INI CARA MENULIS CERITA PENGALAMAN PRIBADI YANG PALING MUDAH DAN BAGUS

Pertanyaan pertama yang paling sering ditanyakan kepada seseorang yang ingin tahu cara menulis cerita pengalaman pribadi adalah; seberapa menarik kisah yang mereka miliki sehingga layak untuk ditulis?

Mendengar pertanyaan semacam ini, banyak orang yang baru mau belajar menulis itu menjadi minder. Pada akhirnya keinginan mereka untuk menulis pengalaman hidup yang mereka miliki menjadi gagal. Sebagian besar bukan karena cerita mereka tidak menarik, tetapi karena mereka kehilangan rasa tertarik karena mendengar pertanyaan di atas.

Lantas, bagaimana contoh pengalaman pribadi yang bisa ditulis ke dalam sebuah rangkaian cerita, dan bagaimana pula cara melakukannya untuk mendapatkan hasil yang bagus?

Yuk, simak ulasannya berikut ini.

5 Cara Menulis Cerita Pengalaman Pribadi yang Mudah dan Bagus

Photo by Pixabay

Di Sekolah Dasar, praktik membuat contoh pengalaman pribadi yang unik banyak dilakukan dengan meminta siswa-siswa untuk bercerita mengenai bagaimana mereka melewatkan masa liburan. Oleh karena itu kamu mungkin masih akrab dengan berbagai cerpen di modul pelajaran SD yang temanya adalah; berlibur ke rumah nenek, dan lain sebagainya.

Hal ini memberi bukti bahwa untuk membuat cerita pengalaman pribadi, kisah yang dituliskan tidaklah selalu harus luar biasa.

Hal yang menjadi kunci kemudian adalah bagaimana kamu mengolah kenangan, pengalaman, dan juga hikmah pengalaman yang kamu miliki menjadi sebuah rentetan cerita yang enak dibaca. Contoh cerita pengalaman liburan sederhana pun akan menjadi sangat berkesan, jika kamu tahu cara menuliskannya.

Hakikatnya semua orang tentu memiliki pengalaman dan cerita mereka masing-masing. Cerita setiap orang pasti unik dan menarik. Kemampuan untuk menggali bagian mana yang harus difokuskan dan dituliskan sebagai kisah, adalah kunci untuk mengubahnya menjadi sebuah lembaran cerita yang membekas di kepala pembaca.

Nah, berikut ini adalah lima langkah yang bisa kamu lakukan untuk membuat cerita pengalaman pribadi supaya mudah prosesnya dan bagus pula hasilnya.

Selami Emosimu Kembali

Photo by Jack Gittoes

Tantangan yang paling banyak menjegal para penulis pemula untuk mulai menuliskan cerita hidup mereka adalah ketakutan akan penolakan atau bahkan ditertawakan. Hal ini pada perkembangannya membuat cerita pengalaman yang seharusnya bisa dibagi dan membawa pelajaran bagi orang lain, akhirnya hanya mengendap menjadi kenangan tak bernilai.

Nah, poin pertama yang harus kamu lakukan untuk melawan rintangan ini adalah dengan berusaha kembali menyelami emosi dan perasaan ketika pengalaman cerita yang akan kamu tuliskan itu terjadi. Artinya adalah; kamu berfokus untuk kembali kepada sebuah kenangan paling kuat yang kamu miliki dan berusaha merasakan emosinya kembali.

Ketika saya menulis buku Islamedina; Si Wajah Cahaya, saya juga harus melakukan hal yang sama. Dengan segala keterbatasan saya harus berfokus untuk merasakan kembali emosi yang membuncah saat bersama Medina semasa hidupnya.

Dan itu sungguh tidak mudah untuk dilakukan.

Menulis cerita pengalaman pribadi dengan kisah menyenangkan, tentu jauh lebih mudah dibandingkan sebaliknya. Oleh karena itulah sebabnya kamu akan dengan mudah menjumpai 5 contoh cerita pengalaman menyenangkan, dibandingkan menemukan 1 contoh cerita pengalaman menyedihkan yang benar-benar menyentuh.

Namun, justru cerita pengalaman dengan konteks sedih, haru, pilu, penuh perjuangan, dan sejenisnya, yang akan jauh lebih powerfull mengeluarkan emosimu saat menulisnya.

Buat Daftar Titik-Titik Krusial atau Turning Points

Photo by JACK REDGATE

Ketika kamu berdiri di persimpangan jalan untuk mengambil keputusan yang tepat, kamu biasanya akan membuat sebuah keputusan yang paling penting dalam hidup.

Dan itu adalah bagian krusial dari cerita kamu yang harus lebih kamu fokuskan.

Sebagai salah satu teknis menulis cerita yang menarik tentang pengalaman cerita pribadi, dibandingkan membuat menulisnya seperti kronologi, kamu dapat membidik turning point seperti ini sebagai plot cerita.

Titik-titik krusial dalam hidup dimana kamu membuat keputusan yang memberi dampak secara emosional, material dan juga psikologis, akan dipastikan jauh lebih menarik bagi pembaca.

Buat Outline Tanpa Harus Berbentuk Kronologi

Photo by Blue Bird

Setelah kamu membuat list beberapa turning point paling penting dalam hidupmu, kamu sekarang dapat memetakan plot cerita yang akan kamu sampaikan. Ingat, jangan terikat untuk membuat sebuah cerita kronologi seperti buku sejarah, ya.

Kamu bisa memilih misalnya untuk menulis bergaya flashback, atau memilih gaya cerita mixed dimana pencampuran yang serasi antara flashback dan juga kronologi. Penceritaan yang penuh kejutan dan diletakkan pada tempat yang tepat, adalah kunci untuk membuat plot cerita pengalaman pribadi kamu semakin sempurna.

Nah, untuk memudahkan proses ini, kamu tentu saja dapat membuat outline atau kerangka terlebih dahulu. Tandai beberapa titik dimana turning point dalam hidupmu terjadi, kemudian kembangkan detailnya secara terarah.

Berfokus pada Satu Cerita sebagai Klimaks

Photo by Daria Shevtsova

Kamu mungkin memiliki perjalanan hidup dan pengalaman yang luar biasa untuk dikisahkan. Namun, cara menulis cerita pengalaman pribadi yang efektif mengharuskan kamu untuk memilih satu kenangan yang paling kuat dan paling besar dampaknya. Aturan seperti ini biasanya juga dimuat pada banyak contoh artikel pengalaman pribadi yang diceritakan.

Kamu tentu saja boleh untuk menulis semua hal dalam hidupmu yang kamu anggap menarik. Kamu bisa menceritakan mengenai masa kecilmu yang indah, sekolah yang penuh nostalgia, pacar pertama yang tidak terlupakan dan lain sebagainya.

Akan tetapi ada sebuah kenangan poros atau kenangan central yang harus kamu pilih menjadi fokus cerita.

Nah, kenangan central inilah kemudian yang menjadi klimaks ceritamu. Bangun semua plot untuk memberi dampak yang lebih signifikan terhadap seberapa besar efek klimaks itu terhadap kehidupanmu.

Menulislah untuk Diri Sendiri

Photo by Lukas Rychvalsky

Nah, ini adalah bagian yang terpenting jika kamu menulis pengalaman sendiri, kamu harus menentukan lebih lebih dulu; untuk siapa sebenarnya kamu menuliskan pengalaman kamu itu?

Jika kamu menulis untuk orang lain atau untuk pembaca, maka kamu harus mempersiapkan diri dengan baik apa pun penerimaan mereka nantinya. Ingat lho, tidak semua orang dapat menyambut dengan baik sebuah kisah kenangan orang lain yang disodorkan untuk mereka baca. Bahkan beberapa orang cenderung untuk lebih mudah menghakimi dibandingkan mengapresiasi.

Jika kamu menulis untuk pembaca, kamu mungkin akan kecewa ketika penerimaan mereka ternyata tidak sesuai dengan harapan yang kamu miliki. Kekecewaan seperti ini bukan hanya tidak baik bagi diri, namun juga kadang membuat keberanian untuk menulis kembali menjadi hilang.

Untuk itulah saya menyarankan jika kamu menulis cerita pengalaman pribadi, maka tulislah itu untuk diri sendiri.

Lho kok begitu, sih?

Iya, benar.

Photo by cottonbro

Ketika kamu menulis untuk diri sendiri, kamu akan menggali kenangan pengalaman dari cerita kamu sedalam mungkin. Kamu ingin membaca kisah yang kamu tulis itu dengan penuh penghayatan tanpa melewatkan satu titik kecil pun dampaknya bagi perasaan dan hidupmu. Secara tidak langsung, perasaan seperti ini akan membuat kamu menulis tidak lagi dengan pikiran yang berfokus kepada pembaca, namun kepada hati yang berfokus pada rasa dan kalbu.

Apa pun reaksi pembaca ketika menelusuri jejak kisah dalam tulisanmu, tidak akan lebih penting dari perasaan kamu sendiri saat menyelesaikan penulisannya. Dengan selesainya cerita pengalaman pribadi yang sudah kamu tulis, kamu akan menjadi orang yang bebas dan merdeka. Setidaknya merdeka dari kekangan pengalaman yang mungkin tidak akan keluar dari rongga dada.

Terus terang saya menyukai alasan seperti ini, karena itu pula yang menjadi alasan saya saat menyelesaikan buku Islamedina; Si Wajah Cahaya, yang tebalnya lebih dari 750 halaman.

Sudah Siap Menulis Cerita Pengalaman Pribadimu?

Photo by Meruyert Gonullu

Nah, setelah membaca cara menulis cerita pengalaman pribadi di atas, bagaimana sekarang? Apakah kamu sudah siap untuk mempraktikkannya?

Dengan latihan yang tekun dan konsistensi untuk terus menulis, hanya masalah waktu yang membatasimu untuk menjadi seorang yang expert. Oleh karena itu, tetaplah menulis dengan penuh disiplin, ya.

Oh ya, jika kamu tetap merasa kesulitan untuk melakukan berbagai langkah untuk menulis cerita pengalaman pribadimu menjadi sebuah buku, kamu bisa meminta bimbingan dari www.penulisgunung.id, kok.

Caranya gampang, kamu tinggal menghubungi saya melalui form kontak whatsapp yang sudah disediakan di bawah ini.

Jangan ragu, ya.


Anton Sujarwo

Saya adalah seorang penulis buku, content writer, copywriters dan juga email marketer. Saya telah menulis 14 judul buku, fiksi dan non fiksi, dan ribuan artikel sejak pertengahan tahun 2018 hingga sekarang.

Dengan pengalaman yang saya miliki, Anda bisa mengajak saya untuk bekerjasama dan menghasilkan karya. Jangan ragu untuk menghubungi saya melalui email, form kontak atau  mendapatkan update tulisan saya dengan bergabung mengikuti blog ini bersama ribuan teman yang lainnya.

Tulisan saya yang lain dapat dibaca pula pada website;


BAGAIMANA CARA MENULIS BUKU: SEBUAH PANDUAN SERIUS UNTUK PENULIS PEMULA

Bagaimana sebenarnya cara menulis buku yang paling efektif dan mudah dipraktikkan oleh para penulis pemula?

Jika kamu adalah salah satu orang yang memiliki keinginan untuk menjadi seorang penulis di kemudian hari, dan baru mulai mencobanya sekarang, panduan ini ditulis untuk kamu. Dengan panduan yang lengkap namun sederhana ini, kamu akan lebih cepat menyelesaikan penulisan buku dan meraih mimpimu menjadi seorang penulis.

Nah, bagaimanakah panduannya serta apa yang harus kamu lakukan?

Yuk, simak ulasan lengkapnya berikut ini.

Panduan Mudah dan Lengkap Cara Menulis Buku untuk Para Pemula

Photo by Suzy Hazelwood on Pexels.com

Bagi para penulis pemula, cara menulis buku dan menerbitkannya bisa saja adalah sebuah tantangan yang sulit. Namun dengan kesediaan kamu untuk belajar, semua proses ini sebenarnya adalah sesuatu yang sederhana dan gampang untuk dilakukan.

Apakah kamu sedang mempersiapkan diri untuk menulis kisah menarik, atau jenis tulisan apa pun yang ingin kamu tuliskan, panduan ini bisa kamu terapkan. Cara menulis buku tentang kisah hidup atau tentang apa saja, akan semakin mudah untuk dilakukan dengan menerapkan panduan-panduan ini nantinya.

Lantas, bagaimanakah panduannya?

Ini dia langkah-langkahnya

BACA JUGA:

Berlatih dan Kembangkan Keterampilan Menulismu Setiap Hari

Photo by fotografierende on Pexels.com

Menulis buku atau menulis apa pun yang sifatnya panjang dan kontinyu, tidak ubahnya seperti keterampilan dalam olahraga. Untuk bisa menjadi pemain bulu tangkis yang hebat, kamu tidak bisa meraihnya dengan membaca buku tentang bulu tangkis atau hanya menonton pertandingan badminton di TV saja.

Ada latihan yang konsisten dan terus menerus untuk mencapai sebuah keterampilan yang mumpuni.

Oh ya, apakah kamu tahu nama Khabib Nurmagomedov, petarung mixed martial art di UFC yang tidak pernah sekali pun kalah itu?

Untuk mendapatkan kemampuan bertarung yang sangat baik dan mental yang sangat siap, Khabib berlatih setiap hari. Ia tidak pernah babak belur dalam setiap pertandingan. Dan yang pasti rekor 29 kali menang dan tidak pernah kalah sekali pun telah membuktikan pada dunia bahwa ia adalah legenda dalam ajang olahraga tarung bebas tersebut.

Nah, demikian pula dengan cara menulis buku novel, cerpen, artikel, biografi dan lain sebagainya. Kamu harus melatih dan mengembangkan keterampilan kamu setiap hari dengan menulis, membaca, mengetahui sesuatu yang baru, dan lain sebagainya.

Kamu mungkin tidak akan sekaya J.K. Rowling, atau seterkenal Leo Tolstoy, tapi yang jelas kamu akan semakin bertumbuh menjadi seorang penulis setiap harinya.

Ciptakan Ruangan atau Tempat Khusus Menulis

Photo by Anthony Shkraba on Pexels.com

Cara menulis buku pemula yang juga jarang disadari oleh banyak penulis kadang adalah mengenai pentingnya sebuah tempat yang tepat untuk menulis. Kamu tidak bisa menciptakan karya tulis yang menarik jika kamu terganggu dengan apa yang ada di sekelilingmu.

Buatlah sebuah tempat khusus yang dapat kamu gunakan sebagai studio untuk menulis. Ketika kamu memasuki tempat tersebut dan berada di dalamnya, aura yang muncul adalah menulis dan berkarya. Lupakan sejenak tentang gangguan semacam televisi, video game atau pun handphone dan sosial media.

Tentu saja kamu dapat membuat tempat seperti itu di rumah kamu, di kamar tidur atau dimana pun kamu merasa nyaman.

Studio menulis tidak harus mewah dan lengkap. Namun studio menulismu haruslah mampu memberi suasana yang nyaman untuk menulis tanpa gangguan.

Menyediakan ruangan khusus untuk menulis adalah jawaban dari bagaimana cara menulis buku yang kedua.

BACA PULA:

Temukan Alasan yang Tepat Mengapa Kamu Ingin Menulis

Photo by Eva Elijas on Pexels.com

Banyak para penulis pemula yang memiliki impian besar untuk menjadi penulis, tidak menyadari betapa kesepiannya pekerjaan menjadi seorang penulis.

Kamu akan menghabiskan banyak waktu dengan duduk sendirian di depan monitor laptop atau komputer. Kamu akan disibukkan dengan riset, menulis, mengedit, layout, menentukan cover dan lain sebagainya. Dan sedihnya, semua itu akan lebih banyak kamu lewati dengan sendirian.

Jika sudah begini, beberapa orang akan menyerah dengan kebosanan. Dan impian mereka menjadi penulis pun kandas.

Dalam panduan cara menulis buku pemula PDF, seringkali ditekankan bahwa kamu harus menemukan alasan mengapa kamu menulis sebelum proses menulis itu sendiri. Kumpulkan setidaknya beberapa alasan sebagai pendorong, motivator, kobaran semangat, untuk kamu jadikan percikan tekad menulismu supaya tidak pernah padam.

BerkomitmenTinggi

Photo by Andrea Piacquadio on Pexels.com

Menulis buku bisa memakan waktu yang lama. Bisa berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun. Tanpa komitmen yang kuat untuk menyelesaikannya, kamu akan menemui kesulitan untuk melihat apa yang kamu tulis ada di tangan para pembaca.

Apa pun jenis buku yang kamu tulis, fiksi atau pun non fiksi, semuanya akan membutuhkan komitmen tingkat tinggi untuk dijalani. Sayangnya, tidak setiap hari penulis merasa dalam kondisi terbaik untuk menulis. Writer block, kebosanan, jenuh, bad mood, kesibukan, pekerjaan dan lain sebagainya, adalah beberapa rintangan yang siap menjegal impianmu.

Jika sudah begini, komitmenmu pada hasil akhir, dalam arti komitmenmu untuk menyelesaikan buku, adalah kunci untuk bisa melewatinya.

BACA JUGA:

Riset dan Cari Tahu Siapa Pembacamu

Photo by Zichuan Han on Pexels.com

Langkah menulis buku selanjutnya yang juga tidak boleh kamu lupakan adalah dengan mencari tahu tentang siapa sebenarnya yang akan menjadi pembaca ideal kamu nantinya?

Orang-orang membeli buku karena mereka membutuhkan informasi, mencari hiburan atau supaya mereka merasa terinspirasi. Ketika kamu mengetahui apa yang calon pembaca bukumu inginkan, yang harus kamu lakukan kemudian adalah dengan menyesuaikan apa yang bisa kamu tulis untuk mereka.

Titik terbaik sebagai jalan keluar dari hal ini adalah dengan mengenal seperti apa target pembacamu dan apa yang mereka inginkan. Langkah selanjutnya adalah dengan mencari titik tertentu dalam tulisan kamu yang selaras dengan keinginan mereka untuk dikembangkan.

Misalkan kamu menulis buku untuk diterbitkan berupa novel yang calon pembacanya adalah remaja, maka kamu harus pula mengenal remaja targetmu itu seperti apa, apa yang mereka sukai, topik seperti apa yang akan membuat mereka senang.

Kemudian temukan apakah topik tulisanmu sesuai dengan yang mereka inginkan, dan berfokuslah disana.

Pelajari Buku Lain

Photo by Leah Kelley on Pexels.com

Jika kamu adalah penulis buku misteri, maka tidak ada salahnya untuk membaca buku dengan genre yang sama. Ini bukan untuk menjiplak, meniru atau plagiat, tapi ini adalah semacam studi banding untuk menggali keunggulan tulisan kamu.

Kamu bisa melakukan ini dengan tidak harus menamatkan semua buku yang memiliki genre sama dengan yang kamu tulis. Kamu mungkin bisa memilih 10 buku yang terbaik di antaranya, kemudian mulai mempelajari mengenai judulnya, kategorinya, dan juga beberapa ide yang tersimpan di dalamnya.

Untuk memudahkan prosesnya, kamu mungkin juga bisa melihat review dari para pembaca buku tersebut. Catat dan identifikasi apa yang mereka suka, apa yang mereka tidak suka dan, apa pula yang mereka harapkan.

BACA PULA:

Kumpulkan Ide Buku

Photo by Dom J on Pexels.com

Jika kamu menulis buku fiksi namun mengambil lokasi yang nyata, maka detail adalah sesuatu yang sangat penting. Kamu harus mampu menggambarkan setting lokasi cerita fiksimu itu serinci mungkin.

Namun jika kamu menulis buku non fiksi, maka sumber dan riset adalah yang paling mendasar. Sebuah karya ilmiah tentunya membutuhkan sumber yang jelas, referensi yang cukup, dan juga penelaahan yang memadai dari penulisnya.

Oleh karena itu sebelum kamu mantap menulis sebuah buku, baik fiksi atau pun non fiksi, kumpulkan sebanyak mungkin ide mengenai bukumu. Secara sederhana kamu bisa melakukan ini seperti cara menulis buku pelajaran dimana kerangka dan listicle memudahkan prosesnya.

Tetapkan Buku yang Kamu Tulis

Photo by Ketut Subiyanto on Pexels.com

Jika kamu menulis buku non fiksi, ini adalah bagian yang tidak bisa kamu langkahi. Kamu harus mengenal bukumu sebaik mungkin bahkan sebelum kamu menulisnya sekali pun.

Tuliskan beberapa pertanyaan berikut ini dalam sebuah kertas kosong, kemudian jawablah sendiri dengan sangat jujur. Tidak perlu khawatir dengan penilaian, tidak ada yang akan melihat jawaban yang kamu tuliskan.

  1. Untuk siapa sebenarnya buku yang ditulis ini?
  2. Apa ide besar yang ada dibalik buku ini?
  3. Apa sebenarnya yang menjadi kekuatan dan kelemahan saya dalam menuliskannya?
  4. Apa yang membuat buku ini berbeda dengan buku lain yang sejenis?
  5. Apa yang ditawarkan buku ini sehingga ia layak dibaca?

Sebenarnya bagian cara menulis buku ini seperti menulis rencana internet marketing. Jadi kamu memulainya dengan menganggap bahwa bukumu adalah sebuah produk yang harus memiliki nilai jual yang dapat menjawab kebutuhan pembaca.

BACA JUGA:

Tentukan Tipe Gaya Menulismu

Photo by Dziana Hasanbekava on Pexels.com

Jika kamu menuliskan bukumu menggunakan pemetaan terlebih dahulu seperti plot cerita, penyusunan karakter, penetapan setting, menggunakan kerangka yang lengkap dan lain sebagainya, maka kamu adalah jenis penulis dengan gaya Plotters.

Namun, jika kamu menulis benar-benar mengalir saja, kamu hanya membiarkan dirimu hanyut bersama alur cerita dalam pikiranmu ketika menulis, atau kamu seakan dibimbing Tuhan dalam menulis setiap kata tanpa rencana, maka kamu adalah penulis dengan gaya Pantsers.

Apa pun gaya yang membuat kamu nyaman dalam menulis, lakukan.

Setiap orang akan memiliki gaya menulisnya masing-masing. Dan itu akan membutuhkan proses serta tidak menjadi masalah.

Saat menulis novel Merapi Barat Daya yang mendapat rating sempurna dari pembacanya itu, saya menulisnya dengan gaya Pantsers. Sementara saat menulis buku non fiksi seperti Dewi Gunung, Mahkota Himalaya dan yang lainnya, maka saya menulisnya dengan gaya plotters.

Kamu bebas memilih salah satu sebagai gayamu, atau bahkan kedua-duanya sekaligus.

Wawancarai Orang yang Berpengalaman

Photo by Sora Shimazaki on Pexels.com

Wawancara adalah cara menulis buku yang bisa kamu lakukan jika kamu menulis non fiksi. Atau bahkan juga untuk buku fiksi.

Jika kamu menulis misalnya tentang dunia pendidikan, maka melakukan beberapa wawancara dengan pendidik, dengan guru, dengan penulis buku pelajaran dan pengambil keputusan, tentu saja akan lebih menarik.

Hasil wawancara akan memberi kamu perspektif baru yang akan membuat buku yang kamu tulis menjadi lebih kaya.

BACA PULA:

Buat Kerangka Buku

Photo by Michael Burrows on Pexels.com

Outline atau kerangka adalah bagian sangat penting dalam cara menulis buku kisah hidup atau buku apa pun juga. Jadi, jangan diabaikan.

Membuat kerangka akan membuat kamu menulis lebih cepat, lebih tepat sasaran dan tidak melebar terlalu jauh. Kerangka yang mendetail juga mampu menambah produktivitas dalam menghasilkan buku dalam waktu yang lebih singkat.

Pada penulisan buku fiksi, kerangka juga bisa diterapkan dengan membuat plotting terlebih dahulu. Seperti disampaikan sebelumnya, jika kamu mengambil setting sesuatu yang nyata, membuatnya menjadi lebih mendetail adalah sesuatu yang lebih menarik.

Bertahap Seperti Marathon

Photo by Pixabay on Pexels.com

Ketika marathon, sangat berbahaya bagimu untuk langsung melibas 50 kilometer dalam satu kali putaran, Kamu akan lebih aman dan nyaman jika melakukannya secara bertahanp namun kontinyu hingga garis finish.

Cara menulis buku pun demikian.

Susunan kata, kalimat, paragraf, halaman dan bab, tidak bisa kamu sikat sekaligus dalam sekali duduk. Kami bisa membaginya dalam beberapa bagian yang lebih kecil dalam mengerjakannya. Hari ini kamu bisa menulis tentang A misalnya beberapa paragraf, besok kamu bisa melakukan hal yang sama untuk topik tengan B, C, D dan seterusnya.

BACA JUGA:

Menulislah Setiap Hari

Photo by Karolina Grabowska on Pexels.com

Seorang penulis profesional bisa menulis hingga 4.000 kata setiap hari atau bahkan lebih.

Ini terdengar berat bagi beberapa orang, bukan?

Menulis setiap hari secara konsisten itu membutuhkan tekad dan komitmen yang serius dan tidak setiap orang mampu melakukannya. Untuk menyiasatinya, kamu juga bisa melakukan hal ini secara bertahap. Misalnya dengan menetapkan target penulisanmu setiap hari dalam jumlah tertentu.

Untuk penulis pemula, jumlah 300 hingga 500 kata itu sudah cukup mengesankan jika konsisten dilakukan setiap hari. Dengan pengalaman dan jam terbang, satu hari 4.000 atau 5.000 kata tidak akan menjadi masalah lagi untukmu.

Selesaikan Naskah Pertamamu tanpa Rasa Khawatir

Photo by Andrea Piacquadio on Pexels.com

Lupakan typho, salah ketik, ejaan yang salah, pemenggalan yang keliru, atau berbagai kesalahan teknik umum lainnya saat kamu menulis naskah pertamamu. Pokoknya, hilangkan kekhawatiran dalam hatimu saat menyelesaikan draf pertama buku yang kamu tulis.

Tujuan paling penting dari penulisan draf pertama adalah harus selesai, bagaimana pun hasilnya.

Nah, setelah draf pertama selesai, panduan cara menulis buku baru meminta kamu untuk memperbaikinya melalui editing, membaca ulang, dan perbaikan-perbaikan yang diperlukan untuk menyempurnakan naskahnya.

BACA PULA:

Terima saja jika Kamu Membuat Kesalahan

Photo by Ketut Subiyanto on Pexels.com

Membuat kesalahan dalam proses menulis itu adalah sesuatu yang biasa. Apalagi jika itu adalah draf pertama.

Kamu mungkin akan salah dalam menuliskan nama tempat, istilah, menuangkan dialog, atau bahkan membuat urutan plot bab yang sesuai. Jika kamu menemukan hal ini saat kamu membaca ulang draf pertama yang kamu tulis, artinya kamu sudah sukses melangkah ke tahap penulisan yang lebih baik.

Ada beberapa penulis pemula yang merasa begitu frustasi ketika menemukan naskah pertama terlihat demikian kacau.

Sejujurnya, itu bukanlah masalah. Bahkan hampir setiap penulis besar yang kamu kenal, melewati hal yang sama dalam proses tumbuh kembang mereka menjadi penulis.

Terima saja kenyataan jika kamu membuat kesalahan dalam naskah pertamamu. Jika kamu mampu menjaga semangat dan konsistensimu untuk tetap stabil, kamu akan melihat betapa cepat kamu nantinya berkembang dalam penulisan selanjutnya.

Atur Waktu Menulismu dengan Baik

Photo by JESHOOTS.com on Pexels.com

Ini mungkin lebih kepada tips menulis buku yang baik. Saya juga sudah menuliskan hal ini dalam beberapa postingan saya untuk topik yang relevan.

Kemampuan mengatur waktu untuk menulis dan konsisten menjalaninya adalah bagian besar dari kesuksesan menulis itu sendiri, paling tidak dalam hal produktivitas dan efektivitas.

Saya biasa mulai menulis buku sejak jam 03:00 pagi hingga jam jam 06:00, atau setelah anak-anak saya terbangun. Siang harinya saya juga menulis artikel untuk pekerjaan saya sebagai content writer atau ghost writer, kemudian sore dan malam harinya saya lanjutkan dengan menulis untuk blog yang saya kelola.

Sebagai penulis pemula, kamu mungkin tidak bisa menulis seharian dan setiap hari. Untuk itu aturlah waktumu sebaik mungkin dan temukan saat paling ideal bagi kamu untuk menulis.

Dan yang paling penting, disiplinlah dalam menjalaninya

BACA INI JUGA, YUK:

Tetapkan Deadline

Photo by Black ice on Pexels.com

Penulis profesional menulis menggunakan deadline.

Ini bukan seperti mempersiapkan sebuah hukuman pancung jika kamu terlambat menyelesaikan tulisan, namun lebih sebagai dorongan supaya kamu bisa menulis secara disiplin dan menyelesaikan buku kamu tepat waktu.

Deadline akan membantu kamu untuk mengatur strategi dalam menulis, baik dalam soal waktu mau pun dalam soal target harian.

Seumpama kamu mulai menulis pada bulan Januari dan menargetkan buku kamu berjumlah 60.000 kata. Kemudian kamu memasang deadline pada akhir bulan April. Maka kamu setidaknya memiliki waktu selama 4 bulan atau 120 hari dalam menuliskannya.

Secara sederhana kamu harus menulis setidaknya 500 kata dalam satu hari untuk membuat targetmu tercapai dan buku kamu selesai tepat waktu, bukan?

Lawan Writer Blocks

Photo by Andrea Piacquadio on Pexels.com

Sebagai penulis, tidak setiap hari kamu terinspirasi untuk menulis. Ada kalanya kamu akan merasa jenuh, bosan, tidak tahu harus menulis apa, atau merasa menghadapi dinding tebal kebuntuan yang tidak dapat kamu tembus.

Dan kamu sudah tahu kan, itu adalah writer block?

Lantas, apa saran terbaiknya saat menghadapi writer block seperti ini?

Tidak ada saran yang paling baik dalam menghadapi writer block selain dengan melawannya. Cari tips menghadapi writer block untuk kemudian menulislah lagi. Jangan berlama-lama memanjakan kemandulan para penulis ini sehingga membuat kamu terbiasa berdamai dengannya.

Lawan writer block, dan jangan menyerah dengannya.

BACA PULA:

Lihat Kembali Proses yang sudah Kamu Lakukan

Photo by Markus Winkler on Pexels.com

Ketika writer block melanda, lihat kembali seberapa jauh kamu telah melangkah. Dengan melihat, membaca dan me-review kembali apa saja yang sudah kamu lakukan, kamu akan menyadari bahwa kamu semakin dekat pada tujuan.

Bisa saja kamu telah menulis 10.000 kata, 30.000 kata atau bahkan 50.000, dan jika kamu memilih menyerah pada writer block ketika pencapaianmu sudah sedemikian signifikan, itu adalah satu hal yang sangat disayangkan.                                                                                                     

Melihat kembali proses yang sudah dilalui akan memberi kamu kekuatan untuk terus menulis.

Karyamu hampir saja selesai dituliskan, jangan menyerah oleh rintangan dan writer block yang datang menghadang.

Beri Jeda Sebelum Melakukan Editing

Photo by Pixabay on Pexels.com

Bagaimana cara menulis buku selanjutnya adalah dengan memberikan jeda sebelum kamu melakukan proses editing. Jeda ini bisa satu minggu atau dua minggu, atau tergantung kamu dalam menetapkan waktunya. Hal yang paling penting adalah, jeda ini mampu memberi kamu kesegaran dan relaksasi sejenak setelah menulis sepanjang waktu.

Di samping itu, dengan memberikan jeda antara penulisan draf pertama dan editing yang harus kamu lakukan selanjutnya, kamu memiliki kesempatan untuk sedikit merayakan keberhasilanmu.

Bagaimana pun juga, keberhasilan menyelesaikan naskah pertama bagaimana pun hasilnya, adalah kesuksesan pertama yang sudah selayaknya dirayakan oleh seorang penulis pemula. Selain itu, jeda ini juga akan membuat pikiranmu lebih fresh, lebih tenang dan lebih nyaman ketika melakukan editing nantinya.

BACA JUGA:

Tetapkan Budget Penerbitan Mandiri

Source: Business Khow-How

Hal yang paling saya sukai dalam menerbitkan buku saat ini adalah kamu tidak harus melakukannya melalui penerbit besar untuk mempublikasikan bukumu. Dengan berbagai pertimbangan, menerbitkan buku secara mandiri jauh lebih menyenangkan untuk dilakukan.

Nah, dalam penerbitan mandiri ini, kamu tentu saja harus memikirkan biayanya.

Beberapa penerbit indie mengharuskan penerbitan dalam jumlah tertentu, bisa 20 atau bahkan 50 eksemplar. Paket ini juga sebagian besar sudah dilengkapi dengan layanan ISBN, desain cover, dan layouting.

Setelah naskahmu selesai dan kamu anggap sudah siap terbit, maka kamu dapat memperhitungkan berapa biaya yang akan kamu siapkan untuk mempublikasikannya.

Cari Editor Profesional dan Proofreader Berpengalaman atau Lakukan Sendiri

Source: Fiverr

Secara pribadi, saya tidak pernah menggunakan editor profesional atau pun proofreader berpengalaman untuk semua buku-buku saya. Dengan segala keterbatasan, saya harus melakukan semua pekerjaan itu sendiri.

Namun seiring pengalaman dan jam terbang, semua proses menjadi semakin baik dan menyenangkan. Editing memang memerlukan upaya yang ekstra untuk bisa dilakukan, proofreading juga demikian.

Akan tetapi jika kamu memiliki cukup banyak bujet dan  ingin menghasilkan buku yang lebih bonafit, kamu bisa menggunakan jasa editor dan proofreader. Namun yang paling penting adalah, bagian ini tidak boleh menghalangi kamu untuk terus mem-publish bukumu meskipun bujet kamu sendiri terbatas.

YUK, BACA INI JUGA:

Terbitkan Bukumu

Source: Babyblog

Nah, ini adalah bagian yang paling mengasyikkan sekaligus juga menegangkan dalam proses menjadi seorang penulis. Menerbitkan buku hasil karya pertama kamu akan memberikan perasaan yang luar biasa. Kamu akan mendapatkan pengalaman dan sensasi tersendiri ketika melakukannya nanti.

Apa pun cara penerbitan yang kamu pilih, indie atau pun mayor, rasa deg-degan menunggu hasil cetakan bukumu adalah sesuatu luar biasa.

Kamu bisa saja masih akan menemui berbagai kesalahan setelah membaca buku kamu secara langsung nantinya. Kamu mungkin akan berkata; seharusnya covernya begini, penulisannya begini, atau kalimatnya begini. Namun, lupakan sejenak mengenai hal itu. Rayakan saja kesuksesanmu yang telah berhasil menerbitkan sebuah buku.

Dapatkan Feedback dan Review

Photo by fotografierende on Pexels.com

Selanjutnya setelah buku kamu jadi dan mulai didistribusikan kepada pembeli, mintalah kepada mereka untuk memberi kamu feedback atau sedikit review ringan.

Apa pun review yang mereka berikan, buka hati kamu selebar mungkin untuk menerimanya.

Pujian, saran, kritik, referensi dan semacamnya, adalah hal berharga utuk menyempurnakan tulisan-tulisan kamu selanjutnya.

Selanjutnya Bagaimana?

Source: Balloon One

Nah, itu adalah serangkaian langkah cara menulis buku yang sebenarnya dapat kamu pahami dengan mudah dan praktikkan. Dengan latihan dan konsistensi terus-menerus, kamu akan semakin mahir dan berpengalaman melakukannya.

Oh ya, jika kamu masih merasa mempraktikkannya, kamu bisa meminta bimbingan penulisan buku pada www.penulisgunung.id juga, lho. Caranya gampang, kamu hanya perlu menghubungi melalui form kontak yang telah disediakan.

Selamat mencoba!


Anton Sujarwo

Saya adalah seorang penulis buku, content writer, copywriters dan juga email marketer. Saya telah menulis 14 judul buku, fiksi dan non fiksi, dan ribuan artikel sejak pertengahan tahun 2018 hingga sekarang.

Dengan pengalaman yang saya miliki, Anda bisa mengajak saya untuk bekerjasama dan menghasilkan karya. Jangan ragu untuk menghubungi saya melalui email, form kontak atau  mendapatkan update tulisan saya dengan bergabung mengikuti blog ini bersama ribuan teman yang lainnya.

Tulisan saya yang lain dapat dibaca pula pada website;

BAGAIMANA MENULIS DAN MENERBITKAN BUKU NON FIKSI DALAM 30 HARI ATAU KURANG

Menulis dan menerbitkan buku non fiksi bisa dilakukan dengan mudah dan dalam waktu yang singkat, asalkan kamu mengerti caranya. Dengan metode sistematis yang tepat, kamu akan merasakan produktivitas yang signifikan dalam menulis dan menghasilkan karya non fiksi.

Lantas, bagaimanakah cara menulis dan menerbitkan buku non fiksi dengan mudah dan sistematis dalam waktu cepat?

Yuk, simak ulasan lengkapnya berikut ini.

BACA JUGA:

5 Langkah Mudah Menulis dan Menerbitkan Buku Non Fiksi yang Bahkan Bisa Rilis dalam Satu Bulan atau Kurang

Photo by Sunsetoned on Pexels.com

Secara sederhana pengertian buku non fiksi adalah sebuah buku yang disusun berdasarkan sumber-sumber yang jelas dan non-imajinatif. Dengan adanya sumber-sumber yang jelas ini, tentu saja penyusunan dan penulisan buku dapat ditentukan secara lebih spesifik.

Namun demikian, meskipun sumber penulisan buku non fiksi sudah jelas, tidak semua penulis mampu menulis buku jenis ini secara efektif, efisien dan juga produktif. Bahkan beberapa penulis atau calon penulis merasa lebih kesulitan menulis buku non fiksi daripada buku fiksi.

Sumber penulisan buku fiksi yang paling dominan tentu saja imajinasi penulis itu sendiri. Artinya, semakin luas dan baik kamu menggunakan imajinasimu, maka semakin baik dan luas pula penulisanmu dalam fiksi.

Nah, bagamaina dengan menulis buku non fiksi?

Berikut ini adalah 5 langkah yang mudah dilakukan untuk menulis buku non fiksi. Bahkan tidak hanya menulisnya, kamu juga sekalian dipandu untuk sekaligus menerbitkannya. Menariknya, semua ini dapat kamu lakukan dalam waktu satu bulan saja bahkan kurang.

Atur Jadwal Menulis yang Konsisten dan Disiplin

Source: System Pro

Apa pun jenis buku nonfiksi yang ingin kamu tulis dan tak peduli seberapa baik kamu menguasai topiknya, semua itu tidak akan lebih penting daripada kedisiplinan saat kamu menuliskannya.

Kedisiplinan dalam menulis dan konsistensi dalam menjalaninya adalah rahasia semua penulis. Kamu harus memiliki hal itu jika ingin menyelesaikan buku non fiksimu dan menerbitkannya dalam waktu yang singkat. Tanpa kesediaan untuk disiplin dalam menulis, sulit rasanya untuk menyelesaikan jenis buku apa pun, baik fiksi mau pun non fiksi.

Tipsnya disini adalah dengan membuat sebuah jadwal menulis yang disiplin dan bisa kamu patuhi sendiri. Tetapkan berapa lama waktu yang akan kamu gunakan untuk menulis dalam satu hari, atau berapa kata yang harus kamu selesaikan dalam periode tersebut.

Namun inti dari langkah yang pertama ini adalah kamu harus bisa mematuhi dan konsisten menjalankannya.

Buat Kerangka Penulisan yang Rinci

Source: Marc Johnson

Dalam penulisan non fiksi, outline atau kerangka penulisan adalah bagian yang krusial dan harus ada. Pilihannya adalah, ada yang menggunakan kerangka sebagai garis besar penulisan, namun ada pula yang memanfaatkan outline lebih dari sekedar itu.

Untuk membuat susunan buku non fiksi yang sistematis, mudah dipahami dan juga lebih gampang dieksekusi dalam proses penulisannya, outline adalah hal yang harus kamu perhatikan dengan seksama. Luangkan waktumu lebih banyak untuk membuat kerangka yang detail dan terperinci.

Lho, mengapa harus terperinci dan detail? Bukankah ini hanya outline saja?

Waktu 30 hari untuk menulis dan menerbitkan sebuah buku adalah waktu yang terbatas. Supaya tujuan ini bisa dilakukan dengan baik, kamu membutuhkan strategi yang akan memudahkan kamu dalam segala hal, termasuk pula dalam hal pembuatan outline.

Semakin detail dan rinci kamu membuat kerangka, maka semakin mudah kamu menulisnya kemudian. Dan tentu saja, itu akan membuat proses penulisan kamu menjadi lebih cepat.

BACA PULA:

Perkirakan Jumlah Kata Penargetan

Source: Blogsays

Dalam 10 contoh buku non fiksi yang seringkali disampaikan, jumlah kata rata-rata yang dipergunakan adalah 30.000 – 75.000 kata.

Namun dengan waktu satu bulan atau 30 hari, kamu mungkin harus mempertimbangkan sebuah buku non fiksi singkat dan tidak begitu tebal untuk ditulis. Jumlah kata buku non fiksi untuk jenis ini biasanya berkisar antara 20.000 – 50.000 kata.

Jadi sederhananya begini;

Jika kamu menargetkan jumlah kata dalam buku non fiksimu adalah 30.000 kata, maka tentu saja setiap hari kamu setidaknya harus menulis 1.000 kata. Dalam waktu satu bulan kamu akan memiliki buku dengan tebal kurang lebih 30.000 kata. Asalkan kamu konsisten melakukannya.

Nah, selebihnya kamu hanya butuh waktu untuk melakukan editing, layouting, membuat cover dan juga publishing tentu saja.

Buat Rencana Pemasaran

Photo by Andrea Piacquadio on Pexels.com

Dengan waktu hanya 30 hari untuk menulis dan menerbitkannya sekaligus, kamu tentu saja tidak punya waktu banyak untuk memasarkan buku yang kamu tulis. Nah, supaya buku ini setidaknya memiliki pembeli, kamu harus memikirkan teknis pemasaran yang sederhana dan efektif.

Tips yang bisa kamu lakukan untuk menyiasati hal ini adalah dengan memasarkannya melalui sosial media, jaringan teman-teman, whatsapp group dan lain sebagainya.

Jadi selama proses menulis dan bukumu misalnya sudah selesai 75%, kamu sudah mulai dapat mempromosikannya di berbagai platform yang kamu pilih. Kamu bisa menerapkan sistem pre- order untuk meminimalisir risiko tidak terjual.

Cara lain yang juga bisa kamu lakukan misalnya mengadakan kontes membuat cover, memposting kutipan-kutipan terbaik dari buku yang kamu tulis secara teratur, dan lain sebagainya. Namun tetap harus diingat bahwa yang menjadi prioritasmu adalah menyelesaikan bukumu sesuai tenggat waktu yang telah kamu tetapkan.

Pilih Platform Penerbitan

Photo by Christina Morillo on Pexels.com

Jika kamu memilih untuk menerbitkan buku yang kamu tulis secara digital, maka kamu dapat menghindari kerepotan dalam proses cetak dan semacamnya. Namun, memilih cover yang baik dan membuat layouting yang menarik, tetap harus kamu lakukan.

Dalam platform digital, kamu bisa memilih menerbitkannya di Google Play Book, Online Store dan lain sebagainya. Kamu hanya perlu menyiapkan buku non fiksi PDF dan semuanya sudah siap untuk dipasarkan.

Namun jika kemudian kamu memilih untuk memasarkan bukumu dalam versi cetak dan juga digital, maka kamu juga harus memikirkan percetakan dan penerbitannya. Kamu bisa memilih untuk menggunakan ISBN atau melewatkannya sementara waktu.

Bagaimana jika Masih Kesulitan Melakukan 5 Langkah di Atas?

Photo by Olya Kobruseva on Pexels.com

Jika kamu masih merasa kesulitan untuk membuat bukumu meskipun sudah membaca langkah-langkah di atas hingga tuntas, maka kamu bisa meminta bantuan pada penulis blog ini dan menggunakan jasanya. Kamu akan dibimbing untuk bisa menyelesaikan buku sampai terbit.

Caranya mudah, kamu hanya perlu mengklik form kontak dan menuliskan pesanmu.

Jadi, jangan ragu untuk menghubungi www.penulisgung.id,  ya

BACA JUGA:


Anton Sujarwo

Saya adalah seorang penulis buku, content writer, copywriters dan juga email marketer. Saya telah menulis 14 judul buku, fiksi dan non fiksi, dan ribuan artikel sejak pertengahan tahun 2018 hingga sekarang.

Dengan pengalaman yang saya miliki, Anda bisa mengajak saya untuk bekerjasama dan menghasilkan karya. Jangan ragu untuk menghubungi saya melalui email, form kontak atau  mendapatkan update tulisan saya dengan bergabung mengikuti blog ini bersama ribuan teman yang lainnya.

Tulisan saya yang lain dapat dibaca pula pada website;

5 LANGKAH MENGUBAH PTK GURU (PENELITIAN TINDAKAN KELAS) MENJADI BUKU BER-ISBN

Mengubah PTK Guru atau Penelitian Tindakan Kelas menjadi sebuah buku ber-ISBN sebenarnya bukanlah proses yang sulit. Dengan sedikit keterampilan dan modifikasi, kamu dapat mengeksekusinya dengan mudah. Selain menghemat waktu dan tenaga, proses yang tepat juga dapat memberikan kamu efisiensi waktu yang lebih baik.

Lantas, bagaimanakah cara mengubah data PTK guru menjadi sebuah buku ber-ISBN yang gampang untuk dilakukan?

Yuk, simak penjelasannya berikut ini.

Mengubah PTK Guru menjadi Buku ber-ISBN dalam 5 Langkah Mudah

Photo by Jess Bailey Designs on Pexels.com

Laporan Penelitian Tindakan Kelas atau PTK adalah sebuah karya tulis ilmiah yang dibuat oleh seorang pendidik atau guru, laporan ini berisi hasil dari penelitian dan riset yang dilakukan oleh guru tersebut dalam kelas. Untuk sistematika penulisan PTK pun sudah ada ketentuannya.

Dalam teorinya, Penelitian Tindakan Kelas atau PTK memang dilakukan dalam upaya untuk menemukan permasalahan dalam kelas, kemudian mencari solusinya, dan mendokumentasinya dalam sebuah laporan PTK  yang sistematis.

Meskipun demikian, ada pula guru yang membuat PTK untuk keperluan yang berbeda. Selain untuk menemukan permasalahan, mendapatkan solusi, serta mendokumentasikan semua proses tersebut, tujuan lain yang paling populer dari pembuatan PTK adalah untuk syarat kenaikan pangkat.

Lantas, apakah ada perbedaan di antara keduanya?

Sebenarnya pada banyak contoh PTK guru, tidak ada perbedaan yang signifikan antara penyusunan PTK sebagai standar umum mau pun sebagai syarat kenaikan pangkat.

Namun memang pada PTK sebagai syarat kenaikan pangkat, adanya PTK menjadi salah satu syarat yang harus ada bagi seorang guru yang ingin menaikkan grade mereka.

BACA JUGA:

Bentuk-Bentuk Penelitian Tindakan Kelas atau PTK Guru yang Paling Banyak Direkomendasikan

Photo by Anete Lusina on Pexels.com

Berdasarkan buku 4, kenaikan pangkat guru yang menggunakan PTK sebagai syarat berlaku mulai dari golongan III/d ke IV.a. Jadi, guru pada konteks ini, diwajibkan untuk membuat PTK jika ingin mengajukan syarat kenaikan pangkat.

Nah, PTK sendiri memiliki banyak bentuk saat diajukan sebagai syarat kenaikan pangkat. Beberapa bentuk yang paling populer misalnya adalah;

  • Bentuk laporan PTK umum.
  • Jurnal.
  • Artikel populer di media massa.
  • Atau, buku ber-ISBN.

Penyusunan PTK sebagai syarat kenaikan pangkat dalam bentuk laporan umum, jurnal, atau artikel populer di media massa, tentunya sudah tidak asing lagi untuk kamu ketahui. Sementara membuat PTK atau mengubah Penelitian Tindakan Kelas menjadi sebuah buku ber-ISBN sendiri masih banyak guru atau pendidik yang bingung dalam melakukannya.

Lantas, bagaimanakah cara mengubah login PTK guru menjadi sebuah buku ber-ISBN?

Berikut adalah 5 tips yang bisa kamu ikuti dengan mudah.

Langkah Mudah Mengubah Penelitian Tindakan Kelas atau PTK Guru menjadi Buku ber-ISBN

Ada cara yang dapat kamu ikuti dengan mudah untuk melakukan hal ini. Beberapa langkah yang paling penting dan mudah dilakukan dalam proses ini adalah sebagai berikut;

Ubah Judul PTK Guru menjadi Judul Populer

Photo by cottonbro on Pexels.com

Langkah pertama yang bisa kamu lakukan dalam mengubah laporan Penelitian Tindakan Kelas atau PTK Guru menjadi sebuah buku adalah dengan mengubah judulnya terlebih dahulu.

Penting untuk kamu pahami bahwa ada perbedaan yang signifikan antara cara penyajian judul untuk sebuah laporan PTK dengan sebuah judul buku karya tulis ilmiah yang populer. Langkah pertama ini meminta kamu untuk mengubah judul yang panjang dan detail dari sebuah PTK, menjadi judul yang lebih populer dan komersial.

Contohnya begini;

Jika judul laporan PTK yang kamu tulis adalah misalnya;

Penerapan Outdoor Learning untuk Meningkatkan Prestasi Belajar Sejarah bagi Siswa Kelas V Sekolah Dasar Negeri Pasir Jambu 01 Tahun Pelajaran 2021/2022

Maka beberapa pilihan judul populer untuk sebuah buku ber-ISBN yang bisa kamu gunakan adalah;

  • Meningkatkan Prestasi Belajar dengan Outdoor Learning
  • Outdoor Learning Sebagai Cara Jitu Meningkatkan Prestasi Belajar
  • Outdoor Learning dan Prestasi Belajar Siswa Sekolah Dasar
  • Dll.

Buat Struktur PTK menjadi Struktur Buku

Photo by Anete Lusina on Pexels.com

Selanjutnya setelah kamu mendapatkan judul yang tepat untuk buku ber-ISBN gubahan dari judul PTK yang kamu miliki, maka kamu sekarang dapat berfokus pada membuat struktur bukunya sendiri.

Maksudnya adalah; bagaimana kamu menyusun layouting atau kerangka laporan PTK yang sudah tersedia menjadi sebuah layouting buku yang populer. Ini mungkin akan membuat kamu harus mengubah jumlah bab, pembagian pokok bahasan, judul bab, dan lain sebagainya.

Pada contoh PTK guru SMP yang kompleks misalnya, kamu dapat membagi laporan itu menjadi sesuatu yang lebih sederhana dan eye catching. Perlu juga untuk kamu ingat dalam proses mengubah PTK menjadi buku ber-ISBN adalah bahwa hal ini juga memperluas jaringan pembaca.

Artinya; kamu tidak lagi berfokus pada susunan kertas yang akan dibaca sebagai hasil laporan. Namun kamu juga membuat sebuah tulisan yang memikat untuk dibaca olehh orang lain yang tidak terkait dalam laporan PTK yang dibuat.

Susun Bab Buku Berdasarkan Susunan Bab PTK

Photo by Anete Lusina on Pexels.com

Nah, setelah kamu mendapatkan layouting atau kerangka yang tepat dari buku gubahan PTK yang akan kamu terbitkan, kamu dapat memfokuskan pada pokok bahasannya sendiri.

Dalam penyusunan pokok bahasan PTK menjadi sebuah buku ber-ISBN ini, kamu juga perlu memperhatikan beberapa hal antara lain, yaitu;

  • Hapus dan ubah rumusan masalah, manfaat dan definisi operasional. Ganti penulisan background semacam ini menjadi sebuah paparan yang menjelaskan kondisi memprihatinkan terkait pembelajaran yang diampu.
  • Kata-kata yang menjelaskan ‘penulis melakukan penelitian tindakan kelas…” dapat diubah narasinya menjadi misalnya; “Buku ini ditulis berdasarkan hasil penelitian tindakan kelas yang berjudul…”.
  • Modifikasi semua bagian yang mencirikan penelitian pada satu tempat secara khusus. Susunan buku sebaiknya membahas objek permasalahan secara umum. Sekolah yang menjadi objek penelitian dapat dibahasakan sebagai sampel permasalahan dan solusi yang diajukan.

Lengkapi Persyaratan Mendapatkan ISBN

Photo by Anete Lusina on Pexels.com

Nah, ini adalah bagian yang tidak boleh tertinggal dalam verifikasi PTK guru, yakni ISBN itu sendiri. Beberapa orang bahkan lebih tertarik untuk mengutamakan ISBN itu sendiri dibandingkan isi dan pemaparan buku dari PTK yang merupakan faktor yang lebih fundamental.

ISBN atau International Standard Book Number, hakikatnya adalah sistem pencatatan buku supaya dapat dengan mudah untuk dikenal dan didata. ISBN bagaimana pun krusialnya sebagai bagian dari syarat kenaikan pangkat seorang guru terkait laporan PTK, tidak pernah lebih penting dari isi buku itu sendiri.

Mengajukan ISBN untuk sebuah buku itu tidak serumit yang dibayangkan. Selama sebuah buku telah memenuhi syarat-syarat pengajuan berupa misalnya: halaman judul, halaman cover, halaman kata pengantar, halaman daftar isi, halaman daftar pustaka, biodata penulis dan lain sebagainya, sebuah buku dapat memperoleh ISBN dengan mudah.

Jadi yang ingin disampaikan adalah; PTK kenaikan pangkat guru dalam bentuk buku ber-ISBN itu bukan ISBN-nya saja yang penting. Namun isi dan esensi dari buku itu sendiri jauh lebih penting.

BACA JUGA:

Cetak dan Publikasikan

Photo by Anna Nekrashevich on Pexels.com

Nah, langkah terakhir setelah semua selesai adalah kamu dapat menemukan sebuah percetakan atau penerbit untuk mencetak buku kamu.

Bagian ini menjadi sesuatu yang susah-susah gampang untuk dilakukan. Untuk bisa mendapatkan buku yang siap cetak, kamu kadang harus mengeluarkan budget yang tidak sedikit. Biaya ini dibebankan untuk pengurusan dan pendaftaran ISBN, layouting, editing, desain cover dan lain sebagainya.

Belum lagi kemudian, waktu yang dibutuhkan sampai buku kamu selesai dicetak dan diterbitkan akan cukup lama. Bahkan ada beberapa penerbit yang meminta jangka waktu hingga lebih dari satu atau dua bulan.

Pada bagian ini, kamu juga harus mempertimbangkan deadline cetak buku kamu sendiri. Jangan sampai syarat kenaikan pangkat dari buku ber-ISBN yang dikembangkan dari PTK justru membuatmu kamu terlambat dalam memenuhi syarat kenaikan pangkat.

Jika Kamu Sangat Sibuk dan Sulit Mengerjakan Hal Ini…

Photo by Andrea Piacquadio on Pexels.com

Maka kamu dapat menghubungi www.penulisgunung.id dan meminta  PTK yang kamu miliki untuk diubah menjadi buku ber-ISBN.

Dengan pengalaman yang dimiliki dan jam terbang penulisannya sendiri, www.penulisgunung.id akan menghasilkan buku terbaik hasil dari gubahan PTK yang sudah kamu miliki.

Jadi, jangan ragu untuk menghubungi kami, ya.



Anton Sujarwo

Saya adalah seorang penulis buku, content writer, copywriters dan juga email marketer. Saya telah menulis 14 judul buku, fiksi dan non fiksi, dan ribuan artikel sejak pertengahan tahun 2018 hingga sekarang.

Dengan pengalaman yang saya miliki, Anda bisa mengajak saya untuk bekerjasama dan menghasilkan karya. Jangan ragu untuk menghubungi saya melalui email, form kontak atau  mendapatkan update tulisan saya dengan bergabung mengikuti blog ini bersama ribuan teman yang lainnya.

Tulisan saya yang lain dapat dibaca pula pada website;

MENULIS BUKU KENAIKAN PANGKAT GURU DALAM 5 LANGKAH PALING MUDAH

Menyusun dan menulis buku kenaikan pangkat guru sebenarnya dapat dilakukan dengan mudah selama Anda memahami caranya. Buku seperti ini selain dipergunakan untuk syarat kenaikan grade atau pangkat, kadang juga dijadikan sebagai bagian dari buku penilaian kinerja guru. Dengan kepentingan seperti itu, tentu saja dibutuhkan kemampuan untuk menulisnya sebaik mungkin.

Sayangnya tidak semua guru atau pendidik mampu melakukan hal ini. faktor ketidakbiasaan adalah kendala utama mengapa menyusun dan menulis buku bisa menjadi sesuatu yang sangat menyulitkan. Padahal jika Anda mengerti caranya, prosesnya bahkan bisa saja lebih mudah daripada yang pernah Anda bayangkan.

Lantas, bagaimana cara yang paling mudah menulis buku untuk kenaikan pangkat bagi seorang guru?

Mari, simak ulasan lengkapnya berikut ini.

5 Langkah Paling Sederhana dalam Menulis Buku Kenaikan Panngkat Guru

Photo by William Fortunato on Pexels.com

Istilah buku 4 penilaian angka kredit guru atau buku 5 kenaikan pangkat guru menjadi populer sejak ada kebijakan dari pemerintah bahwa, literasi adalah salah satu faktor penting sebagai prasyarat kenaikan pangkat seorang pendidik. Literasi ilmiah atau fiksi menjadi tolak ukur yang sekarang dianggap penting untuk dimiliki oleh setiap pendidik dalam jenjang apa pun.

Pada tingkat Sekolah Dasar atau SD misalnya, seorang guru yang mengajukan kenaikan pangkat diwajibkan untuk menulis buku untuk mendapatkan skor atau nilai yang dibutuhkan. Buku tersebut bisa dalam bentuk kumpulan puisi, kumpulan cerpen, atau pun semacam opini ilmiah mengenai proses pendidikan di sekolah guru yang bersangkutan.

Selain bisa mendapat nilai dari angka kredit buku antologi yang penulisannya secara kolektif, penulisan mandiri sebenarnya jauh lebih diprioritaskan. Dengan pemahaman yang lebih baik, menulis buku seperti ini sebenarnya tidak jauh berbeda dengan menulis makalah biasa. Atau menulis artikel ilmiah sederhana yang berfokus pada dunia pendidikan.

Nah, untuk Anda yang berprofesi sebagai seorang pendidik dan sedang mengajukan kenaikan pangkat kemudian harus menulis buku sebagai syaratnya, 5 langkah sederhana berikut ini mungkin bisa membuatnya menjadi lebih mudah.

BACA JUGA:

Tetapkan Tema Penulisan; Fiksi atau Non Fiksi

Photo by Liza Summer on Pexels.com

Langkah pertama yang bisa Anda lakukan ketika menulis buku 3 penilaian angka kredit guru adalah dengan memilih temanya terlebih dahulu; apakah Anda akan menulis buku fiksi atau kan non fiksi.

Jika pilihan Anda adalah menulis buku fiksi sesuai dengan ketentuan yang disyaratkan, maka Anda juga dapat membuat pilihan antara menulis kumpulan puisi atau kumpulan cerpen. Jumlah minimal yang disyaratkan jika Anda menulis kumpulan puisi pada umumnya adalah 40 judul. Akan tetapi, jika Anda memilih menulis buku fiksi dalam bentuk kumpulan cerpen, maka Anda dapat menentukan jumlah secara mandiri.

Sementara jika Anda kemudian memilih untuk menulis buku non fiksi, maka jenis buku untuk kenaikan pangkat yang dapat Anda tulis sebenarnya jauh lebih banyak. Anda misalnya dapat memilih materi yang bersifat opini Anda sendiri, hipotesa dan analisis mendalam tentang sebuah objek pendidikan, atau juga bisa memilih mengenai kritik sebuah sistem yang Anda anggap kurang relevan dalam struktur pendidikan modern.

Lakukan Riset yang Cukup

Photo by Pixabay on Pexels.com

Jika Anda kemudian memilih buku penilaian angka kredit guru dengan tema fiksi, riset tidak serta merta dapat Anda kesampingkan. Untuk menghasilkan sebuah karya fiksi yang tidak asal jadi, Anda juga membutuhkan riset yang cukup supaya hasilnya memuaskan. Paling tidak bagi diri Anda sendiri.

Dibandingkan menulis secara bersama-sama yang menghasilkan angka kredit buku antologi yang terbilang kecil, Anda bisa mengambil komitmen untuk menulis buku Anda sendiri. Untuk memperdalam riset misalnya, Anda dapat membaca berbagai kumpulan puisi dan cerpen dari penulis lain kemudian menulis objek yang sama dalam sudut pandang Anda sendiri.

Namun jika Anda memilih buku non fiksi sebagai syarat kenaikan pangkat yang Anda ajukan, Anda tentunya harus membuat riset yang lebih komprehensif. Mengulas metode pendidikan, mengkritik dan mengevaluasi sistem yang sudah ada, atau pun memberikan proyeksi model pendidikan yang lebih ideal, menuntut Anda untuk melakukan banyak kajian dan analisa dari setidaknya 5 sumber yang kredibel.

BACA JUGA:

Prioritaskan untuk Menulis yang Sejalan dengan Realitas

Photo by Max Fischer on Pexels.com

Akan sangat baik bagi penilaian yang akan Anda peroleh jika kemudian Anda memilih untuk menulis sebuah buku atau artikel non fiksi tentang objek pendidikan yang sesuai dengan realitas yang ada. Relevansi tulisan yang Anda hasilkan dengan realitas yang terjadi akan menghasilkan penilaian yang sempurna bagi para penguji yang objektif.

Pada tingkatan guru Sekolah Dasar misalnya, ketika Anda memilih tema penulisan mengenai mungkin metode paling efektif untuk mencapai tujuan pembelajaran, maka sebaiknya metode yang Anda tulis tersebut dapat Anda pahami dengan baik. Penguasaan Anda tentang materi penulisan akan memberikan keleluasaan untuk menulisnya dalam perspektif yang lebih luas dan menarik.

Pada contoh buku 2 pkg revisi 2019 pdf misalnya, penulisan ini mensyaratkan Anda memiliki pengalaman lapangan pula dalam mempraktikkannya. Misalnya begini; ketika Anda menulis mengenai efektivitas metode belajar outdoor learning, maka setidaknya Anda juga harus memiliki pengalaman mengenai cara belajar di luar ruang seperti itu.

Buat Outline yang Struktural

Photo by William Fortunato on Pexels.com

Dalam menulis buku penilaian kinerja guru sebagai syarat kenaikan pangkat, outline atau kerangka juga tidak dapat Anda abaikan. Bahkan sebenarnya pada buku jenis apa pun, baik fiksi mau pun non fiksi, outline akan membuat proses penulisan dan eksekusi idenya menjadi lebih mudah.

Outline atau kerangka akan memberikan batasan-batasan yang tepat dalam penulisan sehingga akan menghindarkan Anda dari penulisan yang tidak relevan. Outline pada sisi yang sama juga dapat menjadi oriented mapping dimana Anda dapat menentukan arah penulisan secara lebih terstruktur dan tepat sasaran.

Bahkan pada penulisan buku kumpulan puisi sekali pun yang Anda pilih sebagai buku pra-syarat kenaikan pangkat, outline juga sebaiknya diaplikasikan. Pembagian tema yang sesuai, sudut pandang yang ideal dan gaya menulis yang cocok, semuanya dapat Anda atur pada pembuatan outline.

Lakukan Editing Hingga Setidaknya 3 Kali

Photo by Gabby K on Pexels.com

Dalam menulis buku untuk kenaikan pangkat guru, editing adalah bagian krusial yang seharusnya dapat menjadi fokus Anda pula. Sebagai saran, berikan kesempatan pada diri Anda sendiri untuk melakukan editing penulisan paling tidak 3 kali sebelum dipublikasikan.

Editing selain akan memberi Anda kesempatan untuk memperbaiki kesalahan sederhana seperti typho atau salah ketik, juga dapat Anda pergunakan untuk melihat sejauh mana tulisan yang Anda hasilkan mampu menggambarkan maksud yang sejatinya ingin Anda sampaikan.

Untuk membuat proses editing menjadi lebih optimal, sebaiknya Anda melakukannya secara bertahap. Baca dengan suara yang agak keras dan rasakan apakah kalimat yang sudah Anda bangun sesuai dengan makna yang Anda inginkan atau belum. Lakukan editing dan ulangi kembali untuk menghasilkan kalimat yang paling ideal menurut Anda.

BACA JUGA:

Bagaimana Jika Semua Langkah di Atas Sudah Anda Lakukan Namun Anda Tetap Merasa Kesulitan?

Photo by Alexander Dummer on Pexels.com

Namun jika semua tahapan di atas sudah Anda coba lakukan dan Anda tetap merasa kesulitan, maka sebaiknya Anda memang menggunakan jasa penulisan profesional yang dapat membantu Anda melakukannya dengan hasil yang maksimal.

Nah, untuk Anda yang membutuhkan jasa penulisan profesional semacam ini, maka www.penulisgunung.id adalah pilihan yang paling ideal. Pengalaman dalam dunia penulisan yang baik serta tulisan yang original akan memberi Anda kesempatan untuk menghasilkan buku sebagai syarat kenaikan pangkat guru yang berkualitas dan sesuai harapan.

Anda hanya perlu menjelaskan artikel atau buku seperti apa yang Anda inginkan, kelas berapa siswa yang Anda ajarkan,  dan rentang berapa usia murid-murid yang Anda miliki. Kemudian www.penulisgunung.id akan mengaplikasikannya menjadi sebuah tulisan berupa buku atau artikel yang paling relevan berdasarkan gambaran yang Anda berikan tersebut.

Jadi tunggu apa lagi?

Segera hubungi www.penulisgunung.id untuk menghasilkan karya tulis yang akan membantu Anda memenuhi syarat kenaikan pangkat sebagai seorang pendidik yang profesional.


anton sujarwo

Anton Sujarwo

Saya adalah seorang penulis buku, content writer, ghost writer, copywriters dan juga email marketer. Saya telah menulis 14 judul buku, fiksi dan non fiksi, dan ribuan artikel sejak pertengahan tahun 2018 hingga sekarang.

Dengan pengalaman yang saya miliki, Anda bisa mengajak saya untuk bekerjasama dan menghasilkan karya. Jangan ragu untuk menghubungi saya melalui email, form kontak atau  mendapatkan update tulisan saya dengan bergabung mengikuti blog ini bersama ribuan teman yang lainnya.

Tulisan saya yang lain dapat dibaca pula pada website;

7 LANGKAH MENULIS CERPEN ATAU CERITA PENDEK YANG PALING UMUM DIGUNAKAN

Apakah kamu suka menulis cerpen? Jika iya, apakah kamu punya langkah menulis cerpen secara khusus yang sering kamu praktikkan?

Setiap penulis memiliki metode mereka sendiri dalam menulis, tak terkecuali bagi penulis cerpen atau cerita pendek. Meskipun tulisannya singkat dan hanya berfokus pada satu bagian yang diceritakan, menulis cerpen tidak dapat dilakukan sembarangan. Justru penulisan cerpen yang efektif membutuhkan keterampilan menulis yang memadai, baik dari sisi metodenya, bahasanya, juga tentu langkah penulisannya sendiri.

Nah, kira-kira apa saja yang menjadi metode atau langkah-langkah paling lazim digunakan dalam penulisan sebuah cerpen atau cerita pendek, atau short story? Berikut pembahasannya lebih lanjut.

Langkah Menulis Cerpen atau Cerita Pendek, atau Short Story yang Paling Umum Dilakukan

Photo by Ketut Subiyanto on Pexels.com

Sebuah cerita dapat dikatakan sebagai cerita pendek dalam penulisan karena memiliki jumlah kata yang terbatas. Beberapa sumber berbeda pendapat tentang berapa sebenarnya jumlah kata yang ideal untuk sebuah cerpen. Ada yang berasumsi bahwa  sebuah karya tulis cerita dapat dikategorikan sebagai cerpen jika jumlah katanya berkisar 1.000 – 10.000 kata, ada pula yang berpendapat 1.000 – 4.000 kata, sementara yang lain mengatakan idealnya adalah 1.000 – 3.000 kata.

Namun pendapat yang paling umum adalah 1.000 – 4.000 kata, jumlah inilah yang dianggap sebagai jumlah paling ideal untuk sebuah cerpen. Dan karena jumlahnya yang terbatas, maka penulisan cerpen pun membutuhkan metode khusus yang tidak sama seperti novel atau buku umum. Panduan langkah-langkah menulis cerpen mutlak dibutuhkan supaya dapat menghasilkan cerpen yang berkualitas dan layak baca.

Lantas, apa saja langkah-langkah dalam menulis cerpen yang paling lazim dipraktikkan? Setidaknya ada 7 point paling penting dalam menulis cerpen atau cerita pendek, berikut uraian lengkapnya.

Brainstorming Sebuah Konsep Cerita

Source: Pinterest

Brainstorm atau brainstorming sendiri memiliki banyak definisi yang beragam jika diterjemahkan secara sederhana. Namun terkait dengan penulisan cerpen atau cerita pendek, brainstorming yang dimaksud adalah menyusun sebuah konsep yang jelas tentang cerita pendek yang akan ditulis. Termasuk dalam hal ini adalah membuat konsep tentang siapa, apa, mengapa, dimana, kapan, dan bagaimana.

Secara sederhana konsep brainstorming skenario dapat dijelaskan sebagai rumus 6W1H berikut ini;

  • Who (Siapa)

Siapa yang akan diceritakan? Siapakah tokoh atau karakter utama yang akan dituangkan dalam sebuah cerita berbentuk cerpen tersebut?

  • What  (Apa)

Apa yang terjadi dengan tokoh tersebut? Apa permasalahan yang ia hadapi yang membuat dirinya layak untuk dijadikan sebagai objek cerita?

  • Why (Mengapa)

Mengapa permasalahan tersebut memiliki kaitan erat dengan tokoh yang diceritakan? Mengapa tokoh tersebut begitu terpengaruh dengan permasalahan yang ada?

  • Where (Dimana)

Dimana tokoh dalam penulisan cerpen tersebut? Dimana kejadiannya berlangsung?

  • When (Kapan)

Kapan kejadiannya berlangsung? Kapan peristiwa yang menjadi isi cerpen terjadi?

  • How (Bagaimana)

Bagaimana kemudian yang terjadi? Bagaimana karakter menyelesaikan masalahnya? Bagaimana pula akhir ceritanya?

Dengan memikirkan konsep berdasarkan rumus 6W1H di atas, merupakan sebuah langkah menulis cerpen untuk pemula terutama, yang cukup efektif. Walau pada umumnya, penulis cerpen terkenal pun menerapkan langkah ini. Meskipun tidak terlampau mendetail lagi langkah brainstorming-nya.

Temukan Fokus Cerita

Photo by Maksim Goncharenok on Pexels.com

Sebagai seorang penulis yang juga berprofesi trainer menulis, saya seringkali menemukan permasalahan terbesar dari seorang pemula dalam menulis cerpen atau cerita pendek adalah kurangnya fokus.

Fokus yang dimaksud dalam konteks ini bukan fokus dalam menulis, namun fokus dalam menyoroti subjek utama yang diceritakan. Sesuai dengan namanya sebagai sebuah cerita pendek, maka cerpen tentu saja memiliki batasan jumlah kata dan halaman, dan karena alasan inilah kemudian kamu harus membuat setiap kalimat yang kamu tulis itu fokus membedah sebuah permasalahan yang menjadi titik inti cerita.

Dalam penulisan cerpen, hindari membahas hal yang terlampau melebar dan sudah tidak memiliki korelasi dengan inti cerita. Jika pun seumpama kamu ingin menuangkan pula hal lain dalam cerita dengan maksud memperkayanya, maka pastikan hal tersebut sebagai pelengkap yang mampu memperkuat inti cerita yang disampaikan.

Tetapkan Setting dan Juga Karakter Cerita

Source: pinterest

Seperti halnya langkah pertama dalam menulis cerpen adalah dengan menetapkan brainstorming skenario, maka pada langkah ini kamu hanya perlu memperkuat detail atau rinciannya.

Ketika dalam langkah pertama kamu hanya berfokus pada konsep tentang who, what, why, where, when dan how, maka pada pada langkah yang ketiga ini kamu berfokus pada karakter secara spesifik. Termasuk pula dalam hal ini misalnya ciri fisik karakter, sifat-sifatnya yang utama, latar belakangnya, baik keluarga, budaya mau pun keyakinan,

Selanjutnya kamu dapat mengeksplore lagi penokohan cerita pada cerpenmu dengan menyoroti setting cerita. Berdasarkan setting yang kamu buat, kamu kemudian dapat menghubungkannya dengan karakter utama, tentang bagaimana ia melihat, bagaimana ia merasakan dan bagaimana pula ia berubah seiring dengan perubahan setting pada cerita pendekmu.

Pilih Sudut Pandang

Photo by Ylanite Koppens on Pexels.com

Untuk kamu yang bercerita berdasarkan kisah sendiri, tentu saja kamu dapat dengan mudah menggunakan sudut pandang sebagai orang pertama tunggal dalam cerita yang kamu tulis. Karena memang langkah menulis cerpen berdasarkan pengalaman sendiri pada umumnya menggunakan point of view seperti saya, aku, dan lain sebagainya.

Namun berbeda ceritanya jika kamu menulis sebuah cerpen yang bukan merupakan pengalaman yang kamu rasakan sendiri. Maka disini kamu dapat memilih sudut pandang yang lebih luas tentang dengan cara apa kamu menceritakan kisah itu. Point pentingnya adalah kamu ingin menceritakan cerpen yang kamu tulis itu sebagai apa?

Ada beberapa sudut padang yang umum ditulis dalam sebuah bahasa cerpen atau bahkan novel. Sudut orang pertama tunggal sebagai pelaku lazimnya menggunakan kata ganti aku, saya, gue, dan semacamnya. Sementara sudut pandang orang kedua tunggal biasanya menggunakan kata dia, ia, atau mungkin menyebut nama tokoh yang ditulis. Dan untuk kata ganti orang kedua majemuk misalnya menggunakan istilah mereka dan semacamnya. Nah, kamu sendiri dalam cerpen yang kamu tulis, ingin menggunakan sudut pandang yang mana? Tetapkan secara bijak.

Tulis Satu Halaman Sinopsis

Photo Source: Lektur.id

Sebagai pemanasan dan juga memperkuat konsep cerita, kamu dapat membuat langkah awal menulis cerpen dengan cara menulis sinopsisnya terlebih dahulu. Ini seperti membuat premis dalam penulisan skenario film. Atau paling tidak menuangkan beberapa garis besar cerita terlebih dahulu.

Sinopsis sebenarnya adalah sesuatu yang cukup krusial dalam penulisan cerita, khususnya novel. Pada cerpen meskipun tidak begitu vital perannya, namun penulisan sinopsis yang kuat setidaknya akan mempermudah penulisan naskah cerita yang sebenarnya. Penjabaran yang baik dan terkonsep secara lengkap dalam sebuah sinopsis, akan membantu penulis untuk tetap ada pada garis cerita yang direncanakan.

Dalam bahasa tulisan yang lebih umum, langkah kelima ini dapat pula disebut sebagai penyusunan kerangka. Kerangka inilah yang kemudian menjadi inti cerita yang dikonsep secara singkat. Untuk detail-detail kejadian dalam penceritaan, umumnya memang tidak perlu dimasukkan dalam sinopsis.

Tulis Awalan yang Kuat

Source: youtube

Jika menilik pada rujukan langkah-langkah menulis cerpen menurut para ahli, maka hampir semuanya bersepakat untuk memberikan penekanan yang hebat pada kalimat pembukanya. Artinya penulis cerpen dituntut untuk mampu menemukan kalimat pembuka yang kuat, yang efektif, dan yang mampu langsung merasuk ke pikiran pembaca.

Ini mungkin terdengar agak sulit, tapi sebenarnya tidak jika kamu sudah terbiasa dan mengerti cara membuat strong opening untuk sebuah cerita. Saya biasa mengatakan kepada orang-orang yang saya latih dalam menulis untuk tidak memaksakan susunan kata yang indah atau diksi yang memukau sebagai pembuka sebuah cerita. Jika kamu bisa melakukannya itu bagus, namun jangan memaksakan diri untuk hal itu.

Strong opening dalam penulisan cerpen atau novel tidak harus dengan susunan diksi yang memukau dan mempesona. Titik utama atau bagian terpenting dari sebuah awalan penulisan adalah kamu mampu menarik minat pembaca dengan kalimat pertama yang kamu pilih. Pilih kalimat yang membuat pembaca penasaran, tergelitik ingin tahu lebih banyak, dan yang pasti, merasuk dalam pikiran mereka sesaat setelah mereka membacanya.

Buat Puncak Cerita (Klimaks) yang Kuat dan Tidak Terlupakan

Source: Millenium Post

Selanjutnya bagian terakhir dari langkah menulis cerpen adalah dengan membuat sebuah klimaks cerita yang kuat dan tertanam di benak pembaca. Ini tentu tidak akan mudah, terutama jika kamu adalah tipe penulis dengan standar penulisan yang tinggi.

Namun seperti yang telah disampaikan sebelumnya, jika kamu telah menyusun konsep yang baik, menetapkan sinopsis yang terarah, juga telah memilih point of view yang juga tepat, maka membuat klimaks yang kuat akan lebih mudah dilakukan. Kamu hanya perlu membuatnya senatural mungkin untuk mendapatkan kesan alamiah dan mengalir dalam benak pembaca.

Pada bagian ini, hindari menggunakan efek kejut yang terlampau berlebihan. Penggunaan kata ‘tiba-tiba, lalu, kemudian’ dan sejenisnya, sebaiknya dibatasi supaya tidak membuat jalan cerita menjadi nampak dipaksakan. Buat klimaks dan akhir sebuah cerpen yang kuat, namun jangan paksakan kata-kata dalam ceritanya. Sekali lagi, buat senatural mungkin.

Serius Ingin Menjadi Penulis? Kamu Bisa Belajar Bersama Saya

Photo by luizclas on Pexels.com

Beberapa orang mungkin mengatakan bahwa untuk menerapkan langkah-langkah dalam penulisan cerpen seperti yang diuraikan di atas, adalah sesuatu yang tidak mudah.

Sebenarnya tidak juga. Jika niat belajar kamu kuat, keinginanmu untuk menjadi seorang penulis juga sangat kuat dan sungguh-sungguh, maka kamu akan bisa melakukannya. Seiring dengan banyaknya latihan dan praktik, maka kamu akan semakin mahir dalam menulis. Baik itu cerpen, novel, artikel, buku, atau bahkan sekedar status media sosial sekali pun.

Akan tetapi jika kamu ingin lebih efektif dalam menulis, produktif sekaligus juga lebih cepat dalam proses belajar, mungkin kamu bisa bergabung dalam kelas yang saya bimbing. Jika kamu tinggal di wilayah Magelang, maka kamu bisa belajar secara langsung. Sementara jika jaraknya jauh dan kondisi pandemi masih belum terkendali seperti sekarang ini, maka ikut kelas menulis online yang saya bimbing mungkin bisa menjadi alternatif yang bijak.

Untuk mengikuti kelas menulis bersama saya, kamu dapat menghubungi saya melalui email di blog ini. Untuk memperkuat keyakinanmu dalam belajar, kamu juga dapat melihat beberapa artikel yang saya tulis seperti di www.akasakaoutdoor.co.id atau di www.arcopodojournal.blogspot.com. Untuk buku, tentu kamu dapat melihat dan mendapatkan karya saya melalui blog ini juga.

Nah, itulah langkah menulis cerpen yang bisa kamu praktikkan. Sebagai saran terakhir dari saya, disiplinlah dalam berlatih, karena pada akhirnya, disiplinlah yang akan menentukan sebuah kesuksesan dalam penulisan, dan dalam apa pun.

Jadi, selamat berlatih dan berkarya!


MAKEUP_2019122918574813_save

Anton Sujarwo

Saya adalah seorang penulis buku, content writer, copywriters dan juga email marketer. Saya telah menulis 14 judul buku, fiksi dan non fiksi, dan ribuan artikel sejak pertengahan tahun  2018 hingga sekarang.

Dengan pengalaman yang saya miliki, Anda bisa mengajak saya untuk bekerjasama dan menghasilkan karya. Jangan ragu untuk menghubungi saya melalui email, form kontak atau  mendapatkan update tulisan saya dengan bergabung mengikuti blog ini bersama ribuan teman yang lainnya.

Tulisan saya yang lain dapat dibaca pula pada website;

Buat situs web atau blog di WordPress.com

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: