APA ITU SHOW DON’T TELL DALAM PENULISAN FIKSI DAN CARA MUDAH MEMPRAKTIKKANNYA

Sulit bagi pembacamu untuk meletakkan buku yang kamu tulis jika kamu menggunakan teknik Show don’t tell. Penulisan dengan cara seperti ini, seolah menarik tangan para pembaca untuk masuk dalam cerita, merasakan setiap lekuk petualangan yang dilakukan oleh karakter yang kamu ceritakan.

Show don’t tell tentu saja sangat gampang secara teori. Kamu dan hampir semua orang sudah pasti paham maksudnya, bukan?

Tapi bagaimana dengan mengaplikasikannya dalam penulisan fiksi?

Tentu saja tidak sesederhana artinya. Bahkan penulis berpengalaman dengan jam terbang tinggi sekali pun, banyak yang masih gagal mempraktikkan show and tell dalam penulisan mereka.

Memahami Apa Itu Show Don’t Tell dalam Penulisan Fiksi dan Penulisan Umum

Photo by Amina Filkins

“Kita adalah penulis, Sayangku. Kita tidak menangis dengan air mata berurai, tapi kita bersimpah darah dengan kata-kata di atas kertas”

Anonim

Untuk dikatakan sebagai sebuah teknik, show don’t tell rasanya lebih jauh lagi perannya. Seorang penulis yang mampu mengaplikasikan apa itu show and tell dalam tulisan mereka, bukan hanya mampu membius pembaca untuk terus membaca, namun mereka juga mampu membuat pembaca hadir dalam cerita itu sendiri secara emosional.

Tentu saja mempraktikkan show don’t tell dalam penulisan tidak semudah mengucapkannya. Kamu akan membutuhkan waktu untuk berlatih keterampilan yang satu ini hingga mampu mempraktikkannya secara mahir.

Akan tetapi berita baiknya adalah; show don’t tell dalam penulisan itu seperti kemampuan membaca, bahwa sekali kamu mampu melakukannya, kamu tidak akan pernah lupa. Show and tell dalam menulis juga adalah sebuah keterampilan, yang artinya semakin sering kamu mengasahnya, maka semakin hebat pula kamu didalamnya.

Lantas apa sebenarnya keterampilan ini dan adakah contoh show don’t tell yang lebih mudah untuk dipahami?

Saya mengajak kamu untuk mempelajarinya lebih lanjut.

Perbedaan Antara Show and Tell

Photo by Karolina Grabowska

Sebagai seorang penulis kamu harus mampu memprovokasi pembacamu untuk merasakan pula bagaimana emosi yang kamu bangun dalam cerita.

Ketika kamu menulis tentang kesedihan dan kepedihan, kamu tentu ingin pembacamu merasakan hal yang sama, bahkan menangis dan berurai air mata. Sebaliknya, ketika kata-katamu adalah tentang tawa, bahagia dan canda, kamu juga ingin pembacamu untuk tersenyum, menarik napas lega serta berbinar-binar matanya.

Tapi pertanyaannya adalah; Bagaimana melakukan itu semua? Apa yang harus kamu lakukan?

Beberapa orang beranggapan bahwa teknik showing adalah rumus melakukan ini, persisnya keterampilan show don’t tell.

Nah, supaya lebih mudah untuk dipahami, pembahasan dua suku kata ini sendiri harus diterjemahkan secara terpisah.

Show atau Menunjukkan, Mempertontonkan dan Memperagakan

Photo by Amina Filkins

Show adalah sebuah ‘alat’ yang dipergunakan oleh penulis untuk menarik pembaca masuk dalam cerita yang mereka tulis. Dengan menggunakan show ini, penulis berusaha membangun hubungan yang kuat antara pembaca, setting dan karakter dalam cerita. Tidak ada tempat untuk penulis disini, penulis hanyalah orang yang menunjukkannya saja.

Kemampuan seorang penulis menunjukkan atau mempertontonkan adegan per adegan ceritanya kepada pembaca akan membawa pembaca untuk mandi dalam imajinasi mereka sendiri. Pembaca akan mengambil kesimpulan, menafsirkan, menduga bahkan memutuskan berdasarkan imajinasi dan interpretasi mereka sendiri.

Teknik showing ini laksana seorang operator layar tancap yang ia membentangkan kain kemudian menyorotinya dengan film.

Kamu mungkin tidak tahu siapa yang mengoperasikan film layar tancap, bagaimana ia memasang pitanya dan menghidupkan volume suara. Namun kamu pasti ingat film apa yang diputar karena kamu sendiri melihat dengan jelas adegan dalam film tersebut secara nyata di depan matamu.

Tell atau Memberitahu, Mengatakan dan Menjelaskan

Photo by cottonbro

Ketika kamu menggunakan gaya menulis dengan tell, maka kamu telah melakukan sebuah pencurian!

Hah, Pencurian?

Apa maksudnya?

Ya, saat seorang penulis hanya memberitahu pembacanya tentang sesuatu (tell not show), ia seumpama telah mencuri kesempatan para pembacanya untuk bertualang dan menemukan sesuatu dalam dunia yang ia ceritakan.

Pembaca kehilangan kesempatan mereka untuk menambahkan imajinasi mereka sendiri dalam bukumu. Interpretasi mereka tentang sesuatu objek, kondisi, pemikiran atau apa pun itu, menguap hilang seiring keputusanmu untuk memberitahu mereka apa yang terjadi.

Dalam pengertian yang lebih menarik, penulis yang hanya tell saja, seakan telah mengusir para pembaca mereka untuk keluar dari cerita. Ada sebuah batasan yang terbangun antara pembaca dengan cerita yang kamu tuliskan.

Dapatkah Penulis Menyeimbangkan Show and Tell dalam Cerita Mereka?

Source: slideplayer

Beberapa penulis pemula tertarik bertanya bagaimana cara agar showing dan telling seimbang dalam sebuah cerita?

Sulit untuk mengatakannya, namun kamu bagaimana pun juga, harus mengutamakan show dibandingkan tell. Kamu tidak bisa menakar keseimbangan ini secara spesifik, tapi yakinlah bahwa show akan jauh lebih baik untuk jenis kisah apa pun yang kamu ceritakan.

Ketika pembaca melihat cerita yang kamu tuliskan dari sudut pandang karakter atau tokoh, berat bagi mereka untuk meninggalkan bukumu hingga mereka menyelesaikannya. Pembaca seakan menyatu bersama karakter cerita, mereka melangkah dalam irama yang sama, mencium aroma yang sama, dan merasakan hal yang sama seperti yang dirasakan oleh karakter cerita.

Dalam pengertian ini, pembaca akan melihat, meraba, merasakan, mendengarkan dan juga memikirkan persis seperti berdasarkan karakter yang kamu ceritakan. Pembaca dalam hal ini adalah bagian dari cerita itu sendiri.

Untuk mampu mempraktikkan show secara sempurna dalam penulisan cerita, seorang penulis harus menyibak penutup emosi pembaca.

Hal ini tentu saja tidak mudah, namun coba perhatikan contoh teks show and tell berikut ini;

Photo by Aline Nadai

“Hujan telah turun, pakaian Usman dan Hania basah kuyup, mereka terus berjalan karena  lupa membawa payung”

Atau,

“Tidak ada payung, tidak ada tempat berteduh, dan tidak ada pula pilihan bagi Usman dan Hania selain terus melangkah. Butir-butir air yang semula seperti gemericik embun itu, sekarang menjelma laksana butiran jagung besarnya, memandikan rambut, wajah dan pakaian mereka”

Dua kalimat di atas mungkin bukan contoh paling sempurna showing dan telling tentang hujan. Namun coba saja kamu baca sekali lagi, mana di antara kedua kalimat itu yang akan melayangkan imajinasi kamu tentang hujan?

6 Tips Mudah Mempraktikkan Show Don’t Tell dalam Penulisan Cerita

Photo by Pixabay

Setelah memahami bagaimana show don’t tell begitu signifikan dalam penulisan cerita, pertanyaan paling pentingnya kemudian adalah; Bagaimana mengimplementasikannya dalam cerita yang ditulis?

Ini akan membutuhkan banyak perjuangan dan latihan, namun 6 tips berikut ini akan membantu kamu untuk bisa melakukannya dengan lebih mudah.

Jadi, ini adalah 6 hal yang bisa kamu lakukan.

Gunakan Panca Indera Karakter yang Kamu Ceritakan

Photo by diva Trajbariu

Untuk mendapatkan sentuhan show don’t tell yang pertama, kamu bisa menggunakan panca indera yang dimiliki oleh karakter ceritamu sendiri. Artinya adalah, kamu ajak pembacamu untuk berinteraksi dengan alur cerita melalu indera yang dimiliki oleh karakter cerita.

Untuk membuatnya lebih mudah, tips show and tell bisa kamu praktikkan dengan membuat daftar apa saja yang karakter kamu terima melalui panca inderanya.

  • Mata, apa yang karakter ceritamu lihat melalui matanya.
  • Telinga, apa yang tokoh dalam ceritamu dengar dengan telinganya.
  • Lidah dan mulut, apa yang karaktermu kecap dan rasakan melalui lidahnya.
  • Kulit dan tangan, apa yang mungkin karakter ceritamu rasakan melalui kulit mereka atau indera peraba mereka.
  • Benak, pikiran dan perasaan, apa yang mungkin tokoh ceritamu pikirkan dan rasakan.

Setelah kamu membuat daftar apa yang diindera oleh karakter cerita yang kamu tulis dalam salah satu adegan. Selanjutnya adalah membuat kalimat yang kuat dan aktif melalui penginderaan karaktermu sendiri.

Misalnya;

  • Sebuah adegan karakter bernama Jamal memuntahkan air kopinya yang ternyata tidak diberi gula, melainkan garam.

Coba buat begini;

  • Ketika tegukan air kopi itu masuk ke dalam mulut Jamal, ia merasakan sesuatu yang aneh. Tak ada rasa manis disana, hanya ada seperti semangkuk air laut yang diberi serbuk kopi untuk mengubah warnanya saja. Jamal tak tahan, ia pun memuntahkan kembali air kopi yang rasanya demikian pahit itu

Dan kamu bisa membuat contoh show don’t tel lainnya dengan lebih sempurna.

Jadilah Lebih Spesifik

Photo by Erik Karits

Tips kedua untuk mengimplementasikan show don’t tell dalam penulisan cerita adalah dengan membuatnya rinci, detail dan spesifik.

Rumusnya adalah; semakin spesifik cerita yang kamu sampaikan, semakin mudah efek show-nya diperoleh, dan semakin kuat ia tergambar dalam benak pembaca.

Hindari menggunakan istilah yang umum dan terlalu biasa untuk menggambarkan sesuatu. Jika kamu menceritakan karakter ceritamu memiliki kucing di rumahnya, maka tunjukkan itu dengan tingkah si kucing yang tertidur di ranjangnya, menunggu karakter sedang makan atau malah tertidur di atas pangkuannya.

Meskipun demikian, tidak semua bagian menarik dikisahkan spesifik, terlebih lagi jika itu berulang-ulang untuk menjelaskan hal yang sama. Khusus untuk hal ini, kamu dapat menemukan keseimbangan antara show dan tell mengenai bagaimana menempatkannya dalam cerita.

Gunakan Dialog

Photo by SHVETS production

Jika kamu bertanya bagaimana mengaplikasikan teknik showing yang paling mudah dalam cerita? Maka inilah jawabannya; gunakan dialog.

Dialog atau percakapan yang terjadi antar karakter adalah cara termudah untuk show. Ini juga merupakan cara yang mudah untuk menunjukkan aksi real time yang karaktermu lakukan. Dengan dialog, apa yang karakter cerita kamu lakukan dapat dengan mudah digambarkan dan ditunjukkan melalui sudut pandang karakter.

Berlatihlah untuk menggunakan dialog yang kuat dan menarik, karena dialog selalu menjadi alat show yang mudah dalam menulis cerita.

Gunakan Kosakata yang Kuat atau Aktif

Photo by Brett Jordan

Untuk menggambarkan sebuah adegan yang penting dalam cerita, kamu harus dapat memilih kosakata atau kata kerja yang kuat dan berpengaruh. Salah satu cara mengenalinya adalah dengan melihat bahwa kosakata ini dinamis dan seringkali memiliki konotasi gerakan.

Kosakata seperti; cinta, benci, rindu, percaya, pasrah dan sejenisnya, adalah kosakata yang statis dan nampak tidak memberikan energi pada imajinasi pembaca.

Namun ketika kamu memilih kosakata; berjalan, tersenyum, melangkah, berlari, terbang, berkata, berpikir dan memukul misalnya, pembacamu akan melihat gerakan dalam imajinasi mereka.

Dan itu cukup efektif untuk menunjukkan adegan dengan lebih jelas. Alih-alih hanya memberitahunya saja kepada pembaca.

Hindari Kata Keterangan

Photo by Zachary DeBottis

Kata keterangan yang tidak perlu kadang-kadang membuat pembaca justru terhalang untuk ikut menggunakan imajinasi mereka dalam cerita. Dengan kata keterangan yang ditempatkan pada lokasi dan situasi yang tidak tepat, kamu seolah-olah telah membangun sebuah pagar yang samar di antara pembaca dan cerita yang kamu tulis.

Untuk membuatnya lebih mudah, kamu bisa kembali pada contoh teks show don’t tell Usman dan Hania yang basah kuyup oleh hujan tadi.

Atau kamu juga bisa melihat contoh ini;

  • Jalan buntu dan mati langkah! Pencopet itu terpojok sekarang, semua mata penumpang bus seolah panah-panah yang ditembakkan ke arahnya. Ia gemetar, mukanya pucat laksana kain kapan, tamat ia sekarang!

Bandingkan dengan ini;

  • Pencopet itu terpojok sekarang, tak bisa kemana-mana, kebingungan dan ketakutan melanda dirinya.

Perbanyak Fokusmu pada Aksi dan Reaski

Photo by NEOSiAM 2021

Daripada mengatakan bahwa tokoh antagonismu misalnya ‘bejat dan tak bermoral’, bagaimana jika kamu menunjukkan kepada pembaca bahwa tokoh itu tega merampas uang dari ibunya sendiri yang baru saja pulang menjual kayu bakar setelah ia sendiri kalah bermain judi?

Atau daripada mengatakan karaktermu ‘seorang yang dermawan’ mengapa tidak menunjukkannya dengan ia sengaja meluangkan waktu pada setiap sore hari Jum’at untuk mengantarkan uang santunan ke panti asuhan?

Intinya adalah, kamu harus berfokus pada reaksi dan aski yang dilakukan oleh karaktermu.

Aksi dan reaksi akan membuat gambaran yang lebih kuat dalam imajinasi pembaca daripada kamu mengatakannya secara langsung dalam kata-kata yang umum. Bahkan reaksi dan aksi juga bisa kamu gunakan untuk membuat opening yang menarik sekaligus show don’t tell pada pembacamu.

  • Dorr!!! Percikan api menyembur dari ujung pistol di tangan Joane. Jemari lentik itu tak tahan lagi nampaknya, pelatuk senjata itu diremasnya dengan sekuat  tenaga!

Atau,

  • Tatang melompat, hampir terjengkang ke petak sawah di belakangnya, matanya memandang nanar melihat ular sawah yang baru saja lewat hanya satu setengah meter dari kakinya.

Itu mungkin bukan contoh awalan novel yang menarik, namun yang pasti kalimat seperti itu aktif secara aksi dan reaksi. Dalam implementasi show don’t tell, itu cukup layak untuk kamu coba.

Kesimpulannya Sekarang

Photo by Anete Lusina

“Mustahil bagi seseorang untuk dapat mempelajari sesuatu yang ia sendiri pikir, ia sudah sangat pandai di dalamnya”

– Epictetus –

Ada latihan yang panjang dan disiplin hingga kamu terbiasa dan mudah mengaplikasikan kemampuan show don’t tell dalam ceritamu. Namun sekali kamu bisa melakukannya, hal ini akan semakin mudah untuk dipraktikkan dalam kondisi bagaimana pun.

Jadi, selamat mencoba!


anton sujarwo

Anton Sujarwo

Saya adalah seorang penulis buku, content writer, ghost writer, copywriters dan juga email marketer. Saya telah menulis 15 judul buku, fiksi dan non fiksi, dan ribuan artikel sejak pertengahan tahun 2018 hingga sekarang.

Dengan pengalaman yang saya miliki, Anda bisa mengajak saya untuk bekerjasama dan menghasilkan karya. Jangan ragu untuk menghubungi saya melalui email, form kontak atau  mendapatkan update tulisan saya dengan bergabung mengikuti blog ini bersama ribuan teman yang lainnya.

Tulisan saya yang lain dapat dibaca pula pada website;

Saya juga dapat dihubungi melalui whatsapp di tautan ini.

Fortopolio beberapa penulisan saya dapat dilihat disini:


Buat situs web atau blog di WordPress.com

Atas ↑