7 HAL PENTING TENTANG STORYTELLING YANG HARUS DIKETAHUI TIAP PENULIS DAN PENDONGENG

Storytelling sama sekali bukan tentang teknik, metode, atau tips-tips yang memukau. Storytelling lebih daripada itu, ini adalah tentang seni dan mahakarya dalam bercerita. Sebagai seni, tentu saja storytelling akrab pula dengan imajinasi, instuisi, inovasi, kreatifitas, keterampilan dan latihan.

Kamu tidak bisa menjadi seorang storyteller hebat hanya dengan sekali duduk atau setelah mengikuti satu kali kursus storytelling. Untuk menjadi seorang yang hebat dalam bercerita, kamu harus melalui proses yang panjang dan mungkin melelahkan.

Terdengar menakutkan, ya?

Tidak juga sebenarnya, terutama jika kamu tahu bahwa storytelling telah menjadi kunci pada kesuksesan banyak hal.

Para pemasar atau sales menggunakan storytelling untuk mengeksekusi prospek. Para pembicara, penceramah, politikus, pengacara, guru, penulis dan profesi apa pun yang mengharuskan kamu berinteraksi dengan orang lain secara intens, storytelling telah menjadi bagian paling menarik yang menentukan kesuksesannya.

Nah, jika kamu adalah salah satu dari orang yang membutuhkan story telling atau storytelling dalam mencapai tujuanmu, artikel dari www.penulisgunung.id kali ini ditulis untuk kamu.

Jadi, apa sebenarnya storytelling itu?

Pengertian Storytelling

Photo by Artem Podrez on Pexels.com

Hal pertama yang harus kamu ketahui adalah apa sebenarnya yang dimaksud dengan storytelling?

Berdasarkan definisi Wikipedia, storytelling diartikan sebagai sebuah cara yang dilakukan untuk menyampaikan suatu cerita kepada para penyimak, baik dalam bentuk kata-kata, gambar, video, tulisan, foto atau pun suara.

Akan tetapi pengertian storytelling yang lebih menarik mungkin adalah suatu proses yang mendayagunakan fakta atau narasi sebagai cara mengkomunikasikan sesuatu kepada orang lain yang menjadi penyimak ceritamu. Beberapa cerita dalam  storytelling adalah nyata, sementara yang lainnya bisa saja adalah improvisasi pencerita supaya pesan cerita yang ingin disampaikan bisa diterima dengan lebih baik

Storytelling adalah salah satu bahasa yang paling universal dan dapat diterima oleh semua kalangan. Cerita akrab untuk orang-orang kaya, cerita biasa diperdengarkan pada para bangsawan di masa lalu, dan cerita juga adalah sesuatu yang sangat lazim dituturkan di tengah rakyat jelata. Pendek kata, storytelling adalah jenis komunikasi yang paling efektif di berbagai lapisan sosial masyarakat.

Meskipun storytelling adalah bahasa yang menyentuh semua kalangan dan semua bisa bercerita, uniknya, hanya sedikit orang yang benar-benar hebat melakukannya. Kamu mungkin mengenal salah satu di antara mereka sebagai penceramah, mubaligh, pelatih, penulis konten, guru atau apa pun sebutannya. Dalam bertutur, orang-orang ini seakan memiliki pesona yang tak terkalahkan.

Orang-orang dengan kemampuan seperti ini telah menganggap bahwa bercerita itu seperti halnya melukis. Perbedaannya adalah, pelukis melukis dengan media kuas dan cat, storyteller atau pendongeng menulis dengan kata-kata. Persamaannya; mereka sama-sama mampu memberikan imajinasi yang sempurna di benak orang lain yang menjadi pemirsa karya mereka.

Nah, sebelum mempelajari struktur storytelling seperti apa yang paling efektif, sekarang mari me-refresh kembali mengapa mendongeng atau storytelling adalah sesuatu yang sangat menarik untuk dipelajari.

Mengapa Harus Storytelling?

Source: Kompas

Ada demikian banyak alasan yang menjadi motivasi mengapa orang-orang memilih storytelling.

Sales atau tim marketing mempelajari hal ini untuk meningkatkan penjualan, guru mempelajarinya untuk mencapai tujuan pendidikan, terapist mengaplikasikannya untuk kesembuhan pasien, dan lain sebagainya.

Akan tetapi sebelum lebih jauh berbicara tentang tema yang lebih luas seperti itu, kali ini saya akan mengajak kamu untuk berfokus pada mengapa harus storytelling yang dipilih? Mengapa bukan data-data, angka-angka, presentasi, atau pun analisis informasi formal lainnya.

Nah, berikut adalah alasannya.

Karena Cerita Mampu Menginspirasi dan Memotivasi

Source: Freepik

Manfaat storytelling yang pertama adalah karena pilihan ini memiliki dampak yang jauh lebih baik dalam menginspirasi dan memotivasi orang lain.

Berapa banyak orang yang tertarik untuk bergabung dalam misalnya; multilevel marketing, karena mendengar cerita bahwa orang-orang yang lebih dulu bergabung telah sukses dan kaya raya.

Cerita tentang bagaimana mereka mendapat reward mobil, uang, perhiasan, rumah bahkan pesawat terbang, telah bermain dalam benak dan mempengaruhi orang lain untuk melakukan hal serupa.

Terlepas dari apakah multilevel marketing tersebut menyampaikan fakta atau mengada-ada, yang jelas metode storytelling jelas menguntungkan buat perusahaan mereka.

Cerita bagimana pun juga, jauh lebih menarik dari sederet angka dan data. Cerita akan masuk ke otak, ke hati dan mengemudikan emosi seseorang untuk tertawa, menangis, haru, benci, marah atau yang paling umum dari tujuan para sales, adalah membeli sesuatu.

Karena Cerita Mampu Membangun Rasa Kebersamaan

Photo by cottonbro on Pexels.com

Alasan kedua yang juga menjadi manfaat storytelling adalah kemampuannya membangun kebersamaan manusia.

Cerita tentang Malin Kundang yang dikisahkan oleh pendongeng terbaik bagaimana pun juga akan mengingatkan pendengarnya tentang anak yang durhaka.

Perasaan marah akan terbangun ketika mendengar cerita itu. Tidak perduli apakah kamu seorang remaja, mahasiswa, orang tua, anggota partai, pejabat, pedagang atau pedagang keliling, kemarahanmu akan terusik jika kisah itu diceritakan oleh orang yang tepat.

Apa pun latar belakang seseorang, storytelling singkat yang mampu dibawakan dengan efektif akan memberikan imbas yang kuat. Storytelling memiliki kemampuan membangun kebersamaan di antara para pendengar atau pemirsanya untuk mencapai satu tujuan yang sama.

Karena Cerita Mampu Menyederhanakan Sesuatu yang Rumit

Photo by Andrea Piacquadio on Pexels.com

Seorang guru matematika mengumpamakan sesuatu yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari untuk menjelaskan rumus matimatika yang rumit. Seorang ustadz atau da’i, juga memberikan contoh yang lebih konkret untuk memberikan contoh penerapan dalam konsep ibadah seperti sedekah, hak waris, dan semacamnya.

Kamu pernah menjumpai hal semacam itu, bukan?

Itu adalah manifestasi dari manfaat storytelling sebagai cara membuat yang abstrak dan rumit, menjadi sesuatu yang jauh lebih jelas dan sederhana.

Dengan mengambil perumpamaan yang dinarasikan dalam cerita, kamu bahkan bisa menyampaikan sebuah pesan yang berat, njlimet, dan mungkin tidak masuk akal sekali pun, menjadi sesuatu yang mudah untuk dipahami orang lain.

Apa yang Membuat Storytelling Menjadi Menarik?

Photo by Andrea Piacquadio on Pexels.com

 Ada beberapa elemen yang dianggap sebagai unsur yang tidak bisa tidak, harus ada dalam sebuah cerita dan storytelling.

Kamu mungkin menganggap bahwa kata-kata dalam cerita bisa bermakna baik atau buruk, tergantung siapa yang menceritakannya. Namun memang, secara spesifik struktur storytelling yang baik haruslah memenuhi beberapa kriteria berikut ini;

  • Mudah Diingat. Hal pertama dari storytelling yang wajib ada adalah bahwa ceritanya mudah diingat atau memorable. Kamu bisa memilih humor, skandal, inspirasi, atau apa saja, namun pastikan itu mudah untuk diingat oleh pemirsamu.
  • Universal. Cerita yang baik adalah cerita yang dapat diterima oleh semua orang dan dari semua latar belakang. Pastikan kamu mempelajari lebih dulu siapa yang menjadi pemirsamu, baru kemudian menentukan cerita yang dapat mereka terima dengan lebih baik.
  • Mendidik. Hal yang harus ada pula dalam sebuah storytelling adalah muatan pendidikannya. Sebaiknya kamu memilih cerita yang merangsang rasa ingin tahu para pemirsamu.
  • Menghibur. Nah, ini adalah salah satu unsur dari storytelling yang harus kamu perhatikan dengan seksama. Cerita haruslah memiliki muatan hiburan atau memberikan rasa penasaran kepada pemirsa untuk mengetahui kelanjutannya.
  • Terstruktur. Kamu tidak diharuskan untuk memulai ceritamu secara krnologis, namun cara berceritanya tetaplah harus tersusun dengan baik. Kamu tidak bisa mencapai tujuan dasar storytelling jika struktur storytelling-mu sendiri berantakan.

Apa Komponen Dasar Storytelling?

Photo by cottonbro on Pexels.com

Supaya memudahkan kamu dalam membangun storytelling yang menarik, kamu juga perlu mengetahui komponen apa saja yang menjadi unsur pembangunnya.

Layaknya menulis cerpen atau novel, menyampaikan storytelling dalam bentuk apa pun perlu mempertimbangkan komponen pembangunnya. Semakin baik kamu memahami dan mengeksekusi komponen-komponen ini, maka semakin mudah pula pesan yang ingin kamu sampaikan diterima oleh pemirsa.

Jadi, apa saja yang menjadi komponen dasar penyusun storytelling yang baik?

Karakter atau Tokoh

Photo by Pixabay on Pexels.com

Setidaknya sebuah cerita harus memiliki satu tokoh atau karakter yang menjadi subjek perceritaan. Karakter atau tokoh ini adalah layaknya jembatan yang menghubungkan antara storyteller dengan pemirsanya.

Lantas, bagaimana menciptakan tokoh atau karakter yang kuat dalam storytelling?

Kamu bisa mempelajari cara membangun karakter atau tokoh dalam penulisan cerita disini, namun poin utama yang harus pula kamu ketahui adalah; karakter yang kuat haruslah mampu menyatu dalam imajinasi pemirsamu.

Artinya jika kamu mampu membuat pemirsa merasa bahwa karakter yang diceritakan dalam storytelling adalah mereka, atau seperti diri mereka, maka tujuan dan pesan ceritakan akan sangat mudah untuk diterima.

Konflik

Photo by Pixabay on Pexels.com

Tidak ada cerita tanpa konflik, dan tidak ada pula storytelling tanpa masalah.

Masalah adalah hal yang membuat karaktermu hidup dan menari dalam benak pemirsa. Konflik atau masalah adalah medan perang dimana tokoh yang kamu ceritakan menunjukkan kemampuannya menyelesaikan masalah.

Masalah atau konflik juga mampu memberikan gambaran yang jelas mengenai bagaimana karaktermu berjuang, bertarung, menghadapi tantangan, dan semacamnya, yang juga pada banyak jenis storytelling menjadi bagian dari pesan itu sendiri.

Kamu bisa mempelajari cara membangun konflik dalam cerita disini.

Solusi

Photo by Pavel Danilyuk on Pexels.com

Secara teknis, solusi adalah ending dari sebuah cerita. Dan menariknya, tidak semua ending cerita harus bahagia.

Meskipun demikian, solusi adalah apa yang akan menjadi motor penggerak pemirsamu untuk memberi respon pesan yang kamu sampaikan. Jadi, kamu juga harus memberikan perhatian pada bagian ini, bagian dimana karaktermu menyelesaikan masalah mereka.

Pada dunia marketing, resolusi dari storytelling adalah call to action dimana para storyteller meninggalkan pemirsa dalam kondisi siap melakukan aksi yang seperti diminta oleh pencerita.

Oh ya, mengenai bagaimana memilih ending yang baik dalam cerita, kamu bisa mempelajarinya dalam artikel ini; 10 cara membuat ending dalam penulisan cerita fiksi.

Apa Saja Jenis-Jenis Storytelling?

Photo by Mark Neal on Pexels.com

Hal berikutnya yang juga sangat penting untuk kamu ketahui adalah mengenai jenis jenis storytelling itu sendiri.

Dengan mengetahui jenis storytelling yang tepat, kamu dapat memilih jenis mana yang paling ideal untuk disampaikan pada pemirsamu. Hal ini nanti akan mengkombinasikan beberapa unsur misalnya tujuan storytelling, pesan yang ingin disampaikan, dan siapa pemirsa yang menjadi tujuan bercerita.

Nah, apa sajakah jenis-jenis storytelling?

Storytelling Provokasi

Photo by Chinmay Singh on Pexels.com

Storytelling dalam jenis ini dimaksudkan untuk memprovokasi pemirsanya supaya melakukan sesuatu yang diinginkan oleh sroryteller.

Kamu dapat melihat konsep storytelling semacam ini pada banyak kasus dimana seorang pendongeng atau storyteller bercerita tentang tindakan-tindakan seseorang dalam mencapai satu tujuan. Lagi-lagi banyak praktisi multilevel marketing yang bisa diambil contohnya untuk menjelaskan jenis storytelling satu ini.

Tujuan utama dari storytelling ini adalah mengajak dan memprovokasi pemirsa untuk melakukan tindakan seperti tindakan karakter yang diceritakan. Mengenai apakah mereka mampu mencapai tujuan seperti dalam cerita atau tidak, itu sudah diuar tujuan storytelling.

Storytelling Narsisme

Photo by Dziana Hasanbekava on Pexels.com

Sama sekali tidak ada konotasi buruk dalam pemaknaan narsis dalam jenis storytelling satu ini. Kamu hanya berusaha menginspirasi pemirsa dengan menceritakan dirimu sendiri.

Menceritakan diri sendiri dapat memadukan banyak hal seperti orisinilitas, perjuangan, kemanusiaan, kegagalan dan juga pencapaian.

Ada banyak storytelling contoh yang seperti ini. Guru, pendidik, penceramah, politikus, cukup sering menggunakan metode ini dalam aktivitas mereka.

Storytelling Nilai-Nilai

Photo by Lisa on Pexels.com

Jenis storytelling yang satu ini bertujuan untuk mendiskusikan nilai-nilai yang mungkin tidak dipahami oleh beberapa orang yang menjadi pemirsamu.

Poin penting dari storytelling nilai-nilai adalah pemirsa dapat menangkap pesan emosi, karakter dan situasi berdasarkan cerita yang disampaikan. Tujuan spesifiknya supaya mereka dapat merasakan bahwa apa yang dialami karakter dalam cerita yang disampaikan, juga memiliki kesamaan dengan hidup mereka sendiri.

Kamu dapat menjumpai contoh storytelling satu ini dalam banyak kasus, seperti pelatihan pengembangan diri dan semacamnya.

Storytelling Spread

Photo by Laker on Pexels.com

Ada sedikit kemiripan storytelling ini dengan jenis provokasi. Namun secara khusus, storytelling spread bertujuan untuk menggerakan pemirsamu untuk mendiskusikan atau membagikan ceritamu pada yang lain.

Jadi, ketika para pemirsa menyimak cerita yang kamu sampaikan, mereka akan membagikan cerita kamu dengan sukarela.

Untuk mencapai efektivitas cerita, kamu harus menjaga karakter ceritamu seplural mungkin dalam berbagai sudut pandang sepaya dapat diterima secara luas.

Storytelling Edukasi dan Pengetahuan

Photo by Pixabay on Pexels.com

Jenis storytelling yang terakhir adalah untuk menyampaikan suatu pengetahuan, pengalaman kegagalan dan perjuangan, serta tentu saja mengenai keberhasilan.

Dengan cerita jenis ini, sebagai storyteller kamu bisa berharap bahwa para pembaca dapat mempelajari masalah yang kamu ceritakan dan solusi apa yang kamu dapatkan untuk mereka dipraktikkan.

Sekali lagi, para pemirsa akan mengukur cerita ini dengan mencerminkan pada diri mereka sendiri. Jika itu terjadi, artinya pesan yang kamu sampaikan telah sampai pada sasaran.

Bagaimana Proses Menyusun Storytelling yang Menarik?

Photo by Karolina Grabowska on Pexels.com

Sebagai sebuah seni layaknya lukisan, ukiran, dan lain sebagainya, storytelling juga membutuhkan latihan dan praktik terus-menerus supaya mencapai kesempurnaan. Mengasah imajinasi, keterampilan dan inovasi dalam bercerita juga membutuhkan proses yang panjang untuk dapat dilakukan dengan baik.

Proses panduan storytelling kali ini adalah langkah demi langkah yang bisa kamu ambil untuk membuat sebuah cerita yang menarik.

Ini tentu bukan jenis pekerjaan yang bisa kamu selesaikan dalam satu malam. Akan ada trial and error yang mewarnai perjalananmu mempraktikkannya. Akan tetapi semakin sering kamu melatih kamampuan kamu bercerita, semakin memukau pula penampilan kamu nantinya.

Dan yang terpenting; pesan apa yang ingin kamu tanamkan dalam benak pemirsa melalui storytelling, dapar diterima dengan sempurna.

Jadi, apa saja langkah-langkah yang bisa kamu lakukan dalam menyusun sebuah storytelling yang menarik?

Kenali Siapa Pemirsamu

Photo by ICSA on Pexels.com

Apakah kamu akan bercerita di depan remaja, mahasiswa, ibu-ibu PKK, Remaja Islam Masjid, atau siapa?

Langkah pertama yang harus kamu lakukan adalah, pastikan kamu mempelajari siapa yang akan menjadi pemirsa storytelling-mu.

Dengan mengenal pemirsamu, kamu akan memiliki peluang untuk mampu menjangkau mereka secara lebih totalitas.

Kamu dapat menyesuaikan cerita dengan latar belakang mereka. Atau jika cerita yang kamu sampaikan adalah fiksi, kamu juga bisa berimprovisasi bagaimana supaya ada bagian cerita yang terasa sangat dekat dengan kehidupan mereka.

Gambarkan dengan Jelas; Pesan Apa yang Ingin Kamu Sampaikan

Photo by Pixabay on Pexels.com

Langkah kedua yang harus kamu tetapkan sebelum kamu memulai proses storytelling itu sendiri adalah menentukan sebenarnya pesan apa yang ingin kamu sampaikan.

Apakah ceritamu membutuhkan waktu lima menit, setengah jam atau bahkan satu jam, selembar kertas, 2 gigabyte video dan lain sebagainya, pesan utama adalah dasarnya. Layaknya pondasi pada bangunan, pesan ini adalah apa yang akan menjadi ruh utama dalam ceritamu.

Apakah storytelling yang kamu bawakan untuk menjual produk, mengumpulkan dana, menjelaskan layanan perusahaan, atau mengingatkan orang akan sesuatu problem yang harus mereka waspadai, yang pasti, tentukan pesan ceritamu sejelas mungkin.

Tentukan Jenis Storytelling yang Akan Kamu Gunakan

Photo by Anastasiya Vragova on Pexels.com

Ini kembali kepada beberapa paragraf di atas, jenis storytelling apa yang ingin kamu gunakan.

Apakah jenis provokasi supaya orang melakukan tindakan yang kamu inginkan? Ataukah jenis spread supaya orang menyebarluaskan ceritamu dan menemukan kesamaan visi dalam kehidupan mereka sendiri.

Tentukan Apa yang Kamu Ingin Pemirsamu Lakukan Setelah Mendengar Cerita (CTA)

Photo by Aleksandr Nadyojin on Pexels.com

Bagian ini mungkin terasa sama seperti langkah kedua, tapi sebenarnya tidak. Langkah keempat ini adalah sesuatu yang lebih spesifik lagi. Dalam blogging kamu bisa menyebutkan dengan Call to Action atau CTA.

Jadi, apa yang kamu ingin pemirsa kamu lakukan setelah mendengar, melihat, menbaca ceritamu?

Pada bagian ini kamu tidak hanya berfokus pada pesan apa yang harus didapatkan pembaca. Akan tetapi lebih jauh lagi, kamu juga dapat menjelaskan dengan baik apa yang kamu ingin pemirsamu lakukan sebagai aksi mereka.

Apakah kamu ingin mereka membeli produkmu?

Apakah kamu ingin mereka bergabung dalam kelas yang kamu ajarkan, menyumbangkan uang untuk program sosial, bergabung menjadi follower atau subscriber, atau apa?

Pilih Media Bercerita

Photo by George Milton on Pexels.com

Cerita dapat tampil dalam berbagai bentuk dan cara. Cerita dapat dibaca melalui rangkaian kata-kata dan tulisan, cerita juga bisa didengar melalui radio atau rekaman, atau cerita juga bisa ditonton melalui video seperti di youtube dan tiktok.

Pilih media apa yang ingin kamu gunakan untuk bercerita kepada pemirsamu. Semua media cerita memiliki keunikan dan keunggulannya sendiri-sendiri, kamu dapat memilih berdasarkan performance terbaikmu dalam masing-masing media tersebut.

Secara umum kamu dapat memilih 4 media berikut untuk menyampaikan ceritamu;

  • Storytelling Tulisan; bentuknya dapat berupa artikel, blog post seperti yang kamu baca sekarang, buku , ebook atau yang lainnya. Kamu juga bisa menambahkan gambar, grafik, angka-angka untuk membuat ceritamu lebih hidup dalam media ini.
  • Storytelling Orasi; ini adalah yang paling sering kamu lihat dan paling populer, yakni bercerita secara langsung dari mulut ke telinga. Kamu bisa melihatnya dalam presentasi, rapat, dalam ceramah, dalam khutbah dan lain sebagainya. Media jenis storytelling satu ini membutuhkan lebih banyak latihan public speaking supaya kamu mahir melakukannya.
  • Storytelling Audio; Ini sama seperti suara langsung, hanya saja dalam bentuk rekaman. Kamu bisa melihat contohnya pada teknologi podcast.
  • Storytelling Digital: Kamu bisa bercerita melalui video, animasi, games atau video interaktif. Sejauh ini, ini adalah jenis storytelling yang paling kuat menyentuh emosi pemirsa sekaligus juga yang paling mahal dari sisi biaya.

Tuliskan Konsepnya atau Outlinenya

Photo by Alena Darmel on Pexels.com

Nah, langkah keenam untuk menyusun makalah storytelling ini mengharuskan kamu untuk menulis lagi.

Dengan latar belakang pemirsa yang sudah kamu ketahui, pesan yang ingin disampaikan sudah jelas dan, apa yang kamu ingin pemirsa lakukan setelah mendengar ceritamu juga sudah dipetakan dengan baik, maka membuat bagian ini akan jauh lebih mudah.

Kamu bisa membuat semacam outline dan garis besar cerita supaya proses eksekusinya menjadi lebih spesifik dan efektif.

Bagikan Ceritamu

Photo by Ivan Samkov on Pexels.com

Ini adalah langkah terakhir untuk membuat ceritamu semakin efektif dan menjangkau lebih banyak pemirsa.

Jadi sekarang, bagikan ceritamu!

Setelah pertarungan dan perjuangan membuatnya, sekarang waktunya untuk menyempurnakan perjuanganmu dengan membaginya pada orang lain. Tidak ada mantra khusus dalam langkah ini, namun semakin banyak tempat kamu membagikan ceritamu, semakin banyak pula feedback yang bisa kamu harapkan.

Kamu bisa membagikan ceritamu di media sosial seperti facebook, twitter, instagram, pinterest dan lain sebagainya. Jika bentuknya adalah digital, kamu juga bisa melakukannya di youtube, tiktok dan semacamnya.

Sekarang Terserah Padamu

Photo by Andres Ayrton on Pexels.com

Sebagai sebuah seni, storytelling adalah sesuatu yang menarik dipelajari dan dikuasai. Apalagi melihat dampaknya yang signifikan dalam banyak bidang, keterampilan ini akan membantumu untuk melaju lebih kencang menuju tujuan yang kamu inginkan.

Terserah padamu sekarang, apakah kamu akan mempelajari storytelling melalui media yang mana. Tulisan, orasi penyampaian langsung, rekaman atau digital, semua dapat kamu pilih untuk memaksimalkan potensi yang kamu miliki.

Khusus untuk tulisan dalam bentuk apa pun; apakah kamu menyukai media buku, artikel, quotes, kisah pribadi dan lain sebagainya, www.penulisgunung.id adalah tempat yang menarik untuk mempelajarinya.

Misalnya jika memiliki buku yang menjadi tujuanmu. Maka, selama kamu mengikuti metode yang disampaikan, dijamin dalam satu bulan kamu akan memiliki buku atas nama kamu sendiri.

Jadi, tunggu apa lagi? Mari bergabung dalam kelas menulis dibawah ini.


anton sujarwo

Anton Sujarwo

Saya adalah seorang penulis buku, content writer, ghost writer, copywriters dan juga email marketer. Saya telah menulis 14 judul buku, fiksi dan non fiksi, dan ribuan artikel sejak pertengahan tahun 2018 hingga sekarang.

Dengan pengalaman yang saya miliki, Anda bisa mengajak saya untuk bekerjasama dan menghasilkan karya. Jangan ragu untuk menghubungi saya melalui email, form kontak atau  mendapatkan update tulisan saya dengan bergabung mengikuti blog ini bersama ribuan teman yang lainnya.

Tulisan saya yang lain dapat dibaca pula pada website;

Saya juga dapat dihubungi melalui whatsapp di tautan ini.

Fortopolio beberapa penulisan saya dapat dilihat disini:


PANDUAN CARA MENULIS SKENARIO DENGAN MUDAH MURAH LENGKAP DAN GRATIS

Sebenarnya cara menulis skenario film pendek, film serial atau bahkan film dengan budget miliaran sekali pun, memiliki dasar dan teori yang sama. Struktur penulisan skenario yang diaplikasikan memiliki bagian-bagian yang sama persis. Ketika kamu memahami dasar penulisan skenario, maka kamu dapat mengembangkannya dalam penulisan jenis film apa pun.

Lantas, bagaimana sebenarnya cara menulis naskah dengan benar untuk kemudian diadaptasikan dalam film sebagai script  atau skenarionya?

Yuk, simak penjelasan lengkapnya berikut ini.

Panduan Lengkap Cara Menulis Skenario dan Berbagai Hal Penting yang Harus Diketahui dalam Melakukannya

Photo by Martin Lopez on Pexels.com

Sebelum mempelajari bagaimana menulis skenario dan tahapan-tahapan yang perlu dilakukan, sebaiknya kamu juga mempelajari pengertian dan dasar-dasar pengetahuan mengenai skenario. Semakin baik pemahaman yang kamu miliki tentang skenario, maka semakin baik pula eksekusi yang dapat kamu lakukan dalam proses penulisannya.

Untuk itu, berikut akan dibahas secara lengkap segala sesuatu mengenai penulisan script film sampai tutorial penulisan skenario itu sendiri yang InsyaAllah, dapat kamu praktikkan dengan mudah.

Panduan penulisan yang disampaikan dalam postingan ini tidak membutuhkan aplikasi membuat naskah film yang mungkin saja akan mengharuskan kamu untuk membayar biaya lisensinya. Dalam turioal penulisan script  film berikut, kamu hanya perlu menggunakan aplikasi microsoft word yang tentunya sudah terpasang di laptop yang kamu miliki.

Nah, apa saja hal yang harus kamu ketahui mengenai cara penulisan skenario?

Berikut uraiannya.

BACA JUGA:

Pengertian skenario

Photo by cottonbro on Pexels.com

Secara eksplisit Skenario adalah blue print atau cetak biru kerangka tulisan yang terdiri dari ide dan gagasan, ruang dan waktu, tokoh, aksi, dialog, alur cerita, yang disusun sedemikian rupa hingga menarik dan dapat diterjemahkan ke dalam bahasa visual.

Oya, apakah kamu sudah faham apa yang disebut dengan bahasa visual?

Bahasa visual jika diartikan dengan sederhana adalah sebuah metode penyampaian pesan kepada khalayak atau masyarakat luas melalui berbagai hal yang dapat dilihat secara kasat mata seperti, warna, gambar, bentuk, penataan, gerakan dan lain sebagainya.

Hal-Hal Pokok dalam Penulisan Skenario

Source: Freepik

Sebelum masuk ke struktur penulisan skenario, kamu sebaiknya juga memahami bagian-bagian penting dalam penulisan skenario. Berbagai bagian berikut adalah unsur-unsur yang kemudian setelah melalui berbagai tahap, ditransformasikan menjadi sebuah script  film yang sempurna atau skenario jadi.

Nah, apa saja bagian-bagian penting dari cara menulis skenario film?

Ide Pokok  atau Premis

Photo by Jou00e3o Vu00edtor Heinrichs on Pexels.com

Dapat dikatakan bahwa ide pokok atau premis adalah embrio paling awal dalam penulisan skenario. Secara sederhana ide pokok sendiri dapat diartikan sebagai satu kalimat perenungan atau kesimpulan filosofis, atau pesan pembuat film kepada penonton (premis).

Jadi, jika dipermudah maknanya adalah; Kamu ingin menyampaikan apa kepada penonton melalui film yang diadaptasikan dari sebuah skenario yang kamu tuliskan?

Logline atau Inti Sebuah Cerita

Photo by Andrea Piacquadio on Pexels.com

Selanjutnya bagian penting kedua dari cara penulisan sebuah skenario adalah dengan membuat logline atau inti cerita.

Logline merupakan pengembangan dari premis. Jika premis hanya berfokus pada pesan yang ingin disampaikan secara singkat, maka logline diperluas kembali dengan menambahkan unsur-unsur pokok dari cerita yang diangkat.

Dalam proses pembelajaran cara menulis naskah skenario, logline dapat dibagi dalam tiga pertanyaan paling utama sebagai unsur membangun cerita, yaitu;

  • Rumusan kalimat tentang siapa karakter yang diceritakan?
  • Apa keinginan atau tujuan karakter?
  • Dan apa hambatan karakter untuk mencapai tujuan atau keinginannya?

Latar

Photo by Taryn Elliott on Pexels.com

Bagian ketiga dalam penulisan skenario yang baik adalahnya adanya latar atau tempat dan waktu berlangsungnya cerita. Latar menjadi sesuatu yang sama pentingnya dengan karakter dalam menulis skenario. Deskripsi yang jelas dan mampu divisualisasikan adalah hal paling penting dalam menentukan latar.

Hal yang perlu kamu ingat juga adalah; bahwa latar tidak hanya terbatas pada tempat secara lahiriah saja. Latar cerita dalam menulis skenario atau script  film dapat pula dimaknai secara sosiologis seperti latar belakang agama atau keyakinan, adat istiadat, ideologi politik, teknologi dan lain sebagainya.

Di samping itu, jika penulisan skenario dalam jenis film fiksi ilmiah misalnya, latar juga tidak harus sesuatu yang realistis. Latar yang bersifat imajiner atau imajinasi juga dapat dimunculkan pada proses ini. Namun yang terpenting adalah, latar tersebut tetap dapat diadaptasikan dalam bahasa visual yang bisa dilihat oleh penonton.

BACA JUGA:

Penokohan

Photo by Erik Mclean on Pexels.com

Selanjutnya unsur penting dalam tutorial bagaimana cara menulis naskah yang benar adalah penokohan. Penokohan merupakan pengembangan dari karakter yang penjabarannya lebih luas lagi. Tujuan dari penulisan penokohan adalah sebagai upaya untuk menampilkan gambaran dan watak para tokoh dalam sebuah cerita.

Beberapa penokohan yang paling primer dalam penulisan skenario adalah sebagai berikut;

  • Tokoh protagonis
  • Tokoh antagonis
  • Tokoh pendukung

Dalam menggambarkan penokohan cerita, penting juga bagi kamu untuk menuliskan dengan jelas kedudukan para tokoh. Hubungan, kedudukan, dan sifat-sifat umum adalah penting untuk mendukung struktur penulisan skenario yang menarik dan lengkap.

Basic Story atau Garis Besar Cerita

Photo by Gabby K on Pexels.com

Basic story pada dasarnya merupakan pengembangan dari logline. Jadi, sebelum dieksekusi menjadi sebuah skenario yang dapat diubah ke dalam bentuk visual, logline kemudian dapat dikembangkan menjadi basic story terlebih dahulu.

Dalam basic story, terdapat beberapa unsur penyusun yang dapat digambarkan secara ringkas terlebih dahulu.

Unsur-unsur tersebut misalnya adalah;

  • Latar
  • Pengenalan tokoh atau karakter.
  • Permasalahan yang dihadapi si tokoh.
  • Bagaimana karakter atau tokoh mengatasi permasalahannya.
  • Gambaran hambatan yang dihadapi oleh si tokoh.
  • Berhasil tidaknya tokoh menyelesaikan permasalahan.

Plot atau Alur Cerita

Photo by Lu00ea Minh on Pexels.com

Oya, kamu tentu sudah tahu kan, apa yang dimaksud plot?

Secara mudah plot atau alur cerita dalam tata cara menulis skenario adalah peristiwa-peristiwa yang disusun dan ditata sedemikian rupa untuk mencapai efek tertentu bagi penonton. Prinsipnya adalah; semakin dramatis sebuah plot diatur, maka semakin baik.

Plot sendiri dapat dibagi dua macam secara umum, yaitu;

Plot Linear;

Adalah alur cerita yang yang disusun berurutan berdasarkan waktu. Jadi, peristiwa-peristiwa dalam plot linear dibuat sebagai seuatu yang berjalan sesuai dengan waktu normal. Misalnya cerita mulai dari pagi, siang, malam dan seterusnya.

Plot Non-Linier

Plot non-linier merupakan alur cerita yang disusun tidak terikat dengan kaharusan urutan waktu. Jadi, kamu misalnya dapat saja menceritakan sebuah kejadian pada sore hari terlebih dahulu, kemudian mundur ke kejadian pagi hari pada bagian yang kedua (flashback)

Sinopsis

Source: Masterclass

Sinopsis tidak hanya terdapat pada sampul belakang buku saja, ya. Dalam teknik menulis naskah skenario yang benar, istilah sinopsis juga digunakan.

Dalam struktur penulisan skenario, sinopis merupakan pengembangan dari basic story yang berisi rangkuman rangkaian peristiwa atau adegan. Penyusunan dapat berbentuk paragraf umum, namun urutan kejadian dari awal cerita hingga usai, sudah harus dapat digambarkan secara jelas.

BACA JUGA:

Treatment

Photo by cottonbro on Pexels.com

Nah, selanjutnya kamu akan masuk pada treatment yang merupakan kerangka skenario yang dikembangkan dari sinopsis dengan penjelasan yang lebih detail. Dalam treatment sudah terdapat deskripsi tempat dan waktu berlangsungnya adegan, karakter, aksi, garis besar dialog dan kadang juga type shot.

Apakah kamu tahu apa itu yang dimaksud dengan type shot?

Ya, type shot adalah sudut pandang pengambilan gambar dalam proses syuting. Hal ini tentu saja berkaitan erat dengan profesi sutradara dan camera man. Sebagai penulis skenario, kamu bebas untuk menambahkan type shot atau tidak. Sutradara secara umum sudah mampu merasakan kapan sebuah type shot atau sudut pandang kamera harus diubah.

Pada saat penulisan treatment, sketsa penuturan alur dramatik harus dikuasai. Struktur dramatik adalah susunan aksi-aksi yang membangun keseluruhan film. Dalam perkembangannya, struktur dramatik sendiri dikenal memiliki tiga bagian klasik yang disebut juga sebagai struktur dramatik tiga babak.

Struktur dramatik tiga babak terdiri dari tiga bagian berikut ini;

Babak Satu atau Babak Awal

Source: Studiobinder

Babak awal atau babak perkenalan dimana elemen cerita dan tokoh-tokohnya diperkenalkan. Prinsipnya adalah; semakin cepat babak awal selesai, semakin baik struktur dramatiknya. Hal ini penting dalam struktur penulisan skenario untuk mencegah kebosanan penonton dalam pemaparan awal yang terlalu lama.

Oya, dalam menulis skenario film yang benar kamu juga harus memperhatikan turning point, ya. Turning point sendiri adalah titik dimana pergantian babak terjadi.

Dalam penulisan skenario yang umum, turning point pertama adalah peralihan babak awal ke babak tengah yang merupakan satu titik yang membawa tokoh pada awal permasalahan yang muncul.

Babak Dua atau Babak Tengah

Source: Freepik

Isi yang terkandung dalam babak tengah secara struktur dalam diisi dengan beberapa hal sebagai berikut;

  • Tokoh berusaha menyelesaikan aksi untuk menyelesaikan masalah yang timbul.
  • Akan lebih menarik jika ada permainan emosi penonton misalnya; menarik ulur penyelesaian masalah akibat dari kompleksnya permasalahan, muncul konflik, muncul krisis adanya sub alur cerita, dan lain sebagainya.
  • Menjelang babak akhir atau babak 3, diciptakan situasi seolah-olah tokoh akan berhasil menyelesaikan masalahnya, namun ternyata ini hanya sementara. Karena setelahnya muncul situasi baru dimana sang tokoh harus berjuang lebih keras lagi. Pada titik ini muncul turning point kedua atau menjelang peralihan dari babak tengah menuju babak akhir.

Babak Tiga atau Babak Akhir

Photo by Rachel Claire on Pexels.com

Babak akhir merupakan babak penyelesaian dari sebuah penulisan skenario. Durasinya bahkan bisa lebih pendek dibandingkan babak satu. Secara umum babak tiga atau babak akhir terjadi setelah klimaks yang merupakan poin dimana semua pertanyaan penonton terjawab.

Dalam menulis script  film babak ketiga atau babak akhir, hal yang mungkin perlu menjadi catatan adalah;

  • Babak tiga terjadi setelah klimaks.
  • Klimaks sendiri adalah titik tertinggi dimana terjawab sudah keraguan penonton mengenai bagaimana karakter atau tokoh menyelesaikan masalahnya.
  • Setelah klimaks terjadi, alur cerita kemudian diikuti dengan penurunan nilai dramatik yang disebut dengan anti-klimaks.
  • Klimaks diletakkan sesaat sebelum film berakhir, karena itu anti-klimaks singkat saja, karena pada dasarnya cerita berakhir setelah klimaks tercapai.

BACA JUGA:

Tutorial Bagaimana Cara Menulis Skenario Film dengan Mudah Menggunakan Microsoft Word

Source: Freepik

Setelah kamu mengenal berbagai unsur-unsur penting dalam penulisan skenario, sekarang kamu dapat mempraktikkannya berdasarkan totorial berikut ini.

Hal pertama yang harus kamu lakukan adalah dengan membuka laptop atau komputer milikmu, kemudian membuka aplikasi microsoft word yang pastinya sudah kamu miliki. Jika kamu menggunakan aplikasi membuat naskah film, aturan dalam penulisan di bawah tetap harus dilakukan. Hanya saja kamu tinggal mengikuti template yang sudah disediakan.

Selanjutnya, kamu tinggal mengikuti cara-cara dibawah ini;

Cara Pengaturan Kertas dalam Menulis Skenario

Source: Freepik
  • Pilih kertas kwarto A4
  • Margin 1 inch kiri, kanan, atas,  dan juga bawah
  • Font size 12, pilih huruf dengan tipikal yang sederhana.
  • Jarak 1 spasi, format rata kiri.
  • 1 halaman skenario menggambarkan satu menit film.

Nah, ini penting untuk kamu ketahui bahwa pada umumnya 1 halaman skenario menggambarkan satu menit dalam film. Jadi, jika kamu menulis 90 halaman skenario, secara prinsip itu menggambarkan 90 menit dalam film.

Cara Menulis Sampul Skenario Film

  • Judul ditulis menggunakan huruf kapital dengan tanda petik atau garis bawah.
  • 4 spasi di bawahnya tulis ‘Skenario Oleh’
  • 2 baris di bawahnya tulis nama penulisnya, bawah tulis Draff 1 untuk skenario draff pertama
  • Jika ada revisi ditulis Draff 2, Draff 3 hingga Final Draff.
  • Umumnya nomor halaman pada sisi kanan atas.

Cara Menulis Scene dan Pergantian Scene

Source: Freepik

Scene adalah suatu adegan yang terjadi dalam suatu lokasi yang sama  dan berlangsung pada saat yang sama. Scene bisa terjadi dalam satu shot atau lebih dengan angle yang berbeda.

Secara prinsip jika berubah tempat, waktu atau berubah keduanya, maka berubah pula scene-nya, sehingga diawali dengan penomoran baru seperti; Shot 1, Shot 2, Shot 3, dan seterusnya.

Format penulisan scene alam menulis skenario dapat dilakukan sebagai berikut;

Nomor Scene – Judul Scene Keterangan Interior (INT) atau Exterior (EXT) – Lokasi Scene Keterangan Waktu

Misal:

1. INT. Ruang Tamu – Malam Hari

  • Dua spasi di bawah judul scene ada deksripsi visual yang menggambarkan beberapa hal berikut ini;
    • Deskripsi tempat.
    • Tokoh.
    • Aksi.

Catatan: Deskripsi penting saat ada tempat,  tokoh atau aksi yang baru pertama dimunculkan. Khusus untuk tokoh baru pertama muncul atau terdapat deskripsi suara, dapat ditulis dengan huruf kapital.

Cara Membuat Dialog dalam Menulis Skenario

Photo by Alex Green on Pexels.com

Dialog dibuat 2 spaci dari deskripsi visual. Untuk penulisannya sendiri dapat mengikuti aturan berikut;

  • Diawali dengan nama tokoh yang ditulis dengan huruf kapital. Jaraknya 4 inchi dari tepi kiri kertas.
  • Jarak isi dialog dari tepi kiri 3 inch.
  • Batas kanan dialog diatur 2 inch.
  • Jika ada dialog yang diucapkan namun tokoh tidak terlihat di layar, ditulis OS (Off Screen) atau VO (Voice Over) di belakang nama tokoh yang mengucapkannya.
  • Jika tokoh melakukan sesuatu dan diperlukan petunjuk cara  pengucapan dialog, diberi petunjuk pengucapan atau petunjuk aksi dengan huruf dalam tanda kurung, formatnya sendiri adalah 3.5 inch dari kiri dan 2,5 inch dari kanan.

Cara Menulis Flashback, Timelapse dan Menutup Naskah Skenario Film

Photo by Michael Dupuis on Pexels.com

Teknik pergantian scene ditulis saat ada pergantian scene khusus misalnya flashback atau timelapse. Penulisannya sendiri dapat dilakukan dengan mengikuti kaidah cara menulis skenario yang standar sebagai berikut;

  • Menggunakan huruf kapital dengan jarak 6 inchi dari tepi kiri, dan 2 spasi dari sisi kanan.
  • Apabila skenario selesai dapat ditulis kata SELESAI, dengan huruf kapital di tengah baris.

BACA JUGA:

Photo by cottonbro on Pexels.com

Nah, itu adalah pembahasan lengkap mengenai cara menulis skenario film yang tentu saja dapat kamu praktikkan dengan mudah. Untuk membuat kamu semakin mahir dalam menulis naskah film atau skenario seperti ini, lakukan sebanyak mungkin latihan dan disiplinlah dalam melakukannya.

Oya, jika kamu membutuhkan bantuan dalam menulis skenario film atau apa pun itu yang terkait dengan dunia penulisan, kamu juga bisa meminta bantuan pada www.penulisgunung.id untuk membantumu. Caranya mudah sekali, kamu hanya perlu menghubungi kontak yang dapat kamu klik dibawah ini.

Buat situs web atau blog di WordPress.com

Atas ↑