BENARKAH ANTAGONIS ADALAH TOKOH YANG BERWATAK JAHAT? INI PENJELASANNYA

Hampir identik dalam penulisan cerita bahwa karakter antagonis adalah tokoh yang berwatak jahat, buruk dan culas. Sebagian besar cerita melukiskan itu untuk antagonis. Padahal berdasarkan pengertian sejatinya, peran antagonis tidak harus selalu jahat dan buruk.

Secara sederhana, antagonis adalah lawan dari protagonis. Dalam penulisan cerita, keduanya tidak harus seperti hitam dan putih atau baik dan buruk saja. Ada beberapa definisi dan klasifikasi antagonis berdasarkan peran mereka dalam sebuah cerita.

Nah apa sebenarnya pengertian antagonis itu dan ada berapa jenis antagonis dalam sebuah cerita?

Simak penjelasannya selengkapnya dibawah ini.

KAMU PUNYA KISAH HIDUP MENARIK UNTUK DIJADIKAN BUKU NAMUN BINGUNG CARA MENULISKANNYA?

Tidak Semua Antagonis adalah Tokoh yang Berwatak Jahat

Photo by Ivan Siarbolin on Pexels.com

Antagonis dan protagonis adalah dua tokoh dasar dalam membangun sebuah cerita.

Sebelum kamu masuk ke setting, ke alur, ke plot dan ke berbagai unsur cerita yang lainnya, karakter atau tokoh adalah hal pertama yang harus ada. Nah, antagonis dan protagonis adalah dua jenis utama karakter pembangun cerita. Di antara keduanya, dikenal pula jenis karakter lain yang disebut dengan tritagonis.

Pada saat gambaran umum tentang karakter protagonis adalah tokoh yang berwatak baik dan dipenuhi nilai-nilai ideal, maka secara mudah antagonis adalah antitesisnya. Gampangnya; jika protagonis adalah tokoh cerita mewakili kebaikan maka antagonis adalah sebaliknya, mewakili kejahatan.

Tapi, apakah hanya sesederhana itu?

Jika kamu memahami karakteristik cerita hanya berdasarkan pengertian sempit seperti itu, maka hasilnya akan sangat bias.

Nah, untuk itulah saya dalam banyak kesempatan mengatakan bahwa protagonis adalah pusat dimana cerita berkembang yang tujuannya, merupakan tujuan utama cerita. Sementara antagonis adalah karakter yang menghalangi tercapainya tujuan protagonis. Halangan yang ia timbulkan disebut konflik.

Sementara tritagonis ada di antara kedua karakter ini. Dalam istilah yang paling umum, tritagonis adalah semua tokoh yang ada dalam cerita selain protagonis dan antagonis.

Supaya kamu dapat lebih memahami perbedaan antara protagonis, antagonis dan tritagonis, kamu bisa membaca artikel saya sebelumnya disini; Apa itu antagonis, protagonis dan tritagonis dalam cerita?.

Photo by Sebastiaan Stam on Pexels.com

Sekarang saya mengajak kamu kembali ke topik utama mengenai apakah antagonis adalah tokoh yang selalu jahat?

Jawabannya tentu tidak selalu. Ada kalanya antagonis itu tidak mewakili keburukan dan kejahatan.

Beberapa cerita bahkan kadang memberikan gambaran yang lebih menarik tentang antagonis dan jauh dari kejahatan. Tapi tetap saja unsur pentingnya menghalangi tokoh protagonis mencapai tujuan selalu dipertahankan.

Supaya lebih mudah, berikut saya ajak kamu mengenal 4 jenis antagonis dalam sebuah cerita.

4 Jenis Antagonis dalam Cerita Berdasarkan Perannya sebagai Lawan Protagonis

Ada 4 jenis antagonis dalam cerita yang dapat digunakan sebagai lawan dari protagonis. Bagaimana tokoh antagonis digambarkan berdasarkan perannya, adalah penentu termasuk jenis antagonis yang manakah ia dalam cerita tersebut.

Antagonis juga tidak harus hanya ada satu dalam satu cerita. Dalam beberapa karya fiksi populer, kadang-kadang penulis menempatkan lebih dari satu antagonis untuk meghalangi perjalanan tokoh protagonis. Dan itu sah-sah saja.

Antagonis juga tidak harus berwujud satu individu dan berwujud manusia. Tidak sulit juga menemukan dalam banyak karya sastra atau film yang tokoh antagonisnya bukanlah manusia atau individu.

Namun secara umum, antagonis dapat dibagi dalam 4 jenis berikut;

Penjahat atau Villain

Photo by imustbedead on Pexels.com

Definisi klasik dari tokoh antagonis jenis pertama ini adalah orang jahat, penjahat, pembuat onar, dan perusak. Penjahat sebagai antagonis seringkali mewakili sifat-sifat buruk yang dimengerti manusia seperti jahat, licik, kasar, culas, kasar, pembohong, pengkhianat dan lain sebagainya.

Antagonis yang termasuk dalam kategori penjahat ini pun terbagi dalam beberapa jenis yang spesifik seperti;

  • Mastermind (dalang kejahatan/tokoh intelektual kejahatan)
  • Super Villain (penjahat yang memiliki kekuatan super, biasanya dalam cerita super hero)
  • Anti-Villain (tokoh antagonis yang melakukan tindakan kejahatan namun memiliki tujuan yang mulia dan baik)
  • Evil-Villain (penjahat yang benar-benar jahat, biasanya tidak memiliki sisi kemanusiaan sama sekali)
  • Antek/Centeng/Henchman (pembantu bagi penjahat yang lebih besar)

Ada banyak contoh watak tokoh yang mewakili jenis antagonis kategori villain ini.

Kamu bisa menyebut Dark Vader dari Stars War, Sauron dan Saruman dari The Lord of the Ring, Draco Malfoy dari Harry Potter, dan masih banyak lagi.

Pembuat Masalah atau Conflict Creator

Photo Source: Pinterest

Jenis kedua dari antagonis adalah ia tidak harus menjadi orang jahat untuk menjadi lawan dari protagonis. Antagonis jenis ini hanya hadir dalam perjalanan protagonis untuk menghalangi dan merintanginya melalui konflik yang ia ciptakan.

Contohnya seperti ini;

Kamu menulis sebuah novel dengan tokoh protagonis adalah seseorang yang bertujuan untuk membalas dendam atas kematian orang-orang yang ia sayang. Dalam perjalanan mencari para pembunuh keluarganya ini, tokoh protagonis terpaksa melakukan beberapa tindakan melanggar hukum.

Hal ini kemudian membuat tokoh protagonis menjadi buronan seorang detektif. Sang detektif inilah yang selalu menjadi rintangan tokoh protagonis untuk mencapai tujuannya membalas dendam.

Nah, dalam hal ini kamu dapat melihat bahwa detektif tersebut adalah antagonis.

Tapi ia sama sekali bukan orang yang jahat. Hanya saja semua upaya yang dilakukan oleh tokoh protagonis terhalang oleh upaya sang detektif dalam menegakkan hukum.

Kekuatan Mati

Photo source: Unsplash

Jenis ketiga dari antagonis adalah kekuatan mati dalam artian bahwa antagonis jenis ini bukanlah individu atau manusia.

Pada banyak karya fiksi, antagonis kekuatan mati biasanya menggunakan alam dan kekuatannya. Kamu dapat menggunakan tsunami, angin topan, alam yang liar, erupsi gunung meletus, laut luas, atau bahkan kombinasi-kombinasi yang lainnya.

Salah satu karya yang sangat direkomendasikan untuk kamu baca untuk melihat bagaimana kekuatan mati ini menjadi antagonis dalam karya sastra adalah novel Merapi Barat Daya karya Anton Sujarwo.

Dalam novel ini, tokoh protagonis bernama Tatras beradu dengan kekuatan alam (gunung Merapi dan kekuatannya) untuk mencapai tujuannya.

Menariknya kadang-kadang antagonis jenis ini juga memadukan kekuatan yang lebih kompleks sebagai antagonis. Misalnya kamu menulis novel tentang seseorang yang tersesat di hutan dan ia harus berjuang untuk tetap hidup dan keluar dari hutan.

Nah, segala jenis rintangan yang ia hadapi di hutan tersebut baik berupa ancaman binatang buas, malam yang pekat, medan yang sulit, dan mungkin juga cidera karena terluka, adalah seperangkat antagonis yang masuk dalam kategori kekuatan mati.

Diri Protagonis Sendiri

Buku m

Jenis antagonis yang terakhir adalah diri protagonis itu sendiri. Ada sebuah rasa tidak aman, tidak nyaman, traumatis, dan sisi lain yang kelam yang kemudian menjadi sumber konflik dari perjalanan protagonis untuk mencapai tujuan dalam cerita.

Salah satu cara yang paling efektif untuk membuat antagonis yang berasal dari diri protagonis sendiri adalah dengan menciptakan masa lalunya yang suram. Trauma berat kemudian lahir dari masa lalu tersebut.

Contoh yang bisa kamu lihat untuk karya fiksi semacam ini adalah pada novel-novel perjalanan paling populer seperti;

  • MMA Trail karya Anton Sujarwo
  • The Way (Film) yang dibintangi oleh Martin Sheen
  • Wild (Kisah Nyata dalam bentuk buku dan film) karya Cheryl Strayed

Intinya adalah; jika sebuah konflik yang menghalangi protagonis mencapai tujuannya datang bukan dari luar dirinya, maka itu adalah jenis antagonis yang terakhir ini.

BACA JUGA:

Nah, itu adalah beberapa jenis tokoh antagonis dalam sebuah penulisan cerita yang bisa kamu aplikasikan baik dalam novel, cerpen, story telling atau apa saja. Jadi, asumsi bahwa antagonis adalah tokoh yang berwatak jahat tidak sepenuhnya benar.

Memahami dengan baik bagaimana karakter antagonis protagonis tritagonis harus digambarkan dalam sebuah cerita, adalah modal yang menarik untuk menjadi penulis fiksi. Ketika karakter telah kamu kuasai dengan baik, membangun alur, setting dan konflik biasanya akan jauh lebih mudah.

Selamat mencoba!

MENJADI PENULIS HEBAT

Bersama kelas menulis online

Anton Sujarwo

Saya adalah seorang penulis buku, content writer, ghost writer, copywriters dan juga email marketer. Saya telah menulis 17 judul buku, fiksi dan non fiksi, dan ribuan artikel sejak pertengahan tahun 2018 hingga sekarang.

Dengan pengalaman yang saya miliki, Anda bisa mengajak saya untuk bekerjasama dan menghasilkan karya. Jangan ragu untuk menghubungi saya melalui email, form kontak atau mendapatkan update tulisan saya dengan bergabung mengikuti blog ini bersama ribuan teman yang lainnya.

Tulisan saya yang lain dapat dibaca pula pada website;

Saya juga dapat dihubungi melalui whatsapp di tautan ini.

Fortopolio beberapa penulisan saya dapat dilihat disini:

5 tanggapan untuk “BENARKAH ANTAGONIS ADALAH TOKOH YANG BERWATAK JAHAT? INI PENJELASANNYA

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: