EPILOG ADALAH RAHASIA MENUTUP CERITA NOVEL, BEGINI CARA MENULISNYA

Selesai membaca sebuah novel pernahkah kamu kemudian merasakan ada sesuatu yang terlewatkan? Dalam kondisi seperti ini epilog adalah solusi yang dapat menyelesaikannya. Penempatan dan penulisan epilog yang tepat bahkan dapat membuat sebuah karya sastra menjadi lebih sempurna.

Nah, apakah yang dimaksud dengan epilog? Benarkah anggapan yang mengatakan bahwa epilog adalah bagian krusial dari sebuah karya sastra? Dan yang paling penting; bagaimana sebenarnya cara yang terbaik untuk menulis epilog?

Artikel Penulis Gunung berikut ini akan membahasnya untuk kamu.

Yuk, dibaca sampai habis, ya.

Benarkah Epilog adalah Cara Rahasia Menutup Novel?

Photo by Kaboompics .com on Pexels.com

Prolog dan epilog adalah bagian dari sebuah cerita yang tidak wajib dalam penulisan novel namun memiliki peran yang signifikan jika dapat dilakukan dengan baik. Jika prolog ditempatkan pada awal novel sebelum bab pertama, maka epilog ditempatkan pada akhir buku di belakang bab terakhir.

Dalam artikel sebelumnya, Penulis Gunung telah menguraikan apa yang dimaksud dengan prolog. Prolog adalah sesuatu yang berbeda dengan kata pengantar, prakata atau pun pendahuluan.

Nah, dalam penulisan epilog ini nanti, akan ditemukan pula fakta bahwa epilog mungkin saja memiliki persamaan dengan penutup, namun ini adalah dua hal yang tidak identik. Epilog dalam pengertian yang lebih komprehensif bukanlah sebuah penutup bagi cerita sebuah karya sastra fiksi berbentuk novel.

Jadi, apa pengertian epilog sebenarnya?

BACA JUGA:

Pengertian Epilog

Dalam penulisan fiksi, epilog adalah bagian yang seringkali ditambahkan oleh penulis untuk menutup novelnya. Tetapi sekali lagi, epilog tidak sama dengan kata penutup. Pengertian bebas yang dapat diberikan untuk epilog ialah perangkat sastra yang terpisah dari cerita utama namun ditetapkan sebagai tambahan cerita.

Epilog selalu ditempatkan pada bagian akhir karya sastra, persisnya setelah bab terakhir diceritakan dan ending telah ditetapkan.

Tujuan dari epilog dalam drama adalah untuk menyampaikan kepada pembaca apa yang akan terjadi pada tokoh protagonis dan tokoh-tokoh utama setelah cerita utama selesai. Hal ini hampir selalu menggambarkan masa depan yang terjadi setelah topik utama dalam alur novel mencapai ending.

Pada kasus lain, epilog juga dimaksudkan sebagai cara untuk mengikat kembali beberapa bagian cerita yang terasa longgar. Atau pada kesempatan yang lain, juga digunakan oleh penulis sebagai kisi-kisi cerita serial untuk edisi selanjutnya.

Asal Mula Penggunaan Epilog

Photo by Michael Giugliano on Pexels.com

Seperti halnya prolog, epilog juga berasal dari para dramawan dan sastrawan Yunani kuno.

Epilog sendiri berasal dari dua kata Yunani yaitu ‘epos dan logos’ yang makna harfiahnya adalah “kata kesimpulan’. Epilog selalu dihadirkan pada akhir sebuah karya sastra, baik ia dalam bentuk buku, mau pun yang sudah diadaptasikan dalam bentuk yang berbeda.

Sebagai posisi yang berlawanan, ketika prolog dalam drama adalah pembuka yang ditempatkan di awal cerita sebelum bab pertama, maka epilog ditempatkan di bagian akhir. Adaptasi dari aksistensi epilog ini sebenarnya dapat dilihat dalam banyak karya.

Dalam penulisan fiksi modern, contoh epilog dapat ditemukan paling banyak pada cerita dengan genre thriller, kriminal atau pun horor.

Dalam novel genre-genre tersebut, contoh epilog adalah pesan yang sekaligus berusaha disampaikan penulis bahwa ketika cerita utama selesai, sesungguhnya teror, horor, kriminalitas dan kejahatan itu masih ada di luar sana.

Untuk melihat bentuk konkretnya; Pernahkah kamu menonton film horor yang ketika akhir cerita tercapai namun si penjahat atau tokoh antagonis ternyata ditunjukkan masih ada dan akan mencari mangsanya lagi?

Ini adalah ending yang umum dalam cerita genre thriller, dan saya yakin kamu pasti pernah menyaksikannya, bukan?

BACA JUGA:

Epilog Tidak Sama dengan Penutup

Photo by olia danilevich on Pexels.com

Kamu memang akan menemukan penutup pada beberapa novel fiksi, namun penutup secara luas dan populer diaplikasikan dalam penulisan buku non fiksi. Epilog adalah istilah yang eksklusif digunakan dalam penulisan fiksi, terutama yang berbentuk novel.

Penutup pada umumnya digunakan untuk membuat kesimpulan singkat untuk semua pembahasan dalam sebuah karya non fiksi. Ini bisa juga menjadi areal dimana penulis menyampaikan pesan cerita dan mempertegas intinya kepada pembaca.

Dalam konteks yang lebih luas, penutup kadang bahkan diisi dengan ajakan untuk melakukan sesuatu atau tidak melakukan sesuatu yang ada relevansinya dengan isi buku.

Namun epilog itu adalah sesuatu yang lebih unik.

Epilog menjadi semacam bab cerita tersendiri yang terpisah dari pokok cerita utama. Akan tetapi eksistensi epilog selalu menjadi segmen yang membuat bangunan sebuah karya fiksi menjadi lebih sempurna.

Tujuan dan Pertimbangan Menggunakan Epilog

Photo by Rahul Shah on Pexels.com

Sebenarnya, penting atau tidaknya sebuah epilog masih diperdebatkan.

Pada karya dengan ending yang memuaskan dan sempurna, epilog tidak dibutuhkan lagi. Sementara pada ending cerita novel yang masih terasa berserak dan tidak utuh, epilog bisa menjadi solusi untuk digunakan.

Dalam pertimbangan untuk menggunakannya, epilog sama dengan prolog yaitu, ‘hanya boleh’ kamu gunakan jika itu memang butuh dan harus. Hindari memaksakan penggunaan epilog jika akhir cerita sudah sempurna dan memuaskan.

Sebagai panduan  bagimu untuk menambahkan epilog atau tidak dalam penulisan fiksi yang kamu lakukan, pertimbangkan 3 tujuan penulisan teks epilog berikut ini.

BACA PULA:

1. Sebagai Informasi Perkembangan Tokoh setelah Cerita Berakhir

Photo by Koshevaya_k on Pexels.com

Tujuan penulisan epilog yang pertama adalah sebagai media bagi penulis untuk memberitahu pembaca mengenai perkembangan karakter utama setelah cerita utama selesai. Epilog untuk novel dipertimbangkan untuk diaplikasikan jika tujuan ini adalah sebabnya.

Ketika sebuah cerita berakhir dalam penulisan novel fiksi dan ending sudah dicapai, beberapa pembaca kadang merasa menggantung dengan pertanyaan-pertanyaan klasik seperti;

  • Apa yang akan terjadi dengan tokoh utama selanjutnya?
  • Apakah karakter protagonis akan hidup seperti yang ia cita-citakan?
  • Apakah ada kemungkinan misalnya tokoh antagonis kembali dan membuat situasi menjadi kritis?
  • Dan lain sebagainya.

Nah, untuk menjawab pertanyaan seperti ini, kamu bisa menggunakan epilog sebagai solusinya.

Akan tetapi ini bukanlah aturan yang baku, melainkan sebuah opsi saja untuk dilakukan. Beberapa novel dengan ending yang gantung pun kadang tidak memberikan epilog pada bagian akhirnya.

Intinya, epilog adalah bagian pada karya sastra yang dapat ditambahkan sebagai penjelasan perkembangan tokoh utama setelah cerita berakhir. Namun ini adalah opsi yang bisa kamu ambil atau kamu tinggalkan.

2. Sebagai Cara Mudah untuk Mempertegas Pesan Cerita

Photo by Lisa on Pexels.com

Tujuan kedua yang juga mendasari pertimbangan penulisan epilog adalah ini adalah cara yang efektif untuk mempertegas pesan cerita.

Pada beberapa karya sastra, pesan cerita kadang-kadang tidak dapat dimaknai secara mudah hanya dengan membaca alur cerita utama saja. Nah, dalam skema seperti ini epilog adalah bagian dari solusi yang bisa kamu gunakan.

Epilog buku fiksi dapat menjadi sarana yang mudah untuk membuat pesan cerita lebih sampai kepada pembaca. Atau dalam bahasa yang lebih spesifik, memastikan bahwa pesan cerita, bahwa nilai-nilai moral yang ingin disampaikan, setidaknya sudah diterima oleh pembaca.

3. Mengatur Peluang untuk Hadirnya Sekuel

Photo by Musa Artful on Pexels.com

Tujuan ketiga dari penggunaan epilog cerita adalah sebagai cara penulis untuk mengatur kemungkinan adanya sekuel atau lanjutan cerita.

Jika kamu memiliki rencana untuk membuat sekuel novel fiksi yang kamu tulis, pada akhir cerita kamu dapat berpikir untuk menambahkan epilog. Dengan penambahan epilog kamu dapat memberitahu pembaca bahwa apa yang telah mereka temukan dalam cerita bukan bagian yang terakhir. Epilog adalah kata lain untuk menyampaikan bahwa pembaca harus membaca sekuel berikutnya.

Ada banyak penulis yang memberikan gambaran epilog sebagai informasi kemungkinan adanya sekuel dengan cara yang berbeda-beda.

Beberapa penulis hanya menjadikan epilog adalah bagian titik-titik pada karya sastra yang menginsyarakatkan perkembangan karakter yang samar dalam cerita selanjutnya. Namun ada juga penulis yang membuat epilog lebih seperti plot twist yang lebih jelas.

Kamu sendiri dapat memilih mana yang kamu anggap paling menarik jika alasan kamu menggunakan epilog sebagai informasi kehadiran edisi lanjutan cerita atau sekuel.

BACA JUGA:

Tips Penting Menulis Epilog yang Efektif

Photo by Pixabay on Pexels.com

Setelah kamu memastikan bawah novel yang kamu tulis benar-benar membutuhkan sebuah epilog, sekarang adalah waktunya untuk menyusun langkah teknis guna membuatnya sempurna.

Nah, untuk membuat epilog naskah drama atau karya fiksi yang kamu hasilkan semakin meningkatkan kualitas cerita, perhatikan 7 tips paling penting dalam penulisan epilog berikut ini.

1. Tentukan Sudut Pandang Penulisan Epilog

Tips pertama yang bisa kamu terapkan dalam menulis epilog di buku fiksi adalah dengan menentukan sudut pandang penceritaan.

Dalam penentuan sudut pandang atau point of view, penting untuk kamu melakukannya sesuai dengan sudut pandang penulisan cerita utama.

Jadi, ketika misalnya menggunakan sudut orang pertama dalam cerita utama, maka upayakan pula untuk menulis epilog dengan sudut pandang yang sama.

2. Pastikan Epilog Berisi Tentang Informasi Masa Depan

Photo by fauxels on Pexels.com

Tips kedua adalah dengan memastikan bahwa epilog yang kamu tuliskan berisi masa depan cerita. Artinya cuplikan cerita yang kamu munculkan dalam epilog itu bergerak maju atau beberapa waktu setelah cerita utama terjadi.

Epilog adalah drama yang terjadi pada masa depan cerita utama. Jadi kamu memang harus memastikannya ada pada masa depan cerita.

Ketika kamu misalkan membuat sebuah novel romantis yang happy ending dimana sepasang kekasih akhirnya bersatu setelah cobaan dan rintangan. Maka dalam epilog kamu mungkin bisa menuturkan ketika sepasang kekasih itu telah menikah dan memiliki anak.

3. Tetapkan Dimana dan Kapan Setting Epilog akan Berlangsung

Kemudian tips yang ketiga dalam menulis epilog adalah dengan menetapkan setting epilognya sendiri. Setting ini termasuk dalam hal ruang dan waktu, namun secara khusus dalam epilog kamu bisa memfokuskan pada setting waktunya terlebih dahulu.

Tetapkan apakah setting waktu dalam epilog terjadi pada masa 20 tahun setelah cerita utama berakhir atau mungkin 10 tahun setelah ending pada novel utama dicapai.

Waktu dalam epilog jauh lebih fleskibel untuk kamu gunakan. Epilog bisa kamu tetapkan dalam hitungan tahun, dalam hitungan bulan atau pun dalam hitungan hari.

BACA JUGA:

4. Hindari Membuat Epilog Terlalu Panjang

Photo by Anete Lusina on Pexels.com

Epilog cerpen adalah istilah yang kadang-kadang digunakan sebagai istilah untuk menyebut epilog yang cukup panjang dalam sebuah novel sehingga membentuk cerita tersendiri yang mandiri.

Epilog sebaiknya tidak dibuat terlalu panjang. Idealnya sebuah epilog dapat membentuk cerita yang baru tanpa pembaca sadari bahwa itu sebenarnya telah membuka sesuatu yang baru dan terpisah dari bangunan cerita utama.

5. Tawarkan Pandangan yang Tidak Ada dalam Cerita Utama

Tips selanjutnya yang bisa kamu aplikasikan dalam penulisan epilog adalah dengan memberikan pandangan yang sama sekali berbeda dari cerita utama dalam novel.

Pandangan ini bisa dalam bentuk cara penulis memggambarkan konflik dalam novel yang ia kemudian soroti dari sudut yang berbeda. Atau dalam skenario yang lain; penulisan epilog dapat pula mempertimbangkan penyelesaian konflik dengan cara yang sama sekali berbeda dari cerita dalam novel.

6. Hindari Jebakan ‘Bahagia Selamanya’

Photo by Jonathan Borba on Pexels.com

Akhir yang bahagia adalah sesuatu yang menarik dalam novel, namun dalam menulis epilog kamu tidak boleh terjebak dalam persepsi bahwa setiap cerita harus berakhir bahagia.

Happy ending dimana semua konflik selesai dan tokoh protagonis berakhir dalam kebahagiaan adalah ide yang ideal dalam cerita. Di samping itu, akhir yang bahagia juga dapat menjadi cara yang nyaman untuk menghindari konflik.

Namun sebagai penulis, kamu tidak boleh menghindari konflik. Justru kemampuan kamu mengelola dan melukiskan konflik itulah yang membuat novelmu menjadi luar biasa.

7. Jika Epilog adalah Informasi Adanya Sekuel, Pastikan Pembaca Ingin Mengetahuinya

Tips yang terakhir dalam menulis epilog juga menjadi pertimbangan bagi kamu yang berpikir untuk membuat sekuel cerita fiksi yang kamu miliki. Tips ini meminta kamu untuk memberikan gambaran semenarik mungkin untuk memikat pembaca supaya tetap mengikuti sekuel cerita selanjutnya.

Beberapa penulis berpendapat ini tidak perlu jika cerita utama dalam novel sudah cukup membekas dalam benak pembaca. Ending yang menggantung dimana nasib karakter utama masih dipertanyakan sudah cukup untuk membuat pembaca merasa penasaran dan ‘harus’ sekuel selanjutnya.

BACA JUGA:

Berani punya buku atas nama kamu sendiri dalam waktu satu bulan?

Ikuti kelas menulisnya disini!


anton sujarwo

Anton Sujarwo

Saya adalah seorang penulis buku, content writer, ghost writer, copywriters dan juga email marketer. Saya telah menulis 15 judul buku, fiksi dan non fiksi, dan ribuan artikel sejak pertengahan tahun 2018 hingga sekarang.

Dengan pengalaman yang saya miliki, Anda bisa mengajak saya untuk bekerjasama dan menghasilkan karya. Jangan ragu untuk menghubungi saya melalui email, form kontak atau  mendapatkan update tulisan saya dengan bergabung mengikuti blog ini bersama ribuan teman yang lainnya.

Tulisan saya yang lain dapat dibaca pula pada website;

Saya juga dapat dihubungi melalui whatsapp di tautan ini.

Fortopolio beberapa penulisan saya dapat dilihat disini:


Buat situs web atau blog di WordPress.com

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: