CARA MEMBUAT KERANGKA NOVEL ATAU OUTLINE NOVEL DALAM 5 LANGKAH SEDERHANA

Baru-baru ini dalam kelas menulis online yang saya bimbing, seorang peserta bertanya tentang bagaimana cara membuat kerangka novel yang baik. Saya kemudian menjelaskan teknis membuat outline novel seperti biasanya. Menariknya, beberapa hari kemudian si peserta ini kembali menghubungi saya melalui nomor whatsapp.

Ternyata ia masih mengajukan pertanyaan yang sama yakni, mengenai cara membuat outline atau kerangka novel. Hal ini membuat saya memutuskan untuk secara khusus menulis artikel tentang menyusun kerangka atau outline novel berikut ini.

Nah, apa saja yang harus kamu ketahui tentang cara membuat kerangka novel atau outline novel?

Yuk, simak ulasannya berikut ini.

Panduan Cara Membuat Kerangka Novel atau Outline Novel yang Mudah dan Sederhana

“Pada akhirnya, karakter atau tokoh-lah yang akan menentukan alur cerita, bukan kerangka atau outline. Jadi, bebaskan sayap imajinasimu selama menulis walau pun kamu sudah memiliki kerangka”

A Wan Bong
Photo by Startup Stock Photos

Tidak semua penulis menggunakan outline dalam gaya menulis mereka. Penulis horor paling populer di dunia seperti Stephen King adalah salah satu orang tidak terbiasa dengan plotting. Namun orang seperti Dan Brown dan J.K. Rowling, justru menganggap outline sebagai sesuatu yang sangat penting dalam menulis cerita.

Kerangka novel adalah seperti denah arsitektur bagunan cerita yang utuh. Outline menjadi gambaran besar mengenai plot, karakter, scene, opening dan ending cerita. Layaknya sebuah peta yang lengkap dengan koordinat, outline akan memandu penulis untuk menulis always on the track.

Meskipun saat ini sudah berkembang banyak aplikasi membuat outline novel yang bisa kamu download dengan mudah, kamu juga harus tahu cara menyusunya secara alami. Dan tidak ada cara terbaik mengetahuinya selain memulainya secara komprehensif. Termasuk dengan memahami pengertian sebenarnya dari kerangka atau outline cerita itu sendiri.

Pengertian Kerangka Novel atau Outline Novel

Photo by pedro

Outline atu kerangka novel adalah sebuah dokumen yang didalamnya terdapat berbagai informasi penting tentang perencanaan penulisan novel. Informasi ini termasuk juga tentang struktur cerita, plot, alur, setting, karakter, dan lain sebagainya.

Outline novel ringkasnya, adalah seperti blueprint atau kerangka (seperti halnya tulang manusia) dari novel yang kamu tuliskan.

Contoh kerangka outline novel dapat memiliki bentuk yang bermacam-macam. Kamu bisa membuatnya dalam bentuk struktur umum, diagram, tabel atau apa pun saja. Outline novel lebih kepada peta pikiran visual mengenai poin-poin penceritaan yang kamu anggap penting.

Dalam membuat kerangka novel, setiap bagian atau poin, cukup kamu tulis dalam bentuk kalimat pendek saja. Poin-poin ini adalah bagian penting dalam momen ceritamu yang kemudian saling berhubungan satu sama lain dalam membentuk alur cerita.

Membingungkan?

Nanti kita akan lihat contohnya, ya.

Keunggulan Menggunakan Outline dalam Penulisan Novel

Photo by Oleg Magni

Dalam dunia kepenulisan, penulis yang menggunakan kerangka atau outline dalam menulis seringkali disebut sebagai plotters. Kata ini tentu saja berasal dari kata ‘plot’. Saya sendiri bahkan memberikan istilah ‘plotting’ dalam kelas menulis yang saya bimbing untuk pekerjaan membuat kerangka seperti ini.

Dari sisi keunggulannya sebagai metode menulis, penggunaan plotting cerita dengan membuat kerangka atau outline setidaknya memiliki 7 manfaat yang paling signifikan.

  • Menjaga cerita yang kamu tulis tetap di jalur yang sudah direncanakan.
  • Membantu penulis untuk memvisualisasikan gambaran cerita secara lebih mudah.
  • Memudahkan kamu untuk melihat arah dalam menyusun adegan cerita.
  • Mampu menyajikan karakter dengan cukup spesifik, termasuk tindakan mereka yang krusial misalnya.
  • Dapat berlaku seperti ‘senter’ ketika penulis mengalami kebutaan dan kebuntuan dalam proses menulis.
  • Memperjelas bagian tengah cerita yang jika tidak disusun, kadang-kadang seolah memunculkan kekacauan.
  • Untuk para penulis pemula, kerangka novel adalah peta yang membantu mereka mengenal jalan apa yang mereka harus mereka tempuh selanjutnya.

Kelemahan Menggunakan Kerangka Novel atau Outline

Photo by Monstera

Meskipun memiliki serangkaian keunggulan, membuat kerangka novel atau outline dalam cerita juga memiliki kelemahan yang oleh beberapa penulis, dianggap fatal.

Stephen King dan Margaret Atwood, dua orang yang disebut-sebut sebagai penulis yang ‘anti-outline’, mengatakan bahwa outline bisa saja bukan ide bagus dengan alasan sebagai berikut;

  • Jika diikuti terlalu dekat, outline bisa terlihat seperti formulasi atau desain yang menjadi jiplakan cerita.
  • Dapat membuat narasi cerita yang kaku karena sudah berfokus pada cetakan outline.
  • Dapat lebih banyak kepada pertunjukan semata dan miskin narasi cerita yang mampu membangkitkan imajinasi dan emosional pembaca.
  • Karakter dalam cerita bisa nampak tidak bertindak secara orisinil atau otentik melainkan hanya berdasarkan panduan plot semata.

Mana yang Terbaik; Menggunakan Outline atau Tanpa Menggunakan Outline?

Photo by Negative Space

Saya pernah membuat contoh kerangka novel pribadi pada buku ke-10 saya yang berjudul Islamedina Si Wajah Cahaya. Uniknya, saya menemukan apa yang disampaikan dalam dua hal di atas adalah benar sekaligus.

Keunggulan-keunggulan outline yang bisa menjadi road map, mampu menjadi pagar supaya cerita tidak keluar dari track, membantu penulis tetap bisa menulis meskipun sedang mengalami kebuntuan. Semuanya sempat saya alami sendiri ketika menulis novel Islamedina, baik untuk jilid pertama mau pun untuk jilid yang kedua.

Pada saat yang sama, saya juga menemukan bukti bahwa apa yang dikatakan oleh Stephen King dan Margaret Atwood juga benar.

Risiko narasi yang miskin, kaku dan nampak kurang otentik tetap membayangi sepanjang penulisan. Namun, karena ini bukan contoh kerangka novel fiksi yang saya sebagai penulis bisa mengembangkannya semau sendiri, saya tentu saja harus mengikuti kisah cerita yang orisinil.

Mengambil kesimpulan dari proses ini, sebagai penulis saya sepakat dengan pernyataan bahwa; Tidak ada cara yang mutlak benar dalam menulis novel.

Artinya, kamu boleh memilih untuk menggunakan kerangka atau memilih untuk tidak mengimplementasikannya. Pada akhirnya, hal ini hanya akan bergantung pada jenis penulis seperti apakah kamu dan, bagaimana gaya penulisan yang paling ideal untuk kamu lakukan.

Bagaimana Cara Membuat Kerangka Novel atau Outline Novel dalam 5 Langkah

Setelah kamu mengetahui berbagai hal mendasar tentang penggunaan outline novel atau kerangka cerita fiksi, sekarang adalah saat untuk mempraktikkannya.

Ini sebenarnya tidak akan begitu sulit, terutama jika  kamu dapat menerapkan 5 langkah paling mendasar berikut ini.

Tangkap dan Tetapkan Ide Besar Cerita (Premis)

Photo by Thilo Lehnert

Sesuai dengan namanya, ini adalah ide besar cerita. Namun dari ide ini juga nantinya, kamu dapat membuat contoh kerangka karangan novel dengan lebih mudah.

Daripada memikirkan formulasi yang membingungkan, cara yang sederhana dalam menangkap premis cerita atau ide besar cerita adalah dengan mengajukan pertanyaan berikut:

  • “Apa yang akan terjadi jika…”
  • “Selanjutnya apa yang mungkin akan berlaku kalau…”
  • Dan semacamnya.

Contoh mudahnya seperti ini;

  • “Apa yang akan terjadi jika seorang mantan penjahat memutuskan untuk bertobat namun ia dililit kemiskinan kemudian ada yang menawarinya pekerjaan sebagai pembunuh bayaran, dan dalam pekerjaan itu sahabat terdekat disiksa sampai mati?” (Jawabannya kamu bisa temukan dalam film Unforgiven yang dibintangi oleh Clint Eastwood)
  • “Selanjutnya apa yang akan berlaku kalau seorang gadis cantik diculik sementara ayahnya adalah seorang mantan marinir yang terbiasa bergaul dengan dunia hitam, sedangkan ia sendiri sudah bercerai dengan ibunya si gadis dan tinggal sendiri di apartemennnya (Taken yang dibintangi oleh Liam Neeson)

Kamu tentu dapat membuat lagi contoh yang seperti itu, bukan?

Photo by cottonbro

Intinya adalah, kamu menemukan dan menangkap ide besar cerita yang akan kamu tuliskan dalam satu kalimat seperti contoh di atas.

Untuk membantumu lebih mudah dalam menangkap premis dan mengubahnya menjadi contoh outline cerita, berikut beberapa pertanyaan yang bisa kamu ajukan;

  • Bagaimana situasi yang terjadi?
  • Siapa sebenarnya yang menjadi tokoh utama cerita?
  • Bagaimana tokoh utama cerita mengalami perubahan dari awal hingga ending novel?
  • Apa yang tokoh utama cerita itu inginkan sebenarnya?
  • Bagaimana tokoh utama cerita mencapai keinginannya? Apa yang ia lakukan?
  • Apakah ada yang menghalangi tokoh utama cerita dalam mencapai tujuannya?
  • Apa sebenarnya yang ingin kamu katakan pada pembaca? Apa pesan ceritamu sebenarnya?
  • Apa konflik terbesar dalam novel?

Tentukan Setting atau Latar Cerita

Photo by Taryn Elliott

Setelah kamu mendapatkan premis, hal selanjutnya yang bisa kamu lakukan sebelum membuat outline adalah dengan menetapkan setting atau latar cerita. Seperti yang kamu tahu, setting dapat berupa tempat, waktu, keadaaan sosial, adat istiadat, keyakinan atau agama, dan lain sebagainya.

Cara membuat outline novel fantasi mungkin tidak akan sama dengan novel fiksi sejarah dimana kamu menggunakan tempat yang nyata. Setting dalam penulisan cerita juga sangat bergantung pada jenis cerita separti apa yang kamu sedang tuliskan.

Jika kamu menulis novel historical fiction dengan setting nyata, kamu harus mampu melukiskannya dengan detail, rinci dan spesifik. Untuk kepentingan ini, kamu dapat melakukan riset sedalam mungkin, termasuk dengan misalnya menemukan foto, dokumen, atau pun yang menjadi gambaran komprehensif setting tersebut.

Cara membuat kerangka novel sejarah dengan setting nyata di dalamnya akan memberikan kamu tugas untuk mampu melukiskan settingnya secara lengkap. Apa yang terjadi pada masa itu, bagaimana karakter cerita menghadapinya, apa yang ia rasakan, apa yang dia lihat dan apa pula yang ia dengar.

Keseluruhan elemen itu akan mampu menggambarkan setting cerita yang lengkap.

Ketahui Karakter atau Tokoh Ceritamu

Photo by cottonbro

Langkah selanjutnya yang harus kamu lakukan lagi setelah setting adalah memvisualisasikan karakter atau tokoh ceritamu.

Jika tema novelmu adalah tentang persahabatan dan tujuan kamu sekarang adalah membuat contoh kerangka novel persahabatan, maka pada langkah ketiga ini kamu harus menjelaskan siapa saja karakter yang akan menjadi bintang dalam novel persahabatanmu.

Hal ini mungkin membutuhkan cukup banyak energi dan antusiasme untuk bisa diwujudkan. Namun sebagai tips-tips untuk membantumu, kamu bisa mengajukan beberapa pertanyaan berikut dalam pengerjaannya.

  • Siapa atau karakter yang mana yang akan menjadi pusat plot novel, yang semua jalan cerita dalam novel itu terkait dengan dirinya?
  • Siapa saja karakter atau tokoh pembantu yang kehadirannya hanya untuk mengisi setting dan melengkapi jalan cerita?
  • Perjalanan seperti apa yang akan dilakukan oleh setiap karakter dalam novel?
  • Pada bagian mana karakter tersebut akan kamu perkenalkan, dan pada bagian mana pula ia akan ditampilkan terakhir kali?
  • Detail apa dari karakter yang akan kamu tampilkan dalam novel dan mengapa kamu ingin menampilkannya?
  • Dan lain-lain.

Dengan mempertanyakan hal-hal tersebut, proses membuat contoh kerangka novel apa pun saja pada langkah visualisasi karakter atau tokoh akan menjadi lebih mudah.

Bangun Plot Novel

Photo by cottonbro

Saya biasanya berhenti pada bagian ini ketika membuat kerangka novel. Timeline berbagai kejadian yang akan diceritakan dalam novel, saya buat dalam poin-poin yang sederhana seperti struktur kelas, kemudian struktur tersebutlah yang saya ubah menjadi novel yang utuh.

Namun untuk membuat penjelasan tentang cara membuat kerangka cerita wattpadd, novel online, offline atau novel jenis apa pun ini lebih lengkap, maka saya ingin kamu juga menerapkan pembagian tiga hal berikut dalam langkah membangun plotnya.

Bagian Awal

Photo by Breakingpic

Bagian ini adalah bagian krusial yang penting untuk kamu dapat menarik perhatian pembaca.

Pada bagian ini kamu harus dapat memperkenalkan siapa saja tokoh cerita, siapa karakter protagonis yang akan menjadi pahlawan, siapa karakter antagonis yang akan menjadi penjahat, dan lain sebagainya. Di bagian awal cerita juga kamu harus mampu mengemukakan pertanyaan dramatis dalam cerita.

Intinya, bagian awal adalah bagian dimana semua yang akan terjadi dalam novel kamu perkenalkan kepada pembaca. Bagian ini sekali lagi, harus membuat pembaca menjadi tertarik.

Bagian Tengah

Photo by Gantas Vaiu

Terus terang, bagian tengah dalam mayoritas novel adalah bagian dimana ketegangan menguap, antusiasme menghilang dan potensi kekacauan seringkali terjadi.

Tapi jangan khawatir, ini terjadi pada hampir semua novel.

Bagian tengah memang seringkali menjadi pelandaian cerita yang justru terasa membosankan. Bahkan saya paling banyak menghadapi gejala writer’s block dalam menulis novel adalah ketika menulis bagian tengah novel.

Namun kabar bagusnya adalah ada satu tips yang bisa kamu lakukan untuk membuat bagian tengah ini tetap merangkak di ‘jalan yang benar’.

Tipsnya adalah dengan mengetahui klimaks atau bagian akhir cerita. Ini mungkin terdengar prematur, tapi dengan mengetahui bagaimana cerita dan novel yang kamu tulis akan berakhir, kamu akan tetap bisa mengatur bagian tengah untuk tetap berjalan pada rute yang jelas.

Bagian Akhir

Photo by Maria Orlova

Kamu tidak perlu membuat ending novelnya terlalu spesifik lebih dulu. Cukup dengan membuat pertanyaan saja misalnya;

  • “Bisakah Tatras mencapai Puncak Tebing Selatan gunung Merapi?” (Merapi Barat Daya – Anton Sujarwo)
  • “Apakah Zainuddin dan Hayati akan bersatu?” (Tenggelamnya Kapal Van Der Wick – Hamka)
  • “Apa yang Bharal akan peroleh setelah melakukan perjalanan hiking terpanjang di pulau Jawa ini?” (MMA Trail – Anton Sujarwo)

Membuat ending novel dan memilih mana jenis ending yang paling tepat untuk kamu gunakan, dapat kamu baca dalam artikel ini: 10 Jenis Ending Novel dalam Penulisan Novel.

Mulailah untuk  Menulis Adegan Novel

Photo by Jonathan Cooper

Bagian terakhir dari langkah dan cara membuat kerangka novel adalah dengan membuat scene atau adegannya.

Pada langkah ini kamu dapat menentukan adegan apa saja yang akan berlangsung pada satu bagian atau bab novel? Siapa saja karakter yang terlibat dalam adegan tersebut? Apakah ada interaksi dan reaksi yang kuat ataukah hanya dialog saja? Dimanakah latar yang digunakan? Apakah latarnya adalah waktu, tempat, budaya, agama, situasi politik, atau apa?

Jika dalam adegan tersebut ada dialog, kamu pun harus memastikan bahwa dialog itu tetap memiliki unsur penting dalam cerita dan tidak hanya menjadi ‘pelengkap kekacauan’ saja. Jika kemudian ada flashback, kamu harus memastikan bahwa flashback yang terjadi juga memiliki peran besar dalam menyempurnakan cerita novel.

Mengenai penulisan flashback dan pertimbangan apa saja yang perlu dilakukan sebelum memulainya, dapat kamu baca dalam artikel ini: Haruskah sebuah novel menggunakan flashback?

Bagaimana Selanjutnya?

Photo by Matthew DeVries

Setelah kamu mempelajari teknis dan panduan menulis kerangka novel atau outline novel dalam artikel ini, perlu juga untuk kamu tahu bahwa pada akhirnya karakter atau tokoh cerita-lah yang akan menentukan plot yang sebenarnya.

Sebagai penulis yang kaya akan intuisi, imajinasi dan insting, kamu juga tidak bijaksana jika sepenuhnya bergantung pada outline atau kerangka novel. Di tengah cerita dan penulisan sambil berpedoman pada garis besar cerita, kamu dapat mengikuti instingmu untuk menulis secara lebih bebas dan nyaman.

Mempelajari cara membuat kerangka novel adalah penting untuk memahami garis besar cerita. Akan tetapi bagaimana pun juga sekali lagi; karakter cerita-lah yang akan menentukan plot novelmu pada akhirnya.


anton sujarwo

Anton Sujarwo

Saya adalah seorang penulis buku, content writer, ghost writer, copywriters dan juga email marketer. Saya telah menulis 15 judul buku, fiksi dan non fiksi, dan ribuan artikel sejak pertengahan tahun 2018 hingga sekarang.

Dengan pengalaman yang saya miliki, Anda bisa mengajak saya untuk bekerjasama dan menghasilkan karya. Jangan ragu untuk menghubungi saya melalui email, form kontak atau  mendapatkan update tulisan saya dengan bergabung mengikuti blog ini bersama ribuan teman yang lainnya.

Tulisan saya yang lain dapat dibaca pula pada website;

Saya juga dapat dihubungi melalui whatsapp di tautan ini.

Fortopolio beberapa penulisan saya dapat dilihat disini:


INI KUTIPAN NOVEL ISLAMEDINA YANG PALING BANYAK MENGURAS AIR MATA

Kutipan novel yang menginspirasi kadang dipenuhi oleh air mata ketika kamu membacanya. Seperti pada kutipan novel Islamedina yang saya tulis ini. Feedback banyak pembaca yang telah menyelesaikan novel setebal 750 halaman yang dibagi dalam dua jilid itu mengatakan bahwa bagian inilah yang paling membekas dalam ingatan mereka.

Dengan jumlah lebih dari 3.000 kata, bagian ini sebenarnya tidak dapat lagi disebut kutipan. Namun tidak mengapa, walaupun bukan kutipan novel best seller yang telah terjual jutaan eksemplar, bagian ini tetap memiliki nilai yang sangat tinggi untuk dihayati.

Kutipan Novel Islamedina Jilid 2 yang Paling Menyentuh Hati Banyak Pembaca

Oh ya, apakah kamu sudah pernah mendengar novel berjudul Islamedina ini?

Jika belum, maka selamat. Sekarang adalah saat yang tepat untuk membaca salah satu cuplikan terbaiknya.

Novel Islamedina adalah buku yang saya tulis dalam durasi yang paling lama. Saya menyelesaikan penulisan naskah buku ini pada tahun 2020, memakan masa empat tahun semenjak saya memulainya pada tahun 2016. Allhamdulillah, novel ini juga sudah beredar secara luas di Indonesia dan mendapat sambutan yang baik, meskipun penerbitannya dilakukan secara indie dan mandiri.

Nah, pada kesempatan ini, saya akan membagikan salah satu bagian paling menarik dalam buku ini kepada pembaca blog www.penulisgunung.id. Bagian ini mungkin termasuk kutipan novel baper yang saya sendiri pun sebagai penulisnya, mengalami kesulitan yang paling tidak mudah untuk dilawan ketika menuliskannya.

Lantas, bagaimana sih, kutipan dari novel Islamedina yang telah dibaca ribuan orang ini?

Yuk, dibaca dengan penuh penghayatan, ya.

Oh ya, saya menambahkan beberapa gambar pada artikel ini sebagai penjeda tulisan, supaya mata kamu tidak terlalu kelelahan saat membacanya.

AIR MATA SAKSI MATA

Bagian terakhir dari bab Hari Kembali ini akan sedikit berbeda dari keseluruhan tulisan dalam buku ini. Jika bagian lain dalam keseluruhan buku ini berkisah dari sudut pandang seorang ayah, maka kali ini saya akan berusaha untuk menuturkannya dari sudut pandang seorang ibu. Karena pada hari kejadian, pada detik-detik Medina menghadapi kematiannya, yang ada bersamanya adalah ibunya, Dek Nafi’. Jadi sudut pandang yang dimiliki sang ibu dalam momentum Hari Kembali Islamedina, jauh lebih dalam daripada dari sudut pandang saya sendiri sebagai ayahnya.

Saya tak menyaksikan Medina terjatuh, saya tak menyaksikan ia dibawa ke RSU Muntilan, saya tidak menyaksikan tim dokter yang putus asa karena tak bisa menyelamatkannya, dan saya juga bukan orang yang menggendong jasad Medina dari rumah sakit ke rumah Mbah Uti dalam ambulance mobil jenazah. Semua bagian itu telah ditakdirkan untuk dijalani oleh ibunya sendiri. Dek Nafi’-lah yang menjalani bagian-bagian paling berat tersebut.

Untuk itu sebagai pengingat yang lebih dalam, sebagai detail yang lebih mampu melukiskan kejadiannya, maka pada bagian ini hingga beberapa halaman ke depan, saya akan berupaya untuk menulis dari sudut pandang Ibu Medina. Untuk itulah dalam bagian ini, huruf dan gaya bertuturnya saya ganti. Supaya barangkali, pesan yang disampaikan oleh isteri saya saat menceritakan kembali bagian ini kepada saya, dapat tersampaikan kepada sahabat pembaca dengan sempurna pula.

Ini tentu saja tidak mudah untuk dituliskan, tapi, Bismillah, Dengan nama Allah Yang Maha Memudahkan, saya akan berusaha menuliskannya…

Randukuning, 14 Maret 2016

Mas Anton sudah sejak pagi berangkat ke Jogja untuk mengambil dompetnya yang tertinggal di mobil Mbak Halim. Aqsho yang baru berumur tiga bulanan juga baru saja tertidur setelah menangis minta dikelonin. Ibu baru saja menyelesaikan doanya setelah sholat dhuha, dan beliau berniat melanjutkan kegiatannya dengan mencuci sajadah di kolam belakang rumah. Ibu memang terkenal dengan sifatnya yang perfectionis masalah reresik dan mencuci baju. Meskipun hanya dikucek dan dibilas seperti pada umumnya, namun dalam urusan mencuci pakaian, tidak ada yang dapat mengalahkan kehebatan Ibu.

                Melalui aplikasi whatsapp Mas Anton mengabarkan jika dompetnya sudah ada dan barusan dianter sama Mbak Halim dan Mas Aries di Terminal Jombor. Berdasarkan pesan Mas Anton, dan juga sudah kami diskusikan sebelumnya, setelah mendapatkan dompetnya yang tertinggal itu ia akan melanjutkan perjalanan ke sekitar Malioboro untuk mencari beberapa barang yang ia butuhkan.

                Sambil membalas pesan-pesan Mas Anton, aku melihat langkah ibu yang keluar pintu belakang sambil menenteng sajadah yang akan dicucinya. Di halaman rumah sendiri sedang sepi saat itu, siswa MTs sedang belajar di ruang kelas mereka masing-masing, begitu juga dengan Mas Burhan dan Mas Aziz yang juga sedang memberi pelajaran.

                Baru saja beberapa langkah ibu keluar dari pintu dapur, tiba-tiba teriakan histerisnya mengagetkanku.

                “Ya Allaaaah, Astagfirullahaladzim!”

                Pekikan ibu secara refleks itu langsung saja membuatku menghambur ke kolam belakang untuk melihat apa yang terjadi.

                “Nunopo Buk?”

Teriakku keras dalam rasa penasaran. Aku belum dapat melihat apa yang terjadi, pandanganku tertutup untaian pakaian-pakaian jemuran.

                “Medina gejegur blumbaaang!!!”

Jawab ibu dengan panik.

                Darahku seakan disentak dengan keras mendengar hal itu. Namun kemudian itu semakin membuatku seakan tiba-tiba menjadi orang gila setelah melihat apa yang ada  di tempat itu!

                Ibu sudah basah kuyup, wanita tua yang melahirkanku itu sedang memangku sosok Medina yang sekarang diam tak bergerak!

                Tatapanku nanar, hatiku seakan diguncang gempa, tubuhku seolah rontok tiada bertulang! Panik, bingung, takut, khawatir, kaget, bercampur menjadi satu, membuatku sekarang menjerit dengan histeris!

                “Tolooooong!!!!”

                “Tolooooong!!!”

                Dalam kepanikan dan kegemparan seperti itu, aku sempat melihat kondisi Medina yang ada dalam pangkuan Ibu, gadis kecilku itu sudah tak bergerak, kepalanya terkulai dengan lemas!

                Melihat kondisi Medina yang sudah demikian dalam pangkuan Ibu. Tubuhku seakan luruh, kehilangan kekuatan untuk berdiri! Dan sesaat kemudian aku sudah ambruk di pinggir kolam!

                Tapi aku tidak pingsan!

                Waktu saat itu seperti diguncang-guncang, kepanikan membuatku seakan hilang kesadaran. Di depanku ibu memeluk Medina dalam tangisnya yang sudah pecah. Dan karena masih baru beberapa detik, teriakan histeris minta tolongku belum ada yang merespon. Aku tak tahu apakah ada yang mendengar atau tidak, tapi sedetik kemudian aku sudah menghambur panik menuju kantor guru MTs. Instingku langsung memerintahkan kakiku untuk berlari mencari bantuan!

                “Tolooong! Tolooong! Tolooong!”

                Suara teriakanku yang panik langsung membuat Pak Hernanto, salah satu guru MTs, bangkit merespon dengan tergesa.

                “Nopo, Mbak? Nopo?”

                “Medina gejegur blumbang!”

Jawabku cepat di antara tangis kepanikan.

                Mata Pak Hernanto terbelalak, namun sesaat kemudian ia sudah berlari menuju ke belakang, di mana ibu memangku Medina yang sudah tak bergerak. Di tempat itu, Mas Kusni, salah satu tetangga, sudah ada bersama ibu.

                Karena dilanda kepanikan, detail selanjutnya tak begitu aku ingat mengenai apa yang dilakukan Mas Kusni dan Pak Hernanto. Akan tetapi aku hanya tahu satu atau dua menit kemudian mereka sudah menderu di atas sepeda motor menuju Rumah Sakit Umum Muntilan. Tubuh Medina yang terkulai tak bergerak dipangku oleh Mas Kusni di bagian belakang, sementara Pak Hernanto menarik gas dengan cepat. Mereka segera menghilang di ujung gang!

                Dalam kepanikan dan ketakutan yang merasuk, aku masih berteriak-teriak minta tolong di depan halaman kantor MTs. Kemana Mas Burhan dan Mas Aziz, pikirku. Mengapa mereka tak juga muncul di saat kondisi seperti ini?

                Namun tidak lama kemudian, sosok Mas Burhan tiba-tiba terlihat di lorong masuk menuju halaman kantor. Aku segera berlari menyongsongnya!

                “Mas tolooong! Tolong!”

                Aku berteriak dengan panik, tetap dalam isak tangis yang tidak karuan.

                “Nopo?”

Mas Burhan menjawab tergesa. Entah apakah ia telah mendengar teriakanku sebelumnya atau tidak.

“Medina gejegur blumbang, Mas. Tulung terke aku ke rumah sakit sekarang!”

Suaraku pecah dalam tangis, wajahku sudah membanjir dengan air mata. Kepanikan masih melanda diriku.

Mas Burhan nampak kaget sesaat. Namun kemudian ia menjawab dengan cepat, berusaha menenangkan diriku.

“Yo, kita berangkat ke rumah sakit. Sa’iki kamu sing tenang. InsyaAllah Medina nggak apa-apa!”

Sambil menjawab, Mas Burhan bergegas melangkah menuju halaman depan MTs, di mana sepeda motor para guru biasa diparkirkan. Aku menyusul langkahnya dengan cepat, sambil tetap menangis dalam kondisi yang terasa entah dengan kalimat apa harus aku jelaskan.

“Kamu yang tenang, InsyaAllah Medina nggak apa-apa”

Mas Burhan mengulang kalimatnya lagi. Berusaha untuk menahan laju kepanikan dan kekhawatiranku yang telah jatuh sangat dalam. Aku tak menjawab, hanya terus bergumul dengan tangis ketakutan sambil naik ke atas sadel boncengan motor Mas Burhan. Sesaat kami sudah menderu pula menyusul Medina yang telah lebih dulu dibawa oleh Pak Hernanto dan Mas Kusni.

Aku ingin menjadi tenang seperti yang Mas Burhan katakan, aku ingin berprasangka yang baik dan positif saja, dan aku juga hanya ingin berpikiran bahwa Medina tidak akan apa-apa. Namun tidak dengan hatiku, tidak dengan sudut terkecil dalam kalbuku, dan tidak pula dengan jiwa terdalamku sebagai ibu Medina. Entah mengapa, bisikan lembut dalam hatiku itu mengatakan bahwa Medina tidak baik-baik saja. Medina, gadis cantik yang terlahir dari rahimku 29 bulan yang lalu itu tidak bisa dikatakan untuk tidak akan terjadi apa-apa!

Motor yang dikendarai Mas Burhan melaju dengan cepat seperti detak jantungku yang memburu dalam kekhawatiran. Namun, bagaimana pun juga Mas Burhan tetap mengendarai motornya dengan cukup pelan dalam hitunganku. Hingga untuk sampai di RSUD Muntilan, kami setidaknya membutuhkan waktu sekitar sepuluh menit.

Sebelum masuk ke areal RSUD Muntilan, Mas Burhan berbelok dari arah SMA Pangudi Luhur yang di belakangnya terdapat sebuah lapangan Van Lith atau yang lebih akrab dengan sebutan Lapangan Pasturan. Di tempat itu, di atas sadel sepeda motor Mas Burhan, berjarak sekitar 200 meter lagi dari gedung Rumah Sakit, entah mengapa rasanya dadaku seolah penuh dengan sesak. Aku mungkin saja menjadi sulit bernapas karena itu, tapi aku tidak jatuh atau pingsan. Aku hanya merasa bahwa rongga dadaku telah penuh dan demikian menyesakkan. Medina, bagaimana kondisi gadis kecilku itu sekarang?

Motor Mas Burhan masuk ke halaman RSUD Muntilan dengan cepat. Karena lokasi UGD RSUD Muntilan tepat berada di depan pintu masuk, maka dengan cepat pula aku sampai di tempat itu.

Sebelum diperbaharui seperti sekarang, pintu UGD berbentuk otomatis yang dengan seketika terbuka jika ada orang yang berdiri di depannya. Dengan tergesa dalam kekhawatiran aku melangkah cepat ke ruang UGD. Sebelum langkahku memasuki tempat yang akan membuat jiwaku serasa lenyap sebentar lagi, di depan pintu UGD aku sempat berpapasan dengan seorang bapak-bapak yang sedang menangis.

Bapak-bapak itu tidak menangis dengan terisak pelan, atau tersedu dengan sesengukan. Tapi ia menangis dengan kuat, hampir seperti tangisan seorang anak kecil berusia lima tahunan. Sambil menangis ia menyempatkan untuk menoleh masuk ke dalam UGD. Tangisnya menggeru lagi setelah itu.

Aku tak ingin tahu apa yang bapak itu tangisi sekarang. Aku hanya ingin berjumpa dengan Medina dan mengetahui kondisinya. Jadi, tanpa peduli lagi pada si bapak-bapak yang terpaku dalam tangisannya, aku pun melangkah masuk. Dan saat itulah kemudian, pemandangan dalam UGD itu membuatku seakan kehilangan tulang-tulangku lagi.

Di atas sebuah ranjang di tengah ruangan UGD, aku melihat tubuh Medina yang terbaring dengan dikelilingi oleh para petugas medis. Kondisi Medina sepenuhnya sudah polos, baju yang sebelumnya ia kenakan, semuanya sudah dilepas. Para petugas medis yang nampaknya terdiri dari 2 orang dokter dan sekitar 4 orang perawat itu baru saja selesai memberikan upaya penyelamatan pada Medina menggunakan pompa-pompa yang dimasukkan ke mulut Medina. Aku tidak tahu apa nama alat itu, tapi itu mungkin digunakan untuk memompa oksigen ke jantung puteri kecilku.

Apa yang membuat aku terhenyak kemudian adalah karena baru satu atau dua langkah aku masuk ke ruang UGD dan menyaksikan pemandangan itu, salah satu dokter wanita yang menangani Medina nampak mundur sambil berucap;

“Sudah terlambat, kita tidak bisa menyelamatkannya lagi, anak ini sudah meninggal”

Aku mematung menemukan suara itu menerabas gendang telingaku. Serasa gelegar petir yang menghantam kepalaku seketika. Dunia yang terang benderang seolah berubah demikian gelap dan pekat. Tulang-tulang yang meyangga tubuhku ini, seakan luruh seperti rontoknya daun kering ditiup angin. Atau jika itu sukar dipahami perumpamaannya,  maka tubuhku seakan segenggam kapas yang disiram oleh air, langsung hilang tiada berbentuk. Pandanganku seketika gelap dan pekat, cahaya matahari yang membias dari jendela dan pintu UGD, sekarang seolah hilang. Semuanya kelam seperti  aku sedang terperangkap dalam sebuah goa yang sangat dalam.

Benarkah apa yang ku dengar?

Benarkah dokter itu barusan saja mengatakan jika Medina tidak dapat lagi diselamatkan?

Di telingaku yang lain aku juga mendengar bisik-bisik antar para perawat yang memastikan bahwa aku adalah ibunya Medina. Sementara yang lain ada yang meragukannya karena menilai tubuhnya yang tergolong kecil untuk bisa memiliki anak gadis cantik seusia Medina. Namun entah beberapa kejap kemudian para petugas di UGD itu sudah dapat memastikan bahwa memang akulah ibunya Medina. Bahwa memang akulah ibu dari anak yang barusan tidak dapat diselamatkan nyawanya itu!

Ketika ragaku seolah melompong mendengar perkataan dokter wanita tadi, tangisku kembali pecah mengembalikan kesadaranku yang entah tinggal berapa banyak. Bagaimana mungkin Medina tidak bisa diselamatkan lagi? Bagaimana mungkin gadis kecil yang aku dandani dan aku beri bedak wangi tadi pagi ini sudah hilang di depan mataku sendiri?

                Beberapa perawat di UGD mulai menenangkanku yang mulai kembali pecah dalam tangis. Di depan sana, pompa-pompa oksigen untuk Medina mulai dijauhkan dari tubuhnya. Benda-benda itu mungkin sudah tidak berguna lagi bagi Medina. Tapi, Ya Allah, benarkah gadis kecilku tidak bisa diselamatkan lagi?

                “Dokter, tolong Dok, tolong selamatkan anak saya”

                Aku memelas dengan wajah banjir air mata kepada seseorang yang entah darimana sudah menghampiriku dan berusaha menenangkan diriku. Diriku yang seakan hilang bentuk ini dirangkulnya, diajaknya berjalan menuju bagian belakang UGD. Prosedur meminta mereka memisahkan orang yang sedang terjatuh dalam histeris kesedihan dan pasien yang mereka tangani.

                “Iya, iya, Mbak yang sabar. Walaupun ibu seorang Dokter, Ibu juga hanya manusia biasa. Ibu sudah berusaha, tapi ini semua sudah menjadi ketentuan Allah”

                Dokter wanita yang merangkulku itu berusaha menenangkan aku kembali. Usianya lebih tua dari dokter yang tadi berusaha menyelamatkan Medina. Dari penampilan dan usianya, ia terkesan lebih bijaksana dibanding yang lainnya.

                “Tolong selamatkan anak saya Bu Dokter!”

                Aku menghiba lagi, memohon dengan seluruh pengharapan yang masih aku miliki.

                “Tolong selamatkan Medina, Bu Dokter”

                Entah apa lagi yang dikatakan oleh Dokter berjilbab itu untuk menenangkanku, akan tetapi yang masih aku ingat adalah ia kembali mengatakan bahwa semuanya telah menjadi ketentuan dan takdir Allah. Dan aku hanya bisa bersabar menghadapinya.

                Sekeras apa pun aku memohon, sudut terkecil hatiku juga membisikkan kesadaran bahwa itu tidak mungkin lagi. Upaya menyelamatkan nyawa Medina yang dilakukan oleh manusia sudah menjadi tepinya, telah menyentuh garis batasnya. Secara medis, Medina sudah dinyatakan meninggal dunia dan tidak mungkin lagi untuk diselamatkan.

                Namun jika kalian adalah seorang ibu, atau jika kalian adalah ibunya Medina, bagaimana kalian akan dengan mudah menerima itu? Bagaimana mungkin aku akan menerima dengan mudahnya anak yang sekitar setengah jam yang lalu baru saja meminta aku mengeloninya kini sudah tidak ada ruh lagi dalam jasadnya? Aku berusaha menolak kenyataan itu, melawan kenyataan takdir dengan harapan yang dibangun dari angin. Tapi sungguh Allah Yang Maha Menguasai segala sesuatu, tetap saja partikel dalam darahku membangunkan kesadaran bahwa apa yang dikatakan oleh Dokter itu memang adalah sebuah kebenaran.

                “Biarkan saya bersama Medina, Bu Dokter. Izinkan saya menemaninya”

                Aku memohon lagi kepada dokter itu yang tetap berusaha menenangkan diriku yang sedang guncang. Tapi lihatlah, aku mengubah permohonanku. Jika sebelumnya aku meminta kepada dokter itu untuk menyelamatkan nyawa Medina, namun sekarang aku meminta diizinkan untuk membersamai Medina, menemani dirinya. Jika demikian, apakah aku telah menerima bahwa Medina memang sudah meninggal dunia?

                “Nanti Mbak tidak kuat, Mbak bisa pingsan” jawab si Dokter itu lagi, berusaha mencegahku kembali.

                Secara protokoler, apa yang terjadi dengan Medina dan aku pada Senin pagi yang kelabu ini memang harus mendapat perlakukan khusus. Mereka mencegahku, mungkin saja karena ingin melindungi diriku. Tapi, akankah aku membiarkan Medina seorang diri di sana sementara aku ibunya hanya berdiri di kejauhan dalam tangis dan kehilangan harapan?

                “Saya kuat Bu Dokter, saya kuat”

                Aku membalas ucapan bu Dokter itu sambil menunjukkan mimik bahwa apa yang ku katakan adalah benar. Bahwa aku memang kuat bersama Medina dengan keadaannya yang sekarang.

Aku mengulang lagi permohonanku berkali-kali, sampai nampaknya Dokter itu yakin bahwa aku memang kuat menghadapi kenyataan yang barusan saja digulirkan Tuhan kepadaku hari ini.

                Aku tidak tahu si Dokter itu mengatakan apa, namun kemudian ia mengantarkan aku ke tempat di mana Medina sudah terbaring sendiri di ruang UGD. Medina sekarang dibaringkan di atas sebuah ranjang tersendiri, sekelilingnya ditutupi tirai berwarna biru sehingga seakan ada di dalam sebuah kamar. Tubuhnya yang polos ditutupi oleh selembar kain tipis berwarna merah muda, sementara wajahnya yang jelita dibiarkan terbuka. Medina terbaring dengan damai, seperti tidurnya tadi malam. Namun pagi ini di antara wajahnya yang cantik, bibirnya telah berubah agak membiru.

                “Mbak Medina, bangun. Ini ibuk sayang”

                Aku mengawali kepiluan itu dengan mencium dan membelai wajah Medina. Ia hanya diam saja tak bergeming

“Mbak Medina, bangun sayang. Ditunggu Ibuk, ditunggu Adek Aqsho, ditunggu Ayah”

Aku membisikkan kalimat seperti itu berkali-kali di telinga permata hatiku. Aku berharap Medina akan terbangun dan kembali memelukku, tapi Demi Allah, ada bagian dari sudut hatiku yang seakan-akan menolak harapan seperti itu.

“Bangun Mbak Medina, sebentar lagi ayah pulang dari Jogja. Ditunggu adek Aqsho di rumah Uti, ada Ibuk di sini”

Beberapa saat setelah saya bersama Medina dalam kondisi seperti itu, Mas Burhan tiba-tiba masuk dalam ruangan pula dengan wajah yang entah mengekspresikan apa.

“Piye kondisi Medina?”

Aku berbalik membenturkan pandangan pada wajah Mas Burhan yang nampak tidak lagi dapat menyembunyikan perasaan takut dan rasa sedihnya. Ketegaran yang ia tadi tunjukkan sebelum mengantar aku ke RSUD, tidak nampak lagi bekasnya.

“Medina wes ra ono, Mas”

Jawabanku yang datar nampaknya tidak memuaskan Mas Burhan. Dan ia sepertinya tidak dapat menerima hal itu.

“Medina masih bisa diselamatkan ,kok. Ini badannya masih hangat”

Entah, apakah Mas Burhan tak dapat menerima keponakannya sudah meninggal dunia atau bagaimana. Namun kemudian ia berusaha membuka mulut Medina dan berusaha melakukan tindakan seperti prosedur CPR.

Mas Burhan memberikan napas buatan, menekan perut Medina. Usaha Mas Burhan itu kemudian membuahkan hasil dengan keluarnya sedikit air dari mulut Medina. Bersamaan dengan keluarnya air itu, keluar pula beberapa sisa-sisa makanan yang sempat masuk ke perut Medina. Ya Allah, itu adalah cilok yang Medina sempat jajan tadi pagi. Aku yang memberikan uangnya dan ia jajan sendiri. Dan sekarang makanan itu keluar lagi dalam kondisi Medina yang sudah seperti ini.

Setelah beberapa saat, Mas Burhan menghentikan usahanya. Ia bagaimana pun tetap juga harus menerima kenyataan, bahwa keponakan yang biasa ia ajak naik motor bersama isterinya itu, sudah tidak lagi bernyawa. Aku tidak tahu apa yang dikatakan Mas Burhan setelah itu, namun ia kemudian keluar ruangan, meninggalkan aku dan Medina dalam UGD yang terasa demikian sepi ini.

Entah mengapa pula, ruang UGD RSUD Muntilan saat itu demikian sepi rasanya. Kemana suara para perawat dan dokter itu? Kemana pasien yang lain? Apakah hanya Medina saat ini yang ada di ruang UGD? Aku tak tahu, namun keheningan terasa demikian menggigit, menyempurnakan kesepianku yang masih duduk di samping Medina sembari terus membelai rambut dan kadang mencium wajahnya.

Sudah menjadi kebiasaan Medina untuk tertidur dalam gendongan ayahnya sambil dibacakan shalawat. Dan sudah menjadi kesukaanya pula tertidur sambil mendengar ibunya membacakan rangkaian kalimat asmaul husna. Ia sendiri sangat menyukai apa yang aku ajari itu, bahkan Medina sendiri sudah hampir hapal 99 nama mulia Allah itu yang sering ia lantunkan dengan nadanya sendiri.

Ya Allah Ya Rahman,

Ya Rahiim Ya Malik,

Ya Quddus Ya Salam,

Ya Mu’min Ya Muhaimin,

Ya Aziz Ya Jabbar,

Ya Mutakabbir Ya Khaliq,

Ya Bari’ Ya Musawwir,

Ya Ghaffar Ya Qohhar

…..

…..

Biasanya Medina jika mendengar aku melantunkan itu, maka ia akan mengikutinya. Atau ia akan diam saja sambil seolah-olah tidak memperhatikan. Padahal sebenarnya aku tahu, Medina sangat menyukainya. Karena kadang-kadang aku sering dibuatnya terpengarah dengan kemampuannya meniru apa yang sempat aku ajarkan namun seolah tidak pernah ia perhatikan.

Hampir beberapa menit lamanya aku melantunkan kalimat-kalimat asmaul husna di telinga Medina. Aku masih berharap bahwa ia akan terbangun mendengarkan pujian kesukaannya itu. Sementara ruang UGD masih sunyi dan hening, suaraku yang pelan dan serak dalam isak tangis mengalir dengan jelas tanpa terganggu. Aku tak tahu siapa yang mendengarnya, dan aku juga tidak perduli. Aku hanya berharap Medina masih bisa terbangun dengan apa yang aku lakukan itu.

Tapi seperti sebelumnya, sudut hatiku yang lain tetap mengingatkanku kenyataan yang sesungguhnya, bahwa Medina telah tertidur selamanya. Upayaku dengan membaca asmaul husna itu tidak akan bisa membangunkan Medina lagi. Ia bahkan mungkin saja akan tertidur lebih jauh dalam dekapan kalimat-kalimat yang Maha Indah itu.

“Bangun Mbak Medina, sebentar lagi ayah pulang. Ada adek Aqsho, ada Ibuk, ada Mbah Uti…”

Saya mengulang lagi kalimat-kalimat yang seperti angin itu di telinga Medina, membiarkannya menjadi penjeda bait-bait asmaul husna yang terus saya baca.

Entah berapa menit keheningan itu membiarkan aku terhanyut di samping tubuh Medina yang tetap saja tak bergeming sejak tadi. Hingga mungkin saja sepuluh atau lima belas menit kemudian, sosok Mas Aziz muncul pula di tempat itu.

Seperti Mas Burhan, Mas Aziz juga sempat bertanya tentang Medina kepadaku. Dan jawaban yang aku berikan mungkin juga sama seperti yang aku berikan pada Mas Burhan. Dan layaknya Mas Burhan, Mas Aziz juga sekonyong-konyong tidak percaya jika Medina sudah meninggal dunia, karena sesaat kemudian ia juga berusaha membangunkan Medina.

“Medin, bangun Medin”

Suara Mas Aziz agak tertahan juga menahan gemuruh di dadanya. Namun tidak seperti Mas Burhan yang berusaha lebih jauh membangunkan Medina dengan memberikan CPR dan lainnya, Mas Aziz lebih cepat menerima kenyataan yang ada di hadapannya sekarang.

Setelah satu dua kali panggilan kepada Medina tak lagi mendapat sahutan, Mas Aziz segera mempersiapkan apa yang memang seharusnya ia lakukan. Ia keluar ruangan UGD, mungkin mengurus berbagai prosedur dan adminisrasi untuk membawa Medina pulang menggunakan ambulance. Di luar ruangan, selain Mas Aziz ada juga Pak Bayan yang juga ikut menemani. Sementara Mas Burhan, Pak Hernanto, dan juga Mas Kusni yang datang sebelumnya, aku tak tahu mereka ada dimana.

Selang beberapa lama kemudian, sebuah mobil ambulan sudah ada di depan ruang UGD. Aku dengan langkah gontai seolah tak lagi memiliki tulang, beringsut pelan dalam isakan yang tak berhenti, kemudian berjalan menuju mobil ambulance itu sambil membopong tubuh gadis kecilku yang ruhnya sudah tidak bersamaku lagi.

Dari depan rumah sakit sampai sebuah kampung bernama Sewan, sirene mobil ambulance itu meraung-raung sebagai tanda bahwa ia sedang dalam kondisi emergency. Namun selepas melewati jembatan Sewan dan masuk ke kampung Bandongan, Mas Aziz yang duduk di depanku mengetuk kaca ambulance dan memberi isyarat supaya sirenenya dimatikan saja.

Mobil ambulance yang membawa aku, Medina dan Mas Aziz terus bergerak menuju kampung Randukuning. Karena tak mungkin mengantarkan kami hingga ke depan rumah, mobil itu kemudian berhenti di samping makam kampung di mana Pakdhe Khalimi dimakamkan.

Dari sana, Medina aku bopong masih dengan iringan isak tangisku yang juga ku selingi dengan bacaan istighfar terus menerus sampai ke rumah. Sementara di dalam rumah, di ruang tamu, Mas Anton dan lainnya sudah menunggu, ia kemudian menyambut tubuh Medina dari pelukanku. Tubuh Medina tidak ia lepaskan sampai dimandikan. Dan ia sendiri pula yang kemudian membopong puterinya itu hingga ke pemakaman.


Catatan:

Bapak-bapak yang menangis di depan UGD saat itu ternyata sedang menangisi Medina. Ia tak kuasa menahan sesak dadanya melihat gadis kecil yang cantik meninggal dunia dengan cara yang menurutnya terlalu membuat iba. Bapak itu adalah warga desa Gunungpring, beberapa hari kemudian salah satu tetangganya melayat ke rumah. Dan ia bercerita mengenai bapak itu kepadaku.


Anton Sujarwo

Saya adalah seorang penulis buku, content writer, copywriters dan juga email marketer. Saya telah menulis 14 judul buku, fiksi dan non fiksi, dan ribuan artikel sejak pertengahan tahun 2018 hingga sekarang.

Dengan pengalaman yang saya miliki, Anda bisa mengajak saya untuk bekerjasama dan menghasilkan karya. Jangan ragu untuk menghubungi saya melalui email, form kontak atau  mendapatkan update tulisan saya dengan bergabung mengikuti blog ini bersama ribuan teman yang lainnya.

Tulisan saya yang lain dapat dibaca pula pada website;

Buat situs web atau blog di WordPress.com

Atas ↑