APA ITU MEMOAR DAN BAGAIMANA MENULISKANNYA DENGAN MUDAH?

Ketika seseorang merasa salah satu kenangan dalam hidupnya berarti dan penting, ia mungkin akan tertarik untuk menuliskannya menjadi cerpen atau novel. Menulis kisah hidup menjadi sebuah karya sastra adalah definisi sederhana apa itu memoar. Namun memoar tentu saja, jauh lebih menarik daripada sekedar penulisan semacam itu.

Menulis memoar secara teori seharusnya lebih mudah dibandingkan misalnya dengan menulis fiksi. Kamu tidak perlu repot-repot mengarang cerita, membangun konflik, menentukan karakter dan lain sebagainya. Sebagai kisah nyata yang terjadi dalam kehidupan kamu sendiri, memoar tidak memiliki tokoh protagonis selain dirimu sendiri.

Namun ternyata menulis memoar tidak sesederhana kelihatannya. Ini adalah sebuah keterampilan menulis yang bahkan sangat membingungkan bagi beberapa orang.

Nah, artikel kali ini akan membahas penulisan memoar secara spesifik yang dimulai dengan pertanyaan paling awal berupa: Apakah itu memoar?

Kamu punya kisah menarik untuk ditulis menjadi buku tapi bingung cara menuliskannya?

Coba konsultasikan disini

Apa Itu Memoar?: Pengertian dan Penjelasannya

Photo by Suzy Hazelwood

“Tidak ada penderitaan yang lebih besar daripada menanggung cerita yang tak terungkapkan di dalam dirimu”

Maya Angelou

Jika kita membahas apa itu memoar dalam bahasa Indonesia? Maka kita mungkin akan menemukan pengertian yang panjang dan komprehensif. Akan tetapi pengertian memoar sendiri dapat disederhanakan sebagai sebuah kisah nyata yang diceritakan dengan baik dan menarik, seperti pada penulisan fiksi.

Berdasarkan asal katanya, memoar atau memoir disarikan dari kosakata bahasa Perancis yang artinya sendiri adalah; Sesuatu yang ditulis untuk diingat atau dibuat menjadi memorable.

Supaya sebuah tulisan dapat disebut sebagai memoar atau memoir, syarat pertamanya adalah ia harus non fiksi. Selanjutnya memoar juga haruslah berdasarkan ingatan penulisnya yang menjadi karakter utama memoar. Dan yang terakhir, point of view memoar adalah harus dari sudut pandang penulisnya sendiri.

Jadi, memoar adalah sebuah bagian penting dalam kehidupan seseorang yang dituliskan dari sudut pandang pelaku kejadian itu sendiri. Sudut pandang memoar adalah sudut pandang kamu sendiri sebagai orang yang mengalami kejadian tersebut.

Apakah Memoar Sama Dengan Autobiografi?

Photo by Adil

Pada satu titik dan pengertian, memoar terdengar seperti autobiografi. Namun sesungguhnya ini adalah dua karya sastra yang berbeda. Ada beberapa hal penting dalam penyusunan memoar yang  membuatnya tidak sama dengan sebuah autobiografi.

Untuk memperdalam pemahaman tentang memoar itu artinya apa dan apa saja cakupannya? Tidak bisa tidak, kita harus membandingkannya dengan autobiografi.

Seperti yang sudah kamu tahu, autobiografi adalah sebuah penulisan karya sastra paling populer untuk menceritakan kisah diri sendiri. Meskipun demikian, memoar yang juga membahas hal yang sama dalam aplikasinya, setidaknya memiliki lima perbedaan paling mendasar jika dibandingkan dengan autobiografi.

Lantas, apa saja yang membedakannya?

Contoh Memoar serta 5 Perbedaan Penting Antara Memoar dan Autobiografi

Source: Penulis Gunung

Apa itu makna memoar secara sejati mungkin dapat saya ambil contohnya secara langsung melaui 3 judul buku karya saya sendiri.

Buku memoar pertama saya tentu saja adalah Islamedina Si Wajah Cahaya yang terdiri dari dua jilid dengan tebal lebih 750 halaman. Sementara memoar saya yang kedua adalah Mimpi Di Mahameru yang lebih kurang isinya terdiri dari 200 halaman.

Baik novel Islamedina Si Wajah Cahaya atau Mimpi Di Mahameru ditulis berdasarkan kisah pribadi saya sebagai pelakunya dan diceritakan pula dari sudut pandang saya sendiri. Dalam konteks ini, novel Islamedina Si Wajah Cahaya dan Mimpi Di Mahameru adalah bentuk aplikatif sempurna dari pengertian memoar dan contohnya.

Ketika syarat non fiksinya terpenuhi, kemudian ia ditulis pula dengan bahan baku dari kisah yang terjadi pada diri kamu sendiri dan melalui sudut pandang kamu sendiri, maka ia bisa disebut memoar sekaligus autobiografi. Namun khusus untuk buku Islamedina Si Wajah Cahaya dan Mimpi Di Mahameru yang sudah saya terbitkan, maka tentu saja ia adalah memoar.

Mengapa bisa demikian?

Lalu apa yang membuat memoar berbeda dengan autobiografi?

Nah, 5 hal berikut inilah yang menjadi pembedanya.

Struktur Penulisan

Photo by Pixabay

Dalam penulisan autobiografi, kisah yang diceritakan pada umumnya adalah lengkap dan komprehensif. Untuk mendapatkan kesan yang sempurna bagi pembaca, penulisan autobiografi hampir selalu bersifat kronologis.

Penulisan autobiografi bagaimana pun caranya, akan diawali dengan rentetan kejadian dari lahir, tumbuh, dewasa kemudian mencapai titik dimana saat ini sang penulis autobiografi berada. Dengan struktur penceritaan yang lengkap semacam ini, kronologis atau berurutan adalah yang paling tepat untuk penulisan autobiografi.

Nah, itu tidak terjadi dengan penulisan buku memoar.

Meskipun tidak se-komprehensif autobiografi, namun menulis memoar membutuhkan ide yang jauh lebih besar. Dalam penulisan ini kamu harus dapat menangkap dan menyajikan ide cerita yang jauh lebih besar dan dikemas dalam tema tertentu seperti kesedihan, kedewasaan, kehilangan, penemuan jati diri dan lain sebagainya.

Dengan pesan yang jauh lebih tematis seperti ini, maka penulisan memoar harus dilakukan dengan kreativitas supaya pesan ceritanya dapat sampai kepada pembaca. Untuk tujuan ini, struktur kronologis bukan hal yang mutlak dalam penulisan memoar.

Cakupan Pembahasan

Photo by Svetozar Milashevich

Perbedaan kedua antara memoar dan autobiografi adalah ruang lingkup pembahasan.

Dalam penulisan memoar, cakupan pembahasan sangat lengkap dan komprehensif. Penulis akan bercerita bagaimana ia dilahirkan, bagaimana ia menghabiskan masa kecilnya, bagaimana ia menempuh pendidikan dan bagaimana pula ia kemudian sampai pada posisinya sekarang yang mungkin penuh gambaran pencapaian.

Nah, hal ini berbeda dengan memoar.

Memoar hanya akan berfokus pada periode tertentu dalam kehidupan penulis.

Memoar tidak akan akan menceritakan kronologis kehidupan penulisan dari A hingga Z. Seperti pengertian awalnya, bagian tertentu dari kehidupan yang dianggap memiliki nilai untuk diceritakan adalah yang akan ditulis dalam memoar.

Buku Islamedina Si Wajah Cahaya adalah contoh memoar pribadi yang sangat tepat menggambarkan. Dalam buku yang terbagi dalam dua jilid tersebut, saya fokus bercerita fase kehidupan saya antara tahun 2014 hingga 2016. Periode itulah yang saya ceritakan sewaktu Islamedina masih dalam pelukan saya.

Gaya Penulisan

Photo by Ena Marinkovic

Perbedaan memoar dan autobiografi selanjutnya dalam hal gaya penulisan. Autobiografi atau otobiografi akan memprioritaskan pada peristiwa yang terjadi sepanjang kehidupan penulis. Sementara memoar akan menempatkan prioritasnya pada pengalaman apa yang dimiliki penulis terkait dengan peristiwa tersebut.

Ketika menfokuskan pada pengalaman, maka cakupannya akan jauh melampaui peristiwa semata. Dalam pengalaman, kamu juga diharuskan mendayagunakan perasaan, pikiran, refleksi, feeling, imajinasi, intuisi dan lain sebagainya.

Kebutuhan penulisan memoar yang priotitasnya ada pada pengalaman memaksa penulisnya untuk melangkah lebih jauh dari sekedar penulisan formal. Artinya, penulis memoar pun dapat menggunakan teknik penulisan fiksi untuk menggambarkan dialog, adegan atau pun bagian cerita yang lainnya.

Filosofi

Photo by Charlotte May

Penulisan autobiografi bagaimana pun akan berpijak pada fakta dan data-data yang dimiliki. Sebaliknya dalam penulisan memoar, landasan utama penulisan adalah ingatan atau memori yang dimiliki oleh penulis itu sendiri.

Ingatan manusia tentu saja tidak dapat diandalkan akurasinya untuk penyajian fakta-fakta yang komprehensif. Untuk itulah kemudian, memoar akan meminta pembaca untuk tidak terlalu fokus kepada faktanya melainkan kepada kebenaran emosionalnya.

Bahkan pada kesempatan tertentu kadang-kadang, penulis memoar akan secara sengaja meragukan ingatan mereka dan menyampaikan kepada pembaca. Namun pada kesempatan yang sama, penulis memoar juga akan menekanan kebenaran emosionalnya.

Pembaca

Photo by cottonbro

Ketika pembaca memilih autobiografi, mereka mungkin sedang berusaha untuk mempelajari hal tertentu dan sosok-sosok yang populer, menonjol dan terkemuka. Namun ketika pembaca memilih memoar, maka sudah pasti mereka ingin mengalami secara emosional kisah yang diceritakan dalam memoar yang dikemas dalam tema-tema tertentu.

Berdasarkan orientasi pembaca ini, maka memoar cenderung lebih intim, lebih pribadi dan lebih kuat menjalin konektivitas pada perasaan pembaca.

Nah, itu pula alasannya mengapa setiap orang pada hakikatnya dapat menulis memoar.

7 Langkah Menulis Memoir Dengan Mudah

Photo by Ann H

Setelah perbandingan dan perbedaan antara memoar dan autobiografi di atas, sekarang mungkin saatnya bagi kamu untuk menulis memoar.

Namun pertanyaan paling pentingnya adalah; Bagaimana melakukannya?

Nah, untuk membuatnya lebih mudah dan sederhana, kamu cukup melakukan 7 langkah berikut ini saja.

Gunakan Formula ‘Saya Ingat’ untuk Menghasilkan Ide Memoar

Photo by Lisa

Bagaimana pun juga pada banyak bidang, memulai adalah bagian yang paling sulit. Termasuk juga mungkin dalam penulisan memoar.

Kamu mungkin memiliki banyak kenangan istimewa namun justru bingung memilih yang mana yang paling layak untuk dijadikan sebagai memoar. Jika itu yang terjadi, kamu bisa gunakan formula ‘Saya Ingat’ yang bisa membantu kamu untuk memilih mana kenangan yang paling banyak bermain dalam pikiranmu.

Jadi, kamu hanya perlu membuat daftar yang kalimat pertamanya adalah menggunakan kata “Saya Ingat”.

Contohnya begini;

  • “Saya ingat ketika pacar pertama saya memberi saya kado ulang tahun. Itu adalah kado ulang yang pertama dan satu-satunya sepanjang hidup saya”
  • “Saya ingat bagaimana pelukan terakhir yang diberikan oleh ibu saya sebelum saya merantau ke luar kota dan tidak pernah berjumpa lagi dengan beliau untuk selamanya”
  • “Saya ingat tidak ada satu haripun selama perjalanan itu kecuali saya dan dia bertengkar. Benar-benar menyebalkan”

Kamu dapat membuat daftar seperti itu lebih panjang kemudian memilih mana di antara daftar kenangan tersebut yang paling membekas dalam benakmu. Pilih kenangan yang paling kuat memberikan pengaruh emosional dalam dirimu. Dan itu adalah memoar yang paling tepat untuk kamu tuliskan.

Sesederhana itu saja formulanya.

Lupakan Kronologis, Mulailah dari yang Paling Kuat

Photo by Sofia Alejandra

Seperti yang sudah disampaikan dalam strukrur penulisan antara autobiografi dan memoar, maka kamu harus mempraktikkannya disini.

Dibandingkan memulai penulisan memoarmu dengan awalan “pada mulanya, pada suatu hari, atau awalnya”, maka pilihlan untuk langsung menulis bagian yang paling kuat mempengaruhi emosionalmu. Bagian mana dari kenangan yang kamu tidak bisa berhenti memilikirkannya, maka mulailah dari sana.

Dengan memulai dari yang paling kuat, kamu akan dapat memanfaatkan momentum penulisan yang akan lebih mudah untuk diawali. Pada banyak kasus, ini akan membuat para penulis memoar yang baru mencoba menulis untuk pertamakalinya, menjadi lebih mudah menuangkan ide mereka.

Naskah Pertama Selalu Payah

Photo by Brett Jordan

Penulis profesional sekali pun, hampir selalu menghasilkan naskah pertama yang ‘payah’ dalam pekerjaan mereka.

Jadi masksudnya disini adalah, jika naskah awal yang kamu tulis itu terasa sangat aneh, tidak rapi, penuh kesalahan ketik atau typo, tidak teratur dan terdengar kacau, maka itu bagus! Kamu sudah melangkah di jalan yang benar.

Pesan konkritnya adalah jangan mengkhawatirkan naskah pertamamu.

Naskah pertama dalam penulisan apa pun akan selalu demikian, oleh karena itulah ia membutuhkan editing dan revisi. Hal yang paling penting dalam tahap penulisan naskah adalah keep writing. Terus menulis hingga naskahnya sendiri selesai.

Ada pun segala bentuk ‘kekacauan’ yang terjadi didalamnya, nanti kamu akan memiliki waktu yang banyak untuk memperbaikinya.

Beri Waktu Jeda

Photo by Artem Beliaikin

Jika naskah awal buku memoarmu sudah selesai di tulis, maka masukkan ia ke dalam lemari dan kunci setidaknya dalam waktu satu atau dua minggu. Bahkan jika kamu tahan, jangan membacanya sampai setidaknya satu bulan.

Lho, kok begitu?

Setelah hari-hari yang melelahkan untuk menulis naskah, biarkan pikiranmu istirahat sejenak. Biarkan pikiran dan benakmu segar kembali dengan tidak terbayang-bayang oleh kata-kata yang mungkin sudah kamu tetaskan di atas memoarmu. Semakin segar pikiran kamu, maka semakin baik untuk memoarmu nantinya.

Jarak ini disebut sebagai waktu jeda kritis antara menulis dan melakukan revisi.

Dengan mengambil masa jeda yang cukup, pikiran kamu akan lebih terbuka, lebih detail dan lebih mudah untuk melalukan editing dan revisi selanjutnya.

Baca Kembali Naskah Memoarmu

Photo by Thought Catalog

Setelah masa jeda berakhir, kamu boleh kembali membuka file dimana kamu menulis naskah memoarmu. Sekarang kamu dapat membaca ulang tulisan kamu tersebut, dan memberi catatan beberapa hal penting yang mungkin kamu temukan.

  • Apakah pesan perasaan yang ingin kamu sampaikan dalam buku memoar tersebut sudah sampai?
  • Apakah ada kalimat yang ambigu dan terasa membingungkan?
  • Apakah ada bagian-bagian yang tidak tersampaikan dengan baik? Atau sebaliknya; adakah bagian yang mungkin terdengar berlebihan?
  • Apakah struktur penulisan yang kamu gunakan cukup bagus dan mudah dipahami?
  • Dan lain-lain.

Dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan semacam itu, kamu akan lebih mudah membuat catatan revisi untuk memoarmu.

Perbaiki Naskah Buku Memoarmu dan Ulangi Hingga Kamu Merasa Cukup

Photo by Michael Burrows

Banyak penulis, termasuk saya juga, sepakat bahwa tidak ada naskah yang sungguh-sungguh selesai.

Setiap kali membaca ulang naskah yang sudah direvisi berkali-kali itu, akan selalu saya temukan sesuatu yang ingin saya ubah, ingin saya tambahi, ingin saya kurangi, atau bahkan ingin saya hilangkan.

Jika hal itu diperturutkan terus menerus, maka memoar tidak akan pernah terbit.

Jadi, ada kalanya ketika sebuah naskah terasa cukup. Entah apakah didalamnya masih ada yang ingin diubah dan direvisi, namun intuisi sebagai menulis mengatakan dalam hati bahwa itu sudah cukup dan selesai.

Selesai dan saya tidak ingin merevisinya lagi.

Tidak ada angka ajaib dalam melakukan jumlah revisi dan editing naskah. Pelajari intuisimu dan dengarkan instingmu untuk memutuskan apakah naskah sudah selesai atau kamu memang harus melakukan revisi kembali.

Publikasikan!

Photo by Skylar Kang

Langkah terakhir setelah kamu melakukan perjalanan yang panjang untuk melakukan penulisan, baca ulang, revisi, editing dan lain sebagainya, sekarang setelah semuanya selesai, terbitkan memoarmu.

Kamu bisa menggunakan jasa penerbit mayor atau penerbit konvensional untuk menerbitkan memoarmu. Atau jika kamu ingin merasakan kemerdekaan yang lebih fleksibel dalam menulis dan menerbitkan kenangan berhargamu itu, pilihlah self publishing atau penerbitan mendiri.

Mengenai bagaimana melakukan penerbitan mandiri dengan metode self publishing, kamu bisa membaca panduannya disini.

Yuk, Tulis Memoirmu Bersama Kelas Menulis Online di Penulis Gunung ID

Source: Penulis Gunung

Menulis memoar atau kisah hidup pribadi bisa jadi sesuatu yang menantang dan sangat sulit untuk dilakukan. Apalagi jika ini adalah pertamakalinya kamu berkenalan dengan dunia menulis. Namun, bangunlah keyakinanmu bahwa semua orang bisa jika mereka serius ingin melakukannya.

Lihatlah kembali bagaimana kenangan dan memorimu mengajarkan pengalaman yang sekarang dapat kamu ceritakan dan, mungkin bisa menjadi pelajaran buat orang lain. Ini bukan hanya tentang cerita apa yang kamu sampaikan namun, bagaimana kamu menceritakannya.

Namun yang paling penting dari semua itu adalah; jangan pernah menyerah sampai kamu berhasil!

Jika kamu ingin menuliskan memoarmu dengan dipandu langsung oleh penulis berpengalaman, kamu tentu saja dapat menghubungi saya di nomor whatsapp dan kontak yang sudah disediakan.

Saya dengan senang hati akan membantumu.

Berani Coba?

Satu bulan bisa punya buku atas nama kamu sendiri

IKUTI KELAS ONLINENYA DISINI


anton sujarwo

Anton Sujarwo

Saya adalah seorang penulis buku, content writer, ghost writer, copywriters dan juga email marketer. Saya telah menulis 15 judul buku, fiksi dan non fiksi, dan ribuan artikel sejak pertengahan tahun 2018 hingga sekarang.

Dengan pengalaman yang saya miliki, Anda bisa mengajak saya untuk bekerjasama dan menghasilkan karya. Jangan ragu untuk menghubungi saya melalui email, form kontak atau  mendapatkan update tulisan saya dengan bergabung mengikuti blog ini bersama ribuan teman yang lainnya.

Tulisan saya yang lain dapat dibaca pula pada website;

Saya juga dapat dihubungi melalui whatsapp di tautan ini.

https://api.whatsapp.com/send?phone=6281254355648

Fortopolio beberapa penulisan saya dapat dilihat disini:


10 TIPS MELAKUKAN RISET DALAM MENULIS ARTIKEL ATAU BUKU NON FIKSI

Jika kamu menulis buku non fiksi atau artikel ilmiah, riset adalah hal pertama yang harus kamu lakukan. Riset dalam menulis non fiksi adalah faktor fundamental yang menentukan kekuatan hasil tulisan yang menjual, menarik bagi pembaca, kredibel dan dapat dipertanggungjawabkan.

Namun bagaimana sebenarnya melakukan riset untuk penulisan non fiksi? Bagaimana supaya artikel atau buku yang kamu tulis tidak terlihat seperti hanya salinan wikipedia atau ensiklopedia semata?

Saya akan membantu kamu melakukannya dalam artikel kali ini.

Berani Coba?

WUJUDKAN IMPIANMU MENJADI PENULIS MELALUI KELAS MENULIS ONLINE DI PENULIS GUNUNG ID

10 Formula Melakukan Riset dalam Menulis Non Fiksi untuk Buku atau Artikel

Photo by Dziana Hasanbekava

Riset adalah sebuah penelitian yang dilakukan untuk mengambil sebuah kesimpulan terhadap sebuah objek tertentu. Dalam penulisan, riset adalah suatu kegiatan mengumpulkan berbagai sumber informasi obyek penulisan baik yang dilakukan secara kepustakaan, observasi lapangan, interview atau metode lainnya.

Dalam ruang lingkup penulisan fiski, riset pun tidak dapat ditiadakan begitu saja. Jika kamu menulis novel sejarah atau historical fiction, riset justru menjadi bagian yang sangat krusial. Dapat dikatakan bahwa hampir semua jenis-jenis novel sejarah memberikan porsi yang besar dalam tahap risetnya.

Novel sejarah yang memadukan unsur imajinasi dan catatan sejarah, tidak dapat dilakukan tanpa penelitian. Apa yang dimaksud novel sejarah adalah perpaduan antara nilai peristiwa sejarah dengan imajinasi penulis yang disusun dalam larik cerita yang memikat pembaca. Jika salah satu dari dua unsur ini dihilangkan, penulisan historical fiction dalam sudut pandang novel tidak dapat dilakukan.

Jika dalam penulisan novel yang bercampur unsur fiski saja riset demikian memegang peranan signifikan, lantas bagaimana dengan penulisan artikel atau buku ilmiah?

Sudah pasti harus lebih prioritas, bukan?

Nah, untuk itulah tips-tips dalam melakukan riset penulisan non fiksi berikut ini penting untuk kamu pertimbangkan.

Tentukan Jenis Informasi Seperti Apa yang Dibutuhkan Buku atau Artikel yang Kamu Tulis

Photo by Pixabay

Ketika saya pertamakali menulis buku tentang pendakian gunung atau mountaineering, saya mengumpulkan banyak sekali sumber penelitian dari kegiatan riset yang dilakukan.

Penulisan ini menjadi sangat luas bahkan mencapai lebih dari 1200 halaman. Saya menulis tentang sejarah pendakian gunung dunia, darimana aktivitas ini berasal, bagaiman timeline dari masa ke masa, daerah mana saja yang menjadi fokus perkembangan, siapa saja tokohnya, dan lain sebagainya.

Intinya; saya mengumpulkam informasi apa pun yang saya temukan tentang mountaineering.

Sewaktu akan diajukan ke penerbit, naskah ini menjadi sangat tidak efektif.

Ini seperti eksiklopedia dunia pendakian gunung yang harus diterbitkan dalam setidaknya dua atau tiga jilid. Penerbit saya menolak naskah itu dan meminta saya untuk merevisinya terlebih dahulu.

Saya kemudian memutuskan untuk ‘memecah’ naskah panjang tersebut menjadi tiga buah buku dengan fokus pembahasan yang terpisah namun tetap terintegrasi.

Pada akhirnya setelah melalui penulisan ulang yang tentu saja harus menambah referensi riset disana sini kembali, jadilah kemudian tiga naskah buku saya yang pertama; Wajah Maut Mountaineering Indonesia (310 halaman), Dunia Batas Langit (650 halaman) dan Mahkota Himalaya (550 halaman).

Source: Koleksi Pribadi

Proses riset ini meskipun dapat menghasilkan tiga naskah buku sekaligus, tentu saja tidak efektif.

Nah, supaya hal serupa tidak terjadi dengan riset penulisan yang kamu lakukan, kamu bisa melakukannya secara lebih terarah. Cari apa yang sebenarnya yang ingin kamu temukan dalam riset tersebut.

Tips tambahan untuk hal ini adalah dengan membuat daftar informasi apa saja yang kamu butuhkan. Membuat daftar seperti ini jauh lebih baik daripada seharian membolak-balikkan halaman buku atau mengunjungi puluhan situs di internet tanpa arah yang jelas.

Jika kamu membuat kerangka dalam penulisan non fiksi dengan baik, riset dengan daftar seperti ini akan jauh lebih mudah dilakukan. Panduan outline sebagai garis besar cerita akan memberikan kamu arah informasi apa saja yang kamu butuhkan untuk melengkapi tulisan kamu nantinya.

Baca Juga:

Tentukan Berapa Banyak Informasi yang Dibutuhkan Artikel atau Buku yang Kamu Tulis

Photo by brotin biswas

Tips kedua dalam melakukan riset non fiksi adalah dengan menentukan seberapa banyak informasi yang kamu perlukan?

Hal ini akan bergantung pula dengan beberapa hal seperti;

  • Seberapa banyak pengetahuan yang kamu miliki terhadap obyek yang kamu tulis. Semakin banyak pengetahuan yang sudah kamu ketahui, maka semakin sedikit riset yang kamu butuhkan. Namun kamu juga mungkin perlu memverifikasi informasi yang kamu ragu-ragu tentangnya.
  • Pengalaman yang kamu miliki juga akan menentukan kuantitas riset. Pengalaman yang lebih banyak bukan hanya akan membuat riset kamu menjadi lebih ringan, namun juga akan membuat tulisan kamu terasa lebih alami untuk dibaca.
  • Panjang tulisan. Semakin panjang artikel yang kamu tulis, maka semakin banyak kamu memerlukam riset. Itu adalah suatu logika yang lumrah, bukan?

Jika kamu hanya menulis artikel sepanjang 500 kata, kamu mungkin hanya perlu riset dari 2 atau 3 sumber saja. Namun jika kamu menulis buku dengan panjang 500 halaman, riset yang kamu lakukan bisa berdasarkan ratusan sumber pula.

Tentukan Seberapa Detail Tulisan yang Dibutuhkan Pembacamu

Photo by lilartsy

Ini memang bukan tips menulis novel yang populer, namun pesannya adalah sama bahwa kamu harus mengetahui siapa pembaca tulisanmu.

Jika kamu menulis suatu topik untuk kalangan umum, atau untuk usia anak-anak, atau untuk kalangan yang memiliki pemahaman terhadap obyek yang kamu tulis pada tahap yang biasa, maka kamu harus membuatnya sederhana.

Hindari menggunakan kata-kata yang rumit, pembahasan yang njelimet dan membingungkan. Penulisan yang terlampau spesifik untuk sebuah subyek penulisan dimana pembacanya adalah masyarakat umum cenderung jadi membosankan. Dan itu tidak disukai oleh para pembaca.

Sebaliknya, jika kamu menulis tentang subyek yang pembacanya memiliki cukup baik pengetahuan, maka kamu membutuhkan riset yang lebih detail.

Orang-orang dengan segmentasi seperti ini menginginkan suatu informasi yang belum mereka ketahui. Atau pun jika mereka sudah mengetahuinya, kamu harus mampu menyampaikannya dari sudut pandang yang berbeda.

Bayangkan saja misalnya jika kamu menulis informasi kesehatan mata untuk kalangan pembaca yang mayoritas adalah praktisi gizi, latar belakang medis dan kesehatan umum. Kamu tentu saja tidak bisa hanya mencantumkan bahwa wortel itu bagus untuk mata, karena mereka semua sudah mengetahui informasi dasar tersebut.

Jadi prinsipnya adalah; kenali siapa pembaca tulisanmu dan itu akan menentukan seberapa detail riset yang kamu butuhkan.

Tentukan Dimana Bisa Mendapatkan Informasi yang Kamu Butuhkan

Photo by Pixabay

Sewaktu saya melakukan launching buku saya yang berjudul Gunung Kuburan Para Pemberani, seorang peserta mengajukan ‘tembakan sebelah mata’ pada saya dengan mengatakan;

“Pada masa kami, jika kami ingin melukis harimau dari Siberia, maka kami harus datang ke Siberia dan menggambarnya secara langsung”

Ini sebenarnya adalah ungkapan sindiran bahwa saya menulis sejarah aktivitas pendakian gunung di dunia tetapi saya sendiri belum pernah mendaki puncak Everest atau terjebak badai salju di Alaska. Peserta itu menyindir saya yang menulis hanya berdasarkan riset melalui buku, majalah dan internet saja.

Saya tidak menyanggah hal itu, namun pertanyaan  saya selanjutnya adalah:

  • Jika seseorang harus mencapai puncak Everest dulu atau terbenam di badai Alaska dulu untuk menulis buku tentang mendaki gunung, maka buku dengan tema ini bisa saja tidak akan pernah ditulis. Bukankan beberapa orang yang menjadi pendaki gunung sungguhan justru tidak pernah menulis buku? Jika demikian, bagaimana masyarakat awam namun haus pengetahuan tentang mountaineering akan mendapatkan informasi tentang hal ini?
  • Apakah internet dengan sumber validitasnya yang bisa langsung dikomparasi tidak cukup dijadikan sebagai sumber penulisan? Apakah itu menyalahi aturan?
  • Jika demikian, kapan Indonesia akan memiliki buku-buku yang secara khusus menulis dunia pendakian gunung?

Internet adalah berkah dalam kehidupan modern. Manusia bisa mencari informasi apa pun saja di internet dan memvalidasinya dalam waktu yang sama melalui sumber yang berbeda. Internet bagaimana pun kamu menolaknya, adalah wadah raksasa yang telah mengubah dinamika riset kepenulisan menjadi lebih mudah.

Akan tetapi memang, sumber ini juga memiliki titik lemahnya jika si penulis menjadi malas untuk memburu sumber lainnya sementara ia sendiri bisa melakukannya.

Jika riset melalui internet membuat kamu malas datang ke perpustakaan dimana kamu sendiri dapat menghirup aroma kertas kuno yang menjadi sumber penulisan klasikmu, maka itu yang mungkin patut dikhawatirkan.

Periksa Sumber Riset yang Kamu Lakukan dengan Cermat

Photo by Markus Spiske

Untuk penulisan yang bersumber dari internet, setidaknya kumpulkan tiga sumber berbeda untuk memvalidasi satu subyek yang dituliskan.

Ini adalah cara yang umum dilakukan guna mengantisipasi sumber di internet yang bisa saja tidak benar. Kamu mungkin terpesona dengan uraian yang disampaikan dalam sebuah situs terkenal dan tertarik menjadikannya sebagai sumber penulisan. Namun tetap saja kamu harus mengkonfirmasinya dengan setidaknya dua situs lain untuk melihat akurasi isi yang disampaikan.

Tetapi bagaimana jika semua situs tersebut mengambil sumber dari situs lain yang tidak benar dari awal?

Nah, untuk itulah kamu tetap membutuhkan kecermatan yang tinggi dalam memilihnya. Saya bahkan biasanya menggunakan lebih dari 10 sumber penulisan untuk sebuah obyek yang diceritakan. Buku-buku pendakian gunung yang saya tuliskan bahkan memiliki sumber penulisan dari berbagai macam bahasa dunia seperti Inggris, Italia, Polandia, Jepang dan juga Rusia.

Motivasi menulis novel sejarah seperti pendakian gunung baik ia fiksi atau non fiksi, harus menempatkan riset dengan cermat. Proses ini tidak bisa dilakukan dalam waktu satu malam. Kamu harus menyaring mana sumber penulisan yang layak kamu gunakan dan yang tidak seharusnya kamu gunakan.

Pastikan Riset yang Kamu Lakukan Menarik bagi Pembaca

Photo by Andrea Piacquadio

Setelah memilih sumber penulisan secara cermat dan hati-hati, kamu juga harus dapat memilih sumber yang memiliki nilai bagi pembacamu. Tidak ada pembaca yang tertarik dengan sesuatu yang mereka sudah ketahui atau dapat mereka cari dengan mudah informasinya.

Meskipun demikian, kamu juga tetap harus sangat hati-hati dalam menuliskannya. Dan yang paling tidak boleh kamu lakukan adalah mengakui sumber risetmu sebagai sesuatu yang menjadi milik kamu sendiri. Ini adalah plagiat, dan plagiat adalah dosa penulis yang paling berat.

Hal menarik lain untuk kamu perhatikan terkait plagiarisme jika kamu mempublikasikan tulisanmu di internet pula adalah; beberapa kebijakan publishing yang menyatakan bahwa 3 kata berurutan adalah termasuk plagiat.

Walau pada umumnya tidak ada penulis yang berencana secara sadar untuk melakukan plagiat. Namun, plagiarisme secara tidak sengaja cukup sering terjadi.

Kamu harus berhati-hati untuk menghindarinya.

Baca pula:

Jika Memungkinkan, Seimbangkan Dengan Interview

Photo by RODNAE Productions

Metode riset penulisan yang masih sangat efektif hingga kapan pun nampaknya adalah wawancara.

Interview atau wawancara dengan seseorang yang memiliki background pengetahuan suatu objek secara luas akan memberikan kamu banyak manfaat. Kamu bisa mengkoreksi hasil riset internet dengan cara ini, atau kamu juga dapat mengambil sudut pandang mereka.

Supaya paparan yang kamu berikan pada pembaca menjadi lebih kaya, kamu dapat menampilkan hasil wawancara pada dua orang yang memiliki pendapat berbeda mengenai obyek yang kamu tulis.

Jika penulisannya sendiri kamu buat dalam format interview, teknik ini bahkan akan membuat karyamu akan jauh lebih ‘hidup’ untuk dibaca.

Hindari Informasi yang Tidak Relevan Meskipun itu Menarik

Photo by Vlada Karpovich

Sangat mudah untuk hanyut dalam aliran riset ketika kamu merasa tertarik di dalamnya. Praktikknya adalah saat kamu melakukan riset melalui internet dan kamu menemukan apa yang kamu cari disana, maka jangan buru-buru untuk beralih ke sumber lain sebelum kamu mencatatnya.

Ketika kamu beralih ke platform lain setelah mendapatkan tujuan risetmu di internet, kamu akan lebih mudah untuk mengalami ‘pengaburan target penulisan’. Beberapa penulis menyatakan ini sebagai sebuah risiko munculnya ide-ide irelevansi dimana tujuan risetmu tidak lagi memiliki hubungan yang kuat dengan apa yang kamu tulis nantinya.

Menariknya, internet bukan hanya tempat untuk mendapatkan pengaburan semacam ini. Risiko irelevansi pun dapat terjadi pada saat kamu melakukan riset menggunakan buku, sumber riset yang paling populer sepanjang masa.

Bagaimana mungkin?

Contohnya begini:

Anggaplah kamu sedang mencari informasi tentang Paus Urbanus II yang pidatonya memicu terjadinya perang salib selama dua abad yang sangat terkenal itu. Pada saat kamu sudah menemukan apa yang kamu cari pada sebuah sumber buku tentang perang salib, hentikan membacamu dan pindahkan informasi itu ke dalam catatan risetmu.

Jika kemudian kamu memperturutkan hati kamu yang tertarik pada peristiwa lain dalam buku sejarah itu, maka uraian penulisan kamu tentang Paus Urbanus II sendiri nantinya bisa saja akan mengalami pengaburan atau distraksi.

Beri Kesempatan pada Pembaca jika Ingin Mengetahui Lebih Banyak

Photo by Abby Chung

Dunia pendakian gunung yang demikian kompleks dan luas, tidak mungkin dapat saya tuliskan semua dalam buku saya meskipun jumlahnya hingga 650 halaman. Aktivitas mountaineering yang dinamis dan terus berlanjut, tidak memberi saya kesempatan untuk mencatatnya terus menerus tanpa ketinggalan.

Nah, untuk itulah saya harus menyampaikan hal tersebut ke pembaca buku-buku saya dengan cara memberikan mereka akses informasi untuk mendapatkan pengetahuan yang lebih banyak. Saya mencantumkan daftar pustaka yang lengkap, baik itu berupa buku, film, majalah atau pun situs internet.

Jika kamu menulis bahasan yang kompleks dan luas seperti yang saya lakukan, maka kamu pun dapat melakukan hal yang sama. Beri tahu pembacamu dimana mereka dapat memperoleh informasi yang lebih spesifik dan mendetail.

Di samping sebagai wujud ‘kerendahan hati’ dimana kamu mengakui kekurangan artikel atau buku yang kamu tulis, langkah ini juga akan meningkatkan reputasi dan kredibilitas tulisan di mata para pembaca.

Pastikan Kamu Mencatat Alamat Sumber Riset yang Digunakan

Photo by Burst

Setiap kali kamu menemukan informasi yang menurut kamu penting dan berharga dalam sebuah situs, pastikan kamu menyimpan alamatnya dengan di-bookmark atau pun disalin manual. Suatu ketika kamu mungkin perlu membaca ulang referensi riset itu. Atau dalam skenario yang lain, kamu mungkin saja dapat mengembangkannya menjadi lebih menarik.

Ada banyak penulis pemula yang tidak menyimpan alamat situs dimana mereka menemukan informasi berharga, sehingga ketika mereka membutuhkannnya kembali untuk sekedar pengecekan ulang, mereka telah kehilangan alamatnya.

Hal ini sama pula jika kamu misalnya menggunakan metode interview dalam riset. Pastikan pula kamu mencatat secara cermat nama dan kata-kata yang disampaikan narasumber. Dalam banyak kasus, penulis yang kurang teliti bisa saja menghadirkan kerancuan atau malah informasi yang justru tidak sesuai dengan kenyataan.

Lalu, bagaimana dengan riset menggunakan sumber pustaka berupa buku?

Prinsipnya sama. Hanya saja untuk memudahkannya kamu mungkin bisa menandai halaman tertentu yang menjadi tempat dimana informasinya kamu peroleh.

Ingatlah selalu bahwa pembaca mencari informasi yang disediakan berdasarkan sumber-sumber yang benar dan dapat dipercaya. Jika kamu mampu memberikan ini kepada mereka dengan riset yang kamu lakukan seperti tips-tips di atas, maka kamulah yang mereka cari dan mereka butuhkan.

Dan jika itu terjadi,  artinya pintu gerbang kesuksesanmu sudah dapat diketuk.

Selanjutnya kedisiplinan dan ketekunanmu-lah yang akan membuatnya terbuka.

Baca juga:


anton sujarwo

Anton Sujarwo

Saya adalah seorang penulis buku, content writer, ghost writer, copywriters dan juga email marketer. Saya telah menulis 15 judul buku, fiksi dan non fiksi, dan ribuan artikel sejak pertengahan tahun 2018 hingga sekarang.

Dengan pengalaman yang saya miliki, Anda bisa mengajak saya untuk bekerjasama dan menghasilkan karya. Jangan ragu untuk menghubungi saya melalui email, form kontak atau  mendapatkan update tulisan saya dengan bergabung mengikuti blog ini bersama ribuan teman yang lainnya.

Tulisan saya yang lain dapat dibaca pula pada website;

Saya juga dapat dihubungi melalui whatsapp di tautan ini.

Fortopolio beberapa penulisan saya dapat dilihat disini:


7 CARA MENULIS CERITA HANTU ATAU CERITA HOROR YANG MENARIK DAN EFEKTIF

Kamu pasti tahu jika salah satu genre cerita yang paling besar jumlah penggemarnya adalah horor. Hal ini memancing banyak penulis pemula yang bertanya; bagaimana cara menulis cerita hantu atau cerita horor dengan memanfaatkan jumlah pembaca yang besar ini? Nah, artikel yang ditulis kali ini akan menjawab pertanyaan tersebut.

Jadi sebenarnya, bagaimana cara menulis cerita horor yang bagus dan mampu merasuk pikiran pembaca?

Untuk genre cerita seperti ini, tentu saja semakin menakutkan semakin baik. Semakin tidak bisa tidur pembacamu karena terbayang-bayang sosok horor atau hantu yang kamu ceritakan, itu semakin bagus. Meskipun genre semacam ini terkesan ‘pasaran’, nyatanya tidak semua penulis horor mampu mengeksekusinya dengnan baik.

Tips dan Langkah Cara Menulis Cerita Hantu atau Cerita Horor

Photo by cottonbro

Salah satu hal menarik di Indonesia adalah ketertarikan masyarakatnya yang luar biasa tinggi terhadap kisah horor, hantu, supranatural dan metafisik. Di satu sisi, ini mungkin menumbuhkan budaya pemikiran irasional yang kurang efektif. Namun pada sisi yang lain, ini juga menumbuhkan minat literasi penulisan bertema horor yang besar.

Unsur cerita horor yang ditampilkan pada umumnya tidak banyak bergeser dari makluk-makluk gaib populer di Indonesia. Beberapa penulis yang lebih kreatif, kadang memadukan konsep cerita yang lebih kaya lagi, baik dari sisi plot, setting, karakter, hingga tema cerita.

Kamu mungkin masih banget bagaimana kisah KKN di Desa Penari yang sempat viral beberapa waktu lalu, bukan?

Kisah itu demikian menarik perhatian penggemar kisah horor di Indonesia. Perdebatan bahwa itu kisah nyata seperti pengakuan penulis, ataukah hanya kreativitas penulis saja yang terinspirasi dari sebuah cerita, menjalar di sosial media. Namun intinya adalah, kisah misteri tentang hantu di Desa Penari di Jawa Timur itu, sempat booming di kalangan pembaca digital di Indonesia.

Menariknya kemudian, cerita itu menginspirasi film horor dan penulisan bukunya sekaligus. Walaupun kamu pasti juga tahu bahwa kisah dengan memanfaatkan momen viral seperti ini umumnya tidak bertahan lama. Namun tidak dapat ditepis pula bahwa contoh cerita horor seperti KKN di Desa Penari adalah contoh betapa efektifnya pengaruh kisah horor pada masyarakat Indonesia.

Nah, kamu yang berminat untuk menulis novel horor, panduan berikut bisa kamu jadikan referensi.

BACA JUGA:

Pengertian Cerita Horor

Photo by Pixabay

Jika disebutkan cerita hantu, kamu tentu sudah dapat langsung menterjemahkannya sebagai cerita menyeramkan tentang makluk gaib yang tidak kasat mata. Secara eksplisit lagi cerita hantu dapat diterjemahkan sebagai cerita arwah seseorang yang sudah meninggal kemudian mengganggu orang yang masih hidup.

Namun ketika dikatakan sebagai cerita horor, maka definisinya bisa luas lagi terutama jika dilihat dari sisi siapa subjek yang menjadi tokoh horornya. Horor bisa terjadi karena ada gangguan makluk gaib, bisa karena perlakuan psikopat, phobia, dan lain sebagainya.

Akan tetapi baik cerita horor atau cerita hantu, secara sederhana dapat disimpulkan sebagai cerita yang mengetengahkan keseraman, ketakutan dan kengerian sebagai pesan utama cerita. Subjek dari keseraman dan ketakutan itu sendiri dapat bervariasi tergantung dari imajinasi dan kreativitas sang penulis sendiri.

Jenis-Jenis Cerita Horor

Mengelompokkan cerita horor memiliki kerumitannya tersendiri. Bahkan para penulis sendiri berbeda pendapat mengenai jenis-jenis yang ada.

Namun, berikut adalah jenis-jenis cerita horor yang paling umum dikenal dalam dunia kepenulisan dan novel.

Paranormal

Photo by Spencer Selover

Berdasarkan pengertian yang umum, paranormal seringkali didefinisikan sebagai ‘sesuatu yang melampaui hukum alam atau hukum kebiasaan’.

Beberapa contoh novel horor yang dapat dikategorikan dalam jenis paranormal misalnya adalah tentang hantu, setan, iblis, siluman dan lain sebagainya.

 Di Indonesia, kamu tentu saja dapat memasukkan cerita tentang kuntilanak, pocong, gondoruwo, tuyul dan sebagainya dalam jenis cerita horor yang pertama ini.

Supranatural

Photo by Steve

Nah, agak membingungkan juga sebenarnya karena pengertian supranatural dan paranormal seringkali diterjemahkan serupa, yakni sesuatu yang melawan hukum alam.

Namun supaya memudahkan kamu membedakannya, kamu bisa mengikuti definisi Brandon Cornett (penulis novel horor Purgatory) yang memasukkan kisah seperti vampir, manusia serigala, monster, puteri duyung dan  sejenisnya sebagai contoh cerita horor pendek (cerpen) atau pun panjang (novel) dalam lingkup genre horor supranatural.

Psikopat, Pembunuh Berantai dan Pembantai

Photo by NEOSiAM

Jenis horor satu ini tidak diperuntukkan untuk pembaca dengan hati dan perasaan yang ‘lemah’. Kamu sudah pasti tahu kan, jika tema novel horor semacam ini mempertontonkan kekejaman dan kebiadaban manusia dengan motivasi kegelapan yang sulit dipahami.

Contoh novel horor untuk kategori ini misalnya adalah; Psycho karya Robert Bloch dan Perawan Terakhir karya Riley Sager.

Psikologi

Photo by Vijay Putra

Ini adalah genre horor yang membingungkan dimana ketakutan dan kengerian yang terjadi diciptakan oleh pikiran karakternya sendiri. Sekali lagi, ini mungkin terasa samar dengan genre psikopat dan pembunuh berantai, seperti genre horor paranormal dan supranatural yang seolah berhimpitan.

Tidak ada monster atau hantu berkepala empat dalam genre ini. Akan tetapi sebagai gantinya, kamu akan menampilkan keseraman akan goa yang gelap, mata yang mengintai dari sudut kamar, rumah angker dengan suara menakutkan.

Intinya adalah semua keseraman ini bersumber dari permainan pikiran karaternya sendiri.

Pasca ‘Kiamat”

Photo by cottonbro

Secara sederhana, genre pasca kiamat ini disebut sebagai post-apocalyptic yang menampilkan kehancuran peradaban dunia oleh kekuatan atau entitas mengerikan. Kamu bisa menyebutkan zombie, vampir, wabah, atau yang sejenis dengan itu sebagai penyebabnya.

Ketegangan yang dimunculkan mungkin tidak seperti genre dimana hantu dan iblis menjadi fokus kengeriannya. Namun genre cerita horor pasca kiamat semacam ini kadang memberikan argumentasi kehancuran total yang lebih masuk akal dan lebih mengerikan.

Bukankah efek pandemi Covid-19 seperti sekarang jauh lebih menyeramkan dan massif daripada hantu?

Ini adalah salah satu bukti mengapa genre pasca-kiamat adalah salah satu genre horor yang sangat realistis.

Gotik

Photo by Oleg Magni

Jenis novel horor selanjutnya adalah gothic atau gotik. Genre satu ini umumnya berasal dari cerita di Eropa pada akhir abad 1700-an atau awal 1800-an. Gotik menampilkan perpaduan romansa dan horor, dan pada banyak tema, ini juga mencampurkan kondisi sosial masyarakat yang cukup rumit.

Banyak kejadian mengerikan dan menakutkan yang terjadi pada sekolah biarawati, atau ritual pengusiran roh masa sebelum renaisans.

The Woman in Black kaya Susan Hill adalah salah satu contoh prolog novel horor dari genre gotik yang cukup menarik untuk kamu baca.

BACA PULA:

Horor Kosmik

Photo by Dimitry Anikin

Jenis horor satu ini nampak aneh namun tidak kalah menakutkan. Kosmik horor lebih menekankan ketakutan manusia pada sesuatu yang tidak diketahui, tidak dipahami dan tidak ada unsur kemanusiaannya.

Ini pengertian horor yang aneh dan rumit, namun contoh cerita horor dengan kategori ini misalnya adalah The Ballad of Black Tom karya Victor LaValle.

Komedi Horor

Photo by Sam Pineda

Ini adalah jenis horor yang paling banyak diaplikasikan dalam berbagai cerita horor di Indonesia. Entah apakah itu campuran antara paranormal horor, suprantural horor atau bahkan psyco horor, unsur komedi hampir selalu ditampilkan.

Komedi horor adalah campuran antara komedi yang kadang ditampilkan dalam bentuk ‘kebodohan dan kevulgaran yang tidak sopan’ kemudian dipadukan dengan unsur menyeramkan.

Meskipun dianggap sebagai jenis horor dengan selera yang paling ‘rendah’, uniknya di Indonesia jenis ini adalah yang paling banyak peminatnya.

Dark Fantasy

Photo by Pixabay

Seperti halnya horor komedi yang merupakan kombinasi antara humor dan ketakutan, maka dark fantasy juga sama. Dalam dark fantasy, hal yang dipadukan adalah kegelapan yang seram dengan fantasy atau impian.

Makhluk-makhluk mitologi semacam naga yang memakan manusia, raksasa yang datang di tengah malam dan menguyah mimpi dan keceriaan anak-anak, kadang dimasukkan pula dalam genre yang satu ini.

Sci Fi Horor

Photo by Miriam Espacio

Ketakutan dan keseraman dalam genre horor satu ini adalah alien, makluk luar angkasa yang ganas dan tak terkalahkan, dan semacamnya. Beberapa orang tertarik untuk menyebut horor jenis ini sebagai fiksi ilmiah yang memasukkan unsur seram di dalamnya.

Khusus untuk sci fi horor, ini adalah ladang kosong yang masih sangat sedikit penulis menggelutinya.

Jadi, jika kamu adalah seorang penulis horor dan tidak tertarik ‘nyemplung’ dalam keramaian yang sudah terlalu umum, sci fi horor bisa jadi opsi yang menarik.

7 Tips Cara Menulis Cerita Hantu

Photo by Felipe Hueb

Setelah mengenal berbagai hal mengenai genre cerita horor di atas, sekarang adalah saatnya kamu mengambil pulpen dan kertas kemudian mulai menulis kisah horormu sendiri.

Menulis kisah horor kadang diartikan hanya sebatas kisah hantu dan mahluk gaib semata yang datang secara tiba-tiba di tengah malam dan udara dingin. Ini dilakukan sangat banyak penulis di Indonesia, menggambarkan cerita horor dengan gaya yang sama.

Nah, supaya lebih menarik, beberapa tips berikut ini mungkin akan membuatnya sedikit berbeda.

Gunakan Ketakutan Kamu Sendiri

Photo by Longxiang Qian

Langkah pertama cara membuat cerita horor di wattpad atau dimana pun kamu ingin menulis, adalah dengan menggunakan ketakutan kamu sendiri sebagai idenya.

Bagaimana maksudnya?

Apa yang kamu takutkan dari sesuatu yang bertemakan horor semacam ini? Apakah kegelapan? Ketinggian? Ruangan yang gelap dan tertutup? Kesepian dan kesendirian yang mencekam? Perairan terbuka yang dalam? Atau apa?

Apa pun itu, kamu bisa menggunakannya untuk mengangkat ketakutan cerita yang kamu tulis menjadi lebih kuat dan menggigit.

Jika ketakutanmu adalah tentang ketinggian, maka tulislah cerita horormu itu yang kengeriannya seperti halnya ketinggian yang menggentarkan hatimu. Kamu misalnya dapat melukiskan bagaimana napasmu yang hampir putus ketika dipaksa berjalan di atas jalan dengan lebar hanya 50 centimeter dengan  sisi salah satunya adalah jurang yang dalam dan gelap.

Atau jika ketakutanmu adalah tentang ruangan gelap dan tertutup, kamu mungkin bisa membayangkan setting cerita seperti goa, bekas galian tambang, atau bahkan terowongan panjang tak berujung.

Lukiskan semua ketakutanmu dengan lengkap. Bagaimana udaranya yang pengab seolah membekap mulutmu, hawanya yang dingin seakan membuat kamu menggigil , atau kekhawatiranmu jika sesosok makhluk menerkammu dari kegelapan dimana cahaya sama sekali tak bisa menyentuh matamu.

Gambarkan semua ketakutanmu itu dengan sempurna.

Pilih Hantu Sebagai Apa

Photo by cottonbro

Kesan apa yang kamu ingin pembacamu rasakan mengenai sosok hantu dan subyek ketakutan dalam novel horor yang kamu tulis?

Apakah kamu ingin pembacamu membencinya? Mencintainya? Atau hanya sekedar merasa takut dengan wujudnya yang seram dan kehadirannya di tengah malam?

Kamu tentu saja dapat memilih hantu sebagai sosok protagonis yang membalas dendam karena disakiti, seperti mayoritas ide cerita klise hantu di Indonesia yang datang bergentayangan karena ia dulunya adalah gadis baik hati yang diperkosa.

Atau kamu ingin membuat sesuatu yang lebih kaya lagi, dimana sosok hantu yang menjadi pusat horor adalah sesuatu yang ditakuti sekaligus jahat dan biadab?

Apakah hantu dalam ceritamu sebagai antagonis? Protagonis? Atau apa?

Tetapkan hal itu sebelum kamu menuliskannya.

Berikan Hantu Kisah Hidup yang Menarik

Photo by Alexandro David

Cerita horor dengan hantu yang datang secara tiba-tiba dan tanpa alasan, bukanlah jenis cerita horor yang menarik. Bagaimana pun juga misteriusnya sosok hantu, kamu harus memberi mereka masa lalu untuk menguatkan karakternya.

Kamu dapat memutuskan darimana sosok hantu dalam ceritamu berasal? Apakah ia pernah hidup sebagai manusia sebelumnya atau, ia adalah makluk jahat yang terlahir dari rahim iblis?

Jika ia adalah manusia, kamu dapat menambahkan lagi apa identitasnya; apakah ia laki-laki atau perempuan? Apakah ia tewas terbunuh ataukah bunuh diri? Berapa usianya? Mengapa ia menjadi sosok hantu yang menebarkan teror dalam ceritamu? Apa motivasi sosok horor itu sebenarnya.

BACA JUGA:

Gunakan Setting yang Tepat

Photo by Mike

Ini menarik dan kamu pastinya sudah sangat sering beradaptasi dengan hal ini.

Untuk pembaca Indonesia, kisah tentang vampir penghisap darah atau manusia serigala yang berubah di bulan purnama, mungkin tidak akan semenakutkan sosok pocong yang melompat-lompat di bawah serumpun batang pisang.

Lingkungan atau setting adalah sesuatu yang sangat krusial dalam penulisan cerita, termasuk cerita horor jenis apa pun. Setting, sperti yang mungkin sudah pernah kamu baca dalam artikel saya lainnya bahwa, tidak hanya tempat dan lokasi.

Kamu dapat menjadikan kepercayaan, kondisi politik, adat istiadat dan sosial budaya sebagai setting atau latar. Sesuaikan setting dengan jenis sosok horor yang kamu pilih yang harus pula dikorelasikan dengan target pembaca yang kamu sasar.

Indonesia, Malaysia, Brunei Darussalam mungkin akan familiar dengan gambaran sosok hantu seperti kuntilanak dan pocong. Namun di negara seperti Rusia atau Maroko, sosok ini tidak begitu menakutkan untuk dijadikan sentral horor.

Berikan Subjek Horor Beberapa Aturan

Photo by Phil

Bahkan hantu dan makhluk gaib pun membutuhkan aturan.

Ketika kamu menulis sebuah ceruta dimana satu karakter memiliki kekuatan yang tak terbatas dan tak memiliki aturan, maka dengan segera cerita itu akan menjadi membosankan. Begitu pula dengan unsur cerita horor, kamu pun harus memberi mereka batasan untuk membuatnya tetap menarik.

Aturan ini misalnya adalah bahwa sosok horor yang kamu ceritakan hanya muncul pada waktu-waktu tertentu, atau ia tidak bisa menyakiti manusia secara langsung melainkan menginsinspirasi manusia untuk mencelakakan diri mereka sendiri, dan lain sebagainya.

Sekali lagi, beri beberapa sosok horor itu aturan dan batasan.

Dasarkan pada Riset

Photo by OVAN

Beberapa penulis cerita horor mengakui bahwa mereka menulis berdasarkan riset yang cukup di lapangan atau pun melalui media lainnya. Bahkan penulis KKN di Desa Penari yang sempat viral itu mengklaim bahwa tulisannya adalah jenis cerita non fiksi horor yang terilhami dari kejadian nyata.

Memang sulit mempercayai hal ini tanpa mengajukan banyak pertanyaan. Akan tetapi yang pasti, sebuah kisah horor yang didasarkan pada riset dan bersumber pada sesuatu yang riil di dunia nyata (terlepas apakah ia fiksi murni atau tercampur dengan realitas) akan selalu lebih menarik untuk dibaaca.

Menariknya lagi, meskipun bukan termasuk novel yang utuh, cerita horor panjang seram seperti KKN di Desa Penari adalah cerita dimana penulisnya mampu menyampaikan berbagai narasi cerita yang unik dan diklaim diperolehnya dari berbagai sudut pandang.

Hindari Sesuatu yang Klise dan Terlalu Mudah Ditebak

Photo by Rene Asmussen

Nah, tips terakhir untuk kamu yang memiliki keinginan untuk menulis kisah horor adalah; hindarilah untuk membuat sebuah jalinan cerita yang klise, terlampau umum dan sangat mudah ditebak.

Kuntilanak yang menjadi hantu karena bunuh diri atau dibunuh setelah terlebih dulu diperkosa adalah contoh cerita horor yang klise. Pembaca akan mudah menebak jalan cerita semacam itu karena sudah terlalu sering mereka temukan.

Dalam penulisan cerita apa pun, kreativitas dan imjinasi memainkan peranan yang sangat vital, bahkan untuk sosok hantu sekali pun.

Carilah plot yang tidak terpikirkan sama sekali oleh pembaca atau mereka sama sekali tidak membayangkan jalan cerita ke arah itu.

Ini mungkin tidak mudah untuk dilakukan, namun itu jauh lebih baik daripada menulis cerita fiksi yang cerita itu sudah diceritakan oleh ratusan penulis horor lainnya dengan nama karakter dan setting yang berbeda-beda.

BACA JUGA:

Bagaimana Selanjutnya?

Photo by Lennart Wittstock

Pada dasarnya cara menulis cerita hantu atau novel horor tidak memiliki banyak perbedaan dengan menulis novel genre tertentu lainnya.

Namun, karena kamu memiliki ketakutan, keseraman dan kengerian sebagai unsur utama cerita, maka kamu harus memfokuskan diri untuk dapat menampilkannya unsur tersebut semaksimal mungkin.

Kunci kesuksesan kamu selanjutnya adalah kedisiplinan, berlatih dan terus-menerus menulis. Pada hakikatnya, penulis apa itu genrenya, tidak bisa mencapai kesuksesan dalam berkarya tanpa disiplin dan kerja keras.

Jadi, semangatlah untuk terus menulis!



anton sujarwo

Anton Sujarwo

Saya adalah seorang penulis buku, content writer, ghost writer, copywriters dan juga email marketer. Saya telah menulis 15 judul buku, fiksi dan non fiksi, dan ribuan artikel sejak pertengahan tahun 2018 hingga sekarang.

Dengan pengalaman yang saya miliki, Anda bisa mengajak saya untuk bekerjasama dan menghasilkan karya. Jangan ragu untuk menghubungi saya melalui email, form kontak atau  mendapatkan update tulisan saya dengan bergabung mengikuti blog ini bersama ribuan teman yang lainnya.

Tulisan saya yang lain dapat dibaca pula pada website;

Saya juga dapat dihubungi melalui whatsapp di tautan ini.

Fortopolio beberapa penulisan saya dapat dilihat disini:


CARA MEMBUAT KERANGKA NOVEL ATAU OUTLINE NOVEL DALAM 5 LANGKAH SEDERHANA

Baru-baru ini dalam kelas menulis online yang saya bimbing, seorang peserta bertanya tentang bagaimana cara membuat kerangka novel yang baik. Saya kemudian menjelaskan teknis membuat outline novel seperti biasanya. Menariknya, beberapa hari kemudian si peserta ini kembali menghubungi saya melalui nomor whatsapp.

Ternyata ia masih mengajukan pertanyaan yang sama yakni, mengenai cara membuat outline atau kerangka novel. Hal ini membuat saya memutuskan untuk secara khusus menulis artikel tentang menyusun kerangka atau outline novel berikut ini.

Nah, apa saja yang harus kamu ketahui tentang cara membuat kerangka novel atau outline novel?

Yuk, simak ulasannya berikut ini.

Panduan Cara Membuat Kerangka Novel atau Outline Novel yang Mudah dan Sederhana

“Pada akhirnya, karakter atau tokoh-lah yang akan menentukan alur cerita, bukan kerangka atau outline. Jadi, bebaskan sayap imajinasimu selama menulis walau pun kamu sudah memiliki kerangka”

A Wan Bong
Photo by Startup Stock Photos

Tidak semua penulis menggunakan outline dalam gaya menulis mereka. Penulis horor paling populer di dunia seperti Stephen King adalah salah satu orang tidak terbiasa dengan plotting. Namun orang seperti Dan Brown dan J.K. Rowling, justru menganggap outline sebagai sesuatu yang sangat penting dalam menulis cerita.

Kerangka novel adalah seperti denah arsitektur bagunan cerita yang utuh. Outline menjadi gambaran besar mengenai plot, karakter, scene, opening dan ending cerita. Layaknya sebuah peta yang lengkap dengan koordinat, outline akan memandu penulis untuk menulis always on the track.

Meskipun saat ini sudah berkembang banyak aplikasi membuat outline novel yang bisa kamu download dengan mudah, kamu juga harus tahu cara menyusunya secara alami. Dan tidak ada cara terbaik mengetahuinya selain memulainya secara komprehensif. Termasuk dengan memahami pengertian sebenarnya dari kerangka atau outline cerita itu sendiri.

Pengertian Kerangka Novel atau Outline Novel

Photo by pedro

Outline atu kerangka novel adalah sebuah dokumen yang didalamnya terdapat berbagai informasi penting tentang perencanaan penulisan novel. Informasi ini termasuk juga tentang struktur cerita, plot, alur, setting, karakter, dan lain sebagainya.

Outline novel ringkasnya, adalah seperti blueprint atau kerangka (seperti halnya tulang manusia) dari novel yang kamu tuliskan.

Contoh kerangka outline novel dapat memiliki bentuk yang bermacam-macam. Kamu bisa membuatnya dalam bentuk struktur umum, diagram, tabel atau apa pun saja. Outline novel lebih kepada peta pikiran visual mengenai poin-poin penceritaan yang kamu anggap penting.

Dalam membuat kerangka novel, setiap bagian atau poin, cukup kamu tulis dalam bentuk kalimat pendek saja. Poin-poin ini adalah bagian penting dalam momen ceritamu yang kemudian saling berhubungan satu sama lain dalam membentuk alur cerita.

Membingungkan?

Nanti kita akan lihat contohnya, ya.

Keunggulan Menggunakan Outline dalam Penulisan Novel

Photo by Oleg Magni

Dalam dunia kepenulisan, penulis yang menggunakan kerangka atau outline dalam menulis seringkali disebut sebagai plotters. Kata ini tentu saja berasal dari kata ‘plot’. Saya sendiri bahkan memberikan istilah ‘plotting’ dalam kelas menulis yang saya bimbing untuk pekerjaan membuat kerangka seperti ini.

Dari sisi keunggulannya sebagai metode menulis, penggunaan plotting cerita dengan membuat kerangka atau outline setidaknya memiliki 7 manfaat yang paling signifikan.

  • Menjaga cerita yang kamu tulis tetap di jalur yang sudah direncanakan.
  • Membantu penulis untuk memvisualisasikan gambaran cerita secara lebih mudah.
  • Memudahkan kamu untuk melihat arah dalam menyusun adegan cerita.
  • Mampu menyajikan karakter dengan cukup spesifik, termasuk tindakan mereka yang krusial misalnya.
  • Dapat berlaku seperti ‘senter’ ketika penulis mengalami kebutaan dan kebuntuan dalam proses menulis.
  • Memperjelas bagian tengah cerita yang jika tidak disusun, kadang-kadang seolah memunculkan kekacauan.
  • Untuk para penulis pemula, kerangka novel adalah peta yang membantu mereka mengenal jalan apa yang mereka harus mereka tempuh selanjutnya.

Kelemahan Menggunakan Kerangka Novel atau Outline

Photo by Monstera

Meskipun memiliki serangkaian keunggulan, membuat kerangka novel atau outline dalam cerita juga memiliki kelemahan yang oleh beberapa penulis, dianggap fatal.

Stephen King dan Margaret Atwood, dua orang yang disebut-sebut sebagai penulis yang ‘anti-outline’, mengatakan bahwa outline bisa saja bukan ide bagus dengan alasan sebagai berikut;

  • Jika diikuti terlalu dekat, outline bisa terlihat seperti formulasi atau desain yang menjadi jiplakan cerita.
  • Dapat membuat narasi cerita yang kaku karena sudah berfokus pada cetakan outline.
  • Dapat lebih banyak kepada pertunjukan semata dan miskin narasi cerita yang mampu membangkitkan imajinasi dan emosional pembaca.
  • Karakter dalam cerita bisa nampak tidak bertindak secara orisinil atau otentik melainkan hanya berdasarkan panduan plot semata.

Mana yang Terbaik; Menggunakan Outline atau Tanpa Menggunakan Outline?

Photo by Negative Space

Saya pernah membuat contoh kerangka novel pribadi pada buku ke-10 saya yang berjudul Islamedina Si Wajah Cahaya. Uniknya, saya menemukan apa yang disampaikan dalam dua hal di atas adalah benar sekaligus.

Keunggulan-keunggulan outline yang bisa menjadi road map, mampu menjadi pagar supaya cerita tidak keluar dari track, membantu penulis tetap bisa menulis meskipun sedang mengalami kebuntuan. Semuanya sempat saya alami sendiri ketika menulis novel Islamedina, baik untuk jilid pertama mau pun untuk jilid yang kedua.

Pada saat yang sama, saya juga menemukan bukti bahwa apa yang dikatakan oleh Stephen King dan Margaret Atwood juga benar.

Risiko narasi yang miskin, kaku dan nampak kurang otentik tetap membayangi sepanjang penulisan. Namun, karena ini bukan contoh kerangka novel fiksi yang saya sebagai penulis bisa mengembangkannya semau sendiri, saya tentu saja harus mengikuti kisah cerita yang orisinil.

Mengambil kesimpulan dari proses ini, sebagai penulis saya sepakat dengan pernyataan bahwa; Tidak ada cara yang mutlak benar dalam menulis novel.

Artinya, kamu boleh memilih untuk menggunakan kerangka atau memilih untuk tidak mengimplementasikannya. Pada akhirnya, hal ini hanya akan bergantung pada jenis penulis seperti apakah kamu dan, bagaimana gaya penulisan yang paling ideal untuk kamu lakukan.

Bagaimana Cara Membuat Kerangka Novel atau Outline Novel dalam 5 Langkah

Setelah kamu mengetahui berbagai hal mendasar tentang penggunaan outline novel atau kerangka cerita fiksi, sekarang adalah saat untuk mempraktikkannya.

Ini sebenarnya tidak akan begitu sulit, terutama jika  kamu dapat menerapkan 5 langkah paling mendasar berikut ini.

Tangkap dan Tetapkan Ide Besar Cerita (Premis)

Photo by Thilo Lehnert

Sesuai dengan namanya, ini adalah ide besar cerita. Namun dari ide ini juga nantinya, kamu dapat membuat contoh kerangka karangan novel dengan lebih mudah.

Daripada memikirkan formulasi yang membingungkan, cara yang sederhana dalam menangkap premis cerita atau ide besar cerita adalah dengan mengajukan pertanyaan berikut:

  • “Apa yang akan terjadi jika…”
  • “Selanjutnya apa yang mungkin akan berlaku kalau…”
  • Dan semacamnya.

Contoh mudahnya seperti ini;

  • “Apa yang akan terjadi jika seorang mantan penjahat memutuskan untuk bertobat namun ia dililit kemiskinan kemudian ada yang menawarinya pekerjaan sebagai pembunuh bayaran, dan dalam pekerjaan itu sahabat terdekat disiksa sampai mati?” (Jawabannya kamu bisa temukan dalam film Unforgiven yang dibintangi oleh Clint Eastwood)
  • “Selanjutnya apa yang akan berlaku kalau seorang gadis cantik diculik sementara ayahnya adalah seorang mantan marinir yang terbiasa bergaul dengan dunia hitam, sedangkan ia sendiri sudah bercerai dengan ibunya si gadis dan tinggal sendiri di apartemennnya (Taken yang dibintangi oleh Liam Neeson)

Kamu tentu dapat membuat lagi contoh yang seperti itu, bukan?

Photo by cottonbro

Intinya adalah, kamu menemukan dan menangkap ide besar cerita yang akan kamu tuliskan dalam satu kalimat seperti contoh di atas.

Untuk membantumu lebih mudah dalam menangkap premis dan mengubahnya menjadi contoh outline cerita, berikut beberapa pertanyaan yang bisa kamu ajukan;

  • Bagaimana situasi yang terjadi?
  • Siapa sebenarnya yang menjadi tokoh utama cerita?
  • Bagaimana tokoh utama cerita mengalami perubahan dari awal hingga ending novel?
  • Apa yang tokoh utama cerita itu inginkan sebenarnya?
  • Bagaimana tokoh utama cerita mencapai keinginannya? Apa yang ia lakukan?
  • Apakah ada yang menghalangi tokoh utama cerita dalam mencapai tujuannya?
  • Apa sebenarnya yang ingin kamu katakan pada pembaca? Apa pesan ceritamu sebenarnya?
  • Apa konflik terbesar dalam novel?

Tentukan Setting atau Latar Cerita

Photo by Taryn Elliott

Setelah kamu mendapatkan premis, hal selanjutnya yang bisa kamu lakukan sebelum membuat outline adalah dengan menetapkan setting atau latar cerita. Seperti yang kamu tahu, setting dapat berupa tempat, waktu, keadaaan sosial, adat istiadat, keyakinan atau agama, dan lain sebagainya.

Cara membuat outline novel fantasi mungkin tidak akan sama dengan novel fiksi sejarah dimana kamu menggunakan tempat yang nyata. Setting dalam penulisan cerita juga sangat bergantung pada jenis cerita separti apa yang kamu sedang tuliskan.

Jika kamu menulis novel historical fiction dengan setting nyata, kamu harus mampu melukiskannya dengan detail, rinci dan spesifik. Untuk kepentingan ini, kamu dapat melakukan riset sedalam mungkin, termasuk dengan misalnya menemukan foto, dokumen, atau pun yang menjadi gambaran komprehensif setting tersebut.

Cara membuat kerangka novel sejarah dengan setting nyata di dalamnya akan memberikan kamu tugas untuk mampu melukiskan settingnya secara lengkap. Apa yang terjadi pada masa itu, bagaimana karakter cerita menghadapinya, apa yang ia rasakan, apa yang dia lihat dan apa pula yang ia dengar.

Keseluruhan elemen itu akan mampu menggambarkan setting cerita yang lengkap.

Ketahui Karakter atau Tokoh Ceritamu

Photo by cottonbro

Langkah selanjutnya yang harus kamu lakukan lagi setelah setting adalah memvisualisasikan karakter atau tokoh ceritamu.

Jika tema novelmu adalah tentang persahabatan dan tujuan kamu sekarang adalah membuat contoh kerangka novel persahabatan, maka pada langkah ketiga ini kamu harus menjelaskan siapa saja karakter yang akan menjadi bintang dalam novel persahabatanmu.

Hal ini mungkin membutuhkan cukup banyak energi dan antusiasme untuk bisa diwujudkan. Namun sebagai tips-tips untuk membantumu, kamu bisa mengajukan beberapa pertanyaan berikut dalam pengerjaannya.

  • Siapa atau karakter yang mana yang akan menjadi pusat plot novel, yang semua jalan cerita dalam novel itu terkait dengan dirinya?
  • Siapa saja karakter atau tokoh pembantu yang kehadirannya hanya untuk mengisi setting dan melengkapi jalan cerita?
  • Perjalanan seperti apa yang akan dilakukan oleh setiap karakter dalam novel?
  • Pada bagian mana karakter tersebut akan kamu perkenalkan, dan pada bagian mana pula ia akan ditampilkan terakhir kali?
  • Detail apa dari karakter yang akan kamu tampilkan dalam novel dan mengapa kamu ingin menampilkannya?
  • Dan lain-lain.

Dengan mempertanyakan hal-hal tersebut, proses membuat contoh kerangka novel apa pun saja pada langkah visualisasi karakter atau tokoh akan menjadi lebih mudah.

Bangun Plot Novel

Photo by cottonbro

Saya biasanya berhenti pada bagian ini ketika membuat kerangka novel. Timeline berbagai kejadian yang akan diceritakan dalam novel, saya buat dalam poin-poin yang sederhana seperti struktur kelas, kemudian struktur tersebutlah yang saya ubah menjadi novel yang utuh.

Namun untuk membuat penjelasan tentang cara membuat kerangka cerita wattpadd, novel online, offline atau novel jenis apa pun ini lebih lengkap, maka saya ingin kamu juga menerapkan pembagian tiga hal berikut dalam langkah membangun plotnya.

Bagian Awal

Photo by Breakingpic

Bagian ini adalah bagian krusial yang penting untuk kamu dapat menarik perhatian pembaca.

Pada bagian ini kamu harus dapat memperkenalkan siapa saja tokoh cerita, siapa karakter protagonis yang akan menjadi pahlawan, siapa karakter antagonis yang akan menjadi penjahat, dan lain sebagainya. Di bagian awal cerita juga kamu harus mampu mengemukakan pertanyaan dramatis dalam cerita.

Intinya, bagian awal adalah bagian dimana semua yang akan terjadi dalam novel kamu perkenalkan kepada pembaca. Bagian ini sekali lagi, harus membuat pembaca menjadi tertarik.

Bagian Tengah

Photo by Gantas Vaiu

Terus terang, bagian tengah dalam mayoritas novel adalah bagian dimana ketegangan menguap, antusiasme menghilang dan potensi kekacauan seringkali terjadi.

Tapi jangan khawatir, ini terjadi pada hampir semua novel.

Bagian tengah memang seringkali menjadi pelandaian cerita yang justru terasa membosankan. Bahkan saya paling banyak menghadapi gejala writer’s block dalam menulis novel adalah ketika menulis bagian tengah novel.

Namun kabar bagusnya adalah ada satu tips yang bisa kamu lakukan untuk membuat bagian tengah ini tetap merangkak di ‘jalan yang benar’.

Tipsnya adalah dengan mengetahui klimaks atau bagian akhir cerita. Ini mungkin terdengar prematur, tapi dengan mengetahui bagaimana cerita dan novel yang kamu tulis akan berakhir, kamu akan tetap bisa mengatur bagian tengah untuk tetap berjalan pada rute yang jelas.

Bagian Akhir

Photo by Maria Orlova

Kamu tidak perlu membuat ending novelnya terlalu spesifik lebih dulu. Cukup dengan membuat pertanyaan saja misalnya;

  • “Bisakah Tatras mencapai Puncak Tebing Selatan gunung Merapi?” (Merapi Barat Daya – Anton Sujarwo)
  • “Apakah Zainuddin dan Hayati akan bersatu?” (Tenggelamnya Kapal Van Der Wick – Hamka)
  • “Apa yang Bharal akan peroleh setelah melakukan perjalanan hiking terpanjang di pulau Jawa ini?” (MMA Trail – Anton Sujarwo)

Membuat ending novel dan memilih mana jenis ending yang paling tepat untuk kamu gunakan, dapat kamu baca dalam artikel ini: 10 Jenis Ending Novel dalam Penulisan Novel.

Mulailah untuk  Menulis Adegan Novel

Photo by Jonathan Cooper

Bagian terakhir dari langkah dan cara membuat kerangka novel adalah dengan membuat scene atau adegannya.

Pada langkah ini kamu dapat menentukan adegan apa saja yang akan berlangsung pada satu bagian atau bab novel? Siapa saja karakter yang terlibat dalam adegan tersebut? Apakah ada interaksi dan reaksi yang kuat ataukah hanya dialog saja? Dimanakah latar yang digunakan? Apakah latarnya adalah waktu, tempat, budaya, agama, situasi politik, atau apa?

Jika dalam adegan tersebut ada dialog, kamu pun harus memastikan bahwa dialog itu tetap memiliki unsur penting dalam cerita dan tidak hanya menjadi ‘pelengkap kekacauan’ saja. Jika kemudian ada flashback, kamu harus memastikan bahwa flashback yang terjadi juga memiliki peran besar dalam menyempurnakan cerita novel.

Mengenai penulisan flashback dan pertimbangan apa saja yang perlu dilakukan sebelum memulainya, dapat kamu baca dalam artikel ini: Haruskah sebuah novel menggunakan flashback?

Bagaimana Selanjutnya?

Photo by Matthew DeVries

Setelah kamu mempelajari teknis dan panduan menulis kerangka novel atau outline novel dalam artikel ini, perlu juga untuk kamu tahu bahwa pada akhirnya karakter atau tokoh cerita-lah yang akan menentukan plot yang sebenarnya.

Sebagai penulis yang kaya akan intuisi, imajinasi dan insting, kamu juga tidak bijaksana jika sepenuhnya bergantung pada outline atau kerangka novel. Di tengah cerita dan penulisan sambil berpedoman pada garis besar cerita, kamu dapat mengikuti instingmu untuk menulis secara lebih bebas dan nyaman.

Mempelajari cara membuat kerangka novel adalah penting untuk memahami garis besar cerita. Akan tetapi bagaimana pun juga sekali lagi; karakter cerita-lah yang akan menentukan plot novelmu pada akhirnya.


anton sujarwo

Anton Sujarwo

Saya adalah seorang penulis buku, content writer, ghost writer, copywriters dan juga email marketer. Saya telah menulis 15 judul buku, fiksi dan non fiksi, dan ribuan artikel sejak pertengahan tahun 2018 hingga sekarang.

Dengan pengalaman yang saya miliki, Anda bisa mengajak saya untuk bekerjasama dan menghasilkan karya. Jangan ragu untuk menghubungi saya melalui email, form kontak atau  mendapatkan update tulisan saya dengan bergabung mengikuti blog ini bersama ribuan teman yang lainnya.

Tulisan saya yang lain dapat dibaca pula pada website;

Saya juga dapat dihubungi melalui whatsapp di tautan ini.

Fortopolio beberapa penulisan saya dapat dilihat disini:


APA ITU SHOW DON’T TELL DALAM PENULISAN FIKSI DAN CARA MUDAH MEMPRAKTIKKANNYA

Sulit bagi pembacamu untuk meletakkan buku yang kamu tulis jika kamu menggunakan teknik Show don’t tell. Penulisan dengan cara seperti ini, seolah menarik tangan para pembaca untuk masuk dalam cerita, merasakan setiap lekuk petualangan yang dilakukan oleh karakter yang kamu ceritakan.

Show don’t tell tentu saja sangat gampang secara teori. Kamu dan hampir semua orang sudah pasti paham maksudnya, bukan?

Tapi bagaimana dengan mengaplikasikannya dalam penulisan fiksi?

Tentu saja tidak sesederhana artinya. Bahkan penulis berpengalaman dengan jam terbang tinggi sekali pun, banyak yang masih gagal mempraktikkan show and tell dalam penulisan mereka.

Memahami Apa Itu Show Don’t Tell dalam Penulisan Fiksi dan Penulisan Umum

Photo by Amina Filkins

“Kita adalah penulis, Sayangku. Kita tidak menangis dengan air mata berurai, tapi kita bersimpah darah dengan kata-kata di atas kertas”

Anonim

Untuk dikatakan sebagai sebuah teknik, show don’t tell rasanya lebih jauh lagi perannya. Seorang penulis yang mampu mengaplikasikan apa itu show and tell dalam tulisan mereka, bukan hanya mampu membius pembaca untuk terus membaca, namun mereka juga mampu membuat pembaca hadir dalam cerita itu sendiri secara emosional.

Tentu saja mempraktikkan show don’t tell dalam penulisan tidak semudah mengucapkannya. Kamu akan membutuhkan waktu untuk berlatih keterampilan yang satu ini hingga mampu mempraktikkannya secara mahir.

Akan tetapi berita baiknya adalah; show don’t tell dalam penulisan itu seperti kemampuan membaca, bahwa sekali kamu mampu melakukannya, kamu tidak akan pernah lupa. Show and tell dalam menulis juga adalah sebuah keterampilan, yang artinya semakin sering kamu mengasahnya, maka semakin hebat pula kamu didalamnya.

Lantas apa sebenarnya keterampilan ini dan adakah contoh show don’t tell yang lebih mudah untuk dipahami?

Saya mengajak kamu untuk mempelajarinya lebih lanjut.

Perbedaan Antara Show and Tell

Photo by Karolina Grabowska

Sebagai seorang penulis kamu harus mampu memprovokasi pembacamu untuk merasakan pula bagaimana emosi yang kamu bangun dalam cerita.

Ketika kamu menulis tentang kesedihan dan kepedihan, kamu tentu ingin pembacamu merasakan hal yang sama, bahkan menangis dan berurai air mata. Sebaliknya, ketika kata-katamu adalah tentang tawa, bahagia dan canda, kamu juga ingin pembacamu untuk tersenyum, menarik napas lega serta berbinar-binar matanya.

Tapi pertanyaannya adalah; Bagaimana melakukan itu semua? Apa yang harus kamu lakukan?

Beberapa orang beranggapan bahwa teknik showing adalah rumus melakukan ini, persisnya keterampilan show don’t tell.

Nah, supaya lebih mudah untuk dipahami, pembahasan dua suku kata ini sendiri harus diterjemahkan secara terpisah.

Show atau Menunjukkan, Mempertontonkan dan Memperagakan

Photo by Amina Filkins

Show adalah sebuah ‘alat’ yang dipergunakan oleh penulis untuk menarik pembaca masuk dalam cerita yang mereka tulis. Dengan menggunakan show ini, penulis berusaha membangun hubungan yang kuat antara pembaca, setting dan karakter dalam cerita. Tidak ada tempat untuk penulis disini, penulis hanyalah orang yang menunjukkannya saja.

Kemampuan seorang penulis menunjukkan atau mempertontonkan adegan per adegan ceritanya kepada pembaca akan membawa pembaca untuk mandi dalam imajinasi mereka sendiri. Pembaca akan mengambil kesimpulan, menafsirkan, menduga bahkan memutuskan berdasarkan imajinasi dan interpretasi mereka sendiri.

Teknik showing ini laksana seorang operator layar tancap yang ia membentangkan kain kemudian menyorotinya dengan film.

Kamu mungkin tidak tahu siapa yang mengoperasikan film layar tancap, bagaimana ia memasang pitanya dan menghidupkan volume suara. Namun kamu pasti ingat film apa yang diputar karena kamu sendiri melihat dengan jelas adegan dalam film tersebut secara nyata di depan matamu.

Tell atau Memberitahu, Mengatakan dan Menjelaskan

Photo by cottonbro

Ketika kamu menggunakan gaya menulis dengan tell, maka kamu telah melakukan sebuah pencurian!

Hah, Pencurian?

Apa maksudnya?

Ya, saat seorang penulis hanya memberitahu pembacanya tentang sesuatu (tell not show), ia seumpama telah mencuri kesempatan para pembacanya untuk bertualang dan menemukan sesuatu dalam dunia yang ia ceritakan.

Pembaca kehilangan kesempatan mereka untuk menambahkan imajinasi mereka sendiri dalam bukumu. Interpretasi mereka tentang sesuatu objek, kondisi, pemikiran atau apa pun itu, menguap hilang seiring keputusanmu untuk memberitahu mereka apa yang terjadi.

Dalam pengertian yang lebih menarik, penulis yang hanya tell saja, seakan telah mengusir para pembaca mereka untuk keluar dari cerita. Ada sebuah batasan yang terbangun antara pembaca dengan cerita yang kamu tuliskan.

Dapatkah Penulis Menyeimbangkan Show and Tell dalam Cerita Mereka?

Source: slideplayer

Beberapa penulis pemula tertarik bertanya bagaimana cara agar showing dan telling seimbang dalam sebuah cerita?

Sulit untuk mengatakannya, namun kamu bagaimana pun juga, harus mengutamakan show dibandingkan tell. Kamu tidak bisa menakar keseimbangan ini secara spesifik, tapi yakinlah bahwa show akan jauh lebih baik untuk jenis kisah apa pun yang kamu ceritakan.

Ketika pembaca melihat cerita yang kamu tuliskan dari sudut pandang karakter atau tokoh, berat bagi mereka untuk meninggalkan bukumu hingga mereka menyelesaikannya. Pembaca seakan menyatu bersama karakter cerita, mereka melangkah dalam irama yang sama, mencium aroma yang sama, dan merasakan hal yang sama seperti yang dirasakan oleh karakter cerita.

Dalam pengertian ini, pembaca akan melihat, meraba, merasakan, mendengarkan dan juga memikirkan persis seperti berdasarkan karakter yang kamu ceritakan. Pembaca dalam hal ini adalah bagian dari cerita itu sendiri.

Untuk mampu mempraktikkan show secara sempurna dalam penulisan cerita, seorang penulis harus menyibak penutup emosi pembaca.

Hal ini tentu saja tidak mudah, namun coba perhatikan contoh teks show and tell berikut ini;

Photo by Aline Nadai

“Hujan telah turun, pakaian Usman dan Hania basah kuyup, mereka terus berjalan karena  lupa membawa payung”

Atau,

“Tidak ada payung, tidak ada tempat berteduh, dan tidak ada pula pilihan bagi Usman dan Hania selain terus melangkah. Butir-butir air yang semula seperti gemericik embun itu, sekarang menjelma laksana butiran jagung besarnya, memandikan rambut, wajah dan pakaian mereka”

Dua kalimat di atas mungkin bukan contoh paling sempurna showing dan telling tentang hujan. Namun coba saja kamu baca sekali lagi, mana di antara kedua kalimat itu yang akan melayangkan imajinasi kamu tentang hujan?

6 Tips Mudah Mempraktikkan Show Don’t Tell dalam Penulisan Cerita

Photo by Pixabay

Setelah memahami bagaimana show don’t tell begitu signifikan dalam penulisan cerita, pertanyaan paling pentingnya kemudian adalah; Bagaimana mengimplementasikannya dalam cerita yang ditulis?

Ini akan membutuhkan banyak perjuangan dan latihan, namun 6 tips berikut ini akan membantu kamu untuk bisa melakukannya dengan lebih mudah.

Jadi, ini adalah 6 hal yang bisa kamu lakukan.

Gunakan Panca Indera Karakter yang Kamu Ceritakan

Photo by diva Trajbariu

Untuk mendapatkan sentuhan show don’t tell yang pertama, kamu bisa menggunakan panca indera yang dimiliki oleh karakter ceritamu sendiri. Artinya adalah, kamu ajak pembacamu untuk berinteraksi dengan alur cerita melalu indera yang dimiliki oleh karakter cerita.

Untuk membuatnya lebih mudah, tips show and tell bisa kamu praktikkan dengan membuat daftar apa saja yang karakter kamu terima melalui panca inderanya.

  • Mata, apa yang karakter ceritamu lihat melalui matanya.
  • Telinga, apa yang tokoh dalam ceritamu dengar dengan telinganya.
  • Lidah dan mulut, apa yang karaktermu kecap dan rasakan melalui lidahnya.
  • Kulit dan tangan, apa yang mungkin karakter ceritamu rasakan melalui kulit mereka atau indera peraba mereka.
  • Benak, pikiran dan perasaan, apa yang mungkin tokoh ceritamu pikirkan dan rasakan.

Setelah kamu membuat daftar apa yang diindera oleh karakter cerita yang kamu tulis dalam salah satu adegan. Selanjutnya adalah membuat kalimat yang kuat dan aktif melalui penginderaan karaktermu sendiri.

Misalnya;

  • Sebuah adegan karakter bernama Jamal memuntahkan air kopinya yang ternyata tidak diberi gula, melainkan garam.

Coba buat begini;

  • Ketika tegukan air kopi itu masuk ke dalam mulut Jamal, ia merasakan sesuatu yang aneh. Tak ada rasa manis disana, hanya ada seperti semangkuk air laut yang diberi serbuk kopi untuk mengubah warnanya saja. Jamal tak tahan, ia pun memuntahkan kembali air kopi yang rasanya demikian pahit itu

Dan kamu bisa membuat contoh show don’t tel lainnya dengan lebih sempurna.

Jadilah Lebih Spesifik

Photo by Erik Karits

Tips kedua untuk mengimplementasikan show don’t tell dalam penulisan cerita adalah dengan membuatnya rinci, detail dan spesifik.

Rumusnya adalah; semakin spesifik cerita yang kamu sampaikan, semakin mudah efek show-nya diperoleh, dan semakin kuat ia tergambar dalam benak pembaca.

Hindari menggunakan istilah yang umum dan terlalu biasa untuk menggambarkan sesuatu. Jika kamu menceritakan karakter ceritamu memiliki kucing di rumahnya, maka tunjukkan itu dengan tingkah si kucing yang tertidur di ranjangnya, menunggu karakter sedang makan atau malah tertidur di atas pangkuannya.

Meskipun demikian, tidak semua bagian menarik dikisahkan spesifik, terlebih lagi jika itu berulang-ulang untuk menjelaskan hal yang sama. Khusus untuk hal ini, kamu dapat menemukan keseimbangan antara show dan tell mengenai bagaimana menempatkannya dalam cerita.

Gunakan Dialog

Photo by SHVETS production

Jika kamu bertanya bagaimana mengaplikasikan teknik showing yang paling mudah dalam cerita? Maka inilah jawabannya; gunakan dialog.

Dialog atau percakapan yang terjadi antar karakter adalah cara termudah untuk show. Ini juga merupakan cara yang mudah untuk menunjukkan aksi real time yang karaktermu lakukan. Dengan dialog, apa yang karakter cerita kamu lakukan dapat dengan mudah digambarkan dan ditunjukkan melalui sudut pandang karakter.

Berlatihlah untuk menggunakan dialog yang kuat dan menarik, karena dialog selalu menjadi alat show yang mudah dalam menulis cerita.

Gunakan Kosakata yang Kuat atau Aktif

Photo by Brett Jordan

Untuk menggambarkan sebuah adegan yang penting dalam cerita, kamu harus dapat memilih kosakata atau kata kerja yang kuat dan berpengaruh. Salah satu cara mengenalinya adalah dengan melihat bahwa kosakata ini dinamis dan seringkali memiliki konotasi gerakan.

Kosakata seperti; cinta, benci, rindu, percaya, pasrah dan sejenisnya, adalah kosakata yang statis dan nampak tidak memberikan energi pada imajinasi pembaca.

Namun ketika kamu memilih kosakata; berjalan, tersenyum, melangkah, berlari, terbang, berkata, berpikir dan memukul misalnya, pembacamu akan melihat gerakan dalam imajinasi mereka.

Dan itu cukup efektif untuk menunjukkan adegan dengan lebih jelas. Alih-alih hanya memberitahunya saja kepada pembaca.

Hindari Kata Keterangan

Photo by Zachary DeBottis

Kata keterangan yang tidak perlu kadang-kadang membuat pembaca justru terhalang untuk ikut menggunakan imajinasi mereka dalam cerita. Dengan kata keterangan yang ditempatkan pada lokasi dan situasi yang tidak tepat, kamu seolah-olah telah membangun sebuah pagar yang samar di antara pembaca dan cerita yang kamu tulis.

Untuk membuatnya lebih mudah, kamu bisa kembali pada contoh teks show don’t tell Usman dan Hania yang basah kuyup oleh hujan tadi.

Atau kamu juga bisa melihat contoh ini;

  • Jalan buntu dan mati langkah! Pencopet itu terpojok sekarang, semua mata penumpang bus seolah panah-panah yang ditembakkan ke arahnya. Ia gemetar, mukanya pucat laksana kain kapan, tamat ia sekarang!

Bandingkan dengan ini;

  • Pencopet itu terpojok sekarang, tak bisa kemana-mana, kebingungan dan ketakutan melanda dirinya.

Perbanyak Fokusmu pada Aksi dan Reaski

Photo by NEOSiAM 2021

Daripada mengatakan bahwa tokoh antagonismu misalnya ‘bejat dan tak bermoral’, bagaimana jika kamu menunjukkan kepada pembaca bahwa tokoh itu tega merampas uang dari ibunya sendiri yang baru saja pulang menjual kayu bakar setelah ia sendiri kalah bermain judi?

Atau daripada mengatakan karaktermu ‘seorang yang dermawan’ mengapa tidak menunjukkannya dengan ia sengaja meluangkan waktu pada setiap sore hari Jum’at untuk mengantarkan uang santunan ke panti asuhan?

Intinya adalah, kamu harus berfokus pada reaksi dan aski yang dilakukan oleh karaktermu.

Aksi dan reaksi akan membuat gambaran yang lebih kuat dalam imajinasi pembaca daripada kamu mengatakannya secara langsung dalam kata-kata yang umum. Bahkan reaksi dan aksi juga bisa kamu gunakan untuk membuat opening yang menarik sekaligus show don’t tell pada pembacamu.

  • Dorr!!! Percikan api menyembur dari ujung pistol di tangan Joane. Jemari lentik itu tak tahan lagi nampaknya, pelatuk senjata itu diremasnya dengan sekuat  tenaga!

Atau,

  • Tatang melompat, hampir terjengkang ke petak sawah di belakangnya, matanya memandang nanar melihat ular sawah yang baru saja lewat hanya satu setengah meter dari kakinya.

Itu mungkin bukan contoh awalan novel yang menarik, namun yang pasti kalimat seperti itu aktif secara aksi dan reaksi. Dalam implementasi show don’t tell, itu cukup layak untuk kamu coba.

Kesimpulannya Sekarang

Photo by Anete Lusina

“Mustahil bagi seseorang untuk dapat mempelajari sesuatu yang ia sendiri pikir, ia sudah sangat pandai di dalamnya”

– Epictetus –

Ada latihan yang panjang dan disiplin hingga kamu terbiasa dan mudah mengaplikasikan kemampuan show don’t tell dalam ceritamu. Namun sekali kamu bisa melakukannya, hal ini akan semakin mudah untuk dipraktikkan dalam kondisi bagaimana pun.

Jadi, selamat mencoba!


anton sujarwo

Anton Sujarwo

Saya adalah seorang penulis buku, content writer, ghost writer, copywriters dan juga email marketer. Saya telah menulis 15 judul buku, fiksi dan non fiksi, dan ribuan artikel sejak pertengahan tahun 2018 hingga sekarang.

Dengan pengalaman yang saya miliki, Anda bisa mengajak saya untuk bekerjasama dan menghasilkan karya. Jangan ragu untuk menghubungi saya melalui email, form kontak atau  mendapatkan update tulisan saya dengan bergabung mengikuti blog ini bersama ribuan teman yang lainnya.

Tulisan saya yang lain dapat dibaca pula pada website;

Saya juga dapat dihubungi melalui whatsapp di tautan ini.

Fortopolio beberapa penulisan saya dapat dilihat disini:


PROFIL KELAS MENULIS ONLINE DI PENULIS GUNUNG ID DAN TATA CARA BERGABUNG

Saya memutuskan untuk membuka kelas menulis online di Penulis Gunung Id setelah mendapatkan begitu banyak permintaan bimbingan penulisan. Pertanyaan mengenai bagaimana cara menulis, apa yang harus dilakukan, bagaimana tips yang ampuh dan lain sebagainya, hampir setiap hari masuk melalui nomor whatsapp dan email saya.

Nah, dalam artikel kali ini pula, saya akan menjelaskan profil kelas menulis ini dan bagaimana jika kamu tertarik untuk bergabung didalamnya dan belajar bersama.

Ada segudang manfaat dan keunggulan yang bisa kamu dapatkan jika memutuskan belajar di kelas menulis online Penulis Gunung Id ini. Namun, sebelumnya saya akan mengajak kamu berkenalan lebih dulu dengan program yang satu ini.

Apa Itu Kelas Menulis Online Penulis Gunung Id?

Photo by Artem Podrez

Seperti halnya kelas menulis online untuk pemula lainnya, Kelas menulis online di Penulis Gunung Id pun secara khusus diperuntukkan bagi pemula. Untuk kamu yang baru akan memasuki dunia penulisan, ingin menulis buku, ingin menulis artikel, novel, memoar dan lain sebagainya sementara kamu belum memiliki pengalaman sama sekali, kelas ini untuk kamu.

Jadi, kelas menulis online Penulis Gunung Id adalah sebuah bimbingan online untuk para penulis pemula yang ingin serius dalam menulis.

Apakah tujuan kamu ingin menjadi penulis profesional dan fulltime writer seperti yang saya lakukan saat ini, ataukah kamu hanya ingin mengabadikan kisah hidupmu dalam sebuah buku yang menarik dibaca, kelas menulis online Penulis Gunung id adalah tempat yang asyik untuk memulainya.

Apa Saja yang Dipelajari dalam Kelas Menulis Ini?

Photo by Mark Neal

Hal yang kamu pelajari jika bergabung dalam kelas menulis di Penulis Gunung id adalah ilmu kepenulisan dasar. Jika kamu misalnya mengambil spesifikasi kelas menulis buku, maka bagaimana memulainya, menemukan ide, menuliskannya, melakukan editing, proofreading hingga publishing akan kamu dipelajari.

Jika kamu mengambil kelas menulis untuk penulisan cerita kisah pribadi misalnya, maka pelajaran akan difokuskan bagaimana mengubah kisah kamu tersebut menjadi sebuah cerita yang bisa dibaca dalam bentuk buku.

Intinya adalah; dalam kelas menulis online Penulis Gunung id, kamu akan mempelajari materi penulisan dasar tergantung dari jenis tulisan apa yang kamu inginkan.

Apakah Ada Topik Khusus dalam Kelas Penulisan di Penulis Gunung id?

Tentu saja ada.

Untuk permulaan, saya akan membuka dua kelas saja terlebih dahulu yakni; kelas penulisan umum dan kelas penulisan untuk kisah pribadi atau kisah hidup.

Berikut masing-masing penjelasannya.

Kelas Penulisan Umum

Photo by Lisa

Kelas ini ideal untuk kamu yang ingin mengenal dunia penulisan secara umum. Dalam kelas ini kamu akan diperkenalkan bagaimana menemukan ide penulisan, bagaimana mengubahnya menjadi draff, bagimana membuat outline cerita dan lain sebagainya.

Atas persetujuanmu, dalam kelas ini kamu juga bisa meminta untuk mempelajari cara menulis artikel populer, artikel SEO, copywriting dan lain sebagainya.

Kelas ini terdiri dari 3 x pertemuan online dengan durasi masing-masing selama 30 menit.

Kelas Penulisan Kisah Pribadi (Private Online Coaching)

Photo by Clem Onojeghuo

Nah, untuk kamu yang memiliki target jelas, arah yang terarah dan tujuan yang sudah bulat, kelas ini adalah untuk kamu.

Dalam kelas penulisan kisah pribadi di Penulis Gunung id, kamu yang bergabung akan diminta untuk memilih kisah hidup paling menarik yang kamu miliki untuk dijadikan buku. Target dari kelas ini adalah kamu mampu mengubah cerita kamu tersebut menjadi lembar-lembar buku yang bisa kamu baca dan bisa kamu hadiahkan kepada orang lain.

Kamu akan diajak menceritakan kisahmu, mencari sudut pandang yang paling tepat, menentukan karakter dan lain sebagainya.

Kelas ini terdiri dari 4 x pertemuan online dengan durasi masing-masing pertemuan selama 30 menit.

Biaya Rp, 275.000

Rp, 525.000 untuk peserta dari luar negeri.

Meskipun kelas online melalui google meet sudah selesai, kamu akan tetap dibimbing hingga naskahmu siap untuk diterbitkan. Bimbingan akan dilakukan melalui aplikasi telegram.

Apa Keunggulan Bergabung di Kelas Menulis Online Penulis Gunung id?

Photo by Sam Lion

Semua kelas menulis memiliki keunggulannya masing-masing. Meskipun baru dan belum menjadi kelas menulis online terbaik, kelas menulis online di Penulis Gunung id memiliki beberapa keunggulan yang menarik, antara lain:

  • Dibimbing langsung oleh penulis berpengalaman dan sudah menulis puluhan buku.
  • Jadwal kelas online fleksibel dan bisa kamu pilih sendiri.
  • Gratis berkonsultasi via telegram hingga buku kamu menjadi naskah dan siap untuk diterbitkan.
  • Dilengkapi sertifikat jika kamu sudah menyelesaikan proses pembelajaran.

Bagaimana Metode Belajar di Kelas Menulis Online ini?

Photo by Andrea Piacquadio

Proses kelas menulis akan berlangsung secara online malalui aplikasi google meet. Setiap akhir sesi kelas, kamu akan selalu mendapat tugas menulis yang akan dievaluasi bersama pada sesi selanjutnya.

Untuk lebih jelasnya berikut beberapa ketentuannya;

  • Kelas berlangsung secara daring atau online melalui aplikasi google meet.
  • Durasi kelas mulai dari 30 menit, 45 menit paling lama.
  • Setiap kelas akan berfokus untuk membahas satu pokok pelajaran yang spesifik.

Bagaimana Cara Bergabung di Kelas Menulis Online Penulis Gunung id?

Photo by cottonbro

Untuk bergabung dalam kelas ini caranya sangat sederhana. Kamu hanya perlu mendaftarkan diri saja melalui tautan di bawah ini.

Daftar dalam kelas penulisan kisah pribadi

Atau konsultasi terlebih dahulu mengenai kelas penulisan online melalui whatsapp


anton sujarwo

Anton Sujarwo

Saya adalah seorang penulis buku, content writer, ghost writer, copywriters dan juga email marketer. Saya telah menulis 14 judul buku, fiksi dan non fiksi, dan ribuan artikel sejak pertengahan tahun 2018 hingga sekarang.

Dengan pengalaman yang saya miliki, Anda bisa mengajak saya untuk bekerjasama dan menghasilkan karya. Jangan ragu untuk menghubungi saya melalui email, form kontak atau  mendapatkan update tulisan saya dengan bergabung mengikuti blog ini bersama ribuan teman yang lainnya.

Tulisan saya yang lain dapat dibaca pula pada website;


7 PERTANYAAN UNTUK PENULIS YANG PALING PENTING DAN BISA MENGUBAH MINDSET

Jika kamu menganggap bahwa pertanyaan untuk penulis yang paling penting adalah tentang bagaimana menjadi terkenal dan kaya, atau bagaimana menjadi penulis best seller,  kamu salah. Justru pertanyaan paling esensial dalam kehidupan penulis yang akan mengubah cara berpikirmu sama sekali tidak terkait dengan hal semacam itu.

Pertanyaan yang tepat dan diajukan pada orang yang tepat, akan menghasilkan jawaban yang luar biasa. Kamu tidak hanya akan melihat jawaban seperti ini dengan kualitas kata-kata saja, namun jauh daripada itu, juga sangat berpengaruh dalam emosi dan mental.

Sebagai penulis, kamu sering menemukan pertanyaan tentang buku, tentang menulis dan menghasilkan karya, tentang mencari ide dan lain sebagainya. Namun, hanya sedikit orang yang akan mengajukan padamu pertanyaan yang ternyata memiliki pengaruh lebih kuat bahkan untuk diri kamu sendiri.

Nah, kali ini saya akan mengajak kamu untuk membahas 7 pertanyaan yang bagi saya adalah yan paling kuat mempengaruhi pikiran seorang penulis. Apa saja pertanyaannya dan mengapa ini penting?

Mari simak penjelasannya berikut ini.

Memahami Kekuatan Pertanyaan Untuk Penulis yang Paling Menentukan

Photo by Suzy Hazelwood on Pexels.com

Pertanyaan-pertanyaan ini secara khusus ditujukan untuk diri kamu sendiri, dan kamu sendirilah yang harus menjawabnya. Ini sama sekali bukan seperti pertanyaan bagaimana caranya JK. Rowling menjadi penulis miliarder pertama di dunia dan berhasil menjual 200 juta kopian buku Harry Potter-nya.

“Bagaimana saya bisa mendapatkan uang dan hidup dengan hasil dari menulis?”

“Bagaimana saya bisa punya buku dan terkenal lalu di puja-puja banyak orang?

Atau,

“Bagaimana caranya supaya saya bisa menjadi seorang penulis best seller dan kaya raya?”

Jika pertanyaan-pertanyaan semacam itu yang mendominasi benakmu selama ini dalam menulis, kamu harus mengubahnya mulai sekarang. Pertanyaan tentang menulis permulaan seperti itu hanya akan membawa kamu pada tips and trick, pada cara dan strategi, alih-alih menyentuh sisi terdalam dari sanubarimu dalam menulis.

Pertanyaan yang tidak kuat hanya akan memberikan jawaban yang juga mengambang. Untuk dapat menampilkan performa terbaikmu sebagai penulis yang berenang dalam kata tanpa pernah merasa lelah melakukannya, kamu butuh pertanyaan yang jauh lebih berbobot untuk kamu tanyakan pada dirimu sendiri.

Dengan mengajukan pertanyaan yang kuat dan tepat, kamu tidak hanya akan mencari tips dan trick sebagai cara, tapi juga menyadari motivasi sebagai sebuah pendorong yang menentukan. Pertanyaan seperti layaknya kartu pertama dalam bangunan domino yang jika kamu menyentuhnya, akan membuat semua bangunan lainnya menjadi bergoyang dan runtuh.

Hal ini sama sekali tidak buruk bagi seorang penulis, bahkan jika kamu mampu menjawabnya dengan jujur, ini adalah trigger yang akan mengubah mindset-mu tentang dunia menulis. Kamu mungkin kadang menemukannya dalam contoh pertanyaan bedah buku yang menarik, tapi efeknya tidak akan pernah sekuat ketika kamu mengajukannya untuk diri kamu sendiri.

Jadi, apa kira-kira daftar pertanyaan untuk penulis yang demikian powerfull itu?

Berikut beberapa di antaranya.

Mengapa Kamu Menulis?

Photo by Magda Ehlers on Pexels.com

“Menulis terlalu rendah nilainya jika hanya karena kamu ingin dikagumi”

A Wan Bong

Nah, ini adalah pertanyaan paling kuat yang pertama untuk kamu tanyakan kepada diri kamu sendiri.

  • “Mengapa kamu menulis?”
  • “Apa yang mendorongmu untuk menulis?”
  • “Apa alasan terbesarmu sehingga memutuskan untuk menulis?”

Mengetahui apa alasan paling besar mengapa kamu menulis adalah motivasi paling kuat yang akan mentenagaimu untuk terus menulis dan menulis.

Alasan mengapa seseorang menulis bukan hanya pertanyaan untuk penulis pemula yang kritis, namun juga dapat menjadi pertanyaan reborn dari penulis berpengalaman yang mungkin merasa kehilangan momentum kepenulisan.

Penulis mana pun membutuhkan alasan yang kuat untuk menulis dan terus berkarya di dalamnya. Memiliki banyak uang dan menjadi kaya tentu dapat saja menjadi motivasi untuk menulis, tapi itu bukan alasan cukup kuat untuk menjadi seorang penulis.

Jika kamu menulis supaya kamu terkenal, kamu kaya dan memiliki banyak uang, terlihat pintar, diingat orang setelah kamu mati, dikagaumi, dan lain semacamnya, mungkin itu bukanlah motivasi yang tepat. Orang-orang biasa beralasan dengan hal seperti ini. Namun sejujurnya, itu tidak cukup kuat untuk menjadi alasan terbesar untuk menjadi seorang penulis.

Source: Write Practice

Penulis yang terbaik jarang menulis lantaran termotivasi kekayaan dan uang. Pada banyak kasus, para penulis hebat itu menulis karena ingin terhubung dengan orang lain dengan tulisan mereka. Ada sesuatu yang mereka perlu ungkapkan, gambarkan, hamparkan dan jelaskan melalui rangkaian kata-kata di atas kertas dan tinta.

Menulis terlalu rendah nilainya jika hanya karena kamu ingin dikagumi.

Jadi, pertanyaan untuk penulis buku yang layak untuk kamu ajukan pada diri sendiri yang pertama adalah; “Mengapa kamu menulis?”

Apakah kamu hanya ingin dikagumi, dielu-elukan, dibicarakan, diingat ketika sudah mati, atau apa?

Atau, apakah kamu ingin terhubung dengan orang lain? Atau kamu memang harus mengkomunikasikan pemikiranmu yang penuh dengan cerita dan kisah?

Jika kamu mampu menanyakan hal ini kepada diri kamu sendiri kemudian menjawabnya pula dengan jujur, kamu akan menemukan hal yang luar biasa muncul dari dalam dirimu. Ini dapat menjadi kekuatan yang akan mematahkan writer’s block, kemalasan dan apa pun alasan yang membuat kamu tidak ingin menulis.

Sekali lagi, temukan alasan terkuat mengapa kamu menulis denga mengajukan pertanyaan yang sederhana pada dirimu sendiri; Mengapa kamu menulis?

Untuk Siapa Kamu Menulis?

Photo by Pixabay on Pexels.com

“Jika kamu menulis untuk orang lain dan mereka tidak menyukai apa yang kamu tuliskan, kamu akan kecewa. Jika kamu menulis untuk pembaca dan pembaca tidak mengapreasiasi tulisanmu, kamu juga akan kecewa. Tapi jika kamu menulis untuk dirimu sendiri, tidak ada yang bisa mendikte perasaanmu dengan apa pun penerimaan mereka”

A Wan Bong

Ketika saya menulis novel Islamedina yang tebalnya hingga 750 halaman dengan total sekitar 100.000 kata, saya membutuhkan waktu 4 tahun untuk bisa menyelesaikannya.

4 tahun?

Ya, benar 4 tahun lamanya hingga novel itu baru bisa saya selesaikan.

Padahal, jika kamu pernah membaca buku saya yang lain seperti Mahkota Himalaya, Dewi Gunung, Dunia Batas Langit atau yang lainnya, kamu akan menemukan bahwa saya membutuhkan waktu beberapa bulan saja untuk menulis buku setebal 400 – 500 halaman.

Apa yang terjadi? Mengapa saya bisa menyelesaikan novel Islamedina dalam waktu yang demikian lama?

Ada banyak alasan yang bisa saya sampaikan untuk menjawab pertanyaan untuk sang penulis seperti itu. Namun, esensi yang sangat krusial juga dalam hal ini adalah ketika saya justru mengajukan pertanyaan balik ke diri saya sendiri, yakni; “Untuk siapa sebenarnya saya menulis? Untuk siapa saya menuliskan novel Islamedina ini?”

“Untuk Islamedina kah? Puteri saya yang sudah berpulang ke surga itu tepat diusianya yang ke-29 bulan?”

“Untuk isteri saya kah? Ibunda Islamedina yang demikian terpukul kehilangan permata hatinya?”

“Untuk saudara-saudara, nenek, teman-teman, kerabat, kenangan, moment kebersamaan dengan Medina kah semua itu saya lakukan?”

Saya mengajukan pertanyaan itu ke dalam hati saya yang terdalam dan menemukan jawabannya bahwa bukan untuk itu semua saya membiarkan isakan saya di tengah malam membangunkan isteri saya yang sedang tidur.

Bukan untuk itu semua saya merelakan malam-malam saya bertarung dengan perasaan dan kerinduan yang perih ketika saya mengoreskan kata demi kata menyelesaikan penulisan novel Islamedina.

Pada hakikatnya, pertanyaan tentang penulisan kata mengenai untuk siapa sebenarnya saya menulis kisah Islamedina ini menemukan jawabannya pada diri saya sendiri. Untuk saya sendirilah saya menulisnya.

Source: Penulis Gunung

Saya tidak bisa menahan usia saya yang kian tua dan kelabu. Saya juga tidak dapat menahan bahwa kenangan tentang Islamedina di benak orang-orang yang pernah dekat dengannya, juga akan mengabur ditelan masa. Bahkan pada diri saya sendiri, kenangan itu pun akhirnya akan menjadi renta, pikun dan menghilang tak bersisa.

Saya ingin kenangan itu abadi bagi saya dan bagi siapa pun yang membaca kisahnya.

Jadi, saya memang harus menyelesaikan novel biografi Islamedina itu, bagaimana pun sulitnya. Novel itu bukan untuk orang lain, tapi untuk saya. Saya menulisnya bukan untuk orang lain, namun untuk diri saya sendiri.

Setelah pertanyaan tentang buku Islamedina dan untuk siapa saya menulis itu terjawab, saya akhirnya berhasil menyelesaikan buku tersebut dan tersenyum lega dan bahagia setelahnya. Dam sekarang, ketika para pembaca menangis menyusuri kata demi kata cerita meninggalnya Medina, saya justru bernapas lega karena telah berhasil menyelesaikan menulis cerita itu.

Jadi, dari sekelumit kisah ini kamu dapat merefleksikan pula pada penulisanmu. Tanyalah kepada diri kamu sendiri untuk siapa sebenarnya kamu menulis?

Bagaimana Kamu Dapat Mengubah Orang Lain dengan Tulisanmu?

Photo by Keira Burton on Pexels.com

“Manusia tidak bisa mengubah manusia lainnya, bahkan seorang penulis sekali pun. Kamu hanya bisa menunjukkan sebuah gambaran perubahan, bukan memaksanya kepada orang lain”

A Wan Bong

Kaya dari menulis tentu adalah sebuah pencapaian hebat.

Menjadi terkenal, banyak uang, dikagumi dan dielu-elukan dalam penulisan, juga bukan hal yang buruk. Itu adalah pencapaian yang layak untuk kamu rayakan.

Meskipun demikian, menggunakan pertanyaan talkshow penulis buku yang kurang tepat seperti:

  • “Bagaimana saya bisa menciptakan karya sastra yang best seller dan menjadi kaya?”
  • “Bagaimana supaya saya bisa menjual ratusan buku dengan cara A, B, C dan D?”
  • “Atau apa yang harus dilakukan supaya buku saya laris manis?”

 Semua itu jelas bukanlah jenis pertanyaan yang inspiratif.

Akan tetapi, pertanyaan yang bisa kamu ajukan untuk diri kamu sendiri mengenai persoalan ini adalah; “Bagaimana kamu bisa mengubah orang lain, persepsi mereka, pemikiran mereka, dan ketidakpahaman mereka selama ini, melalui kata-kata dan cerita yang kamu tuliskan?”

Jika kamu mampu menemukan jawaban ini dengan tepat dan efektif, kamu tidak perlu lagi khawatir dengan pertanyaan sebelumnya mengenai uang dan kekayaan. Ketika kamu sudah berhasil mengubah persepsi dan sudut pandang pemikiran orang lain melalui tulisan kamu, mereka rela membayar berapa pun yang kamu minta untuk tulisan-tulisan kamu selanjutnya.

Jadi, poin terpenting dari pertanyaan untuk penulis selanjutnya adalah bagaimana kamu bisa mengubah orang lain dalam bentuk persepsi, anggapan, pola pikir dan sudut pandang pembaca melalui tulisan dan cerita yang kamu sampaikan?

Apa yang Bisa Kamu Tulis dan Tidak Bisa Dilakukan Orang Lain?

Photo by Pixabay on Pexels.com

“Tidak ada salahnya dengan terinspirasi pada tulisan orang lain. Akan tetapi, kamu hanya akan menjadi istimewa jika kamu menulis dengan gayamu sendiri”

A Wan Bong

Pertanyaan tentang menulis kreatif selanjutnya yang juga penting untuk kamu tanyakan kepada dirimu sendiri adalah; “Apa yang harus saya tuliskan dimana orang lain tidak bisa menuliskannya sebaik saya?”

Pertanyaan ini adalah untuk memancing dan menggali potensi unikmu sebagai seorang penulis.

Kamu mungkin akan sulit menemukan cerita yang benar-benar original dan asli di zaman digital seperti saat ini. Namun, ketika kamu mampu memberi warna kamu sendiri dalam setiap karya-karya yang kamu tuliskan, maka kamu sudah cukup berhasil.

“Apa yang membuat tulisanmu demikian unik dan berbeda dari yang lain?”

“Mengapa orang lain tidak bisa menuliskan buku seperti ini dan hanya kamu yang bisa melakukannya?”

Jika kamu mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan seperti ini secara jujur dan nyata, kamu akan menemukan hal yang istimewa dalam dirimu sendiri.

Jika kamu mampu menulis dengan ciri khas yang unik, yang berbeda dengan apa yang ada di pasaran, sesuatu yang ternyata disukai oleh orang lain, maka para pembaca akan membeli apa pun yang kamu tawarkan kepada mereka.

Intinya adalah pertanyaan ini mampu memberi stimulan dalam dirimu sendiri untuk menemukan gaya menulis yang paling istimewa dari dirimu.

Bagaimana Kamu Menjiwai Penulisan-Penulisan Ceritamu?

Photo by MART PRODUCTION on Pexels.com

“Mungkin ini tidak benar, tapi berapa banyak penulis yang menuangkan diri mereka sendiri dalam karakter yang mereka ciptakan?”

A Wan Bong

Setelah pertanyaan tentang gaya penulisan berita dan cerita yang unik dari dirimu sendiri, kamu dapat beralih pada pertanyaan selanjutnya yakni; “Bagaimana kamu bisa terhubung secara emosional dengan cerita-cerita yang kamu tuliskan?”

Kamu tahu, banyak para penulis yang meletakkan karakter mereka sendiri dalam tokoh-tokoh yang mereka tuliskan. Ini adalah semacam refleksi emosional kepribadian sang penulis dalam tokoh  (hampir 100% protagonis) dalam cerita yang mereka buat.

Penjiwaan dalam penulisan cerpen, novel dan karya sastra jenis apa pun, adalah sesuatu yang substansial dan penting.

Seorang penulis dengan penjiwaan yang kuat kadang memiliki ikatan emosi yang demikian kuat dengan cerita mereka. Mereka menjadi cerminan dari cerita yang mereka tuliskan, dan cerita yang mereka hasilkan laksana cerminan pula bagi diri mereka sendiri.

Apa contohnya?

Karya sastra klasik yang paling layak untuk mewakili hal ini adalah buku-bukunya Hamka. Kamu pasti sudah tidak asing dengan novel Tenggelamnya Kapal Van Der Wick, Di Bawah Lindungan Ka’bah, Merantau ke Deli, Terusir dan yang lainnya, bukan? Itu adalah mahakarya sang pengarang yang menjadi salah satu sastrawan terbaik di Indonesia.

Jika kamu pernah membaca buku-buku tersebut, kamu akan tahu betapa kuat rasanya penjiwaan yang dimiliki oleh Hamka saat menulis karya-karyanya. Sosok seperti Zainuddin seakan adalah jelmaan dari karakter Hamka sendiri.

Kita bisa berpendapat tentang ini. Namun, sebagai penulis yang banyak terinspirasi dari karya-karya Hamka, saya mendukung pernyataan bahwa hampir semua karyanya memiliki penjiwaan yang luar biasa.

Bagaimana Kamu Bisa Menjalani Kehidupan Semenarik yang Kamu Ceritakan?

Photo by mohamed abdelghaffar on Pexels.com

“Seni dalam menulis adalah seperti menemukan apa yang kamu percayai dan kamu hidup dengan kepercayaan itu”

Gustave Flaubert

Ini menarik, karena tidak semua penulis mampu melakukannya. Bahkan para penulis buku best seller pun tidak cukup banyak merefleksikan ini dalam kehidupan mereka. Setidaknya secara terang-terangan.

Namun, penulis-penulis terhebat kadang menjalani kehidupan sama menariknya dengan kisah-kisah yang mereka ceritakan. Orang-orang seperti Charles Bukowski, Leo Tolstoy, JK. Rowling, Carl Jung dan Robert Frost, memiliki kisah hidup yang menarik.

Bahkan di Indonesia, kamu juga bisa menemukan hal yang sama dalam diri penulis Hamka, orang yang saya jadikan contoh dalam pertanyaan untuk penulis yang kelima. Hamka memiliki kisah hidup yang menarik, penuh prestasi, penuh perjuangan, penuh prinsip yang membara dan juga pertentangan yang tak terkira.

Nah, kamu sekarang tiba pada pertanyaan untuk penulis yang keenam;

“Mampukah dan maukah kamu menjalani kehidupan yang menarik, semenarik kisah-kisah yang kamu ceritakan dalam novel dan roman itu?”

Semua orang memiliki kisah hidup yang unik dan menarik, namun hanya penulis yang mampu membuatnya menjadi lebih istimewa untuk dicerna. Kamu tidak harus nekat menjalani kehidupan yang ekstrim dan nyeleneh sebagai penulis, tapi pengalaman akan berbicara cukup kuat dalam karya-karyamu dengan sendirinya.

Tulisan terbaik datang dari pengalaman.

Dan tentu saja, sumber daya terbesar yang kamu miliki sebagai seorang penulis adalah pengalamanmu sendiri. Pengalaman adalah lautan yang bisa kamu ubah menjadi mahakarya istimewa.

Bagaimana Jika Tidak Seorang pun Menyukai Tulisanmu?

Photo by Kat Jayne on Pexels.com

“Jika tidak ada seorang pun yang memberikan apresiasi terhadap tulisanmu, apakah kamu akan terus menulis?”

A Wan Bong

Sekarang, setelah kamu mempelajari banyak hal tentang tips dan teknis menulis, tentang mengatasi writer’s block dan membuat opening cerpen. Lalu, bagaimana seandainya jika tidak ada satu orang pun yang menyukai hasil karyamu?

Apa yang akan kamu lakukan?

Apakah kamu akan terus menulis ataukah kamu akan berhenti dan alih profesi?

Pertanyaan terakhir untuk penulis ini akan secara tidak langsung mengembalikan kamu pada pertanyaan pertama dan keduan; “Mengapa kamu menulis dan untuk siapa kamu menulis?”

Jika kamu tidak mendapatkan alasan yang kuat untuk menulis dan tidak pula memiliki tujuan yang jelas untuk apa kamu menulis, kamu bisa goyah pada pertanyaan yang terakhir ini. Tidak ada yang menyukai tulisanmu, buat apa kamu melakukannya lagi?

Kamu tidak akan terkenal, tidak akan dikagumi, tidak akan kaya raya dan mandi uang dengan menulis. Jadi, mengapa harus diteruskan?

Akan tetapi jika kamu menulis untuk berbagi, untuk terhubung dengan orang-orang, untuk membiarkan akalmu tetap hidup dan bersyukur dengan kreasi imajinasi, mungkin kamu akan tetap menulis.

Bagaimana pun pedihnya, bagaimana pun buruknya, setiap tulisan paling tidak akan berpengaruh bagi seseorang di dunia yang luas ini. Begitu juga dengan tulisanmu.


anton sujarwo

Anton Sujarwo

Saya adalah seorang penulis buku, content writer, ghost writer, copywriters dan juga email marketer. Saya telah menulis 14 judul buku, fiksi dan non fiksi, dan ribuan artikel sejak pertengahan tahun 2018 hingga sekarang.

Dengan pengalaman yang saya miliki, Anda bisa mengajak saya untuk bekerjasama dan menghasilkan karya. Jangan ragu untuk menghubungi saya melalui email, form kontak atau  mendapatkan update tulisan saya dengan bergabung mengikuti blog ini bersama ribuan teman yang lainnya.

Tulisan saya yang lain dapat dibaca pula pada website;

Saya juga dapat dihubungi melalui whatsapp di tautan ini.

Fortopolio beberapa penulisan saya dapat dilihat disini:


BAGAIMANA CARA MENERBITKAN BUKU SENDIRI DENGAN MUDAH DAN MURAH

Jadi kamu ingin memiliki buku atas nama kamu sendiri, ya? Daripada menunggu lama dan belum pasti diterima atau tidak, mengapa tidak mencoba menerbitkannya secara mandiri? Jika kamu masih bingung dengan prosesnya, panduan cara menerbitkan buku sendiri berikut ini akan membantu kamu melakukannya.

Pada dasarnya, cara menerbitkan buku novel atau buku apa pun yang kamu tulis melalui jalur mandiri, adalah salah satu bentuk kemerdekaan yang bisa dilakukan oleh penulis. Di samping memberi kamu banyak kebebasan, metode ini juga akan membuat kamu jauh lebih kreatif,

Namun kenyataannya, banyak calon penulis yang tidak tahu bagaimana mereka bisa melakukan penerbitan semacam ini. Alih-alih membangun kreativitas melalui penerbitan mandiri, banyak penulis pemula yang memilih untuk mengantri di depan pintu penerbitan konvensional guna mempublikasi karya mereka.

Nah, sebagai penulis yang telah merilis 15 judul buku atas nama sendiri dan puluhan lainnya untuk ghost writing, saya ingin berbagi pengalaman tentang hal ini. Sejauh ini, semua karya saya diterbitkan secara mandiri dan hasilnya cukup menyenangkan.

Lantas, kira-kira bagaimana langkah dan cara menerbitkan buku sendiri?

Panduan dan Cara Menerbitkan Buku Sendiri yang Lengkap, Murah serta Mudah

“Jika Kamu tidak menyukai cerita seseorang, tulislah cerita Kamu sendiri.”

Chinua Achebe

Kamu mungkin sudah sering mendengan istilah self publishing atau penerbitan mandiri, bukan?

Apa sih, yang dimaksud dengan self publishing itu?

Pengertian Self Publishing atau Penerbitan Mandiri

source: Demolishing House

Jika mengacu pada pengertian Wikipedia, maka akan didapatkan definisi self publishing atau penerbitan mandiri sebagai seorang penulis yang menerbitkan sendiri bukunya tanpa bantuan penerbit yang sudah mapan atau besar.

Akan tetapi, pengertian yang lebih baik mengenai penerbitan mandiri adalah seorang penulis yang mengerjakan sendiri semua proses dari penerbitan; termasuk dalam hal ini adalah editing, proofreading, layouting, membuat cover, mencetak hingga memasarkannya di masyarakat.

Intinya adalah, jika kamu megambil semua tugas penerbitan untuk kamu lakukan sendiri, maka itu  bisa disebut self publishing atau penerbitan mandiri, kamu sebagai penulisnya sendiri disebut sebagai self publisher.

Jenis-Jenis Self Publisher

Penulis yang memutuskan untuk menerbitkan bukunya sendiri terbagi dalam dua macam yakni Self Publishing Superman atau DIY dan Self Publishing Assisted.

Self Publishing DIY (Superman)

Photo by Trace Hudson on Pexels.com

Pengertian bebas dari penerbitan jenis ini adalah seorang penulis yang melakukan segala sesuatu terkait proses penerbitan secara sendiri. Artinya ia adalah penulis buku, mengeditnya, mengatur tata letaknnya, membuat covernya, sekaligus juga memasarkan bukunya.

Jenis ini sangat jarang di dunia, bahkan hampir mustahil ada yang bisa melakukannya dengan baik. Oleh karena alasan ini pula mereka kadang disebut sebagai penulis Superman atau manusia super.

Tapi, apakah jenis DIY (author does everything by themselves) benar-benar sangat jarang dan mustahil untuk ditemukan?

Mungkin tidak juga, karena saya adalah salah satunya.

Di antara 15 judul buku saya yang telah dirilis, semua proses publishing-nya saya kerjakan sendiri.

Rangkaian penulisan, editing, proofreading (setidaknya 3 kali sebelum naskah final), layouting hingga pemasaran saya lakukan sendiri. Hanya 5 buku pertama saya saja yang pembuatan cover-nya dibantu oleh pihak penerbitan indie.

Self Publishing Assisted

Photo by Eren Li on Pexels.com

Di samping penerbitan mandiri DIY atau Superman seperti yang saya lakukan, ada juga Self Publishing Asssited atau penerbitan mandiri dengan bantuan.

Dalam proses penerbitan yang satu ini, penulis mendayagunakan jasa orang lain untuk membantunya menyelesaikan proses penerbitan bukunya. Jasa yang mungkin ia gunakan adalah profesional editor, proofreading, desainer cover, pemasar, dan lain sebaginya.

Keuntungan Self Publishing

Photo by Startup Stock Photos on Pexels.com

Meskipun kamu tahu cara menerbitkan buku sendiri di Gramedia, kamu mungkin akan memilih penerbitan mandiri saja. Hal ini disebabkan karena jika kamu bukan penulis besar dengan nama yang sudah beken, memiliki buku yang dipasarkan oleh jaringan seperti Gramedia bisa jadi adalah sesuatu yang sangat sulit dilakukan.

Di balik keterbatasan jaringan pemasaran itu, penerbitan mandiri juga memiliki banyak keunggulan.

Apa pun jenis buku yang kamu tulis, apakah itu fiksi, non fiksi, memoirs, komik, cerpen atau apa pun saja, penerbitan mandiri akan memberikam kamu kebebasan maksimum untuk mengendalikan banyak hal. Di samping itu, tentu saja potensi keuntungan yang kamu miliki akan jauh lebih besar.

Memang sebenarnya, merilis karya dengan cara menerbitkan buku sendiri melalui self publishing memiliki lebih banyak lagi keunggulan.

Berikut beberapa di antaranya;

Kendali Penuh atas Karyamu

Photo by Fernando Arcos on Pexels.com

Untuk kamu yang menginginkan otonomi penuh untuk karya-karya yang kamu terbitkan, self publishing, indie publishing atau penerbitan mandiri adalah solusinya.

Ketika penerbitan konvensional memberi batasan pada setiap segi dari sebuah buku, self publishing justru sebaliknya. Dalam penerbitan konvensional karyamu mungkin akan dipermak oleh editor, judulnya bisa diganti, cover bukunya disesuikan, bahkan beberapa bagian dalam bukumu bisa saja dihilangkan atau ditambah sesuai kebutuhan penerbit konvensional tersebut.

Menariknya kamu tidak akan mendapati hal ini dalam penerbitan mandiri.

Kamu sekali lagi, diberi kebebasan seluas-luasnya untuk mengontrol karyamu semau yang kamu inginkan.

Potensi Penghasilan Maksimal

Photo by Karolina Grabowska on Pexels.com

Jika kamu menerbitkan bukumu secara konvensional, kamu akan mendapatkan persentase bagi hasil dalam bentuk royalti atau fee berkisar dari 7 hingga 12%. Jadi, jika buku yang kamu tulis harganya adalah Rp, 100.000 per eksemplar, maka kamu akan mendapatkan penghasilan sekitar Rp, 7.000 sampai dengan Rp, 12.000 untuk setiap satu buku yang terjual.

Minim sekali , bukan?

Hal ini sama sekali berbeda dengan self publishing atau penerbitan mandiri.

Dalam penerbitan mandiri, kamu bahkan bisa mendapatkan potensi penghasilan hingga 70 atau 80%. Artinya, jika harga bukumu di pasaran adalah Rp, 100.000 per eksemplar, maka Rp, 70.000 – 80.000 akan masuk ke dalam kantongmu untuk tiap eksemplarnya.

Dengan persentase ini, bayangkan berapa uang yang bisa kamu peroleh jika kamu bisa menjual bukumu dalam jumlah yang sama seperti penerbit konvensional?

Tidak Perlu Menunggu dalam Ketidakpastian

Photo by Felipe Cespedes on Pexels.com

Setelah naskah bukumu selesai dan dikirimkan ke penerbit mayor atau konvensional, kamu harus menunggu setidaknya tiga bulan atau 100 harian untuk mendapatkan jawaban apakah naskahmu layak diterbitkan atau tidak.

Jika ternyata kamu berhasil dan naskahmu bisa diterbitkan, maka kamu harus menunggu beberapa bulan lagi sampai kamu dapat melihat bukumu ada di toko-toko buku.

Waktu menunggu seperti ini akan sangat melelahkan bagi beberapa orang, untuk itu pulalah metode penerbitan mandiri atau self publishing menawarkan solusinya.

Dalam penerbitan mandiri kamu hanya perlu menunggu sekitar enam jam hingga satu hari untuk mempublikasi bukumu dalam bentuk ebook. Jika kamu menerbitkan versi cetak, paling lama dalam waktu dua mingguan, kamu juga sudah dapat melihat hasilnya langsung di tanganmu.

Kepemilikan Hak 100%

Photo by Nataliya Vaitkevich on Pexels.com

Jika kamu menempuh cara menerbitkan buku di penerbit mayor atau konvensional, kemudian karyamu diadaptasi ke dalam film, kamu mungkin harus berbagi hak atas naskahmu dengan penerbit. Akan tetapi jika kamu menerbitkan bukumu secara indie atau self publishing dan difilmkan, kamu adalah pemilik 100% hak atas karyamu.

Ini akan menjadi topik yang sama jika misalnya karyamu juga dicetak ulang, dibuat dalam berbagai cinderamata, disablon ke kaos-kaos dan lain sebagainya. Hak royalti atas semua itu akan menjadi milikmu.

Kesempatan untuk Mempopulerkan Namamu Sendiri

Photo by Pixabay on Pexels.com

Sebenarnya, tidak ada satu pun penulis yang tampil menjadi best seller dalam satu malam. Semua membutuhkan proses untuk tampil di atas anak tangga yang terakhir.

Jika kamu adalah seorang penulis pemula yang baru saja hadir dalam dunia kepenulisan dan buku-buku, kamu akan menemukan bahwa industri  ini tidak mudah untuk ditaklukkan. Namun justru disanalah terletak kesempatan untuk membuat namamu menjadi populer.

Ada banyak penulis terkenal dunia yang mengawali karir mereka dengan self publishing. Mereka membesarkan nama mereka melalui penerbitan mandiri untuk kemudian tampil sukses dengan karya yang nyaris selalu bestseller.

Kekurangan Menerbitkan Buku secara Mandiri

Di samping beberapa hal yang membuat self publishing demikian unggul untuk kamu coba, kamu juga harus tahu bahwa cara menerbitkan buku ini juga memiliki beberapa kekurangan.

Beberapa hal yang menjadi risiko dari cara menerbitkan buku sendiri ini adalah;

Biaya yang Lebih Tinggi

Photo by cottonbro on Pexels.com

Hal pertama yang harus kamu tahu jika memutuskan menerbitkan bukumu secara mandiri adalah kamu akan membiayai semua prosesnya.

Jika kamu menggunakan jasa editor, layouter, proofreading profesional, cover desainer dan lain sebagainya, maka kamu harus membayar semuanya dengan uangmu sendiri. Dan itu tentu saja akan membutuhkan biaya yang tidak sedikit.

Berbeda sekali dengan penerbitan konvensional yang kamu hanya perlu menyerahkan naskahmu lalu terima beres. Tidak ada biaya sama sekali dalam penerbitan buku dengan cara ini.

Jadi, jika kamu memang mencari cara menerbitkan buku sendiri gratis, penerbitan konvensional sudah pasti adalah salah satu caranya.

Kurang Terekspos

Photo by cottonbro on Pexels.com

Menjadi punulis yang bukunya diterbitkan oleh penerbitan konvensional atau penerbit mayor akan memberi akses padamu pada berbagai jenis publikasi lain terkait dirimu sendiri. Penerbitan mayor seperti Gramedia memilih banyak platform yang prestisius untuk mendukung dan membuat para penulis mereka bersinar.

Bersama penerbit konvensional kamu mungkin akan sering diajak roadshow, launching buku, meet and greet bersama fans, dan lain sebagainya. Dalam penerbitan mayor juga peluang untuk menjadi penulis best seller terbuka lebar.

Nah, dengan segala sumber daya yang dimiliki oleh penerbit konvensional dan tidak ada pada penerbitan mandiri seperti ini, sudah jelas bahwa kamu yang ada di jalur self publishing, mungkin saja tidak akan begitu terlihat dalam radar.

Tidak Mudah Mengakses Jaringan Toko Buku Besar

Photo by Mark Cruzat on Pexels.com

Saya pernah bertanya tentang hal ini kepada salah satu penerbit saya; Bagaimana supaya buku saya bisa masuk jaringan toko-toko besar?

Informasi yang saya terima saat itu adalah saya harus mencetak buku sebanyak 3.000 eksemplar dengan biaya sendiri dan kemudian membawanya ke jaringan toko buku besar untuk dititip jual (konsinyasi) yang harga konsinyasi-nya sendiri di bawah harga produksi.

Bagaimana pun sudut pandangnya, hasil hitunganya adalah rugi.

Lihat itu, bagaimana sulitnya seorang penulis dari self publishing mengakses jaringan toko besar.

Dengan kenyataan ini tidak salah jika ada penulis yang megatakan bahwa hampir mustahil self publishing bisa masuk ke jaringan toko buku besar tanpa siap untuk rugi dari sisi biaya.

Tidak Ada Bantuan

Photo by cottonbro on Pexels.com

Nah, ini adalah perbedaan yang paling signifikan antara penerbitan mayor atau konvensional dengan cara menerbitkan buku sendiri dari wattpad atau dari platform apa pun tempat kamu menulis, yang dilakukan dengan self publishing.

Dalam penerbitan mayor, kamu tidak perlu pusing memikirkan editing, pembuatan cover, layouting dan semacamnya, semuanya akan dikerjakan oleh tim ahli yang sudah berpengalaman.

Namun jika kamu datang dari dunia self publishing, maka tidak ada bantuan untuk ini. Kamu harus melakukannya sendiri atau membayar orang lain dengan uangmu sendiri.

Perbedaan Self publishing versus Traditional Publishing (Penerbitan Mandiri vs Penerbitan Konvensional)

Photo by Karolina Grabowska on Pexels.com

Ada cukup banyak perbedaan antara self publishing dan penerbit konvensional. Namun, untuk membuatnya lebih sederhana, kolom di bawah ini akan membantu menjelaskannya;

Self Publishing atau Penerbitan MandiriPenerbitan Konvensional atau Penerbitan Mayor
Penulis memiliki kendali atas semua proses penerbitan seperti isi naskah, editing dan juga sampul buku.Penerbit mayor mengendalikan proses penerbitan dan arah dari naskah yang dikirimkan penulis.
Penulis menanggung semua biaya penerbitan, jumlahnya tergantung dari jenis self publishing itu sendiri.Semua biaya penerbitan ditanggung oleh penerbitan mayor.
Semua penghasilan dari penjualan buku adalah milik penulis.Hasil penjualan buku masuk ke kas penerbit mayor untuk kemudian dibagikan ke penulis dalam bentuk royalti yang besarnya berkisar antara 7 – 12% dari harga buku.
Penulis memegang semua hak atas karyanya.Ini tergantung dari perjanjian dengan penulis, namun pada kasus yang sering terjadi, penerbit mayor memiliki hak atas mayoritas isi naskah.
Jangkauan pemasaran terbatas dan tidak memiliki akses ke jaringan toko besar.Jangkauan pemasaran luas, buku dapat masuk di berbagai jaringan toko buku besar seperti Gramedia dan sebagainya.
Untuk terlihat dan terkenal, membutuhkan lebih banyak perjuangan secara mandiri.Penulis berpeluang untuk menjadi terkenal, bestseller, dan sangat tenar dengan bantuan platform yang dimiliki penerbit mayor.

Berapa Perkiraan Biaya Penerbitan Mandiri?

Photo by Karolina Grabowska on Pexels.com

Lantas, setelah melihat keunggulan, perbedaannya dengan penerbitan mayor dan lain sebagainya, sekarang masuk ke pertanyaan yang mungkin sering mampir di benak para penulis pemula; Berapa sebenarnya biaya yang dibutuhkan untuk menerbitkan buku secara mandiri atau self publishing?

Sebenarnya biaya self publishing ditentukan juga oleh apakah kamu kamu memilih menjadi Self Publisher DIY Superman atau sebagai Self Publisher Assisted.

Jika kamu memilih menjadi Author Superman yang does everything by themselves, maka kamu dapat menekan biaya sangat murah bahkan gratis sama sekali. Biaya yang kamu butuhkan hanyalah untuk mencetak buku, yang itu pun dapat kamu lakukan dengan pemberlakukan sistem PO (Print on Order) atau Print on Demand (POD).

Jadi hakikatnya memang tanpa biaya sama sekali atau gratis.

Beda cerita jika misalnya kamu menggunakan metode Self Publishing Assisted dimana kamu juga menggunakan jasa editor profesional, proofreader, layouter atau penata letak, dan juga desainer cover.

Semua job assisted ini bisa mencapai biaya hingga Rp, 3.000.000 untuk buku dengan tebal 250-an  jumlah halaman.

Oh ya, saya bisa berbagi ilmu menjadi penulis Superman pada kamu dengan biaya hanya 10% dari jumlah tersebut, caranya kamu bisa menghubungi www. Penulisgunung.id disini.

7 Langkah Paling Penting Dalam Penerbitan Mandiri atau Self Publishing

Selanjutnya adalah langkah teknis apa yang kamu harus lakukan untuk maju dalam penerbitan mandiri atau self publishing.

Berikut adalah step by step yang dapat kamu jadikan panduan untuk menerbitkan karya tulismu secara indie atau mandiri.

Tulis Naskah Bukunya

Photo by Pixabay on Pexels.com

Apakah kamu akan memilih penerbit mayor atau dengan cara menerbitkan buku novel-mu dengan self publishing, langkah pertamanya adalah sama yakni; menulis naskahnya terlebih dahulu.

Proses menulis buku ini dapat kamu pelajari caranya pada banyak tempat dan media. Jika kamu ingin melihat panduan yang lebih komprehensif, kamu bisa membaca artikel cara menulis buku novel dan cerpen untuk pemula yang saya publish beberapa waktu yang lalu.

Mencari ide penulisan buku atau mengeksekusinya menjadi sebuah naskah dapat kamu putuskan sebelum masuk ke langkah selanjutnya. Beberapa pilihan yang paling umum dalam penulisan pemula untuk diterbitkan misalnya adalah;

Buku Fiksi

Photo by Alesia Kozik on Pexels.com

Kamu dapat mempelajari bagaimana cara menulis buku fiksi, membangun karakter, menentukan ide, dan menyempurnakan setting pada banyak sumber. Khusus untuk penulisan kreatif seperti ini, kamu juga dapat membaca referensinya dalam tulisan saya berikut ini.

Karya fiksi sendiri memiliki banyak macam dan kamu bebas untuk memilih yang mana. Kamu bisa memulainya dengan membuat kumpulan buku cerpen, buku puisi, buku penulisan bebas atau pun novel dan biografi.

Macam-macam jenis tulisan fiksi sendiri dapat kamu lihat disini.

Buku Non fiksi

Photo by Olya Kobruseva on Pexels.com

Untuk menulis naskah buku non fiksi, kamu tentu saja tidak bisa mengandalkan imajinasi dan kreativitas semata. Kamu juga membutuhkan sumber dalam penulisan yang kamu lakukan.

Dalam penulisan ini kamu bisa melakukan riset dengan penelitian kepustakaan, riset melalui sumber-sumber di internet, atau melakukan riset secara langsung melalui studi lapangan, studi kasus, interview dan lain sebagainya.

Buku Memoirs

Photo by Suzy Hazelwood on Pexels.com

Nah, ini adalah yang cukup banyak ditanyakan melalui blog ini yakni mengenai bagaimana cara menulis kisah hidup sendiri atau yang lebih populer disebut memoar atau memoirs.

Saya sendiri menyediakan pelatihan online untuk jenis tulisan ini yang memastikan kamu bisa menyelesaikan buku yang berisi kenangan penting dalam hidupmu secara tuntas.

Untuk mengikuti pelatihan online ini kamu hanya perlu mengisi formulir berikut ini.

Edit Naskahnya

Photo by Ron Lach on Pexels.com

Langkah kedua yang harus kamu lakukan setelah selesai menuliskan naskah bukumu adalah dengan melakukan editing atau pengeditan. Proses ini bisa menjadi bagian yang paling melelahkan dan kamu harus memiliki kesabaran yang penuh untuk bisa melakukannya.

Pengeditan bisa saja sangat ekstrim dimana penulis bahkan harus ‘menulis ulang’ naskahnya. Kamu bahkan bisa melakukan hal ini berkali-kali ketika misalnya proses editing yang kamu lakukan terasa belum memuaskan.

Saya biasa memadukan proses editing dengan proofreading, dan ini tidak sesederhana kedengarannya. Pada buku seperti DEWI GUNUNG yang tebalnya hampir 600 halaman, saya bahkan hampir depresi untuk bisa menyelesaikannya.

Tapi itu cukup sebanding dengan hasilnya.

Dalam editing kamu bisa memilih dua cara berikut ini;

  • Edit sendiri semaksimal yang kamu mampu; Sebagai Superman dan DIY authors, kamu harus melakukannya sendiri, dan ini pula yang saya lakukan selama ini. Keterbatasan sumber daya memaksa setiap penulis yang memilih jalur untuk melakukan apa yang bisa ia lakukan. Pengetikan typho, kalimat ambigu, alur yang merepotkan, dan pesan yang kurang jelas, semuanya disapu bersih. Intinya adalah, edit semaksimal yang bisa kamu lakukan.
  • Biarkan profesional melakukannya untukmu: Nah, ini lebih mudah. Kamu tinggal menyerahkan naskahmu pada editor profesional, dan tunggu saja hasilnya untuk kemudian dilanjutkan pula ke proofreader.  Ini langkah yang sangat gampang namun tentu saja ada biaya yang harus kamu keluarkan.

Buat Cover dan Layout Naskahnya

Photo by Polina Zimmerman on Pexels.com

Salah satu tantangan besar yang saya hadapi pada saat merilis sebuah buku baru adalah bagian ini; membuat cover atau merancang sampul. Untuk alasan yang sama, saya kemudian menyerahkan beberapa desain sampul buku saya kepada profesional.

Namun saya suka belajar dan beberapa buku saya yang baru, bagian ini sudah bisa saya lakukan sendiri pula.

Di samping cover atau sampul, cara menerbitkan buku gratis melalui self publishing juga meminta kamu untuk melakukan layouting atau tata letak secara mandiri.

Menariknya saat ini, proses tata letak bisa lebih mudah kamu lakukan dengan bantuan template. Nah, cetakan atau template-nya sendiri bisa kamu peroleh secara gratis atau berbayar melalui berbagai website penulisan.

Atau jika tidak ingin terlalu repot dan kamu mungkin tidak memiliki waktu ekstra, kamu juga bisa membayar profesional untuk tugas yang satu ini.

Persiapkan Buku dalam Bentuk Ebook dan Cetak

Photo by Dominika Roseclay on Pexels.com

Setelah naskah bukumu siap saji, sekarang waktunya untuk mengubah semua ketikan dan tampilan komputer itu dalam bentuk kertas atau dalam buku yang sebenarnya.

Percayalah, momen ini akan sangat mengesankan. Kamu tidak akan mudah melupakan bagaimana untuk pertamakalinya kamu memegang sebuah buku yang disampulnya tertulis nama kamu sendiri.

Namun masalahnya, untuk mencetak buku langsung kamu juga membutuhkan biaya. Beberapa penerbit indie bahkan memasang batas minimal percetakan yang diperbolehkan. Ada yang dapat memproses cetak bukumu jika jumlahnya adalah 100 eksemplar, ada yang 50 eksempar, atau ada juga lebih sedikit daripada itu.

Sebagai solusinya, kamu bisa menempuh dua cara ini.

Source: KristianJi

Hanya mencetak jika ada permintaan adalah solusi yang menarik untuk diambil. Pada beberapa judul buku, saya juga menempuh cara ini.

Dengan cara ini kamu akan terbebas dari keharusan membayar biaya cetak untuk mencetak sejumlah buku. Keuntungan lainnya adalah kamu dapat menghindari potensi risiko penumpukan stok buku yang mungkin saja tidak laku terjual.

Ebooks

Menjual buku dalam bentuk ebook adalah kemudahan yang sangat menarik.

Kamu tidak perlu repot memikirkan biaya cetak, gambar yang buram, stok yang menumpuk atau hal lainnya. Hanya dengan sekali meng-upload– bukunya di platform penjualan seperti Google Play Book dan Amazon, kamu dapat menjualnya jutaan kali tanpa takut kehabisan stok.

Buka Pre-order

Photo by Taryn Elliott on Pexels.com

Langkah selanjutnya yang penting untuk kamu tempuh sebagai self publisher adalah dengan membuka pre-order atau PO bukumu sebelum ia sendiri dirilis.

Proses pre-order dapat kamu lakukan paling lama tiga bulan sebelum buku dirilis. Kamu dapat menarik biaya pembelian buku lebih dulu dari orang-orang yang melakukan pre-order dan itu bisa digunakan sebagai biaya produksi bukumu.

Jadi, mudah, murah dan gratis, bukan?

Akan tetapi pertanyaannya kemudian adalah, berapa banyak orang tertarik melakukan pre-order atas bukumu?

Saya senang membagikan kisah cerita ini bahwa buku saya yang berjudul Wajah Maut Mountaineering Indonesia terjual di atas 500 eksemplar melalui pre-order.

Mungkin ini bukan angka yang terlalu besar untuk kamu. Namun jika itu adalah buku pertamamu yang langsung habis terjual bahkan ketika bukunya sendiri belum dicetak, maka tidak ada salahnya kamu merasa senang dan cukup bangga.

Pasarkan Bukumu di Berbagai Lini

Photo by cottonbro on Pexels.com

Langkah selanjutnya adalah memastikan bukumu ada di setiap lini dan media pemasaran yang tersedia.

Dengan ketersediaan media online seperti sekarang ini, kamu bisa memaksimalkan marketing bukumu melalui media sosial seperti facebook dan instagram. Kamu juga bisa mengoptimalkan peran marketplace seperti shopee, tokopedia, bukalapak, dan lain sebagainya.

Bahkan jika kamu memiliki group whatsapp, group alumni, group keluarga atau group apa pun yang bisa kamu gunakan untuk mensosialisasikan bukumu, maka gunakan.

Tidak perlu dihiraukan apa pun tanggapan orang yang ada di dalamnya, poin yang kamu lakukan dari cara ini adalah memasarkan bukumu dan mensosialisasikan karyamu yang telah atau akan diterbitkan.

Buat Perencanaan Launching yang Menarik

Photo by Pixabay on Pexels.com

Merilis buku itu adalah sesuatu yang asyik dan mungkin juga membanggakan pada beberapa orang. Moment ini seperti memanggil orang-orang untuk berkerumun dan kamu naik ke atas panggung untuk mengatakan; “Hai, saya telah menulis sebuah buku!”

Untuk membuat moment ini menjadi istimewa, kamu harus merencanakannya sebaik mungkin.

Jika kamu adalah orang yang tidak terlalu ingin ribet, kamu bisa mengajak orang lain untuk melakukannya. Saya pernah melakukan hal serupa ketika merilis buku saya yang berjudul Gunung Kuburan Para Pemberani. Saat itu proses launching dilakukan di café salah satu teman di kota Magelang.

Cara ini menghadirkan konsep mutualisme yang menarik dimana saya bisa merilis buku saya dengan cara yang asyik sementara teman saya mendapatkan pengunjung café yang lebih banyak sekaligus juga promosi tempat usahanya,

Tips Sukses Menerbitkan Buku Secara Mandiri

Photo by Andrea Piacquadio on Pexels.com

Nah, sebagai hal terakhir dalam artikel bagaimana cara menerbitkan buku sendiri ini, saya akan menyertakan 5 tips sukses self publishing.

Tips ini mudah ditulis dan lebih mudah lagi untuk kamu baca, namun merefleksikannya secara disiplin, kamu akan membutuhkan banyak perjuangan dan usaha.

Akan tetapi jika kamu berhasil mengkombinasikan tips menerbitkan buku sendiri berikut dengan kedisiplinan dan semangat pantang menyerah, kamu sudah pasti akan berjumpa dengan kesuksesan.

Apa saja tipsnya?

Tulis Apa yang Laku

Photo by RODNAE Productions on Pexels.com

Untuk menjadi seorang self publishers yang sukses, kamu harus menjual sangat banyak buku, dan itu artinya kamu harus menjual buku yang akan dibeli oleh banyak orang.

Ini terdengar sangat opurtunis, tapi itu memang benar.

Hanya buku yang laku dijual yang bisa menghasilkan uang. Jadi, kamu memang harus mampu melihat di pasaran buku apa yang sebenarnya diminati, apakah misteri, romantis, horror, petualangan atau apa?

Pada umumnya buku fiksi adalah yang paling banyak merajai top selling. Akan tetapi bukan berarti buku non fiksi tidak punya peluang. Jika kamu mampu menulis buku non fiksi dengan bagus dan kuat, kamu pun mampu meraih hal yang sama.

Fokus pada Pembaca Spesifik

Photo by Pixabay on Pexels.com

Bukan hanya spesifik, tapi juga ultra-spesifik.

Seorang penulis yang memilih jalur penerbitan mandiri adalah orang yang harus memiliki basis peminat tulisan yang besar. Ini mungkin tidak mudah bahkan banyak orang yang masih bertarung dengan hal tersebut, termasuk penulis blog ini.

Namun pembaca spesifik akan memberikan perhatian yang fanatik padamu, dan mereka adalah orang-orang yang akan setia dengan karya-karyamu jika kualitas yang kamu berikan menyenangkan mereka.

Di samping itu, pembaca spesifik adalah tim marketing yang akan dengan senang hati mempromosikan tulisanmu dalam lingkungan mereka sendiri.

Jadi, mereka tentu akan membuatmu jauh lebih sukses saat berfokus dengan mereka.

Cover yang Menarik itu Penting

Photo by Thought Catalog on Pexels.com

Kamu mungkin sering mendengar pepatah yang mengatakan ‘jangan menilai buku dari sampulnya’.

Tapi, bagaimana pun, mayoritas orang (79% persisnya) tetap menerapkan hal ini tanpa mereka sadari saat memilih sebuah buku.

Nah, sebagai self publisher kamu harus menyadarinya. Bahwa membuat cover atau sampul buku yang menarik itu penting.

Jadi, pikirkan itu dengan seksama, baik kamu memilih cara menerbitkan buku sendiri di Malaysia, di Indonesia, atau di mana saja.

Harga Murah Penjualan Tinggi

Photo by Anna Tarazevich on Pexels.com

Memiliki buku dengan harga hanya Rp. 9.900 per eksemplar atau per-ebook copy, tentu tidak cukup menarik untuk didiskusikan. Ini harga yang murah, darimana pun kamu melihatnya.

Tapi, bagaimana jika kamu bisa menjualnya satu juta copy dalam satu bulan?

Kamu akan mendapatkan penghasilan hampir satu miliar!

Itu jumlah yang banyak, lho.

Ini adalah tips yang disarankan banyak self publisher sukses dunia. Fokus padan penjualan yang tinggi dan buat harganya lebih rendah dan sangat terjangkau. Terutama jika kamu menjual bukumu dalam bentuk ebook.

Apa yang Kamu Lakukan Sekarang?

Photo by Jeff Stapleton on Pexels.com

Kamu telah melihat bagaimana cara menerbitkan buku sendiri, sekarang pilihannya ada padamu; apakah mencoba melakukannya, atau melupakannya.

Jika kamu tetap memilih untuk mencoba cara menerbitkan buku sendiri di Gramedia atau di penerbit mayor lainnya, maka kamu harus lebih banyak bersabar dan jangan pernah menyerah meskipun karyamu nantinya belum dipilih. Tetap berusaha, terus dan terus, sampai kamu berhasil.

Lalu, jika kamu memilih untuk menerbitkan buku secara mandiri melalui self publishing, maka bersiaplah untuk berjuang lebih banyak daripada yang lainnya.

Ini medang juang yang tidak mudah, tapi akan sepadan dengan hasilnya. InsyaAllah.


anton sujarwo

Anton Sujarwo

Saya adalah seorang penulis buku, content writer, ghost writer, copywriters dan juga email marketer. Saya telah menulis 14 judul buku, fiksi dan non fiksi, dan ribuan artikel sejak pertengahan tahun 2018 hingga sekarang.

Dengan pengalaman yang saya miliki, Anda bisa mengajak saya untuk bekerjasama dan menghasilkan karya. Jangan ragu untuk menghubungi saya melalui email, form kontak atau  mendapatkan update tulisan saya dengan bergabung mengikuti blog ini bersama ribuan teman yang lainnya.

Tulisan saya yang lain dapat dibaca pula pada website;

Saya juga dapat dihubungi melalui whatsapp di tautan ini.

Fortopolio beberapa penulisan saya dapat dilihat disini:


7 HAL PENTING TENTANG STORYTELLING YANG HARUS DIKETAHUI TIAP PENULIS DAN PENDONGENG

Storytelling sama sekali bukan tentang teknik, metode, atau tips-tips yang memukau. Storytelling lebih daripada itu, ini adalah tentang seni dan mahakarya dalam bercerita. Sebagai seni, tentu saja storytelling akrab pula dengan imajinasi, instuisi, inovasi, kreatifitas, keterampilan dan latihan.

Kamu tidak bisa menjadi seorang storyteller hebat hanya dengan sekali duduk atau setelah mengikuti satu kali kursus storytelling. Untuk menjadi seorang yang hebat dalam bercerita, kamu harus melalui proses yang panjang dan mungkin melelahkan.

Terdengar menakutkan, ya?

Tidak juga sebenarnya, terutama jika kamu tahu bahwa storytelling telah menjadi kunci pada kesuksesan banyak hal.

Para pemasar atau sales menggunakan storytelling untuk mengeksekusi prospek. Para pembicara, penceramah, politikus, pengacara, guru, penulis dan profesi apa pun yang mengharuskan kamu berinteraksi dengan orang lain secara intens, storytelling telah menjadi bagian paling menarik yang menentukan kesuksesannya.

Nah, jika kamu adalah salah satu dari orang yang membutuhkan story telling atau storytelling dalam mencapai tujuanmu, artikel dari www.penulisgunung.id kali ini ditulis untuk kamu.

Jadi, apa sebenarnya storytelling itu?

Pengertian Storytelling

Photo by Artem Podrez on Pexels.com

Hal pertama yang harus kamu ketahui adalah apa sebenarnya yang dimaksud dengan storytelling?

Berdasarkan definisi Wikipedia, storytelling diartikan sebagai sebuah cara yang dilakukan untuk menyampaikan suatu cerita kepada para penyimak, baik dalam bentuk kata-kata, gambar, video, tulisan, foto atau pun suara.

Akan tetapi pengertian storytelling yang lebih menarik mungkin adalah suatu proses yang mendayagunakan fakta atau narasi sebagai cara mengkomunikasikan sesuatu kepada orang lain yang menjadi penyimak ceritamu. Beberapa cerita dalam  storytelling adalah nyata, sementara yang lainnya bisa saja adalah improvisasi pencerita supaya pesan cerita yang ingin disampaikan bisa diterima dengan lebih baik

Storytelling adalah salah satu bahasa yang paling universal dan dapat diterima oleh semua kalangan. Cerita akrab untuk orang-orang kaya, cerita biasa diperdengarkan pada para bangsawan di masa lalu, dan cerita juga adalah sesuatu yang sangat lazim dituturkan di tengah rakyat jelata. Pendek kata, storytelling adalah jenis komunikasi yang paling efektif di berbagai lapisan sosial masyarakat.

Meskipun storytelling adalah bahasa yang menyentuh semua kalangan dan semua bisa bercerita, uniknya, hanya sedikit orang yang benar-benar hebat melakukannya. Kamu mungkin mengenal salah satu di antara mereka sebagai penceramah, mubaligh, pelatih, penulis konten, guru atau apa pun sebutannya. Dalam bertutur, orang-orang ini seakan memiliki pesona yang tak terkalahkan.

Orang-orang dengan kemampuan seperti ini telah menganggap bahwa bercerita itu seperti halnya melukis. Perbedaannya adalah, pelukis melukis dengan media kuas dan cat, storyteller atau pendongeng menulis dengan kata-kata. Persamaannya; mereka sama-sama mampu memberikan imajinasi yang sempurna di benak orang lain yang menjadi pemirsa karya mereka.

Nah, sebelum mempelajari struktur storytelling seperti apa yang paling efektif, sekarang mari me-refresh kembali mengapa mendongeng atau storytelling adalah sesuatu yang sangat menarik untuk dipelajari.

Mengapa Harus Storytelling?

Source: Kompas

Ada demikian banyak alasan yang menjadi motivasi mengapa orang-orang memilih storytelling.

Sales atau tim marketing mempelajari hal ini untuk meningkatkan penjualan, guru mempelajarinya untuk mencapai tujuan pendidikan, terapist mengaplikasikannya untuk kesembuhan pasien, dan lain sebagainya.

Akan tetapi sebelum lebih jauh berbicara tentang tema yang lebih luas seperti itu, kali ini saya akan mengajak kamu untuk berfokus pada mengapa harus storytelling yang dipilih? Mengapa bukan data-data, angka-angka, presentasi, atau pun analisis informasi formal lainnya.

Nah, berikut adalah alasannya.

Karena Cerita Mampu Menginspirasi dan Memotivasi

Source: Freepik

Manfaat storytelling yang pertama adalah karena pilihan ini memiliki dampak yang jauh lebih baik dalam menginspirasi dan memotivasi orang lain.

Berapa banyak orang yang tertarik untuk bergabung dalam misalnya; multilevel marketing, karena mendengar cerita bahwa orang-orang yang lebih dulu bergabung telah sukses dan kaya raya.

Cerita tentang bagaimana mereka mendapat reward mobil, uang, perhiasan, rumah bahkan pesawat terbang, telah bermain dalam benak dan mempengaruhi orang lain untuk melakukan hal serupa.

Terlepas dari apakah multilevel marketing tersebut menyampaikan fakta atau mengada-ada, yang jelas metode storytelling jelas menguntungkan buat perusahaan mereka.

Cerita bagimana pun juga, jauh lebih menarik dari sederet angka dan data. Cerita akan masuk ke otak, ke hati dan mengemudikan emosi seseorang untuk tertawa, menangis, haru, benci, marah atau yang paling umum dari tujuan para sales, adalah membeli sesuatu.

Karena Cerita Mampu Membangun Rasa Kebersamaan

Photo by cottonbro on Pexels.com

Alasan kedua yang juga menjadi manfaat storytelling adalah kemampuannya membangun kebersamaan manusia.

Cerita tentang Malin Kundang yang dikisahkan oleh pendongeng terbaik bagaimana pun juga akan mengingatkan pendengarnya tentang anak yang durhaka.

Perasaan marah akan terbangun ketika mendengar cerita itu. Tidak perduli apakah kamu seorang remaja, mahasiswa, orang tua, anggota partai, pejabat, pedagang atau pedagang keliling, kemarahanmu akan terusik jika kisah itu diceritakan oleh orang yang tepat.

Apa pun latar belakang seseorang, storytelling singkat yang mampu dibawakan dengan efektif akan memberikan imbas yang kuat. Storytelling memiliki kemampuan membangun kebersamaan di antara para pendengar atau pemirsanya untuk mencapai satu tujuan yang sama.

Karena Cerita Mampu Menyederhanakan Sesuatu yang Rumit

Photo by Andrea Piacquadio on Pexels.com

Seorang guru matematika mengumpamakan sesuatu yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari untuk menjelaskan rumus matimatika yang rumit. Seorang ustadz atau da’i, juga memberikan contoh yang lebih konkret untuk memberikan contoh penerapan dalam konsep ibadah seperti sedekah, hak waris, dan semacamnya.

Kamu pernah menjumpai hal semacam itu, bukan?

Itu adalah manifestasi dari manfaat storytelling sebagai cara membuat yang abstrak dan rumit, menjadi sesuatu yang jauh lebih jelas dan sederhana.

Dengan mengambil perumpamaan yang dinarasikan dalam cerita, kamu bahkan bisa menyampaikan sebuah pesan yang berat, njlimet, dan mungkin tidak masuk akal sekali pun, menjadi sesuatu yang mudah untuk dipahami orang lain.

Apa yang Membuat Storytelling Menjadi Menarik?

Photo by Andrea Piacquadio on Pexels.com

 Ada beberapa elemen yang dianggap sebagai unsur yang tidak bisa tidak, harus ada dalam sebuah cerita dan storytelling.

Kamu mungkin menganggap bahwa kata-kata dalam cerita bisa bermakna baik atau buruk, tergantung siapa yang menceritakannya. Namun memang, secara spesifik struktur storytelling yang baik haruslah memenuhi beberapa kriteria berikut ini;

  • Mudah Diingat. Hal pertama dari storytelling yang wajib ada adalah bahwa ceritanya mudah diingat atau memorable. Kamu bisa memilih humor, skandal, inspirasi, atau apa saja, namun pastikan itu mudah untuk diingat oleh pemirsamu.
  • Universal. Cerita yang baik adalah cerita yang dapat diterima oleh semua orang dan dari semua latar belakang. Pastikan kamu mempelajari lebih dulu siapa yang menjadi pemirsamu, baru kemudian menentukan cerita yang dapat mereka terima dengan lebih baik.
  • Mendidik. Hal yang harus ada pula dalam sebuah storytelling adalah muatan pendidikannya. Sebaiknya kamu memilih cerita yang merangsang rasa ingin tahu para pemirsamu.
  • Menghibur. Nah, ini adalah salah satu unsur dari storytelling yang harus kamu perhatikan dengan seksama. Cerita haruslah memiliki muatan hiburan atau memberikan rasa penasaran kepada pemirsa untuk mengetahui kelanjutannya.
  • Terstruktur. Kamu tidak diharuskan untuk memulai ceritamu secara krnologis, namun cara berceritanya tetaplah harus tersusun dengan baik. Kamu tidak bisa mencapai tujuan dasar storytelling jika struktur storytelling-mu sendiri berantakan.

Apa Komponen Dasar Storytelling?

Photo by cottonbro on Pexels.com

Supaya memudahkan kamu dalam membangun storytelling yang menarik, kamu juga perlu mengetahui komponen apa saja yang menjadi unsur pembangunnya.

Layaknya menulis cerpen atau novel, menyampaikan storytelling dalam bentuk apa pun perlu mempertimbangkan komponen pembangunnya. Semakin baik kamu memahami dan mengeksekusi komponen-komponen ini, maka semakin mudah pula pesan yang ingin kamu sampaikan diterima oleh pemirsa.

Jadi, apa saja yang menjadi komponen dasar penyusun storytelling yang baik?

Karakter atau Tokoh

Photo by Pixabay on Pexels.com

Setidaknya sebuah cerita harus memiliki satu tokoh atau karakter yang menjadi subjek perceritaan. Karakter atau tokoh ini adalah layaknya jembatan yang menghubungkan antara storyteller dengan pemirsanya.

Lantas, bagaimana menciptakan tokoh atau karakter yang kuat dalam storytelling?

Kamu bisa mempelajari cara membangun karakter atau tokoh dalam penulisan cerita disini, namun poin utama yang harus pula kamu ketahui adalah; karakter yang kuat haruslah mampu menyatu dalam imajinasi pemirsamu.

Artinya jika kamu mampu membuat pemirsa merasa bahwa karakter yang diceritakan dalam storytelling adalah mereka, atau seperti diri mereka, maka tujuan dan pesan ceritakan akan sangat mudah untuk diterima.

Konflik

Photo by Pixabay on Pexels.com

Tidak ada cerita tanpa konflik, dan tidak ada pula storytelling tanpa masalah.

Masalah adalah hal yang membuat karaktermu hidup dan menari dalam benak pemirsa. Konflik atau masalah adalah medan perang dimana tokoh yang kamu ceritakan menunjukkan kemampuannya menyelesaikan masalah.

Masalah atau konflik juga mampu memberikan gambaran yang jelas mengenai bagaimana karaktermu berjuang, bertarung, menghadapi tantangan, dan semacamnya, yang juga pada banyak jenis storytelling menjadi bagian dari pesan itu sendiri.

Kamu bisa mempelajari cara membangun konflik dalam cerita disini.

Solusi

Photo by Pavel Danilyuk on Pexels.com

Secara teknis, solusi adalah ending dari sebuah cerita. Dan menariknya, tidak semua ending cerita harus bahagia.

Meskipun demikian, solusi adalah apa yang akan menjadi motor penggerak pemirsamu untuk memberi respon pesan yang kamu sampaikan. Jadi, kamu juga harus memberikan perhatian pada bagian ini, bagian dimana karaktermu menyelesaikan masalah mereka.

Pada dunia marketing, resolusi dari storytelling adalah call to action dimana para storyteller meninggalkan pemirsa dalam kondisi siap melakukan aksi yang seperti diminta oleh pencerita.

Oh ya, mengenai bagaimana memilih ending yang baik dalam cerita, kamu bisa mempelajarinya dalam artikel ini; 10 cara membuat ending dalam penulisan cerita fiksi.

Apa Saja Jenis-Jenis Storytelling?

Photo by Mark Neal on Pexels.com

Hal berikutnya yang juga sangat penting untuk kamu ketahui adalah mengenai jenis jenis storytelling itu sendiri.

Dengan mengetahui jenis storytelling yang tepat, kamu dapat memilih jenis mana yang paling ideal untuk disampaikan pada pemirsamu. Hal ini nanti akan mengkombinasikan beberapa unsur misalnya tujuan storytelling, pesan yang ingin disampaikan, dan siapa pemirsa yang menjadi tujuan bercerita.

Nah, apa sajakah jenis-jenis storytelling?

Storytelling Provokasi

Photo by Chinmay Singh on Pexels.com

Storytelling dalam jenis ini dimaksudkan untuk memprovokasi pemirsanya supaya melakukan sesuatu yang diinginkan oleh sroryteller.

Kamu dapat melihat konsep storytelling semacam ini pada banyak kasus dimana seorang pendongeng atau storyteller bercerita tentang tindakan-tindakan seseorang dalam mencapai satu tujuan. Lagi-lagi banyak praktisi multilevel marketing yang bisa diambil contohnya untuk menjelaskan jenis storytelling satu ini.

Tujuan utama dari storytelling ini adalah mengajak dan memprovokasi pemirsa untuk melakukan tindakan seperti tindakan karakter yang diceritakan. Mengenai apakah mereka mampu mencapai tujuan seperti dalam cerita atau tidak, itu sudah diuar tujuan storytelling.

Storytelling Narsisme

Photo by Dziana Hasanbekava on Pexels.com

Sama sekali tidak ada konotasi buruk dalam pemaknaan narsis dalam jenis storytelling satu ini. Kamu hanya berusaha menginspirasi pemirsa dengan menceritakan dirimu sendiri.

Menceritakan diri sendiri dapat memadukan banyak hal seperti orisinilitas, perjuangan, kemanusiaan, kegagalan dan juga pencapaian.

Ada banyak storytelling contoh yang seperti ini. Guru, pendidik, penceramah, politikus, cukup sering menggunakan metode ini dalam aktivitas mereka.

Storytelling Nilai-Nilai

Photo by Lisa on Pexels.com

Jenis storytelling yang satu ini bertujuan untuk mendiskusikan nilai-nilai yang mungkin tidak dipahami oleh beberapa orang yang menjadi pemirsamu.

Poin penting dari storytelling nilai-nilai adalah pemirsa dapat menangkap pesan emosi, karakter dan situasi berdasarkan cerita yang disampaikan. Tujuan spesifiknya supaya mereka dapat merasakan bahwa apa yang dialami karakter dalam cerita yang disampaikan, juga memiliki kesamaan dengan hidup mereka sendiri.

Kamu dapat menjumpai contoh storytelling satu ini dalam banyak kasus, seperti pelatihan pengembangan diri dan semacamnya.

Storytelling Spread

Photo by Laker on Pexels.com

Ada sedikit kemiripan storytelling ini dengan jenis provokasi. Namun secara khusus, storytelling spread bertujuan untuk menggerakan pemirsamu untuk mendiskusikan atau membagikan ceritamu pada yang lain.

Jadi, ketika para pemirsa menyimak cerita yang kamu sampaikan, mereka akan membagikan cerita kamu dengan sukarela.

Untuk mencapai efektivitas cerita, kamu harus menjaga karakter ceritamu seplural mungkin dalam berbagai sudut pandang sepaya dapat diterima secara luas.

Storytelling Edukasi dan Pengetahuan

Photo by Pixabay on Pexels.com

Jenis storytelling yang terakhir adalah untuk menyampaikan suatu pengetahuan, pengalaman kegagalan dan perjuangan, serta tentu saja mengenai keberhasilan.

Dengan cerita jenis ini, sebagai storyteller kamu bisa berharap bahwa para pembaca dapat mempelajari masalah yang kamu ceritakan dan solusi apa yang kamu dapatkan untuk mereka dipraktikkan.

Sekali lagi, para pemirsa akan mengukur cerita ini dengan mencerminkan pada diri mereka sendiri. Jika itu terjadi, artinya pesan yang kamu sampaikan telah sampai pada sasaran.

Bagaimana Proses Menyusun Storytelling yang Menarik?

Photo by Karolina Grabowska on Pexels.com

Sebagai sebuah seni layaknya lukisan, ukiran, dan lain sebagainya, storytelling juga membutuhkan latihan dan praktik terus-menerus supaya mencapai kesempurnaan. Mengasah imajinasi, keterampilan dan inovasi dalam bercerita juga membutuhkan proses yang panjang untuk dapat dilakukan dengan baik.

Proses panduan storytelling kali ini adalah langkah demi langkah yang bisa kamu ambil untuk membuat sebuah cerita yang menarik.

Ini tentu bukan jenis pekerjaan yang bisa kamu selesaikan dalam satu malam. Akan ada trial and error yang mewarnai perjalananmu mempraktikkannya. Akan tetapi semakin sering kamu melatih kamampuan kamu bercerita, semakin memukau pula penampilan kamu nantinya.

Dan yang terpenting; pesan apa yang ingin kamu tanamkan dalam benak pemirsa melalui storytelling, dapar diterima dengan sempurna.

Jadi, apa saja langkah-langkah yang bisa kamu lakukan dalam menyusun sebuah storytelling yang menarik?

Kenali Siapa Pemirsamu

Photo by ICSA on Pexels.com

Apakah kamu akan bercerita di depan remaja, mahasiswa, ibu-ibu PKK, Remaja Islam Masjid, atau siapa?

Langkah pertama yang harus kamu lakukan adalah, pastikan kamu mempelajari siapa yang akan menjadi pemirsa storytelling-mu.

Dengan mengenal pemirsamu, kamu akan memiliki peluang untuk mampu menjangkau mereka secara lebih totalitas.

Kamu dapat menyesuaikan cerita dengan latar belakang mereka. Atau jika cerita yang kamu sampaikan adalah fiksi, kamu juga bisa berimprovisasi bagaimana supaya ada bagian cerita yang terasa sangat dekat dengan kehidupan mereka.

Gambarkan dengan Jelas; Pesan Apa yang Ingin Kamu Sampaikan

Photo by Pixabay on Pexels.com

Langkah kedua yang harus kamu tetapkan sebelum kamu memulai proses storytelling itu sendiri adalah menentukan sebenarnya pesan apa yang ingin kamu sampaikan.

Apakah ceritamu membutuhkan waktu lima menit, setengah jam atau bahkan satu jam, selembar kertas, 2 gigabyte video dan lain sebagainya, pesan utama adalah dasarnya. Layaknya pondasi pada bangunan, pesan ini adalah apa yang akan menjadi ruh utama dalam ceritamu.

Apakah storytelling yang kamu bawakan untuk menjual produk, mengumpulkan dana, menjelaskan layanan perusahaan, atau mengingatkan orang akan sesuatu problem yang harus mereka waspadai, yang pasti, tentukan pesan ceritamu sejelas mungkin.

Tentukan Jenis Storytelling yang Akan Kamu Gunakan

Photo by Anastasiya Vragova on Pexels.com

Ini kembali kepada beberapa paragraf di atas, jenis storytelling apa yang ingin kamu gunakan.

Apakah jenis provokasi supaya orang melakukan tindakan yang kamu inginkan? Ataukah jenis spread supaya orang menyebarluaskan ceritamu dan menemukan kesamaan visi dalam kehidupan mereka sendiri.

Tentukan Apa yang Kamu Ingin Pemirsamu Lakukan Setelah Mendengar Cerita (CTA)

Photo by Aleksandr Nadyojin on Pexels.com

Bagian ini mungkin terasa sama seperti langkah kedua, tapi sebenarnya tidak. Langkah keempat ini adalah sesuatu yang lebih spesifik lagi. Dalam blogging kamu bisa menyebutkan dengan Call to Action atau CTA.

Jadi, apa yang kamu ingin pemirsa kamu lakukan setelah mendengar, melihat, menbaca ceritamu?

Pada bagian ini kamu tidak hanya berfokus pada pesan apa yang harus didapatkan pembaca. Akan tetapi lebih jauh lagi, kamu juga dapat menjelaskan dengan baik apa yang kamu ingin pemirsamu lakukan sebagai aksi mereka.

Apakah kamu ingin mereka membeli produkmu?

Apakah kamu ingin mereka bergabung dalam kelas yang kamu ajarkan, menyumbangkan uang untuk program sosial, bergabung menjadi follower atau subscriber, atau apa?

Pilih Media Bercerita

Photo by George Milton on Pexels.com

Cerita dapat tampil dalam berbagai bentuk dan cara. Cerita dapat dibaca melalui rangkaian kata-kata dan tulisan, cerita juga bisa didengar melalui radio atau rekaman, atau cerita juga bisa ditonton melalui video seperti di youtube dan tiktok.

Pilih media apa yang ingin kamu gunakan untuk bercerita kepada pemirsamu. Semua media cerita memiliki keunikan dan keunggulannya sendiri-sendiri, kamu dapat memilih berdasarkan performance terbaikmu dalam masing-masing media tersebut.

Secara umum kamu dapat memilih 4 media berikut untuk menyampaikan ceritamu;

  • Storytelling Tulisan; bentuknya dapat berupa artikel, blog post seperti yang kamu baca sekarang, buku , ebook atau yang lainnya. Kamu juga bisa menambahkan gambar, grafik, angka-angka untuk membuat ceritamu lebih hidup dalam media ini.
  • Storytelling Orasi; ini adalah yang paling sering kamu lihat dan paling populer, yakni bercerita secara langsung dari mulut ke telinga. Kamu bisa melihatnya dalam presentasi, rapat, dalam ceramah, dalam khutbah dan lain sebagainya. Media jenis storytelling satu ini membutuhkan lebih banyak latihan public speaking supaya kamu mahir melakukannya.
  • Storytelling Audio; Ini sama seperti suara langsung, hanya saja dalam bentuk rekaman. Kamu bisa melihat contohnya pada teknologi podcast.
  • Storytelling Digital: Kamu bisa bercerita melalui video, animasi, games atau video interaktif. Sejauh ini, ini adalah jenis storytelling yang paling kuat menyentuh emosi pemirsa sekaligus juga yang paling mahal dari sisi biaya.

Tuliskan Konsepnya atau Outlinenya

Photo by Alena Darmel on Pexels.com

Nah, langkah keenam untuk menyusun makalah storytelling ini mengharuskan kamu untuk menulis lagi.

Dengan latar belakang pemirsa yang sudah kamu ketahui, pesan yang ingin disampaikan sudah jelas dan, apa yang kamu ingin pemirsa lakukan setelah mendengar ceritamu juga sudah dipetakan dengan baik, maka membuat bagian ini akan jauh lebih mudah.

Kamu bisa membuat semacam outline dan garis besar cerita supaya proses eksekusinya menjadi lebih spesifik dan efektif.

Bagikan Ceritamu

Photo by Ivan Samkov on Pexels.com

Ini adalah langkah terakhir untuk membuat ceritamu semakin efektif dan menjangkau lebih banyak pemirsa.

Jadi sekarang, bagikan ceritamu!

Setelah pertarungan dan perjuangan membuatnya, sekarang waktunya untuk menyempurnakan perjuanganmu dengan membaginya pada orang lain. Tidak ada mantra khusus dalam langkah ini, namun semakin banyak tempat kamu membagikan ceritamu, semakin banyak pula feedback yang bisa kamu harapkan.

Kamu bisa membagikan ceritamu di media sosial seperti facebook, twitter, instagram, pinterest dan lain sebagainya. Jika bentuknya adalah digital, kamu juga bisa melakukannya di youtube, tiktok dan semacamnya.

Sekarang Terserah Padamu

Photo by Andres Ayrton on Pexels.com

Sebagai sebuah seni, storytelling adalah sesuatu yang menarik dipelajari dan dikuasai. Apalagi melihat dampaknya yang signifikan dalam banyak bidang, keterampilan ini akan membantumu untuk melaju lebih kencang menuju tujuan yang kamu inginkan.

Terserah padamu sekarang, apakah kamu akan mempelajari storytelling melalui media yang mana. Tulisan, orasi penyampaian langsung, rekaman atau digital, semua dapat kamu pilih untuk memaksimalkan potensi yang kamu miliki.

Khusus untuk tulisan dalam bentuk apa pun; apakah kamu menyukai media buku, artikel, quotes, kisah pribadi dan lain sebagainya, www.penulisgunung.id adalah tempat yang menarik untuk mempelajarinya.

Misalnya jika memiliki buku yang menjadi tujuanmu. Maka, selama kamu mengikuti metode yang disampaikan, dijamin dalam satu bulan kamu akan memiliki buku atas nama kamu sendiri.

Jadi, tunggu apa lagi? Mari bergabung dalam kelas menulis dibawah ini.


anton sujarwo

Anton Sujarwo

Saya adalah seorang penulis buku, content writer, ghost writer, copywriters dan juga email marketer. Saya telah menulis 14 judul buku, fiksi dan non fiksi, dan ribuan artikel sejak pertengahan tahun 2018 hingga sekarang.

Dengan pengalaman yang saya miliki, Anda bisa mengajak saya untuk bekerjasama dan menghasilkan karya. Jangan ragu untuk menghubungi saya melalui email, form kontak atau  mendapatkan update tulisan saya dengan bergabung mengikuti blog ini bersama ribuan teman yang lainnya.

Tulisan saya yang lain dapat dibaca pula pada website;

Saya juga dapat dihubungi melalui whatsapp di tautan ini.

Fortopolio beberapa penulisan saya dapat dilihat disini:


BUKU PUISI LUKA GILA MATI LARI; SELAMAT DATANG DALAM KOLEKSI

Akhir bulan September ini, saya akan merilis sebuah buku baru yang istimewa.

Ini sama sekali buku yang berbeda dalam barisan karya-karya saya, ini adalah buku puisi atau buku kumpulan sajak. Saya menulis buku ini dalam beberapa bulan terakhir dan memutuskan untuk merilisnya pada akhir bulan September tahun 2021 ini.

Saya memberi judul buku ini dengan empat kosakata terpisah yakni; Luka, Gila, Mati, Lari.

Ini adalah kata yang unik, seunik sejarah yang tersimpan dalam empat kata yang juga memiliki korelasi dengan kehidupan saya di pulau Sumatera.

Lantas, apa saja isi buku puisi ini dan apa hal menarik yang bisa saya bagikan?

Selayang Pandang Isi Buku Puisi Luka Gila Mati Lari

Photo by cottonbro on Pexels.com

Menulis puisi bukan keahlian terbaik saya. Itu adalah hal yang pertama yang perlu saya sampaikan.

Kemudian saya juga perlu mengatakan bahwa menulis buku puisi untuk pemula seperti yang saya lakukan ini, sebenarnya adalah langkah yang nekad. Saya pernah mengikuti penulisan puisi secara antologi, tapi itu tentu saja bukan modal yang cukup untuk dapat menulis buku puisi atas nama sendiri.

Tapi saya suka langkah yang berani.

Dan tidak ada salahnya pula dengan menulis sebuah buku puisi, kan?

Alasan lain adalah saya suka pada puisi, pada sajak, pada syair, atau pada susunan kata-kata indah yang dibuat oleh orang-orang dengan imajinasi tinggi. Tentu saja saya bukan bagian dari ‘komplotan penyair romantis Indonesia’, namun rasanya keinginan untuk menulis sebuah buku puisi bukan sesuatu yang berlebihan.

Mengapa Judulnya Luka Gila Mati Lari?

Photo by Lydia on Pexels.com

Judul buku puisi ini terinspirasi dari kejadian puluhan tahun lalu, bahkan ketika saya sendiri belum dilahirkan. Empat kosakata ini terlahir dari sebuah peristiwa sejarah dalam keluarga dimana saya terlahir dan dibesarkan.

Sebagian besar isi buku puisi ini berkisah tentang keberanian, tentang semangat, tekad, tentang renungan akan kematian, dan tentu saja juga tentang cinta. Hal menarik lain adalah, saya menyelipkan beberapa tulisan bebas saya dalam buku ini.

Oh ya, buku puisi ini juga menjadi buku kedua dimana saya menggunakan nama dari masa kecil saya. Buku sebelumnya yang berjudul Mimpi Di Mahameru, saya juga cantumkan nama ini di atas sampulnya.

Nah, sebagai intermezzo untuk para pembaca www.penulisgunung.id, berikut saya publish salah satu puisi yang juga menjadi judul dari buku ini.


Luka Gila Mati Lari

Ia yang terluka, membanjir darah
Ia yang gila, hilang tak tentu arah
Ia yang mati, terkapar tak peduli
Ia yang lari, pergi menyelamatkan diri.

Hancur sudah!
Binasa dalam pertarungan
Pertempuran rasa hormat kesombongan
Perkelahian dan persaingan.
Sengit!
Sengit!
Mempertahankan pendirian kemuliaan pandangan adat manusia.

Ia yang terluka, terkoyak, tercabik
Ia yang gila, meraung, tertawa, menangis
Ia yang mati, sendiri, sepi, gentayangan
Ia yang lari, terseok, jauh, kehilangan harga diri.

Sudah terlanjur!
Nasi sudah menjadi bubur.

Pisau dan badik telah ditusuk, membuat terluka
Derita dan ambisi telah dibaca, membuat gila
Penyakit dan tekanan telah tiba, membuat mati
Kabar yang hilang, tak ada gairah berjuang, membuat lari.

Luka, dalam, robek!
Gila, hilang akal, meracau dan memaki, menangis dan memelas
Mati, binasa, tak bersisa
Lari, tunggang langgang, tiada bertulang.

Aduhai semangat si anak Bujang
Lahir dari rahim sang Pejuang
Itu dengar seruan zirahmu
Bergemuruh dari pusaka ayah ibumu.

Dengarkan itu!

Luka! Luka! Luka!
Gila! Gila! Gila!
Mati! Mati! Mati!
Lari! Lari! Lari!

Dengarkan itu!
Tengadahkan wajahmu, pompa keberanian dalam jantungmu
Basuh lukamu dengan air penyembuh
Rawat akalmu dengan kasih teduh
Bangunkan kematianmu dengan peluh tanpa riuh.

Jangan lari, jangan lari!
Berlutut!
Bukan kepada-dia, kepada-ia  atau kepada-nya
Atau kepada adat, kepada riak, kepada hukum manusia.

Tapi berlutut!
Sesenguklah kamu!
Kepada Dia, Dia, Dia.

Dia yang membasuh lukamu
Dia yang mewaraskan akalmu
Dia yang menghidupkan matimu
Dan Dia, 
yang menghentikan langkah pengecutmu
Mengembalikan kamu lagi ke medan laga.

Luka akan sembuh
Gila akan pulih
Mati akan suci
Lari akan kembali

Engkau si anak Bujang.
Hanya perlu berlutut dalam munajat panjang.

Banjengan 05 Desember 2020

anton sujarwo

Anton Sujarwo

Saya adalah seorang penulis buku, content writer, ghost writer, copywriters dan juga email marketer. Saya telah menulis 14 judul buku, fiksi dan non fiksi, dan ribuan artikel sejak pertengahan tahun 2018 hingga sekarang.

Dengan pengalaman yang saya miliki, Anda bisa mengajak saya untuk bekerjasama dan menghasilkan karya. Jangan ragu untuk menghubungi saya melalui email, form kontak atau  mendapatkan update tulisan saya dengan bergabung mengikuti blog ini bersama ribuan teman yang lainnya.

Tulisan saya yang lain dapat dibaca pula pada website;

Saya juga dapat dihubungi melalui whatsapp di tautan ini.

Fortopolio beberapa penulisan saya dapat dilihat disini:


Buat situs web atau blog di WordPress.com

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: