Lompat ke konten
Beranda » Blog » Menyerah Dengan Keadaan? Mungkin 15 Ini Alasannya

Menyerah Dengan Keadaan? Mungkin 15 Ini Alasannya

Ada banyak alasan mengapa seseorang kemudian memilih menyerah dengan keadaan yang menimpanya. Namun jika digali lebih dalam, alasan mengapa seseorang menyerah sebenarnya tidak pernah keluar dari 15 hal berikut ini.

Nah, spesial untuk artikel kali ini Penulis Gunung akan mengajak untuk melakukan refleksi tentang 15 alasan utama mengapa orang begitu mudah menyerah dengan keadaan yang membelenggu mereka. Sebagai para penulis, ini adalah bagian yang tidak terpisahkan pula.

Jadi, mari baca artikelnya sampai akhir, ya.

Kamu punya kisah hidup menarik untuk dijadikan buku namun bingung cara menuliskannya?

15 Alasan Mengapa Orang Begitu Mudah Menyerah Dengan Keadaan

Menyerah dengan keadaan
Photo by Andrea Piacquadio on Pexels.com

Ketika kamu mengadapi situasi sulit dan terpikir ingin menyerah dengan keadaaan, sebenarnya kamu sama sekali belum gagal. Kegagalan hanya terjadi ketika kamu memutuskan untuk menyerah pada keadaan kemudian berhenti berupaya dan berjuang.

Kondisi rasa ingin menyerah kepada keadaan, juga umum dalam dunia menulis. Seseorang bisa saja begitu menggebu ingin bisa menulis, bisa memiliki buku atas namanya sendiri, atau menuliskan ide cerita hebat yang ia pikir akan menjadi sebuah bacaan best seller.

Akan tetapi tidak lama kemudian, keinginan tersebut hanyalah sebatas keinginan.

Ketika keadaan nampaknya tidak mendukungnya untuk menulis dan menyelesaikan idenya, ia menyerah. Pada akhirnya, impiannya memiliki buku hanyalah menjadi sebuah cerita saja.

Nah, apa yang terjadi dengan kondisi semacam ini? Mengapa orang-orang demikian gampang menyerah pada keadaan?

Saya akan berbagi 15 alasan yang paling penting di antaranya.

1. Menyerah Dengan Keadaan karena Berharap Hasil yang Cepat

Photo by Sanndy Anghan on Pexels.com

Kesuksesan yang cepat melahirkan ego, kesuksesan yang alami membentuk karakter

– Anonim –

Kota Roma tidak dibangun dalam satu malam, untuk mencapai puncak tertinggi gunung Everest, kamu harus memulainya dari bawah, kemudian berproses mendaki camp demi camp.

Nah, begitu pula dengan tujuanmu, kesuksesanmu, atau buku yang ingin kamu tuliskan. Kamu tidak bisa membuatnya berhasil dalam satu malam.

Berapa banyak orang yang menyerah terlalu cepat karena mereka ingin hasil yang cepat, yang instan dan yang segera. Padahal semuanya membutuhkan proses dan membutuhkan waktu.

Hal inilah yang kemudian membuat orang menjadi cepat menyerah dengan keadaan; karena mereka mengharapkan hasil yang cepat dan tidak siap berjuang lebih jauh.

2. Berhenti Percaya pada Diri Sendiri

Photo by Anete Lusina on Pexels.com

Ketika menjumpai sebuah kesulitan di depan mereka, beberapa orang justru menjadi termotivasi untuk berhasil dan sukses. Namun sebaliknya, tidak sedikit juga yang kemudian mundur dan menyerah, mereka kehilangan rasa percaya pada dirinya sendiri.

Jika kamu mencari kata mutiara menyerah dengan keadaan untuk mendorong supaya kamu termotivasi lagi, itu mudah.  Ada ribuan kata-kata indah yang ditenun sedemikian rupa untuk mendorong semangat untuk terus berupaya.

Akan tetapi yang terpenting adalah, percayalah pada diri kamu sendiri.

Ada sebuah kekuatan yang telah disiapkan oleh Tuhan dalam dirimu untuk menyelesaikan semua kesulitan. Percaya saya pada diri sendiri kemudian berjuanglah dengan cara yang terbaik.

3. Menyerah dengan Keadaan karena Terpaku pada Masa Lalu

Photo by Lisa Fotios on Pexels.com

Masa lalu sudah berlalu, masa depan bisa jadi tidak pernah datang. Satu-satunya masa yang kita miliki adalah sekarang dan saat ini juga. Jadi, lakukan yang terbaik

– A Wan Bong –

Alasan yang ketiga mengapa seseorang demikian mudah menyerah dengan keadaan yang ia hadapi adalah karena ia terpaku pada masa lalu. Satu bagian dari masa lalunya seolah menjadi belenggu yang membuat hati, perasaan, dan kemampuannya terpenjara.

Padahal kamu sendiri sudah tahu bahwa manusia tidak hidup dalam masa lalu mereka, bukan?

Manusia bagaimana pun bentuknya selalu hidup di masa sekarang, bukan di masa lalu atau pun di masa depan. Masa depan bisa dipersiapkan, tetapi tidak ada yang dapat memastikan apakah seseorang bisa menemuinya atau tidak.

Jadi, jika kamu merasa kamu begitu mudah menyerah dengan keadaan, coba lihat lagi ke dalam dirimu sendiri; apakah ada belenggu masa lalu yang masih membuatmu tetap terpaku?

4. Menyerah dengan Keadaan karenaTakut Masa Depan

Menyerah dengan keadaan
Photo by Karolina Grabowska on Pexels.com

Pernahkah kamu mendengar kata mutiara jangan menyerah dengan keadaan yang isinya kurang lebih seperti ini; Bagaimana pun buruknya masa lalu seseorang, masa depannya tetap suci.

Jadi, apa yang sebenarnya yang kamu takutkan dengan masa depan?

Beberapa orang yang memilih menyerah pada kesulitan dan rintangan kadangkala bukanlah orang yang bodoh, tidak berpendidikan, atau pun terlahir dalam kondisi yang kekurangan. Bahkan ada lebih banyak orang dengan segala kesempurnaan justru merasa takut menghadapi masa depan.

Menariknya, ketakutan ini bukannya membuat mereka semakin teguh berjuang. Justru sebaliknya, malah menyerah dengan mudah dan merasa tidak ada yang bisa ia lakukan untuk memperbaiki masa depannya.

5. Menyerah dengan Keadaan karena Menolak untuk Berubah

Menyerah dengan keadaan
Photo by Brett Sayles on Pexels.com

Nah, ini adalah salah satu penyebab terbesar mengapa banyak orang cepat menyerah dengan keadaan mereka. Ketika seseorang menolak untuk berubah, ia sudah lebih dulu membatasi dirinya untuk mencapai sesuatu yang baru atau melakukan sesuatu yang baru.

Perubahan adalah sebuah keniscayaan dalam hidup. Semua sendi dalam kehidupan akan berubah. Zaman akan berubah, manusia akan berubah, teknologi akan berubah dan segalanya akan berubah.

Satu-satunya yang tidak akan pernah berubah adalah perubahan itu sendiri.

Untuk mencapai sesuatu yang belum pernah ia capai sebelumnya, manusia harus bersedia melakukan apa yang mungkin belum pernah ia lakukan sebelumnya. Dan untuk itu, ia harus bersedia berubah.

6. Meyakini Kelemahan Diri

Photo by Keira Burton on Pexels.com

Setelah kehilangan rasa percaya pada diri sendiri, bagaimana jika ‘disempurnakan’ dengan kamu juga meyakini bahwa kamu memang adalah orang yang lemah, tidak bisa berbuat banyak dan sudah sewajarnya cepat menyerah?

Tolong, jangan lakukan itu!

Ada begitu banyak orang yang memilih menyerah bahkan pada masa-masa awal pertarungan bukan karena ia tidak mampu, tetapi karena ia percaya hembusan angin jahat yang bertiup dan mengatakan bahwa ia adalah sosok yang lemah.

Kamu bisa mengartikan kelemahan ini dalam banyak perspektif, tapi itu sama sekali bukan alasan kamu boleh meyakininya untuk kemudian menyerah kalah.

7. Rasa Takut Gagal lebih Besar dari Keinginan Berhasil

Menyerah dengan keadaan
Photo by Liza Summer on Pexels.com

Jika keinginanmu untuk sukses ada pada angka 10 sementara ketakutanmu akan gagal ada pada angka 90, maka sudah pasti kamu akan lebih cepat menyerah. Ketakutan yang besar pada risiko bahkan dalam ukuran yang berlebihan adalah penyebab lain mengapa banyak orang cepat memutuskan untuk menyerah.

Bangun hasratmu untuk berhasil lebih besar dari rasa takutmu akan gagal. Imajinasikan bagaimana jika kamu berhasil menulis sebuah buku misalnya, bagaimana rasanya, apa yang kamu dapatkan, dan lain sebagainya.

Kemudian bayangkan pula dalam imajinasimu jika kamu gagal; Apa sih, hal yang paling buruk terjadi jika kamu gagal?

Apakah kamu akan dihukum mati, digantung atau apa?

Perbesar keinginanmu untuk sukses dan kerdilkan ketakutanmu pada kegagalan. Itu adalah salah satu rumus supaya kamu tidak cepat menyerah dengan keadaan.

8. Menyerah dengan Keadaan karena Bertahan pada Kelemahan

Menyerah dengan keadaan
Photo by Ron Lach on Pexels.com

Inti dari bertahan pada kelemahan adalah kamu sebenarnya tidak mau belajar untuk menjadi lebih baik.

Bertahan pada kelemahan adalah alasan lainnya mengapa seseorang demikian cepat menyerah pada keadaan ketika dihadapkan pada situasi yang sulit.

Sadari kelemahanmu tapi jangan bertahan disana.

Terus berjuang, terus berusaha dan yang paling penting; jangan pernah menyerah dengan keadaan apa pun yang sekarang sedang menghimpit dirimu.

Bergerak, belajar, dan jadilah lebih baik.

9. Menganggap Dunia Berhutang pada Kesuksesannya

Photo by Artem Beliaikin on Pexels.com

Apakah kamu sempat terpikir bahwa kesuksesanmu adalah tanggung jawab orang lain?

Hanya karena kamu pintar dan cerdas, bukan berarti kamu otomatis dapat sukses dengan mudahnya. Hanya karena kamu baik hati dan berkata lemah lembut, tidak berarti kesuksesan akan datang dengan gampang.

Pendek kata, hanya karena kamu karena merasa pantas untuk sukses bukan berarti dunia berhutang kesuksesan padamu.

Ketika seseorang merasa bahwa dunia berhutang kepadanya hanya karena ia baik hati, tidak sombong, dan penuh dengan hati tulus, itu sama sekali bukan alasan bahwa semuanya akan menjadi mudah untuk dijalani.

Anggapan seperti ini pada banyak kondisi, justru menggiring seseorang untuk lebih cepat menyerah pada keadaan.

10. Tidak Pernah Memvisualisasikan Apa yang Mungkin Saja Terjadi

Photo by Ali Pazani on Pexels.com

Alasan selanjutnya mengapa seseorang bisa dengan mudah menyerah adalah karena tidak pernah memvisualisasikan apa yang mungkin saja terjadi jika ia terus berjuang.

Orang-orang yang memvisualisasikan impian mereka dengan jelas memiliki kekuatan dan ketahanan yang lebih baik dalam upaya menggapai impian tersebut. Ada sebuah gambaran yang jelas dalam pikiran mereka bahwa jika mereka terus berjuang dan berusaha, mereka akan tiba pada realitas yang menjadi visualisasi mereka.

Manusia tidak akan pernah tahu apa yang akan terjadi esok hari, tetapi pikiran mereka mampu membayangkannya. Kemampuan membayangkan ini adalah wujud visualisasi yang sederhana untuk mendorong kamu jangan pernah menyerah pada keadaan.

11. Menyerah dengan Keadaan karena Merasa Kehilangan Sesuatu

Menyerah dengan keadaan
Photo by cottonbro on Pexels.com

Ada pula orang-orang yang merasa kehilangan sesuatu sehingga semangatnya seolah ikut gembos dan melempem dalam berupaya. Pada akhirnya semangat yang mengendur ini berperan pula sebagai dorongan untuk segera menyerah dengan keadaan.

Mungkin kamu pernah mendengar sebuah kata bijak menyerah dengan keadaan yang bunyinya kurang lebih seperti ini; Orang yang sukses adalah orang yang terus berupaya secara berulang-ulang tanpa sedikit pun kehilangan rasa antusias.

Mungkin itu bukan redaksi yang benar, namun maksudnya adalah perjuangan yang terbaik harus dilandasi dengan semangat, fokus dan kedisiplinan.

Dalam dunia menulis pun demikian. Para penulis pemula biasa menjadikan mood sebagai alasan mereka untuk menulis.

Pada kondisi sebaliknya, mereka juga menyalahkan mood ketika mereka enggan menulis kembali. Akhirnya, mereka juga merasa telah kehilangan sesuatu (mood) yang kemudian mendorong mereka untuk menyerah pada keadaan dengan lebih cepat.

12. Berlebihan dalam Bekerja

Photo by cottonbro on Pexels.com

Jangan salah, berlebihan dalam bekerja pun dapat mendorong seseorang untuk lebih cepat menyerah.

Bekerja terlalu keras, yang diporsir, tanpa mengenal waktu untuk istirahat, jelas adalah sesuatu yang keliru. Di samping hal ini buruk bagi kesehatan dan lingkungan sekitar, bekerja dalam porsi yang berlebihan juga akan membuat semangat seseorang lebih mudah mengendur kemudian menyerah dengan keadaan.

Bagaimana bisa demikian?

Tentu saja bisa.

Setelah kamu merasa sudah melakukan semuanya, dengan keras, tanpa henti dan tanpa jeda, kamu akan lebih cepat lelah. Kelelahan ini akan mendorongmu untuk menyerah jika ternyata keadaan yang ingin kamu ubah tak kunjung membuahkan hasil.

Jadi, saran terbaiknya adalah bekerjalah dengan keras dan disiplin namun jangan berlebihan. Pada waktunya istirahat, gunakan untuk istirahat. Pada saatnya berlibur bersama keluarga, gunakan pula waktu itu untuk berlibur bersama orang-orang tercinta.

13. Menganggap Masalahnya Unik

Menyerah dengan keadaan
Photo by Sofia Alejandra on Pexels.com

Tidak ada masalah yang tidak dapat diselesaikan, bahkan tidak selesainya masalah adalah penyelesaian masalah itu sendiri –  A Wan Bong

Ada pula seseorang yang memilih menyerah dengan keadaan itu karena merasa masalah yang ia hadapi sangat unik, pelik dan tidak dapat diselesaikan. Padahal tidak ada masalah yang melampaui kemampuanmu untuk menyelesaikannya.

Ada banyak masalah yang pelik, yang sulit, yang tidak mudah mendapatkan titik temu. Namun, ingat jugalah tidak ada masalah yang tidak memiliki jalan keluar, tidak ada masalah yang unik dan ditakdirkan tanpa solusi.

Jadi, jangan pernah menganggap masalahmu lebih besar daripada kekuatan Tuhan yang akan menyelesaikannya melalui doa dan munajatmu.

14. Melihat Kegagalan Sebagai Tanda untuk Mundur

Photo by Jou00e3o Vu00edtor Heinrichs on Pexels.com

Berapa kali percobaan yang sebenarnya harus dilakukan sampai seseorang dibenarkan untuk mundur dan menyerah dengan keadaan dirinya?

Satu kali?

10 kali?

100 kali?

Atau, 1000 kali?

Tidak ada rumus khusus dalam hal ini. Kamu bisa mengakhiri perjuanganmu kapan saja.

Akan tetapi hal yang pasti juga adalah kegagalan bukanlah tanda bahwa kamu harus mundur dari medan juang.

Thomas Alfa Edison gagal 1000 kali sebelum bisa membuat lampu bohlam. Abraham Lincoln gagal berkali-kali sebelum menjadi presiden.

Dan kamu, berapa kali kamu gagal sehingga merasa menyerah adalah jalan keluar terbaiknya?

15. Mengasihani Diri Sendiri

Menyerah dengan keadaan
Photo by Liza Summer on Pexels.com

Jika kamu keras pada diri sendiri, dunia akan lembut kepadamu. Namun jika kamu lembek pada dirimu sendiri, maka dunialah yang akan keras kepadamu

– Anonim –

Alasan terakhir mengapa seseorang demikian mudah menyerah pada keadaan adalah karena ia terjebak untuk mengasihani dirinya sendiri. Setelah berjuang berdarah dan terjatuh, dipinggirkan atau tak diberi pertolongan, ia mulai merasa bahwa dirinya begitu menyedihkan sehingga layak untuk dikasihani.

Jangan lakukan itu!

Mengasihani diri sendiri akan menggiringmu pada kelemahan kemudian membenarkan tindakanmu untuk menyerah dan kalah. Calon pemenang adalah pribadi yang penyayang, mereka menyanyangi diri mereka sendiri namun tidak menaruh kasihan bagi dirinya sendiri.

Lalu, bagaimana contohnya mengasihani diri sendiri itu?

Kamu sudah berusaha sangat keras tapi belum juga berhasil, kemudian terpikir olehmu untuk menyerah dengan melihat bahwa kamu sudah begitu lelah dalam berusaha. Atau pada situasi yang lain; kamu berasal dari keluarga yang kekurangan kemudian berusaha dengan keras namun masih gagal juga, kemudian kamu menyerah dengan alasan masa lalumu.

Sekali lagi, jangan pernah mengasihani diri sendiri karena hal itu akan melemahkanmu juga mengecilkan dirimu sendiri.

Shopee Mantul

Berjuanglah terus, berupayalah lebih baik, iringi usahamu dengan doa kepada Tuhan. Dan yang paling penting; Jangan pernah menyerah dengan keadaan?!

BACA JUGA:


Tingkatkan skill menulismu

Yuk, gabung di Kelas Menulis Online Penulis Gunung dan keterampilan menulismu akan naik satu level


Penulis terbaik

Anton Sujarwo

Saya adalah seorang penulis buku, content writer, ghost writer, copywriters dan juga email marketer. Saya telah menulis 16 judul buku, fiksi dan non fiksi, dan ribuan artikel sejak pertengahan tahun 2018 hingga sekarang.

Dengan pengalaman yang saya miliki, Anda bisa mengajak saya untuk bekerjasama dan menghasilkan karya. Jangan ragu untuk menghubungi saya melalui email, form kontak atau  mendapatkan update tulisan saya dengan bergabung mengikuti blog ini bersama ribuan teman yang lainnya.

Tulisan saya yang lain dapat dibaca pula pada website;

Saya juga dapat dihubungi melalui whatsapp di tautan ini.

Fortopolio beberapa penulisan saya dapat dilihat disini:


%d blogger menyukai ini: