BEGINI CARA MENULIS BUKU CERITA ANAK DALAM 9 LANGKAH MUDAH

Jadi, kamu tertarik untuk menulis buku cerita untuk anak-anak?

Bagus, artikel kali ini akan mengajak kamu untuk mengenal cara menulis buku cerita anak dalam 9 langkah paling gampang diterapkan. Dengan langkah-langkah ini, kamu pasti akan lebih mudah menyelesaikan buku cerita anak yang ingin kamu tuliskan.

Namun, sebelum membahas langkah-langkah teknis cara menulis buku anak, kamu juga perlu tahu bahwa segmentasi usia anak sama sekali tidak sesederhana kelihatannya. Beberapa penulis bahkan mengatakan bahwa menulis buku untuk anak-anak, sebenarnya jauh lebih menantang dibandingkan menulis buku untuk orang dewasa.

Benarkah demikian?

Yuk, simak ulasan lengkapnya berikut ini.

Kamu punya kisah hidup menarik untuk dijadikan buku namun bingung cara menuliskannya?

COBA KONSULTASIKAN DISINI

Panduan Cara Menulis Buku Cerita Anak dalam 7 Langkah Super Mudah

Photo by Lina Kivaka

Menulis buku anak memiliki banyak tantangan yang menarik. Ketika kamu tertarik menulis cerita untuk anak-anak, kamu harus mempertimbangkan usia mereka, cara berkomunikasi mereka, dan mungkin juga imajinasi dan psikologi mereka.

Dalam praktiknya, cara membuat buku cerita anak hampir selalu bersandingan dengan ilustrasi berupa gambar yang menarik. Jadi, selain memiliki kekuatan cerita yang mampu diterima oleh anak-anak, buku itu juga harus menarik karena gambarnya. Hal ini juga tentu saja menjadi tantangan jika ternyata kamu tidak begitu mahir dalam menggambar.

Beruntung, semuanya memiliki jalan keluar. Termasuk juga dalam mempersiapkan gambar atau ilustrasinya. Kamu misalnya bisa mengajak seorang pelukis untuk menambahkan gambar pada ceritamu. Kesepakatannya dapat kamu sepakati sendiri, apakah kamu membeli gambar atau pun berbagai hasil penjualan.

Nah, sambil kamu mempelajari cara membuat buku cerita bergambar untuk anak-anak, sembilan langkah berikut akan memudahkan kamu dalam menjalani prosesnya.

BACA PULA:

1. Temukan Ide yang Relevan untuk Anak-Anak

Photo by cottonbro

Ketika kamu menulis buku cerita untuk anak-anak, maka kamu harus memperhitungkan dua kelompok yang akan menilai ceritamu di pasaran.

Kelompok pertama adalah anak-anak itu sendiri, dan yang kedua adalah orang tua mereka. Jika kamu menulis buku untuk anak di usia dibawah 15 tahun, sebelum buku masuk ke kamar anak-anak, orang tua mereka akan menilainya lebih dulu.

Meskipun demikian, prioritas utama kamu menulis tetaplah harus anak-anak, bukan orang tua mereka. Anak-anaklah yang akan tumbuh bersama buku dan cerita yang kamu tuliskan. Anak-anak pula yang akan tahu, seberapa hebat kisah yang kamu ceritakan mampu menginspirasi mereka.

Dikarenakan buku ini ditulis untuk anak-anak, maka langkah pertama yang harus kamu lakukan adalah pastikan bahwa ide ceritanya relevan untuk kehidupan mereka. Namun pertanyaannya kemudian adalah; bagaimana menemukan ide yang relevan untuk anak-anak?

Sebenarnya tidak sulit. Kamu dapat memvalidasi ide tersebut ideal atau tidak untuk anak-anak dengan dua hal yakni; Ajukan beberapa pertanyaan yang relevan untuk memverifikasinya dan pastikan idenya universal.

Beberapa Pertanyaan untuk Ide Buku Cerita Anak

Photo by Jessica Lynn Lewis

Untuk memastikan bahwa ide penulisan kamu memang layak untuk anak-anak, kamu dapat mengajukan beberapa pertanyaan berikut;

  • Tentang apa cerita yang dituliskan?
  • Mengapa kamu merasa perlu menceritakan kisah tersebut?
  • Apakah ide dan tema cerita ini ada hubungannya dengan anak-anak?
  • Apakah ide cerita ini laku di pasaran?
  • Apa pesan moral cerita ini untuk usia anak-anak? Dapatkah mereka menangkapnya?

Pastikan Ide Ceritamu Umum (Universal)

Kemasan cerita anak-anak bagaimana pun bentuknya, selalu memiliki tema inti secara universal. Kamu bisa memilih beberapa tema yang kamu rasa paling tepat untuk kemudian dituturkan dalam bahasa yang dapat dimengerti oleh anak-anak.

Beberapa tema yang biasa diangkat misalnya adalah persahabatan, setia kawan, kerja keras, ketekunan, kepatuhan kepada orang tua dan lain sebagainya.

2. Pilih Usia Pembacamu

Photo by Janko Ferlic

Langkah kedua cara menulis buku cerita untuk anak adalah dengan memilih usia yang spesifik target pembacamu.

Seperti yang mungkin kamu tahu, usia antara 0 hingga 18 tahun, pada umumnya masih dikategorikan sebagai anak. Nah, segmentasi usia ini pula yang harus kamu pahami supaya ceritamu tepat sasaran.

Dengan bentang usia yang demikian lebar ini, uniknya buku anak membutuhkan struktur, jumlah kata dan model penulisan yang berbeda-beda pula. Ketika balita masih lebih tertarik pada gambar, maka remaja mungkin akan lebih tertarik pada novel yang ringan tentang cinta pertama.

Intinya adalah; sesuaikan ceritamu dengan usia pembaca spesifik yang kamu targetkan.

BACA PULA:

Buku Gambar untuk Usia 0 – 6 Tahun

Photo by Andy Kuzma

Ada dua unsur paling penting dalam penulisan cerita untuk pembaca anak usia ini yaitu; gambar dan cerita. Dua-duanya sama kuat dan harus sama-sama ada dalam naskah buku yang kamu tuliskan.

Pembaca dengan usia ini adalah anak yang baru mengenal buku.

Mereka mungkin hanya akan tertarik pada gambarnya dan orang tua mereka yang akan membacakan ceritanya. Untuk jumlah kata, biasanya buku untuk pembaca usia paling dini ini tidak lebih dari 500 kata saja.

Usia Pembaca Awal untuk 6-7 Tahun

Usia kedua yang bisa kamu tentukan secara khusus untuk menulis buku anak-anak adalah 6-7 tahun.

Usia ini merupakan usia dimana anak menjadi pembaca awal yang mulai mampu mengenal huruf dan menyusun kata-kata. Namun, tetap saja mereka membutuhkan gambar supaya dapat menyusun cerita lebih sempurna.

Jumlah kata yang ideal untuk pembaca anak-anak pada usia ini berkisar dari 2.000 hingga 5.000 kata. Saran lain yang bisa kamu lakukan mungkin adalah dengan menulis bukumu dalam serial sebagai bagian melatih keterampilan membaca anak-anak di usia awal mereka.

Usia Pembaca 7-9 Tahun

Photo by Victoria Borodinova

Selanjutnya setelah melewati usia pembaca awal, anak-anak sudah siap untuk masuk ke era dimana jumlah katanya berkisar dari 5.000 hingga 10.000 kata.

Usia ini kadang disebut juga sebagai usia pembaca buku bab awal. Artinya adalah; anak-anak sudah lebih siap membaca buku dalam bentuk bab namun dengan pengemasan yang lebih ringan tentu saja.

Gambar masih tetap dibutuhkan, namun jumlah dan variasi warnanya mungkin tidak akan sama seperti pada pembaca usia dibawahnya.

Usia Pembaca Menengah 9-12 Tahun

Contoh buku cerita anak yang cocok untuk usia ini adalah karangannya penulis fiksi klasik terkaya di dunia; JK. Rowling.

Harry Potters dan serialnya cukup menarik untuk dibaca pada anak usia ini. Jumlah kata yang ideal adalah 30.000 hingga 50.000 kata.

Meskipun pembaca pada usia ini menginginkan cerita yang lebih maju baik dari sisi prosa mau pun jalan cerita, kamu masih perlu menambahkan gambar untuk membuatnya lebih menarik. Hanya saja jumlah gambar sudah lebih sedikit dan letaknya hanya pada bagian tertentu saja.

Pembaca Remaja 12 – 18 Tahun

Photo by CARLOS ESPINOZA

Nah, ini adalah batu loncatan terakhir antara sastra anak-anak dan dewasa. Jumlah kata untuk usia ini tidak beda dengan jumlah buku sastra untuk dewasa yakni sekitar 50.000 hingga 100.000 kata.

Metode penulisan untuk buku remaja juga tidak jauh berbeda dengan buku umum pada kelas dewasa. Gambar tidak begitu diperlukan lagi, namun tetap dapat diberikan sebagai penguat ilustrasi.

Meskipun sangat identik dengan susunan buku sastra untuk pembaca dewasa, buku remaja harus memiliki ciri khas dalam hal jalan cerita. Pada umumnya jalan cerita dan tema buku remaja akan lebih bertutur mengenai bagaimana menyelesaikan persoalan yang bisa mengubah cara pandang mereka dan juga tentang menemukan jati diri.

BACA PULA:

3. Gunakan Kalimat yang Tidak ‘Merendahkan’ Anak-Anak

Photo by Jessica Lynn Lewis

Langkah selanjutnya setelah kamu memilih usia yang paling ideal untuk pembacamu adalah memperhatikan kalimat yang gunakan. Sedapat mungkin jangan menggunakan kata-kata yang ‘merendahkan’ anak-anak, walaupun tentu saja kamu tidak bermaksud melakukannya.

Lantas, apa sih, yang dimaksud dengan bahasa yang ‘merendahkan’ anak-anak itu?

Bahasa yang ‘merendahkan’ pembaca sebenarnya tidak hanya jangan diaplikasikan pada buku anak-anak, namun kepada setiap buku dengan segmentasi pembaca mana saja. Kalimat seperti ini kadang tersamar dalam susunan kalimat fiksi yang tidak begitu kentara.

Contohnya adalah sebagai berikut;

  • “Kamu memang tidak sepintar Einstein, tapi itu bukan masalah”.
  • “Kamu memang tidak bisa terbang seperti burung Rajawali, namun tidak ada yang salah dengan berjalan kaki”.
  • “Kamu memang bukan seorang puteri raja dari kerajaan kayangan, tapi kamu harus berusaha”.

Kalimat semacam itu umum pada buku novel untuk dewasa. Namun untuk pembaca anak-anak dengan usia mereka yang masih gemerlapan, hal itu akan sangat berpengaruh. Ketika cerita itu dibaca keras (pada umumnya buku anak-anak memang dibaca secara keras) kalimat itu mungkin akan menciderai imajinasi mereka.

Jadi, sebaiknya memang tidak perlu dipergunakan.

Nah, untuk menambah keterampilan dalam hal ini, kamu dapat mempraktikkan tiga hal berikut ini;

Gunakan Kosakata Sesuai Usia

Photo by Eva Elijas

Kamu memang dapat menunjukkan kemampuan dan pengetahuan berbahasamu yang luar biasa pada banyak tempat, tapi ingat, buku anak-anak bukan salah satu di antaranya.

Jangan menggunakan pilihan bahasa yang rumit dan sulit dimengerti. Atau hindari menggunakan istilah yang tidak biasa digunakan oleh anak-anak.

Gunakan Kekuatan Pengulangan

Pengulangan kata dan situasi dapat lebih efektif pada usia anak-anak. Pengulangan semacam ini memberi anak-anak kesempatan untuk mengikutinya dengan mudah.

Di Indonesia, kita mengenal beberapa cerita anak yang cukup familiar dengan konsep pengulangan seperti ini. Majalah anak Bobo atau Bo-Bo, tokoh Rong-Rong dalam cerita Bona dan Rong-Rong, atau malah cerita yang lebih luas cakupannya seperti Chika Chika Boom Boom.

Gunakan Pantun jika Memang Perlu

Menulis cerita anak dengan irama seperti pantun sama sekali tidak ada salahnya, selama kamu bisa melakukannya dengan sempurna. Namun, jika kamu tidak terbiasa menulis cerita dalam bentuk pantun, maka jangan paksakan diri untuk mengaplikasikannya.

Pantun kadang-kadang efektif untuk anak sebagai cara mereka untuk mudah mengingat, namun sayangnya tidak selalu bekerja seperti itu. Jadi pesannya adalah sebelum kamu menggunakan pantun; pastikan itu menarik untuk diingat dan dimengerti oleh anak-anak.

BACA INI JUGA, YUK

4. Ciptakan Karakter yang Mudah Diingat Anak-Anak

Photo by Pixabay

Langkah selanjutnya atau yang keempat sebagai cara membuat buku cerita sendiri untuk anak-anak adalah dengan memastikan karakter cerita atau tokoh yang kamu ciptakan mudah diingat oleh anak-anak.

Bagaimana contohnya?

Sekarang coba kamu ingat-ingat lagi karakter-karakter berikut ini;

  • Upin dan Ipin
  • Kancil dan Buaya
  • Bobo
  • Harry Potter
  • Rapunzel
  • Puteri Salju, dll

Muncul pertanyaan; bagaimana penulis mampu menciptakan karakter yang demikian kuat diingat oleh anak-anak seperti itu?

Menariknya adalah, kamu bisa mempelajari caranya dengan menerapkan tiga tips berikut ini;

Buat Karakter Protagonis Lebih Tua dari Usia Pembacamu

Mantra pertama yang bisa kamu terapkan untuk membuat karakter yang memorable untuk anak-anak adalah dengan menciptakan karakter yang usianya lebih tua dari target pembaca. Jadi, jika usia target pembacamu adalah anak-anak usia 6 hingga 7 tahun, maka kamu bisa membuat karakter protagonisnya ada pada usia 9 atau 10 tahun.

Hal ini menjadi menarik bagi anak-anak karena mereka berusaha menjadikan karakter tersebut sebagai sesuatu yang bisa diikuti dan dijadikan panutan.

Untuk lebih mudahnya, kamu bisa melihat contoh berikut ini;

  1. Karakter Harry Potter yang berusia 11 tahun menjadi ideal untuk pembaca anak-anak pada usia 6-9 tahun.
  2. Karakter Ramona Quimby yang berusia 8 tahun, dan ia cocok untuk pembaca anak-anak yang berusia 5 hingga 7 tahun.

Buat Karakternya Manusiawi

Photo by RODNAE

Dalam penulisan untuk pembaca segmentasi usia berapa pun, karakter yang diciptakan haruslah manusiawi. Manusiawi artinya karakter tersebut tetap memiliki batasan-batasan, kelebihan, kekurangan, motivasi, konflik dan lain sebagainya.

Memahami cara bikin buku cerita anak dengan menciptakan karakter yang manusiawi juga akan membantu anak-anak untuk memahami keterbatasan. Dan pada perkembangannya, mengajari mereka pula untuk belajar menerima dan mengatasi keterbatasan tersebut.

Sempurna Sama Dengan Hambar

Catatan terakhir untuk kamu yang akan menciptakan satu karakter fiksi cerita anak-anak adalah dengan menghindari menciptakan karakter yang sempurna.

Maksudnya adalah jangan membuat karakter sempurna di segala hal dan tidak memiliki kekurangan dan keterbatasan. Karakter seperti ini sangat tidak efektif, tidak bisa menciptakan konflik, dan cenderung membosankan atau hambar.

5. Tuliskan Naskah Pertamanya

Photo by cottonbro

Langkah selanjutnya sebagai cara menulis buku cerita untuk anak-anak adalah dengan mulai menuliskannya.

Setelah mendapatkan temanya, menetapkan target usia pembacanya, menciptakan karakternya, langkah kelima akan membawa kamu pada proses yang serius yakni menuliskannya.

Jangan terlalu berharap banyak pada naskah awal, karena ini hampir selalu berantakan.

Namun itu adalah situasi yang normal.

Naskah awal yang berantakan adalah hal umum, bahkan untuk penulis profesional dengan pengalaman dan jam terbang tinggi sekali pun. Jadi mantranya adalah, jika hal ini terjadi pada kamu juga, just keep moving, kamu sudah ada jalan yang benar.

BACA JUGA:

6. Beri Jeda Sejenak dan Tulis Ulang

Photo by Pixabay

Walaupun kamu menulis buku cerita untuk anak-anak yang notabene konfliknya ceritanya sederhana, kamu tetap butuh jeda untuk bisa melakukannya dengan sempurna. Jadi ketika naskahmu sudah selesai, ambilah napas sejenak dengan sama sekali tidak menyentuh naskahmu selama satu dua hari.

Setelah kamu merasa cukup segar untuk kembali menulis, sekarang kamu dapat membaca ulang naskahmu dan mulai melakukan revisi.

Tulis ulang beberapa bagian yang kamu anggap kurang tepat, atau kurang mencapai target yang sudah kamu tetapkan. Pada tahap ini kamu dapat menyusun ulang, menulis revisi atau bahkan membuang beberapa bagian yang tidak relevan.

Tentu ini adalah pekerjaan yang tidak mudah dan melelahkan. Namun, kamu dapat berfokus pada beberapa hal berikut untuk membuat prosesnya jauh lebih mudah.

  • Tulis Apa pun yang Kamu Inginkan, Namun Pastikan Relevan dengan Pembacamu. Misalnya begini; kamu ingin menulis cerita tentang pengkhianatan dan ketidaksetiaan. Jadi, untuk anak-anak kamu bisa membuat pengkhianatan ini datang dari sepasang sahabat dan teman baik, bukannya sepasang kekasih.
  • Tetapkan Satu Pesan Utama Cerita. Untuk pembaca anak-anak, pesan cerita yang sederhana adalah keharusan. Apalagi jika target pembaca bukumu adalah anak-anak dengan usia di bawah 15 tahun. Jika pesannya cukup kompleks, sebaiknya kamu mengemasnya dalam serial.
  • Beri Bonus Hiburan Pada Orang Dewasa. Fokus terahir yang bisa kamu lakukan untuk menulis buku cerita anak yang menarik adalah dengan menyisipkan hiburan untuk orang tua mereka sendiri. Tentu ini bukan hal yang prioritas. Akan tetapi jika kamu mampu melakukannya, ini akan menjadi nilai tambah yang menarik.

7. Editing!

Photo by Caio

Setelah menulis ulang dan memperbaiki disana-sini, kamu masuk pada tahap yang semakin tidak mudah dalam proses menulis buku cerita anak yakni, mengedit.

Editing adalah bagian yang cukup serius dan membutuhkan energi ekstra. Proses ini akan memaksa kamu untuk membaca ulang, mengedit dan mengulanginya lagi sampai kamu merasa benar-benar lega.

Nah, supaya hal ini tidak terlalu kelihatan menakutkan, berikut beberapa langkah yang bisa kamu terapkan.

Tidak Ada Masalah dengan “Kejam” Saat Mengedit

Semakin pendek dan sederhana sebuah cerita, semakin bagus itu untuk anak-anak.

Anak-anak tidak membutuhkan cerita yang terlalu rinci dan mendetail. Jika satu kalimat yang kamu hapus tidak mempengaruhi cerita dan tetap mampu menyampaikan pesan cerita dengan baik, maka hapus saja.

Dan lakukan hal itu pada bagian-bagian lainnya pula.

Bagikan dengan Komunitas dan Pembaca Beta

Photo by Anastasia Shuraeva

Tips kedua yang sangat berguna dalam mengedit supaya kamu dapat menciptakan buku cerita anak yang bagus adalah dengan membagikan kepada satu komunitas dimana terdapat pula target pembacamu disana.

Komunitas ini tentu saja misalnya dapat kamu temukan di group facebook, instagram, whatsapp, atau bahkan lingkungan rumahmu sendiri.

Pembaca beta atau pembaca uji coba akan memberikan feedback yang paling kamu butuhkan. Dan karena target pembacamu adalan anak-anak, maka tentu pembaca betamu juga adalah anak-anak. Menariknya lagi, anak-anak adalah pembaca paling jujur yang akan memberikan feedback ceritamu secara polos dan jujur pula.

Jadi, pastikan kamu mendengar pendapat mereka.

BACA JUGA:

8. Temukan Ilustrator dan Editor yang Profesional (Jika Kamu Memang Membutuhkannya)

Photo by Michael Burrows

Setelah naskahmu sudah jadi dan kamu sudah menempuh semua langkah di atas tapi malangnya kamu masih merasa ada yang kurang, maka sekarang kamu harus meminta bantuan pada ahlinya; seorang editor buku anak profesional.

Jika kamu memiliki kenalan, maka ini akan lebih mudah untuk dilakukan. Namun jika tidak, kamu mungkin harus mengeluarkan sedikit biaya untuk investasi cerita yang sempurna. Tidak ada salahnya dengan hal itu, bukan?

Kemudian pastikan pula dalam langkah ini apakah kamu memerlukan jasa seorang ilustrator atau tidak?

Untuk buku-buku remaja dengan pembaca yang sudah hampir memasuki usia dewasa, kamu mungkin tidak begitu membutuhkan ilustrator. Namun untuk buku anak-anak dengan usia di bawah 10 tahun, ilustrasi adalah setengah dari cerita.

Nah, jika kamu memang membutuhkan ilustrator, kamu bisa mendapatkannya melalui berbagai platform situs freelance. Ada banyak ilustrator hebat disana yang bisa kamu ajak bekerjasama.

Atau jika kamu suka tantangan, kamu tentu saja juga boleh mencobanya sendiri dengan belajar cara membuat ilustrasi buku cerita anak yang bagus dan efektif.

9. Terbitkan Buku Cerita Anak Karyamu!

Photo by Yan Krukov

Ini adalah langkah final dalam membuat buku cerita anak yaitu dengan menerbitkannya.

Dalam menerbitkan buku cerita anak, kamu bisa memilih mengirim naskahmu ke penerbit mayor dan menunggu untuk diterbitkan.

Namun jika kamu merasa tidak begitu sabar dalam menunggu yang hasilnya belum tentu diterima atau tidak, maka kamu harus menerbitkannya dengan metode self publishing. Informasi lebih lengkap mengenai proses penerbitan mandiri atau self publishing dapat kamu baca disini.

BACA JUGA:

WUJUDKAN IMPIANMU MENJADI PENULIS MELALUI KELAS MENULIS ONLINE DISINI.

DAFTAR VIA WHATSAPP SEKARANG


anton sujarwo

Anton Sujarwo

Saya adalah seorang penulis buku, content writer, ghost writer, copywriters dan juga email marketer. Saya telah menulis 15 judul buku, fiksi dan non fiksi, dan ribuan artikel sejak pertengahan tahun 2018 hingga sekarang.

Dengan pengalaman yang saya miliki, Anda bisa mengajak saya untuk bekerjasama dan menghasilkan karya. Jangan ragu untuk menghubungi saya melalui email, form kontak atau  mendapatkan update tulisan saya dengan bergabung mengikuti blog ini bersama ribuan teman yang lainnya.

Tulisan saya yang lain dapat dibaca pula pada website;

Saya juga dapat dihubungi melalui whatsapp di tautan ini.

Fortopolio beberapa penulisan saya dapat dilihat disini:


BEGINI CARA MENULIS AUTOBIOGRAFI DIRI SENDIRI YANG MENARIK

Tidak diragukan lagi bahwa ada banyak orang yang memiliki kisah hidup menarik untuk diceritakan. Bagaimana menceritakan kisah itulah inti dari cara menulis autobografi diri sendiri. Pada praktiknya, bagaimana pun kamu mengemas ceritanya, pembaca harus menemukannya sebagai sesuatu yang berharga untuk ditelusuri.

Sebagai sebuah catatan langsung dari penulis, autobiografi menawarkan tingkat interaksi yang tak tertandingi bagi para pembaca genre biografi. Untuk orang-orang yang suka mempelajari sesuatu dari sosok-sosok yang menonjol dan terkemuka, autobiografi adalah referensi utama yang menjamin orisinilitas pemikiran murni.

Nah, untuk kamu yang memiliki kisah pribadi yang unik dan terpikir untuk menuliskannya dalam bentuk autobiografi, artikel kali ini saya persembahkan untuk membantu kamu mewujudkannya.

Kamu punya kisah hidup menarik untuk dijadikan buku namun bingung cara menuliskannya?

COBA KONSULTASIKAN DISINI

Cara Menulis Autobiografi Diri Sendiri yang Mudah dan Bisa Dilakukan Siapa Saja

Cara Menulis Autobiografi Dalam 8 Langkah Mudah

http://www.penulisgunung.id

Ketika menyebutkan penulisan kisah pribadi untuk diri sendiri, kita akan selalu dihadapkan pada tiga jenis karya sastra untuk dipilih yakni; autobiografi, biografi, dan memoar.

Tentu saja artikel ini akan menguraikan contoh autobiografi dan signifikansi perbedaannya dengan memoar dan biografi. Namun sekarang, untuk membuat perjalanan mempelajari penulisan kisah hidup manusia ini menjadi lebih mudah, mari kita mulai dengan pengertian autobiografi terlebih dahulu.

Jadi, apa yang dimaksud dengan autobiografi itu?

BACA JUGA:

Pengertian Autobiografi

Source: Pexel

Secara lengkap autobiografi dapat diartikan sebagai sebuah penulisan non fiksi tentang kisah hidup seseorang, yang ditulis langsung oleh orang yang bersangkutan melalui sudut pandang dirinya sendiri.

Sederhananya adalah, jika kamu menulis kisah hidup kamu sendiri dalam sudut pandang kamu sendiri, maka itu sudah cukup untuk disebut autobiografi. Namun tentu saja dalam pelaksanaanya, akan ada beberapa hal yang perlu untuk disesuaikan.

Autobiografi sendiri merupakan sub-genre dari biografi yang merupakan kisah hidup seseorang yang dituliskan oleh orang lain. Lebih lengkapnya mengenai apa itu biografi dan bagaimana cara menuliskanya, dapat kamu baca pada tautan ini.

Di kalangan pembaca secara umum, autobiografi adalag sub genre yang sangat populer.

Buku autobiografi yang baru dirilis oleh tokoh terkenal, dapat dengan mudah menjadi best seller dalam waktu yang singkat. Buku Habibie & Ainun yang ditulis oleh Bacharuddin Jusuf Habibie adalah salah satu contoh autobiografi panjang dan populer di Indonesia.

Contoh lainnya yang juga bisa kamu jadikan referensi adalah buku Chairul Tanjung si Anak Singkong yang ditulis oleh Chairul Tanjung sendiri dan disusun oleh Tjahja Gunawan Diredja.

Perbedaan Autobiografi dan Biografi

pertanyaan untuk penulis
Source: Pexel

Perbedaan paling penting antara autobiografi dan biografi adalah penulisnya. Jika autobiografi ditulis secara langsung oleh orang yang bersangkutan atau subyek penulisan, maka biografi ditulis oleh orang lain yang biasanya adalah seorang sejarawan.

Penulis biografi dikenal karena kepiawaian mereka membangun narasi non fiksi yang kuat tentang kisah hidup tokoh yang menjadi subyek penulisan mereka.

Di Indonesia, kamu dapat menemukan banyak contoh untuk penulisan semacam ini seperti;

  • Muhammad; Sang Nabi, karya Karen Amstrong
  • Muhammad; Kisah Hidup Nabi Berdasarkan Sumber Klasik, karya Martin Lings
  • Ayah: Kisah Buya Hamka, yang ditulis oleh anaknya sendiri, Irfan Hamka
  • 100 Tokoh Paling Berpengaruh Di Dunia, yang ditulis oleh Michael Hart (ini adalah contoh biografi singkat)
  • Islamedina; Si Wajah Cahaya, karya Anton Sujarwo (saya sendiri) yang bukunya bisa kamu dapatkan disini.

Di lain sisi, penulis autobiografi dituntut untuk memiliki keahlian penuh dalam mengeksplorasi kisah hidup dirinya sendiri. Ini seharusnya tidak begitu sulit, namun justru tidak banyak buku autobiografi yang popularitasnya bisa menyamai buku biografi secara umum seperti contoh di atas.

Dan salah satu penyebabnya adalah; ada lebih banyak orang yang tidak tahu cara menulis buku autiobiografi untuk diri mereka sendiri.

Perbedaan Autiobiografi dan Memoar

Photo by Daria Shevtsova

Meskipun tidak identik, autobiografi lebih erat kaitannya dengan penulisan non fiksi lain yang disebut dengan memoar. Namun, meskipun autobiografi dan memoar memiliki banyak persamaan, kedua jenis penulisan ini tidaklah identik.

Ada beberapa perbedaan signifikan antara memoar dan autobiografi yang didasarkan pada strukturnya, cakupannya dan juga gaya bahasanya.

Jika autobiografi ditulis langsung oleh subyek, maka memoar pun demikian. Hanya saja dari sisi cakupan penulisan, memoar memfokuskan bagian kehidupan penulis pada periode tertentu saja. Hal ini berbeda dengan autobiografi yang membahas kehidupan subyek secara lebih komprehensif.

Selain cakupan pembahasan, memoar dan autobiografi juga memiliki perbedaan dalam hal gaya bahasa. Ketika autobiografi memfokuskan penulisan kisah hidup subyek pada peristiwanya, memoar akan lebih berfokus pada pengalaman dan perasaan yang dihadirkan dari peristiwa tersebut.

Dapat diambil contoh perbedaan antara penulisan struktur autobiografi dan memoar sebagai berikut;

Seorang tokoh politik dapat menceritakan keseluruhan kisah hidupnya dalam sebuah autobiografi yang dimulai dari kelahirannya, tumbuh dewasanya, dan waktu-waktu ia kemudian dikenal luas oleh masyarakat. Penulisan ini mencakup peristiwa yang menyeluruh dan diceritakan secara kronologis.

Sementara dalam memoar, tokoh politik tersebut mungkin akan menulis secara khusus mengenai pengalamannya dalam pemilihan umum atau masa karir politiknya yang paling cemerlang. Penulisan ini dapat melibatkan emosionalnya secara khusus dimana ia mungkin merasa was-was dengan hasil electroral, dan lain sebagainya.

BACA JUGA:

6 Hal yang Harus ada Dalam Penulisan Autobiografi

Source: Pexel

Autobiografi sudah seharusnya memuat segala hal yang penting dalam hidup penulisnya.

Akan tetapi, hal ini tidak berarti bahwa segala bentuk kenangan kecil harus kamu tuliskan pula. Beberapa kenangan mungkin terasa spesial untuk diri kamu sendiri, namun ketika kamu memilih menceritakannya kepada pembaca atau orang asing melalui autobiografi, kamu harus lebih selektif.

Pada beberapa contoh autobigrafi diri sendiri yang menarik, penulis sekaligus subyek harus mampu mempertimbangkan mana kenangan yang layak ia bagikan kepada pembaca. Jika tidak ada pelajaran dalam kenangan tersebut, atau tidak ada pula korelasinya dengan pencapaian di momen selanjutnya, sebaiknya tidak perlu kamu ikutkan.

Guna mempermudah kamu memilih mana saja bagian dari perjalanan hidup kamu yang dapat dimasukkan dalam autobiografi dan mana pula yang tidak, berikut adalah beberapa hal esensial yang harus ada dalam seriap penulisan autobiografi.

Gambaran Jelas Asal Usul Pribadi Penulis

Photo by cottonbro

Gambaran asal usul subyek atau diri sendiri penulisan autobiografi meliputi kelahiran, kota asal, sejarah keluarga, profil beberapa anggota keluarga inti, juga orang-orang yang kamu anggap paling penting di masa kecil.

Dapat pula kamu tambahkan dalam gambaran asal usul pribadi ini, mengenai saat-saat penting dalam pendidikan yang kamu jalani.

Intinya adalah; bagian ini mendeskripsikan kehidupan dan asal usul pribadi kamu sebagai subyek supaya dapat dikenal pembaca lebih dekat.

Pengalaman-Pengalaman Penting

Penting pula untuk kamu tambahkan sebagai cara menulis karangan autobiografi mengenai pengalaman signifikan yang kamu alami.

Bagian ini dapat menjadi media bagi kamu untuk menjelaskan kepada pembaca tentang pengalaman apa saja yang memberikan kontribusi padamu yang berpengaruh pula pada karakteristikmu di masa sekarang.

Detail Terperinci dari Bagian-Bagian Kehidupan Profesional

Photo by Daniel McDonald

Ini adalah bagian penting dalam penulisan autobiografi dan pada banyak kasus; merupakan titik balik dimana kamu sebagai subyek pribadi dikenal oleh masyarakat.

Bagian ini adalah bagian yang tidak boleh terlewatkan dalam penulisan biografi atau autobiografi.

Dalam cara menulis autobiografi singkat, bagian ini juga merupakan bagian yang paling banyak diceritakan. Sederhananya adalah, ini adalah bagian yang menjadi alasan mengapa orang-orang tertarik membaca kisah hidup yang kamu tuliskan.

Jadi, pastikan kamu menuliskannya dengan sempurna dan penuh perhatian.

Kisah Kegagalan dan Reaksi yang Diberikan

Orang-orang hebat yang menulis autobiografi mereka, sudah pasti orang yang akrab dengan kegagalan. Akan tetapi, bagaimana mereka menyikapi kegagalan adalah alasan mengapa perjalanan hidup mereka kemudian layak untuk dibagikan.

Jika kamu memiliki pengalaman akan kegagalan terhadap sesuatu, bagikan pula tentang hal tersebut.

Namun yang terpenting selain mengisahkan kegagalan tersebut, kamu juga harus memastikan bahwa reaksi kamu terhadap kegagalan tersebut menjadi pelajaran yang bisa diambil manfaatnya oleh pembaca.

Judul yang Menarik

Photo by Polina Zimmerman

Cara menulis autobiografi yang benar selanjutnya adalah dengan memastikan kamu memberikan judul yang menarik dan menggelitik. Kemampuan memilih judul akan sangat menentukan, meskipun kamu adalah tokoh sudah cukup dikenal.

Hindari untuk menggunakan judul-judul yang terlalu datar seperti “Autobiografiku, Kisah Hidupku, Perjalanan Hidupku”, dan yang semacam itu.

Sebagai gantinya, carilah sesuatu yang mengusik rasa ingin tahu pembaca untuk mengambil buku autobiografimu dan membacanya hingga selesai.

Narasi Orang Pertama

Hal terakhir yang harus ada dalam sebuah penulisan autobiografi adalah sudut pandang orang pertama. Jadi, kamu harus bercerita menggunakan kata ganti aku sebagai pelaku karena memang kamulah yang memiliki semua pengalaman tersebut.

Kata ganti orang ketiga memang cocok untuk penulisan biografi tradisional dimana penulisnya adalah orang lain seperti sejarawan atau sastrawan.

Akan tetapi dalam penulisan autobiografi sekali lagi; gunakan sudut pandang narasi orang pertama.

BACA PULA:

Menulis Autobiografi dalam 8 Langkah Sederhana

Photo by Angela Roma

Memulai penulisan buku secara serius seperti autobiografi dan memoar sudah pasti tidak mudah. Jadi, tidak begitu mengejutkan jika banyak orang termasuk kamu misalnya, mengalami kesulitan.

Nah, untuk membuatnya lebih sederhana dan dapat dipraktikkan dengan mudah, kamu hanya perlu mengikuti delapan langkah berikut ini;

Awali dengan Brainstorming

Tidak ada cara paling mudah dan menarik untuk memulai penulisan autobiografi selain dengan melakukan brainstorming atau pengumpulan ide secara spontan terlebih dahulu.

Dalam langkah yang pertama ini, kamu dapat mengingat-ingat semua kisah hidup yang kamu miliki dan menuliskannya secara garis besar. Apa pun kenangan dalam perjalanan kehidupan kamu yang kamu anggap penting dan kamu rasa menarik pula bagi pembaca, tuliskan saja.

Pastikan untuk mengumpulkan semua ide yang lengkap dari awal hingga hari dimana kamu berada saat ini. Masa kecil, pendidikan, keluarga, momen-momen berharga semasa kanak-kanak, semuanya dapat kamu masukkan dalam proses brainstorming.

Walau tidak semua kenangan itu dapat dimasukkan dalam naskah buku autobiografimu nantinya, namun dalam langkah pertama ini kumpulkan saja semuanya.

Buat Kerangka Autobiografi

Source: Pexel

Setelah kamu mengumpulkan berbagai ide dalam perjalanan hidupmu pada tahap brainstorming, kini saatnya untuk memilah-milah mana saja dari ide tersebut yang dapat kamu masukkan dalam autobiografi.

Nah, cara yang mudah dan menyenangkan untuk memilah mana saja ide dan kenangan yang layak masuk dalam autobiografi adalah dengan membuat garis besar cerita atau outline. Kamu dapat menyusun berbagai peristiwa dalam hidupmu secara kronologis berdasarkan tahapan-tahapan yang membentuk dirimu saat ini.

Berbagai episode paling menarik dalam hidupmu, dapat kamu susun pada tahapan outlining ini.

Jika kamu mampu menyusun dan membagikan berbagai peristiwa menarik yang kamu alami sepanjang buku, akan sulit pembacamu untuk tidak menyelesaikan membaca biografimu hingga selesai.

Lakukan Riset

Tidak ada manusia yang dapat mengingat secara mendetail perjalanan hidup mereka secara keseluruhan, terutama pada masa kecil. Jadi untuk menyempurnakannya autobiografimu, kamu tentu saja juga membutuhkan riset atau penelitian.

Untuk mengingat kembali informasi dan detail-detail peristiwa dalam tiap episode hidupmu, kamu bisa melakukan riset dengan mewawancari keluarga, teman dekat atau orang-orang yang memiliki keterkaitan erat dengan episode tersebut.

Tulis Naskah

Source: Pexel

Setelah melewati berbagai tahapan dari brainstorming, outlining dan riset, sekarang kamu siap untuk menggarap naskah pertama dari autobiografimu.

Mantranya dalam tahapan ini adalah; Tuliskan saja atau just write!

Naskah pertama ini mungkin saja sangat panjang lebar, kurang fokus, bertele-tele dan tidak detail membahas peristiwa yang penting dalam autobiografimu. Namun naskah pertama selalu begitu, bahkan untuk penulis profesional dengan pengalaman dan jam terbang tinggi sekali pun.

Jadi, kembali saja ke mantranya; tuliskan saja tanpa harus merasa khawatir.

BACA JUGA:

Ambil Jeda

Photo by Liza Summer

Jika penulisan naskah autobiografimu sudah selesai ditulis, yang harus kamu lakukan selanjutnya adalah melupakannnya untuk beberapa saat.

Maksudnya adalah; istirahatlah dulu dan ambil jeda untuk beberapa waktu.

Kamu membutuhkan pikiran yang segar dan situasi yang fresh saat membaca naskah ulang autobiografimu nantinya. Dan ini tidak bisa dilakukan jika kamu tak mengambil jeda setelah menulis naskah pertamanya selama berbulan-bulan.

Jadi, biarkan benak dan pikiranmu segar terlebih dahulu dengan mengambil jeda.

Koreksi dan Proofreading

Setelah kamu merasa cukup segar kembali dengan mengambil jeda beberapa minggu, saatnya kembali ke naskahmu dan melakukan koreksi.

Dalam penulisan autobiografi seperti ini, fokus yang harus kamu berikan bukanlah kesalahan typo semata. Akan tetapi yang paling penting adalah mengidentifikasi kenangan-kenangan lemah yang tidak seharusnya ada dalam autobiografimu.

Cara menulis struktur autobiografi terbaik dalam tahapan ini adalah dengan memposisikan dirimu sebagai pembaca autobiografi orang lain. Tanyakan pada dirimu sendiri; apa yang kamu inginkan saat membacanya?

Nah, jawaban itu juga yang harus kamu terapkan dalam autobiografimu.

Lakukan Revisi

Photo by Ketut Subiyanto

Setelah berbagai catatan tentang momen-momen lemah yang telah kamu hilangkan dari narasi, sekarang adalah waktunya melakukan revisi.

Ubah semaksimal mungkin yang bisa kamu lakukan. Jika satu bagian membutuhkan tulis ulang, jangan ragu untuk melakukannya lagi. Ini akan menjadi proses yang panjang dan melelahkan.

Namun, bukankah tidak ada pencapaian hebat yang bisa didapatkan dengan mudah? Termasuk pula dalam menulis buku autobiografimu ini.

Untuk menyempurnakan bagian ini, tidak ada salahnya untuk menunjukkan naskah yang kamu tuliskan kepada orang-orang yang kamu percayai pendapatnya. Syukur-syukur jika kamu memiliki kenalan editor profesional, pendapatnya akan sangat berharga untuk kamu pertimbangkan.

Sempurnakan dan Publikasikan

Kamu mungkin akan mengulang proses koreksi, proofreading, editing dan revisi berkali-kali. Tidak ada angka magic untuk membuatnya sempurna, namun meminta pendapat orang lain selalu dapat dijadikan alat bantu yang memadai.

Pastikan kamu meminta penilaian orang baru setelah merevisi naskahmu.

Ini mungkin akan memakan waktu lama dan butuh penyesuaian disana-sini. Namun, tujuan terpentingnya adalah kamu dapat menyampaikan kebenaran kisah hidupmu yang menginspirasi itu tanpa melakukan rekayasa dalam buku autobiografi.

Butuh Bantuan untuk Menulis Autobiografimu?

Photo by Arina Krasnikova

Semestinya dengan semua penjelasan cara menulis autobiografi diri sendiri di atas, kamu sudah langsung dapat mempraktikkannya dengan mudah.

Kamu hanya perlu mengikuti langkah-langkahnya dengan disiplin, untuk kemudian kedisiplinan itulah yang akan membawamu kepada keberhasilan hingga naskah final.

Namun jika kamu masih menemukan kesulitan melakukannya, kamu tentu saja dapat menghubungi www.penulisgunung.id dan meminta bantuan secara profesional untuk menyelesaikan autobiografimu.

Jadi, jangan ragu untuk menghubungi saya, ya.

BACA PULA:



Anton Sujarwo

Saya adalah seorang penulis buku, content writer, ghost writer, copywriters dan juga email marketer. Saya telah menulis 15 judul buku, fiksi dan non fiksi, dan ribuan artikel sejak pertengahan tahun 2018 hingga sekarang.

Dengan pengalaman yang saya miliki, Anda bisa mengajak saya untuk bekerjasama dan menghasilkan karya. Jangan ragu untuk menghubungi saya melalui email, form kontak atau  mendapatkan update tulisan saya dengan bergabung mengikuti blog ini bersama ribuan teman yang lainnya.

Tulisan saya yang lain dapat dibaca pula pada website;

Saya juga dapat dihubungi melalui whatsapp di tautan ini.

Fortopolio beberapa penulisan saya dapat dilihat disini:


7 TIPS RAHASIA CARA MENULIS BIOGRAFI YANG SUPER MUDAH DILAKUKAN

Biografi jika ditulis dengan tepat, adalah media yang sangat efektif untuk mengambil pelajaran dari kisah hidup orang-orang terkemuka. Penulis yang mengerti cara menulis biografi tidak hanya mampu menampilkan siapa tokoh biografi yang ia tuliskan. Namun juga mampu menyampaikan keteladanan dan pelajaran yang penting dari tokoh yang ia ceritakan.

Nah, jika kamu saat ini tertarik untuk menulis biografi tentang seseorang yang kamu anggap penting, kamu perlu mengetahui cara menulisnya dengan teknik yang paling baik.

Menariknya adalah, cara menulis biografi seorang tokoh tidak sesulit kelihatannya. Dengan panduan yang sederhana berikut ini, kamu dapat menulis biografi siapa pun yang kamu suka. Penulisan biografi untuk tokoh terkenal, publik figur, orang tua atau siapa saja, dapat dengan mudah kamu eksekusi dengan 7 tips rahasia berikut ini.

Bagaimana Cara Menulis Biografi dan 7 Tips Rahasia yang Akan Membuatnya Sangat Mudah

Photo by energepic.com

“Saya tidak menemukan cara belajar terbaik dari keteladanan masa silam kecuali melalui buku sejarah dan biografi”

– A Wan Bong –

Pentingnya pengetahuan tata cara menulis biografi yang menarik tidak hanya dibutuhkan oleh penulis, namun juga oleh pembaca. Sebagai media mengenal dan belajar dari perjalanan hidup seseorang, buku biografi haruslah menarik untuk ditulis dan dibaca sekaligus.

Tapi bagaimana caranya?

Jika kamu pernah membaca biografi Rasullulah Muhammad SAW yang ditulis oleh Martin Lings atau Abu Bakar Siraj ad-Din, atau pun yang ditulis oleh Karen Amstrong, kamu akan menemukan fakta yang menarik. Dengan keunikannya masing-masing, dua biografi yang menceritakan orang yang sama ini sama-sama dianggap sebagai yang terbaik di dunia.

Untuk pembaca muslim, tulisan Martin Lings dapat dibilang nyaris sempurna untuk menggambarkan sejarah hidup Rasulullah. Sementara untuk pembaca yang universal, terutama non muslim, tulisan Karen Amstrong adalah pilihan yang bijaksana untuk mengenal nabi akhir zaman ini.

Dua buku ini sangat sempurna untuk menjadi contoh bagaimana cara menulis biografi seorang tokoh yang efektif. Narasi yang dibangun oleh Martin Lings mau pun Karen Amstrong, sangat efektif masuk ke pemikiran pembaca tanpa kehilangan keabsahan historisnya.

Nah, sebelum saya mengajak kamu untuk mempelajari lebih jauh tentang cara penulisan biografi dalam 7 tips rahasia, sebaiknya kita memulainya dengan pengertian biografi itu sendiri.

Jadi, apa yang dimaksud dengan biografi?

Pengertian Biografi

Photo by Oladimeji Ajegbile

Sederhananya biografi adalah kisah hidup orang ketiga yang ditulis secara terperinci oleh orang lain.

Syarat pertama sebuah kisah hidup seseorang baru dapat disebut biografi jika ia ditulis secara lengkap, komprehensif, rinci dan mendetail.

Syarat yang kedua adalah penulis biografi tersebut haruslah orang lain atau bukan orang yang diceritakan dalam kisah tersebut. Syarat yang ketiga namun tidak begitu mutlak adalah struktur penulisannya yang harusnya bersifat kronologis.

Contoh menulis biografi tokoh yang sempurna dan memenuhi ketiga syarat ini adalah apa yang dilakukan Martin Lings tersebut. Penulisannya dilakukan oleh orang lain secara lengkap, komprehensif dan berstruktur kronologis.

BACA JUGA:

Tujuan Penulisan Biografi

Photo by Tima Miroshnichenko

Tujuan penulisan biografi dapat bermacam-macam. Beberapa tujuan penulisan biografi yang paling umum misalnya adalah;

  • Sebagai cara untuk membagikan kehidupan orang lain yang menjadi subyek kepada masyarakat.
  • Sebagai cara penulis untuk melakukan klarifikasi tentang informasi yang keliru tentang sosok subyek yang mungkin sudah lebih dulu beredar di masyarakat. Alasan ini adalah salah satu yang mendasari penulisan buku Muhammad Sang Nabi yang ditulis oleh Karen Amstrong.
  • Sebagai cara untuk melengkapi fakta-fakta yang mungkin terlewatkan dalam penulisan biografi oleh penulis sebelumnya.
  • Sebagai cara untuk membagikan inspirasi kepada masyarakat tentang bagaimana pencapaian subyek, kegigihannya mengatasi rintangan dan hambatan, yang kemudian diharapkan menjadi dorongan bagi masyarakat untuk mengambil semangat yang serupa.
  • Sebagai cara untuk memberi peringatan kepada masyarakat untuk tidak mengikuti subyek yang diceritakan. Kamu mungkin akan menemukan tujuan ini pada penulisan biografi orang-orang yang mungkin terkenal karena kejahatan mereka.

Jenis-Jenis Biografi

Photo by Sharon McCutcheon

Biografi memiliki banyak sekali jenisnya, tergantung dari sudut pandang apa ia dituliskan.

Kamu mungkin pernah mendengar istilah biografi jurnalistik, biografi intelektual dan lain sebagainya.

Akan tetapi jika dilihat dari struktur penulisan dan kelengkapannya, penulisan biografi dapat dibagi menjadi dua saja yakni biografi singkat dan biografi rinci.

Biografi Mini atau Singkat

Biografi singkat tetap menampilkan kisah hidup subyek secara komplit dari lahir, masa kecil, pendidikan, tumbuh dewasa hingga mencapai posisi dimana ia  dikenal luas oleh masyarakat. Hanya saja pada cara menulis biografi singkat mengizinkan penulis hanya membahas bagian-bagian tersebut secara ringkas.

Kamu dengan mudah dapat menemukan contoh biografi singkat ini misalnya pada buku tema-tema kolektif seperti: Biografi 10 Diktator Paling Haus Darah Sepanjang Masa, 25 Tokoh Bisnis Terkemuka di Abad 20, dan lain sebagainya.

Pada penulisan biografi semacam ini, garis besar kehidupan tokoh biasanya diulas secara lengkap namun dalam porsi yang singkat.

Biografi Reguler yang Terperinci

Photo by cottonbro

Di samping biografi singkat, kamu juga dapat menulis biografi yang lebih lengkap, panjang dan terperinci. Pada penulisan ini, penulis akan menggambarkan masa kecil, pendidikan, tumbuh dewasa dan pencapaian-pencapaian tokoh secara lebih mendetail.

Bahkan, akan menjadi sebuah nilai tambah jika penulis biografi mampu pula menggambarkan sebuah peristiwa yang dialami tokoh tersebut secara lebih spesifik mulai dari dialog, perasaan, dan sudut pandangnya.

BACA PULA:

Perbedaan Biografi, Autobiografi dan Memoar

Photo by Jose Vargas

Menulis untuk menceritakan kehidupan seorang tokoh, publik figur atau anggota keluarga yang menonjol biasanya terdiri dalam tiga cara penceritaan yakni; biografi, autobiografi dan memoar.

Autobiografi dan memoar mungkin lebih dekat dari sisi penulisannya karena dilakukan oleh subyek langsung. Sementara biografi sendiri penulisannya dilakukan oleh orang lain.

Jadi, jika kamu bertanya mengenai cara menulis biografi diri sendiri, maka jawabannya adalah pada penulisan memoar dan autobiografi, bukan biografi.

Untuk lebih jelasnya, berikut adalah perbedaan antara biografi, autobiografi dan memoar.

SubyekMemoarAutobiografiBiografi
PenulisDilakukan langsung oleh subyek yang diceritakan.Dilakukan langsung oleh subyek yang diceritakan.Dilakukan oleh orang lain.
Cakupan PembahasanHanya berfokus pada satu periode tertentu dalam kehidupan subyekKomprehensif dan lengkap.Komprehensif dan lengkap.
Gaya PenulisanBerfokus pada pengalamanBerfokus pada peristiwaBerfokus pada peristiwa
StrukturLebih bebas sesuai keterampilan penulis.Biasanya kronologis.Biasanya ditulis secara kronologis.
PembacaUntuk merasakan sisi emosional pengalaman penulisUntuk mempelajari dan mengambil teladan dari sosok yang diceritakan.Untuk mempelajari dan mengambil teladan dari sosok yang diceritakan.
FilosofiLebih mengutamakan kebenaran emosional dibandingkan fakta peristiwa karena didasarkan pada ingatan penulis.Lebih mengutamakan akurasi peristiwa berdasarkan sumber-sumber dan riset.Lebih mengutamakan akurasi peristiwa berdasarkan sumber-sumber dan riset.

Apa yang Harus Ada dalam Penulisan Biografi?

Photo by Dmitriy Ganin

Sebagai sebuah manuskrip perjalanan hidup seseorang, biografi haruslah sangat lengkap dan komprehensif. Cara membuat biografi pahlawan, tokoh terkenal atau bahkan salah satu anggota keluarga yang dianggap menonjol, harus memuat fakta-fakta dalam kehidupan subyek secara lengkap.

Lantas, apa saja yang harus adalah penulisan biografi?

Kelahiran dan Masa Kanak-kanak Subyek

Memberikan detail bagaimana seseorang dibesarkan akan memberikan konteks historis yang lebih utuh kepada para pembaca. Pada bagian ini kamu dapat menuliskan dimana subyek biografi dilahirkan, kapan waktunya, adakah peristiwa menarik untuk diulas pada saat ia dilahirkan dan sebagainya.

Contohnya adalah; jika kamu menulis biografi seorang tokoh militer di Indonesia yang lahir pada kisaran tahun 1950-an, kamu dapat menambahkan kondisi politik dan militer di Indonesia pada saat ia dilahirkan.

Ini akan memperkuat karakter dan latar belakang subyek penulisan biografi.

Kehidupan Dewasa Subyek

Photo by Artem Beliaikin

Hampir 75% biografi akan bercerita tentang kehidupan dewasa subyek ketika ia mulai menemukan berbagai peristiwa penting yang membawa dirinya untuk dikenal masyarakat.

Kamu dapat berfokus pada berbagai peristiwa penting ini semacam titik balik besar dalam kehidupan subyek, perubahan hidup yang dramatis, awal hubungan dan lain sebagainya.

Kematian Subyek

Jika subyek penulisan biografi sudah meninggal dunia, pertimbangkan untuk menggambarkan peristiwa kematiannya dengan lengkap. Apa yang terjadi dengan orang-orang di sekelilingnya? Apa warisan terbesar yang ia berikan?

Cara menulis biografi orang tua yang sudah meninggal pun dapat kamu lakukan seperti ini. Kamu dapat menggambarkan secara nyata penyebab kematiannya, hari-hari terakhir dalam hidup subyek dan juga warisan apa saja yang ia tinggalkan bagi keluarga dan masyarakat.

Foto Subyek

Photo by Suzy Hazelwood

Dalam bentuk apa pun biografi akan didistribusikan, penting bagi kamu untuk menyertakan foto subyek. Semakin banyak koleksi foto yang kamu miliki maka semakin bagus. Namun, pilihlah beberapa foto yang mewakili peristiwa-peristiwa penting yang dialami oleh subyek.

Fakta atau Anekdot Tentang Subyek

Kamu dapat pula menemukan beberapa fakta menarik tentang subyek yang poinnya adalah supaya menarik perhatian bagi pembaca. Jika subyek memiliki cerita lucu masa kecil, tak ada salahnya kamu memasukkannya dalam biografi.

Kutipan Subyek

Jika subyek biografi adalah orang yang telah menjadi subyek pada banyak hal seperti penulisan buku, artikel, berita dan lain sebagainya, maka pertimbangkan untuk menuliskan pula beberapa kutipan yang menggambarkan pandangan subyek tersebut.

BACA JUGA:

7 Contoh Biografi yang Menarik dan Populer

Source: Wardah Books

Dalam dunia penulisan biografi, mungkin sudah ada jutaan buku yang telah ditulis manusia. Namun di antara biografi yang demikian banyak itu, 7 contoh menulis biografi berikut ini adalah yang dianggap paling populer;

  1. Muhammad; His Life Based on the Earliest Source karya Martin Lings atau Abu Bakar Siraj ad-Din.
  2. Muhammad; A Prophet for Our Time karya Karen Amstrong
  3. The 100; A Rangking of the Most Influental Person in History karya Michael Hart (ini adalah salah satu contoh dan cara menulis biografi singkat yang menarik)
  4. Into the Wild karya John Krakauer berkisah tentang seorang pemuda yang mencari jati diri dengan bertualang dan tewas di Alaska.
  5. A Beautiful Mind karya Sylvia Nazar yang mengangkat perjalanan hidup seorang ahli matematika bernama John Nash.
  6. Alan Turing; The Enigma karya Andrew Hodges yang berkisah tentang Alan Turing yang memecahkan kode dalam pesan rahasia selama perang dunia II.
  7. Churchill; A Life yang ditulis oleh Martin Gilbert

Cara Menulis Biografi dalam 7 Tips Sederhana

Setelah kamu memahami apa saja yang diperlukan dalam menulis biografi, apa contohnya dan apa pula perbedaannya dengan memoar, sekarang adalah waktu untuk mengeksekusinya.

Nah, ini adalah 7 tips yang dapat kamu terapkan.

Mintalah Izin

Photo by Allysa Putri Oktaviani

Hal pertama yang harus kamu lakukan sebelum mulai menulis biografi adalah dengan meminta izin kepada subyek untuk ditulis biografinya. Permintaan izin ini mungkin bisa diabaikan jika subyek penulisanmu sudah meninggal atau ia adalah tokoh masyarakat yang sudah terkenal.

Dengan meminta izin, proses penggalian informasi dan riset penulisan akan jauh lebih mudah untuk dilakukan. Bahkan jika subyek yang masih hidup bersedia dituliskan biografinya, kamu juga akan mendapatkan detail yang lebih menarik langsung dari sumber utama.

Dah itu sudah pasti akan membuat penulisan biografimu menjadi lebih kaya.

Lakukan Riset Menyeluruh

Photo by Ron Lach

Ini adalah bagian yang tidak mudah dalam menulis biografi.

Namun, kamu tidak bisa menulis biografi siapa saja tanpa melakukan ini. Riset atau penelitian sumber-sumber penulisan adalah hal wajib yang harus dilakukan, terlepas dari seberapa pun banyaknya hal yang kamu ketahui tentang subyek.

Sumber utama adalah subyek biografi itu sendiri, dan ia adalah yang paling layak diandalkan sebagai sumber riset. Sumber utama yang berasal dari subyek dapat saja berupa email, wawancara, jurnal pribadi, dan lain sebagainya.

Sumber utama lain yang bisa digunakan sebagai cara menulis biografi seorang tokoh adalah situs web pribadi, akun media sosial, biografi profesional dan lain semacamnya. Intinya adalah; segala sesuatu yang bersumber dari subyek langsung, dapat kamu jadikan sebagai sumber utama dalam penulisan biografinya.

Untuk sumber sekunder sendiri kamu misalnya dapat menggunakan informasi dari majalah, surat kabar, berita, interview dengan orang-orang yang mengenal subyek dan lain sebagainya. Selama informasinya akurat dan benar, sumber itu dapat kamu gunakan.

Bab Pertama Istimewa

Photo by Karolina Grabowska

Pada bagian awal atau bab pertama, kamu sebaiknya memberitahu pembaca apa yang akan mereka pelajari dalam biografi yang kamu tulis tersebut. Pada bagian ini kamu dapat membuat simpulan-simpulan ringkasan mengenai suatu peristiwa yang dialami subyek yang juga akan memiliki pengaruh kepada pembaca.

Ini bukan hal wajib dalam biografi, terutama dalam tata cara menulis biografi singkat. Akan tetapi dalam penulisan biografi yang panjang dan terperinci, kamu sebaiknya melakukan ini,

Jadi pada bab pertama, gambarkan secara jelas kepada pembaca apa saja yang mereka dapatkan dalam biografi subyek yang kamu tulis tersebut.

BACA JUGA:

Susun Kronologi dalam Timeline

Source: Speeli

Penulisan biografi dan autobiografi hampir selalu menggunakan struktur kronologis yang teratur. Nah, untuk membuatnya lebih mudah dituangkan dalam penulisan, kamu dapat membuat timeline subyek berdasarkan peristiwa-peristiwa menarik yang dialaminya.

Mengetahui berbagai urutan peristiwa yang dialami subyek akan menghindarkan kamu dari kerumitan mengatur ulang semua cerita.

Jadi, buatlah timeline-nya terlebih dahulu.

Perkaya dengan Flashback

Photo by RODNAE Productions

Flashback dalam penulisan apa pun, termasuk juga biografi, sudah pasti akan menginterupsi jalannya cerita. Jadi, memang harus dilakukan dengan hati-hati.

Tanpa pertimbangan yang matang, flashback yang tidak tepat justru akan menghadirkan bagian eksposisi yang seolah membuat alur menjadi terhenti. Flashback seperti ini dalam penulisan apa pun yang kamu lakukan, sudah sepatutnya untuk dihindari.

Namun flashback dalam menulis biografi tidak dilarang, bahkan itu akan membuat penulisan menjadi lebih kaya. Tipsnya adalah; kamu harus mampu menemukan relevansi yang kuat antara momentum peristiwa dewasa subyek dengan materi flashback yang akan ditampilkan.

Dengan cara ini, flashback akan membuat karakter subyek lebih mengena di benak pembaca. Sementara di saat yang sama, juga tidak akan mengganggu alur cerita.

Sertakan Pemikiran Kamu Sendiri

Photo by Dmitriy Ganin

Menulis biografi bukanlah transaksional fakta yang kaku. Sebagai penulis, kamu juga dapat berbagi pendapat, perasaan, pandangan dan sikapmu sendiri terkait dengan momentum dalam kehidupan subyek yang diceritakan.

Jika subyek melakukan seuatu yang penting, jelaskan pandangan kamu mengapa itu dinilai penting? Mengapa peristiwa tersebut dapat demikian berpengaruh dalam sudut pandangmu? Lantas, apa pula implikasinya bagi kehidupan masyarakat secara keseluruhan?

Menuangkan pemikiran sendiri dalam penulisan biografi tidak dilarang. Bahkan pada konteks yang lebih masuk akal, bagian inilah yang menjadi kunci dimana kamu mampu menjelaskan mengapa subyek layak untuk ditulis biografinya dan membawa orang-orang untuk mempelajari kehidupan mereka sampai bab yang terakhir.

Buka dengan Quote

Photo by Polina Kovaleva

Quotes atau kutipan adalah hal yang menarik. Ini bukan hanya sekedar susunan kata-kata indah yang tampak memiliki makna mendalam. Namun, dalam sudut pandang pembaca yang lebih bijak, quote adalah ruh yang melingkupi bagian-bagian penting terkait pandangan general subyek biografi.

Saya menyukai quote dan dalam hampir semua buku yang saya tulis, saya sering menyertakannya.

Kamu Tertarik Menulis Biografi?

Source: Penulis Gunung

Menulis biografi bukan hanya menceritakan kehidupan orang lain untuk dipelajari oleh pembaca. Namun, proses ini juga menjadi upaya transfer keteladanan dan nilai-nilai luhur dari sosok unggul kepada generasi setelahnya.

Saya juga menulis biografi, dan salah satu karya biografi saya yang cukup populer adalah tiga jilid buku yang berjudul; Maut di Gunung Terakhir, Gunung Kuburan Para Pemberani dan Hari Terakhir di Atas Gunung.

Ketiga buku itu merupakan paket dari buku One Last Climb yang bercerita tentang kematian para pendaki terbaik dunia di atas gunung. Buku-bukunya sendiri bisa kamu dapatkan disini.

Nah, jika kamu sendiri tertarik untuk menulis biografi, kamu bisa melakukannya bersama saya. Insya Allah saya akan membantu kamu dalam kelas menulis yang saya bimbing. Kamu dapat memilih untuk kelas reguler, kelas khusus, atau pun kelas writing coaching yang lebih terarah.

Saya akan membantu kamu sampai naskahmu siap untuk diterbitkan!

Jadi, jangan ragu untuk menghubungi saya sekarang, ya.

BACA PULA:



anton sujarwo

Anton Sujarwo

Saya adalah seorang penulis buku, content writer, ghost writer, copywriters dan juga email marketer. Saya telah menulis 15 judul buku, fiksi dan non fiksi, dan ribuan artikel sejak pertengahan tahun 2018 hingga sekarang.

Dengan pengalaman yang saya miliki, Anda bisa mengajak saya untuk bekerjasama dan menghasilkan karya. Jangan ragu untuk menghubungi saya melalui email, form kontak atau  mendapatkan update tulisan saya dengan bergabung mengikuti blog ini bersama ribuan teman yang lainnya.

Tulisan saya yang lain dapat dibaca pula pada website;

Saya juga dapat dihubungi melalui whatsapp di tautan ini.

Fortopolio beberapa penulisan saya dapat dilihat disini:


APA ITU MEMOAR DAN BAGAIMANA MENULISKANNYA DENGAN MUDAH?

Ketika seseorang merasa salah satu kenangan dalam hidupnya berarti dan penting, ia mungkin akan tertarik untuk menuliskannya menjadi cerpen atau novel. Menulis kisah hidup menjadi sebuah karya sastra adalah definisi sederhana apa itu memoar. Namun memoar tentu saja, jauh lebih menarik daripada sekedar penulisan semacam itu.

Menulis memoar secara teori seharusnya lebih mudah dibandingkan misalnya dengan menulis fiksi. Kamu tidak perlu repot-repot mengarang cerita, membangun konflik, menentukan karakter dan lain sebagainya. Sebagai kisah nyata yang terjadi dalam kehidupan kamu sendiri, memoar tidak memiliki tokoh protagonis selain dirimu sendiri.

Namun ternyata menulis memoar tidak sesederhana kelihatannya. Ini adalah sebuah keterampilan menulis yang bahkan sangat membingungkan bagi beberapa orang.

Nah, artikel kali ini akan membahas penulisan memoar secara spesifik yang dimulai dengan pertanyaan paling awal berupa: Apakah itu memoar?

Kamu punya kisah menarik untuk ditulis menjadi buku tapi bingung cara menuliskannya?

Coba konsultasikan disini

Apa Itu Memoar?: Pengertian dan Penjelasannya

Photo by Suzy Hazelwood

“Tidak ada penderitaan yang lebih besar daripada menanggung cerita yang tak terungkapkan di dalam dirimu”

Maya Angelou

Jika kita membahas apa itu memoar dalam bahasa Indonesia? Maka kita mungkin akan menemukan pengertian yang panjang dan komprehensif. Akan tetapi pengertian memoar sendiri dapat disederhanakan sebagai sebuah kisah nyata yang diceritakan dengan baik dan menarik, seperti pada penulisan fiksi.

Berdasarkan asal katanya, memoar atau memoir disarikan dari kosakata bahasa Perancis yang artinya sendiri adalah; Sesuatu yang ditulis untuk diingat atau dibuat menjadi memorable.

Supaya sebuah tulisan dapat disebut sebagai memoar atau memoir, syarat pertamanya adalah ia harus non fiksi. Selanjutnya memoar juga haruslah berdasarkan ingatan penulisnya yang menjadi karakter utama memoar. Dan yang terakhir, point of view memoar adalah harus dari sudut pandang penulisnya sendiri.

Jadi, memoar adalah sebuah bagian penting dalam kehidupan seseorang yang dituliskan dari sudut pandang pelaku kejadian itu sendiri. Sudut pandang memoar adalah sudut pandang kamu sendiri sebagai orang yang mengalami kejadian tersebut.

Apakah Memoar Sama Dengan Autobiografi?

Photo by Adil

Pada satu titik dan pengertian, memoar terdengar seperti autobiografi. Namun sesungguhnya ini adalah dua karya sastra yang berbeda. Ada beberapa hal penting dalam penyusunan memoar yang  membuatnya tidak sama dengan sebuah autobiografi.

Untuk memperdalam pemahaman tentang memoar itu artinya apa dan apa saja cakupannya? Tidak bisa tidak, kita harus membandingkannya dengan autobiografi.

Seperti yang sudah kamu tahu, autobiografi adalah sebuah penulisan karya sastra paling populer untuk menceritakan kisah diri sendiri. Meskipun demikian, memoar yang juga membahas hal yang sama dalam aplikasinya, setidaknya memiliki lima perbedaan paling mendasar jika dibandingkan dengan autobiografi.

Lantas, apa saja yang membedakannya?

Contoh Memoar serta 5 Perbedaan Penting Antara Memoar dan Autobiografi

Source: Penulis Gunung

Apa itu makna memoar secara sejati mungkin dapat saya ambil contohnya secara langsung melaui 3 judul buku karya saya sendiri.

Buku memoar pertama saya tentu saja adalah Islamedina Si Wajah Cahaya yang terdiri dari dua jilid dengan tebal lebih 750 halaman. Sementara memoar saya yang kedua adalah Mimpi Di Mahameru yang lebih kurang isinya terdiri dari 200 halaman.

Baik novel Islamedina Si Wajah Cahaya atau Mimpi Di Mahameru ditulis berdasarkan kisah pribadi saya sebagai pelakunya dan diceritakan pula dari sudut pandang saya sendiri. Dalam konteks ini, novel Islamedina Si Wajah Cahaya dan Mimpi Di Mahameru adalah bentuk aplikatif sempurna dari pengertian memoar dan contohnya.

Ketika syarat non fiksinya terpenuhi, kemudian ia ditulis pula dengan bahan baku dari kisah yang terjadi pada diri kamu sendiri dan melalui sudut pandang kamu sendiri, maka ia bisa disebut memoar sekaligus autobiografi. Namun khusus untuk buku Islamedina Si Wajah Cahaya dan Mimpi Di Mahameru yang sudah saya terbitkan, maka tentu saja ia adalah memoar.

Mengapa bisa demikian?

Lalu apa yang membuat memoar berbeda dengan autobiografi?

Nah, 5 hal berikut inilah yang menjadi pembedanya.

Struktur Penulisan

Photo by Pixabay

Dalam penulisan autobiografi, kisah yang diceritakan pada umumnya adalah lengkap dan komprehensif. Untuk mendapatkan kesan yang sempurna bagi pembaca, penulisan autobiografi hampir selalu bersifat kronologis.

Penulisan autobiografi bagaimana pun caranya, akan diawali dengan rentetan kejadian dari lahir, tumbuh, dewasa kemudian mencapai titik dimana saat ini sang penulis autobiografi berada. Dengan struktur penceritaan yang lengkap semacam ini, kronologis atau berurutan adalah yang paling tepat untuk penulisan autobiografi.

Nah, itu tidak terjadi dengan penulisan buku memoar.

Meskipun tidak se-komprehensif autobiografi, namun menulis memoar membutuhkan ide yang jauh lebih besar. Dalam penulisan ini kamu harus dapat menangkap dan menyajikan ide cerita yang jauh lebih besar dan dikemas dalam tema tertentu seperti kesedihan, kedewasaan, kehilangan, penemuan jati diri dan lain sebagainya.

Dengan pesan yang jauh lebih tematis seperti ini, maka penulisan memoar harus dilakukan dengan kreativitas supaya pesan ceritanya dapat sampai kepada pembaca. Untuk tujuan ini, struktur kronologis bukan hal yang mutlak dalam penulisan memoar.

Cakupan Pembahasan

Photo by Svetozar Milashevich

Perbedaan kedua antara memoar dan autobiografi adalah ruang lingkup pembahasan.

Dalam penulisan memoar, cakupan pembahasan sangat lengkap dan komprehensif. Penulis akan bercerita bagaimana ia dilahirkan, bagaimana ia menghabiskan masa kecilnya, bagaimana ia menempuh pendidikan dan bagaimana pula ia kemudian sampai pada posisinya sekarang yang mungkin penuh gambaran pencapaian.

Nah, hal ini berbeda dengan memoar.

Memoar hanya akan berfokus pada periode tertentu dalam kehidupan penulis.

Memoar tidak akan akan menceritakan kronologis kehidupan penulisan dari A hingga Z. Seperti pengertian awalnya, bagian tertentu dari kehidupan yang dianggap memiliki nilai untuk diceritakan adalah yang akan ditulis dalam memoar.

Buku Islamedina Si Wajah Cahaya adalah contoh memoar pribadi yang sangat tepat menggambarkan. Dalam buku yang terbagi dalam dua jilid tersebut, saya fokus bercerita fase kehidupan saya antara tahun 2014 hingga 2016. Periode itulah yang saya ceritakan sewaktu Islamedina masih dalam pelukan saya.

Gaya Penulisan

Photo by Ena Marinkovic

Perbedaan memoar dan autobiografi selanjutnya dalam hal gaya penulisan. Autobiografi atau otobiografi akan memprioritaskan pada peristiwa yang terjadi sepanjang kehidupan penulis. Sementara memoar akan menempatkan prioritasnya pada pengalaman apa yang dimiliki penulis terkait dengan peristiwa tersebut.

Ketika menfokuskan pada pengalaman, maka cakupannya akan jauh melampaui peristiwa semata. Dalam pengalaman, kamu juga diharuskan mendayagunakan perasaan, pikiran, refleksi, feeling, imajinasi, intuisi dan lain sebagainya.

Kebutuhan penulisan memoar yang priotitasnya ada pada pengalaman memaksa penulisnya untuk melangkah lebih jauh dari sekedar penulisan formal. Artinya, penulis memoar pun dapat menggunakan teknik penulisan fiksi untuk menggambarkan dialog, adegan atau pun bagian cerita yang lainnya.

Filosofi

Photo by Charlotte May

Penulisan autobiografi bagaimana pun akan berpijak pada fakta dan data-data yang dimiliki. Sebaliknya dalam penulisan memoar, landasan utama penulisan adalah ingatan atau memori yang dimiliki oleh penulis itu sendiri.

Ingatan manusia tentu saja tidak dapat diandalkan akurasinya untuk penyajian fakta-fakta yang komprehensif. Untuk itulah kemudian, memoar akan meminta pembaca untuk tidak terlalu fokus kepada faktanya melainkan kepada kebenaran emosionalnya.

Bahkan pada kesempatan tertentu kadang-kadang, penulis memoar akan secara sengaja meragukan ingatan mereka dan menyampaikan kepada pembaca. Namun pada kesempatan yang sama, penulis memoar juga akan menekanan kebenaran emosionalnya.

Pembaca

Photo by cottonbro

Ketika pembaca memilih autobiografi, mereka mungkin sedang berusaha untuk mempelajari hal tertentu dan sosok-sosok yang populer, menonjol dan terkemuka. Namun ketika pembaca memilih memoar, maka sudah pasti mereka ingin mengalami secara emosional kisah yang diceritakan dalam memoar yang dikemas dalam tema-tema tertentu.

Berdasarkan orientasi pembaca ini, maka memoar cenderung lebih intim, lebih pribadi dan lebih kuat menjalin konektivitas pada perasaan pembaca.

Nah, itu pula alasannya mengapa setiap orang pada hakikatnya dapat menulis memoar.

7 Langkah Menulis Memoir Dengan Mudah

Photo by Ann H

Setelah perbandingan dan perbedaan antara memoar dan autobiografi di atas, sekarang mungkin saatnya bagi kamu untuk menulis memoar.

Namun pertanyaan paling pentingnya adalah; Bagaimana melakukannya?

Nah, untuk membuatnya lebih mudah dan sederhana, kamu cukup melakukan 7 langkah berikut ini saja.

Gunakan Formula ‘Saya Ingat’ untuk Menghasilkan Ide Memoar

Photo by Lisa

Bagaimana pun juga pada banyak bidang, memulai adalah bagian yang paling sulit. Termasuk juga mungkin dalam penulisan memoar.

Kamu mungkin memiliki banyak kenangan istimewa namun justru bingung memilih yang mana yang paling layak untuk dijadikan sebagai memoar. Jika itu yang terjadi, kamu bisa gunakan formula ‘Saya Ingat’ yang bisa membantu kamu untuk memilih mana kenangan yang paling banyak bermain dalam pikiranmu.

Jadi, kamu hanya perlu membuat daftar yang kalimat pertamanya adalah menggunakan kata “Saya Ingat”.

Contohnya begini;

  • “Saya ingat ketika pacar pertama saya memberi saya kado ulang tahun. Itu adalah kado ulang yang pertama dan satu-satunya sepanjang hidup saya”
  • “Saya ingat bagaimana pelukan terakhir yang diberikan oleh ibu saya sebelum saya merantau ke luar kota dan tidak pernah berjumpa lagi dengan beliau untuk selamanya”
  • “Saya ingat tidak ada satu haripun selama perjalanan itu kecuali saya dan dia bertengkar. Benar-benar menyebalkan”

Kamu dapat membuat daftar seperti itu lebih panjang kemudian memilih mana di antara daftar kenangan tersebut yang paling membekas dalam benakmu. Pilih kenangan yang paling kuat memberikan pengaruh emosional dalam dirimu. Dan itu adalah memoar yang paling tepat untuk kamu tuliskan.

Sesederhana itu saja formulanya.

Lupakan Kronologis, Mulailah dari yang Paling Kuat

Photo by Sofia Alejandra

Seperti yang sudah disampaikan dalam strukrur penulisan antara autobiografi dan memoar, maka kamu harus mempraktikkannya disini.

Dibandingkan memulai penulisan memoarmu dengan awalan “pada mulanya, pada suatu hari, atau awalnya”, maka pilihlan untuk langsung menulis bagian yang paling kuat mempengaruhi emosionalmu. Bagian mana dari kenangan yang kamu tidak bisa berhenti memilikirkannya, maka mulailah dari sana.

Dengan memulai dari yang paling kuat, kamu akan dapat memanfaatkan momentum penulisan yang akan lebih mudah untuk diawali. Pada banyak kasus, ini akan membuat para penulis memoar yang baru mencoba menulis untuk pertamakalinya, menjadi lebih mudah menuangkan ide mereka.

Naskah Pertama Selalu Payah

Photo by Brett Jordan

Penulis profesional sekali pun, hampir selalu menghasilkan naskah pertama yang ‘payah’ dalam pekerjaan mereka.

Jadi masksudnya disini adalah, jika naskah awal yang kamu tulis itu terasa sangat aneh, tidak rapi, penuh kesalahan ketik atau typo, tidak teratur dan terdengar kacau, maka itu bagus! Kamu sudah melangkah di jalan yang benar.

Pesan konkritnya adalah jangan mengkhawatirkan naskah pertamamu.

Naskah pertama dalam penulisan apa pun akan selalu demikian, oleh karena itulah ia membutuhkan editing dan revisi. Hal yang paling penting dalam tahap penulisan naskah adalah keep writing. Terus menulis hingga naskahnya sendiri selesai.

Ada pun segala bentuk ‘kekacauan’ yang terjadi didalamnya, nanti kamu akan memiliki waktu yang banyak untuk memperbaikinya.

Beri Waktu Jeda

Photo by Artem Beliaikin

Jika naskah awal buku memoarmu sudah selesai di tulis, maka masukkan ia ke dalam lemari dan kunci setidaknya dalam waktu satu atau dua minggu. Bahkan jika kamu tahan, jangan membacanya sampai setidaknya satu bulan.

Lho, kok begitu?

Setelah hari-hari yang melelahkan untuk menulis naskah, biarkan pikiranmu istirahat sejenak. Biarkan pikiran dan benakmu segar kembali dengan tidak terbayang-bayang oleh kata-kata yang mungkin sudah kamu tetaskan di atas memoarmu. Semakin segar pikiran kamu, maka semakin baik untuk memoarmu nantinya.

Jarak ini disebut sebagai waktu jeda kritis antara menulis dan melakukan revisi.

Dengan mengambil masa jeda yang cukup, pikiran kamu akan lebih terbuka, lebih detail dan lebih mudah untuk melalukan editing dan revisi selanjutnya.

Baca Kembali Naskah Memoarmu

Photo by Thought Catalog

Setelah masa jeda berakhir, kamu boleh kembali membuka file dimana kamu menulis naskah memoarmu. Sekarang kamu dapat membaca ulang tulisan kamu tersebut, dan memberi catatan beberapa hal penting yang mungkin kamu temukan.

  • Apakah pesan perasaan yang ingin kamu sampaikan dalam buku memoar tersebut sudah sampai?
  • Apakah ada kalimat yang ambigu dan terasa membingungkan?
  • Apakah ada bagian-bagian yang tidak tersampaikan dengan baik? Atau sebaliknya; adakah bagian yang mungkin terdengar berlebihan?
  • Apakah struktur penulisan yang kamu gunakan cukup bagus dan mudah dipahami?
  • Dan lain-lain.

Dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan semacam itu, kamu akan lebih mudah membuat catatan revisi untuk memoarmu.

Perbaiki Naskah Buku Memoarmu dan Ulangi Hingga Kamu Merasa Cukup

Photo by Michael Burrows

Banyak penulis, termasuk saya juga, sepakat bahwa tidak ada naskah yang sungguh-sungguh selesai.

Setiap kali membaca ulang naskah yang sudah direvisi berkali-kali itu, akan selalu saya temukan sesuatu yang ingin saya ubah, ingin saya tambahi, ingin saya kurangi, atau bahkan ingin saya hilangkan.

Jika hal itu diperturutkan terus menerus, maka memoar tidak akan pernah terbit.

Jadi, ada kalanya ketika sebuah naskah terasa cukup. Entah apakah didalamnya masih ada yang ingin diubah dan direvisi, namun intuisi sebagai menulis mengatakan dalam hati bahwa itu sudah cukup dan selesai.

Selesai dan saya tidak ingin merevisinya lagi.

Tidak ada angka ajaib dalam melakukan jumlah revisi dan editing naskah. Pelajari intuisimu dan dengarkan instingmu untuk memutuskan apakah naskah sudah selesai atau kamu memang harus melakukan revisi kembali.

Publikasikan!

Photo by Skylar Kang

Langkah terakhir setelah kamu melakukan perjalanan yang panjang untuk melakukan penulisan, baca ulang, revisi, editing dan lain sebagainya, sekarang setelah semuanya selesai, terbitkan memoarmu.

Kamu bisa menggunakan jasa penerbit mayor atau penerbit konvensional untuk menerbitkan memoarmu. Atau jika kamu ingin merasakan kemerdekaan yang lebih fleksibel dalam menulis dan menerbitkan kenangan berhargamu itu, pilihlah self publishing atau penerbitan mendiri.

Mengenai bagaimana melakukan penerbitan mandiri dengan metode self publishing, kamu bisa membaca panduannya disini.

Yuk, Tulis Memoirmu Bersama Kelas Menulis Online di Penulis Gunung ID

Source: Penulis Gunung

Menulis memoar atau kisah hidup pribadi bisa jadi sesuatu yang menantang dan sangat sulit untuk dilakukan. Apalagi jika ini adalah pertamakalinya kamu berkenalan dengan dunia menulis. Namun, bangunlah keyakinanmu bahwa semua orang bisa jika mereka serius ingin melakukannya.

Lihatlah kembali bagaimana kenangan dan memorimu mengajarkan pengalaman yang sekarang dapat kamu ceritakan dan, mungkin bisa menjadi pelajaran buat orang lain. Ini bukan hanya tentang cerita apa yang kamu sampaikan namun, bagaimana kamu menceritakannya.

Namun yang paling penting dari semua itu adalah; jangan pernah menyerah sampai kamu berhasil!

Jika kamu ingin menuliskan memoarmu dengan dipandu langsung oleh penulis berpengalaman, kamu tentu saja dapat menghubungi saya di nomor whatsapp dan kontak yang sudah disediakan.

Saya dengan senang hati akan membantumu.

Berani Coba?

Satu bulan bisa punya buku atas nama kamu sendiri

IKUTI KELAS ONLINENYA DISINI


anton sujarwo

Anton Sujarwo

Saya adalah seorang penulis buku, content writer, ghost writer, copywriters dan juga email marketer. Saya telah menulis 15 judul buku, fiksi dan non fiksi, dan ribuan artikel sejak pertengahan tahun 2018 hingga sekarang.

Dengan pengalaman yang saya miliki, Anda bisa mengajak saya untuk bekerjasama dan menghasilkan karya. Jangan ragu untuk menghubungi saya melalui email, form kontak atau  mendapatkan update tulisan saya dengan bergabung mengikuti blog ini bersama ribuan teman yang lainnya.

Tulisan saya yang lain dapat dibaca pula pada website;

Saya juga dapat dihubungi melalui whatsapp di tautan ini.

https://api.whatsapp.com/send?phone=6281254355648

Fortopolio beberapa penulisan saya dapat dilihat disini:


7 CARA MENULIS CERITA HANTU ATAU CERITA HOROR YANG MENARIK DAN EFEKTIF

Kamu pasti tahu jika salah satu genre cerita yang paling besar jumlah penggemarnya adalah horor. Hal ini memancing banyak penulis pemula yang bertanya; bagaimana cara menulis cerita hantu atau cerita horor dengan memanfaatkan jumlah pembaca yang besar ini? Nah, artikel yang ditulis kali ini akan menjawab pertanyaan tersebut.

Jadi sebenarnya, bagaimana cara menulis cerita horor yang bagus dan mampu merasuk pikiran pembaca?

Untuk genre cerita seperti ini, tentu saja semakin menakutkan semakin baik. Semakin tidak bisa tidur pembacamu karena terbayang-bayang sosok horor atau hantu yang kamu ceritakan, itu semakin bagus. Meskipun genre semacam ini terkesan ‘pasaran’, nyatanya tidak semua penulis horor mampu mengeksekusinya dengnan baik.

Tips dan Langkah Cara Menulis Cerita Hantu atau Cerita Horor

Photo by cottonbro

Salah satu hal menarik di Indonesia adalah ketertarikan masyarakatnya yang luar biasa tinggi terhadap kisah horor, hantu, supranatural dan metafisik. Di satu sisi, ini mungkin menumbuhkan budaya pemikiran irasional yang kurang efektif. Namun pada sisi yang lain, ini juga menumbuhkan minat literasi penulisan bertema horor yang besar.

Unsur cerita horor yang ditampilkan pada umumnya tidak banyak bergeser dari makluk-makluk gaib populer di Indonesia. Beberapa penulis yang lebih kreatif, kadang memadukan konsep cerita yang lebih kaya lagi, baik dari sisi plot, setting, karakter, hingga tema cerita.

Kamu mungkin masih banget bagaimana kisah KKN di Desa Penari yang sempat viral beberapa waktu lalu, bukan?

Kisah itu demikian menarik perhatian penggemar kisah horor di Indonesia. Perdebatan bahwa itu kisah nyata seperti pengakuan penulis, ataukah hanya kreativitas penulis saja yang terinspirasi dari sebuah cerita, menjalar di sosial media. Namun intinya adalah, kisah misteri tentang hantu di Desa Penari di Jawa Timur itu, sempat booming di kalangan pembaca digital di Indonesia.

Menariknya kemudian, cerita itu menginspirasi film horor dan penulisan bukunya sekaligus. Walaupun kamu pasti juga tahu bahwa kisah dengan memanfaatkan momen viral seperti ini umumnya tidak bertahan lama. Namun tidak dapat ditepis pula bahwa contoh cerita horor seperti KKN di Desa Penari adalah contoh betapa efektifnya pengaruh kisah horor pada masyarakat Indonesia.

Nah, kamu yang berminat untuk menulis novel horor, panduan berikut bisa kamu jadikan referensi.

BACA JUGA:

Pengertian Cerita Horor

Photo by Pixabay

Jika disebutkan cerita hantu, kamu tentu sudah dapat langsung menterjemahkannya sebagai cerita menyeramkan tentang makluk gaib yang tidak kasat mata. Secara eksplisit lagi cerita hantu dapat diterjemahkan sebagai cerita arwah seseorang yang sudah meninggal kemudian mengganggu orang yang masih hidup.

Namun ketika dikatakan sebagai cerita horor, maka definisinya bisa luas lagi terutama jika dilihat dari sisi siapa subjek yang menjadi tokoh horornya. Horor bisa terjadi karena ada gangguan makluk gaib, bisa karena perlakuan psikopat, phobia, dan lain sebagainya.

Akan tetapi baik cerita horor atau cerita hantu, secara sederhana dapat disimpulkan sebagai cerita yang mengetengahkan keseraman, ketakutan dan kengerian sebagai pesan utama cerita. Subjek dari keseraman dan ketakutan itu sendiri dapat bervariasi tergantung dari imajinasi dan kreativitas sang penulis sendiri.

Jenis-Jenis Cerita Horor

Mengelompokkan cerita horor memiliki kerumitannya tersendiri. Bahkan para penulis sendiri berbeda pendapat mengenai jenis-jenis yang ada.

Namun, berikut adalah jenis-jenis cerita horor yang paling umum dikenal dalam dunia kepenulisan dan novel.

Paranormal

Photo by Spencer Selover

Berdasarkan pengertian yang umum, paranormal seringkali didefinisikan sebagai ‘sesuatu yang melampaui hukum alam atau hukum kebiasaan’.

Beberapa contoh novel horor yang dapat dikategorikan dalam jenis paranormal misalnya adalah tentang hantu, setan, iblis, siluman dan lain sebagainya.

 Di Indonesia, kamu tentu saja dapat memasukkan cerita tentang kuntilanak, pocong, gondoruwo, tuyul dan sebagainya dalam jenis cerita horor yang pertama ini.

Supranatural

Photo by Steve

Nah, agak membingungkan juga sebenarnya karena pengertian supranatural dan paranormal seringkali diterjemahkan serupa, yakni sesuatu yang melawan hukum alam.

Namun supaya memudahkan kamu membedakannya, kamu bisa mengikuti definisi Brandon Cornett (penulis novel horor Purgatory) yang memasukkan kisah seperti vampir, manusia serigala, monster, puteri duyung dan  sejenisnya sebagai contoh cerita horor pendek (cerpen) atau pun panjang (novel) dalam lingkup genre horor supranatural.

Psikopat, Pembunuh Berantai dan Pembantai

Photo by NEOSiAM

Jenis horor satu ini tidak diperuntukkan untuk pembaca dengan hati dan perasaan yang ‘lemah’. Kamu sudah pasti tahu kan, jika tema novel horor semacam ini mempertontonkan kekejaman dan kebiadaban manusia dengan motivasi kegelapan yang sulit dipahami.

Contoh novel horor untuk kategori ini misalnya adalah; Psycho karya Robert Bloch dan Perawan Terakhir karya Riley Sager.

Psikologi

Photo by Vijay Putra

Ini adalah genre horor yang membingungkan dimana ketakutan dan kengerian yang terjadi diciptakan oleh pikiran karakternya sendiri. Sekali lagi, ini mungkin terasa samar dengan genre psikopat dan pembunuh berantai, seperti genre horor paranormal dan supranatural yang seolah berhimpitan.

Tidak ada monster atau hantu berkepala empat dalam genre ini. Akan tetapi sebagai gantinya, kamu akan menampilkan keseraman akan goa yang gelap, mata yang mengintai dari sudut kamar, rumah angker dengan suara menakutkan.

Intinya adalah semua keseraman ini bersumber dari permainan pikiran karaternya sendiri.

Pasca ‘Kiamat”

Photo by cottonbro

Secara sederhana, genre pasca kiamat ini disebut sebagai post-apocalyptic yang menampilkan kehancuran peradaban dunia oleh kekuatan atau entitas mengerikan. Kamu bisa menyebutkan zombie, vampir, wabah, atau yang sejenis dengan itu sebagai penyebabnya.

Ketegangan yang dimunculkan mungkin tidak seperti genre dimana hantu dan iblis menjadi fokus kengeriannya. Namun genre cerita horor pasca kiamat semacam ini kadang memberikan argumentasi kehancuran total yang lebih masuk akal dan lebih mengerikan.

Bukankah efek pandemi Covid-19 seperti sekarang jauh lebih menyeramkan dan massif daripada hantu?

Ini adalah salah satu bukti mengapa genre pasca-kiamat adalah salah satu genre horor yang sangat realistis.

Gotik

Photo by Oleg Magni

Jenis novel horor selanjutnya adalah gothic atau gotik. Genre satu ini umumnya berasal dari cerita di Eropa pada akhir abad 1700-an atau awal 1800-an. Gotik menampilkan perpaduan romansa dan horor, dan pada banyak tema, ini juga mencampurkan kondisi sosial masyarakat yang cukup rumit.

Banyak kejadian mengerikan dan menakutkan yang terjadi pada sekolah biarawati, atau ritual pengusiran roh masa sebelum renaisans.

The Woman in Black kaya Susan Hill adalah salah satu contoh prolog novel horor dari genre gotik yang cukup menarik untuk kamu baca.

BACA PULA:

Horor Kosmik

Photo by Dimitry Anikin

Jenis horor satu ini nampak aneh namun tidak kalah menakutkan. Kosmik horor lebih menekankan ketakutan manusia pada sesuatu yang tidak diketahui, tidak dipahami dan tidak ada unsur kemanusiaannya.

Ini pengertian horor yang aneh dan rumit, namun contoh cerita horor dengan kategori ini misalnya adalah The Ballad of Black Tom karya Victor LaValle.

Komedi Horor

Photo by Sam Pineda

Ini adalah jenis horor yang paling banyak diaplikasikan dalam berbagai cerita horor di Indonesia. Entah apakah itu campuran antara paranormal horor, suprantural horor atau bahkan psyco horor, unsur komedi hampir selalu ditampilkan.

Komedi horor adalah campuran antara komedi yang kadang ditampilkan dalam bentuk ‘kebodohan dan kevulgaran yang tidak sopan’ kemudian dipadukan dengan unsur menyeramkan.

Meskipun dianggap sebagai jenis horor dengan selera yang paling ‘rendah’, uniknya di Indonesia jenis ini adalah yang paling banyak peminatnya.

Dark Fantasy

Photo by Pixabay

Seperti halnya horor komedi yang merupakan kombinasi antara humor dan ketakutan, maka dark fantasy juga sama. Dalam dark fantasy, hal yang dipadukan adalah kegelapan yang seram dengan fantasy atau impian.

Makhluk-makhluk mitologi semacam naga yang memakan manusia, raksasa yang datang di tengah malam dan menguyah mimpi dan keceriaan anak-anak, kadang dimasukkan pula dalam genre yang satu ini.

Sci Fi Horor

Photo by Miriam Espacio

Ketakutan dan keseraman dalam genre horor satu ini adalah alien, makluk luar angkasa yang ganas dan tak terkalahkan, dan semacamnya. Beberapa orang tertarik untuk menyebut horor jenis ini sebagai fiksi ilmiah yang memasukkan unsur seram di dalamnya.

Khusus untuk sci fi horor, ini adalah ladang kosong yang masih sangat sedikit penulis menggelutinya.

Jadi, jika kamu adalah seorang penulis horor dan tidak tertarik ‘nyemplung’ dalam keramaian yang sudah terlalu umum, sci fi horor bisa jadi opsi yang menarik.

7 Tips Cara Menulis Cerita Hantu

Photo by Felipe Hueb

Setelah mengenal berbagai hal mengenai genre cerita horor di atas, sekarang adalah saatnya kamu mengambil pulpen dan kertas kemudian mulai menulis kisah horormu sendiri.

Menulis kisah horor kadang diartikan hanya sebatas kisah hantu dan mahluk gaib semata yang datang secara tiba-tiba di tengah malam dan udara dingin. Ini dilakukan sangat banyak penulis di Indonesia, menggambarkan cerita horor dengan gaya yang sama.

Nah, supaya lebih menarik, beberapa tips berikut ini mungkin akan membuatnya sedikit berbeda.

Gunakan Ketakutan Kamu Sendiri

Photo by Longxiang Qian

Langkah pertama cara membuat cerita horor di wattpad atau dimana pun kamu ingin menulis, adalah dengan menggunakan ketakutan kamu sendiri sebagai idenya.

Bagaimana maksudnya?

Apa yang kamu takutkan dari sesuatu yang bertemakan horor semacam ini? Apakah kegelapan? Ketinggian? Ruangan yang gelap dan tertutup? Kesepian dan kesendirian yang mencekam? Perairan terbuka yang dalam? Atau apa?

Apa pun itu, kamu bisa menggunakannya untuk mengangkat ketakutan cerita yang kamu tulis menjadi lebih kuat dan menggigit.

Jika ketakutanmu adalah tentang ketinggian, maka tulislah cerita horormu itu yang kengeriannya seperti halnya ketinggian yang menggentarkan hatimu. Kamu misalnya dapat melukiskan bagaimana napasmu yang hampir putus ketika dipaksa berjalan di atas jalan dengan lebar hanya 50 centimeter dengan  sisi salah satunya adalah jurang yang dalam dan gelap.

Atau jika ketakutanmu adalah tentang ruangan gelap dan tertutup, kamu mungkin bisa membayangkan setting cerita seperti goa, bekas galian tambang, atau bahkan terowongan panjang tak berujung.

Lukiskan semua ketakutanmu dengan lengkap. Bagaimana udaranya yang pengab seolah membekap mulutmu, hawanya yang dingin seakan membuat kamu menggigil , atau kekhawatiranmu jika sesosok makhluk menerkammu dari kegelapan dimana cahaya sama sekali tak bisa menyentuh matamu.

Gambarkan semua ketakutanmu itu dengan sempurna.

Pilih Hantu Sebagai Apa

Photo by cottonbro

Kesan apa yang kamu ingin pembacamu rasakan mengenai sosok hantu dan subyek ketakutan dalam novel horor yang kamu tulis?

Apakah kamu ingin pembacamu membencinya? Mencintainya? Atau hanya sekedar merasa takut dengan wujudnya yang seram dan kehadirannya di tengah malam?

Kamu tentu saja dapat memilih hantu sebagai sosok protagonis yang membalas dendam karena disakiti, seperti mayoritas ide cerita klise hantu di Indonesia yang datang bergentayangan karena ia dulunya adalah gadis baik hati yang diperkosa.

Atau kamu ingin membuat sesuatu yang lebih kaya lagi, dimana sosok hantu yang menjadi pusat horor adalah sesuatu yang ditakuti sekaligus jahat dan biadab?

Apakah hantu dalam ceritamu sebagai antagonis? Protagonis? Atau apa?

Tetapkan hal itu sebelum kamu menuliskannya.

Berikan Hantu Kisah Hidup yang Menarik

Photo by Alexandro David

Cerita horor dengan hantu yang datang secara tiba-tiba dan tanpa alasan, bukanlah jenis cerita horor yang menarik. Bagaimana pun juga misteriusnya sosok hantu, kamu harus memberi mereka masa lalu untuk menguatkan karakternya.

Kamu dapat memutuskan darimana sosok hantu dalam ceritamu berasal? Apakah ia pernah hidup sebagai manusia sebelumnya atau, ia adalah makluk jahat yang terlahir dari rahim iblis?

Jika ia adalah manusia, kamu dapat menambahkan lagi apa identitasnya; apakah ia laki-laki atau perempuan? Apakah ia tewas terbunuh ataukah bunuh diri? Berapa usianya? Mengapa ia menjadi sosok hantu yang menebarkan teror dalam ceritamu? Apa motivasi sosok horor itu sebenarnya.

BACA JUGA:

Gunakan Setting yang Tepat

Photo by Mike

Ini menarik dan kamu pastinya sudah sangat sering beradaptasi dengan hal ini.

Untuk pembaca Indonesia, kisah tentang vampir penghisap darah atau manusia serigala yang berubah di bulan purnama, mungkin tidak akan semenakutkan sosok pocong yang melompat-lompat di bawah serumpun batang pisang.

Lingkungan atau setting adalah sesuatu yang sangat krusial dalam penulisan cerita, termasuk cerita horor jenis apa pun. Setting, sperti yang mungkin sudah pernah kamu baca dalam artikel saya lainnya bahwa, tidak hanya tempat dan lokasi.

Kamu dapat menjadikan kepercayaan, kondisi politik, adat istiadat dan sosial budaya sebagai setting atau latar. Sesuaikan setting dengan jenis sosok horor yang kamu pilih yang harus pula dikorelasikan dengan target pembaca yang kamu sasar.

Indonesia, Malaysia, Brunei Darussalam mungkin akan familiar dengan gambaran sosok hantu seperti kuntilanak dan pocong. Namun di negara seperti Rusia atau Maroko, sosok ini tidak begitu menakutkan untuk dijadikan sentral horor.

Berikan Subjek Horor Beberapa Aturan

Photo by Phil

Bahkan hantu dan makhluk gaib pun membutuhkan aturan.

Ketika kamu menulis sebuah ceruta dimana satu karakter memiliki kekuatan yang tak terbatas dan tak memiliki aturan, maka dengan segera cerita itu akan menjadi membosankan. Begitu pula dengan unsur cerita horor, kamu pun harus memberi mereka batasan untuk membuatnya tetap menarik.

Aturan ini misalnya adalah bahwa sosok horor yang kamu ceritakan hanya muncul pada waktu-waktu tertentu, atau ia tidak bisa menyakiti manusia secara langsung melainkan menginsinspirasi manusia untuk mencelakakan diri mereka sendiri, dan lain sebagainya.

Sekali lagi, beri beberapa sosok horor itu aturan dan batasan.

Dasarkan pada Riset

Photo by OVAN

Beberapa penulis cerita horor mengakui bahwa mereka menulis berdasarkan riset yang cukup di lapangan atau pun melalui media lainnya. Bahkan penulis KKN di Desa Penari yang sempat viral itu mengklaim bahwa tulisannya adalah jenis cerita non fiksi horor yang terilhami dari kejadian nyata.

Memang sulit mempercayai hal ini tanpa mengajukan banyak pertanyaan. Akan tetapi yang pasti, sebuah kisah horor yang didasarkan pada riset dan bersumber pada sesuatu yang riil di dunia nyata (terlepas apakah ia fiksi murni atau tercampur dengan realitas) akan selalu lebih menarik untuk dibaaca.

Menariknya lagi, meskipun bukan termasuk novel yang utuh, cerita horor panjang seram seperti KKN di Desa Penari adalah cerita dimana penulisnya mampu menyampaikan berbagai narasi cerita yang unik dan diklaim diperolehnya dari berbagai sudut pandang.

Hindari Sesuatu yang Klise dan Terlalu Mudah Ditebak

Photo by Rene Asmussen

Nah, tips terakhir untuk kamu yang memiliki keinginan untuk menulis kisah horor adalah; hindarilah untuk membuat sebuah jalinan cerita yang klise, terlampau umum dan sangat mudah ditebak.

Kuntilanak yang menjadi hantu karena bunuh diri atau dibunuh setelah terlebih dulu diperkosa adalah contoh cerita horor yang klise. Pembaca akan mudah menebak jalan cerita semacam itu karena sudah terlalu sering mereka temukan.

Dalam penulisan cerita apa pun, kreativitas dan imjinasi memainkan peranan yang sangat vital, bahkan untuk sosok hantu sekali pun.

Carilah plot yang tidak terpikirkan sama sekali oleh pembaca atau mereka sama sekali tidak membayangkan jalan cerita ke arah itu.

Ini mungkin tidak mudah untuk dilakukan, namun itu jauh lebih baik daripada menulis cerita fiksi yang cerita itu sudah diceritakan oleh ratusan penulis horor lainnya dengan nama karakter dan setting yang berbeda-beda.

BACA JUGA:

Bagaimana Selanjutnya?

Photo by Lennart Wittstock

Pada dasarnya cara menulis cerita hantu atau novel horor tidak memiliki banyak perbedaan dengan menulis novel genre tertentu lainnya.

Namun, karena kamu memiliki ketakutan, keseraman dan kengerian sebagai unsur utama cerita, maka kamu harus memfokuskan diri untuk dapat menampilkannya unsur tersebut semaksimal mungkin.

Kunci kesuksesan kamu selanjutnya adalah kedisiplinan, berlatih dan terus-menerus menulis. Pada hakikatnya, penulis apa itu genrenya, tidak bisa mencapai kesuksesan dalam berkarya tanpa disiplin dan kerja keras.

Jadi, semangatlah untuk terus menulis!



anton sujarwo

Anton Sujarwo

Saya adalah seorang penulis buku, content writer, ghost writer, copywriters dan juga email marketer. Saya telah menulis 15 judul buku, fiksi dan non fiksi, dan ribuan artikel sejak pertengahan tahun 2018 hingga sekarang.

Dengan pengalaman yang saya miliki, Anda bisa mengajak saya untuk bekerjasama dan menghasilkan karya. Jangan ragu untuk menghubungi saya melalui email, form kontak atau  mendapatkan update tulisan saya dengan bergabung mengikuti blog ini bersama ribuan teman yang lainnya.

Tulisan saya yang lain dapat dibaca pula pada website;

Saya juga dapat dihubungi melalui whatsapp di tautan ini.

Fortopolio beberapa penulisan saya dapat dilihat disini:


CARA MEMBUAT KERANGKA NOVEL ATAU OUTLINE NOVEL DALAM 5 LANGKAH SEDERHANA

Baru-baru ini dalam kelas menulis online yang saya bimbing, seorang peserta bertanya tentang bagaimana cara membuat kerangka novel yang baik. Saya kemudian menjelaskan teknis membuat outline novel seperti biasanya. Menariknya, beberapa hari kemudian si peserta ini kembali menghubungi saya melalui nomor whatsapp.

Ternyata ia masih mengajukan pertanyaan yang sama yakni, mengenai cara membuat outline atau kerangka novel. Hal ini membuat saya memutuskan untuk secara khusus menulis artikel tentang menyusun kerangka atau outline novel berikut ini.

Nah, apa saja yang harus kamu ketahui tentang cara membuat kerangka novel atau outline novel?

Yuk, simak ulasannya berikut ini.

Panduan Cara Membuat Kerangka Novel atau Outline Novel yang Mudah dan Sederhana

“Pada akhirnya, karakter atau tokoh-lah yang akan menentukan alur cerita, bukan kerangka atau outline. Jadi, bebaskan sayap imajinasimu selama menulis walau pun kamu sudah memiliki kerangka”

A Wan Bong
Photo by Startup Stock Photos

Tidak semua penulis menggunakan outline dalam gaya menulis mereka. Penulis horor paling populer di dunia seperti Stephen King adalah salah satu orang tidak terbiasa dengan plotting. Namun orang seperti Dan Brown dan J.K. Rowling, justru menganggap outline sebagai sesuatu yang sangat penting dalam menulis cerita.

Kerangka novel adalah seperti denah arsitektur bagunan cerita yang utuh. Outline menjadi gambaran besar mengenai plot, karakter, scene, opening dan ending cerita. Layaknya sebuah peta yang lengkap dengan koordinat, outline akan memandu penulis untuk menulis always on the track.

Meskipun saat ini sudah berkembang banyak aplikasi membuat outline novel yang bisa kamu download dengan mudah, kamu juga harus tahu cara menyusunya secara alami. Dan tidak ada cara terbaik mengetahuinya selain memulainya secara komprehensif. Termasuk dengan memahami pengertian sebenarnya dari kerangka atau outline cerita itu sendiri.

Pengertian Kerangka Novel atau Outline Novel

Photo by pedro

Outline atu kerangka novel adalah sebuah dokumen yang didalamnya terdapat berbagai informasi penting tentang perencanaan penulisan novel. Informasi ini termasuk juga tentang struktur cerita, plot, alur, setting, karakter, dan lain sebagainya.

Outline novel ringkasnya, adalah seperti blueprint atau kerangka (seperti halnya tulang manusia) dari novel yang kamu tuliskan.

Contoh kerangka outline novel dapat memiliki bentuk yang bermacam-macam. Kamu bisa membuatnya dalam bentuk struktur umum, diagram, tabel atau apa pun saja. Outline novel lebih kepada peta pikiran visual mengenai poin-poin penceritaan yang kamu anggap penting.

Dalam membuat kerangka novel, setiap bagian atau poin, cukup kamu tulis dalam bentuk kalimat pendek saja. Poin-poin ini adalah bagian penting dalam momen ceritamu yang kemudian saling berhubungan satu sama lain dalam membentuk alur cerita.

Membingungkan?

Nanti kita akan lihat contohnya, ya.

Keunggulan Menggunakan Outline dalam Penulisan Novel

Photo by Oleg Magni

Dalam dunia kepenulisan, penulis yang menggunakan kerangka atau outline dalam menulis seringkali disebut sebagai plotters. Kata ini tentu saja berasal dari kata ‘plot’. Saya sendiri bahkan memberikan istilah ‘plotting’ dalam kelas menulis yang saya bimbing untuk pekerjaan membuat kerangka seperti ini.

Dari sisi keunggulannya sebagai metode menulis, penggunaan plotting cerita dengan membuat kerangka atau outline setidaknya memiliki 7 manfaat yang paling signifikan.

  • Menjaga cerita yang kamu tulis tetap di jalur yang sudah direncanakan.
  • Membantu penulis untuk memvisualisasikan gambaran cerita secara lebih mudah.
  • Memudahkan kamu untuk melihat arah dalam menyusun adegan cerita.
  • Mampu menyajikan karakter dengan cukup spesifik, termasuk tindakan mereka yang krusial misalnya.
  • Dapat berlaku seperti ‘senter’ ketika penulis mengalami kebutaan dan kebuntuan dalam proses menulis.
  • Memperjelas bagian tengah cerita yang jika tidak disusun, kadang-kadang seolah memunculkan kekacauan.
  • Untuk para penulis pemula, kerangka novel adalah peta yang membantu mereka mengenal jalan apa yang mereka harus mereka tempuh selanjutnya.

Kelemahan Menggunakan Kerangka Novel atau Outline

Photo by Monstera

Meskipun memiliki serangkaian keunggulan, membuat kerangka novel atau outline dalam cerita juga memiliki kelemahan yang oleh beberapa penulis, dianggap fatal.

Stephen King dan Margaret Atwood, dua orang yang disebut-sebut sebagai penulis yang ‘anti-outline’, mengatakan bahwa outline bisa saja bukan ide bagus dengan alasan sebagai berikut;

  • Jika diikuti terlalu dekat, outline bisa terlihat seperti formulasi atau desain yang menjadi jiplakan cerita.
  • Dapat membuat narasi cerita yang kaku karena sudah berfokus pada cetakan outline.
  • Dapat lebih banyak kepada pertunjukan semata dan miskin narasi cerita yang mampu membangkitkan imajinasi dan emosional pembaca.
  • Karakter dalam cerita bisa nampak tidak bertindak secara orisinil atau otentik melainkan hanya berdasarkan panduan plot semata.

Mana yang Terbaik; Menggunakan Outline atau Tanpa Menggunakan Outline?

Photo by Negative Space

Saya pernah membuat contoh kerangka novel pribadi pada buku ke-10 saya yang berjudul Islamedina Si Wajah Cahaya. Uniknya, saya menemukan apa yang disampaikan dalam dua hal di atas adalah benar sekaligus.

Keunggulan-keunggulan outline yang bisa menjadi road map, mampu menjadi pagar supaya cerita tidak keluar dari track, membantu penulis tetap bisa menulis meskipun sedang mengalami kebuntuan. Semuanya sempat saya alami sendiri ketika menulis novel Islamedina, baik untuk jilid pertama mau pun untuk jilid yang kedua.

Pada saat yang sama, saya juga menemukan bukti bahwa apa yang dikatakan oleh Stephen King dan Margaret Atwood juga benar.

Risiko narasi yang miskin, kaku dan nampak kurang otentik tetap membayangi sepanjang penulisan. Namun, karena ini bukan contoh kerangka novel fiksi yang saya sebagai penulis bisa mengembangkannya semau sendiri, saya tentu saja harus mengikuti kisah cerita yang orisinil.

Mengambil kesimpulan dari proses ini, sebagai penulis saya sepakat dengan pernyataan bahwa; Tidak ada cara yang mutlak benar dalam menulis novel.

Artinya, kamu boleh memilih untuk menggunakan kerangka atau memilih untuk tidak mengimplementasikannya. Pada akhirnya, hal ini hanya akan bergantung pada jenis penulis seperti apakah kamu dan, bagaimana gaya penulisan yang paling ideal untuk kamu lakukan.

Bagaimana Cara Membuat Kerangka Novel atau Outline Novel dalam 5 Langkah

Setelah kamu mengetahui berbagai hal mendasar tentang penggunaan outline novel atau kerangka cerita fiksi, sekarang adalah saat untuk mempraktikkannya.

Ini sebenarnya tidak akan begitu sulit, terutama jika  kamu dapat menerapkan 5 langkah paling mendasar berikut ini.

Tangkap dan Tetapkan Ide Besar Cerita (Premis)

Photo by Thilo Lehnert

Sesuai dengan namanya, ini adalah ide besar cerita. Namun dari ide ini juga nantinya, kamu dapat membuat contoh kerangka karangan novel dengan lebih mudah.

Daripada memikirkan formulasi yang membingungkan, cara yang sederhana dalam menangkap premis cerita atau ide besar cerita adalah dengan mengajukan pertanyaan berikut:

  • “Apa yang akan terjadi jika…”
  • “Selanjutnya apa yang mungkin akan berlaku kalau…”
  • Dan semacamnya.

Contoh mudahnya seperti ini;

  • “Apa yang akan terjadi jika seorang mantan penjahat memutuskan untuk bertobat namun ia dililit kemiskinan kemudian ada yang menawarinya pekerjaan sebagai pembunuh bayaran, dan dalam pekerjaan itu sahabat terdekat disiksa sampai mati?” (Jawabannya kamu bisa temukan dalam film Unforgiven yang dibintangi oleh Clint Eastwood)
  • “Selanjutnya apa yang akan berlaku kalau seorang gadis cantik diculik sementara ayahnya adalah seorang mantan marinir yang terbiasa bergaul dengan dunia hitam, sedangkan ia sendiri sudah bercerai dengan ibunya si gadis dan tinggal sendiri di apartemennnya (Taken yang dibintangi oleh Liam Neeson)

Kamu tentu dapat membuat lagi contoh yang seperti itu, bukan?

Photo by cottonbro

Intinya adalah, kamu menemukan dan menangkap ide besar cerita yang akan kamu tuliskan dalam satu kalimat seperti contoh di atas.

Untuk membantumu lebih mudah dalam menangkap premis dan mengubahnya menjadi contoh outline cerita, berikut beberapa pertanyaan yang bisa kamu ajukan;

  • Bagaimana situasi yang terjadi?
  • Siapa sebenarnya yang menjadi tokoh utama cerita?
  • Bagaimana tokoh utama cerita mengalami perubahan dari awal hingga ending novel?
  • Apa yang tokoh utama cerita itu inginkan sebenarnya?
  • Bagaimana tokoh utama cerita mencapai keinginannya? Apa yang ia lakukan?
  • Apakah ada yang menghalangi tokoh utama cerita dalam mencapai tujuannya?
  • Apa sebenarnya yang ingin kamu katakan pada pembaca? Apa pesan ceritamu sebenarnya?
  • Apa konflik terbesar dalam novel?

Tentukan Setting atau Latar Cerita

Photo by Taryn Elliott

Setelah kamu mendapatkan premis, hal selanjutnya yang bisa kamu lakukan sebelum membuat outline adalah dengan menetapkan setting atau latar cerita. Seperti yang kamu tahu, setting dapat berupa tempat, waktu, keadaaan sosial, adat istiadat, keyakinan atau agama, dan lain sebagainya.

Cara membuat outline novel fantasi mungkin tidak akan sama dengan novel fiksi sejarah dimana kamu menggunakan tempat yang nyata. Setting dalam penulisan cerita juga sangat bergantung pada jenis cerita separti apa yang kamu sedang tuliskan.

Jika kamu menulis novel historical fiction dengan setting nyata, kamu harus mampu melukiskannya dengan detail, rinci dan spesifik. Untuk kepentingan ini, kamu dapat melakukan riset sedalam mungkin, termasuk dengan misalnya menemukan foto, dokumen, atau pun yang menjadi gambaran komprehensif setting tersebut.

Cara membuat kerangka novel sejarah dengan setting nyata di dalamnya akan memberikan kamu tugas untuk mampu melukiskan settingnya secara lengkap. Apa yang terjadi pada masa itu, bagaimana karakter cerita menghadapinya, apa yang ia rasakan, apa yang dia lihat dan apa pula yang ia dengar.

Keseluruhan elemen itu akan mampu menggambarkan setting cerita yang lengkap.

Ketahui Karakter atau Tokoh Ceritamu

Photo by cottonbro

Langkah selanjutnya yang harus kamu lakukan lagi setelah setting adalah memvisualisasikan karakter atau tokoh ceritamu.

Jika tema novelmu adalah tentang persahabatan dan tujuan kamu sekarang adalah membuat contoh kerangka novel persahabatan, maka pada langkah ketiga ini kamu harus menjelaskan siapa saja karakter yang akan menjadi bintang dalam novel persahabatanmu.

Hal ini mungkin membutuhkan cukup banyak energi dan antusiasme untuk bisa diwujudkan. Namun sebagai tips-tips untuk membantumu, kamu bisa mengajukan beberapa pertanyaan berikut dalam pengerjaannya.

  • Siapa atau karakter yang mana yang akan menjadi pusat plot novel, yang semua jalan cerita dalam novel itu terkait dengan dirinya?
  • Siapa saja karakter atau tokoh pembantu yang kehadirannya hanya untuk mengisi setting dan melengkapi jalan cerita?
  • Perjalanan seperti apa yang akan dilakukan oleh setiap karakter dalam novel?
  • Pada bagian mana karakter tersebut akan kamu perkenalkan, dan pada bagian mana pula ia akan ditampilkan terakhir kali?
  • Detail apa dari karakter yang akan kamu tampilkan dalam novel dan mengapa kamu ingin menampilkannya?
  • Dan lain-lain.

Dengan mempertanyakan hal-hal tersebut, proses membuat contoh kerangka novel apa pun saja pada langkah visualisasi karakter atau tokoh akan menjadi lebih mudah.

Bangun Plot Novel

Photo by cottonbro

Saya biasanya berhenti pada bagian ini ketika membuat kerangka novel. Timeline berbagai kejadian yang akan diceritakan dalam novel, saya buat dalam poin-poin yang sederhana seperti struktur kelas, kemudian struktur tersebutlah yang saya ubah menjadi novel yang utuh.

Namun untuk membuat penjelasan tentang cara membuat kerangka cerita wattpadd, novel online, offline atau novel jenis apa pun ini lebih lengkap, maka saya ingin kamu juga menerapkan pembagian tiga hal berikut dalam langkah membangun plotnya.

Bagian Awal

Photo by Breakingpic

Bagian ini adalah bagian krusial yang penting untuk kamu dapat menarik perhatian pembaca.

Pada bagian ini kamu harus dapat memperkenalkan siapa saja tokoh cerita, siapa karakter protagonis yang akan menjadi pahlawan, siapa karakter antagonis yang akan menjadi penjahat, dan lain sebagainya. Di bagian awal cerita juga kamu harus mampu mengemukakan pertanyaan dramatis dalam cerita.

Intinya, bagian awal adalah bagian dimana semua yang akan terjadi dalam novel kamu perkenalkan kepada pembaca. Bagian ini sekali lagi, harus membuat pembaca menjadi tertarik.

Bagian Tengah

Photo by Gantas Vaiu

Terus terang, bagian tengah dalam mayoritas novel adalah bagian dimana ketegangan menguap, antusiasme menghilang dan potensi kekacauan seringkali terjadi.

Tapi jangan khawatir, ini terjadi pada hampir semua novel.

Bagian tengah memang seringkali menjadi pelandaian cerita yang justru terasa membosankan. Bahkan saya paling banyak menghadapi gejala writer’s block dalam menulis novel adalah ketika menulis bagian tengah novel.

Namun kabar bagusnya adalah ada satu tips yang bisa kamu lakukan untuk membuat bagian tengah ini tetap merangkak di ‘jalan yang benar’.

Tipsnya adalah dengan mengetahui klimaks atau bagian akhir cerita. Ini mungkin terdengar prematur, tapi dengan mengetahui bagaimana cerita dan novel yang kamu tulis akan berakhir, kamu akan tetap bisa mengatur bagian tengah untuk tetap berjalan pada rute yang jelas.

Bagian Akhir

Photo by Maria Orlova

Kamu tidak perlu membuat ending novelnya terlalu spesifik lebih dulu. Cukup dengan membuat pertanyaan saja misalnya;

  • “Bisakah Tatras mencapai Puncak Tebing Selatan gunung Merapi?” (Merapi Barat Daya – Anton Sujarwo)
  • “Apakah Zainuddin dan Hayati akan bersatu?” (Tenggelamnya Kapal Van Der Wick – Hamka)
  • “Apa yang Bharal akan peroleh setelah melakukan perjalanan hiking terpanjang di pulau Jawa ini?” (MMA Trail – Anton Sujarwo)

Membuat ending novel dan memilih mana jenis ending yang paling tepat untuk kamu gunakan, dapat kamu baca dalam artikel ini: 10 Jenis Ending Novel dalam Penulisan Novel.

Mulailah untuk  Menulis Adegan Novel

Photo by Jonathan Cooper

Bagian terakhir dari langkah dan cara membuat kerangka novel adalah dengan membuat scene atau adegannya.

Pada langkah ini kamu dapat menentukan adegan apa saja yang akan berlangsung pada satu bagian atau bab novel? Siapa saja karakter yang terlibat dalam adegan tersebut? Apakah ada interaksi dan reaksi yang kuat ataukah hanya dialog saja? Dimanakah latar yang digunakan? Apakah latarnya adalah waktu, tempat, budaya, agama, situasi politik, atau apa?

Jika dalam adegan tersebut ada dialog, kamu pun harus memastikan bahwa dialog itu tetap memiliki unsur penting dalam cerita dan tidak hanya menjadi ‘pelengkap kekacauan’ saja. Jika kemudian ada flashback, kamu harus memastikan bahwa flashback yang terjadi juga memiliki peran besar dalam menyempurnakan cerita novel.

Mengenai penulisan flashback dan pertimbangan apa saja yang perlu dilakukan sebelum memulainya, dapat kamu baca dalam artikel ini: Haruskah sebuah novel menggunakan flashback?

Bagaimana Selanjutnya?

Photo by Matthew DeVries

Setelah kamu mempelajari teknis dan panduan menulis kerangka novel atau outline novel dalam artikel ini, perlu juga untuk kamu tahu bahwa pada akhirnya karakter atau tokoh cerita-lah yang akan menentukan plot yang sebenarnya.

Sebagai penulis yang kaya akan intuisi, imajinasi dan insting, kamu juga tidak bijaksana jika sepenuhnya bergantung pada outline atau kerangka novel. Di tengah cerita dan penulisan sambil berpedoman pada garis besar cerita, kamu dapat mengikuti instingmu untuk menulis secara lebih bebas dan nyaman.

Mempelajari cara membuat kerangka novel adalah penting untuk memahami garis besar cerita. Akan tetapi bagaimana pun juga sekali lagi; karakter cerita-lah yang akan menentukan plot novelmu pada akhirnya.


anton sujarwo

Anton Sujarwo

Saya adalah seorang penulis buku, content writer, ghost writer, copywriters dan juga email marketer. Saya telah menulis 15 judul buku, fiksi dan non fiksi, dan ribuan artikel sejak pertengahan tahun 2018 hingga sekarang.

Dengan pengalaman yang saya miliki, Anda bisa mengajak saya untuk bekerjasama dan menghasilkan karya. Jangan ragu untuk menghubungi saya melalui email, form kontak atau  mendapatkan update tulisan saya dengan bergabung mengikuti blog ini bersama ribuan teman yang lainnya.

Tulisan saya yang lain dapat dibaca pula pada website;

Saya juga dapat dihubungi melalui whatsapp di tautan ini.

Fortopolio beberapa penulisan saya dapat dilihat disini:


APA ITU SHOW DON’T TELL DALAM PENULISAN FIKSI DAN CARA MUDAH MEMPRAKTIKKANNYA

Sulit bagi pembacamu untuk meletakkan buku yang kamu tulis jika kamu menggunakan teknik Show don’t tell. Penulisan dengan cara seperti ini, seolah menarik tangan para pembaca untuk masuk dalam cerita, merasakan setiap lekuk petualangan yang dilakukan oleh karakter yang kamu ceritakan.

Show don’t tell tentu saja sangat gampang secara teori. Kamu dan hampir semua orang sudah pasti paham maksudnya, bukan?

Tapi bagaimana dengan mengaplikasikannya dalam penulisan fiksi?

Tentu saja tidak sesederhana artinya. Bahkan penulis berpengalaman dengan jam terbang tinggi sekali pun, banyak yang masih gagal mempraktikkan show and tell dalam penulisan mereka.

Memahami Apa Itu Show Don’t Tell dalam Penulisan Fiksi dan Penulisan Umum

Photo by Amina Filkins

“Kita adalah penulis, Sayangku. Kita tidak menangis dengan air mata berurai, tapi kita bersimpah darah dengan kata-kata di atas kertas”

Anonim

Untuk dikatakan sebagai sebuah teknik, show don’t tell rasanya lebih jauh lagi perannya. Seorang penulis yang mampu mengaplikasikan apa itu show and tell dalam tulisan mereka, bukan hanya mampu membius pembaca untuk terus membaca, namun mereka juga mampu membuat pembaca hadir dalam cerita itu sendiri secara emosional.

Tentu saja mempraktikkan show don’t tell dalam penulisan tidak semudah mengucapkannya. Kamu akan membutuhkan waktu untuk berlatih keterampilan yang satu ini hingga mampu mempraktikkannya secara mahir.

Akan tetapi berita baiknya adalah; show don’t tell dalam penulisan itu seperti kemampuan membaca, bahwa sekali kamu mampu melakukannya, kamu tidak akan pernah lupa. Show and tell dalam menulis juga adalah sebuah keterampilan, yang artinya semakin sering kamu mengasahnya, maka semakin hebat pula kamu didalamnya.

Lantas apa sebenarnya keterampilan ini dan adakah contoh show don’t tell yang lebih mudah untuk dipahami?

Saya mengajak kamu untuk mempelajarinya lebih lanjut.

Perbedaan Antara Show and Tell

Photo by Karolina Grabowska

Sebagai seorang penulis kamu harus mampu memprovokasi pembacamu untuk merasakan pula bagaimana emosi yang kamu bangun dalam cerita.

Ketika kamu menulis tentang kesedihan dan kepedihan, kamu tentu ingin pembacamu merasakan hal yang sama, bahkan menangis dan berurai air mata. Sebaliknya, ketika kata-katamu adalah tentang tawa, bahagia dan canda, kamu juga ingin pembacamu untuk tersenyum, menarik napas lega serta berbinar-binar matanya.

Tapi pertanyaannya adalah; Bagaimana melakukan itu semua? Apa yang harus kamu lakukan?

Beberapa orang beranggapan bahwa teknik showing adalah rumus melakukan ini, persisnya keterampilan show don’t tell.

Nah, supaya lebih mudah untuk dipahami, pembahasan dua suku kata ini sendiri harus diterjemahkan secara terpisah.

Show atau Menunjukkan, Mempertontonkan dan Memperagakan

Photo by Amina Filkins

Show adalah sebuah ‘alat’ yang dipergunakan oleh penulis untuk menarik pembaca masuk dalam cerita yang mereka tulis. Dengan menggunakan show ini, penulis berusaha membangun hubungan yang kuat antara pembaca, setting dan karakter dalam cerita. Tidak ada tempat untuk penulis disini, penulis hanyalah orang yang menunjukkannya saja.

Kemampuan seorang penulis menunjukkan atau mempertontonkan adegan per adegan ceritanya kepada pembaca akan membawa pembaca untuk mandi dalam imajinasi mereka sendiri. Pembaca akan mengambil kesimpulan, menafsirkan, menduga bahkan memutuskan berdasarkan imajinasi dan interpretasi mereka sendiri.

Teknik showing ini laksana seorang operator layar tancap yang ia membentangkan kain kemudian menyorotinya dengan film.

Kamu mungkin tidak tahu siapa yang mengoperasikan film layar tancap, bagaimana ia memasang pitanya dan menghidupkan volume suara. Namun kamu pasti ingat film apa yang diputar karena kamu sendiri melihat dengan jelas adegan dalam film tersebut secara nyata di depan matamu.

Tell atau Memberitahu, Mengatakan dan Menjelaskan

Photo by cottonbro

Ketika kamu menggunakan gaya menulis dengan tell, maka kamu telah melakukan sebuah pencurian!

Hah, Pencurian?

Apa maksudnya?

Ya, saat seorang penulis hanya memberitahu pembacanya tentang sesuatu (tell not show), ia seumpama telah mencuri kesempatan para pembacanya untuk bertualang dan menemukan sesuatu dalam dunia yang ia ceritakan.

Pembaca kehilangan kesempatan mereka untuk menambahkan imajinasi mereka sendiri dalam bukumu. Interpretasi mereka tentang sesuatu objek, kondisi, pemikiran atau apa pun itu, menguap hilang seiring keputusanmu untuk memberitahu mereka apa yang terjadi.

Dalam pengertian yang lebih menarik, penulis yang hanya tell saja, seakan telah mengusir para pembaca mereka untuk keluar dari cerita. Ada sebuah batasan yang terbangun antara pembaca dengan cerita yang kamu tuliskan.

Dapatkah Penulis Menyeimbangkan Show and Tell dalam Cerita Mereka?

Source: slideplayer

Beberapa penulis pemula tertarik bertanya bagaimana cara agar showing dan telling seimbang dalam sebuah cerita?

Sulit untuk mengatakannya, namun kamu bagaimana pun juga, harus mengutamakan show dibandingkan tell. Kamu tidak bisa menakar keseimbangan ini secara spesifik, tapi yakinlah bahwa show akan jauh lebih baik untuk jenis kisah apa pun yang kamu ceritakan.

Ketika pembaca melihat cerita yang kamu tuliskan dari sudut pandang karakter atau tokoh, berat bagi mereka untuk meninggalkan bukumu hingga mereka menyelesaikannya. Pembaca seakan menyatu bersama karakter cerita, mereka melangkah dalam irama yang sama, mencium aroma yang sama, dan merasakan hal yang sama seperti yang dirasakan oleh karakter cerita.

Dalam pengertian ini, pembaca akan melihat, meraba, merasakan, mendengarkan dan juga memikirkan persis seperti berdasarkan karakter yang kamu ceritakan. Pembaca dalam hal ini adalah bagian dari cerita itu sendiri.

Untuk mampu mempraktikkan show secara sempurna dalam penulisan cerita, seorang penulis harus menyibak penutup emosi pembaca.

Hal ini tentu saja tidak mudah, namun coba perhatikan contoh teks show and tell berikut ini;

Photo by Aline Nadai

“Hujan telah turun, pakaian Usman dan Hania basah kuyup, mereka terus berjalan karena  lupa membawa payung”

Atau,

“Tidak ada payung, tidak ada tempat berteduh, dan tidak ada pula pilihan bagi Usman dan Hania selain terus melangkah. Butir-butir air yang semula seperti gemericik embun itu, sekarang menjelma laksana butiran jagung besarnya, memandikan rambut, wajah dan pakaian mereka”

Dua kalimat di atas mungkin bukan contoh paling sempurna showing dan telling tentang hujan. Namun coba saja kamu baca sekali lagi, mana di antara kedua kalimat itu yang akan melayangkan imajinasi kamu tentang hujan?

6 Tips Mudah Mempraktikkan Show Don’t Tell dalam Penulisan Cerita

Photo by Pixabay

Setelah memahami bagaimana show don’t tell begitu signifikan dalam penulisan cerita, pertanyaan paling pentingnya kemudian adalah; Bagaimana mengimplementasikannya dalam cerita yang ditulis?

Ini akan membutuhkan banyak perjuangan dan latihan, namun 6 tips berikut ini akan membantu kamu untuk bisa melakukannya dengan lebih mudah.

Jadi, ini adalah 6 hal yang bisa kamu lakukan.

Gunakan Panca Indera Karakter yang Kamu Ceritakan

Photo by diva Trajbariu

Untuk mendapatkan sentuhan show don’t tell yang pertama, kamu bisa menggunakan panca indera yang dimiliki oleh karakter ceritamu sendiri. Artinya adalah, kamu ajak pembacamu untuk berinteraksi dengan alur cerita melalu indera yang dimiliki oleh karakter cerita.

Untuk membuatnya lebih mudah, tips show and tell bisa kamu praktikkan dengan membuat daftar apa saja yang karakter kamu terima melalui panca inderanya.

  • Mata, apa yang karakter ceritamu lihat melalui matanya.
  • Telinga, apa yang tokoh dalam ceritamu dengar dengan telinganya.
  • Lidah dan mulut, apa yang karaktermu kecap dan rasakan melalui lidahnya.
  • Kulit dan tangan, apa yang mungkin karakter ceritamu rasakan melalui kulit mereka atau indera peraba mereka.
  • Benak, pikiran dan perasaan, apa yang mungkin tokoh ceritamu pikirkan dan rasakan.

Setelah kamu membuat daftar apa yang diindera oleh karakter cerita yang kamu tulis dalam salah satu adegan. Selanjutnya adalah membuat kalimat yang kuat dan aktif melalui penginderaan karaktermu sendiri.

Misalnya;

  • Sebuah adegan karakter bernama Jamal memuntahkan air kopinya yang ternyata tidak diberi gula, melainkan garam.

Coba buat begini;

  • Ketika tegukan air kopi itu masuk ke dalam mulut Jamal, ia merasakan sesuatu yang aneh. Tak ada rasa manis disana, hanya ada seperti semangkuk air laut yang diberi serbuk kopi untuk mengubah warnanya saja. Jamal tak tahan, ia pun memuntahkan kembali air kopi yang rasanya demikian pahit itu

Dan kamu bisa membuat contoh show don’t tel lainnya dengan lebih sempurna.

Jadilah Lebih Spesifik

Photo by Erik Karits

Tips kedua untuk mengimplementasikan show don’t tell dalam penulisan cerita adalah dengan membuatnya rinci, detail dan spesifik.

Rumusnya adalah; semakin spesifik cerita yang kamu sampaikan, semakin mudah efek show-nya diperoleh, dan semakin kuat ia tergambar dalam benak pembaca.

Hindari menggunakan istilah yang umum dan terlalu biasa untuk menggambarkan sesuatu. Jika kamu menceritakan karakter ceritamu memiliki kucing di rumahnya, maka tunjukkan itu dengan tingkah si kucing yang tertidur di ranjangnya, menunggu karakter sedang makan atau malah tertidur di atas pangkuannya.

Meskipun demikian, tidak semua bagian menarik dikisahkan spesifik, terlebih lagi jika itu berulang-ulang untuk menjelaskan hal yang sama. Khusus untuk hal ini, kamu dapat menemukan keseimbangan antara show dan tell mengenai bagaimana menempatkannya dalam cerita.

Gunakan Dialog

Photo by SHVETS production

Jika kamu bertanya bagaimana mengaplikasikan teknik showing yang paling mudah dalam cerita? Maka inilah jawabannya; gunakan dialog.

Dialog atau percakapan yang terjadi antar karakter adalah cara termudah untuk show. Ini juga merupakan cara yang mudah untuk menunjukkan aksi real time yang karaktermu lakukan. Dengan dialog, apa yang karakter cerita kamu lakukan dapat dengan mudah digambarkan dan ditunjukkan melalui sudut pandang karakter.

Berlatihlah untuk menggunakan dialog yang kuat dan menarik, karena dialog selalu menjadi alat show yang mudah dalam menulis cerita.

Gunakan Kosakata yang Kuat atau Aktif

Photo by Brett Jordan

Untuk menggambarkan sebuah adegan yang penting dalam cerita, kamu harus dapat memilih kosakata atau kata kerja yang kuat dan berpengaruh. Salah satu cara mengenalinya adalah dengan melihat bahwa kosakata ini dinamis dan seringkali memiliki konotasi gerakan.

Kosakata seperti; cinta, benci, rindu, percaya, pasrah dan sejenisnya, adalah kosakata yang statis dan nampak tidak memberikan energi pada imajinasi pembaca.

Namun ketika kamu memilih kosakata; berjalan, tersenyum, melangkah, berlari, terbang, berkata, berpikir dan memukul misalnya, pembacamu akan melihat gerakan dalam imajinasi mereka.

Dan itu cukup efektif untuk menunjukkan adegan dengan lebih jelas. Alih-alih hanya memberitahunya saja kepada pembaca.

Hindari Kata Keterangan

Photo by Zachary DeBottis

Kata keterangan yang tidak perlu kadang-kadang membuat pembaca justru terhalang untuk ikut menggunakan imajinasi mereka dalam cerita. Dengan kata keterangan yang ditempatkan pada lokasi dan situasi yang tidak tepat, kamu seolah-olah telah membangun sebuah pagar yang samar di antara pembaca dan cerita yang kamu tulis.

Untuk membuatnya lebih mudah, kamu bisa kembali pada contoh teks show don’t tell Usman dan Hania yang basah kuyup oleh hujan tadi.

Atau kamu juga bisa melihat contoh ini;

  • Jalan buntu dan mati langkah! Pencopet itu terpojok sekarang, semua mata penumpang bus seolah panah-panah yang ditembakkan ke arahnya. Ia gemetar, mukanya pucat laksana kain kapan, tamat ia sekarang!

Bandingkan dengan ini;

  • Pencopet itu terpojok sekarang, tak bisa kemana-mana, kebingungan dan ketakutan melanda dirinya.

Perbanyak Fokusmu pada Aksi dan Reaski

Photo by NEOSiAM 2021

Daripada mengatakan bahwa tokoh antagonismu misalnya ‘bejat dan tak bermoral’, bagaimana jika kamu menunjukkan kepada pembaca bahwa tokoh itu tega merampas uang dari ibunya sendiri yang baru saja pulang menjual kayu bakar setelah ia sendiri kalah bermain judi?

Atau daripada mengatakan karaktermu ‘seorang yang dermawan’ mengapa tidak menunjukkannya dengan ia sengaja meluangkan waktu pada setiap sore hari Jum’at untuk mengantarkan uang santunan ke panti asuhan?

Intinya adalah, kamu harus berfokus pada reaksi dan aski yang dilakukan oleh karaktermu.

Aksi dan reaksi akan membuat gambaran yang lebih kuat dalam imajinasi pembaca daripada kamu mengatakannya secara langsung dalam kata-kata yang umum. Bahkan reaksi dan aksi juga bisa kamu gunakan untuk membuat opening yang menarik sekaligus show don’t tell pada pembacamu.

  • Dorr!!! Percikan api menyembur dari ujung pistol di tangan Joane. Jemari lentik itu tak tahan lagi nampaknya, pelatuk senjata itu diremasnya dengan sekuat  tenaga!

Atau,

  • Tatang melompat, hampir terjengkang ke petak sawah di belakangnya, matanya memandang nanar melihat ular sawah yang baru saja lewat hanya satu setengah meter dari kakinya.

Itu mungkin bukan contoh awalan novel yang menarik, namun yang pasti kalimat seperti itu aktif secara aksi dan reaksi. Dalam implementasi show don’t tell, itu cukup layak untuk kamu coba.

Kesimpulannya Sekarang

Photo by Anete Lusina

“Mustahil bagi seseorang untuk dapat mempelajari sesuatu yang ia sendiri pikir, ia sudah sangat pandai di dalamnya”

– Epictetus –

Ada latihan yang panjang dan disiplin hingga kamu terbiasa dan mudah mengaplikasikan kemampuan show don’t tell dalam ceritamu. Namun sekali kamu bisa melakukannya, hal ini akan semakin mudah untuk dipraktikkan dalam kondisi bagaimana pun.

Jadi, selamat mencoba!


anton sujarwo

Anton Sujarwo

Saya adalah seorang penulis buku, content writer, ghost writer, copywriters dan juga email marketer. Saya telah menulis 15 judul buku, fiksi dan non fiksi, dan ribuan artikel sejak pertengahan tahun 2018 hingga sekarang.

Dengan pengalaman yang saya miliki, Anda bisa mengajak saya untuk bekerjasama dan menghasilkan karya. Jangan ragu untuk menghubungi saya melalui email, form kontak atau  mendapatkan update tulisan saya dengan bergabung mengikuti blog ini bersama ribuan teman yang lainnya.

Tulisan saya yang lain dapat dibaca pula pada website;

Saya juga dapat dihubungi melalui whatsapp di tautan ini.

Fortopolio beberapa penulisan saya dapat dilihat disini:


PROFIL KELAS MENULIS ONLINE DI PENULIS GUNUNG ID DAN TATA CARA BERGABUNG

Saya memutuskan untuk membuka kelas menulis online di Penulis Gunung Id setelah mendapatkan begitu banyak permintaan bimbingan penulisan. Pertanyaan mengenai bagaimana cara menulis, apa yang harus dilakukan, bagaimana tips yang ampuh dan lain sebagainya, hampir setiap hari masuk melalui nomor whatsapp dan email saya.

Nah, dalam artikel kali ini pula, saya akan menjelaskan profil kelas menulis ini dan bagaimana jika kamu tertarik untuk bergabung didalamnya dan belajar bersama.

Ada segudang manfaat dan keunggulan yang bisa kamu dapatkan jika memutuskan belajar di kelas menulis online Penulis Gunung Id ini. Namun, sebelumnya saya akan mengajak kamu berkenalan lebih dulu dengan program yang satu ini.

Apa Itu Kelas Menulis Online Penulis Gunung Id?

Photo by Artem Podrez

Seperti halnya kelas menulis online untuk pemula lainnya, Kelas menulis online di Penulis Gunung Id pun secara khusus diperuntukkan bagi pemula. Untuk kamu yang baru akan memasuki dunia penulisan, ingin menulis buku, ingin menulis artikel, novel, memoar dan lain sebagainya sementara kamu belum memiliki pengalaman sama sekali, kelas ini untuk kamu.

Jadi, kelas menulis online Penulis Gunung Id adalah sebuah bimbingan online untuk para penulis pemula yang ingin serius dalam menulis.

Apakah tujuan kamu ingin menjadi penulis profesional dan fulltime writer seperti yang saya lakukan saat ini, ataukah kamu hanya ingin mengabadikan kisah hidupmu dalam sebuah buku yang menarik dibaca, kelas menulis online Penulis Gunung id adalah tempat yang asyik untuk memulainya.

Apa Saja yang Dipelajari dalam Kelas Menulis Ini?

Photo by Mark Neal

Hal yang kamu pelajari jika bergabung dalam kelas menulis di Penulis Gunung id adalah ilmu kepenulisan dasar. Jika kamu misalnya mengambil spesifikasi kelas menulis buku, maka bagaimana memulainya, menemukan ide, menuliskannya, melakukan editing, proofreading hingga publishing akan kamu dipelajari.

Jika kamu mengambil kelas menulis untuk penulisan cerita kisah pribadi misalnya, maka pelajaran akan difokuskan bagaimana mengubah kisah kamu tersebut menjadi sebuah cerita yang bisa dibaca dalam bentuk buku.

Intinya adalah; dalam kelas menulis online Penulis Gunung id, kamu akan mempelajari materi penulisan dasar tergantung dari jenis tulisan apa yang kamu inginkan.

Apakah Ada Topik Khusus dalam Kelas Penulisan di Penulis Gunung id?

Tentu saja ada.

Untuk permulaan, saya akan membuka dua kelas saja terlebih dahulu yakni; kelas penulisan umum dan kelas penulisan untuk kisah pribadi atau kisah hidup.

Berikut masing-masing penjelasannya.

Kelas Penulisan Umum

Photo by Lisa

Kelas ini ideal untuk kamu yang ingin mengenal dunia penulisan secara umum. Dalam kelas ini kamu akan diperkenalkan bagaimana menemukan ide penulisan, bagaimana mengubahnya menjadi draff, bagimana membuat outline cerita dan lain sebagainya.

Atas persetujuanmu, dalam kelas ini kamu juga bisa meminta untuk mempelajari cara menulis artikel populer, artikel SEO, copywriting dan lain sebagainya.

Kelas ini terdiri dari 3 x pertemuan online dengan durasi masing-masing selama 30 menit.

Biayanya Rp, 125.000

Kelas Penulisan Kisah Pribadi (Private Online Coaching)

Photo by Clem Onojeghuo

Nah, untuk kamu yang memiliki target jelas, arah yang terarah dan tujuan yang sudah bulat, kelas ini adalah untuk kamu.

Dalam kelas penulisan kisah pribadi di Penulis Gunung id, kamu yang bergabung akan diminta untuk memilih kisah hidup paling menarik yang kamu miliki untuk dijadikan buku. Target dari kelas ini adalah kamu mampu mengubah cerita kamu tersebut menjadi lembar-lembar buku yang bisa kamu baca dan bisa kamu hadiahkan kepada orang lain.

Kamu akan diajak menceritakan kisahmu, mencari sudut pandang yang paling tepat, menentukan karakter dan lain sebagainya.

Kelas ini terdiri dari 4 x pertemuan online dengan durasi masing-masing pertemuan selama 30 menit.

Biaya Rp, 275.000

Rp, 525.000 untuk peserta dari luar negeri.

Meskipun kelas online melalui google meet sudah selesai, kamu akan tetap dibimbing hingga naskahmu siap untuk diterbitkan. Bimbingan akan dilakukan melalui aplikasi telegram.

Apa Keunggulan Bergabung di Kelas Menulis Online Penulis Gunung id?

Photo by Sam Lion

Semua kelas menulis memiliki keunggulannya masing-masing. Meskipun baru dan belum menjadi kelas menulis online terbaik, kelas menulis online di Penulis Gunung id memiliki beberapa keunggulan yang menarik, antara lain:

  • Dibimbing langsung oleh penulis berpengalaman dan sudah menulis puluhan buku.
  • Jadwal kelas online fleksibel dan bisa kamu pilih sendiri.
  • Gratis berkonsultasi via telegram hingga buku kamu menjadi naskah dan siap untuk diterbitkan.
  • Dilengkapi sertifikat jika kamu sudah menyelesaikan proses pembelajaran.

Bagaimana Metode Belajar di Kelas Menulis Online ini?

Photo by Andrea Piacquadio

Proses kelas menulis akan berlangsung secara online malalui aplikasi google meet. Setiap akhir sesi kelas, kamu akan selalu mendapat tugas menulis yang akan dievaluasi bersama pada sesi selanjutnya.

Untuk lebih jelasnya berikut beberapa ketentuannya;

  • Kelas berlangsung secara daring atau online melalui aplikasi google meet.
  • Durasi kelas mulai dari 30 menit, 45 menit paling lama.
  • Setiap kelas akan berfokus untuk membahas satu pokok pelajaran yang spesifik.

Bagaimana Cara Bergabung di Kelas Menulis Online Penulis Gunung id?

Photo by cottonbro

Untuk bergabung dalam kelas ini caranya sangat sederhana. Kamu hanya perlu mendaftarkan diri saja melalui beberapa tautan di bawah ini.

Daftar dalam kelas penulis umum

Daftar dalam kelas penulisan kisah pribadi

Atau konsultasi terlebih dahulu mengenai kelas penulisan online melalui whatsapp


anton sujarwo

Anton Sujarwo

Saya adalah seorang penulis buku, content writer, ghost writer, copywriters dan juga email marketer. Saya telah menulis 14 judul buku, fiksi dan non fiksi, dan ribuan artikel sejak pertengahan tahun 2018 hingga sekarang.

Dengan pengalaman yang saya miliki, Anda bisa mengajak saya untuk bekerjasama dan menghasilkan karya. Jangan ragu untuk menghubungi saya melalui email, form kontak atau  mendapatkan update tulisan saya dengan bergabung mengikuti blog ini bersama ribuan teman yang lainnya.

Tulisan saya yang lain dapat dibaca pula pada website;


7 PERTANYAAN UNTUK PENULIS YANG PALING PENTING DAN BISA MENGUBAH MINDSET

Jika kamu menganggap bahwa pertanyaan untuk penulis yang paling penting adalah tentang bagaimana menjadi terkenal dan kaya, atau bagaimana menjadi penulis best seller,  kamu salah. Justru pertanyaan paling esensial dalam kehidupan penulis yang akan mengubah cara berpikirmu sama sekali tidak terkait dengan hal semacam itu.

Pertanyaan yang tepat dan diajukan pada orang yang tepat, akan menghasilkan jawaban yang luar biasa. Kamu tidak hanya akan melihat jawaban seperti ini dengan kualitas kata-kata saja, namun jauh daripada itu, juga sangat berpengaruh dalam emosi dan mental.

Sebagai penulis, kamu sering menemukan pertanyaan tentang buku, tentang menulis dan menghasilkan karya, tentang mencari ide dan lain sebagainya. Namun, hanya sedikit orang yang akan mengajukan padamu pertanyaan yang ternyata memiliki pengaruh lebih kuat bahkan untuk diri kamu sendiri.

Nah, kali ini saya akan mengajak kamu untuk membahas 7 pertanyaan yang bagi saya adalah yan paling kuat mempengaruhi pikiran seorang penulis. Apa saja pertanyaannya dan mengapa ini penting?

Mari simak penjelasannya berikut ini.

Memahami Kekuatan Pertanyaan Untuk Penulis yang Paling Menentukan

Photo by Suzy Hazelwood on Pexels.com

Pertanyaan-pertanyaan ini secara khusus ditujukan untuk diri kamu sendiri, dan kamu sendirilah yang harus menjawabnya. Ini sama sekali bukan seperti pertanyaan bagaimana caranya JK. Rowling menjadi penulis miliarder pertama di dunia dan berhasil menjual 200 juta kopian buku Harry Potter-nya.

“Bagaimana saya bisa mendapatkan uang dan hidup dengan hasil dari menulis?”

“Bagaimana saya bisa punya buku dan terkenal lalu di puja-puja banyak orang?

Atau,

“Bagaimana caranya supaya saya bisa menjadi seorang penulis best seller dan kaya raya?”

Jika pertanyaan-pertanyaan semacam itu yang mendominasi benakmu selama ini dalam menulis, kamu harus mengubahnya mulai sekarang. Pertanyaan tentang menulis permulaan seperti itu hanya akan membawa kamu pada tips and trick, pada cara dan strategi, alih-alih menyentuh sisi terdalam dari sanubarimu dalam menulis.

Pertanyaan yang tidak kuat hanya akan memberikan jawaban yang juga mengambang. Untuk dapat menampilkan performa terbaikmu sebagai penulis yang berenang dalam kata tanpa pernah merasa lelah melakukannya, kamu butuh pertanyaan yang jauh lebih berbobot untuk kamu tanyakan pada dirimu sendiri.

Dengan mengajukan pertanyaan yang kuat dan tepat, kamu tidak hanya akan mencari tips dan trick sebagai cara, tapi juga menyadari motivasi sebagai sebuah pendorong yang menentukan. Pertanyaan seperti layaknya kartu pertama dalam bangunan domino yang jika kamu menyentuhnya, akan membuat semua bangunan lainnya menjadi bergoyang dan runtuh.

Hal ini sama sekali tidak buruk bagi seorang penulis, bahkan jika kamu mampu menjawabnya dengan jujur, ini adalah trigger yang akan mengubah mindset-mu tentang dunia menulis. Kamu mungkin kadang menemukannya dalam contoh pertanyaan bedah buku yang menarik, tapi efeknya tidak akan pernah sekuat ketika kamu mengajukannya untuk diri kamu sendiri.

Jadi, apa kira-kira daftar pertanyaan untuk penulis yang demikian powerfull itu?

Berikut beberapa di antaranya.

Mengapa Kamu Menulis?

Photo by Magda Ehlers on Pexels.com

“Menulis terlalu rendah nilainya jika hanya karena kamu ingin dikagumi”

A Wan Bong

Nah, ini adalah pertanyaan paling kuat yang pertama untuk kamu tanyakan kepada diri kamu sendiri.

  • “Mengapa kamu menulis?”
  • “Apa yang mendorongmu untuk menulis?”
  • “Apa alasan terbesarmu sehingga memutuskan untuk menulis?”

Mengetahui apa alasan paling besar mengapa kamu menulis adalah motivasi paling kuat yang akan mentenagaimu untuk terus menulis dan menulis.

Alasan mengapa seseorang menulis bukan hanya pertanyaan untuk penulis pemula yang kritis, namun juga dapat menjadi pertanyaan reborn dari penulis berpengalaman yang mungkin merasa kehilangan momentum kepenulisan.

Penulis mana pun membutuhkan alasan yang kuat untuk menulis dan terus berkarya di dalamnya. Memiliki banyak uang dan menjadi kaya tentu dapat saja menjadi motivasi untuk menulis, tapi itu bukan alasan cukup kuat untuk menjadi seorang penulis.

Jika kamu menulis supaya kamu terkenal, kamu kaya dan memiliki banyak uang, terlihat pintar, diingat orang setelah kamu mati, dikagaumi, dan lain semacamnya, mungkin itu bukanlah motivasi yang tepat. Orang-orang biasa beralasan dengan hal seperti ini. Namun sejujurnya, itu tidak cukup kuat untuk menjadi alasan terbesar untuk menjadi seorang penulis.

Source: Write Practice

Penulis yang terbaik jarang menulis lantaran termotivasi kekayaan dan uang. Pada banyak kasus, para penulis hebat itu menulis karena ingin terhubung dengan orang lain dengan tulisan mereka. Ada sesuatu yang mereka perlu ungkapkan, gambarkan, hamparkan dan jelaskan melalui rangkaian kata-kata di atas kertas dan tinta.

Menulis terlalu rendah nilainya jika hanya karena kamu ingin dikagumi.

Jadi, pertanyaan untuk penulis buku yang layak untuk kamu ajukan pada diri sendiri yang pertama adalah; “Mengapa kamu menulis?”

Apakah kamu hanya ingin dikagumi, dielu-elukan, dibicarakan, diingat ketika sudah mati, atau apa?

Atau, apakah kamu ingin terhubung dengan orang lain? Atau kamu memang harus mengkomunikasikan pemikiranmu yang penuh dengan cerita dan kisah?

Jika kamu mampu menanyakan hal ini kepada diri kamu sendiri kemudian menjawabnya pula dengan jujur, kamu akan menemukan hal yang luar biasa muncul dari dalam dirimu. Ini dapat menjadi kekuatan yang akan mematahkan writer’s block, kemalasan dan apa pun alasan yang membuat kamu tidak ingin menulis.

Sekali lagi, temukan alasan terkuat mengapa kamu menulis denga mengajukan pertanyaan yang sederhana pada dirimu sendiri; Mengapa kamu menulis?

Untuk Siapa Kamu Menulis?

Photo by Pixabay on Pexels.com

“Jika kamu menulis untuk orang lain dan mereka tidak menyukai apa yang kamu tuliskan, kamu akan kecewa. Jika kamu menulis untuk pembaca dan pembaca tidak mengapreasiasi tulisanmu, kamu juga akan kecewa. Tapi jika kamu menulis untuk dirimu sendiri, tidak ada yang bisa mendikte perasaanmu dengan apa pun penerimaan mereka”

A Wan Bong

Ketika saya menulis novel Islamedina yang tebalnya hingga 750 halaman dengan total sekitar 100.000 kata, saya membutuhkan waktu 4 tahun untuk bisa menyelesaikannya.

4 tahun?

Ya, benar 4 tahun lamanya hingga novel itu baru bisa saya selesaikan.

Padahal, jika kamu pernah membaca buku saya yang lain seperti Mahkota Himalaya, Dewi Gunung, Dunia Batas Langit atau yang lainnya, kamu akan menemukan bahwa saya membutuhkan waktu beberapa bulan saja untuk menulis buku setebal 400 – 500 halaman.

Apa yang terjadi? Mengapa saya bisa menyelesaikan novel Islamedina dalam waktu yang demikian lama?

Ada banyak alasan yang bisa saya sampaikan untuk menjawab pertanyaan untuk sang penulis seperti itu. Namun, esensi yang sangat krusial juga dalam hal ini adalah ketika saya justru mengajukan pertanyaan balik ke diri saya sendiri, yakni; “Untuk siapa sebenarnya saya menulis? Untuk siapa saya menuliskan novel Islamedina ini?”

“Untuk Islamedina kah? Puteri saya yang sudah berpulang ke surga itu tepat diusianya yang ke-29 bulan?”

“Untuk isteri saya kah? Ibunda Islamedina yang demikian terpukul kehilangan permata hatinya?”

“Untuk saudara-saudara, nenek, teman-teman, kerabat, kenangan, moment kebersamaan dengan Medina kah semua itu saya lakukan?”

Saya mengajukan pertanyaan itu ke dalam hati saya yang terdalam dan menemukan jawabannya bahwa bukan untuk itu semua saya membiarkan isakan saya di tengah malam membangunkan isteri saya yang sedang tidur.

Bukan untuk itu semua saya merelakan malam-malam saya bertarung dengan perasaan dan kerinduan yang perih ketika saya mengoreskan kata demi kata menyelesaikan penulisan novel Islamedina.

Pada hakikatnya, pertanyaan tentang penulisan kata mengenai untuk siapa sebenarnya saya menulis kisah Islamedina ini menemukan jawabannya pada diri saya sendiri. Untuk saya sendirilah saya menulisnya.

Source: Penulis Gunung

Saya tidak bisa menahan usia saya yang kian tua dan kelabu. Saya juga tidak dapat menahan bahwa kenangan tentang Islamedina di benak orang-orang yang pernah dekat dengannya, juga akan mengabur ditelan masa. Bahkan pada diri saya sendiri, kenangan itu pun akhirnya akan menjadi renta, pikun dan menghilang tak bersisa.

Saya ingin kenangan itu abadi bagi saya dan bagi siapa pun yang membaca kisahnya.

Jadi, saya memang harus menyelesaikan novel biografi Islamedina itu, bagaimana pun sulitnya. Novel itu bukan untuk orang lain, tapi untuk saya. Saya menulisnya bukan untuk orang lain, namun untuk diri saya sendiri.

Setelah pertanyaan tentang buku Islamedina dan untuk siapa saya menulis itu terjawab, saya akhirnya berhasil menyelesaikan buku tersebut dan tersenyum lega dan bahagia setelahnya. Dam sekarang, ketika para pembaca menangis menyusuri kata demi kata cerita meninggalnya Medina, saya justru bernapas lega karena telah berhasil menyelesaikan menulis cerita itu.

Jadi, dari sekelumit kisah ini kamu dapat merefleksikan pula pada penulisanmu. Tanyalah kepada diri kamu sendiri untuk siapa sebenarnya kamu menulis?

Bagaimana Kamu Dapat Mengubah Orang Lain dengan Tulisanmu?

Photo by Keira Burton on Pexels.com

“Manusia tidak bisa mengubah manusia lainnya, bahkan seorang penulis sekali pun. Kamu hanya bisa menunjukkan sebuah gambaran perubahan, bukan memaksanya kepada orang lain”

A Wan Bong

Kaya dari menulis tentu adalah sebuah pencapaian hebat.

Menjadi terkenal, banyak uang, dikagumi dan dielu-elukan dalam penulisan, juga bukan hal yang buruk. Itu adalah pencapaian yang layak untuk kamu rayakan.

Meskipun demikian, menggunakan pertanyaan talkshow penulis buku yang kurang tepat seperti:

  • “Bagaimana saya bisa menciptakan karya sastra yang best seller dan menjadi kaya?”
  • “Bagaimana supaya saya bisa menjual ratusan buku dengan cara A, B, C dan D?”
  • “Atau apa yang harus dilakukan supaya buku saya laris manis?”

 Semua itu jelas bukanlah jenis pertanyaan yang inspiratif.

Akan tetapi, pertanyaan yang bisa kamu ajukan untuk diri kamu sendiri mengenai persoalan ini adalah; “Bagaimana kamu bisa mengubah orang lain, persepsi mereka, pemikiran mereka, dan ketidakpahaman mereka selama ini, melalui kata-kata dan cerita yang kamu tuliskan?”

Jika kamu mampu menemukan jawaban ini dengan tepat dan efektif, kamu tidak perlu lagi khawatir dengan pertanyaan sebelumnya mengenai uang dan kekayaan. Ketika kamu sudah berhasil mengubah persepsi dan sudut pandang pemikiran orang lain melalui tulisan kamu, mereka rela membayar berapa pun yang kamu minta untuk tulisan-tulisan kamu selanjutnya.

Jadi, poin terpenting dari pertanyaan untuk penulis selanjutnya adalah bagaimana kamu bisa mengubah orang lain dalam bentuk persepsi, anggapan, pola pikir dan sudut pandang pembaca melalui tulisan dan cerita yang kamu sampaikan?

Apa yang Bisa Kamu Tulis dan Tidak Bisa Dilakukan Orang Lain?

Photo by Pixabay on Pexels.com

“Tidak ada salahnya dengan terinspirasi pada tulisan orang lain. Akan tetapi, kamu hanya akan menjadi istimewa jika kamu menulis dengan gayamu sendiri”

A Wan Bong

Pertanyaan tentang menulis kreatif selanjutnya yang juga penting untuk kamu tanyakan kepada dirimu sendiri adalah; “Apa yang harus saya tuliskan dimana orang lain tidak bisa menuliskannya sebaik saya?”

Pertanyaan ini adalah untuk memancing dan menggali potensi unikmu sebagai seorang penulis.

Kamu mungkin akan sulit menemukan cerita yang benar-benar original dan asli di zaman digital seperti saat ini. Namun, ketika kamu mampu memberi warna kamu sendiri dalam setiap karya-karya yang kamu tuliskan, maka kamu sudah cukup berhasil.

“Apa yang membuat tulisanmu demikian unik dan berbeda dari yang lain?”

“Mengapa orang lain tidak bisa menuliskan buku seperti ini dan hanya kamu yang bisa melakukannya?”

Jika kamu mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan seperti ini secara jujur dan nyata, kamu akan menemukan hal yang istimewa dalam dirimu sendiri.

Jika kamu mampu menulis dengan ciri khas yang unik, yang berbeda dengan apa yang ada di pasaran, sesuatu yang ternyata disukai oleh orang lain, maka para pembaca akan membeli apa pun yang kamu tawarkan kepada mereka.

Intinya adalah pertanyaan ini mampu memberi stimulan dalam dirimu sendiri untuk menemukan gaya menulis yang paling istimewa dari dirimu.

Bagaimana Kamu Menjiwai Penulisan-Penulisan Ceritamu?

Photo by MART PRODUCTION on Pexels.com

“Mungkin ini tidak benar, tapi berapa banyak penulis yang menuangkan diri mereka sendiri dalam karakter yang mereka ciptakan?”

A Wan Bong

Setelah pertanyaan tentang gaya penulisan berita dan cerita yang unik dari dirimu sendiri, kamu dapat beralih pada pertanyaan selanjutnya yakni; “Bagaimana kamu bisa terhubung secara emosional dengan cerita-cerita yang kamu tuliskan?”

Kamu tahu, banyak para penulis yang meletakkan karakter mereka sendiri dalam tokoh-tokoh yang mereka tuliskan. Ini adalah semacam refleksi emosional kepribadian sang penulis dalam tokoh  (hampir 100% protagonis) dalam cerita yang mereka buat.

Penjiwaan dalam penulisan cerpen, novel dan karya sastra jenis apa pun, adalah sesuatu yang substansial dan penting.

Seorang penulis dengan penjiwaan yang kuat kadang memiliki ikatan emosi yang demikian kuat dengan cerita mereka. Mereka menjadi cerminan dari cerita yang mereka tuliskan, dan cerita yang mereka hasilkan laksana cerminan pula bagi diri mereka sendiri.

Apa contohnya?

Karya sastra klasik yang paling layak untuk mewakili hal ini adalah buku-bukunya Hamka. Kamu pasti sudah tidak asing dengan novel Tenggelamnya Kapal Van Der Wick, Di Bawah Lindungan Ka’bah, Merantau ke Deli, Terusir dan yang lainnya, bukan? Itu adalah mahakarya sang pengarang yang menjadi salah satu sastrawan terbaik di Indonesia.

Jika kamu pernah membaca buku-buku tersebut, kamu akan tahu betapa kuat rasanya penjiwaan yang dimiliki oleh Hamka saat menulis karya-karyanya. Sosok seperti Zainuddin seakan adalah jelmaan dari karakter Hamka sendiri.

Kita bisa berpendapat tentang ini. Namun, sebagai penulis yang banyak terinspirasi dari karya-karya Hamka, saya mendukung pernyataan bahwa hampir semua karyanya memiliki penjiwaan yang luar biasa.

Bagaimana Kamu Bisa Menjalani Kehidupan Semenarik yang Kamu Ceritakan?

Photo by mohamed abdelghaffar on Pexels.com

“Seni dalam menulis adalah seperti menemukan apa yang kamu percayai dan kamu hidup dengan kepercayaan itu”

Gustave Flaubert

Ini menarik, karena tidak semua penulis mampu melakukannya. Bahkan para penulis buku best seller pun tidak cukup banyak merefleksikan ini dalam kehidupan mereka. Setidaknya secara terang-terangan.

Namun, penulis-penulis terhebat kadang menjalani kehidupan sama menariknya dengan kisah-kisah yang mereka ceritakan. Orang-orang seperti Charles Bukowski, Leo Tolstoy, JK. Rowling, Carl Jung dan Robert Frost, memiliki kisah hidup yang menarik.

Bahkan di Indonesia, kamu juga bisa menemukan hal yang sama dalam diri penulis Hamka, orang yang saya jadikan contoh dalam pertanyaan untuk penulis yang kelima. Hamka memiliki kisah hidup yang menarik, penuh prestasi, penuh perjuangan, penuh prinsip yang membara dan juga pertentangan yang tak terkira.

Nah, kamu sekarang tiba pada pertanyaan untuk penulis yang keenam;

“Mampukah dan maukah kamu menjalani kehidupan yang menarik, semenarik kisah-kisah yang kamu ceritakan dalam novel dan roman itu?”

Semua orang memiliki kisah hidup yang unik dan menarik, namun hanya penulis yang mampu membuatnya menjadi lebih istimewa untuk dicerna. Kamu tidak harus nekat menjalani kehidupan yang ekstrim dan nyeleneh sebagai penulis, tapi pengalaman akan berbicara cukup kuat dalam karya-karyamu dengan sendirinya.

Tulisan terbaik datang dari pengalaman.

Dan tentu saja, sumber daya terbesar yang kamu miliki sebagai seorang penulis adalah pengalamanmu sendiri. Pengalaman adalah lautan yang bisa kamu ubah menjadi mahakarya istimewa.

Bagaimana Jika Tidak Seorang pun Menyukai Tulisanmu?

Photo by Kat Jayne on Pexels.com

“Jika tidak ada seorang pun yang memberikan apresiasi terhadap tulisanmu, apakah kamu akan terus menulis?”

A Wan Bong

Sekarang, setelah kamu mempelajari banyak hal tentang tips dan teknis menulis, tentang mengatasi writer’s block dan membuat opening cerpen. Lalu, bagaimana seandainya jika tidak ada satu orang pun yang menyukai hasil karyamu?

Apa yang akan kamu lakukan?

Apakah kamu akan terus menulis ataukah kamu akan berhenti dan alih profesi?

Pertanyaan terakhir untuk penulis ini akan secara tidak langsung mengembalikan kamu pada pertanyaan pertama dan keduan; “Mengapa kamu menulis dan untuk siapa kamu menulis?”

Jika kamu tidak mendapatkan alasan yang kuat untuk menulis dan tidak pula memiliki tujuan yang jelas untuk apa kamu menulis, kamu bisa goyah pada pertanyaan yang terakhir ini. Tidak ada yang menyukai tulisanmu, buat apa kamu melakukannya lagi?

Kamu tidak akan terkenal, tidak akan dikagumi, tidak akan kaya raya dan mandi uang dengan menulis. Jadi, mengapa harus diteruskan?

Akan tetapi jika kamu menulis untuk berbagi, untuk terhubung dengan orang-orang, untuk membiarkan akalmu tetap hidup dan bersyukur dengan kreasi imajinasi, mungkin kamu akan tetap menulis.

Bagaimana pun pedihnya, bagaimana pun buruknya, setiap tulisan paling tidak akan berpengaruh bagi seseorang di dunia yang luas ini. Begitu juga dengan tulisanmu.


anton sujarwo

Anton Sujarwo

Saya adalah seorang penulis buku, content writer, ghost writer, copywriters dan juga email marketer. Saya telah menulis 14 judul buku, fiksi dan non fiksi, dan ribuan artikel sejak pertengahan tahun 2018 hingga sekarang.

Dengan pengalaman yang saya miliki, Anda bisa mengajak saya untuk bekerjasama dan menghasilkan karya. Jangan ragu untuk menghubungi saya melalui email, form kontak atau  mendapatkan update tulisan saya dengan bergabung mengikuti blog ini bersama ribuan teman yang lainnya.

Tulisan saya yang lain dapat dibaca pula pada website;

Saya juga dapat dihubungi melalui whatsapp di tautan ini.

Fortopolio beberapa penulisan saya dapat dilihat disini:


BAGAIMANA CARA MENERBITKAN BUKU SENDIRI DENGAN MUDAH DAN MURAH

Jadi kamu ingin memiliki buku atas nama kamu sendiri, ya? Daripada menunggu lama dan belum pasti diterima atau tidak, mengapa tidak mencoba menerbitkannya secara mandiri? Jika kamu masih bingung dengan prosesnya, panduan cara menerbitkan buku sendiri berikut ini akan membantu kamu melakukannya.

Pada dasarnya, cara menerbitkan buku novel atau buku apa pun yang kamu tulis melalui jalur mandiri, adalah salah satu bentuk kemerdekaan yang bisa dilakukan oleh penulis. Di samping memberi kamu banyak kebebasan, metode ini juga akan membuat kamu jauh lebih kreatif,

Namun kenyataannya, banyak calon penulis yang tidak tahu bagaimana mereka bisa melakukan penerbitan semacam ini. Alih-alih membangun kreativitas melalui penerbitan mandiri, banyak penulis pemula yang memilih untuk mengantri di depan pintu penerbitan konvensional guna mempublikasi karya mereka.

Nah, sebagai penulis yang telah merilis 15 judul buku atas nama sendiri dan puluhan lainnya untuk ghost writing, saya ingin berbagi pengalaman tentang hal ini. Sejauh ini, semua karya saya diterbitkan secara mandiri dan hasilnya cukup menyenangkan.

Lantas, kira-kira bagaimana langkah dan cara menerbitkan buku sendiri?

Panduan dan Cara Menerbitkan Buku Sendiri yang Lengkap, Murah serta Mudah

“Jika Kamu tidak menyukai cerita seseorang, tulislah cerita Kamu sendiri.”

Chinua Achebe

Kamu mungkin sudah sering mendengan istilah self publishing atau penerbitan mandiri, bukan?

Apa sih, yang dimaksud dengan self publishing itu?

Pengertian Self Publishing atau Penerbitan Mandiri

source: Demolishing House

Jika mengacu pada pengertian Wikipedia, maka akan didapatkan definisi self publishing atau penerbitan mandiri sebagai seorang penulis yang menerbitkan sendiri bukunya tanpa bantuan penerbit yang sudah mapan atau besar.

Akan tetapi, pengertian yang lebih baik mengenai penerbitan mandiri adalah seorang penulis yang mengerjakan sendiri semua proses dari penerbitan; termasuk dalam hal ini adalah editing, proofreading, layouting, membuat cover, mencetak hingga memasarkannya di masyarakat.

Intinya adalah, jika kamu megambil semua tugas penerbitan untuk kamu lakukan sendiri, maka itu  bisa disebut self publishing atau penerbitan mandiri, kamu sebagai penulisnya sendiri disebut sebagai self publisher.

Jenis-Jenis Self Publisher

Penulis yang memutuskan untuk menerbitkan bukunya sendiri terbagi dalam dua macam yakni Self Publishing Superman atau DIY dan Self Publishing Assisted.

Self Publishing DIY (Superman)

Photo by Trace Hudson on Pexels.com

Pengertian bebas dari penerbitan jenis ini adalah seorang penulis yang melakukan segala sesuatu terkait proses penerbitan secara sendiri. Artinya ia adalah penulis buku, mengeditnya, mengatur tata letaknnya, membuat covernya, sekaligus juga memasarkan bukunya.

Jenis ini sangat jarang di dunia, bahkan hampir mustahil ada yang bisa melakukannya dengan baik. Oleh karena alasan ini pula mereka kadang disebut sebagai penulis Superman atau manusia super.

Tapi, apakah jenis DIY (author does everything by themselves) benar-benar sangat jarang dan mustahil untuk ditemukan?

Mungkin tidak juga, karena saya adalah salah satunya.

Di antara 15 judul buku saya yang telah dirilis, semua proses publishing-nya saya kerjakan sendiri.

Rangkaian penulisan, editing, proofreading (setidaknya 3 kali sebelum naskah final), layouting hingga pemasaran saya lakukan sendiri. Hanya 5 buku pertama saya saja yang pembuatan cover-nya dibantu oleh pihak penerbitan indie.

Self Publishing Assisted

Photo by Eren Li on Pexels.com

Di samping penerbitan mandiri DIY atau Superman seperti yang saya lakukan, ada juga Self Publishing Asssited atau penerbitan mandiri dengan bantuan.

Dalam proses penerbitan yang satu ini, penulis mendayagunakan jasa orang lain untuk membantunya menyelesaikan proses penerbitan bukunya. Jasa yang mungkin ia gunakan adalah profesional editor, proofreading, desainer cover, pemasar, dan lain sebaginya.

Keuntungan Self Publishing

Photo by Startup Stock Photos on Pexels.com

Meskipun kamu tahu cara menerbitkan buku sendiri di Gramedia, kamu mungkin akan memilih penerbitan mandiri saja. Hal ini disebabkan karena jika kamu bukan penulis besar dengan nama yang sudah beken, memiliki buku yang dipasarkan oleh jaringan seperti Gramedia bisa jadi adalah sesuatu yang sangat sulit dilakukan.

Di balik keterbatasan jaringan pemasaran itu, penerbitan mandiri juga memiliki banyak keunggulan.

Apa pun jenis buku yang kamu tulis, apakah itu fiksi, non fiksi, memoirs, komik, cerpen atau apa pun saja, penerbitan mandiri akan memberikam kamu kebebasan maksimum untuk mengendalikan banyak hal. Di samping itu, tentu saja potensi keuntungan yang kamu miliki akan jauh lebih besar.

Memang sebenarnya, merilis karya dengan cara menerbitkan buku sendiri melalui self publishing memiliki lebih banyak lagi keunggulan.

Berikut beberapa di antaranya;

Kendali Penuh atas Karyamu

Photo by Fernando Arcos on Pexels.com

Untuk kamu yang menginginkan otonomi penuh untuk karya-karya yang kamu terbitkan, self publishing, indie publishing atau penerbitan mandiri adalah solusinya.

Ketika penerbitan konvensional memberi batasan pada setiap segi dari sebuah buku, self publishing justru sebaliknya. Dalam penerbitan konvensional karyamu mungkin akan dipermak oleh editor, judulnya bisa diganti, cover bukunya disesuikan, bahkan beberapa bagian dalam bukumu bisa saja dihilangkan atau ditambah sesuai kebutuhan penerbit konvensional tersebut.

Menariknya kamu tidak akan mendapati hal ini dalam penerbitan mandiri.

Kamu sekali lagi, diberi kebebasan seluas-luasnya untuk mengontrol karyamu semau yang kamu inginkan.

Potensi Penghasilan Maksimal

Photo by Karolina Grabowska on Pexels.com

Jika kamu menerbitkan bukumu secara konvensional, kamu akan mendapatkan persentase bagi hasil dalam bentuk royalti atau fee berkisar dari 7 hingga 12%. Jadi, jika buku yang kamu tulis harganya adalah Rp, 100.000 per eksemplar, maka kamu akan mendapatkan penghasilan sekitar Rp, 7.000 sampai dengan Rp, 12.000 untuk setiap satu buku yang terjual.

Minim sekali , bukan?

Hal ini sama sekali berbeda dengan self publishing atau penerbitan mandiri.

Dalam penerbitan mandiri, kamu bahkan bisa mendapatkan potensi penghasilan hingga 70 atau 80%. Artinya, jika harga bukumu di pasaran adalah Rp, 100.000 per eksemplar, maka Rp, 70.000 – 80.000 akan masuk ke dalam kantongmu untuk tiap eksemplarnya.

Dengan persentase ini, bayangkan berapa uang yang bisa kamu peroleh jika kamu bisa menjual bukumu dalam jumlah yang sama seperti penerbit konvensional?

Tidak Perlu Menunggu dalam Ketidakpastian

Photo by Felipe Cespedes on Pexels.com

Setelah naskah bukumu selesai dan dikirimkan ke penerbit mayor atau konvensional, kamu harus menunggu setidaknya tiga bulan atau 100 harian untuk mendapatkan jawaban apakah naskahmu layak diterbitkan atau tidak.

Jika ternyata kamu berhasil dan naskahmu bisa diterbitkan, maka kamu harus menunggu beberapa bulan lagi sampai kamu dapat melihat bukumu ada di toko-toko buku.

Waktu menunggu seperti ini akan sangat melelahkan bagi beberapa orang, untuk itu pulalah metode penerbitan mandiri atau self publishing menawarkan solusinya.

Dalam penerbitan mandiri kamu hanya perlu menunggu sekitar enam jam hingga satu hari untuk mempublikasi bukumu dalam bentuk ebook. Jika kamu menerbitkan versi cetak, paling lama dalam waktu dua mingguan, kamu juga sudah dapat melihat hasilnya langsung di tanganmu.

Kepemilikan Hak 100%

Photo by Nataliya Vaitkevich on Pexels.com

Jika kamu menempuh cara menerbitkan buku di penerbit mayor atau konvensional, kemudian karyamu diadaptasi ke dalam film, kamu mungkin harus berbagi hak atas naskahmu dengan penerbit. Akan tetapi jika kamu menerbitkan bukumu secara indie atau self publishing dan difilmkan, kamu adalah pemilik 100% hak atas karyamu.

Ini akan menjadi topik yang sama jika misalnya karyamu juga dicetak ulang, dibuat dalam berbagai cinderamata, disablon ke kaos-kaos dan lain sebagainya. Hak royalti atas semua itu akan menjadi milikmu.

Kesempatan untuk Mempopulerkan Namamu Sendiri

Photo by Pixabay on Pexels.com

Sebenarnya, tidak ada satu pun penulis yang tampil menjadi best seller dalam satu malam. Semua membutuhkan proses untuk tampil di atas anak tangga yang terakhir.

Jika kamu adalah seorang penulis pemula yang baru saja hadir dalam dunia kepenulisan dan buku-buku, kamu akan menemukan bahwa industri  ini tidak mudah untuk ditaklukkan. Namun justru disanalah terletak kesempatan untuk membuat namamu menjadi populer.

Ada banyak penulis terkenal dunia yang mengawali karir mereka dengan self publishing. Mereka membesarkan nama mereka melalui penerbitan mandiri untuk kemudian tampil sukses dengan karya yang nyaris selalu bestseller.

Kekurangan Menerbitkan Buku secara Mandiri

Di samping beberapa hal yang membuat self publishing demikian unggul untuk kamu coba, kamu juga harus tahu bahwa cara menerbitkan buku ini juga memiliki beberapa kekurangan.

Beberapa hal yang menjadi risiko dari cara menerbitkan buku sendiri ini adalah;

Biaya yang Lebih Tinggi

Photo by cottonbro on Pexels.com

Hal pertama yang harus kamu tahu jika memutuskan menerbitkan bukumu secara mandiri adalah kamu akan membiayai semua prosesnya.

Jika kamu menggunakan jasa editor, layouter, proofreading profesional, cover desainer dan lain sebagainya, maka kamu harus membayar semuanya dengan uangmu sendiri. Dan itu tentu saja akan membutuhkan biaya yang tidak sedikit.

Berbeda sekali dengan penerbitan konvensional yang kamu hanya perlu menyerahkan naskahmu lalu terima beres. Tidak ada biaya sama sekali dalam penerbitan buku dengan cara ini.

Jadi, jika kamu memang mencari cara menerbitkan buku sendiri gratis, penerbitan konvensional sudah pasti adalah salah satu caranya.

Kurang Terekspos

Photo by cottonbro on Pexels.com

Menjadi punulis yang bukunya diterbitkan oleh penerbitan konvensional atau penerbit mayor akan memberi akses padamu pada berbagai jenis publikasi lain terkait dirimu sendiri. Penerbitan mayor seperti Gramedia memilih banyak platform yang prestisius untuk mendukung dan membuat para penulis mereka bersinar.

Bersama penerbit konvensional kamu mungkin akan sering diajak roadshow, launching buku, meet and greet bersama fans, dan lain sebagainya. Dalam penerbitan mayor juga peluang untuk menjadi penulis best seller terbuka lebar.

Nah, dengan segala sumber daya yang dimiliki oleh penerbit konvensional dan tidak ada pada penerbitan mandiri seperti ini, sudah jelas bahwa kamu yang ada di jalur self publishing, mungkin saja tidak akan begitu terlihat dalam radar.

Tidak Mudah Mengakses Jaringan Toko Buku Besar

Photo by Mark Cruzat on Pexels.com

Saya pernah bertanya tentang hal ini kepada salah satu penerbit saya; Bagaimana supaya buku saya bisa masuk jaringan toko-toko besar?

Informasi yang saya terima saat itu adalah saya harus mencetak buku sebanyak 3.000 eksemplar dengan biaya sendiri dan kemudian membawanya ke jaringan toko buku besar untuk dititip jual (konsinyasi) yang harga konsinyasi-nya sendiri di bawah harga produksi.

Bagaimana pun sudut pandangnya, hasil hitunganya adalah rugi.

Lihat itu, bagaimana sulitnya seorang penulis dari self publishing mengakses jaringan toko besar.

Dengan kenyataan ini tidak salah jika ada penulis yang megatakan bahwa hampir mustahil self publishing bisa masuk ke jaringan toko buku besar tanpa siap untuk rugi dari sisi biaya.

Tidak Ada Bantuan

Photo by cottonbro on Pexels.com

Nah, ini adalah perbedaan yang paling signifikan antara penerbitan mayor atau konvensional dengan cara menerbitkan buku sendiri dari wattpad atau dari platform apa pun tempat kamu menulis, yang dilakukan dengan self publishing.

Dalam penerbitan mayor, kamu tidak perlu pusing memikirkan editing, pembuatan cover, layouting dan semacamnya, semuanya akan dikerjakan oleh tim ahli yang sudah berpengalaman.

Namun jika kamu datang dari dunia self publishing, maka tidak ada bantuan untuk ini. Kamu harus melakukannya sendiri atau membayar orang lain dengan uangmu sendiri.

Perbedaan Self publishing versus Traditional Publishing (Penerbitan Mandiri vs Penerbitan Konvensional)

Photo by Karolina Grabowska on Pexels.com

Ada cukup banyak perbedaan antara self publishing dan penerbit konvensional. Namun, untuk membuatnya lebih sederhana, kolom di bawah ini akan membantu menjelaskannya;

Self Publishing atau Penerbitan MandiriPenerbitan Konvensional atau Penerbitan Mayor
Penulis memiliki kendali atas semua proses penerbitan seperti isi naskah, editing dan juga sampul buku.Penerbit mayor mengendalikan proses penerbitan dan arah dari naskah yang dikirimkan penulis.
Penulis menanggung semua biaya penerbitan, jumlahnya tergantung dari jenis self publishing itu sendiri.Semua biaya penerbitan ditanggung oleh penerbitan mayor.
Semua penghasilan dari penjualan buku adalah milik penulis.Hasil penjualan buku masuk ke kas penerbit mayor untuk kemudian dibagikan ke penulis dalam bentuk royalti yang besarnya berkisar antara 7 – 12% dari harga buku.
Penulis memegang semua hak atas karyanya.Ini tergantung dari perjanjian dengan penulis, namun pada kasus yang sering terjadi, penerbit mayor memiliki hak atas mayoritas isi naskah.
Jangkauan pemasaran terbatas dan tidak memiliki akses ke jaringan toko besar.Jangkauan pemasaran luas, buku dapat masuk di berbagai jaringan toko buku besar seperti Gramedia dan sebagainya.
Untuk terlihat dan terkenal, membutuhkan lebih banyak perjuangan secara mandiri.Penulis berpeluang untuk menjadi terkenal, bestseller, dan sangat tenar dengan bantuan platform yang dimiliki penerbit mayor.

Berapa Perkiraan Biaya Penerbitan Mandiri?

Photo by Karolina Grabowska on Pexels.com

Lantas, setelah melihat keunggulan, perbedaannya dengan penerbitan mayor dan lain sebagainya, sekarang masuk ke pertanyaan yang mungkin sering mampir di benak para penulis pemula; Berapa sebenarnya biaya yang dibutuhkan untuk menerbitkan buku secara mandiri atau self publishing?

Sebenarnya biaya self publishing ditentukan juga oleh apakah kamu kamu memilih menjadi Self Publisher DIY Superman atau sebagai Self Publisher Assisted.

Jika kamu memilih menjadi Author Superman yang does everything by themselves, maka kamu dapat menekan biaya sangat murah bahkan gratis sama sekali. Biaya yang kamu butuhkan hanyalah untuk mencetak buku, yang itu pun dapat kamu lakukan dengan pemberlakukan sistem PO (Print on Order) atau Print on Demand (POD).

Jadi hakikatnya memang tanpa biaya sama sekali atau gratis.

Beda cerita jika misalnya kamu menggunakan metode Self Publishing Assisted dimana kamu juga menggunakan jasa editor profesional, proofreader, layouter atau penata letak, dan juga desainer cover.

Semua job assisted ini bisa mencapai biaya hingga Rp, 3.000.000 untuk buku dengan tebal 250-an  jumlah halaman.

Oh ya, saya bisa berbagi ilmu menjadi penulis Superman pada kamu dengan biaya hanya 10% dari jumlah tersebut, caranya kamu bisa menghubungi www. Penulisgunung.id disini.

7 Langkah Paling Penting Dalam Penerbitan Mandiri atau Self Publishing

Selanjutnya adalah langkah teknis apa yang kamu harus lakukan untuk maju dalam penerbitan mandiri atau self publishing.

Berikut adalah step by step yang dapat kamu jadikan panduan untuk menerbitkan karya tulismu secara indie atau mandiri.

Tulis Naskah Bukunya

Photo by Pixabay on Pexels.com

Apakah kamu akan memilih penerbit mayor atau dengan cara menerbitkan buku novel-mu dengan self publishing, langkah pertamanya adalah sama yakni; menulis naskahnya terlebih dahulu.

Proses menulis buku ini dapat kamu pelajari caranya pada banyak tempat dan media. Jika kamu ingin melihat panduan yang lebih komprehensif, kamu bisa membaca artikel cara menulis buku novel dan cerpen untuk pemula yang saya publish beberapa waktu yang lalu.

Mencari ide penulisan buku atau mengeksekusinya menjadi sebuah naskah dapat kamu putuskan sebelum masuk ke langkah selanjutnya. Beberapa pilihan yang paling umum dalam penulisan pemula untuk diterbitkan misalnya adalah;

Buku Fiksi

Photo by Alesia Kozik on Pexels.com

Kamu dapat mempelajari bagaimana cara menulis buku fiksi, membangun karakter, menentukan ide, dan menyempurnakan setting pada banyak sumber. Khusus untuk penulisan kreatif seperti ini, kamu juga dapat membaca referensinya dalam tulisan saya berikut ini.

Karya fiksi sendiri memiliki banyak macam dan kamu bebas untuk memilih yang mana. Kamu bisa memulainya dengan membuat kumpulan buku cerpen, buku puisi, buku penulisan bebas atau pun novel dan biografi.

Macam-macam jenis tulisan fiksi sendiri dapat kamu lihat disini.

Buku Non fiksi

Photo by Olya Kobruseva on Pexels.com

Untuk menulis naskah buku non fiksi, kamu tentu saja tidak bisa mengandalkan imajinasi dan kreativitas semata. Kamu juga membutuhkan sumber dalam penulisan yang kamu lakukan.

Dalam penulisan ini kamu bisa melakukan riset dengan penelitian kepustakaan, riset melalui sumber-sumber di internet, atau melakukan riset secara langsung melalui studi lapangan, studi kasus, interview dan lain sebagainya.

Buku Memoirs

Photo by Suzy Hazelwood on Pexels.com

Nah, ini adalah yang cukup banyak ditanyakan melalui blog ini yakni mengenai bagaimana cara menulis kisah hidup sendiri atau yang lebih populer disebut memoar atau memoirs.

Saya sendiri menyediakan pelatihan online untuk jenis tulisan ini yang memastikan kamu bisa menyelesaikan buku yang berisi kenangan penting dalam hidupmu secara tuntas.

Untuk mengikuti pelatihan online ini kamu hanya perlu mengisi formulir berikut ini.

Edit Naskahnya

Photo by Ron Lach on Pexels.com

Langkah kedua yang harus kamu lakukan setelah selesai menuliskan naskah bukumu adalah dengan melakukan editing atau pengeditan. Proses ini bisa menjadi bagian yang paling melelahkan dan kamu harus memiliki kesabaran yang penuh untuk bisa melakukannya.

Pengeditan bisa saja sangat ekstrim dimana penulis bahkan harus ‘menulis ulang’ naskahnya. Kamu bahkan bisa melakukan hal ini berkali-kali ketika misalnya proses editing yang kamu lakukan terasa belum memuaskan.

Saya biasa memadukan proses editing dengan proofreading, dan ini tidak sesederhana kedengarannya. Pada buku seperti DEWI GUNUNG yang tebalnya hampir 600 halaman, saya bahkan hampir depresi untuk bisa menyelesaikannya.

Tapi itu cukup sebanding dengan hasilnya.

Dalam editing kamu bisa memilih dua cara berikut ini;

  • Edit sendiri semaksimal yang kamu mampu; Sebagai Superman dan DIY authors, kamu harus melakukannya sendiri, dan ini pula yang saya lakukan selama ini. Keterbatasan sumber daya memaksa setiap penulis yang memilih jalur untuk melakukan apa yang bisa ia lakukan. Pengetikan typho, kalimat ambigu, alur yang merepotkan, dan pesan yang kurang jelas, semuanya disapu bersih. Intinya adalah, edit semaksimal yang bisa kamu lakukan.
  • Biarkan profesional melakukannya untukmu: Nah, ini lebih mudah. Kamu tinggal menyerahkan naskahmu pada editor profesional, dan tunggu saja hasilnya untuk kemudian dilanjutkan pula ke proofreader.  Ini langkah yang sangat gampang namun tentu saja ada biaya yang harus kamu keluarkan.

Buat Cover dan Layout Naskahnya

Photo by Polina Zimmerman on Pexels.com

Salah satu tantangan besar yang saya hadapi pada saat merilis sebuah buku baru adalah bagian ini; membuat cover atau merancang sampul. Untuk alasan yang sama, saya kemudian menyerahkan beberapa desain sampul buku saya kepada profesional.

Namun saya suka belajar dan beberapa buku saya yang baru, bagian ini sudah bisa saya lakukan sendiri pula.

Di samping cover atau sampul, cara menerbitkan buku gratis melalui self publishing juga meminta kamu untuk melakukan layouting atau tata letak secara mandiri.

Menariknya saat ini, proses tata letak bisa lebih mudah kamu lakukan dengan bantuan template. Nah, cetakan atau template-nya sendiri bisa kamu peroleh secara gratis atau berbayar melalui berbagai website penulisan.

Atau jika tidak ingin terlalu repot dan kamu mungkin tidak memiliki waktu ekstra, kamu juga bisa membayar profesional untuk tugas yang satu ini.

Persiapkan Buku dalam Bentuk Ebook dan Cetak

Photo by Dominika Roseclay on Pexels.com

Setelah naskah bukumu siap saji, sekarang waktunya untuk mengubah semua ketikan dan tampilan komputer itu dalam bentuk kertas atau dalam buku yang sebenarnya.

Percayalah, momen ini akan sangat mengesankan. Kamu tidak akan mudah melupakan bagaimana untuk pertamakalinya kamu memegang sebuah buku yang disampulnya tertulis nama kamu sendiri.

Namun masalahnya, untuk mencetak buku langsung kamu juga membutuhkan biaya. Beberapa penerbit indie bahkan memasang batas minimal percetakan yang diperbolehkan. Ada yang dapat memproses cetak bukumu jika jumlahnya adalah 100 eksemplar, ada yang 50 eksempar, atau ada juga lebih sedikit daripada itu.

Sebagai solusinya, kamu bisa menempuh dua cara ini.

Print on Demand (POD) atau Print On Order (PO)

Source: KristianJi

Hanya mencetak jika ada permintaan adalah solusi yang menarik untuk diambil. Pada beberapa judul buku, saya juga menempuh cara ini.

Dengan cara ini kamu akan terbebas dari keharusan membayar biaya cetak untuk mencetak sejumlah buku. Keuntungan lainnya adalah kamu dapat menghindari potensi risiko penumpukan stok buku yang mungkin saja tidak laku terjual.

Ebooks

Menjual buku dalam bentuk ebook adalah kemudahan yang sangat menarik.

Kamu tidak perlu repot memikirkan biaya cetak, gambar yang buram, stok yang menumpuk atau hal lainnya. Hanya dengan sekali meng-upload– bukunya di platform penjualan seperti Google Play Book dan Amazon, kamu dapat menjualnya jutaan kali tanpa takut kehabisan stok.

Buka Pre-order

Photo by Taryn Elliott on Pexels.com

Langkah selanjutnya yang penting untuk kamu tempuh sebagai self publisher adalah dengan membuka pre-order atau PO bukumu sebelum ia sendiri dirilis.

Proses pre-order dapat kamu lakukan paling lama tiga bulan sebelum buku dirilis. Kamu dapat menarik biaya pembelian buku lebih dulu dari orang-orang yang melakukan pre-order dan itu bisa digunakan sebagai biaya produksi bukumu.

Jadi, mudah, murah dan gratis, bukan?

Akan tetapi pertanyaannya kemudian adalah, berapa banyak orang tertarik melakukan pre-order atas bukumu?

Saya senang membagikan kisah cerita ini bahwa buku saya yang berjudul Wajah Maut Mountaineering Indonesia terjual di atas 500 eksemplar melalui pre-order.

Mungkin ini bukan angka yang terlalu besar untuk kamu. Namun jika itu adalah buku pertamamu yang langsung habis terjual bahkan ketika bukunya sendiri belum dicetak, maka tidak ada salahnya kamu merasa senang dan cukup bangga.

Pasarkan Bukumu di Berbagai Lini

Photo by cottonbro on Pexels.com

Langkah selanjutnya adalah memastikan bukumu ada di setiap lini dan media pemasaran yang tersedia.

Dengan ketersediaan media online seperti sekarang ini, kamu bisa memaksimalkan marketing bukumu melalui media sosial seperti facebook dan instagram. Kamu juga bisa mengoptimalkan peran marketplace seperti shopee, tokopedia, bukalapak, dan lain sebagainya.

Bahkan jika kamu memiliki group whatsapp, group alumni, group keluarga atau group apa pun yang bisa kamu gunakan untuk mensosialisasikan bukumu, maka gunakan.

Tidak perlu dihiraukan apa pun tanggapan orang yang ada di dalamnya, poin yang kamu lakukan dari cara ini adalah memasarkan bukumu dan mensosialisasikan karyamu yang telah atau akan diterbitkan.

Buat Perencanaan Launching yang Menarik

Photo by Pixabay on Pexels.com

Merilis buku itu adalah sesuatu yang asyik dan mungkin juga membanggakan pada beberapa orang. Moment ini seperti memanggil orang-orang untuk berkerumun dan kamu naik ke atas panggung untuk mengatakan; “Hai, saya telah menulis sebuah buku!”

Untuk membuat moment ini menjadi istimewa, kamu harus merencanakannya sebaik mungkin.

Jika kamu adalah orang yang tidak terlalu ingin ribet, kamu bisa mengajak orang lain untuk melakukannya. Saya pernah melakukan hal serupa ketika merilis buku saya yang berjudul Gunung Kuburan Para Pemberani. Saat itu proses launching dilakukan di café salah satu teman di kota Magelang.

Cara ini menghadirkan konsep mutualisme yang menarik dimana saya bisa merilis buku saya dengan cara yang asyik sementara teman saya mendapatkan pengunjung café yang lebih banyak sekaligus juga promosi tempat usahanya,

Tips Sukses Menerbitkan Buku Secara Mandiri

Photo by Andrea Piacquadio on Pexels.com

Nah, sebagai hal terakhir dalam artikel bagaimana cara menerbitkan buku sendiri ini, saya akan menyertakan 5 tips sukses self publishing.

Tips ini mudah ditulis dan lebih mudah lagi untuk kamu baca, namun merefleksikannya secara disiplin, kamu akan membutuhkan banyak perjuangan dan usaha.

Akan tetapi jika kamu berhasil mengkombinasikan tips menerbitkan buku sendiri berikut dengan kedisiplinan dan semangat pantang menyerah, kamu sudah pasti akan berjumpa dengan kesuksesan.

Apa saja tipsnya?

Tulis Apa yang Laku

Photo by RODNAE Productions on Pexels.com

Untuk menjadi seorang self publishers yang sukses, kamu harus menjual sangat banyak buku, dan itu artinya kamu harus menjual buku yang akan dibeli oleh banyak orang.

Ini terdengar sangat opurtunis, tapi itu memang benar.

Hanya buku yang laku dijual yang bisa menghasilkan uang. Jadi, kamu memang harus mampu melihat di pasaran buku apa yang sebenarnya diminati, apakah misteri, romantis, horror, petualangan atau apa?

Pada umumnya buku fiksi adalah yang paling banyak merajai top selling. Akan tetapi bukan berarti buku non fiksi tidak punya peluang. Jika kamu mampu menulis buku non fiksi dengan bagus dan kuat, kamu pun mampu meraih hal yang sama.

Fokus pada Pembaca Spesifik

Photo by Pixabay on Pexels.com

Bukan hanya spesifik, tapi juga ultra-spesifik.

Seorang penulis yang memilih jalur penerbitan mandiri adalah orang yang harus memiliki basis peminat tulisan yang besar. Ini mungkin tidak mudah bahkan banyak orang yang masih bertarung dengan hal tersebut, termasuk penulis blog ini.

Namun pembaca spesifik akan memberikan perhatian yang fanatik padamu, dan mereka adalah orang-orang yang akan setia dengan karya-karyamu jika kualitas yang kamu berikan menyenangkan mereka.

Di samping itu, pembaca spesifik adalah tim marketing yang akan dengan senang hati mempromosikan tulisanmu dalam lingkungan mereka sendiri.

Jadi, mereka tentu akan membuatmu jauh lebih sukses saat berfokus dengan mereka.

Cover yang Menarik itu Penting

Photo by Thought Catalog on Pexels.com

Kamu mungkin sering mendengar pepatah yang mengatakan ‘jangan menilai buku dari sampulnya’.

Tapi, bagaimana pun, mayoritas orang (79% persisnya) tetap menerapkan hal ini tanpa mereka sadari saat memilih sebuah buku.

Nah, sebagai self publisher kamu harus menyadarinya. Bahwa membuat cover atau sampul buku yang menarik itu penting.

Jadi, pikirkan itu dengan seksama, baik kamu memilih cara menerbitkan buku sendiri di Malaysia, di Indonesia, atau di mana saja.

Harga Murah Penjualan Tinggi

Photo by Anna Tarazevich on Pexels.com

Memiliki buku dengan harga hanya Rp. 9.900 per eksemplar atau per-ebook copy, tentu tidak cukup menarik untuk didiskusikan. Ini harga yang murah, darimana pun kamu melihatnya.

Tapi, bagaimana jika kamu bisa menjualnya satu juta copy dalam satu bulan?

Kamu akan mendapatkan penghasilan hampir satu miliar!

Itu jumlah yang banyak, lho.

Ini adalah tips yang disarankan banyak self publisher sukses dunia. Fokus padan penjualan yang tinggi dan buat harganya lebih rendah dan sangat terjangkau. Terutama jika kamu menjual bukumu dalam bentuk ebook.

Apa yang Kamu Lakukan Sekarang?

Photo by Jeff Stapleton on Pexels.com

Kamu telah melihat bagaimana cara menerbitkan buku sendiri, sekarang pilihannya ada padamu; apakah mencoba melakukannya, atau melupakannya.

Jika kamu tetap memilih untuk mencoba cara menerbitkan buku sendiri di Gramedia atau di penerbit mayor lainnya, maka kamu harus lebih banyak bersabar dan jangan pernah menyerah meskipun karyamu nantinya belum dipilih. Tetap berusaha, terus dan terus, sampai kamu berhasil.

Lalu, jika kamu memilih untuk menerbitkan buku secara mandiri melalui self publishing, maka bersiaplah untuk berjuang lebih banyak daripada yang lainnya.

Ini medang juang yang tidak mudah, tapi akan sepadan dengan hasilnya. InsyaAllah.


anton sujarwo

Anton Sujarwo

Saya adalah seorang penulis buku, content writer, ghost writer, copywriters dan juga email marketer. Saya telah menulis 14 judul buku, fiksi dan non fiksi, dan ribuan artikel sejak pertengahan tahun 2018 hingga sekarang.

Dengan pengalaman yang saya miliki, Anda bisa mengajak saya untuk bekerjasama dan menghasilkan karya. Jangan ragu untuk menghubungi saya melalui email, form kontak atau  mendapatkan update tulisan saya dengan bergabung mengikuti blog ini bersama ribuan teman yang lainnya.

Tulisan saya yang lain dapat dibaca pula pada website;

Saya juga dapat dihubungi melalui whatsapp di tautan ini.

Fortopolio beberapa penulisan saya dapat dilihat disini:


Buat situs web atau blog di WordPress.com

Atas ↑