BAGAIMANA MENULIS DAN MENERBITKAN BUKU NON FIKSI DALAM 30 HARI ATAU KURANG

Menulis dan menerbitkan buku non fiksi bisa dilakukan dengan mudah dan dalam waktu yang singkat, asalkan kamu mengerti caranya. Dengan metode sistematis yang tepat, kamu akan merasakan produktivitas yang signifikan dalam menulis dan menghasilkan karya non fiksi.

Lantas, bagaimanakah cara menulis dan menerbitkan buku non fiksi dengan mudah dan sistematis dalam waktu cepat?

Yuk, simak ulasan lengkapnya berikut ini.

BACA JUGA:

5 Langkah Mudah Menulis dan Menerbitkan Buku Non Fiksi yang Bahkan Bisa Rilis dalam Satu Bulan atau Kurang

Photo by Sunsetoned on Pexels.com

Secara sederhana pengertian buku non fiksi adalah sebuah buku yang disusun berdasarkan sumber-sumber yang jelas dan non-imajinatif. Dengan adanya sumber-sumber yang jelas ini, tentu saja penyusunan dan penulisan buku dapat ditentukan secara lebih spesifik.

Namun demikian, meskipun sumber penulisan buku non fiksi sudah jelas, tidak semua penulis mampu menulis buku jenis ini secara efektif, efisien dan juga produktif. Bahkan beberapa penulis atau calon penulis merasa lebih kesulitan menulis buku non fiksi daripada buku fiksi.

Sumber penulisan buku fiksi yang paling dominan tentu saja imajinasi penulis itu sendiri. Artinya, semakin luas dan baik kamu menggunakan imajinasimu, maka semakin baik dan luas pula penulisanmu dalam fiksi.

Nah, bagamaina dengan menulis buku non fiksi?

Berikut ini adalah 5 langkah yang mudah dilakukan untuk menulis buku non fiksi. Bahkan tidak hanya menulisnya, kamu juga sekalian dipandu untuk sekaligus menerbitkannya. Menariknya, semua ini dapat kamu lakukan dalam waktu satu bulan saja bahkan kurang.

Atur Jadwal Menulis yang Konsisten dan Disiplin

Source: System Pro

Apa pun jenis buku nonfiksi yang ingin kamu tulis dan tak peduli seberapa baik kamu menguasai topiknya, semua itu tidak akan lebih penting daripada kedisiplinan saat kamu menuliskannya.

Kedisiplinan dalam menulis dan konsistensi dalam menjalaninya adalah rahasia semua penulis. Kamu harus memiliki hal itu jika ingin menyelesaikan buku non fiksimu dan menerbitkannya dalam waktu yang singkat. Tanpa kesediaan untuk disiplin dalam menulis, sulit rasanya untuk menyelesaikan jenis buku apa pun, baik fiksi mau pun non fiksi.

Tipsnya disini adalah dengan membuat sebuah jadwal menulis yang disiplin dan bisa kamu patuhi sendiri. Tetapkan berapa lama waktu yang akan kamu gunakan untuk menulis dalam satu hari, atau berapa kata yang harus kamu selesaikan dalam periode tersebut.

Namun inti dari langkah yang pertama ini adalah kamu harus bisa mematuhi dan konsisten menjalankannya.

Buat Kerangka Penulisan yang Rinci

Source: Marc Johnson

Dalam penulisan non fiksi, outline atau kerangka penulisan adalah bagian yang krusial dan harus ada. Pilihannya adalah, ada yang menggunakan kerangka sebagai garis besar penulisan, namun ada pula yang memanfaatkan outline lebih dari sekedar itu.

Untuk membuat susunan buku non fiksi yang sistematis, mudah dipahami dan juga lebih gampang dieksekusi dalam proses penulisannya, outline adalah hal yang harus kamu perhatikan dengan seksama. Luangkan waktumu lebih banyak untuk membuat kerangka yang detail dan terperinci.

Lho, mengapa harus terperinci dan detail? Bukankah ini hanya outline saja?

Waktu 30 hari untuk menulis dan menerbitkan sebuah buku adalah waktu yang terbatas. Supaya tujuan ini bisa dilakukan dengan baik, kamu membutuhkan strategi yang akan memudahkan kamu dalam segala hal, termasuk pula dalam hal pembuatan outline.

Semakin detail dan rinci kamu membuat kerangka, maka semakin mudah kamu menulisnya kemudian. Dan tentu saja, itu akan membuat proses penulisan kamu menjadi lebih cepat.

BACA PULA:

Perkirakan Jumlah Kata Penargetan

Source: Blogsays

Dalam 10 contoh buku non fiksi yang seringkali disampaikan, jumlah kata rata-rata yang dipergunakan adalah 30.000 – 75.000 kata.

Namun dengan waktu satu bulan atau 30 hari, kamu mungkin harus mempertimbangkan sebuah buku non fiksi singkat dan tidak begitu tebal untuk ditulis. Jumlah kata buku non fiksi untuk jenis ini biasanya berkisar antara 20.000 – 50.000 kata.

Jadi sederhananya begini;

Jika kamu menargetkan jumlah kata dalam buku non fiksimu adalah 30.000 kata, maka tentu saja setiap hari kamu setidaknya harus menulis 1.000 kata. Dalam waktu satu bulan kamu akan memiliki buku dengan tebal kurang lebih 30.000 kata. Asalkan kamu konsisten melakukannya.

Nah, selebihnya kamu hanya butuh waktu untuk melakukan editing, layouting, membuat cover dan juga publishing tentu saja.

Buat Rencana Pemasaran

Photo by Andrea Piacquadio on Pexels.com

Dengan waktu hanya 30 hari untuk menulis dan menerbitkannya sekaligus, kamu tentu saja tidak punya waktu banyak untuk memasarkan buku yang kamu tulis. Nah, supaya buku ini setidaknya memiliki pembeli, kamu harus memikirkan teknis pemasaran yang sederhana dan efektif.

Tips yang bisa kamu lakukan untuk menyiasati hal ini adalah dengan memasarkannya melalui sosial media, jaringan teman-teman, whatsapp group dan lain sebagainya.

Jadi selama proses menulis dan bukumu misalnya sudah selesai 75%, kamu sudah mulai dapat mempromosikannya di berbagai platform yang kamu pilih. Kamu bisa menerapkan sistem pre- order untuk meminimalisir risiko tidak terjual.

Cara lain yang juga bisa kamu lakukan misalnya mengadakan kontes membuat cover, memposting kutipan-kutipan terbaik dari buku yang kamu tulis secara teratur, dan lain sebagainya. Namun tetap harus diingat bahwa yang menjadi prioritasmu adalah menyelesaikan bukumu sesuai tenggat waktu yang telah kamu tetapkan.

Pilih Platform Penerbitan

Photo by Christina Morillo on Pexels.com

Jika kamu memilih untuk menerbitkan buku yang kamu tulis secara digital, maka kamu dapat menghindari kerepotan dalam proses cetak dan semacamnya. Namun, memilih cover yang baik dan membuat layouting yang menarik, tetap harus kamu lakukan.

Dalam platform digital, kamu bisa memilih menerbitkannya di Google Play Book, Online Store dan lain sebagainya. Kamu hanya perlu menyiapkan buku non fiksi PDF dan semuanya sudah siap untuk dipasarkan.

Namun jika kemudian kamu memilih untuk memasarkan bukumu dalam versi cetak dan juga digital, maka kamu juga harus memikirkan percetakan dan penerbitannya. Kamu bisa memilih untuk menggunakan ISBN atau melewatkannya sementara waktu.

Bagaimana jika Masih Kesulitan Melakukan 5 Langkah di Atas?

Photo by Olya Kobruseva on Pexels.com

Jika kamu masih merasa kesulitan untuk membuat bukumu meskipun sudah membaca langkah-langkah di atas hingga tuntas, maka kamu bisa meminta bantuan pada penulis blog ini dan menggunakan jasanya. Kamu akan dibimbing untuk bisa menyelesaikan buku sampai terbit.

Caranya mudah, kamu hanya perlu mengklik form kontak dan menuliskan pesanmu.

Jadi, jangan ragu untuk menghubungi www.penulisgung.id,  ya

BACA JUGA:


Anton Sujarwo

Saya adalah seorang penulis buku, content writer, copywriters dan juga email marketer. Saya telah menulis 14 judul buku, fiksi dan non fiksi, dan ribuan artikel sejak pertengahan tahun 2018 hingga sekarang.

Dengan pengalaman yang saya miliki, Anda bisa mengajak saya untuk bekerjasama dan menghasilkan karya. Jangan ragu untuk menghubungi saya melalui email, form kontak atau  mendapatkan update tulisan saya dengan bergabung mengikuti blog ini bersama ribuan teman yang lainnya.

Tulisan saya yang lain dapat dibaca pula pada website;

5 LANGKAH MENGUBAH PTK GURU (PENELITIAN TINDAKAN KELAS) MENJADI BUKU BER-ISBN

Mengubah PTK Guru atau Penelitian Tindakan Kelas menjadi sebuah buku ber-ISBN sebenarnya bukanlah proses yang sulit. Dengan sedikit keterampilan dan modifikasi, kamu dapat mengeksekusinya dengan mudah. Selain menghemat waktu dan tenaga, proses yang tepat juga dapat memberikan kamu efisiensi waktu yang lebih baik.

Lantas, bagaimanakah cara mengubah data PTK guru menjadi sebuah buku ber-ISBN yang gampang untuk dilakukan?

Yuk, simak penjelasannya berikut ini.

BACA JUGA:

Mengubah PTK Guru menjadi Buku ber-ISBN dalam 5 Langkah Mudah

Photo by Jess Bailey Designs on Pexels.com

Laporan Penelitian Tindakan Kelas atau PTK adalah sebuah karya tulis ilmiah yang dibuat oleh seorang pendidik atau guru, laporan ini berisi hasil dari penelitian dan riset yang dilakukan oleh guru tersebut dalam kelas. Untuk sistematika penulisan PTK pun sudah ada ketentuannya.

Dalam teorinya, Penelitian Tindakan Kelas atau PTK memang dilakukan dalam upaya untuk menemukan permasalahan dalam kelas, kemudian mencari solusinya, dan mendokumentasinya dalam sebuah laporan PTK  yang sistematis.

Meskipun demikian, ada pula guru yang membuat PTK untuk keperluan yang berbeda. Selain untuk menemukan permasalahan, mendapatkan solusi, serta mendokumentasikan semua proses tersebut, tujuan lain yang paling populer dari pembuatan PTK adalah untuk syarat kenaikan pangkat.

Lantas, apakah ada perbedaan di antara keduanya?

Sebenarnya pada banyak contoh PTK guru, tidak ada perbedaan yang signifikan antara penyusunan PTK sebagai standar umum mau pun sebagai syarat kenaikan pangkat.

Namun memang pada PTK sebagai syarat kenaikan pangkat, adanya PTK menjadi salah satu syarat yang harus ada bagi seorang guru yang ingin menaikkan grade mereka.

Bentuk-Bentuk Penelitian Tindakan Kelas atau PTK Guru yang Paling Banyak Direkomendasikan

Photo by Anete Lusina on Pexels.com

Berdasarkan buku 4, kenaikan pangkat guru yang menggunakan PTK sebagai syarat berlaku mulai dari golongan III/d ke IV.a. Jadi, guru pada konteks ini, diwajibkan untuk membuat PTK jika ingin mengajukan syarat kenaikan pangkat.

Nah, PTK sendiri memiliki banyak bentuk saat diajukan sebagai syarat kenaikan pangkat. Beberapa bentuk yang paling populer misalnya adalah;

  • Bentuk laporan PTK umum.
  • Jurnal.
  • Artikel populer di media massa.
  • Atau, buku ber-ISBN.

Penyusunan PTK sebagai syarat kenaikan pangkat dalam bentuk laporan umum, jurnal, atau artikel populer di media massa, tentunya sudah tidak asing lagi untuk kamu ketahui. Sementara membuat PTK atau mengubah Penelitian Tindakan Kelas menjadi sebuah buku ber-ISBN sendiri masih banyak guru atau pendidik yang bingung dalam melakukannya.

Lantas, bagaimanakah cara mengubah login PTK guru menjadi sebuah buku ber-ISBN?

Berikut adalah 5 tips yang bisa kamu ikuti dengan mudah.

Langkah Mudah Mengubah Penelitian Tindakan Kelas atau PTK Guru menjadi Buku ber-ISBN

Ada cara yang dapat kamu ikuti dengan mudah untuk melakukan hal ini. Beberapa langkah yang paling penting dan mudah dilakukan dalam proses ini adalah sebagai berikut;

Ubah Judul PTK Guru menjadi Judul Populer

Photo by cottonbro on Pexels.com

Langkah pertama yang bisa kamu lakukan dalam mengubah laporan Penelitian Tindakan Kelas atau PTK Guru menjadi sebuah buku adalah dengan mengubah judulnya terlebih dahulu.

Penting untuk kamu pahami bahwa ada perbedaan yang signifikan antara cara penyajian judul untuk sebuah laporan PTK dengan sebuah judul buku karya tulis ilmiah yang populer. Langkah pertama ini meminta kamu untuk mengubah judul yang panjang dan detail dari sebuah PTK, menjadi judul yang lebih populer dan komersial.

Contohnya begini;

Jika judul laporan PTK yang kamu tulis adalah misalnya;

Penerapan Outdoor Learning untuk Meningkatkan Prestasi Belajar Sejarah bagi Siswa Kelas V Sekolah Dasar Negeri Pasir Jambu 01 Tahun Pelajaran 2021/2022

Maka beberapa pilihan judul populer untuk sebuah buku ber-ISBN yang bisa kamu gunakan adalah;

  • Meningkatkan Prestasi Belajar dengan Outdoor Learning
  • Outdoor Learning Sebagai Cara Jitu Meningkatkan Prestasi Belajar
  • Outdoor Learning dan Prestasi Belajar Siswa Sekolah Dasar
  • Dll.

Buat Struktur PTK menjadi Struktur Buku

Photo by Anete Lusina on Pexels.com

Selanjutnya setelah kamu mendapatkan judul yang tepat untuk buku ber-ISBN gubahan dari judul PTK yang kamu miliki, maka kamu sekarang dapat berfokus pada membuat struktur bukunya sendiri.

Maksudnya adalah; bagaimana kamu menyusun layouting atau kerangka laporan PTK yang sudah tersedia menjadi sebuah layouting buku yang populer. Ini mungkin akan membuat kamu harus mengubah jumlah bab, pembagian pokok bahasan, judul bab, dan lain sebagainya.

Pada contoh PTK guru SMP yang kompleks misalnya, kamu dapat membagi laporan itu menjadi sesuatu yang lebih sederhana dan eye catching. Perlu juga untuk kamu ingat dalam proses mengubah PTK menjadi buku ber-ISBN adalah bahwa hal ini juga memperluas jaringan pembaca.

Artinya; kamu tidak lagi berfokus pada susunan kertas yang akan dibaca sebagai hasil laporan. Namun kamu juga membuat sebuah tulisan yang memikat untuk dibaca olehh orang lain yang tidak terkait dalam laporan PTK yang dibuat.

Susun Bab Buku Berdasarkan Susunan Bab PTK

Photo by Anete Lusina on Pexels.com

Nah, setelah kamu mendapatkan layouting atau kerangka yang tepat dari buku gubahan PTK yang akan kamu terbitkan, kamu dapat memfokuskan pada pokok bahasannya sendiri.

Dalam penyusunan pokok bahasan PTK menjadi sebuah buku ber-ISBN ini, kamu juga perlu memperhatikan beberapa hal antara lain, yaitu;

  • Hapus dan ubah rumusan masalah, manfaat dan definisi operasional. Ganti penulisan background semacam ini menjadi sebuah paparan yang menjelaskan kondisi memprihatinkan terkait pembelajaran yang diampu.
  • Kata-kata yang menjelaskan ‘penulis melakukan penelitian tindakan kelas…” dapat diubah narasinya menjadi misalnya; “Buku ini ditulis berdasarkan hasil penelitian tindakan kelas yang berjudul…”.
  • Modifikasi semua bagian yang mencirikan penelitian pada satu tempat secara khusus. Susunan buku sebaiknya membahas objek permasalahan secara umum. Sekolah yang menjadi objek penelitian dapat dibahasakan sebagai sampel permasalahan dan solusi yang diajukan.

Lengkapi Persyaratan Mendapatkan ISBN

Photo by Anete Lusina on Pexels.com

Nah, ini adalah bagian yang tidak boleh tertinggal dalam verifikasi PTK guru, yakni ISBN itu sendiri. Beberapa orang bahkan lebih tertarik untuk mengutamakan ISBN itu sendiri dibandingkan isi dan pemaparan buku dari PTK yang merupakan faktor yang lebih fundamental.

ISBN atau International Standard Book Number, hakikatnya adalah sistem pencatatan buku supaya dapat dengan mudah untuk dikenal dan didata. ISBN bagaimana pun krusialnya sebagai bagian dari syarat kenaikan pangkat seorang guru terkait laporan PTK, tidak pernah lebih penting dari isi buku itu sendiri.

Mengajukan ISBN untuk sebuah buku itu tidak serumit yang dibayangkan. Selama sebuah buku telah memenuhi syarat-syarat pengajuan berupa misalnya: halaman judul, halaman cover, halaman kata pengantar, halaman daftar isi, halaman daftar pustaka, biodata penulis dan lain sebagainya, sebuah buku dapat memperoleh ISBN dengan mudah.

Jadi yang ingin disampaikan adalah; PTK kenaikan pangkat guru dalam bentuk buku ber-ISBN itu bukan ISBN-nya saja yang penting. Namun isi dan esensi dari buku itu sendiri jauh lebih penting.

BACA JUGA:

Cetak dan Publikasikan

Photo by Anna Nekrashevich on Pexels.com

Nah, langkah terakhir setelah semua selesai adalah kamu dapat menemukan sebuah percetakan atau penerbit untuk mencetak buku kamu.

Bagian ini menjadi sesuatu yang susah-susah gampang untuk dilakukan. Untuk bisa mendapatkan buku yang siap cetak, kamu kadang harus mengeluarkan budget yang tidak sedikit. Biaya ini dibebankan untuk pengurusan dan pendaftaran ISBN, layouting, editing, desain cover dan lain sebagainya.

Belum lagi kemudian, waktu yang dibutuhkan sampai buku kamu selesai dicetak dan diterbitkan akan cukup lama. Bahkan ada beberapa penerbit yang meminta jangka waktu hingga lebih dari satu atau dua bulan.

Pada bagian ini, kamu juga harus mempertimbangkan deadline cetak buku kamu sendiri. Jangan sampai syarat kenaikan pangkat dari buku ber-ISBN yang dikembangkan dari PTK justru membuatmu kamu terlambat dalam memenuhi syarat kenaikan pangkat.

Jika Kamu Sangat Sibuk dan Sulit Mengerjakan Hal Ini…

Photo by Andrea Piacquadio on Pexels.com

Maka kamu dapat menghubungi www.penulisgunung.id dan meminta  PTK yang kamu miliki untuk diubah menjadi buku ber-ISBN.

Dengan pengalaman yang dimiliki dan jam terbang penulisannya sendiri, www.penulisgunung.id akan menghasilkan buku terbaik hasil dari gubahan PTK yang sudah kamu miliki.

Jadi, jangan ragu untuk menghubungi kami, ya.



Anton Sujarwo

Saya adalah seorang penulis buku, content writer, copywriters dan juga email marketer. Saya telah menulis 14 judul buku, fiksi dan non fiksi, dan ribuan artikel sejak pertengahan tahun 2018 hingga sekarang.

Dengan pengalaman yang saya miliki, Anda bisa mengajak saya untuk bekerjasama dan menghasilkan karya. Jangan ragu untuk menghubungi saya melalui email, form kontak atau  mendapatkan update tulisan saya dengan bergabung mengikuti blog ini bersama ribuan teman yang lainnya.

Tulisan saya yang lain dapat dibaca pula pada website;

MENULIS BUKU KENAIKAN PANGKAT GURU DALAM 5 LANGKAH PALING MUDAH

Menyusun dan menulis buku kenaikan pangkat guru sebenarnya dapat dilakukan dengan mudah selama Anda memahami caranya. Buku seperti ini selain dipergunakan untuk syarat kenaikan grade atau pangkat, kadang juga dijadikan sebagai bagian dari buku penilaian kinerja guru. Dengan kepentingan seperti itu, tentu saja dibutuhkan kemampuan untuk menulisnya sebaik mungkin.

Sayangnya tidak semua guru atau pendidik mampu melakukan hal ini. faktor ketidakbiasaan adalah kendala utama mengapa menyusun dan menulis buku bisa menjadi sesuatu yang sangat menyulitkan. Padahal jika Anda mengerti caranya, prosesnya bahkan bisa saja lebih mudah daripada yang pernah Anda bayangkan.

Lantas, bagaimana cara yang paling mudah menulis buku untuk kenaikan pangkat bagi seorang guru?

Mari, simak ulasan lengkapnya berikut ini.

5 Langkah Paling Sederhana dalam Menulis Buku Kenaikan Panngkat Guru

Photo by William Fortunato on Pexels.com

Istilah buku 4 penilaian angka kredit guru atau buku 5 kenaikan pangkat guru menjadi populer sejak ada kebijakan dari pemerintah bahwa, literasi adalah salah satu faktor penting sebagai prasyarat kenaikan pangkat seorang pendidik. Literasi ilmiah atau fiksi menjadi tolak ukur yang sekarang dianggap penting untuk dimiliki oleh setiap pendidik dalam jenjang apa pun.

Pada tingkat Sekolah Dasar atau SD misalnya, seorang guru yang mengajukan kenaikan pangkat diwajibkan untuk menulis buku untuk mendapatkan skor atau nilai yang dibutuhkan. Buku tersebut bisa dalam bentuk kumpulan puisi, kumpulan cerpen, atau pun semacam opini ilmiah mengenai proses pendidikan di sekolah guru yang bersangkutan.

Selain bisa mendapat nilai dari angka kredit buku antologi yang penulisannya secara kolektif, penulisan mandiri sebenarnya jauh lebih diprioritaskan. Dengan pemahaman yang lebih baik, menulis buku seperti ini sebenarnya tidak jauh berbeda dengan menulis makalah biasa. Atau menulis artikel ilmiah sederhana yang berfokus pada dunia pendidikan.

Nah, untuk Anda yang berprofesi sebagai seorang pendidik dan sedang mengajukan kenaikan pangkat kemudian harus menulis buku sebagai syaratnya, 5 langkah sederhana berikut ini mungkin bisa membuatnya menjadi lebih mudah.

BACA JUGA:

Tetapkan Tema Penulisan; Fiksi atau Non Fiksi

Photo by Liza Summer on Pexels.com

Langkah pertama yang bisa Anda lakukan ketika menulis buku 3 penilaian angka kredit guru adalah dengan memilih temanya terlebih dahulu; apakah Anda akan menulis buku fiksi atau kan non fiksi.

Jika pilihan Anda adalah menulis buku fiksi sesuai dengan ketentuan yang disyaratkan, maka Anda juga dapat membuat pilihan antara menulis kumpulan puisi atau kumpulan cerpen. Jumlah minimal yang disyaratkan jika Anda menulis kumpulan puisi pada umumnya adalah 40 judul. Akan tetapi, jika Anda memilih menulis buku fiksi dalam bentuk kumpulan cerpen, maka Anda dapat menentukan jumlah secara mandiri.

Sementara jika Anda kemudian memilih untuk menulis buku non fiksi, maka jenis buku untuk kenaikan pangkat yang dapat Anda tulis sebenarnya jauh lebih banyak. Anda misalnya dapat memilih materi yang bersifat opini Anda sendiri, hipotesa dan analisis mendalam tentang sebuah objek pendidikan, atau juga bisa memilih mengenai kritik sebuah sistem yang Anda anggap kurang relevan dalam struktur pendidikan modern.

Lakukan Riset yang Cukup

Photo by Pixabay on Pexels.com

Jika Anda kemudian memilih buku penilaian angka kredit guru dengan tema fiksi, riset tidak serta merta dapat Anda kesampingkan. Untuk menghasilkan sebuah karya fiksi yang tidak asal jadi, Anda juga membutuhkan riset yang cukup supaya hasilnya memuaskan. Paling tidak bagi diri Anda sendiri.

Dibandingkan menulis secara bersama-sama yang menghasilkan angka kredit buku antologi yang terbilang kecil, Anda bisa mengambil komitmen untuk menulis buku Anda sendiri. Untuk memperdalam riset misalnya, Anda dapat membaca berbagai kumpulan puisi dan cerpen dari penulis lain kemudian menulis objek yang sama dalam sudut pandang Anda sendiri.

Namun jika Anda memilih buku non fiksi sebagai syarat kenaikan pangkat yang Anda ajukan, Anda tentunya harus membuat riset yang lebih komprehensif. Mengulas metode pendidikan, mengkritik dan mengevaluasi sistem yang sudah ada, atau pun memberikan proyeksi model pendidikan yang lebih ideal, menuntut Anda untuk melakukan banyak kajian dan analisa dari setidaknya 5 sumber yang kredibel.

BACA JUGA:

Prioritaskan untuk Menulis yang Sejalan dengan Realitas

Photo by Max Fischer on Pexels.com

Akan sangat baik bagi penilaian yang akan Anda peroleh jika kemudian Anda memilih untuk menulis sebuah buku atau artikel non fiksi tentang objek pendidikan yang sesuai dengan realitas yang ada. Relevansi tulisan yang Anda hasilkan dengan realitas yang terjadi akan menghasilkan penilaian yang sempurna bagi para penguji yang objektif.

Pada tingkatan guru Sekolah Dasar misalnya, ketika Anda memilih tema penulisan mengenai mungkin metode paling efektif untuk mencapai tujuan pembelajaran, maka sebaiknya metode yang Anda tulis tersebut dapat Anda pahami dengan baik. Penguasaan Anda tentang materi penulisan akan memberikan keleluasaan untuk menulisnya dalam perspektif yang lebih luas dan menarik.

Pada contoh buku 2 pkg revisi 2019 pdf misalnya, penulisan ini mensyaratkan Anda memiliki pengalaman lapangan pula dalam mempraktikkannya. Misalnya begini; ketika Anda menulis mengenai efektivitas metode belajar outdoor learning, maka setidaknya Anda juga harus memiliki pengalaman mengenai cara belajar di luar ruang seperti itu.

Buat Outline yang Struktural

Photo by William Fortunato on Pexels.com

Dalam menulis buku penilaian kinerja guru sebagai syarat kenaikan pangkat, outline atau kerangka juga tidak dapat Anda abaikan. Bahkan sebenarnya pada buku jenis apa pun, baik fiksi mau pun non fiksi, outline akan membuat proses penulisan dan eksekusi idenya menjadi lebih mudah.

Outline atau kerangka akan memberikan batasan-batasan yang tepat dalam penulisan sehingga akan menghindarkan Anda dari penulisan yang tidak relevan. Outline pada sisi yang sama juga dapat menjadi oriented mapping dimana Anda dapat menentukan arah penulisan secara lebih terstruktur dan tepat sasaran.

Bahkan pada penulisan buku kumpulan puisi sekali pun yang Anda pilih sebagai buku pra-syarat kenaikan pangkat, outline juga sebaiknya diaplikasikan. Pembagian tema yang sesuai, sudut pandang yang ideal dan gaya menulis yang cocok, semuanya dapat Anda atur pada pembuatan outline.

Lakukan Editing Hingga Setidaknya 3 Kali

Photo by Gabby K on Pexels.com

Dalam menulis buku untuk kenaikan pangkat guru, editing adalah bagian krusial yang seharusnya dapat menjadi fokus Anda pula. Sebagai saran, berikan kesempatan pada diri Anda sendiri untuk melakukan editing penulisan paling tidak 3 kali sebelum dipublikasikan.

Editing selain akan memberi Anda kesempatan untuk memperbaiki kesalahan sederhana seperti typho atau salah ketik, juga dapat Anda pergunakan untuk melihat sejauh mana tulisan yang Anda hasilkan mampu menggambarkan maksud yang sejatinya ingin Anda sampaikan.

Untuk membuat proses editing menjadi lebih optimal, sebaiknya Anda melakukannya secara bertahap. Baca dengan suara yang agak keras dan rasakan apakah kalimat yang sudah Anda bangun sesuai dengan makna yang Anda inginkan atau belum. Lakukan editing dan ulangi kembali untuk menghasilkan kalimat yang paling ideal menurut Anda.

BACA JUGA:

Bagaimana Jika Semua Langkah di Atas Sudah Anda Lakukan Namun Anda Tetap Merasa Kesulitan?

Photo by Alexander Dummer on Pexels.com

Namun jika semua tahapan di atas sudah Anda coba lakukan dan Anda tetap merasa kesulitan, maka sebaiknya Anda memang menggunakan jasa penulisan profesional yang dapat membantu Anda melakukannya dengan hasil yang maksimal.

Nah, untuk Anda yang membutuhkan jasa penulisan profesional semacam ini, maka www.penulisgunung.id adalah pilihan yang paling ideal. Pengalaman dalam dunia penulisan yang baik serta tulisan yang original akan memberi Anda kesempatan untuk menghasilkan buku sebagai syarat kenaikan pangkat guru yang berkualitas dan sesuai harapan.

Anda hanya perlu menjelaskan artikel atau buku seperti apa yang Anda inginkan, kelas berapa siswa yang Anda ajarkan,  dan rentang berapa usia murid-murid yang Anda miliki. Kemudian www.penulisgunung.id akan mengaplikasikannya menjadi sebuah tulisan berupa buku atau artikel yang paling relevan berdasarkan gambaran yang Anda berikan tersebut.

Jadi tunggu apa lagi?

Segera hubungi www.penulisgunung.id untuk menghasilkan karya tulis yang akan membantu Anda memenuhi syarat kenaikan pangkat sebagai seorang pendidik yang profesional.

7 LANGKAH MENULIS CERPEN ATAU CERITA PENDEK YANG PALING UMUM DIGUNAKAN

Apakah kamu suka menulis cerpen? Jika iya, apakah kamu punya langkah menulis cerpen secara khusus yang sering kamu praktikkan?

Setiap penulis memiliki metode mereka sendiri dalam menulis, tak terkecuali bagi penulis cerpen atau cerita pendek. Meskipun tulisannya singkat dan hanya berfokus pada satu bagian yang diceritakan, menulis cerpen tidak dapat dilakukan sembarangan. Justru penulisan cerpen yang efektif membutuhkan keterampilan menulis yang memadai, baik dari sisi metodenya, bahasanya, juga tentu langkah penulisannya sendiri.

Nah, kira-kira apa saja yang menjadi metode atau langkah-langkah paling lazim digunakan dalam penulisan sebuah cerpen atau cerita pendek, atau short story? Berikut pembahasannya lebih lanjut.

Langkah Menulis Cerpen atau Cerita Pendek, atau Short Story yang Paling Umum Dilakukan

Photo by Ketut Subiyanto on Pexels.com

Sebuah cerita dapat dikatakan sebagai cerita pendek dalam penulisan karena memiliki jumlah kata yang terbatas. Beberapa sumber berbeda pendapat tentang berapa sebenarnya jumlah kata yang ideal untuk sebuah cerpen. Ada yang berasumsi bahwa  sebuah karya tulis cerita dapat dikategorikan sebagai cerpen jika jumlah katanya berkisar 1.000 – 10.000 kata, ada pula yang berpendapat 1.000 – 4.000 kata, sementara yang lain mengatakan idealnya adalah 1.000 – 3.000 kata.

Namun pendapat yang paling umum adalah 1.000 – 4.000 kata, jumlah inilah yang dianggap sebagai jumlah paling ideal untuk sebuah cerpen. Dan karena jumlahnya yang terbatas, maka penulisan cerpen pun membutuhkan metode khusus yang tidak sama seperti novel atau buku umum. Panduan langkah-langkah menulis cerpen mutlak dibutuhkan supaya dapat menghasilkan cerpen yang berkualitas dan layak baca.

Lantas, apa saja langkah-langkah dalam menulis cerpen yang paling lazim dipraktikkan? Setidaknya ada 7 point paling penting dalam menulis cerpen atau cerita pendek, berikut uraian lengkapnya.

Brainstorming Sebuah Konsep Cerita

Source: Pinterest

Brainstorm atau brainstorming sendiri memiliki banyak definisi yang beragam jika diterjemahkan secara sederhana. Namun terkait dengan penulisan cerpen atau cerita pendek, brainstorming yang dimaksud adalah menyusun sebuah konsep yang jelas tentang cerita pendek yang akan ditulis. Termasuk dalam hal ini adalah membuat konsep tentang siapa, apa, mengapa, dimana, kapan, dan bagaimana.

Secara sederhana konsep brainstorming skenario dapat dijelaskan sebagai rumus 6W1H berikut ini;

  • Who (Siapa)

Siapa yang akan diceritakan? Siapakah tokoh atau karakter utama yang akan dituangkan dalam sebuah cerita berbentuk cerpen tersebut?

  • What  (Apa)

Apa yang terjadi dengan tokoh tersebut? Apa permasalahan yang ia hadapi yang membuat dirinya layak untuk dijadikan sebagai objek cerita?

  • Why (Mengapa)

Mengapa permasalahan tersebut memiliki kaitan erat dengan tokoh yang diceritakan? Mengapa tokoh tersebut begitu terpengaruh dengan permasalahan yang ada?

  • Where (Dimana)

Dimana tokoh dalam penulisan cerpen tersebut? Dimana kejadiannya berlangsung?

  • When (Kapan)

Kapan kejadiannya berlangsung? Kapan peristiwa yang menjadi isi cerpen terjadi?

  • How (Bagaimana)

Bagaimana kemudian yang terjadi? Bagaimana karakter menyelesaikan masalahnya? Bagaimana pula akhir ceritanya?

Dengan memikirkan konsep berdasarkan rumus 6W1H di atas, merupakan sebuah langkah menulis cerpen untuk pemula terutama, yang cukup efektif. Walau pada umumnya, penulis cerpen terkenal pun menerapkan langkah ini. Meskipun tidak terlampau mendetail lagi langkah brainstorming-nya.

Temukan Fokus Cerita

Photo by Maksim Goncharenok on Pexels.com

Sebagai seorang penulis yang juga berprofesi trainer menulis, saya seringkali menemukan permasalahan terbesar dari seorang pemula dalam menulis cerpen atau cerita pendek adalah kurangnya fokus.

Fokus yang dimaksud dalam konteks ini bukan fokus dalam menulis, namun fokus dalam menyoroti subjek utama yang diceritakan. Sesuai dengan namanya sebagai sebuah cerita pendek, maka cerpen tentu saja memiliki batasan jumlah kata dan halaman, dan karena alasan inilah kemudian kamu harus membuat setiap kalimat yang kamu tulis itu fokus membedah sebuah permasalahan yang menjadi titik inti cerita.

Dalam penulisan cerpen, hindari membahas hal yang terlampau melebar dan sudah tidak memiliki korelasi dengan inti cerita. Jika pun seumpama kamu ingin menuangkan pula hal lain dalam cerita dengan maksud memperkayanya, maka pastikan hal tersebut sebagai pelengkap yang mampu memperkuat inti cerita yang disampaikan.

Tetapkan Setting dan Juga Karakter Cerita

Source: pinterest

Seperti halnya langkah pertama dalam menulis cerpen adalah dengan menetapkan brainstorming skenario, maka pada langkah ini kamu hanya perlu memperkuat detail atau rinciannya.

Ketika dalam langkah pertama kamu hanya berfokus pada konsep tentang who, what, why, where, when dan how, maka pada pada langkah yang ketiga ini kamu berfokus pada karakter secara spesifik. Termasuk pula dalam hal ini misalnya ciri fisik karakter, sifat-sifatnya yang utama, latar belakangnya, baik keluarga, budaya mau pun keyakinan,

Selanjutnya kamu dapat mengeksplore lagi penokohan cerita pada cerpenmu dengan menyoroti setting cerita. Berdasarkan setting yang kamu buat, kamu kemudian dapat menghubungkannya dengan karakter utama, tentang bagaimana ia melihat, bagaimana ia merasakan dan bagaimana pula ia berubah seiring dengan perubahan setting pada cerita pendekmu.

Pilih Sudut Pandang

Photo by Ylanite Koppens on Pexels.com

Untuk kamu yang bercerita berdasarkan kisah sendiri, tentu saja kamu dapat dengan mudah menggunakan sudut pandang sebagai orang pertama tunggal dalam cerita yang kamu tulis. Karena memang langkah menulis cerpen berdasarkan pengalaman sendiri pada umumnya menggunakan point of view seperti saya, aku, dan lain sebagainya.

Namun berbeda ceritanya jika kamu menulis sebuah cerpen yang bukan merupakan pengalaman yang kamu rasakan sendiri. Maka disini kamu dapat memilih sudut pandang yang lebih luas tentang dengan cara apa kamu menceritakan kisah itu. Point pentingnya adalah kamu ingin menceritakan cerpen yang kamu tulis itu sebagai apa?

Ada beberapa sudut padang yang umum ditulis dalam sebuah bahasa cerpen atau bahkan novel. Sudut orang pertama tunggal sebagai pelaku lazimnya menggunakan kata ganti aku, saya, gue, dan semacamnya. Sementara sudut pandang orang kedua tunggal biasanya menggunakan kata dia, ia, atau mungkin menyebut nama tokoh yang ditulis. Dan untuk kata ganti orang kedua majemuk misalnya menggunakan istilah mereka dan semacamnya. Nah, kamu sendiri dalam cerpen yang kamu tulis, ingin menggunakan sudut pandang yang mana? Tetapkan secara bijak.

Tulis Satu Halaman Sinopsis

Photo Source: Lektur.id

Sebagai pemanasan dan juga memperkuat konsep cerita, kamu dapat membuat langkah awal menulis cerpen dengan cara menulis sinopsisnya terlebih dahulu. Ini seperti membuat premis dalam penulisan skenario film. Atau paling tidak menuangkan beberapa garis besar cerita terlebih dahulu.

Sinopsis sebenarnya adalah sesuatu yang cukup krusial dalam penulisan cerita, khususnya novel. Pada cerpen meskipun tidak begitu vital perannya, namun penulisan sinopsis yang kuat setidaknya akan mempermudah penulisan naskah cerita yang sebenarnya. Penjabaran yang baik dan terkonsep secara lengkap dalam sebuah sinopsis, akan membantu penulis untuk tetap ada pada garis cerita yang direncanakan.

Dalam bahasa tulisan yang lebih umum, langkah kelima ini dapat pula disebut sebagai penyusunan kerangka. Kerangka inilah yang kemudian menjadi inti cerita yang dikonsep secara singkat. Untuk detail-detail kejadian dalam penceritaan, umumnya memang tidak perlu dimasukkan dalam sinopsis.

Tulis Awalan yang Kuat

Source: youtube

Jika menilik pada rujukan langkah-langkah menulis cerpen menurut para ahli, maka hampir semuanya bersepakat untuk memberikan penekanan yang hebat pada kalimat pembukanya. Artinya penulis cerpen dituntut untuk mampu menemukan kalimat pembuka yang kuat, yang efektif, dan yang mampu langsung merasuk ke pikiran pembaca.

Ini mungkin terdengar agak sulit, tapi sebenarnya tidak jika kamu sudah terbiasa dan mengerti cara membuat strong opening untuk sebuah cerita. Saya biasa mengatakan kepada orang-orang yang saya latih dalam menulis untuk tidak memaksakan susunan kata yang indah atau diksi yang memukau sebagai pembuka sebuah cerita. Jika kamu bisa melakukannya itu bagus, namun jangan memaksakan diri untuk hal itu.

Strong opening dalam penulisan cerpen atau novel tidak harus dengan susunan diksi yang memukau dan mempesona. Titik utama atau bagian terpenting dari sebuah awalan penulisan adalah kamu mampu menarik minat pembaca dengan kalimat pertama yang kamu pilih. Pilih kalimat yang membuat pembaca penasaran, tergelitik ingin tahu lebih banyak, dan yang pasti, merasuk dalam pikiran mereka sesaat setelah mereka membacanya.

Buat Puncak Cerita (Klimaks) yang Kuat dan Tidak Terlupakan

Source: Millenium Post

Selanjutnya bagian terakhir dari langkah menulis cerpen adalah dengan membuat sebuah klimaks cerita yang kuat dan tertanam di benak pembaca. Ini tentu tidak akan mudah, terutama jika kamu adalah tipe penulis dengan standar penulisan yang tinggi.

Namun seperti yang telah disampaikan sebelumnya, jika kamu telah menyusun konsep yang baik, menetapkan sinopsis yang terarah, juga telah memilih point of view yang juga tepat, maka membuat klimaks yang kuat akan lebih mudah dilakukan. Kamu hanya perlu membuatnya senatural mungkin untuk mendapatkan kesan alamiah dan mengalir dalam benak pembaca.

Pada bagian ini, hindari menggunakan efek kejut yang terlampau berlebihan. Penggunaan kata ‘tiba-tiba, lalu, kemudian’ dan sejenisnya, sebaiknya dibatasi supaya tidak membuat jalan cerita menjadi nampak dipaksakan. Buat klimaks dan akhir sebuah cerpen yang kuat, namun jangan paksakan kata-kata dalam ceritanya. Sekali lagi, buat senatural mungkin.

Serius Ingin Menjadi Penulis? Kamu Bisa Belajar Bersama Saya

Photo by luizclas on Pexels.com

Beberapa orang mungkin mengatakan bahwa untuk menerapkan langkah-langkah dalam penulisan cerpen seperti yang diuraikan di atas, adalah sesuatu yang tidak mudah.

Sebenarnya tidak juga. Jika niat belajar kamu kuat, keinginanmu untuk menjadi seorang penulis juga sangat kuat dan sungguh-sungguh, maka kamu akan bisa melakukannya. Seiring dengan banyaknya latihan dan praktik, maka kamu akan semakin mahir dalam menulis. Baik itu cerpen, novel, artikel, buku, atau bahkan sekedar status media sosial sekali pun.

Akan tetapi jika kamu ingin lebih efektif dalam menulis, produktif sekaligus juga lebih cepat dalam proses belajar, mungkin kamu bisa bergabung dalam kelas yang saya bimbing. Jika kamu tinggal di wilayah Magelang, maka kamu bisa belajar secara langsung. Sementara jika jaraknya jauh dan kondisi pandemi masih belum terkendali seperti sekarang ini, maka ikut kelas menulis online yang saya bimbing mungkin bisa menjadi alternatif yang bijak.

Untuk mengikuti kelas menulis bersama saya, kamu dapat menghubungi saya melalui email di blog ini. Untuk memperkuat keyakinanmu dalam belajar, kamu juga dapat melihat beberapa artikel yang saya tulis seperti di www.akasakaoutdoor.co.id atau di www.arcopodojournal.blogspot.com. Untuk buku, tentu kamu dapat melihat dan mendapatkan karya saya melalui blog ini juga.

Nah, itulah langkah menulis cerpen yang bisa kamu praktikkan. Sebagai saran terakhir dari saya, disiplinlah dalam berlatih, karena pada akhirnya, disiplinlah yang akan menentukan sebuah kesuksesan dalam penulisan, dan dalam apa pun.

Jadi, selamat berlatih dan berkarya!


MAKEUP_2019122918574813_save

Anton Sujarwo

Saya adalah seorang penulis buku, content writer, copywriters dan juga email marketer. Saya telah menulis 14 judul buku, fiksi dan non fiksi, dan ribuan artikel sejak pertengahan tahun  2018 hingga sekarang.

Dengan pengalaman yang saya miliki, Anda bisa mengajak saya untuk bekerjasama dan menghasilkan karya. Jangan ragu untuk menghubungi saya melalui email, form kontak atau  mendapatkan update tulisan saya dengan bergabung mengikuti blog ini bersama ribuan teman yang lainnya.

Tulisan saya yang lain dapat dibaca pula pada website;

Buat situs web atau blog di WordPress.com

Atas ↑