10 TIPS MELAKUKAN RISET DALAM MENULIS ARTIKEL ATAU BUKU NON FIKSI

Jika kamu menulis buku non fiksi atau artikel ilmiah, riset adalah hal pertama yang harus kamu lakukan. Riset dalam menulis non fiksi adalah faktor fundamental yang menentukan kekuatan hasil tulisan yang menjual, menarik bagi pembaca, kredibel dan dapat dipertanggungjawabkan.

Namun bagaimana sebenarnya melakukan riset untuk penulisan non fiksi? Bagaimana supaya artikel atau buku yang kamu tulis tidak terlihat seperti hanya salinan wikipedia atau ensiklopedia semata?

Saya akan membantu kamu melakukannya dalam artikel kali ini.

Berani Coba?

WUJUDKAN IMPIANMU MENJADI PENULIS MELALUI KELAS MENULIS ONLINE DI PENULIS GUNUNG ID

10 Formula Melakukan Riset dalam Menulis Non Fiksi untuk Buku atau Artikel

Photo by Dziana Hasanbekava

Riset adalah sebuah penelitian yang dilakukan untuk mengambil sebuah kesimpulan terhadap sebuah objek tertentu. Dalam penulisan, riset adalah suatu kegiatan mengumpulkan berbagai sumber informasi obyek penulisan baik yang dilakukan secara kepustakaan, observasi lapangan, interview atau metode lainnya.

Dalam ruang lingkup penulisan fiski, riset pun tidak dapat ditiadakan begitu saja. Jika kamu menulis novel sejarah atau historical fiction, riset justru menjadi bagian yang sangat krusial. Dapat dikatakan bahwa hampir semua jenis-jenis novel sejarah memberikan porsi yang besar dalam tahap risetnya.

Novel sejarah yang memadukan unsur imajinasi dan catatan sejarah, tidak dapat dilakukan tanpa penelitian. Apa yang dimaksud novel sejarah adalah perpaduan antara nilai peristiwa sejarah dengan imajinasi penulis yang disusun dalam larik cerita yang memikat pembaca. Jika salah satu dari dua unsur ini dihilangkan, penulisan historical fiction dalam sudut pandang novel tidak dapat dilakukan.

Jika dalam penulisan novel yang bercampur unsur fiski saja riset demikian memegang peranan signifikan, lantas bagaimana dengan penulisan artikel atau buku ilmiah?

Sudah pasti harus lebih prioritas, bukan?

Nah, untuk itulah tips-tips dalam melakukan riset penulisan non fiksi berikut ini penting untuk kamu pertimbangkan.

Tentukan Jenis Informasi Seperti Apa yang Dibutuhkan Buku atau Artikel yang Kamu Tulis

Photo by Pixabay

Ketika saya pertamakali menulis buku tentang pendakian gunung atau mountaineering, saya mengumpulkan banyak sekali sumber penelitian dari kegiatan riset yang dilakukan.

Penulisan ini menjadi sangat luas bahkan mencapai lebih dari 1200 halaman. Saya menulis tentang sejarah pendakian gunung dunia, darimana aktivitas ini berasal, bagaiman timeline dari masa ke masa, daerah mana saja yang menjadi fokus perkembangan, siapa saja tokohnya, dan lain sebagainya.

Intinya; saya mengumpulkam informasi apa pun yang saya temukan tentang mountaineering.

Sewaktu akan diajukan ke penerbit, naskah ini menjadi sangat tidak efektif.

Ini seperti eksiklopedia dunia pendakian gunung yang harus diterbitkan dalam setidaknya dua atau tiga jilid. Penerbit saya menolak naskah itu dan meminta saya untuk merevisinya terlebih dahulu.

Saya kemudian memutuskan untuk ‘memecah’ naskah panjang tersebut menjadi tiga buah buku dengan fokus pembahasan yang terpisah namun tetap terintegrasi.

Pada akhirnya setelah melalui penulisan ulang yang tentu saja harus menambah referensi riset disana sini kembali, jadilah kemudian tiga naskah buku saya yang pertama; Wajah Maut Mountaineering Indonesia (310 halaman), Dunia Batas Langit (650 halaman) dan Mahkota Himalaya (550 halaman).

Source: Koleksi Pribadi

Proses riset ini meskipun dapat menghasilkan tiga naskah buku sekaligus, tentu saja tidak efektif.

Nah, supaya hal serupa tidak terjadi dengan riset penulisan yang kamu lakukan, kamu bisa melakukannya secara lebih terarah. Cari apa yang sebenarnya yang ingin kamu temukan dalam riset tersebut.

Tips tambahan untuk hal ini adalah dengan membuat daftar informasi apa saja yang kamu butuhkan. Membuat daftar seperti ini jauh lebih baik daripada seharian membolak-balikkan halaman buku atau mengunjungi puluhan situs di internet tanpa arah yang jelas.

Jika kamu membuat kerangka dalam penulisan non fiksi dengan baik, riset dengan daftar seperti ini akan jauh lebih mudah dilakukan. Panduan outline sebagai garis besar cerita akan memberikan kamu arah informasi apa saja yang kamu butuhkan untuk melengkapi tulisan kamu nantinya.

Baca Juga:

Tentukan Berapa Banyak Informasi yang Dibutuhkan Artikel atau Buku yang Kamu Tulis

Photo by brotin biswas

Tips kedua dalam melakukan riset non fiksi adalah dengan menentukan seberapa banyak informasi yang kamu perlukan?

Hal ini akan bergantung pula dengan beberapa hal seperti;

  • Seberapa banyak pengetahuan yang kamu miliki terhadap obyek yang kamu tulis. Semakin banyak pengetahuan yang sudah kamu ketahui, maka semakin sedikit riset yang kamu butuhkan. Namun kamu juga mungkin perlu memverifikasi informasi yang kamu ragu-ragu tentangnya.
  • Pengalaman yang kamu miliki juga akan menentukan kuantitas riset. Pengalaman yang lebih banyak bukan hanya akan membuat riset kamu menjadi lebih ringan, namun juga akan membuat tulisan kamu terasa lebih alami untuk dibaca.
  • Panjang tulisan. Semakin panjang artikel yang kamu tulis, maka semakin banyak kamu memerlukam riset. Itu adalah suatu logika yang lumrah, bukan?

Jika kamu hanya menulis artikel sepanjang 500 kata, kamu mungkin hanya perlu riset dari 2 atau 3 sumber saja. Namun jika kamu menulis buku dengan panjang 500 halaman, riset yang kamu lakukan bisa berdasarkan ratusan sumber pula.

Tentukan Seberapa Detail Tulisan yang Dibutuhkan Pembacamu

Photo by lilartsy

Ini memang bukan tips menulis novel yang populer, namun pesannya adalah sama bahwa kamu harus mengetahui siapa pembaca tulisanmu.

Jika kamu menulis suatu topik untuk kalangan umum, atau untuk usia anak-anak, atau untuk kalangan yang memiliki pemahaman terhadap obyek yang kamu tulis pada tahap yang biasa, maka kamu harus membuatnya sederhana.

Hindari menggunakan kata-kata yang rumit, pembahasan yang njelimet dan membingungkan. Penulisan yang terlampau spesifik untuk sebuah subyek penulisan dimana pembacanya adalah masyarakat umum cenderung jadi membosankan. Dan itu tidak disukai oleh para pembaca.

Sebaliknya, jika kamu menulis tentang subyek yang pembacanya memiliki cukup baik pengetahuan, maka kamu membutuhkan riset yang lebih detail.

Orang-orang dengan segmentasi seperti ini menginginkan suatu informasi yang belum mereka ketahui. Atau pun jika mereka sudah mengetahuinya, kamu harus mampu menyampaikannya dari sudut pandang yang berbeda.

Bayangkan saja misalnya jika kamu menulis informasi kesehatan mata untuk kalangan pembaca yang mayoritas adalah praktisi gizi, latar belakang medis dan kesehatan umum. Kamu tentu saja tidak bisa hanya mencantumkan bahwa wortel itu bagus untuk mata, karena mereka semua sudah mengetahui informasi dasar tersebut.

Jadi prinsipnya adalah; kenali siapa pembaca tulisanmu dan itu akan menentukan seberapa detail riset yang kamu butuhkan.

Tentukan Dimana Bisa Mendapatkan Informasi yang Kamu Butuhkan

Photo by Pixabay

Sewaktu saya melakukan launching buku saya yang berjudul Gunung Kuburan Para Pemberani, seorang peserta mengajukan ‘tembakan sebelah mata’ pada saya dengan mengatakan;

“Pada masa kami, jika kami ingin melukis harimau dari Siberia, maka kami harus datang ke Siberia dan menggambarnya secara langsung”

Ini sebenarnya adalah ungkapan sindiran bahwa saya menulis sejarah aktivitas pendakian gunung di dunia tetapi saya sendiri belum pernah mendaki puncak Everest atau terjebak badai salju di Alaska. Peserta itu menyindir saya yang menulis hanya berdasarkan riset melalui buku, majalah dan internet saja.

Saya tidak menyanggah hal itu, namun pertanyaan  saya selanjutnya adalah:

  • Jika seseorang harus mencapai puncak Everest dulu atau terbenam di badai Alaska dulu untuk menulis buku tentang mendaki gunung, maka buku dengan tema ini bisa saja tidak akan pernah ditulis. Bukankan beberapa orang yang menjadi pendaki gunung sungguhan justru tidak pernah menulis buku? Jika demikian, bagaimana masyarakat awam namun haus pengetahuan tentang mountaineering akan mendapatkan informasi tentang hal ini?
  • Apakah internet dengan sumber validitasnya yang bisa langsung dikomparasi tidak cukup dijadikan sebagai sumber penulisan? Apakah itu menyalahi aturan?
  • Jika demikian, kapan Indonesia akan memiliki buku-buku yang secara khusus menulis dunia pendakian gunung?

Internet adalah berkah dalam kehidupan modern. Manusia bisa mencari informasi apa pun saja di internet dan memvalidasinya dalam waktu yang sama melalui sumber yang berbeda. Internet bagaimana pun kamu menolaknya, adalah wadah raksasa yang telah mengubah dinamika riset kepenulisan menjadi lebih mudah.

Akan tetapi memang, sumber ini juga memiliki titik lemahnya jika si penulis menjadi malas untuk memburu sumber lainnya sementara ia sendiri bisa melakukannya.

Jika riset melalui internet membuat kamu malas datang ke perpustakaan dimana kamu sendiri dapat menghirup aroma kertas kuno yang menjadi sumber penulisan klasikmu, maka itu yang mungkin patut dikhawatirkan.

Periksa Sumber Riset yang Kamu Lakukan dengan Cermat

Photo by Markus Spiske

Untuk penulisan yang bersumber dari internet, setidaknya kumpulkan tiga sumber berbeda untuk memvalidasi satu subyek yang dituliskan.

Ini adalah cara yang umum dilakukan guna mengantisipasi sumber di internet yang bisa saja tidak benar. Kamu mungkin terpesona dengan uraian yang disampaikan dalam sebuah situs terkenal dan tertarik menjadikannya sebagai sumber penulisan. Namun tetap saja kamu harus mengkonfirmasinya dengan setidaknya dua situs lain untuk melihat akurasi isi yang disampaikan.

Tetapi bagaimana jika semua situs tersebut mengambil sumber dari situs lain yang tidak benar dari awal?

Nah, untuk itulah kamu tetap membutuhkan kecermatan yang tinggi dalam memilihnya. Saya bahkan biasanya menggunakan lebih dari 10 sumber penulisan untuk sebuah obyek yang diceritakan. Buku-buku pendakian gunung yang saya tuliskan bahkan memiliki sumber penulisan dari berbagai macam bahasa dunia seperti Inggris, Italia, Polandia, Jepang dan juga Rusia.

Motivasi menulis novel sejarah seperti pendakian gunung baik ia fiksi atau non fiksi, harus menempatkan riset dengan cermat. Proses ini tidak bisa dilakukan dalam waktu satu malam. Kamu harus menyaring mana sumber penulisan yang layak kamu gunakan dan yang tidak seharusnya kamu gunakan.

Pastikan Riset yang Kamu Lakukan Menarik bagi Pembaca

Photo by Andrea Piacquadio

Setelah memilih sumber penulisan secara cermat dan hati-hati, kamu juga harus dapat memilih sumber yang memiliki nilai bagi pembacamu. Tidak ada pembaca yang tertarik dengan sesuatu yang mereka sudah ketahui atau dapat mereka cari dengan mudah informasinya.

Meskipun demikian, kamu juga tetap harus sangat hati-hati dalam menuliskannya. Dan yang paling tidak boleh kamu lakukan adalah mengakui sumber risetmu sebagai sesuatu yang menjadi milik kamu sendiri. Ini adalah plagiat, dan plagiat adalah dosa penulis yang paling berat.

Hal menarik lain untuk kamu perhatikan terkait plagiarisme jika kamu mempublikasikan tulisanmu di internet pula adalah; beberapa kebijakan publishing yang menyatakan bahwa 3 kata berurutan adalah termasuk plagiat.

Walau pada umumnya tidak ada penulis yang berencana secara sadar untuk melakukan plagiat. Namun, plagiarisme secara tidak sengaja cukup sering terjadi.

Kamu harus berhati-hati untuk menghindarinya.

Baca pula:

Jika Memungkinkan, Seimbangkan Dengan Interview

Photo by RODNAE Productions

Metode riset penulisan yang masih sangat efektif hingga kapan pun nampaknya adalah wawancara.

Interview atau wawancara dengan seseorang yang memiliki background pengetahuan suatu objek secara luas akan memberikan kamu banyak manfaat. Kamu bisa mengkoreksi hasil riset internet dengan cara ini, atau kamu juga dapat mengambil sudut pandang mereka.

Supaya paparan yang kamu berikan pada pembaca menjadi lebih kaya, kamu dapat menampilkan hasil wawancara pada dua orang yang memiliki pendapat berbeda mengenai obyek yang kamu tulis.

Jika penulisannya sendiri kamu buat dalam format interview, teknik ini bahkan akan membuat karyamu akan jauh lebih ‘hidup’ untuk dibaca.

Hindari Informasi yang Tidak Relevan Meskipun itu Menarik

Photo by Vlada Karpovich

Sangat mudah untuk hanyut dalam aliran riset ketika kamu merasa tertarik di dalamnya. Praktikknya adalah saat kamu melakukan riset melalui internet dan kamu menemukan apa yang kamu cari disana, maka jangan buru-buru untuk beralih ke sumber lain sebelum kamu mencatatnya.

Ketika kamu beralih ke platform lain setelah mendapatkan tujuan risetmu di internet, kamu akan lebih mudah untuk mengalami ‘pengaburan target penulisan’. Beberapa penulis menyatakan ini sebagai sebuah risiko munculnya ide-ide irelevansi dimana tujuan risetmu tidak lagi memiliki hubungan yang kuat dengan apa yang kamu tulis nantinya.

Menariknya, internet bukan hanya tempat untuk mendapatkan pengaburan semacam ini. Risiko irelevansi pun dapat terjadi pada saat kamu melakukan riset menggunakan buku, sumber riset yang paling populer sepanjang masa.

Bagaimana mungkin?

Contohnya begini:

Anggaplah kamu sedang mencari informasi tentang Paus Urbanus II yang pidatonya memicu terjadinya perang salib selama dua abad yang sangat terkenal itu. Pada saat kamu sudah menemukan apa yang kamu cari pada sebuah sumber buku tentang perang salib, hentikan membacamu dan pindahkan informasi itu ke dalam catatan risetmu.

Jika kemudian kamu memperturutkan hati kamu yang tertarik pada peristiwa lain dalam buku sejarah itu, maka uraian penulisan kamu tentang Paus Urbanus II sendiri nantinya bisa saja akan mengalami pengaburan atau distraksi.

Beri Kesempatan pada Pembaca jika Ingin Mengetahui Lebih Banyak

Photo by Abby Chung

Dunia pendakian gunung yang demikian kompleks dan luas, tidak mungkin dapat saya tuliskan semua dalam buku saya meskipun jumlahnya hingga 650 halaman. Aktivitas mountaineering yang dinamis dan terus berlanjut, tidak memberi saya kesempatan untuk mencatatnya terus menerus tanpa ketinggalan.

Nah, untuk itulah saya harus menyampaikan hal tersebut ke pembaca buku-buku saya dengan cara memberikan mereka akses informasi untuk mendapatkan pengetahuan yang lebih banyak. Saya mencantumkan daftar pustaka yang lengkap, baik itu berupa buku, film, majalah atau pun situs internet.

Jika kamu menulis bahasan yang kompleks dan luas seperti yang saya lakukan, maka kamu pun dapat melakukan hal yang sama. Beri tahu pembacamu dimana mereka dapat memperoleh informasi yang lebih spesifik dan mendetail.

Di samping sebagai wujud ‘kerendahan hati’ dimana kamu mengakui kekurangan artikel atau buku yang kamu tulis, langkah ini juga akan meningkatkan reputasi dan kredibilitas tulisan di mata para pembaca.

Pastikan Kamu Mencatat Alamat Sumber Riset yang Digunakan

Photo by Burst

Setiap kali kamu menemukan informasi yang menurut kamu penting dan berharga dalam sebuah situs, pastikan kamu menyimpan alamatnya dengan di-bookmark atau pun disalin manual. Suatu ketika kamu mungkin perlu membaca ulang referensi riset itu. Atau dalam skenario yang lain, kamu mungkin saja dapat mengembangkannya menjadi lebih menarik.

Ada banyak penulis pemula yang tidak menyimpan alamat situs dimana mereka menemukan informasi berharga, sehingga ketika mereka membutuhkannnya kembali untuk sekedar pengecekan ulang, mereka telah kehilangan alamatnya.

Hal ini sama pula jika kamu misalnya menggunakan metode interview dalam riset. Pastikan pula kamu mencatat secara cermat nama dan kata-kata yang disampaikan narasumber. Dalam banyak kasus, penulis yang kurang teliti bisa saja menghadirkan kerancuan atau malah informasi yang justru tidak sesuai dengan kenyataan.

Lalu, bagaimana dengan riset menggunakan sumber pustaka berupa buku?

Prinsipnya sama. Hanya saja untuk memudahkannya kamu mungkin bisa menandai halaman tertentu yang menjadi tempat dimana informasinya kamu peroleh.

Ingatlah selalu bahwa pembaca mencari informasi yang disediakan berdasarkan sumber-sumber yang benar dan dapat dipercaya. Jika kamu mampu memberikan ini kepada mereka dengan riset yang kamu lakukan seperti tips-tips di atas, maka kamulah yang mereka cari dan mereka butuhkan.

Dan jika itu terjadi,  artinya pintu gerbang kesuksesanmu sudah dapat diketuk.

Selanjutnya kedisiplinan dan ketekunanmu-lah yang akan membuatnya terbuka.

Baca juga:


anton sujarwo

Anton Sujarwo

Saya adalah seorang penulis buku, content writer, ghost writer, copywriters dan juga email marketer. Saya telah menulis 15 judul buku, fiksi dan non fiksi, dan ribuan artikel sejak pertengahan tahun 2018 hingga sekarang.

Dengan pengalaman yang saya miliki, Anda bisa mengajak saya untuk bekerjasama dan menghasilkan karya. Jangan ragu untuk menghubungi saya melalui email, form kontak atau  mendapatkan update tulisan saya dengan bergabung mengikuti blog ini bersama ribuan teman yang lainnya.

Tulisan saya yang lain dapat dibaca pula pada website;

Saya juga dapat dihubungi melalui whatsapp di tautan ini.

Fortopolio beberapa penulisan saya dapat dilihat disini:


2 respons untuk ‘10 TIPS MELAKUKAN RISET DALAM MENULIS ARTIKEL ATAU BUKU NON FIKSI

Add yours

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog di WordPress.com

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: