5 LANGKAH MENGUBAH PTK GURU (PENELITIAN TINDAKAN KELAS) MENJADI BUKU BER-ISBN

Mengubah PTK Guru atau Penelitian Tindakan Kelas menjadi sebuah buku ber-ISBN sebenarnya bukanlah proses yang sulit. Dengan sedikit keterampilan dan modifikasi, kamu dapat mengeksekusinya dengan mudah. Selain menghemat waktu dan tenaga, proses yang tepat juga dapat memberikan kamu efisiensi waktu yang lebih baik.

Lantas, bagaimanakah cara mengubah data PTK guru menjadi sebuah buku ber-ISBN yang gampang untuk dilakukan?

Yuk, simak penjelasannya berikut ini.

BACA JUGA:

Mengubah PTK Guru menjadi Buku ber-ISBN dalam 5 Langkah Mudah

Photo by Jess Bailey Designs on Pexels.com

Laporan Penelitian Tindakan Kelas atau PTK adalah sebuah karya tulis ilmiah yang dibuat oleh seorang pendidik atau guru, laporan ini berisi hasil dari penelitian dan riset yang dilakukan oleh guru tersebut dalam kelas. Untuk sistematika penulisan PTK pun sudah ada ketentuannya.

Dalam teorinya, Penelitian Tindakan Kelas atau PTK memang dilakukan dalam upaya untuk menemukan permasalahan dalam kelas, kemudian mencari solusinya, dan mendokumentasinya dalam sebuah laporan PTK  yang sistematis.

Meskipun demikian, ada pula guru yang membuat PTK untuk keperluan yang berbeda. Selain untuk menemukan permasalahan, mendapatkan solusi, serta mendokumentasikan semua proses tersebut, tujuan lain yang paling populer dari pembuatan PTK adalah untuk syarat kenaikan pangkat.

Lantas, apakah ada perbedaan di antara keduanya?

Sebenarnya pada banyak contoh PTK guru, tidak ada perbedaan yang signifikan antara penyusunan PTK sebagai standar umum mau pun sebagai syarat kenaikan pangkat.

Namun memang pada PTK sebagai syarat kenaikan pangkat, adanya PTK menjadi salah satu syarat yang harus ada bagi seorang guru yang ingin menaikkan grade mereka.

Bentuk-Bentuk Penelitian Tindakan Kelas atau PTK Guru yang Paling Banyak Direkomendasikan

Photo by Anete Lusina on Pexels.com

Berdasarkan buku 4, kenaikan pangkat guru yang menggunakan PTK sebagai syarat berlaku mulai dari golongan III/d ke IV.a. Jadi, guru pada konteks ini, diwajibkan untuk membuat PTK jika ingin mengajukan syarat kenaikan pangkat.

Nah, PTK sendiri memiliki banyak bentuk saat diajukan sebagai syarat kenaikan pangkat. Beberapa bentuk yang paling populer misalnya adalah;

  • Bentuk laporan PTK umum.
  • Jurnal.
  • Artikel populer di media massa.
  • Atau, buku ber-ISBN.

Penyusunan PTK sebagai syarat kenaikan pangkat dalam bentuk laporan umum, jurnal, atau artikel populer di media massa, tentunya sudah tidak asing lagi untuk kamu ketahui. Sementara membuat PTK atau mengubah Penelitian Tindakan Kelas menjadi sebuah buku ber-ISBN sendiri masih banyak guru atau pendidik yang bingung dalam melakukannya.

Lantas, bagaimanakah cara mengubah login PTK guru menjadi sebuah buku ber-ISBN?

Berikut adalah 5 tips yang bisa kamu ikuti dengan mudah.

Langkah Mudah Mengubah Penelitian Tindakan Kelas atau PTK Guru menjadi Buku ber-ISBN

Ada cara yang dapat kamu ikuti dengan mudah untuk melakukan hal ini. Beberapa langkah yang paling penting dan mudah dilakukan dalam proses ini adalah sebagai berikut;

Ubah Judul PTK Guru menjadi Judul Populer

Photo by cottonbro on Pexels.com

Langkah pertama yang bisa kamu lakukan dalam mengubah laporan Penelitian Tindakan Kelas atau PTK Guru menjadi sebuah buku adalah dengan mengubah judulnya terlebih dahulu.

Penting untuk kamu pahami bahwa ada perbedaan yang signifikan antara cara penyajian judul untuk sebuah laporan PTK dengan sebuah judul buku karya tulis ilmiah yang populer. Langkah pertama ini meminta kamu untuk mengubah judul yang panjang dan detail dari sebuah PTK, menjadi judul yang lebih populer dan komersial.

Contohnya begini;

Jika judul laporan PTK yang kamu tulis adalah misalnya;

Penerapan Outdoor Learning untuk Meningkatkan Prestasi Belajar Sejarah bagi Siswa Kelas V Sekolah Dasar Negeri Pasir Jambu 01 Tahun Pelajaran 2021/2022

Maka beberapa pilihan judul populer untuk sebuah buku ber-ISBN yang bisa kamu gunakan adalah;

  • Meningkatkan Prestasi Belajar dengan Outdoor Learning
  • Outdoor Learning Sebagai Cara Jitu Meningkatkan Prestasi Belajar
  • Outdoor Learning dan Prestasi Belajar Siswa Sekolah Dasar
  • Dll.

Buat Struktur PTK menjadi Struktur Buku

Photo by Anete Lusina on Pexels.com

Selanjutnya setelah kamu mendapatkan judul yang tepat untuk buku ber-ISBN gubahan dari judul PTK yang kamu miliki, maka kamu sekarang dapat berfokus pada membuat struktur bukunya sendiri.

Maksudnya adalah; bagaimana kamu menyusun layouting atau kerangka laporan PTK yang sudah tersedia menjadi sebuah layouting buku yang populer. Ini mungkin akan membuat kamu harus mengubah jumlah bab, pembagian pokok bahasan, judul bab, dan lain sebagainya.

Pada contoh PTK guru SMP yang kompleks misalnya, kamu dapat membagi laporan itu menjadi sesuatu yang lebih sederhana dan eye catching. Perlu juga untuk kamu ingat dalam proses mengubah PTK menjadi buku ber-ISBN adalah bahwa hal ini juga memperluas jaringan pembaca.

Artinya; kamu tidak lagi berfokus pada susunan kertas yang akan dibaca sebagai hasil laporan. Namun kamu juga membuat sebuah tulisan yang memikat untuk dibaca olehh orang lain yang tidak terkait dalam laporan PTK yang dibuat.

Susun Bab Buku Berdasarkan Susunan Bab PTK

Photo by Anete Lusina on Pexels.com

Nah, setelah kamu mendapatkan layouting atau kerangka yang tepat dari buku gubahan PTK yang akan kamu terbitkan, kamu dapat memfokuskan pada pokok bahasannya sendiri.

Dalam penyusunan pokok bahasan PTK menjadi sebuah buku ber-ISBN ini, kamu juga perlu memperhatikan beberapa hal antara lain, yaitu;

  • Hapus dan ubah rumusan masalah, manfaat dan definisi operasional. Ganti penulisan background semacam ini menjadi sebuah paparan yang menjelaskan kondisi memprihatinkan terkait pembelajaran yang diampu.
  • Kata-kata yang menjelaskan ‘penulis melakukan penelitian tindakan kelas…” dapat diubah narasinya menjadi misalnya; “Buku ini ditulis berdasarkan hasil penelitian tindakan kelas yang berjudul…”.
  • Modifikasi semua bagian yang mencirikan penelitian pada satu tempat secara khusus. Susunan buku sebaiknya membahas objek permasalahan secara umum. Sekolah yang menjadi objek penelitian dapat dibahasakan sebagai sampel permasalahan dan solusi yang diajukan.

Lengkapi Persyaratan Mendapatkan ISBN

Photo by Anete Lusina on Pexels.com

Nah, ini adalah bagian yang tidak boleh tertinggal dalam verifikasi PTK guru, yakni ISBN itu sendiri. Beberapa orang bahkan lebih tertarik untuk mengutamakan ISBN itu sendiri dibandingkan isi dan pemaparan buku dari PTK yang merupakan faktor yang lebih fundamental.

ISBN atau International Standard Book Number, hakikatnya adalah sistem pencatatan buku supaya dapat dengan mudah untuk dikenal dan didata. ISBN bagaimana pun krusialnya sebagai bagian dari syarat kenaikan pangkat seorang guru terkait laporan PTK, tidak pernah lebih penting dari isi buku itu sendiri.

Mengajukan ISBN untuk sebuah buku itu tidak serumit yang dibayangkan. Selama sebuah buku telah memenuhi syarat-syarat pengajuan berupa misalnya: halaman judul, halaman cover, halaman kata pengantar, halaman daftar isi, halaman daftar pustaka, biodata penulis dan lain sebagainya, sebuah buku dapat memperoleh ISBN dengan mudah.

Jadi yang ingin disampaikan adalah; PTK kenaikan pangkat guru dalam bentuk buku ber-ISBN itu bukan ISBN-nya saja yang penting. Namun isi dan esensi dari buku itu sendiri jauh lebih penting.

BACA JUGA:

Cetak dan Publikasikan

Photo by Anna Nekrashevich on Pexels.com

Nah, langkah terakhir setelah semua selesai adalah kamu dapat menemukan sebuah percetakan atau penerbit untuk mencetak buku kamu.

Bagian ini menjadi sesuatu yang susah-susah gampang untuk dilakukan. Untuk bisa mendapatkan buku yang siap cetak, kamu kadang harus mengeluarkan budget yang tidak sedikit. Biaya ini dibebankan untuk pengurusan dan pendaftaran ISBN, layouting, editing, desain cover dan lain sebagainya.

Belum lagi kemudian, waktu yang dibutuhkan sampai buku kamu selesai dicetak dan diterbitkan akan cukup lama. Bahkan ada beberapa penerbit yang meminta jangka waktu hingga lebih dari satu atau dua bulan.

Pada bagian ini, kamu juga harus mempertimbangkan deadline cetak buku kamu sendiri. Jangan sampai syarat kenaikan pangkat dari buku ber-ISBN yang dikembangkan dari PTK justru membuatmu kamu terlambat dalam memenuhi syarat kenaikan pangkat.

Jika Kamu Sangat Sibuk dan Sulit Mengerjakan Hal Ini…

Photo by Andrea Piacquadio on Pexels.com

Maka kamu dapat menghubungi www.penulisgunung.id dan meminta  PTK yang kamu miliki untuk diubah menjadi buku ber-ISBN.

Dengan pengalaman yang dimiliki dan jam terbang penulisannya sendiri, www.penulisgunung.id akan menghasilkan buku terbaik hasil dari gubahan PTK yang sudah kamu miliki.

Jadi, jangan ragu untuk menghubungi kami, ya.



Anton Sujarwo

Saya adalah seorang penulis buku, content writer, copywriters dan juga email marketer. Saya telah menulis 14 judul buku, fiksi dan non fiksi, dan ribuan artikel sejak pertengahan tahun 2018 hingga sekarang.

Dengan pengalaman yang saya miliki, Anda bisa mengajak saya untuk bekerjasama dan menghasilkan karya. Jangan ragu untuk menghubungi saya melalui email, form kontak atau  mendapatkan update tulisan saya dengan bergabung mengikuti blog ini bersama ribuan teman yang lainnya.

Tulisan saya yang lain dapat dibaca pula pada website;

TERNYATA INI 10 FAKTA MENULIS BUKU YANG PALING MENYAKITKAN

Mimpi menjadi penulis sukses mungkin memang indah sebelum kamu tahu ada banyak fakta menulis yang menyakitkan. Beberapa penulis mungkin memilih diam dan tak ingin menyampaikan hal ini. Namun jika kamu tidak mengetahuinya sejak awal, kamu bisa saja akan jauh lebih kecewa setelah mengetahuinya kemudian.

Lalu, apa saja fakta mengenai menulis yang katanya menyakitkan itu?

Mari simak ulasan selengkapnya berikut.

Ketahui 10 Fakta Menulis yang Paling Menyakitkan Berikut Sebelum Kamu Memutuskan untuk Menjadi Seorang Penulis

Photo by John-Mark Smith on Pexels.com

Dunia menulis kadang melambungkan angan banyak pemula yang menganggap dunia yang baru dimasukinya ini sebagai sebuah romansa yang indah.

Saya juga mungkin demikian sebelumnya. Saat menyelesaikan buku pertama, angan saya mengatakan bahwa saya akan disibukkan dengan launching, roadshow ke berbagai kota, menjadi bintang tamu acara TV, dan menghitung royalti tentu saja.

Namun, bagaimana dengan kenyataannya?

Harus saya akui itu tidak seindah yang dibayangkan.

Bahkan setelah menulis lebih dari 14 judul buku, beberapa angan itu tidak pernah terwujud.

Roadshow dan royalti tidak pernah menjadi kenyataan. Namun saya justru banyak belajar dan menemukan hal-hal baru mengenai fakta tentang menulis yang harus dihadapi secara realistis. PR-nya kemudian adalah, bagaimana saya beradaptasi dan berhasil melewatinya.

Nah sekarang, untuk kamu yang memiliki keinginan menjadi seorang penulis, saya akan membagikan 10 hal yang sudah seharusnya kamu ketahui sejak awal ini. Bahkan jika saya mengetahui hal ini lebih awal, saya pun tidak akan terjebak pada hal-hal yang seharusnya tidak saya lakukan.

Apa saja fakta yang menyakitkan tentang menulis?

Ini dia daftarnya.

BACA JUGA:

Banyak Orang Berbicara Tentang Menulis, Hanya Sebagian Kecil yang Benar-Benar Melakukannya

Photo by RODNAE Productions on Pexels.com

Apakah kamu pernah mendengar seseorang yang mengatakan;

 “Aku akan menulis sebuah buku tentang ini. Konsep ceritanya bagus banget”

Kemudian ia tidak pernah melakukannya.

Pernahkah kamu menemui hal seperti itu?

Hal yang sama juga pernah terjadi dengan saya. Saya ingin menulis buku tentang silat, tentang kumpulan kisah teladan, atau seorang pendaki gunung yang tewas saat menyelamatkan kekasihnya. Tetapi buku itu tidak pernah hadir, hanya muncul sebagai ide yang kemudian terurai menjadi impian kosong kembali.

Menjadi penulis adalah mimpi banyak orang, tetapi hanya sedikit yang mewujudkan mimpi itu.

Memiliki buku dengan nama kamu sendiri, mungkin juga menjadi sesuatu yang kamu impikan. Akan tetapi fakta yang menyakitkannya adalah; hal itu tidak akan terwujud jika kamu tidak memperjuangkannya.

Bangun!

Jangan jadi orang-orang yang hanya bermimpi menjadi penulis tapi tidak pernah berjuang untuk mewujudkan mimpi itu.

Dalam Menulis, Meskipun Normal, Keraguan Akan Membunuhmu

Photo by Liza Summer on Pexels.com

Fakta kedua mengenai menulis seperti ini terjadi pula kepada saya saat sedang menulis novel pertama saja. Atau buku ke-4 yang sudah saya selesaikan secara keseluruhan.

Saya telah memiliki sebuah konsep cerita yang saya pikir bagus dan saya ingin konsep itu menjelma menjadi sebuah buku. Tapi ketika itu telah berubah menjadi beberapa bab, saya mulai menemukan keraguan dalam prosesnya. Dan hal itu kemudian menghentikan saya.

Konsep cerita itu kemudian diketahui oleh isteri saya dan ia meyakinkan saya bahwa itu cerita yang hebat. Keyakinan saya bersemi kembali saat mendengarnya. Dan saya pun berhasil menyelesaikan penulisan buku itu hingga selesai.

Tahukan kamu buku apa itu?

Itu adalah buku Merapi Barat Daya, yang telah terjual lebih 1.000 copy dan mendapatkan rating yang hampir sempurna dari banyak kritikus novel petualangan di Indonesia.

Oh ya, jumlah 1.000 copy  mungkin terdengar sedikit, ya?

Tapi tidak juga sebenarnya. Terutama jika kamu tahu bahwa buku itu diterbitkan secara indie dengan metode self publishing. Penulisan naskah, editing, desain cover,  dan pemasaran, semuanya saya lakukan secara mandiri.

Bayangkan jika saya tidak berhasil melawan keraguan sewaktu cerita itu ditulis. Ceritanya tentu akan berbeda.

BACA JUGA:

Writer’s Block Tidak Cukup Sebagai Alasan

Source: Freepik

Seorang guru tidak dapat berhenti mengajar hanya karena ia merasa kurang terinsipirasi saat masuk kelas. Seorang dokter tidak dapat berhenti melakukan operasi atas penyakit seorang pasien, hanya karena beralasan ia tidak terinspirasi untuk meneruskannya.

Penulis juga begitu.

Dan kamu, kamu juga harus begitu. Tidak terinspirasi, merasa kehabisan ide, atau writer’s block, tidak boleh kamu biarkan menghentikan dirimu. Terlalu kecil mimpimu sebagai seorang penulis jika writer’s block saja membuat kamu berhenti melakukannya.

Fakta menjadi seorang penulis yang sesungguhnya adalah ini, kamu harus memaksa diri kamu sendiri untuk tetap menulis. Inspirasi tidak datang setiap hari dan mood bisa berubah-ubah, namun, itu sama sekali bukan alasan kamu untuk berhenti.

Buku yang hebat tidak terlahir dalam semalam. Karya yang luar biasa tidak muncul hanya dengan mengatakan sim salabim. Kamu harus berjuang untuk terus menulis, setiap hari, entah kamu terinspirasi atau pun tidak.

Dan hal ini bagi sebagian orang dengan kemauan menulis yang lemah, adalah sebuah fakta menulis yang menyakitkan.

BACA INI JUGA, YUK:

Menulis Hanya di Waktu Senggang itu Tidak Cukup

Photo by Olya Kobruseva on Pexels.com

Mungkin kamu mengira dapat menyelesaikan bukumu dengan menulis di waktu senggangmu, ya?

Di saat kamu tidak sedang  bekerja, sedang tidak bermain dengan anak-anak, sedang tidak ada acara kantoran atau keluarga. Dan mungkin sedang tidak bermain sosial media.

Jika kamu berpikiran demikian, kamu sebaiknya mulai merubah pandanganmu itu.

Untuk dapat menyelesaikan sebuah buku, kamu tidak bisa mengandalkan untuk menulisnya hanya di waktu senggang. Jika kamu melakukan ini, percayalah, kamu tidak akan menyelesaikan bukumu pada akhirnya.

Bagaimana jika di waktu senggang kamu tidak terinspirasi?

Bagaimana jika di waktu senggang kamu justru malas untuk menulis?

Hal yang penting dari menjadi seorang penulis adalah kamu memprioritaskan aktivitas menulis sebagai kegiatan utama yang kamu lakukan. Menulilah setiap hari, di waktu-waktu paling produktif yang kamu miliki.

BACA PULA:

Menulis adalah Rutinitas yang Kamu Tidak Boleh Bosan

Photo by Cup of Couple on Pexels.com

Setiap rutinitas adalah sesuatu yang membosankan.

Iya, kan?

Tapi dalam menulis, rutinitas adalah hal yang yang kamu tidak boleh bosan melakukannya. Jika pun kamu bosan, maka kamu tidak boleh berhenti.

Dalam menulis, rutin dan konsisten adalah bagian yang paling penting. Kedisiplinan kamu dalam menulis-lah yang akan mengantarkan kamu pada kesuksesan menyelesaikan bukumu. Dan untuk melakukannya, kamu tidak bisa menulis hanya di waktu luang, atau hanya di akhir pekan saja.

Jadi, setiap hari kamu harus menulis.

Dan itu adalah fakta dalam menulis yang bagi sebagian orang adalah sesuatu yang menyakitkan.

BACA JUGA:

Membaca dan Riset adalah Bagian dari Pekerjaan

Photo by cottonbro on Pexels.com

Fakta tentang menulis selanjutnya yang mungkin tidak begitu kamu suka adalah bahwa pekerjaan ini juga berhubungan erat dengan hal lainnya. Dan membaca adalah bagian tidak terpisahkan dari seorang penulis.

Kamu tidak bisa menjadi penulis jika kamu tidak suka membaca.

Ada banyak bacaan yang bisa kamu ambil. Kamu bisa membaca karya penulis lain yang kamu kagumi cara berceritanya. Atau kamu juga bisa membaca buku dengan genre cerita yang sama dengan genre yang kamu tulis. Jangan khawatir, ini tidak ada hubungannya dengan plagiat. Justru proses ini akan membuat penulisanmu menjadi lebih tajam dan kuat.

Membaca banyak literatur dan riset adalah bagian dari dunia menulis yang tidak akan terpisahkan. Kamu tidak bisa mengabaikan hal ini jika kamu ingin memilki kualitas penulisan yang kuat.

baca juga:

Naskah Pertama itu Lebih Sering Mengecewakan

Photo by Karolina Grabowska on Pexels.com

Tugas utama selama kamu menulis bukumu yang pertama adalah sampai naskahnya selesai. Kesalahan penulisan, typo, PUEBI, makna yang ambigu, dan lain sebagainya, adalah bagian kedua dari proses ini.

Jadi, tidak perlu memusingkannya lebih dulu.

Tidak perlu merasa gusar jika setelah kamu menyelesaikan beberapa bab, kamu menemukan ada begitu banyak kesalahan yang harus diperbaiki. Itulah proses menulis yang sebenarnya, akan ada banyak hal yang harus diperbaiki setiap hari. Tapi tugas utama yang harus selesaikan adalah membuat naskahmu selesai.

Saya telah menulis lebih dari selusin buku, dan saya selalu menemukan banyak hal yang payah ketika naskahnya selesai.

Dan itu tidak masalah.

Karena waktu-waktu selanjutnya akan saya habiskan untuk memperbaikinya melalui editing, proofreading dan juga revisi.

Editing adalah Kerja Keras yang Melelahkan

Photo by Karolina Grabowska on Pexels.com

Jika kamu adalah seorang penulis pemula yang memilih jalur yang sepenuhnya mandiri seperti yang saya lakukan, kamu akan tahu betapa melelahkannnya proses sebuah buku hingga ia bisa terbit.

Di antara semua proses tersebut, editing adalah bagian yang paling menguras tenaga.

Sampai buku-buku populer seperti Dunia Batas Langit, MMA Trail, Merapi Barat Daya, atau Dewi Gunung yang tebalnya hingga 600 halaman itu sampai ke tangan pembaca. Saya menghabiskan siang dan malam, ditengah kantuk dan lelah, untuk menyelesaikan proses editing-nya yang sangat melelahkan.

Cara paling ideal dan profesional tentu saja dengan merekrut editor profesional untuk membantu menyempurnakan naskah yang sudah kamu tuliskan. Self editing seperti yang saya lakukan selalu menyisakan ruang-ruang dimana kesalahan akan tetap tersisa,

Saya membaca naskah buku yang saya tulis hingga paling tidak 3 x sebelum masuk proses final layouting.

Dan saya harus mengatakan hal ini secara jujur kepada kamu; proses ini sangat melelahkan, membosankan dan kadang mengecewakan.

baca pula:

Kritik Kadang Sangat Menyakitkan

Source: Freepik

Apakah kritik membuat kamu sakit hati?

Jika iya, mungkin kamu tidak cocok jadi penulis.

Apakah kritik membuat kamu kecewa dan memutuskan untuk berhenti berkarya?

Jika iya, nampaknya menulis bukan dunia kamu.

Dalam menulis kritik adalah bagian penting yang justru menjadi sebuah evaluasi gratis yang seharusnya disyukuri. Pujian memang enak didengar, dan itu kadang-kadang membuat seorang penulis merasa terbang. Namun kritik-lah yang akan membuat ia kembali menjejak tanah dan membangun sayap yang sebenarnya.

Ketika buku kamu sudah selesai dan orang-orang sudah membacanya, maka feedback pun berdatangan dan beberapa di antaranya adalah kritik. Dan itu adalah hal yang harus kamu syukuri.

Kritik memang keras, dan kadang membuat kamu mungkin sakit hati. Tapi jangan berhenti karena kritik.

Justru gunakan kritik yang kamu terima tersebut sebagai referensi utama saat mengevaluasi, atau membuat karya hebatmu yang seterusnya.

Jangan Berharap Langsung Kaya Raya dengan Menulis

Photo by Dziana Hasanbekava on Pexels.com

Apakah tidak ada penulis yang kaya raya dan mendapatkan uang dengan mudah melalui tulisan mereka?

Banyak! Banyak sekali.

J.K. Rowling yang terkenal itu menghasilkan miliaran dolar sebagai penulis terkaya di dunia. Di Indonesia kamu akan mendapati nama-nama tenar lainnya seperti Asma Nadia, Habiburahman El Shirazy, Andrea Hirata dan Tere Leye yang juga akrab dengan kesuksesan besar dan materi melimpah dari hasil menulis.

Tapi seujurnya itu tidak mudah. Hanya sedikit sekali penulis yang mampu mencapai posisi itu dengan keberuntungan dan kerja keras mereka.

Selebihnya?

Ada lebih banyak yang tidak terkenal dan mendapatkan penghasilan yang cukup dari menulis buku.

Source: Freepik

Ketika kamu sudah memutuskan untuk masuk ke dunia menulis secara profesional, kamu harus realistis. Uang yang kamu hasilkan mungkin tidak akan banyak selama beberapa tahun. Atau kamu mungkin tidak akan terkenal dan dielu-elukan dimana-mana.

Tapi apakah hal itu harus menjadi masalah?

Ketika kamu berhasil menyelesaikan bukumu yang pertama, ingat, itu hanyalah permulaan saja. Masih ada perjalanan panjang dan penuh perjuangan yang akan menunggu kamu selanjutnya.

Seperti saya yang telah menulis 14 judul buku dan menjual ribuan eksemplar di antaranya, sampai sekarang saya juga belum kaya raya dan terkenal. Bahkan mungkin kamu yang membaca tulisan ini belum mengenal siapa saya.

Tetapi semua itu tidak akan menghentikan saya.

Bisa jadi kesuksesan saya bukan pada buku pertama hingga 14, tapi buku ke-15, atau buku-20, atau buku-100 barangkali. Dan itu tidak jadi masalah, saya InsyaAllah akan konsisten menjalani prosesnya.

Saya akan terus menulis, menghasilkan buku, karena itulah cara yang bisa saya lakukan untuk bersyukur dengan segala karunia yang Allah berikan. Saya akan terus menulis sampai Allah mencukupkan waktu-Nya untuk saya.

baca juga:

Jika Kamu adalah Penulis Pemula yang Ingin Menghasilkan Buku Pertama, Inilah yang Harus Kamu Lakukan

Source: Freepik

Nah sekarang, dengan semua fakta menulis yang menyakitkan itu, kamu tidak boleh ragu dan menjadi pesimis. Justru kamu harus lebih bersemangat untuk masuk ke dunia penulisan dan menghasilkan karya terbaikmu.

Kamu bisa terus belajar menulis dari banyak cara. Kamu bisa mengikuti pelatihan, membaca buku panduan, mengikuti tutorial video dan lain sebagainya.

Akan tetapi jika kamu masih merasa kesulitan menyelesaikan buku pertamamu dengan cara-cara itu, maka kamu bisa meminta saya membantu kamu.

Jangan ragu untuk menghubungi kontak saya, dan saya akan memandu kamu menulis sampai kamu berhasil menyelesaikan buku kamu yang pertama.

Nah, apakah kamu mau menyelesaikan buku kamu yang pertama sekarang?


Anton Sujarwo

Saya adalah seorang penulis buku, content writer, copywriters dan juga email marketer. Saya telah menulis 14 judul buku, fiksi dan non fiksi, dan ribuan artikel sejak pertengahan tahun 2018 hingga sekarang.

Dengan pengalaman yang saya miliki, Anda bisa mengajak saya untuk bekerjasama dan menghasilkan karya. Jangan ragu untuk menghubungi saya melalui email, form kontak atau  mendapatkan update tulisan saya dengan bergabung mengikuti blog ini bersama ribuan teman yang lainnya.

Tulisan saya yang lain dapat dibaca pula pada website;

7 KEBIASAAN PENULIS SUKSES YANG BISA KAMU TIRU DENGAN MUDAH

Aktivitas menulis membutuhkan latihan dan pembiasaan yang terus menerus. Ada serangkaian kebiasaan penulis yang bisa kamu amati dan tiru untuk mendapatkan semangatnya. Kebiasaan-kebiasaan ini merupakan buah dari konsistensi, tekad dan komitmen yang keras dalam menulis. Pada akhirnya kebiasaan ini membentuk suatu habit yang membedakan kualitas seorang penulis.

Lantas, apa saja kebiasaan seorang penulis yang bisa kamu tiru sebagai modal jadi penulis yang sukses dengan karya-karya terbaiknya?

Yuk, simak penjelasan lengkapnya berikut ini.

7 Kebiasaan Penulis yang Paling Menentukan Kesuksesan Mereka Dalam Menghasilkan Karya Terbaik

Source: Freepik

Penulis hebat tidak pernah tercipta begitu saja. Ada serangkaian proses panjang lagi konsisten yang menjadi habit atau kebiasaan mereka yang dibangun dalam waktu lama. Kebiasaan yang tepat dalam menulis akan memberikan dampak yang besar bagi perkembangan, semangat, dan juga karya penulisan itu sendiri. Untuk itu, sangat penting bagi kamu yang memiliki keinginan untuk menjadi penulis menerapkan kebiasaan positif tersebut sebagai syarat jadi penulis.

Nah, apa sajakah kira-kira kebiasaan positif yang hampir selalu dilakukan oleh setiap penulis berbakat dan kuat?

Berikut ini saya akan mengajak kamu untuk membahasnya satu demi satu. Jadi, pastikan kamu membaca artikel ini hingga selesai, ya.

BACA JUGA:

Menulis dan Membaca Setiap Hari

Source: Rachel Claire on Pexels.com

Kebiasaan pertama yang harus menjadi habit untuk kamu lakukan sebagai seorang penulis adalah membaca dan menulis setiap hari. Membaca dan menulis adalah sesuatu yang sangat penting dilakukan oleh seorang penulis secara konsisten dan sesering mungkin.

Inspirasi seorang penulis dapat dilatih dengan membaca karya orang lain. Sementara bagaimana menuangkan inspirasi itu dalam sebuah karya tulis yang ideal, harus dilatih dengan cara menuliskannya. Di samping membaca dapat memperkaya wawasanmu tentang berbagai hal, kebiasaan ini akan  pula secara signifikan mampu memperkaya pula sudut pandang dalam penulisan yang kamu lakukan.

Jadi, jika kamu ingin menjadi seorang penulis yang sukses dan menghasilkan karya yang berkualitas, kebiasaan penulis pertama yang harus kamu lakukan adalah dengan membaca dan menulis setiap hari. Membacalah secara rutin dan menulislah secara disiplin setiap harinya. Jangan biarkan harimu berlalu tanpa melakukan dua hal utama yang menjadi fondasi setiap dunia kepenulisan ini.

Membuat Jurnal Menulis

Source: Anete Lusina on Pexels.com

Tugas penulis kedua yang harus dijadikan kebiasaan jika kamu sungguh-sungguh ingin menjadi seorang penulis adalah dengan membuat jurnal menulis. Jurnal dalam hal ini dapat kamu artikan sebagai agenda kepenulisan untuk kamu sendiri. Jadi, buatlah agenda menulis yang dapat kamu lakukan secara kontinyu dan konsisten.

Jurnal menulis sebenarnya adalah sebuah plan atau rencana kepenulisan yang dapat kamu susun sendiri sebagai guide line bagimu dalam menulis. Ini semacam rencana-rencana kepenulisan yang memungkinkan kamu untuk mencapai sebuah tujuan secara terstruktur dan sistematis.

Ibarat kerangka atau outline dalam dunia kepenulisan, jurnal menulis juga memberikan kamu sebuah anak tangga yang struktural untuk mencapai suatu tujuan secara lebih terencana dan disiplin.

Mencatat Ide-Ide untuk Proyek Kepenulisan

Source: Meruyert Gonullu on Pexels.com

Kebiasaan penulis profesional dan berkarakter kuat yang ketiga adalah mereka umumnya memiliki catatan mengenai berbagai ide proyek penulisan yang akan mereka laksanakan. Ingat, ini adalah tulisan mengenai ide atau gagasan kepenulisan. Tidak menjadi masalah jika kemudian ide itu hanya muncul di atas kertas dan tidak menjadi kenyataan.

Manusia memiliki keterbatasan dalam mengingat, begitu pula seorang penulis. Dan atas alasan itu pula mereka menggunakan pena mereka untuk melestarikan ingatan mereka. Sebagai penulis kamu tentu memiliki demikian ide-ide kepenulisan yang ingin kamu lakukan. Kamu ingin menulis novel tentang ini, tentang itu, opini tentang sesuatu, puisi atau hanya mungkin status sosial media sekali pun.

Apa pun ide proyek kepenulisan yang kamu miliki, sebaiknya kamu menuliskannya dalam sebuah catatan yang rapi.

Apa yang dilakukan penulis kuat pada umumnya adalah mereka selalu menuliskan ide-ide mengenai proyek menulis yang akan mereka lakukan. Terlepas dari apakah ide itu dapat dilaksanakan atau tidak di kemudian hari, menulis ide pokoknya sendiri ketika hal itu muncul di kepalamu, sangat penting untuk kamu lakukan.

BACA JUGA:

Berani Mengambil Risiko

Source: Cade Prior on Pexels.com

Kebiasaan penulis selanjutnya yang dapat kamu teladani adalah mereka berani mengambil risiko. Hal ini tentu saja dalam konteks penulisan yang dilakukan. Keberanian untuk mengambil risiko ini hadir dalam bentuk yang berbagai macam, mulai dari berani mengambil risiko menulis ide-ide penulisan yang tidak biasa, sampai mungkin saja gaya menulis yang lebih berani.

Apakah semua orang bisa jadi penulis hebat ketika mereka berani mengambil risiko dalam penulisan yang dilakukan?

Tentu saja hal itu tidak menjadi jaminan. Akan tetapi seorang penulis yang memiliki keberanian yang lebih besar untuk memgambil risiko dalam penulisan, memiliki peluang lebih besar untuk menghasilkan karya yang istimewa dan out of the box.

Tetap dalam Rules Outline Saat Menulis

Source: Ann Nekr on Pexels.com

Meskipun berani mengambil risiko dan mungkin saja dapat melakukan sesuatu yang tidak dapat dilakukan oleh orang lain, namun pada saat yang sama penulis juga harus memiliki rules yang jelas. Rules atau aturan ini pada umumnya untuk sesuatu yang bersifat task semata yang artinya, semacam kerangka penulisan yang jelas dan terarah.

Nah, apakah kamu biasa menulis menggunakan kerangka?

Ketika menulis artikel biasa, saya umumnya jarang menggunakan kerangka. Akan tetapi ketika tulisan itu misalnya lebih panjang dan bersifat pillar (dalam konten SEO) saya tetap mengaplikasikan kerangka supaya hasilnya efektif.

Namun, dalam penulisan novel, cerita fiksi, buku-buku dan tulisan panjang lainnya, outline atau kerangka adalah hal yang wajib dilakukan. Dan itu pula yang juga saya lakukan.

Menulis dan Membaca Berbagai Genre

Source: cottonbro on Pexels.com

Kebiasaan selanjutnya yang dapat kamu adaptasikan untuk menjadi seorang penulis yang kuat adalah dengan membiasakan menulis dan membaca banyak genre penulisan. Semakin banyak genre yang kamu ketahui, semakin hebat pula point of view yang bisa kamu kembangkan dalam tulisanmu nantinya.

Ada beberapa penulis yang menolak untuk membaca atau menulis genre yang diluar kebiasaan mereka. Sebenarnya ini kurang tepat dan dapat membatasi diri dari peluang untuk mengetahui sesuatu yang justru bisa memperkaya penulisan yang dilakukan.

Kamu tentu setuju kan, jika seorang penulis  harus berpikiran terbuka atau open minded, terlepas dari genre itu adalah pilihannya atau tidak?

Kritis dalam Mengevaluasi Diri Sendiri

Source: Freepik

Nah, kebiasaan terakhir yang dapat kamu terapkan untuk menjadi seorang penulis yang kuat dan berkarakter adalah dengan kritis kepada diri sendiri. Kamu boleh bergembira dengan pencapaian, kamu boleh senang jika bukumu sudah terbit, tapi tolong jangan berhenti sampai disana. Evaluasi lagi karya tulismu dan kritislah ketika mengevalusinya.

Jika kamu memiliki seorang editor yang detail dan teliti, maka itu adalah sebuah anugrah. Akan tetapi jika kamu adalah seorang penulis soliter seperti saya, jika kamu adalah seorang penulis yang berdiri dalam pena kesendirian ketika menghasilkan karya, maka kamu harus kritis dalam me-review karyamu sendiri.

Pujian bukanlah sebuah masalah. Namun ketika kamu larut dalam pujian dengan memandang karyamu telalu tinggi, maka kamu berpotensi kehilangan sensitivitas untuk membuatnya menjadi lebih kuat dan berkarakter di kemudian hari.

BACA JUGA:

Source: Freepik

Nah, itu adalah 7 kebiasaan penulis yang memiliki karakter kuat yang dapat kamu ikuti. Kebiasaan-kebiasaan ini mungkin saja terasa tidak mudah untuk dipraktikkan pada awalnya. Akan tetapi seiring waktu dan dengan konsistensi yang baik, kebiasaan ini akan membentuk dirimu sendiri menjadi seorang penulis yang kuat pula di kemudian hari, baik dari sisi karakter mau pun karya yang dihasilkan.

Jadi, selamat menulis selalu, ya!

Buat situs web atau blog di WordPress.com

Atas ↑