pengetahuan suatu objek secara luas akan memberikan kamu banyak manfaat. Kamu bisa mengkoreksi hasil riset internet dengan cara ini, atau kamu juga dapat mengambil sudut pandang mereka.

Supaya paparan yang kamu berikan pada pembaca menjadi lebih kaya, kamu dapat menampilkan hasil wawancara pada dua orang yang memiliki pendapat berbeda mengenai obyek yang kamu tulis.

Jika penulisannya sendiri kamu buat dalam format interview, teknik ini bahkan akan membuat karyamu akan jauh lebih ‘hidup’ untuk dibaca.

Hindari Informasi yang Tidak Relevan Meskipun itu Menarik

Photo by Vlada Karpovich

Sangat mudah untuk hanyut dalam aliran riset ketika kamu merasa tertarik di dalamnya. Praktikknya adalah saat kamu melakukan riset melalui internet dan kamu menemukan apa yang kamu cari disana, maka jangan buru-buru untuk beralih ke sumber lain sebelum kamu mencatatnya.

Ketika kamu beralih ke platform lain setelah mendapatkan tujuan risetmu di internet, kamu akan lebih mudah untuk mengalami ‘pengaburan target penulisan’. Beberapa penulis menyatakan ini sebagai sebuah risiko munculnya ide-ide irelevansi dimana tujuan risetmu tidak lagi memiliki hubungan yang kuat dengan apa yang kamu tulis nantinya.

Menariknya, internet bukan hanya tempat untuk mendapatkan pengaburan semacam ini. Risiko irelevansi pun dapat terjadi pada saat kamu melakukan riset menggunakan buku, sumber riset yang paling populer sepanjang masa.

Bagaimana mungkin?

Contohnya begini:

Anggaplah kamu sedang mencari informasi tentang Paus Urbanus II yang pidatonya memicu terjadinya perang salib selama dua abad yang sangat terkenal itu. Pada saat kamu sudah menemukan apa yang kamu cari pada sebuah sumber buku tentang perang salib, hentikan membacamu dan pindahkan informasi itu ke dalam catatan risetmu.

Jika kemudian kamu memperturutkan hati kamu yang tertarik pada peristiwa lain dalam buku sejarah itu, maka uraian penulisan kamu tentang Paus Urbanus II sendiri nantinya bisa saja akan mengalami pengaburan atau distraksi.

Beri Kesempatan pada Pembaca jika Ingin Mengetahui Lebih Banyak

Photo by Abby Chung

Dunia pendakian gunung yang demikian kompleks dan luas, tidak mungkin dapat saya tuliskan semua dalam buku saya meskipun jumlahnya hingga 650 halaman. Aktivitas mountaineering yang dinamis dan terus berlanjut, tidak memberi saya kesempatan untuk mencatatnya terus menerus tanpa ketinggalan.

Nah, untuk itulah saya harus menyampaikan hal tersebut ke pembaca buku-buku saya dengan cara memberikan mereka akses informasi untuk mendapatkan pengetahuan yang lebih banyak. Saya mencantumkan daftar pustaka yang lengkap, baik itu berupa buku, film, majalah atau pun situs internet.

Jika kamu menulis bahasan yang kompleks dan luas seperti yang saya lakukan, maka kamu pun dapat melakukan hal yang sama. Beri tahu pembacamu dimana mereka dapat memperoleh informasi yang lebih spesifik dan mendetail.

Di samping sebagai wujud ‘kerendahan hati’ dimana kamu mengakui kekurangan artikel atau buku yang kamu tulis, langkah ini juga akan meningkatkan reputasi dan kredibilitas tulisan di mata para pembaca.

Pastikan Kamu Mencatat Alamat Sumber Riset yang Digunakan

Photo by Burst

Setiap kali kamu menemukan informasi yang menurut kamu penting dan berharga dalam sebuah situs, pastikan kamu menyimpan alamatnya dengan di-bookmark atau pun disalin manual. Suatu ketika kamu mungkin perlu membaca ulang referensi riset itu. Atau dalam skenario yang lain, kamu mungkin saja dapat mengembangkannya menjadi lebih menarik.

Ada banyak penulis pemula yang tidak menyimpan alamat situs dimana mereka menemukan informasi berharga, sehingga ketika mereka membutuhkannnya kembali untuk sekedar pengecekan ulang, mereka telah kehilangan alamatnya.

Hal ini sama pula jika kamu misalnya menggunakan metode interview dalam riset. Pastikan pula kamu mencatat secara cermat nama dan kata-kata yang disampaikan narasumber. Dalam banyak kasus, penulis yang kurang teliti bisa saja menghadirkan kerancuan atau malah informasi yang justru tidak sesuai dengan kenyataan.

Lalu, bagaimana dengan riset menggunakan sumber pustaka berupa buku?

Prinsipnya sama. Hanya saja untuk memudahkannya kamu mungkin bisa menandai halaman tertentu yang menjadi tempat dimana informasinya kamu peroleh.

Ingatlah selalu bahwa pembaca mencari informasi yang disediakan berdasarkan sumber-sumber yang benar dan dapat dipercaya. Jika kamu mampu memberikan ini kepada mereka dengan riset yang kamu lakukan seperti tips-tips di atas, maka kamulah yang mereka cari dan mereka butuhkan.

Dan jika itu terjadi,  artinya pintu gerbang kesuksesanmu sudah dapat diketuk.

Selanjutnya kedisiplinan dan ketekunanmu-lah yang akan membuatnya terbuka.

Baca juga:


anton sujarwo

Anton Sujarwo

Saya adalah seorang penulis buku, content writer, ghost writer, copywriters dan juga email marketer. Saya telah menulis 15 judul buku, fiksi dan non fiksi, dan ribuan artikel sejak pertengahan tahun 2018 hingga sekarang.

Dengan pengalaman yang saya miliki, Anda bisa mengajak saya untuk bekerjasama dan menghasilkan karya. Jangan ragu untuk menghubungi saya melalui email, form kontak atau  mendapatkan update tulisan saya dengan bergabung mengikuti blog ini bersama ribuan teman yang lainnya.

Tulisan saya yang lain dapat dibaca pula pada website;

Saya juga dapat dihubungi melalui whatsapp di tautan ini.

Fortopolio beberapa penulisan saya dapat dilihat disini:


APA ITU SHOW DON’T TELL DALAM PENULISAN FIKSI DAN CARA MUDAH MEMPRAKTIKKANNYA

Sulit bagi pembacamu untuk meletakkan buku yang kamu tulis jika kamu menggunakan teknik Show don’t tell. Penulisan dengan cara seperti ini, seolah menarik tangan para pembaca untuk masuk dalam cerita, merasakan setiap lekuk petualangan yang dilakukan oleh karakter yang kamu ceritakan.

Show don’t tell tentu saja sangat gampang secara teori. Kamu dan hampir semua orang sudah pasti paham maksudnya, bukan?

Tapi bagaimana dengan mengaplikasikannya dalam penulisan fiksi?

Tentu saja tidak sesederhana artinya. Bahkan penulis berpengalaman dengan jam terbang tinggi sekali pun, banyak yang masih gagal mempraktikkan show and tell dalam penulisan mereka.

Memahami Apa Itu Show Don’t Tell dalam Penulisan Fiksi dan Penulisan Umum

Photo by Amina Filkins

“Kita adalah penulis, Sayangku. Kita tidak menangis dengan air mata berurai, tapi kita bersimpah darah dengan kata-kata di atas kertas”

Anonim

Untuk dikatakan sebagai sebuah teknik, show don’t tell rasanya lebih jauh lagi perannya. Seorang penulis yang mampu mengaplikasikan apa itu show and tell dalam tulisan mereka, bukan hanya mampu membius pembaca untuk terus membaca, namun mereka juga mampu membuat pembaca hadir dalam cerita itu sendiri secara emosional.

Tentu saja mempraktikkan show don’t tell dalam penulisan tidak semudah mengucapkannya. Kamu akan membutuhkan waktu untuk berlatih keterampilan yang satu ini hingga mampu mempraktikkannya secara mahir.

Akan tetapi berita baiknya adalah; show don’t tell dalam penulisan itu seperti kemampuan membaca, bahwa sekali kamu mampu melakukannya, kamu tidak akan pernah lupa. Show and tell dalam menulis juga adalah sebuah keterampilan, yang artinya semakin sering kamu mengasahnya, maka semakin hebat pula kamu didalamnya.

Lantas apa sebenarnya keterampilan ini dan adakah contoh show don’t tell yang lebih mudah untuk dipahami?

Saya mengajak kamu untuk mempelajarinya lebih lanjut.

Perbedaan Antara Show and Tell

Photo by Karolina Grabowska

Sebagai seorang penulis kamu harus mampu memprovokasi pembacamu untuk merasakan pula bagaimana emosi yang kamu bangun dalam cerita.

Ketika kamu menulis tentang kesedihan dan kepedihan, kamu tentu ingin pembacamu merasakan hal yang sama, bahkan menangis dan berurai air mata. Sebaliknya, ketika kata-katamu adalah tentang tawa, bahagia dan canda, kamu juga ingin pembacamu untuk tersenyum, menarik napas lega serta berbinar-binar matanya.

Tapi pertanyaannya adalah; Bagaimana melakukan itu semua? Apa yang harus kamu lakukan?

Beberapa orang beranggapan bahwa teknik showing adalah rumus melakukan ini, persisnya keterampilan show don’t tell.

Nah, supaya lebih mudah untuk dipahami, pembahasan dua suku kata ini sendiri harus diterjemahkan secara terpisah.

Show atau Menunjukkan, Mempertontonkan dan Memperagakan

Photo by Amina Filkins

Show adalah sebuah ‘alat’ yang dipergunakan oleh penulis untuk menarik pembaca masuk dalam cerita yang mereka tulis. Dengan menggunakan show ini, penulis berusaha membangun hubungan yang kuat antara pembaca, setting dan karakter dalam cerita. Tidak ada tempat untuk penulis disini, penulis hanyalah orang yang menunjukkannya saja.

Kemampuan seorang penulis menunjukkan atau mempertontonkan adegan per adegan ceritanya kepada pembaca akan membawa pembaca untuk mandi dalam imajinasi mereka sendiri. Pembaca akan mengambil kesimpulan, menafsirkan, menduga bahkan memutuskan berdasarkan imajinasi dan interpretasi mereka sendiri.

Teknik showing ini laksana seorang operator layar tancap yang ia membentangkan kain kemudian menyorotinya dengan film.

Kamu mungkin tidak tahu siapa yang mengoperasikan film layar tancap, bagaimana ia memasang pitanya dan menghidupkan volume suara. Namun kamu pasti ingat film apa yang diputar karena kamu sendiri melihat dengan jelas adegan dalam film tersebut secara nyata di depan matamu.

Tell atau Memberitahu, Mengatakan dan Menjelaskan

Photo by cottonbro

Ketika kamu menggunakan gaya menulis dengan tell, maka kamu telah melakukan sebuah pencurian!

Hah, Pencurian?

Apa maksudnya?

Ya, saat seorang penulis hanya memberitahu pembacanya tentang sesuatu (tell not show), ia seumpama telah mencuri kesempatan para pembacanya untuk bertualang dan menemukan sesuatu dalam dunia yang ia ceritakan.

Pembaca kehilangan kesempatan mereka untuk menambahkan imajinasi mereka sendiri dalam bukumu. Interpretasi mereka tentang sesuatu objek, kondisi, pemikiran atau apa pun itu, menguap hilang seiring keputusanmu untuk memberitahu mereka apa yang terjadi.

Dalam pengertian yang lebih menarik, penulis yang hanya tell saja, seakan telah mengusir para pembaca mereka untuk keluar dari cerita. Ada sebuah batasan yang terbangun antara pembaca dengan cerita yang kamu tuliskan.

Dapatkah Penulis Menyeimbangkan Show and Tell dalam Cerita Mereka?

Source: slideplayer

Beberapa penulis pemula tertarik bertanya bagaimana cara agar showing dan telling seimbang dalam sebuah cerita?

Sulit untuk mengatakannya, namun kamu bagaimana pun juga, harus mengutamakan show dibandingkan tell. Kamu tidak bisa menakar keseimbangan ini secara spesifik, tapi yakinlah bahwa show akan jauh lebih baik untuk jenis kisah apa pun yang kamu ceritakan.

Ketika pembaca melihat cerita yang kamu tuliskan dari sudut pandang karakter atau tokoh, berat bagi mereka untuk meninggalkan bukumu hingga mereka menyelesaikannya. Pembaca seakan menyatu bersama karakter cerita, mereka melangkah dalam irama yang sama, mencium aroma yang sama, dan merasakan hal yang sama seperti yang dirasakan oleh karakter cerita.

Dalam pengertian ini, pembaca akan melihat, meraba, merasakan, mendengarkan dan juga memikirkan persis seperti berdasarkan karakter yang kamu ceritakan. Pembaca dalam hal ini adalah bagian dari cerita itu sendiri.

Untuk mampu mempraktikkan show secara sempurna dalam penulisan cerita, seorang penulis harus menyibak penutup emosi pembaca.

Hal ini tentu saja tidak mudah, namun coba perhatikan contoh teks show and tell berikut ini;

Photo by Aline Nadai

“Hujan telah turun, pakaian Usman dan Hania basah kuyup, mereka terus berjalan karena  lupa membawa payung”

Atau,

“Tidak ada payung, tidak ada tempat berteduh, dan tidak ada pula pilihan bagi Usman dan Hania selain terus melangkah. Butir-butir air yang semula seperti gemericik embun itu, sekarang menjelma laksana butiran jagung besarnya, memandikan rambut, wajah dan pakaian mereka”

Dua kalimat di atas mungkin bukan contoh paling sempurna showing dan telling tentang hujan. Namun coba saja kamu baca sekali lagi, mana di antara kedua kalimat itu yang akan melayangkan imajinasi kamu tentang hujan?

6 Tips Mudah Mempraktikkan Show Don’t Tell dalam Penulisan Cerita

Photo by Pixabay

Setelah memahami bagaimana show don’t tell begitu signifikan dalam penulisan cerita, pertanyaan paling pentingnya kemudian adalah; Bagaimana mengimplementasikannya dalam cerita yang ditulis?

Ini akan membutuhkan banyak perjuangan dan latihan, namun 6 tips berikut ini akan membantu kamu untuk bisa melakukannya dengan lebih mudah.

Jadi, ini adalah 6 hal yang bisa kamu lakukan.

Gunakan Panca Indera Karakter yang Kamu Ceritakan

Photo by diva Trajbariu

Untuk mendapatkan sentuhan show don’t tell yang pertama, kamu bisa menggunakan panca indera yang dimiliki oleh karakter ceritamu sendiri. Artinya adalah, kamu ajak pembacamu untuk berinteraksi dengan alur cerita melalu indera yang dimiliki oleh karakter cerita.

Untuk membuatnya lebih mudah, tips show and tell bisa kamu praktikkan dengan membuat daftar apa saja yang karakter kamu terima melalui panca inderanya.

  • Mata, apa yang karakter ceritamu lihat melalui matanya.
  • Telinga, apa yang tokoh dalam ceritamu dengar dengan telinganya.
  • Lidah dan mulut, apa yang karaktermu kecap dan rasakan melalui lidahnya.
  • Kulit dan tangan, apa yang mungkin karakter ceritamu rasakan melalui kulit mereka atau indera peraba mereka.
  • Benak, pikiran dan perasaan, apa yang mungkin tokoh ceritamu pikirkan dan rasakan.

Setelah kamu membuat daftar apa yang diindera oleh karakter cerita yang kamu tulis dalam salah satu adegan. Selanjutnya adalah membuat kalimat yang kuat dan aktif melalui penginderaan karaktermu sendiri.

Misalnya;

  • Sebuah adegan karakter bernama Jamal memuntahkan air kopinya yang ternyata tidak diberi gula, melainkan garam.

Coba buat begini;

  • Ketika tegukan air kopi itu masuk ke dalam mulut Jamal, ia merasakan sesuatu yang aneh. Tak ada rasa manis disana, hanya ada seperti semangkuk air laut yang diberi serbuk kopi untuk mengubah warnanya saja. Jamal tak tahan, ia pun memuntahkan kembali air kopi yang rasanya demikian pahit itu

Dan kamu bisa membuat contoh show don’t tel lainnya dengan lebih sempurna.

Jadilah Lebih Spesifik

Photo by Erik Karits

Tips kedua untuk mengimplementasikan show don’t tell dalam penulisan cerita adalah dengan membuatnya rinci, detail dan spesifik.

Rumusnya adalah; semakin spesifik cerita yang kamu sampaikan, semakin mudah efek show-nya diperoleh, dan semakin kuat ia tergambar dalam benak pembaca.

Hindari menggunakan istilah yang umum dan terlalu biasa untuk menggambarkan sesuatu. Jika kamu menceritakan karakter ceritamu memiliki kucing di rumahnya, maka tunjukkan itu dengan tingkah si kucing yang tertidur di ranjangnya, menunggu karakter sedang makan atau malah tertidur di atas pangkuannya.

Meskipun demikian, tidak semua bagian menarik dikisahkan spesifik, terlebih lagi jika itu berulang-ulang untuk menjelaskan hal yang sama. Khusus untuk hal ini, kamu dapat menemukan keseimbangan antara show dan tell mengenai bagaimana menempatkannya dalam cerita.

Gunakan Dialog

Photo by SHVETS production

Jika kamu bertanya bagaimana mengaplikasikan teknik showing yang paling mudah dalam cerita? Maka inilah jawabannya; gunakan dialog.

Dialog atau percakapan yang terjadi antar karakter adalah cara termudah untuk show. Ini juga merupakan cara yang mudah untuk menunjukkan aksi real time yang karaktermu lakukan. Dengan dialog, apa yang karakter cerita kamu lakukan dapat dengan mudah digambarkan dan ditunjukkan melalui sudut pandang karakter.

Berlatihlah untuk menggunakan dialog yang kuat dan menarik, karena dialog selalu menjadi alat show yang mudah dalam menulis cerita.

Gunakan Kosakata yang Kuat atau Aktif

Photo by Brett Jordan

Untuk menggambarkan sebuah adegan yang penting dalam cerita, kamu harus dapat memilih kosakata atau kata kerja yang kuat dan berpengaruh. Salah satu cara mengenalinya adalah dengan melihat bahwa kosakata ini dinamis dan seringkali memiliki konotasi gerakan.

Kosakata seperti; cinta, benci, rindu, percaya, pasrah dan sejenisnya, adalah kosakata yang statis dan nampak tidak memberikan energi pada imajinasi pembaca.

Namun ketika kamu memilih kosakata; berjalan, tersenyum, melangkah, berlari, terbang, berkata, berpikir dan memukul misalnya, pembacamu akan melihat gerakan dalam imajinasi mereka.

Dan itu cukup efektif untuk menunjukkan adegan dengan lebih jelas. Alih-alih hanya memberitahunya saja kepada pembaca.

Hindari Kata Keterangan

Photo by Zachary DeBottis

Kata keterangan yang tidak perlu kadang-kadang membuat pembaca justru terhalang untuk ikut menggunakan imajinasi mereka dalam cerita. Dengan kata keterangan yang ditempatkan pada lokasi dan situasi yang tidak tepat, kamu seolah-olah telah membangun sebuah pagar yang samar di antara pembaca dan cerita yang kamu tulis.

Untuk membuatnya lebih mudah, kamu bisa kembali pada contoh teks show don’t tell Usman dan Hania yang basah kuyup oleh hujan tadi.

Atau kamu juga bisa melihat contoh ini;

  • Jalan buntu dan mati langkah! Pencopet itu terpojok sekarang, semua mata penumpang bus seolah panah-panah yang ditembakkan ke arahnya. Ia gemetar, mukanya pucat laksana kain kapan, tamat ia sekarang!

Bandingkan dengan ini;

  • Pencopet itu terpojok sekarang, tak bisa kemana-mana, kebingungan dan ketakutan melanda dirinya.

Perbanyak Fokusmu pada Aksi dan Reaski

Photo by NEOSiAM 2021

Daripada mengatakan bahwa tokoh antagonismu misalnya ‘bejat dan tak bermoral’, bagaimana jika kamu menunjukkan kepada pembaca bahwa tokoh itu tega merampas uang dari ibunya sendiri yang baru saja pulang menjual kayu bakar setelah ia sendiri kalah bermain judi?

Atau daripada mengatakan karaktermu ‘seorang yang dermawan’ mengapa tidak menunjukkannya dengan ia sengaja meluangkan waktu pada setiap sore hari Jum’at untuk mengantarkan uang santunan ke panti asuhan?

Intinya adalah, kamu harus berfokus pada reaksi dan aski yang dilakukan oleh karaktermu.

Aksi dan reaksi akan membuat gambaran yang lebih kuat dalam imajinasi pembaca daripada kamu mengatakannya secara langsung dalam kata-kata yang umum. Bahkan reaksi dan aksi juga bisa kamu gunakan untuk membuat opening yang menarik sekaligus show don’t tell pada pembacamu.

  • Dorr!!! Percikan api menyembur dari ujung pistol di tangan Joane. Jemari lentik itu tak tahan lagi nampaknya, pelatuk senjata itu diremasnya dengan sekuat  tenaga!

Atau,

  • Tatang melompat, hampir terjengkang ke petak sawah di belakangnya, matanya memandang nanar melihat ular sawah yang baru saja lewat hanya satu setengah meter dari kakinya.

Itu mungkin bukan contoh awalan novel yang menarik, namun yang pasti kalimat seperti itu aktif secara aksi dan reaksi. Dalam implementasi show don’t tell, itu cukup layak untuk kamu coba.

Kesimpulannya Sekarang

Photo by Anete Lusina

“Mustahil bagi seseorang untuk dapat mempelajari sesuatu yang ia sendiri pikir, ia sudah sangat pandai di dalamnya”

– Epictetus –

Ada latihan yang panjang dan disiplin hingga kamu terbiasa dan mudah mengaplikasikan kemampuan show don’t tell dalam ceritamu. Namun sekali kamu bisa melakukannya, hal ini akan semakin mudah untuk dipraktikkan dalam kondisi bagaimana pun.

Jadi, selamat mencoba!


anton sujarwo

Anton Sujarwo

Saya adalah seorang penulis buku, content writer, ghost writer, copywriters dan juga email marketer. Saya telah menulis 15 judul buku, fiksi dan non fiksi, dan ribuan artikel sejak pertengahan tahun 2018 hingga sekarang.

Dengan pengalaman yang saya miliki, Anda bisa mengajak saya untuk bekerjasama dan menghasilkan karya. Jangan ragu untuk menghubungi saya melalui email, form kontak atau  mendapatkan update tulisan saya dengan bergabung mengikuti blog ini bersama ribuan teman yang lainnya.

Tulisan saya yang lain dapat dibaca pula pada website;

Saya juga dapat dihubungi melalui whatsapp di tautan ini.

Fortopolio beberapa penulisan saya dapat dilihat disini:


BAGAIMANA CARA MENERBITKAN BUKU SENDIRI DENGAN MUDAH DAN MURAH

Jadi kamu ingin memiliki buku atas nama kamu sendiri, ya? Daripada menunggu lama dan belum pasti diterima atau tidak, mengapa tidak mencoba menerbitkannya secara mandiri? Jika kamu masih bingung dengan prosesnya, panduan cara menerbitkan buku sendiri berikut ini akan membantu kamu melakukannya.

Pada dasarnya, cara menerbitkan buku novel atau buku apa pun yang kamu tulis melalui jalur mandiri, adalah salah satu bentuk kemerdekaan yang bisa dilakukan oleh penulis. Di samping memberi kamu banyak kebebasan, metode ini juga akan membuat kamu jauh lebih kreatif,

Namun kenyataannya, banyak calon penulis yang tidak tahu bagaimana mereka bisa melakukan penerbitan semacam ini. Alih-alih membangun kreativitas melalui penerbitan mandiri, banyak penulis pemula yang memilih untuk mengantri di depan pintu penerbitan konvensional guna mempublikasi karya mereka.

Nah, sebagai penulis yang telah merilis 15 judul buku atas nama sendiri dan puluhan lainnya untuk ghost writing, saya ingin berbagi pengalaman tentang hal ini. Sejauh ini, semua karya saya diterbitkan secara mandiri dan hasilnya cukup menyenangkan.

Lantas, kira-kira bagaimana langkah dan cara menerbitkan buku sendiri?

Panduan dan Cara Menerbitkan Buku Sendiri yang Lengkap, Murah serta Mudah

“Jika Kamu tidak menyukai cerita seseorang, tulislah cerita Kamu sendiri.”

Chinua Achebe

Kamu mungkin sudah sering mendengan istilah self publishing atau penerbitan mandiri, bukan?

Apa sih, yang dimaksud dengan self publishing itu?

Pengertian Self Publishing atau Penerbitan Mandiri

source: Demolishing House

Jika mengacu pada pengertian Wikipedia, maka akan didapatkan definisi self publishing atau penerbitan mandiri sebagai seorang penulis yang menerbitkan sendiri bukunya tanpa bantuan penerbit yang sudah mapan atau besar.

Akan tetapi, pengertian yang lebih baik mengenai penerbitan mandiri adalah seorang penulis yang mengerjakan sendiri semua proses dari penerbitan; termasuk dalam hal ini adalah editing, proofreading, layouting, membuat cover, mencetak hingga memasarkannya di masyarakat.

Intinya adalah, jika kamu megambil semua tugas penerbitan untuk kamu lakukan sendiri, maka itu  bisa disebut self publishing atau penerbitan mandiri, kamu sebagai penulisnya sendiri disebut sebagai self publisher.

Jenis-Jenis Self Publisher

Penulis yang memutuskan untuk menerbitkan bukunya sendiri terbagi dalam dua macam yakni Self Publishing Superman atau DIY dan Self Publishing Assisted.

Self Publishing DIY (Superman)

Photo by Trace Hudson on Pexels.com

Pengertian bebas dari penerbitan jenis ini adalah seorang penulis yang melakukan segala sesuatu terkait proses penerbitan secara sendiri. Artinya ia adalah penulis buku, mengeditnya, mengatur tata letaknnya, membuat covernya, sekaligus juga memasarkan bukunya.

Jenis ini sangat jarang di dunia, bahkan hampir mustahil ada yang bisa melakukannya dengan baik. Oleh karena alasan ini pula mereka kadang disebut sebagai penulis Superman atau manusia super.

Tapi, apakah jenis DIY (author does everything by themselves) benar-benar sangat jarang dan mustahil untuk ditemukan?

Mungkin tidak juga, karena saya adalah salah satunya.

Di antara 15 judul buku saya yang telah dirilis, semua proses publishing-nya saya kerjakan sendiri.

Rangkaian penulisan, editing, proofreading (setidaknya 3 kali sebelum naskah final), layouting hingga pemasaran saya lakukan sendiri. Hanya 5 buku pertama saya saja yang pembuatan cover-nya dibantu oleh pihak penerbitan indie.

Self Publishing Assisted

Photo by Eren Li on Pexels.com

Di samping penerbitan mandiri DIY atau Superman seperti yang saya lakukan, ada juga Self Publishing Asssited atau penerbitan mandiri dengan bantuan.

Dalam proses penerbitan yang satu ini, penulis mendayagunakan jasa orang lain untuk membantunya menyelesaikan proses penerbitan bukunya. Jasa yang mungkin ia gunakan adalah profesional editor, proofreading, desainer cover, pemasar, dan lain sebaginya.

Keuntungan Self Publishing

Photo by Startup Stock Photos on Pexels.com

Meskipun kamu tahu cara menerbitkan buku sendiri di Gramedia, kamu mungkin akan memilih penerbitan mandiri saja. Hal ini disebabkan karena jika kamu bukan penulis besar dengan nama yang sudah beken, memiliki buku yang dipasarkan oleh jaringan seperti Gramedia bisa jadi adalah sesuatu yang sangat sulit dilakukan.

Di balik keterbatasan jaringan pemasaran itu, penerbitan mandiri juga memiliki banyak keunggulan.

Apa pun jenis buku yang kamu tulis, apakah itu fiksi, non fiksi, memoirs, komik, cerpen atau apa pun saja, penerbitan mandiri akan memberikam kamu kebebasan maksimum untuk mengendalikan banyak hal. Di samping itu, tentu saja potensi keuntungan yang kamu miliki akan jauh lebih besar.

Memang sebenarnya, merilis karya dengan cara menerbitkan buku sendiri melalui self publishing memiliki lebih banyak lagi keunggulan.

Berikut beberapa di antaranya;

Kendali Penuh atas Karyamu

Photo by Fernando Arcos on Pexels.com

Untuk kamu yang menginginkan otonomi penuh untuk karya-karya yang kamu terbitkan, self publishing, indie publishing atau penerbitan mandiri adalah solusinya.

Ketika penerbitan konvensional memberi batasan pada setiap segi dari sebuah buku, self publishing justru sebaliknya. Dalam penerbitan konvensional karyamu mungkin akan dipermak oleh editor, judulnya bisa diganti, cover bukunya disesuikan, bahkan beberapa bagian dalam bukumu bisa saja dihilangkan atau ditambah sesuai kebutuhan penerbit konvensional tersebut.

Menariknya kamu tidak akan mendapati hal ini dalam penerbitan mandiri.

Kamu sekali lagi, diberi kebebasan seluas-luasnya untuk mengontrol karyamu semau yang kamu inginkan.

Potensi Penghasilan Maksimal

Photo by Karolina Grabowska on Pexels.com

Jika kamu menerbitkan bukumu secara konvensional, kamu akan mendapatkan persentase bagi hasil dalam bentuk royalti atau fee berkisar dari 7 hingga 12%. Jadi, jika buku yang kamu tulis harganya adalah Rp, 100.000 per eksemplar, maka kamu akan mendapatkan penghasilan sekitar Rp, 7.000 sampai dengan Rp, 12.000 untuk setiap satu buku yang terjual.

Minim sekali , bukan?

Hal ini sama sekali berbeda dengan self publishing atau penerbitan mandiri.

Dalam penerbitan mandiri, kamu bahkan bisa mendapatkan potensi penghasilan hingga 70 atau 80%. Artinya, jika harga bukumu di pasaran adalah Rp, 100.000 per eksemplar, maka Rp, 70.000 – 80.000 akan masuk ke dalam kantongmu untuk tiap eksemplarnya.

Dengan persentase ini, bayangkan berapa uang yang bisa kamu peroleh jika kamu bisa menjual bukumu dalam jumlah yang sama seperti penerbit konvensional?

Tidak Perlu Menunggu dalam Ketidakpastian

Photo by Felipe Cespedes on Pexels.com

Setelah naskah bukumu selesai dan dikirimkan ke penerbit mayor atau konvensional, kamu harus menunggu setidaknya tiga bulan atau 100 harian untuk mendapatkan jawaban apakah naskahmu layak diterbitkan atau tidak.

Jika ternyata kamu berhasil dan naskahmu bisa diterbitkan, maka kamu harus menunggu beberapa bulan lagi sampai kamu dapat melihat bukumu ada di toko-toko buku.

Waktu menunggu seperti ini akan sangat melelahkan bagi beberapa orang, untuk itu pulalah metode penerbitan mandiri atau self publishing menawarkan solusinya.

Dalam penerbitan mandiri kamu hanya perlu menunggu sekitar enam jam hingga satu hari untuk mempublikasi bukumu dalam bentuk ebook. Jika kamu menerbitkan versi cetak, paling lama dalam waktu dua mingguan, kamu juga sudah dapat melihat hasilnya langsung di tanganmu.

Kepemilikan Hak 100%

Photo by Nataliya Vaitkevich on Pexels.com

Jika kamu menempuh cara menerbitkan buku di penerbit mayor atau konvensional, kemudian karyamu diadaptasi ke dalam film, kamu mungkin harus berbagi hak atas naskahmu dengan penerbit. Akan tetapi jika kamu menerbitkan bukumu secara indie atau self publishing dan difilmkan, kamu adalah pemilik 100% hak atas karyamu.

Ini akan menjadi topik yang sama jika misalnya karyamu juga dicetak ulang, dibuat dalam berbagai cinderamata, disablon ke kaos-kaos dan lain sebagainya. Hak royalti atas semua itu akan menjadi milikmu.

Kesempatan untuk Mempopulerkan Namamu Sendiri

Photo by Pixabay on Pexels.com

Sebenarnya, tidak ada satu pun penulis yang tampil menjadi best seller dalam satu malam. Semua membutuhkan proses untuk tampil di atas anak tangga yang terakhir.

Jika kamu adalah seorang penulis pemula yang baru saja hadir dalam dunia kepenulisan dan buku-buku, kamu akan menemukan bahwa industri  ini tidak mudah untuk ditaklukkan. Namun justru disanalah terletak kesempatan untuk membuat namamu menjadi populer.

Ada banyak penulis terkenal dunia yang mengawali karir mereka dengan self publishing. Mereka membesarkan nama mereka melalui penerbitan mandiri untuk kemudian tampil sukses dengan karya yang nyaris selalu bestseller.

Kekurangan Menerbitkan Buku secara Mandiri

Di samping beberapa hal yang membuat self publishing demikian unggul untuk kamu coba, kamu juga harus tahu bahwa cara menerbitkan buku ini juga memiliki beberapa kekurangan.

Beberapa hal yang menjadi risiko dari cara menerbitkan buku sendiri ini adalah;

Biaya yang Lebih Tinggi

Photo by cottonbro on Pexels.com

Hal pertama yang harus kamu tahu jika memutuskan menerbitkan bukumu secara mandiri adalah kamu akan membiayai semua prosesnya.

Jika kamu menggunakan jasa editor, layouter, proofreading profesional, cover desainer dan lain sebagainya, maka kamu harus membayar semuanya dengan uangmu sendiri. Dan itu tentu saja akan membutuhkan biaya yang tidak sedikit.

Berbeda sekali dengan penerbitan konvensional yang kamu hanya perlu menyerahkan naskahmu lalu terima beres. Tidak ada biaya sama sekali dalam penerbitan buku dengan cara ini.

Jadi, jika kamu memang mencari cara menerbitkan buku sendiri gratis, penerbitan konvensional sudah pasti adalah salah satu caranya.

Kurang Terekspos

Photo by cottonbro on Pexels.com

Menjadi punulis yang bukunya diterbitkan oleh penerbitan konvensional atau penerbit mayor akan memberi akses padamu pada berbagai jenis publikasi lain terkait dirimu sendiri. Penerbitan mayor seperti Gramedia memilih banyak platform yang prestisius untuk mendukung dan membuat para penulis mereka bersinar.

Bersama penerbit konvensional kamu mungkin akan sering diajak roadshow, launching buku, meet and greet bersama fans, dan lain sebagainya. Dalam penerbitan mayor juga peluang untuk menjadi penulis best seller terbuka lebar.

Nah, dengan segala sumber daya yang dimiliki oleh penerbit konvensional dan tidak ada pada penerbitan mandiri seperti ini, sudah jelas bahwa kamu yang ada di jalur self publishing, mungkin saja tidak akan begitu terlihat dalam radar.

Tidak Mudah Mengakses Jaringan Toko Buku Besar

Photo by Mark Cruzat on Pexels.com

Saya pernah bertanya tentang hal ini kepada salah satu penerbit saya; Bagaimana supaya buku saya bisa masuk jaringan toko-toko besar?

Informasi yang saya terima saat itu adalah saya harus mencetak buku sebanyak 3.000 eksemplar dengan biaya sendiri dan kemudian membawanya ke jaringan toko buku besar untuk dititip jual (konsinyasi) yang harga konsinyasi-nya sendiri di bawah harga produksi.

Bagaimana pun sudut pandangnya, hasil hitunganya adalah rugi.

Lihat itu, bagaimana sulitnya seorang penulis dari self publishing mengakses jaringan toko besar.

Dengan kenyataan ini tidak salah jika ada penulis yang megatakan bahwa hampir mustahil self publishing bisa masuk ke jaringan toko buku besar tanpa siap untuk rugi dari sisi biaya.

Tidak Ada Bantuan

Photo by cottonbro on Pexels.com

Nah, ini adalah perbedaan yang paling signifikan antara penerbitan mayor atau konvensional dengan cara menerbitkan buku sendiri dari wattpad atau dari platform apa pun tempat kamu menulis, yang dilakukan dengan self publishing.

Dalam penerbitan mayor, kamu tidak perlu pusing memikirkan editing, pembuatan cover, layouting dan semacamnya, semuanya akan dikerjakan oleh tim ahli yang sudah berpengalaman.

Namun jika kamu datang dari dunia self publishing, maka tidak ada bantuan untuk ini. Kamu harus melakukannya sendiri atau membayar orang lain dengan uangmu sendiri.

Perbedaan Self publishing versus Traditional Publishing (Penerbitan Mandiri vs Penerbitan Konvensional)

Photo by Karolina Grabowska on Pexels.com

Ada cukup banyak perbedaan antara self publishing dan penerbit konvensional. Namun, untuk membuatnya lebih sederhana, kolom di bawah ini akan membantu menjelaskannya;

Self Publishing atau Penerbitan MandiriPenerbitan Konvensional atau Penerbitan Mayor
Penulis memiliki kendali atas semua proses penerbitan seperti isi naskah, editing dan juga sampul buku.Penerbit mayor mengendalikan proses penerbitan dan arah dari naskah yang dikirimkan penulis.
Penulis menanggung semua biaya penerbitan, jumlahnya tergantung dari jenis self publishing itu sendiri.Semua biaya penerbitan ditanggung oleh penerbitan mayor.
Semua penghasilan dari penjualan buku adalah milik penulis.Hasil penjualan buku masuk ke kas penerbit mayor untuk kemudian dibagikan ke penulis dalam bentuk royalti yang besarnya berkisar antara 7 – 12% dari harga buku.
Penulis memegang semua hak atas karyanya.Ini tergantung dari perjanjian dengan penulis, namun pada kasus yang sering terjadi, penerbit mayor memiliki hak atas mayoritas isi naskah.
Jangkauan pemasaran terbatas dan tidak memiliki akses ke jaringan toko besar.Jangkauan pemasaran luas, buku dapat masuk di berbagai jaringan toko buku besar seperti Gramedia dan sebagainya.
Untuk terlihat dan terkenal, membutuhkan lebih banyak perjuangan secara mandiri.Penulis berpeluang untuk menjadi terkenal, bestseller, dan sangat tenar dengan bantuan platform yang dimiliki penerbit mayor.

Berapa Perkiraan Biaya Penerbitan Mandiri?

Photo by Karolina Grabowska on Pexels.com

Lantas, setelah melihat keunggulan, perbedaannya dengan penerbitan mayor dan lain sebagainya, sekarang masuk ke pertanyaan yang mungkin sering mampir di benak para penulis pemula; Berapa sebenarnya biaya yang dibutuhkan untuk menerbitkan buku secara mandiri atau self publishing?

Sebenarnya biaya self publishing ditentukan juga oleh apakah kamu kamu memilih menjadi Self Publisher DIY Superman atau sebagai Self Publisher Assisted.

Jika kamu memilih menjadi Author Superman yang does everything by themselves, maka kamu dapat menekan biaya sangat murah bahkan gratis sama sekali. Biaya yang kamu butuhkan hanyalah untuk mencetak buku, yang itu pun dapat kamu lakukan dengan pemberlakukan sistem PO (Print on Order) atau Print on Demand (POD).

Jadi hakikatnya memang tanpa biaya sama sekali atau gratis.

Beda cerita jika misalnya kamu menggunakan metode Self Publishing Assisted dimana kamu juga menggunakan jasa editor profesional, proofreader, layouter atau penata letak, dan juga desainer cover.

Semua job assisted ini bisa mencapai biaya hingga Rp, 3.000.000 untuk buku dengan tebal 250-an  jumlah halaman.

Oh ya, saya bisa berbagi ilmu menjadi penulis Superman pada kamu dengan biaya hanya 10% dari jumlah tersebut, caranya kamu bisa menghubungi www. Penulisgunung.id disini.

7 Langkah Paling Penting Dalam Penerbitan Mandiri atau Self Publishing

Selanjutnya adalah langkah teknis apa yang kamu harus lakukan untuk maju dalam penerbitan mandiri atau self publishing.

Berikut adalah step by step yang dapat kamu jadikan panduan untuk menerbitkan karya tulismu secara indie atau mandiri.

Tulis Naskah Bukunya

Photo by Pixabay on Pexels.com

Apakah kamu akan memilih penerbit mayor atau dengan cara menerbitkan buku novel-mu dengan self publishing, langkah pertamanya adalah sama yakni; menulis naskahnya terlebih dahulu.

Proses menulis buku ini dapat kamu pelajari caranya pada banyak tempat dan media. Jika kamu ingin melihat panduan yang lebih komprehensif, kamu bisa membaca artikel cara menulis buku novel dan cerpen untuk pemula yang saya publish beberapa waktu yang lalu.

Mencari ide penulisan buku atau mengeksekusinya menjadi sebuah naskah dapat kamu putuskan sebelum masuk ke langkah selanjutnya. Beberapa pilihan yang paling umum dalam penulisan pemula untuk diterbitkan misalnya adalah;

Buku Fiksi

Photo by Alesia Kozik on Pexels.com

Kamu dapat mempelajari bagaimana cara menulis buku fiksi, membangun karakter, menentukan ide, dan menyempurnakan setting pada banyak sumber. Khusus untuk penulisan kreatif seperti ini, kamu juga dapat membaca referensinya dalam tulisan saya berikut ini.

Karya fiksi sendiri memiliki banyak macam dan kamu bebas untuk memilih yang mana. Kamu bisa memulainya dengan membuat kumpulan buku cerpen, buku puisi, buku penulisan bebas atau pun novel dan biografi.

Macam-macam jenis tulisan fiksi sendiri dapat kamu lihat disini.

Buku Non fiksi

Photo by Olya Kobruseva on Pexels.com

Untuk menulis naskah buku non fiksi, kamu tentu saja tidak bisa mengandalkan imajinasi dan kreativitas semata. Kamu juga membutuhkan sumber dalam penulisan yang kamu lakukan.

Dalam penulisan ini kamu bisa melakukan riset dengan penelitian kepustakaan, riset melalui sumber-sumber di internet, atau melakukan riset secara langsung melalui studi lapangan, studi kasus, interview dan lain sebagainya.

Buku Memoirs

Photo by Suzy Hazelwood on Pexels.com

Nah, ini adalah yang cukup banyak ditanyakan melalui blog ini yakni mengenai bagaimana cara menulis kisah hidup sendiri atau yang lebih populer disebut memoar atau memoirs.

Saya sendiri menyediakan pelatihan online untuk jenis tulisan ini yang memastikan kamu bisa menyelesaikan buku yang berisi kenangan penting dalam hidupmu secara tuntas.

Untuk mengikuti pelatihan online ini kamu hanya perlu mengisi formulir berikut ini.

Edit Naskahnya

Photo by Ron Lach on Pexels.com

Langkah kedua yang harus kamu lakukan setelah selesai menuliskan naskah bukumu adalah dengan melakukan editing atau pengeditan. Proses ini bisa menjadi bagian yang paling melelahkan dan kamu harus memiliki kesabaran yang penuh untuk bisa melakukannya.

Pengeditan bisa saja sangat ekstrim dimana penulis bahkan harus ‘menulis ulang’ naskahnya. Kamu bahkan bisa melakukan hal ini berkali-kali ketika misalnya proses editing yang kamu lakukan terasa belum memuaskan.

Saya biasa memadukan proses editing dengan proofreading, dan ini tidak sesederhana kedengarannya. Pada buku seperti DEWI GUNUNG yang tebalnya hampir 600 halaman, saya bahkan hampir depresi untuk bisa menyelesaikannya.

Tapi itu cukup sebanding dengan hasilnya.

Dalam editing kamu bisa memilih dua cara berikut ini;

  • Edit sendiri semaksimal yang kamu mampu; Sebagai Superman dan DIY authors, kamu harus melakukannya sendiri, dan ini pula yang saya lakukan selama ini. Keterbatasan sumber daya memaksa setiap penulis yang memilih jalur untuk melakukan apa yang bisa ia lakukan. Pengetikan typho, kalimat ambigu, alur yang merepotkan, dan pesan yang kurang jelas, semuanya disapu bersih. Intinya adalah, edit semaksimal yang bisa kamu lakukan.
  • Biarkan profesional melakukannya untukmu: Nah, ini lebih mudah. Kamu tinggal menyerahkan naskahmu pada editor profesional, dan tunggu saja hasilnya untuk kemudian dilanjutkan pula ke proofreader.  Ini langkah yang sangat gampang namun tentu saja ada biaya yang harus kamu keluarkan.

Buat Cover dan Layout Naskahnya

Photo by Polina Zimmerman on Pexels.com

Salah satu tantangan besar yang saya hadapi pada saat merilis sebuah buku baru adalah bagian ini; membuat cover atau merancang sampul. Untuk alasan yang sama, saya kemudian menyerahkan beberapa desain sampul buku saya kepada profesional.

Namun saya suka belajar dan beberapa buku saya yang baru, bagian ini sudah bisa saya lakukan sendiri pula.

Di samping cover atau sampul, cara menerbitkan buku gratis melalui self publishing juga meminta kamu untuk melakukan layouting atau tata letak secara mandiri.

Menariknya saat ini, proses tata letak bisa lebih mudah kamu lakukan dengan bantuan template. Nah, cetakan atau template-nya sendiri bisa kamu peroleh secara gratis atau berbayar melalui berbagai website penulisan.

Atau jika tidak ingin terlalu repot dan kamu mungkin tidak memiliki waktu ekstra, kamu juga bisa membayar profesional untuk tugas yang satu ini.

Persiapkan Buku dalam Bentuk Ebook dan Cetak

Photo by Dominika Roseclay on Pexels.com

Setelah naskah bukumu siap saji, sekarang waktunya untuk mengubah semua ketikan dan tampilan komputer itu dalam bentuk kertas atau dalam buku yang sebenarnya.

Percayalah, momen ini akan sangat mengesankan. Kamu tidak akan mudah melupakan bagaimana untuk pertamakalinya kamu memegang sebuah buku yang disampulnya tertulis nama kamu sendiri.

Namun masalahnya, untuk mencetak buku langsung kamu juga membutuhkan biaya. Beberapa penerbit indie bahkan memasang batas minimal percetakan yang diperbolehkan. Ada yang dapat memproses cetak bukumu jika jumlahnya adalah 100 eksemplar, ada yang 50 eksempar, atau ada juga lebih sedikit daripada itu.

Sebagai solusinya, kamu bisa menempuh dua cara ini.

Print on Demand (POD) atau Print On Order (PO)

Source: KristianJi

Hanya mencetak jika ada permintaan adalah solusi yang menarik untuk diambil. Pada beberapa judul buku, saya juga menempuh cara ini.

Dengan cara ini kamu akan terbebas dari keharusan membayar biaya cetak untuk mencetak sejumlah buku. Keuntungan lainnya adalah kamu dapat menghindari potensi risiko penumpukan stok buku yang mungkin saja tidak laku terjual.

Ebooks

Menjual buku dalam bentuk ebook adalah kemudahan yang sangat menarik.

Kamu tidak perlu repot memikirkan biaya cetak, gambar yang buram, stok yang menumpuk atau hal lainnya. Hanya dengan sekali meng-upload– bukunya di platform penjualan seperti Google Play Book dan Amazon, kamu dapat menjualnya jutaan kali tanpa takut kehabisan stok.

Buka Pre-order

Photo by Taryn Elliott on Pexels.com

Langkah selanjutnya yang penting untuk kamu tempuh sebagai self publisher adalah dengan membuka pre-order atau PO bukumu sebelum ia sendiri dirilis.

Proses pre-order dapat kamu lakukan paling lama tiga bulan sebelum buku dirilis. Kamu dapat menarik biaya pembelian buku lebih dulu dari orang-orang yang melakukan pre-order dan itu bisa digunakan sebagai biaya produksi bukumu.

Jadi, mudah, murah dan gratis, bukan?

Akan tetapi pertanyaannya kemudian adalah, berapa banyak orang tertarik melakukan pre-order atas bukumu?

Saya senang membagikan kisah cerita ini bahwa buku saya yang berjudul Wajah Maut Mountaineering Indonesia terjual di atas 500 eksemplar melalui pre-order.

Mungkin ini bukan angka yang terlalu besar untuk kamu. Namun jika itu adalah buku pertamamu yang langsung habis terjual bahkan ketika bukunya sendiri belum dicetak, maka tidak ada salahnya kamu merasa senang dan cukup bangga.

Pasarkan Bukumu di Berbagai Lini

Photo by cottonbro on Pexels.com

Langkah selanjutnya adalah memastikan bukumu ada di setiap lini dan media pemasaran yang tersedia.

Dengan ketersediaan media online seperti sekarang ini, kamu bisa memaksimalkan marketing bukumu melalui media sosial seperti facebook dan instagram. Kamu juga bisa mengoptimalkan peran marketplace seperti shopee, tokopedia, bukalapak, dan lain sebagainya.

Bahkan jika kamu memiliki group whatsapp, group alumni, group keluarga atau group apa pun yang bisa kamu gunakan untuk mensosialisasikan bukumu, maka gunakan.

Tidak perlu dihiraukan apa pun tanggapan orang yang ada di dalamnya, poin yang kamu lakukan dari cara ini adalah memasarkan bukumu dan mensosialisasikan karyamu yang telah atau akan diterbitkan.

Buat Perencanaan Launching yang Menarik

Photo by Pixabay on Pexels.com

Merilis buku itu adalah sesuatu yang asyik dan mungkin juga membanggakan pada beberapa orang. Moment ini seperti memanggil orang-orang untuk berkerumun dan kamu naik ke atas panggung untuk mengatakan; “Hai, saya telah menulis sebuah buku!”

Untuk membuat moment ini menjadi istimewa, kamu harus merencanakannya sebaik mungkin.

Jika kamu adalah orang yang tidak terlalu ingin ribet, kamu bisa mengajak orang lain untuk melakukannya. Saya pernah melakukan hal serupa ketika merilis buku saya yang berjudul Gunung Kuburan Para Pemberani. Saat itu proses launching dilakukan di café salah satu teman di kota Magelang.

Cara ini menghadirkan konsep mutualisme yang menarik dimana saya bisa merilis buku saya dengan cara yang asyik sementara teman saya mendapatkan pengunjung café yang lebih banyak sekaligus juga promosi tempat usahanya,

Tips Sukses Menerbitkan Buku Secara Mandiri

Photo by Andrea Piacquadio on Pexels.com

Nah, sebagai hal terakhir dalam artikel bagaimana cara menerbitkan buku sendiri ini, saya akan menyertakan 5 tips sukses self publishing.

Tips ini mudah ditulis dan lebih mudah lagi untuk kamu baca, namun merefleksikannya secara disiplin, kamu akan membutuhkan banyak perjuangan dan usaha.

Akan tetapi jika kamu berhasil mengkombinasikan tips menerbitkan buku sendiri berikut dengan kedisiplinan dan semangat pantang menyerah, kamu sudah pasti akan berjumpa dengan kesuksesan.

Apa saja tipsnya?

Tulis Apa yang Laku

Photo by RODNAE Productions on Pexels.com

Untuk menjadi seorang self publishers yang sukses, kamu harus menjual sangat banyak buku, dan itu artinya kamu harus menjual buku yang akan dibeli oleh banyak orang.

Ini terdengar sangat opurtunis, tapi itu memang benar.

Hanya buku yang laku dijual yang bisa menghasilkan uang. Jadi, kamu memang harus mampu melihat di pasaran buku apa yang sebenarnya diminati, apakah misteri, romantis, horror, petualangan atau apa?

Pada umumnya buku fiksi adalah yang paling banyak merajai top selling. Akan tetapi bukan berarti buku non fiksi tidak punya peluang. Jika kamu mampu menulis buku non fiksi dengan bagus dan kuat, kamu pun mampu meraih hal yang sama.

Fokus pada Pembaca Spesifik

Photo by Pixabay on Pexels.com

Bukan hanya spesifik, tapi juga ultra-spesifik.

Seorang penulis yang memilih jalur penerbitan mandiri adalah orang yang harus memiliki basis peminat tulisan yang besar. Ini mungkin tidak mudah bahkan banyak orang yang masih bertarung dengan hal tersebut, termasuk penulis blog ini.

Namun pembaca spesifik akan memberikan perhatian yang fanatik padamu, dan mereka adalah orang-orang yang akan setia dengan karya-karyamu jika kualitas yang kamu berikan menyenangkan mereka.

Di samping itu, pembaca spesifik adalah tim marketing yang akan dengan senang hati mempromosikan tulisanmu dalam lingkungan mereka sendiri.

Jadi, mereka tentu akan membuatmu jauh lebih sukses saat berfokus dengan mereka.

Cover yang Menarik itu Penting

Photo by Thought Catalog on Pexels.com

Kamu mungkin sering mendengar pepatah yang mengatakan ‘jangan menilai buku dari sampulnya’.

Tapi, bagaimana pun, mayoritas orang (79% persisnya) tetap menerapkan hal ini tanpa mereka sadari saat memilih sebuah buku.

Nah, sebagai self publisher kamu harus menyadarinya. Bahwa membuat cover atau sampul buku yang menarik itu penting.

Jadi, pikirkan itu dengan seksama, baik kamu memilih cara menerbitkan buku sendiri di Malaysia, di Indonesia, atau di mana saja.

Harga Murah Penjualan Tinggi

Photo by Anna Tarazevich on Pexels.com

Memiliki buku dengan harga hanya Rp. 9.900 per eksemplar atau per-ebook copy, tentu tidak cukup menarik untuk didiskusikan. Ini harga yang murah, darimana pun kamu melihatnya.

Tapi, bagaimana jika kamu bisa menjualnya satu juta copy dalam satu bulan?

Kamu akan mendapatkan penghasilan hampir satu miliar!

Itu jumlah yang banyak, lho.

Ini adalah tips yang disarankan banyak self publisher sukses dunia. Fokus padan penjualan yang tinggi dan buat harganya lebih rendah dan sangat terjangkau. Terutama jika kamu menjual bukumu dalam bentuk ebook.

Apa yang Kamu Lakukan Sekarang?

Photo by Jeff Stapleton on Pexels.com

Kamu telah melihat bagaimana cara menerbitkan buku sendiri, sekarang pilihannya ada padamu; apakah mencoba melakukannya, atau melupakannya.

Jika kamu tetap memilih untuk mencoba cara menerbitkan buku sendiri di Gramedia atau di penerbit mayor lainnya, maka kamu harus lebih banyak bersabar dan jangan pernah menyerah meskipun karyamu nantinya belum dipilih. Tetap berusaha, terus dan terus, sampai kamu berhasil.

Lalu, jika kamu memilih untuk menerbitkan buku secara mandiri melalui self publishing, maka bersiaplah untuk berjuang lebih banyak daripada yang lainnya.

Ini medang juang yang tidak mudah, tapi akan sepadan dengan hasilnya. InsyaAllah.


anton sujarwo

Anton Sujarwo

Saya adalah seorang penulis buku, content writer, ghost writer, copywriters dan juga email marketer. Saya telah menulis 14 judul buku, fiksi dan non fiksi, dan ribuan artikel sejak pertengahan tahun 2018 hingga sekarang.

Dengan pengalaman yang saya miliki, Anda bisa mengajak saya untuk bekerjasama dan menghasilkan karya. Jangan ragu untuk menghubungi saya melalui email, form kontak atau  mendapatkan update tulisan saya dengan bergabung mengikuti blog ini bersama ribuan teman yang lainnya.

Tulisan saya yang lain dapat dibaca pula pada website;

Saya juga dapat dihubungi melalui whatsapp di tautan ini.

Fortopolio beberapa penulisan saya dapat dilihat disini:


12 PENYEBAB WRITER’S BLOCK YANG PALING SERING MENGGANGGU PENULIS + CARA MENGATASINYA (Bag 1)

Jika kamu merasa buntu dalam menulis saat ini, bisa jadi kamu sedang mengalami writer’s block. Ada banyak cara mengatasi hal ini, namun yang paling penting adalah kamu mengetahui dulu apa penyebab writer’s block yang kamu alami. Setelah itu, menentukan cara mengatasinya adalah hal yang lebih mudah untuk dilakukan.

Lantas, apa saja sebenarnya yang menjadi penyebab syndrom writer’s block?

Berikut uraian lengkapnya.

Selusin Penyebab Writer’s Block yang Paling Sering Dialami Penulis dan Tips Mengatasinya

Photo by Andrea Piacquadio on Pexels.com

“Para penulis mengalami writer’s block bukan karena mereka tidak bisa menulis, tetapi karena mereka putus asa untuk dapat menulis dengan fasih dan sempurna”

Anna Quindlen

Secara sederhana writers block artinya adalah sebuah kondisi dimana kamu mengalami kebuntuan dalam menulis, baik dalam bentuk kekeringan ide, semangat, atau bahkan keinginan untuk menulis sekali pun. Semua penulis pernah mengalami writer’s block jadi, jika kamu mengalaminya sekarang, jangan putus asa, kamu bukan satu-satunya.

Ketika saya menulis novel Merapi Barat Daya, saya hampir menyerah tepat pada saat berhasil menyelesaikan beberapa bagian paling menarik di awalnya. Saya kemudian menemukan bahwa ide saya habis, bagian yang saya tulis terasa sangat membosankan dan saya khawatir ini akan membuat kisah dalam novel ini tidak akan menarik untuk dibaca.

Saya berhenti menulis novel itu hampir dua minggu lamanya. Akan tetapi, saat saya mencoba menceritakan bagian itu kepada isteri saya dan meminta penilaian beliau, isteri saya merespon dengan antuasias.

“Wah, itu keren lho, Mas. Keseluruhan ceritanya keren banget, selesaikan saja, Mas”

Dorongan itu ternyata bermanfaat bagi saya, saya mulai meneruskannya kembali. Konsultasi dengan isteri ternyata menjadi cara mengatasi writers block yang efektif untuk saya ketika itu sehingga menghasilkan novel Merapi Barat Daya yang rating dari pembacanya hampir selalu sempurna.

Writer’s block adalah sesuatu yang lumrah terjadi pada diri seorang penulis dan kamu tidak perlu terlalu khawatir.

Meskipun demikian, kondisi writer’s block yang tidak kunjung ditemukan penyebabnya, pada umumnya akan berkembang menjadi sebuah kondisi yang berbahaya bagi seorang penulis, terutama dalam hal produktivitas.

Jadi, hal utama yang paling penting untuk kamu tangani lebih dulu ketika kamu mengalami writer’s block adalah mencari tahu apa yang menjadi penyebabnya.

Nah, untuk itulah artikel kali ini ditulis, yakni untuk membantu kamu mengenali apa yang menjadi penyebab sebenarnya dari kondisi kebuntuan menulis yang kamu alami.

Dan memang, di antara banyak hal yang menjadi sebab writer’s block, 12 hal berikut adalah yang paling sering menimpa para penulis.

Memiliki Terlalu Banyak Tanggung Jawab yang Harus Diselesaikan

Photo by Anastasia Shuraeva on Pexels.com

Kamu mungkin memiliki banyak ide menulis yang ingin kamu lakukan, tapi kamu memiliki tanggung jawab keluarga, pekerjaan, sumber daya yang terbatas, dan lain sebagainya. Di samping itu, kamu mungkin juga memiliki keinginan untuk berlibur, pulang ke kampung halaman, memancing atau menghabiskan waktu dengan mendaki gunung.

Lalu jika sudah begini, apa yang harus kamu lakukan?

Sebagai seorang penulis atau writers, tentu saja kamu memiliki tanggung untuk menulis dan terus memproduksi karya berbentuk tulisan. Namun demikian, kamu tentu saja tidak harus mempertentangkan antara menulis dan tanggung jawab kamu yang lainnya, kok.

Keluarga adalah hal penting dalam hidup dan kamu tidak bisa menggantikannya. Pekerjaan atau profesi dimana kamu mencari nafkah sehari-hari, juga adalah sesuatu yang tidak kalah penting untuk menjadi prioritas. Akan tetapi jika kamu ingin menulis dan berharap menjadi penulis, kamu juga tidak dapat menomorduakan kegiatan menulis begitu saja.

Cara terbaik untuk mengatasi masalah ini adalah dengan menjadwalkan waktu yang kamu miliki secara adil dan sesuai. Kamu tentu tidak dapat menghilangkan waktu bersama keluarga atau waktu mencari nafkah, namun kamu pasti mampu mengaturnya secara lebih baik, bukan?

Tidak ada tips ajaib, tapi kuncinya memang adalah manajemen waktu yang baik.

Kamu adalah orang yang paling mengerti bagaimana mengatur waktumu sendiri. Kamu pasti mampu melakukannya jika kamu memang benar-benar ingin menulis.

Pengaturan waktu yang baik antara berbagai tanggung jawab yang kamu miliki dan menulis yang ingin kamu lakukan, adalah cara pertama yang bisa kamu lakukan untuk mengatasi writer’s block dengan sebab yang pertama ini.

Memiliki Terlalu Banyak Ide Sehingga Kamu Bingung Menentukan Prioritas

Photo by Polina Zimmerman on Pexels.com

Penyebab kedua dari kebuntuan dalam menulis adalah kamu terlalu memiliki sangat banyak ide yang justru membuat kamu bingung untuk mengeksekusinya. Ini juga bukan hal baru dalam dunia menulis, dan artinya, kamu juga tidak perlu terlalu khawatir bagaimana cara menghadapinya.

Penulis profesional atau writer’s artinya adalah orang yang memang memiliki banyak ide untuk diterjemahkan dalam bentuk karya sastra. Ini adalah sebuah takdir bagi seorang penulis. Namun masalahnya, ide yang terlalu banyak juga kadang membuat seorang penulis jatuh dalam kebingungan untuk memilih mana yang terbaik untuk dituliskan.

Lalu, apa yang bisa kamu lakukan?

Apakah kamu pernah mendengar perumpamaan seorang anak yang mengejar 10 ekor kelinci dalam waktu bersamaan?

Menurut kamu, jika 10 ekor kelinci dilepaskan berbarengan dari dalam kandang dan seorang anak mengejar semuanya sekaligus, apa yang akan terjadi? Berapa besar peluang anak tersebut untuk berhasil untuk mendapatkan kelinci?

Peluangnya adalah 0 alias kosong.

Lalu, bandingkan misalnya seorang anak yang ketika dilepaskan 10 ekor kelinci dari dalam kandang, ia kemudian menargetkan satu ekor. Walau ia tertarik untuk mendapatkan kelinci lain, namun ia hanya fokus mengejar kelinci target, kemana pun kelinci itu lari, ia mengejarnya tanpa menyerah.

Nah, berapa besar peluang anak itu untuk berhasil menangkap si kelinci?

Betul, peluangnya mungkin tidak akan mencapai 100%. Namun, sudah pasti ia akan memiliki peluang lebih baik daripada mengejar 10 ekor kelinci itu sekaligus.

Menulis pun demikian, kamu tidak bisa mengubah semua ide kamu menjadi karya dalam waktu bersamaan. Menulis adalah sebuah proses panjang, bukan revolusi spontan yang terjadi dalam satu malam.

Jadi intinya adalah, ketika kamu menghadapi kondisi writer’s block dimana kamu bingung memilih ide yang terlalu banyak, kamu harus memfokuskan perhatian pada satu ide yang paling mungkin untuk diubah menjadi karya lebih dulu.

Fokus pada hal itu, dan selesaikan. Baru kemudian kamu beralih pada ide yang lain.

Tidak Memiliki Ide Sama Sekali alias Blank

Photo by Monstera on Pexels.com

Lawan dari memiliki terlalu banyak ide dalam menulis tentu adalah terlalu sedikit memiliki ide, atau bahkan kosong sama sekali. Keduanya sama dalam hal dampak yang ditimbulkan pada seorang penulis, yakni writer’s block.

Terlalu banyak memiliki ide membuat kamu bimbang untuk menulis yang mana atau memulainya dari mana. Hal ini sama dengan kamu yang tidak memiliki ide sama sekali. Apa pun bagian dari penulisan yang kamu temui, semua terasa seperti halaman kosong yang entah mau diisi dengan kalimat apa.

Lalu, jika kamu menghadapi kondisi semacam ini, apa yang harus kamu lakukan untuk menghadapinya?

Ada banyak cara yang bisa kamu lakukan untuk mengatasi hal ini, salah satunya adalah dengan menulis bebas.

Nah, menulis bebasnya sendiri dapat kamu buat secara sistematis misalnya dengan membuat list beberapa ide terburuk yang kamu miliki.

Ide terburuk?

Ya, benar, ide paling buruk dan terburuk yang kamu miliki, karena sesungguhnya ada banyak ide terburuk sebenarnya adalah yang terbaik. Jadi, kamu bisa memulainya darimana saja, dan menulis beberapa hal tentang itu. Jangan khawatir untuk salah dan biarkan saja semuanya mengalir.

Jika metode ini kamu coba terapkan, kemudian dilakukan satu atau dua kali, maka pada satu pekan setelahnya atau beberapa hari setelah kamu menuliskan ide terburuk itu, biasanya kamu akan menemukan bahwa salah satu idemu ternyata sempurna untuk dikembangkan menjadi tulisan kamu yang sesungguhnya.

Memiliki Ide yang Menarik Namun Tidak Tahu Bagaimana Cara Mulai Menuliskannya

Photo by Andrea Piacquadio on Pexels.com

Nah, ini adalah yang paling banyak saya temui pada sebagian besar calon penulis hebat di Indonesia, orang-orang yang mengambil kursus menulis di coaching online atau offline di kelas saya. Mereka pada dasarnya memiliki sebuah ide atau kisah yang menarik untuk ditulis, tapi mereka tidak tahu bagaimana cara mewujudkannya.

Untuk kamu yang mengalami hal seperti ini pula, saran pertamanya adalah kurangi untuk selalu mengatakan bahwa;

“Saya tidak tahu harus mulai darimana…”

Atau,

“Saya bingung bagaimana memulainya, bagaimana menuliskannya menjadi sebuah cerita yang enak dibaca”

Tepatnya adalah, kamu harus mulai menghentikan membicarakan hal tersebut pada orang yang salah dan tidak bisa membantumu. Dan mulailah untuk mencari seseorang yang tepat dan memiliki kemampuan membantu kamu keluar dari persoalan tersebut.

Caranya bagaimana?

Kamu bisa memulai mencari seorang mentor untuk membimbingmu menulis. Jangan terlalu khawatir dengan biaya yang harus kamu keluarkan jika hasil yang akan kamu peroleh memberikan kamu pengalaman dan ilmu yang akan mengubah hidupmu nantinya.

Jika kamu keberatan dengan belajar pada seorang mentor melalui coaching online atau kursus, maka kamu bisa mencari seseorang yang memiliki persoalan yang sama dengan yang kamu hadapi namun ia berhasil mengatasinya, kemudian pelajari bagaimana problem itu bisa ia atasi.

Tidak ada salahnya untuk mengatasinya dengan cara yang sama, kan?

Memiliki Rasa Takut untuk Menulis Sesuatu yang Seharusnya Kamu Tulis

Photo by MART PRODUCTION on Pexels.com

“Tidak ada hal dalam hidup yang harus ditakuti, yang ada hanyalah untuk dipahami. Sekarang adalah waktunya untuk belajar lebih banyak memahami, sehingga kita dapat mengurangi rasa takut yang kita miliki”

Marie Curie

Ada sebuah kekhawatiran dalam dirimu mengenai apa yang akan dipikirkan oleh orang lain jika kamu menuliskannya.

Masalahnya kemudian adalah kamu menjadikan ketakutan kamu ini sebagai sesuatu yang tidak ingin kamu hadapi. Pada akhirnya, kamu pun stuck disitu dan mengalami writer’s block yang rasanya sulit untuk kamu hadapi.

Kamu tidak sendiri menghadapi persoalan seperti ini.

Nah, yang harus kamu lakukan adalah sebagai berikut;

Pisahkan dulu antara menulis dan konsekuensi yang mungkin akan terjadi setelahnya. Kamu tidak akan tahu apa yang sebenarnya akan terjadi, kamu juga belum menentukan apakah akan mempublish tulisanmu atau tidak. Jika demikian, mengapa tidak menyelesaikan saja tulisannya lebih dulu?

Ada banyak penulis yang membuktikan bahwa menulis apa yang paling mereka takutkan untuk ditulis adalah langkah paling penting yang mengubah hidup mereka. Writer’s block jenis ini memang membutuhkan keberanian dari dalam hatimu untuk mengatasinya dengan cara keluar dari ketakutan kamu selama ini.

Tentu saja kamu dapat mencari mentor, coach atau penulis yang lebih berpengalaman untuk membantu kamu melawan kondisi semacam ini. Tapi jika kamu mau sedikit terbuka dan menemukan orang yang tepat untuk mendiskusikannya, writer’s block yang satu ini tidak terlalu sulit seperti kelihatannya.

Kamu Mengalami Depresi dan Tekanan

Photo by Brett Sayles on Pexels.com

Rasa depresi dapat disebabkan oleh banyak hal. Mungkin kamu sedang mengalami masalah kesehatan menahun, atau kondisi lain yang menyebabkan kamu seakan mengalami tekanan. Konsekuensi dari tekanan ini adalah membuat kamu kehilangan produktivitas dalam menulis.

Saya mengalami hal seperti ini kadang-kadang. Ketika rasa nyeri di punggung saya karena kebanyakan duduk menulis menjadi kambuh, saya bisa menjadi depresi dan mengalami writer’s block. Bukan saya tidak memiliki ide untuk ditulis, namun saya merasa sakit ketika menulis. Dan itu pada akhirnya berujung pada depresi dan rasa enggan untuk menulis.

Jika penyebabnya adalah faktor kesehatan, kamu tentu dapat mencari jalan keluarnya dengan menghubungi ahli medis dan mungkin juga seorang therapist.

Salah satu obat yang juga cukup mujarab untuk mengatasi rasa nyeri di punggung saya misalnya adalah dengan melakukan olahraga pagi secara rutin.

Sayangnya dalam berolahraga, saya tidak memiliki kedisiplinan seperti dalam menulis. Namun jika rasa nyeri di punggung saya ingin hilang dan menulis bisa lancar kembali tanpa terngganggu rasa sakit, saya memang harus melakukan hal tersebut.

Namun beberapa gangguan kesehatan penyebab despresi tidak sesederhana itu, bukan?

Bisa saja kamu misalnya mengalami depresi dan writer’s block karena persoalan yang lebih kompleks. Nah, untuk hal ini, kamu disarankan untuk memberanikan diri menghubungi orang-orang yang berkompeten untuk bisa membantu kamu.

Jika hubungannya adalah dengan menulis, kamu bisa menghubungi coach, mentor, pelatih menulis, penulis profesional atau lain sebagainya yang mampu membantu kamu untuk mengatasi writer’s block kemudian mengeluarkan kemampuan terbaik kamu.

“Sebagai bentuk belajar; menulislah dengan apa pun yang kita bisa, dengan apa pun yang kita miliki, dan dengan cara apa pun yang kita bisa melakukannya…”

A Wan Bong

Bersambung ke halaman selanjutnya: 12 Penyebab Writer’s Block yang Paling Sering Menggangu Penulis + Cara Mengatasinya (Bag 2)


anton sujarwo

Anton Sujarwo

Saya adalah seorang penulis buku, content writer, ghost writer, copywriters dan juga email marketer. Saya telah menulis 14 judul buku, fiksi dan non fiksi, dan ribuan artikel sejak pertengahan tahun 2018 hingga sekarang.

Dengan pengalaman yang saya miliki, Anda bisa mengajak saya untuk bekerjasama dan menghasilkan karya. Jangan ragu untuk menghubungi saya melalui email, form kontak atau  mendapatkan update tulisan saya dengan bergabung mengikuti blog ini bersama ribuan teman yang lainnya.

Tulisan saya yang lain dapat dibaca pula pada website;

Saya juga dapat dihubungi melalui whatsapp di tautan ini.

Fortopolio beberapa penulisan saya dapat dilihat disini:


5 CARA MENJADI PENULIS BUKU PEMULA YANG PENUH PERCAYA DIRI

Melalui form kontak Penulis Gunung atau langsung melalui pesan whatsapp, saya menerima banyak pertanyaan tentang bagaimana cara menjadi penulis buku pemula yang paling efektif. Ini sebenarnya adalah pertanyaan yang umum, namun tetap saja banyak orang tidak menemukan jawaban yang nampaknya benar-benar memuaskan mereka.

Nah, untuk itu pada artikel kali ini saya akan membagikan beberapa hal yang InsyaAllah sangat bermanfaat untuk kamu yang ingin memulai penulisan sebuah buku.

Apakah kamu akan menulis kreatif semacam novel, cerpen, puisi, skenario film, atau kamu ingin menulis technical writing semacam essay, jurnal, dan artikel ilmiah, cara berikut ini bisa kamu aplikasikan.

Lantas, bagaimana cara menjadi penulis buku untuk pemula yang sebenarnya?

5 Langkah Cara Menjadi Penulis Buku Pemula untuk Kamu yang Belum Berpengalaman Sama Sekali

Photo by Suzy Hazelwood on Pexels.com

Menulis buku bisa menjadi sesuatu yang sangat menantang dan sulit, terutama untuk kamu yang belum memiliki pengalaman sama sekali. Menariknya dalam aktivitas ini, talenta sama sekali bukan hal yang utama. Meskipun misalnya kamu tak memiliki bakat seperti penulis yang lain, kamu tetap berpeluang besar untuk menjadi seorang penulis yang hebat.

Tapi, bagaimana caranya?

Bagian dasarnya adalah kamu harus mengetahui cara jadi penulis novel pemula melalui langkah-langkah yang tepat dan terbukti efektif.  Keterampilan dasar inilah yang akan menjadi modal utama kamu dalam menulis sebuah buku.

Jika kamu adalah pemula dan merasa kesulitan menulis buku, maka kamu sama sekali tidak sendirian. Permasalahan ini jamak di kalangan para penulis, bahkan untuk orang yang sudah terbiasa menulis sekali pun.

Nah, beruntungnya ada beberapa tpis dan teknis yang bisa kamu lakukan untuk mengatasi hal ini. Apakah kamu mencari cara menjadi penulis online yang produktif atau pun menulis buku secara real, langkah-langkah berikut sangat layak untuk kamu aplikasikan.

Ciptakan Lingkungan Seorang Penulis

Photo by Andrew Neel on Pexels.com

Penting bagi kamu untuk selalu mengetahui bahwa untuk memulai proses menjadi seorang penulis yang berhasil adalah dengan membentuk lingkungannya terlebih dahulu. Jadi, lupakan dulu kebingungan mencari aplikasi untuk penulis pemula yang paling efektif dan semisalnya, sebaliknya, yang harus kamu lakukan adalah dengan menciptakan lingkungan menulis yang baik.

Tujuan terpenting dari menciptakan tempat menulis yang nyaman adalah supaya kamu dapat menulis tanpa gangguan. Tempat menulis yang nyaman itu tidak harus mewah.

Hal paling penting dari menciptakan tempat semacam ini adalah tujuannya yang mampu mendukung aktivitas menulis secara signifikan, menghilangkan gangguan dan membantu fokusmu pada tujuan ada pada angka 100%.

Nah, beberapa ide yang bisa kamu lakukan untuk menciptakan tempat menulis yang nyaman seperti ini adalah sebagai berikut;

  • Coba Menulis di Beberapa Tempat;  Saya biasa menulis berpindah-pindah, tergantung nyamannya dimana. Kadang saya membawa meja menulis saya di dapur, di kamar tidur, atau hanya di ruang tamu. Selama ia terasa nyaman dan membuat tulisannya saya mengalir dengan lancar, tempat dimana pun tidak menjadi masalah. Tips pertama cara menjadi penulis novel online dibayar juga sama seperti ini, yakni temukan tempat yang nyaman dan biarkan kreativitas imajinasimu berteriak nyaring di sana.
  • Ciptakan Dekorasi yang Menginspirasi: Kamu bisa menempatkan poster, quote, tumpukan buku, lukisan atau apa pun dalam ruangan menulismu yang memiliki nilai inspirasi bagi kamu sendiri.
  • Fleksibel: Ini seperti menulis di banyak tempat, yakni kamu bisa mendesain, menyusun dan mendekorasi ruangan menulis sesuai seleramu.
  • Tempatkan Kalender: Kalender akan membantu kamu untuk lebih disiplin dalam menulis, mengejar target lebih giat, dan juga biasanya lebih produktif.
  • Temukan Pendukung: Saya sebenarnya tak begitu biasa menulis fiksi ditemani musik, terutama untuk buku-buku saya sendiri. Namun untuk technical writing atau ghost writing, saya tidak bermasalah dengan musik. Nah, jika kamu menyukai musik saat menulis, tak ada salahnya juga mempersiapkan hal ini pula.
Photo by Antonio Borriello on Pexels.com

Beberapa ide lain yang bisa kamu lakukan pula dalam langkah yang pertama ini adalah dengan memperhatikan  tiga poin penting berikut ini;

Kurangi atau hilangkan potensi gangguan dengan cara;

  • Selama menulis, jauhkan dirimu dari keluarga, teman, atau bahkan mainan kesayangan sekali pun.
  • Matikan handphone-mu.
  • Tutup dulu untuk sementara sosial media seperti facebook, instagram, whatsapp, youtube, dan lain-lain.

Buat diri kamu lebih merasa nyaman dengan;

  • Menggunakan kursi yang nyaman untuk menulis, juga mejanya.
  • Tempatkan beberapa hal penambah semangat menulismu seperti quotes dan gambar.
  • Pastikan kamu sehat untuk bisa duduk dan menulis setidaknya sekitar 30 menit atau lebih.

Pilihlah sesuatu yang mampu meningkatkan produktivitas menulismu;

  • Matikan musik yang mengganggu dan nyalakan musik yang membantu kamu untuk menulis lebih baik.

Bangun Kebiasaan Seorang Penulis Profesional

Photo by Pixabay on Pexels.com

Hal yang paling membedakan antara seorang penulis profesional dan seorang penulis pemula adalah bagaimana mereka mengatur waktu mereka dalam menulis dan bagaimana kedisiplinan mereka melakukannya.

Seorang penulis profesional akan memberikan perhatian yang penuh dan kedisiplinan yang tinggi terhadap rutinitas menulisnya. Sementara di pihak lain, seorang penulis amatir kadang menulis ditentukan oleh mood, hobby dan writer’s block.

Nah, jika kamu adalah seorang penulis pemula yang hanya menulis jika kamu terinspirasi, atau hanya akan menulis jika kamu sedang merasa mood, maka kamu dalam masalah.

Jalan satu-satunya untuk menjadi seorang penulis produktif bukanlah dengan membayangkan gaji penulis novel bestlseller yang fantastis atau popularitas mereka yang manis. Akan tetapi langkah paling penting adalah dengan membangun kebiasaan seorang penulis sukses, atau membangun habit writer profesional terlebih dulu.

Kamu bisa membangun kebiasan menulis misalnya 30 menit dalam satu hari, atau beberapa hari dalam satu minggu. Kemudian kebiasaan ini kamu rutinkan secara disiplin yang dengan cara itu kamu akan lebih mudah untuk mencapai target penulisan bukumu dalam soal waktu.

Saya sendiri menulis setiap hari dengan jumlah berkisar antara 1.000 hingga 4.000 kata per hari. Saya menulis artikel, jurnal, buku, ghost writing, email marketing dan lain sebagainya. Ini telah menjadi rutinitas bagi saya, bangun di setiap harinya untuk menulis.

Buatlah Kerangka atau Outline Sebelum Memulai Penulisan

Photo by Pixabay on Pexels.com

Cara menjadi penulis novel di wattpad atau dimana saja, langkah penting yang selalu saya tekankan adalah buatlah outline atau kerangka novel sebelum eksekusi menulisnya sendiri. Jika kamu adalah penulis pemula yang belum pernah menerbitkan buku satu kali pun, maka membuat online adalah hal yang wajib kamu lakukan.

Sebuah outline atau kerangka akan membantu kamu menjelaskan arah cerita dengan jelas. Outline juga merupakan peta cerita yang dapat kamu jadikan sebagai identifikasi ide besar cerita. Dengan outline, kamu dapat menulis lebih cepat sekaligus dapat menghindari penulisan jalan cerita yang tidak sesuai dengan ide semestinya.

Jadi, sebelum kamu mulai menulis ceritamu, luangkan waktu untuk membuat kerangka buku terlebih dahulu dengan melakukan beberapa tips berikut;

  • Brainstorm, yaitu dengan membuat daftar ide cerita apa saja yang ingin kamu tuliskan dalam bukumu.
  • Organize, buat semua ide cerita tersebut saling berhubungan.
  • Order, susun bagian cerita dari sub bagiannya secara rinci.
  • Label: buat judul dan sub judul cerita yang akan menjadi bab pada buku yang kamu tuliskan.

Fokus pada Satu Proyek Penulisan

Photo by Jonas Svidras on Pexels.com

Dalam artikel tentang 10 kesalahan penulis pemula yang paling sering mereka lakukan sementara mereka sendiri tidak menyadarinya, saya menulis bahwa terlalu banyak ide adalah sebuah kesalahan dalam penulisan.

Ketika kamu menulis satu buku, kamu sudah seharusnya mengumpulkan semua energi kamu untuk menyelesaikan buku tersebut sebaik dan semaksimal mungkin. Tapi beberapa penulis, terutama para pemula yang belum berpengalaman, kadang memiliki ide laksana cipratan pecahan bintang yang menyebar kemana-mana.

Terlalu banyak ide saat kamu dituntut untuk berfokus pada satu penulisan adalah masalah. Bukan tidak mungkin dengan fokus yang terbagi pada banyak hal akan menurunkan penulisan kamu pada project yang utama, Bahkan lebih buruk, hal ini juga dapat menyebabkan kamu tidak bisa melanjutkan penulisan yang sudah kamu lakukan sebelumnya.

Nah, supaya penulisan kamu hanya fokus pada satu buku, maka kamu bisa mencoba beberapa langkah berikut;

  • Bagi penulisan menjadi beberapa bagian yang lebih kecil sehingga mudah dikerjakan.
  • Gunakan deadline untuk mendorong kedisiplinan kamu dalam menulis lebih teratur.
  • Cobalah untuk mengesampingkan beberapa ide menulis yang muncul di kepala kamu untuk sementara.

Menulislah Setiap Hari

Photo by Marcus Aurelius on Pexels.com

Cara menjadi penulis online atau pun penulis buku selanjutnya dan mungkin saja adalah yang paling penting adalah bahwa kamu harus menulis setiap hari. Ini adalah rumus yang terlalu sering untuk kamu dengarkan, namun sejujurnya ini juga adalah salah satu formula menjadi seorang penulis buku yang berhasil.

Para penulis profesional adalah mereka yang selalu menjadikan menulis sebagai prioritas utama mereka.

Para penulis profesional adalah orang yang tidak pernah berlibur. Jika mereka sedang tidak menulis, maka mereka membaca, dan jika mereka sedang tidak membaca, maka para penulis profesional itu melambungkan pikiran mereka untuk memikirkan tulisan mereka selanjutnya.

Namun sebagai pemula, kamu tidak tentu dapat memaksakan diri untuk menulis setiap hari seperti ini, bukan? Lantas bagaimana jalan keluarnya supaya kamu berhasil menyelesaikan buku kamu yang pertama dengan tepat waktu?

Jawabannya adalah dengan membuat jadwal penulisan yang disiplin, teratur dan dapat kamu patuhi sendiri. Hal ini dapat pula dibantu dengan cara kamu mengkalkulasi jumlah kata dalam penulisan yang ingin kamu lakukan dan dalam berapa lama kamu membutuhkan waktu menyelesaikannya.

Misalkan kamu ingin menulis sebuah novel sebanyak 50.000 kata dalam waktu 5 bulan, artinya kamu harus menulis sebanyak 10.000 kata setiap bulannya. Lalu, berapa banyak kata setiap hari yang harus kamu produksi untuk mencapai tujuan itu?

Jika kamu menulis setiap hari, maka setidaknya kamu harus menulis sekitar 333 kata.

Jika kamu menulis hanya 3 hari dalam satu pekan yang artinya hanya 12 hari dalam satu bulan, maka kamu harus menulis sebanyak 833 kata setiap kali kamu menuliskannya.

Sekarang kamu tinggal pilih, ingin menulis dengan jadwal yang seperti apa supaya target penulisan kamu dapat tercapai.

Awali Karirmu Menjadi Penulis Profesional Sekarang

Photo by Lisa on Pexels.com

Tidak ada yang instan untuk mencapai sebuah tujuan, kamu senantiasa diminta untuk berproses. Namun terkait cara menjadi penulis buku pemula yang berhasil dan produktif, 5 langkah di atas telah terbukti efektif untuk mempercepatnya.

Dengan mengikuti strategi ini kamu dijamin dapat menyelesaikan buku pertama kamu dalam waktu yang lebih cepat dan efisien.

Nah, hal ini semakin efektif lagi jika kamu mendapatkan bimbingan menulis secara langsung dari penulis profesional yang sudah menulis puluhan buku dan menjadikan menulis sebagai kegiatannya sehari-hari.

Penulis Gunung adalah salah satu jasa bimbingan menulis yang bisa kamu pilih untuk hal ini.


anton sujarwo

Anton Sujarwo

Saya adalah seorang penulis buku, content writer, ghost writer, copywriters dan juga email marketer. Saya telah menulis 14 judul buku, fiksi dan non fiksi, dan ribuan artikel sejak pertengahan tahun 2018 hingga sekarang.

Dengan pengalaman yang saya miliki, Anda bisa mengajak saya untuk bekerjasama dan menghasilkan karya. Jangan ragu untuk menghubungi saya melalui email, form kontak atau  mendapatkan update tulisan saya dengan bergabung mengikuti blog ini bersama ribuan teman yang lainnya.

Tulisan saya yang lain dapat dibaca pula pada website;

Saya juga dapat dihubungi melalui whatsapp di tautan ini.

Fortopolio beberapa penulisan saya dapat dilihat disini:


7 RAHASIA SUKSES PENULIS FREELANCE PEMULA YANG PALING MANTAP

Menjadi penulis freelance pemula bisa menjadi pilihan yang menarik, terutama untuk kamu yang suka dengan dunia tulis menulis. Potensi penghasilan dari bisnis ini cukup menggiurkan, bahkan bisa berkali lipat dari penghasilan kamu sebelumnya. Namun di sisi lain, menjadi penulis lepas adalah juga adalah profesi yang membutuhkan skill dan teknik khusus untuk bisa sukses.

Problemnya kemudian adalah, banyak orang yang terjun menjadi freelance penulis namun bingung bagaimana cara melakukannya supaya bisa berhasil.

Nah, untuk kamu yang mengalami problem serupa, berikut 7 hal paling penting yang bisa kamu lakukan.

Tips Rahasia Sukses Penulis Freelance Pemula

Penulis Freelance Pemula
Photo by George Milton on Pexels.com

Sebagai pemula, gaji penulis lepas tentu bukan hal yang harus kamu utamakan terlebih dahulu. Potensi penghasilan di bidang ini akan terus meningkat seiring dengan jam terbang, pengalaman dan juga wawasan kamu. Proses ini secara natural, mungkin bisa saja membutuhkan waktu hingga bertahun-tahun.

Namun proses ini sebenarnya dapat lebih dipercepat jika saja kamu mengetahui tips dan rahasianya. Kamu tidak harus menunggu tahunan untuk mendapatkan penghasilan yang lebih baik dari profesi sebagai freelance writer job.

Pertanyaannya kemudian adalah; bagaimana caranya?

Sebelum membahas hal itu lebih jauh, ada baiknya kamu juga mengetahui apa itu pengertian penulis freelance yang sebenarnya.

Apa Itu Penulis Freelance atau Freelance Writer?

Penulis Freelance Pemula
Photo by Eren Li on Pexels.com

Freelance writer atau penulis lepas adalah seorang penulis profesional yang menjadi kontraktor penulisan paruh waktu sekaligus menjadi bentuk oposisi dari penulis penuh untuk sebuah perusahaan. Ketika penulis penuh bekerja hanya untuk satu perusahaan, penulis lepas kadang disewa secara kontrak untuk project penulisan.

Seorang penulis lepas menawarkan layanan penulisan mereka ke banyak klien yang berbeda, dan seringkali menulis untuk berbagai hal yang berbeda pula. Apa pun jenis penulisan yang diminta oleh klien mereka, seorang penulis freelance biasanya akan menuliskannya.

Dalam aktivitasnya, freelance writer online job juga terbiasa memberikan layanan mereka ke banyak jenis klien. Penulis lepas dapat saja menulis cerpen untuk jurnal penulisan kreatif, menulis essay untuk profesional dalam technical writer, atau pun menjadi email marketer dan content writer untuk suatu website.

Apa Saja Jenis Pekerjaan yang Dapat Dilakukan Seorang Penulis Freelance?

Apa pun jenis penulisan yang dibutuhkan, idealnya bisa dilakukan oleh seorang penulis lepas. Akan tetapi, spesialis penulisan tertentu juga dapat menjadi nilai tambah sendiri.

Secara umum, jenis penulisan yang dapat kamu tekuni ketika memutuskan untuk menjadi seorang freelance writer profesional adalah dua hal berikut;

Penulis Freelance untuk Technical Writing

Penulis Freelance Pemula
Photo by Skylar Kang on Pexels.com

Dalam jurnal yang menginformasikan lowongan freelance writer 2021, penulisan teknis atau technical writing masih menduduki jenis tulisan yang banyak dicari. Penulisan jenis ini adalah penulisan ilmiah dimana kamu menulis berdasarkan data dan fakta yang biasa dipergunakan untuk kepentingan profesional.

Beberapa contoh yang umum untuk jenis technical writing dan dapat dikerjakan oleh kamu sebagai seorang penulis lepas adalah sebagai berikut;

  • Penulis lepas untuk konten atau content writer.
  • Penulis lepas untuk sales atau copywriting.
  • Penulis lepas untuk email marketing.
  • Penulis lepas untuk proposal, jurnal dan essay.
  • Penulis lepas untuk kesehatan, finansial, instruksi penggunaan produk, dan lain sebagainya.
  • Dan lain-lain.

Penulis Freelance untuk Creative Writing

Penulis Freelance Pemula
Photo by Pixabay on Pexels.com

Pengertian creative writer adalah kebalikan dari technical writer, yaitu seorang penulis profesional yang menulis berdasarkan imajinasi, kreativitas dan inovasi serta melampaui batas-batas penulisan jurnalistik pada umumnya.

Berdasarkan pengertian ini, beberapa contoh pekerjaan penulisan kreatif yang bisa kamu tekuni sebagai freelance writer pemula nantinya adalah;

  • Freelance penulis cerpen.
  • Freelance penulisan novel.
  • Freelance penulisan naskah film atau skenario.
  • Freelance penulisan untuk lagu.
  • Dan lain-lain.

7 Tips Sukses Freelance Writer Pemula

Pertahankan Pekerjaan Sebelumnya

Penulis Freelance Pemula
Photo by Los Muertos Crew on Pexels.com

Sebagai seorang penulis freelance pemula, sebaiknya kamu tidak gegabah dengan langsung memutuskan untuk resign dari pekerjaanmu sehari-hari. Untuk sementara waktu, jadikan saja profesi penulisan lepasmu sebagai pekerjaan paruh waktu.

Jika kamu memutuskan untuk membuka jasa sebagai freelance writer online job sedangkan pekerjaan kamu sehari-hari misalnya di bengkel atau pun pabrik, maka jangan buru-buru untuk keluar dari pekerjaanmu sebagai karyawan. Kamu dapat menerima job penulisan kapan pun berdasarkan online, namun pengerjaanya dapat kamu atur sedemikian rupa supaya tidak mengganggu pekerjaan utamamu.

Temukan Niche Spesialis

Penulis Freelance Pemula
Photo by Josh Sorenson on Pexels.com

Jika kamu berstatus mahasiswa dan menemukan dirimu cukup bagus dalam dunia tulis-menulis, maka kamu dapat membuka jasa freelance writer untuk pelajar yang secara khusus misalnya, menargetkan jenis-jenis penulisan tertentu.

Kamu dapat memilih untuk menulis secara khusus misalnya dalam penulian skripsi, proposal, materi kursus dan lain sebagainya. Dengan metode yang sama, kamu juga dapat memilih niche yang khusus untuk membuat kamu menjadi spesialis dalam bidang penulisan tersebut.

Background sebagai mahasiswa farmasi dapat memberi kamu peluang untuk menulis tentang kesehatan, background akuntansi dapat menjadi modal untuk menulis tentang finansial, dan lain sebagainya.

Buat Website atau Blog Pribadi

Penulis Freelance Pemula
Photo by Burst on Pexels.com

Nah, ini penting, sayangnya tidak banyak penulis freelance pemula yang menyadarinya.

Blog atau website bagi seorang penulis adalah sesuatu yang lebih dari sekedar tempat untuk menulis. Blog juga dapat menjadi etalase bagi kamu untuk memajang fortopolio penulisan yang pernah kamu lakukan, atau juga dapat menjadi cara untuk menjaring calon klien yang membutuhkan layanan penulisan yang kamu tawarkan.

Ada banyak peluang layanan penulisan yang dapat kamu pasarkan melalui blog. Kamu bisa berfokus misalnya dalam ghost writing penulisan buku, ghost writing technical writing, ghost writing penulisan kreatif dan lain sebagainya.

Bahkan kamu juga bisa mengasah kemampuan mengajar kamu dengan membuka coaching online dan kursus online mengenai penulisan melalui website.

Pelajari Berbagai Jenis Penulisan

Penulis Freelance Pemula
Photo by NEOSiAM 2021 on Pexels.com

Klien akan memiliki banyak ekspektasi pada freelance penulis yang mereka gunakan jasanya. Beberapa ekspektasi ini kadang diluar kemampuan dasar yang dimiliki oleh si penulis lepas itu sendiri. Hal ini jika kamu biarkan saja, kamu akan melewatkan beberapa peluang yang mungkin memberikan potensi income yang lumayan.

Nah, penting untuk kamu dalam menjawab tantangan ini dengan mempersiapkan diri dan mempelajari berbagai jenis penulisan. Kamu bisa menambah kemampuan misalnya dengan menulis jurnal, essay, Penelitian Tindakan Kelas untuk kenaikan pangkat guru, cerpen, puisi, copywriting dan lain sebagainya.

Dapatkan Pengetahuan Tentang SEO Dasar

Penulis Freelance Pemula
Photo by George Morina on Pexels.com

Salah satu contoh freelance writer yang paling banyak saat ini adalah untuk konten online. Dalam penulisan jenis ini yang notabene penulisannya di internet, SEO atau Search Engine Optimazation adalah sesuatu yang penting untuk kamu ketahui, paling tidak dasar-dasarnya.

Dalam operasional sistem pencarian di internet, mesin pencari seperti Google, Bing, Yahoo dan lain sebagainya, menggunakan kata kunci untuk menampilkan perintah pencarian. Nah, kata kunci inilah yang kemudian harus dipelajari oleh seorang penulis freelance untuk disisipkan dalam tulisan supaya dapat diindeks oleh sistem pencarian.

Dalam menyisipkan kata kunci sendiri, terdapat beberapa teknik yang harus diketahui untuk menghasilkan tulisan yang friendly bagi pembaca, sekaligus juga akrab dalam mesin pencaharian.

Di samping kata kunci atau keyword, operasional SEO juga akan membutuhkan pengetahuan tentang backlink, internal link, dan lain sebagainya.

Atur Waktu dengan Disiplin

Penulis Freelance Pemula
Photo by Marius Mann on Pexels.com

Ini adalah bagian yang paling penting jika kamu benar-benar ingin terjun menjadi seorang penulis freelance yang sukses. Kemampuan manajemen waktu atau kemampuan mengatur waktu harus dapat disesuaikan dengan tuntutan seorang freelance writer profesional.

Ada kalanya kamu akan menemui klien yang memiliki urgensi penulisan yang membutuhkan waktu cepat. Sementara pada klien yang lain misalnya, sebuah pekerjaan penulisan dapat saja membutuhkan waktu yang lama untuk selesaikan karena tingkat kerumitan dan kesulitannya.

Hal ini semakin kompleks jika kamu juga masih memiliki pekerjaan utama lainnya. Kemampuan untuk mengatur waktu antara penulisan freelance dan pekerjaan utama adalah penentu kesuksesan menjadi seorang penulis lepas profesional selanjutnya.

Jadilah Superman dengan Kemampuan Proofreading dan Editing

Penulis Freelance Pemula
Photo by Min An on Pexels.com

Bagian terakhir yang harus kamu persiapkan untuk menjadi seorang penulis freelance yang sukses adalah kemampuan untuk melakukan pekerjaan penulisan secara mandiri dalam berbagai prosesnya. Termasuk dalam proses ini adalah kamu dapat melakukan proofreading dan editing sebelum pekerjaannya sendiri kamu serahkan kepada  klien.

Jadi, ketika hasil penulisanmu diserahkan kepada klien, semuanya adalah penulisan siap saji yang tinggal di upload dalam situs mereka.

Penting bagi kamu untuk menguasai berbagai kemampuan pendukung seperti ini sebagai cara untuk mendukung profesionalitas dan kredibiltasmu sebagai seorang freelancer.

Sebagai seorang penulis freelance profesional, saya juga bekerjad pada salah satu perusahaan outdoor terkemuka di Indonesia. Dalam pekerjaan ini saya harus mempersiapkan sebuah tulisan secara sempurna mulai dari riset kata kunci, penulisan, editing, proofreading, pemilihan image, dan juga upload di situs mereka.

Allhamdulillah, penulisan yang konsisten dengan mempertimbangkan SEO, human friendly, dan struktur penulisan yang rapi, cukup efektif menaikkan website dalam rangking sistem pencarian.

Oh ya, untuk contoh hasil penulisan saya tersebut dapat kamu lihat disini.

Penulis Freelance Pemula
Photo by Anete Lusina on Pexels.com

Nah, itu adalah 7 tips rahasia yang bisa kamu aplikasikan untuk memulai bisnis sebagai seorang penulis freelance pemula.

Dengan kedisiplinan untuk terus mengasah kemampuan dan managemen layanan penulisanmu, hanya masalah waktu saja kamu akan menjadi salah satu penulis lepas yang sukses di kemudian hari.

Oh ya, untuk kamu sendiri yang membutuhkan bimbingan penulisan profesional, kamu juga bisa mengikuti kelas coaching online yang saya adakan. Caranya kamu bisa menghubungi saya melalui tautan whatsapp di bawah ini.


anton sujarwo

Anton Sujarwo

Saya adalah seorang penulis buku, content writer, ghost writer, copywriters dan juga email marketer. Saya telah menulis 14 judul buku, fiksi dan non fiksi, dan ribuan artikel sejak pertengahan tahun 2018 hingga sekarang.

Dengan pengalaman yang saya miliki, Anda bisa mengajak saya untuk bekerjasama dan menghasilkan karya. Jangan ragu untuk menghubungi saya melalui whatsapp, email, form kontak atau  mendapatkan update tulisan saya dengan bergabung mengikuti blog ini bersama ribuan teman yang lainnya.

Tulisan saya yang lain dapat dibaca pula pada website;

Saya juga dapat dihubungi melalui whatsapp di tautan ini.

Fortopolio beberapa penulisan saya dapat dilihat disini:


5 TIPS RAHASIA CARA MEMBUAT PTK UNTUK KENAIKAN PANGKAT YANG MUDAH DIKERJAKAN

Bagi Aparatur Sipil Negara atau ASN yang berprofesi sebagai guru, cara membuat PTK untuk kenaikan pangkat adalah keterampilan yang harus dikuasai. Hal ini disebabkan karena PTK telah menjadi salah satu syarat wajib kenaikan pangkat bagi profesi guru baik guru SD, SMP atau pun SMA. Sayangnya, tidak sedikit guru yang menganggap proses ini sangat rumit dan melelahkan.

Nah, bagaimana sebenarnya cara mudah membuat susunan PTK untuk kenaikan pangkat? Adakah teknik rahasia yang bisa membuatnya lebih sederhana untuk dikerjakan?

Berikut ulasan selengkapnya.

Cara Membuat PTK untuk Kenaikan Pangkat dengan Mudah dan Cepat

5 TIPS RAHASIA CARA MEMBUAT PTK UNTUK KENAIKAN PANGKAT

http://www.penulisgunung.id

“Setiap orang yang mengingat pendidikannya, akan mengingat gurunya, bukan metode atau pun tekniknya. Guru adalah jantung dari sistem pendidikan yang sebenarnya.”

Sidney Hook

PTK atau Penilaian Tindakan Kelas adalah sebuah tindakan praktis yang dilakukan oleh guru atau tenaga pendidik  yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran di dalam kelas. PTK selain dimaksudkan untuk hal ini, juga menjadi salah satu syarat wajib kenaikan pangkat.

Kewajiban ini pada kondisi tertentu terkadang terasa merepotkan, terutama untuk guru-guru yang mungkin merasa kesulitan dalam membuat format PTK untuk kenaikan pangkat. Hal ini kemudian juga menjadi kendala bagi mereka untuk naik pangkat, sekaligus pula menjadi aral yang memberikan citra kurang cemerlang terhadap kemampuan mereka.

Lantas, bagaimana cara mengatasinya?

Menyusun PTK untuk kenaikan pangkat sebenarnya tidaklah sesulit yang dibayangkan, terutama jika kamu sudah mengetahui caranya. Dengan mengikuti tips dan langkah-langkah yang sederhana, PTK untuk kenaikan pangkat akan selesai dalam waktu yang cepat.

Nah, berikut adalah langkah-langkah dan tips rahasia yang bisa kamu ikuti untuk menyusun Penelitian Tindakan Kelas yang sesuai dengan PTK Dapodik yang disyaratkan.

Kenali Dengan Baik Format PTK untuk Kenaikan Pangkat sebagai Panduan

Photo by picjumbo.com on Pexels.com

Berdasarkan panduan membuat PTK yang diterbitkan oleh Kemendikbud pada tahun 2015, setiap guru atau tenaga pendidik dalam membuat PTK mereka, diwajibkan untuk mengikuti format penyusunan yang telah ditetapkan.

Dengan mempelajari format ini secara seksama, setiap pendidik atau guru yang membuat PTK untuk kenaikan pangkat atau untuk tujuan kedisiplinan lain, diharapkan mampu menyusun sebuah jurnal teknis penelitian yang lengkap, baik dan, mudah untuk dipahami.

Sekarang, bagaimana format PTK untuk kenaikan pangkat yang disyaratkan oleh Kemendikbud?

Secara umum penyusunan PTK dapat dibagi dalam enam bagian yakni bagian awal, bagian isi, bagian pembahasan, bagian penutup, daftar pustaka dan lampiran.

Berikut penjelasan untuk masing-masing bagian tersebut.

BACA JUGA:

Bagian Awal

Photo by Dom J on Pexels.com

Meskipun berbeda pembahasan, PTK untuk kenaikan pangkat guru SMP, guru SD, atau pun guru SMA, memiliki format yang sama. Pada bagian awal ini terdiri dari beberapa halaman yakni; judul, pengesahan, kata pengantar dan daftar isi.

  • Judul; Penulisan judul harus mempertimbangkan faktor singkat, padat dan jelas. Judul juga harus mampu menjadi gambaran besar mengenai problem yang diteliti dan hasil yang diperoleh.
  • Lembar Pengesahan: Bagian ini merupakan lembar persetujuan yang ditandatangani oleh kepala sekolah tempat guru yang membuat PTK mengajar.
  • Kata Pengantar: Seperti yang mungkin kamu biasa temukan dalam contoh PTK untuk kenaikan pangkat, format kata pengantar dalam PTK mirip dengan kata pengantar pada buku. Kata pengantar ini harus menjelaskan alasan dilakukannya PTK dan urgensi lingkungan yang mendorongnya.
  • Daftar Isi: Daftar isi PTK kenaikan pangkat tidak memiliki perbedaan dengan daftar isi jurnal atau buku pada umumnya. Kamu tentu dapat menyusunnya dengan mudah, bukan?

Bagian Isi

Photo by Vlada Karpovich on Pexels.com

Pada bagian isi, format PTK untuk kenaikan pangkat berisi tiga hal penting lainnya yaitu; pendahuluan, kajian pustaka dan metode penelitian.

Berikut adalah penjelasan masing-masing sub bagian isi tersebut;

  • Pendahuluan; Sebagai sebuah karya ilmiah yang bersumber dari hasil penelitian, bagian pendahuluan harus memuat beberapa hal mendasar sebagai pengantar pokok bahasan meliputi; latar belakang, rumusan masalah, tujuan serta manfaat penelitian.
  • Kajian Pustaka; Bagian ini berisi kajian penelitian-penelitian sebelumnya yang secara tema, memiliki keselarasan dengan penelitian yang kamu lakukan.
  • Metode Penelitian: Sebagaimana metode penelitian berbagai karya ilmiah yang lain, bagian ini mengharuskan kamu untuk menjelaskan bagaimana teknik yang kamu lakukan dalam menyusun PTK untuk kenaikan pangkat tersebut. Penjelasan ini meliputi pengumpulan data hingga metode analisis yang dijalankan.

Bagian Pembahasan

Photo by Pixabay on Pexels.com

Dalam format menyusun PTK untuk kenaikan pangkat guru, bagian pembahasan harus sinkron dan sesuai dengan bagian pendahuluan yang telah menguraikan permasalahan yang diteliti. Secara ringkas, bagian ini adalah jawaban dan solusi dari masalah yang ada pada bagian pendahuluan.

Penting pula untuk kamu ingat pada bagian ini mengenai relevansi antara jumlah masalah yang diutarakan pada pendahuluan dengan jawaban bahasan yang disampaikan. Jika jumlah permasalahan yang menjadi pokok penelitian adalah lima, maka bagian pembahasan juga harus memberikan jawaban dan sub bab sebanyak lima bagian.

Bagian Penutup

Photo by Pixabay on Pexels.com

Secara umum, susunan PTK untuk kenaikan pangkat yang disyaratkan Kemendikbud pada bagian penutup mengharuskan kamu memberikan kesimpulan dan juga saran.

Kesimpulan adalah rangkuman dari keseluruhan pembahasan disertai jawaban yang menjawab masalah pada pendahuluan. Sementara saran adalah pemikiran yang kamu anggap memiliki manfaat terkait dengan PTK yang kamu kerjakan.

Jadi, seumpama kamu menulis bahwa proses pembelajaran berbasis outdoor learning memiliki banyak manfaat bagi peserta didik, maka bagian ini kamu dapat menguraikan saran mengenai penerapannya.

Bagian Daftar Pustaka

Bagian ini seperti yang sudah kamu ketahui, sama seperti daftar pustaka untuk jurnal, essay atau pun buku pada umumnya. Daftar pustaka adalah daftar sumber bacaan yang kamu gunakan untuk menulis PTK kenaikan pangkat secara keseluruhan.

Bagian Lampiran

Photo by Anete Lusina on Pexels.com

Ini adalah bagian terakhir dalam format PTK untuk kenaikan pangkat.

Bagian ini berisi lampiran-lampiran yang untuk Dinas Kepangkatan, menjadi fokus yang cukup diperhatikan. Jadi, penting untuk menyusun bagian ini secara teratur sesuai dengan format yang telah ditetapkan oleh Kemendikbud.

Supaya lebih mudah, kamu dapat menyusun bagian lampiran berdasarkan urutan poin-poin berikut;

  1. Lampiran Pelaksanaan Pembelajaran.
  2. Lampiran Daftar Hadir Peserta Didik.
  3. Lampiran Instrumen Observasi Pembelajaran selama PTK.
  4. Lampiran Lembar Observasi Pembelajaran Selama PTK.
  5. Lampiran Soal Siklus 1 dan Siklus 2.
  6. Lampiran Rekap Nilai Siklus 1 dan Siklus 2.
  7. Lampiran Hasil Pekerjaan Peserta Didik Siklus 1 dan Siklus 2.
  8. Lampiran Surat Izin Penelitian.
  9. Lampiran Surat Keterangan Melaksanakan PTK.
  10. Lampiran Surat Pernyataan Keaslian.
  11. Lampiran Surat Undangan dan Daftar Hadir Seminar PTK.
  12. Lampiran Notulensi Seminar PTK.
  13. Lampiran Berita Acara PTK.
  14. Lampiran Bahan Seminar PTK.

Bagi Proses Penulisan Dalam Tiga Tahapan Besar

Photo by Magda Ehlers on Pexels.com

Guna mempermudah proses penulisannya, kamu dapat membagi proses penulisan PTK untuk kenaikan pangkat ini dalam tiga tahapan. Tahapan ini seperti halnya dalam penulisan essay yakni tahapan penulisan pendahuluan, tahapan penulisan isi dan, tahapan penulisan penutup.

Dengan membagi tahapan penulisan seperti ini, proses pengerjaannya akan terasa lebih ringan.

Penulisan secara berurutan dalam karya ilmiah sangat penting untuk dilakukan, selain mudah difahami, hal ini juga selaras dengan susunan PTK untuk kenaikan pangkat yang telah disyaratkan.

Kumpulkan dan Data Bahan Penulisan dengan Rapi

Photo by George Milton on Pexels.com

Mengumpulkan bahasan penulisan berupa materi-materi seperti pada lampiran, mau pun daftar pustaka yang menjadi sumber informasi penulisan, harus didata dengan rapi. Termasuk juga tinjauan pustaka terdahulu yang merupakan penelitian selaras dengan yang kamu kerjakan.

Kumpulkan semua bahan-bahan penulisan dalam satu file yang mudah diakses. Jika penulisan yang kamu lakukan bersumber dari internet, maka simpan alamat url sumber tersebut dengan cara mem-bookmark-nya pada browser.

Beri Perhatian Lebih pada Lampiran

Photo by cottonbro on Pexels.com

Dinas Kepangkatan memberikan porsi yang cukup seksama untuk meneliti keabsahan dan kevalidan PTK. Salah satu bagian yang cukup banyak mendapat perhatian adalah pada bagian lampiran dimana data-data seperti yang sudah dicantumkan di atas, kamu gunakan.

Nah, pada bagian ini berilah perhatian yang lebih dengan cara memastikan urutan format penyusunan serta kelengkapan lampiran yang dibutuhkan sudah sempurna.

Berikan Waktu untuk Final Cek Sebelum Diserahkan

Photo by Pixabay on Pexels.com

Tips yang terakhir terdengar sederhana, namun beberapa orang karena tergesa-gesa justru harus merevisi PTK mereka.

Jadi, sediakan waktu kamu untuk melakukan pemeriksaan ulang terhadap PTK yang sudah kamu kerjakan sebelum diserahkan. Pastikan lagi tidak ada typho, pastikan pula bahasa yang dipergunakan adalah baku dan sesuai PUEBI, serta kembali cek apakah format PTK untuk kenaikan pangkat yang kamu kerjakan sudah sesuai dengan yang disyaratkan atau belum.

Nah, itu adalah langkah-langkah yang bisa kamu lakukan sebagai cara membuat PTK untuk kenaikan pangkat dengan mudah dan efisien. Dengan melakukan langkah-langkahnya secara teratur, proses penulisan PTK kamu akan lebih mudah untuk dikerjakan.

Oh ya, jika kamu masih merasa kesulitan dengan semua proses itu, kamu juga bisa menggunakan jasa saya guna membantu kamu menyiapkan PTK yang diinginkan. Dengan bahan penulisan yang lengkap, saya akan membantu menuliskan PTK kamu dengan hasil yang InsyaAllah akan sangat memuaskan.

Jadi, jangan ragu menghubungi saya, ya.


anton sujarwo

Anton Sujarwo

Saya adalah seorang penulis buku, content writer, ghost writer, copywriters dan juga email marketer. Saya telah menulis 14 judul buku, fiksi dan non fiksi, dan ribuan artikel sejak pertengahan tahun 2018 hingga sekarang.

Dengan pengalaman yang saya miliki, Anda bisa mengajak saya untuk bekerjasama dan menghasilkan karya. Jangan ragu untuk menghubungi saya melalui email, form kontak atau  mendapatkan update tulisan saya dengan bergabung mengikuti blog ini bersama ribuan teman yang lainnya.

Tulisan saya yang lain dapat dibaca pula pada website;

Saya juga dapat dihubungi melalui whatsapp di tautan ini.

Fortopolio beberapa penulisan saya dapat dilihat disini:


BAGAIMANA MENCARI FREELANCER GHOST WRITER YANG TEPAT UNTUK PEKERJAANMU?

Menemukan jasa freelancer ghost writer adalah pekerjaan yang susah-susah gampang. Jika yang kamu cari adalah seseorang yang bisa menulis saja, maka menemukan ghost writer adalah gampang. Namun jika yang dibutuhkan adalah seorang ghost writer profesional yang dapat menyelesaikan pekerjaanmu dengan tepat, ideal, dan otentik, maka ini bisa menjadi sebuah tantangan serius.

Lantas, bagaimana sebenarnya panduan mencari seorang jasa ghost writer yang paling tepat dengan kebutuhanmu?

Berikut panduannya yang bisa kamu ikuti.

Defenisi Freelancer Ghost Writer

Ghost writer artinya dalam bahasa Indonesia adalah penulis bayangan, penulis hantu, atau penulis siluman.

Namun, pengertian yang lebih spesifik mengenai profesi ini adalah seorang penulis profesional yang dibayar untuk menulis buku, jurnal, artikel, novel dan berbagai karya tulisnya, atas nama orang lain. Konsekuensi apa pun yang kemudian muncul dari hasil tulisannya akan menjadi hak sepenuhnya dari orang yang membayar jasanya.

Dari pengertian ini dapat disimpulkan bahwa  gaji ghost writer diperolehnya dari bayaran jasanya untuk menulis dan bukan dari hasil tulisan itu sendiri.

Jadi, jika kemudian tulisannya dipublikasi dan mendapatkan penghasilan dari penjualan, endorse atau yang lainnya, maka seorang ghost writer tidak mendapatkan hak atau komisi apa pun.

BACA JUGA:

Siapa Pengguna Jasa Ghost Writer

Source: The Heavy Beavers

Orang-orang yang memiliki ide, pendapat, gagasan atau apa pun yang terkait dengan tulisan yang perlu dipublikasi namun mereka tidak dapat menulisnya, maka mereka membutuhkan ghost writer atau penulis bayangan.

Untuk orang-orang seperti ini, arti ghost writer adalah untuk mentransformasikan ide dan pemikiran mereka menjadi tulisan yang kemudian dinisbahkan atas nama mereka sendiri. Ada pun si penulis siluman, mendapat balas jasa mereka berupa upah yang telah disepakati bersama sebelumnya.

Hampir semua profesi biasa menggunakan jasa ghost writer.

Tidak memiliki waktu untuk menulis, tidak memiliki skill untuk menulis, atau pun tidak memiliki pengetahuan untuk melakukannya, adalah beberapa alasan umum mengapa orang-orang menggunakan jasa seorang ghost writer.

Hampir semua publik figur pernah menggunakan jasa seorang ghost writer dan akrab dengan profesi ini. Bahkan nama-nama seperti Richard Branson, Donald Trump dan lain sebagainya, menerbitkan buku atas nama mereka yang sejatinya ditulis oleh seorang ghost writer.

Beberapa Manfaat Menggunakan Jasa Ghost Writer

Ada serangkaian alasan mengapa seseorang meggunakan jasa ghost writer untuk mengerjakan pekerjaan mereka.

Beberapa alasan yang paling umum misalnya adalah;

Ghost Writer Menghemat Banyak Waktu

Photo by Karolina Grabowska on Pexels.com

Untuk kamu yang sibuk dan tidak memiliki waktu untuk menulis sementara profesi dan reputasi menuntut kamu untuk memiliki buku, maka ghost writer adalah solusi yang paling ideal.

Anggaplah misalnya kamu adalah seorang publik figur yang memiliki kisah yang menarik untuk dituliskan. Dan publik menanti-nantikan kisah tersebut dalam sebuah buku.

Dengan padatnya jadwal yang kamu miliki kamu mungkin tidak akan punya waktu untuk menulis buku dengan setebal hingga 50.000 kata, kan?

Nah, ghost writer adalah orang yang akan membantu kamu dalam hal itu.

Ghost Writer adalah Penulis Profesional

Photo by Dziana Hasanbekava on Pexels.com

Harga ghost writer profesional dengan pengalaman bertahun-tahun mungkin memang lebih tinggi daripada penulis bayangan pemula. Hal ini sebanding karena mereka memang adalah penulis profesional yang profesi utama mereka yang utama adalah menulis.

Menulis adalah pekerjaan yang mereka adalah ahlinya.

Dengan dikerjakan oleh penulis profesional yang memiliki pengalaman panjang, kamu tidak perlu ragu dengan kemampuan dan keterampilan mereka dalam mengolah kata.

INI JUGA MENARIK:

Ghost Writer Membantu Meningkatkan Brand Awareness Lebih Cepat

Photo by Caio on Pexels.com

Jika kamu adalah seorang pemilik bisnis, ghost writer akan membantu kamu menaikkan brand awareness lebih cepat.

Di saat kamu tetap dapat berfokus mengurus bisnis dan mengatur laju perusahaanmu, penulis bayangan yang kamu rekrut akan membantu dalam hal menaikkan rating bisnis kamu melalui tulisan.

Hal ini sebenarnya sederhana, ketika kamu tetap dapat bekerja seperti biasa. Ghost writer yang kamu bayar akan menulis kisahmu, pesanmu, impianmu, tawaranmu dan apa pun yang terkait dengan bisnismu untuk diketahui masyarakat luas.

Tentu dalam hal ini jasa ghost writer akan membuat bisnis kamu lebih cepat dikenal di publik, bukan?

Ghost Writer Mengerti Tentang SEO

Photo by Tobias Dziuba on Pexels.com

Untuk penulisan yang publikasinya di internet seperti artikel blog, konten website, dan lain semacamnya, kamu membutuhkan penulis siluman yang mengerti SEO dengan baik.

SEO atau Search Engine Optimazation adalah cara kerja mesin pencari seperti Google dan bing dalam menampilkan hasil pencarian yang diperintahkan. Untuk tampil di halaman pertama kolom pencarian seperti ini, pengetahuan tentang SEO adalah sesuatu yang wajib dimiliki.

Nah, ghost writer profesional telah memahami hal ini.

Mereka dapat melakukan riset, menempatkan kata kunci yang sesuai, memilih image yang paling ideal dan juga mengoptimasinya. Keterampilan ini akan membantu website kamu untuk tampil lebih baik dalam halaman pencaharian.

Bagaimana Menemukan Freelancer Ghost Writer yang Paling Sesuai dengan Pekerjaanmu

Kamu mungkin dapat berselancar di berbagai platform dimana lowongan ghost writer disediakan. Pada banyak platform semacam itu, kamu akan mendapati banyak kandidat penulis bayangan yang bisa kamu gunakan jasanya. Namun pertanyaannya adalah; bagaimana menemukan yang terbaik di antara mereka?

Nah, beberapa tips dan panduan berikut bisa dipraktikkan untuk mendapatkan jawabannya.

Tentukan Tujuan Penulisanmu dengan Jelas

Source: Prowritingaid

Sebelum kamu menimang-nimang penulis bayangan mana yang akan gunakan, pastikan dulu kamu mengerti dengan sangat pasti apa tujuan dan target penulisan yang akan kamu berikan. Pastikan pula dalam langkah yang pertama ini bahwa segala manfaat yang kamu inginkan dalam penulisan itu nantinya, dapat dibantu pencapaiannya oleh sang ghost writer.

Beberapa hal mendasar yang harus kamu tentukan lebih dulu misalnya adalah;

  • Apa yang ingin kamu capai dengan buku atau tulisan yang ingin kamu terbitkan? Apakah ini tentang fakta, tentang pengalaman hidup, tentang suatu cara yang dapat memberi manfaat dalam kehidupan orang lain, dan sebagainya.
  • Apakah tulisan yang ingin kamu publikasikan itu untuk kepentingan branding, meningkatkan penjualan, mengenalkan dirimu pada publik, atau mengenalkan sebuah prestasi yang telah kamu raih.

Pastikan kamu membuat determinasi yang jelas dari target penulisan yang akan kamu lakukan sebelum kamu mengklik lowongan freelance ghost writer mana pun yang akan kamu sewa jasanya.

BACA PULA:

Ketahui Dimana Kamu bisa Menemukan Ghost Writer

Photo by Andrea Piacquadio on Pexels.com

Untuk mendapatkan penulis bayangan yang kamu butuhkan, kamu dapat menempuh berbagai cara.

Kamu misalnya dapat masuk dalam komunitas ghost writer untuk melihat profil beberapa penulis yang menarik hatimu. Atau kamu juga bisa melihat hal ini di berbagai platform penyedia jasa penulisan yang populer seperti sekarang ini.

Di kolom pencarian Google, kamu juga bisa mencari informasi ini.

Perhatikan beberapa website yang tampil dan menawarkan jasa ini. Langkah selanjutnya adalah kamu dapat memverifikasi para penulis bayangan tersebut sesuai dengan kriteria yang paling kamu inginkan.

Ketahui Bocoran Kemampuan Calon Ghost Writer

Source: Whatfix

Seorang ghost writer terbaik memiliki serangkaian keterampilan yang membuat dirinya adalah pilihan yang terbaik untuk kamu ambil.

Ghost writer pertamax seperti ini tidak hanya mampu menulis dengan baik, namun juga memiliki kemampuan storytelling yang mumpuni. Di samping itu, penulis bayangan dengan tipe ini adalah orang yang mampu mengolah infomasi dalam jumlah besar untuk diproses dalam penulisan yang menarik.

Kelebihan lainnya, mereka juga adalah orang yang pandai dalam hal problem-solving, setidaknya dalam hal penulisan dan memahami objek yang diceritakan.

Konsekuensinya, harga ghost writer seperti ini tentu saja berbeda dengan ghost writer pemula atau ghost writer sinopsis novel yang biasanya jauh lebih murah.

Cari Tahu Informasi dan Fortopolio Ghost Writer

Source: MelindaIrvine

Ini bukan berarti kamu harus memata-matai mereka melalui akun sosial media seperti facebook, instagram atau pun twitter. Hal yang penting untuk kamu lakukan dalam proses ini adalah setidaknya meninjau track record calon ghost writer yang akan kamu gunakan jasanya kemudian.

Kamu misalnya dapat memfokuskan review kamu ini dengan melihat;

  • Apa saja yang telah mereka kerjakan?
  • Berapa lama mereka menyelesaikan pekerjaan itu?
  • Apakah mereka memiliki buku atas nama mereka sendiri? Temukan bukunya dan perhatikan bagaimana mereka bercerita.

Seorang penulis bayangan dengan kualitas terbaik memiliki setidaknya dua buku atas nama mereka sendiri. Nah, kamu bisa menemukan itu di internet atau secara langsung. Kamu juga dapat memperhatikan bagaimana review pembaca atas buku yang mereka terbitkan tersebut.

LIHAT INI JUGA, YUK:

Tentukan Ghost Writer yang dapat Menulis Sesuai dengan Gayamu

Source: Diana Bohr

Jasa ghost writer berpengalaman dapat menyesuaikan penulisan mereka tergantung dari sudut pandang tulisan itu akan dikreditkan.

Artinya para penulis siluman itu mampu menentukan seperti apa mereka akan menulis dan bagaimana bahasa yang digunakan berdasarkan sudut pandang kamu sebagai pengguna jasanya.

Penting untuk kamu menemukan ghost writer yang dapat mengkomunikasikan gaya bahasamu dengan otentik. Jadi mereka tidak hanya bisa menulis, namun juga dapat menyesuaikan tulisan seperti apa yang dapat mewakili kepribadian orang yang memesan jasa mereka.

Kamu tentu tidak mau jika seseorang yang mengenalmu merasa tulisan dalam buku atas namamu terasa asing di telinga mereka, bukan?

Gambarkan dengan Jelas Apa yang Kamu Inginkan

Source: Thequitefresh

Pastikan jasa ghost writer yang akan kamu gunakan mengerti dengan sangat jelas apa yang kamu inginkan dari mereka dalam menuliskan buku atau tulisan untuk kamu.

Dalam tahapan ini anggaplah kamu sudah menemukan ghost writer yang kamu anggap paling tepat, atau paling baik menurut penilaianmu. Nah, langkah selanjutnya adalah memastikan sang ghost writer mengerti bagaimana kamu ingin buku itu dituliskan.

Apakah kamu mau si penulis tetap patuh pada guide line yang kamu tetapkan, ataukah ia boleh menambahkan kreativitas mereka sendiri. Apakah sang ghost writer boleh menyampaikan pendapatnya tentang sesuatu persoalan dalam bukumu, ataukah hanya berpatokan saja tanpa harus ditambah atau dikurangi lagi.

Gambarkan semuanya dengan jelas dan clear.

Bangun Komunikasi Selama Proses Penulisan

Photo by NEOSiAM 2021 on Pexels.com

Beberapa ghost writer membangun komunikasi yang intens dengan author atau orang yang menggunakan jasa mereka untuk berdiskusi dari bab ke bab. Namun, ada pula jenis ghost writer yang setelah mendapatkan informasi dan sumber yang ia rasa cukup, ia akan menghilang beberapa lama untuk kemudian datang kepadamu dengan setumpuk naskah pekerjaannya.

Jika kamu menginginkan tulisan kamu mendetail setiap paragrafnya dan sama sekali tidak berbelok dari yang kamu konsepkan, maka kamu harus bekerja dengan tipe ghost writer yang pertama. Bangunlah diskusi dan komunikasi yang intens selama proses penulisan bukumu.

Namun dalam hal ini kamu juga sebaiknya memahami kepribadian para penulis siluman. Beberapa di antara mereka, bahkan mungkin yang kamu pilih nantinya, tidak mau jika kamu terlalu mendikte pekerjaan mereka.

Akan tetapi jika kamu adalah orang super sibuk yang sangat sedikit waktu luang, maka kamu dapat memberikan kebebasan pada ghost writer pilihanmu untuk menulis secara independen. Hanya saja kamu tetap harus mengontrol konsep besar tulisan agar tidak menyimpang dari tujuan yang sudah ditetapkan.

BACA JUGA INI:

Diskusikan Tentang Biaya dan Deadline

Source: Thewritingcooperative

Lankah selanjutnya yang juga tidak boleh kamu lupakan adalah mendiskusikan tentang biaya dan deadline penulisan. Sementara biaya bisa sangat variatif, deadline ghost writer untuk buku umumnya adalah selama 3 hingga 6 bulan.

Harga ghost writer untuk buku tergantung pada buku apa yang mereka kerjakan. Akan tetapi secara rata-rata, gaji ghost writer profesional berkisar antara $10.000 hingga $25.000 di Amerika Serikat. Atau jika dirupiahkan sekitar 150 hingga 250 jutaan.

Mungkin tidak banyak yang mau membayar ghost writer dengan biaya sejumlah ini di Indonesia. Tapi untuk kualitas dan hasil yang sempurna, jumlah itu sebenarnya tidak begitu bermasalah.

Jangan Merendahkan Dirimu Sendiri

Source: Yourqoute

Nah, hal terakhir untuk kamu yang sedang mencari ghost writer, pastikan untuk tidak merendahkan diri kamu sendiri dalam proses menemukan ghost writer yang tepat untuk mengerjakan penulisanmu.

Beberapa orang mempertimbangkan tarif yang murah sebagai poin utama dalam memilih ghost writer. Ini tidak salah selama kamu juga siap dengan konsekuensinya.

Jika reputasimu dalam buku yang dituliskan menurut kamu penting, kamu semestinya tidak begitu mempermasalahkan harga ghost writer.

Bila kamu menganggap bahwa tulisan yang kamu inginkan itu bernilai secara profesional, secara personal, atau keduanya, maka jangan merendahkan diri kamu sendiri dengan hanya memprioritaskan harga murah dalam mencari seorang ghost writer.

INI JUGA MENARIK UNTUK KAMU BACA:

Apakah Kamu Membutuhkan Ghost Writer Sekarang?

Source: Writer’s yearbook

Nah, untuk kamu yang saat ini membutuhkan jasa ghost writer, jangan ragu untuk menghubungi saya melalui form kontak yang tersedia dalam blog ini.

Saya telah menulis lebih dari selusin buku yang diterbitkan secara indie. Saya menulis buku fiksi dan non fiksi, menulis artikel untuk kepentingan media massa, untuk kepentingan kenaikan pangkat, dan juga untuk kepentingan brand awareness dan Search Engine Optimazation atau SEO.

Selebihnya, kamu dapat melihat fortopolio penulisan saya di bawah ini.


anton sujarwo

Anton Sujarwo

Saya adalah seorang penulis buku, content writer, ghost writer, copywriters dan juga email marketer. Saya telah menulis 14 judul buku, fiksi dan non fiksi, dan ribuan artikel sejak pertengahan tahun 2018 hingga sekarang.

Dengan pengalaman yang saya miliki, Anda bisa mengajak saya untuk bekerjasama dan menghasilkan karya. Jangan ragu untuk menghubungi saya melalui email, form kontak atau  mendapatkan update tulisan saya dengan bergabung mengikuti blog ini bersama ribuan teman yang lainnya.

Tulisan saya yang lain dapat dibaca pula pada website;

5 CARA MEMBANGUN RASA PERCAYA DIRI SEBAGAI PENULIS PEMULA

Menjadi seorang penulis pemula yang sukses tentu membutuhkan lebih dari sekedar kemampuan untuk bisa menulis. Penulis pemula dituntut pula untuk mampu beradaptasi dengan dunia kepenulisan, membangun kepercayaan diri, dan kosisten untuk tetap menulis secara disiplin. Dengan pengalaman yang masih minim, justru membangun rasa percaya diri adalah problem yang serius bagi banyak penulis pemula.

Lantas, bagaimana cara membangun rasa percaya diri sebagai seorang penulis pemula?

Yuk, simak ulasan lengkapnya berikut ini.

Sebagai Penulis Pemula, Ini 5 Cara yang Bisa Dilakukan untuk Membangun Rasa Percaya Diri

Photo by Anete Lusina on Pexels.com

Geliat dunia menulis yang semakin banyak peminatnya seperti sekarang ini, memberi banyak ruang bagi para penulis pemula untuk ikut serta mempersembahkan karya mereka dengan berbagai motivasi. Ada yang tergiur karena melihat gaji penulis novel yang fantastis, ada yang ingin terkenal dan populer, namun ada pula yang hanya ingin menulis dan memiliki karya.

Namun sayangnya, tidak semua motivasi menemukan muaranya. Mendapat bayaran mahal dan tenar dari menulis, tidak semua orang bisa mendapatkannya. Bahkan, tujuan itu memang kurang tepat dijadikan motivasi sejak awal. Menulis buku untuk penulis pemula yang hanya didasarkan pada pencapaian materi belaka, seringkali berujung pada kekecewaan.

Akan tetapi yang terpenting, apa pun motivasi yang kamu miliki sebagai penulis pemula, percaya diri menjalaninya adalah setengah dari keberhasilan. Sayangnya, bagi sebagian orang ini bukanlah sesuatu yang mudah untuk dilakukan.

Nah, berikut adalah 5 cara membangun rasa percaya diri sebagai seorang penulis pemula yang tentu bisa kamu praktikkan.

BACA JUGA:

Tanyakan pada Diri: Mengapa Kamu Menulis?

Photo by Edwin Jaulani on Pexels.com

Sebagai fondasi paling dasar untuk membangun rasa percaya diri sebagai penulis pemula, tanyakan kepada dirimu sendiri terlebih dahulu; Mengapa kamu menulis?

Lupakan dulu pertanyaan; materi untuk penulis pemula yang terbaik apa, atau tema apa yang paling ideal untuk dituliskan? Sebelum kamu menulis dan melakukannya dengan segenap usaha terbaikmu, berilah kesempatan terbaik bagi hatimu untuk menemukan alasan mengapa kamu ingin menulis?

Menemukan alasan mengapa kamu menulis adalah ruh dari penulisan itu sendiri. Temukan apa tujuan mendasarmu menggerakan pena dan kertas, menyusun kata dan kalimat, setiap hari, setiap saat?

Apakah kamu mempelajari cara jadi penulis novel pemula  lantaran terpikat oleh uang dan pendapatan penulis yang katanya fantastis? Apakah kamu menulis untuk mengejar popularitas seperti selebritis? Ataukah kamu ingin menghasilkan sebuah karya yang bisa dibaca dan bermanfaat bagi manusia yang lain?

Apa pun yang menjadi alasan mendasar kamu menulis, berpegang teguhlah pada hal itu.

Sebagai saran, kamu membutuhkan alasan yang sangat kuat untuk bisa konsisten menulis secara kontinyu dan disiplin. Nah, tanyakan pada dirimu; Apakah alasan uang, ketenaran, ingin bermanfaat bagi orang lain dan sebagainya, akan mampu menjadi motor penggerak dirimu untuk terus konsisten menulis?

Bangun Ritme dan Kebiasaan Sebagai Seorang Penulis

Photo by Lisa on Pexels.com

Dalam setiap komunitas penulis pemula, semestinya ada satu dua orang penulis profesional yang dapat membantu mengarahkan pola dan ritme kebiasaan seorang penulis. Ritme dan kebiasaan ini sangat penting karena dengan proses inilah kemudian, kamu akan ditempa oleh waktu untuk menjadi penulis yang sebenarnya.

Pertanyaannya kemudian adalah; apa saja kebiasaan penulis pemula dan bagaimana ritme mereka melakukannya?

Penulis suka membaca, maka kamu pun sebagai seorang penulis pemula harus suka membaca. Penulis menulis setiap hari, maka kamu pun harus berkomitmen untuk bisa menulis setiap hari. Penulis tidak menunggu mood untuk menulis, artinya kamu pun tidak bisa menunggu ilham dan mukjizat untuk menyelesaikan tulisanmu.

Ada banyak tips penulis pemula yang bisa kamu temukan dalam blog ini yang didasarkan pada berbagai riset dan kebiasaan para penulis sukses. Aplikasikan dan biasakan dirimu dengan semua ritme tersebut.

Jika kamu melakukannya dengan konsisten, tidak akan butuh waktu lama  bagi kamu untuk menemukan rasa percaya diri sebagai penulis yang akan muncul secara alami dalam dirimu.

BACA PULA:

Masa Bodoh dengan Anggapan Orang Lain

Source: Genetic Literacy Project

Apakah menjadi penulis buku pemula tidak akan menuai komentar orang lain di sekelilingmu?

Ketahuilah; apa pun yang kamu lakukan dalam hidup ini, entah itu menjadi penulis buku, penulis novel, pejabat, direkrur, pegawai negeri atau bahkan prediden sekali pun, semua aktivitas mu akan tetap menarik orang lain untuk berkomentar.

Kamu mungkin dapat mencatat beberapa orang yang men-support proses menulis yang kamu lakukan.

Menulis itu tidak mudah, terutama jika kamu ingin menjadi penulis yang tidak hanya senang dengan berbangga lantaran bisa menulis buku antologi saja. Jika kamu ingin menghasilkan karya terbaik, kamu akan dituntut untuk lebih keras berjuang menggapainya.

Saat buku pertama kamu diterbitkan dan mungkin tidak begitu laku di pasaran, kamu akan dikomentari. Saat kamu berhasil menulis hingga sepuluh judul buku, namun belum menunjukkan keberhasilan secara materi, maka itu juga bisa memancing omongan orang lain.

Kadang motivasi untuk penulis pemula tidak harus kata-kata indah dan muluk saja. Bahkan saya secara pribadi mengatakan pada banyak penulis pemula yang belajar menulis di kelas saya; Siapkan dirimu dengan apa pun yang orang lain katakan. Menulis dan berhasil didalamnya membutuhkan proses yang tidak gampang.

Dan untuk itu kamu kadang harus masa bodoh untuk tetap melaju sesuai rencana.

Jangan Mudah Menyerah dan Patah Semangat

Photo by Thirdman on Pexels.com

Banyak para penulis pemula yang mengira ketika mereka berhasil menerbitkan satu judul buku, maka kehidupan mereka akan sangat ideal; menulis, road show kemana-mana, mempromosikan buku, jumpa fans, dan lain sebagainya.

Tetapi, apakah memang benar demikian?

Sejujurnya tidak.

Bahkan 95% buku yang ditulis dan diterbitkan di negara dengan minat baca tinggi seperti Finlandia dan Amerika Serikat, hanya laku 250 eksemplar sepanjang waktu. Buku yang agak beruntung hanya laku paling banyak 3.000 eksemplar. Dan kurang dari 1% buku yang ditulis dan diterbitkan, menjadi best seller dan menghasilkan uang banyak untuk penulisnya.

Apa artinya ini?

Jika kamu menulis untuk uang dan popularitas, maka 95% usaha kamu akan gagal di buku yang pertama. Bahkan jika kamu menerbitkannya di negara dengan minat baca paling tinggi sekali pun.

Hal ini tentu akan membuat patah semangat bagi beberapa orang, bukan?

Terus terang, kamu tidak perlu mengubah tujuan dan alasan kamu menulis, hanya saja jangan cepat menyerah untuk mencapainya. Bisa saja kamu akan berhasil pada bukumu yang ke-10, ke- 20, atau bahkan yang ke-100.

Pastinya, jangan mudah menyerah dan patah semangat.

BACA JUGA:

Sadari Bahwa Menjadi Penulis itu Seperti Hidup atau Seperti Elang

Photo by Roman Kirienko on Pexels.com

Hal terakhir yang bisa kamu lakukan untuk menambah rasa percaya diri sebagai seorang penulis pemula adalah dengan menyadari bahwa menulis itu seperti hidup. Menjadi seorang penulis, sama seperti menjadi profesional umum dalam bidang yang lain.

Umpamakan penulis adalah seperti atlit olahraga yang terus melatih kemampuan mereka untuk menjadi juara. Atlit lari terus melatih kemampuannya berlari untuk menjadi juara dalam lomba lari. Atlit tinju terus berlatih bertinju untuk menjadi juara dalam pertandingan tinju. Atau atlit renang terus berlatih berenang setiap hari dalam rangka mempersiapkan diri mereka untuk menang dalam lomba renang.

Apakah mereka nantinya akan menjadi juara atau tidak, namun merela melatih diri setiap hari untuk menjadi yang terbaik di bidangnya.

Dan menulis pun begitu.

Kamu menulis setiap hari untuk menjadi yang terbaik. Walau mungkin kamu tidak akan kaya dan terkenal dengan menulis.

Photo by Frank Cone on Pexels.com

Atau kamu juga bisa mengambil motivasi untuk penulis pemula dari hidup seekor elang yang bangun di pagi hari untuk berburu. Entah apa yang ia dapatkan sebagai hasil buruan nantinya, namun elang bangun di pagi hari dan berburu karena ia adalah pemburu.

Dan sebagai penulis, kamu pun begitu, yang terbangun di setiap pagi untuk menulis. Bukan apa yang akan kamu dapatkan dari menulis, namun karena kamu memang adalah seorang penulis.

YUK, BACA INI JUGA:


Anton Sujarwo

Saya adalah seorang penulis buku, content writer, copywriters dan juga email marketer. Saya telah menulis 14 judul buku, fiksi dan non fiksi, dan ribuan artikel sejak pertengahan tahun 2018 hingga sekarang.

Dengan pengalaman yang saya miliki, Anda bisa mengajak saya untuk bekerjasama dan menghasilkan karya. Jangan ragu untuk menghubungi saya melalui email, form kontak atau  mendapatkan update tulisan saya dengan bergabung mengikuti blog ini bersama ribuan teman yang lainnya.

Tulisan saya yang lain dapat dibaca pula pada website;

INI CARA MENULIS CERITA PENGALAMAN PRIBADI YANG PALING MUDAH DAN BAGUS

Pertanyaan pertama yang paling sering ditanyakan kepada seseorang yang ingin tahu cara menulis cerita pengalaman pribadi adalah; seberapa menarik kisah yang mereka miliki sehingga layak untuk ditulis?

Mendengar pertanyaan semacam ini, banyak orang yang baru mau belajar menulis itu menjadi minder. Pada akhirnya keinginan mereka untuk menulis pengalaman hidup yang mereka miliki menjadi gagal. Sebagian besar bukan karena cerita mereka tidak menarik, tetapi karena mereka kehilangan rasa tertarik karena mendengar pertanyaan di atas.

Lantas, bagaimana contoh pengalaman pribadi yang bisa ditulis ke dalam sebuah rangkaian cerita, dan bagaimana pula cara melakukannya untuk mendapatkan hasil yang bagus?

Yuk, simak ulasannya berikut ini.

5 Cara Menulis Cerita Pengalaman Pribadi yang Mudah dan Bagus

Photo by Pixabay

Di Sekolah Dasar, praktik membuat contoh pengalaman pribadi yang unik banyak dilakukan dengan meminta siswa-siswa untuk bercerita mengenai bagaimana mereka melewatkan masa liburan. Oleh karena itu kamu mungkin masih akrab dengan berbagai cerpen di modul pelajaran SD yang temanya adalah; berlibur ke rumah nenek, dan lain sebagainya.

Hal ini memberi bukti bahwa untuk membuat cerita pengalaman pribadi, kisah yang dituliskan tidaklah selalu harus luar biasa.

Hal yang menjadi kunci kemudian adalah bagaimana kamu mengolah kenangan, pengalaman, dan juga hikmah pengalaman yang kamu miliki menjadi sebuah rentetan cerita yang enak dibaca. Contoh cerita pengalaman liburan sederhana pun akan menjadi sangat berkesan, jika kamu tahu cara menuliskannya.

Hakikatnya semua orang tentu memiliki pengalaman dan cerita mereka masing-masing. Cerita setiap orang pasti unik dan menarik. Kemampuan untuk menggali bagian mana yang harus difokuskan dan dituliskan sebagai kisah, adalah kunci untuk mengubahnya menjadi sebuah lembaran cerita yang membekas di kepala pembaca.

Nah, berikut ini adalah lima langkah yang bisa kamu lakukan untuk membuat cerita pengalaman pribadi supaya mudah prosesnya dan bagus pula hasilnya.

Selami Emosimu Kembali

Photo by Jack Gittoes

Tantangan yang paling banyak menjegal para penulis pemula untuk mulai menuliskan cerita hidup mereka adalah ketakutan akan penolakan atau bahkan ditertawakan. Hal ini pada perkembangannya membuat cerita pengalaman yang seharusnya bisa dibagi dan membawa pelajaran bagi orang lain, akhirnya hanya mengendap menjadi kenangan tak bernilai.

Nah, poin pertama yang harus kamu lakukan untuk melawan rintangan ini adalah dengan berusaha kembali menyelami emosi dan perasaan ketika pengalaman cerita yang akan kamu tuliskan itu terjadi. Artinya adalah; kamu berfokus untuk kembali kepada sebuah kenangan paling kuat yang kamu miliki dan berusaha merasakan emosinya kembali.

Ketika saya menulis buku Islamedina; Si Wajah Cahaya, saya juga harus melakukan hal yang sama. Dengan segala keterbatasan saya harus berfokus untuk merasakan kembali emosi yang membuncah saat bersama Medina semasa hidupnya.

Dan itu sungguh tidak mudah untuk dilakukan.

Menulis cerita pengalaman pribadi dengan kisah menyenangkan, tentu jauh lebih mudah dibandingkan sebaliknya. Oleh karena itulah sebabnya kamu akan dengan mudah menjumpai 5 contoh cerita pengalaman menyenangkan, dibandingkan menemukan 1 contoh cerita pengalaman menyedihkan yang benar-benar menyentuh.

Namun, justru cerita pengalaman dengan konteks sedih, haru, pilu, penuh perjuangan, dan sejenisnya, yang akan jauh lebih powerfull mengeluarkan emosimu saat menulisnya.

Buat Daftar Titik-Titik Krusial atau Turning Points

Photo by JACK REDGATE

Ketika kamu berdiri di persimpangan jalan untuk mengambil keputusan yang tepat, kamu biasanya akan membuat sebuah keputusan yang paling penting dalam hidup.

Dan itu adalah bagian krusial dari cerita kamu yang harus lebih kamu fokuskan.

Sebagai salah satu teknis menulis cerita yang menarik tentang pengalaman cerita pribadi, dibandingkan membuat menulisnya seperti kronologi, kamu dapat membidik turning point seperti ini sebagai plot cerita.

Titik-titik krusial dalam hidup dimana kamu membuat keputusan yang memberi dampak secara emosional, material dan juga psikologis, akan dipastikan jauh lebih menarik bagi pembaca.

Buat Outline Tanpa Harus Berbentuk Kronologi

Photo by Blue Bird

Setelah kamu membuat list beberapa turning point paling penting dalam hidupmu, kamu sekarang dapat memetakan plot cerita yang akan kamu sampaikan. Ingat, jangan terikat untuk membuat sebuah cerita kronologi seperti buku sejarah, ya.

Kamu bisa memilih misalnya untuk menulis bergaya flashback, atau memilih gaya cerita mixed dimana pencampuran yang serasi antara flashback dan juga kronologi. Penceritaan yang penuh kejutan dan diletakkan pada tempat yang tepat, adalah kunci untuk membuat plot cerita pengalaman pribadi kamu semakin sempurna.

Nah, untuk memudahkan proses ini, kamu tentu saja dapat membuat outline atau kerangka terlebih dahulu. Tandai beberapa titik dimana turning point dalam hidupmu terjadi, kemudian kembangkan detailnya secara terarah.

Berfokus pada Satu Cerita sebagai Klimaks

Photo by Daria Shevtsova

Kamu mungkin memiliki perjalanan hidup dan pengalaman yang luar biasa untuk dikisahkan. Namun, cara menulis cerita pengalaman pribadi yang efektif mengharuskan kamu untuk memilih satu kenangan yang paling kuat dan paling besar dampaknya. Aturan seperti ini biasanya juga dimuat pada banyak contoh artikel pengalaman pribadi yang diceritakan.

Kamu tentu saja boleh untuk menulis semua hal dalam hidupmu yang kamu anggap menarik. Kamu bisa menceritakan mengenai masa kecilmu yang indah, sekolah yang penuh nostalgia, pacar pertama yang tidak terlupakan dan lain sebagainya.

Akan tetapi ada sebuah kenangan poros atau kenangan central yang harus kamu pilih menjadi fokus cerita.

Nah, kenangan central inilah kemudian yang menjadi klimaks ceritamu. Bangun semua plot untuk memberi dampak yang lebih signifikan terhadap seberapa besar efek klimaks itu terhadap kehidupanmu.

Menulislah untuk Diri Sendiri

Photo by Lukas Rychvalsky

Nah, ini adalah bagian yang terpenting jika kamu menulis pengalaman sendiri, kamu harus menentukan lebih lebih dulu; untuk siapa sebenarnya kamu menuliskan pengalaman kamu itu?

Jika kamu menulis untuk orang lain atau untuk pembaca, maka kamu harus mempersiapkan diri dengan baik apa pun penerimaan mereka nantinya. Ingat lho, tidak semua orang dapat menyambut dengan baik sebuah kisah kenangan orang lain yang disodorkan untuk mereka baca. Bahkan beberapa orang cenderung untuk lebih mudah menghakimi dibandingkan mengapresiasi.

Jika kamu menulis untuk pembaca, kamu mungkin akan kecewa ketika penerimaan mereka ternyata tidak sesuai dengan harapan yang kamu miliki. Kekecewaan seperti ini bukan hanya tidak baik bagi diri, namun juga kadang membuat keberanian untuk menulis kembali menjadi hilang.

Untuk itulah saya menyarankan jika kamu menulis cerita pengalaman pribadi, maka tulislah itu untuk diri sendiri.

Lho kok begitu, sih?

Iya, benar.

Photo by cottonbro

Ketika kamu menulis untuk diri sendiri, kamu akan menggali kenangan pengalaman dari cerita kamu sedalam mungkin. Kamu ingin membaca kisah yang kamu tulis itu dengan penuh penghayatan tanpa melewatkan satu titik kecil pun dampaknya bagi perasaan dan hidupmu. Secara tidak langsung, perasaan seperti ini akan membuat kamu menulis tidak lagi dengan pikiran yang berfokus kepada pembaca, namun kepada hati yang berfokus pada rasa dan kalbu.

Apa pun reaksi pembaca ketika menelusuri jejak kisah dalam tulisanmu, tidak akan lebih penting dari perasaan kamu sendiri saat menyelesaikan penulisannya. Dengan selesainya cerita pengalaman pribadi yang sudah kamu tulis, kamu akan menjadi orang yang bebas dan merdeka. Setidaknya merdeka dari kekangan pengalaman yang mungkin tidak akan keluar dari rongga dada.

Terus terang saya menyukai alasan seperti ini, karena itu pula yang menjadi alasan saya saat menyelesaikan buku Islamedina; Si Wajah Cahaya, yang tebalnya lebih dari 750 halaman.

Sudah Siap Menulis Cerita Pengalaman Pribadimu?

Photo by Meruyert Gonullu

Nah, setelah membaca cara menulis cerita pengalaman pribadi di atas, bagaimana sekarang? Apakah kamu sudah siap untuk mempraktikkannya?

Dengan latihan yang tekun dan konsistensi untuk terus menulis, hanya masalah waktu yang membatasimu untuk menjadi seorang yang expert. Oleh karena itu, tetaplah menulis dengan penuh disiplin, ya.

Oh ya, jika kamu tetap merasa kesulitan untuk melakukan berbagai langkah untuk menulis cerita pengalaman pribadimu menjadi sebuah buku, kamu bisa meminta bimbingan dari www.penulisgunung.id, kok.

Caranya gampang, kamu tinggal menghubungi saya melalui form kontak whatsapp yang sudah disediakan di bawah ini.

Jangan ragu, ya.


Anton Sujarwo

Saya adalah seorang penulis buku, content writer, copywriters dan juga email marketer. Saya telah menulis 14 judul buku, fiksi dan non fiksi, dan ribuan artikel sejak pertengahan tahun 2018 hingga sekarang.

Dengan pengalaman yang saya miliki, Anda bisa mengajak saya untuk bekerjasama dan menghasilkan karya. Jangan ragu untuk menghubungi saya melalui email, form kontak atau  mendapatkan update tulisan saya dengan bergabung mengikuti blog ini bersama ribuan teman yang lainnya.

Tulisan saya yang lain dapat dibaca pula pada website;


Buat situs web atau blog di WordPress.com

Atas ↑