MENGENAL SUDUT PANDANG NOVEL YANG PALING UMUM DALAM PENULISAN KARYA SASTRA

Dalam penulisan cerita fiksi dan non fiksi, sudut pandang adalah elemen yang tidak dapat ditinggalkan. Semakin baik kamu memahami sudut pandang novel atau cerpen sebagai seorang penulis, semakin besar pula peluang kamu untuk merekayasa cerita yang lebih kuat dan menyentuh emosi pembaca. Dan menariknya, hal ini dapat kamu pelajari dengan mudah.

Nah, sebelum membahas sudut pandang apa saja yang paling umum digunakan dalam penulisan novel dan karya sastra lainnya, yuk, kita ingat kembali pengertian sudut pandang dalam sebuah penulisan.

Pengertian Sudut Pandang Novel, Jenis, Penjelasan dan Contoh yang Mudah untuk Memahaminya

Source: Freepik

Kamu mungkin saja pernah mendengar istilah sudut pandang orang pertama kedua dan ketiga dalam sebuah penulisan. Lantas, apa sih, yang disebut dengan sudut pandang itu?

BACA JUGA:

Pengertian Sudut Pandang

Source: Freepik

Istilah lain yang paling populer dari sudut pandang adalah Point of View. Secara sederhana point of view  atau sudut pandang adalah tentang bagaimana seorang penulis menempatkan dirinya dalam cerita. Sudut pandang berkaitan erat dengan teknik bercerita karena ia menjadi sentral bagaimana sang penulis menghadirkan visi-visi pengarang dari cara pandang karakter yang ia ceritakan.

Dilihat dari fungsinya, sudut pandang adalah unsur penceritaan fiksi yang sangat penting dan memiliki peran besar bagi kesuksesan dalam penulisan novel atau cerpen. Seorang penulis hebat sudah seharusnya dapat memilih sudut pandang terbaik yang seperti apa, yang dapat ia gunakan dalam sebuah penulisan topik cerita.

Jenis-Jenis Sudut Pandang

Setidaknya ada beberapa jenis jenis sudut pandang yang paling umum dipergunakan dalam penulisan fiksi.

Nah, berikut penjelasan dan juga contohnya. Yuk, disimak sampai selesai, ya.

Sudut Pandang Orang Pertama Tunggal

Source: Freepik

Dalam sudut pandang yang satu ini, penulis atau pengarang menempatkan dirinya sebagai pelaku dalam cerita. Jadi, penulis disini adalah sekaligus pelaku dalam cerita yang ia tulis. Umumnya dalam jenis yang pertama ini penulis akan menggunakan narator sebagai “Aku” atau “Saya” sebagai caranya untuk bercerita.

Sudut pandang orang pertama tunggal sendiri terbagi dalam dua bagian yakni; Penulis sebagai “Aku” tokoh utama, dan penulis sebagai “Aku” bukan tokoh utama.

Lalu, bagaimana penjelasan dari masing-masing sudut pandang “Aku” ini?

Berikut uraiannya.

Penulis Sebagai “Aku” Tokoh Utama

Dalam “Aku” sebagai tokoh utama, penulis akan membagikan cerita mengenai dirinya sendiri, aksinya dan juga kejadian di sekitarnya kepada para pembaca. Para pembaca novel yang menggunakan sudut pandang orang pertama “Aku” sebagai pelaku cerita, akan menerima uraian cerita berdasarkan apa yang dilihat, didengar, dicium, dirasakan, dan diasumsikan oleh penulis yang bertindak sebagai karakter utama  dan pusat cerita.

Perlu kamu ingat bahwa sudut pandang “Aku” sebagai tokoh utama memiliki batasan-batasan yang sebaiknya kamu mengerti. Point of view  “Aku” sebagai pelaku utama tidak bisa mengungkapkan pikiran dan perasaan karakter lain dalam cerita kecuali hanya dugaan dan perkiraannya semata.

Penulisan novel atau cerpen menggunakan sudut pandang orang pertama “Aku” sebagai tokoh utama, harus memahami dengan baik karakteristik “Aku” yang disampaikan. Hal ini berkorelasi pula dengan usianya, jenis kelaminnya, bahasa yang digunakannya, dan lingkungan yang mempengaruhinya.

Contoh Sudut Pandang “Aku” Sebagai Tokoh Utama

Photo by emre keshavarz

Seorang lelaki tua memanggilku sepuluh menit lalu di ruang pribadinya di lantai paling atas pada gedung megah biru dunker, inti kampusku. Dia duduk pongah di kursi busa berukir khas jepara di balik meja. Senyumnya mahal, semahal kursi itu. Kucoba duduk santai dihadapnya, sambil melirik buku yang tadi dibantingnya. Gagasan, itu tulisan di sudut kanan atas sampul depan. Mendesah sebelum kualirkan mata ke tanda pengenal meja di sebelah buku itu, tulisan cerlang bereja Rektor pongah menatapku. Kulengoskan kepala keluar jendela, sementara mulutnya terus mengumpat. Soal buku itu, tentu juga soal aku.

Rektor Itu Ayahmu, Sayang? – Ardyan Amroellah

Contoh lain dari sudut pandang “Aku” sebagai tokoh utama ini dapat pula misalnya dilihat pada sudut pandang novel Ronggeng Dukuh Paruk atau sudut pandang novel Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer.

BACA JUGA:

Penulis Sebagai “Aku” Bukan Tokoh Utama

Photo by ROMAN ODINTSOV

Dalam sudut pandang novel yang seperti ini, “Aku” akan berperan sebagai saksi, sebagai kekasih, sebagai kawan, atau sebagai seseorang yang memiliki kedekatan dengan tokoh utama yang diceritakan. Jadi, pusat cerita dari karakter utama akan disampaikan kepada pembaca berdasarkan apa yang dirasakan oleh “Aku” yang dapat saja bertindak sebagai temannya, sahabatnya, anaknya, dan lain sebagainya.

Gaya penceritaan semacam ini hampir mirip dengan sudut pandang ketiga dalam novel atau cerpen, hanya saja “Aku”  disini juga ikut dalam cerita. Sudut pandang ini juga memiliki keterbatasan dalam mengungkapan pikiran dan isi hati tokoh utama. Segala tindakan dan aksi tokoh utama cerita ditafsirkan berdasarkan pengamatan “Aku” sebagai sudut pandang tersebut.

Contoh Sudut Pandang “Aku” Bukan Tokoh Utama

Aku sudah mengetahui wajahnya sejak lama, sejak sekitar dua tahun lalu. Seminggu sekali dia datang ke salon itu, selalu. Aku kerap tertawa saat ingat kali pertama aku melihatnya. Lusuh, kusam, dekil, sama sekali tak berwarna. Tapi aku tahu, dia bak mutiara jatuh dalam kotoran dan ketakberuntungan. Tinggal membasuhnya saja sebelum moncernya kembali. Dan rupanya dia tahu bagaimana cara memelihara diri. Terbukti, tak ada tanda kekusaman yang muncul. Aih, aku jadi iri.

Mimpimu Apa? – Ardyan Amroellah

Contoh lain yang bisa pula diambil untuk menjelaskan jenis penulisan dengan point of view  seperti ini adalah misalnya; sudut pandang novel Dilan 1990 yang berkisah dari sudut pandang Milea. Atau sebaliknya pada novel Milea, Suara Dari Dilan yang berkisah dari sudut pandang Dilan sendiri.

Sudut Pandang Orang Pertama Jamak

Source: Freepik

Jenis sudut pandang kedua yang juga umum digunakan dalam penulisan novel atau cerpen adalah sudut pandang orang pertama jamak. Disini, penulis mewakili beberapa orang sebagai pelaku utama dalam cerita. Kata ganti yang umum digunakan dalam penulisan dengan sudut pandang seperti ini adalah “Kami”.

Nah, “Kami” yang dipergunakan dalam sudut pandang ini dapat mewakili entitas banyak karakter cerita atau kelompok. Kamu bisa menggunakan “Kami” sebagai perwakilan untuk mengungkapkan kelompok belajar, tim kampus, entitas agama, keyakinan, politik dan lain sebagainya.

Contoh Sudut Pandang Orang Pertama Jamak

Siang itu kami berkerumun di teras masjid, membahas isu hangat yang merebak di pondok. Secara beruntun, barang-barang kami hilang. Mi instan, uang, buku, hingga celana dalam. Hal terakhir itu sangat keterlaluan. Ajaibnya, kami berempat sama. Celana dalam kami habis. Percayalah, hanya sarung yang kami pakai saat ini.

Ronaldo Dari Brazil – Anin Mashud

BACA JUGA:

Sudut Pandang Orang Kedua

Photo by cottonbro

Hal yang unik dari seorang penulis yang mengadaptasikan sudut pandang seperti ini adalah ia bisa memperlakukan pembaca seolah-olah sebagai karakter utama dalam cerita. Dipandang dari segi upaya untuk membangun kedekatan dengan pembaca, sudut pandang orang kedua dapat dikatakan adalah yang paling efektif.

Kata ganti yang paling umum dipergunakan dalam melukiskan sudut pandang orang kedua adalah “Kamu, Kau, Anda”. Sudut pandang seperti ini selain juga umum dipergunakan dalam penulisan novel dan cerpen, juga populer dalam penulisan artikel untuk blog dan content writing. Menempatkan pembaca menjadi sesuatu yang penting dan istimewa sebagai unsur utama dalam penulisan adalah alasan utamanya.

Contoh Sudut Pandang Orang Kedua

Ini hari pertamamu masuk kerja. Harus sempurna! Maka jadi sejak tiga sejam lalu, kau sibuk bolak-balik di depan cermin. Mengecek baju, rambut, sampai riasan di wajahmu. Lalu setelah kau memulaskan lipgloss sebagai sentuhan final yang kau rasa akan memesona teman-teman barumu di kantor nanti, kau mengambil parfum. Menyemprotkannya di belakang telinga, pergelangan tangan, selangkangan, dan ke udara. Sedetik berikutnya, kau melewati udara beraroma lili dan lavender itu, berharap supaya wanginya menempel di rambut dan blazer barumu.

Novel The Girls’ Guide to Hunting and Fishing – Melissa Bank

Sudut Pandang Orang Ketiga

Photo by Kilian M

Seperti halnya sudut pandang orang pertama yang terbagi dalam sudut pandang tunggal dan jamak, maka sudut pandang ketiga pun demikian. Novel atau cerpen yang menggunakan sudut pandang orang ketiga juga dapat dibagi kembali menjadi sudut pandang orang ketiga tunggal dan sudut pandang orang ketiga jamak.

Berikut penjelasannya masing-masing.

Sudut Pandang Orang Ketiga Tunggal

Dalam sudut pandang ini, penulis ada di luar cerita dan tidak terlibat dalam alur yang diceritakan. Kata ganti yang paling umum dan digunakan oleh penulis untuk menyebut tokoh-tokohnya adalah dengan “Dia, Ia, atau nama tokoh itu sendiri”.

Sudut pandang orang ketiga tunggal pun terbagi dalam beberapa bagian lagi misalnya; sudut pandang orang ketiga serba tahu, sudut pandang orang ketiga terbatas, dan sudut pandang orang ketiga objektif. Dalam penulisan kamu dapat menemukan dengan mudah contoh cerpen sudut pandang orang ketiga karena jenis point of view  inilah yang memang paling umum dipergunakan dalam penulisan di Indonesia.

BACA JUGA:

Sudut Pandang Orang Ketiga Serba Tahu

Photo by Suliman Sallehi

Dalam sudut pandang ini, penulis memiliki pengetahuan yang tak terbatas untuk melukiskan ceritanya. Peran penulis laksana Tuhan yang mengetahui semua hal yang dilakukan dan dipikirkan oleh para tokoh cerita. Pada banyak bagian kadang-kadang, penulis juga dapat melukiskan apa yang ada dalam hati dan benak tokoh-tokoh cerita yang sedang ia tuliskan.

Fragmen penceritaan pun dapat berubah dan melompat-lompat sesuai dengan keinginan penulis dalam sudut pandang ini. Misalnya penulis dapat bercerita tentang tokoh A dalam paragraf awal, kemudian melompat pada tokoh B pada baris-baris selanjutnya.

Contoh Sudut Pandang Orang Ketiga Serba Tahu

Angin kencang serta lolongan badai mengajarkan kekuatan, tebing terjal mengajarkan perjuangan, jalan panjang dan berliku, dipenuhi halang rintang dan onak duri mengajarkan kegigihan, keteguhan sekaligus pula kekuatan dalam bahasa yang  bertahan. Jika semua unsur-unsur itu adalah guru bagi pemuda sederhana seperti Tatras, maka sungguh dalam batin pak Iskandar, Tatras tidak membutuhkan seorang profesor atau doktor untuk mengajarkannya hal yang lebih baik daripada yang ia telah dapatkan dari alam dan gunung-gunung.

Merapi Barat Daya – Anton Sujarwo

Contoh lain dari sudut pandang orang ketiga serba tahu ini dapat pula dilihat misanya pada sudut pandang novel Perahu Kertas, sudut pandang novel Sang Pemimpi, dan lain sebagainya.

Sudut Pandang Orang Ketiga Terbatas

Source: Freepik

Pada sudut pandang ini, penulis terbatas untuk mengungkapkan jalan cerita hanya dari sudut pandang beberapa orang saja. Atau pada konteks yang lain, juga tidak bisa dengan sangat bebas untuk berpindah dari karakter tokoh yang satu pada karakter tokoh yang lain.

Contoh Sudut Pandang Orang Ketiga Terbatas

Setiap ayah mungkin saja memiliki fisik yang berbeda-beda, memiliki profesi dan rutinitas yang tidak sama, memiliki gaya hidup dan model pakaian berlainan, memiliki tingkat penghasilan, kecerdasan, warna kulit, serta intelektualitas yang tidak serupa. Namun untuk sebuah perasaan yang menyangkut anak-anak mereka, menyangkut puteri kecil mereka, maka segumpal daging dalam dada mereka yang bernama hati adalah sama, adalah serupa, dan tak memiliki perbedaan yang signifikan. Semua merasakan kedukaan yang demikian dalam, tak mampu hanya digambarkan dengan beberapa kalimat ataupun berbagai ungkapan.

Omar mungkin berwajah keras dengan jenggot dan kumisnya yang membuat ia terlihat sangar. Namun jauh dalam hati dan perasaannya tentang Sabiya, Bharal Omar juga tak berbeda dengan para ayah lainnya akan puteri mereka. Ia sangat mencintai Sabiya, Sabiya adalah separuh nafas Omar, setengah dari jantung hatinya, tempat bergantungnya cinta kasihnya, tempat bermuaranya sayang dan kebanggaannya sebagai seorang ayah.

MMA Trail – Anton Sujarwo

BACA JUGA:

Sudut Pandang Orang Ketiga Objektif

Photo by Marek

Dalam sudut pandang ini, penulis dapat mengungkapkan semua tindakan fisik dan aksi tokoh dalam cerita. Hanya saja, narator atau penulis tidak memiliki kebebasan untuk mengungkapkan apa yang ada dalam pikiran tokoh cerita, motivasinya, isi hatinya, dan lain semacamnya. 

Objektivitas dalam penulisan dengan metode sudut pandang seperti ini lebih dititikberatkan bahwa penulis hanya bisa menggambarkan aksi dan tindakan tokoh, bukan pikiran dan motivasi mereka. Jika pun penulis ingin menyampaikan gagasan mengenai motivasi atau pikiran salah satu tokoh, maka itu haruslah dikemas dalam persangkaan atau dugaan semata.

Contoh Sudut Pandang Orang Ketiga Objektif

Si lelaki tua bangkit dari kursinya, perlahan mengeluarkan pundi kulit dari kantung, membayar minuman dan meninggalkan persenan setengah peseta. Si pelayan mengikutinya dengan mata ketika si lelaki tua keluar. Seorang lelaki yang sangat tua yang berjalan terhuyung tetapi tetap dengan penuh harga diri.

“Kenapa tak kau biarkan saja dia minum sampai puas?” tanya si pelayan lain. Mereka berdua menurunkan semua tirai. “Belum jam setengah dua.” lanjutnya.

“Aku ingin cepat pulang dan tidur.”

Tempat yang Bersih Terang – Ernst  Hemingway

Sudut Pandang Orang Ketiga Jamak

Photo by Davi Pimentel

Dalam point of view  ini, penulis atau narator bercerita dari persepsi orang banyak atau mewakili kelompok tertentu dalam cerita. Kacamata kolektif yang dipergunakan dapat mewakili entitas kelompok berdasarkan apa pun yang ingin disampaikan penulis. Kata ganti yang paling umum digunakan dalam penceritaan dengan sudut pandang orang ketiga jamak adalah “Mereka”.

Contoh Sudut Pandang Orang Ketiga Jamak

Pada suatu hari, ketika mereka berjalan-jalan dengan Don Vigiliani dan  beberapa anak lelaki dari kelompok pemuda. Dalam perjalanan pulang, mereka melihat ibu mereka di sebuah kafe di pinggir kota. Dia sedang duduk di dalam kafe itu; mereka melihatnya melalui sebuah jendela dan seorang pria duduk bersamanya. Ibu mereka meletakkan syal tartarnya di atas meja.

Ibu – Natalia Ginzburg

Sudut Pandang Campuran atau Mixed Point of View

Photo by Dids

Sudut pandang terakhir yang juga bisa digunakan dalam penulisan novel atau cerpen adalah mixed point of view  atau sudut pandang campuran. Sudut pandang satu ini memberikan kebebasan kepada penulisnya untuk menggunakan kata “Aku, Dia, Mereka, Kami, Kamu” secara bergantian. Secara umum sudut pandang campuran seperti ini digunakan dalam penulisan cerita dengan jumlah halaman yang banyak.

Hal yang perlu menjadi catatan adalah dibutuhkan kejelian penulis untuk tetap mampu menggambarkan cerita secara tepat saat ada perubahan sudut pandang yang dilakukan dalam ceritanya.

BACA JUGA:

Source: Freepik

Nah, itu adalah beberapa sudut pandang yang paling umum dipergunakan dalam penulisan cerita baik itu novel mau pun cerpen. Di Indonesia sendiri, pada umumnya lebih banyak ditemui penulis yang mengadaptasikan sudut pandang novel orang pertama dan orang ketiga dalam karya mereka.

Sekarang, untuk menambah pemahamanmu tentang point of view  dalam penulisan novel atau karya sastra apa pun, kamu dapat melatihnya secara konsisten. Semakin sering kamu berlatih maka akan semakin mahir dan mengalir kamu dapat menaplikasikannya dalam karyamu nantinya.

Jadi, selamat berlatih, ya!

Referensi dan contoh: www.gurupendidikan.co,id


NB:

Tulisan-tulisan saya lainnya dapat pula dibaca di:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog di WordPress.com

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: